2 Kata maaf terdengar simpel. Hanya terdiri dari empat huruf: m-a-a-f. Mudah sekali diucapkan. Tinggal membuka mulut sekali saja. Suara maaf akan keluar dari lisan. Sayang, tak sedikit orang yang justru sulit sekali mengucapkannya. Bisa jadi karena gengsi, malu, atau memang tak mau dan tidak mau mengucapkannya. Padahal, dia telah bersalah kepada orang lain. Ini bukti bahwa maaf tidak sekedar perbuatan lisan. Tapi digerakkan hati. Lalu, soal memaafkan. Memaafkan jauh lebih berat dari sekadar meminta maaf kepada orang yang telah dizalimi. Sebab, dia harus memaafkan orang lain yang telah menyakitinya. Butuh hati seluas samudera. Siapa sangka justru dengan memaafkan ini bisa membuat seseorang ke surga. Teringatlah kita pada hadis riwayat Ahmad. Sebuah hadis yang menceritakan salah satu kaum Anshar yang disebut-sebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Kabar itu disebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sampai tiga kali di depan para sahabat saat sedang bermajelis, “Akan muncul kepada kalian seorang penduduk surga.” Seorang sahabat dari Anshar muncul. Jenggotnya tampak basah bekas air wudhu. Tangan kirinya menenteng sendal. Tampak bersahaja. Namun, karena disebut-sebut calon penghuni surga hingga tiga kali, Abdullah bin Amir bin Al-‘Ash penasaran. Ingin tahu amalannya. Dia lalu izin untuk menginap di rumahnya. Ingin tahun amal apa yang kira-kira dilakukan? Ternyata dia tercenung. Selama tiga hari, tak ada amal spesial yang dilakukannya. Biasa saja. Dia juga tak mendapati orang tersebut shalat tahajud dengan bacaan panjang berjuz-juz. Dia hanya acapkali mendapatinya berzikir dan bertakbir saat terbangun. Dia pun penasaran dan bertanya amal apa sebenarnya yang dilakukannya? Jawabannya mengundang decak kagum. Katanya, dia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang Muslim pun. Siapapun yang bersalah kepadanya dimaafkan. Dia juga tak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada orang lain. Mendengar itu, Abdullah bin Amir kaget lalu berkata, “Inilah amalam yang mengantarkan engkau jadi penghuni surga. Dan, inilah yang tidak kami mampu.” Coba cermati teliti. Hadis ini menandakan derajat dan pahala memaafkan SALAM Maaf Oleh: : Syaiful Anshor, Humas AISBa AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
3 SALAM orang lain sangat tinggi. Dan, itu tidak mudah. Seperti yang dikatakan Abdullah bin Amir di ujung hadis itu: inilah yang tidak kami mampu. Ciri-ciri orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain satu: saat tak ada lagi dendam kesumat dalam hati. Hatinya lapang dan luas. Seluas samudera. Tak mudah tersakiti. Dua hal inilah—maaf dan memaafkan—harus sering kita lakukan. Juga harus diajarkan kepada putra-putri kita. Jangan sampai malu untuk meminta maaf saat berbuat kesalahan. Jangan karena merasa diri hebat, pejabat, kaya raya, dan sebagainya lalu gengsi meminta maaf. Juga jangan sampai tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Maafkanlah. Meski itu sulit dan pahit. Yakinlah jika bisa melakukannya akan ada pahala besar menanti Anda. Renungkanlah hadis berikut ini: اد َ َ ا ز َ َم َ ٍ ال و ِ ْن م َ َ ا نَق َص ْت َ صَدَقٌة م م َ َ اضَع َ َ ا تو َم ًّا و ِز ع َّ َ ْفٍو إِلا ِع ْ ًدا ب َُّه َ عب الل َُّه َ ُه الل َ َفع ر َّ ِ إِلا ه َّ ل ِ أ َح ٌد ل “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin membuatnya mulia. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim, no. 2588)* Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH
DAFTARISI 43 resensi Guru, Siswa, dan Cita-Cita 45 my story Camping Saat Ramadhan 46 RAMADHAN mubarak Sunnah-Sunnah Puasa 6 18 37 45 6 TARBIYAH Ramadhan, Saatnya Merevolusi Diri 2 salam Maaf 18 LAPORAN KHUSUS Sparkling Ramadhan 28 PERJALANAN Menapaktilas Gua Hira di Musim Dingin 37 SIAPA DIA Umroh Backpacker 4 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
Penasihat: Bapak. Ir. H. Muhammad Utama Jaya, Ir. Hj. Megawati. Pemimpin Redaksi: Syaiful Anshor Redaktur Pelaksana: Nur Hidayat Sidang Redaksi: Muflihin, Rahmat, Romadhan, Lilin Linda Saputri, Abdul Rofik, Randi Patajangan, Karindah Eka, M. Fadly Ihsan, Hanifah Rahmah, Dina, Nur Hidayat, Indah Yulianti. Desainer: Mustok Design Alamat Redaksi : Alamat: SD-SMP Al-Imam Islamic School Balikpapan. Ruko Kompleks Masjid Namirah Blok A2 Balikpapan Baru. 0542-8515762 WA: 0811533362 Pertanyaan, saran, dan kritik disampaikan ke E-mail: [email protected]. SUSUNAN REDAKSI Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pembaca An-Najah yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Alhamdulillah. Bahagia sekali kita dapat bertemu dan menikmati aneka hidangan ibadah yang bertabur pahala dan ampunan di bulan suci Ramadhan. Bulan istimewa yang jadi penghulunya segala bulan. Tak heran jika jauh-jauh hari, setidaknya dua bulan sebelumnya—Rajab dan Sya’ban—umat Islam bergembira menyambutnya. Aneka persiapan dilakukan. Intinya satu: ingin beramal shalih terbaik di bulan mulia ini. Ini juga yang dilakukan stake holder AISBa. Untuk menyemarakkannya sekolah mengadakan berbagai kegiatan edukatif dan religi. Komite AISBa tak ketinggalan. Momen ini dijadikan sebagai ajang fastabiqul khairat. Organisasi yang dimpimpin oleh Bunda Lidya Puspasari bahkan jauhjauh hari sebelum Ramadhan sudah tancap gas dengan menggalang dana kepada orangtua siswa. Pembaca yang budiman Dana itu untuk bakti sosial. Pembagian sembako kepada panti asuhan, berbagi ta’jil, tali asih guru, sembako warga sekitar, dan Mabit. “Tali asih ini sebentuk rasa terima kasih orangtua siswa kepada ustaz dan ustazah yang selama ini berikhtiar mentarbiyah putra-putri kami. Jangan lihat nilainya, tapi lihat apresiasi kami di baliknya,” tutur Bunda Kartika Dewi, Wakil Komite AISBa. Insyaa-Allah, jika tidak ada perubahan, kita akan merayakan hari raya Idul Fitri pada tanggal 22 April. Mari jangan pernah lelah untuk berdoa semoga seluruh amal shalih yang telah dilakukan diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala, diampuni segala dosa, dan meraih gelar takwa. Terakhir, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Redaksi SAPA REDAKSI Fastabiqul Khairat Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH 5
Ramadhan, Saatnya Merevolusi Diri Oleh: *Syaiful Anshor, Pimred An-Najah 6 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023 TARBIYAH S alah satu yang membuat bulan suci Ramadhan istimewa adalah Al-Qur’an. Di bulan puasa ini, kitab suci umat Islam diturunkan. Soal kapan waktunya, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 17 Ramadhan, di malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan—serta pendapat lainnya. Namun, itu bukan yang akan dibahas dalam tulisan ini. Yang akan kita bahas adalah surah yang pertama kali diturunkan itu: surah al-‘Alaq. Dari ayat satu sampai lima. Itu kenapa bulan ini juga disebut dengan bulan al-Qur’an (syahrul Qur’an). Bulan yang di dalamnnya diturunkan al-Qur’an. Jika ditelisik, ada hal sangat menarik pada awal kalimat surah ini: Iqra. Yang berarti, “Bacalah!” Dalam bentuk kata perintah (fi’il amar). Saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk membaca. Tempatnya di Gua Hira di puncak Jabal Nur yang tinggi. “Iqra, ya Muhammad!” pinta Jibril kepadanya sebanyak tiga kali sambil mendekap tubuhnya dan dijawab Muhammad, “Maa anaa bi qaari.” Saat menjawab perintah itu, tubuh Nabi Muhammad merinding, gemetaran dan berkeringat. Bingung. Takut. Lalu, timbul pertanyaan lagi: Apa yang dibaca? Sebab, dalam kajian bahasa, biasanya kata kerja berbentuk transitif—membaca—membutuhkan objek (maf’ul bih). Beda halnya bila kata kerja intransitif. Tak butuh objek. Tapi, ini kenapa dalam ayat ini tidak ada objek yang menyertainya? Tak ada objek bacaan itu menandakan begitu banyak objek bacaan yang harus dibaca manusia, terutama orang beriman: baik ayat qauliyah maupun kauniyah.
Ada penjelasan ulama yang menarik akan hal ini. Menurutnya, tak ada objek bacaan itu menandakan begitu banyak objek bacaan yang harus dibaca manusia, terutama orang beriman: baik ayat qauliyah maupun kauniyah. Namun, jangan hanya berhenti di situ. Jika hanya berhenti pada kegiatan membaca—literasi—an sich, bisa berbahaya. Nanti asal baca dan celaka. Tak jelas tujuan. Bisa tersesat. Karena itu, membaca—apapun objek bacaanya—harus diikuti bismi rabbik—dengan nama Tuhan-mu. Seperti tertera pada ujung ayat itu: Iqra’ bismirabbikallazi khalaq. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dari ayat di atas, sudah jelas. Basis bacaanya ini: Tauhid. Mengesakan Allah dalam segala bacaan: ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Apalagi pendidikan. Bidang yang tak bisa dihindarkan dari proses bacaan secara akademik di ruang-ruang kelas formal. Tentu bukan tanpa alasan Allah menurunkan surah al-‘Alaq sebagai surah yang pertama kali. Sebelum surah-surah lain. Ini berkaitan dengan kondisi peradaban jazirah Arab—terutama Mekkah ketika itu. Orang-orang kafir Quraisy hidup dalam keadaan jahiliyah. Seluruh keburukan dan kejahatan terjadi: perjudian, mabuk-mabukan, memb u n u h a n a k per e m puan, per zinah an, perkelahian, konflik, serta kejahatan lain. Puncak kezaliman itu adalah kesyirikan: menyembah selain Allah. Menjadikan berharal—Lata, uza, manat, hubal, dan lainnya—sebagai sesembahan. Inilah kebodohan paling tinggi. Dengan turunnya surah al-‘Alaq, mereka diajak membaca, merenungi, menadaburi sekaligus menyadari bahwa itu salah. Sesat. Tidak sesuai fitrah manusia. Tidak sesuai yang diajarkan para Nabi terdahulu dan juga agama yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: Islam. Masyaa-Allah. Lalu, apa yang terjadi? Perubahan besar terjadi. Perlahan-lahan tapi pasti, satu persatu penduduk Mekkah dan Madinah— dulunya Yastrib—memeluk Islam. Mereka mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Meninggalkan berhala-berhala sesembahan mereka. Juga berbagai macam kezaliman dan kemaksiatan yang selama ini dilakukan. Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH 7
Disusul surah-surah al-Qur’an selanjutnya. Lalu, dari proses itu munculnya sahabat Nabi yang luar biasa. Mujahid sejati. Sosok muslim yang dengan gagah berani berkata kepada orang-orang kafir Qurisya, “Isyhad bianna muslimun.” Saksikan kami seorang Muslim. - Muslim yang mulia adab dan akhlaknya. - Muslim yang lemah lembut tutur katanya. - Muslim yang hebat spiritualnya. - Muslim yang kuat fisik dan berani berjihad di jalan Allah. - Muslim yang orientasi hidupnya adalah akhirat. - Muslim yang menjadikan dunia hanya ladang untuk mencari bekal akhirat. Sahabat itu seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Afwan, Abdurrahman bin Auf, Bilal bin Rabbah, dan masih berderet-deret lagi nama sahabat yang nama, jasa, prestasi, amal shalih, dan keberkahan hidupnya yang ditulis dengan tinta emas dan mengabadi hingga sekarang. Ini bukti Al-Qur’an punya keistimewaan luar biasa: mengubah, menggerakkan, membedakan yang haq dan batil, dan mengarahkan ke jalan yang benar. Tak ada kitab di dunia ini yang sebanding dengan kitab suci umat Islam ini. Dia dijaga oleh Allah hingga hari kiamat. Saat al-Qur’an menghunjam ke dalam dada man u sia, maka perubahan itu seharusnya akan terjadi. Begitu juga dengan kita. Bukan hanya para sahabat Nabi. Karena al-Qur’an tak akan pernah mengalami perubahan. Satu huruf pun. AlQur’an yang dulu saat zaman Rasulullah hingga sekarang sama: mulai dari surah al-fatihah hingga an-nas. Para ulama telah sepakat. AlQur’an adalah kalamullah atau firman Allah. Membacanya tidak hanya akan mengundang pahala pada setiap hurufnya, tapi juga menggetarkan hati, menenangkan, dan menambah iman. Alhamdulillah. Sekarang kita sedang berada di bulan Ramadhan. Di bulan al-Qur’an. Saatnya memperbaiki kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan al-Qur’an. Tentu dengan tidak hanya memperbanyak tilawah dan tadabur, tapi yang lebih penting dari itu sejauh mana al-Qur’an merevolusi diri kita untuk jadi lebih baik lagi. Meski mustahil sekelas para sahabat. Paling tidak kita telah berikhtiar sebaik mungkin. Bismillah. Semoga Allah mudahkan.* 8 TARBIYAH AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
Walikota Balikpapan Apresiasi AISBa berkiprah memajukan dunia pendidikan di Balikpapan. “Kita berharap semoga sekolah ini dapat mencetak SDM anak-anak kita yang berkualitas yang cinta al-Qur’an dan menerapkan nilai-nilai al-Qur’an dalam setiap sendi kehidupan,” tuturnya. Dia juga berterima kasih kepada Yayasan Al-Imam Madinatul Iman yang telah turut serta meningkatkan pendidikan di kota Balikpapan. “Semoga yayasan ini mampu mencetak generasi yang berkualitas, berakhlak, dan beradab,” ucapnya lagi. Wisuda Terbaik Dalam kesempatan itu juga diumumkan enam wisudawan dan wisudawati terbaik. Wisudawan ikhwan terbaik kali ini jatuh pada Muhammad Athar Hamizan (9 Pa), Naufal Rafi Hermawan (8 Pa), dan Muhamad Ibrahim Yusuf (7 Pa). Sementara tiga wisudawati terbaik diraih oleh Keisya Faiha Nabila ( 8 Pi), Namora Ilma Tsabita (8 Pi), dan terakhir Ritzia Athifa Khairunnisa (8 Pi). Menurut koordinator tahfidz SMP AISBa, ustazah Hanifah Rahmah mereka telah berhasil meraih prediket mumtaz. Bahkan, dua di antanya telah hafal 30 juz: Muhamad Ibrahim Yusuf dan Ritzia Athifa Khairunnisa. “Semoga wisuda tahfidz al-Qur’an dapat memotivasi para siswa untuk menyelesaikan hafalannya. Jadi hafidz dan hafidzah 30 juz. Jadi anak anak yang sukses dengan al-Qur’an,” tutur kepala SMP AISBa, ustaz Abdul Rofik.* S MP AISBa mengadakan wisuda tahfidz al-Qur’an di aula Rumah Jabatan Walikota Balikpapan pada Ahad, 2 April lalu. Ini adalah wisuda ke-VI sejak sekolah Islam ini berdiri. Ada sekitar 84 siswa yang diwisuda. Turut hadir dalam acara tersebut Wali Kota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E, ketua Yayasan Al-Imam Madinatul Iman (YAMI), Bapak. H. Ir. Muhammad Utama Jaya, pejabat diknas Balikpapan, pengawas PAI SMP, dan orangtua siswa. Aula pun tampak penuh. Ketua YAMI, Bapak. Ir. H. Muhammad Utama Jaya mengucapkan terima kasih kepada Walikota Balikpapan yang telah banyak membantu SD-SMP AISBa hingga bisa berdiri sampai sekarang. “Beliau sudah banyak membantu AISBa. Bahkan sejak beliau masih jadi wakil walikota. Seingat saya kita sudah mengadakan acara dua kali di aula Rujab ini,” ujar suami Bunda Megawati ini dalam sambutan. Walikota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E mengaku sudah lupa kalau pernah membantu AISBa. Katanya, dia punya prinsip dalam berbuat baik untuk langsung melupakan. Jangan sampai diingat. Jika diingat bisa timbul riya. Tidak ikhlas. Orang nomor satu di kota kaya minyak itu juga mengapresiasi sekaligus mendoakan SD-SMP AISBa agar terus sukses dan berkembang. Kadang, niat baik saja tidak cukup. Ada saja gangguannya. Karena itu, dia berpesan agar AISBa terus Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH 9 KABAR SEKOLAH
Ujian yang Bikin Siswa Grogi dibilang objektif. Orangtua bisa lihat langsung anaknya diuji. Jadi kita sebagai orangtua bisa tahu. Anak bisa jawab atau tidak,” katanya kepada An-Najah usai ujian lisan bahasa Inggris di lantai dua gedung AISBa di bilangan beler. Hanya saja, lanjutnya, kadang anak belum terbiasa ujian lisan—apalagi bahasa Arab, Inggris, dan tahfidz al-Qur’an—dilihat langsung orangtua. Karena itu, putrinya terlihat masih agak malu-malu. “Anak SMP kadang memang masih malu. Tapi ini bagus untuk pembelajaran. Melatih mental siswa. Saya pernah baca jurnal, di usia SMP seperti inilah potensi dan talent anak sudah terlihat,” jelasnya lagi. Tak hanya Adin yang tampak grogi karena ujian dilihat kedua orangtua. Hal senada juga dirasakan Aleeya Yasmin Fathinah. Siswi kelas 7 SMP AISBa ini juga merasa grogi karena disaksikan ayahnya, Bapak Hendry. “Saya diuji juz 4 dan 5. Agak grogi karena dilihat Ayah. Ada beberapa ayat akhir juz 5 yang sampai lupa,” ujar Yasmin usai ujian kepada An-Najah. Seperti diketahui, SMP AISBa mengadakan Examination Authority. Ujian ini biasa diakronimkan jadi EXOT. Ada tiga pelajaran yang diujikan: Tahfidz, bahasa Arab dan Inggris. Tema EXOT SMP kali ini “Expand Your Advantage by Speaking Foreign Language.” Pengujinya semua dari luar sekolah. Ada delapan penguji yang didatangkan sekolah. Mereka adala Efka Wardhana, Fadriyana, S.Pd, dan Miftahul Ilmiah A.md. Ketiganya penguji praktik bahasa Inggris. Lalu, Rosmawati, SHI, Kasyful Anwari Haq, S.Pd. Keduanya penguji bahasa Arab. Sedangkan penguji tahfidz al-Qur’an M. Havizh Akmal, S.Pd, Aliyah Rusyaedah Irfam, Akbar Rizki.* Adinda Aisyah masuk ke dalam kelas dengan menyangklong tas ransel hitam berisi buku dan alat tulis di pundak. Siswi kelas 9 SMP AISBa ini tidak masuk ke dalam kelas sendiri. Adin masuk kelas bersama kedua orangtua: Bapak Hartono dan Bunda Hesti. Adin lalu meletakkan tas di sandaran kursi belakang lalu duduk. Diikuti kedua orangtua yang duduk tak jauh di belakangnya. Sebuah meja berukuran sedang berwarna agak kuning terletak di depan. Di atasnya beberapa lembar kertas tertumpuk. Kertas-kertas itu materi ujian bahasa Inggris. Ada beberapa tema di dalamnya. Yang mengetes penguji dari luar: Miss Miftahul Ilmiah. Miss Iing—sapaan akrabnya—dipanggil khusus oleh panitia sekolah untuk menguji bahasa Inggris. Sebuah backdrop berwarna perpaduan putih dan merah berukuran panjang tertempel di dinding, “EXOT—Examination Authority—Expand Your Advantage by Speaking Foreign Language.” “What is your name,” tanyanya dan dijawab Adin, “My name is Adinda Aisyah.” Setelah menanyakan biografi singkat Adin dengan berbahasa Inggris, Miss Iing lalu memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan lain. Pertanyaan itu kadang spontan. Kadang juga berasal dari materi yang terdapat di beberapa lembar kertas di atas meja. Saat dialog itu berlangsung, kedua orangtuanya mengamatinya dari jauh. Keduanya ingin tahu kira-kira apa yang sedang didialogkan. Lebih dari itu, dia ingin tahu apakah putrinya itu bisa menjawab soal lisan berbahasa Inggri atau tidak. “Konsep ujian seperti EXOT ini boleh KABAR SEKOLAH 10 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
AISBa Talkshow di SmartFM siswa selama ini yang muncul. “Hampir semua orangtua siswa menginginkan putra-putrinya tidak hanya sukses di dunia. Tapi juga sukses di akhirat dengan masuk ke dalam surga,” jelasnya. Lebih lanjut, katanya, AISBa hadir untuk memberikan jawaban dan solusi bagi harapan para orangtua siswa tersebut. Caranya, menyediakan lembaga pendidikan yang didesain agar para siswa dapat sukses di dunia dan akhirat. “Desain kurikulum AISBa berorientasi pada kesuksesan dua dimensi itu. Harapannya, siswa tidak hanya cerdas intelektual, tapi juga spiritual, benar aqidahnya, bagus adabnya, dan semangat beribadah,” jelasnya lagi. Sementara, Khalisah lebih banyak berbincang pengalamannya selama bersekolah di SMP AISBa. Katanya, dia merasa senang, nyaman, dan bahagia belajar hampir tiga tahun di AISBa. “Di AISBa saya belajar banyak hal. Mulai public speaking, bahasa, tahfidz al-Qur’an, sains, dan masih banyak lagi dengan guru-guru yang menyenangkan,” ujar peraih juara 1 pidato gelaran Graha NU beberapa bulan lalu.* S D-SMP AISBa mengadakan EXPO Pendidikan di radio awal Maret lalu. Acara tersebut dalam bentuk talkshow di radio SmartFM. Bertempat di gedung BRI Klandasan, Balikpapan lantai 5. Temanya, “AISBa, Jawaban Masa depan Ananda.” Narasumbernya Humas AISBa, ustaz Syaiful Anshor dan siswi kelas 9 SMP AISBa, Khalisah Yumna Salsabila. Dipandu penyiar senior SmartFM, Mas Edi. Ini kali pertama AISBa mengadakan EXPO pendidikan di radio yang berada di gelombang 97.8 FM. Tak hanya bisa dinikmati via radio, bincang pendidikan yang berlangsung sejam—dari pukul 16.00 – 17.00 WITA itu juga disiarkan life streaming melalui kanal youtube smartfmbalikpapan. “Tema kita ini serius sekali. AISBa Jawaban Masa Depan Ananda. Bisa dijawab kenapa bisa jadi jawaban ananda, ustaz?” tanya Mas Edi kepada narasumber. Kata Pimred An-Najah, judul itu tidak dibuat begitu saja. Sudah melalui kajian. Tidak asal-asalan. Menurutnya, jawaban yang dimaksud adalah harapan dari pertanyaan orangtua Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH 11
12 yah. Nanti sulit diletakkan ranting pohonnya. Bisa jatuh,” jelas alumni Universitas Muhammadiyah Purworejo, Jateng ini. Praktik belum selesai. Setelah ranting yang mirip pohon bonsai itu sudah dimasukkan, agar lebih kuat dan tidak mudah copot, ustaz Dayat— sapaan akrabnya—lalu menambah batu-batu kerikil di sekitar bagian atasnya. “Fungsinya selain menguatkan, juga menambah artistik bonsai buatan ini,” terangnya lagi. Menurut ustaz Dayat, kelas proyek sumatif Seni Budaya itu selain sebagai pelajaran, juga untuk tugas akhir siswa dan jadi salah satu syarat untuk mendapat nilai akhir pelajaran. “Usahakan kalian membuat bonsai buatan yang bagus. Bonsai buatan yang bagus bisa jadi legacy bagi kalian setelah lulus nanti. Jadi kenang-kenangan. Seperti saya dulu SD. Meski sudah bertahun-tahun, tapi masih ada di atas lemari kelas SD saya di Purworejo,” tuturnya.* Beberapa bahan bangunan tergeletak di atas keramik di lantai 4 gedung AISBa di kawasan Bukit Cinta Damai (BCD) awal Maret lalu. Bahan itu seperti batu koral, semen, pasir, palu, ember, dan pot plastik berukuran kecil. Ada juga ranting pohon dan dedaunan plastik. Di sebelah kanan dan kiri duduk siswa kelas 9 SMP AISBa. Sedangkan di tengahnya—di bahan-bahan bangunan itu—Ustaz Nur Hidayat. Mereka sedang tidak membuat bangunan rumah. Tapi sedang melakukan proyek sumatif Seni Budaya. Temanya membuat bonsai buatan. Guru sains ini mempraktikkan cara membuat bonsai buatan. Diawali dari menyiapkan pot plastik. Lalu, dimasukkan semen dan air secukupnya. Semen itu diaduk-aduk sampai benar-benar mencampur. Ranting pohon yang telah disediakan lalu diletakkan di tengahnya. “Usahakan saat mencampur semen dengan air jangan terlalu encer, KABAR SEKOLAH Saat Siswa Belajar Membuat Bonsai AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
13 yang akrab disapa Salsa ini, pertunjukan Students’ Day memberikan kesan dan pelajaran sangat berharga. “Kalau saya merasa lega dan bangga karena bisa mengingat teks skrip dengan baik,” ujarnya tersenyum. Menurut ustaz Ibad yang juga koordinator bahasa Inggris SD AISBa itu, Students’ Day adalah pertunjukan berbagai bidang yang dilakukan oleh siswa. Tujuannya untuk melatih bakat dan rasa percaya diri siswa. “Harapannya dengan kegiatan ini siswa dapat mengolah dan mengembangkan bakat-bakat terpendamnya, seperti bahasa, public speaking, saisn, pramuka, dan sebagainya,” ujarnya. Selain berbincang tentang kisah Students’ Day, ketiganya juga bermain games bahasa Inggris. Ustaz Rian memberikan game-game menarik berupa pertanyaan yang harus dijawab Mika dan Salsa dalam tempo tertentu. Selain dapat dinikmati via radio, talkshow tersebut juga bisa didengar secara life streaming di website idc fm di https:mediaonlineidc.com.* A wal Maret lalu SD-SMP AISBa kembali mengudara di radio Islam IDC FM di gelombang 89.5 FM dalam program bincang edukasi (Edutalk). Talkshow yang dipandu langsung oleh penyiar senior, Mas Uli Abdurrahman ini mengangkat tema “The Story of Students Day.” Hadir dalam talkshow ini tiga narasumber: ustaz Muhamad Ibad Qadarian, Iftitah Khairani Salsanabilla, dan Mikayla Anindya Matheos. Seperti judulnya, bincang yang berlangsung selama sejam—dari pukul 09.00 – 10.00 WITA— membahas pengalaman menampilkan beberapa pertunjukan di acara yang diadakan di gedung Kesenian Balikpapan itu. “Saya merasa lega sekaligus marah pada diri sendiri karena salah menyebut nama sendiri karena terlalu nervouse on the stage,” cerita Mika, siswi kelas 4 Pi mengenang. Pengalaman unik dan tak terlupakan juga disampaikan Iftitah Khairani Salsanabilla. Menurut siswi kelas 5 Pi Bahas Students’ Day dengan Bahasa Inggris Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH
Ujian di Kala Bunga Bermekaran Sesuai jadwal, ujian berlangsung hingga tanggal 20 Maret. Ujiannya dibagi dua bentuk: tulis dan praktik. Senin ini, khususnya 1 dan 2 SD AISBa mengikuti ujian tulis dan praktik bahasa Arab sekaligus. Usai ujian praktik, satu persatu siswa dipanggil untuk mengikuti ujian di tempat berbeda. Ada empat guru penguji praktik bahasa Arab yang telah siap: ustazah Dwi Nur Handayani, Ustazah Firstya Nanda Camilla, ustazah Sefty, dan Ustaz Akbar. “Masmu abiki?” tanya ustaz Tia— sapaan akrabnya—kepada Khairunnisa, siswi kelas 2 Pi. Di saat siswa kelas 1 dan 2 menjawab soal, siswa-siswa lainnya juga sedang berjuang menjawab soal tulis dengan pelajaran lain yang berbedabeda. “Senin ini dimulai ujian hingga beberapa hari kedepan. Semoga lancar, dimudahkan, dan siswa dapat hasil terbaik,” kata ketua kurikulum SD AISBa, ustaz Rahmat Romadhan.* Bunga-bunga di teras di depan sekolah di lantai tiga gedung AISBa pagi Senin, 13 Maret ini tampak mekar. Kelopak yang kecil dan tipis berwarna kemerahan itu tampak indah. Menjuntai di setiap batang di selesar teras. Sesekali bunga-bunga itu bergoyang ke kanan dan kiri disapu angin. Udara di lantai tiga di kawasan Bukit Cinta Damai ini lebih terasa. Suasana pagi yang indah dengan bermekarannya bunga jadi lebih sejuk. Sementara, di setiap ruang kelas di lantai satu, dua, dan tiga, para siswa sedang serius mengerjakan soal ujian. Satu persatu soal ujian dibaca seksama. Setelah yakin dan paham, jawaban itu lalu dibubuhkan di lembar jawaban. Sejak Senin, 13 Maret ini, SDSMP AISBa mengadakan ujian. Nama ujiannya ada tiga: Penilaian Tengah Semester (PTS), Sumatif Tengah Semester (STS), dan Penilaian Akhir Semester (PAT). KABAR SEKOLAH 14 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
15 besar ini. Karena saat media ini terbit— awal bulan Maret—bulan puasa tidak lama lagi akan tiba. Tulisan ini setidaknya jadi refleksi dan bekal menghadapi bulan puasa,” jelasnya lagi. Penulis buku “Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda” yang terbit Maret ini oleh Nyalanesia menjelaskan tema besar itu. Ramadhan adalah bulan tarbiyah. Ada tiga hal yang ditempa di dalamnya: ruhiyah, jasadiyah, dan fikriyah. “Harapannya kita dapat mengedukasi ketiga domain tersebut sehingga saat Ramadhan usai, kita kembali jadi mukmin yang tidak saja takwa, tapi juga cerdas fikriyahnya, kuat ruhiyahnya, dan sehat fisiknya,” imbuhnya. Selain rubrik utama tersebut, Ustaz Anshor juga membahas rubrik lainnya: Salam—Gelar Takwa—, Laporan Khusus—Maha Kayar Students’ Day, My School My Adventure—Cerita Seru di Taman Ilmu—dan rubrik lainnya. Seperti biasa, talkshow yang berlangsung selama sekitar sejam itu didampingi penyiar senior, ustaz Uli Abdurrahman. Mas Uli—sapaan akrabnya—membaca acara tersebut dengan ganyeng dan renyah.* Ruang studio IDC FM di lantai tiga di bilangan Sport Balikpapan Kota terasa agak dingin. Hawa dingin itu berasal dari alat pendingin udara yang tertempel di sudut ruangan yang dibalut pelapis berwarna hijau yang tak begitu luas. Tak hanya di dalam ruang studio itu, di luar gedung, hawa juga terasa agak dingin. Medio Maret lalu—saat redaksi An-Najah—mengisi talkshow program IDC Public radio Islam terbesar di kota Balikpapan itu hujan masih turun rintik. “Di luar masih hujan dan dingin. Sejak saya berangkat dari rumah di Sepinggan. Hujan ini sejak selama. Semoga hujan yang turun ini mengandung rahmat, berkah, dan manfaat,” ujar Pimred An-Najah, Syaiful Anshor mengawali talkshow. Ustaz Anshor—sapaan akrabnya— membedah beberapa rubik unggulan An-Najah. Maret ini media edukasi dan publikasi SD-SMP AISBa yang terbit bulanan secara digital—PDF dan AnyFlip itu—masuk edisi ke-24. Tema besarnya, “Sekolah Ramadhan.” “Sengaja kami mengangkat tema An-Najah Isi Talkshow IDC Public Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH
Dua Inspirasi dari Uji Petik Sekolah KABAR SEKOLAH 16 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023 Kepala SD AISBa, Ustaz Randi Patajangan melakukan study banding atau Uji Petik ke Jakarta dan Depok awal Maret lalu. Ustaz Randi tidak berangkat sendiri. Dia berangkat bersama sekitar 35 kepala Sekolah Dasar (SD) swasta Se-kota Balikpapan. Ada dua sekolah yang dituju: Sekolah Tugasku Jakarta dan SDI Ramhaniah Depok. Katanya, banyak hal yang didapat dari hasil uji petik selama empat hari di dua sekolah tersebut. Khususnya tentang program sekolah. “Usia Sekolah Tugasku sekitar 30 tahun. Sudah cukup tua. Menariknya sekolah tetap eksis bahkan berkembang sangat baik hingga sekarang,” ujarnya. Menurutnya, hal yang menarik dari Sekolah Tugasku adalah pengembangan literasi siswa. Terkonsep dan berjalan dengan sangat baik. Dampaknya, para siswa tidak hanya cakap menulis, tapi juga punya kemampuan komunikasi sangat baik. “Yang jadi school tour kita ya para siswa SD. Mereka dapat menjelaskan sekolah dengan sangat baik. Sangat profesional,” imbuhnya. Tak hanya itu, untuk siswa kelas enam juga harus membuat karya tulis ilmiah sebelum lulus. Seperti halnya skripsi, karya tulis itu juga ditulis dengan kaidah dan berdasarkan data dan teori. Menariknya, karya tulis itu juga harus dipresentasikan di hadapan guru penguji. “Selain program literasi yang tak kalah menarik, Sekolah Tugasku memiliki value core yang jadi konsen setiap stake holder untuk direalisasikan,” jelasnya. Nilai-nilai itu seperti kejujuran, kedisiplinan, kesabaran dan lainnya. Untuk menamakan itu, sekolah membuat berbagai program yang mengintegrasikan nilai-nilai tersebut. Sementara, inspirasi dari SDI Rahmaniah Depok adalah konsep sekolah yang ramah anak dan go green. Setidaknya, hal itu terlihat dari tiga hal: kawasan sekolah yang nyaman, guru yang tenang, dan siswa yang bahagia. “Kalau melihat dari konsep ini, dua sekolah ini sudah berpikir jauh. Melampaui tentang tentang akademik, prestasi dan sebagainya,” pungkasnya kepada An-Najah.*
17 mangat menanam pohon. Mulai dari membawanya dari gedung sekolah, mencangkul tanah, menanam, dan menyiramnya. Tampak Khalila--siswi kelas 6 SD AISBa--mengayunkan gagang cangkul dengan semangat. Tanah yang keras sampai berlubang. Menurut ketua panitia kegiatan tanam pohon, ustazah Anis Tri Wulandari, kegiatan tersebut untuk reboisasi sekaligus mencegah longsor. Itu kenapa penanaman pohon dilakukan di kawasan terasering. "Kegiatan ini dilakukan untuk merawat alam agar tetap hijau dan tidak longsor. Sebab, alam yang hijau dan indah investasi kehidupan yang mahal," ujar wali kelas 6 SD AISBa ini.* Murid SD AISBa pada Jumat, 31 Maret lalu punya kegiatan berbeda. Jika biasa belajar di dalam kelas, pagi ini mereka menanam pohon. Yang menanam tidak semua siswa. Tapi siswa kelas 4, 5, dan 6. Para siswa membawa alat dan bahan yang diperlukan: cangkul, sekop, pupuk, air, dan bibit pohon. Ada sekitar 12 pohon yang ditanam. Mulai dari klengkeng, rambutan, mangga, dan lainnya. Tempatnya di terasering yang tak jauh dari gedung sekolah. Posisinya agak naik sedikit. Dekat pintu gerbang sebelah Selatan sekolah. Meski berpuasa, tapi para siswa begitu berseCegah Longsor dengan Reboisasi Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH
18 LAPORAN KHUSUS AN-NAJAH | Ramadhan1444/April 2023 ramadhan Sparkling Ramadhan bulan istimewa. Berbeda sebelas bulan lainnya. Bulan ini disebut sebagai penghulunya bulan. Sayyidul syuhur. Di dalamnya penuh kasih sayang, ampunan, keberkahan, dan bertabur pahala. Itu kenapa umat Islam di penjuru dunia bahagia menyambutnya. Ulama salaf terdahulu bahkan enam bulan sebelum Ramadhan tiba, telah berdoa agar dipertemukan dan bisa menikmati aneka ibadah: wajib dan sunnah. Termasuk stake-holder SD-SMP AISBa: siswa, guru, dan komite. Berbagai macam acara diadakan. Pra atau pun saat bulan puasa. Seperti tarhib Ramadhan, pembagian sembako, takjil, mabit, tahajud, dan pawai. Acara ini begitu menyentuh siswa. Khususnya mabit. Siswa merasa sangat terkesan: ifthar jamaah, tidur bersama teman, dan tahajud bareng. Seperti apa meriahnya acara tersebut? Berikut tulisannya untuk pembaca.*
Ramadhan1444/April 2023 | AN-NAJAH 19 Mobil Ertiga putih itu berhenti di drop off sekolah. Pintunya dibuka. Dua siswa keluar: Sayyid Fadhil Azzamy dan Almira Naura Sakhi. Sore medio Maret lalu, dua siswa SD AISBa ini datang ke sekolah dari kediamannya di kompleks Sepinggan Pratama, Balikpapan Selatan. Keduanya membawa banyak barang bawaan: snack, minuman, pakaian ganti, bantal, selimut tebal dan empuk serta peralatan lainnya. Saking banyaknya barang yang dibawa dan berat, keduanya dibantu orangtua. Sayid dan Naura membawa perlengkapan cukup banyak. Biasanya hanya menyangklong tas di pundak. Berisi buku dan alat tulis. Kali ini berbeda. Barang rencananya akan dipakai saat Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) di sekolah hari itu juga. Tak hanya dua siswa ini, pemandangan serupa juga tampak dari siswa SD dan SMP AISBa lainnya. Satu persatu mereka datang dengan diantar orangtua ke sekolah. Barang yang dibawa juga banyak. Macammacam. Pundak mereka menyangklong tas sekolah. Sedangkan tangan kanan dan kiri menenteng selimut sleeping bag, bantal, makanan, dan keperluan lainnya. “Mau menginap di sekolah, Ustaz,” tutur Khalisah siswi kelas 9 Pi kepada An-Najah sesaat sebelum naik ke lantai tiga gedung AISBa di bilangan Beler, Balikpapan Kota sambil diantar ayah. Tempat mabit siswa SD dan SMP berbeda. Siswa SD di lantai satu dan dua. Siswa SMP di lantai tiga. Sesuai kelas. Barang bawaan diletakkan di kelas. Untuk siswa SD berkumpul di lapangan di bawah tenda besar. Sementara siswa SMP di mushola Daarul Ilmi di lantai empat. Jarum jam di dinding terus berdenting saat waktu shalat ashar beberapa menit lagi akan tiba. Siswa masih terus berdatangan. Sambil penuh keberkahan Detik-Detik
20 LAPORAN KHUSUS menunggu semua datang, siswa mengambil air wudhu dan berkumpul di bawah tenda di lapangan sekolah. Tenda itu cukup besar dan luas. Hampir memenuhi lapangan. Bagian tengahnya dibatasi hijab. Untuk ikhwan di bagian depan. Akhwat di belakang. Waktu shalat ashar tiba. Ahmad Havi Husain mengumandangkan azan. “Allahu Akbar....Allahu Akbar.” Suara azan siswa kelas 6 SD AISBa itu mengalun merdu. Menggema dan menyelusup ke setiap ruang kelas dari lantai satu sampai empat hingga ke seluruh selasar kawasan sekolah. Seluruh siswa sudah berwudhu, duduk rapi, dan siap shalat di bawah tenda. Salah satu siswa lalu iqamat. Siswa berdiri dan membentuk shaf panjang dan rapi. Mereka lalu shalat dengan diimami ustaz Syaiful Anshor. “Lurus dan rapatkan shaf,” ujar Pimred An-Najah ini. Shalat ashar dan wirid telah usai. Ketua panitia Mabit, Ustaz Khalil Rahman berdiri. Guru tahfidz SD AISBa berbadan tinggi besar ini mengumumkan beberapa peraturan Mabit lewat pengeras suara. “Seluruh siswa telah dibagi kelompoknya masing-masing. Jadi, tidurnya di kelas dengan teman yang telah dibagi,” jelasnya. Ustaz Khalil—sapaan akrabnya— lalu membacakan nama masingmasing kelompok. Semua siswa mendengarkan seksama. Takut terlewat. Katanya, setiap kelompok tidak satu kelas. Tapi dicampur dari berbagai kelas: 4, 5, dan 6. Biar lebih akrab lagi. “Perlu diingat. Tidak boleh memakai barang orang lain. Ghasab. Semua barang dan perlengkapan yang dibawa dijaga dengan baik. Jangan sampai hilang,” tambahnya lagi. Usai pengumuman, para siswa membawa barang ke kelas sesuai kelompok masing-masing. Suasana ini tampak seru dan mengharukan. Sebab, kali ini mereka harus satu kelas dengan siswa dari kelas yang lain. Lengkap dengan barang bawaan masing-masing. Acara dilanjutkan pembukaan oleh Kepala SD AISBa, ustaz Randi Patajangan. Kata ustaz Randi—biasa disapa—tujuan mabit agar siswa dapat pengalaman berpuasa dan juga bisa lebih fokus beribadah. “Insyaa-Allah, ada banyak kegiatan selama mabit ini. Mulai dari ifthar jamaai, tahajud bareng, tilawah alQur’an, hingga olahraga. Selain untuk mensyiarkan bulan Ramadhan juga agar kalian lebih berkesan,” jelasnya. Tausiah Tak terasa jam di dinding menunjukkan sekitar pukul 17.30 WITA. Waktu ifthar pun semakin dekat. Tiba waktunya tausiah ifthar. Tausiah diisi oleh Ustaz Syaiful Anshor. Judulnya, “Fadhilah bulan Ramadhan.” “Apa yang kalian lakukan jika ada tamu. Apalagi kalau tamu ini istimewa. Pejabat tinggi negara?” AN-NAJAH | Ramadhan1444/April 2023
21 tanyanya dengan lantang dan dijawab siswa dengan penuh semangat, “Menyambutnya sebaik mungkin.” Dia lalu menjelaskan, begitu pula Ramadhan. Bulan ini adalah tamu istimewa. Lebih istimewa dari sebelas bulan lainnya. Di dalamnnya bertabur pahala, rahmat, maghfirah, dan keberkahan. “Saking istimewanya bulan Ramadhan ini. Dulu ulama salaf menyambutnya dengan doa-doa terbaik sejak enam bulan sebelum Ramadhan datang,” jelasnya lagi. Lanjutnya, bulan Ramadhan harus dimaksimalkan sebaik mungkin. Setiap detik dan waktunya harus dihabiskan dengan kebaikan dan ibadah. Jika tidak, sia-sia belaka. Ramadhan pergi, kita tidak mendapatkan apa-apa. “Teringatlah pada hadis di mana banyak orang berpuasa tapi hanya dapat haus dan dahaga saja. Karena pahalanya telah tergerus oleh dosa,” tuturnya. Ifthar Berjemaah Waktu ifthar kurang sekitar sepuluh menit. Tausiah selesai. Seluruh siswa baik SD dan SMP bersiap berbuka puasa. Mereka duduk membuat shaf panjang saling berhadapan. Ada empat shaf di ikhwan. Di akhwat lebih banyak lagi. Para ustaz dan ustazah yang bertugas tampak membagikan ifthar: sekotak berisi aneka kudapan lezat. “Anak-anak sekalian. Doa orang berpuasa diijabah Allah. Mari detikdetik jelang ifthar ini kita perbanyak doa,” ujar kepala SMP AISBa, ustaz Abdul Rofik melalui pengeras suara. Para siswa pun tampak berdoa. Ada yang bersuara keras dengan berbahasa Arab. Ada juga yang pelan. Menu ifthar telah terhidang di depan mereka. Tak sedikit siswa yang bawa menu ifthar tambahan dari rumah. “Ustaz berapa menit lagi buka puasanya?” tanya seorang ustaz. “Kapan azan maghrib?” siswa lain menimpali lagi. “Ustaz, sudah laper banget, nih!” Tampak mereka sudah tak sabar lagi ingin berbuka puasa. Membolak balik makanan di depannya. Sesekali memegang permukaan makanan. Di tengah rasa lapar itu, tiba-tiba azan berkumdang. “Mari sebelum ifthar kita berdoa bersama. Bismillahirrahmannirrahim. Zahaba zhamau wabtallaatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru Insyaa-Allah,” Ustaz Muhammad Fadly Al-Ihsan memimpim doa.* Ramadhan1444/April 2023 | AN-NAJAH
22 LAPORAN KHUSUS Malam masih gelap. Hanya pendar lampu yang tampak dari rumah-rumah warga di kawasan Bukit Cinta Damai, Balikpapan Kota. Jam memang masih menunjukkan sekitar pukul 2 dini hari. Sepi. Sesekali yang terdengar hanya suara jangkrik dari balik rerumputan. Muhammad Auvar Al-Rasyid Gunawan masih meringkuk. Tidur nyenyak bersama teman-temannya. Udara dingin dari Air Conditioner di sudut kelas tak dihiraukan. Tubuhnya telah dihangatkan selimut tebal dan empuk. “Ayo...bangun. Wake up! Pray tahajud,” Ustaz Muhammad Ibad Qadarian membangunkan. Lampu kelas dinyalakan. Satu persatu selimut siswa disingkap. Termasuk Auvar. Seketika kedua bola mata siswa periang dan murah senyum ini mengerjap-ngerjap. Silau oleh cahaya lampu kelas yang terang. “Masih ngantuk, ustaz. Pegel dan capek,” terangnya. “Sudah. Bangun. Waktunya shalat tahajud,” jawab ustaz Rian. Tak hanya Auvar. Siswa yang lain juga tampak masih mengantuk: Raditya, Al-Ghazali, dan Ammar. Duduk sambil mata mengerjap-ngerjap. Tak biasa waktu dini hari seperti ini mereka bangun dan shalat tahajud. Biasanya masih tidur lelap di balik selimut tebal. Sebenarnya mereka ingin sekali menarik selimut dan melanjutkan tidur lagi. Namun, apalah daya, ustaz Rian masih berdiri kokoh menunggu mereka dengan setia. “Sudah, ayo bangun. Ambil air wudhu. Cepat. Nanti telat,” tegasnya. Mendengar itu, mereka lalu berdiri. Merapikan tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Pemandangan seperti ini tak hanya terjadi di kelas satu. Tapi juga di kelas lain. Tak mudah membangunkan mereka. Selain dibangunkan langsung juga lewat pengeras suara di sudut-sudut kelas. Beberapa siswa—baik ikhwan dan akhwat—serta ustaz dan ustazah telah berkumpul di lapangan. Mereka sudah siap shalat tahajud. Ustaz Rizki AN-NAJAH | Ramadhan1444/April 2023 melawan kantuk Perjuangan
23 Akbar lalu datang berdiri di depan di atas panggung kecil mulai mengimami shalat. “Allahu Akbar!” Guru tahfidz dan tahsin yang juga hafidz al-Qur’an ini ikut bertakbir. Suaranya yang indah dan merdu terdengar menggema meningkahi malam yang gelap. Para siswa di shaf di belakangnya yang masih digelayuti rasa kantuk ikut bertakbir. Sesaat setelah itu, Ustaz Akbar—sapaan akrabnya—membaca surah al-fatihah dan disusul surah lainnya. Panjang. Pertahanan para siswa mulai goyah. Sebagian tak kuat menahan kantuk. Goyang-goyang. “Ustaz kapan selesai? Ini sudah rakaat ke berapa, yah?” tanya salah seorang siswa. Seru Shalat tahajud salah satu agenda mabit paling berkesan bagi siswa. Betapa tidak, siswa harus bangun dini hari saat masih mengantuk. Itu juga yang dirasakan oleh Hilyatul Auliya. Siswi kelas 4 Pi ini mengaku butuh perjuangan untuk shalat tahajud. “Lagi enak tidur dibangunin. Belum lagi shalatnya lamaaa sekali,” ujar Hilya tersenyum. Bukan hanya tahajud. Kebersamaan dengan teman-temannya juga dinilai jadi kenangan yang begitu dalam. “Senang. Bisa ramai di sekolah bersama teman. Tidur bareng satu kelas” katanya lagi. Saat mabit, Hilwa—biasa disapa— membawa cukup banyak perlengkapan: kasur lipat, bantal, selimut, dan tas. Makanan juga tak ketinggalan. Moci, roti, dan minuman. “Buat persiapan makan kalau lapar nanti,” katanya. Ramadhan1444/April 2023 | AN-NAJAH
24 LAPORAN KHUSUS Arman Abdurrahman Nasution juga merasakan hal serupa. Siswa kelas 5 Pa ini mengaku bahagia bisa ikut mabit di sekolah. Seperti teman yang lain, dia juga mempersiapkan cukup banyak bekal. Dari persiapan tidur hingga makanan. “Saya bawa jaket, sleeping bag, bantal, handuk, selimut, dan sajadah. Kalau makanannya roti, coklat, wafer, dan susu,” tutur siswa berbadan tinggi besar ini. Menurutnya, dari berbagai kegiatan mabit, yang paling terasa adalah shalat tahajud. “Lama. Jadi ngantuk banget,” ujarnya. Tak hanya siswa SD yang harus berjuang melawan kantuk saat shalat tahajud. Segendang seirama juga dirasakan siswa-siswi SMP. Meski usia mereka lebih besar dan kuat, namun mereka ternyata juga merasakan hal serupa. Seperti dirasakan Fiola Artanti. Siswi kelas 8 Pi ini mengaku merasa ngantuk sekali saat dibangunkan untuk shalat tahajud. Sebab, katanya, dia telat tidur karena terlalu lama ngobrol bersama temannya. “Waktu dibangunin ustazah Hanifah saya ngantuk sekali. Sebenarnya mau tarik selimut dan tidur lagi,” ujarnya kepada An-Najah. Hal itu tak mungkin dilakukan. Ustazah pendamping menunggu para siswi hingga terbangun dan shalat. Tak hanya harus berjuang melawan kantuk saat bangun. Fiola juga harus berjuang saat shalat tahajud karena lama sekali. “Shalat tahajudnya sekitar sejam. Imamnya ganti-ganti. Dan semuanya lama. Yang paling lama saat Kaka Razi—siswa kelas 7 Pa—jadi imam,” ujarnya. Zafirah Aura Fitria punya kesan sama saat mabit di sekolah. Seperti halnya Fiola, Zafira—sapaan akrabnya—juga merasa sangat mengantuk saat dibangunkan shalat tahajud. Sebab, selama ini tak pernah bangun secepat itu. “Saya kalau di rumah dibangun Ayah. Anakku bangun...bangun,” ujarnya menirukan dan dijawabnya pendek, “Oke, daddy.” Berbeda saat mabit di sekolah yang membangunkannya bukan ayahnya, tapi ustazah Hanifah. Jadi, saat dibangunkan, dia menjawab, “Oke, ustazah Hanifah.” Shalat tahajud SD diimami oleh ustaz Akbar. Jumlah rakaatnya sebelas. Termasuk witir. Tempatnya di bawah tenda di lapangan sekolah. Sedangkan siswa SMP di mushola Daarul Ilmi. Yang jadi imam ada empat orang. Satu dari Ustaz Abdul Rofik. Tiga lagi dari siswa: Ahmad Ibrahim, Razi, dan Haikal. “Kalau SMP lama tahajud sekitar sejam. Siswa juga diminta jadi imam sebagai latihan sekaligus murajaah hafalan,” ujarnya Ustazah Hanifah Rahmah kepada An-Najah. AN-NAJAH | Ramadhan1444/April 2023
25 S ebuah e-flyer disebar. E-lyer yang dominan berwarna biru muda itu dipasang di status WhatsApp para ustaz dan ustazah juga anggota Komite AISBa. Tak hanya itu, e-flyer itu di-upload di media sosial AISBa dan juga komite: facebook dan instagram. Judul e-flyer itu adalah “Penggalangan Dana Bakti Sosial.” Rencanannya kegiatan itu akan diadakan di bulan suci Ramadhan. Yang mengadakan Komite AISBa. Tema yang diangkat “Sparkling Ramadhan Hype With AISBa.” Selain di-share melalui berbagai media sosial, e-flyer penggalangan dana ini dikirim ke group wali kelas SD dan SMP AISBa yang diikuti oleh orangtua siswa. Saat e-flyer ini disebar Ramadhan kurang sekitar dua pekan lagi. Komite sengaja tancap gas menggalang dana sebelum Ramadhan tiba. “InsyaaAllah, seluruh dana yang terkumpul untuk kegiatan sosial kepada masyarakat sekaligus mensyiarkan di Bulan Ramadhan Berbagi Kebaikan Islam di bulan Ramadhan,” ujar humas Komite AISBa, Bunda Yulfani kepada An-Najah. Seperti tertera di e-flyer, rencananya dana tersebut akan digunakan untuk kegiatan bagi bingkisan Ramadhan untuk panti asuhan, masyarakat sekitar, dan tali asih untuk para guru. Juga bagi takjil untuk pengguna jalan, dan mabit di sekolah. “Alhamdulillah, tak menunggu lama cukup banyak dana terkumpul. Para Ramadhan1444/April 2023 | AN-NAJAH
LAPORAN KHUSUS orangtua siswa bersedekah dengan sedekah terbaik mereka. Masyaa-Allah, luar biasa,” ujar Bunda Rindua Ayunda Chandra, siswi kelas 3 Pi. Untuk pembagian sembako diadakan di Yayasan Ummu Al-Maryam. Panti asuhan ini terletak di Kariangau atau sekitar 300 meter dari PT BUMA. Letaknya cukup jauh dari sekolah. Para siswa dan guru pendamping harus naik bus milik KODAM. Yayasan yang berdiri sejak tahun 1986 ini mengasuh sekitar 26 anak dari berbagai jenjang sekolah: SD dan SMP. Karena letaknya cukup jauh dari kota, panti asuhan ini jarang mendapat bantuan. Pada kesempaan itu, Komite memberikan bantuan berupa uang tunai sebanyak Rp 5 juta, paket alat tulis, dan paket jajan. Komite juga memberikan sembako seperti beras, minyak goreng, tepung terigu, sarden, kecap, sirup, mie, telor, dan kebutuhan lainnya. Tak hanya memberikan bantuan, para siswa dari kelas 3—ikhwan dan akhwat—yang ikut acara tersebut juga menghibur penghuni panti dengan menampilkan syair Palestina dan nazam Tuhfatul Athfal. Juga motivasi dari Ustaz Rizki Akbar. Sementara bagi takjil dilakukan bersinergi dengan siswa-siswi SMP AISBa. Ada sekitar 400 kotak ifthar yang dibagikan. Isinya aneka kudapan yang lezat. Salah satu titik tempat pembagian adalah perempatan lam26 AN-NAJAH | Jumadil Akhir 1444/Januari 2023
pu merah MT. Haryono. Setiap lampu merah dan kendaraan berhenti, mereka langsung turun membagikan ifthar. Siswa tak malu turun langsung ke jalan membagikan ifthar kepada para pengguna jalan. Bahkan mereka bahagia dan memotivasi pengguna jalan untuk semangat berpuasa. Seperti dilakukan Zafira. Siswi kelas 8 Pi ini sembari berbagi takjil selalu bilang, “Semangat puasanya, ya Bapak.” Bahagia Pembagian sembako untuk masyarakat sekitar diberikan kepada warga yang tinggal di lingkungan RT 32. SD-SMP AISBa juga masuk dalam kawasan ini. Ada sekitar 20 paket sembako yang diberikan. Pembagian diberikan langsung di kediaman Ketua RT. 32, Bapak Abdul Rahim. Acara tersebut dihadiri oleh ketua RT dan juga Ketua Komite, Bunda Lidya Puspasari berserta jajarannya. Pemberian sembako dilakukan secara simbolik kepada lima orang penerima. Salah satunya, Ibu Sukarsih, seorang janda yang selama ini bekerja sebagai tukang urut dan bekam. “Saya berterima kasih kepada Komite AISBa yang telah membagikan sembako. Ini sangat berharga untuk membantu kebutuhan dapur saya agar tetap bisa mengepul,” ujarnya. Hal senada juga disampaikan Ketu RT, Bapak Abdul Rachim. Katanya, bantuan itu sangat membantu warganya. Terutama warga yang tidak mampu. Dia juga berharap, dengan adanya kegiatan tersebut dapat lebih mengakrabkan lagi relasi sekolah dengan masyarakat. “Semoga kedepan juga ada acara serupa dan kita bisa dilibatkan agar masyarakat dengan sekolah bisa makin akrab dan bersinergi,” imbuhnya lagi.* Ramadhan1444/April 2023 | AN-NAJAH 27
PERJALANAN S etelah sekitar empat hari berada di tanah suci Mekkah, Syaiful Anshor bertemu kawan lamanya asal Yogyakarta, ustaz Mansur. Kesempatan itu tidak disia-siakan begitu saja. Humas AISBa ini mengajak pengisi kanal youtube Posda’i kota Gudek itu berziarah ke Gua Hira di Jabal Nur. Keduanya juga ditemani mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM), Faisal. Perjalanan seru. Berawal dari naik taksi dari Mekkah lalu mendaki Jabal Nur yang memakan waktu sekitar sejam. Seperti apa perjalan Pimred An-Najah itu menapaktilas Gua Hira? Berikut ulasannya untuk pembaca.* *** Ribuan merpati beterbangan di jalan di sekitar Masjidil Haram. Suara kepak sayapnya terdengar jelas. Setiap kali orang lewat, atau terdengar suara deru mobil askar dan taksi, burung-burung itu akan terbang dan hinggap di atas atap atau tiang listrik. Lalu, turun Menapaktilas Gua Hira di Musim Dingin 28 AN-NAJAH | Syawal 1444/Mei 2023
lagi dan mematuk-matuk makanan yang terhambur di sekitar ruas jalan. Pemandangan itu membuat suasana usai shalat ashar di jalan di sekitar Masjidil Haram terlihat indah dan syahdu. Ditambah lagi lalu lalang jemaah umroh dari berbagai negara yang berpakaian putih keluar masuk Masjidil Haram. Tak habis-habis. Sore itu, saya dan dua orang teman asal Yogyakarta—Mansur dan Faisal—akan pergi ke Jabal Nur. Qadarullah, saya bertemu dengannya di Mekkah saat menunaikan umroh. Sebelumnya, tak pernah menduga akan bertemu di tanah suci. Tahunya dari media sosial facebook. Padahal, sudah bertahun-tahun saya tak berjumpa dengan pengasuh kanal youtube Pos Da’i Jogja ini. Mumpung di Mekkah, kita lalu janjian untuk berziarah ke Gua Hira yang terletak di puncak Jabal Nur. Letak Jabal Nur tak begitu jauh dari tempat hotel saya menginap: funduq Al-Olayan Ajyad. Hotel ini sekitar tujuh menit dari Masjidil Haram. Begitu juga dua teman saya itu. Menginap di kawasan itu. Beberapa taksi sudah stand by dekat hotel. Saya pun tinggal berkata, “Ila Jabal Nur, ya Syeikh.” Sang sopir paham dan cepat menjawab, “Aiwah, udhul.” Sebenarnya, saya sudah tinggal sekitar tiga hari di sini. Hanya saja, belum kemana-mana. Masih fokus ibadah. Saya duduk di depan, di dekat sopir. Mansur dan Faisal di kursi belakang. Sopir yang bernama Syeikh Ali itu berkulit sawo matang. Jenggotnya agak tebal. Murah senyum. Tanpa menunggu waktu, dia melajukan taksi menembus kawasan Mekkah al-Mukarromah yang padat. Tampak gedung-gedung pencakar langit yang indah. Di sepanjang jalan sering dijumpai pohon kurma. Tinggi. Sedangkan di bawah, di pinggir-pinggir jalan itu terdapat aneka bunga. Di bawahnya selang panjang yang terkoneksi ke setiap bunga. Selang-selang itu secara rutin menyiraminya. Itu kenapa, meski Syawal 1444/Mei 2023 | AN-NAJAH 29
di daerah padang tandus, tampak hijau. Ada yang menarik dari kota Mekkah. Sangat berbeda dari kota-kota pada umumnya, termasuk di Indonesia. Jarang sekali terlihat plang, spanduk, iklan, dan gambar yang tertempel baik di sepanjang jalan maupun gedung. Apalagi foto artis yang mengumbar aurat. Tak ada. Hanya ada satu dua foto raja dan pangeran. Juga musik. Tak pernah terdengar. Beberapa menit kemudian, taksi melewati terowongan. Terowongan ini membelah bukit. Cukup panjang. Di atasnya bukit dan samping kanan-kiri dinding tebal. Di saat asyik menyetir, Syeikh Ali lalu menyitir ayat 15 dari surah at-taghabun, “Innamā amwālukum wa aulādukum fitnah.” “Shoh hazihil ayat?” tanyanya kepada saya sambil tersenyum dan saya jawab pendek, “Aiwah. Shoh, ya Syeikh!” “Ya, anak dan istri bisa jadi fitnah dan nikmat. Jadi nikmat kalau mereka dapat mendekatkan diri kita kepada Allah. Namun, jika menjauhkan kita dari Allah, maka dia jadi musibah,” jelasnya. Usai bertanya begitu, Syeikh Ali lalu bercerita tentang keluarganya. Dia punya dua istri dan sebelas anak. Katanya, tak sulit mengatur dua istri dan anak sebanyak sekaligus. Dia punya tips jitu dan waktu khusus. “Ada hari khusus bagi istri pertama dan kedua. Aman,” jelasnya tersenyum. Setelah itu, dia lalu bertanya berapa istri sahabat saya, Mansur yang duduk di belakang dan saya jawab, “Zawjatuhu faqot wahidah.” “Huwa rajulun jabbaanun. Hahaha,” jawabnya terkekeh-kekeh. Mansur yang duduk di belakang langsung menimpali, “Lastu jabbannan, ya Syeikh. Bal, akhaafu minallah.” “Laa..anta jabbanun,” Syeikh Ali tak mau kalah. PERJALANAN 30 AN-NAJAH | Syawal 1444/Mei 2023
31 jalan di sepanjang jalan menuju Jabal Nur. Sesekali taksi datang dan pergi. Mereka mengantar para jemaah atau wisatawan yang ingin berziarah ke Gua Hira. Beberapa menit kemudian, kami tiba pas di pintu masuk Jabal Nur. Banyak orang dan juga mobil di sekitar sini. Terjal dan Mendaki Saya berhenti sebentar. Menatap puncak Jabal Nur, menyeruput air mineral, dan menghelan napas panjang. Puncaknya masih tinggi. Butuh sekitar sejam mendakinya. Juga menuruninya. Total sekitar dua jam. Syawal 1444/Mei 2023 | AN-NAJAH Obrolan ganyeng penuh canda itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya taksi yang kami tumpangi tak terasa dekat Jabal Nur. Gunung terdapat Gua Hira itu tampak jelas dari bawah. Tinggi. Besar. Hanya saja, tak setinggi gunung yang ada di tanah air. Terlihat jalan setapak mengular dari bawah ke atas gunung. Jalan itu berliku, mendaki, dan sediki curam. Seluruhnya bebatuan. Tak ada satupun pohon yang terlihat di atasnya. Tampak orang-orang berpakaian putih menaiki gunung. “Orang-orang yang yang berbaju putih itu naik ke atas Jabal Nur mau melihat Gua Hira. Pergi dan ikuti jalan itu. Jangan lupa beli air minum di toko di sini dulu,” Syeikh Ali berpesan. Setelah agak melambat, taksi berhenti di jalan ke arah Jabal Nur. Beberapa mobil berhenti dan parkir di sana. Kami turun dan membeli beberapa botol air mineral ukuran kecil di toko yang ditunjuk Syeikh Ali. Udara menyambut kami. Dingin. Jalan sedikit berbelok dan menanjak. Kami menyusuri perkampungan di bawah Jabal Nur. Rumah-rumah penduduk berjejer rapi. Modelnya sama. Seperti segi empat yang bagian atasnya langsung jadi atap. Model atapnya berbeda dengan rumah-rumah di tanah air. Tak ada genteng. Apalagi anyaman daun rumbia. Sepintas, jalan menuju Jabal Nur yang membelah perkampungan mirip jalan di puncak Bogor. Mendaki dan kadang berbelok. Membuat napas agak tersengal. Apalagi, sudah lama sekali tidak mendaki gunung. Mobil-mobil banyak terpakir di pinggir
32 Perjalanan dilanjutkan. Kami berjalan menapaki setapak demi setapak jalan terjal yang mendaki. Semuanya bebatuan. Tak ada tanah. Tak ada pohon. Jangan khawatir, bentuk jalannya berundak. Seperti anak tangga. Di satu sisinya juga disediakan besi yang mengular. Fungsinya sebagai pegangan. Agar tak jatuh. Meski begitu, harus tetap waspada. Sering-sering melihat jalan. Sebab, batuan itu terjal. Jika tidak hati-hati, bisa terpeleset. Jatuh. Bahaya. Kami tidak mendaki Jabal Nur sendiri. Banyak wisatawan lainnya—khususnya jemaah umroh—yang juga mendaki Gua Hira. Ada juga seorang lelaki cukup tua bertubuh gemuk dengan dibantu tongkat. Dari wajahnya, dia bukan orang Indonesia. Mungkin Timur Tengah. Namun, meski bersusah payah, tapi dia berusaha untuk mendakinya. PERJALANAN Sore itu cuaca tak begitu panas. Matahari perlahan sudah beringsut ke ufuk timur. Sinarnya tenggelaman di balik awan putih yang menutup sebagian langit. Udara berhembus sepoi-sepoi. Sejuk. Akhir Januari di Mekkah masih musim dingin. Cocok untuk mendaki Jabal Nur. Meski begitu, keringat masih saja menetes. Membasahi wajah. Mungkin karena lelah. Di sepanjang pendakian, terdapat tempat istirahat. Bentuknya hamparan batu atau pasir yang tak begitu luas. Dari situ, kita bisa berdiri, duduk, dan istirahat sambil menekuri pemandangan kota Mekkah yang indah. Tampak rumah-rumah warga yang berjejer rapi di balik bukit-bukit yang tinggi dan tandus. Jauh di ujung sana—sekitar 7 kilo meter dari Jabal Nur tempat saya berdiri—terlihat Zam Zam Tower yang tinggi menjulang. Di AN-NAJAH | Syawal 1444/Mei 2023
33 ujungnya terdapat jam dan replika bintang sabit. “Masyaa-Allah. Pemandangan yang indah sekali. Bersyukur saya diberi kesempatan oleh Allah untuk datang ke tempat bersejarah ini,” ujar Mansur yang tak henti-hentinya menukuri setiap sisinya. Saya pun tidak menyia-nyiakan momen berharga itu. Mumpung sedang berada di sini. Entah kapan bisa ke sini lagi? Dengan gadget seadanya saya mengabadikan beberapa sudut kota Mekkah dari puncak Jabal Nur. Beberapa menit istirahat dan menikmati pemandangan yang indah, lelah seolah langsung sirna. Energi dan semangat mendaki langsung membuncah. Kami lalu bergegas menaiki Jabal Nur. Jangan khawatir jika haus dan lapar. Di beberapa sudut jalan ada penjual air mineral dan buah-buahan dan makanan. Kebanyakan penjualnya perempuan bercadar hitam bersama anaknya. Mereka menawarkan dagangan dengan berkata, “Indunisiee...” Mereka sudah hafal wajah orang Indonesia. Hanya saja, di beberapa sudut jalan ada juga beberapa orang yang meminta-minta. Kadang anak kecil kadang perempuan paruh baya. Ada yang bilang mereka bukan warga asli. Tapi, pendatang asal negara lain. Perjalan sudah cukup lama. Hampir sejam. Tak terasa kami pun sudah sampai di puncak. Masyaa-Allah, pemandangan indah sekali. Dari puncak itu, saya bisa melihat seluruh sudut kota Mekkah yang diberkahi. Tampak bukit-bukit yang tinggi. Di tengahnya kota yang padat dengan rumah-rumah warga. Juga gedung-gedung tinggi pencakar langit. Di puncak ini, angin berhembus kencang. Serban yang menutupi kepala beberapa kali harus dibetulkan. Jika tidak, bisa terbang. Untuk sampai di Gua Hira, kami harus berjalan beberapa meter lagi. Di puncak Gua Hira ada beberapa spot untuk beristirahat, berfoto, dan bahkan ada penjual makanan, cincin, gantungan kunci, buah-buahan, dan lainnya. Yang mengherankan di sini juga ada penjual Indomie. Awal Peradaban Gua Hira terletak di pinggir Jabal Nur. Pinggirnya dibatasi pagar besi. Sedangkan di sebelahnya tempat Syawal 1444/Mei 2023 | AN-NAJAH
PERJALANAN cukup luas. Ada beberapa orang yang melingkar dengan membaca zikir— entah apa bacaanya—dengan suara keras dan gerakan kepala memutar yang sama. Di sebelah Gua Hira terdapat lorong kecil. Mirip gua. Faisal—mahasiswa pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang lebih dulu masuk gua itu menyuruh saya memasukinya. “Kalau masuk gua itu bisa tembus depan Gua Hira. Lewat sini lebih cepat,” ujarnya. Saya dan Mansur lalu memasukinya. Kecil dan sempit. Hanya cukup satu orang. Itu juga saya harus betul-betul berhati-hati melewatinya karena pas di badan. Betul. Gua itu menghubungkan ke depan Gua Hira. Sesampai di ujung sana, saya melihat banyak sekali orang berkumpul di depannya. Tampaknya mereka dari berbagai negara. Fisiknya tinggi dan besar. Semuanya mengantri hendak masuk. Hanya saja, yang di dalam, sudah lama tak kunjung keluar. Mungkin mumpung bisa masuk Gua Hira, mau berlama-lama di dalam. Antrian sudah banyak. Saya juga ingin sekali masuk dan merasakan kondisi di dalam Gua Hira. Suasananya, udaranya, gelapnya, sempitnya, lantainya, dan dindingnya. Menjejak lantai dan meraba dindingnya. Merasakan dulu—14 abad lebih yang silam—Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam beruzlah di tempat ini. Gua Hira tak begitu lebar. Hanya cukup satu orang. Sempit dan gelap. Karena lama tak ada tanda-tanda dapat giliran masuk, saya pergi. 34 AN-NAJAH | Syawal 1444/Mei 2023
Tak apalah tak bisa masuk Gua Hira. Meski sudah sejam mendakinya. Yang penting, tadi sempat masuk ke dalam lorong gua. Meski bukan Gua Hira. Paling tidak, suasanya tak jauh berbeda. Sempit dan gelap. Saya beranjak ke bagian atas Gua Hira. Dari sini, saya dapat leluasa melihat kawasan Gua Hira: bejubelnya wisatawan yang ingin masuk, para pedagang, dan pemandangan sekitar yang indah. Senja terus berarak. Matahari beringsut pelan di ufuk timur. Suasana makin gelap. Angin berhembus kian kencang. Lamat-lamat, terdengar suara azan dari arah Masjidil Haram. Peristiwa itu kian teringat. Jelas. Sebuah peristiwa saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam beruzlah dan menerima wahyu di Gua Hira itu. Di tempat yang sempit dan gelap, tiba-tiba malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu dengan berkata, “Iqra’, ya Muhammad.” Nabi yang seorang umi—tidak bisa baca tulis—hanya bisa menjawab, “Maa ana bi qari.” Saya tak bisa membaca. Namun, Jibril mengulanginya hingga tiga kali sampai kemudian membaca surah al-Alaq satu sampai lima. Iqra` bismi rabbikallażī khalaq Khalaqal-insāna min ‘alaq Iqra` wa rabbukal-akram Allażī ‘allama bil-qalam ‘Allamal-insāna mā lam ya’lam Inilah peristiwa penting. Luar biasa. Awal mula Muhammad diutus jadi seorang Nabi dan Rasul Allah. Pada usia 40 tahun. Resmi mengemban amanah dakwah Islam kepada seluruh alam. Dan, Gua Hira tempat saya berdiri di situ saksi sejarahnya. “Alhamdulillah, ya Allah. Saya bisa menapaktilas tempat bersejarah ini. Hamba betul-betul bahagia dan terenyuh,” kata saya dalam hati. Azan telah usai. Suasana di sekitar Gua Hira makin gelap. Begitu juga kota Mekkah. Tinggal pendar-pendar lampu yang menyala dari kejauhan. Indah sekali. Saya dan Mansur lalu mengambil air wudhu dengan sebotol air mineral. Di sekitar situ tersedia sajadah. Tergeletak di beberapa sisi. Tinggal diambil. Khusus bagi yang mau shalat. Saya dan Mansur lalu shalat berjemaah. Saya jadi imam. Membaca surah al-‘Alaq. Kami shalat di atas batu yang tidak lebar dan agak miring ke samping. Jadi harus ekstra hati-hati. Jika tidak, bisa terpeleset dan jatuh. Suasana shalat itu terasa berbeda. Diterpa sepoi-sepoi angin Jabal Nur. Ini pertama kali saya shalat di atas Jabal Nur di dekat Gua Hira, tempat bersejarah sebagai tonggak awal perubahan peradaban di atas muka bumi. Semoga suatu saat bisa berziarah ke tempat ini lagi. Aaamiiin.* Syawal 1444/Mei 2023 | AN-NAJAH 35
KABAR KOMITE Medio Maret 2023 Komite AISBa mengadakan pengajian rutin bulanan. Pengajian diadakan di Mushola Daarul Ilmi gedung AISBa dan dihadiri puluhan Ibu-ibu— orangtua siswa—baik SD maupun SMP. Tema pengajian kali ini “Semua Anak Istimewa.” Hadir sebagai pembicara Ustaz Syaiful Anshor. Pimpinan redaksi majalah sekolah An-Najah ini membahas tema tersebut dengan menadaburi surah AtTin. “Surah At-Tin ini sangat menarik. Allah mengawalinya dengan kalimat sumpah— Wa attini—demi buah Tin,” jelas Humas AISBa ini mengawali kajiannya. Menurutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ujug-ujug menggunakan kalimat sumpat itu. Apalagi di awal surah. Pasti ada hal penting yang di baliknya. Baik objek sumpah itu maupun pesan yang akan disampaikan setelahnya. “Menariknya, dalam surah ini, Allah tidak hanya bersumpah sekali. Tapi juga tiga ayat berturut-turut. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini,” imbuhnya. Setiap Anak Istimewa, Lalu...? Ketiga hal tersebut—buah tin-zaitun, gunung Sinai, dan Mekkah—jika mengulik tafsirnya—salah satunya dalam kitab Ibnu Katsir—mengandung penjelasan yang sangat dalam dan penting. Lebih-lebih Mekkah yang diberkahi. Tempat suci di mana Rasulullah dilahirkan dan tanah haram yang dijaga Allah hingga hari kiamat. “Setelah kita menekuri tiga ayat di mana Allah bersumpah dengan ketiga hal tersebut, lalu kita melihat ayat selanjutnya yang berbicara tentang penciptaan manusia,” tambahnya lagi. Hal itu, lanjutnya, menandakan betapa penciptaan manusia begitu penting. Lebih-lebih lagi, dalam ayat itu jelas dikatakan Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik ciptaan. “Karena itu, kita harus menyakini bahwa tak ada produk gagal. Semua anak yang lahir—termasuk buah hati kita—adalah yang terbaik yang Allah anugerahkan kepada kita semua,” jelasnya. Pengajian berlangsung sekitar sejam. Di ujung acara, ada dua pertanyaan. Satu dari peserta—orangtua siswa—satu lagi dari pembawa acara langsung, Bunda Kartika Dewi yang juga wakil ketua Komite AISBa.* 36 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/Mei 2023
L ama tak jumpa keluarga membuat Ustaz Abdul Hannan dibelit rindu. Tapi, apalah daya. Rumahnya jauh. Berbeda negara. Asal Pakistan. Selain butuh banyak dana juga lama. Dia pun harus menahan buncahan rindu. Namun, seperti kata orang, rindu itu berat. Dia tak kuat. Awal Januari 2023 lalu, suami dari ustazah Hidayanti—koordinator bidang diniyah SMP AISBa—ini akhirnya memutuskan mudik kampung. Kedatangan itu dirahasikan. Tak satupun keluarga tahu. “Saya sengaja memberikan kejutan. Saat saya tiba di sana. Keluarga saya kaget. Tak menyangka sama sekali. Saking bahagianya mereka sampai menangis,” ujar guru bahasa Arab SMP AISBa ini kepada An-Najah. Setelah sepekan di Pakistan Ustaz Abdul Hannan lalu berangkat umroh. Ziarah ke tanah suci itu telah diagendakan jauh-jauh hari. Karena itu, usai rindu terobati, dia langsung pergi lagi. Kali ini ke tanah suci. Ustaz Abdul Hannan berangkat umroh backpacker. Sendiri. Tak ada teman. Apalagi travel umroh. Padahal, itu kali pertama ustaz berbadan tinggi besar dan berjanggut lebat itu menunaikan ibadah umroh. Tapi dia tak takut dan khawatir. “Lebih mudah dan enak umroh backpacker. Bisa lebih bebas mau kemana saja. Tak ada aturan dari pihak travel,” jelasnya. Yang membuatnya berani umroh sendiri karena punya teman, baik di Mekkah maupun Madinah. Seluruh keperluannya—termasuk registrasi penginapan (funduq) dan konsumsi—bisa meminta bantuan teman. “Saya tinggal hubungi teman. Alhamdulillah, semuanya dibantu. Jadi proses umroh semuanya berjalan lancar,” tuturnya. Ustaz yang fasih berbahasa Arab dan Inggris ini mengaku begitu menikmati setiap perjalanan umroh. Terlebih saat berada di Mekkah. Selalu menghabiskan waktu dengan berada di Masjidil Haram: Thawaf, zikir, dan menekuri Ka’bah. “Entah berapa kali saya thawaf. Pokoknya banyak,” ucapnya. Selain berada di Mekkah, dia juga berziarah ke Masjid Nabawi di Madinah. Dengan menggunakan bus, Mekkah – Madinah memakan waktu sekitar tujuh jam. Segendang seirama di Mekkah, dia juga begitu tenggelam dengan keberkahan kota suci itu. “Umroh itu nikmat sekali. Saya ingin umroh lagi. Hanya saja, bersama istri. Pasti terasa lebih nikmat,” harapnya. Semoga dikabulkan Allah, ya Syeikh.* Umroh Backpacker 37 SIAPA DIA Ramadhan 1444/Mei 2023 | AN-NAJAH
SILATURAHIM 38 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023 MY SCHOOL MY ADVENTURE Rubrik My School My Adventure edisi April kali ini masih membahas kisah seru siswi kelas 4 Pi SD AISBa dalam menimba ilmu. Ini adalah kompilasi tulisan siswi yang belum diturunkan. Ada banyak tulisan. Tapi redaksi memilihnya dan menurunkan secara bergiliran. Pada rubrik ini—seperti pada tulisan siswi sebelumnya—keempat siswi berikut—Hilya, Mia, Khanza, dan Avika—menulis pengalaman seru seBersama Menimba Ilmu lama belajar di AISBa. Mulai teman yang seru, ramah, humoris, dan pelajaran yang menantang. Bagi mereka, teman bukan sekadar teman belajar dan bermain. Lebih dari itu, teman adalah teman seperjuangan dalam suka dan duka menuntut ilmu. Teman juga saudara seiman yang harus disayangi dan dicintai seperti mencintai diri sendiri. Nah, seperti apa kisah mereka? Yuk, simak tulisan mereka khusus untuk pembaca An-Najah.*
39 Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Hai, AISBa friends...!!! Nama ana Hilyatul Auliya Sidqi. Panggil saja saya Hilya. Sekarang ana duduk di kelas 4 Pi SD Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBa). Di An-Najah di rubrik My School My Adventure ini, saya mau bercerita sedikit tentang teman-teman ana di kelas 4 Pi. Oh-ya, sebelumnya ana mau cerita kalau ana sebenarnya pindahan. Daaaan...teman pertama ana di sekolah ini adalah Anindya Sasikirana Gossal. Cukup panggil dia Anin, yah. Sebab, namanya panjang. Terdiri dari tiga kata. Anindya - Sasikirana – Gossal. Selain itu, teman ana yang kedua di sekolah Nabila Rifki atau biasa dipanggil Nabila. Oke, sekarang balik ke cerita awal, ya Teman. Ya, jadi di kelas ana itu lumayan banyak muridnya. Ada 19 orang, termasuk ana. Mereka itu orangnya lucu-lucu. Suka bercanda. Dan mereka itu baik sekali. Sering banget salah satu dari mereka itu menjadi pencair suasana jika suasana kelas sedang tegang dan menakutkan. Jika salah satu dair kami tertawa, Kita Semua Bersaudara yang lain pada ikut tertawa. Hehehe. Kalau habis shalat zuhur kan ada jam istirahat tuh. Nah, di jamjam itu pasti di kelas 4 Pi ramai banget. Tahu kenapa, Teman? Soalnya, biasanya di kelas itu ada halaqoh murid 4 Pi yang pastinya ngobrolin yang lucu-lucu. Dan....Ada juga yang nggak mau ketinggalan halaqoh itu. Mereka adalah Nayla, Nisrina, dan Khadijah. Kalau ditanya, “Siapa teman terbaik anti?” Ana akan jawab, “Semuanya!” Semua teman ana adalah teman terbaik ana! Karena kan, semua Muslim adalah saudara. Jadi, harus saling menyanyangi, membantu, dan saling perhatian. Jangan lupa untuk saling membantu, ya Teman! Menurut ana, teman-teman di AISBa itu sangat membantu saat ana baru mulai beradaptasi di sekolah ini. Mulai dari metode belajarnya, ikatan pertemanannya, sampai semuanya. Thank you all, my friends! Oke, segitu dulu ya ceritanya, Teman. Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH
MY SCHOOL SILATURAHIM MY ADVENTURE Assalamu’alaikum, Teman-teman! Perkenalkan. Nama ana Delvira Namia Aisyel Hadi. Biasanya teman-teman ana memanggil ana Mia. Pada kesempatan kali ini, ana mau cerita tentang kelas 4 Pi. Seperti juga teman-teman ana yang lainnya yang sudah bercerita di majalah sekolah An-Najah bulan Maret lalu. Teman-teman tahu nggak? Di kelas ana itu seru banget. Soalnya di kelas ramai. Banyak teman. Dengan berbagai macam karakter dan perilaku. Ada yang lucu. Serius. Pendiam. Suka bercanda. Gado-gado. Campur-campur. Yang paling menarik, temanteman ana itu baik banget. Shalihah. Insyaa-Allah semoga semuanya calon ahli surga. Aaamiiin. Di antara banyaknya teman yang saya kenal, teman yang paling dekat ana itu Anin, Nayla, Dena, dan Nisrina. Bersahabat Hingga ke Surga Dan, menurut ana teman yang paling berpengaruh di kelas itu Nayla. Soalnya, kalau Nayla nggak masuk kelas, pasti suasana jadi sepi banget. Soalnya Nayla orangnya seru. Humoris. Kalau Anin orangnya ramah, baik, dan pintar gambar. Apalagi gambar digital. Hasilnya bagus banget. Kalau Dena itu sabar banget. Sedangkan Putri ketua kelas. Dia teman yang baik banget. Pintar matematika. Dia juga adil dan ramah. Kalau Mikayla orangnya juga ramah. Paling nggak suka keributan. Tapi pintar dan shalihah. Sampai di sini dulu ceritanya, ya Teman. Semangat terus belajarnya. Yuk, bersama-sama belajar meraih cita-cita. Semoga Allah mudahkan setiap urusan kita. Bersama di kelas dan bersama di surga. Aaamiiin. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh 40 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
Assalamu’alaikum, AISBa Friends! Nama ana Khanza Alinka Dian Amin. Panggil saja Khanza. Begitu biasanya teman-teman memanggi ana. Sekarang ana duduk di kelas 4 Pi di SD AISBa di jalan Beler, di kawasan Bukit Cinta Damai, Balikpapan Kota. Di majalah An Najah ini, ana mau cerita sedikit tentang dua teman ana. Keduanya teman yang begitu baik kepada ana. Selalu membantu dan berada di samping saya. Baik di kala suka maupun duka. Teman pertama ana yang baik itu bernama Saffanah Abinaya Setiawan. Panggilannya Naya. Orangnya ceria dan murah senyum. Suka membuat suasana kelas selalu seru dan menyenangkan. Ana dan Naya sering membersihkan kelas bersama. Naya pegang serok sedangkan saya menyapu. Kita kadang bersihkan kelas hampir setengah jam. Itu kami lakukan agar kelas tempat belajar kami tetap glowing dan bersih. Kalau bersih dan sehat kan jadi enak dan nyaman buat belajar. Ohya, sedangkan teman kedua saya adalah Mikayla Anindya MaDua Teman yang Baik Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH 41 theos. Biasa dipanggil Mika. Sama seperti Naya, Mika juga suka membantu ana saat belajar. Waktu itu, ana sedang kebingungan. Dan, dengan murah senyum, Mika datang membantu. Alhamdulillah, selesai. Begitu dulu cerita dua ana yang baik, ya teman. Semoga persahabatan ini tidak hanya di dunia, tapi Insyaa-Allah, sampai ke jannah. Aamiiin. Uhibbukum fillah, Teman.* Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
MY SCHOOL SILATURAHIM MY ADVENTURE Belajar di AISBa itu Seru dan Asyik 42 Assalamu’alaikum. Nama ana Avika Hawari Barkah. Sekarang duduk di kelas 4 Pi. Panggilannya Avika. Ana sekolah di SD AISBa. Ohya, ana mau cerita tentang AISBa. Tempat sekarang ana menimba ilmu. Guru-guru ana di AISBa itu seru-seru banget. Begitu juga teman-temannya. Seruuuuuu sekali. Teman pertama saya di sekolah dulu Dena. Ana bertemu dengannya saat kelas 1 SD dulu. Tapi, teman pertama kali ana lihat Anin. Ohya, mau tahu nggak pelajaran yang paling ana suka? Ya, ya, ya! Itu adalah english, arabic, dan matematika. Bagi ana, semua pelajaran tadi seru dan menantang. Asyik dipelajari. Meski pelajaran bahasa Inggris banyak game-nya, tetapi seru dan asyik banget. Hehehe. Dan, teman ana di kelas 4 Pi ada yang suka ribut. Tapi tetap asyik. Bikin seru, bikin ketawa, bikin bahagia. Siapa lagi kalau bukan Naya? Sehat dan semangat terus belajar, ya Teman. Ilal liqoooo...! Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
RESENSI Buku “Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda” ini ditulis oleh Syaiful Anshor berdasarkan kisah nyata. Based on true story. Hanya saja, buku setebal 181 halaman terbitan Nyalanesia Januari 2023 ini ditulis dengan gaya bertutur atau features seperti novel. Ustaz Anshor—biasa disapa—guru SD-SMP AISBa. Bergabung di lembaga pendidikan yang didirikan sepasang suami istri—Bapak H. Muhammad Utama Jaya dan Bunda Megawati sudah sekitar tujuh tahun. Banyak hal dilalui dan dirasakan: mulai jadi guru, wali kelas, dan kini humas sekolah. Guru, Siswa, dan Cita-Cita Judul terjemahan : Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda Penulis : Saiful Anshor Penerbit : Nyalanesia Tebal : 181 Halaman Cetakan Pertama : Januari 2023 Waktu yang cukup lama itu membuatnya menekuri dunia pendidikan, berinteraksi dengan banyak orang: siswa, guru, dan orangtua. Tak lebih jika buku ini sedang bertutur tentang guru, siswa, dan cita-cita. Banyak kisah pengalaman sebagai guru yang ditulis. Penuh suka dan duka. Selaksa kisah itu ditulis dengan sudut pandang edukasi yang mengandung inspirasi dan nilai. Di bab awal, dia menulis sulitnya jadi guru SD. Apalagi sekolah baru. Mendidik anak-anak kecil. Butuh energi, kesabaran, dan metode khusus. Saking sulitnya mengajar, dia hendak resign dari sekolah. Tak kuat. Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH 43
Yang menarik dari buku ini juga kisah siswa. Penulis mengibaratkan mereka bak bintang di langit. Kelap-kelip cahayanya begitu indah. Itulah mereka. Siswa. Di balik sifat manja, berbagai macam karakter, ada yang super aktif, menyimpan aneka potensi dahsyat. Jika potensi itu digali dan dikembangkan dengan baik, kelak, mereka tak hanya jadi bintang di langit di malam hari, tapi jadi matahari yang bersinar terang. Menerangi penjuru bumi: dari barat sampai timur dari selatan hingga ke utara. Indah dan bermanfaat. Tak hanya itu yang membuat buku ini menarik dibaca di setiap halamannya. Kisah tentang cita-cita siswa juga mencuri perhatian. Ada banyak impian siswa yang digantungkan setinggi langit: dokter, panglima TNI, ulama, presiden, pengusaha, insinyur, polisi, dan masih banyak lagi. Menariknya, dari berbagai cita-cita itu, ada satu cita-cita yang mengundang decak kagum: jadi hafidz-hafidzah. Ya, cita-cita ini jadi impian tertinggi mereka. Lebih dari cita-cita apapun. Itu kenapa, mereka bersekolah di sekolah Islam berbasis tahfidz al-Qur’an ini. Jadi apapun mereka kelak, yang penting harus jadi hafidz-hafidzah. Atau paling tidak, jadi penghafal alQur’an meski jika tidak sampai 30 juz. Impian itu bukan tanpa alasan. Jika satu persatu mereka ditanya alasannya, mereka punya jawaban sama, “Sebab, kami ingin menghadiahkan mahkota indah untuk Ayah dan Bunda di akhirat kelak.” Cita-cita itu bukan isapan jempol semata. Penulis merekam perjuangan para siswa dalam mewujudkannya. Para siswa begitu bersemangat belajar dan menghafal al-Qur’an. Tak kenal lelah dan waktu. Meski di tengah seabrek pelajaran dan aktivitas, tapi tetap saja bersemangat menghafal. Hasilnya pun bisa dilihat. Dalam buku ini, penulis menulis siswi yang telah hafal 30 juz mutqin dan beberapa siswa lainnnya yang punya hafalan cukup banyak. Seperti kisah dua siswa kembar—Ahmad El-Shirazy dan Ahmad Al-Ghazali—yang begitu bersemangat menghafal al-Qur’an. Juga kisah Ritzia Athifa Khairunnisa siswi SMP AISBa yang telah jadi hafidzah dengan segudang prestasi. Baik lokal, nasional, bahkan internasional. Semua itu ditulis dengan di dalam buku. Tak berlebih jika buku ini sangat cocok dibaca oleh siapapun yang bergerak dalam dunia pendidikan: kepala sekolah, guru, siswa, dan orangtua. Buku ini tidak hanya berisi kisah “bintang-bintang kecil” yang berjuang jadi penghafal Qur’an, tapi juga tentang kurikulum, metode pembelajaran, manajemen kelas, program sekolah, dan pengalaman inspiratif lainnya. Memang tulisan buku ini tak begitu banyak dilengkapi teori. Namun, dalil, untaian hikmah, dan pengalaman itu setidaknya bisa jadi inspirasi dan solusi edukasi buah hati. Seperti ungkapan pepatah “Experiences is the best teacher.” Dan, buku ini adalah salah satu dari pengalaman itu.* 44 AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
MY STORY Assalamualaikum semuanya. Perkenalkan, nama ana Zainab Humairoh Zharifah. Hari ini ana ingin bercerita pengalaman ana saat kemping pada bulan Ramadan. Pada saat di pertengahan Ramadhan tahun lalu, Abi ana mendapatkan undangan kemping dari komunitas mobil. Saat Abi ana memberitahu kami, ana sangat senang. Kebetulan acara kempingnya di pantai. Ana suka banget pantai karena terlihat indahnya bintang pada malam hari. Saat tiba di pantai, ana bertemu teman-teman ana. Saat menjelang buka puasa, ibu - ibu membuat es sirup, makanan gorengan, dan banyak lagi. Pada saat shalat maghrib, kami pergi ke musola dekat pantai. Setelah itu kami mengaji bersama. Saat pulang salat maghrib, ibu-ibu membuat makan malam. Sedangkan bapak-bapak merakit tenda. Sementara itu, ada beberapa bapak lainnya yang memanjat pohon kelapa untuk mengambil buahnya. Kelupa muda rencananya akan dihidangkan saat makan malam nanti. Alhamdulillah, waktu yang ditunggu tiba. Kami semua berkumpul untuk Camping Saat Ramadhan makan malam. Ana sadar kenapa komunitas mobil ini mengadakan acara kemping? Ternyata untuk menjalin dan mempererat tali silaturahmi. Setelah makan malam, kami pergi salat isya. Sampai di tenda ana sudah lelah dan ana pun tidur duluan. Ketika bangun tidur untuk sahur, ana masih mengantuk. Namun tetap sahur dan salat subuh berjemaah. Sekitar pukul delapan pagi, ana dan teman teman ana berenang di pantai. Setelah itu baru bersiap pulang ke rumah. Demikian dulu cerita saya Oleh: *Zainab Humairoh Zafiroh, Siswi kelas 6 Pi SD AISBa Ramadhan 1444/April 2023 | AN-NAJAH 45
Ramadhan adalah bulan istimewa. Beribadah di dalamnya pahala akan dilipatgandakan. Jangankan yang ibadah wajib, yang sunnah juga demikian. Lalu, amalan sunnah apa saja yang dapat kita lakukan selama bulan suci Ramadhan? Berikut beberapa daftar sunnahsunnah berpuasa dikutip dari bulan “Buku Ramadhan Jalan Menuju Surga” terbitan Pustaka Ibnu Umar. Semoga kita dimudahkkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengamalkannya di sisa-sisa Ramadhan yang tak lama lagi meninggalkan kita. - Mengakhirkan sahur hingga bagian malam yang terakhir selama tidak khawatir terbit fajar. Rasulullah bersabda, “Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. AlBukhari) - Menyegerakan ta’jil jika matahari terbukti terbenam, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka pausa.” (HR. Bukhari) - Menjauhi perbuatan keji dan kotor, ucapan dusta dan semua yang diharamkan Allah. berdasarkan Sabda Nabi Muhammad, “Jika pada hari salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat sia-sia dan janganlah berbuat kegaduhan. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah dia mengatakan, “Aku sedang berpausa.” (HR. Bukhari) - Berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma segar) jika tidak ada, maka dengan kurma. Jika tidak ada, maka dengan air. - Tidak memperbanyak makan, dan cukup dengan apa yang dapat menyehatkan badan. - Banyak bersedekah dan memberi makan. Sungguh Nabi Muhammad pada bulan Ramadhan adalah orang yang lebih dermawan dengan kebaikan dibandingkan angin yang berhembus. - Membaca al-Qur’an dan mempelajarinya. Sungguh Jibril menyimak bacaan al-Qur’an Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di bulan Ramadhan. - Shalat tarawih bersama kum Muslimin di masjid dan melakukannya dengan sempurna bersama imam. - Menambah ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan berusaha mencari Lailatul Qadr pada malam-malam ganji. - Beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.* Sunnah-Sunnah Berpuasa 46 RAMADHAN MUBARAK AN-NAJAH | Ramadhan 1444/April 2023
SelamatHariRaya Idu 1Sya l wal F 1444 i H tri YAYASANAL-IMAM MADINATULIMAN DANSD-SMPAL-IMAM ISLAMICSCHOOL MohonMaaf LahirdanBatin َتَقَّبَلالَّلُهِمَّناَوِمْنُكْم