36
37 BAB III KEBERLANJUTAN AKSI PERUBAHAN 3.1. Tujuan Aksi Perubahan Keberlanjutan Aksi Perubahan dapat dilakukan dengan rnelakukan tindaklanjut kegiatan jangka pendek dengan menetapkan target capaian jangka menengah dan jangka panjang. Target jangka pendek, menengah, dan panjang diformulasikan sebagai berikut: 1. Tujuan Jangka Pendek (2 Bulan): Mengidentifikasi kondisi terkini taman-taman yang ada di Kota Metro dan proyeksi rencana untuk penataanya di masa mendatang. Inventarisasi para pelaku usaha yang berminat untuk ikut dalam skema pengelolaan taman-taman di Kota Metro. Melibatkan elemen masyarakat dalam pengelolaan taman-taman di Kota Metro yang dituangkan dalam bentuk perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kota Metro dengan para pelaku usaha yang ada di Kota Metro 2. Tujuan Jangka Menengah (6 Bulan): Mendorong para pelaku usaha di Kota Metro untuk merealisasikan komitmen yang tertuang dalam perjanjian kerjasama dengan Pemerintah Kota Metro. Merevitalisasi taman-taman yang ada di Kota Metro dengan keterlibatkan para pelaku usaha. 3. Tujuan Jangka Panjang (> 1 Tahun): Memperluas partisipasi masyarakat dalam pengelolaan taman-taman di Kota Metro untuk mewujudkan pengelolaan taman yang berkelanjutan. Meningkatkan kualitas taman-taman yang ada di Kota Metro sehingga dapat memperluas manfaat ketersediaan taman baik dari aspek ekologi, keindahan kota, maupun perekonomian masyarakat.
38 3.2. Implementasi Tujuan Jangka Pendek Dalam pelaksanaan rencana aksi perubahan ini, tujuan jangka pendek yang ditetapkan sudah terealisasi dalam kurun waktu dua bulan. Sebagai contoh, dalam tahap ini tujuan jangka pendek untuk mengidentifikasi kondisi taman-taman yang ada di Kota Metro sudah tercapai dengan tersusunnya data terkait taman-taman yang ada di Kota Metro. Selanjutnya data tersebut dijadikan sebagai rujukan dalam pengembangan taman, termasuk potensi yang dapat ditawarkan dalam skema kerja sama dengan para pelaku usaha. Data yang terhimpun tidak hanya berisi tentang kondisi taman-taman tersebut, tapi juga berisi analisis terkait kekurangan dan kelebihan masing-masing taman. Selanjutnya, survey lapangan juga telah dilaksanakan untuk mengidentifikasi para pelaku usaha yang potensial untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Metro. Dari para pelaku usaha yang telah dikunjungi, beberapa diantaranya telah berkomitment untuk ikut dalam skema one business on park yang digagas dalam rencana aksi perubahan ini. Pelaku usaha yang telah menunjukkan komitmennya antara lain; Universitas Muhammadiyah Metro, IAIN Metro, Bank Metro Madani, PT Pos, dan PLN. Sementara yang lainnya belum dapat memberikan kepastian untuk ikut berkolaborasi. Ada beberapa hal yang menjadi kendala, antara lain: Waktu pelaksanaan penawaran kerjasama yang di pertengahan tahun membuat para pelaku usaha tidak dapat memberikan kepastian karena pengeluaran yang akan dibelanjakan belum ada dalam rencana keuangan mereka. Dalam diskusi kepada para pelaku usaha, banyak diantara mereka yang bersedia untuk ikut dalam skema kerjasama yang ditawarkan, tapi meminta tenggat waktu hingga awal tahun depan. Sehingga, pengeluaran yang dialokasikan untuk belanja pemeliharaan taman dapat di rencanakan di awal tahun. Banyak para pelaku usaha yang beroperasi di Kota Metro yang berstatus sebagai kantor cabang, sehingga dalam pengambilan keputusan masih sangat tergantung dari kantor pusat. Saat berdiskusi terkait kerjasama penataan taman, umumnya mereka belum dapat memberikan kepastian tapi meneruskan proposal tersebut ke kantor pusat.
39 Tujuan jangka pendek yang ketigapun sudah dapat dicapai meskipun belum sepenuhnya. Beberapa pelaku usaha sudah menunjukkan komitmennya untuk berkolaborasi dalam pemeliharaan taman dan menandatangai perjanjian kerjasama. Melalui kerjasama ini, masing-masing pihak (Pemerintah Kota Metro dan para pelaku usaha) telah terikat secara formal dan memiliki hak dan kewajiban yang telah disepakati. Para pelaku usaha yang telah menandatangani perjanjian kerjasama berkewajiban untuk melakukan upaya pemeliharaan taman yang disepakati dan mereka berhak untuk mendapatkan insentif berupa pembebasan pajak reklame jika beriklan di lokasi tersebut. Di lain sisi, pemerintah berkewajiban memberikan insentif berupa keringanan pajak reklame dan berhak mendapatkan hasil dari pemeliharaan taman yang dilakukan ole para pelaku usaha. 3.3. Keberlanjutan Tujuan Jangka Pendek Melalui Proyeksi Tujuan Jangka Menengah dan Jangka Panjang Untuk keberlanjutan aksi perubahan, tujuan jangka pendek yang sudah dicapai perlu ditindaklanjuti melalui tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Kemudian, tujuan jangka pendek ini perlu diluaskan lagi skalanya sehingga aksi perubahan tidak hanya berhenti pada keikutsertaan para pelaku usaha dalam pengelolaan taman tapi juga berdampak pada peningkatan kualitas taman-taman yang ada di Kota Metro. Sebagai langkah tindak lanjut, perjanjian kerjasama yang telah disepakati tentunya harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak. Berkaitan dengan hal ini, butir-butir yang ada harus diimplementasikan. Sebagai contoh, para pelaku usaha harus memulai melakukan aktivitas yang diperlukan terkait pemeliharaan taman seperti penanaman pohon, memperbaiki atau mengganti fasilitas yang rusak, menambah fasilitas yang diperlukan, dan sebagainya. Pelaksanaan aktifitasaktifitas tersebut tentunya dengan tetap berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro sehingga kegiatan pengelolaan taman-taman oleh para pelaku usaha masih mengacu pada rencana dan peraturan yang berlaku di Kota Metro.
40 Lebih lanjut, keterbatasan waktu untuk memberikan tawaran kerjasama kepada para pelaku usaha berimbas pada terbatasnya jumlah perusahaan yang menandatangani perjanjian kerjasama. Dengan pertimbangan efisiensi waktu, perusahaan yang ditawari kerjasama hanya terbatas pada perusahaan yang potensial untuk menerima tawaran ini atau perusahaan yang memang telah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Metro di sektor-sektor lain. Sedangkan para pelaku usaha lain seperti UMKM belum berkesempatan untuk mendapat tawaran karena keterbatasan waktu. Padahal, kerjasama ini memberikan peluang cukup baik untuk mereka mengembangkan unit usahanya. Untuk keberlanjutan aksi perubahan ini, perluasan skala promosi penawaran kerjasama patut menjadi pertimbangan. Penawaran kerjasama harus dilakukan lebih masif lagi melibatkan beragam jenis usaha di Kota Metro dengan berbagai macam skala usahanya. Selain itu, tambahan insentif juga dapat diberikan kepada para pelaku usaha, terutama UMKM, untuk meningkatkan minat mereka untuk berpartisipasi. Penambahan jumlah partisipan ini adalah hal penting terutama untuk pengelolaan taman-taman yang belum terkelola dengan baik karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro.
41 BAB IV KETERKAITAN DENGAN MATA PELATIHAN PILIHAN Dalam pelatihan kepemimpinan administrator ini telah banyak materi yang diberikan oleh para pemateri. Nilai-nilai yang terkandung dalam materi-materi tersebut tentunya sangat bermanfaat dalam penyusunan rencana aksi perubahan ini. Namun ada beberapa pokok bahasan yang berperan signifikan sebagai nilai-nilai inti (core values) dalam rencana aksi perubahan yang diusulkan, antara lain: manajemen perubahan sektor public, komunikasi efektif, jejaring kerjasama, dan hubungan kelembagaan. Keterkaitan masing-masing mata pelatihan tersebut dijelaskan lebih rinci sebagai berikut. 4.1. Manajemen Perubahan Sektor Publik Perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan tak terkecuali pada sektor publik. Dinamika yang terjadi di masyarakat mengharuskan sektor publik beradaptasi dengan perubahan tersebut. Elemenelemen yang sebelumnya mungkin tidak menjadi kebutuhan mendasar, terkadang berubah menjadi kebutuhan dasar seiring dengan dinamika yang terjadi di masyarakat. Sebagai contoh, dahulu kebutuhan akan taman dan ruang terbuka hijau lainnya mungkin dirasakan belum menjadi kebutuhan utama. Namun saat ini, perubahan gaya hidup di masyarakat menuntut setiap kota memiliki taman-taman dan ruang publik lainnya yang representatif. Selain itu, perubahan yang terjadi pada lingkungan (seperti kenaikan suhu udara, penurunan kualitas udara, dan lain-lain) membuat keberadaan taman dan ruang terbuka hijau semakin dibutuhkan. Selanjutnya, perubahan-perubahan seperti tersebut di atas tentunya harus direspon dengan baik oleh pemerintah selaku penyedia layanan publik. Pendekatan “doing business as usual” sudah tidak relevan dengan tuntutan masyarakat terkait ketersediaan taman kota. Disisi lain, sumber daya baik
42 sumber daya manusia, peralatan pendukung, alokasi anggaran dan lain-lain, yang dimiliki oleh pemerintah sangat terbatas dan harus berbagi prioritas dengan sektor-sektor lain yang dianggap lebih penting. Kondisi ini tentunya mengharuskan OPD yang memiliki tugas dan fungsi dalam pengelolaan taman melakukan inovasi dan terobosan baru dalam pengelolaan taman-taman di Kota Metro. Berangkat dari situasi tersebut di atas, penulis mengusulkan rencana aksi perubahan dengan melibatkan para pelaku usaha yang beroperasi di Kota Metro untuk berkolaborasi dalam pengelolaan taman-taman di Kota Metro. Dalam memformulasi rencana aksi perubahan ini, penulis juga menerapkan 5 tahapan yang secara umum digunakan untuk melakukan perubahan secara terencana, yaitu: Menganalisa lingkungan eksternal untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Menentukan tujuan dan kondisi yang diinginkan Mendiagnosa kondisi terkini untuk mengidentifikasi gap yang ada Membangun komitmen dari pihak-pihak terkait Mengembangkan strategi dan rencana aksi untuk mengelola perubahan yang diharapkan Selanjutnya, perubahan yang terjadi dalam pengelolaan taman-taman di Kota Metro (seperti yang diinginkan dalam rencana aksi perubahan ini) akan berimbas, baik secara langsung maupun tidak, kepada Dinas Lingkungan Hidup selaku OPD yang memiliki tugas dan fungsi dalam pengelolaan taman. Dengan beralihnya pengelolaan taman yang dikolaborasikan dengan para pelaku usaha sumber daya yang tersedia tentu dapat dimanfaatkan untuk hal lain yang belum dikelola secara optimal. Petugas taman yang semula bertugas, tentu dapat dialihtugaskan ke taman-taman lain yang selama ini belum terawat dengan baik. Selain itu, anggaran yang semula dialokasikan dapat dialihkan ke lokasi taman yang lain atau untuk pembiayaan sektor lain. Perubahan internal organisasi ini tentunya harus dikelola dengan baik demi peningkatan kinerja organisasi.
43 4.2. Komunikasi Efektif Rencana aksi perubahan yang diusulkan menjadikan penguatan jejaring kerjasama dan partisipasi sebagai tema sentral. Banyaknya elemen yang terlibat dengan berbagai kepentingan masing-masing memerlukan komunikasi yang efektif baik antar individu di internal organisasi maupun komunikasi antar organisasi yang terlibat. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar komunikasi di sektor publik yang pada intinya dimaksudkan untuk membangun relasi dan interaksi dengan publik, termasuk didalamnya pemanfaatan komunikasi untuk mempengaruhi pendapat, perilaku maupun pengetahuan kelompok masyarakat demi mencapai tujuan tertentu. Selanjutnya, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun komunikasi efektif seperti karakteristik komunikan, tujuan yang ingin dicapai, prinsip 3A (attitude, attention, action), keterbukaan dan profesionalisme, komunikasi yang terstruktur, keterlibatan anggota, suasana komunikasi yang kondusif, dan lain-lain juga diterapkan dalam memngkomunikasikan gagasan aksi perubahan ini. Dalam aksi perubahan ini strategi untuk membangun komunikasi efektif dari team leader, baik sebagai individu maupun atas nama Dinas Lingkungan Hidup, menjadi faktor esensial. Gagasan kerjasama pengelolaan taman yang dituangkan dalam rencana aksi perubahan merupakan hal baru di Kota Metro sehingga perlu dikomunikasikan secara tepat. Jika tidak, hasil yang didapatkan hanyalah respon negatif atau bahkan penolakan, terutama dari pihak para pelaku usaha, terhadap ini. Strategi komunikasi yang dibangun adalah dengan menyampaikan gagasan perubahan ini kepada para pelaku yang selama ini sudah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Metro dalam sektor-sektor lain. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan kedekatan hubungan, baik personal maupun profesional, yang selama ini sudah terjalin. Diharapkan, jika gagasan ini dapat diterima, mereka dapat menjadi pembuka jalan untuk para pelaku usaha lainnya. Hasil yang didapat dari strategi komunikasi ini, beberapa pelaku usaha yang diberikan penawaran kerjasama sudah menunjukkan ketertarikannya untuk ikut bergabung. Sebagian dari mereka sudah secara resmi menandatangai perjanjian kerjasama, sementara yang lain masih meminta
44 waktu untuk dapat memulai kerjasama di awal tahun karena alasan alokasi anggaran untuk program ini belum direncanakan di tahun ini. Walaupun demikian, mereka berkomitmen untuk memasukkan rencana ini di tahun depan. 4.3. Jejaring Kerja Selain melalui pola komunikasi efektif, faktor penting lain yang menjadi kunci diterimanya gagasan kerjasama pengelolaan taman ini adalah pemanfaatan jejaring kerja yang selama ini sudah terbentuk. Konsep membangun jerjaring kerja merupakan upaya aktif untuk membangun dan mengelola hubungan-hubungan produktif baik secara internal maupun eksternal. Dalam rencana aksi perubahan ini, konsep jejaring kerja tentunya sangat diperlukan dan telah diimplementasikan. Setidaknya tiga jenis jejaring yang telah dikenal (jejaring personal, jejaring operasional, dan jejaring strategis) telah dimanfaatkan sebagai media untuk menyosialisasikan gagasan dalam aksi perubahan ini. Jejaring personal, baik yang dimiliki oleh team leader, pegawai di Dinas Lingkungan Hidup, atau anggota Tim Kerja Aksi perubahan, telah secara optimal dimanfaatkan. Dalam melakukan penawaran kepada para pelaku usaha tentunya team leader mengajak serta personil dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro. Personil tersebut mungkin saja memiliki jejaring pada para pelaku usaha. Atau dengan pendekatan lain, personil tersebut menjadi dapat menjadi penerus keberlanjutan jejaring yang baru dimulai melalui aksi perubahan ini. Jejaing operasional juga dimanfaatkan dalam aksi perubahan ini. Sebagaimana definisi jejaring operasional, yaitu jejaring kerja yang dibangun dengan pihak-pihak yang terkait dengan penyelesaian tugas-tugas rutin, maka dalam memprioritaskan penawaran kerjasama dengan para pelaku usaha yang ada di Kota Metro Team leader terlebih dulu mengidentifikasi pihak-pihak yang paling potensial untuk dapat menerima skema kerjasama ini. Proses identifikasi dilakukan dengan melihat rekam jejak kerjasama yang telah dilakukan oleh para pelaku usaha yang ada termasuk kontribusi yang pernah diberikan kepada Pemerintah Kota Metro. Selain itu, rekam jejak terkait
45 kapatuhan para pelaku usaha terhadap aturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah juga menjadi bahan pertimbangan sebuah unit usaha dikategorikan sebagai mitra kerjasama yang potensial. Selain jejaring personal dan opersional, pendekatan kepada para pelaku usaha juga menggunakan pendekatan jejaring strategis, yaitu berupa tawaran kerjasama dalam skema yang saling menguntungkan. Insentif yang ditawarkan kepada para pelaku usaha semaksimal mungkin tersampaikan dengan baik. Selain itu, para pelaku usaha juga diberikan pemahaman terkait proyeksi keuntungan yang dapat diraih oleh para pelaku usaha melalui skema kerjasama pengelolaan taman-taman ini.
46 BAB V DISEMINASI DAN PUBLIKASI AKSI PERUBAHAN 5.1. Penerapan Strategi Komunikasi Organisasi adalah suatu kesatuan atau susunan yang terdiri atas orangorang dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan bersama. Salah satu faktor penunjang keberhasilan pencapaian tujuan, baik sebagai individu maupun organisasi adalah komunikasi. Komunikasi adalah proses pengiriman pesan atau informasi dari satu pihak kepada pihak lain dengan tujuan mencapai pemahaman yang seragam. Dalam konteks manajemen organisasi, komunikasi merupakan salah satu fungsi dasar yang krusial karena dalam komunikasi akan terjadi pertukaran intormasi yang dapat menjamin keteraturan interaksi antar posisi, alur kerja maupun ketepatan dalam penyelesaian tugas. Selain itu komunikasi yang baik luga dapat mencegah dan menyelesaikan konflik atau masalah yang terjadi. Setiap oganisasi publik harus memiliki strategi komunikasi efektif karena tujuan organisasi tidak lepas dari kesejahteraan dan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan organisasi. Sama halnya pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro yang harus memiliki strategi komunikasi yang efektif dengan setiap stakeholder. Sebagai contoh, salah satu permasalahan di bidang lingkungan hidup yang memerlukan komunikasi yang baik adalah penyelesaian masalah pengelolaan taman. Dalam pelaksanaan rencana aksi perubahan ini, secara umum terdapat beberapa macam strategi komunikasi yang diterapkan, antara lain: a. Pertemuan Koordinasi dengan Pendekatan Formal Bentuk kornunikasi ini melibatlkan undangan resmi kepada para pemangku kepentingan untuk pertemuan. Pertemuan di lakukan melalui rapatrapat terjadwal yang melibatkan pihak-pihak yang terkait untuk mendiskusikan agenda-agenda yang memang perlu pembahasan lintas sektor dan lintas organisasi. Dalam strategi ini, pembahasan dilakukan secara formal dan hasil pembahasan dituangkan dalam bentuk notulen rapat secara tertulis. Biasanya
47 isu yang dibahas melalui pendekatan formal ini adalah isu-isu krusial yang membutuhkan keputusan di level pimpinan. Walaupun dokumen-dokumen formal dapat dihasilkan, tetapi komunikasi melalui pendekatan ini memiliki kekurangan dalam hal kecepatan waktu dan kelancaran interaksi. Sebagai contoh, penentuan jadwal dan lokasi rapat membutuhkan waktu dan perlu diorganisir dengan baik. Jika tidak, maka pertemuan yang diinginkan bisa saja tidak terwujud. Selain itu, kendala psikologis saat pertemuan juga sering menjadi persoalan. Personil dari level bawahan terkadang tidak berani atau sungkan mengungkapkan pendapatnya di forum resmi apalagi jika dihadiri oleh para pimpinan. b. Komunikasi Lisan dengan Pendekatan Informal Komunikasi ini dilakukan melalui diskusi langsung melalui perbincangan informal untuk bertukar informasi dan membahas persoalan yang perlu didiskusikan. Dalam pendekatan informal ini, biasanya isu yang dibahas dalam pendekatan informal ini biasanya bukan merupakan permasalahan fundamental yang memerlukan keputusan di level pimpinan. Biasanya yang dibahans adalah permasalahan-permasalahan teknis yang dapat diselesaikan pada tingkat bawah. Media yang digunakan dalam pendekatan informal pun beragam. Jika memungkinkan untuk melakukan pertemuan tatap muka, maka media ini yang dipilih. Jika tidak, maka media komunikasi lain seperti telepon, pesan singkat, Whatsapp atau media sosial lainnya. Meskipun pendekatan informal tidak menghasilkan dokumen formal, pendekatan ini memiliki kelebihan dari segi kecepatan, efektifitas, dan kelancaran komunikasi. Dengan digunakannya perangkat komunikasi elektronik atau media sosial, kecepatan pertukaran informasi hamper tanpa kendala sehingga jalannya komunikasi menjadi lebih cepat, efektif, dan lancar. Dalam pelaksanaan rencana aksi perubahan ini, pendekatan informal banyak diaplikasikan dan dirasa cukup efektif untuk mencapai tujuan. Contohnya, pendekatan ke para pelaku usaha untuk diajak berkolaborasi menjadi lebih mudah melalui pendekatan personal yang informal. Kedekatan secara personal membuat para pelaku usaha memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi
48 dibandingkan dengan pendekatan institusional yang dilakukan oleh personil yang mereka belu kenal. c. Publikasi Melalui Media Massa dan Media Sosial Selain komunikasi lisan, strategi komunikasi untuk menyebarkan informasi terkait aksi perubahan ini adalah melalui media massa dan media sosial. Di era digital ini, pola komunikasi ini mampu menjangkau khalayak ramai dalam waktu yang singkat tanpa ada gangguan apapun. Dari perspektif strategi komunikasi, hal ini tentunya dapat dikatakan sebagai sebuah upaya masif untuk menyampaikan pesan ke masyarakat terkait suatu isu. Dalam pelaksanaan rencana aksi perubahan ini, publikasi melalui media massa dan media sosial juga dilakukan untuk memberitakan kermitraan yang terbangun antara pelaku usaha dan pemerintah daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan contoh kepada para pelaku usaha lain untuk ikut bergabung dalam skema kerjasama sekaligus sebagai bentuk apresiasi kepada pelaku usaha yang sudah bermitra. Gambar 5.1. Tangkapan Layar Berita di Media Massa tentang Kolaborasi Universitas Muhammadiyah Metro dan Dinas Lingkungan Hidup Terkait Pemeliharaan Taman
49 5.2. Keberhasilan Mendapat Dukungan Adopsi/Replikasi Aksi Perubahan Rencana aksi perubahan ini mendapat respon yang baik dan dukungan dari berbagai pihak baik internal maupun eksternal. Dukunganpun datang tidak hanya dari institusi pemerintah, tapi juga dari para pelaku usaha. Dukungan dari instansi-instansi pemerintah dituangkan secara formal dalam bentuk surat dukungan. Beberapa yang telah memberikan surat dukungan antara lain; Wakil Walikota Metro, Sekretaris Daerah Kota Metro, Kepala Bappeda Kota Metro, Kepala BPRD Kota Metro, dan Kabag Perekonomian Setda Kota Metro. Dukungan yang diberikan oleh para stakeholder tersebut didasarkan pada manfaat yang akan di dapat dari aksi perubahan ini. Jika aksi perubahan ini dapat diaplikasikan dengan baik, maka Pemerintah Kota Metro mendapatkan manfaat dari efisiensi penggunaan anggaran. Biaya pengelolaan yang dikeluarkan oleh mitra kerjasama tentunya akan mengurangi beban anggaran Pemerintah Kota Metro dalam pengelolaan taman-taman. Sehingga penghematan itu dapat digunakan untuk pembiayaan taman-taman yang selama ini belum terjamah oleh pemerintah atau juga dapat digunakan untuk pembiayaan sektor lain yang lebih prioritas. Selain itu, penerapan aksi perubahan ini juga akan meningkatkan peran serta masyarakat, dalam hal ini para pelaku, dalam pembangunan. Hal ini tentu sejalan dengan paradigma baru pembangunan nasional dimana peran serta masyarakat menjadi kunci dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Sedangkan dukungan dari para pelaku usaha diberikan dalam bentuk sambutan hangat dan penerimaan yang baik saat diberikan penawaran kerjasama. Beberapa diantaranya bahkan sudah menyatakan komitmen untuk bergabung dalam skema kerjasama dan menandatangani surat perjanjian kerjasama. Komitmen ini tentunya didasarkan pada potensi keuntungan, baik material dan non material, yang dapat diperoleh dengan bergabungnya mereka dalam skema kerjasama pengelolaan taman-taman di Kota Metro.
50 Gambar 5.2. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pemeliharaan Taman Antara Universitas Muhammadiyah Metro dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Metro Selanjutnya, konsep yang diusung oleh aksi perubahan ini tentu dapat diadopsi untuk bidang-bidang lain. Skema kerjasama antara pemerintah dan dunia usaha saat ini memang sedang digalakkan. Sehingga skema kerjasama ini tentunya memilki faktor pendukung yang cukup besar, baik dari sisi pemerintah maupun dari sisi para dunia usaha. Dari sisi pemerintah, keterlibatan dunia usaha dalam pembangunan sektor publik tentunya bukan barang baru dan sudah lazim diterapkan dalam berbagai bentuk kerjasama. Sedangkan dari sisi dunia usaha, para pelaku usaha umumnya mengalokasikan sejumlah dana untuk kegiatan yang biasa dilakukan dalam skema CSR (Corporate Social Responsibility). Melihat situasi seperti tersebut di atas, pendekatan kerjasama pemerintah dan dunia seperti yang diterapkan dalam
51 rencana aksi ini memiliki peluang yang cukup besar untuk direplikasi di bidang lain atau tempat lain dengan modifikasi yang diperlukan sesuai dengan keadaan.
52 BAB VI PELAKSANAAN PENGEMBANGAN POTENSI DIRI Dalam pelaksanaan aksi perubahan ini, identifikasi potensi diri telah dilakukan dan dituangkan ke dalam borang assessment pengembangan potensi. Assessment dilakukan bersama antara peserta dan mentor dengan melibatkan tiga komponen antara lain; komponen integritas, komponen kerjasama, komponen kemampuan mengelola perubahan. Secara umum, penilaian menunjukkan hasil yang cukup baik. Keterangan lebih rinci terkait assessment dimaksud dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar 6.1. Hasil Assessment Identifikasi Potensi Diri Hasil peniaian diatas menunjukkan bahwa project leader memiliki potensi diri dengan kualifikasi baik dan pelaksanaan aksi perubahan yang telah diusulkan dapat dijadikan media pembelajaran sehingga potensi diri yang sudah baik ini dapat terus dikembangkan dan ditingkatlan lagi. Sebagai contoh, aksi perubahan ini menuntut adanya kerjasama antar lembaga baik secara internal maupun eksternal. Kerjasama ini dilakukan disemua tahapan pelaksanaan rencana aksi. Sehingga kemapuan project leader untuk membangun kerjasama dapat dilatih melalui implementasi aksi perubahan ini. Selanjutnya, kesedian untuk bekerja sama tentunya didasari oleh adanya
53 kepercayaa kepada project leader, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari OPD. Maka secara langsung maupun tidak pelaksanaan aksi perubahan ini pun menjadi media pembelajaran dari sub komponen integritas. Aksi perubahan yang telah disusun juga menjadi media bagi project leader dan semua pihak yang terlibat untuk memiliki dan meningkatkan kemampuan mengelola perubahan. Kemampuan ini penting dan harus dimiliki oleh aparatur pemerintahan. Sebagaimana diketahui bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan dan pasti akan terjadi di berbagai dimensi kehidupan baik dalam skala kecil maupun besar, maka kemampuan untuk mengelola perubahan merupakan skill yang harus dimiliki oleh setiap ASN. Jika tidak sanggup untuk mengelola perubahan ini, maka layanan publik yang diberikan tentunya tidak akan sanggup memenuhi harapan dan tingkat kepuasan masyarakat. Selanjutnya, hal ini akan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat yang akan berimbas pada timbulnya hambatan komunikasi (communication block) diantara pemerintah dan masyarakat. Jika sampai pada tahap ini, semua program pembangunan yang dirancang akan sulit untuk diimplementasikan.
54 BAB VII PENUTUP 7.3. Kesimpulan Rencana aksi perubahan Pengelolaan Taman-taman di Kota Metro Melalui Penguatan Jejaring Kerjasama dan Partisipasi masyarakat telah diimplementasikan dan membawa dampak positif bagi perubahan organisasi ke arah yang lebih baik. Aksi ini merupakan terobosan baru dalam hal pengelolaan taman-taman di Kota Metro. Dampak paling nyata yang dapat dirasakan adalah berkurangnya beban anggaran Kota Metro dalam hal mengelola taman dan bagi mitra kerjasama keikutsertaan dalam program ini memberikan peluang untuk bisa lebih mengembangkan usaha mereka. Keberhasilan untuk mengajak para pelaku usaha untuk berkolaborasi dalam pengelolaan taman, seperti yang dilaksanakan dalam aksi perubahan ini, tentunya tak lepas dari keberhasilan strategi komunikasi dalam membangun jejaring kerjasama. Kombinasi antara pendekatan personal yang informal dan pendekatan kelembagaan ternyata mampu membuat para pelaku usaha memiliki trust kepada pemerintah daerah. Hal ini tentunya menjadi tren baik dan strategi yang telah diaplikasikan dalam aksi perubahan ini dapat diadopsi untuk dapat diterapkan dalam bidang lainnya. 7.4. Saran Untuk keberlanjutan aksi perubahan ini ada beberapa saran yang penulis dapat berikan, antara lain: 1. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, para pelaku usaha yang mendapat proposal penawaran kerjasama masih sangat terbatas. Untuk keberlanjutan aksi perubahan ini, penawaran kerjasama kepada para pelaku usaha hendaknya dapat diperluas guna memperluas potensi peningkatan partisipasi masyarakat. 2. Perlu penjadwalan yang lebih fleksibel dalam hal waktu pelaksanaan perjanjian kerjasama. Hal ini dikarenakan tiap pelaku usaha memiliki rencana keuangan masing-masing sehingga tidak dapat berpatokan
55 secara kaku kepada jadwal pernecanaan kegiatan seperti dalam rencana anggaran pemerintah daerah. 3. Sebagai tindak lanjut dari aksi perubahan ini, perlu dibentuk tim monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan perjanjian kerjasama yang telah disepakati. Sehingga, pelaksanaan butir-butir kesepakatan dapat terkendali dan tidak lepas dari rencana pembangunan yang telah ditetapkan.
56 DAFTAR PUSTAKA Budiarjo, Miriam. (2008), “Dasar-dasar Ilmu Politik”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Irmayanti, P.A., Widiastini., dan Suarmanyasa, I.N. (2020) “Pengaruh Kompetensi dan Budaya Kerja Terhadap Kinerja Karyawan”, Jurnal Manajemen dan Bisnis, Vol. 2 No. 1, hal. 111 – 119. Kibtiyah, A., dan Mardiyah. (2016), “Hubungan Integritas dan Loyalitas Karyawan dengan Visi Misi Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Bank Central Asia, Tbk.)”, EDUKA : Jurnal Pendidikan, Hukum, dan Bisnis, Vol 2 No 2, hal. 92 – 110. Mahsun, Mohamad. (2006), “Pengukuran Kinerja Sektor Publik”, BPFE, Yogyakarta. Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu, (2005) “Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan”, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Syarkani, Y., dan Wulandari, A. (2019), “Gaya Kepemimpinan dan Integritas Kerja Terhadap Etos Kerja Serta Dampaknya Terhadap Loyalitas Karyawan”, Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, dan Akuntansi, Vol 3 No 2., hal. 253 – 268. Triguno, 2004, “Budaya Kerja: Menciptakan Lingkungan yang Kondusif untuk Meningkatkan Produktifitas Kerja”, Golden Trayon Press, Jakarta. Welch, J. (2005), “Winning”, Harper Collins Publishers, New York.
57 LAMPIRAN