RESENSI BUKU “SIRAH NABAWIYAH” KARYA SYAIKH SHAFIYYURRAHMAN AL MUBARAKFURI Disusun dalam Rangka Pemenuhan Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Historiografi Dosen Pengampu: Muhammad Anggie Farizqie Prasadana, S.Pd., M.Pd. Disusun oleh Hikmal Muhammad Al Qisti (2288220045)
PENDAHULUAN Foto Buku Foto: Cover Depan Foto: Cover Belakang Alasan Memilih Buku Historiografi Islam sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan semenjak masa-masa awal peradaban Islam berdiri atau sekitar abad keenam atau ketujuh. Sehingga dengan semakin sudah pesatnya perkembangan Historiografi Islam tentunya melahirkan juga karya-karya tulis sejarah yang menjadi tonggak majunya peradaban dengan adanya catatancatatan peninggalan sejarah yang ditulis oleh sejarwan Islam terdahulu. Historiografi Islam ini sendiri menurut Frans Rosenthal adalah karya sejarah yang ditulis oleh penganut agama Islam dari berbagai aliran. Nabi Muhammad hidup antara sekitar 15 abad yang lalu dipertengahan abad ke-6. Kisah hidup Rasulullah SAW selalu diceritakan berulang-ulang dalam berbagai momen oleh sejarawan muslim, selain itu juga kisahnya selalu dikaji dari berbagai pendekatan dan disiplin ilmu lainnya seperti ilmu sosial, ekonomi, filsafat, dan lain-lain. Bahkan lebih dari itu kisah hidup nabi Muhammad selain sering dikaji oleh sejarawan-sejarawan Muslim, sering juga sejarawan-sejarawan non muslim mengkaji kisah nabi Muhammad, diantaranya seperti William Montgometry Watt yang menulis buku “Muhammad Prophet and Statement”, atau juga Karen Amstrong dengan bukunya Muhammad Prophet for Our Time” bahkan dia memaparkan sosok nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang luar biasa yang berbakat, pemberani, dan kompleks. Dia memperlihatkan karakter dan ide-ide Nabi demikian kuat untuk mengubah sejarah secara drastis dan menarik jutaan pengikut. Michael H. Hart, seorang ahli fisika dan juga sebagai seorang guru besar astronomi di Maryland University serta pernah menjadi penanggung jawab di lembaga antariksa Amerika Nasa, dalam bukunya yang berjudul “The one hundred A Ranking of the Most Influential Persons in History” mencantumkan nama Nabi Muhammad SAW di urutan pertama di bukunya. Alasan Hart menempatkan Muhammad di posisi pertama dalam bukunya adalah pertama, kisah hidupnya yang tidak pernah melakukan penyimpangan sosial dan senantiasa menjalankan hidup sesuai dengan tuntunan dan aturan tuhan, yang sedangkan pada saat masa
hidupnya praktik penyimpangan sosial sangat marak di masyarakat Arab Jahiliyah seperti kebohongan, pemerkosaan, eksploitasi manusia, mabuk-mabukan, dan lain-lain. Namun dibalik kebobrokan moral masyarakat tersebut, sebelum Muhmmad diangkat menjadi nabi, dia menjaga perilakunya terhindar dari penyimpangan sosial. Selain itu juga alasan lainnya Hart menempatkan Muhammad di urutan pertama adalah selain sukses dalam hal keagamaan Muhammad juga sukses dalam urusan sekuler, seperti yang diketahui dalam kisahnya selain sebagai utusan tuhan Muhammad juga merupakan seorang politisi ulung yang ahli dalam urusan diplomasi dan politik, pengusaha sukses yang memiliki hampir seluruh akses kekayaan di madinah, dan juga seorang ahli strategi perang. Jika melihat sejarah para tokoh-tokoh besar politik dunia, kebanyakan diantaranya adalah orang-orang yang lahir dan dibesarkan dari lingkungan yang maju bahkan menjadi pusat-pusat peradaban, negeri-negeri yang sangat berbudaya atau penting di sisi politik. Sedangkan nabi Muhammad lahir di wilayah Arab yang sangat-sangat tertinggal dan tereblakang. Bahkan negeri Arab yang terhimpit oleh dua peradaban besar yakni Persia dan Romawi, kedua peradaban tersebut seakan menganggap wilayah Arab bukanlah wilayah yang penting. Tetapi Nabi Muhammad dengan kecerdasannya dalam hal politik serta kecerdasanya dalam bidang ekonomi, wilayah Arab yang dulunya hanyalah wilayah terbelakang dan termasuk peradaban yang sangat tertinggal jauh pada saat itu–Bahkan rasanya belum pantas untuk dianggap sebagai sebuah peradaban. Dengan kepiawayannya dalam mengelola tata perekonomian madinah mampu membuat wilayah Arab menjadi wilayah dan bangsa yang berperadaban dan maju dalam berbagai aspek. Hal itu pulalah yang menjadikan Michael hart menempatkan nama nabi Muhammad di posisi pertama dalam bukunya. Dengan berbagai kisah menakjubkan dari nabi Muhammad, Historiografi Islam yang membahas kisah Muhammad dalam berbagai bentuk sajian literatur seakan sangat sulit untuk dihitung jumlahnya. Berbagai kisah kehebarannya dalam mensyiarkan Islam, kepiawaiannya dalam berpolitik, kecerdasaannya dalam menjalin diplomasi dalam berbagai aspek seperti sosial dan juga perdagangan, dan kehebatannya dalam mengelola bisnis, juga kecenderungannya yang tinggi dalam hal empati sosial membuat tak heran saat kepergiannya pada tahun 632 masehi membuat hampir seluruh Arab redup oleh kesedihan. Seorang novelis bernama Tasaro GK dalam novel tetraloginya yang berjudul Muhammad pernah mengungkapkan “Hari pada saat kepergianmu, Madinah guncang ke semua penjuru mata angin kabar menyebar. Engkau telah tiada, duhai tuan lembut hati. Terang hari telah ditinggal matahari. Tangis bak hendak memecah langit. Setiap sudut kota cahaya seolah redup. Seperti denyut kehidupan berhenti. Mereka terisak, menangis, termangu, atau terdiam sama sekali. Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yang mencintaimu akan merasakan kehilangan yang sama dengan para sahabat yang menyaksikan hari terakhirmu, wahai Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir” Sebuah ungkapan yang sangat puitis dan sempat membuat saya menteskan air mata saat membacanya, dan juga membuat saya tertarik dengan kisah hidup Muhammad SAW. Buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri termasuk kedalam kategori Historiografi Islam yang mengkaji kisah Rasulullah SAW secara kronologis dari masa pra kelahiran sampai pasca wafatnya Rasulullah SAW. Tak hanya membahas tentang sejarah hidup Rasulullah, buku ini juga mengkaji tentang situasi bangsa Arab pra Islam, lingkungan masyarakat Arab selama masa Rasulullah, dan setelah Rasulullah wafat. Metode
utama dalam buku ini berdasar yang saya baca sangat mengutamakan metode biografi, meski sebenarnya di dalamnya tak hanya membahas biografi nabi Muhammad SAW. Jika sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang banyaknya kajian dan juga karya tulis yang mengkaji tentang kisah nabi Muhammad SAW, lantas alasan saya memilih buku ini sebagai bahan tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Historiografi saya adalah karena buku ini merupakan buku yang pernah mendapat penghargaan Juara 1 Lomba Penulisan Sejarah Islam Robithah Al Alam Al Islami yang diselenggarakan di Pakistan pada tahun 1976. Dengan prestasi tersebut tentu membuat saya tertarik dibanding dengan buku kajian nabi Muhammad yang lain. Buku ini sendiri judul aslinya adalah “Ar-Rahiq Al-Makhtum”, yang kemudian lebih dikenal dengan judul “Sirah Nabawiyah” setelah menjuarai perlombaan karya tulis tentang nabi Muhammad SAW. PEMBAHASAN Resensi Buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri adalah sebuah karya monumental yang secara lengkap dan sistematis menggambarkan kehidupan dan sejarah Nabi Muhammad SAW. Buku ini menjadi salah satu rujukan utama dalam studi Sirah Nabawiyah, dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak penulis dan sarjana Islam. buku ini menawarkan penggambaran yang komprehensif, sistematis, dan mendalam tentang kehidupan dan sejarah Nabi Muhammad SAW. Buku ini tidak hanya menjadi salah satu rujukan utama dalam studi Sirah Nabawiyah, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak penulis dan sarjana Islam. Buku ini ditulis dengan cermat dan teliti, menggabungkan berbagai sumber sejarah yang diverifikasi, termasuk hadis-hadis sahih dan riwayat-riwayat terpercaya, untuk membangun narasi yang akurat dan berwibawa tentang kehidupan Rasulullah SAW. Penulis dengan seksama menyusun informasi dalam urutan kronologis yang runtut, memungkinkan pembaca untuk mengikuti perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW secara sistematis. Buku ini dimulai dengan menggambarkan latar belakang kelahiran Nabi Muhammad SAW, genealogi, serta kondisi sosial, budaya, dan politik pada masa itu. Syaikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri memberikan gambaran yang mendalam tentang situasi Mekah sebelum datangnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, penulis membahas masa kehidupan Nabi Muhammad SAW mulai dari masa kanak-kanak dan remaja, hingga menjadi seorang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah. Buku ini tidak hanya mencakup aspek-aspek penting dalam sejarah Nabi Muhammad SAW seperti penyebaran ajaran Islam dan pertempuran-pertempuran yang terjadi, tetapi juga menyajikan gambaran yang jelas tentang karakter dan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Penulis secara rinci menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad SAW menghadapi tantangan dan rintangan dalam menyebarkan risalah Islam, serta strategi dan keputusan penting yang beliau ambil. Selain itu, buku ini mengupas nilai-nilai etika, moralitas, dan ajaran Islam yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad SAW. Syaikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri menyoroti sikap welas asih, keadilan, kesabaran, keteladanan, dan kebaikan hati yang menjadi ciri khas kepribadian Nabi Muhammad SAW. Penulis juga menggambarkan bagaimana beliau
membangun hubungan yang kokoh dengan para sahabat, istri-istri beliau, dan anggota keluarganya. Sirah Nabawiyah memberikan perhatian khusus pada momen-momen penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khaibar, dan penaklukan Mekah. Syaikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri menggambarkan secara terperinci perkembangan peristiwa dan implikasi sejarah dari setiap peristiwa--peristiwa penting seperti perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Nabi Muhammad SAW, seperti Perjanjian Hudaibiyah yang menjadi titik balik dalam pengakuan dan pengakuan Islam. Penulis menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad SAW dengan kebijaksanaan dan diplomasi menghadapi situasi yang kompleks dan mengarahkan umat Islam menuju perkembangan yang lebih baik. Selain itu, buku ini juga menyoroti perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah dan bagaimana peristiwa ini mempengaruhi transformasi politik dan sosial dalam masyarakat Islam awal. Penulis membahas pendirian negara Islam pertama, pengaturan konstitusi Madinah, dan tindakan-tindakan penting yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membangun fondasi yang kuat bagi komunitas Muslim. Seluruh isi buku ini disajikan dalam bahasa yang lugas dan jelas, membuatnya dapat diakses oleh berbagai kalangan pembaca. Bab-bab dalam buku ini disusun secara sistematis, memudahkan pembaca untuk mengikuti perkembangan sejarah dan memahami konteks peristiwa yang dibahas. Setiap bab dilengkapi dengan referensi yang jelas, memberikan kepercayaan dan keandalan pada informasi yang disampaikan. Secara keseluruhan, "Sirah Nabawiyah" karya Syaikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri adalah sebuah karya monumental yang menggambarkan kehidupan Nabi Muhammad SAW secara lengkap, sistematis, dan mendalam. Buku ini bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali kejadian-kejadian penting dan mengungkap nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia. Jika diringkas pembahasannya buku ini menurut saya dibagi kedalam enam pembahasan inti diantaranya yaitu: Pembahasan pertama, membahas kondisi bangsa Arab praislam dengan berbagai keterbelakanggannya dalam berbagai aspek dan termasuk bangsa yang tidak berperadaban. Serta juga bangsa yang bobrok dalam hal moral dan juga etika. Juga memberikan gambaran terkait kehidupan bangsa Arab seperti kerajaan-kerajaan yang berdiri di Arab. Pembahasan kedua, yakni membahas tentang masa kelahiran Nabi Muhammad SAW serta masa kecil Muhammad hingga masa dewasanya dan menikah dengan khadijah hingga ketika menerima wahyu pertama. Pembahasan ketiga, periode dakwah Rasulullah secara terang-terangan. Pembahasan keempat membahas tentang masa hijrah Rasulullah dan kemudia mendirikan Daulah Islamiyyah pertama yakni negara Madinah serta membahas penyebaran Islam yang semakin meluas di tanah Arab, sehingga sekiranya lebih cocok disebut periode Madinah. Pembahasan keenam, membahas tentang masa penaklukan Makkah atau periode Makkah kembali dan akhir hidup Nabi Muhammad SAW. Pembahasan ketujuh, akan lebih membahas kondisi Arab setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dan bangsa Arab. A. Kondisi Masyarakat Arab Pra Islam atau sebelum rasulullah lahir Semenanjung Arab pada masa pra-Islam, yang juga dikenal sebagai zaman Jahiliyah, ditandai dengan adanya berbagai suku Arab yang tersebar di wilayah tersebut. Setiap suku Arab
memiliki sistem sosial dan politik yang berbeda-beda. Pada umumnya, masyarakat Arab praIslam hidup dalam masyarakat yang bersifat nomaden atau semi-nomaden, dengan kehidupan yang didasarkan pada kegiatan pertanian, peternakan, dan perdagangan. Pada masa pra-Islam, tidak ada struktur politik yang terpusat di seluruh Semenanjung Arab. Wilayah tersebut terdiri dari banyak suku yang memiliki pemimpin mereka sendiri. Beberapa suku yang terkenal di wilayah arab diantaranya adalah suku Quraisy. Suku Quraisy merupakan suku terpenting di Mekah. Mereka juga menjadi penjaga Ka'bah, tempat suci pusat penyembahan politeistik Arab. Pada masa pra-Islam, kepemimpinan suku Quraisy dikuasai oleh keluarga Hashim dan keluarga Umayyah. Salah satu tokoh terkenal dari suku Quraisy adalah Abu Bakar, yang kemudian menjadi Khalifah pertama dalam Islam. Ada pun suku lainnya yang terkenal seperti suku Kinda. Kinda adalah suku Arab yang berasal dari Arabia Selatan. pada awal abad ketiga Masehi mereka melayani menjadi pembantu suku Badui yang berasal dari Kerajaan Sabaean, turut diikuti juga oleh Kerajaan Himyar. di pertengahan abad ke-5, suku tersebut mendirikan kerajaan di atas konfederasi suku Arab Ma'ad di Arabia utara serta tengah, yang kemudian dikenal menjadi Kerajaan Kindah, yang berlangsung hingga pertengahan abad ke-6. Sistem Sosial masyarakat Arab pada masa Jahiliyah terbagi menjadi beberapa golongan, termasuk orang merdeka, budak, dan orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat. Orang-orang terhormat biasanya berasal dari keluarga bangsawan atau memiliki kekayaan yang cukup. Perdagangan menjadi aktivitas utama di Semenanjung Arab pada masa itu. Kota-kota seperti Mekah, Yatsrib (Madinah), dan Ta'if menjadi pusat-pusat perdagangan yang penting. Pedagang berperan sebagai penghubung antara wilayah-wilayah yang berbeda dan memainkan peran kunci dalam pertukaran komoditas. Praktik penyembahan berhala atau politeisme merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Setiap suku memiliki berbagai dewa yang disembah dan berbagai upacara keagamaan yang terkait dengan berhala-berhala tersebut. B. Nabi Muhammad dari Awal Kelahiran sampai Wahyu Pertama Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, yang kira-kira bertepatan dengan 20 April 571 Masehi. Kelahirannya terjadi di Mekah, sebuah kota di Semenanjung Arab yang saat itu dikuasai oleh suku Quraisy. Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muttalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahb. Abdullah adalah putra dari Abdul Muttalib, kepala suku Quraisy pada saat itu. Namun, Abdullah meninggal dunia sebelum kelahiran Nabi Muhammad, sehingga Nabi Muhammad tumbuh dalam perawatan kakeknya, Abdul Muttalib. Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, ibunya Aminah mengalami mimpi-mimpi yang mengindikasikan kebesaran dan keberkahan anak yang akan dilahirkannya. Menurut sejarah, pada malam kelahirannya, Aminah merasakan cahaya yang terang memancar dari dirinya. Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa pada saat kelahirannya, Nabi Muhammad telah bersujud kepada Allah. Pada usia enam tahun, Nabi Muhammad mengalami kehilangan ibunya, Aminah. Ia kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muttalib, yang sangat mencintainya. Setelah kematian Abdul Muttalib, Nabi Muhammad dibesarkan oleh pamannya, Abu Talib. Kelahiran Nabi Muhammad merupakan awal dari pewahyuan dan dakwahnya sebagai Rasul Allah. Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah melalui Malaikat Jibril di gua Hira. Wahyu pertama ini menjadi titik awal perjalanan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah dan perintah untuk menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.
Selama masa remaja, Nabi Muhammad terkenal karena kemuliaan akhlaknya, kejujurannya, dan kemampuannya dalam menyelesaikan perselisihan di antara suku-suku Arab. Beliau juga berperan dalam melindungi hak-hak orang miskin dan kaum yang terpinggirkan di masyarakat Mekah. Pada masa ini, Nabi Muhammad bekerja sebagai seorang pedagang dan memperoleh reputasi sebagai seorang yang jujur dan tepercaya. Pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad menikahi seorang janda kaya bernama Khadijah. Perkawinan ini sangat bahagia dan Khadijah menjadi pendukung dan sahabat terdekat bagi Nabi Muhammad. Mereka memiliki beberapa anak, tetapi hanya satu putri, Fatimah, yang bertahan hidup. Nabi Muhammad juga dikenal sebagai sosok yang introspektif dan senang melakukan meditasi di gua Hira di pegunungan di luar Mekah. Pada usia 40 tahun, ketika beliau sedang dalam meditasi di gua Hira, beliau menerima wahyu pertama dari Allah yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Wahyu tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang dipilih untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad berisi perintah untuk membaca. Pada awalnya, beliau merasa terkejut dan bingung dengan pengalaman tersebut, tetapi dengan dukungan dan dorongan dari Khadijah, beliau menyadari bahwa wahyu tersebut merupakan panggilan Allah untuk menyampaikan pesan-Nya. C. Dakwah secara sembunyi-sembunyi Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, pengalaman tersebut sangat mengguncang beliau. Peristiwa ini terjadi ketika beliau berada di gua Hira pada bulan Ramadhan. Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan menyampaikan perintah Allah, "Bacalah!" Nabi Muhammad menjawab bahwa beliau tidak bisa membaca, kemudian Jibril merangkul beliau erat dan melepaskan pelukan setelah beberapa saat. Nabi Muhammad merasa lemah dan terguncang oleh pengalaman tersebut. Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad pulang dengan kebingungan dan ketakutan. Beliau bergegas menuju rumah dan berkata kepada istrinya, Khadijah, tentang apa yang terjadi. Khadijah memberikan dukungan dan kepercayaan diri kepada Nabi Muhammad, meyakinkan bahwa pengalaman tersebut adalah wahyu dari Allah dan bahwa beliau dipilih sebagai Rasul Allah. Khadijah juga mendatangi sepupu Nabi Muhammad, Waraqah bin Naufal, yang memiliki pengetahuan tentang agama-agama sebelumnya, dan Waraqah membenarkan bahwa Nabi Muhammad telah menerima wahyu. Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi di Mekah. Beliau membagikan ajaran Islam kepada keluarga dekat, sahabat terpercaya, dan orang-orang yang telah mengenal kejujuran dan kebaikan beliau sebelumnya. Pada tahap ini, jumlah pengikut beliau masih terbatas, dan aktivitas dakwah dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari konfrontasi langsung dengan suku Quraisy yang kuat dan berpengaruh di Mekah. Pengajaran awal Islam difokuskan pada penekanan pada tauhid (keesaan Allah) dan penolakan terhadap penyembahan berhala. Nabi Muhammad juga mengajarkan prinsip-prinsip etika, keadilan, kebaikan, dan persaudaraan di antara umat manusia. Meskipun dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ajaran Islam mulai menarik perhatian dan mendapatkan beberapa pengikut. Namun, semakin pesatnya penyebaran Islam membuat suku Quraisy semakin cemas dan melakukan penindasan terhadap Nabi Muhammad dan pengikutnya. Mereka memperlakukan umat Muslim dengan kejam dan memulai boikot terhadap keluarga Nabi Muhammad dan pengikutnya. Pada masa ini, umat Muslim yang tertindas menghadapi
berbagai kesulitan dan penderitaan.Meskipun dakwah secara sembunyi-sembunyi menghadapi tantangan dan ancaman, Nabi Muhammad tetap berpegang teguh pada wahyu yang diterima dan melanjutkan menyebarkan ajaran Islam. Dakwah sembunyi-sembunyi ini menjadi tahap awal yang membentuk dasar kuat bagi perkembangan Islam sebelum pindah ke Madinah dan memulai tahap baru dalam penyebaran agama tersebut. D. Dakwah secara terang-terangan Setelah beberapa tahun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi di Mekah, Nabi Muhammad menerima perintah dari Allah untuk melakukan dakwah secara terangterangan. Beliau mulai menyampaikan ajaran Islam secara publik kepada orang-orang di Mekah dan memanggil masyarakat untuk menyembah Allah yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhala. Dalam dakwahnya secara terang-terangan, Nabi Muhammad menghadapi perlawanan dan penindasan yang lebih besar dari suku Quraisy. Mereka tidak suka dengan ajaran-ajaran baru yang membahayakan kekuasaan dan praktik keagamaan mereka. Suku Quraisy mengucilkan dan menganiaya umat Muslim, termasuk Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Meskipun menghadapi tantangan dan ancaman yang serius, Nabi Muhammad dan para pengikutnya tetap teguh dalam keyakinan mereka. Mereka terus menyebarkan ajaran Islam dan mengundang orang-orang untuk mengikuti jalan yang benar. Beberapa orang yang awalnya skeptis atau bahkan musuh Nabi Muhammad, akhirnya masuk Islam setelah melihat kejujuran dan integritas beliau Setelah beberapa tahun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi di Mekah, Nabi Muhammad menerima perintah dari Allah untuk melakukan dakwah secara terang-terangan. Beliau mulai menyampaikan ajaran Islam secara publik kepada orang-orang di Mekah dan memanggil masyarakat untuk menyembah Allah yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhalDalam dakwahnya secara terangterangan, Nabi Muhammad menghadapi perlawanan dan penindasan yang lebih besar dari suku Quraisy. Mereka tidak suka dengan ajaran-ajaran baru yang membahayakan kekuasaan dan praktik keagamaan mereka. Suku Quraisy mengucilkan dan menganiaya umat Muslim, termasuk Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Meskipun menghadapi tantangan dan ancaman yang serius, Nabi Muhammad dan para pengikutnya tetap teguh dalam keyakinan mereka. Mereka terus menyebarkan ajaran Islam dan mengundang orang-orang untuk mengikuti jalan yang benar. Beberapa orang yang awalnya skeptis atau bahkan musuh Nabi Muhammad, akhirnya masuk Islam setelah melihat kejujuran dan integritas beliau. E. Hijrah ke Madinah dan Mendirikan Daulah Islamiyyah Pertama Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad dan para pengikutnya mengalami peristiwa penting yang dikenal sebagai Bai'atul 'Aqabah, di mana sekelompok orang dari kota Yatsrib (yang kemudian dikenal sebagai Madinah) datang ke Mekah dan berjanji untuk melindungi dan mendukung Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan adanya dukungan dan penerimaan di luar Mekah yang menjadi pijakan bagi perpindahan beliau ke Madinah. Akhirnya, pada tahun 622 Masehi, Nabi Muhammad melakukan Hijrah (migrasi) ke Madinah bersama para pengikutnya. Hijrah ini menjadi titik awal dalam pembentukan negara Islam di Madinah. Di Madinah, Nabi Muhammad menyatukan suku-suku Arab dan suku-suku Yahudi yang ada di sana, membentuk konstitusi negara, dan mengatur kehidupan masyarakat secara islami. Hijrah ke Madinah membawa perubahan besar dalam sejarah Islam. Nabi Muhammad mendapatkan pengakuan dan dukungan yang lebih besar di Madinah, dan umat Muslim berkembang dengan pesat. Di Madinah, Nabi Muhammad juga terlibat dalam berbagai perjanjian dengan suku-suku Arab lainnya, mengadakan perjanjian perdamaian, serta
memperkuat persaudaraan dan persatuan di antara umat Muslim. Periode setelah Hijrah ke Madinah menjadi periode yang penuh dengan perjuangan, peperangan, dan pembangunan negara Islam yang kuat. Nabi Muhammad memimpin pasukan Muslim dalam pertempuranpertempuran melawan suku Quraisy dan suku-suku lain yang mencoba menghancurkan umat Muslim. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Islam semakin berkembang dan menjadi agama yang kuat di Madinah dan sekitarnya. Selama masa di Madinah, Nabi Muhammad membangun negara Islam yang berdasarkan ajaran-ajaran Islam dan mengatur kehidupan masyarakat dengan prinsip-prinsip keadilan, persaudaraan, dan kebaikan. Nabi Muhammad membangun masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial di Madinah. Masjid Nabawi di Madinah menjadi tempat pertemuan, tempat ibadah, pusat pengajaran Islam, dan pusat administrasi negara. Nabi Muhammad juga membentuk pasukan Muslim yang disebut sebagai Pasukan Mujahidin untuk melindungi umat Muslim dan mempertahankan agama Islam. Selama periode di Madinah, Nabi Muhammad juga menjalin perjanjian damai dengan suku Quraisy di Mekah dan suku-suku Arab lainnya. Perjanjian-perjanjian ini bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut, serta memperluas pengaruh Islam. Nabi Muhammad juga terus menyebarkan ajaran Islam ke luar Madinah melalui utusan dan surat-surat. Beliau mengirim utusan ke berbagai suku dan kerajaan di wilayah Arab untuk mengajak mereka memeluk Islam. Beberapa suku dan kerajaan mengakui kepemimpinan Nabi Muhammad dan memeluk Islam sebagai agama mereka. Selama masa ini, Nabi Muhammad juga menjalankan peran kepemimpinan politik dan sosial yang sangat penting. Beliau menyelesaikan perselisihan antara suku-suku Arab yang sering terlibat dalam pertempuran, mengatur tata kelola dan kebijakan negara, serta memberikan pedoman dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Daulah Islamiyah Madinah yang didirikan oleh Nabi Muhammad menjadi landasan bagi pengembangan dan penyebaran ajaran Islam. Negara ini memberikan contoh praktis tentang bagaimana menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan kerangka hukum dan tata tertib yang berlandaskan agama. Periode di Madinah merupakan fase yang penting dalam sejarah Islam, di mana agama tersebut tidak hanya menjadi keyakinan individu, tetapi juga menjadi landasan sebuah negara yang berfungsi untuk melindungi dan memajukan umat Muslim. F. Wafatnya Rasulullah dan Kondisi Arab Pasca Wafatnya Rasulullah Ketika Rasulullah Muhammad wafat, itu merupakan momen yang sangat bersejarah dan menyedihkan bagi umat Muslim. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 8 Juni 632 Masehi di kota Madinah. Pada saat itu, Nabi Muhammad telah memimpin dan mengajar umat Muslim selama lebih dari dua puluh tahun. Beliau telah menyebarluaskan ajaran Islam, membangun negara Islam, dan membimbing umat Muslim dalam segala aspek kehidupan. Wafatnya Rasulullah menandai akhir dari masa kepemimpinan beliau secara langsung di dunia ini. Saat menjelang wafat, Nabi Muhammad jatuh sakit selama beberapa hari. Meskipun dalam keadaan lemah, beliau masih memberikan beberapa nasihat terakhir kepada para sahabat yang hadir di sekitarnya. Salah satu nasihat penting yang beliau sampaikan adalah pentingnya memelihara dan mengikuti ajaran-ajaran Islam setelah beliau tiada. Ketika beliau merasakan bahwa ajalnya semakin dekat, Nabi Muhammad mengumumkan bahwa Abu Bakar, salah seorang sahabat terdekatnya, akan menggantikannya sebagai pemimpin umat Muslim, yang kemudian dikenal sebagai Khalifah Abu Bakar. Rasulullah meminta umat Muslim untuk tetap setia dan mendukung Khalifah Abu Bakar dalam memimpin mereka.
Pada tanggal 12 Rabiul Awal, Nabi Muhammad menghembuskan nafas terakhirnya di rumah istrinya, Aisyah. Berita wafatnya Rasulullah menyebabkan duka yang mendalam di kalangan para sahabat dan umat Muslim. Mereka merasa kehilangan sosok yang sangat dicintai, pemimpin yang bijaksana, dan utusan Allah yang membimbing mereka selama ini. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, umat Muslim mengalami kebingungan dan duka yang mendalam. Namun, para sahabat yang merupakan pengikut setia Nabi Muhammad memahami bahwa ajaran-ajarannya dan ajaran Allah yang terdapat dalam Al-Qur'an adalah pedoman yang tetap harus mereka ikuti. Mereka melanjutkan perjuangan dalam menyebarkan ajaran Islam dan mempertahankan negara Islam yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad. Wafatnya Nabi Muhammad juga menandai akhir dari periode kenabian, di mana tidak akan ada lagi nabi atau rasul yang diutus setelah beliau. Namun, warisan dan ajaran-ajaran beliau tetap hidup dalam hati dan perbuatan umat Muslim, dan Islam terus berkembang dan menjadi agama yang tersebar di seluruh dunia. Wafatnya Nabi Muhammad merupakan momen yang mengharukan dan mengingatkan umat Muslim tentang pentingnya menjaga, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang telah diberikan oleh Rasulullah. Kondisi pemerintahan setelah wafatnya Rasulullah yakni berpindahnya kepemimpinan umat Muslim berpindah kepada para Khalifah yang dipilih oleh umat. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib secara berturut-turut menjadi Khalifah. Periode ini dikenal sebagai Khilafah Rasyidah, di mana kepemimpinan didasarkan pada keadilan dan penegakan ajaran Islam. Ekspansi Islam pasca wafatnya Rasulullah semakin meluas, umat Muslim terus melanjutkan perjuangan dalam menyebarkan agama Islam. Dalam waktu singkat, pasukan Muslim berhasil memperluas wilayah kekuasaan mereka melalui penaklukan wilayah Arab dan negara-negara tetangga seperti Persia, Mesir, dan wilayah Romawi. Ekspansi ini membawa perubahan sosial, budaya, dan politik yang signifikan di wilayah-wilayah yang ditaklukkan. Hal tersebut dilakukan tentunya untuk melanjutkan estafet perjuangan agama Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah. Dari berbagai pemaparan singkat mengenai isi buku tersebut, terdapat beberapa aspek yang cukup menarik setelah saya membaca dan menganalisa buku tersebut. Adapun aspek tersebut adalah: 1. Relevansi dan Relevansi Kontemporer: Meskipun buku ini membahas peristiwaperistiwa yang terjadi lebih dari 1.400 tahun yang lalu, isinya tetap relevan dalam konteks modern. Buku ini membantu pembaca untuk memahami nilai-nilai Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW, prinsip-prinsip kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang, serta tantangan dan penghalang yang dihadapi dalam menyebarkan agama. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menyajikan sejarah, tetapi juga memberikan inspirasi dan pelajaran yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 2. Pendekatan yang Seimbang: Penulis berhasil mengambil pendekatan yang seimbang dalam menyajikan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Buku ini tidak hanya menggambarkan sisi-sisi kenabian dan hal menyenangkan, tetapi juga menyajikan tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dan umat Islam pada masa itu. Ini mencerminkan keobjektifan penulis dalam menyajikan sejarah secara utuh, tanpa menghilangkan sisi-sisi yang mungkin kontroversial atau sulit. Serta
menyajikan perjalanan Muhammad tak hanya dari sisi kenabian melainkan juga sebagai politisi, pengusaha, penggembala, kepala rumah tangga, kepala negara, dll. 3. Keterbacaan dan Kelengkapan: Meskipun buku ini menyajikan informasi yang detail dan mendalam, gaya penulisan yang lugas dan jelas membuatnya mudah dibaca dan dipahami oleh berbagai kalangan pembaca. Penulis mampu menggabungkan keakraban bahasa dengan kecermatan historis, sehingga memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan dan informatif serta orang yang membacanya pun tidak larut dalam rasa bosan. Buku ini juga dikenal karena kelengkapan informasinya, mencakup berbagai aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam. 4. Konteks Sejarah yang Komprehensif: Buku ini tidak hanya memberikan gambaran tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menyajikan konteks sejarah yang lebih luas. Penulis menjelaskan latar belakang politik, sosial, budaya, dan ekonomi pada masa itu, yang mempengaruhi kehidupan dan peristiwa yang terjadi. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang konteks sejarah, pembaca dapat menghargai dan memahami tantangan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dan umat Islam pada waktu itu. 5. Penghargaan terhadap Nilai Kebenaran dan Keadilan: Buku ini menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam menyajikan sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Penulis berusaha untuk menyampaikan fakta-fakta sejarah dengan obyektivitas, tanpa memihak atau memutarbalikkan informasi. Hal ini memberikan kepercayaan kepada pembaca bahwa buku ini merupakan sumber yang dapat diandalkan dan jujur dalam memberikan pengetahuan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Melalui karya ini, pembaca diberikan pemahaman yang lebih baik tentang perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam, serta bagaimana teladan beliau dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini sangat penting bagi siapa pun yang ingin mempelajari dan memahami kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan mendalam, serta mengambil inspirasi dari ajaran-ajarannya yang abadi. Metode Historis Setelah saya membaca dan menganalisa isi buku ini, meskipun penulis tidak menyebutkan secara langsung bagaimana metodologi yang dia gunakan ketika melakukan penelitian untuk menulis buku ini. Namun berdasar hasil analisa saya, setidaknya saya menyimpulkan beberapa metode historis yang penulis gunakan untuk menulis buku tersebut, setidaknya metode yang penulis gunakan adalah langkah-langkah berikut: Pengumpulan dan penelitian, verifikasi sumber, analisis dan kritik sumber, penentuan kronologi, penafsiran dan penjelasan. Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri melakukan pengumpulan sumber-sumber utama tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, seperti hadis-hadis sahih dan riwayatriwayat sejarah dari para sahabat Nabi. Beliau kemungkinan juga merujuk kepada karya-karya sejarah yang diakui untuk mendapatkan informasi yang akurat. Yang kemudian dia teliti dari masing-masing sumber tersebut. Sumber-sumber tersebut penulis cantumkan di catatan kaki di setiap bab-nya.
Dengan memverifikasi sumber juga analisis dan kritik sumber, beliau melakukan verifikasi dan juga menganalisis tiap-tiap sumber yang dikumpulkan untuk kemudian setelahnya dilakukan verifikasi dan kritik oleh penulis dengan mengevaluasi sumber-sumber historis yang digunakan. Dan juga untuk memverifikasi sumber tersebut, penulis memeriksa keabsahan narator dalam hadis dan riwayat, beliau mungkin mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, dan kredibilitas narator serta menyelidiki kemungkinan adanya perbedaan pendapat atau pertentangan antara hadis-hadis yang digunakan dan sumber-sumber tersebut. Lalu setelah itu, beliau menyusun kronologi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW berdasarkan sumber-sumber yang ada. Dalam menyusun kronologi, beliau mungkin mempertimbangkan catatan waktu, urutan peristiwa, dan hubungan kausal antara peristiwa-peristiwa tersebut. Yang kemudian untuk memberikan kejelasan dalam kisah nabi Muhammad yang ditulisnya, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri memberikan penafsiran dan penjelasan atas peristiwa-peristiwa sejarah yang ada dalam konteks kehidupan Nabi Muhammad SAW. Beliau mungkin menerapkan pemahaman teologis dan hukum Islam untuk menguraikan ajaran-ajaran Nabi serta memberikan konteks historis yang lebih luas. Dalam penulisan bukunya, beliau menyusun narasi yang koheren dan berkesinambungan, menggambarkan peristiwa-peristiwa dengan detail dan kejelasan yang memadai. Beliau mungkin menggunakan teknik penyampaian yang jelas dan deskriptif untuk mempermudah pemahaman pembaca. Dengan menggabungkan elemen-elemen ini, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menciptakan karya "Sirah Nabawiyah" yang merupakan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW yang komprehensif, berdasarkan sumber-sumber yang dipelajari dan diteliti secara hati-hati. Profile Penulis Buku yang saya pilih dengan judul “Sirah Nabawiyah” ini ditulis oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfurri. Beliau merupakan seorang ulama sekaligus sejarawan dan juga pengajar yang sangat terkemuka berkebangsaan India. Beliau lahir pada tanggal 6 Januari 1943 M di Husainabad, sebuah desa berjarak satu mil dari kota industri Mubarakirpur, Kabupaten Azamgarh, Provinsi Utara India. Nama Mubarakfuri-nya pun diambil dari nama tempat kelahirnnya. Beliau lahir dari keluarga dan lingkungan yang sangat menjunjung tinggi ajaranajaran Islam. Nama lengkap beliau adalah Shafiyyurrahman bin Abdullah bin Muhammad Akbar bin Muhammad Ali bin Abdul Mu'min bin Faqirullah Al-Mubarakfuri Al-A'zhami. Keluarga beliau di nasabkan kepada kaum Anshar, sebagaimana banyak keluarga lain di India di nasabkan kepada mereka. Bahkan secara spesifik sebagai keturunkan Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu. Beliau banyak menghabiskan masa mudanya dengan menuntut ilmu, pada masa kecilnya banyak beliau gunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu Al Qur’an. Saat masih kecil beliau menempuh pendidikan dasar di Madrasah Darut Ta’lim di Mubarakfur, dan menempuh pendidikan disana selama 6 tahun hingga lulus level ibtidaiyah. Kemudian beliau melanjutkan studi di Madrasah Ihya'Ul'Ulum di Mubarakpur pada januari 1954. Disana beliau menempuh pendidikan selama kurag lebih 5 tahun. Selama disana beliau fokus mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an, dan juga bidang keilmuan lainnya yang beliau pelajari disana seperti bahasa Arab, ahasa Arab , kaidah-
kaidahnya, serta ilmu-ilmu syar'i seperti Tafsir, Hadist, Fikih, Usul Fikih,dll. Hingga akhirnya beliau pun lulus pada tahun 1961 dengan predikat Mumtaz atau Cum Laude. bahkan, sebelum itu beliau sudah berhasil meraih ijazah bergelar Maulawi pada Februari 1959. Juga, titel Alim dari Hai'ah Al-Ikhtibarat li Al-'Ulum Asy-Syarqiyyah di Allahabad, India pada februari 1960. Setelah beliau menamatkan pendidikan formal, beliau fokus berkiprah pada dunia akademis seperti banyak menghabiskan waktunya untuknya untuk aktif mengajar, berdakwah, serta menyampaikan kuliah umum di daerah Allahabad. Beliau juga diundng untuk mengajar di madrasah Faidh ‘Amm, dan mengajar disana selama dua tahun. Beliau juga senpat mengajar sebagai dosen selama setahun di Universitas Ar-Rasyad di A’zhamkadah. Setelah itu beliau mengajar di Madrasah Darul Hadits di Mu’afi selama 3 tahun dan mendapat amanah sebagai pembantu ketua bagian pengajaran dan urusan internal. Kemudian, beliau menjadi Wakil Ketua Umum yang bertanggung jawab terhadap urusan internal maupun eksternal sekaligus sebagai pengawas staf pengajar di Jami ‘Saiwani selama 4 tahun. Setelah kembali ke Tanah Air pada akhir 1972, beliau mengajar dan menjadi Direktur Pengajaran di Madrasah Darut Ta’lim selama 2 tahun. Atas permintaan rektor Universias Salafiyah Benares, beliau pindah mengajar di sana pada 1974. Selanjutnya lebih beliau lebih sibuk dalam belajar-mengajar dan dakwah selama 10 tahun di sana. Beliau terkenal giat menulis dan akhirnya beliau juga menjadi Pemimpin Redaksi majalah bulanan Muhaddits yang terbit di India dan di antara kesibukannya, beliau meraih gelar formal dengan titel Fadhilah di bidang Sastra Arab pada 1976. Rabithah Al-Alam Al-Islami di Mekkah menyelenggarakan ilmiah Konferensi Islam Internasional I tentang Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan di Pakistan pada 1976. Saat itulah, beliau menulis kitab “Ar- Rahiq Al-Makhtum” atau dalam bahasa lain bernama “The Sealed Nectar” dan mengalahkan ratusan karya ilmiah dari ulama lainnya serta berhasil meraih juara 1. Kekhususannya dalam sejarah Islam dimulai dengan proyek ensiklopedia sejarah nabi dan berlanjut dengan proyek riset ilmiah lainnya di Pusat Pelayanan Sunnah dan Sirah Nabawiyah di Universitas Islam Madinah pada 1409 H selama 9 tahun. Syekh wafat pada hari Jumat, 1 Desember 2006, bakda shalat Jumat di Kota Mubarakfur India. Meski telah tiada, karyanya masih menjadi rujukan Muslimin hingga kini. Semoga pahala syekh terus mengalir darinya, hingga akhir zaman. Informasi Singkat Buku Terdapat beberapa informasi terkait buku ini yang akan saya paparkan secara singkat dan ringkas pada bagian ini. Seperti yang telah dijelaskan beberapa kali diatas bahwa secara keseluruhan membahas tentang kisah hidup Nabi Muhammad SAW dari masa sebelum kelahirannya hingga pasca wafatnya. Buku dengan judul asli “Ar-Rahiq Al-Makhtum” karya Syaikh Shafiyurrahman AlMubarakfuri ini terdiri dari 600 halaman, dan terdiri dari 58 bab inti. Buku ini jika di Indonesia diterbitkan oleh penerbit Pustaka Al-Kautsar dan diterjemahkan oleh Kathur Suhardi. Pertama kali terbit pada tahun 1997. Dimana pada saat awal buku ini ditulis merupakan sebuah karya tulis yang membahas nabi Muhammad yang diajukan untuk perlombaan, namun siapa sangka ternysara karyanya inilah yang mwnjadikannya juara pada perlombaan tersebut.
Dan juga sebagaimana saya jelaskan sebelumnya pada bagian resensi setidaknya dari keseluruhan buku tersebut jika disimpulkan setidknya terdapat tujuh pembahasan inti dari buku “Sirah Nabawiyah” ini. Yang ketujuh pembahasan tersebut akan saya jelaskan secara runtut dan ringkas pada bagian ini. GAYA PENULISAN Latar Belakang Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri adalah seorang ulama dan sejarawan Islam yang terkenal dengan karya-karyanya dalam bidang sirah Nabawiyyah (sejarah kehidupan Nabi Muhammad). Salah satu karyanya yang terkenal adalah "Ar-Rahiq al-Makhtum" (The Sealed Nectar), sebuah buku yang menjadi referensi penting dalam mempelajari sirah Nabi Muhammad. Latar belakang Syekh Shafiyyurrahman menulis buku sirah Nabawiyah adalah untuk menyebarkan pengetahuan tentang kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang ajaran dan teladan beliau. Buku sirah memiliki peran penting dalam menggali dan mempelajari kisah-kisah sejarah Islam, termasuk peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Muhammad. Buku sirah Nabawiyah juga membantu dalam memahami konteks historis di mana Islam muncul dan berkembang. Melalui penulisan buku sirah, Syekh Shafiyyurrahman bertujuan untuk menyajikan fakta-fakta sejarah yang akurat berdasarkan sumber-sumber yang sahih dan menghindari mitos atau legenda yang tidak terverifikasi. Dengan menyajikan sirah Nabawiyah secara terperinci, Syekh Shafiyyurrahman juga berusaha untuk menginspirasi umat Muslim untuk mengikuti teladan Nabi Muhammad dalam menjalani kehidupan mereka. Sirah merupakan sumber yang kaya akan hikmah, kebaikan, dan pelajaran berharga yang dapat diambil oleh umat Muslim dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Karya-karya seperti "Ar-Rahiq al-Makhtum" memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan Nabi Muhammad, mulai dari masa kecil, masa dakwah, penganiayaan yang dialami oleh umat Muslim, hingga masa pemerintahan beliau di Madinah. Buku ini juga mencakup peristiwa-peristiwa penting seperti hijrah ke Madinah, Perang Badar, Perang Uhud, dan Perjanjian Hudaibiyah, serta memberikan gambaran yang komprehensif tentang karakter, sifat, dan ajaran Nabi Muhammad. Dengan demikian, latar belakang Syekh Shafiyyurrahman dalam menulis buku sirah Nabawiyah adalah untuk menghidupkan kembali dan memperbaharui pemahaman tentang kehidupan Nabi Muhammad serta memperkuat ikatan spiritual umat Muslim dengan Rasulullah sebagai teladan yang sempurna dalam menjalani kehidupan berdasarkan ajaran Islam. Tak hanya itu saja, yang melatar belakangi Syaikh Shafiyurrahman dalam menulis buku ini juga dipantik oleh perlombaan yang diadakan oleh Rabiatul Al Alam Al Islami d Mekkah yang menyelenggarakan kompetisi Ilmiah tentang Sirah Nabawiyah, yaitu pada konferensi Islam Internasional I tentang Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan di Pakistan. Perlombaan tersebut cukup menjadi perlombaan yang sangat bergengsi bagi para sejarawan Muslim. Dalam kegiatan tersebut, diadakan kompetisi penelitian ilmiah berhadiah total 150.000 Riyal Saudi untuk diberikan kepada penelitian terbaik tentang Sirah Nabawiyah dengan syarat-syarat keikutsertaan sebagai berikut: 1. Penelitian yang dilakukan harus dipersiapkan, dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa historis berdasarkan kronologisnya. 2. Penelitian harus bermutu dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya. 3. Peneliti hendaknya menyebutkan seluruh manuskrip dan sumber rujukan ilmiah utama dalam penelitian tersebut.
4. Peneliti yang menjelaskannya biodata secara lengkap dan terperinci serta menyebutkan jenjang pendidikan yang sudah ditempuh dan karya tulis, bila ada. 5. Penelitian harus ditulis dengan tulisan yang jelas, dan lebih diutamakan ditulis dengan alat tulis (mesin tik / komputer). 6. Penelitian dapat diterima dalam bahasa Arab dan bahasa-bahasa komunikasi vital lainnya. 7. Penerimaan berkas penelitian dimulai dari tanggal 1 Rabi’ul Akhir 1396 H dan berakhir pada 1 Muharram 1397 H. 8. Penelitian diserahkan kepada Sekretariat Jenderal Rabithah ‘Alam Islamy di Makkah al-Mukarramah di dalam amplop bersegel dan sekretariat akan ditempatkan nomor urut khusus di atasnya. 9. Penilaian terhadap berkas penelitian yang dilakukan oleh Panitia Inti yang terdiri dari pakar di dalam bidang ini. Kompetisi tersebut menjadi motivasi para ulama yang dikaruniai oleh Allah kecintaan kepada Rasul-Nya untuk berlomba membuahkan karya gemilang. Tentunya sebagai seorang Muslim memiliki kecintaan yang sangat mendalam kepada Nabi Muhammad SAW. Mencintai baik perkataannya, perilakunya, tutur kata dan akhlaqnya, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surah Al Ahzab ayat 21. Maka dengan diadakannya perlombaan ini menjadi pembangun motivasi para sejarawan Muslim untuk semakin memperkuat kecintaannya pada nabi Muhammad dengan menulis sejarahnya. Hingga dengan kegigihan dan rasa cintanya pada Rasulullah SAW juga dengan rahmat Allah SWt, Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri mendapatkan juara 1 pada perlombaan tersebut. Gerak Sejarah Secara keseluruhan isi buku ini menceritakan secara kronologis bagimana perjalanan Nabi kisah hidup Muhammad, perjuangannya dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam, pengorbanannya dalam menegakkan nilai-nilai Islam dan juga nilai-nilai kemanusiaan, perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak kaum yang tertindas, dan berbagai kisah pengorbanannya juga perjuangannya yang dijelaskan secara runut juga berurut hingga akhir kisah hidupnya. Dengan penjelasannya yang sangat kronologis dalam menyampaikan kisah di dalam bukunya, penulis seakan membuat pembaca merasa terhipnotis seakan-akan turut hadir di dalam kisah Nabi Muhammad kala tenggelam dalam kalimat-kalimat yang dituliskan penulis dalam bukunya seakan seperti sebuah mantra yang mengikat pembaca. Uraian yang disampaikan dalam buku ini runtut menyampaikan bagaiman kondisi Arab yang sebelumnya penuh dengan kebobrokan moral, miris etika, penuh dengan hal-hal yang tidak bermoral seperti praktik pembunuhan, ekploitasi manusia, penyekutuan tuhan, dll, lalu dengan kronologis menjelaskan bagaimana kehadiran Nabi Muhammad membawa transformasi serta perubahan pada bangsa Arab. Berdasar teori gerak sejarah memiliki pengetian yakni alur yang memberikan gambaran mengenai bagaimana berjalannya proses sejarah, yakni berupa suatu pola kejadian dalam berbagai peristiwa kehidupan manusia. Gerak seharah Ini merupakan bentuk bagian dari pemikiran filsafat sejarah. Filsafat sejarah spekulatif adalah suatu perenungan filsafat tentang tabiat atau sifat-sifat gerak sejarah dalam keseluruhannya. Dalam kajianya terkait sejarah spekulatif tersbut terdapat setidaknya tiga hal pembahasan umunya yakni: pola gerak sejarah, motor yang menggerakan sejarah, dan tujuan gerak sejarah. Namun dalam beberapa kajian lainnya juga mencantumkan arah gerak sejarah. Jika membicarakan terkait pola gerak sejarah, setidaknya ada tiga pola gerak sejarah yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu: Gerak sejarah siklus, gerak sejarah linier atau garis lurus, dan gerak sejarah linier. Dengan ketiga pola gerak sejarah tersebut para ahli memiliki argumentasinya masing-
masing yang menjelaskan bagaimana sejarah berputar mengarungi zaman serta korelasi terhadap hari ini yang juga turut menjadi perputaran pada sejarah yang akan datang. Jika lebih mendalam lagi pada sa;ah satu pola tersebut, gerak sejarah linear atau garis lurus berdasar pendapat para ahli merupakan peristiwa yang berawal dari sebuah titik permulaan menuju sebauh titik akhir yang menjadi tujuannya. Terkait dengan gerak sejarah ini, dimana para penganut dalam bidang gerak sejarah ini berpandangan bahwa Tuhan ataupun nasib adalah satu-satunya yang dapat membentuk sejarah. Tokoh yang menggagas pemikiran sejarah ini diantaranya adalah St Agustinus dan Ibn Khaldun. Buku “Ar Rahiq Al Makhtum” memberikan gambaran berupa awal titiik permulaan dakwah bahkan sebelum dakwah dimulai, yang bergerak melalui jalan dakwah serta seruan kebenaran yang disorakan oleh Nabi Muhammad. Berjalan lurus kisah yang dituliskannya dari dakwah yang mulanya hanya dengan sembunyi-sembunyi lalu kemudian mulai berani secara terang-terangan, lalu mendapat berbagai kecaman dari berbagai pihak. Perlahan tapi pasti, gerak lurus dakwah tersebut mencapai titik tujuan tersampaikannya wahyu secara menyeluruh dan sempurnanya agama, hal tersebut sebagaimana diungkapkan melalui wahyu yang terakhir turun yang menjelaskan telah disempurnakannya agama Islam (Q.S. Al Maidah ayat 3, meski sebenarnya mayoritas ulama dan sejarawan Muslim lebih banyak berpandangan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Q. S. Al Baqoroh ayat 281) Sehingga secara runut dan kronologis kisah yang nabi yang disampaikan secara lurus dari sebelum, dan awal kelahirannya lalu turun wahyu, dan menyebarkan ajaran wahyu tersebut, hingga sukses mencapai tujuan dengan sampainya ajaran Islam secara menyeluruh di tanah Arab, hal tersebut menjadi gambaran sejarah yang tersampaikan melalui pola Linear, serta sempurna kronologisnya. Jika membicarakan arah geraknya, maka buku ini menyajikan gerak sejarah maju terkait kisah sejarah yang disampaikan. PENUTUP Kesimpulan Buku "Ar-Raheeq Al-Makhtum" karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri adalah sebuah karya yang sangat berharga bagi siapa pun yang ingin mempelajari kehidupan Nabi Muhammad SAW. Dalam buku ini, Mubarakpuri dengan teliti menggali sejarah dan sumbersumber yang sahih untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang perjalanan hidup Nabi dan pengaruhnya dalam membentuk agama Islam. Salah satu hal yang menonjol dari buku ini adalah metode historis yang digunakan oleh penulis. Mubarakpuri tidak hanya memberikan narasi tentang peristiwa-peristiwa penting dalam Sirah Nabawiyah, tetapi juga memberikan analisis sejarah yang cermat. Hal ini memberikan konteks yang penting dan memperluas pemahaman kita tentang masa dan tempat di mana Nabi Muhammad hidup. Buku ini juga memberikan pengajaran moral dan etika yang dapat diambil sebagai inspirasi oleh pembaca. Pengaruh Nabi Muhammad dalam membentuk masyarakat Muslim dapat ditemukan dalam hal-hal seperti kepemimpinan yang adil, kasih sayang terhadap sesama, dan pentingnya mengedepankan nilai-nilai kebaikan. Dalam hal gaya penulisan, buku ini menawarkan latar belakang yang cukup rinci tentang kehidupan Nabi Muhammad, memungkinkan pembaca untuk memahami konteks sejarah yang mempengaruhi peristiwaperistiwa dalam Sirah Nabawiyah. Gerak sejarah yang digambarkan dengan jelas, memberikan gambaran yang hidup tentang kejadian-kejadian penting dan perubahan sosial yang terjadi pada masa itu.
Secara keseluruhan, "Ar-Raheeq Al-Makhtum" adalah buku yang bernilai tinggi bagi siapa pun yang ingin mempelajari Sirah Nabawiyah. Melalui analisis sejarah yang cermat dan narasi yang terperinci, Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri memberikan pandangan yang mendalam tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, serta pengaruhnya dalam membentuk agama Islam. Buku ini adalah sumber inspirasi dan pemahaman yang penting bagi umat Muslim, serta bahan referensi yang berharga bagi mereka yang tertarik pada sejarah dan agama Islam. Daftar Pustaka Al Mubarakfuri, Shafiyurrahman. 1997. Ar Rahiq Al Makhtum. Jakarta: Pustka Al Kautsar.