SMP AISBA Selenggarakan Praktik Fardhu Kifayah KARYA SISWA S iswa kelas 8 SMP AISBA mengikuti kegiatan praktik fardhu kifayah pada Jum’at, 17 Mei ini. Kegiatan yang berlangsung di Aula Daarul Ilmi, Lantai 4 Gedung AISBA di kawasan Bukit Cinta Damai (BCD) diisi oleh Ustaz Usman Ladullah, Lc. Menurut PIC bidang Diniyah SMP AISBA, Ustazah Sabiroh, kegiatan ini tindak lanjut dari pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas 8. Dalam pelajaran yang diampu Ustazah Jihan Manida, alumni Pesantren Gontor, Ponorogo itu terdapat materi fardhu kifayah. “Nah, untuk menguatkan pemahaman siswa diadakan praktik fardhu kifayah oleh praktisinya langsung,” ujarnya. Kegiatan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai pukul 07.40 – 09.10 WITA. Pada sesi ini membahas teori fardhu kifayah: talqin, memandikan, mengkafani, hingga menshalati. Sedangkan sesi kedua berlangsung dari jam 9.30 – 11.00 WITA dengan praktik langsung. Dalam praktik tersebut, alumni Universitas AlAzhar, Kairo, Mesir itu membawa alat langsung untuk praktik. Mulai kain kafan, ember, gayung, dan lain sebagainya. Ustaz Usman—sapaan akrabnya—mempraktikkan satu persatu fardhu kifayah. Agar lebih mudah dipahami, dia menunjuk siswa untuk jadi contoh. Siswa tersebut dikafani dengan beberapa lembar kain kafan putih yang bersih. Setelah tubuh siswa tersebut dibalut kain kafan, beberapa sudutnya lalu diikat. Praktik itu tidak hanya dilakukan oleh siswa ikhwan. Tapi juga akhwat. Mereka mengikuti dan mempraktikkan langsung. Setelah praktik mengkafani, baru praktik shalat jenazah. “Semoga dengan praktik fardhu kifayah ini para siswa paham cara melakukannya. Meski bersifat fardhu kifayah, tapi setiap Muslim harus tahu tata caranya,” ujar Ustaz Usman.* Dzulhijjah 1445/Juni 2024 | AN-NAJAH 51
Kala Orangtua Hadiri Ujian Siswa KARYA SISWA Humaira Khirani Putrian duduk di kursi. Pandangannya ke depan. Ke arah beberapa lembar kertas bergambar dan bertuliskan bahasa Arab yang tergeletak di atas meja belajar kayu berwarna coklat. Di depannya duduk Ustazah Dwi Nurhadanyani. Sementara, Ayah dan Ibunya duduk tak jauh darinya. Keduanya tampak memerhatikan putri ketiganya itu dengan seksama. Kedatangan kedua orangtua Humaira—begitu biasa disapa—untuk menghadiri Examination Authority (EXOT) putri ketiganya pada Selasa, 21 Mei di SD AISBA. EXOT adalah ujian lisan dengan tiga mata pelajaran: bahasa Arab, bahasa Inggris, dan tahfidz al-Qur’an. Pengujinya guru dari luar. Saat itu, siswi kelas 1 Pi SD AISBA ini sedang menjalani ujian lisan bahasa Arab. Pengujinya, Ustazah Dwi Nurhandayani. Alumni pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. “Maa hazihi, ya Humaira?” tanya ustazah Dwi sambil jarinya menunjuk gambar apel yang tertera di kertas di depannya. Tak perlu lama, Humaira langsung menjawab, “Hazihi tuffahatun.” “Wakam tuffahatan hazihi,” tanyanya lagi dan dijawab, “Wahidatun.” Ustazah Dwi tak hanya bertanya kosa kata tentang buah, bilangan, dan data personal Humaira dengan bahasa Arab, dia juga bertanya tentang mufradat anggota tubuh. “Ma haza?” “Haza ra’sun.” “Wama haza?” “Haza sya’run.” Semua kosa kata yang ditanyakan itu sudah dipelajari di kelas. Untuk kelas 52 AN-NAJAH | Dzulhijjah 1445/Juni 2024
KARYA SISWA satu materinya kebanyakan kosa kata dasar dan ta’aruf. Hanya saja, saat EXOT materi itu ditanyakan kembali oleh para penguji. Ayahnya, Bapak Dian, mengaku bahagia dengan jawaban putrinya itu. Katanya, secara umum, putrinya bisa menjawab setiap pertanyaan—baik bahasa Arab dan Inggris—yang baru diujikan dengan baik. “Alhamdulillah, Humaira bisa menjawab dengan baik. Tadi kami juga telah menyaksikannya,” ujarnya. Tak hanya Humaira, teman satu kelasnya, Siti Kayyisah Alfathin juga bisa menjawab soal dengan sangat baik. Adapun Kayyisah diuji oleh Ustaz Dimas Ramadhan di ruang kelas 3 Pa di lantai dasar. Dia ditemani oleh Ibunya, Bunda Lidya Puspasari. Materi yang diujikan sama. “Man haza?” tanya Ustaz Dimas sambil menunjuk gambar seorang Ayah. “Haza abun.” Dan ditanya lagi, “Waman hazihi” dan dijawabnya singkat, “Hazihi ummun.” “Masyaa-Allah. Terharu. Alhamdulillah, Kayyisah bisa menjawab dengan baik,” ujarnya usai ujian kepada AN-NAJAH. Segendang seirama dilakukan Alma Raihanah. Saat EXOT, siswi kelas 3 Pi yang akrab disapa Alma ini didampingi oleh Ayahnya, Bapak Ahmad Anshori. Saat itu, Alma mengikuti ujian bahasa Inggris. Pengujinya Mrs. Rida’il Sulaiman. Alma ditanya banyak hal tentang bahasa Inggris. Mulai data personal, cita-cita, sampai kegiatan di waktu liburan. Tak hanya itu, Alma juga diminta untuk mendeskripsikan gambar yang diberikan penguji. Yang menarik lagi, dia disuruh menjelaskan perbedaan dua gambar. “In this picture I can see…” jelasnya. Menurut Ayahnya, Bapak Ahmad dia mengaku puas dengan jawaban yang berikan putrinya. “Alhamdulillah, sejauh ini bagus. Bukan hanya kemampuannya, tapi juga rasa percaya diri Alma yang tinggi saat mengukuti ujian ini,” tuturnya. EXOT selalu menarik bagi orangtua siswa. Selain bisa melihat langsung anak ujian, orangtua juga bisa mengetahui perkembangan dan kemampuan anak. Karena itu, para orangtua selalu antusias mengikuti kegiatan tahunan AISBA ini. Seperti dilakukan oleh Bapak ArDzulhijjah 1445/Juni 2024 | AN-NAJAH 53
KARYA SISWA bain. Orangtua dari dua siswa—Fathir dan Farel—tidak pernah ketinggalan. Dia selalu hadir dan mendampingi setiap anaknya mengikuti EXOT. Saat ujian kali ini, dia mendampingi anaknya sambil sibuk mengabadikan anaknya ujian dengan gadget-nya. “Tadi sejak habis shubuh sudah sibuk ngurusi keempat anak saya persiapan sekolah. Tapi sebagai orangtua saya selalu support dan bahagia apapun yang dilakukan anak di sekolah,” ujarnya. Siswa yang selesai EXOT diminta menuliskan kesannya di selembar kertas Post It. Kertas itu lalu ditempel di backdrop di pintu masuk sekolah dengan tulisan, “What do you feel after EXOT today?” Kesannya macam-macam dan menarik. Seperti berikut: Alya: Senang Nabila: Degdegan banget pas tahfidz Hilya: Puas saja, biasa saja, senang saja Afifah: Degdegan Alma: Sebelum EXOT tegang, sesudah EXOT lega. Dan masih banyak lagi yang lainnya. EXOT adalah kegiatan tahunan SD AISBA. Tahun 2024 kegiatan ini diadakan pada bulan Mei selama dua hari: 21 – 22 Mei. Seperti biasanya, ada tiga pelajaran diujikan: tahfidz al-Qur’an, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Ada 12 penguji dari luar yang disediakan.* 54 AN-NAJAH | Dzulhijjah 1445/Juni 2024
Menjaga Warisan AISBA PERSPEKTIF Tak terasa sudah kurang lebih 8 tahun lamanya, saya menjadi bagian dari AISBA family. Rasanya baru kemarin saat mama mengantar saya ke tempat asing tersebut dan bertemu dengan muka-muka baru. Sangat tidak disangka bahwa tempat asing tersebut menjadi tempat di mana saya melalui setengah umur saya saat ini. Tempat di mana saya menuntun ilmu, tempat di mana saya hafalan, tempat di mana saya belajar, dan bermain. Ingat sekali dulu saya hanyalah seorang anak kecil dengan minim pengetahuan, namun sekarang saya beranjak remaja dengan bekal ilmu yang insya-Allah cukup untuk dunia luar. Dari AISBA saya diajarkan bagaimana menuntut ilmu namun mengejar akhirat di waktu yang bersamaan. Akademik kita pelajari tetapi agama tidak kita lupakan. Yang paling saya rasakan perbedan terhadap diri saya adalah bahasa dan tahfidz al-Qur’an. Jika ditanya apakah dulu bisa bahasa Inggris, tentunya saya bisa karna tumbuh di keluarga yang di mana second language kami adalah bahasa Inggris. Namun, bahasa Inggris saya jauh lebih bagus jika dibandingkan saat pertama kali masuk AISBa. Sepertinya, bukan hanya saya yang merasakan perkembangan itu. Ketiga saudara saya lainnya yang bersekolah di AISBa pun merasakan hal yang sama. Salah satunya kaka pertama saya Andi Kania, yang di mana dia adalah lulusan angkatan ke-2 SMP AISBA. Sekarang dia sedang menepuh pendidikan di Universitas Gajah Mada dengan program internasional (IUP). Seperti diketahui, di Oleh: Andi Khanza Mahezan Hartono, Siswi Kelas 9 SMP AISBA 56 AN-NAJAH | Dzulhijjah 1445/Juni 2024
PERSPEKTIF 57 program ini bahasa Inggris adalah kebutuhan pokok. Sangat penting. Salah satu faktor yang mendukunya adalah pembelajaran bahasa Inggris yang ia dapatkan di AISBa. Selain bahasa Inggris, saya merasa bahasa Arab juga sangat improve. Awalnya, saya tidak begitu minat dengan mata pelajaran yang satu ini. Namun, karena satu guru yang saya suka dan lingkungan AISBa yang mendukung menjadi salah satu faktor saya bisa suka dengan bahasa Arab. Ternyata setelah dipelajari, bahasa ini tidak sesusah itu. Susah sih susah, tapi fun buat dipelajari. Apalagi di AISBA banyak guru yang bisa berbahasa Arab, jadi bisa buat latihan sekaligus belajar juga jika ngobrol bersama mereka. Di AISBa kita juga diberitahu seberapa pentingnya bahasa Arab. Itu yang mendorong saya buat belajar lebih tentang bahasa ini. Jadi, untuk saat ini bahasa Arab menjadi salah satu mata pelajaran yang paling saya suka, dan semoga akan terus seperti itu kedepannya. Bahasa memang jadi salah satu keunggulan saya namun selain bahasa, tahfidz alQur’an juga jadi mata pelajaran yang saya rasakan perkembanggannya sejak masuk di AISBa. Meski hafalan saya bukan yang paling banyak dan terbaik di antara teman-teman. Tapi bagi saya dengan hafalan saya saat ini menurut saya itu luar biasa. Rasanya saat hafalan seperti mendobrak batasan-batasan yang sudah ada di hari sebelumnya. Maupun terkadang tidak mood hafalan, tapi ustazah dan ustad tetap sabar membantu saya untuk menghafal, dengan memberi beberapa wejangan juga untuk saya agar semangat untuk menghafal. Tapi, saya harap maupun setelah lulus saya tetap dapat merasakan nikmatnya menghafal A-Quran. Selain akademik dan agama, disini saya juga diajarkan life lessons seperti leadership, wirausaha, public speaking, dan lainnya. Salah satu yang paling berkesan adalah bagaiman kita diajarkan kewirausahaan dalam Dzulhijjah 1445/Juni 2024 | AN-NAJAH
PERSPEKTIF program Market Days. Menurut saya itu adalah pengalaman yang sangat membekas, kita diberi waktu beberapa hari untuk menyiapkan jualan yang di mana menu dan harga dan modal dapat kita tentukan sendiri. Setelah itu, kita jualan bersama teman-teman di kelas. Selain Market Days ada juga program lain seperti Muhadoroh yang membantu kita belajar public speaking. Ada juga Students Day, Field Trip, dan lainnya. Yah, pokoknya banyak lah pengalaman-pengalaman baru yang saya rasakan di AISBa. Itu adalah pengalaman yang sangat menarik, kapan lagi coba belajar sambil jalan-jalan, belajar sambil jualan, dan belajar sambil menunjukan bakat kita didepan banyak orang. Saya juga tidal menyangka tempat asing yang saya datangi bersama mama waktu itu menjadi tempat di mana saya menyimpan memori selama 8 tahun. Wajah-wajah baru yang awalamya tidak saya kenali menjadi teman dan pendamping saya dalam memuntut ilmu. Meski ada yang datang dan pergi. Suka dan duka saya rasakan di sini bersama teman-teman dan guru-guru. Dari yang awalnya AISBa masih di gedung lama, sampai pindah ke gedung baru yang sekarang ini. Semua telah saya rasakan. Rasa haru dan bangga melihat perkembangan AISBa dari dulu sampai sekarang. Sedih saya rasakan saat harus meninggalkan tempat di mana saya bermain dan belajar selama 8 tahun ini. Ada suatu alasan yang tidak memungkinkan saya untuk melanjutkan jenjang SMA di AISBA. Namun, saya tetap mendukung perkembanggan AISBA. Semoga ilmu yang saya dapat dari sekolah tercinta ini dapat berguna untuk masyarakat sekitar. Terima kasih para ustadz dan ustazah saya yang selalu menemani saya dalam menuntut ilmu, yang telah sabar menghadapi saya selama ini. Dan, buat teman-teman terima kasih juga buat waktunya semoga kita bisa suskes di jalan kita masing-masing. Dari AISBA saya belajar bagaimana cara menuntut ilmu namun tidak lupa untuk mengejar akhirat juga. Dari AISBA saya belajar bahasa Arab dan Inggris yang nantinya akan berguna bagi saya. Dari AISBA saya belajar bagaimana cara public speaking dan tidak takut untuk ngomong di depan orang banyak. Dari AISBa saya belajar kewirausahaan dengan fun. Dari AISBa saya dapat mengerti untuk selalu menjujung tinggi adab dan menjalankan hidup berlandaskan al-Quran dan hadits. Kebaikan dan bekal baik ini akan jadi warisan berharga yang semoga saya bisa menjaganya sampai kapan pun. Sekali lagi, terima kasih AISBA.* 34 AN-NAJAH | Dzulhijjah 1445/Juni 2024