The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MENGETAHUI, MEMAHAMI, DAN MENGUASAI TEKNIK ANALISIS TERHADAP POLA PIKIR DAN PENGEMBANGAN IDE DALAM KARANGAN

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sheyntrinova, 2022-12-11 22:13:50

Materi Analisis Kesulitan Menulis

MENGETAHUI, MEMAHAMI, DAN MENGUASAI TEKNIK ANALISIS TERHADAP POLA PIKIR DAN PENGEMBANGAN IDE DALAM KARANGAN

Keywords: Analisis Kesulitan Menulis

MAKALAH

MENGETAHUI, MEMAHAMI, DAN MENGUASAI TEKNIK ANALISIS TERHADAP
POLA PIKIR DAN PENGEMBANGAN IDE DALAM KARANGAN

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam menempuh mata kuliah Analisis Kesulitan
Menulis dari dosen pengampu Setiawan M,Pd.

disusun oleh :

Sheyn Trinova 205030083
Arrinal Haq Mufiidah 205030110
Muhamad Candra Maulidan 205030121

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2022

KATA PENGANTAR

Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya, solawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada
keluarganya, para sahabatnya, dan sampai kepada seluruh umat yang menjalankannya. Sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Analisis Kesulitan Menulis. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Setiawan
M,Pd. Selaku Dosen Mata Kuliah Analisis Kesulitan Menulis yang telah berkenan membimbing
dalam pembuatan makalah ini. Selain itu ucapan terima kasih kami kepada orang tua, teman-
teman yang telah memberikan doa, bantuan dan dukungan sehingga makalah ini dapat
terselesaikan.

Terlepas dari segala hal tersebut, kami sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya kami dengan lapang dada
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat untuk pembaca.

Bandung, 23 November 2022

Penyusun

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................................1

A. Latar Belakang .................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................1
C. Tujuan ..............................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................2
A. Unsur dan Sifat Alinea......................................................................................................2
B. Variasi dan Letak Kalimat Utama .....................................................................................9
C. Metode Pengembangan Alinea........................................................................................11
D. Metode Puisi...................................................................................................................15
BAB III PENUTUP...................................................................................................................18
A. Simpulan ........................................................................................................................18
B. Saran ..............................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................19

ii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Paragraf atau alinea berlaku pada bahasa tulis, sedangkan pada bahasa lisan digunakan

istilah paraton (Brown dan Yule, 1996). Paragraf merupakan suatu kesatuan bentuk
pemakaian bahasa yang mengungkapkan pikiran atau topik dan berada di bawah tataran
wacana. Paragraf memiliki potensi terdiri atas beberapa kalimat. Paragraf yang hanya terdiri
atas satu kalimat tidak mengalami pengembangan. Setiap paragraf berisi kesatuan topik,
kesatuan pikiran atau ide. Dengan demikian, setiap paragraf memiliki potensi adanya satu
kalimat topik atau kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas. Oleh Ramlan, (1993) pikiran
utama atau ide pokok merupakan pengendali suatu paragraf.

Pengidentifikasian secara formal suatu paragraf begitu mudah, karena secara visual
paragraf biasanya ditandai adanya indensasi. Yang menjadi persoalan, apakah bentuk yang
secara visual dikenali sebagai paragraf tersebut secara otomatis berisi satu satuan pokok
pikiran? Idealnya tentulah ya, bila paragraf telah dikembangkan secara baik. Namun,
kenyataannya belum tentu demikian karena belum tentu paragraf dikembangkan secara
benar. Disinilah pentingnya pengembangan paragraf.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan metode pengembangan alinea?
2. Bagaimana strategi menutup secara formal?
3. Apa saja yang termasuk ke dalam sumber dan penyebab kesulitan?
4. Apa yang dimaksud dengan metode puisi?

C. Tujuan
1. Mengetahui metode pengembangan alinea.
2. Mengetahui strategi menutup secara formal sebuah karangan.
3. Mengetahui apa saja yang termasuk ke dalam sumber dan penyebab kesulitan.
4. Mengetahui metode puisi.

1

BAB II

PEMBAHASAN

A. Unsur dan Sifat Alinea
Tarigan (1981, hlm. 10) menyatakan bahwa “Paragraf berisi “sesuatu” dan penulis

paragraf selalu dimulai dengan garis baru yang dimajukan ke depan atau “Identitation”.
Tarigan (1981, hlm. 13) menyatakan bahwa Alinea adalah satu kesatuan ekspresi yang

terdiri atas seperangkat kalimat yang dipergunakan oleh pengarang sebagai alat untuk
menyatakan dan menyampaikan jalan pikirannya kepada para pembaca.

Maka dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah kesatuan kalimat yang mengandung
gagasan yang tersusun secara sistematis untuk menyampaikan makna kalimat.
1. Transisi

Transisi adalah mata rantai penghubung antar alinea. Transisi berfungsi sebagai
penghubung jalan pikiran dua alinea yang berdekatan. Kata-kata tradisional merupakan
petunjuk bagi pembaca kearah mana ia sedang bergerak atau mengingatkan pembaca apakah
suatu alinea baru bergerak searah dengan ide pokok sebelumnya. Oleh karena itu, beberapa
orang sering mengatakan bahwa transisi berfungsi sebagai penunjang koherensi dan kesatuan
antar bab, antar subbab, dan antar alinea dalam suatu karangan.

Transisi tidak harus selalu ada dalam setiap alinea. Kehadiran transisi dalam alinea
bergantung pada pertimbangan pengarang. Bila pengarang merasa perlu ada transisi demi
kejelasan informasi, transisi wajar ada. Sebaliknya, bila pengarang bisa mengekspresikan ide
pokoknya dengan jernih tanpa transisi, transisi tidak perlu hadir dalam alinea tersebut.

Transisi tidak hanya terdapat pada alinea, tetapi terdapat juga dalam kalimat, antar alinea,
antar subbab, antar bab. Bila transisi terdapat antar subbab, transisi berfungsi
menghubungkan ide pokok dalam subbab tersebut. Bila transisi terdapat pada antarbab,
transisi berfungsi sebagai jembatan penghubung ide pokok dalam bab yang berdekatan
tersebut.

2

3

Ada dua cara untuk mewujudkan hubungan di antara dua alinea. Pertama, secara implisit.
Kedua, secara eksplisit. Hubungan implisit tidak dinyatakan oleh penanda transisi tertentu.
Walaupun demikian, hubungan antar alinea masih dapat dirasakan. Hubungan eksplisit
dinyatakan oleh alat penanda transisi tertentu, seperti : kata, termasuk di dalamnya kelompok
kata dan kalimat.
a. Transisi Berupa Kata

Alat penanda transisi berupa kata dan kelompok kata sangat banyak jenisnya. Secara
garis besar, alat penanda transisi dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Penanda Hubungan Kelanjutan: dan, lagi, serta, lagi, pula, dan tambahan lagi.
Contoh penanda transisi yang berupa kata lagi pula: Lagi pula, munculnya para
pemipin muda sangat diharapkan oleh masyarakat.

2) Penanda hubungan Urutan Waktu: dahulu, kini, sekarang, sebelum, setelah, sesudah,
kemudian, sementara itu, sehari kemudian, dan seterusnya. Contoh penanda transisi
yang berupa kata sementara itu: Sementara itu,persiapan pelantikan anggota DPRD
sudah mulai dilakukan oleh panitia pelaksana.

3) Penanda Klimaks: paling…, se..nya, ter…
Contoh penada transisi yang berupa kata terakhir: Terakhir, dia
berdagang buah-buahan pada usia 18 tahun.

4) Penanda Perbandingan: sama, seperti, ibarat, bak, dan bagaikan.
Contoh penanda transisi yang berupa kata bagaikan: Bagaikan seorang ahli, ia mulai
melukis di atas kanvas.

5) Penanda Kontras: tetapi, biarpun, walupun, sebaliknya
Contoh penanda transisi yang berupa kata sebaliknya: Sebaliknya, mereka terlihat
kurang antusias untuk berpartisipasi sebagi pemilih pada pemilu tahun ini.

6) Penanda Urutan Jarak: di sini, di situ, di sana, dekat, jauh, sebelah,…
Contoh penanda transisi yang berupa kata di sana: Di sana,telah berdiri tegak sebuah
monumen yang mengenang kepahlawanan sebuah bangsa.

7) Penanda Ilustrasi: umpama, contoh dan misalnya.
Contoh misalnya, pembangunan tidak akan berjalan tanpa adanya kerja sama semua
pihak.

8) Penanda Sebab Akibat: karena sebab oleh karena itu akibatnya.

4

Contoh penanda transisi yang berupa kata akibatnya: Akibatnya, semua anggota
terkena hukuman.
9) Penanda Kondisi Pengandaian: jika, kalau, jikalau, andai kata, seandainya
Contoh penanda kata transisi yang berupa kata seandainya: Seandainya,waktu dapat
diulang, aku ingin keluargaku kembali berkumpul.
10) Penanda Simpulan: simpulan, ringkasnya, garis besarnya, rangkumannya
Contoh penanda transisi yang berupa kata ringkasnya: Ringkasnya, semua kegiatan
tersebut dapat dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
b. Transisi Berupa Kalimat
Transisi jenis kedua yang berupa kalimat yang lebih terkenal dengan istilah “LEADIN-
SENTENCES”(KALIMAT PENUNTUN). Kalimat ini berfungsi ganda, yaitu sebagi transisi
dan sebagai pengantar topik utama yang akan diperbincangkan.

Kalimat penuntun tidak berfungsi sebagai pengganti kalimat topik. letaknya selalu
mendahului kalimat topik. Bila dalam suatu alinea terdapat kalimat penuntun sebagai

transisi,kalimat topik terdapat setelah kalimat penuntun tersebut.
Contoh : (1)Ringkasnya,tata bahasa meliputi 3 hal,yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis.
(2) Fonologi berhubungan dengan studi tata bunyi, morfologi mengenai tata kata, dan
sintaksis membicarakan tata kalimat.

2. Kalimat topik
Ada berbagai istilah yang sama maknanya dengan kalimat topik. Dalam bahasa inggris,

kita mengenal istilah-istilah, major point, main idea, central idea, dan topic sentence.
Keempat-empatnya bermakna sama mengacu kepada pengertian kalimat topik. Kalimat topik
adalah perwujudan pernyataan ide pokok alinea dala bentuk umum atau abstrak.
Contoh:
(1) Sial benar saya hari ini.
(2) Harga barang-barang bergerak naik.

Contoh ke-(1) menyatakan kesialan seseorang. Kesialan tersebut baru berupa pernyataan
abstrak yang harus diuraikan kedalam contoh-contoh yang konkret. Demikian pula contoh

5

ke-(2) harga barang naik masih bersifat umum.Yang perlu diperjelas adalah berapa naiknya
untuk setiap barang. Dengan begitu, akan jelas pengertian yang terdapat pada kalimat topik.

Ada tiga kemungkinan letak kalimat topik dalam satu alinea. Kemungkinan pertama,
kalimat topik berada di awal alinea, segera setelah transisi, kalau transisi ada pada alinea
tersebut. Kemungkinan kedua kalimat topik berada di bagian akhir alinea. Kemungkinan
ketiga, kalimat topik berada di awal dan di akhir.
3. Kalimat pengembang

Sebagian besar kalimat-kalimat yang terdapat dalam suatu paragraf termasuk kalimat
pengembang. Bila dimisalkan jumlah kalimat dalam suatu paragraf 12 buah, maka
perbandingan jumlah kalimat sebagai berikut:

a. Paragraf yang berunsur transisi, kalimat topik, kalimat pengembangan dan penegas
mempunyai porsi masing-masing satu untuk transisi, satu untuk kalimat topik dan
satu untuk penegas, sisanya sembilan. Itulah kalimat pengembang atau 75%.

b. Bila transisi tidak berupa kalimat maka kalimat pengembanganya berjumlah sepuluh
atau 83,3%.

c. Bila paragraf tersebut tanpa transisi dan penegas maka jumlah kalimat pengembang
sebelas buah 91,6 %.
Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kalimat dalam
suatu paragraf termasuk kategori kalimat pengembang.

4. Kalimat penegas.
Kalimat penegas adalah elemen alinea yang keempat dan terakhir. Elemen pertama

adalah transisi, elemen kedua adalah kalimat topik, dan elemen ketiga adalah kalimat
pengembang.

Fungsi kalimat penegas ada dua. Pertama, kalimat penegas sebagai pengulang atau
penegas kembali kalimat topik. Kedua, kalimat penegas sebagai daya penarik bagi para
pembaca atau sebagai selingan untuk menghilangkan kejemuan.

Kedudukan kalimat penegas dalam suatu alinea tidak bersifat mutlak. Kalimat penegas
ada bila pengarang merasa memerlukannya untuk menujang kejelasan informasi. Kalimat
penegas tidak ada bila pengarang memandang kehadirannya tidak diperlukan. Selain itu,
kalimat penegas tidak ada bila pengarang merasa kejelasan informasi tidak terganggu tanpa
adanya kalimat penegas.

6

Bila kita perbandingkan kedudukan kalimat penegas dengan kedudukan kalimat topik dan
kalimat pengembang, terdapat beberapa persamaan dan beberapa perbedaan. Jumlah kalimat
penegas dan kalimat topik sama. Makna yang terkandung dalam kalimat penegas dan kalimat
topik kurang lebih sama, tetapi mungkin diutarakan dengan redaksi yang berbeda.

Eksistensi kalimat penegas tidak mutlak dalam suatu alinea, sedang eksistensi kalimat
topik dan kalimat pengembang bersifat mutlak dalam setiap alinea. Makna yang terkandung
dalam kalimat penegas dan kalimat topik bersifat konkret sebagai penjabaran dari makna
kalimat penegas dan kalimat topik.

Jenis paragraf berdasarkan sifat dan tujuannya menurut Kosasih dalam Tamba (2018)
antara lain sebagai berikut.
1. Deskripsi

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang bertujuan memberikan kesan/ impresi kepada
pembaca terhadap objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin
disampaikan penulis.
Contoh :

Masih melekat di mataku, pemandangan indah nan elok pantai Parangtritis. Gelombang
ombak bergulung-gulung datang silih berganti menyambutku serasa ingin mengajak
bermain. Air yang jernih dan pasir putih lembut yang menghampar luas tanpa ada tumbuh-
tumbuhan atau karang yang menghalangi membuatku ingin kembali lagi. Di sebelah kanan-
kiri, aku bisa memandang air laut sejauh mata memandang, pandai dengan bukit berbatu,
pesisir serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Kurasakan dingin membasuh
kakiku karena ombak menghempas kakiku dan terasa asin air itu ketika bibirku terkena
percikan. Sepanjang aku berjalan, hampir pinggiran pantai dipenuhi oleh pengunjung
wisatawan. Kulihat ada yang berlari berkejar-kejaran di bibir pantai, bermain bola, bermain
dengan air, berfoto-foto dengan latar sekitar pantai. Tapi yang paling membuatku tertarik,
kulihat ada beberapa turis manca negara yang menikmati keindahan pantai ini dengan naik
delman. Seperti apa yang aku lihat, pantai ini memang sangat ramai pengunjung. Tak
pernah sunyi pantai Parangtritis (Khasan, 2012).

2. Narasi

7

Paragraf narasi bertujuan mengisahkan atau menceritakan. Paragraf narasi kadang-
kadang mirip dengan paragraf deskripsi. Bedanya, narasi mementingkan urutan dan biasanya
ada tokoh yang diceritakan. Paragraf narasi tidak hanya terdapat dalam karya fiksi, tetapi
sering pula terdapat dalam tulisan nonfiksi.
Contoh :

Tepat ketika tanggal 10 Maret, sekolahku libur selama sembilan hari dan akan berakhir
pada tanggal 18 Maret. Aku dan seluruh keluargaku tidak menyia-nyiakan waktu ini untuk
mengadakan liburan keluarga. Ketika itu aku memilih berlibur ke Pantai Parangtritis. Pagi-
pagi aku telah berbenah dan menyiapkan semua perbekalan yang nantinya diperlukan.
Sepanjang perjalanan, aku iringi dengan nyanyian lagu riang. Betapa senangnya aku ketika
sampai di pantai tersebut. Dengan hati suka ria, aku sambut Pantai Parangtritis dengan
senyumku. Pantai Parangtritis, pantai nan elok yang menjadi favoritku. Tanpa menyia-
nyiakan waktu, aku mengajak kakakku untuk bermain air. Kuambil air dan aku ayunkan ke
mukanya. Dengan canda tawa, kami saling berbalasan. Puas rasanya, terasa hilang semua
kepenatan karena kesibukan tiap harinya. Di sana, aku dan seluruh keluargaku saling
berfoto-foto untuk mengabadikan momen yang indah ini. Tak terasa waktu berjam-jam telah
kuhabiskan disana. Hari pun mulai sore menandakan perpisahan dan kembali pulang. Tak
rela rasanya kebahagiaan ini akhirnya selesai. Dalam benakku, aku kan kembali esok
(Khasan, 2012).

3. Eksposisi
Paragraf eksposisi bertujuan memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi,

mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca
menerima atau mengikutinya. Paragraf eksposisi biasa digunakan untuk menyajikan
pengetahuan/ilmu, defenisi pengertian, langkah-langkah suatu kegiatan, metode, cara dan
proses terjadinya sesuatu.
Contoh:

Parangtritis adalah nama desa di kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Di desa ini terdapat pantai Samudera Hindia yang terletak kurang lebih 25 km
sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal
di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah.

8

Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata
lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinggi di
sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola
oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar
yang menjajakan souvenir khas Parangtritis. Selain itu ada pemandian yang disebut parang
wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit
diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal
dari pengunungan di lokasi tersebut. Air panas dari parang wedang dialirkan ke pantai
parangtritis untuk bilas setelah bermain pasir dan juga mengairi kolam kecil bermain anak-
anak. Di Parangtritis ada juga ATV, kereta kuda & kuda yang dapat disewa untuk menyusuri
pantai dari timur ke barat. selain itu juga parangtritis sebagai tempat untuk olahraga
udara/aeromodeling (Khasan, 2012).

4. Argumentasi
Paragraf argumentasi bertujuan menyampaikan suatu pendapat, konsepsi, atau opini

tertulis kepada pembaca.
Contoh:

Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai
berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian masyarakat
Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni
dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik
musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama
hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip
current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat,
tetapi juga mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali
dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga
menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung
(pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah
yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam (Khasan, 2012).

9

5. Persuasi
Paragraf persuasi merupakan kelanjutan atau pengembangan argumentasi. Persuasi mula-

mula memaparkan gagasan dengan alasan, bukti, contoh, untuk meyakinkan pembaca.
Kemudian diikuti dengan ajakan, bujukan, rayuan, imbauan, atau saran kepada pembaca.
Contoh:

Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai
berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian masyarakat
Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni
dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik
musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama
hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip
current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat,
tetapi juga mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali
dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga
menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung
(pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah
yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam. Oleh karena itu, selayaknya warga
masyarakat tidak lagi percaya hal-hal gaib dan bisa mengedepankan penalaran logika atau
akal sehat. Pemerintah daerah pun sebaiknya memberikan pemahaman yang benar
mengenai penyebab bencana laut kepada warga di sekitar pantai. Informasi tersebut dapat
diteruskan kepada wisatawan guna meningkatkan kewaspadaan mereka (Khasan, 2012).

B. Variasi dan Letak Kalimat Utama
Sebuah paragraf harus bervariasi dalam panjang, struktur, dan cara penguraian. Variasi

dalam sebuah pragraf dapat didasarkan pada latar belakang pembaca, sifat media tempat
karangan diterbitkan, serta sifat dan letak kalimat utama. Variasi struktur paragraf diperlukan
untuk menarik minat pembaca.

Menurut Finoza dalam Munirah (2019,hlm.27) paragraf dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu (1) menurut posisi kalimat topik (utama), (2) menurut fungsinya dalam karangan,
(3) menurut sifat sisinya. Berdasarkan posisi kalimat utamanya paragraf dapat dibedakan atas

10

tiga macam, yaitu (a) paragraf deduktif, (b) paragraf induktif, dan (c) paragraf deduktif-
induktif.
1. Paragraf deduktif

Paragraf deduktif adalah paragraf yang menyajikan pokok permasalahan atau kalimat
topik terlebih dahulu, lalu diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas. Atau secara sederhana
paragraf deduktif yaitu paragraf yang ide pokoknya berada di awal paragraf.
Contoh: Kebudayaan dibagi atas dua macam yaitu kebudayaan fisik dan kebudayaan
nonfisik. Kebudayaan fisik tampak jelas dengan merujuk pada benda-benda. Kebudayaan
nonfisik ada yang berupa pemikiran dan berupa tingkah laku. Contoh lain kebudayaan fisik
adalah patung, lukisan, rumah, mobil, dan jembatan. Contoh kebudayaan yang berupa
pemikiran adalah filsafat, pengetahuan, ideologi, etika, dan estetika. Hasil kebudayaan yang
berupa tingkah laku adalah adat istiadat, tidur, bertani, bahkan berkelahi. (Dalman dalam
Munirah, 2019,hlm.28)
Paragraf di atas termasuk paragraf deduktif karena ide pokoknya berada di awal paragraf. Ide
pokok paragraf tersebut yaitu “Kebudayaan dibagi atas dua macam yaitu kebudayaan fisik
dan kebudayaan nonfisik.” Selain itu, paragraf tersebut juga sudah memenuhi unsur
koherensi dibuktikan dengan adanya penggunaan repetisi kata “kebudayaan” di beberapa
kalimat dalam mengembangkan ide pokok. Maka, paragraf tersebut dikatakan lengkap karena
terdapat ide pokok dan kalimat penjelas yang dikembangkan secara padu dan koheren.
2. Paragraf Induktif

Paragraf induktif adalah paragraf yang kalimat utamanya diletakkan di akhir paragraf.
Paragraf jenis ini menyajikan penjelasan terlebih dahulu, barulah diakhiri dengan pokok
permasalahan paragraf. Paragraf induktif dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu generalisasi,
analogi, dan kausalitas.
Contoh: Yang dimaksud dengan kebudayaan fisik tampak jelas karena merujuk pada benda-
benda. Kebudayaan nonfisik ada yang berupa pemikiran dan berupa tingkah laku. Contoh
kebudayaan yang berupa pemikiran adalah filsafat, pengetahuan, ideologi, etika, dan estetika.
Hasil kebudayaan yang berupa tingkah laku adalah adat istiadat, tidur, bertani, bahkan
berkelahi. Jadi, kebudayaan dapat dibagi atas dua macam yaitu kebudayaan fisik dan
kebudayaan nonfisik.
3. Paragraf Deduktif-Induktif (Campuran)

11

Bila kalimat utama ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf, maka paragraf
tersebut disebut paragraf campuran (deduktif-induktif). Kalimat pada akhir paragraf pada
umumnya menegaskan kembali gagasan utama pada awal paragraf.
Contoh: Pemerintah menyadari bahwa rakyat Indonesia memerlukan rumah-murah
sehat dan kuat. Departemen sudah lama menyelidiki bahan rumah yang murah tetapi kuat.
Agaknya bukan perlit yang diperoleh dari batu-batuan gunung berapi sangat menarik
perhatian para ahli. Bahan ini tahan api dan tahan air. Lagipula bahan perlit dapat dicetak
menurut keinginan seseorang. Usaha ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha
membangun rumah murah, sehat, kuat untuk memenuhi keperluan rakyat. (Dalman
dalam Munirah, 2019,hlm 30-31).
Ide pokok paragraf tersebut yaitu “Pemerintah menyadari bahwa rakyat Indonesia
memerlukan rumah-murah sehat dan kuat.” Ide pokok tersebut dikembangkan dengan empat
kalimat penjelas dan dipertegas kembali pada akhir paragraf dengan kalimat “Usaha ini
menunjukkan bahwa pemerintah berusaha membangun rumah murah, sehat, kuat untuk
memenuhi keperluan rakyat.”

C. Metode Pengembangan Alinea
1. Metode Pengembangan Alinea Narasi

Paragraf narasi bertujuan mengisahkan atau menceritakan. Paragraf narasi kadang-
kadang mirip dengan paragraf deskripsi. Bedanya, narasi mementingkan urutan dan biasanya
ada tokoh yang diceritakan. Paragraf narasi tidak hanya terdapat dalam karya fiksi, tetapi
sering pula terdapat dalam tulisan nonfiksi.
Metode pengembangan alinea narasi sesuai dengan dasar pembentukan alineanya, antara
lain:

a. Pola Klimaks dan Anti-klimaks

Perkembangan gagasan dalam sebuah alinea dapat disusun dengan mempergunakan
dasar klimaks, yaitu suatu gagasan utama mula-mula diperinci dengan sebuah gagasan
bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya, berangsur-angsur dengan gagasan-
gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi kedudukannya atau kepentingannya.
2. Metode Pengembangan Alinea Deskripsi

12

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang bertujuan memberikan kesan/ impresi kepada
pembaca terhadap objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin
disampaikan penulis.
Metode pengembangan alinea deskripsi sesuai dengan dasar pembentukan alineanya, antara
lain:
a. Pola Alamiah

Susunan atau pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai
dengan keadaan yang nyata, didasarkan juga atas ruang dan waktu (Dalman, 2018: 78).
b. Pola Sudut Pandangan

Yang dimaksud dengan sudut pandangan adalah tempat dari mana seorang pengarang
melihat sesuatu. Sudut pandangan tidak diartikan sebagai penglihatan atas sesuatu barang
dari atas atau dari bawah, tetapi bagaimana kita melihat barang itu dengan mengambil suatu
posisi tertentu.

3. Metode Pengembangan Alinea Eksposisi
Paragraf eksposisi bertujuan memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi,

mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca
menerima atau mengikutinya. Paragraf eksposisi biasa digunakan untuk menyajikan
pengetahuan/ilmu, defenisi pengertian, langkah-langkah suatu kegiatan, metode, cara dan
proses terjadinya sesuatu.
Metode pengembangan alinea eksposisi sesuai dengan dasar pembentukan alineanya, antara
lain:
a. Pola Proses

Proses merupakan suatu urutan dari tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan untuk
menciptakan atau menghasilkan sesuatu, atau urutan dari sesuatu kejadian atau peristiwa
(Keraf, 1994: 91).
Contoh:

“Sebagai contoh kita ambil 'pertemuan angkasa’ Gemini-7 tanggal 15 Desember 1965.
Gemini-7 sudah berhari-hari berada dalam peredarannya yang berbentuk Iingkaran dengan
tinggi 294 km. Sebetulnya telah diperhitungkan kapan bidang lintasan Gemini-7 akan sama

13

dengan bidang peluncuran Gemini-6. Ini bisa terjadi tiap hari karena rotasi bumi. Kemudiah
ditunggu sampai Gemini-7 berada pada tempat yang tepat, baru Gemini-6 diluncurkan.
Hasil peluncuran Gemini-6: Lintasannya berapogeum 261 km. Dan berperigeum 161 km.
Jadi berada di bawah dan ke belakang Gemini-7. Tetapi Gemini-6 Iebih rendah, jadi lebih
cepat jalannya. Demikian Gemini-7 disusul sedikit demi sedikit. Sekarang soalnya tinggal
meninggikan lintasannya supaya bisa bertemu. Setelah satu kali putaran, tepat pada
perigeumnya Gemini-6 menghidupkan roketnya untuk menghapuskan pengaruh hambatan
udara sehingga apogeumnya tetap 261 km. Selelah kembali mencapai apogeumnya Gemini-6
dipercepat sehingga perigeumnya 214 km. Sementara diadakan koreksi mengenai arahnya
supaya bidang yang dilintasi keduanya lebih tepat sama. Waktu sampai perigeumnya yang
baru, dipercepat lagi sehingga apogeumnya makin tinggi lagi: 274 km. Jarak dari Gemini-7
tinggal 309 km. Akhirnya percepatan yang paling penting dilakukan sehingga lintasannya
menjadi lingkaran. Jarak dengan Gemini-7 hanya 25 km. Beberapa km im diselesaikan pada
fase terakhir selama 30 menit. Dengan cara berli-kali mengadakan pembentukan arah,
pengukuran jarak dan percepatan. Akhirnya bertemulah dengan Gemini-7". (Basis dalam
Keraf, 1994: 93).
b. Pola Sebab-Akibat

Perkembangan sebuah alinea dapat pula dinyatakan dengan mempergunakan sebab-akibat
sebagai dasar. Dalam hal ini sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat
sebagai perincian pengembangannya. Tetapi dapat juga terbalik: akibat dijadikan gagasan
utama, sedangakan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu dikemukakan sejumlah
sebab sebagai perinciannya (Keraf, 1994: 93).
Contoh:

Nilai ujian akhir Cecep pada semester pertama ini rata-rata baik. Dia pantas mendapat
nilai tersebut karena ia telah bekerja keras dan tekun. Cecep rajin mengikuti setiap
pelajaran yang diberikan oleh guru bidang studi. Ia tidak lupa membaca dua sampai tiga
buku tambahan untuk melengkapi setiap mata pelajaran. Setiap diskusi yang diadakan oleh
teman sekelasnya, ia selalu tampil sebagai pembicara. Rata-rata 4 jam sehari, ia belajar
sendiri di rumah. Bahkan, ia tidak segan-segan bertanya kepada guru bila ada hal-hal yang
belum dimengerti atau belum jelas baginya (Djago Tarigan, 2008: 29).

14

Kalimat topik pada contoh di atas adalah nilai ujian akhir Cecep pada semester pertama
ini rata-rata baik. Kalimat topik tersebut dijelaskan oleh ka|imat pengembang yang berisi
sebab-akibat. Kalimat pengembang tersebut, yaitu kalimat dia pantas mendapat nilai tersebut
karena ia telah bekerja keras dan tekun.
c. Pola Ilustrasi

Sebuah gagasan yang terlalu umum sifatnya, atau generalisasi-generalisasi memerlukan
ilustrasi-ilustrasi yang konkret sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Sering juga
dipergunakan contoh-contoh yang konkret, yang mengambil tempat dalam sebuah alinea
(Keraf, 1994: 90).
Contoh:

Tes biasanya menilai keterampilan seseorang. Contohnya, bila kita ingin menilai
keterampilan seseorang dalam mengemudikan mobil, orang tersebut disuruh menjalankan
mobil: mundur, maju, belok, kencang, lambat, dan seterusnya. Contoh Iain, bila kita ingin
menilai kecakapan seseorang dalam hal memotong rambut, orang tersebut harus disuruh
memotong rambut seseorang atau model. Kemudian, diamati bagaimana caranya memegang
gunting, sisir, caranya memotong rambut, menyisirnya, dan Iain-Iain. Contoh lainnya, bila
ingin mengukur kemampuan menembak bola dari seorang pemain, orang tersebut diberikan
kesempatan untuk menembakkan bola ke gawang dari berbagai posisi.

Kalimat topik pada paragraf tersebut adalah kalimat tes biasanya menilai keterampilan
seseorang. Kalimat topik tersebut kemudian dijelaskan dengan kalimat-kalimat pengembang
yang berupa contoh-contoh.

4. Metode Pengembangan Alinea Argumentasi

Paragraf argumentasi bertujuan menyampaikan suatu pendapat, konsepsi, atau opini
tertulis kepada pembaca.
Metode pengembangan alinea argumentasi sesuai dengan dasar pembentukan alineanya,
antara lain:
a. Pola Sudut Pandangan

Yang dimaksud dengan sudut pandangan adalah tempat dari mana seorang pengarang
melihat sesuatu. Sudut pandangan tidak diartikan sebagai penglihatan atas sesuatu barang

15

dari atas atau dari bawah, tetapi bagaimana kita melihat barang itu dengan mengambil suatu
posisi tertentu.
5. Metode Pengembangan Alinea Persuasi

Paragraf persuasi merupakan kelanjutan atau pengembangan argumentasi. Persuasi mula-
mula memaparkan gagasan dengan alasan, bukti, contoh, untuk meyakinkan pembaca.
Kemudian diikuti dengan ajakan, bujukan, rayuan, imbauan, atau saran kepada pembaca.
Metode pengembangan alinea persuasi sesuai dengan dasar pembentukan alineanya, antara
lain:
a. Pola Definisi Luas

Yang dimaksud dengan definisi dalam pembentukan sebuah alinea adalah usaha
pengarang untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal (Keraf,
1994: 98).

Di sini kita tidak menghadapi hanya satu kalimat (Lihat definisi dalam bagian tentang
kalimat), tetapi suatu rangkaian kalimat yang membentuk sebuah alinea. Malahan kadang-
kadang untuk memberi pengertian yang bulat tentang pengertian itu, satu alinea dianggap
belum cukup, sehingga diperlukan rangkaian dari pada alinea-alinea, malahan dapat pula
dalam bentuk sebuah buku. Namun prinsip-prinsip definisi tetap sama. Di sini kita lebih
sering menghadapi sebuah definisi luas daripada definisi formal biasa, atau definisi dengan
menerangkan etimologi kata atau istilah tersebut.

Perhatikanlah bagaimana Moh. Said mencoba memberi batasan tentang Demokrasi
Pancasila. la memerlukan suatu rangkaian alinea sebelumnya untuk kemudian dapat sampai
kepada pengertian demokrasi Pancasila itu.
D. Metode Puisi

Menulis paragraf dalam sebuah narasi menggunakan teknik parafrasa puisi bukanlah
suatu hal yang mudah. Oleh karena itu, keterampilan ini memerlukan banyak latihan.
Menurut KBBI edisi V (luring) Parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks (karangan)
dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna
yang tersembunyi. Ayulinda (2009) juga mengemukakan hal yang senada, parafrasa adalah
istilah linguistik yang berarti pengungkapan kembali suatu konsep dengan cara lain dalam
bahasa yang sama tanpa mengubah maknanya.

16

Selanjutnya, menurut Waluyo (2002,hlm.25) puisi adalah suatu bentuk karya sastra yang
mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan
mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan
struktur batinnya. Sedangkan menurut KBBI edisi V (luring) puisi ialah ragam sastra yang
bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Berdasarkan pengertian parafrasa dan puisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
parafrasa puisi merupakan cara pengungkapan kembali suatu teks puisi dalam bentuk lain
tanpa mengubah makna yang terkandung di dalamnya.

Menurut Tarigan (2008,hlm.52) penyusunan paragraf melalui cara mengembangkan puisi
menuntut beberapa syarat kepada peserta didik, diantaranya sebagai berikut.
1. Peserta didik sudah mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa;
2. Peserta didik sudah mempunyai pengetahuan umum yang cukup luas;
3. Peserta didik sudah mengetahui elemen, struktur, dan variasi paragraf;
4. Peserta didik sudah mempunyai keterampilan merumuskan kalimat topik dan menyusun

kalimat-kalimat pengembang.
Prosedur pelaksanaan pengajaran menulis melalui pengembangan puisi dapat
digambarkan sebagai berikut.
a. Mula-mula guru memilih atau mengubah puisi yang tingkat kesukaran
menginterprestasikannya sesuai dengan kemampuan peserta didik.
b. Puisi tersebut diterangkan oleh guru secara umum apa kira-kira maknanya.
c. Kemudian, peserta didik diinstruksikan oleh guru untuk menyimpulkan isi puisi ke dalam
beberapa kalimat topik.
d. Langkah berikutnya melukiskan kalimat topik ke dalam beberapa kalimat pengembang
sehingga jelas artinya. Akumulasi dari hasil kegiatan di atas menghasilkan beberapa
paragraf.

Contoh mengembangkan paragraf dengan metode puisi
Karangan Bunga
Karya Taufik Ismail
Tiga anak kecil
Dengan langkah malu-malu

17

Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam
Pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Pada Kakak
Yang ditembak mati
Siang tadi

Contoh cara penulisan parafrasa puisi “Karangan Bunga” adalah sebagai berikut.
“Ada tiga anak kecil berjalan dengan langkah malu-malu. Mereka datang ke Salemba
pada sore itu. “Ini dari kami bertiga,” kata mereka. Sebuah pita hitam yang disematkan

pada karangan bunga sebab mereka merasa ikut berduka pada kakak mereka yang
ditembak mati pada siang tadi.”

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Metode pengembangan alinea adalah bagaimana alinea itu dikembangkan berdasarkan

metode-metode contohnya metode narasi, deskripsi, eksposisi, dan lain-lain.
2. Paragraf merupakan suatu kesatuan bentuk pemakaian bahasa yang mengungkapkan

pikiran atau topik dan berada di bawah tataran wacana. Paragraf memiliki potensi terdiri
atas beberapa kalimat. Paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat tidak mengalami
pengembangan.
3. Sumber dan penyebab kesulitan adalah: pendapat popular, bahasa ibu, lingkungan
kebiasaan, interlingual, dan interferensi
B. Saran
Penulis menyarankan agar pembaca tidak mudah puas hanya dengan membaca makalah
ini, karena itu penulis berharap agar pembaca mencari informasi yang lebih lengkap dari
sumber lain demi mendapatkan wawasan yang lebih luas dalam mengetahui, memahami, dan
menguasai teknik analisis terhadap pola pikir dan pengembangan ide dalam karangan.
Penulis berharap agar pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun untuk
perbaikan makalah di masa yang akan datang.

18

DAFTAR PUSTAKA

Tarigan,Djago. 1981.Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan
Pengembangannya.Bandung:Angkasa.

Munirah. (2019). Pengembangan Keterampilan Menulis Paragraf. Sleman: Deepublish.
Waluyo, H.J. (2002). Apresiasi Puisi: Panduan untuk Pelajar dan Mahapeserta didik. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.
Sunarsih. (2011). Peningkatan Keterampilan Menulis Parafrase Melalui Model Pembelajaran

Kooperatif di Kelas VI SDN Bulu 01 Semarang. Skripsi. FIP, Pendidikan Guru Sekolah
Dasar, Universitas Negeri Semarang, Semarang.

19


Click to View FlipBook Version