12. Ciri utama mobilitas ..........................................................................................
horizontal ..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
c. Hubungan Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial merupakan perpindahan status ataukedudukan dari satu lapisan
ke lapisan yanhg lain. Perpindahan tersebut terjadi dalam suatu struktur sosialyang
berdimensi vertikal, artinya mudahtidaknya seseorang melakukan mobilitas sosial
tergantung dari struktur sosial masyarakatnya.
a. Mobilitas sosial dalam sistem stratifikasi sosial terbuka
Masyarakat yang memiliki sistem stratifikasi sosial terbuka memberi kesempatan
pada para anggotanya untuk melakukan mobilitas sosial vertikal yang terjadi dapat
berupa social climbing ataupun sinking. Dalam sistem stratifikasi sosial yang terbuka
memungkinkan setiap anggota masyarakat bersikap aktif dan kreatif dalam
melakukan perubahan-perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Prinsip umum mobilitas sosial dalam masyarakat yang menganut stratifikasi terbuka
adalah sebagai berikut:
1) Tidak ada satu pun masyarakat yang mutlak tertutup terhadap mobilitas sosial
vertikal.
2) Seterbuka apapun suatu masyarakat terhadap mobilitas sosial, terkadang tetap
ada hambatan-hambatan.
3) Setiap masyarakat pasti memiliki tipe mobilitas sosial vertikal sendiri, tidak ada
tipe yang berlaku umum bagi setiap masyarakat.
4) Laju mobilitas sosial disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan yang
berbeda-beda.
5) Mobilitas sosial yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan, tidak
menunjukkan adanya kecenderungan yang kontinu tentang bertambah atau
berkurang laju mobilitas sosial.
b. Mobilitas Sosial dalam Sistem Stratifikasi Sosial yang Tertutup
Pada masyarakat yang menganut sistem stratifikasi sosial tertutup kemungkinan
terjadinya mobilitas sosial vertikal sangat kecil. Hal ini terjadi karena masyarakatnya
lebih mengutamakan nilai-nilai tradisional. Contohnya, masyarakat suku Badui Dalam.
Mereka lebih memilih menjaga nilai-nilai tradisional dan menolak adanya perubahan.
Dari uraian diatas, jelas terdapat hubungan antara mobilitas sosial yang terjadi
pada seseorang atau sekelompok orang dengan struktur sosial masyarakat tempat
seseorang atau sekelompok orang tersebut berada.
Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah
sebagai berikut.
a. Perubahan standar hidup
Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan
merefleksikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi
peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan
prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi manajer, sehingga tingkat
pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik
apabila ia tidak mengubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk
tetap hidup seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.
IPS / SMP/MTs /VIII / Gasal / K 13 55
b. Perkawinan
Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui
perkawinan. Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana
menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya.
Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut.
c. Perubahan tempat tinggal
Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari
tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara
merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan
mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan
disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak
sosial ke atas.
d. Faktor-faktor Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial
a. Faktor Pendorong Mobilitas Sosial
1) Faktor Struktural
Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus
diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Adapun yang termasuk dalam
cakupan faktor struktural adalah sebagai berikut.
a) Struktur Pekerjaan
Di setiap masyarakat terdapat beberapa kedudukan tinggi dan rendah yang
harus diisi oleh anggota masyarakat yang bersangkutan.
b) Perbedaan Fertilitas
Setiap masyarakat memiliki tingkat ferilitas (kelahiran) yang berbeda-beda.
Tingkat fertilitas akan berhubungan erat dengan jumlah jenis pekerjaan yang
mempunyai kedudukan tinggi atau rendah.
c) Ekonomi Ganda
Suatu negara mungkin saja menerapkan sistem ekonomi ganda (tradisional
dan modern), contohnya di negara-negara Eropa Barat dan Amerika. Hal itu
tentu akan berdampak pada jumlah pekerjaan, baik yang bersetatus tinggi
naupun rendah.
2) Faktor Individu
Faktor individuadalah kualitas seseorang, baik ditinjau dari segi tingkat
pendidikan, penampilan, maupun keterampilan pribadi. Faktor individu meliputi:
a) Perbedaan Kemampauan
Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka yang cakap
mempunyai kesempatan dalam mobilitas sosial.
b) Orientasi Sikap terhadap mobilitas
Banyak cara yang di lakukan oleh para individu dalam meningkatka prospek
mobilitas sosialnya, antara lain melalui pedidikan, kebiasaan kerja,
penundaan kesenangan, dan memperbaiki diri.
c) Faktor kemujuran
Walaupun seseorang telah berusaha keras dalam mencapai tujuannya, tetapi
kadang kala mengalami kegagalan.
3) Status Sosial
Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya,
karena ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya
sendiri. Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang
tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri dilapisan sosial yang lebih tinggi.
4) Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Orang
yang hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya daerah
tempat tinggalnya tandus dan kekurangan sumber daya alam, kemudian
berpindah tempat ke tempat yang lain atau ke kota besar. Secara sosiologis
mereka dikatakan mengalami mobilitas
56 IPS / SMP/MTs / VIII / Gasal / K 13
5) Situasi Politik
Situasi politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas sosial suatu masyarakat
dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan mempengaruhi
situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke
daerah yang lebih aman.
6) Kependudukan (Demografi)
Faktor kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalam arti geografik. Di
satu pihak, pertambahan jumlah penduduk yang pesat mengakibatkan sempitnya
tempat permukiman, dan di pihak lain kemiskinan yang semakin merajalela.
Keadaan demikian yang membuat sebagian warga masyarakat mencari tempat
kediaman lain.
7) Keinginan Melihat Daerah Lain
Adanya keinginan melihat daerah lain mendorong masyarakat untuk
melangsungkan mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain.
8) Perubahan kondisi sosial
Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya
perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi
membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat
menimbulkan stratifikasi baru.
9) Ekspansi teritorial dan gerak populasi
Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan ciri
fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota,
transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.
10) Komunikasi yang bebas
Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam
memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran
pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi
mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas serta efektif
akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan
merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.
11) Pembagian kerja
Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat
pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat
dispesialisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang
bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan
menuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya
untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.
12) Kemudahan dalam akses pendidikan
Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk
melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat
menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang
bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan
untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.
b. Faktor penghambat mobilitas sosial
Ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitas sosial. Faktor-faktor
penghambat itu antara lain sebagai berikut.
1) Kemiskinan
Faktor ekonomi dapat membatasi mobilitas sosial. Bagi masyarakat miskin,
mencapai status sosial tertentu merupakan hal sangat sulit.
2) Diskriminasi Kelas
Sistem kelas tertutup dapat menghalangi mobilitas ke atas, terbukti dengan
adanya pembatasan keanggotaan suatu orgnisasi tertentu dengan berbagai
syarat dan ketentuan.
IPS / SMP/MTs /VIII / Gasal / K 13 57
3) Perbedaan Ras dan Agama
Mobilitas sosial dapat terhambat karena faktor ras dan agama. Perbedaan ras
menimbulkan perbedaan status sosial. Berikut ini beberapa contohnya.
a) Perbedaan tingkat ras yang pernah terjadi di Afrika Selatan. Ras berkulit putih
berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam
berada di pemerintahan sebagai penguasa. Namun, setelah politik apartheid
berakhir, Nelson Mandela dari kalangan kulit hitam menjadi Presiden Afrika
Selatan.
b) Sistem kasta di India. Sistem tersebut tidak memungkinkan seseorang yang
berasal dari kasta rendah dapat naik ke kasta yang paling tinggi.
c) Dalam agama, seseorang tidak dibenarkan dengan sebebas-bebasnya dan
sekehendak hatinya berpindah agama untuk mencapai status tertentu.
4) Perbedaan jenis kelamin (Gender)
Dalam masyarakat, pria dipandang lebih tinggi derajatnya dan cenderung menjadi
lebih mobil daripada wanita. Perbedaan ini mempengaruh dalammencapai
prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan dalam
masyarakat.
5) Faktor Pengaruh Sosialisasi yang Sangat kuat
Sosialisasi yang sangat atau terlampau kuat dalam suatu masyarakat dapat
menghambat proses mobilitas sosial. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai dan
adat yang berlaku.
6) Perbedaan Kepentingan
Adanya perbedaan kepentingan antarindividu dalam sutu struktur organisasi
menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan
sesuatu.
e. Saluran-Saluran Mobilitas Sosial
Menurut Pitirim A Sorokin, mobilitas sosial dapat dilakukan melalui beberapa saluran
berikut.
a. Angkatan Bersenjata
Seseorang yang tergabung dalam angkatan bersenjata biasanya ikut berjasa dalam
membela nusa dan bangsa sehingga dengan jasa tersebut ia mendapat sejumlah
penghargaan dan naik ke status yang lebih tinggi.
b. Pendidikan
Pendidikan baik formal maupun nonformal merupakan saluran untuk mobilitas vertikal
yang sering digunakan, karena melalui pendidikan seseorang bisa mengubah
statusnya dari status di strata bawah ke status strata atas.
c. Organisasi Politik
Seorang anggota partai politik yang profesional dan mempunyai dedikasi yang tinggi
serta loyal terhadap partainya, kemungkinan besar akan cepat mendapat status
dalam partainya, bahkan mendapat peluang yang besar menjadi anggota dewan
legislatif maupun ekseskutif.
d. Lembaga Keagamaan
Lembaga ini merupakan salah satu saluran mobilitas vertikal, meskipun setiap agama
menganggap bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat, tetapi
pemuka-pemuka agama dipandang memiliki kedudukan yang tinggi dalam
masyarakat.
e. Organisasi ekonomi
Organisasi ini, baik yang bergerak dalam bidang perusahaan maupun jasa pada
umumnya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk mencapai
mobilitas vertikal karena dalam organisasi ini posisi sosial bersifat relatif terbuka.
f. Organisasi Profesi
Organisasi profesi lainnya yang dapat dijadikan sebagai saluran mobilitas vertikal
antara lain Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI),
dan lain sebagainya.
58 IPS / SMP/MTs / VIII / Gasal / K 13