Keong Mas
Tri Nor Kasanatun
NIM 857674878
Pada zaman dahulu kala, di Pulau
Jawa terdapat kerajaan bernama
Daha yang dipimpin oleh raja
bernama Kertamarta. Beliau
memiliki dua orang putri yang
sama-sama cantik bernama
Candra Kirana dan Dewi Galuh.
Dewi Galuh adalah anak sulung
dari Raja Kertamarta, sementara
Candra Kirana adalah anak
bungsu.
Raden Inu Kertapati yang
mendengar kabar tentang
kecantikan Candra Kirana.
Pada suatu hari, Raden Inu
Kertapati berkunjung ke
Kerajaan Daha untuk
membuktikan kecantikan dari
putri-putri Kerajaan Daha.
Pada suatu hari, Raden Inu
Kertapati kembali lagi ke
Kerajaan Daha dengan niat
untuk meminang Candra
Kirana.
Seisi istana dibuat kaget
bercampur rasa bahagia
mendengar berita tersebut.
Dewi Galuh merasa bahwa Raden Inu
lebih pantas bersanding dengannya
jika dibandingkan dengan Candra
Kirana adiknya sendiri.
Semakin hari rasa kebencian Dewi Galu
semakin menjadi kepada Candra
Kirana. Ia kemudian berfikir keras
tentang bagaimana menyingkirkan
Dewi Kirana supaya Raden Inu bisa
menjadi miliknya.
Dewi Galuh mendatangi
penyihir untuk menyingkirkan
Candra Kirana. Nenek sihir itu
menyihir Candra Kirana dan
mengubahnya menjadi Keong
Mas. Kemudian dibuang dan
dihanyutkan ke sungai.
Di suatu hari, terdapat seorang nenek
tua bernama Mbok Bayan sedang
mencari ikan di tepian pantai.
Seketika itu tiba-tiba pandangannya
tertuju pada sebuah keong berwarna
mas terdapat di pesisiran sungai.
“Keong mas? Cantik sekali
warnanya!” Ujar Mbok Bayan dalam
hati dan memungutnya serta
membawa pulang ke rumah.
Pada suatu hari terjadilah
sesuatu yang aneh. Setiap
kali Mbok Bayan selesai
mencari ikan dan ia pulang
ke rumah sudah dalam
kondisi sangat bersih dan
makanan tersedia di meja
makan.
“Siapa yang membersihkan
rumah dan memasak ya? Aku
kan hanya tinggal sendiri!”
Gumam Mbok Bayan di
dalam hatinya.
Alangkah terkejutnya dia ketika
mendapati di dalam dapur terdapat
seseorang gadis yang berdiri
membelakanginya. Gadis misterius
tersebut sedang dalam keadaan
memasak.
“Kamu siapa cah ayu dan apa yang
kamu lakukan disini?” Tanya dari Mbok
Bayan.
“Sebelumnya perkenalkan Mbok, saya
Candra Kirana yang sudah dikutuk
menjadi keong mas oleh seorang
penyihir atas perintah saudara saya
sendiri”.
Pada akhirnya kabar
menghilangnya Candra Kirana
tersebar dengan cepat dan
terdengar ke telinga Raden Inu
Kertapati. Pagi harinya ia
segera bergegas mencari
Candra Kirana. Ia menyamar
menjadi orang biasa tanpa
ditemani oleh seorangpun dari
pengawalnya.
Dewi Galuh yang mengetahui
bahwa Raden Inu ingin mencari
Candra Kirana kemudian
memerintahkan kepada nenek
sihir untuk menggagalkan usaha
Raden Inu,
Nenek sihir utusan dari Dewi
Galuh kemudian menyamar
menjadi burung gagak dan Raden
Inu pun menganggap gagak itu
menunjukan jalannya.
Di tengah-tengah perjalanan, Raden
Inu bertemu dengan kakek yang
kakinya sedang teluka. Raden Inu
akhirnya menolong kakek tua itu
dan memberinya sedikit
perberkalan.
Kakek tua yang melihat burung
gagak mengikuti Raden Inu tersebut
dilemparkan tongkat ke arah gagak
dan dalam sekejap gagaknya
menghilang.
Raden Inu menceritakan apa
yang dialami olehnya. Kakek
tersebut memberi tahu kepada
Raden Inu bahwa Candra Kirana
berada di Desa Dadapan.
Setelah bertemu dengan Raden
Inu, kutukan yang diterimanya
kini sudah hilang.
Mbok Bayan sekarang ini
tinggal di dalam istana
bersama Raden Inu dan
Candra Kirana.
Akhirnya sudah tidak
ada lagi yang
menghalangi kisah cinta
antara Raden Inu
Kertapati dan Candra
Kirana. Mereka berdua
kemudian menikah dan
membuat rakyat Daha
sangat bahagia.