http://pustaka-indo.blogspot.com ”Kenapa tidak sekarang saja?”
”Kau jangan menggodaku, ya? Jika aku jadi gila,
bisa bahaya. Kita cuma berduaan saja di sini.”
Gatot menatapnya dengan mata berbinar-binar.
Mendengar itu, Yulia tertawa. Ia bangkit dari
sofa.
”Kaupikir cuma kau saja yang bisa jadi gila? Aku
juga!” ia menggodanya lagi sehingga Gatot tertawa.
Sambil berpelukan, mereka berjalan ke luar rumah
setelah mengunci pintu-pintu dan jendelanya. Di
dalam mobil, Yulia masih saja terus mengganggu
Gatot.
”Aku akan belajar menundukkan keliaranku.
Jadi, mudah-mudahan aku tidak lagi seperti angsa
liar, tetapi seperti burung pelatuk.”
”Daripada dipatuk burung pelatuk, aku lebih
suka melihatmu sebagai angsa liar yang cantik
dan... luar biasa menarik, terutama bila berada da-
lam pelukanku dan...”
Yulia menghentikan ucapan Gatot dengan men-
cubit lengannya. Sepasang insan itu pun tertawa
bersama dalam kebahagiaan dan cinta yang meng-
aliri seluruh tubuh keduanya sampai ke ujung-
ujung rambut dan jemari kaki mereka. Betapa luar
biasa indahnya hari ini buat mereka.
349
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.com
Gramedia Pustaka Utama
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.com
Gramedia Pustaka Utama
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.com
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.com Angsa liar. Itulah julukan warga
Jalan Mahoni bagi gadis kecil bernama
Yulia Anggraini. Bagaikan seekor angsa
yang anggun dan cantik, Yulia kecil bermata
bulat indah, berambut ikal, dan berwajah
rupawan. Namun semua orang di Jalan Mahoni
sepakat Yulia kecil memang liar, nakal, dan suka
berkelahi. Akibatnya ia selalu terlihat kusut masai,
dekil, dan kehitaman karena terbakar matahari.
Siapa yang menduga belasan tahun kemudian gam-
baran angsa liar tersebut sirna dan menjelma menjadi angsa
putih yang benar-benar rupawan. Yulia dewasa sangat jelita,
berkulit kuning langsat, dan pintar bergaul. Yang tidak
berubah hanya bola matanya yang senantiasa mengerjap-
ngerjap khas Yulia kecil.
Kerupawanan Yulia dewasa bahkan sanggup meruntuh-
kan hati tiga pria tampan yang berlomba merebut cintanya.
Hendra, laki-laki sukses yang bisa menjamin kehidupannya
secara materi. Danardono, musisi sekaligus guru privat, yang
dalam banyak hal mempunyai kesamaan dengan dirinya. Dan
Gatot, musuh bebuyutan masa kecil, yang bertunangan
dengan “musuh” Yulia di masa kecil juga. Di antara ketiga
pria itu, siapakah yang akhirnya sanggup menaklukkan sayap-
sayap cinta si angsa nan jelita ini?
Penerbit pustaka-indo.blogspot.com
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I Lantai 4–5
Jl Palmerah Barat 29–37
Jakarta 10270
www.gramedia.com