2 Bagi banyak orang, gelar akademik penting. Fungsinya banyak. Salah satunya dianggap well educated. Juga bisa buat ngelamar kerja. Makin tinggi gelar, posisinya di perusahaan bisa makin tinggi. Gaji pun demikian. Apalagi, kalau bergelar profesor. Makin ampuh! Tak heran jika banyak orang berlomba-lomba meraih gelar akademik. Rela bersusah payah masuk sekolah. Dari satu jenjang ke jenjang berikutnya: TK hingga universitas. Mempelajari satu ilmu ke ilmu lain. Bertahun-tahun. Di tengah berderetnya gelar—di depan dan belakang nama—ada gelar yang lebih penting dari itu semua. Gelar ini tak harus diraih di bangku sekolah. Juga tak harus dengan bergelar sarjana, master, doktor, atau bahkan profesor lebih dulu. Tidak. Gelar ini unik. Tapi prestisius. Tak diskriminatif. Siapa saja bisa mendapatkannya. Asal dengan ketentuan dan syarat berlaku. Ada seorang miskin di pedalaman desa, bisa mendapatkan gelar ini. Namanya disebut-sebut penduduk langit. Dirindukan bidadari surga. Harum. Juga tak menampik, ada pula orang kaya, pejabat tingga negara dengan gelar berderet juga mendapatkan gelar ini. Tak membedakan suku, ras, dan jabatan. Lalu, gelar apakah itu? Takwa. Gelar ini lebih penting dari gelargelar yang selama ini disematkan oleh manusia di altar-altar universitas terhormat di penjuru bumi. Sebab, gelar ini hanya disematkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba pilihan-Nya. Kabar gembirannya, siapa saja dapat gelar ini dia akan jadi manusia paling mulia (akram). Mari sejenak merenungi ayat ke-13 dalam surah Al-Hujurat, “Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Ayat ini diawali dengan penciptaan manusia secara umum: laki-laki dan perempuan. Bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Jadi, ayat ini berlaku umum. Siapa saja. Tak memandang suku, ras, dan warna kulit. Baik orang Barat, Eropa, Asia, China, ataupun Afrika. Baik yang berkulit putih, sawo matang, hingga hitam legam. Semuanya sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanya satu: SALAM Gelar Takwa Oleh: : Syaiful Anshor, Humas AISBa AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2022
3 SALAM gelar takwa. Hanya saja, caranya berbeda dengan meraih gelar akademik. Kalau gelar akademik bisa diraih di ruang-ruang kelas, mempelajari disiplin ilmu tertentu lalu menghadapi ujian. Sedangkan gelar takwa tidak seperti belajar di bangku kelas. Setidaknya, ada empat ciri orang bertakwa menurut Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Pertama, al-khauf minal jalil. Seseorang harus merasa takut kepada Allah. Dengan rasa takut itu, dia akan berusaha jadi hamba yang taat. Menjalankan perintah maupun meninggalkan larangan-Nya. Kedua, al-‘amalu bi at-Tanzil. Beramal shalih dengan apa yang diwahyukan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah. Apa yang terdapat di dalam al-Qur’an sebisa mungkin diamalkan. Juga sunnah-sunnah yang diteladankan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Ketiga, ar-ridha bil-qalil. Selalu merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah. Meski mungkin bagi kita itu sedikit. Tapi, sedikit banyak rezeki, kita harus yakini bahwa itu anugerah Allah. Semuanya sudah ditakar. Tak akan tertukar. Di baliknya pasti ada kebaikan dan keberkahan. Keempat, al-isti’dadu li yaumi rahil. Senantiasa mempersiapkan bekal—amal shalih—untuk kematian dan menghadap Allah. Kehidupan di dunia dengan segala kenikmatannya hanyalah sebentar. Tak akan lama. Cepat atau lambat—setiap yang bernyawa—pasti akan kembali kepada-Nya. Dunia yang dikumpulkan akan ditinggal. Tak dibawa. Yang dibawa hanya beberapa lembar kain kafan putih. Itulah empat indikasi orang bertakwa menurut Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Seharusnya kita—juga siswa-siswi kita—jika ingin meraih gelar ini, harus memastikan petuah ini menghunjam di dalam dada. Sebab, jika tidak, apalah artinya berderet gelar, tapi tak ada artinya di mata Allah. Sia-sia belaka!* Sya’ban 1444/Maret 2022 | AN-NAJAH
DAFTARISI 39 MY STORY Dari Suka Jadi Cita-Cita 41 RUANG DINIYAH Ramadhan Sudah Dekat, Apa Persiapan Kita? 45 RAMADHAN Tata Cara Ifthar 6 13 31 39 6 TARBIYAH Sekolah Ramadhan 2 salam Gelar Takwa 13 LAPORAN KHUSUS Mahakarya Siswa Students’ Day 22 PERJALANAN Doa-Doa yang Diijabah 31 SIAPA DIA Siswa Berkopiah Serban 4 AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023
Penasihat: Bapak. Ir. H. Muhammad Utama Jaya, Ir. Hj. Megawati. Pemimpin Redaksi: Syaiful Anshor Redaktur Pelaksana: Nur Hidayat Sidang Redaksi: Muflihin, Rahmat, Romadhan, Lilin Linda Saputri, Abdul Rofik, Randi Patajangan, Karindah Eka, M. Fadly Ihsan, Hanifah Rahmah, Dina, Nur Hidayat, Indah Yulianti. Desainer: Mustok Design Alamat Redaksi : Alamat: SD-SMP Al-Imam Islamic School Balikpapan. Ruko Kompleks Masjid Namirah Blok A2 Balikpapan Baru. 0542-8515762 WA: 0811533362 Pertanyaan, saran, dan kritik disampaikan ke E-mail: [email protected]. SUSUNAN REDAKSI Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Pembaca yang budiman Ada yang istimewa pada bulan Maret tahun 2023 ini. Seperti yang tertera dalam kalender, jika tak ada aral melintang Rabu 22 Maret nanti umat Islam akan bertemu bulan Ramadhan. Itu berarti, tak lama lagi kita akan menjalankan ibadah puasa. Ya, ibadah yang dinanti miliaran umat Islam di penjuru dunia. Jika dihitung mundur (countdown) tanggal 1 Maret, maka kurang 21 hari lagi. Masyaa-Allah...Sungguh bahagia bisa bertemu Ramadhan lagi. Saking istimewanya bulan ini, para ulama salaf dulu bahkan berbulan-bulan sebelum Ramadhan tiba berdoa agar dipertemukan dengannya. Pembaca yang budiman Bulan Ramadhan punya berjuta fadhilah: pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, dan disiapkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ramadhan juga momen terbaik orangtua untuk mengajak anggota keluarga memanfaatkannya sebaik mungkin. Mengadakan “Ramadhan-time”: sahur, ifthor, shalat tarawih, tilawah, dan amalan lainnya bersama. Ya, jika di bulan-bulan lainnya mungkin agak jarang bertemu karena kesibukan, usahakan di bulan ini lebih sering bersama. Jangan lupa juga mengondisikan putra-putri untuk melakukan target Ramadhan: tilawah al-Qur’an, sedekah, qiyamul lalil, dan ibadah lainnya. Dengan demikian, melalui rubrik Sapa Redaksi, izinkan kami segenap redaksi An-Najah mewakili SD-SMP AISBa mengucapkan “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1444 H” kepada Ayah-Bunda. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan dan menerima seluruh amal shalih kita. Aaamiiiin. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Redaksi SAPA REDAKSI Ramadhan Time Bersama Keluarga Sya’ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 5
Sekolah Ramadhan Oleh: *Syaiful Anshor, Pimred An-Najah 6 AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023 TARBIYAH S ekadar untuk mere-fresh makna sekolah, mari kita sejenak buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ternyata, ada beberapa makna di dalamnya. Penulis ambil dua saja. Pertama, sekolah bermakna bangunan atau lembaga belajar dan mengajar. Kedua, sekolah berarti waktu atau pertemuan saat murid diberi pelajaran. Misalnya, belajar dari pukul 07.30 – 15.00. Dari situ, bisa dilihat jika diksi sekolah juga bisa digabung dengan diksi lain: sekolah agama. Itu berarti sekolah yang memberikan pendidikan agama. D a r i m a k n a tersebut, mari kita gabung diksi sekolah dengan Ramadhan: Sekolah Ramadhan. Kalimat ini secara bebas bisa ditafsirkan sekolah yang berisi tentang berbagai macam ibadah dan edukasi di bulan Ramadhan. Kenapa bisa ditafsirkan seperti itu? Bulan Ramadhan ini mirip sekolah. Waktunya jelas: sebulan penuh. Punya syarat yang jelas: beriman. Itu kenapa yang diwajibkan berpuasa dalam surah al-Baqarah ayat 183 itu adalah orang beriman. Jadi, yang tidak beriman tidak wajib. Clear! Kegiatan ibadahnya juga pasti: berpuasa. Tidak hanya menahan diri dari yang membatalkan puasa. Akhir tujuan (final goal) dari proses ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh adalah takwa. Membentuk pribadi yang bertakwa
Tapi juga berusaha semaksimal mungkin tidak melakukan perbuatan yang dapat mengurangi dan menghilangkan pahala puasa. Sebab, jika tidak, puasanya bisa sia-sia belaka. Asesornya juga ada. Bukan manusia. Tapi langsung Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pahalanya spesial. Allah juga yang akan langsung memberinya. Terakhir, ada gelar spesial yang akan disematkan bagi orang-orang yang berhasil menjalankannya dengan baik dan sempurna. Lalu, gelar apa itu? Mari lihat ayat yang termaktub rapi dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183: “Hai orangorang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” Perhatikan akhir ayat ini: di ujung ayat itu ada kalimat takwa. Dengan begitu, jelas bahwa akhir tujuan (final goal) dari proses ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh adalah takwa. Membentuk pribadi yang bertakwa. Lalu, bagi siapa saja yang berhasil meraihnya akan dapat hadiah indah di akhirat kelak: surga Ar-Royan. Hanya saja, sekolah Ramadhan ini berbeda dari sekolah-sekolah formal lainnya di dunia. Sekolah Ramadhan ini lebih spesial. Bahkan sangat-sangat spesial. Bulan Ramadhan sendiri dise - b u t s a y y i d u l syuhur: penghulunya bulan. Di dalamnya bertabur berkah, kebaikan, kasih sayang, lailatul qadr, ampunan, dan pahala yang menggiurkan yang tak ada di bulan-bulan lain. Ada salah satu hadis riwayat Bukhari nomor 3277 dan Muslim nomor 1079 yang menjelaskan keSya’ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 7
istimewaan Ramadhan yang membuat kita berdecak kagum. َ ُ اب ْو ب أ ِّ َح ْت ُت َ َض ُ ان ف َم َ ر ا جاء إَِذ َ فَد ِت ِّ َ ُص َّ ِار و َ ُ اب الن ْو ب أ َِّق ْت َ ُغل ِ و َّة ْ َجن ال َ ِ اط ُ ين َّ الشي “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” Al-Qadhi ‘Iyad menjelaskan hadis ini dengan begitu menarik. Katanya, hadis tersebut dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal itu berbeda di bulan-bulan lainnya. Di bulan ini orang akan lebih sibuk dan bersemangat melakukan kebaikan daripada maksiat. Ini sebabanya mereka dapat masuk surga. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan jadi asbab seseorang mudah menjauhi maksiat. Tiga Dimensi Mari kembali kepada Sekolah Ramadhan. Pada bulan Ramadhan ini setidaknya ada tiga dimensi edukasi (tarbiyah) yang harus ditingkatkan atau dioptimalkan dengan baik. Dimensi tarbiyah pertama ruhiyah. Dimensi ini sangat penting bagi manusia. Ruhiyah adalah energi. Seseorang yang tidak memiliki spiritual yang kuat bisa berbahaya. Sakit hatinya. Sakit spritualnya. Tak semangat beribadah. Juga hidup. Bisa stres dan depresi. Bisa tak kuat memikul beban hidup. Nah, di bulan Ramadhan, spiri8 TARBIYAH AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023
tualitas itu bisa dilatih dan ditingkatkan. Caranya dengan memperbanyak beribadah: puasa, shalat, tilawah al-Qur’an, qiyamul lalil, zikir, dan sebagainya. Harapannya, dengan berbagai ubudiyah di Sekolah Ramadhan ini, ruhiyah meningkat. Makin bersemangat. Tidak saja beribadah tapi juga menjalani hidup penuh manfaat dan kebaikan. Juga sebagai bekal sebelas bulan kedepan menjalani hidup. Karena itu, bulan Ramadhan adalah momen paling tepat untuk mencharge dimensi ruhiya. Dimensi kedua adalah intelektual (fikriyah). Islam memandang penting dimensi ini. Ilmu jadi landasan beramal. Bahkan, kita dianjurkan berilmu dulu baru beramal agar tidak sesat, salah, dan terjerembab pada hal-hal yang bid’ah. Itu kenapa Ramadhan momentum penting untuk meningkatkan keilmuan. Baik yang berkaitan dengan ibadah puasa sendiri, maupun ilmuilmu agama yang lainnya. Apalagi, pada momen ini banyak wasilah ilmu yang bisa diikuti: kajian di masjid, mushola, media sosial, dan layar televisi. Tinggal pilih. Tinggal mau atau tidak memanfaatkannya. Jangan sampai bulan Ramadhan tak ubahnya bulan yang lain. Tak ada penambahan ilmu. Padahal, masih banyak sekali ilmu yang belum diketahui. Sementara usia terus bertambah. Waktu juga terus berjalan. Jatah hidup terus berkurang. Lalu, apa lagi yang ditunggu? Dimensi ketiga jasadiyah. Bulan Ramadhan adalah tes (test case) kekuatan fisik. Tidak makan dan tidak minum dari terbitnya fajar hingga tenggelam matahari atau magrib. Kira-kira fisik kita kuat atau tidak? Mau tidak mau—sehaus dan selapar apapun—harus tetap bertahan. Tidak boleh berbuka. Namanya juga ujian ketahanan fisik. Dengan begitu, kekuatan fisik juga jadi faktor penting menentukan keberhasilan ibadah puasa. Dalam Islam, fisik sendiri jadi faktor penting dalam beribadah. Ada ibadah yang membutuhkan kekuatan fisik, salah satunya ibadah haji dan umroh. Karena itu, umat Islam harus kuat segalanya: salah satunya fisik. Itu juga telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam dan para sahabat empat belas abad silam. Buktinya, Rasulullah dan para sahabat justru pernah berperang melawan musuh di bulan Ramadhan. Dalam keadaan lapar, haus, dan lelah harus mengokang dan mengayun pedang melawan musuh. Itu tidak akan mungkin bisa dilakukan jika kondisi fisik lemah. Tak berdaya. Untuk menjaga kesehatan dan kekuatan, pada bulan Ramadhan harus tetap mengatur pola hidup sehat: makan makanan yang sehat dan bergizi, tetap berolahraga secukupnya, serta istirahat yang cukup. Juga jangan lupa mengonsumsi kurma dan madu. Terakhir, semoga kita dapat ‘bersekolah’ di bulan Ramadhan ini dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Dengan begitu, hasil yang didapatkan juga terbaik: disematkan gelar takwa oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala setelah menjalaninya. Aamiiiiin.* Sya’ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 9
Strategi Jitu Coach Khalil Cara ini sengaja agar menguras tenaga lawan. Betul saja. Di laga perdana, gawang tim SD AISBa robek 0-8 skor. Kalah telak. Meski kalah, tapi tenaga lawan sudah terkuras. Apalagi tim yang diturunkan di pihak lawan yang terbaik. Di laga kedua, ustaz Khalil mulai menurunkan pemain inti. Skor pun terbalik. Kali ini, tim SD AISBa dapat menguasai permainan. Hingga akhirnya di sesi kedua berhasil meraih skor 4-3. Ditambah lagi di sesi ke tiga. Tim asuhannya berhasil meraih skor telak: 12-3. “Sepertinya ini strategi ustaz Khalil untuk menguras tenaga lawan di awal laga. Padahal, emak-emak yang ngantar sudah ketar-ketir. Takut kalah,” ujar Bunda Lidia Puspasari yang juga ketua Komite AISBa.* J anuari lalu, siswa kelas 4 SD AISBa mengadakan pertandingan persahabatan (friendly match) melawan SDIT Mutiara Rahmah. Selain untuk menguji kemampuan, pertandingan ini juga untuk menguatkan persahabatan antar sekolah. Tim SD AISBa diasuh langsung oleh Ustaz Khalil Rahman. Koordinator ekstrakurikuler ini tidak mau tim asuhannya kalah. Sebab, ini adalah debut pertandingan perdana melawan sekolah lain. Ustaz Khalil—sapaan akrabnya— belum tahu kekuatan dan strategi lawan. Dia pun memasang strategi jitu agar memenangkan pertandingan. Caranya, di laga perdana, dia menurunkan tim dengan kualitas biasa. Lemah. KABAR SEKOLAH 10 AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
Edutalk IDC FM Bahas Students’ Day harus menyeleksi siswa yang cocok dalam pertunjukan tertentu. “Alhamdulillah, kita dipermudah dengan adanya kelas minat dan bakat di SMP. Jadi, dari kelas ini siswa sudah bisa diketahui bakatnya. Tinggal diempatkan di pertunjukan yang pas dan dilatih,” ujarnya. Segendang seirama Ustazah Dyah Mei Rimadhani. Menurut wakil ketua panita ini memasukkan seluruh siswa dalam pertunjukan tidak mudah. Lebih-lebih siswa kelas SD yang bawah. Harus diberikan penampilan yang cocok. “Semuanya sudah dapat. Kini dalam proses latihan. Tinggal menunggu hari H. Semoga berjalan lancar dan meriah,” ujar koordinator bidang kesiswaan SD AISBa ini. Bincang edukasi yang berlangsung sejam itu dimoderatori oleh penyiar senior IDCM FM, Ustaz Uli Abdurrahman. Seperti biasa, Ustaz Uli—sapaan akrabnya—membawakan talkshow dengan ganyeng dan renyah. “Ini acaranya pasti meriah karena berisi penampilan seluruh siswa. Juga dihadiri seluruh orangtua siswa. Jadi penasaran ingin lihat dan merasakan langsung suasanannya,” jelasnya.* S D-SMP AISBa mengadakan Edutalk di IDC FM Rabu, 8 Februari. Bincang pendidikan bertema “Sparkling Students’ Day of AISBa” ini menghadirkan tiga narasumber: Humas AISBa Ustaz Syaiful Anshor, Ketua Panitia Ustazah Indah Priliaty, dan Wakil Ketua Ustazah Dyah Mei Rimadhani. “Students’ Day adalah acara tahunan sekolah. Ini termasuk event terakbar dan spektakuler sekolah di mana seluruh siswa SD dan SMP terlibat dalam satu acara,” jelas Syaiful Anshor. Menurut Pimred An-Najah, sejak SD-SMP AISBa berdiri, Students’ Day sudah beberapa kali diadakan. Pertama kali diadakan di gedung lama di kompleks Masjid Namirah, Balikpapan Baru. Setelah itu, di Rujab Walikota dan terakhir di gedung Kesenian, Balikpapan. “Insyaa-Allah, Students’ Day tahun ini diadakan di gedung Kesenian lagi pada tanggal 26 Februari,” terangnya. Ketua panitia acara, Ustazah Indah Priliaty mengatakan, prosesi acara ini terbilang unik dan tak mudah. Sebab, seluruh siswa tanpa terkecuali harus ikut dalam pertunjukan. Itu kenapa, para guru yang bertugas sebagai PIC Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 11
Oleh-Oleh Umroh Pendengar IDC FM di hotel, humas AISBa itu tidak lagi menggantinya. Cukup berniat saja. Sedangkan tak sedikit jemaah lain yang baru berganti baju. “Puncak tulisan ini saat saya thawaf. Berjalan berlahan-lahan di belakang muthowif, ustaz Abdul Rozak. Dan saat sampai di Hajar Aswad melambaikan tangan dan bertakbir. Setelah itu tenggelam dalam putaran,” jelasnya. Selain menjelaskan tulisannya tentang perjalanan, Ustaz Anshor—sapaan akrabnya—juga membedah beberapa rubrik lainnya: Salam dan Tarbiyah. Dua rubrik ini juga dapat penjelasan panjang. “Rubrik Salam tentang Repetisi. Pentingnya mengulang pelajaran sebagaimana para ulama salaf terdahulu. Sedangkan rubrik Tarbiyah berbincang tentang saat anak banyak bertanya kepada orangtua,” tuturnya. Seperti biasa, bincang dalam program IDC Public ini dipandu oleh penyiar senior IDC FM, Ustaz Uli Abdurrahman. Penyiar legendaris yang akrab disapa Ustaz Uli memadu acara dengan ganyeng dan penuh canda tapi sarat pesan.* Ada yang agak berbeda pada talkshow bedah majalah An-Najah di IDC FM Senin medio Februari 2023. Pimred An-Najah, Ustaz Syaiful Anshor berbagi oleholeh. Bukan kurma atau coklat yang biasa dibawa jemaah umroh, tapi buah tangan itu dalam bentuk tulisan: Perjalanan. “Alhamdulillah, perjalanan umroh sekitar 12 hari saya tulis dan masukkan dalam rubrik perjalanan. Ini adalah tulisan perdana. Insyaa-Allah, ada sekitar enam tulisan berikutnya,” ujarnya. Judul tulisan sebanyak enam halaman itu “Talbiyah di Langit Yalamlam.” Yalamlam adalah tempat berjarak sekitar 45 menit menujud airport di Jeddah. Di tempat inilah para jemaah umroh sudah harus mengenakan pakaian ihrom dan mulai berniat. “Saat itu petugas seorang pramugari lewat pengeras suara mengumumkan agar para jemaah sudah berniat dan mengenakan kain ihram,” tambahnya lagi. Hanya saja, karena sudah mengenakan pakaian ihram bahkan sejak KABAR SEKOLAH 12 AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
13 Students’ Day Mahakarya Siswa S ekitar dua tahun absen karena pandemi Covid-19, SD-SMP AISBa akhirnya menghelat Students’ Day lagi. Temanya “The Journey of AISBa”. Bertempat di Gedung Kesenian Balikpapan pada 26 Februari 2023. Acara Students’ Day adalah salah satu program tahunan sekolah paling ditunggu berbagai kalangan: siswa, guru, dan lebih-lebih orangtua siswa. Pada pagelaran ini siswa menampilkan aneka pertunjukan spektakuler. Ada lima bidang ditampilkan: tahfidz al-Qur’an, bahasa Arab-Inggris, sains, adab, dan pramuka. Bidang tersebut lalu dikemas dalam berbagai pertunjukan atraktif: tilawah, syair, drama, dan AISBa Scout. Nah, seperti apa acara yang dihadiri ratusan orangtua siswa dan tamu undangan ini? Juga bagaimana kesan serta pesan orangtua siswa pada Students’ Day? Yuk, simak ulasannya berikut ini. Syaiful Anshor* Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
14 LAPORAN KHUSUS Pertunjukan Spektakuler Sebelas Panggung Gedung Kesenian Balikapapan tampak berbeda Ahad, 26 Februari lalu. Dua sisi dinding di sebelah kanan dan kiri tertempel backdrop dengan desain artistik besar. Warna backdrop dominan biru dan dipadu putih. Gambar pesawat luar angkasa tampak terbang menembus langit dengan api yang menyala di belakangnya. Tulisan Students’ Day SD-SMP Al-Imam Islamic School Balikpapan terdapat di bagian tengah atas. Sedangkan di bawahnya tulisan “The Journey of AISBa.” Kalimat “The Journey of AISBa” itu adalah tema Students’ Day 2023 tahun ini. Itu kenapa, menurut sang desainer, Ustaz Nur Hidayat, di bagian backdrop tersebut dibubuhkan gambar pesawat luar angkasa. “Filosofi pesawat luar angkasa itu seperti tema acaranya, The Journey of AISBa. Seperti perjalanan AISBa yang AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
15 masuk tahun ke-9. It’s was quite long journey. Semoga AISBa bisa makin terbang tinggi,” tutur guru sains. Suasana tribun gedung kesenian remang-remang. Tak ada cahaya lampu. Cahaya dari lampu di bagian atas plafon hanya menyorot bagian panggung. Di tengah suasana itu, tiba-tiba tiga siswi muncul dari belakang panggung. Mereka adalah Khalisah Yumna Salsabila, Namora Ilma Tsabita, dan Aisyah Humairoh. Ketiganya memakai warna baju yang sama: coklat dipadu mahkota putih yang menghias kepala. Mereka adalah pembawa acara atau Master of Cerimony (MC) Students’ Day. “Izinkan kami untuk menampilkan pagelaran seni Islami yang akan dibawakan siswa-siswi AISBa,” kata Namora dengan suara lantang dan penuh semangat. Setelah Namora mengucapkan kalimat itu, mereka lantas mengucapkan kalimat bersama-sama berikutnya, “MAHAKARYA AISBA YANG SELALU TERKENANG 2023.” Kedua tangan mereka ke depan berbentuk ilustrasi angka tahun 2023 ke arah para penonton. Kalimat pembuka itu membuat suasa pembukaan Students’ Day pagi itu makin haru dan seru. Tampak ratusan penonton yang duduk di kursi tribun melihat penuh antusias. Tak sedikit bahkan yang mengabadikan momen itu dengan kamerea gadget mereka. Baik foto maupun video. Setelah dibuka ketiga MC, acara dilanjutkan pembacaan ayat suci alQur’an dan terjemahan. Ahmad Hafi sebagai qari, Akram pembaca terjemahan bahasa Inggris, sedangkan Nazran pembaca terjemahan bahasa Indonesia. Tak mau kalah dengan penampilan MC yang impresif, ketiga siswa itu juga menyajikan penampilan yang memukau dan penuh percaya diri. Siswa kelas 6 SD AISBa ini membaca al-Qur’an dengan suara merdu dan fasih. Juga Akram dan Nazran. Membaca terjemahan dengan penuh penghayatan. Tak hanya itu, ketiganya Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
16 LAPORAN KHUSUS AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023 juga membuka dengan menutup tilawah dengan tiga bahasa secara bergantian: Arab, Inggris, dan Indonesia. Dalam pagelaran seni yang dimulai pukul 07.00 hingga selesai itu menampilkan sebelas pertunjukan. Seperti Murajaah juz 30, Tilawah al-Qur’an, Drama: The Greatest Treasure, Fun Learning, Mini Drama: It’s Not Cool to Sleep After Dawn. Pertunjukan lainnya juga seperti Kulluna Ikhwan, AISBa News, Ma’radh Hifdzil Qur’an, Khotimul Qur’an, Balada Mahkota Sang Raja, AISBa Scout: The First Trace. Pertunjukan yang terakhir itu—AISBa Scout: The First Trace—penampilan baru. Asuhan Ustaz Nur Hidayat dan Ustazah Karindah. “Sengaja kami memberikan pertunjukan yang something new dan different,” kata Ustaz Dayat kepada An-Najah. Acara yang berlangsung sekitar enam jam lebih ini dibuka dengan pertunjukan murajaah al-Qur’an juz 30 oleh siswa-siswi kelas 1 SD AISBa dan ditutup doa oleh Fatih, siswa kelas 8 Pa. Semua pertunjukan tampak menarik perhatian para orangtua dan tamu yang hadir. Namun, dari berbagai pertunjukan yang menarik itu ada dua pertunjukan yang dinilai sangat mengesankan: Kulluna Ikhwan dan Ma’radh Hifdzil Qur’an (MHQ). “Saat pertunjukan MHQ saya tak sadar sampai meneteskan air mata. Terharu melihat hafidz dan hafidzah Qur’an yang luar biasa. Bahkan ada yang sudah hafal 30 juz,” kata Bunda Normila Hartati, Bunda Alfatih Elhamy Wirawan siswa kelas 2 SD AISBa kepada An-Najah. Sementara, Bapak Candra Soekmana mengaku terkesan dengan penampilan Kulluna Ikhwan. Menurut ayah dari dua siswa SMP AISBa— Ezhy dan Laila Nahwa—penampilan yang dibawakan oleh empat siswa SMP itu sangat memukau. “Meski tidak mengerti semua artinya. Tapi pertunjukan tersebut memberikan pesan yang sangat dalam yaitu tentang azab penghuni nereka,” ujarnya.*
17 Kertas Kosong Pesan Dalam Bapak H. Muhammad Utama Jaya berdiri di panggung. Di tribune duduk ratusan orangtua siswa dan tamu undangan dari berbagai instansi yang melihatnya. Ketua Yayasan Al-Imam Madinatul Iman (YAMI) Balikpapan ini akan memberi sambutan Students’ Day. “Sebentar, saya akan membuka secarik kertas sambutan yang sudah saya siapkan dulu,” ujarnya. Suami dari Bunda Megawati ini lalu bergeser sedikit dari mimbar coklat di depannya ke arah samping. Dia lalu mengambil secarik kertas dari kantong baju batik bermotif daun dengan corak warna hitam, coklat, dan kuning. Ayah tiga anak ini lalu perlahan maju ke depan. Beberapa langkah. Lebih dekat ke arah tribune. “Ternyata di kertas ini tak ada tulisan. Kosong,” katanya melanjutkan sambil memperlihatkan kertas itu kepada yang hadir. Kertas kosong itu bukan tanpa disengaja. Saat diminta panitia memberikan sambutan sebagai Ketua YAMI, beliau bingung untuk menyampaikan pesan apa. Perasaan itulah yang katanya segendang seirama saat pertama kali hendak mendirikan sekolah sekitar delapan tahun silam. “Kertas kosong ini sama seperti dulu pertama kali saya dan Bu Mega—istri saya—hendak mendirikan sekolah. Belum punya apa-apa. Kosong,” ujarnya lagi. Awalnya, hanya berawal dari konsep pendidikan. Ingin mendirikan sekolah Islam yang berkualitas. Dari sekolah itu, dia berharap, dapat melahirkan generasi yang berkualitas, cerdas, shalih, beradab, dan calon pemimpim masa depan. “Saat itu kita belum punya murid, Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
18 LAPORAN KHUSUS AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023 guru, dan gedung sekolah yang representatif,” imbuhnya mengenang. Kondisi itu tidak menyurutkan cita-citanya untuk membangun sekolah. Dia beserta istrinya lalu “bergerilya”. Setiap hari Sabtu jadi marketing konsep sekolah. Dia juga membuka registrasi siswa baru dan juga lowongan kerja guru di surat kabar harian di Balikpapan. Hampir setiap Sabtu keduanya menunggu siswa baru di ruko lama di bilangan Balikpapan Baru. “Saat itu ada orangtua masuk ke kantor di gedung lama. Kami kira mau mendaftarkan anaknya ke AISBa. Masyaa-Allah, ternyata salah alamat,” ujarnya tersenyum. Makin Berkembang Alhamdulillah, perjuangan penuh kesabaran Bapak Utama—sapaan akrabnya—lambat laun berbuah hasil. Satu persatu siswa baru mendaftar. Juga guru. Dari berbagai daerah dan universitas. Baik dari dalam maupun luar negeri. Bahkan salah satu gurunya, Ustaz Abdul Hannan asal Pakistan. Kini, AISBa punya lebih dari 40 guru dan staf. Muridnya juga kian bertambah. Pelan tapi pasti, SD-SMP AISBa makin berkembang. Ternyata, membangun sekolah tak semudah dibayangkan. Banyak rintangan. Dia bercerita, pernah beberapa tahun lalu, di satu titik merasa berat menjalankan roda sekolah. Ada rintangan yang berat. Keduanya hampir putus asa dan menyerah. “Saat itu saya dan istri sampai diskusi. Kira-kira sekolah ini mau dilanjutkan atau tidak? Alhamdulillah, dengan mengucap bismillah kami tetap melanjutkannya,” ucapnya lagi. Perlahan tapi pasti, SD-SMP AISBa makin berkembang. Berawal dari gedung lama di ruko kompleks Masjid Namirah, Balikpapan Baru kini pindah ke gedung baru empat lantai di kawasan Bukit Cinta Damai di bilangan Beler, Balikpapan Kota. Saat menceritakan kisah itu, di belakangnya, tampak video yang ditayangkan LCD proyektor proses awal pembangunan gedung. Masih berupa tanah biasa dengan ratusan baja yang tergeletak di atasnya. Di sekelilingnya juga masih berupa pepohonan yang rindang dan hijau. “Sebenarnya banyak bank yang datang dan menawarkan hutang. Bukan karena tak bisa nyicil. Karena kita ingin keberkahan. Jadi, kami berusaha untuk mendanai sendiri,” jelasnya. Gedung akhirnya jadi. Meski belum semuanya. Sisanya masih dalam proses pembangunan. “Insyaa-Allah, nanti dari gedung ini kita akan bangun sekolah dari PAUD, TK, hingga SMA. Semoga kita bisa membuat kawasan sekolah Islam AISBa di Bukit Cinta Damai ini,” tuturnya. Namun, beliau menyadari dana pembangunan sekolah tidaklah sedikit. Sangat besar. Pada kesempatan itu, Bapak Utama pun mengundang para orangtua siswa untuk turut serta membangun AISBa. “Kami persilahkan jika ada orangtua siswa yang ingin bersedekah membangun sekolah. Atau juga ingin meminjami kami uang kami persilahkan. Semoga jadi amal jariah buat Bapak dan Ibu semuanya,” pungkasnya.*
19 Greatest Show The S ekitar 31 siswa-siswi SD-SMP AISBa duduk di kursi di atas panggung. Yang ikhwan duduk di sebelah kanan dengan seragam yang sama: gamis putih dipadu jas hitam dan songkok nasional. Sedangkan yang akhwat dengan berseragam gamis hitam dipadu jilbab biru duduk di sebalah kiri. Para siswa pilihan dari berbagai kelas SD-SMP AISBa itu menampilkan pertunjukan Ma’rad Hifdzil Qur’an (MHQ): pembacaan surah Al-Muzammil 1-15 bersama-sama dan dilanjutkan muqaddimah kitab Tuhfatul Athfal. Setelah itu, dilanjutkan sambung ayat oleh peserta. Sontak, gedung aula yang luas itu disesaki riungan tilawah al-Qur’an siswa. Lebih-lebih lagi saat pembukaan kitab Thuhfatul Athfal dibaca dengan nada yang merdu. Suasanya makin haru. Tampak para peserta fokus menyimak. Saat itu, tiba-tiba kedua ustaz keluar dari belakang panggung mendampingi mereka: Ustaz Zulfahmi Alwi dan Ustaz Faisal. Keduanya mempersilahkan Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
LAPORAN KHUSUS 20 orangtua meminta para peserta membacakan ayat suci al-Qur’an secara random. Para siswa yang ditunjuk orangtua dapat melanjutkan bacaan Qur’an dengan lancar dan fasih. Pemandangan tersebut ternyata membuat orangtua siswa yang melihat haru. Salah satunya Bunda Normila Hartati. “Saat pertunjukan MHQ saya tak sadar sampai meneteskan air mata. Terharu melihat hafidz dan hafidzah Qur’an yang luar biasa. Bahkan ada yang hafal 30 juz,” ujarnya kepada An-Najah. Kata Bunda dari Alfatih Elhamy Wirawan, siswa kelas 2 SD AISBa, ini adalah kali pertama dia menyaksikan perhelatan Students’ Day. Menurutnya, pertunjukannya keren dan kreatif. Dia pun mengaku bangga dapat menyaksikannya. “Masyaa-Allah. Para siswa bisa tampil begitu luar biasa penuh percaya diri,” imbuhnya lagi. Hal senada disampaikan Bunda Yuli Anita. Orangtua siswa Khalisah Yumna Salsabila—siswi kelas 9 SMP AISBa yang jadi MC Students’ Day—ini mengaku sangat terkesan dengan pagelaran seni siswa. “Ini benar-benar beyond expection saya. This is the greatest show,” ucapnya kepada An-Najah akhir Februari lalu. Senada Bunda Normila, bagi Bunda Yuli ini adalah kali pertama menyaksikan pagelaran seni siswa AISBa. Menurutnya, setelah disaksikan sesksama, semua pentas seninya menarik dan inspiratif. “Luar biasa lagi semua siswa dilibatkan. Ini bukan hal mudah. Bakat dan minat anak anak benar-benar dilatih dan terlihat,” jelasnya lagi. Menurut Kepala SD AISBa, Ustaz Randi Patajangan Students’ Day adalah media untuk memberi pengalaman berharga kepada siswa. Terkhusus dalam bidang seni peran dan membangun rasa percaya diri. “Pelajaran bukan hanya di ruang-ruang kelas, tapi juga di dalam program di luar kelas, seperti pada acara Students’ Day kali ini,” katanya dalam sambutan. Dia berharap, siswa dapat mengambil pelajaran sebaik mungkin. Sebab, program ini tak sering dilakukan. Sekali setahun. Dia pun berharap para orangtua memaklumi jika ada sesuatu yang dianggap kurang atau belum sempurna. Bunda Arlina Devinta Widhyasti dalam sambutannya mengatakan SD-SMP AISBa memiliki konsep kurikulum komprehensif. Siswa tidak hanya diajarkan pelajaran umum, tapi juga agama, dan tahfidz al-Qur’an. “Semoga cita-cita AISBa mendidik generasi yang cerdas, shalih dan berakhlak mulia tercapai,” pungkasnya. Saran Tak ada gading yang tak retak. Peribahasa ini sepertinya juga cocok untuk pagelaran Students’ Day. Di tengah antusiasme dan sambutan hangat orangtua siswa, ada beberapa hal yang harus jadi catatan ke depan. Seperti disampaikan Bapak Candra Soekmana. Menurutnya, beberapa durasi pertunjukan—khususnya video drama—agar bisa lebih diperpendek. Sebab, katanya, pertunjukan siswa yang secara life telah banyak. Waktu jadi membengkak. Selain itu, lanjutnya lagi, kedepan panitia bisa menyediakan stand khusus AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
snack dan makanan. Ini penting agar jika para penonton lapar atau haus, bisa langsung membeli di bagian depan. “Supaya nggak kehilangan fokus dan konsentrasi,” tutur suami Bunda Winda Hermayanti. Masukan lainnya dari Bunda Yuli Anita adalah sound system. Beberapa kali suara sempat tak terdengar dan membuat kurang nyaman. Karena itu, katanya, dia berharap, kedepan kualitas sound system bisa lebih baik lagi. Hal senada disampaikan ketua Komite AISBa, Bunda Lidia Puspasari. Menurutnya, kualitas sound sytem kedepan harus diperbaiki agar dapat menghasilkan pertunjukan yang maksimal. Tak hanya itu, orangtua dari dua siswa—Nazran dan Khalila—ini memberi beberapa masukan lainnya. Seperti waktu pelaksaan yang sedikit lewat waktu shalat. Gara-gara itu, sesi foto jadi tidak ada. Orangtua harus buru-buru pulang. “Saran lainnya yaitu baju setiap penampilan—khususnya akhwat—agar diperhatikan. Jangan sampai terlihat atau tersingkap auratnya,” imbuhnya lagi. Tantangan Bagi ustazah Indah Priliaty, jadi ketua Students’ Day itu sangat menantang. Banyak hal yang harus dikerjakan dan tidak mudah. Pertama kali ditunjuk sebagai ketua, guru sains alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini sempat kaget. Ustazah Indah tidak kerja sendiri. Dia dibantu wakilnya, Ustazah Dyah Mei Rimadhani. Selama persiapan hingga hari H, keduanya pun tampak sibuk bekerjasama mengerjakan banyak hal: membuat proposal acara, membagi PIC, mengatur jadwal latihan dan sebagainya. “Pertama kali kami harus menentukan konsep. Namun itu juga tidak mudah. Sebab, ada perubahan dan kami harus menyesuaikannya lagi,” terangnya kepada An-Najah akhir Februari. Konsep dan tema sudah disepekati. Selanjutnya tempat. Sayangnya, tempat yang dipilih—gedung Kesenian—sudah disewa. Mau tidak mau, acara harus diundur ke akhir Februari. “Selain itu, yang jadi tantangan selanjutnya adalah mengatur jadwal latihan siswa dan juga guru. Belum lagi gladi kotor dan resik. Terpaksa kita harus ambil sedikit di jam pelajaran untuk latihan,” pungkasnya.* Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 21
PERJALANAN Pada edisi Februari lalu, An-Najah menurunkan tulisan perjalanan Ustaz Syaiful Anshor yang melaksanakan umroh pada Januari lalu. Dalam tulisan perdana berjudul “Talbiyah di Langit Yalamlam”, Pimred An-Najah itu menulis kisah perjalanan saat berada di pesawat hingga thawaf di Ka’bah. Nah, pada tulisan kedua, Humas AISBa ini melanjutkan kisah perjalanannya. Kali ini, tulisannya masih tentang ibadah umroh—thawaf, sa’i, tahallul, dan doa-doa yang diijabah. Seperti apa tulisannya? Berikut ulasannya untuk pembaca. Semoga bermanfaat. *** Usai mengangkat tangan dan bertakbir sekali di garis Hajar Aswad, saya dan para jemaah umroh terus berjalan. Tak sulit menemukan Hajar Aswad. Termasuk saya yang baru pertama kali umroh. Hajar Aswad terletak dekat mulDoa-Doa yang Diijabah (2) 22 AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
tazam dan pintu Ka’bah. Setelah Rukun Yamani. Menandainya mudah. Lihat saja banyak sekali orang berjubel, berdesak-desakan, dan saling merangsek ke Hajar Aswad. Mereka berlomba-lomba ingin memegang dan mencium batu asal surga itu. Juga berdoa di sana. Seorang askar berseragam loreng dengan baret hitam di kepala berjaga-jaga. Askar itu berdiri di dekat Hajar Aswad sambil memegang tali hitam. Pandangannya seolah tak berkedip. Menatap para jemaah yang berlomba-lomba ingin meraih Hajar Aswad. Jika keadaan tak kondusif, askar itu tak segan-segan akan berseru ke jemaah, “Ya, haji....! Ya, haji...” Saat itu, saya juga ingin sekali merangsek masuk ke dalam kerumunan. Ingin merasakan suasana kerumunan jemaah. Juga berharap dapat memegang dan mencium batu asal surga itu. Saya punya beberapa tips agar bisa melakukannya. Salah satunya tips dari Bapak H. Muhammad Utama Jaya. Kata ketua YAMI ini, trik itu sudah pernah dipraktikkan saat berhaji beberapa tahun silam. “Alhamdulillah, saya bisa mencium Hajar Aswad dan shalat di Hijir Ismail,” ujar suami dari Bunda Megawati mengenang peristiwa bersejarah yang penuh bahagia. Cara yang dilakukan ayah tiga anak ini adalah dengan berjalan pelan-pelan sambil terus bergeser ke arah Ka’bah. Masuk ke tengah kerumunan putaran jemaah. Atau bisa juga mengikuti orang lain—khususnya orang berbadan tinggi besar—saat merangsek ke dalam kerumunan. Hanya saja, lanjutnya, jangan sampai berada di barisan putara pertama. Jika berada di barisan ini, akan sulit bergerak atau keluar. Bisa stuck. Karena itu, tetap bertahan di barisan kedua dan nanti saat berada dekat Hajar Aswad atau Hijir Ismail, kalau buka, bisa langsung masuk. “Cari momen tepat. Jangan takut masuk. Pelan-pelan. Sebab, di balik berjubelnya jemaah umroh yang thawaf tetap ada celah untuk masuk,” katanya menyakinkan. Tips itu ingin saya praktikkan langsung saat thawaf pertama ini. Sudah tak sabar lagi. Tak hanya ingin memegang dan mencium Hajar Aswad, tapi juga kiswah, multazam, pintu Ka’bah dan shalat di Hijir Ismail. Tempat-tempat ini bukan saja bersejarah tapi juga mustajab. Cepat dikabulkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kondisinya tak memungkinkan. Ini thawaf perdana. Saya belum menguasai medan. Belum lagi harus mengikuti muthowif. Saya harus belajar lebih dulu. Kalau sudah tahu, bisa thawaf sendiri. “Nanti kalau jemaah sudah thawaf pertama ini dan ingin thawaf sendiri lagi kapan-kapan saja silahkan,” ujar Ustaz Rozak mengingatkan. Mendengar itu, saya pun tenang. Tak perlu buru-buru melakukannya sekarang. Fokus thawaf. Lagi pula di Mekkah cukup lama: lima hari. Masih banyak waktu dan kesempatan. Harus sabar. Saya masih berjalan pelan di belakang muthowif. Kedua kaki saya melangkah tak menentu. Kadang pelan kadang cepat. Tergantung ustaz Abdul Rozak. Siang itu, cukup panas. Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 23
24 Sinar matahari membuat badan berkeringat. Meski panas, lantai Masjidil Haram tetap dingin. Itu karena lantainya terbuat dari bahan khusus. Para jemaah—termasuk saya—tetap leluasa menjejaki lantai Masjidil Haram dan berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Tak terasa, keringat menetes membasahi wajah. Juga badan. Menurut ustaz Abdul Rozak, dari Hajar Aswad ke Rukun Yamani tak ada doa yang ditentukan. Para jemaah boleh berdoa apa saja. Terserah. “Silahkan baca doa apa saja. Sesuai yang dihajatkan. Jangan lupa doakan kedua orangtua, keluarga, dan juga doa-doa yang sudah dititipkan oleh saudara atau orang lain,” ujarnya mengingatkan. Ribuan orang tampak berjalan mengitari Ka’bah. Dari berbagai negara. Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Uzbekistan, China, Turkiye, dan masih banyak lagi. Tak sulit mengenali mereka. Bisa dikenali dari wajah, bahasa, atau bendera yang tertempel di kartu pengenal atau syal yang dililitkan di leher. Uniknya, dari ribuan jemaah umroh yang thawaf, kebanyakan dari Indonesia. Sering sekali saya mendapati orang Indonesia. Baik yang thawaf sendiri atau berkelompok: Sunda, Sulawesi, Banjarmasin, Madura, dan daerah lainnya. Biasanya, jika berkelompok dipimpim seorang muthowif. Dia berjalan paling depan dan mengucapkan doa dengan suara lantang. Para jemaah di belakang mengikuti tak kalah keras. Macam-macam doa yang dibaca. Melangitkan Do’a Seperti disampaikan Ustaz Rozak, kami disuruh membaca doa apa saja. Terserah. Saya pun membacanya. Macam-macam. Baik doa untuk orangtua, PERJALANAN AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
25 diri sendiri, keluarga, saudara, teman, dan juga doa titipan dari teman di media sosial. Bahkan tak sedikit yang berkomentar minta didoakan di facebook maupun di Instagram. “Doakan kami juga ustaz biar bisa nyusul,” tulis akun jelajah_udara netizen asal Balikpapan saat mengomentari tulisan saya di Instagram yang diposting sesaat sebelum bertolak dari bandara Balikpapan ke Jakarta. Mereka yakin bahwa berdoa di Masjidil Haram cepat terkabul. Rumah Allah ini suci. Berdoa di dalamnya berbeda dengan di tempat lain. Apalagi, jika bisa berdoa di Hijir Ismail, Multazam, dan Hajar Aswad. Saya membacakan doa satu persatu. Dimulai dari doa pribadi, keluarga, orangtua, sekolah yang memberangkatkan saya umroh, dan tak lupa para sahabat. Kadang berdoa dengan bahasa Arab. Kadang pula bahasa Indonesia. Kadang dengan suara keras. Kadang juga dalam hati. Ganti-ganti. Saat itu, bukan saya saja yang berdoa. Orang-orang di sekeliling saya juga melakukan hal yang sama. Thawaf momen penting untuk berdoa. Tak sedikit yang berdoa dengan nada keras. Bahkan sampai menangis. Terisak-isak. Sungguh pemandangan mengharukan. Ribuan orang memutari Ka’bah seraya melangitkan doa. Putaran thawaf itu tak hanya dalam bentuk manusia, tapi juga doa. Tak nampak. Hanya terdengar. Segendang seirama ribuan manusia yang thawaf, ribuan doa itu terapal dari lisan manusia, berputar, dan berpilin-pilin naik ke Arasy. Hanya saja, saat lewat Rukun Yamani sampai Hajar Aswad, ustaz Abdul Rozak mengingatkan para jemaah agar membaca doa yang terdapat Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
26 dalam surah al-Baqarah ayat 201, “Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar.” Tak terasa, thawaf tujuh putaran selesai. Matahari masih terasa cukup panas. Meski konon akhir Januari di Mekkah masih mudim dingin, namun siang hari cuaca masih terasa panas. Bisa dibayangkan jika di musim panas. Bisa lebih panas lagi. Ustaz Rozak lalu mengajak para jemaah shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim. Seperti halnya ayat dalam surah al-Baqarah ayat 125, “Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla.” Lagi-lagi saya berjalan di belakang muthowif. Tak sulit sebenarnya menemukan Maqom Ibrahim. Terlihat jelas. Bentuknya khusus. Warnanya kuning keemasan. Letaknya juga dekat Ka’bah. Banyak orang di belakang Maqom Ibrahim. Baik yang sedang shalat sunnah, membaca al-Qur’an, atau berdoa. Seperti dikatakan muthowif, saya lalu shalat dua rakaat. Rakaat pertama membaca surah al-fatihah dan al-kaafirun. Di rakaat kedua surah al-Fatihah dan al-ikhlas. Di bawah terik matahari saya kembali melangitkan doa sambil memandang Ka’bah yang hanya berjarak begitu dekat. “Yaa, Rabb...Istajib du’ai,” kata saya dalam hati penuh harap. Atsar Perjuangan Hajar Setelah thawaf, Ustaz Rozak mengajak kami melanjutkan rukun umroh selanjutnya: sa’i atau berlari-lari PERJALANAN kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Jaraknya tak jauh dari Ka’bah. Hanya beberapa meter saja. Jarak antara dua bukit ini sekitar 405 meter. Tak begitu jauh sebenarnya. Hanya saja, jemaah umroh harus ber-sa’i sebanyak tujuh kali. Cukup terasa. Apalagi, jika dilakukan oleh orangtua atau sepuh. Sangat terasa. Jangan khawatir, bagi yang tak kuat berjalan, bisa menggunakan jasa kursi roda. Ada petugas khusus yang akan membantu mendorong jemaah saat sa’i. Hanya saja harus merogoh kocek lagi. Kami berjalan menuju bukit Shafa sambil membaca doa, “Innash shafaa wal marwata min sya’airillah” dan dilanjutkan membaca doa, “Nabda-u AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
27 bimaa bada-Allah bih.” Tempat sa’i— mas’a—cukup lebar dan ada beberapa tempat. Termasuk di lantai atas. Pelajaran Penting Jemaah tetap saja banyak. Membludak. Dari berbagai negara. Tak habis-habis. Selalu saja ada yang datang. Silih berganti. Warna kulit, tinggi, dan juga bahasanya berbeda. Kami sampai berdesak-desakan. Terutama saat berada di bukit Shafa dan Marwah. Untuk sekadar berdiri sebentar memandang Ka’bah dan melangitkan doa harus berdesak-desakkan. Melakukan sa’i ini rasanya bukan sekadar melakukan rukun umroh. Tapi seperti menapaktilas atsar perjalanan Bunda Siti Hajar saat berjuang mencari air untuk putranya, Ismail. Hajar adalah istri sekaligus Ibu yang luar biasa. Teladan bagi para Ibu sepanjang masa. Taat dan sabar ditinggal suami, Nabi Ibrahim di tengah lembah gersang tanpa tanaman, dan kehidupan. Hajar tahu itu berat. Nurani manusianya berontak. Saat tahu bahwa itu perintah Allah, dia menerima penuh taat. Hajar tahu pasti ada jawaban terindah yang akan didapatkan. Betul. Jawaban itu adalah air Zamzam. Namun, keajaiban itu juga tak muncul sendiri. Harus dengan ikhtiar penuh tulus dan sabar. Dengan peluh membasahi wajah, Hajar menelusuri sejengkal demi sejengkal tanah Shafa dan Marwah. Panas. Lelah. Berkat ikhtiar itu Allah beri balasan terbaik berupa sumur Zamzam. Dari situlah bermula kehidupan. Lembah yang gersang itu berubah jadi tempat yang penuh keberkahan dan kenikmatan. Apa saja ada. Bahkan, ribuan orang setiap harinya berdatangan dari ke tempat ini. “Masya-Allah, sungguh berat dulu perjuangan Ibunda Hajar saat bersa’i,” saya membantin. Apalagi, kondisi zaman dulu dan sekarang berbeda. Dulu pasti panas, gersang, dan melelahkan. Sekarang tempat sa’i—mas’a—nya sudah nyaman. Setiap sudut dilengkapi alat pendingin, kalau hais bisa langsung mengambil air zamzam yang tersedia di beberapa titik, juga lantainya berkeramik khusus yang dingin, dan beratap. Tak kepanasan. “Lihat ke arah Ka’bah dan mari kita berdo’a,” kata Ustaz Rozak setiap kali sampai di bukit Shafa maupun Marwa Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
PERJALANAN mengingatkan jemaah. Tiga Doa Rangkaian sa’i selesai. Sa’i tujuh putaran Shafa dan Marwah. Sisa rukun umroh selanjutnya: tahallul atau mencukur rambut. Saya dan para jemaah lalu beranjak meninggalkan kawasan bukit Shafa menuju tempat cukur. Kata muthowif, tahallul adalah penutup ibadah umroh. Usai tahallul jemaah sudah bebas. Halal dari berbagai larangan ihram. Itu kenapa disebut dengan tahallul. “Nanti setelah tahallul sudah bebas. Boleh buka kain ihram dan pakai pakaian seperti biasa lagi,” jelasnya. Tempat cukur rambut agak jauh dari Masjidil Haram. Kita harus keluar lebih dulu. Tempatnya di Zamzam Tower. Di lantai dasarnya. Tak sulit mencari tukang cukur di sini. Di depan pintu masuk gedung, sudah ada petugas khusus yang menunggu. Ustaz Rozak yang sudah tinggal sepuluh tahun di kawasan Masjidil Haram mudah mengenalinya. Dia juga langsung bertanya dengan bahasa Arab. Bukan bahasa fusha, melainkan ‘amiyah. Jadi, orang seperti saya yang selama ini familiar dengan bahasa Arab fusha agak sedikit kesulitan memahaminya. Hampir semua jemaah laki-laki cukur gundul, termasuk saya. Hanya satu jemaah, kalau tidak salah, Mas Teuku, jemaah asal Tangerang yang menyisakan rambut sekitar satu centi. “Jemaah umroh yang cukur sampai gundul didoakan sebanyak tiga kali oleh Rasulullah. Sedangkan yang hanya cukur pendek hanya sekali 28 AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
saja didoakan,” ujarnya mengutip hadis. Mungkin karena keutamaan cukur gundul itulah, hampir semua jemaah melakukannya. Termasuk dua anak kecil yang masih duduk di bangku SD. Tak butuh waktu lama bagi tukang cukur untuk menghabisi rambut para jemaah sampai klimis. Tak sampai setengah jam, kepala jemaah umroh resmi botak. Ada dua alat yang dipakai. Jika cukur biasa atau tidak sampai gundul, tukang cukur menggunakan mesin khusus. Seperti mesin cukur yang ada biasa dipakai di barbershop di Indonesia. Jika cukur gundul, dia menggunakan alat seperti silet agak panjang tapi tajam sekali. Biaya cukur sekitar 10 riyal atau sekitar Rp 42 ribu. Kami tak perlu membayar. Sebab, salah seorang jemaah—seorang polisi yang berdinas di Mabes Polri, Jakarta—telah membayarkan semua jemaah. “Laa...kholas. Sudah dibayar salah satu jemaah,” kata ustaz Rozak saat saya tanya biaya tahallul. Kabar Bahagia Saya sedang beristirahat di Funduq Al-Olayan Ajyad saat sebuah pesan WhatsApp masuk. Pesan itu dari salah satu ustazah di SD-SMP AISBa. Sehari sebelum tiba di Mekkah, dia berkirim pesan. “Titip doakan saya dan suami agar bisa segera diberikan keturunan yang sehat an shalih atau shalihah. Jazaakallah khair, ya ustaz” tulisnya pendek. Ustazah tersebut sudah cukup lama menikah. Sekitar empat tahun lebih. Saya juga hadir saat dia menikah di sebuah mall di Balikpapan. Karena sudah lama belum dikarunia anak, dia ingin sekali punya momongan. Saya pun mendoakannya. Seingat saya di dua tempat: saat thawaf di Ka’bah dan di rooftop Masjidil Haram. Sehari kemudian, dia berkirim pesan lagi. Hanya saja, kali ini pesannya berbeda. Penuh bahagia. “Alhamdulillah, Ustaz. Masyaa-Allah, secepat ini doanya dikabulkan Allah,” tulisnya pendek. Usai menulis itu, dia pun meminta agar beberapa ustazah lainnya yang belum dikaruniai anak agar didoakan. Tak hanya kabar doa yang diijabah dari ustazah tersebut. Kabar serupa juga saya dapatkan dari saudara di kampung halaman di Sumatera Selatan. Doa titipannya yang saya panjatkan di Ka’bah dikabulkan Allah. “Alhamdulillah, rezeki saya kian lancar. Saya dapat rezeki untuk ganti kerangka atap rumah dengan baja ringan,” tulisnya bahagia. Dua doa yang dikabulkan itu tanda bahwa doa di Masjidil Haram maqbul. Insyaa-Allah, disusul doa-doa lainnya yang telah saya panjatkan di Masjidil Haram. Cepat atau lambat. Yakinlah. *Bersambung. Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 29
KABAR KOMITE S ekitar 31 Ibu orangtua siswa berkumpul di mushola Daarul Ilmi di lantai 4 gedung SDSMP AISBa pada 21 Februari lalu. Berkumpulnya mereka untuk mengikuti kajian bulanan helatan Komite SD-SMP AISBa. Kajian kali ini diisi oleh Kepala SMP AISBa, Ustaz Abdul Rofik. Ini adalah kajian lanjutan bulan sebelumnya. Masih membahas tema yang sama— al-Qur’an—ustaz Rofik—biasa disapa— membawakan judul “Al-Qur’an dan Pendidikan. Antusiasme peserta kajian cukup besar. Di tengah kesibukan, Ibu-ibu telah berkumpul di aula sebelum kajian dimulai. Bagi mereka, kajian bukan sekadar mencari ilmu. Tapi juga media untuk silaturahim antar orangtua Relasi al-Qur’an dengan Pendidikan siswa. Dalam kajiannya, ustaz Rofik menjelaskan tentang relasi al-Qur’an terhadap pendidikan anak. Katanya, alQur’an sangat penting dan modal utama untuk menjadikan anak akrab dengan Islam dan kebaikan. “Orang yang akrab dengan al-Qur’an maka jiwa dan hatinya makin kuat kepada kebaikan dan Islam,” ujarnya. Tak hanya itu, ayah satu anak ini juga menjelaskan banyaknya keutaaman anak akrab dan jadi penghafal al-Qur’an. Seperti yang dikutipnya dalam hadis, dia menjelaskan anak akan pahala dari setiap huruf yang dibaca juga syafaat kelak di akhirat. “Jadi, al-Qur’an dan sunnah ini adalah pilar untuk membangun generasi qur’ani sekaligus peradaban,” jelasnya.* 30 AN-NAJAH | Sya'ban 1444/Maret 2023
Ada yang berbeda dengan Muhammad Nur Ihsan. Siswa kelas 1 SD AISBa ini hobi sekali mengenakan serban. Cara memakainya juga cenderung unik. Tak seperti pada umumnya. Serban putih berukuran sedang itu dililitkan di kopiah. Jadilah kopiah berlilitkan serban. Jika dipakai, siswa berbadan gempal ini mirip sekali ulama. Lebih-lebih lagi jika dipadu jubah putih panjang. Seperti Syeikh dari Timur Tengah. Gagah. Putra pasangan Bapak Imam Sujono dan Bunda Sutarni ini hobi memakai serban karena bercita-cita jadi ulama. “Ihsan ingin jadi ulama. Ulama itu sosok yang ahli agama, mengajarkan kebaikan, dan mengajak orang lain ke surga,” jelasnya kepada An-Najah. Siswa yang biasa disapa Ihsan ini punya dua serban. Satu serban putih berukuran kecil. Serban inilah yang biasa dililitkan di kopiah putihnya dan sering dibawa kemana-mana. Serban kedua berukuran besar dengan dua warna: merah dan putih. Tak hanya mengoleksi dua serban, Ihsan juga punya empat koleksi jubah dengan warna berbeda-beda: putih, merah maron, biru, dan coklat. Jubah itu dibeli di online shoop. Dua benda itu pun kadang tak terpisahkan. Setiap kali memakai jubah, Ihsan memakai kopiah berserban putih. Begitu juga saat ke sekolah. Kopiah berserban putih itu juga sering dibawanya. Kadang, kalau shalat dipakainya. Seperti akhir Februari lalu. Saat mewawancarainya, Ihsan ternyata membawa benda kesayangannya. Padahal, saat itu hari Rabu. Seragam yang dipakai pramuka. Tak pelak, hal ini memudahkan An-Najah untuk mengabadikan foto Ihsan dengan gadget jadulnya yang sedang mengenakan kopiah berserban putih. Jepreeet!* Siswa Berkopiah Serban 31 SIAPA DIA Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
Di antara sekitar 200 lebih siswa SD dan SMP AISBa, mungkin Muhammad Ghazy Sukma Winatra siswa yang paling lama dibanding siswa lainnya. Ezi—biasa disapa—telah belajar di AISBa selama delapan tahun. Betapa tidak, putra pertama dari pasangan Bapak Candra Soekmana dan Bunda Winda Hermayanti masuk AISBa sejak kelas 2 SD hingga sekarang kelas 9 SMP AISBa. Waktu yang tidak sebentar. “Saya pindahan dari SD negeri waktu kelas 2. Dulu, di kelas saya hanya ada beberapa teman. Seperti Alexis, dan Hisyam. Kini, tinggal saya sendiri di AISBa,” ujar Ezi kepada An-Najah tertawa. Saking lamanya bersekolah di AISBa, perubahan fisik Ezi sudah sangat jauh berubah. Fisiknya dulu biasa. Tidak begitu tinggi dan agak berisi. Juga pemalu. Sekarang bedanya tinggi besar. Seperti tentara. “Tinggi badan saya sekarang sekitar 174 cm dengan berat badan 70-an kg. Lebih tinggi dari mama saya,” katanya tertawa lagi. Meski senior, siswa hobi olahraga sepak bola ini mengaku betah dan senang belajar di AISBa. Siswa kelahiran 17 Agustus 2008 ini merasa teman-temannya baik dan seru. Juga guru-gurunya. Dalam mengajar mudah dipahami dan tidak membosankan. “Guru-gurunya kalau ngajar asyik. Pakai alat seperti LCD proyektor. Ruang kelasnya juga ber-AC. Jadi nyaman buat belajar,” jelasnya. Ezi punya banyak pengalaman berkesan selama bersekolah di AISBa. Salah satunya saat menampilkan pertunjukan tentang sains di Students’ Day beberapa tahun lalu di gedung Kesenian Balikpapan. “Saya menampilkan pertunjukan percobaan sains. Tentang lampu yang berubah warna pokoknya. Bersama Jalu. Sekarang dia sudah lulus dan mondok,” jelasnya. Siswa murah senyum ini punya adik, Laila Nahwa Sukma Winandra. Senada dengannya, Awa—biasa disapa—termasuk siswi senior. Usai lulus SD AISBa, Awa mengikuti jejak kakaknya: melanjutkan ke SMP AISBa.* Sang Senior 32 SIAPA DIA AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023
S ekolah adalah taman ilmu. Bahkan ibarat taman surga: indah, penuh kebaikan dan keberkahan. Ruang kelas disesaki murid, meja, kursi, buku yang berjejer rapi di lemari, dan peraga edukasi bak taburan bunga. Harum. Ada selaksa kisah menarik ditulis oleh setiap penghuninya. Kelak, berbagai tulisan itu akan jadi sejarah penting bagi setiap siswa. Sejarah yang tak hanya jadi memori tapi juga saksi penting setiap pahatan sejarah yang diukir para siswa kala meraih cita-cita. Nah, seperti apa kisah mereka? An-Najah berusaha merekam berbagai kisah heroik mereka saat Cerita Seru di Taman Ilmu menuntut ilmu dalam rubrik “My School My Adventure” berikut ini. Untuk diketahui, pada edisi kali ini, rubrik ini diisi oleh sejumlah siswi kelas 4 Pi. Mereka bercerita banyak hal tentang sekolah: teman-teman yang menyenangkan, pelajaran yang menantang, ustaz dan ustazah yang baik, serta berbagai program sekolah yang menarik. Hanya saja, karena begitu banyak tulisan yang masuk dan semuanya bagus, redaksi terpaksa memilih beberapa tulisan. Insyaa-Allah, tulisan yang belum dimuat, akan kami terbitkan di edisi berikutnya. Yuk, simak kisah mereka dalam mengukir cita-cita.* MY SCHOOL SILATURAHIM MY ADVENTURE Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 33
SILATURAHIM 34 AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023 MY SCHOOL MY ADVENTURE Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Hai, teman-teman. Perkenalkan nama saya Anindya Sasikirana. Biasa dipanggil Anin. Saya sekarang duduk di bangku kelas 4 Pi. Jadi, Anin mau cerita nih pengalaman dan perasaan saya selama bersekolah di AISBa. Tahu nggak, teman? AISBa itu ibarat rumah kedua Anin. Banyak banget hal yang membuat saya nyaman di sekolah. Banyak kenangan yang kiat buat bersama di AISBa. Dear, AISBa....! Terima banyak sudah membuat saya bahagia dengan berjuta memori dan pengalaman ini: sedih, kocak, bahagia, dan lainlainnya. Selama saya bersekolah di AISBa, saya merasa sangat senang. AISBa, Rumah Kedua Saya Soalnya teman-teman baik bauang kelasnya juga luas banget. Anin jadi merasa beruntung bisa bersekolah di AISBa. Sebab, nggak semua orang bisa bersekolah di AISBa. Oh-iya, teman! Anin lupa kasih tahu pelajaran favorit Anin. Jadi nih, pelajaran favorit Anin tuh english dan IPA. Anin juga sempat ikut olimpiade walau Cuma jadi finalis. Anin sudah senang banget. Karena sejauh ini baru pertama kalinya ikut olimpiade tingkat nasional. Sepertinya, itu dulu cerita yang dapat Anin tulis. Makasih sudah baca sampai habis, ya Teman. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Oleh: *Anindya Sasikirana, siswi kelas 4 Pi
35 Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Teman-teman. Nama ana Adreena Eiliyah. Biasa dipanggil Dena. Ana sekarang duduk di kelas 4 Pi. Ana tinggal di Balikpapan. Pengalaman saya di AISBa seru dan menyenangkan. Teman-teman saya semuanya seru. Pakai banget. Karena mereka adalah sahabat ana. Apalagi siswi di kelas 4 Pi. Di situ siswi-siswinya rusuh semua. Hehehe. Apalagi pas jam istirahat. Saat satu siswi tidak masuk sekolah, pasti semuanya akan kangen. Ada yang kurang. Untuk cerita tentang teman selesai, ya teman. Sekarang kita beralih ke ustaz dan ustazahnya. Mereka itu lucu dan baik banget. Seru...! Juga pelajarannya sangat seru dan menantang. Meski kadang pelajarannya kadang agak susah, tapi ana tetap suka. Tapi ana tetap suka. Paling ana suka pelajaran matematika dan Arab. Karena dua pelajaran ini Setiap Waktu yang Menyenangkan menurut saya yang paling seru. Oh-iya, saya mau cerita lagi, teman. Masih tentang teman. Yang di atas tadi masih opening. Hehehe. Saya mau cerita teman di kelas 4 Pi aja, yah. Anak kelas 4 Pi itu suka banget ngumpul. Ada yang ngumpul buat main, ngobrol ke sana ke sini, dan kadang marah-marahan. Ya, namanya juga anak-anak. Hehe. Sekarang saya saya bercerita semua AISBa. Di AISBa semuanya sangat baik. Kadang memang bikin jahil dan usil sih. Tapi mereka tetap seru. Karena, yaa....Seru saja. Saya beruntung banget bersekolah di AISBa. Apalagi, teman-temannya seru dan lucu. Pokoknya, AISBa itu seru dan indah. Semoga saja pas ana SMP saya masih bisa bersekolah di sini. Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya. Semoga AISBa makin seruuuu lagi. Sekian cerita saya, teman semua. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Oleh: *Adreena Eiliyah, Siswi kelas 4 Pi Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH
MY SCHOOL SILATURAHIM MY ADVENTURE Assalamu’alaikum, temanteman. Nama ana Nabila Rifki. Biasa dipanggil Nabila. Sekarang, ana duduk di kelas 4 Pi SD Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBA). Oh-ya, pada tulisan ini, ana mau bercerita pengalaman selama bersekolah di AISBa. Jadi, di kelas ana itu ada 19 siswi. Mereka semua teman ana. Masyaa-Allah, semuanya baik sekali. Tak hanya itu, mereka juga lucu. Sukanya biki ana ketawa. Kalau ke sekolah, ana nggak pernah sehari saja nggak ketawa. Ketawa terus. Hehehe. Ustaz dan ustazahnya juga baikbaik. Mengajarnya seru dan enak dipahami. Tahu nggak, teman? Pelajaran yang paling ana sukai itu ada dua: pertama, matematika. Menurut ana, pelajaran ini sangat Suka Bahasa Arab dan Matematika menantang. Tapi seru. Ustadzah yang mengajari juga menyenangkan. Jadi enak. Kedua, pelajaran bahasa Arab. Ana suka pelajaran ini karena bahasa Arab tergolong agak berbeda dengan pelajaran lainnya. Ustazahnya suka memberi tugas yang seru-seru dan menyenangkan. Di sekolah juga tak melulu belajar di sekolah. Ada banyak kegiatan yang seru. Salah satunya Students’ Day yang diadakan 26 Februari 2023 lalu. Di acara ini, semua siswa bisa tampil dalam pelajaran yang paling kita bisa. Ustadz dan ustadz memilih para siswa di penampilan yang paling cocok atau sesuai bakat. Setelah itu akan dilatih secara khusus. Cukup di sini dulu ya teman-teman cerita ana. Sampai jumpa di kisah selanjutnya.* Oleh: *Nabila Rifki, Siswi kelas 4 Pi 36 AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023
Assalamu’alaikum. Salsabila Khaka Nayla namaku. Teman-teman biasa memanggilku Nayla. Pendek dan simpel, bukan? Ya, dong. Hehe. Aku sekarang duduk di kelas 4 Pi. Pi itu maksudnya putri, yah. Sebab, ada kelas empat: Pa—putra dan Pi—Putri. Ya, mungkin agar mudah disebut. Di rubrik “My Class My Adventure” di majalah sekolah An-Najah ini aku ingin bercerita tentang serunya belajar di SD AISBa. Sekolah tempatku belajar itu indah. Gedungnya besar. Tinggi. Lantai empat. Guru-gurunya juga asyik. Ngajarnya enak. Tidak membosankan. Kalau ngajar suka disisipi game-game SD AISBa itu Seru Loh! menarik. Aku dan teman-temannku suka pelajaran bahasa Inggris. Guru pengajarnya ustaz Muhammad Ibad Qadarian. Ustaz Rian itu asyik. Selain ustaz Rian juga Ustaz Faisal. Oh-ya, teman. Bukan hanya gedung dan guru-gurunya. Temanteman di kelasku juga asyik dan baikbaik. Shalihah. Lucu. Suka bercanda. Jadi, setiap masuk sekolah, selalu tertawa bahagia. Jadi nggak ngebosenin. Teman yang biasa main denganku itu Mia, Dena, Nisrina, Avika, dan masih banyak lagi. Pokoknya, seluruh temanku di kelas 4 Pi itu di segala keadaan: baik suka maupun duka. Selalu bersama-sama.* Oleh: *Salsabila Khaka Nayla, Siswi kelas 4 Pi Sya'ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 37
MY SCHOOL SILATURAHIM MY ADVENTURE Teman-Teman Spesial Oleh: *Bariza Hauzan Nawal ummu Irwa, siswi kelas 4 Pi 38 AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023 Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Nama ana Bariza Hauzan Nawal Ummu Irwa. Panjang kan nama saya? Panggil saja saya Bariza. Sekarang ana duduk di kelas 4 Pi SD AISBa. Di majalah An-Najah ini saya mau bercerita tentang teman-teman saya di kelas. Oh-ya, sebelumnya saya mau cerita kalau ana ini pindahan dari Samarinda. Masih daerah di Kalimantan Timur ko. Daaaan...Teman pertama saya di sekolah ini adalah Anindya Sasikirana Gossal. Namanya juga panjang. Seperti saya. Panggil saja teman saya itu Anin. Teman kedua Aysha Izzaty Azzahra. Biasa dipanggil Zahra. By the way, cukup ya perkenalannya. Kita lanjut ke pembahasan selanjutnya. Apa itu? Oke, balik ke cerita awal. Saya punya teman yang suka marah-marah dan ketawa berlebihan. Namanya Nayla, Mia, dan Khadijah. Tapi kita juga suka bermain, bercanda, bercerita, dan makan bersama. Namun, tetap tidak lupa belajar dan menghafal al-Qur’an bersama. Sekian dulu cerita dari saya, ya teman-teman. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
MY STORY Dulu, waktu kecil aku sering lihat tayangan di televisi. Terutama tayangan berita luar negeri berbahasa Inggris. Entah kenapa, aku suka saja. Padahal, waktu itu aku belum tahu artinya. Mereka ngomong cas-cis-cus gitu aja. Suatu saat aku melihat berita di televisi lagi. Berita tentang salju. Karena selama ini tinggal di Indonesia yang tak ada saljunya, jadi pemandangan salju itu bagiku sangat menarik. Putih. Seperti hamparan kapas. Ada pinguin lagi. Orang-orang Dari Suka Jadi Cita-Cita di sekitar salju pakai baju jaket tebal berbulu agar bisa menghangatkan badan. Karena mereka ngomong pakai bahasa Inggris dan aku nggak paham, lalu aku bertanya kepada Mama, “Ma, dia ngomong apa sih?” Lalu, mama menjawab pendek, “Mereka ngomong bahasa Inggris. Mama juga nggak paham. Hehehe.” Aku makin penasaran. Ingin tahu artinya. Sejak itu, aku ingin belajar sekali bisa berbicara bahasa Inggris. Salah satu tujuannya simpel: agar bisa paham saat bule-bule berambut Oleh: *Kiqe Syadina Aquedanov, siswi kelas 3 SD AISBa Sya’ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 39
blonde di televisi itu ngomong bahasa Inggris. Aku pun bilang ke mama kalau ingin belajar bahasa Inggris. “Ma, Kiqe mau les bahasa Inggris, boleh kah?” “Kaka belum cukup umur belajar bahasa Inggris. Masih kecil,” jawab mama. Belum lagi aku bertanya lagi, mama lalu berkata lagi, “Nanti, Insyaa-Allah, kaka mama sekolahkan di sekolah Islam yang ada pelajaran bahasa Inggrisnya. Nanti kaka belajar di sana.” Mendengar penjelasan mama aku senang bukan kepalang. Akhirnya aku bisa belajar bahasa Inggris. Hanya saja masih lama. Sebab, waktu itu aku masih kecil. TK saja belum. Hehe. Nah, sejak itu, kebiasaanku nonton tayangan televisi berbahasa Inggris terus terjadi. Hanya saja, bukan sembarang tayangan, lho! Tayangan yang edukatif. Sekadar untuk mendengar bahasa Inggris. Tak lama setelah itu, akhirnya saya masuk Taman Kanak-Kanak (TK). Keinginan belajar bahasa Inggris masih menggebu. Lagi-lagi, Bunda melarang. Katanya, belajarnya nanti pas di SD saja. Yang ditunggu akhirnya tiba. Usiaku cukup masuk SD. Mama lalu memasukkan aku ke SD Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBa). Kata mama sekolah ini komplit: ada pelajaran bahasa Inggrisnya. Ohya, ada cerita unik pertama kali mama tahu sekolah AISBa. Jadi, waktu itu mama sedang mengambil rapor TK di kepala sekolah. Ternyata di atas mejanya terselip brosur PSB SD-SMP AISBa. Mama izin melihat. Tertarik. Lalu menyekolahkanku di SD AISBa. Alhamdulillah, aku juga senang. Setelah masuk SD AISBa saya dapat guru bahasa Inggris ustazah Ayu. Masya-Allah, beliau guru yang sabar, tegas, dan pinter. Bahasa Inggrisnya fasih. Lancar. Awal-awal belaja bahasa Inggris dengannya aku masih belum banyak tahu. Hanya bisa mendengarkan. Lambat-laun akhirnya mulai paham. Bisa. Saya mulai berani cas-ciscus berbicara bahasa Inggris. Seiring waktu, bahasa Inggrisku makin bagus. Makin banyak hafal kosa kata. Makin bisa mengucapkan banyak ekpspresi bahasa Inggris. Begitu juga saat naik ke kelas dua. Kemampuan bahasa Inggrisku makin bagus. Hingga akhirnya naik ke kelas tiga sekarang. Belajar bahasa Inggris bersama ustaz Muhammad Ibad Qadarian. Bahasa Inggris ustaz Ibad tak kalah bagusnya. Sangat fasih malah. Lancar berbahasa Inggris. Kalau ustaz Ibad ngomong bahasa Inggris kaya ngomong bahasa Indonesia. Sama-sama lancar. Sama-sama cepat. Belajar bersama ustaz Ibad menyenangkan. Selain mudah dipahami juga banyak game menarik. Oh-ya, teman. Gara-gara suka bahasa Inggris itu, saya bercita-cita jadi dosen bahasa Inggris. Saya ingin kuliah ke luar negeri. Mendalami bahasa Inggris. Mama juga mendukung. Nanti, dengan kemampuan bahasa Inggris itu, aku bisa berdakwah dan berbagi banyak manfaat kepada orang lain. Mohon doanya, ya teman.* 40 AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023
Ramadan Sudah Dekat, Apa Persiapan Kita? Tinggal menghitung hari saja kita akan sampai pada bulan yang ditunggu-tunggu kaum muslimin yaitu bulan Ramadan. Promosi pakaian untuk lebaran pun sudah berseliweran di media social dan e-commerce. Termasuk paket sarimbit atau pakaian seragam buat keluarga. Tinggal menunggu iklan sirup di televisi aja nih, maka menjadi penanda Ramadan sudah makin dekat. Hehehehe. Itu penanda duniawi ya, tetapi Allah sebenarnya sudah mempersiapkan kita dari 2 bulan sebelumnya. Yaitu bulan Rajab dan Sya’ban. Bagaimana kita dianjurkan memperbanyak ibadah seperti puasa, sholat sunah, sedekah bahkan melipatgandakan pahalanya. Salah satu tujuannya adalah agar kita tidak kaget menjalani ibadah-ibadah di bulan Ramadan terutama ibadah puasa dan tarawih. Dan tentu saja menjadi terlatih memaksimalkan waktu di bulan Ramadan untuk beribadah dan beramal sholeh. Sehingga bulan yang mulia ini tidak berlalu begitu saja. Nah, berikut ini adalah tips dan Oleh: : Bunda Lidya Puspasari, Ketua Komite SD-SMP AISBa dan Ibu dari 7 Anak strategi agar Ramadan kali ini kita bisa optimal dan meraih banyak pahala. 1. Buat target ibadah, misal khatam AlQur’an 2x dan mentadabburi artinya, sholat tarawih di sepertiga malam, sedekah tiap hari, dsb. O ya target tersebut sebaiknya dicatat dan ditempel di dinding kamar kalian agar ingat ya. Jangan lupa juga yang punya utang puasa tahun kemarin segera lunasi ya! 2. Niatkan dengan ikhlas beribadah hanya untuk Allah. Yaitu, kita beribadah karena ingin disayang dan dicintai Allah, bukan dipuji oleh manusia. Pahala puasa itu hanya Allah sendiri yang akan membalasnya, seperti dalam hadits berikut : Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, َ ُة ْ َح َسن ُ َض َ اع ُف ال ْ ِن آَدَم ي ُك ُّل َ عَمِل اب ِ ِ ضْع ٍف ِ ِمائَة ْع َها إَِل َ ى سب ِ ُ أ ْمَثال َع ْشر ِى َُّه ل ْ َم َ فإِن َّ َّ الصو َّل إِلا َ َج و َّ َُّه َ عز َق َ ال الل َ ُه َام َ َطع َ َتُه و َ َد ُع ْ شَ هو ِ ي ِه أ ْجِزى ب َ أَنا و ْن َد ِ ْ َحٌة ع َ ِ ان َ فر ْ َحت ِ ِم َ فر ِ َّ لصائ ِى ل أ ْجل ِ ْن م RUANG KOMITE Sya’ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 41
42 َل ُخُل ُ وف َ ِ. و ه ِّ َب ِ ر َقاء ِ ْن َد ل ِ ْ َحٌة ع َ َفر ِ و ِ ْطِره ف ْ ِم ْس ِك ِ ْن ِ ر ِ يح ال ِ م ه َّ ْن َد الل ِ َ ُب ع ِ أ ْطي ِيه ف “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151) 3. Lakukanlah puasa Ramadan secara penuh, dari fajar hingga terbenam matahari. Jangan melakukan pembatal puasa secara sembunyi, apalagi terang-terangan. Nah, kalian perlu tau ya apa saja pembatal-pembatal puasa itu, cekidot : 1. Makan dan minum dengan sengaja 2. Merokok 3. Gila atau hilang akal 4. Haid atau nifas bagi perempuan 5. Muntah dengan sengaja 6. Keluar air mani 4. Lakukanlah amalan-amalan sunah di bulan Ramadan; baca AlQur’an, sholat tarawih, sedekah, bantu pekerjaan orangtua, dan lain-lain. Jangan lupa pelajari juga tata cara yang sunah untul melakukan amalan-amalan tersebut ya. Jangan sampai amalan kita tertolak karena tidak ada tuntunannya dari Nabi kita. Sayang kan, sudah Lelah melakukannya tetapi tidak mendapat pahala bahkan mendapatkan dosa. 5. Kurangi kegiatan yang tidak bermanfaat seperti menghabiskan waktu bermain HP dan ngegame.Gunakan waktu untuk bermain dengan kawan-kawan atau mengikuti kegiatan di sekolah, masjid dan lain sebagainya. Jika memang ingin melihat HP maka bisa fokuskan ke mencari kajian, dan nasehat-nasehat islami. Kalian juga bisa berkreasi dengan memposting Ayat dalam AlQur’an atau Hadith yang bisa memotivasi orang lain untuk beribadah. Semoga Ramadan tahun ini kita bisa lebih maksimal dan optimal ya. Dan amalan kita diterima Allah . Aamiin yaa Robbal ‘Alamiin. ِ َ ين َّق ْ ُمت ِ َن ال اللُه م َّ َّ ُل ََّم َ ا يَتَقب إِن “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)” AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023
RESENSI S emesta selalu saja menciptakan konspirasi di dalamannya. Di setiap harinya, di berbagai belahan bumi manapun, kabar tentang kelahiran seorang anak manusia selalu sampai di telinga kita. Mulai dari yang lahir dengan anggota tubuh sempurna, maupun yang terlahir dengan cacat di bagian tubuh tertentu. Bukan dunia namanya jika ada kelahiran tanpa disertai kematian. Hampir setiap jam, menit, dan detik, telinga kita mendengar kabar duka dari sanak keluarga, kerabat, ataupun orang lain yang mungkin hanya pernah terlintas sejenak di pendengaran Seni Hidup di Atas Bumi Judul terjemahan : BUMANTARA Penulis : Ulva Fadillah Umar Penerbit : PT Elex Media Komputindo Tebal : 196 halaman OLEH: Adinda Aisyah DK, Siswi kelas 9 SMP AISBa kita. Manusia tentu diciptakan dengan sebuah tujuan. Allah tidak menciptakan segala sesuatu tanpa maksud dan tujuan. Manusia bermukim di planet bernama bumi ini, dengan tujuan. Namun sudahkah kita sebagai manusia mampu mendeskripsikan tujuan kita diciptakan? Sudahkah hati kita berjalan menuju tujuan itu? Cukuplah menyakini dalam hati bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan dibumi bertujuan untuk bersujud kepada-Nya. Maka begitu pula dengan kita. Sebagai makhluk paling sempurna, kita dituntut untuk bersujud kepada-Nya. Bersujud dalam Sya’ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 43
khusyuknya salat sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah ribuan tahun yang lalu. Sebelum mengalami fase kematian, manusia diciptakan untuk bertemu dengan manusia lain. Seperti halnya Adam dan Hawa yang meski telah terpisah jauh, pada akhirnya dipertemukan oleh Allah. Tentu saja, manusia dipertemukan untuk saling menguji, hidup berdampingan, dan menjadi peringatan satu sama lain. Menguji dalam hal apa? Dalam hal kesabaran dan kekuatan hati. Berdampingan dalam apa? Dalam segala bentuk interaksi yang diciptakan dalam kehidupan bermasyarakat maupun berkeluarga. Pengingat dalam hal apa? Dalam beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla. Manusia adalah makhluk sosial , mereka tidak dapat hidup seorang diri tanpa bantuan orang lain. Sebanyak apa pun harta yang dimilikinya, tidak seorang pun manusia di bumi ini yang mampu melewati badai kehidupan seorang diri. Maka patutlah jika ada seorang penyair yang mengatakan bahwa, “Manusia adalah ujian bagi manusia yang lain dan juga ujian bagi diri mereka sendiri.” Beda manusia, beda ujian. Allah ingin melihat seberapa tangguh hamba-hamba-Nya dalam melewati ujian yang Dia turunkan. Allah ingin melihat seberapa kuat hati kita untuk tetap berjalan di jalan yang lurus, Ketika ujian hidup datang menerpa. Allah pun ingin melihat seberapa kuat kita bertahan hingga akhir. Sampai Dia berkata, “Waktunya pulang.” Buku Bumantara ini menggambarkan betapa dunia benar-benar sudah sangat tua untuk kita yang masih sibuk mengejar nikmatnya. Segala tindak-tanduk yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah, adalah dosa yang kerap diabaikan. Melalui buku ini, semoga kita semua tersadar jika kematian itu benar-benar ada dan selalu mengintai kita. Hingga akhirnya, sudah seharusnya kita senantiasa mempersiapkan diri untuk dijemput oleh-Nya.* 44 AN-NAJAH | Sya’ban 1444/Maret 2023
Tata Cara Berbuka Puasa RAMADHAN Sya’ban 1444/Maret 2023 | AN-NAJAH 45 Berbuka puasa (ifhtar) bukan sekadar kegiatan membasahi kerongkongan dengan air atau makanan saat waktu berbuka tiba. Tapi, ini proses untuk mendapatkan banyak keberkahan dan pahala. Berikut tata cara ifthar yang bisa dilakukan. “Dzahabadh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Teks: Ustazah Hidayanti, Koordinator Diniyah SMP AISBa ه َُّ َ الل ُ إِ ْن شَ اء أ ْجر َ َت ال� َ َثب وق و ُ ُ ر ُ ْع َّ ِت ال َل ْت َ اب و الظ َمأ َّ َذَه َب 1. Membaca basmalah 2. Berbuka dengan ruthab (kurma basah) atau jika ada dengan tamr (kurma kering) 3. Setelah itu membaca doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad:
JAZAAKUMULLAH AHSANAL JAZAA KEPADA PARA SPONSOR YANG TELAH BERPARTISIPASI DALAM ACARA STUDENTS’ DAY “THE JOURNEY OF AISBA” TAHUN 2023 JUGA KEPADA SELURUH AYAH & BUNDA ORANGTUA SISWA SISWI SD-SMP AISBA ATAS SEGALA KEBAIKANNYA. SEMOGA DIBALAS ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DENGAN BALASAN TERBAIK