The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by christopertampubolon0304, 2023-05-29 21:40:19

Buku Semiotika Nyoman Nuarta

Buku Semiotika Nyoman Nuarta

i KAJIAN SEMIOTIKA Kajian Semiotika Pada Karya I Nyoman Nuarta Christopher Tampubolon, 21 Mei 2023 Edisi: 1 Kajian Semiotika I Nyoman Nuarta, Sumatera Utara 2023; ikonsitas, semiotika sastra dan seni visual Editor: Christopher Tampubolon Desain Sampul: Christopher Tampubolon Hak Cipta; dilarang memperbanyak, menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa dan bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penulis. Kajian Semiotika Karya Seni I Nyoman Nuarta, Medan 2023, 32 hlmn ;14,8x21,00 cm.


ii KATA PENGANTAR Pertama-tama penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas tersusunnya buku ini sebagai syarat memenuhi tugas dari mata kuliah Semiotika Seni. Buku ini di rancang sedemikian rupa agar pembaca memahami kajian-kajian semiotika pada karya I Nyoman Nuarta, isi buku ini memuat pengantaran semiotika yang memuat konsep dasar antara lain paradigmatic dan sintaktik, sinkronik dan diakronik, denotatif dan konotatif, metonimi, dan tanda penanda dalam karya I Nyoman Nuarta. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak pihak yang ikut serta memantu penulis dalam penyusunan buku ini. Penulis sadar, masih banyak luput dan kekeliruan yang tentu saja jauh dari sempurna tentang buku ini. Oleh sebab itu, penulis mohon agar pembaca memberi kritik dan juga saran terhadap karya buku ini agar dapat terus meningkatkan kualitas buku. Demikian buku ajar ini penulis buat, dengan harapan agar pembaca dapat memahami informasi dan juga mendapatkan wawasan mengenai kajian semiotika dalam karya I Nyoman Nuarta serta dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam arti luas. Terima kasih. Medan, 20 Mei 2023 Christopher Tampubolon


iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR..................................................................................i DAFTAR ISI................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN.............................................................................1 A. Biografi I Nyoman Nuarta..............................................................1-2 BAB II RUANG LINGKUP SEMIOTIKA................................................3 A. Pengertia Semiotika............................................................................3 B. Ruang Lingkup Semiotika...............................................................3-6 C. Kajian Karya..................................................................................6-10 BAB III KAJIAN TIPOLOGI TANDA....................................................11 A. Pengantar......................................................................................11-12 B. Pengertian Tipologi Tanda...........................................................12-13 C. Kajian Karya Karapan Sapi..........................................................13-14 D. Kajian Karya Jalesveva Jayamahe................................................14-15 E. Rangkuman...................................................................................15-16 BAB IV KAJIAN SEMIOLOGI.................................................................17 A. Pengantar............................................................................................17 B. Pengertian Semiologi.........................................................................18 C. Kajian Karya Garuda Wisnu Kencana..........................................18-22 D. Kajian Karya Arjuna Wijaya.........................................................22-25 E. Rangkuman....................................................................................25-26 BAB V KAJIAN METAFORA DAN METONIMI...................................27 A. Pengantar ...........................................................................................27 B. Pengertian Metafora Dan Metonimi.............................................28-29 C. Kajian Karya Rush Hour..............................................................29-30 D. Kajian Karya Nightmare..............................................................31-32 E. Rangkuman.......................................................................................32 BAB V KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES...........................33 A. Pengantar..........................................................................................33 B. Pengertian Semiotika Roland Barthes.........................................34-35 C. Kajian Karya Patung Dewi Zalim...............................................35-37 D. Kajian Karya Jalesveva Jayamahe..............................................37-38 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................39


1 BAB I PENDAHULUAN A. Biografi I Nyoman Nuarta I Nyoman Nuarta (lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951) adalah pematung Indonesia dan salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru (1976). Dia paling dikenal lewat mahakaryanya seperti Patung Fatmawati Soekarno, Patung Garuda Wisnu Kencana (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), serta Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta). Nyoman Nuarta mendapatkan gelar sarjana seni rupa-nya dari Institut Teknologi Bandung dan hingga kini menetap di Bandung. Nyoman Nuarta adalah putra keenam dari sembilan bersaudara dari pasangan Wirjamidjana dan Samudra. Nyoman Nuarta tumbuh dalam didikan pamannya, Ketut Dharma Susila, seorang guru seni rupa. Setelah lulus SMA, Nuarta masuk di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1972. Awalnya Nuarta memilih jurusan seni lukis, namun setelah menempuh dua tahun dia berpindah ke jurusan seni patung. Seni patung baginya unik karena menghasilkan karya tiga dimensi dan proses pengerjaannya juga menarik. Saat masih menjadi mahasiswa pada tahun 1979, Nyoman Nuarta memenangkan Lomba Patung Proklamator Republik Indonesia, lomba ini adalah awal dari ketenaran Nyoman Nuarta. Bersama rekan-rekan senimannya, seperti pelukis Hardi, Dede Eri Supria, Harsono, dan kritikus seni Jim Supangkat, Nyoman Nuarta tergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia sejak tahun 1977. Sejak tenar, Nyoman Nuarta yang merupakan alumni ITB tahun 1979 telah menghasilkan lebih dari seratus karya seni patung. Semua karyanya menggambarkan seni patung modern sampai gaya naturalistik, dan material yang digunakan dalam padatan patungnya adalah dari tembaga dan kuningan. Bakat Nyoman Nuarta di bidang seni diturunkan pada putrinya. Putri sulungnya, Tania belajar di jurusan seni rupa di salah satu Perguruan Tinggi di Melbourne, Australia, sedangkan adiknya, Tasya membantu Nuarta di studionya. Sebagai seorang pematung, Nuarta telah membangun sebuah Taman Patung yang diberi nama NuArt Sculpture Park. Nuarta membangun taman ini di kelurahan Sarijadi, Bandung. Puluhan beraneka bentuk patung dalam beraneka ukuran tersebar di areal seluas tiga hektare tersebut. Di taman tersebut dibangun gedung 4 lantai yang digunakan untuk pameran dan ruang pertemuan dengan gaya yang artistik. Saat ini, Nyoman Nuarta merupakan pemilik dari Studio Nyoman Nuarta, Pendiri Yayasan Mandala Garuda Wisnu Kencana, Komisioner PT Garuda Adhimatra, Pengembang Proyek Mandala Garuda Wisnu Kencana di Bali, Komisioner PT Nyoman Nuarta Enterprise, serta pemilik NuArt Sculpture Park di Bandung. Nyoman Nuarta juga tergabung dalam organisasi seni patung internasional, seperti International Sculpture Center Washington (Washington, Amerika Serikat), Royal British Sculpture Society (London, Inggris), dan Steering


2 Committee for Bali Recovery Program. Patung Garuda Wisnu Kencana (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), Monumen Proklamasi Indonesia (Jakarta), serta Tugu Zapin (Pekanbaru, Riau) merupakan beberapa dari mahakarya Nuarta. Pada tahun 1993, Nuarta membuat sebuah monumen raksasa “Jalesveva Jayamahe” yang sampai sekarang masih berdiri di Dermaga Ujung Madura, Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur (Koarmatim) Kota Surabaya. Monumen tersebut menggambarkan sosok Perwira TNI Angkatan Laut berbusana Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan pedang kehormatan yang sedang menerawang ke arah laut. Patung tersebut berdiri di atas bangunan dan tingginya mencapai 60,6 meter. Monumen Jalesveva Jayamahe menggambarkan generasi penerus bangsa yang yakin dan optimis untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia. Karya Nuarta yang paling besar dan paling ambisius adalah Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang dimulai sejak 8 Juni 1997 namun terhenti beberapa tahun akibat berbagai hambatan. Rencana patung GWK sendiri akan memiliki tinggi 75 meter dengan rentang sayap garuda sepanjang 64 meter, sedangkan tinggi pedestal 60 meter. Oleh karena itu, tinggi patung dan pedestal secara keseluruhan akan menjulang setinggi 126 meter. Daftar Karya Nyoman Nuarta : Patung Tiga Mojang yang awalnya didirikan di gerbang Kota Harapan Indah, Kota Bekasi namun dirobohkan 19 Juni 2010 dalam sebuah kontroversi oleh Ormas Islam setempat. Patung Karapan Sapi, Surabaya Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya), Surabaya Monumen Garuda Wisnu Kencana, Bali (dimulai sejak 8 Juni 1997 – sekarang) Patung Wayang, Solo Patung Arjuna Wijaya, Jakarta (1987) Monumen Proklamasi Indonesia, Jakarta Patung Putri Melenu, Kalimantan Timur Patung Timika untuk alun-alun Newtown Freeport,Papua, dll. Patung Lembuswana di Pulau Kumala, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur Penghargaan Pemenang Lomba Patung Proklamator Republik Indonesia (1979) Penghargaan Jasa Adiutama dari Institut Teknologi Bandung (2009)


3 BAB II RUANG LINGKUP SEMIOTIKA A. Pengertian Semiotika Ada beberapa pendapat mengenai asal kata semiotik yang keduanya dari bahasa Yunani, pertama adalah seme yang berarti "penafsiran tanda", sedangkan yang kedua adalah semeion yang berarti "tanda". Semiologi adalah kajian mengenai tanda dalam kehidupan sosial manusia, mencakup apa saja tanda tersebut dan hukum apa yang mengatur terbentuknya tanda. Hal ini menunjukkan bahwa tanda dan makna dibalik tanda terbentuk dalam kehidupan sosial dan terpengaruhi oleh sistem (atau hukum) yang berlaku di dalamnya. Tanda adalah sesuatu yang terdiri atas sesuatu yang lain atau menambah dimensi yang berbeda pada sesuatu dengan memakai apa pun yang dapat dipakai untuk mengartikan sesuatu hal lainnya. Tanda dalam konsep linguistik dapat berupa huruf, kata, kelompok kata, kalimat, dan wacana. Sementara dalam konsep Seni, tanda dapat berupa gambar, lambang, simbol, gerak, bunyi, nada, tempo, dan lagu. Ketika ada lukisan di atas kanvas ada sebuah gambar hutan. penikmat seni atau kurator akan menafsirkan gambar itu dengan berbagai makna sesuai dengan aliran yang dianut dalam kajian bidang seni itu. Semiotika mengkaji tanda, penggunaan tanda, dan segala sesuatu yang bertalian dengan tanda Pengertian ini mencakup semua tanda termasuk semiotik. Kemuidan penggunaan tanda itu dalam berbagai konteks situasi masih tetap dalam kajian Semiotik. Selanjutnya, sesuatu yang terkait dengan tanda dalam arti mengikuti tanda itu juga tetap masih dalam kajian Semiotik. B. Ruang Lingkup Semiotika Ruang lingkup semiotik ini dapat digunakan untuk menelaah berbagai tanda. Khusus semiotik lebih dikenal karena perkembangannya lebih meluas karena dipelopori oleh C.S. Peirce yang melihat orientasi Semiotika dari filsafat, sedangkan Semiologi yang dikenalkan Saussure lebih mengurai teorinya dari Linguistik. Dalam buku ajar ini, penulis selanjutnya akan membahas secara khusus pandangan Morris (1901-1979, seorang pakar Semiotika Amerika Serikat yang membagi Semiotika menjadi tiga bagian, yaitu (1) sintaktik, (2) semantik, dan (3) pragmatik. (1) Semiotik Sintaktik. Semiotik Sintaktik adalah kajian hubungan diantara tanda-tanda. Tandatanda sebetulnya tidak pernah berdiri dengan sendirinya. Hampir semua selalu menjadi bagian dari sistem tanda atau kelompok tanda yang lebih besar yang diatur dalam cara-cara tertentu. Oleh karena itu, sintaktik mengacu pada aturan-aturan yang dengannya orang mengombinasikan tanda-tanda ke dalam sistem makna yang kompleks. Semiotik tetap mengacu pada prinsip bahwa tanda-tanda selalu dipahami dalam kaitannya dengan tanda-tanda lain.


4 Tentunya, kamus bukan sekedar katalog hubungan antara satu tanda dengan tanda lainnya (satu kata didefinisikan oleh kata-kata Lainnya). Ketika bergerak dari satu kata (dog) menuju sebuah kalimat (The cute dog licked my hand), kita berhubungan dengan sintaksis atau struktur bahasa Isyarat-isyarat selalu dikombinasikan dengan isyarat-syarat lainnya untuk membentuk sistem kompleks tanda-tanda nonverbal dipasangkan dengan bahasa untuk mengekspresikan arti-arti yang halus dan kompleks. Peraturan sintaktik memudahkan manusia untuk menggunakan kombinasi tanda-tanda yang tidak terbatas untuk mengekspresikan kekayaan makna. Sintaktik adalah studi hubungan antara suatu tanda dengan tandatanda yang lain. Sintaktik adalah cabang dari semiotik yang berhubungan dengan sifat-sifat formal tanda dan symbol. Lebih tepatnya, Sintaktik berkaitan dengan "aturan yang mengatur kata-kata digabungkan untuk membentuk frasa dan kalimat". Analisis aspek sintaksis berupa analisis terhadap satuan-satuan linguistik Analisis ini dapat mengacu pada tata bahasa. (2) Semiotik Semantik. Semiotik Semantik menguraikan tentang pengertian suatu tanda sesuai dengan 'arti' yang disampaikan. Analisis aspek semantik dapat berupa analisis denotasi, konotasi, majas, dan isotopi. Semantik berbicara tentang bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjuknya atau apa yang ditunjukkan oleh tanda-tanda. Semiotik menggambarkan dua dunia, yakni dunia benda dan dunia tanda, serta mencerahkan hubungan diantara kedua dunia tersebut. Kapanpun kita memberikan sebuah pertanyaan "Apa yang direpresentasikan oleh tanda?" maka kita berada dalam ranah semantik Sebagai contoh, kamus merupakan buku referensi semantik; la mengatakan apa arti kata atau apa yang mereka representasikan. Sebagai prinsip dasar semiotik, representasi selalu dimediasi oleh interpretasi sadar seseorang dan interpretasi atau arti apa pun bagi sebuah tanda akan mengubah satu situasi ke situasi lainnya. Oleh karena itu, pertanyan semantik yang lebih halus, "arti-arti apa saja yang dibawa oleh tanda ke dalam pikiran seseorang dalam situasi?" Penelitian Martyna tentang kata ganti yang telah dijelaskan sebelumnya ditanamkan dengan kuat dalam cabang semantik pada semiotik. (3) Semiotik Pragmatik Semiotik Pragmatik menguraikan tentang asal usul tanda, kegunaan tanda oleh yang menerapkannya, dan efek tanda bagi yang menginterpretasikan dalam batas perilaku subjek. Analisis aspek pragmatik berupa analisis terhadap pengujaran yang terlaksana dalam rangka komunikasi yang menuntut kehadiran pengirim dan penerima. Pragmatik, kajian utama semiotik yang ketiga, memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda kehidupan sosial. Cabang ini memiliki pengaruh yang paling penting dalam teori komunikasi, karena tanda-tanda dan sistem tanda dilihat sebagai alat komunikasi manusia. Oleh karena itu pragmatik saling melengkapi dengan tradisi sosial budaya. Dari perspektif semiotik, kita harus memiliki pemahaman bersama bukan hanya pada kata-kata, tetapi juga pada struktur bahasa, masyarakat, dan budaya agar


5 komunikasi dapat mengambil perannya.Sistem hubungan di antara tanda-tanda harus memperkenankan pelaku komunikasi untuk mengacu pada sesuatu yang lazim. Kita harus berbagi rasa keterkaitan dalam pesan-pesan atau kemungkinan tidak adanya sejumlah pemahaman dan kita harus berasumsi bahwa ketika kita menggunakan peraturan bahasa, sejumlah orang yang mengetahui peraturan itu akan mampu memahami makna yang kita maksud. Pragmatik tanda-tanda penting bagi sejumlah perhatian akan komunikasi yang luas, tetapi tentunya sangat berarti dalam melihat pada pemahaman dan kesalahpahaman. Tanda nonlinguistic menciptakan permasalahan pragmatik khusus dan nonverbal juga telah menarik minat para peneliti komunikasi. Sebagai contoh, kode-kode visual lebih terbuka dalam makna potensialnya-interpretasinya sangat subjektif serta lebih dihubungkan dengan perseptual internal dan proses-proses pemikiran penonton daripada dengan representasi konvesional. Hal ini tidak mesti dikatakan bahwa makna seseorang untuk sebuah gambar benar-benar Individualis; tentunya makna-makna visual dapat dipengaruhi oleh pembelajaran, budaya, dan bentuk-bentuk interaksi sosial lainnya Akan tetapi, melihat gambaran visual tidaklah sama dengan memahami hanyak bahasa. Gambar memerlukan pengenalan bentuk organisasi, dan diskriminasi, bukan hanya hubungan-hubungan representatif. Oleh karena itu, makna gambaran visual sangat bergantung pada persepsi serta pengetahuan individu dan sosial. Semiotik cenderung memperhatikan tanda dan fungsinya, fenomologis lebih melihat pada sosok penafsir sebaga komponen utama dalam proses ini. Terdapat berbagai konsep umum yang harus dipahami oleh pembaca (mahasiswa) dalam pengantar awal dalam kajian Semiotik ini. 1. Paradigmatik dan Sintagmatik Paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur dalam suatu deretan kata (benda, kerja) untuk menerangkan misalnya, contoh genetif. datif, akusatif) dalam kata (rosa, rosaerosa, roam). Atau contoh lain, misalnya: seorang, seekor, sebatang). Adapun Sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur dalam suatu urutaan linear atau membujur. Misalnya, presiden, gubernur, bupati, lurah. 2. Denotasi dan Konotasi Denotasi adalah makna sebuah kata atau tanda yang sebenarnya yang belum mendapatkan makna tambahan. Misalnya kata "bunga" dalam makna sebenarnya sebagai sebuah tanda adalah sebuah pohon. Konotasi adalah kebalikan dari denotasi. Konotasi adalah makna dari sebuah kata atau tanda yang sudah mendapatkan makna tambahan yang mengandung sikap sosial, pribadi, jenis kelamin, dan usia. Konotasi sebuah kata atau tanda sering ditentukan oleh perasaan individu seorang penulis atau penyair, tetapi kadang-kadang juga oleh lingkungan kebudayaan. Misalnya, bendera putih dapat merupakan tanda bahwa musuh menyerah. Akan tetapi juga dapat menandakan adanya kematian pada suatu daerah. Untuk membandingkan denotasi dengan konotasi dapat dilihat dari contoh di bawah ini. "Perak" arti denotasinya merujuk pada sejenis logam mulia. Akan tetapi "perak"


6 dalam kalimat, Di bawah sinar rembulan purnama alam raya bermandikan cahaya perak". Kata perak dalam kalimat ini bermakna mengkilap keputih-putihan. 3. Sinkronik dan Diakronik Sinkronik bermakna gambaran peristiwa yang terjadi dalam suatu masa atau era yang merujuk pada satu titik tertentu biasanya masa kini. sedangkan diakronis adalah gambaran peristiwa yang yang terjadi dalam masa yang tidak terbatas sepanjang masa (Kridalaksana, 1983, Danasi, 2004). Untuk memahami kedua konsep di atas dapat penulis ungkapkan misalnya, kata "person" yang makna kini adalah "seorang". Akan tetapi, makna aslinya bukanlah "seorang" menurut kajian diakronis. Makna kata ini awalnya dari bahasa Yunani bermakna dan ditandai sebagai "topeng yang dipakai seorang aktor dalam seni panggung drama. Kemudian makna kata itu berubah menjadi "karakter pengguna topeng". Hal ini disebabkan masyarakat Barat sangat menyenangi drama karena drama atau teater merupakan penggambaran dari karakter manusia. Ada benarnya karena kalau dihubungkan dengan kondisi saat ini dalam berbagai peristiwa atau kejadian baik itu bersifat kriminal ataupun politik kita akan selalu mempertanyakan siapa person di balik peristiwa atau kejadian itu. Biasanya pelaku yang tertangkap hanyalah "topeng" dari seseorang yang mengendalikan yang tidak nampak di permukaan. Beliau selalu berada di balik pelaku yang tertangkap itu. Jadi, menurut penulis "person" yang tertangkap itu adalah hanya topeng dari pelaku yang sebenarnya yang menggambarkan karakter manusia itu yang tidak menunjukkan diri sebenarnya. Dalam konteks contoh dalam bahasa Indonesia, penggambaran mengenai sinkronik dan diakronik ini dapat juga dilihat dalam kata "canggih" yang bermakna semua keluaran hasil teknologi yang rumit dan terbaru. Ini adalah contoh sinkronis. Secara diakronis, tanda atau kata ini dahulu adalah bermakna "cerewet, bawel" Biasanya ditujukan kepada seseorang yang sangat sering mempersoalkan hal-hal yang bukan prinsipil dan mendasar. C. Kajian Karya . Karya 1 : Monumen Garuda Wisnu Kencana


7 a) Konteks karya a. Bentuk : Karya seni patung I Nyoman Nuarta b. Ukuran : tinggi 121 m dan lebar 64 m c. Material : logam tembaga d. Keunikan karya : Patung ini melebihi patung Liberty ( 93 m ) b) Konteks penciptaan a. Latar belakang : Bali merupakan provinsi dan kota wisata nasional maupun internasional dan sebagai penyumbang devisa terbesar negara dan sudah seharusnya bali memiliki ikon seni yang besar sehingga membanggakan Indonesia dimata dunia. b. Setting sosial ketika karya diciptakan : tempat ini menggambarkan nilai budaya bangsa, sekaligus tempat mempromosikan aneka ragam budaya dan seni dari nusantara ke mata dunia. c. Setting budaya : Dewa Wisnu digambarkan sebagai dewa pelindung dalam masyarakat Hindu. Sintaktik Monumen GWK menggambarkan patung Garuda, burung mitologis dalam kebudayaan Hindu, dengan Wisnu, salah satu dewa utama dalam agama Hindu, yang berada di punggungnya. Pada tingkat sintaktik, analisis semiotika akan melibatkan identifikasi elemen-elemen seperti postur Garuda, posisi Wisnu, gerakan, bentuk tubuh, dan ekspresi wajah. Melalui analisis sintaktik, kita dapat mengamati bagaimana Nyoman Nuarta menyusun patung-patung tersebut, menggabungkan bentuk-bentuk, dan mengatur posisi mereka untuk menciptakan kesan yang diinginkan. Komposisi visual ini dapat mempengaruhi cara kita menginterpretasikan dan merespons monumen tersebut. Semantik Kekuatan dan Ketenangan: Monumen ini menggambarkan Dewa Wisnu yang dikenal sebagai dewa pemelihara alam semesta dalam agama Hindu. Wisnu sering kali dihubungkan dengan atribut kekuatan, kebijaksanaan, dan ketenangan. Melalui monumen ini, mungkin ada makna yang terkait dengan kehadiran dewa yang melambangkan kekuatan yang harmonis dan stabil. Simbol Nasionalisme: Monumen GWK juga dapat dianggap sebagai simbol nasionalisme dan identitas Indonesia. Representasi burung Garuda, yang merupakan lambang nasional Indonesia, dihubungkan dengan keberanian, kebebasan, dan kekuatan bangsa. Monumen ini dapat mencerminkan semangat patriotisme dan rasa cinta tanah air.Nilai Budaya Hindu: Monumen GWK merujuk pada warisan kebudayaan Hindu di Indonesia. Sebagai representasi Dewa Wisnu, monumen ini mengingatkan pada nilai-nilai spiritualitas, kebijaksanaan, dan pemeliharaan harmoni alam semesta yang dijunjung tinggi dalam ajaran Hindu. Kecantikan dan Estetika: Selain makna-makna religius dan budaya, Monumen GWK juga dapat dihargai dari segi keindahan dan estetika.


8 Rincian yang rumit, skala monumental, dan komposisi artistik dapat memberikan pengalaman visual yang memukau dan menarik bagi para pengamatnya. Paragmatik Konteks Budaya Hindu: Monumen ini merupakan representasi Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dalam konteks budaya Indonesia, khususnya Bali, agama Hindu memiliki peran yang penting dan memberikan fondasi spiritual dan nilainilai dalam kehidupan masyarakat. Monumen GWK berinteraksi dengan konteks budaya Hindu dan menghadirkan simbolisme dan makna yang terkait dengan kepercayaan dan praktik agama tersebut.Konteks Nasionalisme: Monumen GWK juga memiliki hubungan dengan konteks nasionalisme Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, simbol Garuda merupakan lambang nasional yang melambangkan keberanian, kekuatan, dan kebebasan. Monumen ini memperkuat identitas nasional Indonesia dan menunjukkan hubungan simbolis dengan nilai-nilai nasionalisme.Interaksi dengan Pengunjung: Paragmatik Monumen GWK juga melibatkan hubungan antara monumen itu sendiri dengan pengunjung yang datang untuk melihatnya. Monumen ini menciptakan pengalaman dan interaksi dengan pengunjung yang dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang budaya, keagungan, dan keindahan Indonesia. Pengunjung dapat mengaitkan pengalaman mereka dengan konteks sosial dan budaya yang lebih luas.Konteks Pariwisata: Monumen GWK juga berhubungan dengan konteks pariwisata di Indonesia. Sebagai salah satu objek wisata yang terkenal, Monumen GWK memainkan peran dalam industri pariwisata, menarik wisatawan lokal dan mancanegara. Interaksi antara monumen, pengunjung, dan infrastruktur pariwisata menciptakan konteks paragmatik yang unik. 2. Karya 2 : Patung Arjuna Wijaya, Jakarta (1987) a) Konteks karya a. Bentuk : Karya seni patung I Nyoman Nuarta b. Ukuran : panjang sekitar 23 meter, tinggi 5 meter, dan bobot seberat 3.600 ton


9 c. Material : logam tembaga d. Keunikan karya : Gambaran perang antara Arjuna dari kubu Pandawa melawan Adipati Karna dari kubu Kurawa. b) Konteks penciptaan a. Latar belakang : Agar di jakarta terdapat monumen monumen yang mengandung filsafat Indonesia b. Setting sosial ketika karya diciptakan : atung Arjuna Wijaya ini dibuat oleh Nyoman Nuarta setelah Pak Soeharto berkunjung ke Turki ini memiliki banyak makna perjuangan. Bapak Soeharto melihat banyak monumen dengan cerita-cerita masa lalu dari negara dengan julukan Negeri Dua Benua (Turki) tersebut. c. Setting budaya : Patung arjuna wijaya ini menggambarkan seorang arjuna dalam kisah Mahabarata yang tengah berkendara di atas kereta kuda dalam perang Baratayuda. Sintaktik Patung Arjuna Wijaya menggambarkan sosok Arjuna, salah satu tokoh pewayangan dalam epos Mahabharata. Pada tingkat sintaktik, analisis semiotika akan melibatkan identifikasi elemen-elemen seperti postur tubuh, gerakan, ekspresi wajah, atribut yang digunakan, dan komposisi fisik patung. Dalam patung ini, Arjuna digambarkan dalam posisi yang gagah, dengan tubuh yang tegak dan ekspresi wajah yang serius. Ia memegang busur dan anak panah, atribut yang secara tradisional dikaitkan dengan karakter Arjuna dalam cerita Mahabharata. Melalui analisis sintaktik, kita dapat memahami bagaimana Nyoman Nuarta menyusun dan merancang patung ini untuk mencapai efek visual dan naratif yang diinginkan. Pengaturan postur, gerakan, dan atribut patung dapat mempengaruhi cara kita menginterpretasikan dan merespons karya seni ini. Semantik Kedewasaan dan Kecakapan: Arjuna adalah salah satu pahlawan sentral dalam Mahabharata yang terkenal karena keberanian, kebijaksanaan, dan keterampilan dalam berperang. Patung Arjuna Wijaya mungkin menggambarkan atribut ini sebagai simbol dari kedewasaan, kekuatan, dan keterampilan yang dimiliki oleh Arjuna. Spiritualitas dan Kebangkitan Diri: Arjuna dalam Mahabharata juga mewakili perjalanan spiritual dan pencarian diri. Melalui perang batinnya dalam Bhagavad Gita, ia mencapai pemahaman yang mendalam tentang kebenaran dan tugas-tugasnya sebagai seorang ksatria. Patung ini dapat mencerminkan makna tentang perjuangan batin, pencarian spiritual, dan transformasi pribadi. Nilai-nilai Ksatria dan Kehormatan: Arjuna merupakan seorang ksatria yang dihormati dengan prinsip-prinsip kehormatan, loyalitas, dan keadilan. Patung ini dapat menunjukkan penghormatan terhadap kode etik ksatria dan mengekspresikan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi.


10 Warisan Budaya dan Keagungan Sejarah: Mahabharata adalah sebuah epos yang sangat berpengaruh dalam budaya Hindu dan memiliki sejarah yang kaya. Patung Arjuna Wijaya dapat memperingati dan menghormati warisan budaya ini, serta menghadirkan keagungan dan keindahan dari kisah epik tersebut. Paragmatik Konteks Budaya Hindu: Patung ini memiliki hubungan dengan konteks budaya Hindu, terutama dalam kaitannya dengan cerita Mahabharata. Dalam budaya Hindu, kisah Mahabharata memiliki peran penting dan dihormati sebagai warisan budaya yang kaya. Patung Arjuna Wijaya berinteraksi dengan konteks budaya Hindu dan dapat memicu pemahaman dan pengalaman yang terkait dengan tradisi, kepercayaan, dan nilai-nilai dalam agama tersebut. Konteks Seni Rupa Indonesia: Patung Arjuna Wijaya juga berhubungan dengan konteks seni rupa Indonesia secara umum. Sebagai salah satu karya seni monumental yang dihasilkan oleh seniman Indonesia, patung ini mencerminkan kekayaan warisan seni dan budaya Indonesia. Patung ini dapat dilihat sebagai bagian dari tradisi seni rupa Indonesia dan berinteraksi dengan norma-norma dan estetika seni yang ada dalam masyarakat. Identitas dan Nasionalisme: Patung Arjuna Wijaya juga memiliki kaitan dengan identitas nasional dan semangat nasionalisme Indonesia. Patung ini menggambarkan tokoh pewayangan yang menjadi bagian dari budaya Indonesia. Dalam hal ini, patung ini dapat berinteraksi dengan rasa kebanggaan dan identitas nasional yang kuat. Interaksi dengan Pengunjung: Paragmatik Patung Arjuna Wijaya juga melibatkan hubungan antara patung tersebut dengan pengunjung yang mengamatinya. Patung ini menciptakan pengalaman visual dan emosional bagi pengunjung, dan interaksi ini dapat mempengaruhi cara mereka memahami dan merespons patung tersebut. Konteks sosial di mana patung tersebut dipamerkan juga dapat berpengaruh pada interpretasi dan makna yang diberikan oleh pengunjung.


11 BAB III KAJIAN TIPOLOGI TANDA A. Pengantar 1. Karya 1 : Monumen Karapan Sapi a) Konteks karya a. Bentuk : karya patung dari I Nyoman Nuarta b. Ukuran : - c. Material : tembaga d. Keunikan karya : patung karapan sapi ini merupakan salah satu simbol di Kota Pahlawan b) Konteks penciptaan a) Latar belakang: Patung Karapan Sapi 'Tinggal Landas' ini merupakan sebuah mahakarya yang bisa memberikan spirit untuk bisa bergerak maju. b) Setting sosial ketika karya diciptakan: Keinginan bukan hanya menjadi negera berkembang, tapi juga negara maju dengan berbagi indikator. Di era itu, Indonesia selalu dikaitkan dengan negara tinggal landas. Nah tema besar negara tinggal landas ini diharapkan punya spirit itu c) Setting budaya: Dimana tradisi karapan sapi bagi masyarakat Madura merupakan bentuk simbol prestise yang dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat Madura. Karena sapi yang digunakan untuk pertandingan merupakan sapi berkualitas sangat baik dan dengan perlakuan yang istimewa. (Asiah, 2020) 2. Karya 2 : Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) a) Konteks karya e. Bentuk : karya patung dari I Nyoman Nuarta a. Ukuran : 60 meter dan berat 2 ton b. Material : tembaga c. Keunikan karya : menampilkan sosok Perwira TNI Angkatan Laut berpakaian PDU - 1 lengkap dengan pedang kehormatan menatap ke arah laut berdiri tegak (kominfo, 2011) b) Konteks penciptaan a. Latar belakang : monumen ini sebagai pengingat bahwa sejak zaman dahulu negara Indonesia sudah cukup berjaya dalam bidang kemaritiman, yang telah dimulai sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit. (pamungkas , 2021) b. Setting sosial ketika karya diciptakan : satu figur, sosok tokoh Angkatan Laut yang memiliki optimisme yang tinggi dan misi kemaritiman yang jauh ke depan sehingga dapat menjaga keamanan dan kedaulatan NKRI.


12 c. Setting budaya : profil dari patung ini, sebetulnya mengambil satu sosok, atau profil, figur dari seorang perwira menengah Angakatan Laut berpangkat Kolonel. Tentunya yang memiliki keyakinan ketegapan, kemandirian akan optimisme untuk menjaga kedaulatan menjaga NKRI ini di samudera atau lautan B. Pengertian Tipologi Tanda Pengertian sistem tanda dalam hal ini digunakan sebagai alat untuk bernalar. Maka bisa disebut, Pierce mencetuskan Tipologi Tanda sebagai proses bernalar manusia, bahkan proses berpikir manusia, dan proses menanda. Hal ini dikaitkan dengan latar belakang Pierce yang merupakan seorang filsuf dan ahli logika.Tanda yang disebut oleh Pierce, bukanlah hanya tanda sebatas benda atau objek. Akan tetapi tanda atau objek yang dimaksud dibedakan ke dalam beberapa jenis sesuai dengan sifatnya. Berikut pembagian jenis-jenis tanda. Menurut Pierce, Sign is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. Pierce menjelaskan Tipologi tanda tersebut melalui Segitiga Semiotika. (Saragih, Ansari, & Zukifli, 2023) 1. Representamen Representamen adalah sesuatu yang bersifat indrawi/material yang berfungsi sebagai tanda. Representamen merupakan suatu yang menggantikan sesuatu bagi seseorang dalam beberapa hal atau kapasitas. a. Qualisign menjelaskan kualitas tanda. Artinya, bagaimana kualitas katakata atau warna yang melekat pada tanda. Apakah menggunakan kata-kata lembut, kasar, tegas, atau yang cerah, buram, dan seterusnya b. Sinsign adalah kontribusi atau eksistensi sesuatu terhadap tanda. Misalnya pohon tumbang. Angin kencang bisa membuat pohon tumbang. c. Legisign adalah tanda yang mengandung aturan konvensional. Misalnya rambu lalu lintas. Tanda "Dilarang Masuk". 2. Objek Objek adalah objek realitas, apa saja yang dianggap ada, tidak hanya yang kasat mata, juga yang abstrak, imajiner, fiktif dan lainnya. a. Ikon adalah objek yang hampir sama atau mirip dengan objek yang sebenarnya. Artinya antara objek asli dengan ikon mempunyai kesamaan yang berdekatan. Contoh sehari-hari yang bisa dilihat adalah miniatur, peta, lukisan wajah, dan lain-lain. Onomatope termasuk ke dalam ikon. Misalnya jika terdengar "kukuruyuk kukuruyuk maka akan langsung diketahui bahwa itu adalah ayam. Suara "meong" akan merujuk pada kucing. "Aum" akan mengacu pada harimau. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa ikon memberi kesan dan pesan tentang objek aslinya. b. Indeks adalah tanda yang ada karena adanya hubungan kausal. Pada indeks, tanda dan acuan memiliki kedekatan eksistensial atau terjadi karena adanya


13 hubungan sebab akibat. Misalnya matahari dan panas. Matahari mengakibatkan suhu panas. Atau keluarnya abu vulkanik sebagai tanda gunung aktif. c. Simbol merupakan tanda yang berkaitan dengan acuan dan referensi nya. Tanda dan acuan ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum. Artinya simbol ada berdasarkan acuan konvensional. Misalnya salah satu jenis mobil yang diproduksi Toyota adalah Kijang. Mengapa Kijang? Jika dibuat premis atau aturan umum, kijang larinya kencang dan lincah. Maka mobil kijang menjadi simbol mobil yang berjalan dengan kencang dan lincah. 3. Interpretan Interpretan adalah suatu tanda lain yang ekuivalen dengannya di dalam bentuk seorang (interpreter). a. Rhematic Symbol adalah tanda konvensional. Tanda yang diakui semua orang secara bersama-sama. Misalnya gambar rumah. Semua orang pasti menyetujui itu adalah gambar rumah. b. Dicent Symbol adalah tanda yang menghubungkan tanda dengan pembaca. Artinya, apa yang dimaksud tanda, harus dilaksanakan pembaca. Misalnya tanda petunjuk "Belok Kanan", maka pembaca harus belok ke kanan. c. Argument adalah tanda yang diberikan berdasarkan alasan nyata. Misalnya karena tempat lagi direnovasi dan sementara akan pindah, maka dibuatlah tanda "sedang renovasi, pindah sementara ke..." C. Analisis Tipologi Tanda Monumen Karapan Sapi Gambar 3.1 Karapan Sapi 1. Analisis Representamen Karya seni patung element seni rupa, penuh dengan bentuk bentuk yang menarik, merepresentasikan anatomi anatomi tubuh manusa dan hewan dan beberapa alat untuk tunggangan sapi. Dengan komposisi yang menarik untuk memperkokoh bentuk karapan sapi tersebut.


14 a. Qualisign Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul karapan sapi ini menggambarkan semangat dan menggebu gebu untuk maju untuk kehidupan yang lebih baik. b. Sinsign Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul karapan sapi ini memperliatkan orang yang membuat sapi melaju kenjang ke depan dengan menggunakan cambuk. c. Legisign Dimana tradisi karapan sapi bagi masyarakat Madura merupakan bentuk simbol prestise yang dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat Madura 2. Analisis Objek a. Ikon Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul karapan sapi ini memperliatkan orang yang sedang balapan menggunakan sapi. b. Indeks Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul karapan sapi ini memperliatkan sapi yang sehat dan gagah membuat laju dari sapi tersebut menjadi lebih cepat dan spirit untuk mencapai tujuan c. Simbol Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul karapan sapi ini menunjukkan dimana setiap manusia harus berpacu untuk meraih apa yang dituju. D. Analisis Tipologi Tanda Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) Gambar 3.2 Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya)


15 1. Analisis Representamen Karya seni patung, penuh dengan bentuk bentuk yang menarik, merepresentasikan anatomi anatomi tubuh manusa yang berdiri tegak dan gagah . Dengan komposisi yang menarik untuk memperkokoh bentuk tegas dan berani dari seorang pelindung negara. a. Qualisign Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul Jalesveva Jayamahe (Monjaya) ini menggambarkan menggambarkan generasi penerus bangsa yang yakin dan optimis dalam menggapai cita-cita bangsa Indonesia. b. Sinsign Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul Jalesveva Jayamahe (Monjaya) ini menggambarkan menatap dengan tajam yang menjaga seluruh perairan dan samudera Indonesia serta menjaga keamanan NKRI dari sabang sampai merauke dari ancaman ancaman yang datang. c. Legisign Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul Jalesveva Jayamahe (Monjaya) ini mengingatkan bahwa negara Indonesia sudah berkuasa dan berjaya di dalam kelautan, dimulai dengan zaman Sriwijaya hingga Majapahit. 2. Analisis Objek a. Ikon Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul Jalesveva Jayamahe (Monjaya) memperlihatkan seorang perwira TNI AL yang berdiri tegak menghadap laut. b. Indeks Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul Jalesveva Jayamahe (Monjaya) menggambarkan tokoh angkatan laut yang menghadap tegak ke arah laut siap menghadapi kesulitan dan ancaman yang akan datang. c. Simbol Karya seni patung dari I Nyoman Nuarta yang berjudul Jalesveva Jayamahe (Monjaya) mendefenisikan seorang kolonel yang membawa sebuah pedang yang menggambarkan perlindungan terhadapat NKRI. E. RANGKUMAN Tipologi tanda Charles Pierce merupakan bagian penting teori Semiotika. Pierce memaparkan bahwa konsep semiotika bergantung pada sign atau tanda-tanda. Tanda menjelaskan cara berpikir dan logika. Tanda menjadi dasar dari seluruh pemahaman Pierce tentang semiotika. Pierce menjelaskan bahwa bahasa adalah sistem tanda. Pengertian sistem tanda dalam hal ini digunakan sebagai alat untuk bernalar. Maka bisa disebut, Pierce mencetuskan Tipologi Tanda sebagai proses bernalar manusia, bahkan proses berpikir manusia, dan proses menanda.Tanda diinterpretasikan menjadi objek melalui hasil berpikir dan bernalar dengan


16 menjadikan logika sebagai dasar penetuan objek Interpretant diturunkan dari sign, disebut sebagai kendaraan tanda. Sedangkan object adalah bebas, menjadi acuan tanda melalui interpretant.


17 BAB IV KAJIAN SEMIOLOGI A. Pengantar 1. Karya 1 : Monumen Garuda Wisnu Kencana a) Konteks karya e. Bentuk : Karya seni patung I Nyoman Nuarta f. Ukuran : tinggi 121 m dan lebar 64 m g. Material : logam tembaga h. Keunikan karya : Patung ini melebihi patung Liberty ( 93 m ) b) Konteks penciptaan d. Latar belakang : Bali merupakan provinsi dan kota wisata nasional maupun internasional dan sebagai penyumbang devisa terbesar negara dan sudah seharusnya bali memiliki ikon seni yang besar sehingga membanggakan Indonesia dimata dunia. e. Setting sosial ketika karya diciptakan : tempat ini menggambarkan nilai budaya bangsa, sekaligus tempat mempromosikan aneka ragam budaya dan seni dari nusantara ke mata dunia. f. Setting budaya : Dewa Wisnu digambarkan sebagai dewa pelindung dalam masyarakat Hindu. 2. Karya 2 : Patung Arjuna Wijaya, Jakarta (1987) a) Konteks karya e. Bentuk : Karya seni patung I Nyoman Nuarta f. Ukuran : panjang sekitar 23 meter, tinggi 5 meter, dan bobot seberat 3.600 ton g. Material : logam tembaga h. Keunikan karya : Gambaran perang antara Arjuna dari kubu Pandawa melawan Adipati Karna dari kubu Kurawa. b) Konteks penciptaan d. Latar belakang : Agar di jakarta terdapat monumen monumen yang mengandung filsafat Indonesia e. Setting sosial ketika karya diciptakan : atung Arjuna Wijaya ini dibuat oleh Nyoman Nuarta setelah Pak Soeharto berkunjung ke Turki ini memiliki banyak makna perjuangan. Bapak Soeharto melihat banyak monumen dengan cerita-cerita masa lalu dari negara dengan julukan Negeri Dua Benua (Turki) tersebut. f. Setting budaya : Patung arjuna wijaya ini menggambarkan seorang arjuna dalam kisah Mahabarata yang tengah berkendara di atas kereta kuda dalam perang Baratayuda.


18 B. Pemahaman Tentang Semiologi Semiologi adalah ilmu umum tentang tanda. Dalam definisi Saussure, semiologi merupakan sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat dan, dengan demikian, menjadi bagian dari disiplin psikologi sosial. Semiologi berdasarkan pengertiannya tentang tanda-tanda yaitu yang terdiri dari signifier (penanda) dan yang ditandakan (konsepnya) dan berkaitan dengan apa itu tanda-tanda, hukum yang mengaturnya, dan bagaimana mereka dapat diaplikasikan untuk seni, ritus- ritus, dan semua cara dari fenomena budaya. Para ahli semiotik Prancis tetap mempertahankan istilah semiologi yang Saussurean ini bagi bidangbidang kajiannya. Dengan cara itu mereka ingin menegaskan perbedaan antara karya-karya semiotik yang kini menonjol di Eropa Timur, Italia dan Amerika Serikat. 1. Sinkronik dan Diakronik Diakronik adalah konsep berpikir secara runtun atau kronologis yang dimaksudkan sebagai catatan terkait peristiwa yang terjadi secara runtun yang berdasarkan pada waktu kejadian tersebut. Sedangkan dalam bahasa Yunani, sinkronik yang berasal dari kata "Syn" yang artinya "Dengan", dan "Chronoss" yang berarti "Waktu" menekankan kepada struktur dan kerap digunakan untuk meneliti ilmu-ilmu sosial. Sinkronik memiliki makna yang luas di dalam ruang, akan tetapi mempunyai batasan waktu. 2. Langue dan Parole Langue dan Parole merupakan istilah dalam ilmu linguistik yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure dalam buku Cours de Linguistique Generale (Pengantar Linguistik Umum). Langue merupakan konsep abstrak yang tersimpan dalam akal budi seseorang sebagai produk dan konvensi masyarakat. Parole menjadi konsep yang lebih konkret sebab muncul sebagai bentuk tindak tutur pengguna bahasa. Sebagai konsep dalam ilmu linguistik, istilah langue dan parole merupakan konsep yang tidak akan pernah terpisahkan. Parole muncul akibat penggunaan langue. Menulis pidato merupakan salah satu contoh parole karena menyangkut tindak menulis yang mirip dengan tindak tutur. 3. Penanda dan Petanda Penanda adalah lambang bunyi, sedangkan petanda adalah konsep makna dari penanda.Misalnya, konsep untuk menyebut benda seperti gambar di samping kiri berkut.Penanda atau lambang bunyi dari benda tersebut adalah [buku], sementara itu petanda atau maksud/ makna dari [buku] adalah lembar kertas berjilid yang berisi tulisan ataupun masih kosong. Suatu tanda hanya dapat dipahami jika hubungan di antara kedua komponen pembentuk tanda ini telah disepakati secara bersama. Saussure menyatakan bahwa makna tanda bergantung pada hubungannya dengan kata-kata lain di dalam suatu sistem. Menurut de Saussure yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan yang terdapat diantara unit-unit bahasa secara konkret (in presentia). Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan


19 paradigmatik (asosiatif) adalah hubungan yang tidak konkret (hubungan secara in absentia) di dalam unit-unit bahasa. 4. Sintagmatik dan Paradigmatik Menurut de Saussure yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan yang terdapat diantara unit-unit bahasa secara konkret (in presentia). Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik (asosiatif) adalah hubungan yang tidak konkret (hubungan secara in absentia) di dalam unit-unit bahasa. 5. Denotasi dan Konotasi Istilah konotasi dan denotasi digunakan dalam banyak hal, terutama dalam ilmu bahasa. Konotasi adalah sebuah kata yang mengandung makna kias atau bukan kata sebenarnya. Sementara, denotasi adalah sebuah kata yang memiliki arti yang sebenarnya dan apa adanya seperti yang sehari-hari kita gunakan. C. Analisis Monumen Garuda Wisnu Kencana Langue Parole Patung terbesar dan paling unik yang dibuat oleh manusia karena dengan memadukan seni, teknologi dan science. Secara fisik merupakan representasi dari karya etnik Indonesia yang sudah ada sejak jaman kerajaan dulu. Sinkronik Diakronik Simbolisme dewa Wisnu dan burung Garuda dalam konteks agama HinduBali akan dipelajari, serta makna lebih dalam yang mungkin dikomunikasikan melalui postur, gerakan, atau atribut yang digunakan dalam patung. Bagaimana tidak, patung GWK terbuat dari campuran baja dan tembaga seberat 4.000 ton. Sedangkan konstruksi patungnya terbuat dari tembaga dan kuningan, ditopang 21.000 batang baja dengan total berat 2.000 ton, dan baut sebanyak 170.000 buah. Penanda Petanda


20 Dewa Wisnu yang digambarkan dalam patung GWK merupakan penanda semiotika yang kuat. Dewa Wisnu secara tradisional dianggap sebagai pemelihara dan pelindung alam semesta dalam agama Hindu. Penampilan Dewa Wisnu dengan atribut khasnya, seperti cakra, sanksi, dan kencana, mengkomunikasikan kekuasaan, kebijaksanaan, dan peran spiritual Dewa Wisnu. Burung Garuda sebagai kendaraan Dewa Wisnu juga merupakan penanda semiotika yang penting dalam patung GWK. Garuda melambangkan kebebasan, kekuatan, dan kemuliaan. Representasi burung Garuda dalam patung mengomunikasikan peran dan identitas burung tersebut dalam tradisi Hindu-Bali. Postur dan gestur dalam patung GWK juga dapat menjadi penanda semiotika. Misalnya, postur Dewa Wisnu yang tegak dengan tangan terentang atau burung Garuda yang terbang dengan sayap terbuka dapat mengkomunikasikan kekuatan, kemuliaan, dan vitalitas. Patung GWK juga mengandung penanda semiotika yang terkait dengan budaya Bali. Penggunaan busana tradisional, seperti kain sarung atau selendang, dapat mengkomunikasikan identitas budaya Bali. Selain itu, hiasan atau ornamen khas Bali yang digunakan dalam patung juga dapat menjadi penanda semiotika yang memperkuat identitas budaya Bali. Patung ini menggambarkan Dewa Wisnu yang sedang menunggangi burung Garuda dengan postur yang gagah dan anggun. Bentuk Dewa Wisnu dan burung Garuda yang diwakili dalam patung menjadi petanda simbolis tentang kekuasaan, keagungan, dan spiritualitas. Dewa Wisnu ditampilkan dengan cakra (lingkaran), sanksi (tongkat), dan kencana (tanda tangan), yang merupakan atribut yang terkait dengan Dewa Wisnu dalam tradisi Hindu. Atribut-atribut ini mengkomunikasikan identitas dan peran Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu-Bali. Postur Dewa Wisnu yang kokoh dan tegak serta gerakan burung Garuda yang dinamis mencerminkan kekuatan, keberanian, dan kebebasan. Melalui postur dan gerakan ini, patung GWK menyampaikan pesan visual tentang kekuatan dan vitalitas. Dalam tradisi Hindu-Bali, Dewa Wisnu dianggap sebagai pemelihara dan pelindung alam semesta, sementara burung Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu. Kehadiran Dewa Wisnu dan burung Garuda dalam patung GWK mengkomunikasikan nilai-nilai spiritual, kebijaksanaan, dan perlindungan. Sintakmatik Paradigmatik


21 Dewa Wisnu yang menunggangi burung Garuda membentuk hubungan struktural antara dua elemen utama. Bagian-bagian tubuh mereka, seperti kepala, sayap, dan ekor, juga membentuk hubungan visual yang terorganisir. Posisi Dewa Wisnu yang tegak dan berdiri di atas punggung Garuda menciptakan susunan vertikal yang kuat. Garuda sendiri ditampilkan dengan sayap terbuka yang memberikan kesan gerakan dan dinamis. Susunan dan komposisi ini mempengaruhi cara patung GWK memberikan pesan visualnya. Perbedaan ukuran dan proporsi antara Dewa Wisnu yang lebih besar dan burung Garuda yang lebih kecil menciptakan kontras visual yang menonjolkan peran dan hubungan antara keduanya. Variasi dalam representasi Dewa Wisnu dalam budaya Hindu-Bali. Ada berbagai bentuk dan atribut yang dapat digunakan untuk menggambarkan Dewa Wisnu. Patung GWK mewakili satu pilihan atau varian dalam representasi ini. Misalnya, beberapa patung Dewa Wisnu mungkin menampilkan atribut tambahan atau postur yang sedikit berbeda. Melalui posisi tubuh, ekspresi wajah, atau gerakan burung Garuda, pesan yang berbeda dapat disampaikan.Memahami bahwa ada pilihan dan alternatif dalam cara penyampaian pesan visual pada Patung GWK, dan interpretasi pemirsa dapat bervariasi berdasarkan pilihan yang dibuat. Patung GWK mencerminkan pilihan atau varian dalam interpretasi budaya Bali terhadap Dewa Wisnu dan Garuda. Denotasi Konotasi Patung ini terdiri dari dua elemen utama: tubuh Dewa Wisnu yang besar dan burung Garuda yang menjadi kendaraannya. Dewa Wisnu digambarkan dengan ciri khasnya, seperti memiliki empat tangan, cakra (lingkaran), dan sanksi (tongkat). Garuda digambarkan sebagai burung besar dengan kepala elang, sayap terbuka, dan ekor yang panjang. Dewa Wisnu ditampilkan dengan sikap tegak, tangan terentang, dan ekspresi yang serius atau penuh kebijaksanaan. Burung Garuda ditampilkan dengan sayap Representasi Dewa Wisnu yang berperan sebagai pemelihara alam semesta dan penjaga ketertiban. Patung ini menghadirkan simbolisme yang melambangkan kekuatan spiritual dan otoritas. Rancangan visual yang proporsional, simetri yang menyatu, dan komposisi yang harmonis. Keindahan bentuk dan detail dalam patung ini dapat membangkitkan apresiasi seni dan keindahan pada pengamat. Dewa Wisnu adalah salah satu dewa utama dalam agama Hindu-Bali yang melambangkan aspek


22 terbuka, menggambarkan gerakan atau aksi terbang. Dewa Wisnu digambarkan jauh lebih besar daripada burung Garuda, menekankan peran dan posisi Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan pelindung alam semesta. Proporsi dan ukuran yang berbeda ini menciptakan kontras visual yang menarik. Patung ini umumnya terbuat dari bahan beton atau batu, memberikan kesan yang kokoh dan tahan lama. Tekstur patung mungkin tampak halus atau kasar tergantung pada metode pembuatan dan finishing yang digunakan. ketuhanan, kebijaksanaan, dan perlindungan. Patung ini dapat memicu rasa keterhubungan dengan dimensi spiritual bagi mereka yang memiliki latar belakang budaya dan keyakinan yang terkait. Patung ini menjadi ikon dan simbol Bali serta Indonesia, mewakili kekayaan budaya dan kebanggaan akan warisan sejarah dan seni rupa yang dimiliki. Patung ini menjadi objek wisata yang terkenal dan menjadi daya tarik bagi wisatawan dari dalam dan luar negeri. Konotasi semacam ini melibatkan ekonomi, pengembangan infrastruktur, dan promosi destinasi wisata D. Analisis Monumen Arjuna Wijaya Langue Parole Nyoman Nuarta merupakan pematung yang membuat patung Kuda Arjuna Wijaya, dia adalah seniman dari Bali. Singkat cerita, akhirnya dipilihlah kisah Perang Baratayuda sebagai konsep patung. Patung Arjuna Wijaya lebih populer dengan sebutan Patung Kuda, adalah monumen berbentuk patung kereta kuda dalam salah satu adegan kisah Mahabharata. Sinkronik Diakronik Postur yang tegap dan kuat, panah dan busur yang patung Arjuna Wijaya pada awalnya mungkin mengikuti


23 dipegang, serta ekspresi wajah yang serius dapat menggambarkan Arjuna sebagai seorang pahlawan atau pejuang yang tangguh. Panah dan busur yang dipegang oleh Arjuna dapat melambangkan keberanian, kekuatan, dan keterampilan dalam peperangan. Patung Arjuna Wijaya dapat dihubungkan dengan mitologi dan epik Mahabharata, yang memberikan konotasi dan makna khusus dalam konteks waktu dan budaya tersebut. gaya seni tradisional, tetapi seiring berjalannya waktu, mungkin telah mengalami pengaruh atau adopsi gaya seni yang lebih kontemporer. patung Arjuna Wijaya pada awalnya mungkin mengikuti gaya seni tradisional, tetapi seiring berjalannya waktu, mungkin telah mengalami pengaruh atau adopsi gaya seni yang lebih kontemporer. perubahan dalam pandangan agama, perubahan politik, atau pergeseran dalam paradigma budaya dapat mempengaruhi cara masyarakat memahami dan memberi makna pada patung Arjuna Wijaya Penanda Petanda Postur yang tegap dan kuat dapat mengkomunikasikan kekuatan dan keberanian Arjuna sebagai seorang pahlawan atau pejuang. Panah dan busur melambangkan keahlian dan keterampilan dalam peperangan, dan dapat mengkomunikasikan sifat-sifat pahlawan dan pejuang pada patung. Ekspresi serius atau fokus dapat menggambarkan keberanian dan ketegasan Arjuna dalam melaksanakan tugasnya. Kostum dengan ornamen khas, seperti mahkota atau kalung, dapat menggambarkan status dan kedudukan Arjuna sebagai seorang pahlawan atau ksatria. Gerakan tangan atau posisi tubuh yang menunjukkan tindakan atau sikap tertentu dapat memberikan pesan atau makna tambahan kepada pengamat. Postur yang tegap, dengan dada yang terbuka dan bahu yang kuat, dapat mengkomunikasikan keberanian, kekuatan, dan kesiapan untuk bertarung. Atribut yang digunakan oleh Arjuna, seperti panah, busur, pedang, atau senjata lainnya, dapat menjadi petanda semiotika yang penting. Atribut ini melambangkan keterampilan dan kemahiran dalam pertempuran, dan dapat mengkomunikasikan status Arjuna sebagai seorang pahlawan atau pejuang. Ekspresi serius, fokus, atau penuh tekad dapat mengkomunikasikan keteguhan, keberanian, atau ketekunan Arjuna. Kostum yang khas, seperti pakaian ksatria atau pakaian seremonial, dapat memberikan petunjuk tentang status dan peran sosial Arjuna.


24 Patung ini memiliki latar belakang budaya Hindu-Bali, sehingga konteks budaya ini dapat memberikan makna tambahan kepada pengamat yang akrab dengan mitologi dan tradisi Hindu-Bali. lambang-lambang agama atau simbol-simbol yang terkait dengan mitologi dan tradisi Hindu-Bali dapat memberikan petunjuk tentang konteks dan makna yang lebih dalam. Gerakan menarik busur atau memegang panah dapat memberikan petunjuk tentang aksi bertempur atau kesiapan dalam pertempuran. Sintakmatik Paradigmatik postur tubuh yang tegap dan kokoh, dengan ekspresi wajah yang serius, dapat menciptakan kesan keberanian dan ketegasan. atribut seperti panah dan busur mungkin diberikan penekanan visual yang lebih kuat untuk menunjukkan pentingnya keterampilan dan kemahiran Arjuna dalam pertempuran. Simetri yang seimbang antara kiri dan kanan dapat menciptakan kesan harmoni dan keselarasan. Rincian pada atribut atau pakaian Arjuna dapat menambahkan kedalaman visual dan kompleksitas pada patung. Membandingkan pilihan panah dan busur yang digunakan oleh Arjuna dengan atribut lain yang mungkin digunakan dalam representasi Arjuna dalam budaya Hindu-Bali. Membandingkan patung Arjuna Wijaya dengan patungpatung lainnya yang menggambarkan Arjuna dalam tradisi Hindu-Bali. Denotasi Konotasi Patung ini menggambarkan sosok Arjuna dalam postur tubuh, ekspresi wajah, atribut, dan pakaian yang khas. Arjuna Wijaya ditampilkan dengan postur tubuh yang tegap, dada yang terbuka, dan tangan yang memegang busur dan panah. Hal ini mencerminkan sikap pahlawan yang siap untuk bertempur. Busur dan panah menggambarkan keahlian dan kemahiran Arjuna dalam seni Postur tubuh yang tegap, ekspresi wajah yang serius, dan atribut senjata yang dipegang menunjukkan sifat-sifat pahlawan yang berani dan kuat dalam menghadapi pertempuran. Arjuna adalah seorang pahlawan yang dikaitkan dengan dewa Wisnu dan memiliki peran penting dalam epik Mahabharata. Konotasi semiotika patung ini mencakup hubungan dengan cerita-cerita


25 memanah serta perannya sebagai pejuang yang ulung. Arjuna Wijaya umumnya mengenakan pakaian ksatria yang melambangkan status dan kedudukan sosialnya sebagai seorang ksatria. Ekspresi wajah Arjuna, yang biasanya ditampilkan dengan ekspresi serius, fokus, atau penuh tekad. Ekspresi ini menggambarkan keseriusan dan keberanian Arjuna dalam menghadapi tugas dan tantangan yang dihadapinya. mitologis dan nilai-nilai yang terkait dengan karakter Arjuna. Arjuna adalah sosok yang taat dan berdedikasi dalam menjalankan peran dan tugasnya sebagai ksatria. E. Rangkuman Semiologi merupakan terminologi yang identik dengan semiotika Semiologi awalnya dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, sebaga bagian dari keilmuan psikologi sosial. Semiotika dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce, sebagai cabang dari filsafat. Semiologi banyak dikenal di Eropa, dipopulerkan oleh para pewaris tradisi linguistik Sussurian. Sementara, semiotika dikembangkan oleh penutur bahasa Inggris yang mewarisi tradisi Piercian. Semiologi mengkaji semua tanda yang ada dalam kehidupan manusia, atau semua yang terindra: berbagai objek dan citra, ekspresi manusia, seni dan budaya, fenomena sosial, dan sebagainya. Semua ini membangun konsep penandaan, yang dapat dikaji dalam berbagai disiplin keilmuan: antropologi. sosiologi, pskologi, seni dan budaya, dan sebagainya. Pergeseran pendekatan keilmuan sosial berdasarkan linguistik struktural ini dikenal dengan peralihan linguistik. Model klasifikasi bener merupakan ciri khas dalam pemikiran linguistik Saussurian, yang dikelompokkan menjadi beberapa konsep utama: sinkronik dan diakronik, langue dan parole, dan petanda, sintagmatik dan paradigmatik, serta denotasi dan konotasi. Pendekatan sinkronik adalah pendekatan yang melihat bahasa sebagai sistem yang berfungsi pada saat tertentu, dengan tidak perlu memahami aspek etimologinya. Sebaliknya, pendekatan diakronik mengkaji bahasa dalam proses waktu bergerak dan berevolusi. Pendekatan diakronik menganalisis berdasarkan komparatif-historis, melalui proses penelusuran etimologis, pergeseran fonologis, dan seterusnya, sehingga mengandung aspek asosiatif. Langue adalah sistem formal gramatikal bahasa, yang bersifat abstrak. la adalah sebuah sistem elemen-elemen phonic (yang berhubungan dengan bunyi) di mana hubungannya diatur menurut hukum-hukum yang determinan. Parole adalah wicara aktual (nyata), suatu cara di mana pewicara setiap hari menggunakan bahasa untuk mengekspresikan diri mereka. Kehadiran langue dan parole adalah konsekuensi dari pemahaman dasar linguistik yang bersifat dikotomis. Dalam hal ini, walaupun terlihat antara keduanya beroposisi, namun sebetulnya saling melengkapi. Dalam bahasa, penanda adalah citra bunyi ketika mendengar kata yang diucapkan, dan petanda adalah citra bunyi


26 yang digunakan untuk menya- takan makna kata yang disampaikan. Dalam wujud visual, penanda adalah citra bentuk ketika melihat atau membaca sesuatu, dan petanda adalah citra yang digunakan untuk menyatakan makna dari apa yang terlihat atau terbaca. Keduanya membentuk kesatuan yang saling memperkuat, yang disebut sebagai tanda. Bahasa dibangun atas dasar relasi-relasi pertandaan, di antaranya relasi sintagmatik dan paradigmatik. Relasi sintagmatik merupakan relasi yang bersifat linier, terikat oleh waktu, dan kehadiran unsur-unsurnya bersifat in praesentia. Sebaliknya, relasi paradigmatik lebih bersifat meruang. memiliki hubungan asosiatif dengan kehadiran unsur-unsurnya yang bersifat in absentia. Denotasi dan konotasi, keduanya mengacu pada "tatanan makna kata" (orders of signification). Yang pertama pada makna kata lugas atau literal, dalam arti menjelaskan sesuatu sebagaimana adanya (denotasi). Yang lain menggunakan arti kiasan (konotasi), dan dalam arti tertentu melibatkan semacam metabahasa.


27 BAB V KAJIAN METAFORA DAN METONIMI A. Pengantar 1. Karya 1 : Rush Hour a) Konteks karya a. Bentuk : Karya seni patung I Nyoman Nuarta b. Ukuran : 80 cm x 37 cm x 241 cm c. Material : logam tembaga d. Keunikan karya : Tampak serti tiga pengendara sepeda. b) Konteks penciptaan a. Latar belakang : terkadang kita sibuk dengan pekerjaan sehari-hari, kita terburu-buru dikejar deadline, membuat kita terkadang lupa untuk memperhatikan sekitar kita. Kita tenggelam dalam waktu sibuk yang kita ciptakan sendiri. b. Setting sosial ketika karya diciptakan : Kejutan pula yang kerap terjadi dalam hidup Nuarta. Ia, yang dahulu sempat tiga kali hendak berhenti sekolah karena punya biaya c. Setting budaya : awan atau asap polusi bisa ditangkap dan diwujudkan dalam citra. Dulu yang seperti ini nggak bisa karena patung dulu harus masif 2. Karya 2 : Nightmare a) Konteks karya a. Bentuk : Karya seni patung I Nyoman Nuarta b. Ukuran : - c. Material : logam tembaga d. Keunikan karya : Tampak seperti wanita berbaring lemah b) Konteks penciptaan a. Latar belakang : Pengalaman buruk itu adalah kekerasan seksual yang terjadi ketika Indonesia dihantam krisis pada 1998. b. Setting sosial ketika karya diciptakan : kerusuhan terjadi di berbagai daerah di Indonesia dan perempuan beretnis Tionghoa menjadi salah satu kelompok korban kekerasan seksual. c. Setting budaya : pengalaman buruk yang menjadi bagian dari sejarah gelap Indonesia.


28 B. Pemahaman tentang METAFORA DAN METONIMI 1. Metafora Para ahli semiotic menjelaskan tentang apa itu Metafora yang memiliki arti adalah kiasan yang mengandung unsur-unsur yang kadang-kadang tidak disebutkan secara explisit. Selain itu metafora juga merupakan suatu alat atau imajinasi puitis dan tulisan retoris yang lebih merupakan bahasa yang tidak bisa dibandingkan dengan bahasa yang umum. Lebih jauh lagi, metafora secara tipikal dipandang sebagai karakteristik suatu bahasa itu sendiri, sesuatu yang lebih berhubungan dengan katakata dibandingkan dengan peikiran dan tindakan. Secara umum dapat dikatakan metafora merupakan hal-hal umum yang terjadi dalam kehidupan pada setiap peristiwa/keadaan (tidak hanya dalam bahasa, namun dalam setiap tindakan dan pemikiran). Hal ini menunjukkan bahwa metafora menjadi penguat untuk menjelaskan sesuatu atau memperindah kata-kata/ucapan serta tulisan-tulisan. Selain itu metafora juga diartikan sebagai penggunaan sebuah kata atau frasa yang bertujuan untuk menyatakan kemiripan di antara dua. Hal ini akan merupakan kiasan/perumpamaan yang memberikan pernyataan dari apa yang mau atau dijelaskan. Ada beberapa contoh dalam kiasan yang menyatakan tentang retoris: Klimaks, Anti klimaks, Antitesis, Apostrof, Eufemisme, Seruan, Hiperbola, Litotes. Similie, Metonimi, Conceit, Ironi, Onomatopei, Oksimoron, Paradoks, Personifikasi, Pertanyaan retorik, sinekdoke. Kesemua contoh kiasan ini merupakan alat metaforis untuk menjelaskan hal-hal yang mau diungkapkan, sehingga metafora dapat dikatakan bersifat stilistik, karena ia merupakan alat untuk membuat cara berkomunikasi yang lebih prosais dan literal. Dengan demikian tampak jelas bahwa metafora mendominasi komunikasi sehari-hari dan merupakan sumber dari banyak praktis simbolik. 2. Metonimi Metonimia adalah majas atau gaya bahasa yang menggunakan kata untuk mewakili sesuatu yang lain dari makna kata aslinya berdasarkan pertalian yang dekat dari keduanya. Metonimia tidak hanya dapat digunakan menggunakan merk atau label saja. Bahwa metonomia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Intinya, majas ini menggunakan kata yang bertalian dengan kata yang sebenarnya ingin diungkapkan. Bahwa metonomia adalah penggunaan bahasa sebagai atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat berhubungan dekat dengannya untuk menggantikan objek tersebut. Sejalan dengan hak tersebut, metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya, contoh "adik membeli pepsodent". kata pepsodent dalam kalimat ini termasuk jenis bahasa kias metonimi. Kata pepsodent merupakan merek pasta gigi, sehingga "pepsoden" menggantikan pasta gigi.


29 Dalam pengertian metonimi, ada beberapa majas atau gaya bahasa yang menjadi kajiannya. Majas metonimi adalah sebuah majas yang diartikan sebagai gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Di dalam penggunaannya, gaya bahasa metonimi menggunakan sepatah-dua patah kata yang merupakan merek, macam atau lainnya yang menjadi satu kesatuan dari sebuah kata. Dengan kata lain, metonimia adalah gaya bahasa yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya. Gaya bahasa/majas yang ada dalam metonimi diantaranya majas metonimia, eufemisme, anafora, repetisi, alegori, paradoks, simile, litotes, ironi, hiperbola, metafora, personafikasi dan lain sebagainya. C. Analisis Karya Rush Hour 1. Metafora Metafora adalah suatu figur retoris yang menggunakan perbandingan atau perumpamaan untuk menggambarkan suatu konsep atau situasi dengan cara yang lebih kuat dan mengesankan. Semiotika, di sisi lain, adalah studi tentang tandatanda dan makna dalam komunikasi. Karya seni "Rush Hour" karya I Nyoman Nuarta menggabungkan kedua konsep ini dengan cara yang menarik. "Rush Hour" adalah patung yang terletak di Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta, Indonesia. Patung ini menggambarkan situasi lalu lintas yang padat di Jakarta, yang merupakan metafora dari kehidupan modern yang sibuk dan tergesagesa. Dalam konteks ini, patung ini menggunakan semiotika untuk menyampaikan pesan-pesan yang lebih dalam tentang kehidupan perkotaan. Dalam karya ini, Nuarta menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menggambarkan keadaan lalu lintas. Misalnya, patung ini menampilkan orang-orang yang terlihat terburu-buru dan kendaraan yang saling berdesakan. Simbol-simbol ini membentuk tanda-tanda yang memberikan makna tentang kehidupan modern yang penuh dengan tekanan, kesibukan, dan keterbatasan ruang.


30 Selain itu, Nuarta juga menggunakan komposisi dan estetika visual untuk memperkuat makna patung ini. Dalam "Rush Hour," postur tubuh, gerakan, dan ekspresi wajah dari orang-orang yang terperangkap dalam kemacetan diwujudkan dengan detail yang cermat. Nuansa kelelahan, frustasi, dan ketegangan terlihat jelas melalui penggunaan elemen-elemen ini. Dengan menggabungkan metafora dan semiotika, karya "Rush Hour" menciptakan pesan yang lebih dalam tentang kehidupan modern, kepadatan perkotaan, dan tekanan psikologis yang mungkin dirasakan oleh individu dalam situasi tersebut. Melalui penggunaan simbol-simbol dan estetika visual, patung ini mengundang penonton untuk merenungkan dan mempertanyakan aspek-aspek ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam keseluruhan, melalui penggabungan metafora dan semiotika, karya "Rush Hour" oleh I Nyoman Nuarta berhasil menyampaikan pesan yang kuat tentang kehidupan modern dan kompleksitasnya dengan cara yang visual dan artistik. 2. Metonimi Dalam karya "Rush Hour" oleh I Nyoman Nuarta, kita dapat melihat penggunaan simbol-simbol yang kuat untuk menyampaikan pesan tentang kehidupan perkotaan yang sibuk. Simbol-simbol ini mencakup kendaraan, orangorang, postur tubuh, gerakan, dan ekspresi wajah. Dalam konteks semiotika, simbol-simbol ini menjadi tanda-tanda yang menggambarkan keadaan lalu lintas yang padat dan kehidupan modern yang penuh dengan tekanan dan kesibukan. Melalui simbol-simbol ini, Nuarta menciptakan metafora visual yang menghadirkan pengalaman dan emosi terkait dengan situasi rush hour. Sebagai contoh, penggunaan simbol kendaraan yang saling berdesakan dapat menjadi metonimi yang menggantikan seluruh keadaan lalu lintas yang padat. Dengan melihat kendaraan-kendaraan tersebut, penonton dapat mengasosiasikan mereka dengan keadaan yang lebih luas dari kesibukan, stres, dan keterbatasan ruang dalam kehidupan perkotaan. Dalam karya "Rush Hour," semiotika berperan penting dalam membantu kita memahami cara Nuarta menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan dan makna-makna yang lebih dalam. Melalui studi semiotika, kita dapat menganalisis dan menginterpretasikan karya ini dengan memperhatikan tanda-tanda yang ada di dalamnya, dan bagaimana tanda-tanda tersebut menghubungkan dengan konteks dan makna yang lebih luas.


31 D. Analisis Karya Nightmare 1. Metafora Patung “Nightmare” bercerita tentang pengalaman buruk yang pernah dialami seorang perempuan Tionghoa. Saking buruknya pengalaman tersebut hingga terasa seperti mimpi, seolah pengalaman itu tak mungkin terjadi di dunia nyata. Pengalaman buruk itu adalah kekerasan seksual yang terjadi ketika Indonesia dihantam krisis pada 1998. Saat itu, kerusuhan terjadi di berbagai daerah di Indonesia dan perempuan beretnis Tionghoa menjadi salah satu kelompok korban kekerasan seksual. Nuarta mendapatkan kisah tersebut berdasarkan penuturan ayah si perempuan yang menjadi korban. Melalui patung “Nightmare”, Nuarta ingin menyampaikan sebuah pengalaman buruk yang menjadi bagian dari sejarah gelap Indonesia. Meski peristiwa itu menyeramkan, menurut Nuarta, patung “Nightmare” dapat menyampaikan pengalaman buruk itu tanpa tampak menyeramkan, namun tetap menyentuh perasaan. “Kejadian itu sangat menyesakkan. Saya bisa bayangkan bagaimana kalau itu istri saya, bagaimana kalau anak saya, bagaimana kalau ibu saya, yang diperlakukan seperti itu. Itu yang saya rasakan. Kok bisa melakukan hal yang begitu kejamnya?” kata Nuarta. (Dimara, 2018) 2. Metonimi Tragedi kelam itu juga disertai dengan penembakan para mahasiswa Trisakti serta ada begitu banyak kantor dan toko yang dijarah dan dibakar. Patung perempuan ini menggambarkan salah seorang korban yang tidak sedikit diperkosa dan dibunuh. Pesannya setiap kerusuhan, perempuan menjadi korban dan harus sadar kita terlahir dari rahim perempuan, makna moral untuk menghargai perempuan. Patung "Nightmare" sendiri terbuat dari besi yang menampilkan perempuan yang tidur. "Karat dibiarkan sebagai bagian dari sejarah kotor bangsa ini dan tidak diproses dihijaukan seperti karya lain.


32 Ketika kerusuhan ini terjadi, banyak perempuan yang diperkosa. Baik saat mereka tengah beraktivitas, atau ketika sedang tidur di rumahnya masing-masing. Di waktu yang sama, rombongan mahasiswa berdemo untuk meminta Soeharto turun dari pemerintahan. Dalam kerusuhan itu, banyak karakter manusia yang tergambarkan. Ada yang baik, dan yang jahat. Perempuan sering kali menjadi korban. Sayangnya, orang-orang sering kali tak menyadari orang baik dan jahat, semua terlahir dari perempuan. (Rasputri, 2020) E. Rangkuman Roman Jakobson mengemukakan pemikirannya dengan menekankan pada aspek struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafora (kesamaan), dan Metonimi (kesinambungan). Jakobson berpandangan bah bahasa memiliki enam macam fungsi mengemukakan pemikirannya dengan menekankan pada dua aspek struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafor (kesamaan), dan metonimia (kesinambungan). Kedua aspek ini sangat erat kaitannya dalam menjelaskan bentuk, isi terutama dalam kajian seni.


33 BAB VI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES A. Pengantar 1. Karya 1 : Patung Devi Zalim a) Konteks karya a. Bentuk : Karya seni patung I Nyoman Nuarta b. Ukuran : tinggi 230 c. Material : logam tembaga d. Keunikan karya : Tangan kirinya menggamit sebuah timbangan yang berat sebelah b) Konteks penciptaan a. Latar belakang : digambarkan sebagai sosok kejam dan tak adil. b. Setting sosial ketika karya diciptakan : menunjukkan sikap dan pandangannya tentang kondisi keadilan di Indonesia. c. Setting budaya : sindiran terhadap simbol keadilan yang digambarkan melalui figur perempuan 2. Karya 2 : Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) a) Konteks karya a. Bentuk : karya patung dari I Nyoman Nuarta b. Ukuran : 60 meter dan berat 2 ton c. Material : tembaga d. Keunikan karya : menampilkan sosok Perwira TNI Angkatan Laut berpakaian PDU - 1 lengkap dengan pedang kehormatan menatap ke arah laut berdiri tegak (kominfo, 2011) b) Konteks penciptaan a. Latar belakang : monumen ini sebagai pengingat bahwa sejak zaman dahulu negara Indonesia sudah cukup berjaya dalam bidang kemaritiman, yang telah dimulai sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit. (pamungkas , 2021) b. Setting sosial ketika karya diciptakan : satu figur, sosok tokoh Angkatan Laut yang memiliki optimisme yang tinggi dan misi kemaritiman yang jauh ke depan sehingga dapat menjaga keamanan dan kedaulatan NKRI. c. Setting budaya : profil dari patung ini, sebetulnya mengambil satu sosok, atau profil, figur dari seorang perwira menengah Angakatan Laut berpangkat Kolonel. Tentunya yang memiliki keyakinan ketegapan, kemandirian akan optimisme untuk menjaga kedaulatan menjaga NKRI ini di samudera atau lautan


34 B. Pemahaman tentang SEMIOTIKA ROLAND BARTHES 1. Denotasi Dan Konotasi Barthes mengemukakan teorinya tentang makna konotatif. la bahwa konotasi dipakai untuk salah satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi menggambarkan interaksi berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi tatkala makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya intersubjektif. Semuanya ini berlangsung ketika interpretant dipengaruhi sama banyaknya oleh penafsir dan objek atau tanda. Bagi Barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam tatanan pertama. Penanda tatanan pertama merupakan tanda denotasi. Lewat unsur verbal dan visual, diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang terdapat pada semiosis tingkat pertama makna yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotika terletak pada tingkat signified, maka pesan dapat dipahami secara utuh. Studi mengenai konotasi membangun inti semiotika kontemporer. Hal ini karena kebanyakan makna yang dimiliki tanda dalam latar budaya adalah makna konotatif. Jarang sekali makna denotasi timbul dalam penafsiran tanda dalam latar budaya. Dalam artian yang fundamental, budaya dapat diklasifikasikan sebagai distem makna konotatif yang dangat luas yang berkenaan dengan "kode makro" asosiatif yang memungkinkan anggota budayanya untuk berinteraksi sepenuh tujuan serta untuk merepresentasikan dan memikirkan dunia dengan cara tertentu. Barthes berpendapat bahwa kita dapat berbicara tentang dua sistem pemaknaan: denotasi dan konotasi. Denotasi adalah level makna deskriptif dan literal dan secara virtual dimiliki semua anggota suatu kebudayaan. Jadi, 'babi' bermakna denotatif konsep binatang ternak yang berguna dan berwarna merah muda dengan moncong dan ekor, dan seterusnya. Sedangkan konotasi adalah makna dibangun oleh penanda yang mengaitkan dengan aspek budaya yang lebih luas; keyakinan, sikap, kerangka kerja dan ideologi suatu bangunan sosial. Makna menjadi persoalan asosiasi tanda dengan kode makna budaya lain. Jadi, 'babi' bisa bermakna konotatif polisi nakal atau seseorang chauvinist laki-laki. Menurut subkode atau leksikon yang digunakan. Ketika konotasi dinaturalisasikan sebagai sesuatu yang hegemonik, yaitu ketika diterima secara 'normal' dan 'alami, ia bertindak sebagai peta makna konseptual dimana seseorang memahami dunianya. Itu semua adalah mitos. Meskipun mitos adalah konstruksi budaya, tapi ia bisa tampak sebagai kebenaran universal yang telah ada sebelumnya dan melekat pada nalar awam. Mitos kemudian mirip dengan konsep ideologi, yang katanya, bekerja pada level konotasi. Benar, Volosinov (1973) berpendapat bahwa ranah ideologi terkait dengan arena tanda. Dimana ada tanda maka disita ada ideologi. Bagi Barthes, mitos adalah sistem semiologis urutan kedua atau meta bahasa. Mitos adalah bahasa kedua yang


35 berbicara tentang bahasa tingkat pertama. Tanda pada sistem pertama (penanda dan petanda) yang membangun makna denotatif manjadi penanda pada urutan kedua mitologis konotatif. Alih-alih memiliki makna denotatif, tanda dikatakan oleh karya Barthes belakangan ini memiliki sifat polisemik, yaitu, ia banyak membawa makna potensial. Hasil, teks dapat ditafsirkan lewat berbagai cara. Makna memerlukan keterlibatan aktif para pembaca dan kompetensi budaya yang mereka hadirkan di dalam citra teks agar secara temporer 'menetapkan', makna untuk tujuan tertentu. Jadi, interpretasi teks tergantung kepada tampungan dan budaya pembaca dengan pengamatan mereka tentang kode-kode sosial. Itu semua didistribusikan secara berbeda di berbagai kelas, gender, kebangsaan, lain-lain. Jika kita menggunakan kerangka teori Barthes untuk memahami budaya (teks), maka kita dapat memahami budaya dari dua sistem pemaknaan: denotasi dan konotasi. Denotasi adalah level makna deskriptif dan literatur secara virtual dimiliki semua anggota kebudayaan. Misalnya kata "tikus" mengandung makna binatang pengerat. Akan tetapi pada tataran konotatif makna dikonstruksi oleh penanda yang dikaitkan dengan aspek sosial-budaya. Dengan demikian makna menjadi permasalahan asosiasi tanda dengan kode makna budaya lain. Tikus dapat berarti pada koruptor yang membobol uang negara, dapat berarti orang yang banyak anak dan lain-lain. 2. Ideologi Ideologi adalah konsep, konstruksi, atau pemikiran sosial yang diidealkan atau diidamkan, menjadi panduan dalam bertindak dan menjadi filter dalam menanggapi sesuatu yang berasal dari luar oleh pemakai bahasa sebagai anggota masyarakat. “In the development of social and cultural science linguistic scientific to be the approach model in which the culture and social living is defined in language. The language, culture and social living is built by its structure as base. ” dalam pengembangan ilmu sosial dan budaya ilmu linguistik menjadi model pendekatan di mana budaya dan kehidupan sosial didefenisikan dalam bahasa. Bahasa, budaya dan kehidupan sosial dibangun oleh strukturnya sebagai basis.” C. Kajian Karya Patung Devi Zalim


36 1. Denotasi dan Konotasi Denitasi Patung "Devi Zalim" menggambarkan seorang perempuan berdiri dengan tangan terangkat dan berada di atas kepala seekor naga. Denotasi patung ini mencakup bentuk tubuh perempuan, posisi tangan yang terangkat, serta representasi naga sebagai elemen yang mendukung dan berada di bawah perempuan tersebut. Dalam analisis semiotika, denotasi menjadi titik awal untuk memahami makna yang lebih dalam dalam konteks komunikasi visual. Dengan memperhatikan denotasi patung "Devi Zalim," kita dapat melihat elemen-elemen fisik dan visual yang membentuk karya seni itu, tetapi untuk memahami makna yang lebih kaya, diperlukan analisis konotasi dan konteks budaya yang lebih luas. Konotasi Dalam konteks patung "Devi Zalim," konotasi yang mungkin dapat dikaitkan adalah konotasi spiritualitas, kekuatan, dan keagungan. Patung menggambarkan seorang perempuan dengan tangan terangkat, yang dapat memberikan kesan bahwa ia memiliki kekuatan atau sedang dalam proses melakukan sesuatu yang penting. Penggambaran perempuan yang berdiri di atas kepala seekor naga juga dapat mengandung konotasi kekuatan yang mengalahkan atau mengatasi kejahatan atau ketidakadilan. Selain itu, patung ini dapat dihubungkan dengan mitologi Hindu atau cerita epik yang melibatkan dewi atau tokoh perempuan yang memiliki kekuatan supranatural. Ini dapat memberikan konotasi kehadiran dewi atau entitas spiritual yang kuat dalam karya seni ini. Namun, penting untuk diingat bahwa konotasi dapat bervariasi tergantung pada perspektif individu dan konteks budaya yang berbeda. Interpretasi konotasi patung "Devi Zalim" dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, tergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan latar belakang budaya masingmasing. 2. Ideologi Analisis ideologi dalam karya seni seperti patung "Devi Zalim" dapat melibatkan pemahaman tentang bagaimana patung tersebut merefleksikan atau mempengaruhi ideologi tertentu.Namun, sebagai model AI yang tidak dapat secara langsung menilai pandangan pribadi atau niat sang seniman, saya tidak memiliki informasi spesifik tentang ideologi yang dimiliki oleh I Nyoman Nuarta atau tujuan yang ingin ia sampaikan melalui patung "Devi Zalim". Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang ideologi yang mungkin ada di balik karya seni tersebut, akan diperlukan informasi lebih lanjut mengenai pemikiran dan konteks karya seni tersebut dari seniman itu sendiri atau dari sumber yang dapat memberikan wawasan tentang karya tersebut.Dalam melakukan analisis semiotika, memahami konteks budaya, sosial, dan sejarah karya seni dapat membantu dalam mengidentifikasi dan menganalisis kemungkinan ideologi yang terlibat dalam


37 interpretasi dan produksi tanda-tanda tersebut. Namun, penting juga untuk diingat bahwa penafsiran ideologi dapat bervariasi dan tergantung pada sudut pandang individu yang menganalisis karya seni tersebut. D. Kajian Karya Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) 1. Denotasi dan Konotasi Denotasi Denotasi Monumen Jalesveva Jayamahe mencakup elemen-elemen fisik dan visual yang dapat diamati langsung pada monumen itu sendiri. Monumen ini memiliki bentuk yang mencolok dan menggambarkan seorang prajurit yang sedang berdiri tegak dengan tangan memegang tombak. Monumen ini juga memiliki ukuran yang besar dan berdiri kokoh di atas landasan yang tinggi. Denotasi monumen ini mencakup elemen-elemen fisik seperti bentuk tubuh, posisi tangan, dan atribut yang digunakan oleh prajurit.Namun, denotasi semiotika hanya merujuk pada deskripsi fisik dan visual dari monumen itu sendiri. Untuk memahami makna yang lebih dalam, diperlukan analisis konotasi dan konteks budaya yang lebih luas. Konotasi dan makna yang terkait dengan Monumen Jalesveva Jayamahe dapat bervariasi tergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan perspektif individu yang menganalisisnya. Konotasi Berikut adalah beberapa konotasi yang mungkin terkait dengan Monumen Jalesveva Jayamahe: Konotasi Kepahlawanan: Monumen ini menggambarkan seorang prajurit dengan tangan memegang tombak yang berdiri tegak. Hal ini dapat dikaitkan dengan konotasi kepahlawanan, keberanian, dan pengabdian terhadap negara atau institusi yang diwakili oleh prajurit tersebut. Konotasi Kejayaan Maritim: Monumen ini juga dapat dihubungkan dengan konotasi kejayaan maritim Indonesia. Dengan melambangkan seorang prajurit di sepanjang pantai, Monjaya menandakan keberhasilan dan dominasi Angkatan Laut Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan maritim negara. Konotasi Kedaulatan dan Keberanian: Prajurit yang digambarkan dalam monumen ini dapat mewakili kedaulatan dan keberanian bangsa Indonesia. Monumen ini mengandung pesan kuat tentang pentingnya mempertahankan kedaulatan dan keberanian dalam menjaga keutuhan negara. Konotasi Nilai dan Identitas Nasional: Monumen ini juga dapat memberikan konotasi tentang nilai-nilai nasional Indonesia, seperti patriotisme, semangat juang, dan kesetiaan terhadap negara. Ini mencerminkan identitas nasional Indonesia yang kuat dan menginspirasi rasa cinta tanah air.


38 2. Ideologi Monumen Jalesveva Jayamahe, sebagai monumen yang didedikasikan untuk Angkatan Laut Indonesia, dapat mencerminkan ideologi kebangsaan dan patriotisme. Monumen ini dapat menggambarkan nilai-nilai seperti keteguhan, keberanian, kesetiaan, dan semangat juang dalam melindungi dan mempertahankan kedaulatan maritim Indonesia.Selain itu, monumen ini juga dapat mencerminkan ideologi kejayaan dan kekuatan nasional. Melalui representasi prajurit yang tegak dengan tangan memegang tombak, Monjaya dapat mengandung pesan tentang dominasi dan prestasi dalam bidang maritim.


39 DAFTAR PUSTAKA Asiah, A. N. (2020, November 11). Dulu Ikon Surabaya, Kini Patung Karapan Sapi di Jalan Basra Mulai Rusak. Retrieved from kumparan.com: https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/dulu-ikon-surabaya-kinipatung-karapan-sapi-di-jalan-basra-mulai-rusak-1uZG0GxzZnG/full Dimara, G. (2018, Januari 31 ). Patung dan Kritik Sosial dalam Semesta Nyoman Nuarta. Retrieved from kumparan.com: https://kumparan.com/kumparannews/patung-dan-kritik-sosial-dalamsemesta-nyoman-nuarta/full kominfo. (2011, oktober 17). MONJAYA, IKON WISATA BAHARI JATIM. Retrieved from kominfo.jatimprov.go.id: https://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/28742 pamungkas , p. (2021, Agustus 1). Monjaya (Monumen Jalesveva Jayamahe). Retrieved from tribunnews: https://www.tribunnewswiki.com/2021/08/01/monjaya-monumenjalesveva-jayamahe Rasputri, H. (2020, Januari 30 ). Menilik Makna di Balik 7 Patung Karya Maestro Nyoman Nuarta di Bandung. Retrieved from Kumparan: https://kumparan.com/kumparantravel/menilik-makna-di-balik-7-patungkarya-maestro-nyoman-nuarta-di-bandung-1sjlUfJuCel/full Saragih, A., Ansari, K., & Zukifli. (2023). Semiotika. In Y. Heniwaty, S. Hutagalung, P. Ginting, & W. T. Atmojo, Semiotika (pp. 1-152). Medan: FBS Unimed Press.


Click to View FlipBook Version