JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL MODUL 2.2 Oleh : Made Mardika, S.Ag.,M.Pd.H CGP 9 SD Saraswati 6 Denpasar Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi
Ibu Ni Putu Sugilastini, S.Pd. selaku Fasilitator yang telah banyak memberikan motivasi dan bimbingan selama mempelajari modul ini. Ibu Ni Putu Swandewi, S.Pd. selaku Pengajar Praktik yang telah banyak memberikan motivasi dan bimbingan selama mempelajari modul ini. Ibu I Gusti Ayu Ari Nuratih, S.Pd.,M.Pd. yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti program pendidikan Guru Penggerak serta selalu memotivasi saya untuk selama mempelajari modul ini. Om Swastyastu Salam dan Bahagia Atas asung kerta waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, penulis dapat menyelesaikan Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional dengan model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing). Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 ini merupakan salah satu syarat bagi Calon Guru Penggerak (CGP) yang wajib dibuat setalah menyelesaikan setiap modul pembelajaran. Jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis. Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran. Dalam menyelesaikan Modul 2.2 ini penulis banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Yang Terhormat : 1. 2. 3. Penulis menyadari dalam penulisan Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.2 tentang Pembelajaran Soislal dan Emsional ini masih belum sempurna, untuk itu penulis mengharapakan kritik dan saran dari para pembaca. Sebagai akhir kata penulis tetap berharap, semoga Jurnal Refleksi Dwimingguan ini bermanfaat bagi para pembaca. Om Santih, Santih, Santih Om. Denpasar, 18 Nopember 2023 Penulis KATA PENGANTAR
Pendahuluan Meningkatkan refleksi diri: Jurnal refleksi dapat membantu guru untuk menjadi lebih sadar akan praktik mereka dan mengidentifikasi area yang dapat ditingkatkan. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis: Jurnal refleksi dapat membantu guru untuk mengevaluasi topik secara kritis dan mengembangkan argumen yang kuat. Meningkatkan komunikasi: Jurnal refleksi dapat membantu guru untuk meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dengan menulis secara jelas dan ringkas. Meningkatkan motivasi: Jurnal refleksi dapat membantu guru untuk tetap termotivasi untuk belajar dan berkembang. Meningkatkan kepuasan kerja: Jurnal refleksi dapat membantu guru untuk menjadi lebih puas dengan pekerjaan mereka dengan mengidentifikasi area yang dapat ditingkatkan dan mengembangkan rencana untuk meningkatkan praktik mereka. Jurnal refleksi merupakan alat yang penting bagi guru untuk mengembangkan keprofesian mereka. Dengan jurnal refleksi, guru dapat menghubungkan teori dan praktik, mengevaluasi topik secara kritis, dan mengidentifikasi langkah-langkah untuk meningkatkan praktik mereka. Dengan menulis jurnal refleksi secara rutin, guru dapat merefleksikan pengalaman mereka, menambah kesadaran akan praktik mereka, mengidentifikasi area yang dapat ditingkatkan, dan mengembangkan rencana untuk meningkatkan praktik mereka. Berikut adalah beberapa manfaat menulis jurnal refleksi bagi guru: Salah satu jenis jurnal refleksi yang berguna untuk guru adalah Model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Reconstructing). Model ini dapat membantu guru merefleksikan pengalaman mereka secara sistematis dan terstruktur. Contohnya, dalam jurnal refleksi mingguan, guru dapat menggunakan Model 5R untuk melaporkan pengalaman mereka, merespons dan merelasiannya dengan topik yang sedang dipelajari, membangun argumen berdasarkan pemikiran kritis, dan merekonstruksi pengalaman mereka dalam bentuk rencana tindakan untuk meningkatkan praktik pembelajaran yang telah dilakukan.
A. 2.2.a.2. Pendahuluan - Modul 2.2 Dimulai pada tanggal 3 November 2023, modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional tersedia untuk dipelajari melalui Sistem Manajemen Pembelajaran (LMS). Tahap awal modul ini dimulai dengan kegiatan Pendahuluan, yang berisi tentang tahapan yang akan dilalui saat mempelajari modul 2.2 ini. Tahapan tersebut melalui alur MERDEKA, yaitu dimulai dari diri sendiri, Elaborasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Reporting 3 November 2023 B. 2.2.a.3. Mulai dari Diri - Modul 2.2 (3 November 2023) Dalam fase refleksi ini, saya mendalami pengalaman pribadi saya menghadapi krisis sebagai seorang pendidik. Saya mempertimbangkan dampaknya terhadap pendekatan pengajaran dan bagaimana krisis tersebut mungkin telah membentuk pandangan serta sikap saya terhadap pendidikan. Analisis saya melibatkan pemahaman yang mendalam tentang evolusi peran saya sebagai pendidik, dari segi empati terhadap siswa hingga penyesuaian dalam gaya mengajar, serta kesadaran baru terhadap kesejahteraan mental di lingkungan sekolah. Sementara itu, refleksi saya juga melibatkan pemahaman mendalam terhadap pengalaman seorang murid dalam mengatasi krisis. Fokus pada pemahaman diri, ketangguhan, dan kemampuan membangun hubungan positif menjadi aspek penting. Saya mengeksplorasi bagaimana pemahaman diri yang mendalam dapat menjadi kunci untuk mengatasi masa-masa sulit, dan sejauh mana kemampuan membangun hubungan positif dapat berdampak positif terhadap suasana kelas serta lingkungan pembelajaran yang inklusif di sekolah. Dengan merinci dua perspektif ini, saya berharap dapat memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana pengalaman pribadi dan kemampuan interpersonal dapat membentuk pendekatan pendidikan dan memberikan pengaruh positif terhadap pembelajaran di sekolah.
C. 2.2.a.4. Eksplorasi Konsep - Modul 2.2 Sebagai Calon Guru Penggerak (CGP), saya memasuki sesi pembelajaran dengan penuh semangat dan antusiasme untuk mendalami konsep Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE). Sesi dimulai dengan pemahaman mendalam terhadap urgensi SEL dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, di mana seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis secara optimal. Dalam perjalanan pembelajaran, saya memahami konsep PSE melalui kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning). CASEL memberikan landasan yang kokoh dengan fokus pada lima Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Saat membahas konsep kesadaran penuh (mindfulness), saya merasakan betapa pentingnya pemahaman ini sebagai dasar pengembangan KSE. Kesadaran penuh tidak hanya menciptakan keterlibatan yang lebih dalam dengan emosi dan situasi, tetapi juga membantu membangun pondasi kuat untuk mengembangkan diri secara holistik. Dalam mendemonstrasikan pemahaman tersebut, saya membayangkan diri saya sebagai CGP yang dapat mengajarkan konsep PSE secara eksplisit di kelas. Saya dapat mengintegrasikan prinsip-prinsip PSE dalam praktik mengajar, menjadikan pengajaran lebih dari sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pengembangan keterampilan sosial dan emosional. Selanjutnya, dalam narasi pembelajaran, saya membahas implementasi SEL di kelas dan sekolah melalui empat indikator kunci. Saya menyampaikan bagaimana pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan pembelajaran sosial emosional bagi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah dapat memberikan dampak positif yang signifikan. Dengan penuh antusiasme, saya merasa semakin siap untuk menjadi Guru Penggerak yang tidak hanya memahami konsep PSE tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara efektif dalam lingkungan pendidikan. Sesi pembelajaran ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam tetapi juga memotivasi saya untuk terus mengembangkan diri sebagai pemimpin pendidikan yang peduli terhadap perkembangan holistik setiap siswa. Lanjutan Reporting 4 -6 November 2023
D. 2.2.a.4.1. Eksplorasi Konsep Modul 2.2 – Forum Diskusi Saat memasuki topik ini, tujuan pembelajaran khususnya adalah menunjukkan pemahaman tentang penerapan lima kompetensi sosialemosional, yaitu kesadaran diri, manajemen emosi, kesadaran sosial, keterampilan berhubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, yang semuanya berbasis pada kesadaran penuh. Dalam pengalaman yang saya alami terkait topik ini, terdapat beberapa pertanyaan yang diharapkan dapat dijawab setelah menyelesaikan kegiatan ini. Pertama, apa masalah-masalah yang dihadapi oleh Bapak Eling? Kedua, berdasarkan penjelasan lima kompetensi sosial-emosional yang telah dipelajari sebelumnya, apa saran yang dapat diberikan untuk membantu Bapak Eling? Pertanyaan pertama mengarah pada identifikasi masalah yang dihadapi oleh Bapak Eling, sedangkan pertanyaan kedua mengundang untuk memberikan solusi atau saran berdasarkan pemahaman terhadap lima kompetensi sosial-emosional. Dalam diskusi mendetail nanti, diharapkan agar para peserta mampu menggali lebih dalam tentang masalah yang dihadapi oleh Bapak Eling dan memberikan saran yang konstruktif berdasarkan penerapan lima kompetensi sosial-emosional tersebut. Selanjutnya, dalam konteks pembelajaran ini, terdapat lima kasus yang disajikan sebagai bagian dari topik tersebut. Sebagai Calon Guru Pengegrak, saya dan sesama CGP lainnya telah aktif menanggapi masingmasing kasus tersebut. Proses saling berbagi pandangan dan memberikan masukan pada setiap kasus memberikan pengalaman yang berharga dalam mengaplikasikan pemahaman terhadap lima kompetensi sosialemosional. Interaksi antar sesama Calon Guru Pengegrak juga menjadi kesempatan untuk mengasah keterampilan berhubungan dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, kolaborasi ini tidak hanya menjadi wadah untuk berbagi pemahaman, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam mengembangkan kompetensi-kompetensi tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari sebagai pendidik. Lanjutan Reporting 4 November 2023
E. 2.2.a.5. Ruang Kolaborasi - Modul 2.2 Google Meet™ for Moodle Sebagai Calon Guru Penggerak yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, saya dengan antusias menghadiri sesi kolaborasi bersama tim CGP (Calon Guru Penggerak) lainnya pada Hari Rabu, 8 November 2023, yang difasilitasi oleh Ibu Fasilitator dan Para Pengajar Praktik. Sesi ini merupakan kesempatan bagi kami untuk berbagi dan menguraikan implementasi pembelajaran 5 Kompetensi Sosial-Emosional (KSE) yang telah saya terapkan di kelas dan sekolah, khususnya untuk kelompok jenjang pendidikan yang saya tangani. Kami berkolaborasi untuk menguraikan implementasi/penerapan pembelajaran 5 kompetensi sosial-emosional untuk murid sesuai dengan kelompok jenjang pendidikan masing-masing yang sudah pernah diterapkan, meliputi (Kelompok A = Paud – SD Kelas 2; B = SD Kelas 3 – 6; C = SMP Kelas 7 - 9, D = SMA Kelas 10 - 12). Saya mendapatkan kelompok SD dalam hal ini saya Bersama empat anggota kelompok telah fokus pada pengembangan kemampuan interpersonal dan selfawareness. Saya Bersama anggota kelompok mendemonstrasikan penggunaan kegiatan kreatif dan permainan kelompok untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan kolaborasi di antara murid. Selain itu, saya juga Bersama anggota kelompok aktif melibatkan diri dalam menyelenggarakan kegiatan refleksi diri untuk membantu anak-anak memahami dan mengelola emosi mereka dengan lebih baik. Melalui kolaborasi ini, saya bersama tim CGP berbagi pengalaman dan ideide inovatif untuk meningkatkan implementasi pembelajaran 5 KSE di sekolah kami. Kami bertukar pendapat, memberikan umpan balik, dan merencanakan kegiatan lanjutan untuk memperkuat upaya kami dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung perkembangan sosial dan emosional murid kami. Reporting 8 November 2023 Pkl. 13.00 - 15.15 Wita Lanjutan
F. 2.2.a.5. Ruang Kolaborasi Presentasi - Modul 2.2 Google Meet Pada sesi kolaborasi kedua, kami sebagai kelompok telah berhasil melakukan analisis mendalam dan menyusun ide implementasi pembelajaran 5 Kompetensi Sosial-Emosional (KSE) serta dua ide penguatan KSE untuk rekap Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di sekolah kami. Kami merasa bahwa inisiatif ini sangat relevan dengan karakteristik jenjang pendidikan yang kami ampu. Pada sesi ini kami mempresenatsikan Tabel 3.1 mencerminkan hasil dari analisis dan ide implementasi pembelajaran 5 KSE, yang secara rinci menguraikan bagaimana setiap kompetensi sosial-emosional dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum dan praktik pembelajaran sehari-hari di sekolah kami. Hal ini mencakup strategi konkret, metode pengajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap keterampilan sosial dan emosional. Selanjutnya melalui Tabel 3.2, kami mempresentasikan dua ide penguatan KSE yang kami anggap krusial untuk mendukung implementasi pembelajaran 5 KSE. Penguatan ini dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik jenjang pendidikan kami, dan kami yakin akan memberikan dampak positif dalam mengembangkan kesejahteraan siswa. Saat kami mempresentasikan tabel-tabel ini dalam ruang virtual kelompok besar, kami mendapat kesempatan untuk saling mencermati hasil kelompok lain. Interaksi ini memberi kami wawasan tambahan dan memperkaya perspektif kami terkait implementasi KSE di berbagai konteks pendidikan. Sebagai puncak kegiatan, fasilitator memberikan tugas refleksi kepada kami, yang akan membantu kami lebih memahami peran kami dalam pengembangan dan implementasi strategi pembelajaran sosial-emosional di sekolah. Kami yakin bahwa hasil kolaborasi ini akan menjadi landasan kuat untuk perubahan positif dalam pengalaman belajar siswa di sekolah kami. Reporting 09 November 2023 Pkl. 13.00 - 15.15 Wita Lanjutan
G. 2.2.a.5.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 2.2 Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, kami, sebagai Calon Guru Penggerak, telah melakukan presentasi bersama. Setelah mendapatkan umpan balik dari Ibu Fasilitator dan para CGP lainnya sayapun mengunggah hasil presentasi ini dalam bentuk link video youtue. Tugas ini mencerminkan dedikasi dan upaya kami sebagai tim, dan saya berharap dapat memperoleh pandangan konstruktif dari siapa pun yang ingin memberikan masukan. Tautan untuk mengakses tugas tersebut dapat ditemukan pada link berikut : https://youtu.be/ILEuDONr0ec?si=ThZNDEwcISYNKVp5 Saya mengundang Ibu/Bapak para pemaca Jurnal ini untuk melihat presentasi kami dan memberikan masukan yang berharga. Semua komentar dan saran akan sangat dihargai untuk membantu kami terus berkembang dalam peran kami sebagai Calon Guru Penggerak. Terima kasih atas perhatian dan dukungannya Reporting 8 November 2023 Pkl. 13.00 - 16.41 Wita Lanjutan H. 2.2.a.6. Demonstrasi Konstektual - Modul 2.2 Astungkara dengan penuh kesadaran dan dedikasi saya telah melaksanakan tahapan implementasi pembelajaran sosial dan emosional berbasis kesadaran penuh sesuai dengan tugas Tugas 4.1 yang diberikan. Saya telah memilih dua Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), yaitu Empati dan Kemampuan Mengelola Stres, sebagai fokus utama dalam rencana pembelajaran. Saya telah menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dialmnya memuat tentang Kompetensi Sosial Emosional. RPP tersebut mencakup tujuan pembelajaran yang jelas, materi pembelajaran yang relevan, metode evaluasi yang sesuai, dan penyesuaian konteks kelas agar sesuai dengan kebutuhan dan minat murid. Dalam pelaksanaan pembelajaran, saya mengadakan sesi-sesi pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Sesi pertama fokus pada pengenalan diri sendiri melalui refleksi diri dan pembahasan kekuatan dan kelemahan pribadi. Sesi kedua dirancang untuk meningkatkan empati melalui permainan peran, sedangkan sesi ketiga berfokus pada strategi mengelola stres dengan teknik relaksasi dan diskusi kelompok. Tugas RPP yang telah saya susun saya unggah melalui Learning Management System (LMS) pada tanggal 10 November 2023 pukul 18.41 WITA.
I. Pendampingan Individu 3 Pada hari Sabtu, 11 November 2023, saya merasakan keberuntungan besar ketika mendapatkan sesi pendampingan indi vidu ke-3 dari Pengajar Praktik (PP) Ibu Ni Putu Swandewi, S.Pd. Dalam sesi ini, Ibu Swandewi memberikan bimbingan yang sangat berharga, membimbing saya melalui analisis dan refleksi hasil umpan balik dari Pendampingan Individu ke-3. Beliau secara teliti membahas setiap aspek pembelajaran yang perlu ditingkatkan, memberikan solusi konstruktif, dan memberikan arahan yang sangat berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas saya. Selain itu, dalam sesi tersebut, kami juga merencanakan penerapan pembelajaran sosial emosional sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Ibu Swandewi memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana menciptakan lingkungan kelas yang mendukung perkembangan emosional dan sosial siswa. Kami juga membahas hasil lokakarya 2 terkait keterlaksanaan BAGJA di sekolah Calon Guru Penggerak (CGP), serta bersamasama mempersiapkan tugas yang akan saya laksanakan pada Pendampingan Individu ke-4, yang berkaitan dengan Pembuatan RPP Pembelajaran Diferensiasi. Sesi pendampingan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan saya sebagai calon guru penggerak, tetapi juga memberikan motivasi dan dorongan positif untuk terus berinovasi dalam memberikan pendidikan yang berkualitas. Berikut saya sajikan foto dokumentasi saat pendampingan Individu ke-3. Sabtu, 11 November 2023 Pkl. 08.00 s.d 11.00 Wita Lanjutan Reporting
J. 2.2.a.7.1. 2.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.2 Pada sesi ini sebagai CGP saya memahami betapa pentingnya lima kompetensi sosial dan emosional dalam konteks pembelajaran. Melalui pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan aspek-aspek ini, saya berhasil menarik kesimpulan yang signifikan mengenai perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan sebagai pemimpin pembelajaran yang mengutamakan kebutuhan murid. Pembelajaran ini mengajarkan saya betapa esensialnya keterlibatan emosional dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, di mana aspek sosial dan emosional diberdayakan sejalan dengan pemberian informasi. Sejalan dengan itu, pemahaman keterampilan komunikasi yang ditingkatkan telah membantu saya membangun hubungan yang lebih kuat dengan peserta didik. Saya kini lebih siap untuk merespons kebutuhan emosional dan sosial mereka, menciptakan pengalaman pembelajaran yang tidak hanya informatif tetapi juga mendukung perkembangan holistik. Dengan menghubungkan materi pembelajaran sosial dan emosional dengan modul-modul sebelumnya, saya melihat integrasi yang erat antara konsep-konsep ini dengan visi lebih besar untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang memberdayakan dan inklusif. Saya telah mengunggah tugas ini melalui LMS dengan link YouTube, sebagai berikut : https://youtu.be/F2RZgpRXko0?si=MH5nTGcDw9U6aTnB Astungkara denagn menyimak video ini Bapak/Ibu Guru hebat memperoleh manfaat langsung dari pembelajaran ini dan mendukung perubahan positif dalam pendekatan pembelajaran saya sebagai Calon Guru Penggerak di lingkungan pribadi maupun profesional. Reporting 13 November 2023 Pkl. 09.04 Wita Lanjutan
K. 2.2.a.7.1. Elaborasi Pemahaman - Modul 2.2 Google Meet Pada sebuah sesi pembelajaran virtual yang diselenggarakan untuk memahami konsep dan implementasi Pembelajaran Sosial Emosional berbasis kesadaran penuh, saya berpartisipasi bersama dengan instruktur, Ibu Ratna Ritanti Iswari (Deta), dan CGP lainnya. Instruktur memberikan penguatan terhadap konsep Pembelajaran Sosial Emosional, Kompetensi Sosial Emosional, Teknik STOP, dan Mindfulness. Sesi dimulai dengan penyampaian konsep dasar Pembelajaran Sosial Emosional dan Kompetensi Sosial Emosional, dengan penekanan pada pentingnya pemahaman dan manajemen emosi serta kemampuan berinteraksi sosial yang positif. Teknik kunci seperti Teknik STOP dan praktik Mindfulness kemudian diuraikan secara rinci untuk diterapkan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pertemuan berlanjut dengan sesi tanya-jawab dan diskusi, di mana peserta dapat mengajukan pertanyaan terkait materi yang telah disampaikan. Diskusi ini melibatkan interaksi antara instruktur dan peserta, membuka ruang bagi pemahaman yang lebih mendalam. Pada akhir sesi, Ibu Deta mengajak peserta untuk melakukan refleksi bersama terkait dengan hal-hal penting yang telah dipelajari selama pertemuan. Tujuan refleksi ini adalah untuk membantu peserta menginternalisasi konsep-konsep yang telah diajarkan dan meresapi maknanya dalam konteks pribadi masing-masing. Dalam rangkaian sesi ini, kesan ilmiah diperkuat dengan penekanan pada penerapan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari sesi ini diharapkan memberikan dampak positif pada pemahaman dan keterampilan sosial emosional peserta, yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks, baik di lingkungan pribadi maupun profesional. Reporting 14 November 2023 Pkl. 15.30 - 17.00 Wita Lanjutan
L. Loka Karya 3 Pada Sabtu, 18 November 2023, SMP Negeri 4 Denpasar menjadi tuan rumah Lokakarya Ketiga, yang menjadi momentum berharga bagi saya sebagai Calon Guru Penggerak (CGP). Lokakarya ini memberikan kesempatan bagi saya untuk berkolaborasi dengan sesama pendidik dalam memperdalam konsep pembelajaran berdiferensiasi dan integrasi kompetensi sosial emosional. Sebagai CGP, saya secara aktif berpartisipasi dalam sesi simulasi pembelajaran berdiferensiasi dan membagikan pengalaman praktik yang relevan. Sesi ini dipandu oleh pengajar praktik (PP) dan meliputi praktik berkesadaran penuh (mindfulness) dan teknik STOP, yang memperkuat pemahaman bahwa keseimbangan emosional guru berperan penting dalam lingkungan belajar yang positif. Kolaborasi antara CGP semakin kuat pada tahap integrasi 5 kompetensi sosial emosional dalam rencana pembelajaran. Kami saling berbagi ide dan strategi, mendorong satu sama lain untuk menerapkan konsep ini dengan lebih kreatif dan efektif di kelas. Sebagai penutup, kolaborasi kami mencapai puncaknya saat merencanakan strategi berbagi pengalaman belajar yang nantinya akan kami sampaikan kepada rekan sejawat baik di tempat tugas mapun di komunitas belajar seperti KKG/MGMP. Melalui kerjasama ini, saya yakin bahwa kontribusi positif terhadap pembelajaran berdiferensiasi dan pengembangan kompetensi sosial emosional dapat lebih terasa signifikan, tidak hanya dalam pembelajaran saya sendiri tetapi juga diseluruh komunitas pendidik. Sabtu, 18 November 2023 Report Pkl. 08.00 s.d 16.30 Wita Lanjutan ing
M. 2.2.a.9. Aksi Nyata - Modul 2.2 Selama beberapa bulan terakhir, saya dengan penuh dedikasi telah terlibat dalam implementasi pembelajaran sosial dan emosional (PSE) di lingkungan sekolah. Aksi nyata ini didasarkan pada empat indikator kunci yang saya yakini esensial untuk mencapai hasil yang signifikan. Pertama, Pengajaran Eksplisit: Saya secara khusus merancang dan melaksanakan sesi pembelajaran yang tidak hanya menargetkan pencapaian tujuan akademis, tetapi juga secara eksplisit mengintegrasikan aspek sosial dan emosional. Melalui berbagai kegiatan dan diskusi, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan interpersonal yang vital. Kedua, Integrasi dalam Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik: Saya berhasil mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional dalam praktek mengajar sehari-hari. Dengan memanfaatkan kurikulum akademik, saya memberikan relevansi yang nyata pada pembelajaran sosial dan emosional, sehingga siswa dapat mengalami keterampilan ini dalam konteks nyata. Ketiga, Penciptaan Iklim Kelas dan Sekolah: Saya secara aktif berkontribusi dalam menciptakan iklim kelas yang positif dan mendukung. Melalui kebijakan dan kegiatan ekstrakurikuler, saya berusaha menciptakan ruang di mana siswa merasa aman untuk berbagi dan tumbuh bersama. Hal ini membantu membangun fondasi yang kuat untuk perkembangan sosial dan emosional mereka. Keempat, Penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional Rekan Sejawat: Selain fokus pada pengembangan siswa, saya juga terlibat dalam penguatan kompetensi sosial dan emosional rekan sejawat. Melalui workshop dan kolaborasi, saya berbagi praktik terbaik dan membantu mereka mengintegrasikan pendekatan serupa ke dalam pengajaran mereka. Ini menciptakan budaya kolaboratif di antara staf pendidik. Melalui aksi nyata ini, saya berharap dapat menginspirasi dan membantu mewujudkan perubahan positif dalam pendidikan, di mana pembelajaran sosial dan emosional menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan pendidikan siswa. Saya berkomitmen untuk terus meningkatkan dampak positif ini dan melibatkan lebih banyak rekan sejawat dalam perjalanan ini menuju pembelajaran yang holistik. Report Kamis, 16 November 2023 Lanjutan ing
Pertanyaan untuk Persiapan Diskusi Pembelajaran Sosial dan Emosional yang Sukses Pada forum komunikasi dengan fasilitator, saya mengajukan pertanyaan berikut sebagai persiapan diskusi tentang ruang eksplorasi konsep: Apa saja tahapan yang perlu dilakukan para guru agar Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) berhasil dan efektif? Responding Kamis, 16 November 2023 Relating Ciptakan lingkungan belajar yang positif dan suportif. Ajak siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Beri kesempatan kepada siswa untuk berlatih keterampilan sosial dan emosional. Beri pujian dan penghargaan kepada siswa atas pencapaian mereka. Lakukan evaluasi secara berkala untuk melihat kemajuan siswa. Pendidikan Sosial-Emosional (PSE) adalah metode pembelajaran yang membantu siswa mengembangkan keterampilan untuk memahami dan mengelola emosi mereka, membangun hubungan positif dengan orang lain, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab. Dengan mengimplementasikan PSE dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan serta membantu siswa mengurangi stres dan tekanan dalam belajar. Berikut adalah beberapa tips untuk mengimplementasikan PSE dalam KBM: Dengan mengimplementasikan PSE dalam KBM, guru dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses di sekolah dan dalam kehidupan. Hal ini juga membantu siswa membangun sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Setelah dianalisis, Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) telah diterapkan dengan baik oleh guru-guru dalam bentuk individu dan kolektif. Meskipun demikian, pengetahuan tentang PSE belum tersebar secara luas. Oleh karena itu, dibutuhkan sosialisasi yang berkelanjutan mengenai pembelajaran diferensial dan PSE. Dukungan penuh dari pihak sekolah, terutama para stakeholder, juga dibutuhkan untuk mewujudkan PSE dan pembelajaran berdiferensiasi. Dengan cara ini, tujuan pembelajaran peserta didik dapat tercapai secara optimal. Pengamatan peserta didik terkait minat belajar, tipe belajar, dan profil belajar siswa hanya dilakukan oleh guru-guru secara individual dan belum didasarkan pada penelitian dari pihak sekolah secara umum. Oleh karena itu, perlu dilakukan standarisasi format dan hasil pengamatan agar hasilnya menjadi lebih konsisten dan akurat. Reconstructing Reasoning Pentingnya Pembelajaran Diferensial dan Sosial-Emosional untuk Peserta Didik Pembelajaran diferensial dan sosial-emosional sangatlah penting bagi peserta didik di lingkungan sekolah. Pembelajaran diferensial membantu peserta didik belajar sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing, sementara pembelajaran sosial-emosional membantu peserta didik mengelola emosi mereka dan membangun hubungan positif dengan orang lain. Namun, untuk menerapkan pembelajaran diferensial dan sosialemosional, dukungan dari sekolah sangatlah penting. Dukungan ini dapat berupa dukungan moral dan materi. Dukungan moral dapat berupa motivasi dan penghargaan bagi guru dan staf pendidikan yang menerapkan pembelajaran diferensial dan sosial-emosional. Sedangkan dukungan materi dapat berupa penyediaan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan untuk menerapkan pembelajaran diferensial dan sosialemosional.
Meningkatkan motivasi belajar siswa, Mengurangi stres, Meningkatkan hasil belajar, Meningkatkan hubungan sosial, dan Meningkatkan karakter siswa. Untuk memaksimalkan pembelajaran siswa, dukungan moril dan materil tidaklah cukup. Sosialisasi dan penyamaan data berkaitan dengan pembelajaran diferensial dan sosial emosional juga diperlukan. Sosialisasi dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada guru dan tenaga kependidikan mengenai pembelajaran diferensial dan sosial emosional. Sedangkan penyamaan data dapat dilakukan dengan memperoleh data peserta didik terkait minat, gaya, dan profil belajar. Dengan mendukung faktor-faktor tersebut, pembelajaran diferensial dan sosial emosional dapat diimplementasikan dengan lebih efektif dan efisien. Tidak hanya itu, beberapa manfaat dari pembelajaran diferensial dan sosial emosional antara lain sebagai berikut: Melalui penerapan pembelajaran diferensial dan sosial emosional, lingkungan belajar di sekolah dapat menjadi lebih positif dan kondusif bagi siswa. Hal ini pada akhirnya akan membantu siswa belajar dengan lebih efektif dan efisien, yang berdampak pada pencapaian tujuan pembelajaran mereka. Lanjutan Reconstructing
Dalam meresapi modul pembelajaran sosial dan emosional, saya sebagai guru telah mengalami perjalanan reflektif yang mendalam. Melalui model refleksi 5M, saya berhasil mendeskripsikan secara rinci setiap tahapan pembelajaran, merespon dengan aktif dalam forum diskusi, dan mengaitkan konsep-konsep tersebut dengan pengalaman pribadi dan profesional saya. Saya merasa telah memperoleh pemahaman yang kokoh terkait konsep 5 KSE dan implementasinya dalam konteks pembelajaran. Dengan merinci pengalaman melalui model 5M, saya dapat mengonstruksi pemahaman yang lebih mendalam dan merancang langkah-langkah untuk pengembangan lebih lanjut. Kesimpulan saya adalah bahwa pembelajaran sosial dan emosional memiliki dampak positif yang signifikan, namun pengoptimalan proses ini membutuhkan dukungan lebih lanjut, terutama dari pihak sekolah. Saya yakin bahwa pemahaman dan refleksi ini akan menjadi dasar kuat bagi perkembangan profesional saya, membantu saya menjadi guru yang lebih efektif dan mendukung pertumbuhan positif siswa dalam aspek sosial dan emosional mereka. Melalui proses refleksi ini, saya memahami bahwa pembelajaran sosial dan emosional bukan hanya sekadar konsep teoritis, tetapi sebuah langkah konkret dalam membentuk lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan holistik siswa. Saya merasa tergerak untuk terus meningkatkan keterampilan sosial dan emosional saya sebagai guru, serta berkomitmen untuk mengintegrasikan pemahaman ini ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Salam Guru Penggerak Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan Terima Kasih Om Santih, Santih, Santih Om Penutup