MODUL AJAR PENGUKURAN DAN PEMETAAN LAHAN
SATUAN PENDIDIKAN : SMKN 5 JEMBER
BIDANG KEAHLIAN
PROGRAM KEAHLIAN : AGRIBISNIS DAN AGRITEKNOLOGI
KONSENTRASI KEAHLIAN
FASE/ KELAS/SEMESTER : USAHA PERTANIAN TERPADU
ELEMEN/MATA PELAJARAN
PENULIS : MEKANISASI PERTANIAN
: F / XI/GASAL
: PENGUKURAN DAN PEMETAAN LAHAN
PERTANIAN
: NINIT KURNIAWATI RACHMAN, S.TP
INFORMASI UMUM
A. Tujuan Pembuatan Modul
Modul Pengukuran dan Pemetaan Lahan Pertanian ini dibuat dengan tujuan:
1. Menyediakan bahan ajar Pengukuran dan Pemetaan Lahan Pertanian yang sesuai dengan
Kurikulum SMK Pusat Keunggulan SMK Negeri 5 Jember dalam salah satu upaya
membimbing peserta didik sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
2. Membantu peserta didik mendapatkan alternatif bahan ajar Pengukuran dan Pemetaan
Lahan Pertanian disamping buku-buku teks atau sumber belajar dari internet.
3. Memudahkan peserta didik belajar Pengukuran dan Pemetaan Lahan Pertanian di dalam
kelas maupun di luar kelas/sekolah.
4. Memudahkan peserta didik dan guru dalam melaksanakan pembelajaran Pengukuran dan
Pemetaan Lahan Pertanian.
Kompetensi Keahlian
A. Kompetensi Inti
1. KI-3 (Pengetahuan)
Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan
faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan
lingkup kerja Alat Mesin Pertanian pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks,
berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga
masyarakat nasional, regional, dan internasional.
2. KI-4 (Keterampilan)
Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang
lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Alat Mesin
Pertanian. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang
terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif,
produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas
spesifik di bawah pengawasan langsung.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak mahir,
menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
3.5.1 Menelaah teknik pengukuran jarak dilapangan
3.5 Menganalisis teknik 3.5.2 Mengukur dengan teknik pengukuran jarak dilapangan
pengukuran jarak dilapangan
4.5 Mengukur jarak di lapangan 4.5.1 Mendemonstrasikan mengukur jarak di lapangan
4.5.2 Mengukur jarak di lapangan
C. Tujuan Pembelajaran:
3.2. Melalui diskusi dan menggali informasi, peserta didik dapat :
1. Menelaah teknik pengukuran jarak dilapangan dengan tepat.
2. Mengukur dengan teknik pengukuran jarak dilapangan dengan benar.
4.2. Melalui praktek, peserta didik dapat :
1. Mendemonstrasikan mengukur jarak di lapangan secara mandiri dan bertanggung jawab.
2. Mengukur jarak di lapangan dengan benar.
D. Materi Pembelajaran
1. Macam-macam alat pengukuran jarak dilapangan
2. Teknik pengukuran jarak dilapangan
3. Prosedur pengukuran jarak dengan alat pengukuran dan pemetaan lahan pertanian
4. Penggunaan alat pengukuran dan pemetaan lahan pertanian
MATERI PEMBELAJARAN
A. ALAT UKUR TANAH
1. ALAT UKUR SEDERHANA
1. Rol Meter/Meteran (Measuring Tape)
Pengertian Rol Meter/Meteran
Meteran, sering disebut pita ukur atau tape karena umumnya tersaji dalam bentuk pita dengan
panjang tertentu. Sering juga disebut rol meter karena umumnya pita ukur ini pada keadaan
tidak dipakai atau disimpan dalam bentuk gulungan atau rol.
Ada 3 jenis meteran/pita ukur yaitu:
1) Meteran atau Pita Ukur Dari Kain (Metalic Cloth)
Gambar 1.1.1. Metalic Cloth
Meteran atau pita ukur ini terbuat dari kain linen dan anyaman kawat halus yang terbuat dari
tembaga atau kuningan. Meteran ini mempunyai sifat sebagai berikut :
Fleksibel
Mudah rusak
Pemuaiannya besar
Tingkat ketelitiannya sangat rendah
2) Meteran atau Pita Ukur Baja (Steel Tape)
Gambar 1.1.1. Steel Tape
Meteran atau pita ukut ini terbuat dari bahan baja. Meteran ini mmpunyai sifat sebagai berikut
:
Agak kaku
Tahan lama
Tahan air
Pemuainnya kecil
Tingkat ketelitiannya agak teliti atau sedang
3) Meteran atau Pita Ukur Baja Aloy (Steel Alloy)
Meteran atau pita ukur ini terbuat dari bahan campuran antara baja dan nikel. Meteran ini
mempunyai sifat sebagai berikut :
Tahan lama
Tahan air
Hampir tidak dipengaruhi suhu
Pemuainnya hanya 1/3 dari meteran baja
Tingkat ketelitiannya tinggi atau lebih teliti dari jenis pita ukur atau meteran yang lain
Fungsi Rol Meter/Meteran
Fungsi utama atau yang umum dari meteran ini adalah untuk mengukur jarak atau panjang.
Yang perlu diperhatikan saat menggunakan meteran antara lain :
Satuan ukuran yang digunakan ada 2 satuan ukuran yang biasa digunakan, yaitu satuan
inggris (inch, feet, yard) dan satuan metrik (mm, cm, m).
Satuan terkecil yang digunakan mm atau cm, inch atau feet.
Penyajian angka nol atau bacaan nol pada meteran ada yang dinyatakan tepat di ujung awal
meteran dan ada pula yang dinyatakan pada jarak tertentu dari ujung awal meteran.
Cara Menggunakan Rol Meter/Meteran
Cara menggunakan alat ini relatif sederhana, cukup dengan merentangkan meteran ini dari
ujung satu ke ujung lain dari objek yang diukur. Namun demikian untuk hasil yang lebih akurat
cara menggunkan alat ini sebaiknya dilakukan sebagai berikut:
Lakukan oleh 2 orang .
Seorang memegang ujung awal dan meletakan angka nol meteran di titik yang pertama.
Seorang lagi memegang rol meter menuju ke titik pengukuran lainnya, tarik meteran
selurus mungkin dan letakan meteran di titik yang dituju dan baca angka meteran yang
tepat di titik tersebut.
2. Mistar
Pengertian Mistar
Mistar adalah alat ukur panjang yang memiliki skala terkecil 1 mm. Mistar ini memiliki
ketelitian 0,5 mm yaitu setengah skala terkecil. Umumnya panjang yang digunakan sekitar 50
cm – 100 cm. Ketelitian adalah nilai terkecil yang masih dapat diukur oleh alat ukur.
Gambar 1.2.1. Mistar/Penggaris
Fungsi Mistar
Mistar banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari, sebagai misal digunakan untuk
mengukur panjang suatu meja, kain, buku, ruangan kelas dan lain lain.
3. Kompas (Compass)
Pengertian Kompas
Kompas adalah sebuah alat dengan komponen utamanya jarum dan lingkaran berskala. Salah
satu ujung jarumnya dibuat dari besi berani atau magnit yang ditengahnya terpasang pada suatu
sumbu, sehingga dalam keadaan mendatar jarum magnit dapat bergerak bebas ke arah
horizontal atau mendatar menuju arah utara atau selatan. Kompas yang lebih baik dilengkapi
dengan nivo, cairan untuk menstabilkan gerakan jarum dan alat pembidik atau visir. Kompas
ini beragam bentuknya.
Gambar 1.3.1. Kompas
Fungsi Kompas
Fungsi utama dari kompas adalah untuk menentukan arah mata angin terutama ke utara atau
ke selatan sesuai dengan magnit yang digunakan. Kegunaan lain yang juga didasarkan pada
penunjukan arah utara atau ke selatan adalah :
1) Penentuan arah dari satu titik/tempat ke titik/tempat lain, yang ditunjukan oleh besarnya
sudut azimut, yaitu besarnya sudut yang dimulai dari arah utara atau selatan, bergerak searah
jarum jam sampai di arah yang dimaksud.
2) Mengukur sudut horizontal.
3) Membuat siku-siku.
Cara Menggunakan Kompas
Cara menggunakan kompas untuk menentukan arah ke tujuan :
Pegang alat dengan kuat di atas titik pengamatan.
Atur agar alat dalam keadaan mendatar agar jarum dapat bergerak dengan bebas. Kalau
alat ini dilengkapi dengan nivo atur gelembung nivo ada di tengah.
Baca angka skala lingkaran yang menuju arah/titik yang dimaksud
4. Alidade
Pengertian dan Fungsi Alidade
Alidade adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur dan pemetaan topografi
sederhana, yang terdiri atas papan gambar yang dipasang pada kaki tiga, yang di lengkapi pula
dengan penyipat datar, unting-unting, kompas dan teropong atau pembidik. Alidade juga
digunakan sebagai indikator atau sebuah alat pengamat di atas meja pesawat, yang di gunakan
pada saat pengukuran sudut. Sebuah survei pemetaantopografi dan instrumen yang digunakan
untuk menentukan arah, yang terdiri dariteleskop dan bagian terpasang yang berguna untuk
melihat objek yang jauh. Garis padang berguna untuk menarik garis di sebuah meja pesawat
ke arah objek atau untuk mengukur sudut untuk objek dari beberapa titik acuan. Sudut dapat
pula di ukur dalamhorisontal, vertikal dan apapun sesuai dengan pilihan.Alidade tediri dari
beberapa bagian yaitu bar, batang atau serupa dengankomponen baling-baling di kedua ujung.
Baling-baling tersebut memiliki lubang, slotatau indikator lainnya yang melaluinya agar orang
dapat melihat objek yang jauh.Mungkin juga ada pointer atau pointer pada alidade untuk
menunjukkan posisi padaskala. Sejak dulu sampai sekarang alidade telah dibuat dari beberapa
jenis bahanyaitu: kayu, gading, kuningan dan bahan lainnya.
Gambar 1.4.1. Alidade
5. Hand Level (Teropong Pendatar Tangan)
Pengertian dan Fungsi Teropong Pendatar Tangan
Bagian utama dari alat ini adalah teropong sebagai alat pembidik dan nivo sebagai alat yang
menunjukkan kondisi mendatar. Teropong pendatar tangan digunakan untuk memperoleh
pandangan mendatar atau titik-titik yang sama tingginya dengan ketinggian teropong,
menentukan beda tinggi antara dua titik/tempat, dan menentukan kemiringan atau lereng antara
dua titik tempat. Pada pengoperasian-nya cukup dipegang dengan tangan.
Alat ini dapat dibedakan dari kelengkapan alatnya dan ketelitian bacaan sudut miringnya. Ada
beberapa jenis alat yang termasuk dalam alat teropong pendatar tangan yaitu :
1. Teropong pendatar tangan biasa
Alat ini terdiri dari teropong yang didalamnya terdapat benang silang dan nivo sebagai
penunjuk keadaan mendatar.
Gambar 1.5.1. Teropong Pendatar Tangan Biasa
2. Abney level
Abney level adalah sebuah alat yang di pakai untuk mengukur ketinggian yang terdiri dari skala
busur derajat. Beberapa kelebihan abney level adalah mudah untuk digunakan, relative murah
dan akurat. Abney level di gunakan untuk mengukur derajat dan elevasi topografi. Alat ini
berupa teropong yang dilengkapi dengan busur setengan lingkaran.
Gambar 1.5.1. Abney level
3. Sunto level
Alat ini seperti abney level, tetapi lingkaran skalanya ada di dalam alat sehingga alat ini tidak
terlihat seperti bentuk teropongnya tetapi menyerupai kotak pipih seperti korek api.Abney level
dan Sunto level umumnya dikenal sebagai alat untuk mengukur lereng atau kemiringan lahan.
Gambar 1.5.1. Sunto Level
Cara Menggunakan Teropong Pendatar Tangan
Cara menggunakan teropong pendatar tangan biasa dengan abney level dan sunto level agak
berbeda.
1. Teropong pendatar tangan biasa
Cara menggunakan teropong pendatar tangan biasa adalah sebagai berikut :
1) Teropong dipegang, lubang pembidiknya diletakan di depan mata, berdiri di titik awal.
2) Ukur tinggi mata kita, sebagai tinggi alat.
3) Bidikan ke sasaran, atur agar gelembung nivo tepat di benang silang. mendatar, (Bila
dimaksudkan untuk menentukan beda tinggi, maka di titik yang dibidik atau titik sasaran
dipasang rambu ukur, sehingga ketinggian garis bidik di titik tersebut diketahui).
2. Abney level atau sunto level
Cara menggunakan abney level atau sunto level adalah sebagai berikut :
1) Alat dipengang, lubang pembidiknya diletakan di depan mata, berdiri di titik awal.
2) Ukur tinggi mata kita, sebagai tinggi alat.
3) Bidikan ke rambu ukur yang dipasang di titik berikutnya/titik yang akan dibidik, atur
bacaan bidikan sama tingginga dengan ketinggian alat..
4) Baca skala kemiringannya.
6. Klinometer(Clinometer)
Pengertian Klinometer
Klinometer adalah alat sederhana untuk mengukur sudut elevasi antara garis datar dan sebuah
garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak (ujung)
sebuah objek. Aplikasinya digunakan untuk mengukur tinggi (panjang) suatu objek dengan
memanfaatkan sudut elevasi.
Fungsi Klinometer
Fungsi atau kegunaannya adalah untuk menentukan besar sudut elevasi dalam mengukur tinggi
obyek secara tidak langsung.
Gambar 1.6.2. Klinometer
Cara Menggunakan Klinometer
Dalam menggunakan klinometer sebaiknya dilakukan oleh dua orang, satu orang memegang
dan membidik sasaran yang akan diukur dan satu orang yang lain melakukan pengamatan
dengan membaca sudut dan mencatat hasilnya.
7. Odometer
Pengertian Odometer
Odometer adalah alat pengukuran di lapangan yang berupa roda dengan keliling tertentu yang
dipasang pada suatu tangkai sebagai pegangan. Pada tangkai tersebut dipasang alat hitungan
putaran roda berupa bunyi atau angka.
Gambar 1.8.1. Odometer
Fungsi Odometer
Alat ini sangat praktis untuk mengukur jarak suatu jalur dimana jalurnya berbelok-belok dan
naik turun, seperti halnya jalur jalan dalam rangka pengaspalan atau di pertanian sendiri pada
pengukuran luas lahan bergelombang dan bentuk petakannya tidak beraturan
Cara Menggunakan Odometer
Odometer merupakan metode sederhana hampir mirip dengan metode langkah, yaitu mengukur
jarak dengan menghitung jumlah putaran roda yang kelilingnya diketahui, bila roda tersebut
digelindingkan antara dua titik pengukuran.
Jarak dihitung dengan persamaan berikut :
Jarak = Jumlah putaran roda x keliling roda
Contoh :
Antara titik A dan B ditempuh dengan 120 putaran
Keliling lingkaran = 60 cm
Jarak antara titik A dan B = 120 putaran x 60cm/putaran = 7.200 cm = 72 m
2. ALAT UKUR OPTIK
1. Waterpass
Pengertian dan Fungsi Waterpass
Alat ukur optis untuk mengukur beda tinggi antara dua titik atau lebih dan penggunaanya
sangat luas seperti pekerjaan sipil, pemetaan, pertanahan dan lain-lainnya.
Syarat-syarat pemakaian waterpass:
1) Syarat dinamis : Sumbu 1 vertikal
2) Syarat statis
Garis mendatar diafragma sejajar sumbu 1
Garis arah nivo tegak lurus sumbu 1
Garis bidik teropong sejajar garis dengan garis arah nivo
Alat waterpass mempunyai beberapa bagian utama
Bagian-bagian alat :
Gambar 2.1.1. Bagian-bagian Waterpass
Fungsi bagian-bagian alat :
Cermin nivo : untuk memantulkan bayangan nivo
Nivo : untuk mengetahui kedataran alat
visir bidikan : untuk mengarahkan arah bidikan teropong
Sekrup fokus benang : untuk memfokuskan benang bidikan
Lensa bidik : untuk melihat bidikan
Sekrup penggerak horisontal : untuk menggerakan secara halus arah bidikan horisontal
teropong
Sekrup leveling : untuk me-level-kan (mendatarkan) alat
Plat dasar : untuk landasan alat ke tripot
Body teropong : badan teropong
Sekrup fokus obyek : untuk memfokuskan obyek bidikan
Rumah lensa depan : untuk tempat lensa depan
Skala gerakan sudut horisontal : untuk mengetahui besar gerakan sudut horisontal
No seri alat : nomor seri untuk identifikasi alat
Cara Menggunakan Waterpass
a. Pasang kaki tiga penyangga/tripod/statip pada tempat yang dikehendaki, biasanya pada
titik ikat atau pada titik yang sudah diketahui koordinat dan elevasinya.
b. Pastikan kaki tiga penyangga terpasang secara kuat dan stabil serta posisi pelat tempat
dudukan alat ukur (tribrach) pada posisi semendatar mungkin.
c. Kencangkan sekrup-sekrup penguat yang ada pada masing-masing kaki secukupnya.
d. Pasang waterpass pada dudukan atau tribrach dan kencangkan sekrupnya.
e. Atur sumbu I vertikal dan sumbu II horisontal dengan menggunakan sekrup penyeimbang
nivo kotak, yang biasanya disebut sekrup A, B, C.
f. Pengaturan dilakukan pertama-tama dengan posisi nivo sejajar dengan posisi kita berdiri,
tepatkan gelembung nivo tepat di dalam lingkaran yang ada.
g. Putar waterpass terhadap sumbu I sebesar 900 terhadap posisi kita, cek apakah posisi nivo
masih tetap berada di tengah lingkaran, jika gunakan sekrup C untuk menempatkan nivo
kembali ke tengah lingkaran.
h. Jika centering dan posisi gelembung pada masing-masing nivo sudah berada pada tengah-
tengah bidang nivo pada segala posisi maka alat sudah siap untuk dioperasikan.
2. Theodolit
Pengertian Theodolit
Theodolite atau theodolit adalah instrument / alat yang dirancang untuk menentukan tinggi
tanah pengukuran sudut yaitu sudut mendatar yang dinamakan dengan sudut horizontal dan
sudut tegak yang dinamakan dengan sudut vertical.
Syarat – syarat utama yang harus dipenuhi alat theodolite sehingga siap dipergunakan
untuk pengukuran yang benar adalah sebagai berikut :
1. Sumbu ke I harus tegak lurus dengan sumbu II / vertical ( dengan menyetel nivo tabung
dan nivo kotaknya ).
2. Sumbu II harus tegak lurus Sumbu I.
3. Garis bidik harus tegak lurus dengan sumbu II (Sumbu II harus mendatar).
4. Tidak adanya salah indeks pada lingkaran kesatu (kesalahan indek vertical sama dengan
nol).
5. Apabila ada nivo teropong, garis bidik harus sejajar dengan nivo teropong
6. Garis jurusan nivo skala tegak, harus sejajar dengan garis indeks skala tegak.
7. Garis jurusan nivo skala mendatar, harus tegak lurus dengan sumbu II ( Garis bidik tegak
lurus sumbu kedua / mendatar).
Macam – Macam Theodolit
Dari konstruksi dan cara pengukuran, dikenal 3 macam theodolite :
1. Theodolite Reiterasi
Pada theodolite reiterasi, plat lingkaran skala (horizontal) menjadi satu dengan plat lingkaran
nonius dan tabung sumbu pada kiap. Sehingga lingkaran mendatar bersifat tetap. Pada jenis ini
terdapat sekrup pengunci plat nonius.
Gambar 2.2.1. Konstruksi Theodolite Type Reiterasi
2. Theodolite repetisi
Pada theodolite repetisi, plat lingkaran skala mendatar ditempatkan sedemikian rupa, sehingga
plat ini dapat berputar sendiri dengan tabung poros sebagai sumbu putar. Pada jenis ini terdapat
sekrup pengunci lingkaran mendatar dan sekrup nonius.
Gambar 2.2.1. Konstruksi Theodolite Type Repetisi
3. Theodolite Elektro Optis
Dari konstruksi mekanis sistem susunan lingkaran sudutnya antara theodolite optis dengan
theodolite elektro optis sama. Akan tetapi mikroskop pada pembacaan skala lingkaran tidak
menggunakan system lensa dan prisma lagi, melainkan menggunkan system sensor. Sensor ini
bekerja sebagai elektro optis model (alat penerima gelombang elektromagnetis). Hasil pertama
system analog dan kemudian harus ditransfer ke system angka digital. Proses penghitungan
secara otomatis akan ditampilkan pada layer (LCD) dalam angka decimal.
Gambar 2.2.1. Theodolite Elektro Optis
Bagian-bagian dan Kerangka Dasar Theodolite
Gambar 2.2.1. Bagian-Bagian Theodolit
Fungsi Theodolit
Dalam pekerjaan – pekerjaan ukur tanah, teodolit sering digunakan dalam pengukuran
polygon, pemetaan situasi maupun pengamatan matahari. Teodolit juga bisa berubah
fungsinya menjadi seperti PPD bila sudut vertikalnya dibuat 90°. Dengan adanya teropong
yang terdapat pada teodolit, maka teodolit bisa dibidikkan ke segala arah. Untuk pekerjaan-
pekerjaan bangunan gedung, teodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku
pada perencanaan / pekerjaan pondasi, juga dapat digunakan untuk mengukur ketinggian
suatu bangunan bertingkat.
Cara Menggunakan Theodolit
Cara kerja penyiapan alat theodolit antara lain :
1. Kendurkan sekrup pengunci perpanjangan
2. Tinggikan setinggi dada
3. Kencangkan sekrup pengunci perpanjangan
4. Buat kaki statif berbentuk segitiga sama sisi
5. Kuatkan (injak) pedal kaki statif
6. Atur kembali ketinggian statif sehingga tribar plat mendatar
7. Letakkan theodolite di tribar plat
8. Kencangkan sekrup pengunci centering ke theodolite.
9. Atur (levelkan) nivo kotak sehingga sumbu kesatu benar-benar tegak / vertical dengan
menggerakkan secara beraturan sekrup pendatar / kiap di tiga sisi alat ukur tersebut.
10. Atur (levelkan) nivo tabung sehingga sumbu kedua benar-benar mendatar dengan
menggerakkan secara beraturan sekrup pendatar / kiap di tiga sisi alat ukur tersebut.
11. Posisikan theodolite dengan mengendurkan sekrup pengunci centering kemudian geser
kekiri atau kekanan sehingga tepat pada tengah-tengah titi ikat (BM), dilihat dari centering
optic.
12. Lakukan pengujian kedudukan garis bidik dengan bantuan tanda T pada dinding.
13. Periksa kembali ketepatan nilai index pada system skala lingkaran dengan melakukan
pembacaan sudut biasa dan sudut luar biasa untuk mengetahui nilai kesalaha index
tersebut.
3. ALAT PENUNJANG
1. Tripod/Statif/Kaki Tiga
Pengertian Tripod/Statif/Kaki Tiga
Merupakan piranti untuk mendirikan alat di lapangan yang terdiri dari kepala statip dan kaki
tiga yag dapat di stel ketinggiannya. Statip terbuat dari kayu atau dari metal alumunium
sehingga lebih ringan.
Gambar 3.1.1. Tripod/Statif/Kaki Tiga
Fungsi Tripod/Statif/Kaki Tiga
Kegunaan tripod adalah untuk menunjang theodolit.
Cara Menggunakan Tripod/Statif/Kaki Tiga
Ketinggian statif dapat diatur, disesuaikan dengan ketinggian si pengamat dan pemutaran baut
statif jangan terlalu keras agar tidak cepat rusak kepala statif ada yang datar, melengkung
(sferis), ada pula yang menyerupai bonggol (Kern) dengan sambungan alat sentering tongkat
teleskopis sekaligus untuk mengukur tinggi alat.
2. Leveling Road/Rambu Ukur
Pengertian Leveling Road/Rambu Ukur
Rambu ukur adalah alat yang terbuat dari kayu atau campuran alumunium yang diberi skala
pembacaan. Alat ini berbentuk mistar ukur yang besar, mistar ini mempunyai panjang 3, 4
bahkan ada yang 5 meter. Skala rambu ini dibuat dalam cm, tiap-tiap blok merah, putih, atau
hitam menyatakan 1 cm, setiap 5 blok tersebut berbentuk huruf E yang menyatakan 5 cm, tiap
2 buah E menyatakan 1 dm. Tiap-tiap meter diberi warna yang berlainan, merah-putih, dll.
Kesemuanya ini dimaksudkan agar memudahkan dalam pembacaan rambu.
Gambar 3.2.1. Leveling Road/Rambu Ukur
Fungsi Leveling Road/Rambu Ukur
Fungsi utama dari rambu ukur ini adalah untuk mempermudah/membantu mengukur beda
tinggi antara garis bidik dengan permukaan tanah. Hal yang perlu diperhatikan dari rambu
adalah :
Skala rambu dalam cm atau mm atau interval jarak pada garis-garis dalam rambu tersebut
setiap berapa cm atau berapa mm.
Skala dari rambu, terutama pada daerah sambungan rambu harus benar.
Cara Menggunakan Leveling Road/Rambu Ukur
Cara menggunakan rambu ukur :
1. Atur ketinggian rambu ukur dengan menarik batangnya sesuai dengan kebutuhan,
kemudian kunci.
2. Letakkan dasar rambu ukur tepat diatas tengah-tengah patok (titik) yang akan dibidik.
3. Usahakan rambu ukur tersebut tidak miring/condong (depan, belakang, kiri dan kanan),
karena bisa mempengaruhi hasil pembacaan.
3. Unting-Unting
Pengertian Unting-Unting
Unting-unting merupakan bandul yang terbuat dari besi atau kuningan yang berbentuk kerucut
dengan ujung bawah lancip dan digantungkan pada bagian tengah tripod/statif tegak lurus titik.
Gambar 3.3.1. Unting-Unting
Fungsi Unting-Unting
Unting-unting berguna untuk memproyeksikan suatu titik pada pita ukur di permukaan tanah
atau sebaliknya.
Cara pemakaian
Unting-unting digantungkan dan unting-unting harus tegak lurus titik.
4. Jalon
Pengertian Jalon
Jalon merupakan tongkat dengan ujung runcing, berguna sebagai penanda titik yang akan di
tembak sudutnya, jalon merupakan pasangan alat theodolit.
Fungsi Jalon
Jalon berfungsi untuk membantu dalam pengukuran di lapangan sebagai pelurusan dalam
mengukur.
4. ALAT UKUR ELEKTRONIK
1. Global Positioning System (GPS)
Pengertian Global Positioning System (GPS)
Global Positioning Sistem (GPS) merupakan sistem yang terdiri dari konstelasi satelit radio
navigasi, segmen kontrol tanah yang mengelola operasi satelit dan pengguna dengan receiver
khusus yang menggunakan data satelit untuk memenuhi berbagai persyaratan posisi. GPS
merupakan salah satu metode dalam geodesi satelit yang digunakan untuk penentuan posisi di
permukaan bumi secara 3D dimana penentuannya menggunakan teknik trilaterasi dengan
menggunakan jarak dari beberapa lokasi yang diketahui untuk menentukan koordinat lokasi
yang tidak diketahui. GPS terdiri atas tiga segmen, yaitu segmen satelit, segmen control dan
segmen pengguna, lihat gambar (3.1). Konstelasi dan konfigurasi orbit dari satelit GPS
dirancang sedemikian rupa sehingga sistem ini dapat dimanfaatkan kapan dan dimana saja,
lihat gambar (3.2).
Gambar 4.1.1. Tiga Segmen GPS
Fungsi Global Positioning System (GPS)
GPS mempunyai berbagai pemanfaatan, tidak hanya untuk keperluan militer, geodesi, survey
dan pemetaan, tetapi juga untuk penelitian dalam geofisika, seperti geodinamika, strudi
deformasi, studi atmosfer dan meteorologi, keperluan oseanografi dan sebagainya. GPS juga
dimanfaatkan untuk navigasi pesawat udara, perhubungan darat dan laut. Hal ini disebabkan
GPS tidak tergantung pada keadaan cuaca, dan dapat digunakan dalam keadaan statik atau
kinematik, serta dapat dipasang di mobil, kerata api, kapal laut, pesawat udara bahkan satelit.
Tetapi perlu diketahui bahwa GPS juga mempunyai kelemahan, karena tidak dapat
dimanfaatkan ditempat dimana sinyal satelit GPS tidak dapat diterima oleh antena alat
penerima yang berada dalam dalam ruang, di bawah terowongan atau di dalam air. Oleh karena
itu untuk meningkatkan akurasi dan ketelitian data, kombinasi pengukuran GPS dengan
pengukuran posisi geodetik cara konvensional, yaitu pengukuran sudut dan jarak sering
dilakukan.
Gambar 4.1.2. Receiver GPS 1
Cara Menggunakan Global Positioning System (GPS)
Menghidupkan Receiver Garmin GPS Navigation 60
Nyalakan GPS 76CSx Anda dan tunggu sampai sinyal satelit terhubung dengan GPS.
Gambar 4.1.3. Halaman Satelit dan Halaman Menu
Secara default fitur/halaman menghitung luas belum ada di GPS Anda, untuk itu halaman harus
di setting manual dengan cara :
a) Tekan tombol MENU 2 kali, akan muncul halaman menu utama, setelah itu pilih SETUP
>ENTER> Page Sequence> ENTER.
b) Muncul halaman tambah halaman, tekan tombol Rocker bawah sampai ke pilihan Add
Page lalu ENTER. Pilih Area Calculation dan akhiri dengan tombol ENTER.
Gambar 4.1.3. Halaman Menu Setup dan Halaman Sequence.
Setelah penambahan halaman sudah dilakukan, langkah selanjutnya yaitu tekan tombol PAGE
beberapa kali sampai muncul halaman Area Calculation> Start> ENTER.
Setelah itu tombol Start berubah menjadi tombol Stop, jika demikian berarti GPS sudah siap
digunakan untuk menghitung Luas Area.
Gambar 4.1.3. Halaman peta dari Area Calculation.
Silahkan anda berjalan di area yang akan dihitung luasnya, dari titik A (mulai) sampai kembali
ke titik A lagi (akhir).
Setelah mengelilingi area yang diukur, lalu Anda tekan tombol Stop. Dibawah tombol Stop
akan muncul hasil dari perhitungan area tersebut.
Di halaman selanjutnya akan muncul keterangan dari hasil kalkulasi area, seperti :
a) Name (anda bisa mengganti nama yang Anda inginkan dengan menekan tombol Rocker
ke atas sampai ke field Name,
b) ENTER dan isi nama sesuai yang Anda inginkan), selain informasi Name ada juga
informasi Distance (jarak), Area, dan Color (warna). Setelah itu Anda tekan tombol OK
untuk menyimpan hasil pengukuran.
Gambar 4.1.3. Halaman peta dari Area Calculation dan Halaman Area Calculation.
Catatan : Pengukuran luas area menggunakan GPS Garmin sangat tidak disarankan karena
akurasi GPS Garmin sekitar 5 - 15 meter, untuk pengukuran yang lebih akurat Anda bisa
menggunakan GPS tipe Pemetaan atau GPS Geodetik yang akurasinya bisa mencapai 5mm -
10mm.
Langkah-langkah memasukkan titik ke dalam Google Earth :
1. Membuka Aplikasi google Earth, setelah Aplikasi terbuka, pilih Add yang berada di
deretan Menu > pilih Placemark / Ctrl + Shift + P
Gambar 4.1.3. Penambahan titik pada google earth.
2. Setelah muncul Google Earth – New Placemark > Masukkan koordinat yang tempat
yang akan di masukkan mulai dari Zone, Easting, Northing ( Jika Koordinatnya UTM) >
ubahlah nama yang pada tempat yang anda inginkan, misal Prodi P. Geografi > setelah semua
selesai pilih OK maka akan muncul seperti pada gambar di bawah ini
Gambar 4.1.3. Halaman Google Earth – New Placemark
Gambar 4.1.3. Titik Baru (New Placemark) di Google Earth
2. Theodolite Digital
Pengertian Theodolite Digital
Jenis theodolit yang dimana cara pembacaan sudut horizontal dan vertikalnya hanya dibaca
dengan otomatis pada layar yang ada dalam alat tersebut, dan cara penyentringan alatnya pun
berbeda dimana theodolit digital hanya dengan cara sentering laser.
Gambar 4.2.1. Theodolit Digital
Fungsi Theodolite Digital
Theodolit merupakan salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan sudut
mendatar dan sudut tegak. Sudut yang dibaca bisa sampai pada satuan detik.
Cara Menggunakan Theodolite Digital
Ada empat syarat yang harus diperhatikan dalam persiapan dan pengecekan kelayakan standar
pakai Theodolite digital antara lain :
1. Sumbu tegak (sumbu I) harus benar-benar tegak.
2. Sumbu kedua atau sumbu horizontal harus mendatar.
3. Teropong atau garis bidik harus tegaklurus sumbu kedua
4. Kesalahan indeks pada skala lingkaran tegak harus sama dengan nol.
Penggunaan Dan Tata Cara Pemakaian Alat Ukur Tanah Theodolite Digital
Cara penggunaan theodolit digital:
a) Cara pengaturan optis alat diletakkan di atas patok, paku payung terlihat pada lensa
teropong untuk mengetengahkan optis.
b) Pasang statip diatas titik yang tentu dipermukaan tanah sedemikian rupa sehingga kaki-
kakinya membentuk piramida sama sisi, kencangkan sekrup statip, tancapkan dengan
cukup kuat kedalam tanah, dan usahakan kepala statip sedatar mungkin, untuk
memudahkan pengaturan nivo tabung dan nivo kotak dan pastikan titik tengah kepala
statip berimpit dengan titik /patok.
c) Ambil pesawat theodolit dengan hati – hati dan pasang pada kepala statip.
d) Posisikan theodolit pada titik yang tentu (jika ada) dengan memasang unting-unting atau
melihat alat duga optik.
e) Jika posisi tidak tepat, kendurkan kunci kepala statip dan geser pada posisi yang
dikehendaki, jika terlalu jauh, statip harus dicabut kembali dan dipindahkan.
f) Ketengahkan gelembung nivo tabung dengan 3 sekrup penyama rata.
g) Arahkan nivo tabung sejajar dengan garis penghubung sekrup A dan B.
h) Ketengahkan gelembung nivo tabung dengan memutar sekrup A dan B secara bersamaan
keluar sama keluar kedalam sama kedalam.
i) Setelah presisi, putar badan pesawat 90˚.
j) Ketengahkan kembali gelembung nivo tabung hanya dengan sekrup C saja, (nivo kotak
akan mengikut seimbang).
k) Pastikan gelembung nivo tabung dan nivo kotak tetap ditengah-tengah walaupun pesawat
diputar ke segala arah.
l) Bila ternyata belum seimbang, ulangi penyetelan 5a s/d 5e.
m) Bila kedua nivo telah seimbang, tekan tombol power (switch) pada keadaan ON, dan
pesawat theodolit sudah siap digunakan (sumbu I sudah vertical dan sumbu II sudah
horizontal).
Cara penggunaan alat
a) Memasukkan baterai ke dalam tempatnya kemudian mengetengahkan optis ke atas.
b) Menghidupkan display dan atur sesuai keperluan.
c) Untuk membaca sudut mendatar, arahkan teropong pada titik yang dikehendaki kemudian
dibaca pada display.
d) Untuk membaca sudut vertical, teropong diarahkan secara vertical dan kemudian dibaca
pada display.
3. Total Station
Pengertian Total Station
Total Station adalah pengembangan dari theodolite yang dilengkapi dengan pengukuran jarak
dan sudut secara elektronik dengan dibantu reflektor sebagai target dan pengganti rambu ukur.
Di samping itu untuk mempermudah proses data dilengkapi juga dengan komputer. Konstruksi
utama seperti rambu pertama, rambu kedua dan garis bidik sama dengan theodolite.
Gambar 4.3.1. Total Station
Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi adalah :
i. Ketelitian bacaan sudut horizontal
j. Ketelitian bacaan jarak horizontal dan vertikal
k. Kemampuan software untuk menghasilkan hitungan beda tinggi
l. Kemampuan software untuk menghasilkan hitungan kordinat
m. Sumbu pertama vertikal
n. Sumbu kedua mendatar
o. Sumbu kedua tegak lurus sumbu pertama
Disamping persyaratan-persyaratan tersebut harus dipenuhi bagian-bagian total station harus
berfungsi dengan baik.
Bagian-bagian tersebut adalah :
a. Sekrup-sekrup dan klem untuk penyetelan harus berfungsi dengan baik dan normal.
b. Nivo-nivo harus berfungsi dengan baik.
c. Kejernihan lensa atau kaca pada teropong harus benar-benar dalam kondisi baik dan
normal.
d. Tampilan bacaan (display) harus jelas.
Fungsi Total Station
Total station biasanya digunakan untuk melakukan pengukuran arah, jarak, beda tinggi serta
penentuan koordinat secara elektronis.
Cara Menggunakan Total Station
Penyetelan total station :
a. Pasang kaki tiga penyangga/tripod/statip pada tempat yang dikehendaki, biasanya pada
titik ikat atau pada titik yang sudah diketahui koordinat dan elevasinya
b. Pastikan kaki tiga penyangga terpasang secara kuat dan stabil serta posisi pelat tempat
dudukan alat ukur (tribrach) pada posisi semendatar mungkin.
c. Kencangkan sekrup-sekrup penguat yang ada pada masing-masing kaki secukupnya.
d. Secara simultan tepatkan penanda ketepatan posisi as vertikal total station pada tiik yang
dikehendaki (centering)
e. Atur sumbu I sumbu vertikal dan sumbu II horizontal dengan menggunakan sekrup
penyeimbang nivo kotak, yang biasanya disebut sekrup A, B, C.
f. Pengaturan dilakukan pertama-tama dengan posisi nivo sejajar dengan posisi kita berdiri,
tepatkan gelembung nivo tepat didalam lingkaran yang ada.
g. Pengaturan dilakukan pertama-tama dengan posisi nivoo sejajar dengan posisi kita
berdiri, tepatkan gelembung nivo tepat di dalam lingkaran yang ada.
h. Putar theodolite terhadap sumbu I sebesar 900 terhadap posisi kita, cek apakah posisi nivo
masih tetap berada di tengah lingkaran, jika tidak gunakan sekrup C untuk menempatkan
nivo kembali ke tengah lingkaran.
i. Cek kembali posisi penanda ketepatan as sumbu vertikal apakah masih berada pada
posisi titik yang dimaksud.
j. Jika bergeser maka kendorkan sekrup pengunci Theodolite pada tribrach dan geser
perlahan-lahan sehingga posisi penanda arah vertikal tepat berada dititik yang
dikehendaki lalu kuatkan sekrup pengikat
k. Cek kembali posisi gelembung apakah masih berada di pusat lingkaran, jika tidak
digunakan sekrup A, B, C kembali secara lebih perlahan untuk menempatkan posisi
gelembung nivo pada lingkaran yang ada.
l. Jika centering dan posisi gelembung pada masing-masing nivo sudah berada pada
tengah-tengah bidang nivo, maka alat sudah siap untuk dioperasikan.
Teknik Pengukuran Jarak
Teknik/ metode pengukuran jarak yang sering dipakai antara lain adalah :
(1). Dengan metode kira-kira
Metode ini digunakan untuk menentukan jarak secara kasar, yaitu melakukan kira-kira,
misalnya dengan pandangan secara fisual, melalui waktu tempuh dan kecepatan jalan atau
kendaraan.
Contoh :
Waktu tempuh antara kota A dan B = 2,5 jam Kecepatan kendaraan rata-rata 60 km/jam Jarak
antara kota A dan B = 2,5 jam x 60 km/jam = 150 km
(2). Dengan Metode Langkah (Pacing)
Metode ini juga tergolong kasar, yaitu dilakukan dengan menghitung langkah anatara titik-titik
yang diukur dan mengetahui standar panjang langkah dari pelaksana. Jarak diperoleh dengan
mengalikan jumlah langkah antara titik yang diukur dengan panjang langkah yang
bersangkutan.
Contoh :
Antara titik A dan B ditempuh dengan 120 langkah Rata-rata panjang langkah = 60 cm Jarak
antara titik A dan B = 120 langkah x 60cm/langkah = 7.200 cm = 72 m
(3). Metode Skala Peta
Metode ini juga tergolong kasar, yaitu menentukan jarak dari peta. Dengan mengetahui jarak
lurus atau jarak jalur yang menghubungkan antara dua titik dan skala petanya, maka jarak lurus
atau jarak sesuai jalur dapat dihitung, dengan persamaan berikut :
Jarak di lapangan (sebenarnya) antara dua titik = jarak di peta x skala peta
Contoh :
Jarak antara dua titik di peta = 6,2 cm Skala peta 1 : 25.000, maka Jarak sebenarnya antara
dua titik itu = 6,2 cm x 25.000 = 155.000 cm = 1,55 km
(4). Pengukuran Jarak Dengan Odometer
Metode pengukuran jarak dengan Odometer merupakan metode sederhana hampir mirip
dengan metode langkah, yaitu mengukur jarak dengan menghitung jumlah putaran roda yang
kelilingnya diketahui, bila roda tersebut digelindingkan antara dua titik pengukuran. Jarak
dihitung dengan persamaan berikut :
Jarak = Jumlah putaran roda x keliling roda
Contoh :
Antara titik A dan B ditempuh dengan 120 putaran Keliling lingkaran = 60 cm Jarak antara
titik A dan B = 120 putaran x 60cm/putaran = 7.200 cm = 72 m
Alat ini sangat praktis untuk mengukur jarak suatu jalur dimana jalurnya berbelok-belok dan
naik turun, seperti halnya jalur jalan dalam rangka pengaspalan atau di pertanian sendiri pada
pengukuran luas lahan bergelombang dan bentuk petakannya tidak beraturan.
(5). Pengukuran Jarak Dengan Meteran
Pengukuran jarak dengan meteran biasa disebut dengan istilah Taping, yaitu pengukuran jarak
menggunakan tape atau pita ukur berupa rol meter atau rantai ukur. Rol meter merupakan alat
yang paling umum digunakan.
Cara melakukan pengukuran dengan meteran ini ditentukan berdasarkan :
(a) Kondisi lahan, miring atau datar
(b) Jarak yang dikehendaki, jarak mendatar atau jarak miring
(https://mirror.unpad.ac.id/orari/pendidikan/materi-kejuruan/pertanian/mekanisasi-
pertanian/mengukur_jarak_dan_sudut.pdf)
Proseedur Penggunaan Alat Pengukuran Jarak
1. Rollmeter
a. Pada Lahan Datar
Pasang atau letakan angka nol meteran ke patok di titik 1
Tarik atau rentangkan rol meter ke titik 2, selurus dan sedatar mungkin dengan tarikan
yang cukup, sehingga meteran tidak melengkung atau meral memanjang.
(Pada lahan atau objek yang diukur datar dan rata pita ukur dapat ditempelkan pada
permukaan objek yang diukur tersebut, tapi bila tidak rata, maka meteran harus
direntangkan dengan jarak tertentu dan sejajar dengan rata-rata permukaan lahan atau
objek yang di ukur tadi)
Letakan atau impitkan pita meteran ke patok di titik 2
Baca angka meteran yang tepat dengan patok di titik 2 tersebut.
Bacaan ini menunjukkan jarak antara titik 1 dan titik 2 yang diukur
b. Pada Lahan Miring
Pada lahan miring Pengukuran jarak mendatar pada lahan miring tidak sesederhana seperti
pada lahan datar.
Ada 3 metode memperoleh jarak mendatar dengan meteran, yaitu :
1. Metode Koreksi
Metode ini hanya digunakan untuk pemperoleh data secara kasar. Pada metode ini yang
diukur adalah jarak miringnya dan untuk memperoleh jarak mendatar dilakukan koreksi,
seperti terlihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1. Koreksi Pada Beberapa Kemiringan Lahan
2. Metode Taping Bertingkat
Metode ini digunakan untuk mengukur jarak yang cukup jauh, sehingga pengukuran pada
jarak tersebut dilakukan pengukuran per segmen dan pada setiap kali melakukan dilakukan
sebagai berikut :
Sampai mendekati titik akhir pengukuran dilakukan dengan jarak yang sama, misalnya 25 m
Pada setiap ujung meteran digunakan unting-unting.
Contoh dapat dilihat pada Gambar 1.4.
Gb. 1.4. Taping Bertingkat
Jarak mendatar AB = 3 x 25 m + 7m = 82 m
3. Breaking Taping
Metoda ini caranya hampir sama dengan Taping Bertingkat, bedanya jarak pad setiap kali
pengukuran tidak harus sama
Pada lahan berlereng heterogen metoda ini lebih cocok digunakan daripada metode Taping
Bertingkat
Dari uraian di atas terlihat bahwa pada pengukuran jarak mendatar dengan meteran pada lahan
miring selain diperlukan patok untuk menendai titik-titik yang diukur, juga diperlukan unting-
unting untuk menepatkan angka meteran dengan patok di titik pengukurandan bahkan untuk
mengontrol datar tidaknya meteran dianjurkan menggunakan nico tangan.
Kesalahan yang umum terjadi
Kesalahan yang umum terjadi pada pengukuran jarak dengan meteran,
antara lain :
(1). Tarikan meteran tidak sempurna, sehingga terjadi lenturan/melengkung
(2). Meteran tidak sempurna lurus
(3). Pemasangan patok (pin) tidak tepat dengan bacaan angka meteran atau sebaliknya
(4). Salah menghitung jumlah patok
(5). Salah menetapkan angka nol meteran
(6). Salah baca angka atau satuan angka
(7). Salah mencatat hasil bacaan
(8). Tidak menggunakan nivo dan unting-unting pada pengukuran lahan miring
Untuk mengetahui tingkat ketelitian atau akurasi dari hasil pengukuran jarak dengan meteran
ataupun odometer sebaiknya pengukuran dilakukan bolak-balik, sehingga diperoleh dua data.
Dari dua data ini dapat diketahui tingkat ketelitiannya, yaitu dapat dilihat dari angka ratio
kesalahan tidak melebihi 1 : 5000 atau 1/5000 atau dari nilai kesalahan yang diperbolehkan.
Ratio kesalahan dapat dihitung dengan persamaan berikut :
Ratio kesalahan = D p : Pp
Dimana :
D p = selisih kedua hasil pengukuran
Pp = rata-rata dari kedua hasil pengukuran
Contoh :
Hasil pengukuran ke 1 = 984,65 m
Hasil pengukuran ke 2 = 984,39 m
Selidih (D p) = 0,26 m
Rata-rata (Pp) = 984,52 m
Ratio kesalahan = 0,26 : 984,52 = 1 : 3785 (1/33785)
Kesimpulan ratio kesalahan ini lebih besar dari ketentuan, maka pengukuran harus diulang
kembali Sementara berdasarkan nilai kesalahan yang diperbolehkan dapat ditentukan
berdasarakan persamaan berikut :
a. Untuk tanah datar : s = 0,008 V D + 0.0003 D + 0,05
b. Untuk tanah landai : s = 0,010 V D + 0.0004 D + 0,05
c. Untuk tanah curam : s = 0,012 V D + 0.0005 D + 0,05
Dimana s adalah selisih kedua pengukuran yang diperbolehkan dan D adalah jarak yang diukur,
keduanya dalam satuan meter
2. Odometer
Metode pengukuran jarak dengan Odometer merupakan metode sederhana hampir mirip dengan
metode langkah, yaitu mengukur jarak dengan menghitung jumlah putaran roda yang
kelilingnya diketahui, bila roda tersebut digelindingkan antara dua titik pengukuran. Jarak
dihitung dengan persamaan berikut :
Jarak = Jumlah putaran roda x keliling roda
Pengukuran jarak dengan odometer :
1. Tentukan titik A dan titik B, hitung putaran rodanya
2. Hitung keliling lingkaran roda ododmeter
3. Tentukan jarak dengan menggunakan rumus
Dapat disimak cara penggunaan Odometer pada video pembelajaran di Youtube
(https://youtu.be/HNEpQVFZ2Eg)
3.Theodolite
Prosedur pengukuran jarak dengan menggunakan Theodolite
1. Siapkan alat dan bahan
2. Stel alat pengukuran, datarkan alat, pasang Kompas dan siapkan alat dalam kondisi siap
dioperasikan
3. Tentukan titik tengan Theodolite
4. Tentukan titik yang akan dibidik, tandai dengan Jalon atau penanda lainnya
5. Baca benang pada Theodolite
6. Hitung jarak datar dengan menggunakan rumus (BA-BB) x 100
(https://mirror.unpad.ac.id/orari/pendidikan/materi-kejuruan/pertanian/mekanisasi-
pertanian/mengukur_jarak_dan_sudut.pdf)
DAFTAR PUSTAKA
Pratomo, Danar G. 2004. Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) Teknis Pengukuran dan
Pemetaan Kota. ITS.
Nawawi, Gunawan. Mengukur Jarak dan Sudut. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta. 2001.
Syaripudin, Akhmad. Pengantar Survey dan Pengukuran.
Pengukuran dan Perpetaan Digital. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
kejuruan.Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Hidayat, Nursyamsu. Sipat datar/Leveling/Waterpasiing. Program Diploma Teknik Sipil
Universitas Gajah Mada.
Penguasaan Peralatan Ukur Edisi 2011.
Fajarsari, Ega J. 2010. Alat Ukur Tanah Sederhana. Universitas Gunadarma.
Ilmu Ukur Tanah. FTSP Universitas Mercu Buana.
Ellysa. 2012. Ilmu Ukur Tanah.
https://frendymatematik.wordpress.com/alat-peraga/klinometer/
https://mirror.unpad.ac.id/orari/pendidikan/materi-kejuruan/pertanian/mekanisasi-
pertanian/mengukur_jarak_dan_sudut.pdf