The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

untuk memenuhi tugas muatan lokal (MULOK)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Syafira Afriani Arifin, 2020-10-29 05:18:22

MULOK_MACAM MACAM BATIK

untuk memenuhi tugas muatan lokal (MULOK)

Keywords: MULOK

Nama : Syafira Afriani Arifin
Kelas : X IPA 3

I. BATIK KELASIK

1) MOTIF BATIK PARANG KUSUMO

 Sesuai dengan namanya, batik Parangkusumo hanya dipakai oleh
kalangan keturunan raja secara turun-temurun bila berada didalam
keraton. Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya
terlihat indah. Motif batik parang dikenal familiar sebagai pola pedang
atau keris oleh orang luar. Panggilan jawa motif lidah api, biasa juga
disebut motif parang lidah api.

 Banyak ditemukan di daerah Solo dan Yogyakarta sebab
menurut sejarahnya

 Hingga saat ini Motif parang telah mengalami banyak perkembangan dan
modifikasi. Ratusan bahkan ribuan motif baru bermunculan sehingga
dapat memperkaya perbendaharaan motif batik di Indonesia.

2) MOTIF BATIK TRUNTUM

 Motif Truntum yang diciptakan oleh Kanjeng Ratu
Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) bermakna cinta yang
tumbuh kembali. Dia menciptakan motif ini sebagai symbol cinta yang
tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur
berkembang (tumaruntum). Karena maknanya, kain bermotif truntum
biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari penikahan. Harapannya
adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua
mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk
“menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru
Dikisahkan, suatu waktu ia memandang lagit penuh bintang dan
mendapat ilham untuk membuat karya batik dengan bintang-bintang,
maka jadilah motif truntum yang kita kenal sampai saat ini.

Kata Truntum sendiri berasal dari NUNTUN yang artinya adalah
menuntun. Nama itu filosofis karena bermakna menuntun kembali cinta
yang sebelumnya hilang. Dikisahkan, cinta sang raja kembali bersemi
pada Kanjeng Ratu Kencana karena ia sering melihat sang permaisuri
membatik motif bintang-bintang tadi. .
 Batik motif TRUNTUM berasal dari Kota SURAKARTA atau yang kita kenal
juga dengan nama Kota Solo.
 Pada perkembangannya, batik motif truntum sekarang dikreasikan
dengan kombinasi motif batik lain demi kebutuhan industri. Contohnya
batik truntum dikombinasikan dengan motif cakar, sawat, atau babon
angrem. Batiksolo adalah toko Batik online yang menyediakan aneka
kebutuhan batik anda.

3) MOTIF BATIK KAWUNG

 Motif ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-
usulnya. Motif Kawung Picis juga melambangkan empat penjuru
(pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali perbuatan baik).
Juga melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsu

yang terdapat pada diri manusia, sehingga ada keseimbangan pada diri
manusia.
 Batik Kawung adalah motif tua yang berasal dari tanah Jawa
4) MOTIF WAHYU TUMURUN

 Pada pola motif batik wahyu tumurun memiliki makna serta filosofi
tertentu. Pola mahkota terbang yang menjadi motif utama
menyimbolkan kemuliaan. Filosofinya menggambarkan pengharapan
agar para pemakainya mendapat petunjuk, berkah, rahmat, dan
anugerah yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengharapan
untuk mencapai keberhasilan dalam meraih cita-cita, kedudukan ataupun
pangkat. Sedangkan dalam hal khusus seperti pernikahan, motif ini
menyiratkan berkah kehidupan lahir batin dalam kehidupan berumah
tangga, keharmonisan dan kebahagiaan yang langgeng dan terjaga
selama-lamanya. Dalamnya makna kehidupan rumah tangga inilah yang
membuat motif wahyu tumurun dipilih sebagai motif khusus yang sering
dikenakan dalam upacara pernikahan adat Jawa.

 Wahyu Tumurun itu batik yang terkenal di Yogyakarta.
 Dalam perkembangan sekarang ini, kain batik motif wahyu tumurun

dapat digunakan sebagai kemeja pria, rok wanita, jas, blazer, dan
sebagainya. Saat menjahit, haruslah diperhatikan kedudukan motifnya,
jangan sampai bentuk mahkota atau ayam/burungnya dalam posisi
terbalik. Apabila dikenakan terbalik tentunya maknanya akan hilang.
Sering terjadi posisi mahkotanya dipasang berdiri seperti kuda laut, ini
sangat tidak tepat.

II. BATIK PEKALONGAN
1) MOTIF JLAMPRANG

 Motif Jlamprang merupakan salah satu batik yang cukup popular yang
diproduksi di daerah Krapyak Pekalongan. Batik ini merupakan
pengembangan dari motif kain Potola dari India yang berbentuk
geometris kadang berbentuk bintang atau mata angin dan menggunakan
ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Motif Jlamprang ini
diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan. Pada saat pedagang
dari Gujarat (India) datang di pantai utara Pulau Jawa,para pedagang itu
membawa kain tenun dan bahan sutra khas Gujarat dalam barang
dagangannya. Motif dan kain tersebut berbentuk geometris dan sangat
indah, dibuat dengan teknik dobel ikat yang disebut patola (sembagi atau
polikat) yang dikenal di Jawa sebagai kain cinde. Warna yang digunakan
adalah merah dan biru indigo.

 Motif Batik Jlamprang Pekalongan mendapatkan inspirasi motif
batik yang berasal dari para pedagang asal Gujarat, India.

 Seni Kerajinan Batik Jlamprang Dalam Dinamika Perubahan dan
Perkembangan ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
akademik di suatu perguruan tinggi manapun.

2) MOTIF LIONG

 Motif batik ini dipengaruhi dari adanya kebudayaan China. Dimana motif
yang tertuang berbentuk liong, atau bias disebut naga. Terkadang juga

bermotif burung phoenix yang sedikit mirip dengan naga dalam
penggambarannya. Dalam mitologi Tionghoa, motif ini menyimbolkan
adanya sumber kebaikan, kesuburan, dan kemakmuran. Sehingga
diharapkan ketika tertuang di dalam batik, dan batik itu dijual dan
digunakan. Akan mendatangkan kemakmuran yang melimpah ruah.
 Motif liong dipengaruhi oleh etnis Tionghoa yang berada didaerah Jawa.
3) MOTIF SEMEN

 Nama semen konon diambil dari kata semi. Dalam bahasa jawa, semi
berarti tumbuh (bersemi). Makna batik pekalongan satu ini adalah
tentang kehidupan yang dapat bertumbuh, bersemi, dan berkembang,
serta makmur.
Pendapat lain menyebut, makna yang terkandung dalam pola semen ini
terdiri dari 8 nasehat yakni agnibrata, bayubrata, sasibrata, endabrata,
pasabrata, suryabrata, yamabrata, dan dhanababrata.

 Berasal dari Surakarta, Jawa Tengah.
 Pengkaji maupun seniman dalam menghadapi perkembangan dinamika

dalam komunitas yang sangat komplek dan juga mengakibatkan
perubahan yang cepat pula dalam masyarakat di era globalisasi.
4) MOTIF SAWAT

 Dalam bahasa jawa, sawat berarti melempar. Sebagian orang jawa
memiliki kepercayaan bahwa alam semesta dikendalikan oleh Para Dewa.
Batara Indra adalah nama salah satu Dewa yang senjatanya adalah kilat.

Bentuk senjata ini menyerupai ular bertaring tajam. Cara penggunaannya
adalah dengan dilempar. Lalu, apa hubungannya dengan motif batik
sawat?

Bentuk pola ini memiliki makna yang sama, yakni dilempar untuk
perlindungan. Jadi intinya adalah melindungi atau mengayomi.

 Berasal dari pekalongan jawa tengah

 Motif Batik sawat ini hingga kini masih sering digunakan oleh pasangan
pengantin dalam acara prosesi pernikahan, filosofi batik sawat diyakni
bisa melindungi kehidupan pemakainya.

III. BATIK MONOCROMATIK

 Monokrom berasal dari kata mono dan chrom. Mono artinya satu atau tunggal,
chrom artinya warna. Jadi monokromatik berarti memiliki warna tunggal atau
satu warna. Oleh karena batik monochrome merupakan penerapan teknik batik
dan pewarnaan dengan satu jenis warna pada kain. Proses perintangan zat
warna pada kain dengan teknik batik cap, lebih ditekankan pada arah
pembentukan motif batiknya dengan satu macam jenis zat warna yang
disebut”monocolor”, yang penggarapannya lebih menekankan pada pengolahan
motif atau coraknya agar penampilan lebih menarik. Tingkat kelebihan terletak
pada bagaimana mengolah pewarnaan dari satu jenis warna dengan beberapa
wujud intensitas yang dapat mendukung motif. Pengolahan pewarnaan yang
baik akan mendukung motif dengan hasil yang lebih baik, walaupun hanya

 Berasal dari Pekalongan
 Perkembangan batik monocromatik saat ini berkembang dengan baik. Batik

monocromatik disebut batik modern,dalam teknik batik modern menggunakan
cara-cara modern yang tidak dikenal sebelumnya.warna-warna yang digunakan
tidak seperti batik tradisional yang hanya menggunakan warna
merah,sogan,biru,dan hitam.oleh karena itu batik monocromatik hanya
mempunyai satu jenis warna.

IV. BATIK JUMPUTAN
 Sejarahnya, teknik jumputan yang berasal dari negeri tirai bambu ini dibawa oleh
para saudagar India. Karena keragaman warna dan motif yang indah, maka
teknik ini pun berkembang di nusantara. Di Indonesia, batik jumputan biasa
diproduksi oleh beberapa daerah tertentu seperti Yogyakarta, Solo, Palembang,
Pekalongan, dan Bali di mana masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri
pada motifnya.
 Batik Jumputan merupakan kerajinan khas daerah Banjarmasin yang sangat
digemari masyarakat.

 Jumputan atau yang biasa dikenal sebagai teknik celup ikat ini berasal dari
Tiongkok. Sebelum sampai ke Nusantara dalam perkembangan batik
jumputan/jumputan kain, teknik celup ikat berkembang lebih dulu di India,
hingga akhirnya menyebar luas dan berkembang hingga saat ini.


1) MOTIF TUMPAL KUPU

2) MOTIF RANTAI

3) MOTIF MATAHARI

4) MOTIF CENGKEH

V. BATIK FORMIKA
 batik formika adalah batik yang dibuat dengan cara menempelkan warna di atas
permukaan kain. Teknik yg digunakan dalam tekstil di daerah Pekalongan pada
tahun 1973. Efek motif yang ditimbulkan pada batik formika adalah motif
abstrak. Batik formika adalah salah satu contoh batik modern lainnya yang
pembuatannya dengan cara menempelkan warna pada kain. Motif yang
dihasilkan adalah motif abstrak.
 Teknik yg digunakan dalam tekstil di daerah Pekalongan pada tahun 1973.

VI. BATIK LUKIS

 Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga
kadang kala suatu motif batik dapat dikenalin berasa dari batik keluarga tertentu.
Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang, bahkan sampai saat ini
beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarat
dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia “Jawa” yang sampai saat ini
masih ada, batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden
Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

 Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat ini
masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden
Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

 Meluasnya kesenian batik menjadi milik rakyat Indonesia, khususnya Suku Jawa,
terjadi setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Meski dikenal sejak zaman
Majapahit, namun perkembangan batik mulai menyebar pesat sejak memasuki
daerah Surakarta dan Yogyakarta.


Click to View FlipBook Version