KONTRIBUTOR PENULIS MAHASISWA PBSI PASCASARJANA UNSUR TRISANI NATIVIANAR ANGKATAN 23 2022 TRINI HANDAYANI SAPRUDIN RINI LASTRIYANA NAOMI HEMEUSA TITIN RATNA SARI NOVI RATNA JUWITA ANRIAN ARIS MOH. ILHAM
PUISI ECOGREEN KARYA TRINI HANDAYANI LIMBAHMU COVID-19 Trini Handayani Indahnya Bumi Katulistiwa Ramahnya penghuninya Negara Indah nan Subur Terkoyak dengan kehadiran Covid-19 Para penghuni negeri ini terkapar lunglai Terkena droplet virus yang tersebar tak nampak Berbagai strategi diterapkan untuk membendungmu PPKM, PSBB, Prokes, Vaksinasi dan apa lagi Penerapan Prokes level 1, 2 dan 3 Penggunaan masker disposable, reusable Penggunaan Hazmat Suit Disposable Menjadikan limbah medis padatmu meningkat Bahan Berbahaya dan Beracun yang timbul dari limbah medismu Antisipasi dengan insenerator ataupun autoklaf Agar bumi tetap subur dan hijau Kontaminasi satwa tereliminasi
SABDA SANG SAWAH Trini Handayani Padi ini menunduk dan merenung bumi Ada haru yang larut terbalut takut Terpaku ratap menatap rindu tanah gembur Hangatkan dahaga raga dengan halu Bulan mengintip malu dengan senyum sarkasnya Bintang memudar sinarnya Waktu menjelajah dengan lorong waktunya Sawah terhampar bak permadani hijau Permadani kasihku, di manakah engkau sekarang bisik sang sawah Rinduku tak terbalas Tanah gemburku menjadi bangunan menjulang Kapan engkau kembali NYIUR PENJAGA PANTAI Trini Handayani Ombak menari-nari di tepi pantai Menyapa nyiur sang penjaga pantai Burung camar saling menyapa di atas ombak Menggapai tujuan yang sama, mencari ikan segar Gelombang buih mempermainkan akar-akar nyiur Terasa lembut melambai Berkolaborasi dalam produksi buah nyiur Menambah perasaan asa pada buah nyiur Senja menghampiri ufuk benang kemerahan Silaunya indah dipandang mata Perlahan sinar Mentari ini meredup
Menyambut senja HUTANKU Trini Handayani Pohon rindang dan rimbun menghijau kokoh menancap di tanah rimba Satwa-satwa bermata sayu Menatap tanah rimba nan rata Bersiap migrasi ke mana tak tentu arah Mata-mata polos berkaca-kaca Terbayang dampak rimba rata Debit air berkurang nyata Menapak tanah yang mulai rapuh Syahwat ratakan rimba demi investasi pribadi Tanah rimba retak kering sendiri Tiada tunas-tunas sebagai pengganti Kususut air di sudut mata ini BARA TEMBAKAU Trini Handayani Irisan tembakau kering menjadi bara Dihisap asapnya Menghadirkan kenangan cinta Dari seorang pujangga Sabtu malam yang kesekian kali Menghadirkan kelam Bersatu dengan hujan rintik Rindu masih tergenggam Menunggu pelampiasan Kau hunjamkan pandangan ke dadaku Menanti jawab dari mulut piasku Aroma asap melekat erat Asap menumpuk menyesak di dada Debaran rindu bagaikan embun pagi Menyejukkan jiwa
Rindu yang tertolak Asap tiada tentu arah menghilang entah kemana. PUISI ECOGREEN KARYA SAPRUDIN BUMI PERTIWI Saprudin Bumi Pertiwi kehilangan jati diri Dirusak orang yang tak punya hati Tak ada lagi lanskap pagi yang asri Yang selalu ku nanti setiap hari Kini hanya polusi yang menghiasi Tiap sudut kota yang ku tempati Dan Kembali mengotori Tanpa mau memperbaiki Seolah tak ada yang terjadi Betapa hina diri ini Mengingkari janji pada Pertiwi Tuk senantiasa melindungi Kekayaan alam yang ia miliki Penyesalan timbul dalam hati Mencoba membuka diri Tuk menjaga bumi ini Merawat serta melindungi negri yang kita cintai
ELOK Saprudin Sepanjang mata memandang Hamparan sawah dan ladang kian memanjang Pepohonan serta sungai yang terpampang Indah nan menawan Begitu elok ciptaan tuhan Yang terjaga hingga sekarang Ribuan pulau yang terhampar Luas nya lautan yang membentang Disertai budaya yang beragam Menjadi saksi beta kaya negri ini Mari jaga marwah alam kita Tuk bekal di hari tiba Anak cucu akan menempa karya kita Tuk bertahan hidup berpulang raga
BANGKIT Saprudin Gemuruh suara di pagi hari Bising kendaraan yang berlalu lalang tanpa henti Menumpukan debu setebal ruas jari Kulihat kembali sampah berwarna warni Menghiasi sungai dan irigasi Sampai kapan ini terjadi? Tak adakah rasa simpati? Tuk negri dan bangsa ini? Dimana bumi kita yang asri? Nampak indah dan berseri Bukan gundukan sampah tak berarti Mari bangun rasa empati Tuk bumi yang kita tempati Kembali asri dan berseri
BUANAKU Saprudin Menyusuri jalan terjal nan terganjal Duri-duri kayu menghalangi jalan tidak beraspal Jurang kanan penuh tanah berjengkal-jengkal Jurang kiri tak ada nadi tuk bersandi Oh mengapa ini!!!!!!!!!!1 Rupanya orang sudah bercalar-calar alam ini Tuk penuhi syahwat pribadi dengan keji Kau koyak alam tuk bertahan hancurkan harapan orang Ngembaraku terhadang akibat pekerjaan orang Ngembaraku terhenti oleh jalan yang mati Ngembaraku tertunda karya orang tanpa dada Wahai kawan alam ini kiriman dzat suci Kita diami, patroli, tunggui, dan sembangi Kita jaga alam mini dari noda dan dosa Tuk bertahan raga sukma yang abadi
RINDU PESONAMU SAPRUDIN Untuk yang ke sekian kalinya aku lewati jalan ini Aku mengukur kepercayaan diri melaju dalam turunan, kelokan dan tanjakan. Tapi di sini aku merasa seolah alam semesta memang benar adalah ibu kandungku. Ibu kandung segala kebenaran dan kejujuran. Bukankah alam tidak pernah berbohong kepada siapa yang menciptakan lingkungan ini jadi penuh erangan dan sampah kata-kata? Setiap aku melewati jalan ini aku ingin seperti kabut yang menjadi kerudung waktu. Dan matahari mengurai perlahan. Aku berlaga sebagai wanita perkasa di antara pohon dan batu-batu Aku mengalir seperti air hinggapi gigil dan kejernihan pikiran Ya aku sebenarnya ingin menjadi pohon jangkung itu di mana banyak beburung bernyanyi tak mengenal waktu di dahan lengan diriku.
PUISI ECOGREEN KARYA RINI LASTRIYANA Rini Lastriana RINDU ALAM 1 Kabut berkisah kepada pohon-pohon jangkung: Kami masih setia kepada pagi kepada waktu kepada yang mengejar matahari terburu-buru melaju, ngebut atau pelan Pohon-pohon jangkung di Bibijilan dan Goa Siluman rindukan kami kembali anjangsana mengurai rasa dingin Ingatan tentang air bening yang ngalir dari dalam bumi lalu terjun dan sebagian menetes lewat akar-akar sejarah Seperti halnya kebaikan semesta dan lain-lain Di antara kelokan, tanjakan dan turunan kami sebagai kabut terus ngebut memburu matahari hingga di titik kulminasi: gelondongan-gelondongan kayu yang berantakan tepi jalan, bekas tebangan sembarangan melukai pandangan kami Pohon-pohon jangkung jadi tiang kesedihan Sukabumi, 2022
Rini Lastriana RINDU ALAM 2 Warung-warung tepi jalan berkerudung kabut. Dan aku lewat dalam sunyi meluju diburu waktu sebelum gelap sebelum tiba di rumah Apih-Abah Aku berhenti sejenak alih-alih rehat Jalanan aspal baru saja dibuat bagus kiri-kanan pohon-pohon masih teguh percaya diri Kulihat di kaca spion ada bayangan kupu-kupu lewat "Kau cari tumpangan? Kau santri yang tersesat? Ayo ikut aku… Ini rindu alam, tempat Abah Didi rajin mengaji, jejak suara Kyai Gus Dur lengket di pohon-mohon. Mungkin jadi getah. Pohon-pohon mengajariku keteguhan hingga kelak tumbang dikalahkan waktu Sukabumi, 2022
Rini Lastriana RINDU ALAM 3 Keyakinan dan perjalanan adalah sejarah dalam diriku Kemarin, hari ini dan esok sama saja. Aku seperti wanita pengelana mencari tempat berkemah terus menapaki semesta terkadang aku berjalan mundur terkadang aku merasa berjalan terlalu ke depan Di mana tenda ini akan kupasang sambil memandang pucuk-pucuk pohon. Betapa bahagia bila aku berkemah di puncak pepohon saling memahami daun-daun sebagai kawan. Betapa bahagia bila alam selamanya begini dan begini: mencatat kabut dan dingin sekalipun di tengah hari Rindu alam tempat kutancapkan keyakinan semesta bahwa perjalanan ini belum juga sampai Sukabumi, 2022
Rini Lastriana RINDU ALAM 4 Nenek itu menyapu daun-daun gugur di depan warung. Daun-daun berguguran dari pohon-pohon penjaga yang rindang, angker Seseorang datang dan duduk dan ingin membeli air mata tetapi yang tersaji di etalase itu cuma rindu dan sedikit kenangan "Oh kalau begitu aku ingin membeli kenangan saja," ucap seseorang. Angin lewat dan menambah guguran daun jarum-jarum gerimis mulai rintik tempiasnya sampai di rambut panjang. Seseorang bertanya penasaran kepada pemilik warung " Mengapa tidak menjual air mata di sini, cuma menjual bensin dan gorengan? " Hening sesaat. Tak ada kendaraan lewat Warung tepi jalan seperti rumah hantu Seseorang itu bergidik. Lalu pergi ke dalam hutan. Ia sungguh takut kepada manusia yang tangannya suka menciptakan kerusakan di bumi Sukabumi, 2022
Rini Lastriana PANCALAN INI Menemui Aa Lalas di Gunung Sari cuma lewat ini puncak satu-satunya yang pasti kulewati. Di Pancalan bukit-bukit memandang diriku dari jauh Beburung menciptakan lingkungannya sendiri bersama cahaya kota dari jauh Bila malam, lampu-lampu memandang yang lewat lekat-lekat. Yang lewat barangkali hantu atau memang manusia atau sekadar binatang kesepian. Entah Ini hutan perhutani tempat dulu mungkin para kompeni menanam kebencian memaksa kau pribumi menyerahkan keringat dan peluhnya sebagai upeti Ibu-ibu memikul kayu mengejar senjakala Anjing-anjing memburu babi hutan Anak-anak bermain game di rumah masing-masing menunggu ibu pulang Si pemburu itu...oh si pemburu itu… terpeleset ke jurang meninggalkan nama Batu-batu pun menjelma kesepian di Pancalan dihibur daun-daun pinus dan jati Sukabumi, 2022
PUISI ECOGREEN KARYA NAOMI H. ALAM 1 Rumput Hijau Berlapis-lapis tumbuh Di padang ilalang Tumbuh tak bertuan Tertimpa hujan Basah kuyup baju hijaumu..... Di atas timbul butiran air Bagaikan mutiara bercahaya..... Akarmu yang kuat tetap bertahan..... Hujan pabas,panas tak peduli ..... Rumput hijau tetap tumbuh untuk makanan hewan.... Kau dianggap remeh tapi berjasa. Karya ,Naomi ALAM 2 Lambaian Tanganmu Kau berdiri dengan tegak..... Kuminum air manismu Dari buahmu berwarna hijau...... Setelah lepas dahaga ini Aku tibggalkan kau begitu saja Hatiku rasa renyuh... Saat kulihat kau tetap tersenyum melambaikan tanganmu dengan lembut Kau berdiri tegak dekat deru ombak .
Karya ,Naomi ALAM 3 Pandan Wangi Kupotong kecil - kecil Kucampur melati dan mawar...... Hijau,putih dan merah Semerbak wangimu Kutaburkan hiasan wangimu di atas Pusara ranah merah ini. Karya , Naomi ALAM 4 Dirampas Angin Daun hijau berguguran Ini belum musimnya untuk gugur Tapi....dirampas angin dengan paksa Rantingnya pun menangis.......belum waktunya kau gugur daun hijau yang belia Tapi... kau telah jatuh berguguran belum waktunya. Karya ,Naomi ALAM 5 Jauh dan Dekat Begitu anggun warnamu dari kejauhan ,biru terbentang menjulang tinggi,indah nian Aku berlari mengejarnya masuk kedalamnya... Mengapa warnamu berubah hijau, hijau dimana mana ... kulihat batang dahannya tinggi ,rendah , ohh....semuanya beraneka warna mu, hijau muda, sedang ,tua daunmu Sungguh Agung kuasaMu ya...pencipta langit dan bumi .
Karya ,Naomi ALAM 6 Pucuk Daun Hijau Tak ada yang abadi Di dunia ini Kekuasaan itu berjalan seperti musim ... Ada musim panas,hujan , gugur , dingin ....dan yang indah itu musim semi ,musim bunga yang menawan Karena pohon-pohon yang nampak kering tumbuh kembali Pucuk daun hijau yang baru memberikan kehidupan pada dahan bunga dan buah Demikian kehidupan ini . Patah tumbuh hilang berganti . Semua berganti sesuai waktunya .... Karya , Naomi Sukabumi ,20 Mart 2022
PUISI ECOGREEN KARYA TITIN RATNASARI Hujan Saat kecil menenangkan Saat besar menakutkan Dia jatuh tanpa meminta tolong Memberi tanpa diminta Salah satu anugerah yang maha kuasa Langit mendung menjadi pertanda dia akan datang Bersama dingin dan gemuruh dia menyelimuti ruang Dia hanya menyapa untuk membawa semua rasa Rasa yang tak mampu di pendam seperti duka yang akan terbawa hilang Tak ada yang lebih menenangkan dari hujan dan pemikiran Ketika semua orang hilang entah siapa yang harus menjadi teman hanya hujan yang menjadi dambaan untuk melepas semua beban. By Titin2022
Hijau Diantara Kelabu indah saat dipandang segar saat dihirup Menenangkan saat di rasakan ketika berdiam diri termenung melihat alamku yang dulu Sekarang tak lagi sama seperti yang ku rasa saat itu dimana semua masih asri dan nyaman tanpa campur tangan manusia yang penuh dengan kesalahan Hijau di antara kelabu Hanya semu kini yang bisa kudapat Banyak Bencana dimana-mana tapi seolah mereka menutup mata ulah siapa itu semua Hijau yang kini terganti oleh abu tak dapat lagi sama seperti dulu Jika alam dapat berbicara mungkin mereka akan mengeluh tentang apa yang mereka miliki terbuang sia-sia karena kecerobohan manusia jika bisa berhenti, tolong jangan paksa mereka untuk terus mencukupi diri untuk kehidupan manusia yang tak mau rugi. By Titin2022
BUMI KITA Bumi kita Dimana kita berpijak Dimana kita melihat banyaknya manusia serakah yang merusak Dan juga dimana tempat kita hidup sejenak Bumi yang begitu indah, Tuhan berikan sebagai anugerah yang tak terkalah Hijau kini tak terlihat Hanya ada abu dan semu dimana-mana Burung-burung bernyanyi dan rumput yang menari-nari menyejukan mata dan hati, kini hanya tinggal ilusi Meski hati tak sejernih mata air dan pikiran, tak seluas hutan yang membentang Tapi niat hati tak akan pudar untuk terus melindungi Bumi, sebuah nikmat yang telah Tuhan By Titin2022
Langit Di hamparan luasnya biru yang membentang kini tak lagi sama seperti dulu Kamu dan aku menjadi saksi bisu hilangnya indah itu Di bawah langit aku bercerita kepada awan, tentang apa yang terjadi di Bumi Pertiwi Masa muda yang hilang begitu saja, tak akan bisa kembali seperti semula Karena waktu terus melaju dan tak akan pernah bisa menunggu Dan waktu terus berlalu sampai malam merenggutmu Ketika langit menjadi gelap karena cahayanya telah lenyap Tapi esok dia akan kembali bersama sang surya, memberi cahaya baru untuk orang-orang yang setia menunggu indahnya warna pada setiap insan yang menatapnya Langit Tetaplah seperti itu Karena hanya dengan menatapmu aku bisa melangkah By Titin2022
Alam Pun ikut menangis Udara pagi begitu menusuk paru-paru Bukan sejuk yang aku rasa Tapi polusi yang kini kian merajalela Rasa yang dulu tak pernah ada Mereka tertawa dibawah harta yang mereka bawa tanpa melihat orang lain yang sengsara Mereka seakan lupa darimana mendapatkan itu semua Alam Pun ikut menangis melihat keserakahan manusia yang tak henti-hentinya merusak alam Isak tangismu seakan tak di gubrisnya Apakah mereka lupa dimana mereka tinggal? Tanpa tahu terimakasih mereka pergi dan tak kembali untuk membenahi Tapi tunggulah mungkin alam sedang mempersiapkan hadiah bagi orang yang serakah. By Titin2022
PUISI ECOGREEN KARYA NOVI RATNA JUWITA KARYA NOVI RATNA JUWITA HIJAU NEGERIKU Terselip tanya dalam angan Memudar hilang dalam ingatan Hingga aku kehilangan Lautan hijau ketenangan Hijau nadi bumi ini Hijau jantung negeri ini Mengalir duka si petani Merampas asa ibu pertiwi Mana bumiku? Mana negeriku? Aku terasing di bumi sendiri Aku terusir di bumi pribumi
JATI DIRI BANGSA Bangga negeriku Kaya bangsaku Gunung melenakkan pandangan Laut terbentang menenangkan Takkan tertukar rupiah Takkan tertukar jabatan Ini negeriku Batik mengukir setiap helaian Tari mengindahkan gerakan Bumi memancarkan kekayaan Jadi diri bangsa
PADI KEHIDUPAN Celah tanah melukis pijakan Tanda hilang kesuburan Rumput hijau menguning sengit Merindu tetesan air langit Air tumpah ke tanah tandus Bak dahaga penghilang haus Menumbuhkan benih harapan Menyalakan dapur kehidupan Riang petani menanti masa Doa memuncak melepas asa Lumbung hampa mulai bernyawa Lega hati tentram jiwa
TUMBUH DAN MATI Aku tumbuh dengan anugerah ilahi Menghiasi bumi gersang nan tandus Aku tumbuh dengan cinta Menguatkan bumi dan tanah Aku hilang dengan tangan kerakusan Aku mati dengan tangan kelicikan Kini bumi menangis perih Menanggung dosa tangan-tangan kesombongan
GERGAJI Gegaji tua menjadi saksi Aku lepas dan terhempas dari bumi Ini adalah saksi Rusaknya alam tak berseri Tanah hilang genggaman Longsor menghiasi permukiman Demi rupiah dan jabatan Kau tebas nadi kehidupan Gergaji tua nan bisu Menggunduli satu persatu mahkota bumi Di tangan mafia aku berdiri Roboh beralas pilu
PUISI ECOGREEN KARYA ANRIAN BUNGA Karya: Anrian Daun-daun kian melambai Kiranya aku akan tergoda Alih-alih mencari ranting Malah ku temukan setangkai bunga Aku tahu tajamnya duri Katakanlah! Kumbang mana yang tak suka bunga? Kau tau! akulah yang bodoh Tak mungkin ku siakan ia.. SEMUT Di selasar pohon Ku berbisik pada semut “Wahai semut apakah engkau ….” Semut pun menjawab “Tidakk” Aku terhenyak Kemudian bertanya “Apa yang engkau lakukan?”
MAWAR Rintik-rintik hujan membasahi pekarangan Terakhir kali ku lihat semakin deras Sesekali aku tersenyum Artinya ia akan cepat dewasa Anakku tercinta … Ah ternyata aku terlalu berlebihan Engkau hanyalah mawar peliharaanku Tumbuhlah di sana Cepatlah engkau dewasa SENJA DI ATAS TELAGA Di bawah pohon pinus Aku berdiri, melihat senja Sembari ku tepis dedaunan Yang jatuh di hadapanku Ku lirik ada sebongkah kayu disana Aku duduk dengan nyamannya Kunikmati pesona telaga Lukisan indah nan merona
RINDU Lautan tak bertepi Menjadi misteri Kedalaman samudera Menjadi kendala Namun apalah daya, Rasa rindu telah mengubah
PUISI ECOGREEN KARYA ARIS MOH.ILHAM Kota Mati Aris M. Ilham Terdiam ku di sudut kota Pandangi kesunyian dan kesenyapan Suasana bisu penuh ketidakpastian Sosok kota terlihat lusuh Debu beterbangan penuhi kota Sampah menyebar dimana mana Udara tak lagi bersahabat dengan paru-paru kita Hawa panas kini tak tertahankan Pepohonan rindang yang dulu tumbuh dimana mana Kini hilang seolah ditelan bumi Air bersih kini menjadi barang langka Limbah industri dan polusi menyebar di mana mana Ku hanya dapat terpaku dan terpana Inilah negeriku saat ini…. Saung Panineungan 2022
Gersang Aris M. Ilham Taka da lagi pohon rindang tempat berteduh Kala mentari menyengat tubuh Taka ada lagi daun-daun hijau tempat memandang Kala mata Lelah bekerja Tak ada lagi bunga-bunga indah pelipur jiwa yang lara Kala suntuk datang menerjang Taka ada lagi gemericik sungai mengalir bersih Temapat anak anak bermain Semua telah tiada Lenyap tak tersisa Ulah tangan tak beretika Yang tesisa hanyalah Gersang Saung Panineungan 2022
Senja Aris M. Ilham Saat kau datang menemuiku Pamerkan iras murni tanpa noda Aku tertegun netra menanap Takjub akan rona indah parasmu Tatapan sendu Seadem kalbu Senyum merah merona Menampakkan kecantikannya Senja Hati tenang memandang wajahmu Jiwa damai saat kau menyentuh ragaku Anugrah terindah ciptaan Ilahi Namun kini Kau hilang dibalik gagahnya pencakar langit Tak lagi bersembunyi di belakang pegunungan asri Keindahanmu tersilap oleh cahaya lampu temaram Saung Panineungan 2022
Jagad raya Aris M. Ilham Ssa-sisa makanan yang disantap Kemasan-kemasan produk yang difungsikan Begitu saja kau taburkan di jalan raya Seakan akan untuk mempercantik tubuhnya Barag-barang bekas Sampah-sampah rumah tangga Kau lemparkan ke sungai dan selokan Seolah-olah bak sampah berjalan Insaflah Wahai penghuni jagad Perilakumu telah lukai alam ini Nodai keindahan ciptaan Nya Saung Panineungan 2022
Tangan Tangan tak Beradab Aris M. Ilham Pohon rindang tempat berteduh Kala mentari menyengat tubuh Terkikis habis tak tersisa Ditebang para pengusaha Daun daun hijau sebagai objek pandang Saat mata lelah bekerja Musnah bersama pohon tumbang Digergaji mesin para pekerja Buah-buah segar obat raga Ketika sakit datang menyerang Tak terlihat bergelantungan Di atas dahan pepohonan Bunga-bunga elok pelipur jiwa Kala suntuk datang menerjang Berguguran sebelum masa mekar datang Dicopoti para insan tak bertanggung jawab Semua sirna Lenyap tak bersisa Ulah tangan-tangan tak beradab Tinggalkan gersang yang terasa Saung Panineungan 2022
Tafakkur Aris M. Ilham Udara semakin panas Kemarau berkepanjangan Kekeringan terus melanda Kebakaran hutan terjadi di mana-mana Bencana asap tak kunjung terselesaikan Saatnya kita … Tuk Kembali mengingatnya Kesmbongan dan keangkuhan Tak kan dapat selesaikan semua itu Mari kita merenung dan menafakkuri Apakah alam kan kita biarkan merana Saung Panineungan 2022