Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Struktur puisi
Puisi terdiri atas dua macam struktur, yaitu:
a. Struktur fisik, meliputi: diksi (diction), pencitraan, kata konkret (the concentrate word),
majas (figurative language), dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma.
b. Struktur batin, meliputi: perasaan (feeling), tema (sense), nada (tone), dan amanat
(attention).
Pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut bukan saja akan bermanfaat untuk
mengapresiasi sebuah puisi, melainkan juga ketika kamu akan menulis puisi. Kesatuan dan
kepaduan struktur tersebut dapat melahirkan karya puisi yang memiliki nilai seni dan nilai makna
yang tinggi.
Citraan dalam Puisi
Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang
menggambarkan. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Adapun gambaran
pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai , yang dihasilkan oleh
penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dilihat oleh mata (indra penglihatan). Jika dilihat
dari fungsinya, citraan atau pengimajian lebih cenderung berfungsi untuk mengingatkan kembali
apa yang telah dirasakan.
Dengan demikian, citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran. Kita akan kesulitan
menggambarkan objek atau sesuatu yang disampaikan dalam puisi jika belum pernah sama sekali
mengalami atau mengetahuinya. Oleh karena itu, kita akan mudah memahami puisi jika memiliki
simpanan imaji-imaji yang diperoleh dari pengalamannya.
Ada beberapa jenis citraan yang dapat ditimbulkan puisi, yakni sebagai berikut:
a. Citraan Penglihatan
Citraan penglihatan ditimbulkan oleh indra penglihatan (mata). Citraan ini merupakan jenis
yang paling sering digunakan penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan
kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.
Contoh citraan penglihatan dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas
Dan k au layarkan di tepi kali;
alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
…
Karya Sapardi Djoko Darmono
Sumber: Perahu Kertas, 1991
b. Citraan Pendengaran
Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra
pendengaran (telinga). Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan
bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi bunyi, tembang, dendang, suara mengiang,
51
berdentum-dentum, dan sayup-sayup. Contoh citraan pendengaran dapat dilihat dari kutipan
puisi berikut.
Penerbangan Terakhir
Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras
Kedua tangan yang alit itu seperti kejang-kejang
Kakinya pun menerjang-nerjang
Suaranya melengking lalu menghiba-hiba
Karya Taufik Ismail
Sumber: Horison Sastra Indonesia 1: Kitab Puisi 2002
c. Citraan Perabaan
Citraan perabaan atau citraan tactual adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indera
peraba/kulit. Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat
menemukan diksi yang menyebabkan kita merasakan rasa nyeri, dingin, atau panas karena
perubahan suhu udara. Berikut contoh citraan parabaan dalam puisi.
Blues untuk Bonie
….
Sembari jari-jari galak di gitarnya
Mencakar dan mencakar
Menggaruki rasa gatal di sukmanya
Karya W.S. Rendra
Sumber : Horison Sastra Indonesia 1 : Kitab Puisi 2002
d. Citraan Penciuman
Citraan penciuman/pembauan juga disebut citraan olfactory. Dengan membaca atau
mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium bau sesuatu. Citraan atau
pengimajinasian melalui indera penciuman ini akan memperkuat kesan dan makna sebuah
puisi. Perhatikan kutipan puisi berikut.
Pemandangan Senjakala
Senja yang basah meredakan hutan terbakar
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua
Bau mesiu di udara, bau mayat, bau kotoran kuda.
Karya W.S. Rendra
Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 : Kitab Puisi 2002
e. Citraan Pencicipan atau Pencecapan
Citraan pencicipan/ pencitraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita
seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam, manis, atau
pedas. Perhatikan kutipan berikut ini.
Pembicaraan
Hari mekar dan bercahaya: yang ada hanya surga
Neraka adalah rasa pahit di mulut waktu bangun pagi
Karya Subagio Sastrowardojo
f. Citraan Gerak
Citraan gerak/kinestetik yakni gerak tubuh yang menyebabkan kita merasakan atau melihat
gerakan tersebut. Hal ini membuat gambaran puisi lebih dinamis. Perhatikan contohnya.
52
Mimpi Pulang
…
Di sini aku berdiri, bertemu angin
Daun-daun cokelat berguguran
Meninggalkan ranting pohon oak yang meranggas
Dingin mulai menggigit telingaku
Kuperpanjang langkah kakiku
Menyusuri trotoar yang seperti tak berujung
Di antara beton-beton tua yang tidak ramah mengawasiku
Gelap mulai merayap menyusul langkah kakiku
Ah, Gott sei dank! Di sana masih ada burung-burung putih itu
Aku bagaikan pohon oak
Ditemani angin musim gugur yang masih tersisa
Karya Nuning Damayanti
Sumber: Bunga yang Terserak, 2003
Perasaan dalam Puisi
Puisi mengungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan dapat kita tangkap
kalau puisi itu dibaca keras dalam pembacaan puisi atau deklamasi. Membaca puisi atau
mendengarkan pembacaan puisi dengan suara keras akan lebih membantu kita menemukan
perasaan penyair yang melatarbelakangi terciptanya puisi tersebut.
Perasaan yang menjiwai puisi bisa perasaan gembira, sedih, terasing, tersinggung, patah
hati, sombong, tercekam, cemburu, kesepian, takut, dan menyesal.
Perasaan sedih yang mendalam diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam “Senja di Pelabuhan
Kecil”, J.E. Tatengkeng dalam “Anakku”, Agnes Sri Hartini dalam “Selamat Jalan Anakku”, dan
Rendra dalam “Orang-Orang Rangkas Bitung”.
Latih Terampil
1. Mintalah puisi “Derai-Derai Cemara” dibaca oleh salah seorang teman!
2. Anda dan teman-teman yang lain mendengarkan dengan baik.
3. Parafrasekan puisi tersebut!
4. Bahaslah isi puisi tersebut berdasarkan gambaran pengindraan, perasaan, pikiran, dan
imajinasi puisi tadi, maksud/tema puisi, simbolisasi, dan gaya bahasa/majaspada tabel
berikut.
5. Diskusikan hasilnya bersama teman-teman Anda.
6. Amatilah hasil pekerjaan teman Anda dengan melakukan penilaian berdasarkan tabel
penilaian berikut.
Kerjakan pada kolom berikut.
No Jenis Bukti Baris Puisi yang Mewakili
Penggambaran
1 Pengindraan
2 Pengimajian
3 Perasaan
4 Pemikiran
No Jenis Bahasa Kias Bukti Baris Puisi yang Mewakili
1
2
3
4
53
No Jenis Gaya Bukti Baris Puisi yang Mewakili
Bahasa
Penjelasan Bukti Baris Puisi yang
1 Mewakili
2
3
4
No Unsur-Unsur
1 Tema
2 Amanat
3 Suasana
batin
4 Nilai-nilai
Parafrase puisi “Derai-derai Cemara”
Hubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya dan masyarakat:
a. Realita alam :
b. Sosial budaya :
c. Masyarakat :
1. Jelaskan gambaran perasaan dan penginderaan yang ada dari puisi di atas !
2. Jelaskan gambaran pikiran dan imajinasi yang ada dari puisi di atas !
54
Standar Kompetensi : (15)Memahami sastra Melayu klasik
Kompetensi Dasar : Membaca
15.1 Mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur instrinsik sastra
Melayu klasik
A. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat
1. menentukan struktur karya sastra melayu klasik.
2. mengidentifikasi karakteristik karya sastra melayu klasik
3. membuat sinopsis karya sastra melayu klasik dalam bahasa sendiri ke dalam beberapa
paragraf
B. Materi Pembelajaran :
Sastra Melayu Klasik
1. Pengertian
Adalah karya-karya sastra yang tersiar pada periode sastra tradisional atau sastra lama. Atau
Sastra melayu klasik adalah peninggalan sastrawan melayu yang harus diapresiasi dengan baik.
2. Sejarah umum
Sebelum tahun 1500 sastra melayu berupa cerita lisan. Sastra Melayu klasik bermula pada
abad ke -16 Masehi. Semenjak itu sampai sekarang gaya bahasanya tidak banyak berubah. Sastra
melayu klasik atau sastra Indonesia lama adalah masa sastra mulai pada masa prasejarah
(sebelum suatu bangsa mengenal tulisan) dan berakhir pada masa Abdullah bin Abdulkadir
Munsyi. Ada juga yang mengatakan bahwa sastra Indonesia lama berakhir pada masa balai
pustaka. Sastra Indonesia lama tidak dapat digolong-golongkan berdasarkan jangka waktu
tertentu (seperti halnya sastra Indonesia baru) karena hasil-hasil dari sastra masa ini tidak
mencatumkan waktu dan nama pengarangnya.
3. Unsur Pembangun
a. Alur
Yaitu jalinan suatu peristiwa satu dengan yang lain.
b. Penokohan / Perwatakan
Yaitu Gambaran watak tokoh dalam cerita.
c. Latar / Setting
Yaitu gambaran tempat dan waktu terjadinya peristiwa dalam cerita.
d. Tema
Yaitu pokok pikiran yang menjiwai atau mendasari pengembangan suatu cerita. Tema
yang dikembangkan pada karya sastra melayu klasik pun cenderung berbau spiritual dan
mistik, seperti persahabatan manusia dengan jin atau perkawinan manusia dengan
makhluk halus.
e. Sudut Pandang Pengarang (Point of View)
Yaitu gambaran kedudukan pengarang dalam cerita. Macam-macam sudut pandang :
Dia-an yaitu pengarang sebagai pencerita hanya mengisahkan pengalaman orang lain,
sehingga tokoh utama disebut dengan nama seseorang. (Sudut pandang orang ke-3)
f. Bahasa yang digunakan
55
Bahasa klise, yaitu bahasa yang mengandung banyak perumpaan.Gaya bahasa digunakan
untuk menghidupkan cerita sehingga tercipta suasana dan sense tertentu dalam batin
pembaca.
g. Amanat
Yaitu pesan yang akan disampaikan dalam cerita rekaan. Selain itu, karakteristik yang
menonjol dalam karya sastra melayu klasik adalah kandungan ajaran moral yang dikenal
dengan amanat.
h. Nilai
Yaitu sesuatu, sifat, atau hal yang penting yang berguna bagi kemanusiaan.
4. Ciri-ciri
a. Istana Sentris : Menceritakan mengenai pusat kerajaan
b. Komunal : Berkembang menjadi milik masyarakat
c. Anonim : Tidak diketahui nama pengarangnya
d. Berbahasa Klise : Bahasa yang menggunakan banyak perumpamaan
e. Fantastis : Tidak dapat dijangkau oleh akal manusia
f. Subjektif : penilaian berdasarkan pada subjektifitas dari seseorang
g. Berkembang secara Lisan
h. Penokohan bersifat Statis : karakter tokoh (dalam penokohannya) tidak berubah
i. Fiktif : tidak nyata (khayalan)
j. Tidak berangka tahun : tidak diketahui tahun terbitnya
k. Sudut pandang orang ketiga : Narator berfungsi sebagai observer/pengamat.
l. Terdapat nilai-nilai filosofis yang tinggi (agama, moral, budaya, sosial, dsb.)
m. Periodenya sebelum tahun 20-an
5. Amanat dalam sastra Melayu klasik
"…..Hai anakku, janganlah engkau beringin-ingin peperangan. Jikalau mudah sekalipun,
ketahui bahwa segala perbuatan itu niscaya berbalas jua. Maka pelihara engkau kanakhir
pekerjaan, bahwa bahaya itu terkejut datangya. Maka seyogyanya engkau dari dahulu
pelihara daripada dan perteguh olehmu barang kata yang keluar daripada mulutmu dan
akalmu."
(Hikayat Iskandar Zulkranaen, dalam Kesusastraan Melayu Klasik Sepanjang Abad karya
Teuku Iskandar)
Amanat : Setia perkataan itu ada bahayanya. Maka berhati-hatilah dengan ucapan.
Latih Terampil
Karya Sastra Melayu Klasik
Sejarah Melayu
Kata Sahibul hikayat, maka tersebutlah perkataan Sang Nila Utama tinggal di Bintan
beristrikan Wan Seri Beni. Anak Raja Bintan itu terlalu amat berkasih-kasihan. Hatta berapa lamanya,
pada suatu hari, Sang Nila Utama hendak pergi beramai-ramaian ke Tanjung Bemban, hendak
membawa perempuan Baginda. Maka Baginda pun bermohon kepada bunda Baginda, permaisuri
Iskandar Syah. Maka titah bunda baginda:
“Apa kerja anak kita pergi ke sana? Tiadakah rusa dan pelanduk dengan kandangnya, dan
tiadakah kijang, landak dengan kurungannya? Tiadakah segala ikan dan kerang-kerangan di dalam
kolam? Dan tiadakah buah-buahan dan bunga-bungaan di dalam taman? Mengapakah maka anak
kita hendak bermain jauh?”
56
Maka sembah Sang Nila Utama: “Segala anak sungai Bintan ini telah habislah sudah tempat
beta bermain: Bahwa Tanjung Bemban ini diwartakan orang terlalu baik. Itulah sebabnya maka beta
pergi bermain ke Tanjung Bemban ini, duduk mati, berdiri mati, serba mati.”
Maka beberapa dilarang permaisuri Iskandar Syah, Baginda bermohon juga pergi. Maka titah
permaisuri, “Daripada sebab kita anak kita mati, baiklah anak kita pergi.”
Maka permaisuri pun menyuruh berlengkap pada Indera Bupala dan pada Aria Bupala: Telah
sudah lengkap maka Sang Nila Utama pun berangkatlah dengan raja perempuan sekali. Maka segala
lancing kenaikan pun didayung oranglah. Adapun kenaikan Baginda lancaran bertiang tiga, pilang
peraduan dalam kelambu tirai dalam kurung, serta permandian, dan kelengkapan bermasak-masak.
Maka rupa perahu orang yang mengiringkan tiada terbilang lagi.
Telah datang ke Tanjung Bamban maka Baginda pun turun bermain ke pasir. Maka raja
perempuan pun turun dengan segala bini orang besar-besar dan orang kaya-kaya bermain di pasir
itu mengambil kerang-kerangan. Maka raja perempuan duduk di bawah pohon pandan dihadap bini
segala orang kaya-kaya. Maka Baginda terlalu suka melihat kelakuan dayang-dayang bermain itu.
Masing-masing pada kesukaannya: ada yang mengambil siput, ada yang mengambil kupang, ada
yang mengambil ketam, ada juga yang mengambil lokan, ada yang mengambil daun kayu olah
hulaman, ada yang mengambil bunga karang, ada yang mengambil agar-agar. Maka terlalulah
sukacita segala dayang-dayang itu: ada yang mengambil bunga-bungaan diperbuat sunting, masing-
masing dengan tingkah lakunya, dan ada yang berlari berhambat-hambatan terserandung jatuh,
rebah rempah daripada sangat sukanya itu.
Adapun Sang Nila Utama dengan segala menteri, pegawai, rakyat pergi berburu. Maka
terlalulah banyak beroleh perburuan. Hatta maka lalu seekor rusa di hadapan Sang Nila Utama,
maka ditikam Baginda sekali lagi, kena rusuknya, terus lalu mati. Maka Sang Nila Utama datang pada
suatu batu, terlalu besar dengan tingginya, maka Baginda naik ke atas batu itu memandang ke
seberang. Maka dilihat Baginda tanah seberang itu. Pasirnya terlalu putih, seperti kain terhampar.
Maka Baginda pun bertanya pada Indera Bupala, “Pasir yang kelihatan itu tanah mana?”
Maka sembah Indera Bupala: “Itulah ujung tanah besar, Temasik namanya.”
Maka titah sang Nila Utama: “Mari kita pergi ke sana.”
Maka sembah Indera Bupala: “Mana titah tuanku.”
Maka sang Nila Utama pun naiklah ke perahu lalu menyeberang.
Setelah datang ke tengah laut, ribut pun turun; maka kenaikan itu pun keairan, maka
dipertimba orang tiada tertimba air ruang lagi. Maka disuruh penghulu kanaikan membuang; maka
beberapa harta yang dibuangkan, tiada berapa lagi yang tinggal. Maka kenaikan itu hampir ke teluk
Belanga, makin sangat air naik; maka dibuang orang segala harta yang lagi tinggal itu, hanyalah
mahkota juga yang ada lagi, tiada juga kenaikan itu timbul.
Maka sembah penghulu kenaikan kepada sang Nila Utama: “Tuanku, kepada bicara patik
sebab mahkota ini juga gerangan maka kenaikan ini telah habislah sudah. Jikalau mahkota ini tiada
dibuangkan, tiadalah kenaikan ini timbul, dan tiadalah terbela oleh patik sekalian.”
Maka titah sang Nila Utama: “Jikalau demikian, buangkanlah mahkota ini.”
Maka dibuangkan oranglah mahkota itu. Hatta maka ribut itu pun teduhlah, dan kenaikan itu
pun timbullah, maka didayung oranglah ke darat. Setelah sampai ke tepi pantai, maka kenaikan itu
pun dikepilkan oranglah; maka sang Nila Utama naik ke pasir dengan segala rakyat bermain,
mengambil kerang-kerangan; lalu baginda berjalan ke darat bermain ke padang kuala Temasik itu.
57
Syahdan maka dilihat oleh segala mereka itu seekor binatang maha tangkas lakunya, merah
warna tubuhnya, hitam kepalanya dan putih dadanya. Dan sikapnya terlalu pantas dan perkasa, dan
besarnya besar sedikit daripada kambing randuk. Telah ia melihat orang banyak maka ia berjalan ke
darat lalu lenyap. Maka Sang Nila Utama bertanya pada segala orang yang ada sertanya itu:
“Binatang apa itu?”
Maka seorang pun tiada tahu.
Maka sembah Demang Lebar Daun, “Tuanku, ada patik mendengar dahulu kala singa yang
demikian sifatnya. Baik tempat ini, karena binatang gagah ada di dalamnya.”
Maka titah Sang Nila Utama pada Indera Bupala: “Pergilah Tuan hamba kembali. Katakan
kepada Bunda bahwa kami tiadalah kembali. Jikalau ada kasih Bunda akan kita, berilah kita rakyat
dan gajah, kuda. Kita hendak membuat negeri di Temasik ini.”
Maka Indera Bupala pun kembali. Telah datang ke Bintan maka ia pun masuk menghadap
permaisuri Iskandar Syah. Maka kata Sang Nila Utama itu semuanya dipersembahkannya kepada
permaisuri. Maka kata permaisuri. “Baiklah, yang mana kehendak anak kita itu tidak kita lalui.”
Maka dihantari Baginda rakyat dan gajah, kuda, tiada tepermanai banyaknya. Maka Sang
Nila Utama pun berbuat negeri di Temasik, maka dinamai baginda Singapura. Maka Baginda pun
taballah di Singapura. Maka Bat membacakan cirinya: Maka Sang Nila Utama digelarnya oleh Bat Seri
Teribuana.
Telah berapa lamanya Seri Teribuana kerajaan di Singapura itu maka Baginda berputra dua
orang laki-laki. Keduanya baik paras; yang tua Raja Kecil Besar namanya, yang muda Raja Kecil Muda
namanya.
Maka pemaisuri Iskandar Syah dan Demang Lebar Daun dirajakan baginda di Bintan,
bergelarlah Tun Telanai. Dan daripada anak cucu dialah bergelar Telanai Bintan itu, dan yang makan
di balairung nasinya dan sirihnya sekaliannya bertetampan belaka. Hatta negeri Singapura pun
besarlah, dan dagang pun banyak datang berkampung terlalu ramai, dan bandar pun terlalu
makmur.
(Dikutip dari: Sejarah Melayu, T. D. Situmorang dan A. Teeuw)
1) Identifikasi unsur intrinsik karya sastra melayu klasik Sejarah Melayu!
2) Bagaimana perbandingan unsur intrinsik karya sastra melayu klasik dengan karya sastra
modern?
3) Buatlah sinopsis karya sastraelayu klasik dengan kalimat Anda sendiri!
4) Buatlah analisis unsur intrinsik karya sastra melayu klasik!
58
Standar Kompetensi : (15)Memahami sastra Melayu klasik
Kompetensi Dasar : 15.2 Menemukan nilai – nilai yang terkandung di dalam sastra melayu
klasik
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat menentukan struktur karya sastra melayu klasik
2. Siswa dapat menentukan nilai – nilai dalam karya sastra melayu klasik
3. Siswa dapat membandingkan nilai dalam karya sastra melayu klasik dengan nilai – nilai sastra
kini
B. Materi Pembelajaran :
Sastra Melayu Klasik
1. Pengertian
Adalah karya-karya sastra yang tersiar pada periode sastra tradisional atau sastra lama. Atau
Sastra melayu klasik adalah peninggalan sastrawan melayu yang harus diapresiasi dengan
baik.
2. Nilai
Yaitu sesuatu, sifat, atau hal yang penting yang berguna bagi kemanusiaan.
Nilai yang terdapat pada sastra melayu klasik diantaranya :
a. Nilai moral : berhubungan erat dengan pola etika atau perilaku.
b. Nilai kepercayaan : Nilai yang mengungkapkan keyakinan pada hal-hal yang bersifat
gaib.
c. Nilai budaya : Nilai yang mengikat manusia dengan segala tata cara, adat istiadat dan
tradisi.
d. Nilai sosial : Nilai yang mengatur pola hubungan antar individu dalam masyarakat.
3. Nilai moral dalam sastra Melayu klasik
Betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kendaga emas yang berisi bayi beserta
telur ayam. Mereka mengasuh bayi itu dengan hati-hati. Telur ayam itupun mereka tetaskan
dan dipelihara menjadi seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Anak angkat ini mereka
beri nama Ciung Wanara.
Nilai moral : Ciung Wanara ditemukan oleh Aki dan istrinya disungai. Ciung Wanara diasuh
oleh mereka walaupun ia bukan anak kandung mereka. Namun, mereka mensyukuri
anugerah berupa seorang putra yang diberikan Tuhan kepada mereka.
4. Nilai budaya dalam sastra Melayu klasik
Suami ular sangat berterimakasih kepada Raja Hindustan dan mengajari Raja
Hindustan ilmu bahasa binatang. Hanya saja bahasa itu tidak boleh diajarkan pada orang
lain. Kalau tidak Raja Hindustan niscaya akan mati. Sekali peristiwa itu Raja Hindustan
tertawa tergelak-gelak setelah mendengar senda gurau lipas laki-bini di tempat
peraduannya. Tahulah permaisuri bahwa Raja Hindustan pandai berbahasa binatang dan
minta diajari bahasa itu.
Nilai budaya : Suami ular mau mengajarkan bahasa binatang pada raja. Dan raja sangat
senang karena ia dapat berbicara dengan binatang-binatang.
59
Latih Terampil
1) Bagaimanakah cara menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra?
2) Jelaskan maksud karya sastra Melayu Klasik itu!
3) Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam sastra Melayu Klasik (Panji Semirang) yang dibaca?
4) Menurut pendapat Anda, bagaimana relevansi nilai-nilai sastra Melayu Klasik dengan kehidupan
masa kini? Jelaskan!
60
Standar Kompetensi : (16)Mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain kedalam
cerpen
Kompetensi Dasar : Menulis
16.1 Menulis karangan berdasarkan kehidupan diri sendiri dalam cerpen
(pelaku, peristiwa, latar)
A. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat :
1. mendata peristiwa yang pernah dialami
2. menentukan pelaku, peristiwa dan latar
3. menulis cerita pendek peristiwa yang pernah dialami
B. Materi Pembelajaran :
1. Pengertian Cerpen
Cerpen adalah karangan singkat, sederhana, dan berisi masalah yang relatif sederhana
dibanding dengan novel. Cerpen biasanya dapat selesai dibaca sekali duduk saja. Penggunaan
kalimat dan kata-katanya biasanya memberikan suatu efek perasaan kepada pembacanya (sedih,
gembira, takut, dsb). Cerita pendek adalah salah satu karya sastra yang paling banyak
dipublikasikan, paling banyak media yang menyalurkannya, dan paling banyak penikmatnya.
Aspek yang dinikmati adalah alur dan penokohannya.
2. Ciri-ciri Cerpen
a. Jumlah perkataan di sekitar 500 hingga 20 000 patah kata.
b. Ceritanya harus mempunyai kesan kesatuan, lengkap dan berupaya menyampaikan
amanat atau pesannya.
c. satu tema atau persoalan cerita yang menjadi fokus sejak permulaan peristiwa
berkembang sehingga menemukan penyelesaiannya.
d. hanya ada satu plot yang berlaku dalam satu ruang yang pendek dan tiada subplot.
e. jumlah tokoh sedikit.
f. latar yang singkat, ruang cakupannya terbatas.
3. Unsur pembangun cerpen
a.Tema : Gagasan, ide, atau pikiran utama, yang mendasari suatu karya sastra.
b. Penokohan : Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Adapun
metode penyajiannya, antara lain:
1) Metode analitik/langsung : Yaitu penjelasan langsung melalui penulis
berupa deskripsi watak, fisik, pola tingkah laku tokoh
2) Metode dramatik/tak langsung: Melalui aksi atau reaksi dari tokoh dalam
cerita, berupa dialognya, sikapnya, pendapat tokoh lain
c.Setting : Segala keterangan, petunjuk, engacuan yang berkaitan dengan waktu,
ruang , dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita
d. Plot/Alur :
1) Biasanya terbagi menjadi tiga bagian yaitu permulaan (awal), pertengahan
(perkembangan), dan pengakhiran (akhir).
2) Bagian permulaan cerpen menampilkan watak, latar dan suasana yang menarik
pembaca dan menghadapkan kita dengan berbagai situasi yang menampilkan
aksi dan reaksi tokoh-tokoh.
3) Dalam bagian pertengahan atau perkembangan plot, tokoh-tokoh saling
berkonflik, menimbulkan masalah dan kerumitan yang cenderung menuju ke
puncak cerita(klimaks).
4) Pada bagian akhir cerpen, plot mula-mula menurun ke bagian akhir untuk
menemukan penyelesaian cerita.
e.Sudut Pandang : Ada 3 jenis sudut pandang, yaitu:
1) Sudut pandang pertama : Pencerita adalah tokoh
2) Sudut pandang kedua : Pencerita adalah tokoh sampingan (selain tokoh
utama)
61
3) Sudut pandang ketiga : Pencerita adalah orang di luar
cerita/pengamat
f. Amanat : Adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang
melalui karyanya
4. Langkah-langkah menulis cerpen
a) Menentukan tema dan unsur intrinsik lainnya
b) Mengembangkan imajinasi
c) Menerangkan ide dengan memperhatikan unsur pembangun, diksi, dan gaya bahasa
d) Mengembangkan tiap ide menjadi satu kesatuan
Hal-hal penting yang diperhatikan agar cerpen menjadi menarik :
a. Memilih tema yang digemari pembaca
b. Menyusun paragraf semenarik mungkin
c. Menggali dan menghidupkan suasana
d. Gunakan kalimat efektif
e. Menggerakkan tokoh atau pelaku
f. Mengatur alur sesuai suasana yang dikehendaki
g. Menciptakan kejutan
5. Setting dalam cerpen :
“Pagi indah sekali di Baturaden. Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon cemara
yang kelihatan hijau berkilat. Puncak Gunung Selamet muncul di atas warna-wana hijau kebiruan
alam di sekitarnya. Langit sangat bersih, biru cerah, menjadi latar belakang yang menonjolkan
kegagahan gunung itu.”
Unsur setting-nya adalah Baturaden, di hari yang cerah sekitar pagi, di tempat terbuka yang
dipenuhi pepohonan.
6. Penokohan dalam cerpen:
“Pak Windi guru Bahasa Indonesiaku yang sangat dinantikan hampir seluruh kelas di
sekolahku. Di samping orangnya tampan, dia juga humoris dan lembut nada bicaranya, maklumlah
putra Solo.”
Unsur penokohan adalah Pak Windi, seorang putra Solo guru Bahasa Indonesia yang
humoris, tampan, dan lembut, tokoh yang dinanti-nanti kehadirannya.
7. Alur dalam cerpen :
“Aku ingin menjemput Bunda. Mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak. Ia ingin
tinggal di sana sampai kematian menjemputnya nanti. Aku sendiri tak bisa mencegahnya. Akhirnya
aku tinggal di kota ini mengontrak rumah dengan seorang teman untuk mengirit biaya.”
Unsur alur adalah mulai dari ajakan seorang anak agar bundanya tinggal di kota, namun
bundanya menolak, sehingga ia tinggal di kota tersebut mengontrak rumah dengan teman.
8.Nilai moral dalam cerpen:
“Aku jadi sangat cemas karenanya. Asti menyarankan agar aku meminta izin untuk pulang
kampung menjenguk bunda. Mulanya aku ragu. Sebagai seorang karyawan yang belum lama bekerja
belum tentu aku mendapat izin. Tapi mereka mengerti dan aku mendapat izin untuk pulang selama
dua hari.”
Unsur nilai moral adalah berbakti kepada orang tua dengan merawatnya kala sakit.
9. Amanat dalam cerpen:
62
“Apa kamu mau dicap oleh Allah sebagai umat yang taqlid, yang segala ibadahnya adalah
hanya sekedar ikut-ikutan saja? Pipit, sifat orang yang beriman taqlid dalam beragama itu, seperti
daun kering yang ditiup angin. Segala amal ibadahnya sia-sia di sisi Allah.” Ibu berkata dengan
bijaksana.”
Unsur amanat adalah: “Beribadahlah dengan tulus, agar amal ibadahmu tidak sia-sia di sisi
Allah”
Perhatikan cerpen yang berasal dari pengalaman pribadi berikut!
Sebab Cinta
karya Bayu Gawtama
Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bus yang berjalan merambat di depan halte di
daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia mengendong anaknya yang
masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik
karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bus kota, sayangnya bus besar
itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.
Si kecil yang digendongnya, hanya dapt menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang
memerihkan mata, Ia, sungguh takkan pernah mengerti apa sebabnya ia dibawa berlari mengejar
satu bus ke bus yang lainnya. Ia, juga takkan penah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi puluhan
pasang mata di dalambus kota mengejeknya. Tetapi, yang ia tahu hanyalah terik matahari, derasnya
hujan, debu jalanan, asap kenalpot, aroma bus kota, tatapan iba, dan juga makian penumpang yang
terganggu oleh hingar bingar musik ibunya.Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.
Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang, Banten. Pukul 02.00 dini hari,
seorang anak berusia tidak lebih tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam,
berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual dan pembeli.
Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang
sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.
Anak pasar itu – kalau boleh disebut begitu – tidak pernah tahu mengapa ibunya
menyertakannyadalam aktivitas di pasar dini hari. Ia tak pernah benar-benar mengerti mengapa
dirinya berada di tengah-tengahtumpukan cabe, bawang, tomat, dan sayuran. Setiap pagi ia melihat
transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabe, bawang,
tomat, itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk, itulah selimutnya, dan aroma tak sedap pasar
beceklah yang kerap mengakrapinya.
Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta api listrik) mengendong
anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan
pernah mengerti itu,benar-benar tidak tahu, mengapa ibunya rela menanggung malu mengemis
belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya, ”Beratkah ibu mengendong
saya?”
Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si
kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua
kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu tak pernah memahami mengapa di setiap menit selalu ada
tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tidak pernah
63
menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu sering dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi
sekeping receh yang diharapkannya.
Anak-anak itu,memang belum akan mengerti mengapa ibunya mengejar bus kota,mengakrapi
malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Mereka hanyalahtahu bahwa
mereka tidak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah
setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu berkata, ”Sebab cinta, ibu
melakukan semua ini, Nak”.
Sungguh, jika tidak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk
menghapus kata ”lelah” dan ”putus asa” dalam kamus seorang ibu.
Sumber: www.eramuslim.com
Latih Terampil
1. Buatlah draft cerpen( tema, alur/peristiwa-peristiwa, dan unsur instrinsik) berdasarkan
pengalaman Anda yang paling berkesan!
2. Buatlah sebuah cerpen berdasarkan draft yang telah Anda susun tentang pengalaman Anda yang
paling berkesan!
Lembar Observasi
Penilaian Proses (Individu)
Kelas : X .. Tanggal : .................
No. Aspek yang dinilai Jum.
No Nama Nilai
Abs. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Skor
1
2
3
Aspek yang dinilai:
1. Membuat judul
2. Memulai cerita (pengenalan cerita/ eksposisi)
3. Membangun awal konflik
4. Keruwetan/ penanjakan konflik
5. Klimaks/ puncak konflik
6. Penyelesaian
7. Pilihan kata
8. Ejaan
9. Tanda baca ada :,./?”{
Rubrik Penilaian: skor 4 Nilai = Jumlah.Skor X100
skor 3 36
o Sangat tepat skor 2
o Tepat skor 1
o Kurang tepat skor 0
o Tidak tepat
o Tidak kerkarya
64
Standar Kompetensi : (16)Mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam
cerpen
Kompetensi Dasar : 16.2 Menulis karangan berdasarkan pengalaman orang lain dalam cerpen
(pelaku, peristiwa, latar)
A. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat:
1. mendata peristiwa yang dialami teman :
2. menentukan pelaku, peristiwa dan latar
3. menulis cerita pendek pengalaman orang lain
B. Materi Pembelajaran
Menulis cerpen berdasarkan pengalaam orang lain
Kita telah mempelajari bagaimana menulis cerpen berdasarkan pengalaman didi sendiri. Kali ini kita
akan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain, yang secara teknis tidak jauh berbeda.
Mungkin temanmu pernah menceritakan pengalaman atau peristiwa yang dialaminya, atau mungkin
kamu pernah membaca pengalaman orang lain di majalah atau Koran. Kamu dapat menulis
pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita. Untuk menjaga kerahasiaan, nama tokoh dan
settingnya dapat kamu ubah!
Perhatikan cerita pengalaman seorang tokoh berikut ini!
Glenn Cunningham berumur delapan tahun ketika ia mengalami kecelakaan. Ia dan kakaknya,
Floyd, sedang menyalakan tungku pemanas sekolah ketika tiba-tiba tungku tersebut a ia meledak
dan menewaskan Floyd. Glenn sedang berada di pintu sehingga ia selamat, tapi ketika menyadari
bahwa Floyd masih di dalam, Glenn berlari masuk untuk menyelamatkannya. Ia gagal, bahkan kedua
kakinya terbakar hebat. Kedua kakinya menjadi lumpuh dan tidak dapat merasakan apapun. Dokter
menyarankan agar kedua kakinya diamputasi, tapi sambil menangis Glenn memohon agar kakinya
tidak dipotong. Orang tuanya tidak tega dan menuruti keinginannya sehingga kakinya selamat dari
amputasi. Dalam hatinya, Glenn yakin suatu saat ia akan dapat berjalan lagi. Kedua kaki Glenn
bengkok dan semua jari kaki kirinya hilanh. Setelah perban dibuka, kedua orang tuanya bergiliran
mengurut kakinya setiap hari meskipun hamper tidak ada perubahan. Tetapi beberapa bulan
kemudian Glenn mencoba berdiri dan berjalan dengan dibantu oleh ayahnya. Kakinya tetap diurut
setiap hari dan kemudian Glenn Cunningham yang tadinya kata dokter “tidak mungkin dapat
berjalan lagi” kini dapat berjalan. Glenn masih merasa kakinya lemah sehingga ia ingin menguatkan
kakinya. Ia mulai berlari pada setiap kesempatan. Ia berlari ke sekolah, ia berlari ketika mengjkuti
paduan suara, ia berlari ke took daging, ia berlari di lapangan, ia berlari mencari kayu bakar dan
berlari pulang dengan kedua tangan penuh kayu. Ia tidak pernah berjalan apabila ia dapat berlari.
Lima tahun kemudian, ketika berumur 13 tahun, ia memenangkan gelar juara lari di Morton County
Fair. Sejak itu ia semakin sering mengikuti kejuaraan lari dan selalu berhasil menjadi pemenang.
Glenn Cunningham menjadi juara lari bukan karena kakinya kuat, bahkan kaki itu pernah hampir
dibuang. Glenn menjadi juara karena ia berlari pada saat semua orang berjalan.
Sumber : Andrie Wongso
65
Latih Terampil 1
1)Berdasarkan pengalaman Glenn Cunningham tersebut, buatlah sebuah cerpen! Kalian tinggal
menabahkan dialog antartokohnya. Gunakan imajinasimu untuk menggambarkan peristiwa dan
latar ceritanya!
Contoh:
Aku terkejut, ketika tia-tiba terdengar suara ledakan dan api yang menyala. Aku berteriak
memanggil kakakku, ”Floyd!”. Tapi api semakin besar dan aku melihat kakakku terbakar.
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menerobos kobaran api. Aku harus menyelamatkan
kakakku....
Latih Terampil 2:
2) Tentukan pengalaman teman Anda yang paling berkesan!
3) Rancanglah unsur-unsur yang membangun cerpen Anda seperti tokoh, peristiwa, dan latar
cerita!
4) Tulislah sebuah cerpen yang menarik tentang pengalaman teman Anda dengan
menggunakan diksi yang tepat.
Lembar Observasi
Penilaian Proses (Individu)
Kelas : X .. Tanggal : .................
No. Aspek yang dinilai Jum.
No Nama Nilai
Abs. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Skor
1
2
3
4
5
Aspek yang dinilai:
1. Membuat judul
2. Memulai cerita (pengenalan cerita/ eksposisi)
3. Membangun awal konflik
4. Keruwetan/ penanjakan konflik
5. Klimaks/ puncak konflik
6. Penyelesaian
7. Pilihan kata
8. Ejaan
9. Tanda baca
Rubrik Penilaian:
o Sangat tepat skor 4 Nilai = Jumlah.Skor X100
o Tepat skor 3 36
o Kurang tepat skor 2
o Tidak tepat skor 1
o Tidak kerkarya skor 0
66
DAFTAR PUSTAKA
Badudu, J.S. 1975. Sari Kesusastraan Indonesia 2. Bandung: Pustaka Prima.
Elquds, Moh. Sakhowi dan Ziedan Maulana. 2005. Panduan MC & Pidato. Surabaya :
Amelia.
Eneste, Pamusuk. 2006. Chairil Anwar Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta:Gramedia
Pustaka Utama.
Keraf, Gorys. 1999. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. 1986. Sintaksis. Yogyakarta : CV.Karyono.
67