BUKU SAKU KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MASYARAKAT UNVIERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DI BENGKEL SEPEDA MOTOR
ii | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja TIM PENYUSUN Siti Maspupah, S.Pd., M.Pd. Dr. Iip Saripah, M.Pd. M. Irpan Abdurohman Rozy, M.Pd. Neng Ayu Esty R, S.Pd. Tahun 2023
iii | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja KATA PENGANTAR Bismillahirohmanirrohim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahhirobbil a’alamin segala puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan buku saku ini. Shalawat serta salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi akhir jaman Nabi Muhammad Saw serta kepada kita selaku umatnya hingga akhir zaman. Buku saku ini berisi tentang Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) pada bengkel Motor. Buku ini dapat digunakan sebagai pegangan bagi siapa saja yang melaksanakan kerja di bengkel motor agar terhindar dari kecelakaan kerja. Besar harapan penulis buku saku ini dapat menjadi referensi bagi para pembaca dan bagi orang yang memilki kompetensi pada bidang otomotif (khususnya kendaraan motor).
iv | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja DAFTAR ISI TIM PENYUSUN ............................................................................................... ii DAFTAR ISI....................................................................................................... iv PENDAHULUAN...............................................................................................1 BAGIAN 1 RUANG LINGKUP KESELAMATAN KERJA.............................2 A. Pengertian...............................................................................................2 B. Ruang Lingkup dan Syarat-syarat Keselamatan Kerja .......................3 C. Fungsi dan Tujuan .................................................................................5 D. Komponen K3LH ...................................................................................6 BAGIAN 2 POTENSI BAHAYA DALAM KERJA ...........................................8 A. Kecelakaan Kerja ....................................................................................8 B. Risiko Kecelakaan Kerja ........................................................................9 C. Faktor Terjadinya Kecelakaan Kerja.....................................................9 BAGIAN 3 KESELAMATAN KERJA DAN KESEHATAN LINGKUNGAN ............................................................................................................................11 A. Keselamatan Kerja................................................................................11 B. Kesehatan Lingkungan........................................................................11 BAGIAN 4 PERLENGKAPAN K3LH DALAM BENGKEL..........................12 A. Unsur-Unsur Keselamatan dan Kesehatan Kerja..............................12 B. Keselamatan Kerja Pada Bengkel Mesin............................................13 BAGIAN RAMBU-RAMBU K3LH..................................................................14 A. Rambu-rambu Berdasarkan Warna....................................................14 B. Rambu-rambu Berdasarkan Simbol ...................................................16
1 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja PENDAHULUAN Keselamatan pada dasarnya adalah kebutuhan naluriah dan jasmaniah bagi setiap manusia dalam melaksanakan kegiatan. Keselamatan juga sudah menjadi keinginan yang melekat dalam diri manusia untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan potensi yang dapat membahayakan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Sejak zaman dahulu, kemungkinan potensi yang dapat membahayakan terjadi secara alamiah seperti mencegah dari ancaman bahaya alam, binatang buas, dan bahaya lingkungan hidup lainnya. Manusia berusaha mempertahankan hidup di tengah berbagai bahaya dengan bermacam cara untuk mencapai keselamatan. Seiring dengan perkembangan zaman dan peradaban, maka tantangan dan potensi bahaya yang dihadapi manusia semakin kompleks dan siap terjadi kapan saja dan di mana saja dalam berbagai sendi kehidupan. Ancaman bahaya itu dapat dibuktikan dari maraknya potensi bahaya yang ada di lingkungan sekitar. Bahaya dapat terjadi dimana-mana dan terkadang tidak kasat mata seperti di jalan raya, di lingkungan, di tempat bermain, di tempat umum, dan di sekolah. Pada dunia pendidikan, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah formal yang terdiri dari siswa, pendidik dan tenaga kependidikan serta semua pegawai yang terlibat di dalamnya. Dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, harus memperhatikan keselamatan dan kesehatan dalam bekerja, agar terlindung dari bahaya yang mengancam keselamatan dalam bekerja. Apabila pelaksanaan keselamatan dan kesehatan yang tidak terjamin dengan baik maka akan menyebabkan terjadinya kecelakaan. Salah satunya saat praktikum di bengkel atau laboratorium sekolah tentunya memiliki resiko yang tinggi, tingkat kecelakaan kerja, dan penyakit akibat kerja terus meningkat, pemahaman masyarakat terhadap sifat bahaya dan bahan yang masih rendah dan belum terciptanya budaya safety yakni perduli terhadap keselamatan manusia dan lingkungan. Keselamatan kerja pada bengkel mesin perlu dilaksanakan, mengingat tingginya resiko terjadi
2 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja kecelakaan, maka sebelum bekerja dalam suatu bengkel mesin, harus mempertimbangkan dan mengingat keamanan kerja sehingga program kerja akan berjalan lancar. Untuk itu harus diingat dimana mesin dan dimana jenis mesin tempat bekerja di samping lingkungan dan suasana tempat kerja. Atas dasar itu, penulis bermaksud membuat buku saku berjudul “Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) Bengkel Motor.” Buku ini dapat digunakan bagi para pendidik, peserta didik, ataupun para praktisi yang berada di bidang Teknik Otomotif atau Teknik Bisnis Sepeda Motor di Sekolah Menengah Kejuruan. BAGIAN 1 RUANG LINGKUP KESELAMATAN KERJA A. Pengertian Keselamatan berasal dari kata dasar selamat yang memiliki arti terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana atau tidak mendapat gangguan, kerusakan dan lain sebagainya. Kata selamat juga bersumber dari Bahasa Inggris yaitu safety yang dihubungankan dengan keadaan bebasnya seseorang dari kondisi celaka (accident). Keselamatan kerja adalah suatu upaya agar pekerja selamat di tempat kerja dan terhindar dari kecelakaan. Sementara itu, Kesehatan kerja adalah suatu upaya agar pekerja tetap sehat dan terhindar dari penyakit yang timbul akibat bekerja. Menurut (Silalahi, 1995) keselamatan merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan sedangkan kesehatan yaitu terhindarnya penyakit yang mungkin akan timbul setelah memulai pekerjaan. Sejak saat itu, manusia juga membutuhkan keselamatan dan kesehatan dalam dunia kerja guna keberlangsungan pekerjaan yang disertai keamanan. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan upaya kita untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman, sehingga dapat mengurangi probabilitas kecelakaan kerja atau penyakit akibat kelalaian yang mengakibatkan demotivasi dan dan defisiensi produktivitas kerja. Secara sederhana, keselamatan kerja (safety) adalah perlindungan para pekerja dari lukluka yang diakibatkan oleh kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan.
3 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sesuai dengan dasar hukum Undang-Undang No. 1 tahun 1970, menjelaskan bahwa : “Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu upaya praktis untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja atau buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi.” Keselamatan merupakan perlindungan dari cedera yang disebabkan oleh kecelakaan yamg berkaitan dengan pekerjaan. Sedangkan kesehatan yaitu terbebasnya dari penyakit fisik atau emosional. Keselamatan dan kesehatan kerja adalah pengawasan terhadap orang, mesin, material dan metode yang mencangkup lingkungan kerja agar pekerja tidak mengalami cidera. Menurut UU Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang kesehatan, kesehatan adalah “keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang menungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sementara kesehatan kerja (occupational health) dapat diartikan sebagai terbebasnya para pekerja dari penyakit fisik atau emosional (an employee’s freedom from physical or emotional illness). Menurut (Simanjuntak, 2016) Kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja. Ketentuan yang sama juga menegaskan bahwa setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja merupakan usaha untuk menciptakan tempat kerja aman, sehat, selamat dari kecelakaan sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. B. Ruang Lingkup dan Syaratsyarat Keselamatan Kerja Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 ruang lingkup keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam rumah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Adapun syarat-syarat keselamatan kerja menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 adalah untuk: 1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
4 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran. 3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan. 4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya 5. Memberi pertolongan pada kecelakaan 6. Memberi alat-alat perlindungan diri para pekerja 7. Mencegah dan mengendalikan timbul dan menyebarluasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar radiasi, suara dan getaran 8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan. 9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. 10. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik 11. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup 12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban 13. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya 14. Mengamankan dan memperlancar pengangkatan orang, binatang, tanaman atau barang 15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan 16. Megamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang 17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya 18. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. Sumber Gambar : Facebook DeltaIndo
5 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja C. Fungsi dan Tujuan Fungsi dan Tujuan Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Menurut (Sucipto, 2014) fungsi keselamatan kerja ada empat yaitu: 1. Antisipasi, identifikasi dan evaluasi kondisi dan praktek berbahaya. 2. Buat desain pengendalian bahaya, metode, prosedur dan program. 3. Terapkan, dokumentasikan dan informasikan rekan lainnya dalam pengendalian bahaya dan program pengendalian bahaya. 4. Ukur, periksa kembali keefektifitas pengendalian bahaya dan program pengendalian bahaya. Sementara itu, tujuan keselamatan dan kesehatan kerja pada intinya adalah untuk melindungi pekerja dari kecelakaan akibat kerja. Menurut (Ruswandi, 2007) mengemukakan bahwa tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk tercapainya keselamatan karyawan saat bekerja dan setelah bekerja. Sedangkan tujuan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja di sekolah adalah untuk menjamin keselamatan dan kesehatan kerja para siswa dari potensi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta dapat menggunakan dan memelihara sumber produksi secara aman dan efisien. Seiring dengan itu, tujuan Keselamatan Kerja berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, bahwa tujuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang berkaitan dengan mesin, peralatan, landasan tempat kerja dan lingkungan tempat kerja adalah mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit akibat kerja, memberikan perlindungan pada sumber-sumber produksi sehingga dapat meningkatkan efiensi dan produktivitas. Hal ini tentu sangat penting mengingat apabila Kesehatan pegawai buruk mengakibatkan turunnya capaian output serta demotivasi kerja. Menurut (Widodo, 2015) keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan menungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Maka menurut (Widodo, 2015) tujuan keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut: 1. Agar mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial dan psikologis
6 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik- baiknya seselektif mungkin 3. Agar semua hasil produksi terpelihara keamanannya 4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi 5. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja 6. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan dan kondisi kerja 7. Agar merasa aman dan terlindung dalam bekerja. D. Komponen K3LH Untuk menjaga agar keselamatan dan kesehatan kerja dapat terjaga dan terjamin. Menurut (Kasmir) ada beberapa komponen yang perlu dilakukan yaitu: 1. Tersedianya peralatan kerja yang memadai. Tersedianya peralatan kerja yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Misalnya tersedianya masker, helm, sarung tangan, kaca mata, sepatu, penutup telinga dan peralatan lainnya. Dan juga harus menyediakan peralatan pemadam kebakaran untuk menjaga jika terjadi kebakaran di setiap lokasi tertentu. 2. Perawatan peralatan secara terus-menerus Artinya peralatan kerja harus selalu digunakan pada saat bekerja atau berada di ruangan tertentu. Peralatan ini harus selalu dipelihara agar dapat digunakan setiap saat. Jangan samapai hendak digunakan terjadi kemacetan, sehingga membahayakan. Misalnya alat pemadam kebakaran, AC, ventilasi atau peralatan lainnya. 3. Kepatuhan karyawan Setiap karyawan yang bekerja di sekitar lokasi kerja wajib mematuhi aturan tentang keselamatan kerja yang telah ditetapkan. Kepatuhan ini penting karena jika tidak ada yang patuh terhadap penggunaan peralatan kerja, dan rambu- rambu akan mengakibatkan kecelakaan kerja. 4. Prosedur kerja Pelanggaran terhadap prosedur kerja akan berakibat kepada kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu, kepada setiap karyawan harus memahami prosedur kerja yang telah ditetapkan. 5. Petunjuk kerja di setiap lokasi kerja Penempatan petunjuk
7 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau rambu kerja perlu guna mengingatkan karyawan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Penempatan petunjuk atau rambu kerja harus di tempat atau lokasi yang strategis, serta mudah dilihat. 6. Kondisi udara di ruangan Artinya kondisi di ruangan haruslah disesuaikan dengan kondisi yang seharusnya. Misalnya panas atau dingin yang dibutuhkan untuk suatu ruangan. Kondisi udara yang berkaitan dengan keberadaan debu baik yang terlihat maupun tidak terlihat. 7. Ventilasi ruangan Adanya alat untuk menjaga sirkulasi udara di dalam suatu ruangan. Ventilasi bisa berbentuk lubang, jendela atau peralatan penyedot udara yang dapat membuat udara berganti menjadi segar. Ruangan yang tidak memiliki ventilasi udara dapat menyebabkan sumpek dan menimbulkan penyakit. 8. Kebisingan Artinya untuk ruangan tertentu yang menggunakan mesin yang memiliki suara keras dan menyebabkan kebisingan maka diperlukan alat peredam suara untuk mengatasinya. 9. Penerangan atau cahaya Setiap ruangan harus memiliki penerangan yang cukup sehingga tidak mengganggu pekerjaan. Penerangan dalam bentuk masuknya sinar matahari pada jam tertentu atau dapat menggunakan lampu penerangan yang cukup. 10. Tersedianya pembuangan kotoran limbah. Artinya perusahaan harus menyediakan pembuangan baik air maupun udara sehingga tidak mengganggu kesehatan termasuk kesehatan warga. Sumber Gambar https://www.montirpintar.com/ 2020/01/keselamatan-kerja-dibengkel.html Adapun alat-alat K3LH yakni sebagai berikut. 1) Pakaian Kerja 2) Sepatu Pengaman 3) Switch Emergency 4) Kontrol Panel kelistrikan 5) Arde
8 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja 6) Alat Kebersihan 7) Pemadam kebakaran, dll. Dokumentasi Pribadi : Poster Bengkel Motor Jadi dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen keselamatan dan kesehatan kerja meliputi persiapan peralatan yang memadai, perawatan peralatan, kepatuhan, prosedur kerja, petunjuk kerja, kondisi udara, ventilasi, kebisingan, penerangan dan tersedianya tempat pembuangan kotoran atau limbah. BAGIAN 2 POTENSI BAHAYA DALAM KERJA A. Kecelakaan Kerja Menurut (Sujoso, 2012) Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja dapat diartikan sebagai suatu kejadian yang tidak diinginkan dan dapat menyebabkan kerugian baik bagi diri sendiri maupun orang lain yang terjadi saat jam kerja dan di wilayah kerja maupun kecelakaan yang kerja yang terjadi di jalur rutin tempat bekerja. Sementara itu, menurut (Askharya, 2017) Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak diduga dan tidak diharapkan dan dapat menyebabkan kerugian fisik maupun material di tempat kerja. Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 03 Tahun 1998 mendefenisikan kecelakaan kerja sebagai suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga sebelumnya yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda (Permenaker RI, 1998). Sumber Gambar: https://anakkatiga.blogspot.com /2018/03/jenis-jenis-bahayahazard-dalam-k3.html
9 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja B. Risiko Kecelakaan Kerja Risiko Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja merupakan suatu keadaan yang tidak diinginkan kehadirannya karena timbulnya kecelakaan kerja dapat menyebabkan kerugian pada manusia, peralatan, waktu kerja hingga proses produksi. Hasil penelitian (Aswar, 2016) menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja pernah mengalami kecelakaan kerja sedang sebesar 36,7%, pekerja yang pernah mengalami kecelakaan kerja ringan sebesar 4,7% serta sebagian kecil pekerja pernah mengalami kecelakaan kerja berat sebesar 28,6%. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sutrisno, 2019) di bengkel otomotif diketahui bahwa kecelakaan kerja yang terjadi selama 3 tahun terakhir adalah terjatuh, terjepit, tergores, terbentur, terpeleset karena oli, terpeleset ketika melakukan pembersihan, iritasi terkena air aki, tersentrum kabel listrik, terkena panas dari mesin kendaraan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hidayat, 2016) didapatkan bahwa kecelakaan kerja yang sering terjadi di bengkel ialah tergores plat kendaraan, jari terpukul palu, tangan terbentur benda keras, sesak nafas karena asap kendaraan, mata terkena debu dan terkilir akibat kesalahan postur tubuh saat mengangkat atau memidahkan beban yang terlalu berat serta bahaya kebisingan, sedangkan hasil penelitian (Syauqi, 2015) memperlihatkan bahwa kecelakaan kerja yang sering terjadi di bengkel ialah terpeleset, terkena palu, terkena percikan api, terkena benda tajam, terjepit dan tertimpa peralatan yang berat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Erdhianto, 2017) pada bengkel kendaraan bermotor diketahui bahwa kecelakaan kerja yang terjadi antara lain adalah kebakaran mesin, luka 30 pada kepala, terjatuh dan tersiram oli mesin yang panas. C. Faktor Terjadinya Kecelakaan Kerja https://sardjito.co.id/2019/0 2/11/hindari-terpeleset-
10 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersandung-dan-terjatuhpada-saat-bekerja/ Menurut (Syamtinningrum, 2017)Kecelakaan kerja dapat terjadi karena beberapa faktor diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Faktor manusia yaitu faktor yang berasal dari manusia itu sendiri, terdiri dari kemampuan kerja (masa kerja / pengalaman kerja, kurangnya kecakapan serta lambatnya mengambil keputusan) karakteristik pekerja (usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan) serta perbuatan yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja. Kesalahan yang disebabkan oleh seorang pekerjadan sikap tidak wajar seperti ceroboh, kelalaian, tidak sabar, tidak mengikuti prosedur / instruksi. 2. Faktor lingkungan yaitu faktor yang bersumber dari lingkungan kerja, terdiri dari tata letak mesin/peralatan kerja, 17 penggunaan alat kerja yang telah rusak serta kondisi lingkungan yang tidak mendukung pekerjaan misalnya lantai yang kotor dan licin. 3. Faktor pekerjaan yaitu faktor yang berasal dari pekerjaan itu sendiri, seperti jam kerja. Sementara itu, faktor lain yang menyebabkan terjadinya potensi bahaya di dalam keselamatan kerja dan lingkungan hidup (K3LH) bengkel motor 1. Tidak tersedianya alat-alat keselamatan kerja dan kesehatan kerja. 2. Tidak tersedianya alat-alat kebersihan. 3. Tidak tersedianya alat pemadam kebakaran dan P3K. 4. Tidak tersedianya prosedur penggunaan alat/mesin sesuai SOP. 5. Tidak adanya ramburambu keselamatan kerja. 6. Menggunakan alat atau mesin dalam keadaan yang rusak. 7. Rambut panjang dibiarkan terjurai dekat mesin yang berputar. 8. Membiarkan sisa pekerjaan berserakan. 9. Membiarkan kondisi alat dan mesin dalam keadaan kotor. 10. Membiarkan ruangan dalam keadaan kotor dan licin. 11. Tata letak mesin yang tidak beraturan.
11 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja 12. Panel listrik tegangan tinggi dibiarkan terbuka. 13. Kurangnya penerangan ruang kerja. 14. Dan lain-lain. BAGIAN 3 KESELAMATAN KERJA DAN KESEHATAN LINGKUNGAN A. Keselamatan Kerja Menurut (Sujoso, 2012) Keselamatan dan Kesehatan Kerja Keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagian dari kesehatan masyarakat yang melakukan upaya pencegahan terhadap munculnya suatu penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan kecelakaan akibat kerja dengan sasaran utama adalah seluruh pekerja yang dapat berperan sebagai upaya perlindungan terhadap tenaga kerja dengan aspek yang sangat luas, mulai dari perlindungan terhadap keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang semestinya didapatkan. Menurut Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 2015 menjelaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan segala suatu kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (Permenaker RI, 2015). Berdasarkan UU RI No.1 Tahun 1970 dinyatakan bahwa setiap pekerja memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan dan perlu diadakan upaya oleh tempat kerja untuk meningkatkan perlindungan terhadap pekerjanya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja (UU RI, 1970). Dokumentasi Pribadi : Praktik di Bengkel Motor B. Kesehatan Lingkungan Pengelolaan sampah yang baik harus dilakukan untuk menciptakan lingkungan kerja
12 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang bersih sehingga mendukung terciptanya keselamatan dan kesehatan kerja. Beberapa hal yang bisa dilakukan terkait pengelolaan sampah di tempat kerja diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Membuang sampah pada tempat yang telah disediakan 2. pemilahan sampah dilakukan sesuai jenis sampah yang dihasilkan. a) Sampah organik Yaitu sampah yang mudah teruari oleh mikroorganisme. Misalnya: sisa makanan, sampah dari tanaman, dedaunan, ranting, dan hewan. b) Sampah anorganik Misalnya kertas, kardus bekas, plastik, botol, kaleng https://www.istockphoto.com/id /foto/besi-tua-untukpembuangan-sampah BAGIAN 4 PERLENGKAPAN K3LH DALAM BENGKEL A. Unsur-Unsur Keselamatan dan Kesehatan Kerja Supaya menciptakan kondisi yang aman dan sehat dalam bekerja diperlukan adanya unsurunsur keselamatan dan kesehatan kerja. Adapun unsur-unsur keselamatan dan kesehatan kerja menurut (Ruswandi, 2007) antara lain sebagai berikut. 1. Adanya APD (Alat Pelindung Diri). 2. Adanya buku petunjuk penggunaan alat atau isyarat bahaya. 3. Adanya peraturan pembagian tugas dan tanggung jawab. 4. Adanya tempat kerja yang aman sesuai dengan standar SSLK (syaratsyarat lingkungan kerja) antara lain tempat kerja steril dari debu, kotoran, asap rokok, uap gas, radiasi, getaran mesin dan peralatan, kebisisngan, tempat kerja aman dari arus listrik, lampu penerangan cukup memadai, ventilasi dan sirkulasi udara seimbang,
13 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja adanya aturan kerja atau aturan keprilakuan 5. Adanya penunjang kesehatan jasmani dan rohani ditempat kerja 6. Adanya sarana dan prasarana yang lengkap ditempat kerja. 7. Adanya kesadaran dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja. https://www.kompasiana.com / -penggunaan-alat-pelindungdiri-apd Berdasarkan pendapat di atas, maka di dalam melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja bengkel sangat dibutuhkan unsurunsur seperti menggunakan alat pelindung diri, buku petunjuk, pembagian tugas, tempat kerja yang aman, penunjang kesehatan, sarana dan prasarana keselamatan dan kesehatan kerja serta adanya kesadaran dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja terutama pada saat praktik di mesin. B. Keselamatan Kerja Pada Bengkel Mesin Sebelum bekerja dalam suatu bengkel mesin, kita harus mempertimbangkan dan mengingat akan keamanaan kerja sehingga program kerja akan berjalan lancar. Untuk itu kita harus, di mesin mana dan jenis mesin tempat kita bekerja disamping lingkungan dan suasana tempat bekerja. Alat pengaman atau perintang bagian yang berbahaya dan berputar serta landasan injakan operator dan kebersihan mesin. https://www.bambangirwa ntoripto.com/2022/02/keamana n-dan-keselamatan-kerja.html
14 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja Hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut: 1. Kebersihan Sebelum dan sesudah bekerja, tangan harus dibersihkan dan sedapat mungkin pakaian kerja juga dalam keadaan bersih sebelum mulai bekerja. Setelah selesai bekerja, mesin dan semua peralatan yang telah dipakai juga harus dibersihkan sebelum disimpan dalam lemari 2. Menjalankan dan menggunakan mesin Sebelum mengetahui keadaan mesin dan menguasainya dengan baik, janganlah mencoba-coba menggunakannya karena sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kecelakaan atau kerusakan. Maka sebagai pedoman bekerja pada suatu mesin ialah sebagai berikut. a) Mintalah kepada orang yang lebih berpengalaman. b) Pelajari dulu buku petunjuk untuk menggunakannya. c) Perhatikan bagian-bagian mana yang paling berbahaya. d) Perhatikan pegamanpengamanannya. e) Sebelum mulai mengerjakan benda kerja, teliti sekali lagi dengan cermat bagianbagian yang berputar, bautbaut pengikat pahat, dan benda kerja. f) Sediakan minyak pendingin atau pelumas untuk menjaga keausan alat potong. 3. Kemampuan mesin Sebelum dan sesudah bekerja tangan harus dibersihkan dan sedapat mungkin pakaian kerja juga dalam keadaan bersih sebelum memulai kerja. Setelah selesai kerja mesin dan semua peralatan yang telah dipakai juga harus dibersihkan sebelum disimpan di lemari. BAGIAN 5 RAMBU-RAMBU K3LH A. Rambu-rambu Berdasarkan Warna Rambu-rambu K3 adalah tanda informasi yang bersifat himbauan, peringatan, maupun larangan yang bertujuan untuk mengendalikan, mengatur, dan melindungi keselamatan dan kesehatan para pekerja dan orang lain yang berada di tempat kerja. Berikut beberapa simbol dari rambu-rambu K3LH serta artinya.
15 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1. Warna merah digunakan untuk mengidentifikasi danger (bah aya), fire (kebakaran), dan stop. Seringnya, warna merah digunakan pada rambu-rambu keamanan yang bertujuan untuk mengidentifikasi bahan kimia berwujud cair yang mudah terbakar, serta alat pemadam kebakaran. 2. Warna kuning digunakan untuk menunjukkan caution (wasp ada). Garis hitam pada rambu keselamatan ini bertujuan untuk menarik perhatian pekerja. Anda dapat menemukan safety sign dengan lambang warna kuning di lokasi-lokasi yang rawan situasi berbahaya baik yang berpotensi menyebabkan luka ringan atau sedang, seperti terpeleset, tersandung, terjatuh, atau di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar. Anda juga dapat menemukannya di dekat susuran tangga atau ruang penyimpanan zat asam. 3. Warna hijau digunakan untuk menunjukkan tempat penyimpanan peralatan keselamatan, peralatan P3K, MSDS (Material Safety Data Sheet). Selain itu juga digunakan untuk instruksiinstruksi umum mengenai praktik kerja secara aman. Anda dapat menemukan safety sign berwarna hijau pada eye shower, eyewash, serta rute emergency exit. 4. Warna biru bermakna notice (perhatian). Rambu keselamatan ini digunakan untuk menunjukkan informasi keselamatan yang bukan bahaya atau instruksi tindakan, seperti kebijakan perusahaan atau penggunaan APD. Warna biru juga digunakan untuk menandai peralatan yang tidak boleh digunakan, seperti rambu perintah, pengendali listrik, perancah, dan lainnya.
16 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja 5. Warna Hitam dan putih. Kombinasi dua warna ini umumnya digunakan untuk menunjukkan lalu lintas dan tanda untuk kerapihan (housekeeping). Contoh penggunaan safety sign dengan warna hitam dan putih dapat ditemui di jalan raya, rambu penunjuk, dan anak tangga. B. Rambu-rambu Berdasarkan Simbol Selain itu, bentuk ramburambu K3LH juga disajikan dalam bentuk simbol-simbol dengan gambar atau logo berwarnawarni.
17 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja
18 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja REFERENSI Askharya, R. (2017). Faktor Unsafe Action (Perilaku Tidak Aman) Pada Pekerja Konstruksi Proyek Pembangunan Rumah Bertingkat Oleh PT. Jader Cipta Cemerlang Makassar Tahun 2017. Makassar. Aswar, E. A. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Bengkel Mobil Kota Kendari Tahun 2016. Kendari. Erdhianto, Y. (2017). Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Departemen Service PT Mega Daya Motor Mazda Jatim dengan Metode 5 Whys dan Scat. Jurnal Iptek. Hidayat, N. d. (2016). Kajian Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Bengkel Di Jurusan Pendidikan Teknik Sipil Dan Perencanaan Fakultas Teknik UNY. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 52-56. Kasmir. (n.d.). Ruswandi, S. d. (2007). Prosedur Keamanan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Yudistira. Silalahi, B. N. (1995). Penyebab Terjadinya Kecelakaan. Jakarta. Simanjuntak, P. L. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Sucipto, C. D. (2014). Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta: Gosyen Publishing. Sujoso, A. (2012). Dasar-Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (W. . Noerkoentjoro & H. Febriyanti (Eds.); Katalog Da. UPT Penerbitan UNEJ. Sunyoto, D. (2015). Manajemen dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: CAPS. Sutrisno, I. d. (2019). Identifikasi Potensi Bahaya Guna Pencegahan Kecelakaan Kerja dengan Metode Failure Mode and Effect Analysis di PT. Cita Cakra Persada Honda Jemursari. JPTM. Syamtinningrum, M. (2017). Pengembangan Model Hubungan Faktor Personal Dan Manajemen K3 Terhadap Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action) Pada Pekerja PT.Yogya Indo Global. Yogyakarta: Institut Teknologi Sepuluh November. Syauqi, Q. d. (2015). Analisis Potensi Kecelakaan Kerja Pada Cv . Automotive Workshop Dengan Metode Failure Mode and Effect Analysis. Widodo, S. E. (2015). Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
19 | Buku Saku Keselamatan dan Kesehatan Kerja