2 Bulan suci Ramadhan 1444 H belum lama berlalu. Namun, kepergiannya hingga kini masih menyisakan kesedihan di dalam dada. Ya, sedih karena ditinggal bulan bertabur pahala, kasih sayang, dan selaksa keberkahan. Sebab, Insyaa-Allah, bulan Ramadhan 1445 H tahun depan akan menyapa kembali. Hanya saja, yang jadi pertanyaan: apakah kita tahun depan masih hidup hingga bisa bertemu Ramadhan atau tidak? Ini masalahnya. Dan, sungguh tak ada yang bisa menjawab. Perkara usia adalah misteri. Hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa berdoa. Semoga diberi umur panjang dan bisa bersua Ramadhan lagi tahun depan. Namun, di balik rasa sedih ditinggal Ramadhan ada rasa bahagia yang terselip di dalam jiwa. Apa itu? Perjumpaan dengan Ramadhan. Kita bersyukur bisa bisa bertemu dan beribadah di dalamnya: puasa, qiyamul lail, sedekah, tilawah, dan beragam amal shalih lain. Tentu kita berharap amal shalih itu semua diterima. Namun, lagi-lagi, kita juga belum bisa memastikan amal tersebut diterima atau tidak? Meski kita tidak bisa memastikannya—diterima atau tidak—ada beberapa tanda amal shalih yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Indikasi ini menarik dicermati. Sebab, dengan begitu, kita bisa mengukur dampak amal shalih yang telah dilakukan. Tidak Lagi Bermaksiat Terkait tanda pertama ini, perkataan Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah dalam kitab Madarijus Salikin yang menarik direnungkan. Seseorang yang mengingat dosa dan merasa senang dengan dosa itu bahkan dia menikmatinya, maka itu jadi tanda amalnya tidak diterima. Dosa bagi orang beriman—lebih-lebih yang telah mentaubatinya— dia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulanginya lagi. Sebab, baginya dosa adalah keburukan. Bukan perkara besar atau kecilnya dosa itu. Melainkan kepada siapa dia bermaksiat. Kita semua pernah melakukan dosa. Tak ada yang ma’sum. Mungkin dulu pernah melakukan dosa ini dan itu. Banyak. Tak terhitung. Bahkan malu hanya sekadar untuk mengingatnya. Ikhtiar untuk tidak melakukannya lagi itulah salah satu tanda amal kita diterima. Tanda imanya naik dan terjaga dari perbuatan maksiat. SALAM Tanda Oleh: : Syaiful Anshor, Pemred An-Najah AN-NAJAH |Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
3 SALAM Tambah Taat Segala perbuatan ada balasan. Pun juga amal shalih yang dilakukan. Besar atau kecil. Kata Hasan Al-Bashri balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Begitu juga sebaliknya. Balasan hukuman bagi perbuatan buruk adalah keburukan setelahnya. Saat bulan Ramadhan kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan berbagai macam ibadah: wajib hingga sunnah bahkan yang mubah dengan diniatkan ibadah. Pertanyaanya, “Bagaimana ibadah-ibadah itu saat di luar bulan Ramadhan?” Apakah sama ataukah bahkan tidak ada sama sekali? Seperti shalat tahajud, tilawatul Qur’an, bersedekah, puasa Senin-Kamis, shalat berjamaah lima waktu, dan lainnya. Nah, jika ibadah-ibadah itu tetap dilakukan. Bisa jadi, itu bentuk diterimanya amal shalih. Tambah taat. Sama taatnya di bulan Ramadhan dengan di luar Ramadhan. Tetap dalam Ketaatan Tanda ketiga amal yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hatinya ditetapkan dan diteguhkan dalam ketaatan. Seberapapun besar, hebat, dan kuat cobaan dan godaan hidup. Dengan hati yang tetap dalam ketaatan dia tidak akan goyah. Hatinya akan tetap tegak dalam ketaatan. Tak tergiur. Ketaatan selama hidup juga bisa jadi indikasi dan berpengaruh pada akhir kehidupan seseorang. Jika sepanjang usianya dihabiskan dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah, ending hidupnya Insyaa-Allah akan baik dan husnul khatimah: happy ending. Kisah seperti ini sering kita lihat. Ada video yang viral. Seorang ustazah ketua majelis taklim Ibuibu menghembuskan napas terakhir saat sedang memimpim baca al-Qur’an jemaahnya. Begitu juga pernah ada seorang imam yang meninggal saat sedang jadi imam shalat. Lalu, pertanyaanya, “Apakah ketiga tanda ini ada di dalam dada kita?” Raba dan rasakanlah. Jika iya, bisa jadi, itu tanda amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima Allah Subhanallahu wa Ta’ala.* Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
DAFTARISI 44 resensi Kerikil Perjuangan 46 my story Serunya Belajar Astronomi 48 MY DREAM Muslimah di Tengah Fitnah 6 21 37 46 6 TARBIYAH Berkumpul Keluarga di Surga 2 salam Tanda 21 LAPORAN KHUSUS Melihat Kemampuan Siswa Lewat EXOT 29 PERJALANAN Tamu-Tamu Allah di Tanah Suci 37 Student Journalism Cerita Gembira di Hari Raya 4 AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
Penasihat: Bapak. Ir. H. Muhammad Utama Jaya, Ir. Hj. Megawati. Pemimpin Redaksi: Syaiful Anshor Redaktur Pelaksana: Nur Hidayat Sidang Redaksi: Muflihin, Rahmat, Romadhan, Lilin Linda Saputri, Abdul Rofik, Randi Patajangan, Karindah Eka, M. Fadly Ihsan, Hanifah Rahmah, Dina, Nur Hidayat, Indah Yulianti. Desainer: Mustok Design Alamat Redaksi : Alamat: SD-SMP Al-Imam Islamic School Balikpapan. Ruko Kompleks Masjid Namirah Blok A2 Balikpapan Baru. 0542-8515762 WA: 0811533362 Pertanyaan, saran, dan kritik disampaikan ke E-mail: [email protected]. SUSUNAN REDAKSI Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pembaca An-Najah yang dirahmati Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Sebelumnya kami mohon maaf. Sebab, majalah An-Najah pada bulan Mei lalu tidak terbit. Bulan suci Ramadhan dan juga libur lebaran cukup panjang. Tak cukup waktu pengerjaannya. Alhamdulillah, kami berbahagia karena Juni ini majalah edukasi dan informasi SD-SMP AISBa bisa menyapa pembaca kembali. Semoga saat media tercinta ini hadir, Ayah dan Bunda semua dalam keadaan sehat, penuh berkah, dan kebaikan. Di penghujung tahun ajaran 2022/2023—baik SD maupun SMP— punya banyak agenda besar: wisuda tahfidz al-Qur’an, Examination Authority (EXOT), wisuda kelulusan, PAT, bagi rapor, parenting, hingga beberapa olimpiade yang diikuti siswa dan guru. Tak pelak, tidak hanya guru, siswa juga tampak sibuk menyiapkannya. Terkhusus para guru yang ditunjuk sebagai ketua acara atau Person in Charge (PIC). Seperti yang dilakukan ketua EXOT, ustaz Muhammad Ibad Qadarian. Sejak akhir April lalu, koordinator bahasa Inggris yang biasa disapa ustaz Rian ini tampak sibuk menyiapkan EXOT: membuat sususan kepanitiaan, proposal, pembagian waktu ujian hingga menghubungi para penguji. “Saya sampai sakit dan izin sehari nggak masuk sekolah karena bergadang mengerjakan persiapan EXOT,” ujarnya. Kesibukan lain juga tampak dari panitia wisuda kelulusan SD-SMP AISBa: Ustaz Sulfahmi Alwi dan Ustaz Faisal. Jauh-jauh hari keduanya telah berkoordinasi dan menyiapkan segalanya agar event tahunan yang akan digelar awal Juni ini berjalan lancar. “Insyaa-Allah, acaranya akan diadakan di hotel. Seperti tahun lalu,” ujar ustaz Fahmi. Mohon doa Ayah Bunda semua agar setiap agenda sekolah berjalan lancar dan diridhai Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Redaksi SAPA REDAKSI Kesibukan di Akhir Tahun Ajaran Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 5
berkumpul keluarga di surga Oleh: *Syaiful Anshor, Pimred An-Najah 6 AN-NAJAH | Juni 1444/Dzulqa’dah 2023 TARBIYAH Apa yang paling ditunggu dari hari raya Idul Fitri? Jawabannya banyak. Salah satunya karena pada waktu lebaran kita bisa berkumpul atau reuni bersama keluarga tercinta. Momen ini sangat membahagiakan. Berkumpul kembali setelah lama tak jumpa. Apalagi bagi para perantau yang lama meninggalkan kampung halaman. Sudah hijrah dan tinggal di pulau seberang. Bertahun-tahun tak pulang. Mengadu nasib. Lama tak bersua keluarga. Hanya sesekali via gadget: telpon dan video call. Reuni bersama keluarga di momen lebaran setelah lama tak berjumpa karena dipisahkan waktu dan jarak ternyata membucahkan selaksa bahagia. Saking bahagianya tak jarang saat bertemu saling berpelukan dan menangis. Mengobati buncahan rindu di jiwa. Keluarga memang sosok penting. Dia jadi bagian hidup. Tak terpisahkan. Saling tertaut hubungan darah. Satu nasab. Terkhusus seorang bapak, anak, dan cucunya. Karena relasi nasab dan intensitas interaksi waktu ini membuatnya begitu dekat. Jadi ingin selalu bersama. Apapun keadaanya. Bahkan ada ungkapan “Mangan ora mangan sing penting ngumpul.” Ini bukti bahwa kedekatan itu penting. Namun, apalah daya. Kadang harus berpisah. Ada takdir masing-masing: jodoh, pekerjaan, waktu, tempat, dan sebagainya. Ternyata, perpisahan antar saudara itu tidak saja terjadi di dunia saat merantau. Tapi juga dipisahkan oleh kematian. Siapapun dia dan sebesar apapun cinta kepada saudara pasti suatu saat dipisahkan oleh kematian. Tak ada yang bersama selama-lamanya. Meninggal. Dikubur. Kemudian menjal- ani kehidupan s e - l a n j u t n y a m a singmasing. Keluarga memang sosok penting. Dia jadi bagian hidup. Tak terpisahkan. Saling tertaut hubungan darah. Satu nasab. Terkhusus seorang bapak, anak, dan cucunya.
Lalu, pertanyaanya, “Apakah di akhirat kelak, saat usai dibangkitkan mereka—yang dulu berkeluarga di dunia— bisa reuni lagi di surga?” Yuk, temukan jawaban di dalam alQur’an. Ternyata ada. Ayat yang menjelaskan keluarga bisa reuni lagi di surga terdapat pada surah Ar-Ra’d ayat ke-23. ِ ْن َ َ ن صَل َح م َم َ ْد ُخُل َونَها و ُت َ عْدٍن ي ٰ َّ َجن ِ َكُة ئ ٰ ٓ ْ َمَل َ ٱل و ۖ ِ ِهْم ت ٰ َّ ي ِّ َ ُذر ٰ ِجِهْم و َ أْزو � َ ِ ِهْم و َآئ اب َ ء َ ٍ اب ِّ ُ ن ك ِّل ب ْ ِهم م َ ْد ُخُل َون َ عَلي ي “(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” Ayat ini sudah jelas. Keluarga bisa berkumpul di surga. Jadi bukan hoax. Dalam kitabnya, Ibnu Katsir juga menafsiri ayat ini dengan penjelasan serupa. Katanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghimpun mereka bersama kekasihkekasih mereka di surga: bapak-bapak mereka, keluarga mereka, dan anak-anak mereka yang layak untuk masuk surga dari kalangan kaum mukmin agar hati mereka senang. Su n g g u h reuni kelu a r g a d i surg a anugerah terindah dari Allah untuk keluarga beriman dan shalih. Dengan begitu, lanjut Ibnu Katsir, Allah mengangkat derajat orang berkedudukan rendah ke tingkat kedudukan tinggi sebagai anugerah dan kebijakan-Nya. Namun, hal itu tidak mengurangi derajat ketinggian seseorang dari kedudukannya. Di ayat yang lain Allah juga berfirman: ٰ ٍن يم ِإِ َ ُ ُهم ب ت َّ ي ِّ َ ْتُهْم ُ ذر َع ب َّ َ ٱت ۟ا و ُو َن ام َ ذ َ ين ء َ ٱلَّ ِ و ِّ ْن ُهم م ٰ َ أَلْتن َآ � َم َ ُهْم و ت َّ ي ِّ ِ ِهْم ُ ذر َا ب ْ َحْقن ل أ � ِ َما ۭ ب ٍۚ ُ ك ُّل ْ ٱمِر ٍئ ْ ء ِّن شَ ى ِ ِهم م َعَمل ِ ٌ ين َه َك َس َب ر “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereJuni 1444/Dzulqa’dah 2023 | AN-NAJAH 7
ka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya,” (QS. At-Tur [21]) Setali tiga uang surah Ar-Ra’d ayat ke-23, pada surah At-Tur ayat 21 Allah juga mengatakan hal serupa: keluarga—anak cucu mereka—yang mengikuti mereka dalam keimanan akan dihubungkan dan dikumpulkan di surga. Menariknya, di ayat ke-24 surah Ar-Ra’d itu dijelaskan ada para malaikat yang masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu sambil mengucapkan, “Salamun ‘Alaikum Bima Sabartum.” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Ibnu Katsir menjelaskan para malaikat datang berduyun-duyun mengucapkan selamat atas apa yang telah mereka peroleh dari Allah: kedudukan yang dekat dengan-Nya, berlimpah nikmat, dan masuk ke dalam Darussalam di dekat para siddiqin, para nabi, dan para rasul yang mulia. Ada yang Tidak Masyaa-Allah, alangkah beruntung dan indahnya. Satu keluarga bisa reuni lagi di surga. Di tempat yang indah dan penuh kenikmatan. Bahagia selama-lamanya. Tak ada setitik penderitaan pun. Jauh lebih nikmat dari sekadar kenikmatan dunia yang semu. Namun, tak semua keluarga juga bisa masuk dan reuni di surga. Ada juga yang tidak. Bahkan, banyak! Siapa mereka? Ya, merekalah yang menyelisihi dan memusuhi orang-orang yang beriman dan shalih. Menjadi orang durhaka dan tidak taat kepada Allah. S e j a r a h t e l a h mencatatnya. Seperti halnya yang dialami oleh putra Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Kan’an. Putranya tidak mau taat kepadanya. Disuruh naik ke atas bahtera agar selamat dari banjir bandang justru memilih naik ke atas gunung. Kan’an tidak termasuk orang shalih. Selain Kan’an, ada juga istri Nabi Luth, dan juga Fir’aun—suami Asiyah, wanita shalihah. Mereka adalah orang-orang yang tidak beriman dan shalih kepada Allah. Jadi, mereka tidak akan berkumpul di surga. Karena itu, siapa saja anggota keluarga—suami, istri, anak, dan cucu—yang ingin berkumpul di surga haruslah beriman dan shalih. Empat Syarat Sejenak mari beranjak dan merenungkan surah Ar-Ra’d ayat ke-22. Ayat ini terletak sebelum ayat ke-23 yang membahas keluarga bisa berkumpul dan reuni di surga yang baru saja dibahas di atas. Begini bunyinya: َ َِغآء ْت ۟ا ٱب ُو َر ذ َ ين َ صب َ ٱلَّ ِ و ِ َ ْجه و TARBIYAH 8 AN-NAJAH | Juni 1444/Dzulqa’dah 2023
ِ َّما ۟ا م أ َنفُقو � َ ۟ا َّ ٱلصَل ٰوَة و ُو أَقام � َ ِّ ِهْم و َب ر ِ َة ْ َح َسن ِٱل ُ َون ب َء َ ْدر َ ي َ ًة و ِي َ َعَلان ا و ًّ ُهْم ِ سر ٰ َ َ َزْقن ر َ َّ ى ٱلدا ِر ِ َك َ لُهْم ُ عْقب ئ ٰ ٓ ۟وَل أ َِّئَة � ٱلسي َّ “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),” Dari ayat ini setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan jika keluarga ingin berjumpa lagi di surga. Sabar Keluarga ahli surga adalah keluarga yang sabar. Ibnu Katsir menjelaskan makna sabar dalam ayat ini maksudnya adalah bersabar dari hal-hal yang diharamkan dan perbuatan dosa. Hal itu dilakukan tidak lain hanya untuk mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan begitu, keluarga yang bakal reuni di surga adalah keluarga yang sabar dalam meniti kehidupan dengan penuh ketakwaan. Menjaga Shalat Selain sabar, shalat juga jadi syarat utama masuk surga. Seluruh anggota keluarga—bapak, ibu, anak, dan cucu—harus menjaga shalat sepanjang hayat. Tidak meninggalkan barang sekalipun. Shalat yang dijalankan bukan sekadar seremonial penggugur kewajiban. Tapi juga memerhatikan batasan, waktu, rukuk, sujud, dan kesyukan. Tidak sekadar shalat. Gemar Sedekah Keluarga ahli surga adalah yang gemar bersedekah. Tidak pelit dan bakhil. Baik dalam keadaan sulit maupun lapang. Baik bersedekah secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Bersedekahnya pun diniatkan hanya karena Allah, bukan yang lain. Sedekah adalah amalan sangat penting. Pahalanya dahsyat dan berlipat ganda. Saking besarnya pahala sedekah, sampai-sampai orang yang meninggal ingin dihidupkan lagi hanya sekadar untuk bersedekah. Apalagi jika sedekahnya berimpilkasi jariah. Pahalanya akan terus mengalir meski jasad telah berkalang tanah. Penuh Kebaikan Keluarga ahli surga adalah yang hatinya selalu dipenuhi dengan kebaikan. Tak ada dendam kesumat. Seperti dalam surah Ar-Ra’d ayat ke-22 menurut Ibnu Katsir adalah membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Seperti jika seseorang menyakitinya, dia akan membalasnya dengan kebaikan. Hal itu tak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang sabar. Keempat hal itu jadi tanda keluarga ahli surga. Lalu, apakah keluarga kita kelak bisa berkumpul di surga atau tidak? Jawabannya, lihatlah keempat hal tersebut. Jika keempat hal itu menghias keluarga kita, Insyaa-Allah keluarga kita akan berkumpul lagi di surga.* Juni 1444/Dzulqa’dah 2023 | AN-NAJAH 9
AISBa Ikut Launching Buku di Hardiknas peserta yang berdiri di tengah barisan memberikan dua kotak berisi kompilasi buku para guru. Adapun buku yang diterbitkan Ustaz Abdul Rofik di penerbit Nyalanesa ini berjudul “Shofwan dan Segenggam Harapan.” Buku fiksi yang berisi kisah nyata perjalan hidup (based on true story). Novel yang ditulis apik itu menceritakan kisah hidupnya yang penuh perjuangan saat kecil hingga dewasa. Segendang seirama buku yang ditulis Syaiful Anshor. Buku berjudul “Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda” setebal sekitar 180 halaman lebih itu berdasarkan kisah nyata perjalanannya menjadi guru di SD-SMP AISBa. Buku yang ditulis dengan gaya features itu itu mengisahkan perjuangan siswa dalam menjadi penghafal al-Qur’an. Buku agak berbeda ditulis oleh Ustazah Indah Yuliani. Buku yang di-launching dalam Hardiknas itu tentang puisi. Judulnya, “Tentang Hatiku dan Sepiring Fakta.” Buku tersebut ditulis bersama para penulis lainnya. Guru SD AISBa ini telah menerbitkan 5 buku dengan genre yang sama.*Ans. Tiga penulis SD-SMP AlImam Islamic School Balikpapan (AISBa) ikut dalam launching buku di upacara Hardiknas di lapangan Pemkot, Balikpapan, Selasa (2/5/2023). Ketiga penulis itu Ustaz Abdul Rofik, Ustaz Syaiful Anshor, dan Ustazah Indah Yuliani. Selain mereka, ada sekitar 52 penulis lain yang juga mengikuti agenda serupa. Mereka adalah guru dari berbagai sekolah negeri dan swasta—baik SD maupun SMP—yang terdapat di Kota Balikpapan. Ada sekitar 100 judul buku lebih yang telah diterbitkan. Launching buku dilakukan secara tak biasa. Para penulis mengenakan berbagai macam baju adat tradisional: Jawa, Bali, Sumatera Barat, Balikpapan, dan Kupang. Mereka berbaris rapi dengan memegang pigura yang berisi print-out kaver buku masing-masing. Ke-52 penulis itu berjalan ke tengah lapangan. Wali Kota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud menunggu di atas panggung. Barisan berhenti di depan orang nomor satu di kota minyak. Dua Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 11 KABAR SEKOLAH
Awali Sekolah dengan Halal Bi Halal ja maupun tidak—telah dimaafkan. Dalam sambutan, Ustaz Randi Patajangan menghimbau agar murid memaafkan kesalahan teman-temannya. Menurutnya, perbuatan saling maaf-memaafkan itu tak hanya di bulan Syawal. Tapi juga di setiap waktu. “Seyognya saling memaafkan itu tak hanya di bulan Syawal usai Ramadhan. Tapi, kapan saja murid-murid sekalian merasa punya khilaf dan salah kepada temannya, harus cepat meminta maaf,” ujarnya. Ustaz Randi—sapaan akrabnya— juga mengingatkan para siswa untuk semangat lagi belajar. Sebab, katanya, dalam waktu dekat para siswa akan menghadapi dua agenda penting: USBD dan Examination Authority (EXOT). “Liburan telah usai. Kini saatnya belajar. Dan persiapkan diri kalian untuk menghadapi ujian dan EXOT. Belajar giat dan sungguh-sungguh untuk meraih hasil terbaik,” tuturnya mengingatkan. (*Ans) S etelah libur lebaran sekitar sepekan lebih, murid SD AISBa mulai Selasa ini masuk sekolah lagi. Hanya saja, ada yang berbeda. Kegiatan belajar mengajar tak seperti hari biasa. Pulangnya juga lebih cepat. Kegiatan belajar mengajar diganti dengan dua kegiatan: halal bi halal dan bersih-bersih sekolah. Hal itu dilakukan karena masih berada dalam momentum Syawal. Jadi, digunakan untuk murid dan guru saling bermaaf-maafan. Seluruh murid berkumpul di lapangan sekolah. Murid ikhwan dan akhwat dikelompokkan masing-masing. Para ustaz dan ustazah dengan dipimpim kepala sekolah, Ustaz Randi Patajangan berbaris rapi di pinggir lapangan. Secara bergantian lalu para siswa berbaris satu persatu bersalaman dan saling memaafkan. Wajah-wajah mereka tampak bahagia dan plong. Seluruh kesalahan—baik yang disengaKABAR SEKOLAH 12 AN-NAJAH | Dzulqa'dah 1444/Juni 2023
SD AISBa Adakan Wisuda Tahfidz al-Qur’an dengan wisuda tahfidz al-Qur’an itu dapat memotivasi para siswa untuk terus menghafal al-Qur’an. Jadi hafidz dan hafidzah masa depan. Usai sambutan acara dilanjutkan dua pertunjukan dari peserta wisuda: tilawah al-Qur’an, pembacaan nazam Tuhfatul Athfal, dan untaian syair bahasa Indonesia berjudul, “Aku ingin jadi hafidz Qur’an.” Pertunjukan itu—khususnya syair Aku ingin jadi hafidz Qur’an—menyedot antusiasme orangtua siswa. Bahkan tampak ada yang sampai menitikkan air mata. Para peserta wisuda dipanggil satu persatu ke depan. Dimulai dari peserta wisuda ikhwan. Setelah itu baru akhwat. Di atas panggung mereka diberi dikalungkan medali dan diberi sertifikat oleh kepala sekolah dan koordinator tahsin, Ustazah Salisatul Maghfiroh. Dari 115 peserta wisuda, dipilih enam wisudawan dan wisudawati terbaik. Tiga wisudawan terbaik: Muhammad Ahsan, Ahmad Havi, dan Muhammad Akram. Sedangkan tiga wisudawati terbaik lainnya: Khanza Alinka Dian Amin, Aisyah Humairoh, dan Aisyah Rubi Alexandria. *Ans. S ebanyak 115 murid SD AISBa mengikuti wisuda tahfiz al-Qur’an di aula rumah jabatan Wakil Wali Kota Balikpapan pada Sabtu, 15 April lalu. Dari 115 murid itu terdiri dari 58 wisudawan dan 57 wisudawati. Acara yang dimulai sekitar pukul 08.00 WITA itu dihadiri wakil ketua Yayasan Al-Imam Madinatul Iman (YAMI), Bunda Ir. Hj. Megawati dan dua anaknya—Muhammad Rofi Ramadhan, ST dan Ashilah Hanifah— serta seluruh orangtua siswa peserta wisuda. Ketua YAMI, Bapak. Muhammad Utama Jaya pada wisuda kali ini berhalangan hadir. Sambutan diwakilkan oleh putranya, Muhammad Rofi Ramadhan, ST. Putra kedua yang juga alumni ITS itu membacakan pesan ayahnya di atas podium. “Kami mengucapkan terima kasih kepada orangtua semua yang telah mengamanahkan putra-putrinya untuk dididik di AISBa. Begitu juga dengan support dan sinerginya selama ini,” ucapnya. Sementara, Kepala SD AISBa, Ustaz Randi Patajangan berharap Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 13
14 yang dijalani. Karena itu, ustazah Linda meminta siswa agar terus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. “Siapa yang malas belajar, maka kelak di hari tua harus bersiap merasakan sulitnya hidup dalam kebodohan,” katanya mengingatkan. Dalam kesempatan itu juga diberikan piala penghargaan kepada empat wisudawan-wisudawati tahfidz al-Qur’an terbaik: Ahmad Ibrahim, Athar Hamizan, Athifa, dan Namora. Sebelumnya, keempatnya telah mengikuti acara wisuda pada Ramadhan lalu di Rujab Wali Kota, Balikpapan. Usai upacara, kegiatan hari perdana sekolah usai libur lebaran itu dilanjutkan dengan dua agenda lainnya: bersih-bersih kelas dan makan bersama. Menunya menggoyang lidah: nasi liwetan dengan lauk ayam goreng, tempe, bihun, dan beralas daun pisang. *Ans. S MP Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBa) mengadakan upacara Hardiknas pada Selasa, (2/5/2023) Mei lalu. Upacara diadakan di lapangan sekolah di kawasan Bukit Cinta Damai, Bilangan Beler, Balikpapan Kota. Upacara dimulai sekitar pukul 07.40 – 08.30 WITA. Para siswa dan guru berbaris rapi dengan mengenakan seragam batik. Terlihat barisan yang rapi, lurus, dan indah di bawah sinar matahari pagi yang hangat. Bertindak sebagai pembina upacara Ustazah Lilin Lindah Saputri dengan pemimpim upacara ustazah Hanifah Rahmah. Dalam amanantnya, ketua bidang kurikulum SMP AISBa ini mengingatkan siswa pentingnya ilmu. Katanya, orang yang berilmu akan mudah menjalani hidup. Bagaimana pun sulit dan terjalnya kehidupan KABAR SEKOLAH Upacara, Kerja Bakti, dan Liwetan AN-NAJAH | Dzulqa'dah 1444/Juni 2023
15 itasi: administrasi dan sarana-prasarana. Tim mengecek kelengkapan berkas administrasi sekolah. Berkas-berkas itu pun telah disediakan ustazah Isnun di atas meja. Satu persatu berkas dicek. Pun juga dengan sarana dan prasarana sekolah. Dua petugas—Bapak Sarjoko dan Bapak Andi—dengan ditemani Ustaz Randi, Ustaz Rahmat Ramadhan, dan Syaiful Anshor berkeliling sekolah. Mereka melihat ruang guru, koridor, ruang kelas, kamar mandi, lapangan, dan ruang TU. “Alhamdulillah, dari sisi administasi sudah lengkap dan bagus. Tinggal yang jadi catatan ada beberapa kelengkapan sarana dan prasarana, seperti tangga lift. Hanya saja memang tidak bisa langsung jadi, tapi harus proses,” ujar Bunda Emmy. *Ans. P etugas Disdikbud Balikpapan melakukan visitasi ke SD AISBa pada Kamis (4/4/2023). Visitasi yang dilakukan empat petugas itu diketuai langsung oleh Kabid GTK Disdikbud, Bunda Emmy Mulyani. Rombongan diterima oleh Kepala SD AISBa, Ustaz Randi Patajangan, Humas Syaiful Anshor, dan admin ustazah Isnun Fadhilah di ruang kepala sekolah di lantai dua gedung AISBa di bilangan Beler, Balikpapan Kota. Menurut Ustaz Randi Patajangan, visitasi tersebut dilakukan menyusul dengan adanya surat perpanjangan operasional sekolah yang dilayangkan kepada Disdikbud. Sebab, katanya, izin operasional sekolah harus diperbarui setiap setahun sekali. Ada dua hal yang dinilai dalam visDisdikbud Visitasi SD AISBa Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
SMP AISBa Ikut Bimtek Literasi (GLS) yang meliputi tiga hal: guru sebagai Teladan Literasi, lima belas menit membaca, dan pembelajaran asesmen SMP “Pada akhir sesi, tiap kelompok diberikan penugasan untuk menyusun Modul Ajar yang menerapkan implementasi penguatan Literasi dan Numerasi,” ujar alumni Universitas Muhammadiyah Purworejo, Jateng. Pada hari kedua, pembahasan masih tentang materi. Hanya saja cakupannya lebih luas. Mulai tentang literasi baca tulis, budaya, digital, finansial, dan sebagainya. Kata Ustaz Dayat, setelah itu, perwakilan dari setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan pekerjaanya. Sementara di hari terakhir, instruktur menjelaskan tentang asesmen awal (diagnostik). Tujuan penilaian ini untuk memetakan siswa berdasarkan beberapa pendekatan: minat, kesiapan belajar, dan profil/gaya belajar siswa. “Hasilnya digunakan sebagai acuan pembuatan Modul Ajar yang berprinsip pada proses pembelajaran berdiferensiasi,” pungkasnya.*Ans. Guru sains SMP AISBa ustaz Nur Hidayat dengan didampingi kepala sekolah, Ustaz Abdul Rofik mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) di Hotel Horison Ultima, Balikpapan Selasa (3/5/2023). Acara tersebut juga dihadiri 103 guru perwakilan dari berbagai SMP Se-Kota Balikpapan. Menurut ketua bidang kesiswaan SMP AISBa ini kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para guru, khususnya tentang literasi dan numerasi. Acara berlangsung selama tiga hari—tanggal 3 – 5 Mei—dan diisi oleh dua instruktur dari BPMP Provinsi Kaltim: Syafrudin Januar, M.Pd., dan Dr. Rita Zahra, M.Pd. Kepala SMP AISBa, Ustaz Abdul Rofik pada pembukaan acara di hari pertama sempat didapuk sebagai pembaca doa. Setelah itu, para peserta dibagi sesuai ruangan. Adapun perwakilan SMP AISBa ditempatkan di ruang sekolah penggerak. Materi hari pertama tentang implementasi Gerakan Literasi Sekolah KABAR SEKOLAH 16 AN-NAJAH | Dzulqa'dah 1444/Juni 2023
17 jawaban yang telah disediakan. Adapun soalnya dari Diknas setempat. Bukan buatan guru SD AISBa. Pada hari pertama ada dua pelajaran yang diujikan: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti serta PPKN. Sedangkan yang bertindak sebagai pengawas ujian dua guru: Ustazah Rifka dan Ustazah Khanza. Di awal ujian, tampak keduanya harus berkeliling menjelaskan kepada siswa cara menjawab soal. “Cara ngisi namanya agak berbeda. Diisi dalam kolom. Nama saya panjang banget,” tutur Evan tersenyum. Ujian berjalan lancar. Para siswa mengerjakan dengan penuh antusias dan fokus. Mereka tampak berusaha menjawab dengan sebaik mungkin untuk meraih hasil yang optimal.* Ahmad Hafi Husain duduk di kursi paling depan di ruang kelas 6 Pi Senin, (8/5/2023). Di atas mejanya tampak secarik kertas berisi lembar jawaban. Hafi pun mengisi beberapa kolom di lembar tersebut tentang identitas pribadi: nama, asal sekolah, juga tanda tangan. Data itu wajib diisi. Sebab, ujian yang sedang diikuti siswa yang jadi wisudawan terbaik ikhwan dalam wisuda Ramadhan lalu ini bukan ujian seperti biasanya. Tapi Ujian Sekolah Berstandar Daerah (USBD). Ujian ini harus diikuti seluruh siswa kelas 6 sebelum kelulusan. USBD diadakan selama lima hari. Dimulai tanggal 8 – 12 Mei. Ujian dimulai pukul 08.00 pagi dan diadakan secara offline dengan mengisi lembar Siswa Kelas 6 SD AISBa Ikuti USBD Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
Ukur Kompetensi Siswa dengan Sumatif KABAR SEKOLAH 18 J elang kelulusan siswa kelas 9, SMP Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBa) mengadakan ujian Sumatif mulai Senin, 15 Mei ini. Ujian diadakan di sekolah secara offline. Berbeda dari biasanya, ujian dilakukan menggunakan komputer. “Jadi sumatif ini menggunakan sistem computer-based dengan Learning Management System (LMS) yang dimiliki sekolah,” jelas koordinator kurikulum SMP AISBa, Ustazah Lilin Lindah Saputri. Lebih jauh, menurut alumni Universitas Mulawarman ini, sumatif telah diadakan sejak awal semester dua. Hanya saja, puncaknya pada tanggal 15 – 19 Mei. Adapun tujuan diadakan sumatif untuk mengetahui tingkat ketercapaian kompetensi siswa sekaligus asesmen semester 6. Soal yang diujikan dibuat langsung oleh para guru pengampu pelajaran masing-masing. Mereka membuat soal dengan kriteria, jenis, dan jumlah yang telah ditentukan sekolah. Setelah itu, soal dikumpul dan divalidasi oleh tim ujian yang dibentuk kepala sekolah. Seperti yang tampak pada sumatif hari ini. Para siswa—baik ikhwan dan akhwat—membaca soal yang terdapat di LMS sekolah dan berusaha menjawab dengan baik. Jenis pertanyaan lebih kompleks dengan tingkat literasi tinggi. Begitu juga jawabannya hampir mirip. Jika tidak teliti bisa salah. “Alhamdulillah, saya sudah selesai menjawab soalnya,” ujar Khalisah yang ditemui usai menjawab soal sumatif di ruang kelas 8 Pa di lantai tiga gedung AISBa di bilangan Beler, Balkot. AN-NAJAH | Dzulqa'dah 1444/Juni 2023
19 18 Mei lalu. Dia dapat jadwal tampil pada pukul 16.45 WITA. Ada empat soal yang dibacakan dewan juri dan semuanya bisa dijawab dengan baik. Dalam kesempatan itu hadir pula guru dan siswa SMP AISBa. Kehadiran mereka selain untuk memeriahkan ajang perhelatan tahunan itu juga memotivasi dan menyemangati Athifa. Beberapa orangtua siswa bahkan ikut menyaksikan penampilan Athifa saat menjawab soal. Di akhir lomba Athifa diberi cinderamata dalam bentuk buket snack bertema toska dengan sedikit bungabunga cantik. Pemberian itu dilakukan oleh koordinator bidang kurikulum SMP AISBa, ustazah Lilin Lindah Saputri dan disaksikan para guru dan siswa. Ritzia Athifa Khairunnisa kembali mengukir prestasi dalam bidang tahfidz alQur’an. Siswi kelas 8 SMP AISBa ini baru saja meraih prestasi terbaik ke-2 lomba tahfidz al-Qur’an 30 juz putri dalam gelaran Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Kalimantan Timur ke-44 yang diadakan di Balikpapan. Capaian ini menambah deretan prestasi Athifa—sapaan akbranya—dalam bidang tahfidz al-Qur’an. Seperti diketahui dalam ajang MTQ ke-43 di Samarinda tahun lalu, Athifa juga meraih juara 1 pada cabang lomba serupa. Sebelumnya, Athifa mengikuti lomba di aula Kodim VI Balikpapan Kamis, Alhamdulillah, Athifa Juara 2 MTQ Cabang 30 Juz Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
Saat Siswa Belajar Jualan KABAR SEKOLAH 20 Ruang kelas 5 Pa tak seperti biasanya pada Jum’at, 19 Mei pagi tadi. Tak ada buku, pena, atau alat belajar lain yang biasa tergeletak di atas meja. Yang ada justru kompor, deretan gelas plastik, aneka potongan buah, dan bahan makanan lainnya. Di dekat pintu masuk sebuah meja dengan secarik kertas tertulis, “KASIR.” Meja itu disulap menjadi tempat pembayaran. Sedangkan yang menjaganya adalah Ahmad Al-Ghazali dengan buku khusus catatan pembelian. “Kita sedang belajar kelas proyek kewirausahaan. Tugasnya memasak aneka menu kuliner dan menjualkannya kepada seluruh penghuni sekolah,” kata Arman Nasution, siswa kelas 5 Pa yang berbadan tinggi besar. Kelas proyek ini diampu oleh Ustazah Septi Anggraini Naja. Tujuannya agar siswa punya kemandirian hidup. Kreatif membuat menu kuliner dan tidak malu menjualkannya kepada orang lain. “Setidaknya bisa jadi pengalaman berwirausaha untuk masa depan mereka. Siapa tahu kelak dari sini ada yang jadi pengusaha sukses,” ujar alumni STAIL Luqman Hakim, Surabaya yang biasa disapa ustazah Naja. Seluruh bahan dibawa oleh siswa. Mereka dibagi tugas masing-masing. Ada yang membawa kompor, buah-buahan, susu, pisang, dan lain sebagainya. Aneka bahan itu lalu dikumpul dan dijadikan anek kudapan. “Kita minta para siswa buat beberapa jenis kudapan. Seperti jasuke, tanghulu, tahu krispi. Sedangkan minumannya smoothies banana,” jelas ustazah Naja. Untuk harga per menunya berbeda-beda. Katanya, untuk jasuke Rp 5 ribu, tanghulu Rp 3 ribu, tahu crispy Rp 7 Ribu. Sedangkan smoothies banana Rp 10 ribu. Agar jualannya cepat habis, para siswa kelas 5 Pa ini menawarkannya kepada murid dan guru. “Ayo, ustaz beli. Jasuke Rp 5 ribu,” kata Al-Ghazali.* AN-NAJAH | Dzulqa'dah 1444/Juni 2023
21 Siswa Lewat EXOT Melihat Kemampuan S D Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBa) punya ujian khas. Bahkan mungkin ujian ini tak ada di sekolah lain di Balikpapan. Nama ujiannya ini: Examination Authority (EXOT). Ada tiga pelajaran diujikan: tahfidz al-Qur’an, bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Pengujinya berasal dari luar. Mereka dipilih yang memang betul-betul berkompeten di bidangnya. Bentuk ujiannya secara lisan. Untuk tahfidz al-Qur’an sambung ayat. Sedangkan bahasa Arab dan Inggris lebih kepada tanya jawab dan menjelaskan materi. Dalam ujian ini orangtua wajib hadir. Duduk di dekat siswa dan memerhatikan proses ujian dari awal sampai akhir. Dengan begitu, orangtua bisa mengetahui kemampuan anak secara objektif. Nah, seperti apa EXOT SD AISBa akhir Mei lalu? Berikut petikannya untuk pembaca An-Najah.* Syaiful Anshor. Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
22 LAPORAN KHUSUS Orangtua Deg-Degan Anak Tegang, P intu ruang kelas 3 Pa dibuka. Dari balik pintu yang terbuat dari kayu bercat coklat di lantai dasar gedung AISBa di bilangan Beler, Balikpapan Kota itu muncul Mikhayla Azzahra. Siswi kelas 1 Pi ini masuk didampingi ibunya yang berjilbab hitam panjang. Siswi periang dan murah senyum ini lalu duduk di kursi dekat papan tulis. Di depannya Ustaz Muji’ul Haq duduk dengan memegang mushaf alQur’an dan pena. Sedangkan Ibunya duduk tak jauh darinya. Pandangannya selalu tertuju kepada Mikhyala. Ustaz Muji penguji tahfidz alQur’an Examination Auhority (EXOT). Ketua panitia EXOT SD AISBa, Ustaz Muhammad Ibad Qadarian memilihnya sebagai penguji. Alasannya karena hafidz 30 juz dan bersuara merdu. Dia juga pengajar al-Qur’an dan penceramah di banyak tempat. Kemampuannya tak diragukan lagi. “Namanya Mikhayla Azzahra, yah?” tanyanya sambil melihat daftar peserta ujian yang tergeletak di atas meja dengan lembut. AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
23 “Iya, Ustaz. Betul,” jawabannya sambil tersenyum hingga deretan giginya yang putih tampak indah. “Masyaa-Allah. Ujian EXOT-nya juz 29, yah. Sekarang kita baca ta’awuz dan basamlah bersama dulu,” katanya lagi dan dijawab, “Siap, Ustaz.” Seketika, suaranya mengalun merdu. Memenuhi ruang kelas yang dingin oleh AC di pojok dinding. Setelah selesai, tanpa diminta, Mikhayla tiba-tiba langsung membaca surah AlMulk: Tabaarakallazi biyadihil…. ” “Sebentar dulu bacanya. Sabar. Nunggu ustaz suruh,” kata Ustaz Muji mengingatkan sambil tertawa kecil. Lagi-lagi Mikhayla tertawa. Deretan giginya yang putih terlihat lagi. Mungkin karena saking semangat atau juga grogi jadi langsung membaca. Tanpa aba-aba dari penguji. Ibunya yang melihat hanya bisa tersenyum di pojok kelas. “Oke. Sekarang dengarkan baikbaik yah. Setelah itu lanjutkan bacaan ustaz,” pintanya lagi. “A fa naj’alul-muslimīna kal-mujrimīn. Sekarang lanjutkan ayat yang baru saja ustaz baca, yah,” katanya. “Maa lakum kaifa tahkumun,” Mikhayla melanjutkan. “Masyaa-Allah. Mumtazah. Surah apa tadi?” tanyanya dan dijawab, “Surah Al-Qalam, ustaz.” A d a delapan soal yang dibacakan Ustaz Muji. Ayat yang dibacakan secara acak. Tak berurutan. Kebanyakan bagian awal, tengah, dan akhir. Dengan begitu, kualitas hafalan siswa bisa diketahui: betul-betul hafal atau tidak. Waktu ujian setiap siswa sekitar 8-10 menit. “Alhamdulillah, Mikhayla tadi bisa menjawab dengan lancar. Hanya ada beberapa keselahan bacaan huruf dan makhraj-nya saja. Selebihnya bagus,” katanya. Direkam Orangtua Suasana agak tegang juga tampak dari EXOT bahasa Arab. Seperti dialami siswa kelas 4 Pa SD AISBa, Muhammad Nazran El-Sharawi. Nazran— biasa disapa—diuji oleh Ustaz Hadyan Janitra. Bertempat di ruang kelas 5 Pa di lantai dasar gedung AISBa. Nazran duduk rapi. Tak banyak bergerak. Tak ada suara sedikit pun. Hanya detak jantung dan helaan napas. Kedua bola matanya ke depan. Biasanya Nazran siswa yang aktif berbicara. Ternyata, diamnya Nazran Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
24 LAPORAN KHUSUS karena ada dua orang yang sejak tadi berada di belakangnya: Bunda Lidya Puspasari dan Bapak Aswar Yusdar. Keduanya orangtua Nazran. Tak hanya memerhatikan, Bundanya bahkan merekam ujian dengan gadget. Benda canggih itu diberdirikan di atas meja sambil kameranya diarahkan ke putra keempatnya itu. Jadi, mau nggak mau, dia harus tampil sebaik mungkin: fokus dan menjawab setiap soal dengan benar. Kalau perlu tak ada satu jawaban yang salah. “Hal indaka sayyaratun,” tanya alumni Pesantren Gontor, Ponorogo sambil menunjuk gambar mobil di secarik kertas di depannya. “Na’am. Indi sayyaratun,” jawabnya dengan cepat dan fasih. “Kam sayyaratan indakum,” tanyanya lagi dan dijawab Nazran, “Indi sayyaratun wahidatun faqot.” Pertanyaan bahasa Arab yang diajukan bukan hanya tentang benda. Tapi juga kata kerja (fi’il). Lebih sulit. Sambil menunjuk secarik kertas yang berisi gambar anak bangun tidur, ustaz Hadyan—biasa disapa—bertanya lagi, “Mata tastaiqizu minannaum?” Nazran lalu melihat jam yang tertera di kertas dan sejurus kemudian langsung menjawab, “Astaiqizu minannaum fis saa’ati khaamisati tamaman.” “Thoyib, mumtaz,” katanya. Empat Materi Pemandangan serupa juga tampak dari Raden Rayyan Abrisam Matano. Siswa kelas 1 Pa yang akrab disapa Rayyan ini mengikuti EXOT bahasa Inggris di ruang kelas 6 Pa di lantai dasar. Dengan mengenakan seragam putih dipadu songkok warna serupa, Rayyan duduk di depan penguji, Mr. Efka Wardhana. Rayyan tak sendiri. Dia didampingi ayahnya, Bapak Raden Andy Anhar yang duduk tak jauh darinya. Jaraknya sangat dekat. Sekitar dua meter. Pandangan ayah yang berjenggot lebat dan teduh itu selalu tertuju kepada Rayyan. Tampak tak sabar lagi ingin tahu putranya menjawab setiap soal dari penguji. Ada lima lembar kertas di atas meja berisi empat materi EXOT bahasa Inggris. Materinya berbeda-beda: introduction, describing picture, find the difference, dan terakhir describing picture. Rayyan tampak sedikit grogi menunggu jawaban penguji. Tangannya sesekali digerak-gerakkan sambil memegang id card EXOT. Mr. Efka memulai ujian dengan lembar pertama: introduction. Ada AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
25 sekitar sepuluh pertanyaan diajukan. Semuanya tentang informasi personal: nama, usia, nama orangtua, alamat, kelas, hingga hewan kesukaan. Semua pertanyaan dapat dijawab dengan baik dan lancar. Tiba di kertas terakhir: describing picture. Mr. Efka menunjuk sebuah gambar di kotak sebelah kanan. Gambar seorang anak kecil sedang memegang cangkir berisi air minum. “What is he doing,” tanyanya. “He is drinking water,” jawabnya dengan fasih. Dia lalu berpindah ke gambar selanjutnya. Anak kecil yang sedang bermain bola. “What about this. What is he doing,” tanya. “Hmmm…He is playing football,” jawabnya. Lagi-lagi, saat menjawab pertanyaan itu, ayahnya melihatnya dari belakang dengan sesekali tersenyum.* Speechless Tak hanya siswa yang tampak grogi, perasaan serupa juga dialami para orangtua siswa. Mereka takut kalau anaknya nggak bisa jawab ujian dengan baik. Apalagi kalau sulit dikendalikan. Seperti yang dialami Bunda Rahmawati. Sehari sebelum EXOT, orangtua dari Ainayya kelas 1 Pi ini sudah panas dingin. “Rasanya deg-degan lihat anak ujian EXOT. Ngalah-ngalahin saat dulu ujian sidang skripsi,” An-Najah mengutip postingan facebook atas izinnya. Betapa tidak, lanjutnya lagi, anak diuji di dalam ruang kelas khusus. Hanya siswa, penguji, dan orangtua. Apalagi yang nguji bukan guru yang selama ini mengajarnya. Tapi dari luar. Yang berkompeten di bidangnya. Jadi, ini benar-benar pengalaman pertama. “Masyaa-Allah. Anakku bisa jawab. Speechless di dalam ruangan kelas. Terharu lihat shalihahku,” tulisnya lagi. Orangtua Ahmad Al-Ghazali dan Ahmad El-Shirazy, Bapak Dahrin juga merasakan hal serupa. Meski laki-laki, tapi nyatanya dia juga merasa grogi saat melihat anaknya diuji langsung di depannya. “Lutut ini sampai gemetar. Juga berkeringat. Melihat Al dan El diuji. Takut jika nggak bisa menjawab pertanyaan dengan baik,” ujarnya kepada An-Najah usai EXOT. Karena itu, jauh-jauh hari sebelum EXOT dia sudah meminta kedua anaknya untuk belajar dan mengulang hafalan. Dia bersyukur sebab dengan program ini bisa melatih mental siswa sekaligus untuk mengetahui kemampuan mereka.* Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
LAPORAN KHUSUS dan Asa Orang Tua Impresi Penguji “Masyaa-Allah. Saya bangga dan bahagia kepada siswa-siswi SD AISBa,” kata ustazah Rosmawati. Kesan itu disampaikan Ustazah Rosma—biasa disapa—saat menyampaikan pesan dan kesan kepada para guru usai EXOT di ruang kelas 3 Pa. Alumni Pesantren Gontor ini ditunjuk sebagai penguji bahasa Arab EXOT SD AISBa. Guru bahasa Arab dan al-Qur’an ini pun merasa senang melihat para siswi yang diuji selama dua hari. Dia menilai, siswa-siswi sangat bersemangat belajar bahasa Arab. Padahal, katanya, tak mudah belajar bahasa al-Qur’an. Tak seperti bahasa Inggris yang sudah jadi makanan sehari-hari. “Mereka menjawab setiap pertanyaan dengan semangat dan penuh antusiasme,” ujarnya. Dia pun memberi saran agar bahasa Arab bisa lebih berkembang di lingkungan AISBa. Katanya, siswa harus lebih banyak praktik percakapan sehari-hari. Dibuat regulasi dan lebih dibudayakan lagi. Materi yang diajarkan juga diperbanyak ekspresi per26 AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 cakapan. “Insyaa-Allah, kalau diperbanyak materi percakapan, anak-anak akan lebih lancar lagi dalam berkomunikasi,” jelasnya. Penguji bidang tahfidz al-Qur’an, ustaz Muji’ul Haq juga punya kesan serupa. Katanya, siswa-siswi yang diuji punya semangat dan kemampuan hafalan yang bagus. Banyak yang bisa menjawab soal atau melanjutkan bacaan al-Qur’an. “SD AISBa ini luar biasa. Punya perhatian sangat besar kepada bidang tahfidz al-Qur’an. Dan ini harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya. Dia berpesan agar kualitas hafalan siswa lebih diperkuat lagi. Caranya jangan buru-buru pindah ayat hafalan. Harus betul-betul kuat dan hafal di luar kepala dulu. Setelah itu, baru bisa pindah ke hafalan ayat selanjutnya. “Sebab, jika belum hafal betul sudah lanjut dan pindah, nanti cepat lupa dan bikin kerjaan dua kali,” jelasnya. Hal itu juga dilakukan olehnya dalam mengajarkan tahfidz murid-mu-
Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 27 ridnya di berbagai tempat. Hasilnya terlihat. Bagus. Para santrinya punya kekuatan hafalan yang kuat. Mutqin. Kesan serupa juga disampaikan oleh penguji bahasa Inggris, Bernadette Irene. Owner Go English Global ini mengaku bangga bisa jadi penguji bahasa Inggris siswa-siswi SD AISBa dalam program EXOT. “Saya bahagia diberi kesempatan untuk jadi penguji EXOT SD AISBa,” ujarnya kepada An-Najah di sela-sela menguji di ruang kelas 2 Pi di lantai 2 gedung AISBa di bilangan Beler, Balikpapan Kota akhir Mei lalu. Menurut guru bahasa Inggris yang telah memiliki internationally certified english teacher para siswa yang diujinya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus. Mereka juga punya rasa percaya diri yang tinggi. Tidak takut kepada penguji meski baru dikenal. “Para siswa bisa menjawab soal dan mempraktikkan materi yang selama ini telah dipelajari di kelas,” ujarnya lagi. Lebih Objektif Gelaran EXOT juga dapat beragam komentar orangtua siswa. Khususnya bagi yang baru pertama kali mengikuti. Seperti yang disampaikan Raden Andy Anhar. Menurut ayah dari Raden Rayyan Abrisam Matano—siswa kelas 1 Pa SD AISBa—EXOT efektif sebagai alat ukur kesiapan sekolah, orangtua, dan juga siswa dalam belajar. Tak hanya itu, EXOT juga tak ubahnya external audit di sebuah perusahaan. Sebab, yang mengetes langsung dari luar. Fungsinya bisa jadi bahan evaluasi terhadap seluruh stake holder: sekolah, orangtua, dan lebih-lebih siswa. Dari proses itu bisa dilihat bagian apa yang kurang dan jadi catatan. “Catatan itu bisa di-follow up sehingga proses dan kualitas pembelajaran kedepan bisa lebih baik lagi,” lanjutnya lagi. Karena itu, ayah dua anak ini berharap program EXOT tetap dipertahankan dan kedepannya lebih-lebih bisa lebih baik lagi. Tak hanya Bapak Andy, Bunda Nugraheni juga punya pendapat menar-
LAPORAN KHUSUS 28 AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023 ik tentang EXOT. Menurut orangtua Ghaida Farannisa Azzahra—siswi kelas 1 Pi—ini EXOT memiliki banyak fungsi, bukan sekadar mengetahui kemampuan secara akademik, tapi juga aspek psikologi. “EXOT bisa jadi media bagi siswa untuk tampil atas usaha dan doa yang sudah mereka upayakan, merasakan sensasi campur aduk perasaan dan mengelolanya saat di depan orang baru,” jelasnya. Tak hanya itu, dengan EXOT siswa juga berlatih kepercayaan diri, keberanian dari lingkungan terdekatnya, dan ini sebagai media untuk membuktikan bahwa semua anak punya kapasitas masing-masing dan bukan untuk dibandingkan. Kepala SD AISBa, Ustaz Randi Patajangan dalam penutupan EXOT mengucapkan terima kasih kepada para penguji yang telah menguji para siswa dengan sangat baik. Dia berharap, kerjasama yang baik itu kelak bisa tetap terjalin. Sebagaimana diketahui, pada EXOT SD AISBa 2023 ada 12 tim penguji. Empat penguji tahfidz alQur’an: Muji’ul Haq, Aditya Budi Utomo, Hj. Ema Sulistiyani S.Si, dan Aliyah Rusyaedah Irfam. Jumlah sama penguji bahasa Arab: Aulia Nur Rahmah, S.Pd, Rosmawati, SHI, Hadiyan Janitra, S.ikom, dan Azhar Afif Abu Abdurrasyid, S.Ag, M.A. Sedangkan empat penguji bahasa Inggris: Bernadette Irene, Aprilia Ramadhani Wy, Efka Wardhana, dan Hani Lathifah.*
PERJALANAN I ni adalah tulisan keempat dari perjalanan ibadah umroh Syaiful Anshor pada Januari lalu. Tiga tulisan sebelumnya telah diangkat An-Najah. Tulisan terakhir berjudul “Menapaktilas Gua Gira di Musim Dingin” dimuat April lalu. Tulisan Pemimpin Redaksi An-Najah kali ini bercerita tentang para tamu Allah di Tanah Suci. Dari perjalanannya, banyak kisah unik jemaah umroh dari berbagai daerah. Tak semuanya berduit. Tak sedikit yang justru diumrohkan orang lain. Di antaranya Pak Legimin—sopir di Jakarta dan juga Mansur, da’i asal Yogyakarta. Seperti apa kisah mereka? Ikuti tulisan perjalanannya berikut ini. Syaiful Anshor.* *** Udara di rooftop Masjidil Haram terasa dingin. Sepoi-sepoi angin terasa berhembus cukup kuat menembus jubah putih yang saya kenakan. Akhir Januari lalu Arab Saudi masih dilanda musim dingin. Cuaca tak seperti biasa: lebih dingin dan sesekali gerimis turun. Tamu-Tamu Allah di Tanah Suci Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 29
Usai shalat maghrib saya sengaja tak kembali ke penginapan di Funduq Al-Olayan Ajyad. Saya memilih duduk di puncak Masjidil Haram sambil berzikir, membaca al-Qur’an dan menikmati pemandangan sekitar masjid yang mengundang decak kagum. Saya tak sendiri. Ada ribuan orang yang duduk di rooftop mengitari Ka’bah. Salah satunya, Bapak Legimin. Dia berangkat umroh bersama istrinya. Satu travel dengan saya: Samara Amanah Travel yang berkantor di Jakarta. Pak Legemin tak muda lagi. Usianya mungkin sudah lebih kepala enam. Tampak dari wajahnya yang sudah dihiasi labirin. Dia tinggal di Jakarta. Sehari-hari bekerja sebagai sopir. Bosnya pegawai di salah satu perusahaan plat merah. Posisinya cukup tinggi. Pak Legemin bercerita. Dia tak pernah membayangkan jika bisa berziarah ke Tanah Suci, jadi tamu Allah yang istimewa. Sebab, selama ini dia hanyalah seorang sopir. Tak punya cukup duit. Apalagi, jika harus umroh bersama istri. Namun, keinginan untuk berziarah ke Tanah Suci itu sangat kuat. Bahkan, di sisa usianya, umroh adalah cita-citanya yang paling tinggi. Tak ada yang lain. “Allah sudah baik banget kepada saya. Apapun yang saya panjatkan dikabulkan. Tinggal yang ini, Umroh. Saya pun selalu berdoa agar hajat ini dikabulkan,” ujarnya sambil mengenang. Suaranya terdengar mulai serak. 30 AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 PERJALANAN
Sudut kedua bola matanya berembun. Bulir bening perlahan jatuh membasahi kedua pipi yang keriput. Dia tampak tak tahan menahan haru dan bahagia bisa umroh. Pak Legemin masih ingat. Suatu saat bos memanggilnya. Ingin memberinya hadiah. Betapa bahagia saat hadiahnya yang dimaksud ternyata umroh. Impiannya selama ini. Hanya saja dia tak mau sendiri. Harus bersama istri. “Saat itu bos saya pun menyetujui. Saya akan diberangkatkan umroh bersama istri. Sejak itu saya tak bisa berkata apa-apa. Bahagia sekali,” ujarnya bahagia. Kebahagiaan itu makin membuncah saat pesawat Saudi Airlines yang dinaiki landing di airport Jeddah. Tak terasa air matanya jatuh. Hatinya gerimis. Nangis sesunggukan. Seolah tak percaya bisa berziarah ke dua tanah haram: Mekkah dan Madinah. “Karena itu, saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan umroh ini begitu saja. Sebisa mungkin setiap waktu saya manfaatkan untuk beribadah, terutama menghabiskan waktu di Masjidil Haram,” ujarnya. Setiap bakda maghrib, Bapak Legimin dan istrinya selalu menghabiskan waktu usai maghrib hingga isya untuk tinggal di rooftop Masjidil Haram: berzikir, membaca al-Qur’an sekaligus menikmati suasana dan pemandangan sekitar Ka’bah yang mengundang decak kagum. Tak hanya itu, dia dan istrinya selalu berusaha untuk bangun lebih awal. Kalau bisa di sepertiga malam sudah bangun dan shalat di tempat kesukaannya: rooftop Masjidil Haram. Seperti malam adalah waktu paling syahdu. Sepi. Dingin. Ditambah lagi suara kepak burung merpati yang berterbangan. “Setiap detik di kota suci adalah kebaikan dan keberkahan. Sayang kalau disia-siakan. Rasanya ingin berlama-lama di sini,” ucapnya. Hadiah Tak Diduga Jemaah umroh yang lain—Mansur—juga punya cerita yang mirip dengan Pak Legimin. Dia adalah jemaah umroh asal Yogyakarta. Senior saya di kampus di Surabaya dulu. Sekarang sebagai da’i di kota Gudek. Sehari-hari dia mengampu channel youtube PosDa’I Yogyakarta. Bacaan al-Qur’anya bagus sekali. Suaranya merdu. Tajwid-nya bagus. Tak heran jika dia punya banyak pendengar setia setiap harinya. Bahkan setiap kali online, ratusan orang yang menyimak. Mayoritas orangtua dan Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 31
“Alhamdulillah, dengan program itu saya jadi bisa ngaji dengan baik dari sebelumnya. Paham tajwid dan makhraj dari yang awalnya nggak beraturan,” ujarnya di ujung gagang telpon. Sebagai ucapan terima kasih itu, beliau ingin memberikan hadiah. Mansur pun kaget. Tak menyangka jika ada salah satu jemaahnya ngaosnya akan memberi hadiah. Lebih kagetnya lagi kalau hadiahnya adalah umroh. Jadi tamu Allah ke Tanah Suci. “Jujur saya bahagia sekali. Diundang ke Tanah Suci dengan wasilah hadiah dari jemaah ngaos channel Youtube,” ujarnya penuh bahagia. Tak hanya diberangkatkan umroh. Mansur juga diberi sejumlah uang olehnya untuk keperluan selama di Tanah Suci, termasuk buat beli jajan. Bahkan, tak sampai di situ. Lembaganya—PosDa’I Yogyakarta—yang berada di bawah naungan Hidayatullah diberi travel haji dan umroh. “Kita diminta untuk mengelola travel haji-umroh yang sudah vakum tapi masih aktif untuk dihidupkan kembali. Masyaa-Allah, ini betul-betul hadiah sekaligus pertolongan Allah yang tak terkira untuk para mujahid dakwah,” tuturnya lagi. Mansur pun sangat berbahagia bisa umroh. Sama seperti saya, dia berangkat di sekitar medio Januari. Lebih dulu dia beberapa hari. Hanya saja, dia tiba di Madinah dan sempat tinggal beberapa hari di sana. Sedangkan saya tiba di Jeddah, Mekkah. Saya bertemu dengannya saat berada di Mekkah. Hotelnya kebetulan tak begitu jauh. Keberadaannya di kota suci tak disia-siakan begitu saja. Saya pun janjian bertemu dan pensiunan yang sedang giat belajar al-Qur’an. Segendang seirama Pak Legimin, Ustaz Mansur juga tak pernah menduga bisa berangkat umroh. Sebagai da’i yang pendapatannya tak seberapa, tak pernah menduga bisa umroh. Namun, sebagai Muslim, keinginan jadi tamu Allah itu terus membuncah. Suatu saat Mansur ditelpon oleh salah satu pendengar channel youtube-nya. Yang menelpon adalah istri salah seorang pensiunan salah satu perusahaan plat merah. Sudah sepuh. Katanya, dia merasa banyak dapat ilmu dan manfaat dari program channel Youtube yang dikelolanya. PERJALANAN 32 AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
melakukan thawaf bersama. Usai thawaf kami lalu duduk di dekat tangga di bawah atap Masjidil Haram. Sambil berbincang banyak hal— tentang kisah hidup masing-masing karena lama tak berjumpa—kami melihat dan merasakan suasana Ka’bah yang syahdu: gemuruh doa, takbir, dan ribuan orang berjalan mengelilingi Ka’bah. Shalat di Depan Ka’bah Waktu shalat zuhur masih agak panjang. Daripada kembali ke funduq, lebih baik menghabiskan waktu di depan Ka’bah. Ya, kapan lagi bisa duduk berlama-lama di Masjidil Haram. Kesempatan yang langka. Saat itu kami berjumpa dengan jemaah umroh asal Uzbekistan. Kulitnya putih. Wajahnya ganteng. Jenggot tipis menghias dagu. Hanya saja, saya lupa namanya. Dia fasih berbahasa Inggris. Jadi saya berbincang panjang lebar dengannya. Saat tahu saya dari Indonesia, dia senang sekali. Katanya, dia pernah tinggal di Balik sekitar tiga bulan. Tinggal satu kontrakan dengan orang Indonesia. “Orang Indonesia itu asyik. Ramah. Baik. Alamanya juga indah sekali. Saya suka,” ujarnya. Kami berbincang agak lama dengannya. Banyak hal. Mulai pengalaman saat berada di Bali, tentang ibadah umroh, dan juga budaya negaranya. Ternyata, dia sudah beberapa kali umroh. Meski sudah beberapa kali, tapi tetap ada rindu yang membelit hatinya hingga ingin selalu kembali ke Tanah Suci. Dia bahagia bisa jadi tamu Allah. Meski sudah beberapa kali. Ziarah ke tanah suci untuk beribadah umroh bukan soal punya duit atau tidak? Sekali lagi tidak. Sebab, betapa banyak orang berduit, tapi sekalipun tak mau umroh. Umroh adalah soal hati Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 33
yang tertaut ke baitullah: jadi selalu rindu untuk datang dan beribadah di Masjidil Haram. Katanya, salah satu yang dia lakukan saat umroh adalah duduk berlama-lama di Masjidil Haram: menikmati suasana Ka’bah dan shalat berjemaah di dekat Ka’bah. Dia pun mengajak saya dan Mansur untuk shalat berjemaah langsung di depan Ka’bah. “Tunggu beberapa menit lagi. Sampai azan zhuhur. Nanti kita shalat bersama-sama di depan Ka’bah,” katanya. Kami setuju. Saya baru sadar kalau itu cara untuk bisa shalat dekat Ka’bah: hanya berjarak beberapa meter saja. Caranya, dia melanjutkan, saat azan berkumdang langsung beranjak ke dekat Ka’bah. Sebab, para jemaah umroh yang thawaf akan berhenti dan shalat. Benar saja. Saat azan berkumandang, jemaah umroh yang sedang thawaf berhenti. Para askar menyebar. Mereka memasang pembatas. Saya, Mansur, orang Uzbekistan, dan Faisal—mahasiswa UGM—langsung bergegas menuju ke depat Ka’bah. Alhamdulillah, dapat. Saya duduk dekat Hijir Ismail. Hanya beberapa meter saja. Sambil mendengarkan suara azan yang mengalun merdu, saya menekuri setiap sudut Ka’bah. Sinar matahari cukup panas menerpa tubuh. Namun, lantainya tetap dingin. Jadi, tetap nyaman untuk duduk berlama-lama. Akhirnya, berkat saran dari orang Uzbekistan tadi, saya bisa beribadah—shalat zuhur, berdoa, dan sebagainya—dekat Ka’bah: kiblat umat Islam. Satu pengalaman yang takkan pernah terlupakan sepanjang hayat. Pengalaman itu juga jadi kesan berharga Mansur selama berada di Tanah Suci. Sebagai tamu Allah, Mansur tidak mau lewatkan waktu begitu saja. Karena itu, usai thawaf, habis ashar nanti kami janjian untuk berziarah ke Gua Hira bersama. Tulisan perjalanan ke tempat di mana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menerima wahyu pertama—Al-‘Alaq—telah kami turunkan di An-Najah edisi Maret 2023 lalu dengan judul: Menapaktilas Gua Hira di Musim Dingin. Panjangnya sekitar 8 halaman dan bisa dinikmati via AnyFlip di mesin pencarian google. Ingin Lagi dan Lagi Kisah Pak Legemin dan Ustaz Mansur sebenarnya tak jauh berbeda dengan saya: sama-sama di-umrohkan. Kalau yang mengumrohkan PERJALANAN 34 AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
saya adalah Yayasan Al-Imam Madinatul Iman (YAMI), lembaga yang menaungi SD-SMP AISBa. Dengan begitu, alhamdulillah, saya jadi tamu Allah ke Tanah Suci. Secara materi kami—khususnya saya—waktu itu tak punya cukup dana untuk umroh. Apalagi, awal tahun 2023 usai pandemi. Puncak-puncaknya jemaah umroh. Biaya umroh naik drastis. Berkali-kali muthowif kami—ustaz Abdul Rozak—mengingatkan kepada para jamaah, orang-orang yang umroh adalah tamu yang Allah undang untuk berziarah ke rumah-Nya. Dari miliaran umat Islam, tak semuanya bisa umroh. Hanya yang dipilih saja. “Karena itu, jangan pernah merasa sombong dan bangga karena jadi tamu Allah. Tapi tetap rendah hati, tawadhu. Manfaatkan waktu di tanah suci sebaik mungkin untuk,” ujar muthowif asal Lombok, NTB yang pernah menimba ilmu sekitar 10 tahun di Masjidil Haram. Segendang seirama Pak Legemin dan Mansur, saya juga tak mau menyia-nyiakan waktu saat berada di dua tanah haram: Mekkah dan Madinah. Sungguh berada di dua tempat suci ini adalah anugerah dan kesempatan berharga luar biasa untuk beribadah di menapaktilas setiap jengkal sejarah peradaban Islam. Masih teringat setiap sudut dan momen saat berada di dua tempat suci ini. Setiap kali ingatan itu berkelebat, keinginan untuk berziarah langsung membuncah. Ada beberapa jemaah bilang, “Insyaa-Allah, biasanya kalau sudah pernah sekali ke tanah suci, akan lebih mudah lagi datang ke tempat ini.” Saya pun menyakini ucapan itu sembari berdoa agar diundang Allah jadi tamu-Nya lagi di Tanah Suci. Hanya saja tak sendiri lagi. Tapi dengan keluarga tercinta. Agar lebih terasa. Sama-sama.* Dzulqa'dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 35
Ustazah Himmatul Aliyah ditunjuk sekolah untuk mengikuti Olimpiade Guru Matematika (OGM) pada Maret lalu. Selain alumni Universitas Mulawarman ini, ada dua guru lainnya yang ikut: Ustazah Anis Tri Wulandari dan Ustazah Marlina. Sebelumnya, wali kelas 3 Pa ini belum pernah mengikuti lomba sejenis. Namun, karena diminta, dia pun dengan senang hati mengikuti. Hitung-hitung cari pengalaman. Apalagi, olimpiade yang diikuti sesuai dengan bidangnya: matematika. OGM adalah salah satu ajang kompetisi nasional cukup bergengsi. Kali ini gelaran ke-8. Pesertanya tidak mainmain. Guru-guru terbaik dari seluruh Indonesia. Katanya, saat babak penyisihan di SD Patradarma saja yang ikut sangat banyak. “Pesertanya mungkin sampai seribuan dari seluruh Kalimantan Timur. Tesnya ada yang offline dan online,” ujar ustazah yang akrab disapa Ustazah Himma kepada An-Najah medio Mei lalu. Pada babak penyisihan ada 25 pertanyaan. Jenisnya pilihan ganda. Materinya kebanyakan matematika dasar yang diajarkan di SD: aljabbar, geometri, dan sebagainya. Pada babak ini diambil dua peserta dengan nilai tertinggi. Ustazah Himma salah satunya. “Alhamdulillah, saya lolos babak penyisihan,” jelasnya. Tanggal 14 Mei lalu Ustazah Himma pun harus mengikuti babak final. Tempatnya di Pusat Pengembangan SDM Aparatur Perhubungan di bilangan Raya Parung, Bogor, Jawa Barat. Dia bertolak dari Balikpapan ke Jakarta dengan pesawat terbang. Perjalanan dilanjutkan dengan kereta api hingga ke Bogor. “Ini pengalaman pertama saya naik kereta ke Bogor, kota hujan yang dingin” ujarnya tersenyum. Pada babak final ada sekitar 170 peserta dari berbagai provinsi. Soal yang diberikan lebih sedikit: 18 soal. Enam belas berbentuk isian dan dua soal uraian. Ustazah Himmah pun berusaha menjawab soal dengan baik. “Sebenarnya soalnya standar. Tapi mungkin jawaban saya kurang sempurna. Namun, saya cukup berbahagia di pengalaman pertama ikut olimpiade bisa masuk final,” ucapnya bahagia.* Masuk Final 36 SIAPA DIA AN-NAJAH | Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
STUDENT JURNALISM Hari raya Idul Fitri adalah momen paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Tak terkecuali oleh siswa-siswi SD-SMP Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBa). Banyak peristiwa, pengalaman, dan cerita menarik didapat. Malam takbiran, shalat I d u l 37 Cerita Gembira di Hari Raya Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH Fitri di lapangan, silaturahim, dapat Tunjangan Hari Raya (THR) hingga baju lebaran. Dan, yang paling menyenangkan adalah momen silaturahim kepada sanak family dan handai taulan. Bisa bertemu banyak keluarga. Bahkan yang selama ini tak pernah bertemu karena merantau atau keluar daerah. Namun, karena momen lebaran, mereka pulang hingga bisa berkumpul bersama. Meski harus merogoh kocek cukup dalam. Demi bertemu keluarga semuanya dilakukan. Seperti apa kisah lebaran yang dialami siswa SD AISBa? Untuk mengetahuinya, redaksi meminta siswi kelas 3 SD AISBa untuk menuliskannya. Nah, dari tulisan yang masuk, kami sengaja memilih beberapa yang paling menarik karena keterbatasan halaman untuk pembaca An-Najah.*
STUDENT JURNALISM 38 AN-NAJAH |Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 Hari Sabtu pagi Aisyah bersemangat dan bahagia sekali. Sebab, hari Sabtu tanggal 1 Syawal lalu itu lebaran. Pagi-pagi Aisyah sudah mandi dan berpakaian rapi, sarapan, dan bersiap-siap shalat Idul Fitri di masjid di depan rumah. Setelah shalat Idul Fitri, Aisyah tidak langsung pulang. Silaturahim dulu ke rumah nenek. Aisyah sungkeman dan bersalam-salaman kepada nenek. Usai silaturahim ke rumah nenek, Aisyah diajak silaturahim ke rumah teman dan sepupu. Masyaa-Allah. Hampir di setiap rumah yang Aisyah silaturahimin menyediakan banyak makanan. Macam-macam. Semuanya bikin ngiler. Waktu itu, Aisyah memilih untuk makan bakso. Suka soalnya. Setelah kenyang dan capek keliling, Aisyah pulang ke rumah. Nah, saat mau istirahat tiba-tiba ada tamu. Nggak jadi istirahat deh. Karena suasana lebaran. Ada saja tamu yang datang. Tak hanya kali itu saja ada tamu. Saat Aisyah dan keluarga silaturahim ke rumah keluarga tante. Ayah dan Aisyah saat mau makan, tiba-tiba teman Ayah telpon dan mengabari kalau dia sudah ada di depan rumah. Ayah pun nggak jadi makan dan langsung menyambutnya. Dan, saat temannOleh: Aisyah El-Ruby Alexandria, siswi kelas 3 SD AISBa Peristiwa Lucu Ayah ya pulang ada tamu lagi. Nggak habis-hsabis. Ohya, yang silaturahim mayoritas keluarga. Jadi bawa anak. Ramai sekali. Aisyah pun kasih mereka snack supaya senang dan tidak ribut. Makanan ringan itu adalah sisa hadiah saat Aisyah jadi wisudawati tahfidz alQur’an terbaik bulan Ramadhan lalu. Pokoknya lebaran kali seru, asyik, dan menyenangkan sekali. Meski nggak bisa merayakannya bersama kakek dari Ayah yang sudah tiada. Aisyah tetap bersyukur masih bisa merasakan lebaran tahun ini dengan keluarga besar. Semoga lebaran tahun depan Aisyah bisa merayakannya lagi. Ohya, Aisyah juga dapat THR, lho! Banyak lagi. Hehehe. Semoga teman-teman semua juga punya pengalaman lebaran yang seru dan mengasyikkan, yah!*
39 Hai, teman! Saya bahagia sekali bisa merayakan Idul Fitri tahun ini. Nah, pada tulisan kali ini, Dinda sedikit akan berbagi tentang pengalaman lebaran yang sangat berkesan itu. Pada lebaran sekitar sebulan lalu saya lebih banyak di rumah di Balikpapan. Tidak mudik kemana-mana. Hanya sesekali sempat juga bersilaturahim ke keluarga, tetangga, dan saudara lainnya. Seperti biasa, saat bersilaturahim saling salam-salaman dan mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin, yah.” Momen ini juga jadi momen penuh haru. Apalagi jika bertemu keluarga yang lama tak jumpa. Bisa bikin sedih bahkan nangis. Yekan? Ohya, teman. Alhamdulillah, waktu lebaran kemarin Dinda dapat THR. Berapa, yah? Rahasia deh. Hehe. Uang THR itu sebagian saya simpan untuk jajan kalau masuk sekolah nanti. Sebenarnya uang tersebut mau Dinda belikan keperluan adik. Tapi kata mamah nggak usah. Disuruh beli k e p e r l u a n Dinda sendiri saja. Usai silaturahim ke seOleh: Chamilia Adinda Putri, siswi kelas 3 SD AISBa Berbagi THR jumlah keluarga, Dinda lelah dan ingin pulang ke rumah. Tak lupa Dinda juga sikat gigi lebih dulu sebelum tidur. Setelah itu, Dinda tidur bersama adik. Pagi-paginya, alhamdulillah Dinda dapat THR lagi. Kali ini dikasih kaka sepupu. Uang itu Dinda belikan jajan lagi. Juga Dinda kasih kepada orang lain. Pokoknya, THR yang Dinda dapat bukan hanya buat sendiri. Tapi juga disedekahkan bagi orang lain. Berbagi kebahagiaan kepada yang lain. Sudah dulu ya teman. Itu cerita lebaranku.* Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
STUDENT JURNALISM Hari raya Idul Fitri kemarin Akifa sangat bahagia sekali. Ya, salah satunya karena Akifa bisa makan banyak kue. Selain itu, bikin Akifa bahagia karena dapat THR. Karena itu, Akifa sangat suka kalau lebaran: dapat THR, baju baru lebaran, dan….jalanjalan bersama keluarga. Karena saking asyiknya lebaran, Akifa berharap bisa lebaran terus. Tapi mustahil, ya? Hehe. Kan cuma harapan. Seandainya saja. Alhamdulillah. Meski lebaran Idul Fitri masih lama lagi. Sebelas bulan lagi. Tapi, sebentar lagi mau lebaran. Ya, lebaran Idul Adha. Meski suasanya agak sedikit berbeda. Tapi sedikit bisa mengobati kerinduan lebaran. Ya, meski di lebaran di Idul Adha biasanya tak dapat THR, dan baju lebaran. Juga nggak banyak kue seperti Idul Fitri. Tapi di Idul Adha ada daging qurban. Lihat pemotongan herwan qurban—kambing dan sapi—di masjid dekat rumah. Bagi Akifa, lebaran waktu paling menyenangka. Apalagi kalau Ayah pas off kerja. Bisa jalan-jalan ke mall, renang di kolam renang, atau pergi ke tempat saudara. Tahukah teman? Akifa senang jalan-jalan. Apalagi kalau jalan-jalannya sama keluarga. Asyik. Seru. Oleh: Akifa Naila Putri, siswi kelas 3 Pi SD AISBa Hadiah Spesial Orangtua Oh-ya, biasanya kalau lebaran Ayah dan Bunda selalu punya hadiah spesial buat Akifa, lho! Pokoknya surprise gitu. Kadang sengaja Ayah atau mamah nggak ngasih tahu dulu biar aku penasaran. Aku kan jadi kepo. Hehehe. Ingin tahu apasih hadiah spesial lebaran itu? Yessss! Hadiahnya kadang boneka, stiker, dan mainan masak-masakan. Ayah tahu saja kalau Akifa suka masak-masakan. Biar jadi chef hebat. Pintar masak. Hehehe. Oh-ya, teman. Lebaran Idul Adha nanti aku mau ajak orangtua renang lagi. Semoga Ayah ada waktu. Soalnya mamah sekarang nggak bisa nemenin dan dekatdekat. Mamah habis dioperasi. Akifa sedih dan nangis karena nggak bisa deketin mamah. Padahal Akifa kangen tidur bareng sama mamah lagi. Semoga lekas sembuh, ya Mamah. Aaamiiin. 40 AN-NAJAH |Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
Oleh: Villardha, Siswi kelas 3 Pi SD AISBa Silaturahim Bersama Keluarga kilo untuk bersilaturahim ke tempat keluarga. Di sina saya bertemu banyak teman dan bermain bersama mereka. Seru dan asyik. Namun, sebelumnya kami saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Hari lebaran selanjutnya ana naik mobil bersama keluarga ke Marang Kayu. Agak jauh dari rumah di Balikpapan. Perjalanannya saja pakai mobil dan lewat jalan tol. Karena jauh dan melelahkan, saya tertidur di jalan. Tak terasa. Tiba-tiba sudah sampai tujuan. Sampai di sana saya bahagia. Bertemu keluarga, salam-salaman, dan dilanjutkan makan kue dan nasi. Enak-enak lagi lauknya. Maknyus. Habis makan, seperti biasa, saya dan teman akan bermain. Di sana juga saya naik speed boat. Merasakan sensasi terhempat di atas debur ombak laut. Setelah itu, pulang lagi ke Balikpapan.* S aat hari lebaran, saya bangun lebih pagi. Ini adalah hari yang membahagiakan. Jadi nggak boleh telat. Bangun pagi, mandi dan memakai baju baru. Baju baru saya pakai indah. Berwarna putih. Setelah itu saya lalu berjalan ke masjid untuk shalat Idul Fitri. Habis shalat Idul Fitri, saya dan keluarga pergi ke Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 41
STUDENT JURNALISM L ebaran Idul Fitri lalu Valia sekeluarga mudik ke Mojokerto, Jawa Timur. Kami seke l u a r g a sempat nginap di hotel Aston. Bukan sehari dua hari. Tapi lama banget: dua pekan. Kalau aku sih senang-senang saja nginap di hotel. Bisa berenang di kolam renang. Hehehe. Awalnya sih aku kaget. Ko lama banget nginap di hotelnya. Tapi karena memang diajak Ayah, ya sudah. Nggak apa-apa. Setelah nginap di hotel kami lanjut perjalanan ke Jogjakarta. Di kota gudek ini saya ketemu nenek. Seru. Ketemu keluarga di Jogja. Juga sambil jalan-jalan ke sekitar Jogja yang indah. Dari Jogja keluarga lalu lanjut ke Cepu, Jawa Tengah. Di Cepu saya ketemu banyak teman dulu. Waktu itu juga nginap di rumah teman. Seru dan senang ketemu teman karena lama tak jumpa. Dari Cepu bertolak lagi ke Surabaya, Jawa Timur. Pokoknya jalanjalan terus deh. Capek. Dari Cepu kami naik kereta api. Seru juga naik moda darat kereta api. Kalau di Balikpapan kan belum ada. Di Surabaya kami nginap di hotel lagi. Kali ini di hotel Green Dharmo. Dari Surabaya lalu balik lagi ke Balikpapan.* Oleh: Valia Nafisya, Siswi kelas 3 Pi SD AISBa Nginap Dua Pekan di Hotel 42 AN-NAJAH |Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
Ketika azan shubuh bertalutalu dari arah pengeras suara masjid tak jauh dari rumah, aku langsung terbangun. Bergegas ke kamar mandi, mencuci tangan, mengusap wajah, dan mengambil air wudhu. Kantuk pun langsung hilang. Pagi ini aku bangun dengan perasaan sangat bahagia. Ya, sebab hari ini adalah hari raya Idul Fitri. Saya akan merayakannya bersama keluarga dengan penuh suka cita. Karena itu, usai shalat shubuh aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap shalat Idul Fitri. Shalat Idu telah usai. Saya bertemu pemilik lama kucingku. Dia memberi aku mainan kucingku. Singkat cerita saya sudah sampai di rumah. Tak lama setelah itu, tiba-tiba teman Ayahku datang. Rumah mendadak ramai Oleh: Rindu Ayunda Chandra Banyak Tamu sekali. Saat rumah masih ramai, tiba-tiba sepupu dari Ayah juga datang. Wah, rumah tambah ramai. Tapi aku suka. Sebab bisa bermain dengan mereka. Tak lama kemudian, datang tamu lagi. Kali ini om, tante, dan kakek. Karena aku ngobrol terus dengan kakek sepupuku pun marah. Dan aku terpaksa bermain dengan sepupuku lagi. Saat semuanya pulang dan sepupuku masih ada kita berfoto bersama. Selfi. Tapi adik sepupuku yang paling kecil menarik kerudungku. Jadi, fotonya jelek deh. Setelah sepupuku pulang, aku langsung tepar. Tidur. Kecapean.* Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 43
RESENSI Buku berjudul “Shofwwan dan Segenggam Harapan” ini ditulis berdasarkan kisah nyata (true story) penulis. Sang penulis—Ustaz Abdul Rofik—yang juga kepala SMP AISBa ini mengabadikan kisah perjuangan hidup yang penuh lika-liku, kerikil tajam, dan derai air mata dalam buku setebal 88 halaman. Hanya saja nama tokoh utamanya bukan dirinya. Menggunakan nama lain: Shofwan. Begitu juga tokoh-tokoh lain dalam novel ini. Sekadar untuk menyamarkan saja. Tapi isinya sama: kisah hidupnya dalam meraih cita-cita di tengah keterbatasan. Kerikil Perjuangan Judul : Shofwan dan Segenggam Harapan Penulis : Abdul Rofiq, S.Pd.I Penerbit : Nyalanesia Cetakan : 88 Halaman Tebal : Desember 2023 OLEH: Adinda Aisyah D.K, Murid kelas 9 dan Wakil Ketua OSIS SMP AISBa Dia mengawali tulisan dengan judul “Air Mata Perpisahan.” Tulisan itu merupakan kilas balik (flash-back) kisah hidupnya. Shofwam berasal dari keluarga miskin di pelosok Sumatera Selatan. Ayahnya yang asal Jawa Tengah transmigrasi ke Sumatera Selatan. Tempat transmigrasinya tak subur. Berlahan gambut. Tanahnya mengandung zat masam. Tak cocok untuk ditanami padi, sayur mayur, dan berbagai jenis tanaman lainnya. Itu karena lokasi tanah itu terhubung sungai Musi yang asin. Lagi pula saat itu daerah ini masih dikelilingi hutan lebat. Banyak babi, 44 AN-NAJAH | Rabiul Awal/Oktober 2022
monyet, ular, dan hewan liar lainnya. Tak aman untuk menanam singkong, pisang, dan lainnya. Belum sempat besar sudah dirusak dan dimakan babi dan monyet. Kondisi ini benar-benar membuat para transmigran hidup susah. Belum lagi kondisi ekonomi nasional yang sulit. Tahun 98 saat itu sedang terjadi krisis moneter. Di Jakarta berhari-hari sedang terjadi demonstrasi besar-besaran. Mereka menuntut agar Soeharto lengser. Konflik terjadi. Pembakaran. Efeknya ekonomi jadi sulit. Sembako langka dan mahal. Kondisi itu juga dirasakan para transmigran, tak terkecuali Bapak. Sembako mahal, langka, gagal tanam, dan sulit cari kerja. Imbasnya ke ekonomi. Anak-anaknya jadi susah bersekolah. Apalagi anaknya banyak. Ada sepuluh. Jangankan untuk biaya sekolah. Sekadar mengganjal perut untuk bertahan hidup susah minta ampun. Suatu saat Shofwan dan para saudaranya kelaparan. Dapur lama tak mengepul. Tak ada beras yang dimasak. Bahkan satu sisir pisang pun tak ada. Bapak pergi ke tetangga. Dikasih singkong karet atau ubi padasan. Singkong yang berdaun hijau dan besar itu sebenarnya tak boleh dimasak. Beracun. Karena tak ada yang lain, terpaksa singkong karet itu direbus dan disajikan kepada Shofwan dan saudaranya. Benar. Mereka keracunan. Muntahmuntah. Paling parah Shofwan. Muntah berkali-kali hingga parah. Racun itu menjalar ke sekujur tubuhnya dan mengumpul di jempol kaki hingga harus diopreasi. Bekasnya terlihat hingga kini. Shofwan juga kesulitan untuk bersekolah. Tak ada biaya. Dia terpaksa ikut Bapak dan ibunya bekerja jadi kuli sawit. Sekolahnya ditinggal. Padahal, sudah kelas 2 SD. Sehari-hari Shofwan bermain dan menemani orangtua menanam pokok sawit di tengah lahan yang luas. Dia bahkan hampir diterkam buaya saat mancing ikan di sungai. Meski hidup susah, tapi Bapaknya sedikit paham agama. Dia juga yakin bahwa pendidikan itu penting. Kunci memutus rantai kemiskinan dan kebodohan. Setiap habis maghrib, di bawah temaram dian—lampu bersumbu kain dan berbahan minyak tanah— Bapak mengajarinya ngaji turutan. Shofwan juga disuruh lanjut sekolah lagi. Lulus SD dia dikirim ke pesantren tak jauh dari desanya. Pesantren ini gratis. Khusus bagi anak dhuafa, yatim piatu, atau yatim. Pesantren hanya cabang. Pusatnya di Gunung Tembak, Kaltim. Karena gratis, Shofwan tak hanya belajar, tapi juga dilatih bekerja: cari rumput, menyangkul, cari kayu bakar, bersih-bersih, dan lainnya. Tangga meraih cita-cita Shofwan tak berhenti di situ. Masih panjang, berliku, dan penuh perjuangan. Tamat dari pesantren, dia melanjutkan ke pondok di Depok, lalu kembali lagi mengabdi, dan menimba ilmu di Sukabumi, Jawa Barat. Perjalan itu hingga kini sedang berhenti di Balikpapan, Kaltim. Novel yang menarik. Meski tak begitu tebal, tapi membacanya seolah mengikuti perjuangan luar biasa. Cocok dibaca bagi siapa saja yang kini sedang berjuang meraih cita-cita. Bahwa di balik kisah sukses ada perjuangan dahsyat. Hanya saja kadang kita hanya melihat suksesnya. Bukan perjuangannya. Salah satunya tokoh novel ini: Shofwan.*Ans. Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH 45
MY STORY Beberapa bulan lalu saya mengikuti kolaborasi diskusi astronomi dan sains dengan beberapa pengurus OSIS di kota Balikpapan yang diadakan di SMPIT Mutiara Rahmah di kawasan Bukit Cinta Damai (BCD), Balikpapan Kota. Kegiatan ini dimotori oleh OSIS SMPIT Mutiara Rahmah. Saya (Wakil Ketua OSIS) dan sejumlah pengurus OSIS SMP AISBa turut hadir: Bilal Fairuz Hubaidillah (Ketua OSIS SMP Serunya Belajar Astronomi AISBa), Galang Nervan Firdaus, Khalishah Yumna Salsabila, dan Davina Aurelia Salim. Materi yang kami pelajari tentang ilmu falak dasar seperti hilal, bulan purnama, fenomena gerhana, dan rasi bintang. Kegiatan berlangsung dari pagi sampai siang. Sedangkan materi diisi langsung oleh Kepala SMPIT Mutiara Rahmah, Ustaz Fatah. Pada awal kegiatan para peserta diminta untuk men-download dan Oleh: Adinda Aisyah Dewi Kinanti, siswi kelas 9 SMP AISBa 46 AN-NAJAH |Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
47 meng-instal aplikasi khusus di laptop masing-masing. Materi yang ada di dalam aplikasi itu tentang banyak hal: bumi, azimuth, altitude, rembulan, ilmu falak, gerhana, tata surya, dan rasi bintang. Ustaz Fatah pun menjelaskan hal-hal tersebut dengan detail dan menarik. Tak hanya penjelasan secara normatif, pembelajaran tentang astronomi juga dengan praktik. Jadi para peserta bisa lebih paham dan tahu. Adapun materi yang dipraktikkan adalah kalzowania, arah qiblat, teleskop dan stellarium. Dari praktik itu saya jadi tahu bagaimana menentukan arah kiblat yang benar dan juga penggunaan teleskop, dan lain sebagainya. Setelah sebagian materi dijelaskan, Ustaz Fatah membagikan beberapa lembar kertas berisi dua gambar, dua gunting, setengah botol aqua besar, dan sebuah lem. Benda-benda ini untuk alat percobaan pembuatan Kalkulator Zona Waktu. Sebelum ekperimentasi dimulai, beliau lebih dulu menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membuatnya. Setelah para peserta paham lalu diminta praktik. Dan, hasilnya menakjubkan. Sebuah kalkulator zona waktu yang menarik, keren, dan sangat bermanfaat. Padahal, cara pembuatannya pun boleh dibilang cukup sederhana dan mudah. Tak ribet dan butuh rumus berbelit. Para peserta berhasil membuatnya. Sebuah ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan hari itu. Setelah itu, ustaz Fatah menjelaskan materi gerhana. Beliau memanggil siswanya yang tergabung dalam klub sains untuk membawakan hasil karya seni miniatur gerhana bulan dan gerhana matahari. Hasil karya itulah yang digunakan sebagai sarana dalam penyampaian materinya. Acara belum selesai. Ustaz Fatah lalu meminta para peserta membuka aplikasi yang telah dipersiapkan sebelumnya di setiap laptop peserta. Nama aplikasinya Stellarium. Fungsinya untuk melihat langit, luar angkasa, planet-planet, hingga rasi bintang. Aplikasi ini menyediakan berbagai fitur menarik. Saya pun merasa senang dan seru. Dapat banyak ilmu lewat pembelajaran yang menyenangkan. *
Tidak mudah hidup di era digital. Meski zaman teknologi menyajikan banyak kemudahan, tapi menyimpan jerat berbahaya. Terlebih lagi bagi pelajar Islam. Jika tidak berhati-hati dan waspada, bisa terjerumus kepada hal-hal negatif. Setidaknya itu yang dirasakan Andi Kanza Mahezan Hartono. Sebagai pelajar yang mulai beranjak dewasa dan baru saja melewati masa puberitas, kondisi ini harus jadi perhatian khusus. Jangan sampai remaja terpedaya. “Sebagai remaja kita harus punya filter dan mampu menyeleksi segala sesuatunya. Jangan sampai latah meniru dan ikut. Bisa berbahaya nanti,” ujar siswi kelas 8 SMP AISBa ini kepada An-Najah medi Mei lalu. Apalagi, lanjut Kanza—sapaan akrabnya—hampir sekarang remaja tidak bisa dipisahkan dari gadget. Semua remaja bahkan sudah punya gadget sendiri. Pandai memainkannya. Pakai berbagai macam aplikasi dan media sosial. Menurut siswi berusia 14 tahun ini, remaja susah dipisahkan dari gadget. Sudah jadi bagian hidup. Karena itu, yang harus dilakukan adalah mengatur cara pemakaiannya. Mulai dari tujuan dan waktunya. “Tujuan pakai gadget sendiri Muslimah di Tengah FitNah untuk apa? Kalau saya sih sebagai alat komunikasi ke keluarga dan juga sahabat. Juga belajar dan bermedia sosial,” ujarnya. Siswi kelahiran 17 Desember 2008 juga tidak memungkiri kalau gadget jadi daya tarik luar biasa bagi perempuan. Benda canggih yang biasa disebut smartphone ini tak jarang jadi alat ekspresi kaum hawa untuk memamerkan kecantikan dan auratnya. “Tantangan gadget bagi perempuan juga soal menurut auratnya. Tak jarang karena ingin disebut dan dipanggil cantik lalu selfi hingga terlihat aurat. Ini juga godaan besar,” ujarnya. 48 AN-NAJAH |Dzulqa’dah 1444/Juni 2023
49 Dia berpesan agar para remaja— khususnya wanita—agar pandai menutup aurat. Tidak m e m a m e r k a n n y a kepada yang bukan tempatnya. Tak hanya itu yang jadi perhatian Kanza. Menurut siswi hobi bermain bulu tangkis ini menjaga hafalan dan akhlak di era modern seperti sekarang juga tidak mudah. Sering disibukkan pergaulan, gadget, dan rasa malas. Apalagi jika sudah kecanduan gadget. Ah, bisa lupa waktu. Duduk berjam-jam bermain game atau sekadar berselancar di dunia maya. Tak terasa. Sampai lupa menghafal dan memurajaah hafalan. Alhasil, banyak waktu terbuang sia-sia. “Remaja harus pandai manajemen waktu. Harus taat dan konsisten dengan jadwal yang telah dibuat. Belajar, main, menghafal, ibadah, dan lain sebagainya,” jelasnya. Selektif Pengaruh pergaulan dan gadget juga bukan soal waktu, perilaku, dan tontonan. Tapi juga diksi, ucapan, dan pemikiran. Banyak para influencer di berbagai media sosial— facebook, instagram, youtube, dan lain sebagainya—yang bisa berdampak buruk kepada siswa. “Remaja sering dicekoki diksi dan ungkapan yang buruk dan negatif di media sosial. Salah satunya oleh para influencer,” tuturnya. Masalahnya, terkadang para remaja belum bisa membedakan mana baik dan buruk. Pokoknya, jika sudah diucapkan oleh selebgram atau influencer dengan pengikut ratusan ribu atau bahkan jutaan, sudah dianggap benar, keren, dan layak diikuti. Kanza pun tidak mau tinggal diam. Sebab, terkadang ada saja temannya yang termakan diksi dan ekspresi negatif itu. Dia pun akan menasihatinya dengan berkata, “Nggak baik itu. Jangan diucapkan.” Naasnya tak sedikit justru yang merespon negatif dengan berbagai macam ujaran: Biasa saja sih! So alim, lho! Dan ucapan, “Ih, apaan sih?!” Kanza remaja yang mudah bergaul dan percaya diri. Komunikasinya juga bagus. Gampang kenal dan mudah beradaptasi dengan orang baru. Teman-temannya juga bukan hanya di sekolahnya: SD-SMP AISBa. Tapi di daerah kompleks dan lainnya. Banyak. Dia mengaku tidak membatasi sahabat. “Yang penting bisa jaga diri saja. Tahu batasan. Tidak mudah terpengaruh. Syukur-syukur justru kalau bisa menasihati teman,” tambahnya. Dzulqa’dah 1444/Juni 2023 | AN-NAJAH
Keluarga AISBa SD-SMP AISBa tidak asing bagi Kanza. Bahkan, sekolah Islam berbasis tahfidz yang terletak di bilangan Beler, Balikapapan Kota itu sudah jadi bagian yang tak terpisahkan bagi keluarganya. Bukan hanya Kanza, tapi juga ketiga saudaranya bersekolah di AISBa. Kanza sendiri anak kedua yang bersekolah di kawasan Bukit Cinta Damai itu. Yang pertama adalah kakaknya: Andi Kania. Angkatan ke-2 dan sekarang sudah duduk di bangku SMA. Disusul lagi kakak perempuannya: Andi Kanitah. Sekarang sudah lulus dan sedang melanjutkan pendidikan di jenjang selanjutnya. “Sekarang tinggal saya dan Andi Jasmine. Kalau Jasmine masih SD,” 50 ujarnya. Karena empat bersaudara bersekolah di AISBa, Kanza merasa sekolah seolah sudah jadi rumah keduanya. Berjam-jam tinggal dan belajar di sekolah. Bertemu teman dan para guru. Menghabiskan waktu bersama. Dia pun merasa bahagia dan senang bisa bersekolah di tempat ini. “Jujur di manapun sekolah pasti ada plus dan minus. Tapi bagi saya AISBa tetap sekolah yang membuatku bahagia dan betah,” pungkasnya. Suka dan duka dalam menuntut ilmu selama tujuh tahun lebih itu akan selalu diingat dan jadi fragmen hidup yang tak akan pernah terlupakan. Sebab, dari tempat itulah Kanza mengawali tangga-tangga untuk meraih cita-cita masa depan.* AN-NAJAH |Dzulqa’dah 1444/Juni 2023