The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

biografi singkat ulama ahlussunnah wal jamaah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sizuan9781, 2020-12-08 21:32:39

Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah

biografi singkat ulama ahlussunnah wal jamaah

Jamal Ghofir

UlamaPendiri dan Penggerak NU
Pendiri dan Penggerak NU

Pendiri dan Penggerak NU

© Jamal Ghofir 2012
All rights reserved

Cetakan Kedua, April 2013
xxvi + 294 hlm: 16 x 24 cm
ISBN: 978-602-9969-13-9

Penulis: Jamal Ghofir
Penyelaras Bahas: Osman Alie

Tata Letak: Ab_ Elhaq
Sampul Muka: Aming

Copyright © 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-undang.
Dilarang memperb­ anyak atau me­mindahkan sebagian atau
seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis
maupun mekanis, termasuk mem­fotokopi, merekam atau dengan
sistem penyim­panan lainnya tanpa izin tertulis dari penerbit

Penerbit:

GP Ansor Tuban
Jl. Diponegoro No. 17 Tuban Jawa Timur
Telp. 0815 7885 4143, 0812 3096 7541

e-mail: [email protected]

Kerjasama dengan:

Aura Pustaka
Jl. Sidobali UH II No. 399 Yogyakarta
Telp (0274) 580296, 6954040, 081578766720

e-mail: [email protected]

PERSEMBAHAN

Buku ini penulis persembahkan untuk kedua orang tua yang tercinta
emak Arti dan bapak Achmad Sholeh, nenek, kakekku Saerah dan
Singo Ngatman yang telah menghadap keharibaan-Nya (semoga Allah
SWT memberikan tempat di sisi-Nya). Nenek, kakekku Rumiyati dan
Kayom (semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesembuhan dan
kesehatan, agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan cucumu
ini bisa bercanda lagi).

Untuk Generasi Muda Nahdlatul Ulama yang masih setia digaris
perjuangan dan pengabdian.

~ iii ~



PENGANTAR PENULIS

Bermula dari keprihatinan dan kesedihan penulis saat memberikan
materi pada banom organisasi Nahdlatul Ulama pada tingkatan
kepengurusan ranting. Banyak diantara mereka yang belum bahkan tidak
mengetahui siapa pendiri dan penggerak Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Hal ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi penulis, disaat mereka tidak
mengerti siapa pendiri dan penggerak organisasi NU, bisa dipastikan
mereka juga tidak mengetahui apa dan bagaimana corak pemikirannya
da­lam menumbuh kembangkan organisasi yang masih eksis sampai saat ini.

Kehadiran buku Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah
Pendiri dan Penggerak NU merupakan ihtiar kecil-kecilan sebagai anak yang
berkeinginan mengabdikan diri kepada NU. Penulis memiliki harapan agar
kehadiran buku ini dapat diakses oleh seluruh warga Nahdliyin sampai
pada tingkatan ranting, maksimal kepengurusan tingkat kecamatan dalam
kepengurusan NU dan Banom. Penulis sangat memahami bahwasanya
masih banyak karya tulis yang lebih layak untuk dikonsumsi oleh warga
Nahdliyin dalam memahami perjalanan panjang kesejarahan jam’iyah
Nahdlatul Ulama. Akan tetapi sampai detik ini, belum ada terobosan
atau pemaksaan dalam transformasi pengetahuan kepada warga Nahdliyin
sampai pada tingkatan kepengurusan ranting dan maksimal kepengurusan
kecamatan dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

Para intelektual NU banyak menghasilkan buku-buku yang berbobot
penuh dengan gagasan dan ide cemerlang, baik dalam berorganisasi, bera­
gama, berbangsa, dan bernegara. Gagasan dan ide cemerlang tersebut

~v~

apabila mau jujur hanya bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas.
Akan tetapi gagasan dan ide cemerlang para intelektual NU yang ber­
bentuk buku sangat langka dan bahkan tidak pernah menyentuh lapisan
warga NU yang ada di pedesaan atau kepengurusan NU dan banom pada
tingkatan ranting dan kecamatan

Disadari ataupun tidak, pergulatan pengawalan ideologi Aswaja
mengalami tantangan yang dasyat dari berbagai organisasi keislamanya
lainya. Mereka berusaha mengaburkan tradisi amaliah Nahdlatul Ulama
dengan berbagai cara. Gerakan-gerakan itu tidaklah bermula dari ruang
yang hampa. Mereka menyadari bahwasanya kekuatan Sunni yang
masih bertahan di dunia dan paling besar pengikutnya berada di bumi
Nusantara yaitu Indonesia. Oleh karena itu, kekuatan-kekutan tersebut
telah membekali dirinya dengan berbagai disiplin keilmuan sebagai bekal
melakukan hegomoni pengaburan tradisi Sunni yang telah mengakar di
tubuh warga Nahdlatul Ulama. Pertanyaan yang muncul adalah mampukah
warga Nahdlatul Ulama melakukan perlawanan terhadap serangan ideologi
yang telah terorganisir dengan baik, retorika yang mampu menjungkir
balikkan fakta, irasional menjadi rasional dengan berbagai dasar dalil yang
tidak difahami antara dhoif atau shohih? Inilah yang menjadi tantangan bagi
waraga Nahdliyin dan para intelektual NU dalam mendampingi warganya
dari berbagai gerakan-gerakan sunyi senyap namun mematikan.

Penulis menyadari bahwa penulisan buku ini, tiada lain karena kontribusi
berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini perkenankan penulis
mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada berbagai pihak yang telah memberikan semangat untuk tetap
meneruskan penulisan diantara aktifitas kampus yang melelahkan. Penulis
mengucapkan terimakasih dan rasa syukur kepada Allah SWT yang
memberikan kekuatan dalam menapaki perjalanan panjang kehidupan
ini. Aktifitas yang melelahkan namun menjadi kenikmatan yang tiada ter­
hingga. Teriring shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW
yang menjadi inspirator dan penguat penulis dalam ihtiar menjadi manusia
yang bermanfaat bagi sesama. Teruntuk Mbah Khalil Bangkalan, Mbah
Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri, semoga
perjalanan panjang sejarah perjuangan dalam pengawalan nilai-nilai
ahlussunnah wal jama’ah dan perjuangan mendirikan NKRI harga mati
tetap tertancap dalam relung batin para generasimu. Terimakasih untuk
keluarga besar PP. Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, PP. Tebuireng, dan

vi | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

PP. Denanyar yang telah menancapkan pondasi gerakan intelektual demi
keberlangsungan kehidupan berbangsa dan beragama di bawah naungan
asas tunggal Pancasila.

Terimakasih untuk keluargaku emak Arti dan bapak Achmad Sholeh
“maafkan anakmu belum bisa memberikan yang terbaik dalam perjalanan
kehidupan ini. Pilihan hidup yang anakmu jalani saat ini merupakan
bentuk pendidikan yang telah Emak Bapak ajarkan untuk tetap dapat
bermanfaat bagi sesama”. Kakaku Khoirul Huda S.Ag yang senantiasa sabar
membimbing penulis untuk tetap semangat dan bertanggungjawab dalam
menjalankan amanah “maafkan adikmu yang senantiasa merepotkanmu”.
Mbak Zuhrotul Amaliyah yang penuh kesabaran mendampingi dan
membimbing ketiga keponakanku Haidar Labib Ramadlan, Ibriza Fahrun
Nisa’, Salma Qudwa Fairuza. Adikku Ahmad Azam Yasir belajarlah terus
jangan pernah putus asa. ”Dek untuk menjadi orang yang besar dan ber­
manfaat engkau harus mencambuk dirimu dan meneguhkan hatimu untuk
senantiasa belajar sampai titik nadzir kehidupanmu”. Le’ Sudarno kepala
desa Tegalrejo Widang Tuban yang sering penulis repoti dengan bergantian
menggunakan computer dalam penyelesaian buku ini “Le’ yakinlah pada
kuasa Allah SWT di mana cobaan yang sering datang menghampiri akan
bermuara pada kebahagiaan seorang hamba yang tabah dan bersabar
dalam menjalani”. Mbak Siti Hidayatin Ni’mah “pengabdian tidak terbatas
ruang dan waktu, tetap bersabar sampai pada saatnya nanti Allah SWT
akan memberikan yang terbaik”. Yoga Oktavianto Nurmaha, Yogi Zidane
Syafi’u Ramadlan, Yoky Nibras Syafiq Farras, dan seluruh keluarga Bani
Mirin yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Terimakasih kepada bapak KH. Fathul Huda (Bupati Tuban) yang
telah memberikan tugas kepada penulis. Ketika beliau masih menjadi ketua
PCNU Kabupaten Tuban untuk menulis biografi para ulama ahlussunnah
wal jama’ah. Ucapan terimakasih kepada segenap Pengurus Cabang
Nahdlatul Ulama Kabupaten Tuban. KH. Kholilurrahman, KH. Tom
Badawi Drs. H. Ahmad Mudzir MS.i. Eko Sumarno, SH. H. Abdul
Fatah Sidiq. Ustadz Ahmad Syariful Wafa yang telah mendampingi dan
memberikan semangat dalam pengabdian ini. Dan seluruh Pengurus PCNU
yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Segenap keluarga besar NU
dan Banom. Muslimat NU, GP Ansor NU, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU
baik yang berada pada tingkatan cabang sampai kepada tingkatan pengurus
ranting. Ucapan terimakasih kepada seluruh keluarga besar LTN NU:

Pengantar | vii

Sahabat Muhammad Makhdum, S.Pd. M. Syihabuddin, S.Pd.I. M. Shohib,
S.Pd. Rohmad AgusMd, SH. Ir. Imam Masykur Toyib. Sugiyono, S.Pd.

Teriring do’a dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Gus H.
M. Syafiq Syauqi Lc ketua PC GP Ansor Tuban yang telah berkenan
berdiskusi sampai tengah malam dan berkenan menerbitkan buku ini,
dengan harapan menjadi motifator kebangkitan intelektual dan gerakan
pengawalan nilai-nilai Aswaja khususnya di kabupaten Tuban. Gus H.M.
Sholahul ‘Am ketua GP Ansor Kabupaten Jombang yang telah banyak
memberikan wawasan ketika berbincang santai dan berdiskusi di ndalem
Tambakberas. Keluarga Besar PC GP Ansor Tuban yang tidak bisa penulis
sebutkan satu persatu. “Kebangkitan kaum muda NU menjadi ujung
tombak peradaban di bumi wali merupakan tanggungjawab kita bersama”.

Untuk Abah KH. Ahmad Muayyad Billah bin Abul Fadlol (almarhum)
yang telah mengajari penulis bagaimana menjalani perjalanan kehidupan ini
dengan tetap bersandarkan pada nilai ketauhidan. KH. Maman Imanulhaq,
KH. Ahmad Muwafiq, Pak Agus Sunyoto, Kang Dr. Ngatawi Al-Zastrouw,
Pak Ali Maskur Musa, Pak Waryono Abdul Ghofur (Dekan Fakultas
Dakwah UIN Sunan Kalijaga), Pak Khadiq, Kang Zuhairi Misrawi, Kang
Jadul Maula, Kang Khaliq Ridwan, Kang Ali Usman. Terimakasih atas
pelajara­ n kehidupan yang selama ini penulis serap tanpa sepengetahuan
kalian.

Keluarga besar Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Chozinatul
‘Ulum Blora, KH. Muharror Ali dan Bapak H. M. Fatah, M.Ed. Keluarga
besar Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul Ulum (HIMABU) di
Yogyakarta, Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU), Keluarga
Pelajar Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) di Yogyakarta. Keluarga
besar Padepokan Jombor dan keluarga Pondok Janti Yogyakarta, semoga
ikatan kekeluargaan tetap erat terjalin walau keberadaan fisik kita saling
berjauhan.

Untuk adikku Rizki Sufianita “ketika keyakinan cinta telah hadir
dalam ruang batinmu, jagalah sepenuh hati dengan tetap bersandar pada
kuasa Tuhan. Saudaraku Wafiyah, Fety, Luluk, Salis dan seluruh keluarga
Dejavu semoga kekeluargaan ini tetap terjalin dengan indah. Komunitas
diskusi dan ziarah wali gang IV, sahabat Saifullah, Syifa’udin, Devi, Rosy,
Ofien semoga tradisi ini tetap berjalan dengan baik. Sebagai upaya peng­
awalan terhadap nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah. Dan tidak lupa
keluarga besar Ikatan Remaja Masjid Agung Kabupaten Tuban (IRMA),

viii | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

tetaplah berjuang digaris dakwah dan pengabdian sebab masjidlah pusat
peradaban yang sebenarnya dalam konteks kesejarahan Islam pada masa
Rasulullah Muhammad SAW.

Akhirnya penulis menyadari kehadiran buku Biografi Singkat Ulama
Ahlussunnah wal Jama’ah, Pendiri dan Penggerak NU sangat jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan
dan semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.

Antara Tuban & Yogyakarta
Jamal Ghofir

Pengantar | ix



NAHDLATUL ULAMA;

Membela Ideologi Tanpa Sikap Ideologis

Buku adalah sebuah proklamasi. Begitu isi alam bawah sadar para
pecinta studi mengenai post-modernisme. Ia merupakan proklamasi
atas pembebasan kreatifitas dan ide yang mulanya terpenjara. Dengan
menjadi buku, ide tersebut seperti dihidangkan, sehingga layak dikonsumsi,
diwacanakan, diuji dan diperbincangkan. Dengan demikian, sebuah buku
dianggap memiliki otonomi untuk unjuk gigi dan mempertahankan diri,
tanpa lagi ada intervensi dari penulisnya. Sebuah buku, setelah dilaunch,
adalah harus dianggap sempurna, mewakili dan mengatakan apa yang
seharusnya dikatakan.

Demikianlah cara saya memandang sebuah buku, apapun judulnya
dan siapapun penerbitnya. Sebab, banyak sekali buku yang cemerlang
saat penulisnya masih hidup. Namun ketika penulisnya wafat, nasibnya
buku juga ikut tamat. Sementara pada sisi lain, banyak juga buku yang
justru terkenal setelah penulisnya meninggal. Lamat-lamat yang bisa saya
ingat adalah kitab Alfiyah Ibnu Malik dari khazanah tradisi dan Catatan
Harian Ahmad Wahib.

Bagi saya, buku ini mempunyai tempat spesial karena deskripsinya
sungguh kaya untuk menjawab kebutuhan warga NU tentang “dasar
kepercayaannya”. Apresiasi saya terhadap buku ini sekurang-kurangnya
didukung oleh dua alasan yang saling terkait. Pertama, penulisnya adalah
generasi muda NU, lahir dari rahim sejarah dan denyut kehidupan warga

~ xi ~

NU. Artinya, ia bukanlah “pengamat” NU atau orang luar yang tidak
punya hubungan emosional dengan NU.

Secara teori, tentu buku ini sudah mewakili asas representasi. Seperti
yang lazim dalam penelitian, bahwa untuk mengetahui aspirasi petani,
merekalah yang harus jadi responden, bukan para pakar pertanian. Respon
orang-orang desa tentang tradisi mereka tentu harus lebih dihargai ketim­
bang ocehan pengamat pedesaan. Begitu juga, buku yang sedang Anda
baca ini tentu lebih qualified dan representatif menyuarakan masalah NU
daripada publikasi para peneliti NU yang datang tiba-tiba dari luar negeri
itu.

Biasanya, kita keburu bangga melihat banyak publikasi ilmiah yang
dibuat oleh orang asing. Tanpa curiga, bahkan tanpa kemauan untuk cu­
riga, bahwa ada sesuatu yang sengaja dibiarkan tersembunyi dibalik pub­
likasi tersebut. Akan tetapi, semua kebanggaan itu harus ditawar ulang.
Sebab musababnya bisa ditelisik dari ucapan seorang tokoh Empirisisme,
Francis Bacon. Ia mengatakan bahwa knowledge is power, maka more
knowledge adalah more power.

Apabila pengetahuan adalah kekuasaan, maka memproduksi lebih
banyak pengetahuan harus dipandang juga memproduksi lebih banyak
kekuasaan. Walau dalam hal ini kekuasaan harus diberi artikulasi yang
sedikit berbeda. Relevansi ucapan Bacon tersebut benar-benar bisa terjadi
secara kasat mata. Kalau pengetahuan ke-NU-an diproduksi oleh orang
lain, maka identitas lembaga ini juga seperti tergantung orang lain. Artinya,
lembaga ini gagal merumuskan identitasnya sendiri, sampai-sampai untuk
menyebutkan nama saja harus lewat mulut orang lain.

Tentu kita tidak bisa pura-pura lupa, bagaimana Snouck Hougronje
mengkaji sosiologi politik rakyat Aceh, dan kemudian digunakan untuk
menghantam Aceh dari dalam. Buku-buku sejarah juga belum luntur
catatannya, tentang penelitian intensif yang dilakukan penjajah mengenai
struktul politik, budaya dan mentalitas politik orang pribumi, yang
kemudian digunakan mengadu domba lantas merampas seluruh kekayaan
yang mereka punya, baik kekayaan tradisi maupun kekayaan alam. Untuk
contoh lain yang masih aktual. Banyak perusahaan yang berani membiayai
penelitian tentang karakter konsumennya, baik psikologi, image, tingkat
ekonomi sampai masa suburpun diteliti. Lantas pola pikirnya dikontrol
agar selalu membeli produk mereka.

xii | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

Tanpa niat meremehkan pihak manapun, menjadi masuk akal kalau
studi dan kajian tentang NU harus dimotori oleh generasi muda NU,
seperti penerbitan buku ini. Sehingga kelak bisa menghasilkan seperangkat
metodologi yang lengkap mengenai logika, metode, teori sampai sistem
berpikir yang khas NU. Suatu sumbangan berharga bila perbendaharaan
ilmu pengetahuan tidak hanya mengenal sosiologi, antropologi ataupun
psikologi, tapi juga ada yang lebih spesifik, yakni NU-logi.

Kedua, karena ditulis oleh “orang dalam”, buku ini dapat menjadi
indikator pewarisan nilai-nilai Aswaja dari generasi lebih tua. Lebih
tepatnya adalah proses penerusan nilai-nilai antar generasi dan implikasi
edukatifnya, terutama pada generasi muda sebagai penerima.

Lintasan sejarah membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama memper­
juangkan dua tujuan secara paralel, yakni melakukan sosial engineering,
sekaligus mengakomodasi human capital. Komposisi ini menjadi niscaya,
karena keduanya adalah rangkaian yang saling mengait. Kualitas manusia
yang baik akan menghasilkan sistem yang baik, sementara sistem yang baik
akan memberikan kualitas out put yang baik pula.

Kalau diterjemahkan secara politik misalnya. Sistem politik yang baik
akan menghasilkan aktor politik yang baik sementara aktor politik yang
baik akan menegakkan sistem politik yang baik. Sistem yang amburadul
akan menelorkan politisi yang bejat, seterusnya aktor politik yang bejat
mustahil melakukan political behaviour yang sehat. Wajar saja kalau
masyarakat selalu curiga bahwa keputusan politik bukan lagi karena
kepentingan politik dan demi mencapai tujuan politik, melainkan tujuan
lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan politik, ekonomi misalnya.
Logika seperti ini memang tidak bisa dimutlakkan, tetapi terbukti manjur
sebagai pedoman dalam menganalisa bidang-bidang yang lainnya

Hampir sama dengan pandangan saya kepada buku ini. Buku bukan
hanya sarana untuk mencerdaskan suatu bangsa, akan tetapi juga menjadi
petunjuk tingkat kecerdasan bangsa tersebut. Tentu saja, hanya bangsa
yang cukup cerdaslah yang akan menghasilkan penulisan buku secara
tera­ tur. Bangsa yang malas mana mungkin dapat menghasilkan, untuk
mem­baca saja mereka tidak mau meluangkan waktu.

Sehingga buku bukan sekadar menjadi input untuk kecerdasan,
melainkan juga output atau produk kecerdasan penduduk bangsa bersang­
kutan. Semakin cerdas suatu bangsa, maka akan semakin banyak buku
yang dihasilkan. Seterusnya bisa diandaikan bahwa semakin banyak buku

Pengantar | xiii

dihasilkan maka akan semakin cerdas pula bangsa itu. Semakin banyak
publikasi yang diterbitkan oleh orang-orang NU, maka akan meng­
indikasikan kecerdasan mereka.

Satu hal yang impressif dalam buku ini adalah keluwesan penulis
menghidupkan sejarah tokoh NU. Konsentrasi dan emosi kita dikuras
untuk memasuki dimensi lain, suatu realitas pada masa lalu. Sementara
kita tetap berada di sini, para tokoh itu benar-benar dihadirkan dan
kita dapat melihatnya secara live. Waktu membaca bahwa Kiai Kholil
Bangkalan memperingatkan semua santri tentang datangnya seekor
macan, suaranya seperti saya dengarkan langsung. Bulu kuduk berdiri dan
ketakutan mencengkeram perasaan. Seakan seekor macan benar-benar
sudah berada di pintu halaman dan siap mengobrak-abrik pekarangan
tempat saya tinggal sekarang.

Sejarah tentang Mbah Wahab (panggilan khas Kyai Wahab Hasbullah)
juga seperti merampas perhatian saya untuk memperhatikan tokoh
eksentrik ini. Beliau seperti memancarkan haybah-nya di depan kepala
saya. Walau tetap bersarung dan mengenakan sorban, Mbah Wahab
lincah mengendarai motor besar, Harley Davidson. Seolah Beliau ingin
menunjukkan sikap integritas dan loyalitasnya menjaga tradisi, walau
lingkungan memberi peluang untuk berganti gaya hidup. Beliau tetap
konsisten.

Di mata saya, tokoh ini memberikan pelajaran sekaligus contoh soal
yang relevansinya sangat terasa sampai sekarang. Bahwa tradisi tidak
menghalangi seseorang untuk berjuang. Kesetiaan pada nilai tradisi juga
tidak mengerdilkan nyali untuk menghadapi dunia yang lebih besar. Suatu
fakta yang kontras dengan realitas aktual yang saya hadapi saat ini.

Banyak orang yang mengaku lebih maju, mengkritik tradisi secara
membabi buta, tetapi jalan pikirannya tetap tidak beranjak dari itu-itu saja,
malah nampak lebih tradisional ketimbang sasaran kritiknya. Sementara
di sisi lain, yang mengaku-ngaku membela tradisi juga tidak comfortable
dengan tradisi yang dibelanya. Tidak merasa resah saat kekayaan tradisi
digerogoti, juga tidak merasa sakit bila penjaga tradisi dicederai. Mirip
komentator sepak bola. Harga transfer, umur pemain sampai skill individu-
nya dapat dia sebutkan diluar kepala. Peluang kalah-menang berikut
argumentasinya pun sanggup dipertahankan berbusa-busa. Namun saat
pertandingan berlangsung, ia hanya melotot sambil minum kopi di luar
arena.

xiv | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

Untuk kembali ke pokok masalah, perlu sekali rasanya dibuka perpektif
baru tentang aktualisasi Aswaja. Suatu perpektif yang membuka ruang
dialog sekaligus menyediakan atmosfer untuk mengejawentahkannya
dalam kenyataan hidup sehari-hari. Poin ini menjadi urgen karena tujuan
ajaran (maaf, yang lupa disampaikan tokoh Aswaja) tersebut adalah ingin
membangun manusia yang berkualitas. Manusia yang punya pengetahuan
dan kapabilitas memadai untuk membangun “Islam yang benar.”

Apabila upaya ini telat diwujudkan, maka sekurang-kurangnya dua
implikasi berikut adalah konsekuensi paling logis. Pertama, perlahan tapi
pasti akan timbul pikiran dan prilaku yang mengedepankan sikap apatis.
Sikap yang sesungguhnya menyimpang, karena jelas ujung-pangkalnya
dalam membela tradisi, tetapi malah terjebak melakukan tradisionalisasi.
Tradisionalisasi bisa didefinisikan sebagai sikap atau pilihan untuk selalu
mengagungkan tradisi yang sudah lewat, tanpa upaya memadai menemukan
aktualisasikannya dalam bentuk yang lebih relevan.

Pada sisi yang ekstrem, tindakan tradisionalisasi hanya menyediakan
satu opsi. Yakni memaksa kondisi aktual untuk kembali kepada superioritas
tradisi lampau. Namun mereka gagal meraih spirit yang menghidupkan
tradisi tersebut, maka yang diintrodusir adalah material atau bentuk fisik­
nya belaka. Kalau saya boleh mengatakan, orang-orang tipe ini hanya
merasa bangga dengan masa lalu, tapi gagal mewujudkan masa depan.
Logis saja, karena masa depan bagi mereka adalah idealisasi bentuk fisik
masa lalu untuk dibangun secara paksa pada masa sekarang.

Implikasi yang kedua adalah ketercerabutan dari basis sosial maupun
basis kultural. Apapun yang ada di dunia ini adalah tidak muncul tiba-tiba,
fakta sosial juga bukan sesuatu yang given (dari sono-nya sudah begitu).
Realitas yang kita hadapi dan kita terima sekarang selalu punya rangkaian
dengan masa lalu, baik melalui mata rantai sejarah maupun mata rantai
intelektual. Jika mata rantai tersebut putus atau sengaja diputus, maka
siapapun orangnya akan menjadi anonim. Ia lebih mirip mesin pabrik
atau robot.

Anonim hampir identik dengan kaburnya identitas. Dampak identitas
yang tidak jelas, seseorang atau sekelompok orang akan kesulitan mem­
bangun integrasi sosial. Gejala yang pertama kali muncul ialah deper­
sonalisasi. Orang lebih percaya kepada atribut ketimbang fungsi sehingga
mematuhi prosedur lebih penting ketimbang mendapatkan substansi.
Mazhab Frankfurt dalam kajian filsafat telah menyumbangkan pelajaran

Pengantar | xv

berharga dalam masalah ini, bahwa kritik ideologi berfungsi untuk
membuka “niat menyimpang” yang disembunyikan dibalik perbuatan
yang dianggap terpuji dalam pandangan banyak orang. Niat menyimpang
tersebut seringkali dipicu oleh tercerabutnya seseorang dari lingkungan
dan tradisi sosial.

Sekali lagi, apresiasi saya terhadap buku ini hampir menemukan
titik klimaksnya. Fakta-fakta sejarah yang disusun seperti menghardik.
“Embah-embahmu dulu telah melakukan yang terbaik untuk lingkungan
sosial dan keyakinannya. Lantas, apa yang bisa kamu lakukan sekarang.?!
Mereka telah mempertaruhkan harta dan nyawa. Apa yang sekarang kamu
pertaruhkan.?! Keberhasilan tidak bisa dibangun dengan rasa kagum dan
berpangku tangan.”

Saya seperti ditantang. Tapi tantangan itu sebenarnya bukan untuk
saya seorang, melainkan juga untuk semua orang yang mengaku sebagai
warga Nahdlatul Ulama dan lebih spesifik lagi, untuk generasi muda yang
berdiri di bawah kibaran panji Nahdlatul Ulama.

H. M. Syafiq Syauqi, Lc
Ketua GP. Ansor Cabang Tuban.

xvi | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

PESANTREN;

Kitab Klasik dan Geneologi Intelektual NU

Pesantren  mempunyai tradisi (al-turats) khas. Sebuah khazanah
kejiwaan (makhzun al-nafs) yang bersifat material dan imaterial yang
dikembangkan untuk melahirkan pemikiran yang progresif-transformatif
dalam upaya membangun masyarakat. Di dalamnya ada 5 (lima) unsur  pokok
yaitu kyai, masjid, santri, pondok, dan kitab Islam klasik. Kyai adalah penjaga
spiritualitas dan intelektualitas yang senantiasa diwariskan dari satu generasi
ke generasi berikut melalui lembaga pesantren. Jika ditelusuri, genealogi
intelektual di kalangan ulama pesantren—khususnya Nahdlatul Ulama—
tak dapat dilepaskan dari jaringan yang dibentuk ulama peletak dasar
intelektualisme pesantren dan NU, semisal Syaikh Nawawi Al-Bantani,
KH Mahfudz Al-Termasi, KH Khalil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH
A. Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syamsuri. Para Kyai mengajarkan Kitab
kuning yang merupakan elemen unik yang membedakan sistem pendidikan
pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya serta memberikan kontribusi
positif terhadap pemikiran Islam yang toleran dan mencerahkan. Dengan
keduanya pesantren acapkali bersifat fleksibel dan toleran sehingga jauh
dari watak radikal apalagi ekstrem dalam menyikapi masalah sosial, politik,
maupun kebangsaan. Karena punya watak dan tradisi yang fleksibel dan
toleran, maka pesantren mampu menjembatani problem keotentikan
dan kemodernan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) secara harmonis.
Jika tradisi ini bisa dipertahankan, maka pesantren akan selalu eksis dalam

~ xvii ~

memperjuangkan tujuan-tujuan dasar Syari’at Islam (maqashid al-syari’at),
yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat
manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal. Yaitu Syari’at Islam yang
sesuai dengan kehidupan demokrasi dan mencerminkan karakter genuine
kebudayaan Indonesia sebagai alternatif dari tuntutan formalisasi Syari’at
Islam yang kaffah pada satu sisi dengan keharusan menegakkan demokrasi
dalam nation-state Indonesia pada sisi yang lain. Buku yang ditulis Sahabat Jamal
ini akan menegaskan kembali nilai-nilai yang diperjuangkan pesantren. Sebuah
buku yang menggugah kesadaran dan, Insya Allah, merubah keadaan. Selamat
membaca!

 KH Maman Imanulhaq
Alumni pesantren PMH Pusat Kanjen Pati,
PP. Ar-Raudhoh Bahrul Ulum Tambakberas Jombang,
sekarang Ketua LDNU Jabar, Anggota perkumpulan Fahmina,
ANBTI, KONTRAS, KOMPAK, dan Lintas Iman.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka
 
 

xviii | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

MENEGUHKAN IDEOLOGI DAN
MENGGALI KETELADANAN

Harus diakui, mayoritas warga NU kurang memahami akar sejarah
NU, baik sejarah organisasi meupun para tokohnya. Ini terjadi
karena kebanyakan warga NU menganut faham NU kerena ikatan tradisi
dan kedekatan emosional dengan para tokoh yang ada.

Kondisi seperti ini membuat warga NU menjadi rentan terhadap
perubahan social, karena terjebak dalam polarisasi yang diameteral. Mereka
tidak memiliki tahanan cultural yang berbasis pada pemahaman mendalam
terhadap organaisasi NU. Di satu sisi, mereka menjadi orang yang sangat
fanatik terhadap tradisi NU. Mereka tidak mampu mengapresiasi gerak
sejarah dan kiprah NU dalam proses kehiduoan berbangsa bernegara.
Kelompok inilah yng penulis sebut dengan kelompok “ hidup mati tetap
NU ”. Di sisi lain muncul kelopok yang skeptic terhadap NU, kemudian
mencoba melakukan kritik besar-besaran terhadap pemikiran dan tradisi
NU. Sayangnya, karena kritik tersebut tidak berdasarkan pada pemahaman
yang mendalam terhadap sejarah NU, akhirnya mereka menjadi orang
yang cenderung meninggalkan NU, atau tetap berada dalam NU tetapi
pemikiran, sikap dan tindakannya sama sekali berbeda dengan nilai-nilai,
etika dan spirit NU. Penulis menyebut kelompok ini sebagai “ generasi yang
hanyut ” atau kelompok “ anak hilang ”.

Penulis melihat, munculnya kedua kelompok ini sebagai dampak dari
minimnya pemahaman terhadap sejarah-sejarah NU baik secara organi­

~ xix ~

satoris maupun tokoh-tokohnya. Akibatnya mereka kehilangan pijakan
dan pegangan ketika menghadapi gempuran cultural yang dilakukan
oleh berbagai pihak. Akibatnya mereka mencari tokoh-tokoh lain yang
dijadikan idola dan pegangan dalam mensikapi persoalan. Hal ini bisa kita
lihat dari perilaku aktivis politik NU yang hampir tidak mencerminkan
etik dan moral dari para pendahulu mereka. Selain itu, munculnya aktivis
gerakan formalis-simbolik (HTI, MMI, FPI dan sebagainya) dari kalangan
NU juga merupakan bukti terkikisnya visi dan komitmen keagamaan
NU, karena gerakan-gerakan tersebut jelas bertentangan dengan visi,
pemahaman dan garis perjuangan para pendiri, pejuang dan aktivis NU
sebelumnya.

Sebenarnya banyak kisah-kisah sejarah dari para tokoh NU yang
sarat etik dan layak dijadikan teladan bagi masyarakat dan aktivis NU
saat ini. Salah satu yang bisa disebutkan adalah perbedaan pandangan
politik antara Kyai Bisri Sansuri dengan KH. Wahab Hasbullah mengenai
masuknya NU dalam DPR-GR.

Sebagaimana dikisahkan Gus Dur pada penulis, ketika terjadi Dekreit
Presiden tahun 1959 yang isinya antara lain pembubaran Konstituante
dan pembentukan DPR-GR, saat itu NU diminta untuk masuk menjadi
anggota DPR-GR. Mbah Bisri menolak tawaran ini, karena menurut beliau,
DPR-GR adalah bentuk ghasab kekuasaan rakyat oleh Bung Karno. Dalam
pandangan mbah Bisri kekuasaan rakyat tercermin dalam konstituante
karena dibentuk berdasarkan hasil pemilu, sementara DPR-GR hasil
bentukan Bung Karno setelah membubarkan Konstituante. Dengan
demikian, kalau NU masuk dalam DPR-GR artinya NU menyetujui
terjadinya ghasab kekuasaan tersebut. Mbah Wahab berpikiran lain,
menurut mbah Wahab NU harus masuk dalam DPR-GR, karena itulah
satu-satunya saluran ummat Islam, khususnya NU, untuk menyampaikan
aspirasinya melalui jalur politik formal. Dalam hal ini mbah Wahab
bersandar pada kaidah fiqh; Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku kulluh
(kalau tidak bisa diambil semua, jangan ditinggalkan semua). Ini artinya,
sarana seminim apapun yang bisa dipakai untuk perjuangan harus diambil
dan digunakan.

Meski perbedaan pikiran politik terjadi secara tajam, namun hubungan
personal antara beliau tetap berjalan baik. Silaturrahmi antar mereka tetap
berjalan. Tak ada rebutan pengaruh, hasutan apalagi caci maki dan sikap
saling menjatuhkan antar mereka untuk mempertahankan pikiran masing-

xx | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

masing. Perebedaan pikiran tetap dikemas secara santun dan beradab
dengan argumentasi yang cerdas dan mendasar. Perebedaan pikiran ini
terus berlangsung sampai NU memutuskan untuk masuk dalam DPR-
GR. Ketika keputusan ini diambil mbah Bisri menerima secara legowo
dan menghormati keputusan tersebut sebagai sikap organisasi. Sementara
pikiran beliau tetap dipegang sebagai pikiran pribadi dengan konsekwensi
beliau menolak menjadi anggota DPR-GR sebagai bentuk penghormatan
terhadap pikirannya sendiri.

Kisah tersebut mencerminkan bagaimana akhlak, moral dan etika
dalam bermain politik. Selain itu, kisah tersebut juga menunjukkan, jika
politik diletakkan dalam kerangka kemaslahatan ummat sebagai acuan,
maka perpecahan, konflik dan pertikaian akan dapat diminimalisir. Dengan
demikian organisasi akan tetap solid dan utuh meski ada berbagai per­
bedaan. Ini artinya, jika kepentingan politik diletakkan dalam keranagka
etik dan kepentingan yang lebih luas, maka akan sulit terjadi perpecahan,
sebaliknya jika politik didasarkan pada kepentingan sesaat yang sempit dan
dangkal, maka akan rentan terjadinya perpecahan dan konflik. Kisah-kisah
seperti itu banyak sekali terjadi di kalangan ulama NU. Sayangnya kisah-
kisah seperti ini kurang terungkap ke permukaan dan belum dipahami
oleh para aktivis NU.

Dalam kondisi sekarang, perlu diungkap sejarah para ulama NU dan
ideologi ahlussunah wal jama’ah sebagai landasan teologis ummat NU.
Oleh karenanya, penerbitan buku “ Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah
wal Jama’ah, Pendiri dan Penggerak NU ” yang ditulis oleh sahabat Jamal
Ghofir menjadi sesuatu yang penting, karena dari buku ini para aktivis dan
ummat NU bisa memiliki landasan historis dan cultural dalam menjaga dan
memelihara keutuhan dan kelangsungan NU. Selain itu, melalui buku ini
ummat NU dan masyarakat pada umumnya bisa memperoleh keteladanan
dari para ulama pendiri NU yang bisa dijadikan pijakan kultural dan etik
dalam menghadapi kenyataan yang kian komplek.

Penulisan buku ini tidak saja penting, tetapi juga strategis, karena
melalui buku ini pembaca tidak sekedar mengerti sejarah para pendiri
NU, tetapi juga sejarah Aswaja yang menjadi dasar teologi NU. Melalui
pemahaman terhadap sejarah, maka ummat NU akan memiliki dasar
yang kuat untuk memegang ideologi Aswaja. Kalau selama ini mereka
menyakini Aswaja tanpa didukung oleh informasi dan pengetahuan,
maka melalui buku ini mereka akan bisa memahami Aswaja dengan dasar

Pengantar | xxi

dan argumentasi yang jelas, sehingga dengan ini keyakinan mereka akan
menjadi lebih kuat karena didukung oleh informasi dan fakta sejarah
yang falid.

Akhirnya penulis mengucapkan selamat atas penulisan buku ini,
semoga bisa menjadi oase pemikiran yang bisa mengobati dahaga intelektual
para aktivis dan jama’ah NU dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Jakarta, 19 Pebruari 2012
Dr. Ngatawi Al-Zastrouw

xxii | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

DAFTAR ISI

PERSEMBAHAN...................................................................... iii
PENGANTAR........................................................................... v

Ø Pengantar Penulis................................................................. v
Ø H. M. Syafiq Syauqi, Lc........................................................ xi
Ø KH Maman Imanulhaq........................................................ xvii
Ø Dr. Ngatawi Al-Zastrouw .................................................... xix
DAFTAR ISI............................................................................. xxiii
BAGIAN I
SELAYANG PANDANG NAHDLATUL ULAMA................... 1
A. Peran Agama dalam Mewujudkan Keharmonisan Bangsa.. 1
B. Peran Nahdlatul Ulama dalam Pembangunan Ka­rakt­er
Bangsa.................................................................................. 3
C. Aswaja dalam Lintas Sejarah............................................... 5

1. Legalitas dan Lambang NU........................................... 10
2. Sejarah Pendirian NU................................................... 13
3. Paham Keagamaan........................................................ 14
4. Basis dan Sikap Kemasyarakatan NU........................... 45
5. Dinamika NU................................................................ 46
6. Visi dan Misi NU........................................................... 47
7. Tujuan dan Usaha NU.................................................. 48
8. Struktur, Jaringan, dan Perangkat NU.......................... 48

~ xxiii ~

BAGIAN II
BIOGRAFI SINGKAT ULAMA PENDIRI DAN PENG-
GERAK NAHDLATUL ULAMA.............................................. 51

A. Maha Guru Nusantara KH Khalil Bangkalan..................... 51

1. Cahaya Terang di Telatah Bangkalan............................ 55
2. Pengembaraan Pencarian Ilmu...................................... 56
3. Jejak Langkah Perjuangan............................................. 62
4. Kepedulian terhadap Kepentingan Rakyat................... 65
5. Kiai Kharismatik........................................................... 68
6. Karya-karya KH Khalil Bangkalan................................ 71
7. Akhir Hayat KH Khalil Bangkalan............................... 72

B. Biografi Singkat KH Hasyim Asy’ari.................................... 72

1. Kelahiran KH Hasyim Asy’ari....................................... 75
2. Masa Kecil KH Hasyim Asy’ari..................................... 78
3. Pengembaraan Pencarian Ilmu...................................... 79
4. Pergulatan di Masa Perjuangan..................................... 83
5. Pergulatan di Organisasi Nahdlatul Ulama.................. 89
6. Pemikiran KH Hasyim Asy’ari...................................... 93
7. Wafatnya KH Hasyim Asy’ari....................................... 113

C. Biografi Singkat KH A. Wahab Hasbullah.......................... 116

1. Lahirnya Sang Pendobrak............................................. 118
2. Masa Kecil KH A. Wahab Hasbullah .......................... 120
3. Pendidikan KH A. Wahab Hasbullah........................... 121
4. Pengembaraan dari Pesantren ke Pesantren................. 122
5. Pendobrak Kebebasan dalam Berpikir........................... 124
6. Inspirator Pendirian GP Ansor..................................... 127
7. Aktivitas Politik............................................................ 128
8. Pemikiran KH A. Wahab Hasbullah............................. 144
9. Sang Macan Telah Berpulang ...................................... 160

D. Biografi Singkat KH Bisri Syansuri...................................... 162

1. Kelahiran Ulama dari Pesisir Pantai.............................. 162
2. Pengembaraan Pencarian Ilmu Pengetahuan................ 164
3. Dari Sahabat Menjadi Saudara..................................... 167
4. Perjuangan di Masa Penjajahan.................................... 171

xxiv | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

5. Pergulatan di Organisasi Nahdlatul Ulama.................. 172
6. Wafatnya Sang Ahli Fikih............................................. 176

BAGIAN III
BIOGRAFI SINGKAT ULAMA AHLUSSUNNAH WAL
JAMA’AH.................................................................................. 179

A. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Penyelamat Iman
dan Akidah.......................................................................... 179

1. Keimana dan Kebebasan Berfikir.................................. 180
2. Benteng Akidah Islam dan Substansi Bermazhab........ 182
3. Implementasi Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah..... 186

B. Syaikh Abdul Qadir Jailani.................................................. 188
1. Biografi Syaikh Abdul Qadir Jailani dan Keistimew­ a-

ann­ ya ............................................................................ 189
2. Beberapa Ajaran Syaikh Abdul Qadir Jailani .............. 193
3. Tarekat Qadiriyah Syaikh Abdul Qadir Jailani ............ 196

C. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Bidang Akidah .............. 198
1. Imam Abu Hasan Al-Asy’ari........................................ 198
2. Imam Al-Maturidi......................................................... 200

D. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Bidang Fikih .................. 202
1. Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767 M)................ 202
2. Imam Malik bin Anas (93-179 H/ 712-795 M)............ 205
3. Imam Syafi’i (150-204 H/ 169-820 M)......................... 210
4. Imam Hanbali (164-241 H/ 780-855 M)...................... 218

E. Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Bidang Tasawuf.............. 226
1. Imam Al-Ghazali........................................................... 227
2. Imam Junaid Al-Baghdadi............................................ 236

BAGIAN IV
PERJALANAN PANJANG SEBUAH PERJUANGAN............. 241

A. Komite Hijaz......................................................................... 241
1. Antara Khawarij dan Salafi Wahhabi........................... 242
2. Kelahiran Komite Hijaz................................................. 245
3. Isi dan Jawaban Surat Raja Sa’ud.................................. 249

Daftar Isi | xxv

B. Resolusi Jihad....................................................................... 253
1. Nahdlatul Ulama dan Kebangkitan Tanah Air............. 254
2. Laskar Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan............ 257
3. Kemunculan Resolusi Jihad.......................................... 261
4. Isi Resolusi Jihad........................................................... 265
5. Pekik Takbir Perjuangan................................................ 266
6. Sejarah yang Terlupakan .............................................. 268

C. Khittah Nahdlatul Ulama.................................................... 272
1. Sejarah Perjalanan Khittah 1926.................................. 272
2. Rambu-rambu NU dalam Politik.................................. 276
3. Isi Khittah 1926............................................................ 279

DAFTAR PUSTAKA................................................................ 287

xxvi | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

BAGIAN I

SELAYANG PANDANG
NAHDLATUL ULAMA

A. Peran Agama dalam Mewujudkan Keharmonisan
Bangsa

Setiap agama selalu mengasumsikan kemutlakan (doktrin) kebenaran
masing-masing, di mana doktrin tersebut dituangkan dalam sistem
ajaran, ritual, dan tuntunan. Dalam kemutlakannya, agama berfungsi
sebagai pe­gangan dan tuntunan hidup yang memerlukan kadar kepastian
yang tinggi. Di sinilah agama menemukan fungsinya sebagai pegangan
atau tuntunan (Majid, 1995: 328).

Oleh karena itu, agama dalam maknanya yang paling esensial merupa­
kan konsepsi satu pemahaman tentang pesan nilai-nilai universal sebagai
rahmat seluruh umat. Semangat inilah yang dikandung oleh setiap agama
dalam mengajarkan kedamaian dan cinta kasih. Namun demi­kian, agama
seringkali dijadikan sebagai alasan konflik oleh sebagian pem­ eluknya.
Bahkan, konflik tersebut cenderung bersifat destruktif dan anarkis. Jika

~1~

hal ini terus terjadi, agama lambat laun akan kehilangan ruh sucinya,
yang bera­ khir pada kaburnya nilai-nilai kemanusiaan yang dik­ and­ ungnya.

Secara historis agama-agama dan berbagai aliran kepercayaan hadir
secara bergantian. Namun, bukan berarti kehadiran agama atau kepercaya­
an baru tersebut serta merta menghapus, menghilangkan, dan menying­­
kirkan agama dan kepercayaan sebelumya. Karena itu, menjadi suatu
kewajaran apabila dalam suatu masyarakat terdapat agama dan keper­
cayaan yang beraneka ragam bentuknya.

Pluralitas keberagamaan umat manusia telah menorehkan sejarahnya
sendiri yang multiwarna (Askari, 2003: Pengantar Redaksi). Terjadinya
persaingan, sikap saling mencurigai, dan peperangan yang menghilangkan
nyawa manusia telah menjadi kenyataan suram, yang dipicu oleh realitas
pluralitas agama. Sejarah kelam tersebut telah menyadarkan sebagian umat
beragama untuk terus menggali pentingnya nalar agama yang “melampaui”
pemahaman-pemahaman atas klaim kebenaran yang “tradisional”. Di
sinilah nilai-nilai tasamuh (toleransi) ala Nahdaltul Ulama (NU) harus
dikembangkan dalam rangka mewujudkan kedamaian dan ketentraman
dalam beragama, berbangsa, dan bernegara.

Adanya kesadaran sebagaian umat manusia atas pluralitas kebera­
gamaan telah melahirkan fase utama dari sebuah pengharapan akan adanya
dialog (tasyawur) antar-umat beragama. Sepanjang abad kedua puluh,
kesadaran pluralitas itu tumbuh subur sehingga berbagai forum dialog
terbentuk. Sebuah kesadaraan yang tumbuh akan pluralitas keberagamaan,
dibarengi dengan terbentuknya berbagai forum dialog antar-umat beragama,
merupakan perwujudan nyata akan peradaban baru umat manusia.

Sebuah realitas yang tidak dapat dihindari bahwa dalam kehidupan
beragama dengan berbagai bentuk warnanya, perbedaan tidak dapat
dielakkan lagi. Berbagai perbedaan tersebut dapat memunculkan potensi
kompetisi dan permusuhan antar-umat beragama sehingga meng­
akibatkan hilangnya suasana harmonis dan toleransi di dalam kehidupan
bermasyarakat.

Menurut Robertson, toleransi agama tidak berarti ajaran sebuah agama
yang satu dengan ajaran agama yang lain dicampuradukkan. Namun,
dengan prinsip hidup yang mengedepankan toleransi dalam kehidupan
ber­kelompok dan bermasyarakat, tradisi-tradisi keagamaan yang dimiliki
setiap individu menjadi komulatif dan kohesif yang menyatukan keragaman
interp­ retasi dan sistem keyakinan keagamaan (Robertson, 1988: IX).

2 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

Jam’iyah NU sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan
bangsa harus mampu menciptakan keadaan masyarakat yang kondusif,
dengan mendorong sikap saling menghargai dan menghormati antar-umat
beragama. Hal ini sangat penting karena sebesar apa pun bentuk modal
material pembangunan bila kondisi sosial masyarakat tidak kondusif maka
tidak akan mencapai keberhasilan yang optimal. Kesadaran ini menjadi
salah satu pendorong bagi upaya perwujudan toleransi umat beragama.
Dengan toleransi dan saling pengertian seperti inilah diharapkan terwujud
sebuah tatanan masyarakat yang harmonis.

Menjaga persatuan dan kesatuan merupakan tugas utama sekaligus
tantangan bagi negara-negara modern, termasuk Indonesia. Karena
itu, persatuan menjadi pijakan utama di dalam membangun stabilitas
bangsa dan ketentraman masyarakat. Rasulullah SAW telah mewariskan
nilai-nilai dan prinsip-prinsip guna mengatur setiap aspek kehidupan.
Sistem tersebut berupa pedoman prinsipil, kaidah-kaidah universal, dan
tata aturan yang dengannya memungkinkan kita memiliki karakteristik
independen, tegak berdiri di atas landasan manhaj akidah yang memiliki
tabiat, keistimewaan, dan integritas yang mumpuni serta mengungguli
sistem Barat kotemporer (Amahzun, 2004: 376-377).

B. Peran Nahdlatul Ulama dalam Pembangunan

Karak­ter Bangsa

Kelahiran NU pada tahun 1926 memiliki pengaruh besar bagi
perj­­alanan sejarah perjuangan nasional, misalnya setahun setelah itu,
tahun 1927, berdiri Partai Nasional Indonesia (PNI) di bawah pimpinan
Soekarno. Kemudian disusul oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober
1928, kebangkitan bangsa-bangsa terjajah, kesadaran kebangkitan umat
Islam se-dunia, dan naiknya perjuangan kemerdekaan Indonesia (Qomar,
2002: 35).

Peristiwa-peristiwa ini sebagai wujud nyata dari berkembangnya kesa­
daran kebangsaan, keluar dari sekat sekte-sekte agama dan etnis, yang
disebut dengan kesadaran nasionalisme. Paham kebangsaan kurang lebih
didasarkan pada kesamaan bangsa, bahasa, tanah air (teritorial), budaya,
dan nasib. Karena itu, peristiwa Sumpah Pemuda pada kongres ke-2
Pemuda Indonesia merupakan puncak ekspresi rasa nasionalisme. Bahkan,
hal itu dapat dikatakan sebagai sebuah kebulatan tekad bangsa Indonesia

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 3

yang mengandung kekuatan politik strategis, setidaknya dibandingkan
dengan model-model perjuangan sebelumnya yang lebih didasarkan pada
kekuatan-kekuatan lokal, kendati kepentingannya tetap berskala nasional.
Kesadaran nasionalisme inilah yang turut menjadi pendorong kelahiran
NU (Yusuf, 1987: 48).

Strategi perjuangan yang digagas oleh para ulama pesantren ini
adalah untuk memecahkan kondisi internal umat Islam, baik menyangkut
ketertinggalan ekonomi, sosial, maupun pendidikan. Begitu juga dengan
strategi eksternal dalam menghadapi propaganda dan trik-trik politik
Belanda, yakni politik etis pada tahun 1901. Untuk itu, umat Islam
melakukan perubahan perlawanan di dalam menghadapi penjajah Belanda
dengan menggunakan “strategi besar”, sebuah bentuk perlawanan yang
memiliki jangkauan masa depan, yaitu dengan membentuk organisasi
Nahdlatul Ulama (Suprapto, 1987: 22).

Sejarah bangsa ini juga telah mencatat bahwa mahasiswa, pelajar, dan
santri dengan gerakannya memiliki peran dan andil besar dalam proses
perubahan yang dinamis pada kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia.
Hal inilah yang sesungguhnya menjadikan mahasiswa, pelajar, santri
menyandang atribut agent of change. Perubahan dan dinamika kehidupan
bernegara yang tentunya membawa kompleksitas persoalan menuntut
adanya kearifan sikap dalam mengatasi setiap persoalan yang ada, hal itu
sesungguhnya juga membutuhkan sense of public crisis. Artinya, mahasiswa,
pelajar, dan santri harus memiliki kepekaan terhadap persoalan-persoalan
publik sebab bagaimanapun mereka sesungguhnya adalah bagian dari rakyat
yang semestinya mampu menjadi avant garde (pelopor) bagi terwujudnya
suatu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, adil, dan
sejahtera. Untuk mewujudkan harapan tersebut, dibutuhkan tanggung
jawab bersama seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan terbesar (Haidar, 1994),
NU sudah memberi pengaruh besar pada perkembangan pemikiran
keagamaan di Indonesia dan banyak mendapat perhatian para pemerhati
sosial (Riyadi, 2007: 13). Meskipun begitu, bukan berarti eksistensi NU
sebagai sebuah organisasi tanpa problem. Saat ini, NU dapat dikatakan
sedang mengalami krisis kader. Banyak program kaderisasi yang tidak
berjalan seperti yang diharapkan, sehingga hal ini berdampak pada
minimnya pemahaman dan implementasi nilai-nilai ahlussunnah wal
jama’ah (Aswaja). Karena itu, berbekal ilmu-ilmu keislaman yang banyak

4 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

berkembang di pesantren dan nilai-nilai tradisional yang masih melekat
erat, NU harus kembali berorientasi pada kaderisasi, pemahaman nilai-
nilai ahlussunnah wal jama’ah, gerakan sosial, serta terus berkhidmat
kepada masyarakat untuk menjaga eksistensinya di tengah problematika
kebangsaan.

C. Aswaja dalam Lintas Sejarah

KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, memberikan
tashawur (gambaran) tentang ahlussunnah wal jama’ah, sebagaimana
ditegaskan dalam Al-Qanun Al-Asasi, bahwa paham ahlussunnah wal
jama’ah versi NU adalah mengikuti Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu
Manshur al-Maturidi di dalam teologi, mengikuti salah satu empat
mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) di dalam fiqhiyah, dan
bertasawuf sebagaimana yang dipahami oleh Imam Ghazali atau Imam
Junaid al-Baghdadi.

Penjelasan KH Hasyim Asy’ari tentang ahlussunnah wal jama’ah versi
NU ini dapat dipahami sebagai berikut:
1. Penjelasan ahlussunnah wal jama’ah KH Hasyim Asy’ari tidak boleh

dilihat dari sudut pandang ta’rif menurut ilmu manthiq, yang harus
jami’ wa mani’ (‫)جامع مانع‬, tetapi hal itu merupakan gambaran (‫)تصــور‬,
yang akan memudahkan masyarakat di dalam mendapatkan pemaha-
man secara jelas (‫ )تصــد يق‬karena secara definitif para ulama memiliki
pemahaman yang berbeda tentang ahlussunnah wal jama’ah. Namun,
muaranya tetap sama, yaitu maa ana ‘alaihi wa ashabii.

2. Penjelasan ahlussunnah wal jama’ah versi KH Hasyim Asy’ari merupa­
kan implimentasi dari sejarah berdirinya kelompok ahlussunnah
wal jama’ah sejak masa pemerintahan Abbasiyah yang kemudian
terakumulasi menjadi firqah yang berteologi Asy’ariyah dan Maturidi­
yah, berfikih mazhab yang empat, dan bertasawuf Ghazali dan Junaid
Al-Baghdadi.

3. Sebagai sikap dan bentuk perlawanan terhadap gerakan Wahhabiyah
(Wahyudi, 2009: 67) di Indonesia waktu itu, yang mengumandangkan
konsep kembali pada Al-Qur’an dan sunnah, dalam arti anti-mazhab,
anti-taklid, dan anti-TBC (tahayyul, bid’ah, dan khurafat). Karena
itu, dari penjelasan ahlussunnah wal jama’ah versi NU dapat dipahami
bahwa untuk memahami Al-Qur’an dan sunnah perlu penafsiran para

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 5

ulama yang ahli di bidangnya karena sangat sedikit umat Islam yang
memiliki kualitas dan kemampuan berijtihad, bahkan kebanyakan
mereka menjadi muqallid atau muttabi’.

Sebagaimana dijelaskan oleh Abdurrahman Navis, Aswaja merupakan
akronim dari ahlussunnah wal jama’ah. Ahlussunnah berarti orang-orang
yang menganut atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, dan
jama’ah berarti mayoritas umat atau mayoritas sahabat Nabi Muhammad
SAW. Dengan demikian, ahlussunnah wal jama’ah dapat didefinisikan
sebagai orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan
mayoritas sahabat (maa ana ‘alaihi wa ashaabi ), baik di dalam syari’at
(hukum Islam) maupun akidah dan tasawuf”.

Ta’rif atau definisi ahlussunnah wal jama’ah secara ringkas adalah
golongan yang mengikuti sunnah (jejak) dan melaksanakan ajaran-
ajaran Rasulullah Muhammad SAW di atas garis yang dipraktikkan oleh
jama’ah (sahabat Nabi). Dapat juga didefinisikan sebagai golongan yang
menyatukan dirinya dengan para sahabat di dalam mengimplementasikan
ajaran-ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Ajaran-ajaran tersebut
meliputi aqidah, fikih, akhlak, dan jihad.

Sebenarnya, istilah ahlussunnah wal jama’ah tidak dikenal pada
zam­ an Nabi Muhammad SAW dan pemerintahan Khulafaur Rasyidin,
bah­kan tidak dikenal pada zaman pemerintahan Bani Umayyah (41-
132H/661-750 M). Istilah ini untuk pertama kalinya digunakan pada
masa pemerintahan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur (137-159 H/754-775
M) dan Khalifah Harun Ar-Rasyid (170-194 H/785-809 M), keduanya
dari dinasti Abbasiyah (750-1258 M). Istilah ahlussunnah wal jama’ah
semakin populer pada zaman pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (198-
218 H/813-833 M).

Pada zamannya, Al-Ma’mun menjadikan Mu’tazilah (aliran yang
mendasarkan ajaran Islam pada Al-Qur’an dan akal) sebagai mazhab resmi
negara, dan ia memaksa para pejabat dan para tokoh agama agar mengikuti
paham ini, terutama yang berkaitan denga kemakhlukan Al-Qur’an.
Untuk itu, ia melakukan mihnah (inquisition), yaitu ujian akidah terhadap
para pejabat dan ulama. Materi pokok yang diujikan adalah masalah Al-
Qur’an. Bagi Mu’tazilah, Al-Qur’an adalah makhluk (diciptakan oleh
Allah SWT), tidak qadim (ada sejak awal dari segala permulaan), sebab
tidak ada yang qadim selain Allah SWT. Orang yang berpendapat bahwa

6 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

Al-Quran itu qadim berarti syirik, dan syirik merupakan dosa besar yang
tidak terampuni. Untuk membebaskan manusia dari syirik, Al-Ma’mun
melakukan mihnah. Ada beberapa ulama yang terkena mihnah dari Al-
Ma’mun, di antaranya ialah Imam Ahmad Ibn Hanbal (164-241 H).

Penggunaan istilah ahlussunnah wal jama’ah semakin populer setelah
kemunculan Abu Hasan Al-Asy’ari (260-324 H/873-935 M) dan Abu
Manshur Al-Maturidi (w. 944 M), yang melahirkan aliran “Al-Asy’ariyah
dan Al-Maturidiyah” di bidang teologi. Kedua aliran tersebut muncul
sebagai perlawanan terhadap aliran mu’tazilah yang menjadi aliran resmi
pemerintah waktu itu. Teori Asy’ariyah lebih mendahulukan naql (teks
Al-Qur’an dan hadis) daripada aql (penalaran rasional). Dengan demikian,
bila dikatakan ahlussunnah wal jama’ah pada waktu itu maka yang
dimaksudkan adalah penganut paham Asy’ariyah atau Maturidiyah di
bidang teologi. Dalam hubungan ini ahlussunnah wal jama’ah dibedakan
dari Mu’tazilah, Qadariyah, Syi’ah, Khawarij, dan aliran-aliran lain.
Dari aliran ahlussunnah wal jama’ah atau disebut aliran Sunni di bidang
teologi, kemudian juga berkembang dalam bidang lain yang menjadi ciri
khas aliran ini, yaitu di bidang fikih dan tasawuf. Karena itu, jika disebut
akidah Sunni (ahlussunnah wal jama’ah) yang dimaksud adalah pengikut
Asy’ariyah dan Maturidiyah. Atau fikih Sunni, yaitu pengikut mazhab yang
empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) yang menggunakan rujukan
Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas. Atau juga tasawuf Sunni, yaitu pengikut
metode tasawuf Abu Qashim Abdul Karim Al-Qusyairi, Imam Al-Hawi,
Imam Al-Ghazali, dan Imam Junaid Al-Baghdadi, yang memadukan antara
syari’at, hakikat, dan ma’rifat. Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:
“Berpegang teguhlah kalian pada sunnahku dan khulafaur rasyidin (sahabat
Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibn Khattab, Usman ibn Affan, dan Ali ibn
Abi Thalib). “Sahabat-sahabatku laksana bintang–bintang di langit. Siapa saja
yang mengikutinya maka akan mendapatkan petunjuk”.

Oleh karena itu, ahlussunnah wal jama’ah dipahami sebagai golongan
umat yang mengikuti dan mengamalkan apa yang telah dilakukan oleh
Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya. Hal ini sesuai dengan
firman Allah dalam Al-Qur’an:

                              

                                

                  Selay angPa ndang Nahd latulUla ma |7



                               

                             

                        



“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari
harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk
Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar
di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan
Rasul kepadamumaka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu,
tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat
keras hukumannya”. Q.S. Al-Hasyr (59): 7.

Secara historis kedatangan Islam di Indonesia dibarengi dengan
jalur seleksi budaya ketika budaya-budaya Hindu Budha dan sistem
kepercayaan pribumi sudah muncul berabad-abad. Islam menerima nilai-
nilai budaya yang sudah sejalan dengan ajaran-ajaran agama dan bahkan
berfungsi sebagai faktor pendukung dalam penyebaran agama. KH Said
Aqil Siradj menyatakan bahwa Islam bukan sekadar doktrin. Para ulama
Islam nusantara telah menanamkan ajaran-ajaran Islam ke dalam budaya
masyarakat melalui metode dakwah yang persuasif. Cara ini kemudian
diwariskan kepada para santri dan kalangan pesantren yang diorganisasi
oleh NU yang berpegang pada ajaran ahlussunnah wal jama’ah.

Perjalanan ahlussunnah wal jama’ah dalam kurun waktu sejarah
masy­a­rakat muslim tidak selamanya mulus, meskipun dirinya hadir sebagai
pe­ma­haman keislaman yang paling sesuai dengan ajaran dan tuntunan
Nabi serta para sahabat. Ahlussunnah wal jama’ah juga sering dianggap
melenc­ eng dari arus utamanya, ketika terjadi perselingkuhan dengan ke­
kuasaan, baik secara politik maupun ekonomi.

Ahlussunnah wal jama’ah sebagai manhajul fikr merupakan metode
berpikir yang digariskan oleh para sahabat Nabi dan tabi’in yang sangat
erat kaitannya dengan situasi politik dan sosial yang meliputi masyarakat
muslim waktu itu. Dari manhajul fikr inilah lahir pemikiran-pemikiran
keislaman, baik di bidang aqidah, syari’ah, maupun akhlak/tasawuf,
walau­pun beranekaragam tetap berada dalam satu ruh. Begitu juga
dengan ahlussunnah wal jama’ah sebagai manhaj taghayyur al-ijtima’i,
yaitu pola perubahan sosial-kemasyarakatan yang sesuai dengan nafas

8 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

per­juangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Inti yang menjadi
ruh dari ahlussunnah wal jama’ah, baik sebagai manhajul fikr maupun
manhaj taghayyur al-ijtima’i adalah sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah SAW: ma ana ‘alaihi wa ashabi (segala sesuatu yang datang
dari Rasul dan para sahabatnya). Inti ahlussunnah wal jama’ah kemudian
diwujudkan dalam empat nilai: tawasut (moderat), tasamuh (toleran),
tawazun (keseimbangan), dan ta’adul (keadilan).

Ahlussunnah wal jama’ah sebagai manhaj taghayyur al-ijtima’i bisa
ditarik dari nilai-nilai perubahan yang diusung oleh Nabi Muhammad
dan para sahabat ketika merevolusi masyarakat Arab jahiliyah menjadi
masyarakat yang tercerahkan oleh nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan
universal. Ada dua hal pokok yang menjadi landasan perubahan itu:
pertama, basis nilai, yaitu kebenaran Qur’ani dan sunnah Nabi yang
diimplementasikan secara konsekuen dan penuh komitmen. Kedua, basis
realitas, yaitu keberpihakan kepada kaum tertindas dan masyarakat lapisan
bawah. Dua basis ini terus menjadi nafas perubahan yang diusung oleh
umat Islam yang konsisten dengan ahlussunnah wal jama’ah. Konsistensi
ini hadir dalam bentuk élan dinamis gerakan yang selalu terbuka untuk
dikritik dan dikonstruk ulang, sesuai dengan dinamika zaman dan lokalitas.
Dia hadir tidak dengan klaim kebenaran tunggal, tetapi selalu berdialektika
dengan realitas, jauh dari sikap ekslusif dan fanatik.

Akidah ahlussunnah wal jama’ah yang menjadi keyakinan sebagian
besar umat Islam di Indonesia, saat ini mendapat perlawanan yang serius
dari paham lain (Ilusi Negara Islam, 2009: 30). Karena itu, NU yang me­
megang teguh prinsip ahlussunnah wal jama’ah harus mewaspadai gerakan
tersebut, di antaranya gerakan Wahhabi, teror bom, dan upaya pendirian
Negara Islam Indonesia (NII) yang akan mencerabut nilai-nilai akar
perjuangan para ulama dan pendiri bangsa Indonesia. Selain itu, bangsa
Indonesia juga menghadapi gempuran arus globalisasi kemajuan zaman
yang memengaruhi pola pikir dan kehidupan masyarakat sampai masuk
pada ruang privasi keluarga sehingga aib pun dengan mudah dapat diakses
melalui media.

Globalisasi akan senantiasa menjadi kekuatan yang akan terus mening­
kat sehingga menyentuh hampir ke setiap aspek kehidupan. Hanya sebagian
yang mampu mempertahankan nilai-nilai tradisi, simbol, kebudayaan,
ritual, dan kelembagaan. Sebagaimana yang dikatakana oleh Kevin Robins,
“globalisasi tidak hanya menghanyutkan nilai-nilai tradisi dan budaya, jika ia

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 9

mau kembali meneguhkan asal-usul etnis dan kebangsaan serta membangkitkan
kembali tradisi dan landasan-landasan religius. Artinya, nilai-nilai substansi
dan tradisi religius yang akan memperkukuh tidak akan mengalami pergeseran
sebagai akibat dari pengaruh globalisasi”.

Dengan kondisi yang demikian masih banyak tugas besar yang
harus dikerjakan oleh NU dalam melakukan transformasi pemahaman
dan pengawalan pada ajaran ahlussunnah wal jama’ah sebagai basis
perjuangan, serta menginternalisasikan nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah
dalam membangun karakter bangsa. Hal ini dikarenakan selama ini NU
memiliki komitmen terhadap nilai-nilai perjuangan yang mengedepankan
tradisi dalam ranah dakwah, sebagaimana kearifan Sunan Kalijaga dalam
memahami kultur budaya dalam menyebarkan agama Islam di bumi
nusantara.

1. Legalitas dan Lambang NU

NU merupakan organisasi keagamaan yang senantiasa konsisten
terhadap pendampingan keagamaan dan turut serta dalam pembangunan
bangsa. NU didirikan di Surabaya pada 31 Januari 1926, bertepatan dengan
16 Rajab 1344 H. Organisasi ini resmi berbadan hukum sejak 6 Februari
1970, sebagaimana yang tercatat pada Belsuit Rechtsperson No. IX tahun
1930. Kemudian diperbarui pada tahun 1989 berdasarkan Keputusan
Menteri Kehakiman RI No. C2-7028.H.T.01.05.TH.89.

Simbol atau lambang dalam sebuah organisasi merupakan suatu
keharusan sebagai sebuah identitas. Hal ini juga menunjukkan eksistensi
organisasi yang memiliki landasan yang kuat. Adapun yang membuat
gambar atau lambang NU ialah KH Ridwan Abdullah dari Surabaya, di
mana sebelum membuat lambang NU tersebut KH Ridwan Abdullah
melakukan shalat istikharah terlebih dahulu. Oleh karena itu, keberadaan
lambang NU tidak sekadar lambang, tetapi sebuah bentuk dari riyadlah
para ulama, khususnya KH Ridwan Abdullah.

a. Gambar Bumi

Gambar bumi dalam lambang NU menegaskan bahwa manusia
diciptakan dari bumi, dan akan kembali ke bumi ketika meninggal. Pada
waktu hari kiamat manusia akan dibangunkan dari bumi juga. Hal ini
sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

10 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

∩∈∈∪ 3“t ÷z&é ο¸ ‘u $?s öΝ3ä ã_Ì ƒø Υé $pκ]÷ ΒÏ ρu Νö .ä ‰ß ‹èÏ çΡ $κp Ïùuρ Νö 3ä ≈Ψo ø)n=yz $pκ]÷ ΒÏ

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya kami
akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan
kamu pada kali yang lain”. Q.S.Toha (20): 55.

Lambang bumi ini sering menjadi bahan perbincangan, khususnya
oleh organisasi di luar NU. Di antara mereka ada yang bergurau dengan
menyatakan bahwa keberadaan bumi senantiasa berada di bawah. Karena
itu, organisasi ini tidak bisa berkembang dengan pesat, baik dalam
manajeman organisasi maupun sumber daya manusianya. Perlu kiranya
dipahami bahwa dalam pembuatan lambang yang menggambarkan bumi
tidak berorientasi pada nilai-nilai duniawi, tetapi lebih pada filosofi
kehidupan dan kematian manusia yang berasal dari tanah. Filosofi inilah
yang menjadikan bumi dijadikan sebagai simbol dalam lambang NU.

b. Bintang Sembilan

Gambar bintang di dalam lambang NU memiliki makna dan landasan
yang kuat. Bintang yang besar paling atas merupakan perlambang Nabi
Muhammad SAW, sedangkan bintang yang kecil berada di atas garis khattul
istiwa’ (katulistiwa) berjumlah empat (4). Baik yang berada di sebelah
kanan maupun sebelah kiri merupakan lambang Khulafaur Rasyidin, empat
khalifah pengganti Rasulullah Muhammad SAW, yaitu sahabat Abu Bakar
Ash-Shidiq, Umar ibn Khatab, Usman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.

Bintang yang berjumlah empat berada sebelah kiri dan kanan di bawah
garis katulistiwa melambangkan empat mazhab yang menjadi pedoman
NU, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali.
Sedangkan, jumlah keseluruhan gambar bintang yang menjadi simbol NU
adalah lambang dari Walisongo.

c. Tampar atau Tali

Tampar atau tali yang melingkari bumi memiliki makna persatuan.
Filosofi kehidupan yang kuat untuk saling menyayangi, mencintai, dan
bersatu dalam ikatan Hablumminallah. Persatuan dan kesatuan yang
didasarkan kepada Allah menjadi perekat yang kuat dalam setiap hubungan
antarhamba Allah. Hal ini dipertegas di dalam Al-Qur’an:

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 11

                              

                               

                              

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu. Karena nikmat Allah,
orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.
Q.S. Ali Imran (3): 103.
Gambar simpul tali yang berada di bawah gambar bumi, menunjukkan
NU memiliki pemahaman yang berbeda dalam memaknai kehinaan,
kenistaan, dan kekafiran. Sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur’an:

                            

                            

                     

                        

                            

           

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “hai Musa, kami tidak bisa sabar
(tahan) dengan satu macam makanan saja. Karena itu, mohonkanlah
untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa
yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang
putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata,

12 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

“maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih
baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang
kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan,
serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena
mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi
yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka
selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. Q.S. Al-Baqarah (2): 61.

Filosofi lain dari lilitan tali yang berjumlah sembilan puluh sembilan
(99) adalah menunjukkan jumlah dan makna asmaul husna.

d. Warna Lambang NU

Warna lambang NU yang berwarna dasar putih memiliki arti kesucian
dan warna hijau melambangkan kesuburan. Warna bintang kuning emas
yang berada pada lembu menjadi nama surat Al-Baqarah. Sebagaimana
dijelasakan di dalam Al-Qur’an:

                             

       

“Mereka berkata, ‘mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar dia
menerangkan kepada kami apa warnanya’. Musa menjawab, ‘sesungguhnya
Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning tua
warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.’ Q.S.
Al-Baqarah (2): 69.

2. Sejarah Pendirian NU

Kelahiran NU pada dasarnya merupakan muara perjalanan panjang
sejumlah ulama pesantren di awal abad ke-20 yang berusaha mengorgani­
sasikan diri dan berjuang demi melestarikan budaya, keagamaan, dan tradisi
lokal kaum muslimin, di samping kesadaran untuk ikut mengobarkan
semangat nasionalisme guna menentang segala bentuk penjajahan, di
mana pada waktu itu tekanan pemerintah kolonial dirasakan sudah
melewati batas kemanusiaan (LDNU, 2007: 4).

Sejarah kelahiran NU diawali dengan didirikannya Nahdlatul Wathan
(Kebangkitan Jiwa Kebangsaan) oleh KH Abdul Wahab Hasbullah

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 13

pada tahun 1916 di Surabaya. Kemudian KH Abdul Wahab Hasbullah
mendirikan Tashwirul Afkar (Dinamika Pemikiran) bersama KH Dahlan
Ahyat di kota yang sama. Tashwirul Afkar mengkhususkan diri pada
pendidikan agama yang berbasis pada pendidikan pondok pesantren (al-
ma’hadiyah). Kedua lembaga tersebut sebagai wahana pendidikan sekaligus
perjuangan. Kemudian pada tahun 1918 KH Abdul Wahab Hasbullah juga
memelopori pendirian Nahdlatul Tujjar (Kebangkitan Ekonomi), sebuah
lembaga ekonomi yang kemudian diketuai oleh Hadratusy Syaikh KH
Hasyim Asy’ari yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
melalui pengembangan usaha bersama.

Seiring dengan perjalanan waktu, keperluan untuk membentuk
organisasi mulai dirasakan cukup mendesak. Ketika pelaksanaan kongres
Al-Islam ke-4 di Yogyakarta tahun 1925 muncul kabar bahwa penguasa
baru tanah Hijaz, Raja Ibnu Sa’ud hendak menyelenggarakan Mu’tamar
‘Alam Islami di Makkah pada Juni 1926. Sebelumnya, Raja Ibnu Saud yang
didukung oleh kalangan ulama Wahhabi, melakukan “pemurnian” terhadap
ajaran-ajaran Islam yang menurutnya saat itu telah banyak dipengaruhi
oleh anasir budaya-budaya lokal dan tradisionalisme. Karena itu, peserta
kongres Al-Islam meminta Ibnu Sa’ud agar memberikan kebebasan
bermazhab serta menghormati praktik-praktik keagamaan tradisional di
negaranya. Untuk menyuarakan aspirasi umat Islam nusantara tersebut
maka dibentuklah Komite Hijaz guna menyiapkan delegasi yang akan
ditugaskan menemui Raja Ibnu Sa’ud.

Kemudian pada tanggal 26 Januari 1926, rapat komite ini melahirkan
organisasi baru bernama Nahdlatul Ulama (NU), dengan menunjuk
Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar (Pemimpin
Besar), dan sebagai penggerak dan pendiri NU adalah KH Abdul Wahab
Hasbullah.

3. Paham Keagamaan

NU menganut paham ahlussunnah wal jama’ah, yaitu suatu pola nalar
dalam Islam yang merujuk pada Al-Qur’an, sunnah Nabi Muhammad
SAW, ijma’, dan qiyas, serta sunnah khulafaur rasyidin, di mana di dalam
konsep teologis mengikuti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-
Maturidi, dalam fikih mengikuti empat mazhab, yaitu Imam Hanafi, Imam

14 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

Maliki, Imam Syafi’i, dan Hanbali, dan dalam tasawuf mengikuti Imam
Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi.

Dalam menentukan hukum, NU menggunakan dasar yang sudah
diajarkan oleh para mujtahid, yaitu Al-Qur’an, hadis, ijma, dan qiyas. Hal
ini didasarkan pada Al-Qur’an.

                               

                           

         

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya),
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat
tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.” Q.S. An-Nisa (4): 59.

Dalam Tafsir Jamal dijelaskan bahwa ayat ini memberikan isyarat dalil
fikih. Pertama, taatilah Allah, dengan maksud taat kepada Allah adalah taat
kepada ajaran yang ada dalam kitab suci Al-Qur’an. Kedua, taat kepada
Rasulullah SAW, dalam hal ini taat kepada sunnah Rasulullah SAW atau
hadis. Ketiga, taat kepada ulil amri, dalam hal ini ijma’ (kesepakatan).
Keempat, apabila ada suatu permasalahan maka kembalilah kepada
Allah dan rasul-Nya. Maksudnya adalah apabila ada perselisihan di
dalam penentuan hukum pada suatu perkara dikarenakan belum adanya
keterangan yang jelas. Kemudian menggunakan qiyas (menyamakan) yang
ada di dalam Al-Qur’an dan hadis.

Pengertian Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, dan Qiyas

1). Al-Qur’an

Kata Al-Qur’an merupakan bentuk mashdar (kata benda) dari kata
kerja qara’a (‫ )قرأ‬yang bermakna talaa (‫[ )تلا‬keduanya memiliki arti:
membaca], atau bermakna jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Seseorang
dapat menuturkan, qara’a ­- qar’an- wa qur’aanan (‫ )قرأ قرءا وقرآنا‬sama seperti
ketika mengucapkan kata ghafara - ghafran - wa ghufraanan (‫)غفر غفرا وغفرانا‬.

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 15

Berdasarkan makna pertama (yakni: talaa) maka ia adalah mashdar yang
semakna dengan ism maf’ul, artinya matluw (yang dibaca), sedangkan
berdasarkan makna kedua (yaitu: jama’a) maka ia adalah mashdar dari
ism fa’il, artinya jaami’ (pengumpul, pengoleksi) karena ia mengumpulkan/
mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum.

Secara terminologi Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang
diturunkan kepada Rasul dan penutup para nabi-Nya, Nabi Muhammad
SAW, diawali dengan Surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-
Naas. Allah ta’ala berfirman:

             

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu (hai
Muhammad) dengan berangsur-angsur.” Q.S. Al-Insaan (76): 23.

                   

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa
Arab, agar kamu memahaminya.” Q.S. Yusuf (12): 2.

Allah SWT telah menjaga Al-Qur’an yang agung ini dari upaya
mengubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Allah
telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya:

                

“Sesunggunya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya.” Q.S. Al-Hijr (15): 9.

Oleh kerana itu, meskipun Al-Qur’an telah berusia berabad-abad,
namun tidak satu pun musuh-musuh Allah SWT yang berupaya dan
mampu mengubah, menambah, mengurangi, atau pun mengganti isinya.
Allah SWT pasti menghancurkan tabirnya dan membuka tipu dayanya.

Allah SWT menyebut Al-Qur’an dengan sebutan yang sangat
banyak, yang menunjukkan keagungan, keberkahan, pengaruh, dan
keuniversalitasannya, serta menunjukkan bahwa ia adalah pemutus bagi
kitab-kitab sebelumnya.

                 

16 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

“Dan sesunguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca
berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” Q.S. Al-Hijr (15): 87.

         

Dan firman-Nya: “Qaaf, Demi Al-Qur’an yang sangat mulia.” Q.S.
Qaaf (50): 1.

                         

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” Q.S. Shaad (38): 29.

                       

“Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati
maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” Q.S. Al-
An’am (6): 155.

                               

          

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang
lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang
menjajakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang benar.” Q.S.
Al-Isra (17): 9

                                 

               

“Kalau sekiranya kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung,
pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut
kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk
manusia supaya mereka berpikir. Q.S. Al-Hasyr (59): 21.

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 17

                       

                            

                    

“Dan apabila diturunkan suatu surah maka di antara mereka (orang-orang
munafik) ada yang berkata, ‘siapakah di antara kamu yang bertambah
imannya dengan (turunnya) surat ini.? Adapun orang-orang yang beriman
maka surah ini menambah imannya sedang mereka merasa gembira. Dan
adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit maka dengan
surah ini bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang
telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” Q.S. At-Taubah (9):
124-125.

                            

                               

                     

“Katakanlah, ‘siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah, ‘Allah’.
Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qur’an ini diwahyukan
kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan
kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya). Apakah
sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping
Allah? Katakanlah, ‘aku tidak mengakui.’ Katakanlah, ‘sesungguhnya Dia
adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari
apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” Q.S. Al-An’am (6): 19.

                           

                        

    

18 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan
segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-
orang yang berserah diri.” Q.S. An-Nahl (16): 89.

                           

                                  

                             

                         

       

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa
kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang
lain itu maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah
turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap
umat di antara kamu kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya
Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi
Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali
kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu
perselisihkan itu.” Q.S. Al-Maidah (5): 48.
Al-Qur’an Al-Karim merupakan sumber syari’at Islam yang karenanya
Rasulullah Muhammad SAW diutus kepada seluruh umat manusia. Allah
SWT berfirman:

                         

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an)
kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh
alam (jin dan manusia).” Q.S. Al-Furqan (25): 1.

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 19

Sedangkan sunnah Nabi Muhammad SAW juga merupakan sumber
tasyri’ (legislasi hukum Islam) sebagaimana yang dikukuhkan oleh Al-
Qur’an. Allah SWT berfirman:

                          

“Barangsiapa yang mena’ati rasul itu, sesungguhnya ia telah mena’ati
Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu) maka
Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”
Q.S. An-Nisa (4): 80.

                                  

                   

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula)
bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah
dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
Q.S. Al-Ahzab (33): 36.

                               

                               

                          



“Apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya
(dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah
untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan
beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang

20 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

diberikan Rasul kepadamumaka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimumaka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah amat keras hukumannya.” Q.S. Al-Hasyr (59): 7.

                             

 

“Katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Ali ‘Imran (3): 31.
Sudah menjadi keyakinan yang aksiomatik bagi umat Islam bahwa Al-
Qur’an adalah kitab atau wahyu yang berasal dari Allah SWT. Al-Qur’an
sendiri yang berarti ‘bacaan’ atau sesuatu yang dibaca secara berulang-
ulang merupakan salah satu dari banyak nama dari kitab suci umat Islam
tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

                    

           

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena
hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan
Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah
bacaannya itu. Q.S. Al-Qiyamah (75): 16-18.
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diberikan atau diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan media Bahasa Arab
melalui perantara malaikat Jibril dalam masa kira-kira 23 tahun. Nabi
Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu pada sekitar tanggal
10 Agustus 610 M dan berakhir hingga menjelang wafatnya pada tanggal
27 Oktober 632 M. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa ia turun tidak
sekaligus, tetapi secara bertahap dengan rincian 13 tahun di Makkah dan
10 tahun di Madinah.

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 21

                                    

           

“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘mengapa Al-Qur’an itu tidak
diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya kami
perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur
dan benar).” Q.S. Al-Furqan (25): 32.

                    

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur
agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami
menurunkannya bagian demi bagian.” Q.S. Al-Isra (17): 106.

Proses kehadiran Al-Qur’an yang panjang tersebut menjadikan Al-
Qur’an sebagai wahyu yang melakukan “dialog” dengan sejarah sosial
masyarakat kala itu. Dalam proses “dialog” tersebut tidak sedikit ayat
Al-Qur’an yang memberikan evaluasi dan kritik terhadap pandangan dan
praktik hidup masyarakat sekaligus juga memberi petunjuk transformatif
untuk mengubah pola hidup (keyakinan, pikiran, dan prilaku) yang tidak
benar dan tidak produktif ke arah yang benar dan produktif. Pada sisi lain,
pewahyuan Al-Qur’an dalam tempo yang relatif lama juga memungkinkan
Al-Qur’an dapat merespons kejadian aktual tersebut berbeda nuansanya
(Waryono, 2009: 198-199). Hal ini seperti diperlihatkan oleh ciri-ciri
umum surat makkiyah dan madaniyah serta kandungan yang ada di
dalamnya. Misalnya, respons Al-Qur’an atas relasi sosial antara umat
Islam dengan kaum Nasrani dan Yahudi.

2). Hadis

Selain Al-Qur’an, NU dalam pengambilan hukum juga berdasarkan
sumber hukum yang kedua, yaitu hadis atau sunnah. Adapun pengertian
hadis atau sunnah sebagai berikut.

a. Ta’rif Hadis

Hasbi Ash-Shiddieqy di dalam bukunya menjabarkan pengertian hadis
menjadi beberapa istilah, di antaranya:

22 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU

1. Menurut Bahasa (lughat)

Hadis menurut bahasa mempunyai beberapa arti, yaitu: pertama,
jadid lawan qadim, berarti yang baru. Kedua, qarib berarti yang dekat,
yang belum lama terjadi, seperti dalam perkataan “haditsul ahdi bi al-
Islam (orang baru memeluk agama Islam)”. Ketiga, khabar berarti warta,
yakni: ”ma yutahaddatsu bihi wa yunqalu” (sesuatu yang dipercayakan
dan dipindahkan dari seseorang kepada seseorang). Hadis yang ber­
makna khabar ini diistiqaqkan dari tahdits yang bermakna riwayat.
Apabila dikatakan, “haddatsana bi haditsi” maka maknanya “akhbarana
bihi haditsun” (dia mengabarkan sesuatu kabar kepada kami),
(Shiddieqy, 1977: 20).

Hadis-hadis dari Rasul dikatakan “ahaditsu ar-rasul”, tidak
dikatakan “hudtsanu ar-rasul, ataupun “uhdutsatu ar-rasul”. Allah
memakai kata “hadis” dengan arti “khabar”, seperti dalam firman-
Nya:

            

“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-
Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.” Q.S. Ath-Thuur
(52): 34.

Sebagaimana menurut pandangan ‘Ajjaj Al-Khatib yang menga­
takan bahwa secara etimologi kata hadits sinonim dengan kata khabar,
sedangkan secara terminologi hadist adalah sinonim dengan sunnah.
Keduanya diartikan sebagai segala sesuatu yang diambil dari Rasul
SAW, sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul.

2. Menurut Istilah Ahli Hadis

Menurut istilah ahli hadis, hadis adalah “segala ucapan, perbuatan,
dan taqrir (keadaan) Nabi Muhammad SAW”. Sebagian ulama,
seperti ath-Thiby berpendapat bahwa hadis itu melengkapi sabda,
perbuatan, dan taqrir Nabi; melengkapi perkataan, perbuatan dan
taqrir sahabat, sebagaimana melengkapi pula perkataan, perbuatan,
dan taqrir tabi’in.

3. Menurut Ahli Ushul Hadis

Hadis menurut ahli ushul hadis adalah “segala perkataan, per­
buatan, dan taqrir Nabi yang bersangkutan dengan hukum”. Tidak

Selayang Pandang Nahdlatul Ulama | 23

termasuk ke dalam hadis, sesuatu yang tidak bersangkutan dengan
hukum, seperti pakaian. Apabila disebut hadis sebagai nama bagi ilmu
(ilmu hadis) maka ta’rifnya, adalah “sesuatu ilmu yang menerangkan
segala yang dinukilkan atau disandarkan kepada Nabi atau kepada
sahabat dan tabi’in, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun
sifat”.

b. Ta’rif Sunnah

Menurut bahasa (lughat) sunnah bermakna jalan yang dijalani, terpuji
atau tidak. Sesuatu tradisi yang sudah dibiasakan walaupaun tidak baik.
Sabda Nabi SAW.

“Sesungguhnya kamu akan mengikuti sunnah-sunnah (perjalanan-
perjalanan) orang yang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta
demi sehasta, sehingga sekiranya mereka memasuki sarang dlab (serupa
biawak) sungguh kamu memasukinya juga”. (H.R. Muslim)

Hadis ini memberi pengertian bahwa perkataan sunnah diartikan
jalan, sebagaimana yang dikehendaki oleh ilmu bahasa itu sendiri.

Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadis) adalah segala yang
dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun
berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik sebelum
Nabi SAW dibangkitkan menjadi Rasul maupun sesudahnya. Sebagian
besar para muhadditsin menetapkan bahwa sunnah dalam arti ini menjadi
muradif bagi perkataan hadis. Sedangkan, sunnah menurut pendapat ahli
ushul fikih adalah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik perkataan
maupun perbuatan, ataupun taqrir yang mempunyai hubungan dengan
hukum, seperti sabda Nabi: “Sungguh telah aku tinggalkan untukmu dua
perkara, tidak akan sekali-kali kamu tersesat selama kamu berpegang teguh
kepadanya, yakni kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.”

Sunnah dalam domain ilmu hadis didefinisikan sebagai jalan atau
tradisi, baik yang bertendensi positif maupun negatif (as-sirat hasanatan
kanat aw qabihatan) (Khatib, 19980: 22-23). Menurut kebahasaan masya­
rakat Arab, sunnah berarti preseden yang kemudian ditiru orang lain,
apakah sezaman atau sesudahnya; tidak dipersoalkan apakah sunnah itu
baik atau buruk. Oleh karena itu, sunnah diterjemahkan dalam bahasa
Inggris dengan tradition atau adat istiadat dalam bahasa Indonesia. Dalam
tradisi Islam, sunnah disandarkan kepada Rasulullah SAW saja, karena

24 | Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah Pendiri dan Penggerak NU


Click to View FlipBook Version