MUHARRAM 1444 | AGUSTUS 2022 51 ternama, mengaku lahir dari ibu tuna susila. Bahkan, ia pun memiliki lima ayah tiri dan ayah kandung penyuka sesama jenis. Dalam videonya ia menceritakan bagaimana awalnya berontak dan marah pada nasibnya. Sebab, tinggal di tempat prostitusi dan sering diejek temannya. Kemudian ia memilih berdamai menerima keadaan. Ia melihat sisi baik sang ibu, yang bekerja keras berjuang untuk menghidupi keluarganya. Ia perlahan mengajak ibunya ke jalan lurus. Ia sering ke masjid, mengaji keras-keras saat di rumah, dan memasang ayat kursi di dinding rumahnya. Atas izin Allah sang ibu akhirnya meninggalkan profesinya itu. Kisah kedua tersebut juga tentang toxic parents. Namun pada kisah kedua, si anak menyadari bahwa tak ada gunanya untuk saling menyalahkan siapa pun termasuk keadaan. “Yang broken adalah masa lalu, Kita bisa membangun masa depan. Lakukan dan fokus,” katanya. Dalam videonya, ia membagikan pesan, “Kita bisa memilih baju sepatu yang disuka, namun tak bisa memilih takdir yang disuka. Jalani saja, pilih yang bisa dipilih. Yang gak bisa dipilih, jalani saja.” Anak tidak bisa memilih orangtua seperti apa, begitu juga orangtua tidak bisa memilih anak yang diingin kan. Akan tetapi, kita bisa memilih melakukan yang terbaik untuk dunia dan akhirat. “…dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (Al-Furqan [52]:2). *Pegiat parenting dan praktisi pendidikan/Suara Hidayatullah Oleh Ida S Widayanti* Seorang pesohor menjadi bahan perbincangan di media sosial. Ia mengaku mimpi bertemu Tuhan dalam nuansa hitam duduk di atas awan buram. Sebelum mimpi ia mendapat beberapa tanda seperti suara petir dan merasa ibunya akan menancapkan benda tajam padanya. Menurutnya, Tuhan berkata bahwa lebih dosa orangtua yang belum siap punya anak dan kabur dari konflik keluarga. Sejumlah warganet yang berkomentar menyinggung gangguan mental yang diderita sang pesohor. Sebagian berempati dan mendoakannya karena memahami latar belakang perempuan tersebut. Ia beberapa kali mengatakan, dirinya tidak diinginkan, keluarga broken, merasa dieksploitasi, dan lain sebagainya. Berbagai pengalaman buruk di masa kecil itulah yang konon memicu penyakit mentalnya. Apa yang terjadi pada kisah di atas adalah tentang toxic parents. Istilah yang tidak hanya disematkan pada orangtua yang memiliki perilaku kasar secara fisik dan verbal. Namun juga terjadi pada orangtua yang tampak normal, tidak menyakiti secara fisik, dan menginginkan yang terbaik untuk anak. Karena, terdapat sikap dan perilaku orangtua yang secara diamdiam menjadi “racun” pada mental. Sedangkan toxic parenting adalah pengasuhan mengedepankan keinginan pribadi, sangat mengatur anak, tidak menghargai perasaan dan pendapat anak. Dalam kisah lain juga cukup viral. Seorang remaja pria yang mendapat beasiswa penuh di perguruan tinggi
52 L aki-laki itu baru saja sampai rumah setelah seharian berjibaku mencari rezeki. Digeletakkannya sepatu dan kaos kaki di lantai, kemudian berdiri, dan menuju ke kursi ruang keluarga. Disandarkannya punggung di kursi untuk menghilangkan rasa letih. Belum lama duduk dan bersandar, dari ruang depan terdengar suara ketus istri, yang protes melihat sepatu dan kaos kaki berserak di lantai. “Ayah ini sudah kebiasaan. Sepatu dan kaos kaki diletakkan saja di lantai. Apa sulitnya sih disusun rapi di rak sepatu,” ujar sang istri. Tak terima disalahkan, lakilaki itu pun membalas, “Ayah itu capek seharian bekerja mencari uang. Masalah kayak begitu saja diributkan,” ucap sang suami. “Menaruh sembarang tempat itu kebiasaan buruk, Ayah. Nanti bisa ditiru anak-anak,” balas sang istri lagi. Jadilah suasana sore hari yang mulanya tenang berubah menjadi keributan, ‘gegara’ sepatu dan kaos kaki yang tidak ditempatkan pada tempatnya. Sebagai pasangan hidup, tentu setiap orang mengharapkan kesempurnaan ada pada pasangannya. Mulai dari fisik, perilaku, sampai pada kepatuhannya kepada Tuhan alam semesta. Siapa yang tidak bangga memiliki pasangan ganteng atau cantik, kaya, berperangai baik, lagi shalih dan shalihah. Namun, semua indikator kesempurnaan itu terkumpul, tetap saja akan ada cela di mata manusia. Karena hakikatnya manusia itu makhluk yang identik dengan kekurangan, kelemahan, dan penuh keluh kesah. Bilamana tidak piawai mengendalikan diri, cita-cita ingin membangun rumah tangga laksana surga, sepertinya akan tinggal wacana, justru nuansa neraka yang hadir. Keributan yang terus menerus hingga menyempitkan hati dan pikiran. Hidup pun semakin lama terasa semakin sengsara. Berpisah akhirnya menjadi jalan pilihan. “Tidak lagi menemukan kecocokan. Berpisah lebih baik” Itu dalihnya. Tentu kita berlindung dari tragedi tragis semisal ini. Tapi nyatanya, tak dipungkiri, kita dapati realitas betapa tidak sedikit bahtera rumah tangga harus karam, padahal belum lama juga berlayar. Oleh: Khairul Hibri * Bilamana tidak piawai mengendalikan diri, cita-cita ingin membangun rumah tangga laksana surga, sepertinya akan tinggal wacana, justru nuansa neraka yang hadir.
MUHARRAM 1444 | AGUSTUS 2022 53 Jurus Peredam Terus, langkah apa yang bisa ditempuh untuk mengurai persoalan ini? Pertama, kendalikanlah emosi. Persoalan sekecil apa pun, semisal kisah fiktif pembuka tulisan ini, jika mudah tersulut akan menjadi keributan besar. Proses pengendalian emosi ini, bisa ditempuh dengan mengalihkan penilaian dari apa yang tidak disukai ke perihal yang disenangi. Dengan kata lain, pandanglah hal positif dari pasangan. Terutama terkait dengan pengorbanannya untuk keluarga. Bagi suami, coba ingat bagaimana perjuangan istri dalam mengandung, melahirkan, hingga mendidik anak-anak di rumah. Itu semua butuh perjuangan dan pengorbanan. Demikian juga istri, lihatlah betapa gigih sang kepala keluarga dalam mencari nafkah. Banting tulang dan peras keringat. Itu semua demi memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Bila masing-masing pasangan mampu melakukan hal ini, maka yang tumbuh dalam diri adalah rasa simpati dan empati. Tidak lagi jengkel apalagi benci. Terkendalilah emosi. Langkah ini pula yang ditempuh Umar bin Khaththab dalam menyikapi istrinya. Kita tahu watak dasar khalifah kedua ini; tegas lagi keras. Tapi, ketika menghadapi sang istri, beliau memilih jalur yang tampak kontras dengan kepribadiannya. “Bersabarlah dalam menyikapi amarah istrimu. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama. Sebentar saja.” Demikian pesan Umar bin Khaththab. Nabi Muhammad bersabda: “Janganlah seorang mukmin lakilaki memarahi mukminat. Jika ia merasa tidak senang dengan satu perangainya, maka ada perangai lain yang ia sukai.” (Riwayat Muslim). Langkah kedua, mengomunikasikan persoalan. Sangat Janganlah seorang mukmin laki-laki memarahi mukminat. Jika ia merasa tidak senang dengan satu perangainya, maka ada perangai lain yang ia sukai.” penting bagi pasangan suamiistri membangun komunikasi yang baik. Langkah ini akan bisa mengurai segala jenis persoalan. Tak terkecuali menyampaikan harapan kepada pasangan. Tentu hal ini juga perlu memperhatikan waktu dan gaya penyampaian. Kalau dua hal ini tidak diperhatikan. Hanya fokus pada penyampaian pesan, sangat rawan mengundang percikan rasa tidak suka pasangan. Karena sejatinya tidaklah mudah seorang yang bersalah untuk menerima kebenaran atas kekeliruan yang dilakukan. Perhatikan waktu yang tepat. Bila setiap pasangan menempatkan keutuhan keluarga menjadi perkara prioritas, tidak ada persoalan yang tak bisa diselesaikan. Langkah selanjutnya, pupuk kesabaran. Mengharapkan kesempurnaan dari pasangan adalah keniscayaan. Manusia tercipta dengan segala kelebihan dan kekurangan. Keduanya melekat kepada setiap individu. Bersabar dengan menerima kekurangan pasangan, merupakan langkah tepat untuk meredam segala kemungkinan buruk yang terjadi di dalam rumah tangga. Saling jaga kehormatan. Jangan sampai diekspos ke manamana, termasuk di media sosial. Kesabaran dan keikhlasan menerima ini, tidak hanya bisa mengutuhkan mahligai rumah tangga, tapi juga berpotensi meraih pahala besar di sisi Allah . Demikianlah kiranya langkah yang bisa ditempuh untuk membangun keharmonisan dalam keluarga ketika mendapati cela yang tampak pada pasangan. Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kita dalam menjalani kehidupan berkeluarga, hingga masuk ke jannah-Nya. Aamiin. *Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya. FOTO: UNSPASH
54 Suatu ketika, salah seorang pegawai Khalifah Umar bin Khaththab bertamu ke rumahnya. Ia lantas masuk ke dalam rumah Umar. Pegawai itu heran melihat sang khalifah tiduran terlentang, sedang anak-anaknya bermain di sekitarnya. Raut mukanya memperlihatkan ketidaksenangannya terhadap anak-anak Umar yang sedang asyik bermain. Melihat gelagat pegawainya, Khalifah Umar lantas bertanya, “Bagaimana Anda bersama keluarga di rumah?” Ia menjawab, “Kalau aku masuk rumah, mereka semua langsung diam.” Umar marah seraya berkata, “Keluarlah dari pekerjaan Anda! Sesungguhnya Anda tidak punya rasa kasih sayang terhadap keluarga Anda. Bagaimana Anda akan bisa memberikan kasih sayang terhadap umat Muhammad?” (Muhammad ‘Athiyyah alAbrasi, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Falsafatuha, hal.37). Kisah di atas memberikan pelajaran kepada para orangtua di rumah harus bersikap seperti apa kepada anak-anaknya. Keberadaan orangtua di rumah seyogyanya membuat anakanaknya tetap nyaman bermain. Bahkan setidaknya, seperti dilakukan Umar, menemani anak-anaknya bermain. Menurut ahli psikologi, berbagi momen bersama anak menjadi hal yang penting, terutama di masa perkembangannya. Bermain dengan anak dapat mempererat ikatan emosional yang lebih dalam antara orangtua dan anak. Ikatan ini dapat menjadikan anak lebih nyaman dengan lingkungannya dan juga menjadi modal bagi anak untuk melatih kemampuan sosial dan emosi ketika besar nanti. Sehat Sekaligus Menyenangkan Bermain dapat membantu anak tumbuh menjadi sehat secara fisik dan psikis. Saat anak aktif bergerak, fungsi-fungsi organ tubuhnya juga ikut bekerja. Tubuh dapat membakar lemak, mengeluarkan racun lewat keringat, serta melatih otot-ototnya jadi lebih lentur dan kuat Ketika ditemani orangtua, anak akan merasa lebih aman untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan dirinya. Berbagi momen bersama anak menjadi hal yang penting, terutama di masa perkembangannya. Tempat Nyaman Anak Bermain
MUHARRAM 1444 | AGUSTUS 2022 55 Adapun keuntungan bagi orangtua, ia dapat mengetahui tahap perkembangan anaknya lewat bermain bersama, baik dari sisi kognitif, motorik, sosial, dan bahasanya. Orangtua juga dapat merangsang tumbuh kembangnya melalui aktivitas keseharian yang bisa dilakukan bersama. Berbagi momen bersama, terutama di masa-masa perkembangan anak sangat penting. Bermain bersama dapat mempererat ikatan emosional yang lebih dalam antara orangtua dan anak. Ikatan tersebut dapat menjadikan anak lebih nyaman dengan lingkungannya, sekaligus merasa mendapatkan dukungan terbaik dari orangtuanya. Selain itu, pendampingan orangtua juga bisa membuat hubungan dengan anak menjadi lebih erat dan hangat. Ikatan yang baik di rumah dapat menjadi modal bagi anak untuk melatih kemampuan sosial dan emosi saat besar nanti. Bermain bersama anak juga bisa mengurangi stres yang dialami oleh orangtua atau anak. Tak hanya orangtua, anak pun bisa merasakan stres. Dengan bermain bersama orangtua, rasa khawatir tersebut itu bisa berkurang banyak sehingga mencegah terjadinya stres pada anak. Karenanya, jadikan sesi bermain bersama lebih menyenangkan dengan tetap menjaga kesehatan dengan tidak berlebihan dalam bermain. Sebagai orangtua, dengan meluangkan waktu bercanda bersama anak-anaknya, setidaknya mereka merasa lebih dekat dan merasa bahwa orangtuanya paham siapa mereka sebenarnya. Anak akan berani lebih terbuka bercerita apa pun yang dirasakan. Dan, validasi pertama yang ia dapatkan bukanlah dari orang lain. Memang, meluangkan waktu bersama anak untuk ikut mendengarkan cerita mereka dan bercanda bersama memang tidaklah mudah. Apalagi untuk orangtua yang memiliki pekerjaan di kehidupan sehari-hari. Namun meluangkan waktu sebentar sekadar bercanda dengan anak merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Salah seorang sahabat Rasulullah bernama Handzolah bercerita ketika bertemu dengan Abu Bakar. Ia bertanya, “Bagaimana keadaanmu duhai Handzolah?” Aku menjawab, “Handzolah seorang munafik.” Abu Bakar berkata, “Subhanallah, apa yang kau katakan?” Aku berkata, “Dulu kami bersama Rasulullah , beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seolah-olah kami mengingatnya, ketika kami keluar dari Rasulullah kami masih bermain dengan istri dan anak kami melupakan segalanya.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kami juga menemui hal itu.” Handzolah berkata, “Maka aku pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah.” Kemudian, aku berkata, “Handzolah telah menjadi orang munafik, ya Rasulullah.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah yang dimaksud itu?” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu kami bersamamu dan engkau mengingatkan kami tentang surga dan neraka seolah olah kami melihatnya, setelah kami keluar dari mu, kami bermain dengan anak dan istri kami hingga kami banyak lupa (tentang surga dan neraka).” Rasulullah bersabda: “Demi Dzat yang diriku ada pada genggamannya, andai kata kalian terus menerus di dekatku dan terus menerus berdzikir, niscaya para Malaikat akan berjabat tangan dengan kalian di kasur dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Handzolah ada waktunya masing masing (kalimat ini di ulangi 3 kali).” (al Hadits). Dalam sanad lain, “Kemudian aku (Handzolah) pulang ke rumah, lalu aku tertawa bersama anak-anak dan bersenang-senang dengan istri.” (Riwayat Shahih Muslim). Dari Hadits di atas kita bisa memahami bahwa Rasulullah menganjurkan Abu Bakar dan Handzolah juga untuk meluangkan waktu bercanda dan bermain bersama keluarga dan istri dengan bersikap lembut dan menyenangkan hati mereka.* Aba Faiz/Suara Hidayatullah
56 Ayah bunda tentu sering hadir di majelis ilmu. Kadangkala –atau sering— mengajak si kecil. Bukankah kita ingin agar anak-anak dapat mencontoh para ahli ilmu, pencari ilmu, serta para ulama? Masalahnya, si kecil seringkali merasa bosan dengan suasana majelis ilmu yang biasanya menuntut ketenangan. Akibatnya, dia kerap bertingkah. Tingkah si buah hati bisa menarik perhatian jamaah. Sebagian mungkin merasa terganggu. Sebagian lagi barangkali mencibir atau berkomentar negatif atas tingkah laku anak dan ketidakmampuan orangtua dalam mengendalikannya. Tunggu, jangan marah dulu. Jika terjadi hal seperti itu, maka sejatinya bukan salah si anak. Namun kita sebagai orangtua yang perlu terus belajar untuk menenangkannya. Sudahkah kita mengajarkan tentang adab di majelis ilmu? Apakah kita telah membekali diri dengan ilmu kepengasuhan yang memadai? Teladan Orang Shalih Mengajak anak ke majelis ilmu adalah kebiasaan orangorang shalih sejak zaman dahulu. Teladan utama, Nabi Muhammad , sewaktu kecil pun sering ikut dalam majelis orang-orang dewasa. Kata Nabi , “Di waktu kecil, aku ikut serta bersama pamanpamanku dalam suatu sumpah. Aku tidak ingin melanggarnya walaupun diberi hadiah unta merah.” (Riwayat Ahmad dan Abu Ya’la) Unta merah adalah unta termahal dan langka. Itulah sebabnya sering dijadikan perumpamaan tentang sesuatu yang amat istimewa. Di masa Nabi , anak-anak juga diajak ke majelis ilmu. Hal ini antara lain dilakukan oleh Umar bin Khaththab RA, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Umar RA: Rasulullah bersabda, “Beritahukanlah kepadaku tentang pohon yang permisalannya persis seperti seorang Muslim. Selalu memberi hasil setiap saat Mengajak Anak Jika si anak bisa sabar mengikuti kajian dengan tenang dan menaati aturan, maka berilah reward (hadiah). ke Majelis Ilmu dengan izin Rabbnya. Daunnya tidak pernah gugur.” Dalam hati, aku menebak pohon kurma. Tetapi aku tidak mau berbicara, sebab di sana ada Abu Bakar dan Umar yang juga tidak berbicara. Nabi kemudian bersabda, “Pohon itu adalah pohon kurma.” Setelah aku pergi bersama ayah, aku berkata, “Ayahku, dalam hati aku menebaknya pohon kurma.” Dia bertanya, “Kenapa tidak bilang? Kalau engkau menjawab tadi, itu lebih aku sukai.” Aku katakan, “Tidak ada yang menghalangiku selain aku melihat engkau dan Abu Bakar tidak menjawab sama sekali. Karena itulah aku diam.” (Riwayat Bukhari dan Muslim) Karena seringnya ikut majelis ilmu, Ibnu Umar mampu meriwayatkan 2.600-an Hadits. Dia juga fasih menirukan segala hal tentang Rasulullah , bahkan hingga cara berjalan dan mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi Nabi. Manfaat Ada beragam manfaat bagi anak yang sering diajak ke majelis ilmu. Menurut Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam Manhaj at-Tarbiyah anNabawiyyah lith-Thifl, hal itu akan mendorong akal anak cepat tumbuh, jiwanya tertata, lidahnya tidak kelu, dan dapat mengetahui
MUHARRAM 1444 | AGUSTUS 2022 57 pola pikir orang dewasa. Hal ini penting sebagai persiapan untuk berkiprah kelak di masyarakat. Umar bin Khaththab bahkan berpikir lebih jauh. Di antaranya, para orangtua jadi mengetahui anak-anak sahabatnya. Bisa jadi dengan mengenalnya sejak dini, maka akan dinikahkan dengan putra atau putrinya di suatu hari nanti. Umar berkata, “Perlihatkanlah anak-anak perempuan yang belum baligh, semoga anak laki-laki saudaranya berminat kepadanya (untuk menikahkannya kelak).” (Riwayat Imam Abdurrazaq ). Dalam praktiknya, mengajak anak ke majelis ilmu kadang tidak mudah. Perlu ikhtiar untuk mengondisikannya agar bisa tenang dan nyaman selama mengikuti kajian, antara lain: 1. Minta info ke panitia Apakah panitia membolehkan jamaah mengajak anak? Jika boleh, bagaimana aturannya? Sebagian panitia ada yang menyediakan fasilitas khusus untuk mengondisikan anakanak. Namun ada pula yang melarang sama sekali, karena pernah ada jamaah yang tidak bisa mengendalikan anakanaknya. 2. Penjelasan Paling tidak sehari sebelumnya, orangtua perlu mengondisikan segala sesuatunya. Misal memberitahu bahwa besok adalah hari yang spesial, yaitu mendatangi kajian ilmu. Ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menjelaskan tentang adab di majelis. Dan adab ini besok bisa langsung dipraktikkan, menarik bukan? 3. Datang lebih awal Lebih awal tiba di lokasi akan memudahkan untuk mencari tempat yang nyaman. Misalnya di dekat pintu, sehingga jika tiba-tiba harus meninggalkan majelis karena sesuatu yang mendesak, jadi lebih mudah. Jika khawatir anak akan FOTO: MUJAHID MANSUR SALBU/SUARA HIDAYATULLAH kegerahan, maka carilah tempat yang dekat jendela atau AC. 4. Membawa alat tulis atau buku Persiapkan perlengkapan untuk quiet activities, misalnya buku tulis, buku bacaan, mewarnai, puzzle, dan sejenisnya. Hal ini bisa membantu menghindarkan si kecil dari rasa bosan dan bisa tenang dalam waktu yang relatif lama. 5. Membawa camilan Siapkan camilan sehat untuk menghiburnya. Sebisa mungkin yang tidak ada kemasan yang bisa menimbulkan suara “kresek-kresek” agar tidak menarik perhatian. Tetap jagalah kebersihan! 6. Siapkan stamina Apa perlunya? Jika si kecil ada tanda-tanda mau menangis, maka sigaplah untuk menggendongnya keluar sementara waktu. Jangan menunggu tangisannya kuat. Tenangkan! Jangan dimarahi, apalagi dibuat trauma. Berikan senyuman, dan tetap tanamkan rasa cinta terhadap kajian ilmu. 7. Beri pujian Jika si anak bisa sabar mengikuti kajian dengan tenang dan menaati aturan, maka berilah reward (hadiah). Tidak perlu mewah. Cukup berupa jajan kesukaan sebagai wujud terima kasih, sebab anak telah mampu mengendalikan diri. Jika tips ini belum berhasil, perlu dicoba dengan teknik lainnya. Sekali, dua kali, ketiga, dan seterusnya, hingga anak bisa duduk di majelis dengan adab seorang penuntut ilmu. * Pambudi Utomo, pengurus komunitas Jendela Keluarga/Suara Hidayatullah
58 Inilah beberapa indikator yang menggambarkan mutu suatu sekolah. Apakah sekolah kita bermutu? Seperti apa mutunya? Kalau dibandingkan dengan sekolah lain, lebih bermutu mana? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering terdengar di telinga. Bisa jadi hal itu mewakili sekian pertanyaan mengenai mutu sekolah. Padahal, sebetulnya ada pertanyaan yang lebih mendasar dan amat penting buat dijawab. Yakni “Mengapa sekolah kita harus bermutu? Bagaimana caranya agar sekolah menjadi bermutu?” Indikator Mutu Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi di dalam buku Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah (2001), lebih dari 60% guru SD, 50% guru SMP, dan 20% guru SMA masih under qualified (di bawah kualifikasi). Sedangkan di Kementerian Agama, 60% guru madrasah (MI, MTs, serta MA) belum memiliki kualifikasi yang memadai sebagai guru, 20% guru salah kamar, dan hanya 20% yang layak dari segi kualifikasi pendidikannya. Sebagian orang menyatakan, bahwa indikator mutu sekolah diukur dengan hasil siswa dalam Ujian Nasional (UN). Sebagian lagi menyatakan, bahwa hasil UN tidak selamanya bisa dijadikan indikator mutu. Kedua pendapat tersebut bisa dipahami dan diterima, karena UN memang punya beberapa fungsi. Misalnya: 1) Parameter penentuan mutu atau prestasi sekolah, 2) Standar pemetaan mutu pendidikan, 3) Alat ukur diagnostik pendidikan, untuk selanjutnya diberikan problem solving agar lebih terstandar, 4) Evaluasi terhadap pelaksanaan sistem manajemen pendidikan, sekaligus tahapan rekomendasi buat penyusunan program dan sistem manajemen baru yang lebih applicable, 5) Alat penentu ketuntasan belajar, kelulusan siswa di jenjang pendidikan tertentu, serta alat seleksi masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya. Ironisnya, implementasi di lapangan, UN sering tercederai oleh banyak pihak yang punya kepentingan berbeda. Alhasil, pelaksanaannya menjadi bias, kurang valid, akuntabilitas rendah, dan sulit dipertanggungjawabkan dalam tataran tertentu. Sebagian orang menyatakan, bahwa indikator mutu sekolah diukur dengan hasil siswa dalam Ujian Nasional (UN). Oleh: Rully Cahyo Nufanto, M.KPd*
MUHARRAM 1444 | AGUSTUS 2022 59 Sebagian lagi menyatakan indikator mutu sekolah bisa dilihat dari seberapa sering sekolah itu meraih juara dalam lomba atau olimpiade. Sebagian lain menyatakan, bahwa bermutu itu banyak peminatnya atau bisa menyeleksi dan menolak calon pendaftar. Dan mungkin masih banyak lagi argumentasi tentang sekolah bermutu. Standardisasi Arti dari “bermutu” adalah conformance to requirement atau sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan (corby: 2010). Pengertian itu mensyaratkan ada 2 hal penting, yaitu: Pertama, sesuai dengan standar dan memiliki nilai lebih atau tambah. Standarnya tentu harus ditetapkan terlebih dahulu, karena kemampuan menetapkan standar pendidikan yang baik akan berpengaruh terhadap mutu sekolah. Jika mengacu kepada pelaksanaan pendidikan di Indonesia secara umum, maka standarnya telah dibuat dan ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Ini adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara tak langsung, standar tersebut mensyaratkan bagi sekolah untuk mengikuti standar yang dibuat BSNP. Bisa saja beberapa sekolah punya standar pendidikan lain (selain BSNP), tapi sesungguhnya kata kuncinya adalah apabila kinerja sekolah telah sesuai standar. Kedua, punya nilai lebih atau tambah. Pertanyaannya, nilai lebih apa yang dimiliki oleh sekolah tersebut? Punya keunggulan apa? Kalau melihat fenomena sekolah saat ini, nilai lebih pada masing-masing sekolah bisa digolongkan menjadi beberapa kategori keunggulan meliputi akademik, non-akademik, dan mental spiritual. Ada sekolah yang sering menjuarai olimpiade bidang studi (matematika, fisika, biologi, IPS, dan sebagainya), baik itu pada level daerah, nasional, atau bahkan internasional. Beberapa sekolah kerap tampil sebagai juara dalam lomba non-bidang studi (puisi, menyanyi, al-Qur’an, olahraga, menggambar, dan sebagainya). Ada pula sekolah yang menjadikan nilai tingkah laku (akhlaq) serta kompetensi penguasaan agama (diniyah) sebagai domain pengelolaan sistem pendidikannya. Akhlaq (kebiasaan baik) menjadi tren komunitas sekolah serta ditunjang dengan penguasaan kompetensi agama yang baik. Bahkan saat ini bermunculan sekolah-sekolah yang menjadikan al-Qur’an sebagai ikon pendidikan, baik terkait kemampuan membaca (tartil) maupun kemampuan menghafal (tahfizh). Ada yang 5, 10, dan bahkan 30 juz dengan tak meninggalkan standar akademik dan lainnya. Hal tersebut bisa jadi merupakan nilai tambah, karena memang jarang ditemukan pada sekolah-sekolah umumnya. Jika memang demikian, maka hal ini merupakan salah satu diferensisasi keunggulan sekolah. Mutu sekolah jelas berpengaruh terhadap mutu pendidikan suatu bangsa. Karena itu, evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi sangat penting untuk penjaminan maupun pengendalian mutu pendidikan yang sesuai standar. Juga dapat mengkategorikan sekolah saat ini bermutu atau belum. (Bersambung) *Pengajar di International Islamic Boarding School ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Sebagaimana keluarga yang taat, kami selalu di masjid dan sekali waktu shalat berjamaah di rumah. Nah, ketika shalat jamaah di rumah sering kali kami kurang fokus. Bagaimana cara kami untuk bisa fokus dan thumaninah shalat berjamaah di rumah. Atas perhatian dan jawabannya, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira. Hsn, Jakarta Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan kita dan Anda semua orang-orang yang senantiasa istiqamah menegakkan shalat. Walaupun nyatanya sampai saat ini masih merasa belum puas dengan capaian khusyu sebagaimana mestinya. Kita masih merasa harus terus menerus belajar shalat, karena belum mencapai taraf ideal. Ada empat faktor yang menjadi sebab ingatan kita terpecah atau bercabang saat menjalankan shalat. Pertama, karena sebab-sebab fisik atau jasmani, seperti capai, sakit, kurang gizi, terlalu banyak begadang, dan pubertas. Kedua, oleh sebab lingkungan yang tidak mendukung, seperti rangsangan syahwat lain jenis, suara bising, udara terlalu panas atau terlalu dingin, dan bau yang menyengat atau merangsang indra penciuman. Ketiga, sebab-sebab sosial kemasyarakatan, seperti hutang piutang. Tak jarang orang yang dililit oleh masalah hutang terus terbawa dalam shalatnya. Pikirannya terpecah dan konsentrasinya buyar. Demikian juga orang yang habis terlibat dalam konflik rumah tangga, mau tidak mau akhirnya khusyu secara batin membawa permasalahan hidupnya dalam shalat. Bukannya tidak boleh, tapi ada saatnya kapan mengadukan masalah hidup kepada pemilik dan penguasa kehidupan, Allah . Keempat, sebab-sebab kejiwaan, seperti panik, galau, takut berlebihan, marah, sedih, resah, gelisah, dan perasaan emosional lainnya. Itulah sebabnya, sebelum shalat diwajibkan bagi kaum Muslimin untuk terlebih dahulu membasuh mukanya, tangannya, kepalanya, dan kakinya dengan air wudhu. Diharapkan dengan wudhu tersebut dapat membersihkan kotoran jiwanya, hatinya, dan pikirannya. Dengan demikian, saat shalat emosinya sudah terkendali, dan sesudah shalat hatinya menjadi tenang (muthmainnah). Dalam kitab Tahziibu Madarijis Salikin, Hudzaifah RA berkata, “Hati-hatilah dengan khusyu munafik!” Ada sahabat bertanya, apa yang dimaksud khusyu munafiq? Ia menjawab, “Engkau melihat fisiknya khusyu sedang hatinya tidak.” Khusyu secara lahir, termasuk thuma’minah dan i’tidal menurut sebagian besar fukaha hukumnya wajib. Adapun khusyu batin atau khusyu hati tidak semua orang dapat melakukannya secara terus menerus. Itulah sebabnya, para ulama tidak mewajibkannya. Syariat Islam mendorong dengan dorongan yang kuat agar setiap orang berusaha untuk melakukannya. Adapun hasilnya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah , ada yang mendapat pahala sesuai usahanya. Oleh karena jika, sangat terpaksa shalat berjamaah di rumah, maka perhatikan hal di atas. Dan sebisanya shalat jamaah di rumah itu punya ruangan tersendiri. Jauh dari bisingnya televisi, radio dan sejenisnya, serta kondisi ruangan dalam keadaan rapi, bersih, dan tenang serta nyaman agar shalat menjadi khusyu. Semoga Allah membimbing kita utamanya anggota keluarga yang laki-laki istiqamah shalat berjamaah di masjid.* Shalat Khusyu di Rumah Oleh: Hamim Thohari* 60
Alasan China Menjajah Turkistan Timur S ejak tahun 1949, Republik Rakyat China menjajah Turkistan Timur. Wilayah ini kemudian diganti dengan nama Xinjiang, yang berarti “Jajahan Baru”. Kenapa terkesan ada usaha massal penghapusan identitas jutaan Muslimin di Turkistan Timur? Di antara jawabannya ada di makalah yang ditulis petinggi tentara China sendiri, Liu Yazhou, berjudul “Teori Wilayah Barat”. Saat menulis makalah itu tahun 2010, pangkatnya Brigadir Jenderal Angkatan Bersenjata, menjabat Rektor Universitas Pertahanan China. Makalah itu telah diterjemahkan ke dalam 12 bahasa yang diterbitkan oleh Yayasan Waqaf Akademi Uyghur dan Institut Kajian China berbasis di Türkiye. Dalam makalah itu Yazhou mendefinisikan Wilayah Barat secara umum meliputi Kazakhstan, Kyrghystan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tajikistan, dan Xinjiang (Turkistan Timur), biasa disebut Asia Tengah. “Ini adalah kue terbesar yang pernah dianugerahkan Tuhan kepada rakyat China hari ini,” tulisnya. Jantung China Tahun 1949, Partai Komunis China mengerahkan Tentara Rakyat untuk merampas kedaulatan tiga negeri: Mongolia bagian selatan, Tibet, dan Turkistan Timur. Hingga kini, Turkistan Timur menjadi titik terpanas. Tahun 2017, BBC menyiarkan temuan foto-foto satelit ratusan bangunan kamp konsentrasi di Xinjiang. Rezim China menyebutnya sebagai “balaibalai latihan kerja”, tapi jutaan Muslimin yang ditangkapi dan ditahan di dalamnya dilarang beribadah, dicekoki ideologi komunis, disiksa, dipaksa makan dan minum yang haram, serta 62 Oleh: Dzikrullah* Xinjiang yang dekat dengan pusat dunia adalah tanah air masa depan China.
Alasan China Menjajah Turkistan Timur berbagai kekejaman lain, sebagaimana dikisahkan para mantan tahanan. Adapun istriistrinya di rumah, dipaksa tinggal serumah bersama para lelaki Han –suku mayoritas di China. Berikut ini beberapa petikan dari makalah Liu Yazhou. Menurut Dr. Ferhat Kurban Tanrıdağlı dari Institut Kajian China, itulah landasan utama pembasmian terhadap kaum Muslimin di Turkistan Timur, sampai sekarang. “Membentang di sebelah barat daratan China (kawasan Turkistan Raya, termasuk Turkistan Timur yang kini bernama Xinjiang), bukan saja sangat strategis, tapi di dalamnya terdapat harapan sekaligus nasib masa depan generasi kita. Letaknya yang dekat dengan pusat dunia mengharuskan kita memandangnya sebagai tanah air masa depan, bukan sekadar perbatasan.” “Lokasi tengah ini sangat sempurna. Datarannya sangat luas, pegunungan-pegunungan Tianshan, Altai, Altun mengepung lahan pertanian yang luas … laksana ujung tombak menghunjam ke jantung Asia.” “Jika suatu masalah terjadi di Taiwan, tidak akan berpengaruh kepada wilayah barat (Asia Tengah). Sebaliknya, jika sesuatu terjadi di barat, sudah pasti akan berpengaruh ke Taiwan. Jika Taiwan lepas, lambat atau cepat tetap akan kembali ke China. Namun Xinjiang dan Tibet memiliki ras dan kebudayaan yang sangat berbeda dengan kita. Hampir tak ada kemungkinannya mereka akan kembali, jika sampai lepas dari China.” “Masalah-masalah China adalah di perbatasan, dan masalah utama di perbatasan adalah Xinjiang. Kalau Xinjiang tidak stabil, kepentingan China di Asia Tengah tak bisa dibayangkan, karenanya kita melihat Xinjiang bukan sebagai perbatasan, melainkan jantungnya China.” Sejarah Liu Yazhou menggali berbagai kejadian bersejarah yang melibatkan Kekaisaran China, Rusia, dan rakyat Asia Tengah, yang menunjukkan betapa pentingnya bagi China memiliki strategi besar dan permanen. Bukan hanya demi menjajah dan mempertahankan Turkistan Timur, tetapi juga strategi penaklukan wilayah Asia Tengah: Kazakhstan, Kyrghystan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Tajikistan. Ekonomi Modernisasi China, menurut Yazhou, dimulai dari kotakota utama di pantai timur. Kebijakan ekonomi terbuka dimulai di kota-kota pantai tenggara. Dalam waktu 20 tahun, kawasan ini menjadi ibukota para konglomerat dan “Lingkaran Besar Ekonomi China”, bersama Hong Kong, Taiwan, dan Macau. Pusat gravitasi ekonomi China ini sekaligus menjadi titik lemahnya, karena tidak memiliki ruang pertahanan permanen. “Amerika Serikat telah membangun ‘Rantai Kepulauan’ yang terdiri dari Filipina, Taiwan, Jepang, dan Korea laksana tali yang mencekik leher kita,” tulis Yazhou. Energi Keamanan energi merupakan urat nadi bangsa-bangsa adidaya. Yazhou menulis, “Bagaimana Dinasti Qin mampu menguasai 6 negara Timur? Jawabannya pasti: karena merupakan negara militer yang mampu memobilisasi secara efektif seluruh sumberdaya lewat Reformasi Shangyang. Dinasti Wei sebelum Qin gagal mencapai itu, karena posisinya di peta sama dengan Jerman di Perang Dunia I dan II. Unggul secara militer namun gagal mengonsolidasi sumberdaya dari wilayah yang dikuasainya di luar Jerman.” Turkistan Raya penting bagi China dalam konteks ini, karena merupakan gudang energi terbesar yang paling dekat dengan China. Yazhou mengutip berbagai hasil riset terpercaya bahwa tiga titik lahan pertanian terbesar di Turkistan Timur: Tarim, Jungar, dan TurfanKumul mengandung 20,9 miliar ton cadangan minyak dan 10,85 triliun kubik meter cadangan gas alam. Ini merupakan 30% dan 34% kebutuhan minyak dan gas China masa depan. Jati Diri Bagian akhir makalah itu mendiskusikan identitas kesukuan, kebudayaan, dan agama rakyat Turkistan Timur sebagai “penghalang utama”. Yazhou membedah kegagalan Uni Soviet menjajah Turkistan Raya karena menguasai wilayah itu secara militer tetapi membiarkan karakter bangsa itu tetap memiliki jati dirinya yang berbeda dengan bangsa Rusia. Itulah sebabnya, lepas dari Uni Soviet selalu menjadi cita-cita yang tumbuh di alam pikiran terdalamnya. Dari sinilah dimulai amuk Setan Besar China Komunis di Turkistan Timur. Tujuan akhirnya ialah men-China-kan Turkistan Timur secara total, tanpa menyisakan jati diri rakyatnya. Terutama jati diri Islam. *Pengamat Dunia Islam MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022 63
Gubernur Mahyeldi menandatangani prasasti Rumah Kelahiran Mohammad Natsir pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Haflah ke-55 Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Istana Gubernur, Kota Padang, akhir bulan Februari lalu. Hadirnya Rumah Kelahiran Mohammad Natsir menambah daftar destinasi wisata religi Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) memang tidak bisa dipisahkan dari destinasi wisata religinya. Belum lama ini Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah kembali meresmikan Rumah Kelahiran Mohammad Natsir sebagai Cagar Budaya. Koresponden Suara Hidayatullah di Padang, Dodi Nurja, mengeksplorasi tempat tersebut usai diresmikan. Berikut kisah perjalanannya. di daerah Sumatera Barat yang harus dikunjungi. Sebelumnya, wisatawan dari dalam dan luar negeri ramai berkunjung ke Museum dan Rumah Kelahiran Buya Hamka, Masjid Tuo Pincuran Gadang, Kampung Kelahiran Syaikh Ahmad Khathib AlMinangkabawi yang semuanya berada di Kabupaten Agam. Ada juga Masjid Raya Sumatera Barat di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang Belum Populer Rumah Kelahiran Mohammad Natsir belum sepopuler objek wisata religi lainnya yang ada di Sumbar. Padahal Rumah Kelahiran salah satu pahlawan Nasional ini tidaklah sulit untuk didapati kendati berjarak sekira 120 KM dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang. Beralamat di jalan Jembatan Baukia, Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Jalan 64 Berkunjung ke Rumah Kelahiran Mohammad Natsir
yang dilalui menuju Alahan Panjang merupakan bagian dari ruas jalan raya PadangSolok yang cukup lebar dan beraspal. Berkunjung ke Rumah Kelahiran Mohammad Natsir, kita juga akan disajikan panorama alam yang indah dengan udara sejuk menyegarkan khas dataran tinggi Lembah Gumanti (1.400 mdpl). Mulanya kita akan disambut perkebunan teh yang terhampar hijau sayup mata memandang. Perkebunan teh milik PTPN VI ini persis berada di kaki Gunung Talang sehingga sering diabadikan dalam foto dan video wisatawan. Usai menikmati hamparan kebun teh dan Gunung Talang, kita akan disambut hamparan dua buah danau yang membiru, masing-masing Danau Diatas dan Danau Dibawah, kedua danau yang berdekatan ini juga dikenal sebagai Danau Kembar. Namun di lokasinya yang bernama Danau Diatas itu adalah danau yang terletak di sebelah bawah bukit, sedangkan Danau Dibawah yang berlokasi di sebelah atasnya. Kawasan danau tersebut sudah masuk dalam wilayah Alahan Panjang, dan itu artinya sudah amat dekat dengan lokasi yang akan kita tuju yakni Rumah Kelahiran Mohammad Natsir. Di rumah tepi sungai nan sederhana yang berlokasi di pinggir jalan raya Jembatan Baukia, Alahan Panjang inilah Mohammad Natsir dilahirkan pada 17 Juli 1908. Di sini pula Natsir bersama tiga saudara kandungnya, masing-masing bernama Yukinan, Rubiah, dan Yohanusun dibesarkan oleh ayahnya Muhammad Idris Sutan Saripado dan ibunya, Khadidjah. Namun, rumah bercat kuning dengan tipe khas Bungkuih Nasi yang cukup besar dan cukup mewah untuk ukuran masa itu, bukanlah milik orang tua Natsir. Rumah keluarga Mohammad Natsir ada di Maninjau, Kabupaten Agam. Ada pun rumah di mana Mohammad Natsir dilahirkan ini adalah rumah milik Kamal Sutan Rajo Ameh, saudagar kopi yang kaya raya masa itu. Rumah bersejarah itu kini dikelola Tuti 65 Di rumah tepi sungai nan sederhana yang berlokasi di pinggir jalan raya Jembatan Baukia, Alahan Panjang inilah Mohammad Natsir dilahirkan pada 17 Juli 1908. MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022 65
66 Murniati, salah satu cucu dan keturunan Kamal Sutan Rajo Ameh. "Alhamdulillah, dengan seizin keturunan pemilik rumah ini, kita sudah pasang plang nama di rumah ini dan secara bertahap kita inisiasi pembangunan perpustakaan tempat menampung sejarah pemikiran, buku-buku, maupun dokumen lain seputar perjuangan Pak Natsir," ujar Jimmy Syah Puyra Ginting, Ketua Panitia Lokal Rakornas Dewan Da’wah kepada Suara Hidayatullah. Karakter Natsir Dibentuk Menurut, Tuti Murniati, rumah saat ini bukankah rumah asli Mohammad Natsir dilahirkan. Rumah yang asli, sudah hancur di bom pesawat agresor Belanda. Rumah saat ini merupakan rumah yang dibangun kembali pada tahun 1957 dengan tipe, ruangan, dan warna yang sama dengan bentuk aslinya. Namun ukurannya lebih kecil. Kakeknya, Kamal Sutan Rajo Ameh merupakan kawan dekat Ayah Mohammad Natsir, Idris Sutan Saripado yang di masa kekuasaan Belanda itu bekerja sebagai juru tulis. Karena belum punya rumah, ayah Mohammad Natsir diajak Kamal Sutan Rajo Ameh untuk tinggal di rumahnya yang cukup besar itu. Rumah itu kemudian dibagi dua, sebelah kanan dihuni Idris dan keluarganya, dan sebelah kiri dihuni Kamal. Karena Belanda kian mengganas, dua keluarga penghuni rumah yang sudah seperti saudara ini akhirnya harus berpisah. Ayah Mohammad Natsir memboyong keluarga kembali ke kempung halaman di Maninjau. Sementara, Kakek Tuti Murniati membawa keluarganya mengungsi ke kaki Gunung Talang. Sejak perpisahan itu, Mohammad Natsir tidak pernah kembali lagi. Namun, rumah sederhana dan kesejukan hawa Lembah Gumanti tentu sangat berarti bagi perjalanan kehidupan tokoh bangsa ini di kemudian hari. Selama ini tak banyak yang mengenali, apa lagi pernah mengunjunginya. Pemerintah pun terkesan terlambat dalam merawat rumah kelahiran tokoh pemersatu NKRI yang terkenal dengan mosi integral. Di sini, di rumah inilah karakter mulai dibentuk. Di sini awal Mohammad Natsir belajar baca tulis, di sini pula awal ia mengenal pendidikan surau.*
Ar-Razi menyatakan bahwa susu yang dihasilkan pada musim semi, lebih banyak mengandung air dibanding susu yang dihasilkan pada musim panas. Sedang susu yang dihasilkan dari pakan yang berasal dari tumbuhan basah itu lebih bagus bagi pencernaan, daripada susu hasil dari pakan yang berasal dari tumbuhan kering. Sedangkan susu yang warnanya putih sekali, itu merupakan susu yang paling baik. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/3299). Susu yang paling bagus, adalah susu yang tidak terasa asam dan asin, namun ada rasa sedikit manis. Demikian juga aromanya, susu yang baik aromanya sedap dan tidak mengeluarkan bau tidak sedap. Jika susu memiliki sifatsifat tersebut, maka ketika dikonsumsi, susu akan menjadi darah yang sehat. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/3301). Susu Apa yang Paling Baik? Susu kambing merupakan susu yang dampak negatifnya paling minimal dibanding dengan susu binatang selainnya, karena ia makan dari tumbuhtumbuhan dan biji-bijian segar. Sebab itulah, susu kambing baik untuk dikonsumsi. Sedangkan daging domba yang gemuk berlemak, susunya memiliki rasa manis, ia pun tak sebaik susu kambing. Adapun susu sapi dan kuda lebih mudah menyebabkan diare, dibanding susu hewanhewan lainnya. Segala macam susu, ketika direbus, maka ia lebih baik buat pencernaan dibanding susu yang tidak direbus. Sedangkan Air Susu Ibu (ASI), merupakan susu terbaik dari berbagai jenisnya. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/3299). ASI yang baik ialah ASI yang berasal dari seorang yang berusia dewasa—tidak juga masih remaja dan tidak pula berusia lanjut, dari seorang wanita yang punya badan sehat serta mengkonsumsi makanan yang baik pula. ASI yang demikian itu akan menjadi nutrisi baik pada badan. (Al-Hawi fi athThibb, 7/3301). Obat untuk Beberapa Penyakit Ar-Razi menyebutkan bahwa susu yang direbus bisa menjadi obat untuk infeksi di tenggorokan, juga baik dikonsumsi bagi mereka yang menderita gatal di kulit atau pun borok. Jika direbus sampai tinggal setengahnya, maka ia baik untuk penderita diare. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/3299). Susu juga bisa menjadi obat infeksi akibat dari beberapa serangga beracun seperti dzurrah (lalat Spanyol), salamander, atau infeksi akibat tumbuhan beracun seperti tumbuhan bunj (hyoscyamus), syaukaran (cicuta). (Al-Hawi fi ath Thibb, 7/3299). Susu sapi sesuai untuk dikonsumsi ketika seseorang Menurut para dokter klasik, di samping baik untuk dikonsumsi, susu juga termasuk obat untuk berbagai macam penyakit 68 Bergizi dan Berkhasiat Susu
mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung racun. Susu sapi juga baik untuk mengatasi sariawan di mulut, dan luka tenggorokan, yakni dengan menjadikannya untuk berkumurkumur. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/3299). Mempercepat Sembuhnya Luka Sedangkan Ibnu Sina menyebutkan bahwa meminum susu bisa bermanfaat untuk mengobati luka maupun mengatasi rasa gatal di kulit. Baik dengan diminum atau dioleskan buat mencerahkan kulit dari noda-noda bekas luka dan sebagainya. (Al-Qanun fi athThibb, 1/548). Obat Sakit Mata Segala macam susu bisa dipakai untuk mengatasi sakit mata. Susu dapat dijadikan obat secara mandiri serta dicampur dengan obat-abat lainnya. Susu bisa dicampur dengan minyak mawar dan putih telur, lantas dioleskan di atas kelopak mata yang bengkak. (Al-Hawi fi athThibb, 7/3302). Mengatasi Batuk Menurut Ibnu Sina, mengkonsumsi susu kambing itu baik untuk mengatasi batuk, termasuk batuk yang mengeluarkan darah. (Al-Qanun fi ath-Thibb, 1/549). Tidak Baik untuk Beberapa Penyakit Di samping memiliki fungsi sebagai obat, para dokter klasik juga tak menyarankan untuk mengkonsumsi susu dalam beberapa kondisi, yakni saat seorang menderita sakit pada limpa dan liver. Juga tak baik untuk penderita sakit kepala dan demam. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/3300). Demikian juga, tidak disarankan terus-menerus mengkonsumsi susu yang banyak mengandung keju dan sedikit air, karena ia bisa menyebabkan munculmya batu di ginjal. (AlHawi fi ath-Thibb, 7/33005). Terus-menerus mengkonsumsi susu tak baik untuk gigi dan gusi. Yakni gigi mudah keropos dan gusi mudah bengkak. Karena itu, perlu berkumur setelah meminum susu. Lebih bagus jika mencampur madu untuk berkumur karena membersihkan sisa-sisa keju pada sela-sela gigi. Adapun yogurt atau susu asam, tidak berdampak buruk pada gigi. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/33005). Meminum Susu Lebih Baik dengan Madu Susu, jika tak dicampur dengan madu, maka proses pencernaannya lebih lamban. Namun jika ia dicampur dengan madu, maka di samping proses pencernaan lebih cepat, keduanya akan memberi nutrisi yang baik bagi tubuh. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/33005). Khasiat Keju dan Mentega Keju, merupakan hasil olahan dari susu, yang juga bermanfaat. Keju yang baru jadi yang rasanya asin, tidak baik untuk dikonsumsi. Sedangkan keju yang sudah lama, ia baik untuk pencernaan. (Al-Hawi fi athThibb, 7/3300). Sedang mentega juga bisa dimanfaatkan sebagai penawar racun jika dikonsumsi, setaraf dengan minyak. Mentega jika dicampur dengan madu ia bisa menjadi obat untuk kandidiasis (oral thrush) yang bisa menyerang mulut. (Al-Hawi fi ath-Thibb, 7/3300). *Thoriq/Suara Hidayatullah MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022 69
S eorang filosof bernama Friedrich Nietzsche menyatakan “Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getotet!” (Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya). (Nietzsche Friedrich. Die fröhliche Wissenschaft, Drittes Buch, Aphorismus 125 „Der tolle Mensch“ KSA 3, S. 480 ff.). Pernyataan di atas merupakan kritik Nietzsche terhadap nilai-nilai keberagamaan (Kristen pada saat itu) yang dipengaruhi oleh ajaran Plato. Nietzsche menganggap kekristenan mengajarkan orang untuk menolak, membenci dan melarikan diri dari kehidupan dunia demi akhirat. Padahal, menurutnya, akhirat hanya mitos bersifat imajiner. Baginya, para tokoh agama adalah para pengajar maut karena membuat orang berpindah fokus dari hidup ke kematian. Nietzsche mengajak manusia lepas dari intervensi ilahi dan nilai tertentu menuju kehidupan tanpa nilai sebagai syarat mutlaknya mewujudkan hidup penuh makna. Ajaran seperti ini melahirkan paham nihilisme dan atheisme. Nihilisme ini memunculkan perasaan skeptis terhadap semua tatanan Tuhan yang tak relevan dengan perkembangan zaman. Paham itu menganggap Tuhan sebagai penghalang bagi manusia untuk mengembangkan dirinya. Karena itu, Tuhan harus ditiadakan dalam pikiran manusia. Inilah awal munculnya paham athesime. Bahkan untuk memperkuat argumen Tuhan tidak ada, mereka mempertanyakan adanya kejahatan di dunia ini. Selama masih ada kejahatan, maka segala macam pembuktian adanya Allah, itu menjadi tidaklah berarti. Hans Kung, seorang teolog Katolik terkemuka menyebut, masalah kejahatan dijadikan sebagai, “The Rock of Atheism,” atau fondasi ateisme yang begitu kuat dalam membuktikan kalau Allah itu tidak ada. Fitrah Manusia Mengakui Adanya Tuhan Meski hakikat zat Tuhan tidak bisa dikenal secara sempurna, tetapi manusia lewat banyak jalan bisa memperoleh keyakinan terhadap adanya Tuhan. Konsep terkait Tuhan, sesungguhnya mudah dipahami, termasuk oleh mereka yang mengingkari keberadaan-Nya. Sebab, konsep ini sudah ada di dalam benak manusia itu sendiri. Setidaknya manusia mengetahui bahwa Tuhan itu adalah Pencipta seluruh entitas dan eksisten. Tuhan juga Maha Kuasa untuk melakukan segala perbuatan, kendati mereka tak menerima wujud Tuhan seperti ini. Biasanya mereka akan sadar adanya sebuah entitas di luar kemampuannya ketika mengalami musibah seperti ingin tenggelam di laut atau jatuh dari tempat tinggi. Sebab dalam keadaan terjepit, secara naluria manusia membutuhkan pertolongan 70 Menjawab Kaum Atheis tentang Keberadaan Allah
dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Hal ini juga terjadi di kebanyakan orang jahat dan tiran, tatkala terjerembab ke dalam pelbagai musibah dan penderitaan, mereka akan mengingat Tuhan dan dengan tulus hati perhatiannya akan tersedot kepada-Nya. Itulah yang disebut fitrah. Allah menciptakan manusia dengan fitrah butuh kepada-Nya. Hal ini dijelaskan di dalam firman-Nya, “(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. ar-Rum: 30). Syaikh Abdurrahman as-Sa’diy menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan fitrah ini, bahkan cinta terhadap fitrah ini. Menurutnya, semua hukum syariat secara zahir dan batin, telah Allah letakkan dalam hati manusia serta hati mereka akan cenderung pada fitrah ini. Allah Ta’ala memasukkan rasa cinta akan kebenaran.” (Tafsir as-Sa’diy, hal.752). Penetapan sifat wujud (ada) bagi Allah, tidak berarti kita menetapkan harus ada yang mengadakannya. Karena ‘wujud’ (ada) itu ada dua macam. Pertama, wujud zat (ada dengan sendirinya), yaitu kalau keberadaannya bersumber pada dirinya, bukan didapatkan dari yang lainnya. Inilah keberadaan Allah Ta’ala serta seluruh sifat-Nya. Karena keberadaannya tidak didahului oleh ketidak71 adaan bahkan tidak disudahi dengan tidak ada. Hal ini sesuai firman-Nya “Dialah yang Awal dan yang akhir yang zhahir serta yang bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Hadid: 3). Kedua, wujud Hadits (yang ada kemudian). Yaitu, sesuatu yang baru ada setelah sebelumnya tidak ada. Macam inilah yang harus mempunyai pihak yang pengada yang mengadakannya ataupun pencipta yang menciptakannya, yaitu Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman, “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatunya. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit serta bumi. Dan orangorang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 62-63). Berdasarkan hal ini, Allah Ta’ala disifati dengan sifat “maujud” (ada) dan dapat dijadikan berita dalam ucapan. Maka dapat dikatakan bahwa ‘Allah itu maujud (ada)’. Akan tetapi ‘wujud’ bukan nama, dia hanya sifat. (Fatwa Lajnah Daimah, 3/190-191). Ini artinya setiap manusia itu memiliki makrifat, pengetahuan, dan kecondongan kepada wujud Tuhan Yang Maha Segalanya melalui jalan hati dan fitrah. Mereka lalai adanya Tuhan lantaran pelbagai pengaruh dalam kehidupannya. Jadi bukan lantaran tidak mengetahui Tuhan. Bukti Rasional Untuk membuktikan keberadaan Tuhan juga bisa dilakukan dengan cara empirik. Terkadang seseorang dengan observasi akurat dan pemikiran yang teliti tentang berbagai fenomena dapat terbimbing kepada wujud Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Dengan memperhatikan beberapa keutamaan tipikal jalan ini, al-Qur’an memberi perhatian khusus terhadap masalah observasi emprik dan dalam banyak ayat al-Qur’an menyeru manusia untuk merenungi fenomena-fenomena semesta yang ada di sekelilingnya. Pada beberapa tempat di al-Qur’an, kita dapat menjumpai beberapa ayat yang menjelaskan tentang fenomena-fenomena alam. Isinya merupakan tanda-tanda dan ayat-ayat atas wujud Tuhan dan mengajak manusia untuk memikirkan dan merenunginya. Mengenal Tuhan melalui fenomena alam merupakan pengenalan tanda-tanda takwini di alam penciptaan yang merupakan contoh nyata Semua hukum syariat secara zahir dan batin, telah Allah letakkan dalam hati manusia serta hati mereka akan cenderung pada fitrah ini. Allah Ta’ala memasukkan rasa cinta akan kebenaran. (Tafsir as-Sa’diy, hal.752). MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022
jalan empirik. Adapun dalil logika yang dijadikan sandaran para ulama dalam menetapkan wujud Allah Ta’ala adalah bahwa setiap sebab pasti ada penyebabnya. Dan setiap yang baru pasti apa penciptanya. Orang yang tidak berpendidikan seperti orang badui, juga memahmi bawa anak onta menunjukkan adanya induk onta, jejak perjalanan menunjukkan ada yang berjalan. Demikian pula bumi penuh dengan tumbuh-tumbuhan, langit penuh dengan bintang gemintang, menunjukkan adanya Sang Pencipta. Menurut Ibnu Taimiyah, semua umat umumnya mengakui adanya pencipta, namun mereka menyekutukan ibadah kepada selain-Nya. Karenanya, terhadap mereka yang mengingkari adanya Sang Pencipta –seperti Fir’aun- para Rasul menghadapainya dengan perkataan kepada mereka yang telah mengetahui kebenaran. Seperti ucapan Musa kepada Fir’aun, ‘Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.’ (QS. Al-Israa: 102). Ketika Fir’aun mengatakan, ‘Dan siapa Tuhan semesta alam.’ (QS. As-Syu’ara: 23), maka Musa mengatakan kepadanya, “Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya. Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.” Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.” Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS. As-Syuara: 24-28).( Minhajus Sunnah, 2/270.) Dalil akal lain yaitu adanya keteraturan alam. Banyak ayat yang memerintahkan agar manusia memikirikan adanya keteraturan alam sebagai dalil dan pedoman yang akan membimbing orang-orang berakal mengenal Allah. Ayat-ayat tersebut dipandang sebagai bukti dan tanda atas keberadaan, ilmu dan kekuasaan Tuhan. Diantaranya berbunyi: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Qs. Ali Imran [3]:190); Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orangorang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Qs. Al-Dzariyat [51):20-21). Ayat di atas merupakan bukti bahwa keberadaan alam ini telah diciptakan dengan ukuran yang sangat jitu, penuh hikmah, teratur, sesuai dan harmonis. Pencipta sesuatu itu adalah satu, Dialah yang Maha Pengatur, Pencipta keteraturan dan mengharmonisasikan bagian-bagian ciptaanNya. Karena itu ilmuwan Muslim, dengan bersandar pada salah satu tipologi alam natural menyebut sebagai argumen keteraturan (argument from design). Paham ini amat berbahaya karena bisa menghilangkan makna terdalam dari keyakinan terhadap adanya Tuhan. Keyakinan terhadap Tuhan, pun direduksi menjadi sekadar proyeksi, pelarian, neurosis serta cukup membelenggu. 72
Selain itu untuk membuktikan keberadaan Tuhan bisa melalui argumen para filosof tentang realitas wujud. Menurut al-Farabi, realitas wujud ada dua bentuk. Pertama, wujud kontingen yaitu ketika memperhatikan esensinya didapati eksistensi baginya tak niscaya. Kedua, wujud wajib yaitu esensinya dapat diketahui eksistensi baginya adalah niscaya. Dalam hal ini bukan hal yang mustahil jika diasumsikan ketiadaan wujud kontingen. Untuk mengadakan wujud kontingen memerlukan sebab dan jika telah berwujud maka eksistensinya menjadi “niscaya”. Esensi wujud kontingen tak abadi dan bersifat sementara. Wujud kontingen mustahil menjadi sebab hakiki bagi realitas wujud lainnya. Oleh karena itu harus berujung kepada wujud wajib yang merupakan ‘Wujud Pertama’ sekaligus ‘Sebab Pertama’. Karena itu mustahil kalau mengasumsikan ketiadaan Wujud Wajib. Wujud Wajib tak memiliki sebab karena Dia adalah sebab pertama untuk semua eksistensi (Abdurrahman Badawi, Mausu’at al-Falsafah, 2/102). Sedang Ibnu Sina menjabarkan argumen imkan dan wujub untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Menurutnya realitas wujud adalah Wujud Wajib dan wujud kontingen. Jika realitas wujud itu adalah Wujud Wajib maka terbuktilah realitas eksistensi Tuhan, dan jika realitas wujud itu adalah wujud kontingen, dikarenakan kemustahilan daur dan tasalsul, maka niscaya bergantung kepada Wujud Wajib (Al-Isyarat wa at-Tanbihat, 3/20). Kesimpulan Berdasar penjelasan di atas dapat pastikan bahwa argumen kaum atheis amatlah lemah tentang ketidakpercayaan terhadap adanya Allah. Tidak salah jika ada yang menilai, paham atheisme secara sembarangan dan sewenang-wenang mengkritik keberadaan Tuhan. Paham ini amat berbahaya karena bisa menghilangkan makna terdalam dari keyakinan terhadap adanya Tuhan. Keyakinan terhadap Tuhan, pun direduksi menjadi sekadar proyeksi, pelarian, neurosis serta cukup membelenggu. Padahal keyakinan terhadap Tuhan melampaui semua itu. Rasulullah telah mengingatkan kepada kita agar hati-hati dengan pemikiran yang mempertanyakan keberadaan Allah. Rasulullah pun bersabda, “Syaitan akan mendatangi salah seorang di antara kalian kemudian ia berkata, ‘Siapa yang sudah menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’ Apabila syaitan telah sampai kepada pertanyaan ini, maka mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.” (Riwayat Bukhari). Semoga kita diselamatkan dari pemikiran kaum atheis yang sesat dan sewenang-wenang tersebut. *Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022 73
Ada sebuah tulisan di twitter dengan alamat https://twitter.com/MahameruLee, berisi “Apa saja pelajaran dari cerita Hajar? 1. Penting untuk diingat bahwa Hajar adalah seorang budak kulit hitam yang hanya memegang fungsi reproduksi bagi keluarga Ibrahim. Dalam sistem perbudakan patriarkal, ia tidak lebih dari pemuas keinginan Ibrahim dan Sarah akan seorang putra.” Terlepas dari motif si penulis, perlu ada pelurusan terhadap tulisan itu. Isinya pun mengandung banyak kekeliruan. Sebutan Hajar sebagai budak tidak sepenuhnya benar. Sebab ada juga riwayat yang menyebutkan kalau Hajar tak pernah menjadi budak, bahkan dia putri seorang raja terkemuka di Mesir. Ada yang mengatakan putri Raja Fir’aun ketiga. Ia tertarik bergabung dengan keluarga Nabi Ibrahim dan istrinya dalam kapasitasnya sebagai seorang pengikut ajaran Tauhid yang dianut Nabi Ibrahim. Karena itu, sumber yang menyebutkan Hajar sebagai budak perlu dipertanyakan. Sebab al-Qur’an dan Hadits sama sekali tidak pernah menyebutnya sebagai budak atau mantan budak. Demikian juga Bible tidak ada penyebutan seperti itu. Bahkan Bible memperlakukan Ismail, hasil pernikahan Ibrahim dengan Hajar sama dengan Ishak, hasil pernikahan Nabi Ibrahim dengan Sarah. Hal ini dijelaskan di Kitab Kejadian yang berbunyi: “Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu meninggal….. Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela…..” (Kejadian 25 : 7-9). Dalam kitab ini disebutkan bahwa Ishak serta Ismail statusnya sama, yaitu sebagai anak Nabi Ibrahim. Artinya, ibu Ishak, Sarah dan ibu Ismail, Siti Hajar, memiliki kedudukan yang sama, yaitu sebagai istri sah Nabi Ibrahim. Dalam Bible juga tak ada ajaran tentang perbudakan berdasarkan ras. Perbudakan merupakan status sosial. Orang menjual dirinya sebagai budak saat mereka tidak sanggup membayar utang atau untuk menyediakan nafkah bagi keluarga mereka. Misal perbudakan juga dialami oleh orang-orang Ibrani saat mereka masih berada di Mesir. Orangorang Ibrani adalah budak, bukan karena pilihan mereka sendiri, melainkan karena mereka adalah orang-orang Ibrani. (Keluaran 13: 14). 74 Meluruskan Persepsi Keliru Tentang Hajar
75 Status budak juga dapat diperlakukan apa saja oleh majikannya. Hal ini ditegaskan dalam Bible bahwa hamba-hamba (budak) hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah. (Titus 2: 9). Ayat ini menjelaskan bahwa seorang budak tak boleh melawan terhadap tuannya dan dianjurkan untuk mematuhi ‘segala hal’ yang diinginkan tuannya. Dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa menggauli budak dibolehkan. Karena seorang budak tak boleh membantah apapun yang tuannya inginkan termasuk saat tuannya mau menggaulinya. Jadi seandainya Siti Hajar sebagai budak, dia bisa digauli oleh Nabi Ibrahim kapan saja. Tetapi faktanya Nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar secara resmi. Dari penjalasan di atas jelas bahwa Siti Hajar statusnya bukan seorang budak Nabi Ibrahim. Demikian juga tuduhan penulis yang menilai Siti Hajar sebagai pemegang fungsi reproduksi bagi keluarga Nabi Ibrahim tidaklah tepat. Seandainya Siti Hajar dianggap sebagai pemuas keinginan Nabi Ibrahim dan Siti Sarah untuk mendapat seorang putra, tentu Nabi Ibrahim bisa menikah awal-awal pernikahan keduanya, ketika diketahui dia tidak akan membuahkan anak. Namun faktanya Nabi Ibrahim menikah lagi di usia pernikahan sudah berlangsung lama serta berjalan harmonis. Dan hal yang terpenting, Siti Hajar termasuk seorang perempuan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Bahkan perbuatan Siti Hajar ketika mencari air antara bukit Safa dan Marwah dijadikan sebagai syariat agama Islam. Nabi Muhammad pun bersabda, “Ini adalah kejadian yang mendasari tradisi jamaah haji berjalan antara Safa hingga Marwah. Ketika Hajar mencapai bukit Marwa (untuk terakhir kali), ia mendengar sebuah suara, kemudian ia diam serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mendengar sesuatu itu terus-menerus dan berkata, “Wahai (siapapun engkau)! Engkau telah membuatku mendengarkan suaramu; apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat membantuku?” Dan ajaib! Ia melihat satu malaikat di lokasi zam-zam, sedang menggali tanah dengan tumitnya (atau sayap), hingga air memancar dari tempat itu. Ia lalu membentuk tangannya seperti mangkuk, dan mulai mengisi tempat air minumnya yang terbuat dari kulit dengan air menggunakan tangannya, dan air itu lalu mengalir keluar setelah dia menciduk sebagian di antaranya.” (Riwayat Bukhari). Ini menunjukkan Siti Hajar ditunjuk oleh Allah Ta’ala sebagai wasilah mengalirnya air zam-zam yang tidak akan pernah habis sampai hari kiamat. Karena itu sangat disayangkan tuduhan negatif dari penulis di twitter itu terhadap perempuan yang dimuliakan Allah . Padahal ia sendiri belum tentu mendapat kemualiaan seperti Siti Hajar di mata Allah Ta’ala. Semoga kita termasuk orang-orang yang terjaga pikiran serta tangan kita dari hal-hal yang merusak keimanan. *Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah 75 Hajar termasuk seorang perempuan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Bahkan perbuatan Hajar ketika mencari air antara bukit Safa dan Marwah dijadikan sebagai syraiat agama Islam. MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022
“Al-Qu’ran di sini sangat dibutuhkan karena banyak santri yang belum punya,” kata Yohanes Kristanto. Kok namanya seperti orang Kristen? Benar. Pak Yo, demikian biasa dipanggil, memang orang Kristen. Bahkan dia seorang pendeta. Tapi itu dulu. Sekarang dia sudah menjadi Muslim, setelah bersyahadat beberapa bulan lalu. Bagi yang ingin tahu kenapa Pak Yo memilih memeluk Islam, bisa menonton videonya di channel youtube Hidayatullah TV dengan judul “Dua Hal Ini Sebabkan Pendeta di Semarang Masuk Islam, Setelah Memurtadkan 430 Muslim.” Seperti diakui di dalam video tersebut, dulu ia pernah sukses memurtadkan ratusan Muslim. Kini seakan ‘balas dendam’, Yohanes ingin membayar dosadosanya dengan giat berdakwah. Khususnya di daerahdaerah yang menjadi sasaran pemurtadan seperti lereng Gunung Merbabu dan BayatKlaten di Jawa Tengah. Di lereng gunung Merbabu, tepatnya Gantang, Sawangan, Magelang terdapat kampung muallaf. “Ada sekitar 200 mualaf,” kata Wandi, penggerak dakwah di Gantang. Bahkan ada satu dusun, dulu mayoritas Kristen, kini kondisinya sudah berbalik. “Yang non Muslim tinggal 14 kepala keluarga (KK),” tambah Wandi. Yohanes kemudian ikut bergabung memperkuat dakwah di Gantang. Salah satu strategi yang dilakukan Wandi adalah mendirikan Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ). Dengan mengajarkan al-Qur’an, dia bermaksud membentengi anak-anak dari gerakan pemurtadan. Alhamdulillah, kini TPQ Baitul Makmur santrinya ratusan, mulai anak-anak hingga remaja. Menariknya, diantara santri tersebut banyak pula anakanak dari keluarga non Muslim. “Mereka ikut mengaji karena Al-Qu’ran untuk Kampung Muallaf di Lereng Merbabu 76 tertarik sama teman-temannya,” kata Wandi. Karena tiap hari mengantarkan anaknya mengaji, lama-kelamaan pun orangtuanya ikut masuk Islam. Pada Juni 2022 lalu, Yayasan Wakaf al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) mengantarkan al-Qur’an untuk para santri TPQ. Banyak di antara mereka belum punya alQur’an. “Saya atas nama TPQ Baitul Makmur mengucapkan jazakallah khairan katsira,” kata Ani yang mendapat amanah kepala TPQ. Kita doakan gerak dakwah di Sawangan terus berdenyut untuk membentengi aqidah umat. “Jika dakwah berjalan, kami sulit masuk,” ujar Yohanes. Kata ‘kami’ di sini menggambarkan ketika Pak Yo masih aktif melakukan gerakan pemurtadan. Yuk, berwakaf al-Qur’an. Karena masih banyak saudara kita di pelosok negeri yang membutuhkannya. *Bambang S/Suara Hidayatullah
Cerdas Mengelola Harta Belakangan ada kekuatan baru yang digerakkan oleh individu dan korporasi yang ingin berbuat baik dalam ekonomi. Mereka ingin menyelaraskan antara tujuan untuk mencari untung dengan niat yang mulia. Dunia pada umumnya mengganggap hal ini sebagai pilihan baru dalam berekonomi, padahal di dunia Islam sejatinya sudah merupakan keharusan. Bahkan sudah ada petunjuk agar pengelolaan harta berdampak bukan hanya pada diri dan keluarga, tetapi juga pada orang lain. Prinsip Pengelolaan Harta Harta itu seperti gear (roda gigi) dalam sistem perputaran roda yang menggerakkan mesin besar. Dalam ekonomi, hal itu disebut impact economy. Gear yang terdalam adalah keluarga. Apa yang dilakukan terhadap penghasilan dan harta, akan sangat menentukan seperti apa ekonomi umat ini terbentuk. Sadar atau tidak, sesungguhnya kita menumbuhkembangkan sistem ekonomi kapitalis ribawi yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Padahal seharusnya, kita mengelola harta dengan mengikuti petunjuk-Nya. Contoh pengelolaan harta yang ideal ada di Kitab Riyadush Shalihin: Nabi SAW bersabda, “Suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan, ‘Hujanilah kebun fulan.’ (Suara tersebut bukan dari jin atau manusia, tapi dari malaikat). Awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan air di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air dan mengikuti ke mana air berjalan. Dia melihat seorang laki-laki sedang berdiri di kebunnya dan memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya, ‘Wahai hamba Allah, siapakah namamu?’ Pemilik kebun menjawab, ‘Fulan’—nama yang didengar di awan tadi. ‘Mengapa engkau bertanya tentang namaku?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan ‘Siramlah kebun fulan’, dan inilah airnya. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini?’ Dia menjawab, ‘Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya, aku dan keluargaku memakan sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (penanaman kembali).” (Riwayat Muslim). Inilah prinsip pengelolaan harta yang ideal. Yaitu 1/3 untuk sedekah, 1/3 untuk keluarga, dan 1/3 untuk (re) investasi. Bila kita bisa melakukannya, insya’Allah “hujan” akan turun ke kebun kita, meski yang lain kekeringan. Rezeki yang barakah tetap datang ketika yang lain tidak mendapatkannya. Potensi Wakaf Dengan prinsip pengelolaan seperti itu, lantas dimana potensi ekonominya? Potensi ekonomi sedekah sebesar 1/3 penghasilan umat Islam, dan potensi wakaf 1/3 dari kekayaannya. Siapapun yang bisa menggarap ini akan menjadi kekuatan ekonomi yang berdampak sangat besar. Apa umat zaman ini mau membelanjakan harta 78
Rubrik ini hasil kerjasama: begitu besar untuk sedekah dan wakaf? Jika umat terdahulu bisa, kenapa sekarang tidak? Budaya wakaf yang sangat masif telah dicontohkan oleh Sahabat seperti Abu Thalhah dan Umar bin Khaththab, hingga berabad-abad kemudian. Di zaman Salahuddin al-Ayyubi (1137-1193), orangorang kaya berlomba dalam wakaf di berbagai bidang. Kalangan miskin pun tidak mau ketinggalan. Ada yang wakaf piring, jasa perbaikan perabot rumah tangga, dan sebagainya. Umat zaman sekarang perlu memperhatikan satu ayat saja. Bila dihayati maknanya, niscaya akan berlomba-lomba berwakaf. Satu ayat ini cukup untuk menjadi modal bagi kebangkitan ekonomi umat. “Kamu sekali-kali tidak akan pernah sampai kepada al-Birr (Surga) sampai kamu menafkahkan dari apa yang kamu cintai …” (QS. Ali Imran [3]: 92). Rasanya tidak sulit mewujudkan layanan kesehatan sekelas Bymaristan dulu, saat orang sakit bukan hanya dilayani gratis sampai sembuh, dan ketika pulang diberi uang dan baju baru. Orang-orang berlomba untuk bersedekah (berwakaf). Ulama-ulama fokus mengembangkan ilmu, para penemu dan inovator fokus berkarya, karena semuanya dibiayai lebih dari cukup. Pada 1/3 bagian untuk keluarga, tujuannya adalah menghadirkan anak-anak yang shalih dan istri yang menjadi penyejuk pandangan mata. Maka sekolah-sekolah yang berbasis iman dan majelis-majelis ilmu kebanjiran peminat. Orangtua akan berubah dari target utama agar anak menjadi sarjana, menjadi anak shalih yang mandiri. Menjadi sarjana akan menjadi nice to have (bagus jika memiliki), tetapi keshalihan dan kemandirian adalah must have (harus memiliki). Makanan yang halal, thayyib, dan azka tha’am (murni) akan menjadi prioritas keluarga. Industri makanan akan berubah dari yang targetnya sekadar massal dan murah untuk menguasai pasar, menjadi industri skala kecil namun menyebar. Orang akan mementingkan traceable food, yaitu makanan yang diketahui betul asal-usul bahannya sampai siapa yang memasaknya. Pada 1/3 bagian yang diinvestasikan, akan berubah orientasi. Sekarang tujuannya mencari imbal hasil materi yang tinggi, akan berubah menjadi bagaimana investasi itu akan mencerdaskan dan menjadi jalan untuk pengamalan ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat inilah yang akan dibawa mati, bukan hasil investasi yang tinggi. Dengan mengikuti petunjuk-Nya, maka pengelolaan harta menjadi sederhana. Yaitu pikirkan setiap pengeluaran, apakah akan berdampak pada sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih. Bila suatu pengeluaran bersifat netral alias tidak berdampak apa-apa, maka tidak perlu menjadi prioritas. Bila bersifat negatif atau menjauhkan salah satu dari tiga hal tersebut, maka tinggalkan saja.* 79 Tanya Wakaf: 0813-1415-2019 Siapapun yang bisa menggarap ini akan menjadi kekuatan ekonomi yangberdampak sangat besar. FOTO: FREEPIK MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022
Lika Liku Dakwah Ustadz Abdul Rohim Ustadz Abdul Rohim Lelaki paruh baya itu baru saja meninggalkan mushalla usai mengajar ngaji para santrinya di Pesantren Hidayatullah Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Tak lama kemudian, angin berhembus dengan kencangnya melintasi area lahan pesantren yang baru saja dirintisnya. Qadarullah, angin kencang yang disertai hujan badai merobohkan bangunan asrama para santrinya yang baru saja rampung. Beruntung tidak ada korban jiwa. Ustadz Abdul Rohim, sang pimpinan pesantren, harus memulai lagi dari awal. “Kalau kita menyerah begitu saja, gagal kita menghadapi ujian dari Allah,” ungkapnya kepada Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu. Itulah salah satu ujian dakwah yang harus ia hadapi awal merintis dakwah dan pesantren di Kabupaten Seram Bagian Timur akhir Desember 2021 lalu. Debut Dakwah Ustadz Rohim, sapaan akrabnya, berkenalan dengan Hidayatullah lewat majalah bekas Suara Hidayatullah yang di dikoleksi seorang tetangganya di Maluku sekitar tahun 1999. Pasca kerusuhan horizontal tahun 2000, Rohim diminta oleh pengasuh Hidayatullah cabang Masohi, Maluku Tengah agar mendampingi santri-santri belia berangkat ke Pesantren Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur untuk melanjutkan pendidikan mereka. Meski Rohim sendiri tak sempat sekolah, ia memiliki perhatian yang amat tinggi terhadap kelanjutan masa depan kualitas generasi muda. Ia pun mendampingi anak santri yang jumlahnya belasan tersebut untuk menempuh pendidikan di Bontang. Ia tak bisa langsung kembali ke Maluku. Selain jadwal kapal belum jelas, kondisi pasca konflik juga masih belum stabil. Ditambah duit di kantong hanya cukup untuk makan. Akhirnya, Rohim pun diminta tinggal beberapa waktu di Bontang. Tak terasa, ia sudah berjalan 1 tahun di Bontang. Tak lama setelah itu, Rohim diikutkan nikah massal 3 pasang di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. Usai menikah dan menikmati bulan madu bersama sang istri, Rohim ditugaskan melakukan perintisan unit usaha perkebunan lada di bilangan Kilometer 40 yang berlokasi di jalan poros SamarindaBontang. Kembali ke Maluku Selanjutnya, tahun 2007 Rohim ditugaskan kembali 80
di Masohi membantu Ustadz Abdul Qadir Abdullah, untuk membangun kembali Ponpes Hidayatullah Masohi yang rata dengan tanah karena terbakar imbas kerusuhan tahun 1999 itu. Setelah membangun fasilitas yang cukup dengan amal usaha pendidikan tingkat TK dan SD yang berjalan selama 9 tahun, tahun 2006 Rohim ditugaskan ke Hidayatullah Pulau Buru untuk membantu dakwah rekannya Ustadz Anto yang telah bertugas di sana selama 8 tahun. Tugas di Pulau Buru ini sangat berkesan bagi Rohim karena ia berangkat dengan istri yang sedang hamil tua beserta 5 orang anak yang masih kecil menyeberangi laut dengan feri ke Pulau Buru tanpa diberi ongkos. “Alhamdulillah, waktu pembayaran tiket uang saya tidak ada. Tak ada uang sepeser pun yang tersisa di dompet,” katanya. Dengan kuasa Allah , Rohim dan istri beserta anak-anaknya dapat turun ke pelabuhan tanpa membayar apa pun. Lebih memprihatinkan lagi, sebab kembali harus melanjutkan perjalanan selama 3 hari dengan kondisi sang istri sedang hamil besar. Setiba di tempat tugas yang baru itu, istrinya langsung melahirkan. “Persalinan itu saya sendiri yang menangani, dibantu penerangan lampu senter handphone Cina,” katanya sambil tertawa mengenang momen tak terlupakan itu. Berjalan 2 tahun dakwah di Pulau Buru, Rohim kembali mendapat tugas baru untuk melakukan perintisan di Kota Terpadu Mandiri (KTM) di kawasan transmigrasi Kobi, sebuah tempat persiapan Kota Terpadu Mandiri. Di Kobi, Rohim didampingi sang istri yang setia mendampingi dalam setiap likuliku dakwahnya. Dia ditugaskan untuk mengaktifkan bangunan Islamic Center berupa 1 masjid, asrama 32 kamar, dan 2 unit aula. Alhamdulillah, dia amat bersyukur. Setelah berjalan 1 tahun di sana, kegiatan pesantren mulai berjalan. Ia pun terbantu dengan adanya petugas dai dan daiyah yang dikirim dari Batam dan Balikpapan. Dakwah di Seram Bagian Timur Akhir tahun 2021, Rohim ditugaskan kembali merintis di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Di sini ada tanah 4 hektar untuk pesantren yang posisinya dekat dengan kota yang nantinya menjadi pusat dakwah di kawasan itu. Awal mula tiba di SBT ini, ia beserta keluarga menumpang di rumah salah seorang warga. Program pertamanya adalah membangun asrama dan mushalla untuk kegiatan pembinaan. Alhamdulillah, meski kondisinya masih amat terbatas, Ustadz Rohim dan istri dapat menjalankan pembinaan masyarakat seperti baca al-Qur’an dan majelis taklim. Masyarakat setempat menyambut antusias dan berharap anak di kampung itu dapat menjadi generasi Islam berkualitas di masa depan. Ujian dakwah yang dihadapi Ustadz Rohim belum selesai. Ia amat menikmati tugas pengabdian dakwah keumatan tersebut. Sekarang tinggal di lokasi Ponpes Hidayatullah Seram Timur itu bersama istri, dan 5 orang anak, di sebuah bangunan bekas puing-puing asrama yang roboh itu. Kondisi di Seram Timur kembali mengingatkan Ustadz Rohim dengan tempat tugas dia sebelumnya, Masohi, yang rata dengan tanah karena konflik horizontal. Kini ia kembali berjuang untuk mendirikan kembali asrama yang roboh untuk selanjutnya akan mencetak generasi Islam masa depan. *Ainuddin Chalik/Suara Hidayatullah MUHARRAM 1443/ AGUSTUS 2022 81
Rumah Dakwah untuk Da’i di Mburak KANTOR PUSAT: Jl. Cakra Wijaya V Blok L No. 06 Cipinang Muara Jatinegara Jakarta Timur 13420 Telp : (021) 2232 6488 WA Center : 0811 9874 477 E-mail: [email protected] | Website: www.posdai.or.id | | BSI 5550033 | BSI 7116026133 | BMI 4470000160 | BCA 5530412425 | BNI 0254536972 | MANDIRI 0060007515657 | an. Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta Usai shalat Shubuh, pria berbaju koko putih lusuh itu berzikir dan membaca wirid. Tak lama kemudian, dia mengajar para santri. Adalah Ustadz Abdul Fitrojan Busra, da’i muda dari Persaudaraan Da’i Indonesia (Posdai), yang mengabdikan dirinya di Dusun Macang Tanggar Desa Mburak, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Awal mula menginjakkan kaki di Mburak, Fitrojan kaget dengan kondisi yang ada. Yakni masih berupa hutan dan jauh dari keramaian. Untuk menjangkau lokasi itu, dibutuhkan waktu sekitar 55 menit dari bandara Labuan Bajo, dan melewati jalan berlumpur. Karena tidak ada bangunan memadai yang dapat ditempati, ia mulai mendirikan bilik kecil berukuran 3x4 meter untuk tempat tinggal. Di sampingnya ia bikin bilik serupa yang difungsikan buat mushala sementara. "Tempat ini yang kita gunakan untuk mengajar anak-anak mengaji," ujarnya. Bilik ini sangat sederhana. Namun, Fitrojan amat bersyukur karena bisa berteduh di saat hujan serta cuaca terik. Ia pun bersyukur karena keberadaannya di Mburak mendapat sambutan yang cukup baik dari masyarakat. "Untuk makan minum ada hamba Allah yang setiap Minggu antar makanan ke sini. Terus sayur, semua sudah dipersiapkan," katanya terharu. Kendati demikian, daerah tempat tugasnya tersebut, rupanya menjadi salah satu kawasan rawan banjir. Kalau hujan meski hanya sebentar biasanya menyebabkan banjir. Kondisi ini yang membuat Fitrojan was-was apalagi ia hanya tinggal di bilik dari bahan kayu bekas. " T a p i alhamdulillah a m a n s a j a k a r e n a k i t a s e r a h k a n semua hanya kepada Allah," tegasnya. Kehadiran Ustadz Fitrojan pun bagai gayung bersambut. Warga yang umumnya merupakan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah, namun mereka senantiasa guyub, rukun, dan memancarkan kebahagiaan. Apa yang diikhtiarkan Fitrojan, juga mendapatkan dukungan dari tokoh sesepuh yang juga menjabat Ketua MUI Kabupaten Manggarai Barat, Syakar Abdul Jangku. Kata Syakar, penyebaran dan pembinaan umat Islam di NTT menjadi amat penting serta strategis. Ia mengapresiasi para da’i yang ada karena memiliki dedikasi yang luar biasa untk membangun negeri. "Khususnya temanteman Posdai yang selama ini sudah hadir, sangat luar biasa dampaknya terhadap umat Islam NTT, terutama di Manggarai Barat," ujarnya. Sebab itu, mari kita dukung Fitrojan agar memiliki tempat tinggal yang layak huni, sekaligus menjadi tempat persemaian generasi Islam yang mampu hadir memberi maslahat luas bagi umat, agama, bangsa, dan negara.* 82
ِ ٰوة َّ الصل م َ ْ ِي ُق ْ م ِي لن ْ َ ْ اجع ب ِّ َ ر ِ عۤاء َ د َّ ْل ُ قب َ ت َ َ َا و ن َّ ب َ ر ۖ ْ ِي ت َّ ي ِّ ذر ُ ن ْ ِ م َ و “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim 14: 40). Doa di atas dipanjatkan Nabi Ibrahim untuk mendapatkan keturunan yang shalih. Para ulama menjelaskan, bahwa doa ini hendaknya dibaca oleh setiap orang yang ingin memiliki keturunan yang memegang teguh ajaran Tauhid dan melaksanakan perintah Allah beserta menjauhi larangan-Nya. *Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah Mendapat Keturunan Yang Shalih - MUHARRAM 1444 / AGUSTUS 2022 - 83
“Bisa Mengendalikan Pemerintah Berarti Keuntungan untuk Para Cukong” Memasuki usia kemerdekaan Indonesia 77 tahun, Indonesia mengalami fluktuasi penyelenggaraan negara. Hal serupa juga dialami oleh negaranegara lain. Sebagai anak bangsa, kita perlu membangun negara yang stabil juga membangun sistem yang benar melalui konstitusi. “Jika masalah lalu kita melawan kolonialisme. Di satu waktu, kita mungkin akan berhadapan dengan anak bangsa sendiri, yang lupa diri dengan mengabaikan amanah dan menyalahkan wewenang,” ujar Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO), Feri Amsari. Menurutnya, dalam teori hukum tata negara, mengutip perkataan Lord Acton kekuasaan itu cenderung menyimpang, kekuasaan absolut pasti dan pasti menyimpang. “Tugas konstitusi itu adalah membuat dia bisa dicegah dari penyimpanganpenyimpangan kekuasaan tersebut,” tegasnya. Lantas, apakah sistem bernegara kita saat ini memungkinkan untuk menghindari penyimpangan kekuasaan? Wartawan Suara Hidayatullah, Azim Arrasyid, Feri Amsari Direktur Pusat Studi Konstitusi
86 berkesempatan mewawancarai Feri Amsari, yang juga dosen Hukum Tata Negara di Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Berikut petikannya. Menurut Anda, apakah sistem bernegara kita hari ini dapat mengatasi persoalan tersebut? Sistem presidensial disepakati oleh pendiri bangsa ini. Ketika reformasi tahun 1998, bahwa apa yang dijalani selama Orde Lama dan Orde Baru tidak betul-betul sistem presidensial. Adanya upaya perbaikan itu tidak menyeluruh sampai ke akar persoalan, yaitu partai politik. Kalau sistem partai politiknya buruk pasti akan berpengaruh kepada sistem pemerintahan. Partai politik menguasai eksekutif, mengisi Legislatif, juga mengisi Yudikatif. Akhirnya proses pengisian tampuktampuk kekuasaan penuh penyimpangan. Jadi saya berpikir, problemnya ada di partai politik yang diberikan ruang menguasai banyak hal. Jika partai politiknya tidak dibenahi, maka berdampak ke kondisi ketatanegaraan, kondisi ekonomi, kondisi sosial. Prinsipnya kalau sampah yang masuk, sampah yang keluar. Separah apa kondisinya sekarang ini? Ketika pemerintahan terbentuk, harusnya dilarang bangun koalisi instan. Yang boleh itu misalnya koalisi yang sudah ditentukan sebelum pendaftaran calon. Tidak boleh kemudian terjadi koalisi lagi. Ini yang perlu diatur, partai yang menyimpang bisa diberi sanksi. Karena kita menggunakan konsep koalisi akhirnya terjadilah kongkalikong antar partai politik. Semua mendekati kekuasaan. Teorinya ada gula ada semut. Akibatnya karena koalisi terlalu mayoritas mutlak, maka semua bisa dikendalikan dan dikontrol oleh pemerintahan. Kalau memang sistem presidensial hendak berjalan dengan baik tentunya harus ada checks and balances. Saling menyeimbangkan antar kekuasaan. Nah, ini tidak terjadi. mereka saling berpegangan satu sama lain, saling mengontrol mengendalikan untuk kepentingan mereka bersama. Sehingga tidak ada lagi mekanisme saling mengawasi. Lalu, bagaimana dengan lembaga independen negara ini? Sekarang ada lembaga independen, pimpinannya pakai berbagai gratifikasi. Dapat tiket MotoGP, naik helikopter, pesan mobil mewah yang di biayai oleh orang-orang yang punya kepentingan. Problem utamanya sekali lagi implementasi. Partai terlalu dominan untuk menentukan. Yang memilih sembilan Hakim Konstitusi itu adalah mayoritas partai politik yang berkuasa. Masak, wasit ditentukan pemain sepakbolanya! Hakim Konstitusi itu wasit kita. Komisi Yudisial itu wasit peradilan. KPU itu wasit pemilu. Bawaslu wasit pengawasan. KPK wasit penyelenggara negara agar bersih dan bebas KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Wasit-wasit itu ditentukan para pemain, bagaimana mungkin dia bisa berjalan dengan benar? Apakah ini ada kaitannya dengan menjamurnya oligarki di sekitar penyelenggara negara? Cukong dalam dunia politik ada dimana-mana, contoh di Amerika. Tapi di Amerika terbuka, jadi mereka (cukongred) tidak berani macammacam. Kita tidak membangun sistem yang terbuka. Kita terjadi di balik layar, kita tidak tahu ini kepentingan siapa, tapi tibatiba aparatur negara kita manut kepentingan pemilik modal. Bahkan kalau ada dua calon presiden, pemilik modal kasih ke semuanya. Siapa pun yang menang dia tidak kalah. Ini yang jadi masalah. Nah, kita perlu membangun sistemnya. Misalnya, meletakkan kekuasaan di tangan rakyat. Kalau rakyat yang memilih rakyat pula yang menurunkan. Selanjutnya, memastikan peran lembaga perwakilan maksimal, misalnya, memastikan partisipasi yang betul-betul bermakna bisa dilakukan rakyat dalam berbagai kebijakan di lembaga legislatif. Sayangnya sistem itu sama sekali tidak ada. Jadi sistem ini yang perlu dirapikan, diperbaiki agar tidak terjadi penyimpangan dalam berbagai kekuasaan. Contoh, ketika terjadi cuci uang lembaga yang mestinya
MUHARRAM 1444/ AGUSTUS 2022 87 bisa mendeteksi malah tidak bisa menjangkau, jadi seperti korupsi yang dilegalkan. Padahal kalau sistem mampu menjangkau itu para menyumbang takut juga. Karena begitu dipakai pasal mencuci uang tidak hanya uang yang ditangkap, tapi sumber dan segala macamnya juga akan kena. Sehingga mereka berlaku tertib, jangan sampai kekuatan modal, kekuatan uang, mengendalikan politik. Artinya, adanya para pemilik modal mengendalikan tatanan ketatanegaraan itu menjadi sesuatu yang benar adanya? Para cukong kepentingannya bisnis. Bisa mengendalikan pemerintah berarti keuntungan untuk mereka. Ada proyek ada tender, ada bisnis yang dijaga. Pastilah cukong punya kepentingan. Oleh karena itu sistem kita harus jauhkan dari itu. Kalau tidak ada oposan tidak ada saling mengawasi, tentu cukong melenggang. Kita harus membangun sistem yang memastikan adanya oposan yang bisa bekerja. Makanya cukong-cukong tidak bisa ditangkap. Lha wong, semua sudah dikendalikan. Yang ditangkap cuma orangorang yang dikorbankan. Hal begini dari dulu sudah banyak yang mengingatkan. Tinggal bagaimana melaksanakannya, dan menyadarkan publik bahwa sistem politik kita tidak sehat. Bagaimana semestinya umat Islam menempatkan posisinya hari ini? Nabi Muhammad sudah mengingatkan nanti di suatu masa jumlah kalian itu seperti buih di lautan terlihat banyak tapi tidak menjadi faktor penentu. Bisa tersapu dengan mudah. Peringatan Nabi itu seharusnya sudah menjadi kesadaran. Kalau kemudian umat Islam mau berjaya, apa yang sarankan diajarkan Nabi itu yang diamalkan. Tidak kemudian menggunakan agama sebagai faktor untuk memanfaatkan kepentingan dirinya dan kelompoknya. Saya mau contohkan, ketika terjadi pertikaian besar tentang batu Hajar Aswad, yang tampil ke depan adalah Nabi untuk menyelesaikan. Dibentangkan sutera lalu ditaruh batu itu di atas, kemudian masing-masing pimpinan memegang sisisisinya. Ini semacam contoh ketatanegaraan, umat Islam itu jadi faktor penentu penyelesaian konflik bukan sebagai trigger konflik. Islam itu walaupun (jumlah) sedikit kehadirannya bermakna. Bahkan, kalau kita lihat peristiwa Fathu Makkah, semua orang berpikir ketika Islam menang itu akan terjadi balas dendam yang berdarahdarah. Tapi faktanya, semua dimaafkan, diampuni, diberikan haknya, dan diperlakukan layaknya warganegara. Mampukah pemimpin Islam, umat Islam, mengamalkan apa yang diperlihatkan, diajarkan Nabi. Apakah misalnya, di suatu daerah, menang pemimpin Islam menjadi kepala daerah, terjadi tidak perubahan signifikan sehingga orang membicarakan. Kalau kita menggunakan para pemimpin Islam maka kita akan lebih damai, sejahtera, penuh keadilan, semua orang merasa diayomi. Ini PR bersama. Tidak bisa dijadikan PR ulama saja, PR pemimpin Islam saja, ini PR bersama yang harus dijalankan baik-baik. Pekerjaan seperti ini yang berat. * Kalau memang sistem presidensial hendak berjalan dengan baik tentunya harus ada checks and balances. Saling menyeimbangkan antar kekuasaan.
Belasan santri bergegas ke tempat wudhu tak lama berselang setelah azan Zhuhur berkumandang. Siang itu, mereka baru saja usai mengikuti kegiatan pembelajaran di ruang kelas yang lokasinya memang tak jauh dari mushola. Setiba di mushola, mereka tidak langsung duduk di lantai, melainkan mengerjakan shalat Qabliyah terlebih dahulu. Setelah itu, sebagian mereka membaca al-Qur’an, sebagian lagi khusu’ zikir sambil menunggu iqomat. Di antara mereka juga tampak beberapa ustadz sedang menunaikan shalat sunnah dua rakaat. Itulah sekilas kegiatan di Panti Asuhan serta Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Rumah Sajada di Jalan Tangkilan, Dusun Wirokraman, RT 004, RW 013, Kelurahan Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbasis al-Qur’an dan asSunnah Rumah Sajada merupakan pusat pendidikan bagi para santri dan anak asuh untuk meningkatkan ilmu pengetahuan agama serta umum, yang mampu diterapkan Muhammad Fatan, mudzir pondok pesantren ini, ketika berbincang dengan Suara Hidayatullah, beberapa waktu lalu. Pelajaran al-Qur’an meliputi tahsin, tahfizh, serta tadabbur. Sedangkan di diniyah, ada bahasa Arab sebagai pendukung dalam belajar alQur’an dan ilmu Ulumuddin. Sementara untuk kemandirian santri praktik langsung untuk mengelola antara lain peternakan kambing, belut, lele, ayam petelur. Juga mengemas ulang biji kopi dan madu. “Kita mendesain, bahwa kemandirian itu adalah basisnya ilmu,” katanya. Fatan berharap, santri dan anak asuhnya dididik untuk memiliki kemandirian serta jiwa wirausaha ke dalam kehidupan pribadi mereka maupun di tengah masyarakat. Program unggulan Rumah Sajada, yaitu tahfizh al-Qur’an dan kemandirian. Karena itu, pendidikannya ditekankan pada penanaman nilai-nilai berbasis al-Qur’an serta as-Sunnah. Sistem pendidikannya full dilaksanakan di dalam asrama dari bangun tidur sampai menjelang tidur. Semua sudah terjadwal dengan rapi dari kegiatan diniyah, umum eksakta, hingga yang bersifat life skill seperti berenang, memanah, berkebun, dan sebagainya. Sehingga setelah selesai belajar bisa menjadi pribadi yang memahami agama, dan memiliki ketrampilan yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. “Mereka dilatih untuk rajin melakukan shalat Tahajut. Termasuk setelah Shubuh, mempelajari alQur’an,” terang Rumah Sajada Yogyakarta SILATURRAHIM Membangun Generasi Qur’ani dan Mandiri 88 FOTO: DOK RUMAH SAJADA
89 sebagai bekal hidup bermasyarakat, dan membangun kepercayaan pada diri mereka masing-masing. Bermula Dari Tujuh Pengusaha Gagasan awal Rumah Sajada bermula dari tujuh pengusaha yang hijrah, kemudian ngaji bareng. Setelah beberapa waktu, mereka berpikir untuk melakukan kegiatan yang dapat menjadi amal shalih dan bekal di akhirat. Dari situ akhirnya muncul ide untuk mendirikan panti asuhan. “Dimulai dari sewa rumah kecil hingga bisa beli tanah pertama itu di lokasi asrama putri saat ini. Baru beli lahan kedua di sini (asrama putra) dan sekarang sudah ada 5 tempat,” jelas Fatan. Lokasi pertama dan kedua ada di Godean-Sleman yang difungsikan untuk asrama putri dan putra. Ketiga ada di Kulonprogo, rencananya akan dijadikan peternakan umbaran. Keempat di Sonopakis, ada tanah wakaf dan terdapat mushola. Kelima, berupa lahan memanjang yang dipakai untuk kompleks para asatidz yang belum memiliki rumah. “Sekarang yang aktif ada Dimulai dari sewa rumah kecil hingga bisa beli tanah pertama itu di lokasi asrama putri saat ini. Baru beli lahan kedua di sini (asrama putra) dan sekarang sudah ada 5 tempat pondok pesantren. Bermula dari santri putra terlebih dahulu, baru kemudian menerima santri putri. “Nama Sajada sendiri muncul dari keinginan untuk senantiasa sujud kepada Allah. Karena kata ‘Sujud’ itu sudah umum sehingga dipilihlah kata ‘Sajada’,” jelas Fatan. Kini, jumlah keseluruhan santri Rumah Sajada sebanyak 271 anak, terdiri dari anak asuh luar panti (tidak tinggal di asrama) sekira 164 anak (73 putra, 91 putri), santri madrasah sore sebanyak 71 anak (35 putra, 36 putri). Karena keterbatasan ruang serta bangunan, untuk sementara baru dapat menampung anak asuh dalam panti (tinggal di asrama) sebanyak 36 anak (21 putra dan 15 putri ditempatkan di lokasi yang terpisah). Untuk asrama putra, saat ini, berada di Dusun Sorolaten dengan luas 2.001 meter persegi. Di lingkungan asrama putra juga dibangun lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) yang pengelolaannya sepenuhnya diserahkan kepada warga setempat. Sedangkan untuk asrama putri—satu lokasi dengan sekretariat serta kantor Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Rumah Sajada—ada di Dusun Wirokraman, yakni sebelah barat Dusun Sorolaten. Fatan berharap dengan adanya asrama baik putra maupun putri, pendidikan dan pembinaan bisa terkontrol selama 24 jam, dan diharapkan bisa mencapai target-target yang telah ditetapkan dengan tagline “Membangun generasi Qur’ani dan Mandiri”. *Achmad Fazeri/Suara Hidayatullah 5 orang (perintis,-red). Satu orang lalu mengembangkan panti asuhan dari Jogja ke Kebumen dan Cilacap. Beliau memang tipenya seorang perintis,” terang Fatan. Rumah Sajada ini, kata Fatan, didirikan pada 1 Februari 2009. Konsep pertamanya adalah sebagai panti asuhan. Kemudian, pada tahun 2011 dirintis kembali menjadi pondok pesantren. Jadi, sekarang konsepnya panti asuhan dan MUHARRAM 1444/AGUSTUS 2022 FOTO: DOK RUMAH SAJADA
90 S aya tidak biasa mengamalkan qunut shalat Shubuh, tetapi komplek perumahan saya imamnya mengamalkan qunut. Apakah saya juga harus ikut imam berqunut? Abdullah Surabaya Mazhab Imam Syafi`i banyak dianut masyarakat Muslim di Indonesia, sehingga banyak pula masjid dan mushala yang pelaksanaan ibadahnya mengikuti madzhab ini. Yang mudah didapati dari praktik tersebut ialah pengamalan qunut saat shalat Shubuh di rakaat kedua setelah i`tidal. Nah, apa yang semestinya dilakukan ketika seseorang yang mengikuti pendapat bahwa qunut dalam shalat Shubuh itu tidak disunnahkan, sedangkan ia bermakmun kepada imam yang berqunut? Hukum Qunut Shubuh Menurut Para Mujtahid Sebelum sampai pada pembahasan perkara di atas, kita perlu mengetahui hukum mengamalkan qunut Shubuh menurut para ulama. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum qunut Shubuh. Yakni hukumnya sunnah bagi Imam Syafi`i, Imam Malik, Dawud adz Dzahiri, Ibnu Abi Laila, Hasan bin ash-Shalih, dan para mujtahid lainnya. Adapun Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan Sufyan ats -Tsauri, mereka berpendapat jika qunut Shubuh tak disunnahkan. (Majmu` Syarh al-Muhadzdzab, 3/504, juga al-Mughni 2/144). Masing-masing ulama memiliki dalil atas pendapat yang mereka anut, yang mana tidak memungkinkan untuk dibahas dalam tulisan ini. Bermakmum kepada Imam yang Berqunut Para ulama yang menganut madzhab Imam Ahmad maupun Imam Abu Hanifah, mereka berpendapat bahwa qunut Shubuh tidak disun - nahkan—telah membahas apa yang perlu dila - kukan penganut dua madzhab itu, jika bermak - mum ke mereka yang melakukan qunut saat melaksanakan shalat Shubuh. Taqiyuddin Muhammad bin Ahmad al-Fu - tuhi al-Hanbali (972H) pun menjelaskan, ”Ba - rangsiapa bermakmum pada seorang yang ber - qunut di shalat fajar, hendaklah ia mengikuti dan mengamininya.” (Muntaha al-Iradat, 1/268). Sedangkan Manshur bin Yunus al-Buhuti alHanbali (1051H) berkata, ”Barangsiapa bermakmum kepada orang yang mengamalkan qunut di shalat Fajar, hendaklah ia mengikuti imam dan mengamininya.” (Ar-Raudhl al-Murbi`, hal. 115). Para ulama mazhab Hanbali berpendapat seperti di atas, yakni berhujjah dengan Hadits berikut ini: ُؤْتَمَّ عن أيب هريرة، عن انليب صىل اهلل عليه ِ ل ُ ام ِ اإلمَ ِعلَ ُ ا ج نَّمَ ِ وسلم أنه قال: )) إ (( )رواه ابلخاري لَيِْه َ وا ع تَِلفُ ْ َ ت َالَ ، ف بِِه ))541/1 ,227 :الصحيح يف Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Nabi se - sungguhnya ia bersabda, ”Sesungguhnya dijadikan Jika Imam Berqunut, Apakah Makmum Harus Mengikuti? OLEH: THORIQ*
MUHARRAM 1444 | AGUSTUS 2022 91 shalatnya juga sah, demikian pula qunut dalam witir. (Lihat, Majmu` al-Fatawa, 22/267). Di tempat lain, Ibnu Taimiyah menyatakan, ”Hendaklah bagi makmum mengikuti imamnya dalam perkara yang dibolehkan kepadanya ijtihad. Jika imam berqunut, makai ia (makmum) juga berqunut bersamanya. Kalau ia (imam) tidak berqunut, maka ia (makmum) tak berqunut. Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ِِه(( )رواه ب َّ م َ ت ْ ُؤ ُ ِ ل َام ِم ْ َ ال ِعل ُ َا ج م َّ إن ابلخاري يف الصحيح: 227 ,1/541))) Artinya: “Sesungguhnya dijadikan seorang imam agar ia diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya.” (Riwayat al-Bukhari dalam ashShahih: 722, 1/145) (Lihat, Majmu` al-Fatawa, 23/166). Walhasil, para ulama madzhab Hanbali dan sebagian dari ulama madzhab Hanafi yang berpendapat bahwasannya mengamalkan qunut Shubuh tidak disunnahkan berpendapat bahwa bagi makmum mengikuti imam dalam amalannya, termasuk melaksanakan qunut Shubuh ketika imam melaksanakan hal itu. Dan pendapat ini bisa menjadi wasilah untuk semakin mempererat serta mendekatkan hati sesama umat Islam, meski mereka menganut berbagai macam madzhab dalam fiqih. Wallahu a`lam bish-shawab… seorang imam agar ia diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya.” (Riwayat al-Bukhari dalam ashShahih: 722, 1/145). Para ulama mazhab Hanbali juga berdalil pada qiyas, yakni sebagaimana makmum mengikuti imam yang melaksanakan qunut nazilah, mereka juga mengikuti imam yang mengamalkan qunut di shalat Fajar. (Syarh Muntaha alIradat, 1/242). Adapun bagi mazhab Hanafi, jika seseorang bermakmum dalam shalat Fajar pada seorang imam yang berqunut, maka ada perbedaan pendapat di kalangan para ulamanya. Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad bin Hasan menyatakan, jika makmum tak mengikuti imam berqunut karena perkara itu mansukh. Sedangkan Imam Abu Yusuf menyatakan bahwa makmum ikut berqunut. Ia berhujjah bahwa makmum harus mengikuti imam, karena mengikuti imam adalah hukum asal. Juga karena masalah qunut Shubuh adalah masalah ijtihadiyah—sebagaimana masalah jumlah takbir dalam shalat dua hari raya. (Tabyin al-Haqa`iq, 1/171). Nasihat Ibnu Taimiyah Ibnu Taimiyah, seorang mujtahid dalam madzhab Hanbali berkata, ”Sesunggunya para ulama bersepakat bahwa siapa yang menjahrkan basmalah, maka shalatnya sah, dan barang siapa yang memelankannya, maka shalatnya juga sah. Bagi siapa berqunut di shalat Shubuh maka shalatnya sah dan siapa yang tak berqunut maka FOTO: MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH
Perpustakaan dan Kemajuan Peradaban Islam Masa kejayaan peradaban Islam di antaranya ditandai menggeliatnya budaya ilmu yang wujudnya bisa dilihat dari menjamurnya perpustakaan yang menyimpan berbagai karya ilmiah. Perpustakaan bukan saja menjadi perhatian para cerdik cendekia, tapi juga masyarakat pada umumnya hingga penguasa. Fakta ini bisa dibaca dalam buku Sigrid Hunke --Penulis Jerman-- yang aslinya berjudul: “Allahs Sonne Uber Dem Abendland Unser Arabisches” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Faruq Baidhun dan Kamal Dasuqi dengan judul “Syams al-‘Arab Tastha’ ‘ala al-Gharb: Aatsaar Hadhaarah al-‘Arabiyyah fii Uruubiyah” (Matahari Arab Bersinar di Barat: Jejak Peradaban Arab di Eropa). Pada pembahasan poin nomor 7 pada bab lima yang berjudul “asy-Syaghaf bi al-Kutub” (Kecintaan pada Buku). Pembahasan masalah ini menghabiskan 8 halaman dengan data-data yang sangat padat dan bernas. Dalam pembukaan paragraf Hunke menulis bahwa minat orang Arab (baca: Islam) kala itu –dari abad 9 hingga 13 Masehi-- pada buku sangat besar. Hingga kata penulis hampir tak tertandingi. “Antusiasme mereka pada buku,” tulisnya, “seperti perhatian kita saat ini yang sangat suka pada mobil, kulkas dan televisi.” Artinya, mereka sangat cinta kepada buku. Saat itu kekayaan seseorang diukur dengan seberapa besar perhatian dan koleksi buku atau manuskrip yang dimiliki. Darul Hikmah yang dibangun khalifah di Baghdad kala itu adalah sebagai cerminan nyata betapa pemerintah mendukung kecintaan rakyat pada buku dengan mendirikan perpustakaan paling maju dan megah kala itu. Rumah-rumah buku (toko buku dan perpustakaan) kala itu begitu menjamur laiknya rerumputan di tanah yang subur. Sebagai contoh, pada tahun 891 Masehi, ada musafir yang mencoba menghitung rumah buku secara umum di Baghdad yang jumlahnya lebih dari seratus. Masingmasing kota juga mendirikan rumah baca yang cukup besar, di dalamnya juga disediakan ruang-ruang atau aula khusus yang nyaman diperuntukkan 92 Oleh: Mahmud Budi Setiawan*
bagi para penerjemah, peneliti sebagaimana sidang ilmiah di universitas saat ini. Sigrid Hunke memberikan contoh konkret sebagai gambaran betapa monumentalnya perhatian masyarakat Islam kala itu pada buku. Seperti di Irak misalnya, perpustakaan kecil bernama Najef, pada abad kesepuluh, mengoleksi 40 ribu jilid buku. Padahal di Barat pada zaman itu perpustakaan Barat koleksinya hanya 12 buku yang digembok dengan rantai karena takut hilang. Di kota Ray, untuk penulisan berjilid-jilid buku membutuhkan penulisan khusus daftar isi puluhan halaman dalam format yang besar. Bahkan, kala itu tiap-tiap masjid memiliki perpustakaan khusus. Yang tidak kalah menarik, ratarata rumah sakit Islam kala itu di ruang tunggu yang luas tersedia rak-rak berisi buku-buku kedokteran paling mutakhir. Seluruh Emir di dunia Islam kala itu juga mengikuti apa yang dilakukan kekhalifahan pusat di Baghdad. Mereka sangat perhatian pada buku. Pejabat Arab di kawasan selatan misalnya ada yang mempunyai koleksi 100 ribu jilid. Saat Sultan Bukhara, Muhammad Al-Manshur sembuh dari penyakit kronisnya ditangani oleh Ibnu Sina --yang saat itu berusia relatif muda yang umurnya belum genap delapan belas tahun-- Ibnu Sina diberi keleluasaan selapang-lapangnya untuk mengakses dan meneliti buku yang ada di dalamnya. Bukunya kala itu sangat banyak, tersusun rapi sesuai dengan judul-judulnya. Bahkan ada buku yang belum terdengar di kalangan umum. Setelah Ibnu Sina, Hunke pindah ke contoh lain yang tak kalah menarik yaitu koleksi perpustakaan Khalifah Aziz di Kairo. Waktu itu, jumlahnya kurang lebih 1.600.000 jilid buku. Para menteri pun rupanya juga sangat suka mengoleksi buku. Menteri bernama AlMahlaby misalnya, ketika wafat pada tahun 963 Masehi, meninggalkan koleksi 117 ribu jilid buku. Sedangkan rekannya yang bernama Ibnu Abbad bisa mengoleksi 206 ribu buku dalam perpustakaannya. Bahkan, salah satu jaksanya mengoleksi 1.050.000 jilid buku. Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, sejarawan Mesir, dalam buku “Maadza Qaddamal Muslimuuna lil-‘Aalaam” saat menjelaskan macam-macam perpustakaan dalam peradaban Islam beliau memberi banyak contoh yang sangat mengagumkan. Dalam peradaban Islam, tulisnya, ada beberapa macam perpustakaan: Pertama, perpustakaan Akademi. Kedua, perpustakaan khusus. Ketiga, perpustakaan umum. Keempat, perpustakaan sekolah. Kelima, perpustakaan masjid dan universitas. Di antara yang menarik dari macam-macam perpustakaan ini adalah perpustakaan khusus. Biasanya dimiliki oleh para penguasa. Di antara nama-nama perpustakaan terkenal dalam tipe ini misalnya: Perpustakan Khalifah Al-Mustanshir, Perpustakaan Al-Fatah bin Khaqan, Perpustakaan Ibnu Al-Amid dan masih banyak yang lainnya. Masih banyak data-data lain yang ditulis oleh Hunke dan Dr. Raghib As-Sirjani. Ada pertanyaan menarik dari Hunke, bagaimana orang Barat kala itu belajar kepada orang Arab atau Islam yang menjadi soko guru peradaban dunia kala itu? Katanya, “Apakah kita sekarang sudah bisa mengerti dari mana Kaisar Frederik II belajar ketika dalam perjalanannya selalu disertai dengan unta yang mengangkut buku? Saya kira jawabannya jelas. Ya. Dia belajar dari guru-guru Arab (Islam).” * Alumnus Universitas al Azhar Mesir 93 Masing-masing kota juga mendirikan rumah baca yang cukup besar, di dalamnya juga disediakan ruangruang atau aula khusus yang nyaman diperuntukkan bagi para penerjemah, peneliti sebagaimana sidang ilmiah di universitas saat ini MUHARRAM 1444/ AGUSTUS 2022
Mayoritas pengusaha berpikir bagaimana mampu meraih keuntungan sebanyakbanyaknya dari bisnis yang dijalankan, termasuk memperbanyak outlet. Tetapi bagi Aresdi Mahdi Asyathry, CEO Minuman Kekinian GleK, keuntungan maupun jumlah outlet bukan menjadi tujuan utamanya berbisnis. Lantas, apa yang dicari? “Saya pingin itu bukan jumlah outletnya, namun seberapa banyak manfaat untuk orang lain. Kalau kita bisa memberikan kebermanfaatan yang maskimal, otomatis sudah pasti kita akan meraih itu semua,” jelas Ares, sapaaan akrabnya. Ares menegaskan, bahwa tidak ada orang yang berbisnis tidak mau untung. Orang yang berbisnis pasti ingin untung. Kalau cuma bicara profit, pertambahan omset, pertambahan outlet,pertambahan penjualan, maupun pertambahan investor, menurutnya, tujuan orang itu berbisnis adalah mengejar dunia. “Pegangan kami adalah Hadits Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat manusia lainnya. Bukan yang banyak outletnya, atau banyak jabatannya. Itu yang menjadi ruh bisnis kita, yakni memperbaiki iman dan amal shalih,” terang Ares. Untuk menguatkan pernyataannya, Ares kemudian mengutip al-Qur’an surat an-Nur ayat 55. Di mana Allah menjajikan kepada orang yang beriman serta beramal shalih sebuah kedudukan serta singgasana di muka bumi, sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang shalih sebelumnya. Sedekah 51 Persen Hasil Keuntungan Salah satu upaya menjadi manusia terbaik sebagaimana dalam Hadits Rasulullah, Ares pun menyedekahkan sebanyak Ikhtiar bukan menjadi suatu yang penting, tapi jauh lebih penting adalah ridhanya Sang Pencipta. Apa maksudnya? Ikhtiar Hanya Sepersen, 99 Persen Ridhanya Allah Bisnis Minuman 94 Aresdi Mahdi Ashathry FOTO: DOKUMEN PRIBADI CEO Minuman Kekinian Glek
sudah dilakukan oleh Rasulullah ketika menjalankan sebuah bisnis. “Misalnya tidak menahan upah karyawan, tidak menggunakan bahan yang haram, menjauhi praktik riba, melayani cutomer dengan baik, tak mengurangi timbangan, dan sebagainya,” kata Ares merinci. Ares menjelaskan, kiat manusia dalam bisnis atau sering disebut ikhtiar, itu hanya 1 persen, 99 persen adalah ridhanya Allah . Jadi, bukan ikhtiar yang bikin kita sukses, tetapi ridhanya Allah . Ikhtiar, menurutnya, bukanlah hal yang utama. “Dari mana ridhanya Allah ? Dari orangtua kita; istri anak, dan sanak keluarga kita; guru-guru kita; anak-anak yatim; penghafal al-Quran dan orang-orang baik di sekitar kita. Dari mereka semua ridhanya Allah turun sehingga banyak kemudahan terjadi,” papar Ares. Salah satu ikhtiar yang dilakukan Ares adalah menjaga kualitas produk. Namun, ia menekankan ada hal fundamental lebih utama, yaitu menjaga ketaqwaan agar tak luntur dengan berusaha mengerjakan shalat fardhu tepat waktu serta istiqomah. Kini, sudah ada 46 outlet Glek yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Selatan, Bekasi, Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Nganjuk. Sistem yang digunakan adalah kemitraan, dimana pembagian profitnya adalah 1/3 untuk Glek, 2/3 untuk mitra. Nah, apakah Anda tertarik untuk bergabung menjadi mitra Glek? *Achmad Fazeri/Suara Hidayatullah 51 persen dari laba bersih yang diperolehnya. “Kenapa harus 51 persen? Pertama, saya memulai usaha Glek pada usia 32 tahun. Kacamata awam saya, angka 32 itu separuh plus satu usianya baginda Rasulullah . Karena itu, saya pilih 50 persen plus 1 untuk menebus 32 tahun umur saya yang tidak memberikan manfaat bagi banyak orang,” terang Ares Kedua, Ares meyakini ketika Allah memberikan rezeki sekian lalu separuhnya lebih 1 persen dibagikan untuk kebaikan, maka Allah akan melipatgandakannya kendati bentuknya tidak melulu berupa uang, karena rezeki itu sangatlah luas dimensinya. Ketiga, pengusaha non Muslim seperti Bill Gates atau Elon Musk menyumbangkan separuh asetnya untuk kegiatan sosial. Sebab itu, sebagai pengusaha Muslim Ares pun tergerak untuk memberikan kontribusi lebih dari apa yang mereka keluarkan, terlebih dengan semangat menolong agama Allah. “Saya meyakini barangsiapa menolong agama Allah, Allah pun akan menolongnya. Untuk infrastrukturnya pasti Allah siapkan,” tegas pria yang semasa kecil memiliki citacita jadi dokter karena ingin memberi layanan kesehatan kepada masyarakat secara cuma-cuma. Ares mengungkapkan, sedekah 51 persen itu dialokasikan untuk membangun dua masjid di Madiun dan Cianjur serta satu Rumah Qur’an di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain itu juga untuk bantuan korban bencana, suport para penghafal al-Qur’an, anak yatim dhuafa, dan sebagainya. Menurut Ares, kebermanfaatan dari seorang pengusaha harus keluar dari dimensi uang. Jadi bukan hanya menyalurkan profit untuk kegiatan sosial, tapi dimensinya lebih luas lagi. Ia memberikan contoh di antaranya berbagi ilmu serta pengalaman terkait berbisnis, mengumpulkan pakaian layak pakai dari customer untuk korban bencana, memakai bahan baku yang halal, melayani dengan senyum, dan lainnya. Menjaga Ketaqwaan Kiat apa saja yang sudah Ares lakukan hingga Glek cepat berkembang seperti saat ini? Pria kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1987 inipun mengaku berusaha meneladani apa yang 95 Produk Minuman Kekinian Glek MUHARRAM 1444/ AGUSTUS 2022
Oleh: Ustadz Dr Nashirul Haq, Lc, MA* I badah secara umum mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah, baik itu perkataan ataupun perbuatan, baik bersifat zahir maupun batin. Pada hakikatnya tujuan manusia diciptakan semata-mata untuk mengabdikan diri kepada Allah . Sebagaimana firman-Nya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Surat Adz-Dzariyat [51]: 56) Hamba yang membangkang dan menolak untuk mengabdi dan taat kepada ketentuan Allah sesuai tuntunan Rasulullah , maka derajatnya sama dengan binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi. Hal ini Allah tegaskan firman-Nya dalam Surat AlA’raf [7] ayat 179. Rasulullah sebagai qudwah hasanah merupakan sosok yang paling tekun beribadah. Ia paling taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, juga paling takut terhadap azab Allah . Beliau bersabda: “Demi Allah, saya adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian dan saya adalah orang yang paling takut kepada-Nya.”(Shahih Muslim, Kitab ash-Shiyam, no.1108, 2/779) Disebutkan pula bahwa Nabi pernah mengerjakan shalat hingga kaki beliau bengkak. Ketika Aisyah RA menanyakan kepada beliau, namun beliau menjawab: “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.” (Shahih al Bukhari, Kitab ar Riqaq, no. 6471, 8/99) Dalam mentarbiyah para sahabatnya, Rasulullah menyuruh mereka bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan ibadah. Terkadang menyuruh salah seorang melakukan suatu amalan tertentu seraya menyampaikan keutamaannya atau beliau memberi peringatan kepada orang yang meninggalkan amalan itu. Metode pertama, memuji orang yang mengerjakan suatu ibadah dan memberitahu keutamaannya. Dari Abdullah bin Salam RA bahwa Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, dan shalatlah di malam hari ketika orang-orang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat.” (Sunan Ibnu Majah, no. 1334, 1/423) Rasulullah juga bersabda: “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah jika ia shalat lail.” (Shahih al Bukhari, Kitab Bad’i al Khuluq, no 3738, 5/24) Salim bin Abdullah bin Umar berkata: “Maka sejak saat itu Abdullah tidak pernah tidur malam kecuali hanya sedikit.” Ali bin Abi Thalib RA menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah mengetuk pintu rumahnya pada suatu malam dan putri beliau Fatimah RA ada di dalamnya, lalu beliau bertanya, “Tidak shalatkah kalian berdua?”, kemudian aku menjawab, “Wahai Rasulullah, jiwa kita ada di dalam genggaman Ar-Rahman, kalaulah Dia berkenan membangunkan kita niscaya Dia membangunkan.” Lalu Rasu96 Memotivasi Tekun Ibadah
lullah pergi setelah aku menjawab demikian dan tidak kembali lagi, kemudian aku mendengar Nabi membaca sebuah ayat ketika kembali sambil menepuk pahanya, seraya berkata: “Sungguh manusia itu makhluk yang suka membantah” (Surat Al-Kahfi: 54). (Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tahajjud, no.1123, 2/50) Ibnu Hajar menukil ucapan Ibnu Batthal: “Di dalam Hadits ini terdapat keutamaan qiyamul lail dan membangunkan kerabat yang masih tertidur”. Karenanya At Thabari berkata, “Kalau saja Nabi tidak mengetahui keutamaan qiyamul lail niscaya beliau tidak akan membangunkan anak perempuannya (Fatimah) dan anak pamannya (Ali) pada waktu di mana Allah menjadikannya sebagai waktu istirahat bagi hamba-Nya, akan tetapi Dia memilih waktu tersebut untuk memberi karunia kepada hamba-Nya.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 3/11) Di Hadits lain beliau bersabda: “Sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat lail.” (Shahih Muslim, Kitab ash-Shiyam, no. 1163, 2/821). Metode kedua, memberi peringatan bagi orang yang meninggalkan suatu ibadah. Metode ini beliau pernah gunakan ketika melihat seseorang yang dulunya rajin shalat lail, kemudian ia meninggalkannya. Kisah ini disebutkan dalam kitab shahihhain, Rasulullah bersabda: “Wahai hamba Allah, janganlah seperti si Fulan, dahulu ia rajin shalat lail tetapi ia meninggalkannya.” (Shahih al Bukhari, Kitab at Tahajjud, no. 1552, 2/54. Shahih Muslim, Kitab as Shiyam, no. 1559, 2/814) Ketika ada seseorang ketiduran sehingga terlambat shalat Subuh, Rasulullah bersabda: “Orang itu telinganya telah dikencingi setan.” (Shahih al Bukhari, Kitab Bad’i al Khuluq, no. 3270, 4/122) Di dalam al-Qur’an terdapat banyak perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang disebutkan secara bersamaan sekaligus menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasul merupakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Misalnya firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an: “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Surat An Nisa: 80) Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menaatiku, maka ia masuk surga dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku sungguh ia enggan (masuk surga).” (Shahih al-Bukhari, Kitab Bad’i al I’tisham bi al Kitabi wa as Sunnah, no. 7280, 9/92) Demikianlah sejumlah dalil dan penjelasan tentang keseriusan Rasulullah dalam mentarbiyah sahabat dengan memberi motivasi agar tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah. Karenanya para murabbi dituntut mengambil peran untuk menanamkan kesadaran, memberikan contoh, membiasakan hingga mengontrol mutarabbinya agar tekun menunanaikan ibadah.* 97 “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Surat An Nisa: 80) MUHARRAM 1444/ AGUSTUS 2022 FOTO: FREEPIK
“Besok shalat Idul Adha, saya mohon antum jadi khatib,” ujar Ustadz Supri. “Siap kan?” Supri menegaskan. Sontak tamu tersebut kaget. Sosok yang ditunjuk adalah Swasto Imam Teguh. Tak butuh waktu lama, maklum yang ditunjuk juga seorang dai. “Insya Allah, siap Ustadz,” ujar Teguh. Awalnya, Teguh ikut serta rombongan aktivis dakwah dari Hidayatullah mengunjungi perkampungan mualaf Baduy di Kabupaten Lebak, Banten. Saat itulah, Teguh “ditodong” menjadi khatib oleh Ustadz Supri, dai dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang sudah beberapa tahun bertugas di sana. ”Saya terkejut, tersanjung, dan tertantang,” ujar peraih gelar doktor ke-9 di Indonesia di bidang pendidikan khusus, konsentrasi pendidikan inklusi dengan predikat cumlaude ini. Esok harinya, Teguh menjadi khatib di Masjid Baitul Hidayah di Kampung Mualaf Baduy, Ciater, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Dalam khutbahnya, lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini menyampaikan hikmah dari ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim, baik itu ujian dari penguasa maupun keluarganya. Dosen terbang di STAI Al Barokah Bogor ini merasa takjub dan ghibthah (iri yang terpuji) dengan dai yang berdakwah di Baduy. "Perjuangan saya tidak ada apaapanya dengan perjuangan para dai di daerah pedalaman Indonesia. Apalagi dai-dai Hidayatullah, luar biasa dakwahnya,” kata Kepala SMA Daar elSalam (sekolah inklusi) di Bogor ini *Dadang Kusmayadi/Suara Hidayatullah 98 SWASTO IMAM TEGUH Ditodong Jadi Khatib Dr. ABDUL HARIS ACHADI Bersama Hadapi Bencana I ndonesia adalah salah satu dari 35 negara di dunia dengan risiko ancaman bencana tertinggi. Hal demikian disampaikan Deputi Bidang Bina Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, Dr Abdul Haris Achadi, SH, DESS, mengutip data World Bank. Syukurnya, Indonesia punya masyarakat yang tingkat guyubnya (gotong royong) tinggi. Sehingga begitu ada musibah atau bencana semua ingin ikut serta ambil bagian membantu. "Semua buka posko sendiri-sendiri. Ini positif sebenarnya, tapi perlu pengelolaan,” ujarnya sambil tersenyum saat jadi pembicara pada kegiatan Bimtek Nasional SAR Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, belum lama ini. Lewat Basarnas, Haris menginisiasi kepemimpinan kolaboratif dalam manajemen operasi bencana. “Memang tidak mudah, karena juga berkenaan dengan interaksi antar organisasi dan potensi yang ada,” ungkap Haris yang juga Sekretaris Utama Basarnas. Haris mengajak semua potensi untuk berkolaborasi demi terwujudnya sistem pengelolaan bencana yang sinergis. Kolaborasi adalah energi! *Ainuddin Chalik/Suara Hidayatullah