The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by masnausmandjafar, 2021-04-01 02:06:59

RESUME MATERI 1 (1)

RESUME MATERI 1 (1)

RESUME MATERI & HASIL DISKUSI
Dosen Pengampuh : Siti Choirul Dwi Astuti, M. Tr. Keb

Keterampilan Klinik Praktik Kebidanan
(Asfiksia & Apgar Skor)

Nama : Sri Wahyuni Hasan
Prodi : D-III Kebidanan
Jurusan : Kebidanan

POLTEKKES KEMENKES GORONTALO
2021

MATERI KELOMPOK 1 (ASFIKSIA)

A. SESI TANYA JAWAB
Pertanyaan Kelompok 1
Dari Kel. 2

1) Penanya : Nadila Anggraini Hassu
Pertanyaan :Tadi kan pemateri telah menyebutkan faktor penyebab
Asfiksia, salah satunya faktor Plasenta. Pada faktor plasenta
terbagi menjadi 2, yakni Solusio Plasenta dan Plasenta
Previa. Nah pertnyaan saya, apa yang maksud dengan
Solusio Plasenta dan Plasenta Previa?”
Penjawab : Nadila M. Bakahi
Jawaban :Abruptio plasenta atau solusio plasenta adalah komplikasi
kehamilan di mana plasenta terlepas dari dinding rahim
bagian dalam sebelum proses persalinan. Lepasnya plasenta
ini dapat menyebabkan pasokan nutrisi dan oksigen pada
bayi dapat menurun atau terhambat. Sementara itu, Plasenta
Previa adalah dimana posisi plasenta tidak bergerak dari
bawah rahim hingga mendekati waktu persalinan.
Dari Kel. 3

2) Penanya : Anisa Fajri Ibrahim
Pertanyaan :Bagaimana pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
untuk bayi yang asfiksia?
Penjawab : Falniyanti Hamzah
Jawaban : Pemeriksaan fisik pada bayi yang mengalami asfiksia yaitu
dengan mengecek berbagai kondisi, diantaranya:
a) Bayi bernapas atau menangis
b) Denyut jantung kurang dari 100 kali setiap menit
c) Warna kulit
d) Tonus otot menurun
e) Terdapat cairan ketuban ibu bercampur mekonium atau sisa mekonium
pada tubuh bayi

f) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
pemeriksaan penunjang didapatkan dari laboratorium, yaitu hasil
analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil asidosis pada darah
talipusat jika:

(1) PaO2 <50 mm H2O
(2) PaCO2 > 55 mm H2
(3) pH < 7,30

Dari Kel. 4
3) Penanya : Ria Kamelia Olii

Pertanyaan : Apakah perkembangan bayi yang terkena asfiksia ringan
akan terganggu?

Penjawab : Sri Zein Hunggialo
Jawaban : Asfiksia yang terjadi pada saat kelahiran dapat

menyebabkan gangguan baik segera setelah kelahiran atau
pada jangka waktu yang lebih lama setelah kelahiran.
Gangguan yang dapat terjadi selama perkembangan bayi,
jika pada saat kelahiran mengalami asfiksia, antara lain :
1. Cerebral palsy
2. Epilepsi
3. Gangguan kejang lainnya
4. Kebutaan
5. Gangguan penglihatan
6. Gangguan kognitif
7. Gangguan perkembangan lainnya.
Konsultasikan dan periksakan anak Anda ke dokter untuk
dilakukan pendeteksian secara dini dengan stadiumnya
sehingga bisa mendapatkan penanganan yang lebih cepat dan
tepat.

Dari Kel. 6

4) Penanya : Fitriyani T. Gue
Pertanyaan : Tadi pemateri sudah menjelaskan bahwa salah satu
penatalaksanaan asfiksia yaitu membersihkan jalan nafas
nah apa yg perlu diperhatikan dalam membersihkan jalan
nafas?
Penjawab : Fauzia Caesaria Usulu
Jawaban : Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membersihkan jalan
nafas:
a). Membersihkan jalan nafas sesuai keperluan aspirasi
mekonium saat proses persalinan dapat menyebabkan
pneumonia aspirasi.
b). salah satu pendekatan obstetric yang digunakan guna
mencegah aspirasi adalah dengan melakukan pengisapan
mekonium sebelum lahirnya bahu (intrapartum suctioning).
c). Bila terdapat mekonium dalam cairan amnion dan bayi
tampak Lemas (bayi mengalami depresi pernapasan, tonus
otot kurang, dan frekuensi jantung kurang dari 100
kali/menit), segera dilakukan pengisapan trakea sebelum
timbul pernapasan untuk mencegah sindrom aspirasi
mekonium.
d). Pengisapan trakea meliputi langkah-langkah pemasangan
laringoskop dan selang endotrakeal ke dalam trakea,
kemudian dengan kateter penghisap dilakukan pembersihan
daerah mulut, faring, dan trakea sampai glotis.
e). Pengisapan dibatasi dalam 5 detik dan kedalaman tidak
lebih dari 5 cm dari bibir bayi.
f). Pengisapan paring dilakukan dengan hati-hati karena
dapat menyebabkan spasme laring trauma pada jaringan
lunak, bradycardia, dan tertundanya pernapasan spontan.

g). Bila terdapat mekonium dalam cairan amnion tetapi baik
terlihat bugar, pembersihan sekret dari jalan nafas dilakukan
seperti bayi tanpa mekonium.
Dari Kel. 5
5) Penanya : Rosalinda Talalu
Pertanyaan : Apa saja gejala penyakit asfiksia pada bayi baru lahir? Dan
apakah gejala yang timbul pada bayi yang terkena asfiksia
umumnya sama atau berbeda tolong jelaskan !
Penjawab : Farida
Jawaban : Gejala asfiksia pada bayi baru lahir bisa berbeda-beda
antara satu dan lainnya. Bahkan kadang, gejala dari kondisi
ini bisa langsung muncul, tapi bisa juga tidak terdeteksi
sesaat setelah bayi dilahirkan. Salah satu tanda yang
biasanya muncul yakni denyut jantung bayi yang terlalu
tinggi atau rendah. Secara umumnya, berikut berbagai gejala
asfiksia perinatal sebelum bayi dilahirkan berdasarkan
UCSF Benioff Children’s Hospital:
1. Denyut atau irama jantung yang tidak normal.
2. Peningkatan kadar asam di dalam aliran darah bayi.

Setelah dilahirkan, gejala penyakit asfiksia neonatorum atau
pada bayi baru lahir adalah berikut:
1. Kulit tampak pucat atau berwarna agak kebiruan.
2. Susah bernapas, hingga menyebabkan bayi bernapas
dengan cepat atau terengah-engah, dan menggunakan perut.
3. Detak jantung agak melambat.
4.Otot melemah.
5. Bayi terlihat lemas.
6. Pertumbuhan terhambat.
7. Ada mekonium (feses pertama bayi) di cairan ketuban,
kulit, kuku, atau tali pusar. Selain itu, klasifikasi gejala

asfiksia neonatorum dapat dibedakan juga menjadi ringan
atau sedang dan berat.

Klasifikasi gejala asfiksia ringan atau sedang
Berbagai gejala asifiksia neonatorum kategori ringan atau
sedang pada bayi baru lahir adalah berikut:
a. Kekuatan otot lemah atau tonus otot buruk.
b. Mudah marah dan rewel.
c. Rasa kantuk ekstrem. Susah makan dan menyusu karena
tidak mampu mengisap puting susu ibu.

Klasifikasi gejala asfiksia berat
Sementara berbagai gejala asifiksia neonatorum kategori
ringan atau sedang pada bayi baru lahir adalah sebagai
berikut:
a. Tubuh bayi kejang.
b. Kulit dan bibir bayi berwarna biru.
c. Susah bernapas.

Lama waktu bayi tidak mendapatkan persediaan oksigen
yang cukup dapat memengaruhi ringan dan berat gejala
asfiksia neonatorum yang dialalami. Artinya, semakin lama
bayi tidak memperoleh jumlah oksigen yang cukup, akan
semakin besar pula kemungkinan gejala asfiksia muncul.
Dalam beberapa kasus, klasifikasi gejala asfiksia yang berat
pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan pada
berbagai organ. Kerusakan tersebut meliputi organ jantung,
otak, ginjal, dan paru-paru bayi.
B. ASFIKSIA
1) PENGERTIAN ASFIKSIA

Asfiksia neonoratum merupakan suatu kejadian kegawadaruratan yang
berupa kegagalan bernafas secara spontan segera setelah lahir dan sangat
berarti dan sangat beresiko untuk terjadinya kematian dimana keadaan
janin tidak spontan bernafas dan teratur sehingga dapat menurunkan
oksigen dan makin meningkatkan karbondioksida yang menimbulkan
akibat buruk dalam kehidupan berlanjut.
2) FAKTOR PENYEBAB ASFIKSIA
Menurut Towel faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia
neonatorum ada empat yaitu:

a) Faktor Ibu
Faktor ibu diantaranya adalah adanya hipoksia pada ibu, usia ibu,
gravid, lebih dari 4, hipertensi, serta penyakit yang pembuluh darah
yang mengganggu pertukaran dan pengangkutan oksigen.

b) Faktor Persalinan
Faktor persalinan seperti partus lama atau partus dengan tindakan.

c) Faktor Bayi
Faktor janin yaitu premature, Gemali, BBLR, kelainan
kongengital, air ketuban bercampur mekonium, kelainan tali pusat
seperti lilitan tali pusat atau kompresi tali pusat antara janin dan
jalan lahir.

d) Faktor Plasenta
Faktor Plasenta diantaranya adalah solusio plasenta, plasenta
previa.

3) KLASIFIKASI
a) Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3.
b) Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6.
c) Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9.
d) Bayi normal dengan nilai APGAR 10 (Ghai, 2010 dalam Anik
Maryunani dan Eka Puspita, 2013)
e) Nilai APGAR

4) PENATALAKSANAAN

Penatalaksnaan secara umum pada bayi baru lahir dengan asfiksia menurut
yaitu : pengawasan suhu, membersihkan jalan napas, kepala bayi harus
posisi lebih rendah sehi ngga memudahkan keluarnya lender, rangsangan
untuk menimbulkan pernapasan rangsangan nyeri pada bayi dapat
ditimbulkan dengan memukul kedua telapak kaki bayi, menekan tendon
Achilles atau memberikan suntikan vitamin K. Hal ini berfungsi
memperbaiki ventilasi.

MATERI KELOMPOK 2 (APGAR SKOR)
C. TANYA JAWAB

HASIL DISKUSI
1) Penanya : Nadila M Bakahi (kelompok 1)

Pertanyaan : Bagaimana cara membaca nilai apgar skore?
Penjawab : Alda salatun
Jawabannya :
Semakin tinggi hasil Apgar skor yang didapat, maka kondisi bayi semakin
baik. Namun, sangat sedikit bayi yang mendapatkan skor 10 (skor tertinggi)
karena sebagian besar tangan dan kaki bayi yang baru lahir masih kebiruan
sampai tubuhnya cukup hangat.
Bila bayi mendapat skor di atas 7, menunjukkan bahwa bayi memiliki
kondisi yang cukup sehat dan baik. Sementara, bila skornya 4-6 maka
kondisi bayi tidak cukup baik dan perlu mendapat perawatan. Sedangkan,
jika skornya 0-3 maka kondisi bayi sangat mengkhawatirkan sehingga perlu
segera mendapat bantuan medis, seperti halnya bantuan pernapasan.
Terdapat beberapa bayi yang lebih berpotensi memiliki skor Apgar rendah,
yaitu bayi yang lahir dari kehamilan berisiko tinggi, bayi prematur, bayi
yang dilahirkan dengan operasi caesar, dan bayi yang proses persalinannya
sulit. Jika bayi Anda memiliki Apgar skor yang rendah, maka dokter akan
menjelaskan kondisi bayi Anda dan perawatan apa yang mungkin
dilakukan.

2) Penanya : Sri nanda Ali (kelompok 5)
Pertanyaan : apakah penilaian apgar skore termasuk dalam pemeriksaan
pada bayi ketika kondisi kritis setelah melahirkan ?
Penjawab : ingka pranstika niati
Jawabanya :
Ya karena akan dilakukan penilaian Apgar score kembali pada menit ke-
10, menit ke-15, dan menit ke-20 untuk memantau perkembangan kondisi
bayi. Kondisi kritis bayi bisa dilihat dari hasil total penilaian Apgar score
yang rendah, yaitu 0-3. Rendahnya nilai ini juga dikaitkan dengan
meningkatnya risiko kematian bayi, cacat otak, dan epilepsi pada bayi di
kemudian hari, terutama jika Apgar score tidak mengalami perbaikan pada
20 menit pertama sejak dilahirkan. Jika Anda melahirkan di rumah sakit
atau di tempat praktek bidan, maka tes Apgar biasanya akan dilakukan oleh
dokter atau bidan pada saat bayi lahir. Bila Anda merasa bingung, tidak ada
salahnya untuk menanyakan langsung pada dokter kandungan atau dokter
anak agar Anda mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap terkait nilai
Apgar Si Kecil yang baru lahir.

3) Penanya : Sri wahyuni hasan (kelompok 4)
Pertanyaan : Bagaimana bila bayi memiliki apgar skore rendah ?
Penjawab : Sri intan suleman
Jawabanya :
Banyak bayi dengan Apgar skor rendah justru sangat sehat dan baik-baik
saja setelah menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar rahim. Bila dokter
khawatir dengan Apgar skor bayi, ia akan memberi tahu Ibu dan
menjelaskan bagaimana kondisi bayi, apa yang mungkin menjadi
penyebabnya, dan perawatan yang perlu diberikan. Apgar skor tidak
dirancang untuk memprediksi kondisi kesehatan jangka panjang bayi,
perilakunya, intelegensinya, maupun kepribadiannya. Apgar skor
digunakan untuk membantu dokter mengetahui kondisi fisik bayi secara
keseluruhan agar bisa dengan cepat memutuskan apakah bayi membutuhkan

perawatan medis ddarurat. Setelah beberapa lama menyesuaikan dengan
lingkungan yang baru dan menerima perawatan medis yang dibutuhkan,
kebanyakan bayi akan baik-baik saja.

4) Penanya : Jean puluhulawa
Pertanyaan : bagaimana cara menentukan kebutuhan resusitasi pada bayi
yang baru lahir?
Penjawab : Nadila hassu
Jawabnya :
Untuk menentukan kebutuhan resusitasi pada bayi yang baru lahir,
digunakan Neonatal Resuscitation Algorithm. Persiapan dimulai dari
sebelum bayi lahir yakni dengan menilai risiko perinatal. Komponen dari
Neonatal Resuscitation Algorithm adalah:
a. Apakah kehamilan aterm?
b. Apakah bayi memiliki tonus otot yang baik?
c. Apakah bayi bernapas atau menangis?
Tiga komponen ini dinilai dalam 30 detik pertama kelahiran bayi. Jika bayi
butuh resusitasi, skor APGAR kemudian digunakan untuk menilai respons
bayi terhadap resusitasi. Pedoman dari Neonatal Resuscitation Program
menyatakan bahwa jika skor APGAR berjumlah di bawah 7 setelah menit
ke-5, penilaian dengan skor APGAR perlu diulang setiap 5 menit sampai
menit ke-20. Skor APGAR yang menetap di angka 0 setelah menit ke-10
dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan atau menghentikan
resusitasi. Sangat sedikit bayi dengan skor APGAR 0 setelah menit ke-10
dapat bertahan hidup tanpa kelainan neurologis. Pedoman resusitasi
neonatus dari American Heart Association tahun 2015 menyatakan jika
dapat dikonfirmasi bahwa tidak ada denyut jantung setelah paling tidak 10
menit, resusitasi dapat dihentikan.

D. APGAR SKOR
1) PENGERTIAN APGAR SKOR

Skor Apgar merupakan metode yang digunakan untuk menilai bayi baru
lahir. Menurut prawioharjo ( 2009 ) nilai APGAR adalah suatu metode
sederhana yang di gunakan untuk menilai keadaan umum bayi sesaat
setelah kelahiran.
Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau
tidak, yang di nilai adalah frekuensi jantung ( heart rate ), usaha nafas
(respiratory effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (colour) dan
reaksi terhadap rangsangan ( respon to stimuli ) yaitu dengan memasukan
kateter ke lubang hidung setelah jalan nafas di bersihkan.
2) MANFAAT PEMERIKSAAN APGAR SKOR
Penilaian ini membantu dokter untuk menentukan apakah bayi dalam
kondisi baik atau justru membutuhkan pertolongan medis.Jika bayi Anda
mendapatkan skor rendah setelah dilakukan penilaian, artinya bayi Anda
membutuhkan perawatan khusus. Sedangkan jika bayi Anda mendapatkan
skor tinggi, artinya bayi Anda dalam kondisi baik sehingga tidak
memerlukan perawatan medis tertentu.
3) KRITERIA APGAR SKOR
Nilai (skor) APGAR tidak digunakan sebagai dasar keputusan untuk
tindakan resusitasi. Penilaian harus dilakukan segera, sehingga keputusan
resusitasi tidak didasarkan penilaian APGAR, tetapi skor APGAR tetap
dipakai untuk menilai kemajuan kondisi BB
a. Pada saat 1 menit dan 5 menit setelah kelahiran.
b. Bidan dapat melanjutkan proses perawatan dengan mengeringkan
kulit, yang dapat membantu meminimalkan kehilangan panas
Dalam manajemen Asfiksia proses penilaian sebagai dasar pengambilan
keputusan bukanlah suatu proses sesaat yang dilakukan satu kali. Setiap
tahapan manajemen asfiksia, senantiasa dilakukan penilaian untuk
membuat keputusan, tindakan apa yang tepat dilakukan
Penilaian APGAR 5 menit pertama dilakukan saat kala III persalinan
dengan menempatkan bayi baru lahir di atas perut pasien dan ditutupi

dengan selimut atau handuk kering yang hangat. Selanjutnya hasil
pengamatan BBL.

a) Tes segera/awal yang di lakukan pada 1 menit dan 5 pertama
setelah kelahirann

b) 1 menit menilai seberapa bagus bayi mengahadapi kelahiran
c) 5 menit melihat adaptasi k bayi dengan lingkungan baru.

Rantingnya berdasarkan total score 1 sampai 10, 10 berarti bayi
pling sehat.
4) INTERPRESTASI APGAR SKOR
Skor APGAR dihitung dengan menjumlahkan skor setiap komponen.
Beberapa hal yang perlu diketahui saat melakukan perhitungan skor
APGAR adalah.
a) Skor terbaik adalah 10, namun skor 7, 8 dan 9 adalah normal dan
bayi dapat dikatakan sehat
b) Skor 10 sangat jarang didapat karena sebagian besar bayi yang baru
lahir akan kehilangan 1 poin dari komponen warna kulit
c) Sebagian besar bayi yang baru lahir akan mempunyai warna kulit
kebiruan pada tangan dan kaki
Skor APGAR yang rendah biasanya disebabkan oleh:
a) Proses kelahiran yang sulit
b) Sectio caesarea
c) Cairan pada saluran pernapasan bayi
Bayi dengan Skor APGAR yang rendah mungkin membutuhkan :
1. Oksigen dan pembersihan saluran napas. Pembersihan saluran napas
dapat dilakukan dengan menggunakan bulb syringe. Penyedotan dilakukan
melalui mulut terlebih dahulu, kemudian melalui hidung. Urutan ini
bertujuan mencegah bayi menghirup cairan sekresi
2. Stimulasi fisik untuk membantu mendapatkan detak jantung yang
normal.


Click to View FlipBook Version