www.facebook.com/indonesiapustaka Maka John Faa, Farder Coram, Mary, dan Serafina pergi
bersama mereka ke tempat dunia kematian terbuka, dan tempat
hantu-hantu keluar, masih dalam prosesi tanpa akhir mereka.
Mulefa menanam pepohonan di sekitarnya, karena tempat itu
suci, kata mereka; mereka akan menjaganya selama-lamanya;
tempat itu merupakan sumber sukacita.
”Well, ini misteri,” kata Farder Coram, ”dan aku senang aku
hidup cukup lama untuk melihatnya. Masuk ke kegelapan
kematian adalah apa yang kita semua takuti. Katakan apa saja
yang kita sukai, tapi kita takut pada kematian. Tapi jika ada
jalan keluar bagi kita yang harus turun ke sana, hatiku menjadi
lebih ringan.”
”Kau benar, Coram,” kata John Faa. ”Aku sudah melihat
banyak orang baik meninggal; aku sendiri mengirim lebih dari
beberapa orang turun ke dalam kegelapan, meski selalu dalam
kemarahan pertempuran. Mengetahui bahwa sesudah beberapa
saat dalam kegelapan kita akan keluar lagi ke daerah indah
seperti ini, bebas di langit bagai burung-burung, well, itu janji
terhebat yang bisa diharapkan siapa pun.”
”Kita harus membicarakan hal ini dengan Lyra,” kata Farder
Coram, ”dan bertanya bagaimana bisa begini, apa artinya.”
Sulit rasanya bagi Mary untuk mengucapkan selamat tinggal
kepada Atal dan mulefa lainnya. Sebelum ia naik ke kapal,
mereka memberinya hadiah: tabung pernis berisi minyak pohon-
roda, dan yang paling berharga, sekantong kecil biji.
Mungkin tidak tumbuh di duniamu, kata Atal, tapi kalaupun tidak
tumbuh, kau masih memiliki minyaknya. Jangan lupakan kami, Mary.
Takkan pernah, kata Mary. Takkan pernah. Seandainya aku
hidup selama para penyihir dan melupakan semua hal lain, aku tidak
akan pernah melupakanmu dan kebaikan orang-orangmu, Atal.
599
www.facebook.com/indonesiapustaka Maka perjalanan pulang dimulai. Angin bertiup lembut, laut
tenang, dan meski mereka melihat kilau sayap-sayap raksasa
seputih salju lebih dari sekali, burung-burung itu waspada dan
menjaga jarak cukup jauh. Will dan Lyra menghabiskan setiap
jam bersama-sama, dan bagi mereka perjalanan selama dua
minggu itu berlalu dalam sekejap mata.
Xaphania telah memberitahu Serafina Pekkala bahwa pada
saat semua jendela telah ditutup, hubungan antardunia akan
kembali seperti yang selayaknya, dan Oxford Lyra serta Oxford
Will akan tumpang tindih lagi, seperti gambar transparan pada
dua helai film yang didekatkan hingga menyatu; meski tidak
pernah benar-benar bersentuhan.
Tapi pada saat itu mereka terpisah jauh—sejauh perjalanan
Lyra dari Oxford-nya ke Cittàgazze dulu. Oxford Will ada di
sini sekarang, hanya seirisan pisau jauhnya. Hari sudah menjelang
malam sewaktu mereka tiba, dan saat jangkar diceburkan ke
air, matahari memancar hangat di perbukitan hijau, di atap-
atap terakota, dermaga anggun yang telah runtuh, dan kafe
kecil Will dan Lyra. Pencarian yang panjang melalui teleskop
Kapten tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan, tapi
John Faa berniat membawa setengah lusin orang bersenjata ke
pantai sekadar untuk berjaga-jaga. Mereka tidak akan mere-
potkan, tapi mereka ada jika dibutuhkan.
Mereka menyantap hidangan terakhir bersama-sama, meng-
awasi kegelapan turun. Will mengucapkan selamat berpisah
pada Kapten dan para mualimnya, dan pada John Faa serta
Farder Coram. Ia tampaknya nyaris tak menyadari keberadaan
mereka, dan mereka melihatnya lebih jelas daripada ia melihat
mereka: mereka melihat orang yang masih muda, tapi sangat
kuat, dan sangat tertekan.
Akhirnya Will dan Lyra serta dæmon mereka, dan Mary serta
Serafina Pekkala, berjalan melintasi kota yang kosong. Dan kota
600
www.facebook.com/indonesiapustaka itu memang kosong; satu-satunya suara langkah yang terdengar
dan bayang-bayang yang terlihat hanyalah milik mereka sendiri.
Lyra dan Will berjalan lebih dulu, bergandengan tangan, ke tem-
pat mereka harus berpisah, dan kedua wanita menjaga jarak agak
jauh di belakang, bercakap-cakap seperti saudara.
”Lyra ingin mengunjungi Oxford-ku sebentar,” kata Mary.
”Ada yang direncanakannya. Ia akan langsung kembali sesudah-
nya.”
”Apa yang akan kaulakukan, Mary?”
”Aku—pergi dengan Will, tentu saja. Kami akan pergi ke
apartemenku—rumahku—malam ini, dan besok kami akan men-
cari tahu di mana ibunya, lalu melihat apa yang bisa kami
lakukan untuk membantu ibunya agar sembuh. Begitu banyak
peraturan dan undang-undang di duniaku, Serafina; kau harus
memuaskan pihak berwenang dan menjawab ribuan pertanyaan;
akan kubantu Will dalam bidang hukum dan dinas sosial serta
tempat tinggal dan segalanya, dan membiarkan ia memusatkan
perhatian pada ibunya. Ia anak yang tegar... Tapi aku akan
membantunya. Lagi pula, aku membutuhkannya. Aku sudah tidak
punya pekerjaan lagi, tidak banyak uang di bank, dan aku
takkan terkejut jika polisi ternyata mencariku... Ia akan menjadi
satu-satunya orang di duniaku yang bisa kuajak bicara tentang
semua ini.”
Mereka melangkah melewati jalan-jalan yang sunyi, melintasi
menara persegi dengan ambang pintu yang terbuka ke ke-
gelapan, melewati kafe kecil yang meja-mejanya berdiri di
trotoar, dan keluar ke bulevar lebar dengan jajaran pohon
palem di tengah-tengahnya.
”Aku masuk melalui jalan ini,” kata Mary.
Jendela yang pertama kali dilihat Will di jalan tepi kota yang
sepi di Oxford terbuka di sini, dan di sisi Oxford, jendela itu
dijaga polisi—atau dulunya begitu sewaktu Mary menipu mereka
601
www.facebook.com/indonesiapustaka agar mengizinkannya masuk. Ia melihat Will mengulurkan tangan
ke sana dan menggerak-gerakkan tangan dengan sigap di udara,
dan jendelanya menghilang.
”Mereka akan terkejut sewaktu memeriksanya nanti,” katanya.
Lyra berniat pergi ke Oxford Mary dan menunjukkan sesuatu
pada Will sebelum pulang bersama Serafina. Jelas sekali me-
reka harus berhati-hati membuka jendelanya; maka kedua wa-
nita itu mengikuti di belakang, melewati jalan-jalan Cittàgazze
yang diterangi cahaya bulan. Di sebelah kanan mereka ter-
dapat taman luas dan anggun menuju rumah besar dengan
serambi klasik yang secemerlang lapisan gula di bawah sinar
bulan.
”Sewaktu kau memberitahukan bentuk dæmonku padaku,”
kata Mary, ”katamu kau bisa mengajariku cara melihatnya, jika
kita memiliki waktu... Kuharap kita memiliki waktu.”
”Well, kita memiliki waktu,” kata Serafina, ”dan bukankah
kita sudah berbicara? Aku telah mengajarkan beberapa legenda
penyihir, yang terlarang menurut aturan lama di duniaku. Tapi
kau akan kembali ke duniamu, dan cara lama sudah berubah.
Aku juga belajar banyak darimu. Nah, sewaktu kau berbicara
dengan Bayangan di komputermu, kau harus menjaga be-
nakmu dalam kondisi tertentu, bukan?”
”Ya... sama seperti yang dilakukan Lyra dengan alethiometer-
nya. Maksudmu aku harus mencoba begitu?”
”Bukan hanya itu, tapi melihat seperti biasa pada saat yang
bersamaan. Cobalah sekarang.”
Di dunia Mary ada semacam gambar yang mulanya tampak
seperti bintik-bintik warna yang acak, tapi jika kau melihatnya
dengan cara tertentu, gambar tampak berkembang menjadi
tiga dimensi: dan di sana, di depan kertasnya, akan ada pohon,
atau wajah, atau benda lain yang padat mengejutkan tapi
sebelumnya tidak ada.
602
www.facebook.com/indonesiapustaka Apa yang diajarkan Serafina pada Mary sekarang mirip
dengan itu. Ia harus mempertahankan penglihatan normalnya
sementara secara bersamaan menyelinap ke dalam lamunan
bagai kerasukan, tempat ia bisa melihat Bayangan. Tapi sekarang
ia harus mempertahankan keduanya pada waktu yang bersamaan,
penglihatan biasa dan saat kesurupan, seperti kau harus me-
lihat ke dua arah sekaligus untuk melihat gambar-gambar tiga
dimensi di antara bintik-bintiknya.
Dan seperti pada gambar bintik-bintik, ia tiba-tiba melihatnya.
”Ah!” serunya, dan meraih lengan Serafina untuk menyeim-
bangkan diri, karena di pagar besi di sekitar taman bertengger
burung: hitam mengilat, dengan kaki merah dan paruh kuning
melengkung: burung cough Alpen, seperti yang dijabarkan
Serafina. Burung itu—bagian dirinya—hanya satu atau dua
meter jauhnya, mengawasinya dengan kepala agak ditelengkan,
seakan keheranan bercampur gembira.
Tapi Mary begitu terkejut sehingga konsentrasinya berantakan,
dan burung itu menghilang.
”Kau sudah bisa melakukannya sekali, dan lain kali akan
lebih mudah,” kata Serafina. ”Sesudah tiba di duniamu nanti,
kau juga akan belajar melihat dæmon orang lain dengan cara
yang sama. Mereka takkan melihat dæmonmu atau dæmon
Will, kecuali kauajarkan mereka apa yang sudah kuajarkan
padamu.”
”Ya... Oh, ini luar biasa. Ya!”
Mary berpikir: Lyra bercakap-cakap dengan dæmonnya, bu-
kan? Apakah ia bisa mendengar burung ini selain melihatnya?
Ia meneruskan perjalanan, berbinar penuh harap.
Di depan mereka, Will sedang memotong jendela, dan ia
serta Lyra menunggu keduanya agar ia bisa menutupnya lagi.
”Kau tahu di mana kita?” tanya Will.
Mary memandang sekitarnya. Jalan tempat mereka berada
603
www.facebook.com/indonesiapustaka sekarang, di dunianya, sepi dan diapit pepohonan, dengan
rumah-rumah besar bergaya Victoria di kebun-kebun yang
dipenuhi semak-semak.
”Di suatu tempat di kawasan utara Oxford,” kata Mary.
”Tidak jauh dari apartemenku, sebetulnya, meskipun aku tidak
tahu jalan apa ini tepatnya.”
”Aku mau pergi ke Taman Botani,” kata Lyra.
”Baiklah. Kurasa itu sekitar lima belas menit berjalan kaki.
Lewat sini...”
Mary mencoba penglihatan gandanya sekali lagi. Ia bisa
melakukannya lebih mudah kali ini, dan burungnya ada di
sana, bersamanya di dunianya, bertengger di cabang yang
menjuntai rendah di atas trotoar. Untuk melihat apa yang akan
terjadi, ia mengulurkan tangan, dan burung itu melangkah ke
sana tanpa ragu-ragu. Mary merasakan beban yang ringan,
cengkeraman erat cakar-cakar di jemarinya, dan dengan lembut
memindahkan burung itu ke bahunya. Burung itu bertengger
seakan telah berada di sana seumur hidupnya.
Well, memang, pikir Mary, dan meneruskan perjalanan.
Lalu lintas di High Street tidak ramai, dan sewaktu berbelok
menuruni undakan di seberang Akademi Magdalen menuju
gerbang Taman Botani, mereka benar-benar sendirian. Di sana
terdapat gapura berornamen, dengan kursi-kursi batu di
dalamnya, dan sementara Mary dan Serafina duduk di sana,
Will dan Lyra memanjat pagar besi, masuk ke taman. Kedua
dæmon mereka menyelinap di sela-sela jeruji, dan mendului
mereka.
”Lewat sini,” kata Lyra, sambil menarik tangan Will.
Lyra mengajaknya melewati kolam dengan pancuran di bawah
pohon yang dahan-dahannya melebar, lalu berbelok ke kiri di
sela-sela petak tanaman ke pohon pinus besar bercabang ba-
nyak. Ada dinding batu kokoh dengan pintu, dan di bagian
604
www.facebook.com/indonesiapustaka taman yang lebih dalam, pepohonannya lebih muda serta pe-
nataannya tidak seresmi bagian depan. Lyra mengajaknya sam-
pai hampir ke ujung taman, melewati jembatan kecil, ke bangku
kayu di bawah pohon bercabang rendah tapi lebar.
”Ya!” katanya. ”Aku sudah begitu berharap, dan ini dia,
tepat sama... Will, aku biasa datang kemari di Oxford-ku dan
duduk di bangku yang sama setiap kali aku ingin sendirian,
hanya aku dan Pan. Kupikir kalau kau—mungkin hanya setahun
sekali—jika kita bisa datang kemari pada saat yang sama,
sekadar selama satu jam, lalu kita bisa berpura-pura dekat
lagi—karena kita memang akan dekat, jika kau duduk di sini
dan aku duduk di sini di duniaku—”
”Ya,” kata Will, ”seumur hidupku, aku akan kembali. Di mana
pun aku berada di dunia ini, aku akan kembali ke sini—”
”Di Hari Pertengahan Musim Panas,” kata Lyra. ”Di tengah
hari. Seumur hidupku. Seumur hidupku...”
Will mendapati dirinya tak mampu melihat, tapi ia membiar-
kan air matanya yang panas mengalir dan hanya memeluk Lyra
erat-erat.
”Dan jika kita—kelak—” bisik Lyra gemetar—”jika kita
bertemu orang yang kita sukai, dan jika kita menikahi mereka,
kita harus bersikap baik pada mereka, tidak membandingkan
mereka sepanjang waktu dan berharap kita saling menikah...
Tapi terus datang ke sini setahun sekali, hanya selama satu jam,
bersama-sama...”
Mereka berpelukan erat. Menit demi menit berlalu; burung
air di atas sungai di sebelah mereka bergerak dan berseru;
terdengar suara mobil yang sesekali melintas di Jembatan
Magdalen.
Akhirnya mereka melepaskan pelukan.
”Well,” kata Lyra lembut.
Segala yang menyangkut Lyra saat itu terasa lembut; dan itu
605
www.facebook.com/indonesiapustaka salah satu kenangan kesukaan Will kelak—keanggunan Lyra
yang tegang diperlembut suasana remang-remang, mata dan
tangan serta terutama bibirnya sangat lembut. Will menciumnya
berulang kali, dan seiring setiap ciuman, ia semakin mendekati
ciuman terakhir.
Dengan perasaan berat dan lembut oleh cinta, mereka berjalan
kembali ke gerbang. Mary dan Serafina tengah menanti.
”Lyra—” kata Will, dan Lyra berkata, ”Will.”
Will membuka jendela ke Cittàgazze. Mereka berada jauh di
dalam taman di sekitar rumah besar, tidak jauh dari tepi hutan.
Mereka masuk ke sana untuk terakhir kalinya, dan memandang
kota yang sunyi di bawahnya, atap-atap gentengnya yang berkilau
tertimpa cahaya bulan, menara di atas atap-atap itu, kapal yang
bercahaya dan menunggu di laut yang tenang.
Will menoleh pada Serafina dan berkata semantap mungkin,
”Terima kasih, Serafina Pekkala, karena sudah menyelamatkan
kami di menara dulu, dan untuk segala hal lainnya. Tolong
berbaik hatilah pada Lyra selama ia hidup. Aku mencintainya
lebih daripada siapa pun yang pernah dicintai.”
Sebagai jawaban, ratu penyihir itu mencium kedua pipi Will.
Lyra berbisik-bisik pada Mary, lalu mereka juga berpelukan,
dan mula-mula Mary, lalu Will, melangkah melewati jendela
terakhir, kembali ke dunia mereka sendiri, dalam keteduhan
pepohonan Taman Botani.
Bersikap ceria harus dimulai sekarang, pikir Will sekuat tenaga,
tapi rasanya seperti berusaha menahan serigala yang memberon-
tak dalam pelukannya sementara hewan itu ingin mencakar
wajahnya dan merobek tenggorokannya. Meski demikian ia
berhasil melakukannya, dan ia merasa tidak ada yang melihat
seberapa susah tindakan itu baginya.
Ia tahu Lyra juga tengah melakukan hal yang sama, dan
ketegangan dan kekakuan senyum Lyra menunjukkan hal itu.
606
www.facebook.com/indonesiapustaka Meski demikian, Lyra tersenyum.
Satu ciuman terakhir, tergesa-gesa dan kikuk hingga tulang
pipi mereka berbenturan, dan air mata Lyra pindah ke wajah
Will; kedua dæmon mereka berciuman sebagai ucapan
perpisahan, dan Pantalaimon melesat ke lengan Lyra, kemudian
Will mulai menutup jendelanya, dan selesai, jalannya telah
tertutup, Lyra telah lenyap.
”Sekarang—” katanya, berusaha agar suaranya terdengar biasa,
tapi tetap saja ia harus memalingkan wajah dari Mary—”aku
harus mematahkan pisaunya.”
Ia mencari-cari di udara dengan cara yang dikenalinya hingga
menemukan celah, dan mencoba mengingat kembali apa yang
terjadi sebelumnya. Ia hendak membuka jendela di gua, lalu
Mrs Coulter tiba-tiba dan tanpa terduga mengingatkannya pada
ibunya, dan pisaunya patah karena, pikirnya, pisau itu akhirnya
menemukan apa yang tidak bisa diirisnya, dan itu adalah
cintanya pada ibunya.
Maka ia mencobanya sekarang, membayangkan wajah ibunya
seperti yang terakhir kali dilihatnya, penuh air mata dan ling-
lung di lorong kecil rumah Mrs Cooper.
Tapi tidak berhasil. Pisaunya dengan mudah mengiris udara,
dan membuka dunia yang sedang hujan badai: tetesan-tetesan
besar menghambur masuk, mengejutkan mereka berdua. Will
bergegas menutupnya lagi, dan sejenak berdiri kebingungan.
Dæmonnya mengerti apa yang harus dilakukannya, dan ber-
kata, ”Lyra.”
Tentu saja. Ia mengangguk, dan dengan pisau di tangan
kanan, ia mengusapkan tangan kirinya ke tempat air mata Lyra
masih menempel di pipinya.
Dan kali ini, diiringi deritan keras, pisaunya hancur berantakan
dan mata pisaunya jatuh berkeping-keping ke tanah, berkilau di
bebatuan yang masih basah akibat hujan dari alam semesta lain.
607
www.facebook.com/indonesiapustaka Will berlutut untuk memungutinya dengan hati-hati, Kirjava
dengan mata kucingnya membantu menemukan semuanya.
Mary menyandang ransel.
”Well,” katanya, ”well, dengar sekarang, Will. Kita hampir
tak pernah bicara, kau dan aku... Jadi kita masih asing satu
sama lain. Tapi aku dan Serafina Pekkala sudah saling berjanji,
dan aku baru saja berjanji pada Lyra. Bahkan jika belum
mengadakan perjanjian lainnya, aku menjanjikan hal yang sama
padamu, yaitu jika kau mengizinkan, aku akan menjadi te-
manmu seumur hidup kita. Kita berdua sendirian, dan kurasa
kita berdua bisa saling... Yang kumaksud adalah, tidak ada
orang lain yang bisa kita ajak bicara mengenai kejadian ini,
kecuali satu sama lain... Kita berdua juga harus membiasakan
diri hidup dengan dæmon kita... Kita berdua terlibat masalah,
dan kalau itu bukan persamaan di antara kita, aku tidak tahu
apa yang bisa kita sebut persamaan.”
”Kau terlibat masalah?” ulang Will, memandangnya. Mary
yang terbuka, ramah, pandai, membalas tatapannya.
”Yah, aku merusak beberapa properti di laboratorium se-
belum pergi, memalsukan kartu identitas, dan... Bukan hal yang
tidak bisa kita hadapi. Masalahmu—kita juga bisa menghadapi-
nya. Kita bisa menemukan ibumu dan mendapatkan perawatan
yang layak untuknya. Jika kau membutuhkan tempat tinggal,
yah, kalau kau tidak keberatan tinggal bersamaku, jika kita bisa
mengaturnya, kau tidak perlu masuk ke, apa pun sebutan
mereka untuk tempat seperti itu, ke panti perawatan. Maksudku,
kita harus menyusun cerita dan bertahan dengan cerita itu, tapi
kita bisa melakukannya, bukan?”
Mary teman. Will memiliki teman. Itu benar. Ia belum
pernah memikirkan itu.
”Ya!” katanya.
”Well, ayo kita lakukan. Apartemenku sekitar delapan ratus
608
www.facebook.com/indonesiapustaka meter jauhnya dari sini, dan kau tahu apa yang paling kuinginkan
di dunia ini? Aku ingin secangkir teh. Ayo, kita pulang dan
menjerang air.”
Tiga minggu setelah Lyra mengawasi tangan Will menutup
dunianya untuk selama-lamanya, ia mendapati diri sekali lagi
duduk di meja makan Akademi Jordan, tempat ia pertama kali
terpengaruh pesona Mrs Coulter.
Kali ini yang hadir lebih sedikit: hanya dirinya dan Master
serta Dame Hannah Relf, kepala St Sophia, salah satu akademi
untuk perempuan. Dame Hannah juga hadir di makan malam
dulu itu, dan kalaupun Lyra terkejut melihat kehadirannya
sekarang, ia tetap menyapanya dengan sopan, dan mendapati
kenangannya keliru: karena Dame Hannah yang ini jauh lebih
pandai, lebih menarik, dan jauh lebih ramah daripada wanita
muram dan lusuh yang diingatnya.
Banyak kejadian berlangsung sementara Lyra pergi—terhadap
Akademi Jordan, terhadap Inggris, terhadap seluruh dunia.
Tampaknya kekuasaan Gereja sempat meningkat pesat, dan
banyak hukum brutal yang disahkan, tapi kekuasaan itu memu-
dar secepat perkembangannya: pemberontakan dalam Magiste-
rium telah menjatuhkan para fanatik dan mengangkat fraksi-
fraksi yang lebih liberal. Lembaga Hak Persembahan telah
dibubarkan; Pengadilan Disiplin Agama kebingungan dan tak
memiliki pemimpin.
Dan akademi-akademi di Oxford, setelah jeda singkat yang
penuh kekacauan, kembali ke ketenangan ritual dunia belajar.
Ada benda-benda yang hilang: koleksi barang perak berharga
milik Master telah dijarah; beberapa pelayan Akademi meng-
hilang. Tapi pelayan Master, Cousins, masih ada di tempatnya,
dan Lyra bersiap-siap menghadapi sikap permusuhannya dengan
609
www.facebook.com/indonesiapustaka tantangan, karena mereka telah menjadi musuh sepanjang
ingatannya. Ia cukup terkesima saat Cousins menyapanya dengan
begitu hangat dan menjabatnya dengan kedua tangan: apakah
ada perasaan sayang dalam suaranya? Wah, Cousins memang
sudah berubah.
Selama makan malam, Master dan Dame Hannah membica-
rakan apa yang terjadi selama kepergian Lyra, dan Lyra men-
dengarkan dengan sedih, atau sengsara, atau keheranan. Setelah
mereka pindah ke ruang duduk Master untuk menikmati kopi,
Master berkata:
”Nah, Lyra, kami nyaris tak pernah mendapat kabar darimu.
Tapi aku tahu kau sudah melihat banyak hal. Apa kau bisa
menceritakan sebagian pengalamanmu?”
”Ya,” kata Lyra. ”Tapi tidak semuanya sekaligus. Ada bebe-
rapa yang tidak kumengerti, dan beberapa masih membuatku
menggigil serta menangis; tapi aku akan bercerita, aku janji,
sebanyak mungkin. Hanya saja kalian juga harus berjanji pada-
ku.”
Master memandang wanita beruban dengan dæmon marmut
di pangkuannya itu, dan tatapan takjub melintas di antara
mereka.
”Apa itu?” Dame Hannah bertanya.
”Kalian harus berjanji memercayaiku,” kata Lyra serius. ”Aku
tahu selama ini aku tidak selalu berkata benar, dan aku hanya
bisa bertahan hidup di beberapa tempat dengan menceritakan
kebohongan serta mengarang cerita. Jadi aku tahu bagaimana
diriku dulu, dan aku tahu kalian tahu, tapi ceritaku yang
sebenarnya terlalu penting bagiku untuk kuceritakan kalau ka-
lian hanya memercayai separonya. Jadi aku berjanji untuk men-
ceritakan yang sebenarnya, kalau kalian berjanji memercayainya.”
”Yah, aku berjanji,” kata Dame Hannah, dan Master berkata,
”Aku juga.”
610
www.facebook.com/indonesiapustaka ”Tapi kau tahu apa yang paling kuinginkan?” kata Lyra,
”nyaris—nyaris lebih daripada yang lainnya? Aku berharap tidak
kehilangan kemampuanku membaca alethiometer. Oh, rasanya
aneh sekali, Master, bagaimana kemampuan itu muncul begitu
saja, kemudian menghilang juga begitu saja! Suatu hari aku
begitu menguasainya—aku bisa paham semua arti simbolnya
dan berpindah-pindah dari satu arti ke arti yang lain serta
mengaitkan semuanya—rasanya seperti...” Ia tersenyum, dan
melanjutkan, ”Well, aku seperti monyet di pepohonan, begitu
cepat. Lalu tiba-tiba saja—tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada
yang masuk akal; aku bahkan tidak ingat apa-apa, cuma arti-
arti dasar seperti jangkar berarti harapan dan tengkorak berarti
kematian. Ribuan arti itu... Hilang.”
”Tapi sebenarnya tidak hilang, Lyra,” kata Dame Hannah.
”Buku-bukunya masih ada di Perpustakaan Bodley. Beasiswa
untuk mempelajarinya masih terbuka.”
Dame Hannah duduk di hadapan Master di salah satu dari
dua kursi berlengan dekat perapian. Lyra duduk di sofa di
antara mereka. Lampu di dekat kursi Master adalah satu-
satunya sumber cahaya, tapi menunjukkan ekspresi kedua orang
tua itu dengan jelas. Lyra mendapati dirinya mengamati wajah
Dame Hannah. Ramah, pikir Lyra, dan pandai, juga bijak; tapi
ia tidak bisa membaca lebih jauh, seperti ia tidak bisa membaca
arti alethiometer.
”Nah, sekarang,” lanjut Master. ”Kita harus memikirkan
masa depanmu, Lyra.”
Kata-katanya menyebabkan Lyra menggigil. Ia menenangkan
diri dan duduk tegak.
”Sepanjang waktu selama kepergianku,” kata Lyra, ”aku
tidak pernah memikirkan itu. Aku hanya memikirkan saat di
mana aku berada, hanya saat itu. Sering aku mengira tak punya
masa depan sama sekali. Dan sekarang... Well, tiba-tiba
611
www.facebook.com/indonesiapustaka mendapati aku memiliki seumur hidup untuk dijalani, tapi
tidak... tapi tidak ada ide tentang apa yang harus kulakukan
selama itu. Well, rasanya seperti memiliki alethiometer tapi
tidak tahu cara membacanya. Kurasa aku harus bekerja, tapi
tidak tahu di bidang apa. Orangtuaku mungkin kaya tapi
berani taruhan, mereka tidak pernah berpikir untuk menyi-
sihkan uang untukku. Lagi pula kurasa sekarang mereka pasti
sudah menghabiskan uang mereka entah bagaimana, jadi bah-
kan jika aku bisa mengklaimnya, takkan ada yang tersisa. Aku
tidak tahu, Master. Aku kembali ke Jordan karena tempat ini
dulu rumahku, dan aku tidak punya tujuan lain. Kurasa Raja
Iorek Byrnison akan mengizinkan aku tinggal di Svalbard, dan
menurutku Serafina Pekkala akan mengizinkan aku tinggal
bersama klan penyihirnya; tapi aku bukan beruang dan bukan
penyihir, jadi aku tidak akan benar-benar sesuai di sana, meski
aku sangat menyayangi mereka. Mungkin orang-orang gipsi
bersedia menerimaku... Tapi aku benar-benar tidak tahu ha-
rus berbuat apa saat ini. Aku kebingungan sekarang, sung-
guh.”
Mereka menatapnya: matanya lebih berkilau daripada biasanya,
dagunya terangkat tinggi dengan ekspresi yang dipelajarinya
dari Will tanpa sadar. Ia tampak menantang sekaligus ke-
bingungan, pikir Dame Hannah, dan mengagumi Lyra karena-
nya; dan Master melihat hal lain lagi—ia melihat bagaimana
keanggunan tanpa sadar anak ini telah hilang, dan sekarang
tampak kikuk dalam tubuhnya yang tumbuh dewasa. Tapi ia
sangat menyayangi gadis ini, dan ia bangga sekaligus terpesona
memikirkan bagaimana cantiknya ia saat dewasa nanti, tidak
lama lagi.
Ia berkata, ”Kau tidak perlu kebingungan selama akademi
ini masih berdiri, Lyra. Ini rumahmu selama kau memerlukannya.
Sedang mengenai uang—ayahmu sudah menyediakan dana un-
612
www.facebook.com/indonesiapustaka tuk memenuhi semua kebutuhanmu, dan menunjuk diriku se-
bagai pelaksananya; jadi kau tak perlu mengkhawatirkan hal
itu.”
Sebenarnya Lord Asriel tidak pernah berbuat begitu, tapi
Akademi Jordan kaya, dan Master memiliki uang sendiri, bahkan
setelah kekacauan yang baru terjadi.
”Tidak,” lanjutnya, ”yang kupikirkan adalah mengenai pela-
jaran. Kau masih sangat muda, dan pendidikanmu hingga
sekarang tergantung pada... Well, sejujurnya saja, pada cen-
dekiawan kami yang paling sedikit kauintimidasi,” katanya, tapi
sambil tersenyum. ”Keadaan kacau. Sekarang mungkin ternyata
bakatmu akan membawamu ke arah yang tidak kami duga
sama sekali. Tapi jika kau ingin menjadikan alethiometer sebagai
subjek penelitian seumur hidupmu, dan membulatkan tekad
untuk mempelajari secara sadar apa yang dulu bisa kaulakukan
secara naluriah—”
”Ya,” kata Lyra, mantap.
”—kalau begitu, hal terbaik yang dapat kaulakukan adalah
menyerahkan dirimu ke tangan teman baikku Dame Hannah.
Pengetahuannya di bidang itu tidak ada bandingannya.”
”Izinkan aku mengajukan usul,” kata wanita itu, ”dan kau
tak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkan dulu baik-baik. Aka-
demiku tidaklah setua Jordan, lagi pula kau terlalu muda untuk
menjadi mahasiswi di sana, tapi beberapa tahun yang lalu kami
membeli rumah besar di Oxford utara, dan kami memutuskan
mendirikan sekolah asrama. Aku ingin kau ke sana menemui
Kepala Sekolah dan coba melihat apakah kau mau menjadi
salah satu murid kami. Kau mengerti, satu hal yang perlu
segera kaupelajari, Lyra, adalah bersahabat dengan gadis-gadis
lain seusiamu. Ada hal-hal yang kita pelajari dari satu sama lain
sewaktu kita masih muda, dan kurasa Jordan tidak bisa
menyediakan semuanya. Kepala Sekolah adalah wanita muda
613
www.facebook.com/indonesiapustaka yang pandai, enerjik, imajinatif, dan ramah. Kami beruntung
mendapatkannya. Kau bisa bercakap-cakap dengannya, dan jika
kau menyukai gagasan ini, jadikanlah St Sophia sekolahmu,
sebagaimana Jordan adalah rumahmu. Dan jika kau ingin mulai
mempelajari alethiometer secara sistematis, kau dan aku bisa
mengadakan pelajaran privat. Tapi masih ada waktu, Sayang,
masih banyak waktu. Jangan menjawab sekarang. Biarkan saja
sampai kau siap.”
”Terima kasih,” kata Lyra, ”terima kasih, Dame Hannah,
aku akan memikirkannya.”
Master memberikan kunci pintu kebun untuk Lyra sendiri, jadi
ia bisa datang dan pergi sesuka hati. Malam itu, tepat saat
Portir mengunci penginapan, ia dan Pantalaimon menyelinap
keluar dan melangkah menyusuri jalan-jalan yang gelap, mende-
ngar semua genta di Oxford berdentang menyatakan tengah
malam.
Begitu mereka berada di Taman Botani, Pan berlari melintasi
rerumputan untuk mengejar tikus ke dinding, kemudian me-
lepaskannya dan melompat ke pohon pinus besar yang ada di
dekatnya. Sungguh menggembirakan melihatnya melompat di
cabang-cabang begitu jauh dari Lyra, tapi mereka harus berhati-
hati untuk tidak melakukannya jika orang lain memperhatikan;
kekuatan memisahkan diri seperti para penyihir, yang mereka
peroleh dengan sangat menyakitkan, harus tetap menjadi rahasia.
Dulu ia akan suka memamerkan kekuatan itu pada semua
teman berandalannya, dan menyebabkan mereka melotot
ketakutan, tapi Will telah mengajarkan pentingnya menutup
mulut dan menjaga rahasia.
Ia duduk di bangku dan menunggu Pan menghampirinya.
Pan senang mengejutkannya, tapi biasanya ia berhasil melihatnya
614
www.facebook.com/indonesiapustaka terlebih dulu sebelum Pan tiba, dan sekarang ia melihat sosok
Pan yang bagai bayang-bayang di sepanjang tepi sungai. Ia
memandang ke arah lain dan berpura-pura tidak melihatnya,
lalu menangkapnya dengan tiba-tiba sewaktu Pan melompat ke
bangku.
”Aku hampir berhasil,” kata Pan.
”Kau harus lebih baik daripada itu. Aku mendengar keda-
tanganmu sejak dari gerbang.”
Pan duduk di sandaran bangku dengan cakar depan bertumpu
pada bahu Lyra.
”Apa yang akan kita katakan pada wanita itu?” tanyanya.
”Kita akan berkata ya,” kata Lyra. ”Lagi pula toh hanya
bertemu Kepala Sekolah. Bukan bersekolah.”
”Tapi kita akan sekolah, bukan?”
”Ya,” kata Lyra, ”mungkin.”
”Mungkin di sana enak.”
Lyra memikirkan murid-murid lainnya. Mereka mungkin lebih
pandai, atau lebih canggih, dan mereka jelas tahu lebih banyak
tentang segala hal yang penting bagi gadis-gadis seusia mereka.
Dan ia takkan bisa menceritakan ratusan hal yang diketahuinya
kepada mereka. Mereka pasti menganggapnya gadis yang seder-
hana dan bodoh.
”Menurutmu, Dame Hannah benar-benar bisa membaca
alethiometer?” kata Pantalaimon.
”Dengan buku-buku, aku yakin ia bisa. Aku ingin tahu ada
berapa banyak bukunya. Berani taruhan, kita bisa mempelajari
semuanya, dan bisa membaca alethiometer tanpa buku-buku
itu. Bayangkan harus membawa setumpuk buku ke mana-
mana... Pan?”
”Apa?”
”Apa kau akan pernah memberitahuku apa saja yang sudah
kau dan dæmon Will lakukan, sewaktu kita terpisah?”
615
www.facebook.com/indonesiapustaka ”Suatu hari nanti,” kata Pan. ”Dan ia akan memberitahu
Will, suatu hari nanti. Kami sepakat kami akan tahu saatnya,
tapi kami tidak akan memberitahu kalian sebelum itu.”
”Baiklah,” kata Lyra tak mendesak.
Ia telah menceritakan segalanya pada Pantalaimon, tapi tidak
apa-apa jika ada yang dirahasiakan Pantalaimon darinya,
mengingat bagaimana ia meninggalkan Pan dulu.
Sungguh menenangkan memikirkan ia dan Will memiliki
kesamaan lain. Ia bertanya-tanya apakah akan pernah ada satu
jam dalam hidupnya ketika ia tidak memikirkan Will; tidak
berbicara dengannya dalam benaknya, tidak mengenang kembali
setiap saat kebersamaan mereka, tidak merindukan suaranya,
tangannya, dan cintanya. Ia tidak pernah bermimpi mencintai
seseorang sebesar ini; segala yang telah membuatnya terperangah
dalam petualangannya, itulah yang paling membuatnya terpe-
rangah. Ia teringat kelembutan yang tersisa dalam hatinya,
terasa seperti memar yang takkan pernah hilang, tapi ia akan
menikmatinya selama-lamanya.
Pan menyelinap turun ke bangku dan meringkuk di pangkuan
Lyra. Mereka aman bersama-sama dalam kegelapan, ia dan
dæmonnya serta rahasia mereka. Di suatu tempat di kota yang
tengah tidur ini ada buku-buku yang akan memberitahunya
cara membaca alethiometer lagi, dan wanita ramah serta
terpelajar yang akan mengajarinya, juga gadis-gadis di sekolah,
yang tahu lebih banyak hal dibandingkan dirinya.
Pikirnya: mereka belum mengetahuinya, tapi mereka akan
menjadi teman-temanku.
Pantalaimon bergumam, ”Yang dikatakan Will...”
”Kapan?”
”Di pantai, tepat sebelum kau mencoba menggunakan
alethiometer. Katanya, tidak ada yang lain. Itulah yang dikata-
kan ayahnya padamu. Tapi ada yang lain.”
616
www.facebook.com/indonesiapustaka ”Aku ingat. Maksudnya adalah Kerajaan sudah berakhir,
kerajaan surga, semuanya sudah tamat. Kita tidak boleh men-
jalani kehidupan seakan-akan hal itu lebih penting daripada
kehidupan di dunia ini, karena tempat yang terpenting adalah
di mana kita berada.”
”Katanya ada yang harus kita dirikan...”
”Itu sebabnya kita butuh kehidupan kita seutuhnya, Pan.
Kita pasti akan mengikuti Will dan Kirjava kalau tidak begitu,
bukan?”
”Ya. Tentu saja! Atau mereka mengikuti kita. Tapi—”
”Tapi dengan begitu kita takkan bisa mendirikannya. Tidak
ada yang bisa, jika kita mementingkan diri sendiri. Kita harus
menjadi semua hal sulit, seperti riang, ramah, penasaran, berani,
dan sabar, lalu kita harus belajar dan berpikir, serta bekerja
keras, kita semua, di dunia-dunia kita yang berbeda, lalu kita
akan mendirikan...”
Tangannya memegang bulu-bulu Pan yang mengilat. Di suatu
tempat di taman itu, seekor bulbul bernyanyi, dan angin lembut
menyentuh rambutnya serta menggoyang dedaunan di atas.
Semua genta yang berbeda di kota berdentang, masing-masing
sekali, yang ini tinggi, yang itu rendah, ada yang dekat, lainnya
agak jauh, yang satu retak dan pecah, yang lainnya dalam dan
bergema, tapi sepakat dalam suara-suara yang berbeda mengenai
pukul berapa sekarang. Dan di Oxford yang lain, tempat ia
dan Will berciuman sebagai ucapan perpisahan, genta-genta
juga berdentang, seekor bulbul bernyanyi, dan angin meniup
pelan dedaunan di Taman Botani.
”Lalu apa?” tanya dæmonnya dengan nada mengantuk. ”Men-
dirikan apa?”
”Republik surga,” kata Lyra.
617
www.facebook.com/indonesiapustaka Ucapan Terima Kasih
His Dark Materials tidak akan terwujud sama sekali tanpa
bantuan dan dorongan semangat dari teman-teman, keluarga,
buku-buku, dan orang asing.
Aku mengucapkan terima kasih istimewa pada orang-orang ini:
Liz Cross, untuk penyuntingannya yang teliti dan selalu ber-
semangat mengenai setiap tahap pengerjaan, serta untuk gagasan
cemerlang mengenai gambar-gambar dalam Pisau Gaib; Anne
Wallace-Hadrill, karena mengizinkanku melihat-lihat perahu
sempitnya; Richard Osgood, dari Institut Arkeologi Universitas
Oxford, karena memberitahuku bagaimana mengatur ekspedisi-
ekspedisi arkeologis; Michael Malleson, dari Trent Studio Forge,
Dorset, karena menunjukkan bagaimana menempa besi; dan
Mike Froggatt dan Tanaqui Weaver, karena membawakan lebih
banyak kertas yang tepat (dengan dua lubang) sewaktu
persediaanku menipis. Aku juga harus memuji kafe di Museum
Seni Modern Oxford. Setiap kali aku menemui jalan buntu dalam
masalah narasi, secangkir kopi mereka dan bekerja selama satu
atau dua jam di ruangan yang ramah tersebut akan menyingkirkan
kebuntuan, tanpa aku perlu bersusah payah. Upaya ini tidak
pernah gagal.
Aku mencuri gagasan dari setiap buku yang pernah kubaca.
618
www.facebook.com/indonesiapustaka Prinsipku dalam melakukan penelitian untuk novel adalah
”Bacalah seperti kupu-kupu, tulislah seperti lebah”, dan kalau
cerita ini mengandung madu, hal itu sepenuhnya karena kua-
litas nektar yang kutemukan di karya-karya penulis yang lebih
baik. Tapi ada tiga ucapan terima kasih yang perlu kusebutkan
di atas yang lain. Satu adalah untuk esai On the Marionette
Theatre karya Heinrich von Kleist, yang pertama kali kubaca
terjemah-annya oleh Idris Parry dalam Times Literary Supplement
pada tahun 1978. Yang kedua untuk Paradise Lost karya John
Milton. Yang ketiga adalah karya-karya William Blake.
Akhirnya, utang budi terbesarku. Untuk David Fickling, dan
dorongan serta kepercayaannya yang tak pernah habis, juga
keyakinan dan nalurinya yang jelas mengenai bagaimana cerita-
cerita bisa lebih ditingkatkan, aku berterima kasih atas
kesuksesan apa pun yang berhasil diraih karya ini; untuk Caradoc
King, aku berutang persahabatan dan dukungan yang tidak
pernah goyah selama lebih dari separo kehidupanku; untuk
Enid Jones, guru yang memperkenalkan diriku dulu sekali
dengan Paradise Lost, aku berutang hal terbaik yang bisa
diberikan pendidikan, gagasan bahwa tanggung jawab dan
kegembiraan bisa berdampingan; untuk istriku Jude, serta putra-
putraku Jamie dan Tom, aku berutang segala hal lainnya yang
ada di bawah matahari.
Philip Pullman
619
Segera terbit: prekuel trilogi His Dark Materials
The Book of Dust: La Belle Sauvage
(Book of Dust, Volume 1)
“Di dunia kita ini, hanya sedikit yang pantas ditunggu selama tujuh
belas tahun. The Book of Dust salah satunya.”
—The Washington Post
Malcolm Polstead tipe anak yang memperhatikan segalanya tapi
jarang diperhatikan. Karena itu, mungkin tidak aneh ketika ia
menjadi mata-mata...
Orangtua Malcolm memiliki penginapan bernama Trout, di tepi
Sungai Thames, dan semua penghuni Oxford mampir ke sana.
Malcolm dan dæmonnya, Asta, sering mendengar berbagai berita
serta gosip, dan sesekali skandal, namun pada suatu musim dingin,
ketika hujan turun tanpa henti, Malcolm mengetahui sesuatu
yang baru: intrik.
Ia menemukan pesan rahasia tentang substansi berbahaya yang
disebut Debu—dan mata-mata yang menjadi tujuan
surat rahasia itu menemukan Malcolm.
Saat wanita tersebut meminta Malcolm membuka mata lebar-lebar,
Malcolm jadi melihat orang-orang mencurigakan di mana-mana:
sang penjelajah Lord Asriel, yang jelas sedang melarikan diri; agen-
agen penegak hukum dari Magisterium; orang gipsi bernama Coram
yang menyampaikan berbagai peringatan kepada Malcolm; dan
wanita cantik dengan dæmon monyet. Semua menanyakan hal yang
sama: anak perempuan—masih bayi—bernama Lyra.
Lyra tipe anak yang menarik orang-orang seperti magnet.
Dan Malcolm bersedia menghadapi segala bahaya, juga melakukan
pengorbanan mengejutkan, untuk membawa Lyra menembus badai.
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka Kompas Emas
Buku Pertama Trilogi
His Dark Materials
Pemenang Carnegie Medal dan The Guardian Award
...fantasi, teror, dan keagungan dijalin dengan cara yang
fantastis dan memikat.
(The Times)
Gramedia Pustaka Utama
www.facebook.com/indonesiapustaka Pisau Gaib
Buku Kedua Trilogi
His Dark Materials
”Pisau Gaib adalah buku kedua trilogi yang akan sejajar dengan karya
Tolkien dan CS Lewis sebagai ikon karya tulis imajinatif
untuk anak-anak.”
(The Times Christmas Books)
Gramedia Pustaka Utama
www.facebook.com/indonesiapustaka
www.facebook.com/indonesiapustaka
Pemenang Whitbread Book of the Year
Will adalah si pembawa pisau. Sekarang, didampingi para
malaikat, ia bertugas mengantarkan senjata yang dahsyat
dan berbahaya itu kepada Lord Asriel––sesuai perintah
ayahnya ketika menjelang ajal.
Tapi bagaimana ia bisa mencari Lord Asriel, padahal Lyra
hilang? Hanya dengan bantuan gadis itu ia dapat memahami
berbagai intrik yang mengepungnya.
Dua kekuatan besar dari banyak dunia bersiap-siap perang,
dan Will harus menemukan Lyra, sebab mereka dalam perjala-
nan menuju pertempuran, perjalanan tak terelakkan yang bahkan
akan membawa mereka ke dunia kematian...
"Ini karya tulis yang luar biasa: berani dan berbahaya seperti layaknya karya seni terbaik."
––The Times
"Gabungan seru dan indah antara petualangan, filosofi, mitos, dan agama, yang diperkaya
dengan ramuan memabukkan fisika kuantum."
––The Guardian
"Menggugah dan sangat provokatif." Publishers Weekly
www.facebook.com/indonesiapustaka
9 789792 236293NOVEL FANTASI15+
978-602-06-1386-4 DIGITAL
Harga P. Jawa Rp 110.000