MAKALAH
Mata Kuliah
Filsafat dan Teologi PAK
Judul :
KETELADANan TUHAN YESUS
SEBAGAI “GURU AGUNG”
(Dalam Perspektif Pedagogik PAK)
Sekolah Tinggi Teologi
Rahmat Emmanel
Program Studi Magister
Pendidikan Agama Kristen
2021
Disusun oleh :
Maria Magdalena, S.Pd
Dosen Pembimbing
Dr. Daulat Marulitua Tambunan, MA, M.Th, D.Min
1|Page
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, sang Guru Agung, yang telah memberikan
kesanggupan untuk menyelesaikan tugas makalah yang judul : “Keteladanan Tuhan Yesus
sebagai Guru agung” (Dalam Persfektif Pedagogik Pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen).
Ungkapan terimakasih kepada yang terhormat bapak Dr. Daulat Marulitua Tambunan, M.A,
M.Th, D.Min sebagai dosen pembimbing mata kuliah Filsafat dan Teologi Pendidikan
Agama Kristen, Program S.2 di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel, Jakarta.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari pada sempurna. Mungkin di waktu yang
akan datang, perlu adanya perbaikan dan penyempurnaan.
Kiranya makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan menjadi inspirasi
bagi guru atau pengajar di Sekolah dalam mengimplementasikan keteladanan Tuhan Yesus
dalam proses pembelajaran PAK masa kini.
Januari, 2021
Maria Magdalena, S.Pd
i|Page
Astrak.
Guru dan para pendidik harus fokus pada tugas dan fungsinya dalam menghadirkan
pendidikan yang berkualitas denagn rasa tanggung jawab. Keteladanan Yesus sebagai
sosok Guru Agung menjadi dasar teladan bagi semua pendidik Kristen untuk
mentransformasi kehidupan peserta didik untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus.
Penulis meninjau ide-idenya Keguruagungan Yesus dari perspektif ilmu pedagodik dan ilmu
didaktika masakini. Metode penelitian yang dipakai dalam penulisan secaara kualitatif.
Proses analisa penulis menggunakan berbagai sumber pustaka dan elektronik. Penggalian
data berdasar Injil Sinoptik, buku literatur, dan sumber data terkait masalah pendidikan.
Keteladanan Tuhan Yesus sebagai pengajar dianalisis mencakup hal-hal yang menekankan
karakter Yesus sebagai guru, materi yang diajarkan, metode yang dipakai dalam mengajar,
dan relasi dengan murid-murid-Nya. Dimana cakupan yang dianalisis tersebut ditinjau dari
perspektif pedagogik Pendidikan Agaman Kristen.
Kata kunci: keteladanan Yesus; pendidikan agama Kristen; pengajaran; pengajar
ii | P a g e
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................ i
ABSTRAK .................................................................................................. ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C. Batasan Masalah ................................................................................ 3
D. Tujun .................................................................................................. 3
E. Manfaat .............................................................................................. 4
BAB II. PEMBAHASAN ............................................................................. 4
A. Karakteristik Tuhan Yesus Sebagai Guru Sumber Keteladanan dan
Panutan Pengajar Pendidikan Agama Kristen ..................................... 5
B. Metode Pembelajaran Tuhan Yesus dalam Proses Pembelajaran
Pendidikan Agama Kristen ................................................................. 9
C. Pengajaran Tuhan Yesus sebagai Landasan Edukatif Kurikuler
Pendidikan Agama Kristen ................................................................ 13
D. Komunikasi Interpersonal Tuhan Yesus sebagai guru dengan para
murid-murid-Nya ................................................................................ 15
BAB III. PENUTUP ..................................................................................... 17
1. Kesimpulan .......................................................................................... 17
2. Saran .................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... I
SUMBER REFERENSI ................................................................................. II
iii | P a g e
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sekolah menjadi salah satu institusi yang dipakai untuk menyelenggarakan Pendidikan
Agama Kristen, yang selanjutnya disebut PAK, bukan hanya menjadi mandat yang
tertuang dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no.20 Tahun 2003 saja, tetapi
memiliki dasar teologis sesuai amanat Agung Tuhan Yesus; ‘ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang kuperintahkan kepadamu....” (Injil Matius 28 : 20a). Perintah ini
menjadi dasar untuk ikut bertanggungjawab terhadap pendidikan agama Kristen. Pada
masa kini amanat agung tugas mengajar tersebut dikemas dalam pembelajaran PAK di
sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal.
Penyelenggaraan PAK di sekolah bertujuan agar peserta didik mengalami perjumpaan
dengan Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi juga menghasilkan perubahan hidup
secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Sejalan dengan
apa yang dikemukakan oleh Daniel Nuhamara mengenai tujuan dari Pendidikan Agama
Kristen (PAK) ialah untuk mengajak, membantu, menghantar seseorang untuk mengenal
kasih Allah yang nyata dalam Yesus Kristus, sehingga dengan pimpinan Roh Kudus ia
datang ke dalam persekutuan yang hidup dengan Tuhan. Hal tersebut dinyatakan dalam
kasihnya terhadap Allah dan sesama, yang dihayati dalam hidupnya sehari-hari, baik
dengan kata-kata maupun perbuatan selaku anggota tubuh Kristus1
Pendidikan Kristen dipahami sebagai proses pengajaran dan pembelajaran yang
berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus dan bergantung pada Roh Kudus yang
membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa
kini ke arah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus
1 Daniel Nuhamara, Pembimbing Pendidikan Agama Kristen, (Jurnal Info Media, 2009),hal. 31.
1|Page
dalam setiap aspek kehidupan, dan melengkapi mereka bagi pelayanan yang efektif yang
berpusat pada Kristus sang Guru Agung dan perintah yang mendewasakan para murid2
Untuk mencapai tujuan secara maksimal, ada beberapa faktor yang ikut menentukan
keberhasilan penyelenggaraan PAK di sekolah, anatra lain : karakteristik guru sebagai
teladan, isi materi pengajaran, strategi dan metode penyampaian pembelajaran, termasuk
relasi antara pendidik dalam mengkomunikasikan pembelajaran kepada peserta didiknya.
Guru PAK diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang cerdas, trampil,
berintegritas dan memiliki spiritualitas yang bersumber pada pengajaran Alkitab.
Guru sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah dan merupakan salah satu unsur penting
dalam suatu proses pembelajaran PAK. Sekolah yang mengajarkan agama kristen tidak
cukup hanya memiliki guru beragama Kristen yang lahir baru, memiliki relasi yang intim
dengan Tuhan Yesus, tetapi harus juga memiliki kompetensi guru secara profesioanal.
Disisi lain seorang guru tidak hanya dituntut cerdas mentrasformasi pengetahuan saja
tetapi juga menjadi teladan dan panutan bagi peserta didiknya. Kajian ini berangkat dari
pengamatan penulis terhadap kondisi para guru saat ini, di mana para pendidik sekarang
ini tidak lagi menjadikan Yesus sebagai teladan utama dalam melaksanakan tugas sebagai
pengajar. Keteladanan pengajar merupakan syarat mutlak untuk keberhasilan kegiatan
belajar - mengajar3.
Oleh sebab itu, sangatlah perlu memperhatikan keteladanan Yesus dalam hal mengajar,
supaya peserta didik memiliki minat belajar, dapat menerima pengajaran, sehingga benar-
benar mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus dan firman-Nya. Keteladanan Yesus
sebagai pengajar memberikan dampak sangat luas bagi para pendengar dan murid-murid-
Nya. Ia adalah Guru Agung yang patut diteladani oleh semua pendidik di masa kini. Oleh
sebab itu, penulis akan membahas keteladanan Tuhan Yesus sebagai pengajar yang
tentunya dapat menjadi fokus capaian yang efektif bagi pendidikan agama kristen di masa
kini. Pada akhirnya, keteladanan Tuhan Yesus dapat diimplementasikan kedalam
penyelenggaraan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) oleh guru/pengajar di
sekolah formal.
2 Paulus Lilik Kristanto, Prinsip dan Praktek PAK Penuntun Bahgi Mahasiswa Teologi dan PAK, Pelayan
Gereja, Guru Agama dan Keluarga Kristen (Yogyakrta: Andi Offset, 2015), hal. 4-5
3 Kristianto, P. L. (2008). Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen. Yogyakarta: Andi Offset
2|Page
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah, penulis mengidentifikasi sejauh mana keteladanan
Tuhan Yesus sebagai guru agung, dapat dijadikan contoh dan teladan oleh para
guru/pengajar PAK. Menurut kajian perspektif pedagogik, apakah keteladanan Tuhan
Yesus sebagai guru dapat diimplementasikan pada penyelenggaraan pembelajaran PAK
dimasa kini.
Mengingat beberapa perihal penting diatas, maka penulis dapat mengemukakan beberapa
pokok masalah. Rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Apa Karakteristik Yesus sebagai Guru ?
2. Apa Materi Pokok Pengajaran yang diajarkan ?
3. Apa Metode yang digunakan dalam Penyampaian Pengajaran-Nya ?
4. Bagaiman relasi Tuhan Yesus sebagai Guru dengan para murid-Nya ?
C. BATASAN MASALAH
Penulis membatasi ruang lingkup pembahasan keteladanan Tuhan Yesus senbagai guru
agung berdasarkan Alkitab, khususnya Injil Sinoptik ( Matius, Markus, Lukas ) yang
menceritakan tentang kisah hidup Yesus dalam orientasinya sebagai guru agung.
Penulis membatasi pembahasan tentang keteladanan Tuhan Yesus sebagai guru ditinjau
dari perspektif pedagogik Pendidikan Agama Kristus, dimana cakupan terkait dengan
prinsip-prinsip standart kompetensi guru PAK.
D. TUJUAN
Tujuan penulisan adalah memberikan penjelasan tentang keteladanan Tuhan Yesus
sebagai guru agang (berdasarkan Injil Sinoptik) menurut perfektif pedagogik Pendidikan
Agama Kristen (PAK). Tulisan juga menjelaskan, bahwa keteladanan Tuhan Yesus
sebagai guru agung dapat diimplementasikan dalam penyelenggaraan PAK pada konteks
masa kini khususnya dalam ruang lingkup sekolah sebagai penyelenggara pendidikan
formal.
3|Page
E. MANFAAT
Diharapkan, para guru/pengajar mata pelajaran PAK : dapat meneladani karakter Yesus
sebagai Guru Agung dan selanjutnya dapat mengimplementasikannya pada materi
inti/pokok bahan ajar iman Kristen, kreatif menggunakan strategi / metode dalam
penyampaian materi pembelajaran, dapat mencontoh dan berinovasi menggunakan media
pembelajaaran, dan dapat menerapkan relasi dalam mengkomunikasikan proses
pembelajaran pada peserta didik di sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
Tokoh panutan setiap guru agama Kristen adalah Tuhan Yesus. Merujuk pada Tafona’o
(2019, pp.62-63), guru agama Kristen, selalu dituntut darinya sesuatu yang berkaitan dengan
kepribadiannya yang diwujudkan dalam cara hidup, dengan pertanggung jawaban keagamaan
dan moral4 . Kualitas hidup serta kinerjanya diharapkan berbeda dari guru lain, karena
pekerjaannya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan, Sang Guru Agung pemberi
pekerjaan itu. Mandat perihal pendidikan Kristen tertulis dalam Matius 28:19-20, yaitu
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam
nama Bapa Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada
akhir zaman.”
Pendidikan agama Kristen dapat juga dikonotasikan dengan pendidikan Kristen. Pada
hakekatnya, pendidikan Kristen difokuskan pada pengajaran yang alkitabiah. Sehingga,
pedoman utama guru dalam mendidik harus berdasarkan Alkitab. Walaupun berbagai sumber
dan pendekatan pembelajaran dapat digunakan, tetapi esensi dari pembelajaran Kristen tidak
boleh terlepas dari firman Tuhan.
4 Tafona’o, T. 2019. “Kepribadian Guru Kristen dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16” Evangelikal:
Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat, 3(1), 62-81.
4|Page
Menurut Prof. Dr. J. Hoogveld (Belanda) pedagogic adalah ilmu yang mempelajari masalah
membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu secara mandiri
menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogik adalah ilmu mendidik anak. Sedangkan,
Langeveld (1980), membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik
diartikan dengan ilmu mendidik, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang
pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak, mendidik anak. Sedangkan
istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktik, menyangkut
kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak.
A. KARAKTERISTIK TUHAN YESUS SEBAGAI GURU SUMBER
KETELADANAN DAN PANUTAN PENGAJAR PAK
1. Identitas Tuhan Yesus sebagai Guru (Pengajar).
Pengertian guru dalam pandangan Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani memakai kata
rabbi (( ) ר בdibaca rav) ditambah dengan akhiran "yod" (-ku). bentuk-bentuk yang
berkaitan dengan kata ini adalah raban, rabon dan rabuni ( Markus 10:51 Yohanes
20:16). Dalam Bahasa Ibrani kuno, rabi adalah istilah yang diberikan pada atasan yang
sangat dihormati karena kepemimpinannya dan keteladanan hidupnya5. Kata ini
merupakan satu gelar kehormatan yang diberikan seorang murid kepada seorang guru
Taurat, atau para pencari ilmu kepada para bijak. Penghormatan besar ini diberikan
kepada guru oleh bangsa Yahudi karena guru mengajarkan Firman Allah atau taurat.
Dalam Alkitab banyak ditulis sebutan untuk Yesus yang menyatakan atau
menerangkan bahwa Yesus adalah Guru. Murid-murid maupun orang banyak pada saat
itu sering memanggil Yesus dengan sebutan rabbi. Kata rabbi ditulis 4 kali dalam injil
Matius (23:7,8;26:25,49), 3 kali dalam injil Markus (9:5;11:21;14:45), dan 8 kali
dalam injil Yohanes (1:38,49;3:2,26:4:31:6:25;9:2:11:8).
Makna kata rabbi ini dalam bahasa Yunani disejajarkan dengan kata didaskalos. Ketika
Tuhan Yesus disebut sebagai Rabbi Dia tidak pernah menolak akan penyebutan itu.
Didalam Alkitab Perjanjian Baru kata guru berasal dari bahasa Yunani yaitu didaskalos
( διδασκαλος) yang memiliki arti mengajar 6. Dalam Perjanjian Baru kata didaskalos
5 http://www.sarapanpagi.org/rabi-guru-master-vt4438.html
6 J.L.Ch.Abineno,Tafsiran Alkitab:Surat Efesus,(PT.BPK Gunung Mulia,2012),hal.132
5|Page
ditulis sebanyak 58 kali dan 48 diantaranya adalah dalam Kitab Injil dan semuanya
mengacu pada Tuhan Yesus. Dari 47 kali kata ini ada dalam Kitab Injil semuanya
digunakan untuk menggambarkan Tuhan Yesus Kristus sebagai guru. Sebutan yang
paling umum terhadap Yesus sebagai Guru adalah didaskalos, yang berarti ‘pengajar’
sebutan ini terdapat 12 kali dalam Injil Matius.
Yesus sendiri mengkalim diriNya sebagai guru, “memang Aku lah Guru dan Tuhan”
(Yoh 13:13). Matius 4:23 mencatat “Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar
mereka…”(5:2). Orang banyak “takjub mendengar pengajaran-Nya sebab Ia
mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahl-iahli Taurat” (Mrk 1:22).
Bahkan para Ahli Taurat “takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataanNya
penuh kuasa” (Luk 4:32) dan orang banyak mengakui, “…pengajaran-Mu benar” dan
menegaskan, “pengajaran-(Nya) dari Bapa” (Yoh 6:45) dan mengajak orang
“…belajarlah pada-Ku” (Mat 11:29).
Identifikasi Yesus sebagai guru berdasarkan tugasnya, berdasarkan apa yang dilakukan
oleh Yesus di atas menunjukkan perannya bahwa Yesus adalah betul-betul seorang
Guru ditengah-tengah para pengikut-Nya. Kompetensi pedagogik Yesus sebagai
pengajar bukan diperoleh dari hasil belajar secara akademik. Dalam pemahaman
teologis, menjelaskan bahwa kehebatan pengajaran Yesus berasal dari hikmat Allah.
“Bagaimana orang ini mempunyai pengetahuan tanpa belajar ?” Jawab Yesus :
“ajaran-Ku tidak berasal dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yang mengutus Aku”
(Yohanes 7:15,16). Yesus adalah Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia,
sehingga seluruh kemampuan dan kecakapan, hikmat dan pengetahuan ada didalam
diri-Nya. Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan mujizat (Matius 13:54).
Pada awal tabun 90-an, Matt Friedeman (The Master Plan of Teaching, 1990)
mengetengahkan hasil kajiannya mengenai keteladanan Yesus sebagai guru.
Friedeman memahami bahwa Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia
(inkarnasi) dan sebab itu Ia seratus persen manusiawi. Gelar atau sebutan Yesus
sebagai guru, secara profesional tidak diperoleh secara akademik, tapi bukan berarti
Yesus tidak menunjukkan pengalaman belajar. Masa kecil Yesus (usia sekolah)
mengenyam pendidikan di Sinagog untuk belajar Taurat.
6|Page
2. Karakter Yesus sebagai Guru Agung
a. Mengutamakan tugas mengajar.
Kegiatan Yesus lebih sering digambarkan dengan kata kerja didasko (mengajar).
Yesus mengajar di berbagai tempat, berkeliling dari kota satu pindah ke kota lain
(Matius 4:23, 9:35). Tempat untuk mengajar juga berpindah-pindah, di rumah
Ibadah (sinagoge), kadang di bukit (Matius 5), di tepi danau (Markus 2:13, 4 : 21),
dan di perahu nelayan (Matius 13, Markus 4:1). Yesus sangat mementingkan
pekerjaan mengajar, misalnya dalam Markus 9 dicatat bahwa Yesus tidak mau
ditemui atau dinganggu orang karena ia sedang mengajar. Fakta bahwa “mengajar”
diletakkan di depan kata “memberitakan Injil” dan “menyembuhkan” di dalam
Matius 4:23 menunjukkan bahwa mengajar merupakan pelayanan Yesus yang
sangat penting. Sebagai guru, Yesus fokus pada tugas utamanya ; menekankan pada
tugas mengajar.
b. Memperdulikan kebutuhan orang.
Yesus mengajar sebagai Guru dengan mendekati para pendengar yang berbeda-
beda, Ia peduli dengan kebutuhan orang-orang diajar-Nya, Ia mengajar dengan
penuh kasih dan kemurahan-Nya sebagaimana terlihat ketika Ia menolong setiap
orang yang mengalami kesulitan. Yesus mengajar dengan kuasa, sehingga orang
menderita sakit disembuhkan seperti, menyembuhkan mertua Petrus (Mrk. 1:29-31;
Mat. 8:14-15; Luk. 4:38-39). Memberi makan pengikutNya, yakni orang-orang
yang mengikuti Dia dan mau mendengar pengajaran, dalam peristiwa Yesus
memberi makan orang banyak dengan roti dan ikan yang dituliskan dalam injil
Matius pasal 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9: 10-17.
c. Berintegritas.
Integritas berarti tanpa kedok, bertindak sesuai dengan yang diucapkan, konsisten
antara iman dan perbuatan, antara sikap dan tindakan. Yesus berintegritas atau dapat
dipercaya karena konsisten dengan kata, karakter dan tindakan. Yesus sebagai Guru
mempunyai gaya hidup yang sesuai dengan apa yang Ia ajarkan. Hal ini merupakan
bukti integritas diri sebagai Guru Agung. Yesus mempunyai itegritas tinggi. Semua
kata-kata Yesus selalu singkron atau selaras, sejalan dengan perbuatanNya. J.M
Price, dalam Buku Yesus Guru Agung, mengatakan bahwa : “Syarat yang
terpenting bagi seorang guru ialah kepribadiannya sendiri. Semua teladan lebih
7|Page
berharga daripada seratus kata nasehat. Perbuatan seseorang lebih berpengaruh
daripada perkataannya”7.
d. Visioner.
Jangkauan berfikirNya jauh ke depan. Hal ini nampak dalam berbicara maupun
mengajar. Ia selalu menjelaskan tentang perseptif masa depan. Ia tidak sekedar
menyampaikan visi, tetapi sekaligus mempersiapkan murid-muridNya menghadapi
segala kemungkinan yang akan terjadi sebagai akibat dari apa yang dilakukannya.
Hal ini nampak dalam pengajarnNya, khususnya dalam hal kekuatiran (Matius 12:
22-34); kewaspadaan (Matius 12:43-51)8.
3. Prinsip-Prinsip Pengajaran Yesus
Perjanjian Baru memuat banyak prinsip yang dipakai Tuhan Yesus dalam mendidik
murid-muridNya. Prinsip - prinsip pengajaran Tuhan Yesus menurut kitab injil Matius
5 – 7, yaitu:
a) Tuhan Yesus mengajar melalui hidup dan perbuatanNya (Matius pasal 4;
Mat.4:23-24; Mat.4:25).
b) Tuhan Yesus memakai pengalaman pendengar-pendengarNya untuk mengajar
mereka. (Mat.13:1-9; Mat.5:15-16).
c) Tuhan Yesus terkadang memandang obyek-obyek yang konkrit yang dilihat.
(Mat.12:16-17; Mat.6:25-34).
d) Tuhan Yesus memakai bahan / materi / media yang tepat dan sederhana untuk
mengajar. (Mat. 4:4, Mat.5:5).
e) Tuhan Yesus selalu memberikan kepada pendengarNya tanggung jawab untuk
mengambil keputusan secara pribadi. (Mat.7:24-27)
4. Karakter Kristus sebagai Panutan Guru PAK
Dalam pandangan agama Kristen, Guru PAK merupakan rekan sekerja Allah dalam
menaburkan dan menumbuhkan iman dalam hati dan hidup anak didik. Oleh karena
itu, guru agama Kristen adalah salah satu komponen penting dalam membentuk
karakter anak-anak melalui pembelajaran. Selain itu, guru Agam Kristen harus
memiliki upaya dalam membangun karakter siswa melalui perjumpaan dengan Yesus
7 J.M. Prince, Yesus Guru Agung. (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1975), hal 5
8 Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus (Bandung, Yayasan Kalam Hiudp, 1989) hal. 17
8|Page
Kristus secara pribadi (Tafonao, 2018a). Keteladanan pengajar merupakan syarat
mutlak untuk keberhasilan kegiatan belajar mengajar (Kristianto, 2008). Ketika Yesus
mengajar, Ia menjadikan diri-Nya sebagai teladan yang harus dilakukan oleh para
murid-murid-Nya maupun pengikut-Nya. Karakter Yesus sebagai guru nampak pada
pengajarannya.
5. METODE PEMBELAJARAN TUHAN YESUS DALAM PROSES
PEMBELAJARAN PAK
Kata didaskō adalah kata yang paling sering dipakai dalam Perjanjian Baru untuk
menjelaskan pengertian perbuatan mengajar. Perjanjian Baru muncul 97 kali diterjemahkan
dengan kata mengajar; mengajarkan; ajarlah; ajarkanlah (Mat. 4:23; 5:2, 19; 7:29; 9:35;
dst). Kata jadiannya didaskalia (perbuatan mengajar; ajaran), didaktos (orang yang diajar; apa
yang diajarkan), didaktikos (orang yang pandai mengajar), didakhe (pengajaran). Kata
bendanya adalah didaskolos artinya pengajar; guru. Jadi sebutan Yesus sebagai Guru Agung
menekankan bahwa pengajaran-Nya merupakan salah satu pelayanan utama yang dilakukan
Yesus selain kotbah.
Tidak ada informasi yang mengatakan bahwa Yesus mempelajari metode-metode mengajar,
yang terang ialah bahwa Yesus cakap mengajar. Suatu kenyataan dari sifat Yesus ialah Ia
tidak mengemukakan prinsip-prinsip ilmu jiwa, teori pendidikan atau ilmu mendidik, namun
Dia menguasai unsur-unsur yang paling penting dalam pendidikan. Yesus mempergunakan
metode yang dikenal dewasa ini secara baik.
Metode-metode yang Tuhan Yesus pergunakan dalam pengajarannya yaitu:
a. Metode ceramah
Metode ceramah sering digunakan oleh Tuhan Yesus khususnya pada permulaan
pekerjaanNya ketika Ia berbicara dihadapan orang banyak. Salah satunya contoh
metode ceramah yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam menyampaikan
pengajarannya seperti yang terdapat di Kitab Matius pasal 5- pasal 7. Ceramah-
ceramah itu demikian menarik perhatian dan menimbulkan minat sampai banyak
orang kagum terhadap Yesus. “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini,
takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya” (Matius 7:28 ). Bahkan
9|Page
para musuh takut menangkap Dia dan berkata, “Belum pernah seorang manusia
berkata seperti orang itu” Yohanes 7:46.
b. Metode Diskusi dan Tanya Jawab (Dialogis)
Tuhan Yesus memggunakan metode diskusi untuk melihat respons dari para
pendengar-Nya tentang hal-hal yang sudah Ia ajarkan, atau Ia juga memberikan
kesempatan kepada para murid untuk mendiskusikan hal yang penting. Namun
demikian pelaksanaan metode diskusi yang dipakai Tuhan Yesus masih sederhana
dan belum tertata rapih seperti yang sering diselenggarakan dalam dunia pendidika
sekarang ini. Metode diskusi adalah metode pengajaran yang menghadapkan anak
didik pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk
memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan
memahami pengetahuan anak didik serta untuk membuat suatu keputusan.
Empat Injil menuliskan lebih dari seratus pertanyaan berbeda yang digunakan.
Beberapa dari pertanyaan-Nya dilontarkan secara langsung dan dengan sederhana
Tuhan Yesus kadang memberi pertanyaan-pertanyaan kepada murid-muridNya
dihadapan orang banyak. Itu diungkapkan. “ Kamu adalah garam dunia. Jika
garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya
selain di buang dan diinjak orang” (Matius 5:13). Yesus memberi pertanyaan untuk
menggugah pikiran pendengarnya mengenai garam dan fungsinya untuk dikaitkan
dengan pokok pengajarannya perihal tugas murid-murid Yesus yang dipanggil
untuk menjadi berkat ditengah-tengah dunia. Sama hal juga menemukan di dalam
Matius 6:25-34. Metode Tanya jawab adalah salah satu metode yang tertua dan
paling berpengaruh dan masih relevan dipergunakan samapi saat ini.
Seringkali, pertanyaan yang dilontarkan-Nya secara langsung mengharuskan
pendengar-Nya membandingkan, memeriksa, mengingat, dan mengevaluasi.
Pertanyaan-pertanyaan hipotesa memberikan suasana solusi bagi pendengar-Nya.
Seperti yang tertera pada Matius 21:31, "Siapakah di antara kedua orang itu yang
melakukan kehendak ayahnya?" atau seperti yang terdapat di Lukas 10:36,
"Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama
manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?". Yesus dikenal mahir
dalam menangani pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya, bahkan
10 | P a g e
ketika mereka ingin menjebak-Nya. Di dalam Markus 12:13-17, Yesus
mendiskusikan tentang : pajak kepada Kaisar, perkawinan pada kehidupan setelah
kematian dan Hukum yang terutama. Setiap pertanyaan sangatlah berbeda dan
pendengar-Nya sangat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan, sehingga
mereka tidak lagi memiliki pertanyaan yang perlu ditanyakan kembali.
c. Metode Bercerita dan Perumpamaan dengan ilustrasi
Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan supaya pesan-Nya dapat
diterima oleh para pendengar. Dia menggunakan sebuah cerita yang diambil dari
kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan pengajaran baru dengan menggunakan cerita
tentang keadaan yang sudah dikenal dan diterima oleh pendengar-Nya. Yesus
menggunakan perumpamaan untuk menyederhanakan pengajarannya dan untuk
mengkomunikasikan kebenaran dasar secara sederhana. Contoh perumpamaan-
perumpamaan yang dicatat dalam injil Sinoptik antara laian, tentang pelita (Matius
5:13-16), tentang selumbar (Matius 7: 3), domba ditengah serigala (Matius 10:16),
biji sesawi (Lukas 17:6), anak yang Hilang (Lukas 15:11-32), Pohon Ara yang
Tidak Berbuah (Lukas 13:6-9), tentan ragi (Matius 13:33, Lukas 13:20-21), tentang
pukat (Matius 13:47-50) dan masih banyak perumpamaan lain untuk menjelaskan
hal kerajaan Sorga.
Yesus seringkali menggunakan media yang dekat denagn lingkungan
pembelajarnya sebagai sarana dalam mengajar, seperti roti tidak beragi (Matius
16:6,12), pohon ara (Lukas. 13:6-7; 21:29), anak kecil (Matius 14:13-21; Markus
6:32-44; Luk. 9:10-17), penabur (Matius 13:1-23; Markus 4:1-20; Lukas 8:4-15),
Lalang di antara gandum (Mat. 13:24-30), biji se-sawi dan ragi (Markus. 4:30-34;
Lukas 13:18-21), domba (Matius 18:12-24; Luk. 15:1-7), serigala (Matius 8:18-22;
Lukas 9:57-62), gembala (Yohanes. 10:1-21), pukat (Matius. 13:47-52),
Mengenai metode perumpamaan yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam kitab Injil,
pada umumnya perumpamaan diberikan untuk menyatakan dan menjelaskan
tentang Kerajaan Allah9. Jika kita melihat perumpamaan-perumpamaan dalam
Alkitab, maka dapat dikatakan bahwa tujuan perumpamaan adalah untuk
9 Bnd. Marulak Pasaribu, Ekspositori Injil Sinoptik (Malang: Gandum Mas, 2005).
11 | P a g e
mengkomunikasikan pesan keselamatan dengan cara yang jelas dan sederhana
sehingga para pendengar dapat mengerti serta mengaplikasikannya dalam hidup
dan tingkah lakunya.
d. Metode Demostrasi
Metode demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu anak
didik untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang
benar. Menurut Sentot Sadono, “metode demontrasi merupakan metode yang
dilakukan untuk memperlihatkan cara kerja dan proses terjadinya sesuatu. Metode
ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik atas pertanyaan-
pertanyaan seperti bagaiman cara mengaturnya, bagaimana proses bekerjanya,
bagaimana proses mengerjakannya dan lain-lain10.
Demonstrasi merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh guru untuk
mempertunjukkan cara kerja dan proses terjadinya sesuatu. Tuhan Yesus sering
melakukan proses pengajaran dengan menggunakan metode demostrasi. Misalnya:
Injil Matius 8:1-17, 23-34, 9:34, nats-nats ini berbicara mengenai mujizat-mujizat
yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Metode demonstrasi yang digunakan oleh Tuhan
Yesus sangat relevan untuk menyajikan materi yang sifatnya harus ditunjukkan
secara langsung kepada pendengar.
Dapat dikatakan bahwa Yesus adalah guru yang kreatif, karena dalam setiap
pengajaran-Nya Yesus menggunakan metode-metode yang bervariasi, tergantung
tujuan, bahan, situasi pendengar, serta lingkungan-Nya11. Metode pengajaran Yesus
itu unik, sebab Ia tidak pernah mengajar didalam ruang, ruang kelas, peserta didik dari
pengajaran-Nya segala umur, segala status sosial, tidak dibatasi dengan ruangan kelas,
tetapi hasilnya dapat mengubah hidup semua orang yang mendengar-Nya12
10 Bnd. Sentot Sadono, Bahan Ajar Psikologi PAK (Semarang: STT Babtis, 2012)
11 Imanuel Agung, Made Astika,”Penerapan Metode Mengajar Yesus Menurut Injil Sinoptik Dalam Pelaksanaan
Pendidikan Agama Kristen Di SMA Gamaliel Makassar,”Jurnal Jaffray (Oktober 2011):
12 Bnd. Sentot Sadono, Bahan Ajar Psikologi PAK (Semarang: STT Babtis, 2012)
12 | P a g e
6. PENGAJARAN TUHAN YESUS SEBAGAI LANDASAN EDUKATIF
KURIKULER PAK
Misi dan Tujuan Pendidikan Kristen.
Berdasarkan Alkitab, Ulangan 6:6-9. kita dapat merumuskan apa yang sesungguhnya
menjadi misi/tujuan pendidikan Kristen. Tuhan memberikan kepada kita misi utama
penyelenggaraan pendidikan Kristen. Pertama, pendidikan yang menolong setiap peserta
didik untuk percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.
Kedua, menjadi murid Kristus yang berkomitmen bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidup
pribadinya meliputi semua aspek. Berdasarkan misi tersebut kita dapat menentukan arah
dan tujuan ke dalam kurikulum pendidikan agama Kristen. Pendidikan Kristen secara
hakiki merupakan pendidikan yang mewujudkan/menerapkan integrasi iman Kristen dan
ilmu. Inilah dasar penyusunan dan desain kurikulum pendidikan Kristen
Kurikulum PAK Berbasis Pengajaran Tuhan Yesus.
Pendidikan yang diterapkan setiap institusi pendidikan Kristen haruslah kurikulum
Kebenaran Allah, yakni kurikulum yang menghantar setiap anak, murid untuk belajar dan
menemukan kebenaran Allah. Menyelenggarakan proses pendidikan dengan kurikulum
yang berbasis pada kebenaran Allah. Kurikulum ini berpusat pada kebenaran Allah sendiri,
yakni berpusat pada Alkitab, Firman Allah. Desain pada kurikulum yang didalamnya telah
ditentukan standar kompetensi, kompetensi dasar serta indikator-indikatornya
Kurikulum berbasis Alkitab, yang mewujudkan penyelenggaraan pendidikan Kristen yang
bersifat utuh, komprehensif dan integratif. Kurikulum yang mengembangkan seluruh aspek
intelegensia peserta didik, yakni pada aspek intelegensia spiritual, moral, kognitif/rasional,
sosial, emosional, kultural, serta pembentukan mental dan kepribadiannya. Landasan
edukatif atau disebut sebagai landasan kurikuler yang mengarah pada proses pembelajaran
secara menyeluruh. Bila kita mengacu pada definisi pendidikan Kristen menurut pendapat
Robert W. Pazmino13 dia merumus kan sebagai berikut :
Pendidikan Kristen merupakan upaya Ilahi dan manusiawi yang dilakukan secara sistematis
dan berkesinambungan, untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai- nilai, sikapsikap dan
13 Robert W. Pazmino, Foundational Issues in Christian Education, Grand Rapids, Michigan, Baker Book
House, 1988, p.81, sebagaimana dikutip Samuel Sidjabat dalam bukunya Strategi Pendidikan Kristen,
Yogyakarta; Andi, 1994, h. 106.
13 | P a g e
ketrampilan-ketrampilan dan tingkah laku yang konsisten dengan iman Kristen. Pendidikan
mengupayakan perubahan, pembaruan dan reformasi pribadi-pribadi, kelompok dan struktur,
oleh kuasa Roh Kudus, sehingga anak didik hidup sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana
dinyatakan oleh Alkitab dan oleh Tuhan Yesus sendiri.
Implementasi Pengajaran Tuhan Yesus Dalam Materi PAK.
Isi atau materi, pada hakekatnya, adalah semua kegiatan dan pengalaman yang
dikembangkan dan disusun dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Pokok-pokok
penting iman Kristen menjadi sumber pengetahuan utama dalam mencerminkan
identitas dan ciri khas kekristenan. “Kesatuan akhir dari semua pengetahuan yang
benar, berada dalam diri Tuhan Yesus Kristus, sebagai Allah yang Hidup dan Benar”
(Alkitab : Yohanes 14:6). Hal ini terurai sebagaimana pokok-pokok penting iman
Kristen menjadi sumber utama dalam mencerminkan identitas dan ciri khas kekristenan
(Abineno, 2008) :
1) Allah yang menyatakan diri kepada manusia sebagai Allah Pencipta, dan sebagai
Allah yang mengikat perjanjian damai dan keselamatan untuk manusia.
2) Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang menyelamatkan dan yang memulihkan
hubungan antara manusia berdosa dengan Allah Bapa. Yesus Kristus sebagai pusat
iman Kristen
3) Roh Kudus berperan sebagai Roh Allah yang menghibur, melindungi, membimbing
dan mengajarkan setiap firman Allah yang diajarkan,
4) Manusia adalah mahluk ciptaan Allah tertinggi yang diciptakan serupa dan
segambar dengan-Nya.
5) Kejatuhan manusia ke dalam dosa sebagai akibat dari ketidaktaatan terhadap
perintah Allah. Namun, di dalam Kristus, pemulihan persekutuan terjadi.
6) Gereja sebagai lembaga, persekutuan dan umat Allah yang diutus ke dalam dunia
untuk mewujudkan misi Allah.
7) Alam semesta milik Allah yang terus menerus Allah perbaharui untuk mewujudkan
“kerajaan Allah”
Penyusunan materi ini dirancang dengan mempertimbangkan pengalaman rohani dan
perkembangan kehidupan kekristenan peserta didik sesuai dengan jenjang
kependidikannya.
14 | P a g e
7. KOMUNIKASI INTERPERSONAL TUHAN YESUS SEBAGAI GURU
DENGAN PARA MURIDNYA
Penertian Komunikasi Interpersonal.
Pengertian komunikasi interpersonal. “Keterampilan komunikasi interpersonal sebagai
kemampuan seseorang dalam melakukan komunikasi secara efektif dengan orang lain”
Komunikasi digambarkan sebagai proses yang berfokus pada apa yang akan dikatakan,
tetapi juga teknik penyampaian dan hasil atau efek dari komunikasi itu. Komunikasi
adalah hubungan antarpribadi dengan menggunakan sistem simbol verbal dan
nonverbal (Suprapto, 2009, p. 6). Jadi, komunikasi adalah proses penyampaian
informasi dengan menggunakan bahasa verbal dan nonverbal kepada orang lain dengan
sebuah tujuan tertentu. Membangun relasi antarpersonal satu dengan yang lainnya,
disebut relasi interpersonal.
Komunikasi Interpersonal Tuhan Yesus seabgai Guru dengan para Murid-Nya
Komunikasi interpersonal antara guru dan murid juga dapat ditemukan dalam Alkitab
dapat dijadikan teladan ialah komunikasi interpersonal yang terjadi antara Tuhan Yesus
dan murid-murid-Nya. Penelitian yang diadakan oleh Asmat Purba, ada sembilan
bentuk kreatifitas Tuhan Yesus dalam membangun hubungan dengan murid-murid-Nya
yang patut dijadikan teladan oleh para pengajar PAK (Purba, 2015, p. 70-71).
1) Tuhan Yesus membuka dirinya (Yoh. 1:6-8).
2) Tuhan Yesus mampu menghadapi semua masalah dan semua orang, baik yang
menerima-Nya maupun menolaknya, baik orang berdosa maupun orang benar.
3) Tuhan Yesus memiliki daya tarik (Yoh. 2:12; 3:31).
4) Isi pengajaran Tuhan Yesus bertolak dari diri-Nya sebagai utusan Allah.
5) Tuhan Yesus membentuk komunitas bersama murid-murid-Nya.
6) Tuhan Yesus adalah seorang gembala, pemimpin, pembagi makanan,
mendisiplin dan melindungi, guru bahkan pelatih bagi murid-murid-Nya.
7) Tuhan Yesus menyebut diri-Nya sebagai hamba Allah, Anak Allah, sebagai
guru dan gembala.
8) Tuhan Yesus adalah penyembuh dan pemulih jiwa yang letih lesu dan berbeban
berat (Mat. 11:28).
9) Tuhan Yesus murid-murid-Nya sebagai sahabat (Yoh. 15:15).
15 | P a g e
Berdasarkan kesembilan hal di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa Tuhan
Yesus adalah guru Agung yang sepatutnya dijadikan teladan oleh setiap pengajar PAK
sebab Ia tidak hanya mementingkan diri-Nya sendiri melainkan Ia juga merangkul
murid-murid-Nya untuk dapat berkarya bersama-sama dengan-Nya melakukan misi
Kerajaan Allah.
Sebagai Guru, Yesus sangat terampil dalam membangun hubungan in-terpersonal
dengan setiap murid dan orang-orang yang mengikuti-Nya. Hu-bungan
interpersonal merupakan hal yang sangat penting untuk diciptakan dalam suasana
belajar, karena dengan itu akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan
tumbuh motivasi yang tinggi dalam diri setiap pembelajar. Dengan kemampuan
tersebut, Yesus selalu mampu menciptakan relasi yang baik dalam setiap saat,
dari awal hingga akhir proses pengajaran-Nya.
Ke-agungan Yesus dalam hal mengajar tentu menjadi inspirasi yang tidak terban-
tahkan oleh para guru masa ini, dalam mengasah keterampilan untuk membangun
hubungan interpersonal di antara mereka dan orang-orang yang mereka didik.
Hubungan interpersonal yang tercipta dengan baik memberi kesan kuat dalam diri
setiap pembelajar untuk mencerna pengajaran sang guru dan dite-rapkan dalam
kesehariannya. Sebagaimana Yesus, yang selalu memprioritas-kan hubungan dalam
setiap pelayanannya, meski kepada orang yang tidak per-nah ditemui-Nya, Ia selalu
membangun hubungan yang erat untuk mencapai tujuan (Purba, 2019.
Pengaruh Komunikasi Interpersonal Terhadap Keaktifan Belajar Siswa
Kegiatan pembelajaran menggunakan komunikasi interpersonal menjadikan
komunikasi berjalan efektif dikarenakan komunikasi interpersonal berlangsung dua
arah, guru – siswa dan siswa– guru. Salah satu jenis komunikasi yang paling ampuh
mempersuasif peserta didik adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi ini baik
membawa kedekatan secara interpersonal, adanya keterbukaan dari masing-masing
pihak, kesetaraan dalam hal berbicara dan mendengarkan selama proses pembelajaran.
Teknik komunikasi yang dilakukan oleh guru dan hubungan yang baik dengan siswa
dapat mempersuasi siswa sehingga meningkatkan keaktifan dalam belajar di kelas.
16 | P a g e
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan paparan diatas maka penulis dapat menyimpulkan :
1. Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan penting dalam pendidikan formal
khususnya dalam pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) karena bagi peserta
didik, guru dijadikan sebagai tokoh identifikasi diri. Secara esensial,sebenarnya guru
mengajar adalah menyediakan kondisi yang kondusif agar masing-masing individu
anak didik itu dapat belajar secara optimal,walaupun wujudnya datang dan ada secara
kelompok. Oleh karena itu, guru PAK seharusnya memiliki perilaku dan kompetensi
yang memadai untuk mengembangkan nilai-nilai ke Kristenan itu dalam hidup peserta
didik secara utuh.
2. Dalam pandangan agama Kristen, Guru PAK merupakan rekan sekerja Allah dalam
menaburkan dan menumbuhkan iman dalam hati dan hidup anak didik. Mengajar PAK
harus dipandang dari sudut pelayanan kepada Tuhan agar pengabdian yang sepenuh
hati dan memberi yang terbaik menjadi hal yang sangat diperhatikan. Guru PAK yang
baik adalah guru yang mampu menerapkan hubungan yang berbentuk multidimensional
dengan semua nara didik. Sehingga guru PAK yang demikian haruslah memenuhi
kriteria administratif, akademis ,kepribadian dan spiritual yang baik sperti yang dimiliki
Yesus Kristus.
3. Dalam melakukan pengajaranNya, Yesus mempunyai aspek-aspek yang patut untuk
kita teladani dan terapkan dalam proses pembelajaran PAK, aspek-aspek pengajaran
Yesus, seperti: bahan materi pengajarannya, cara mengajar, starategi dan metode
penyampaian pengajarannya ataupun media yang digunakan. Aspek ini dapat dijadikan
sebagai perbandingan atau menjadi teladan bagi guru-guru PAK
4. Tuhan Yesus menjadi dasar pembelajaran, menjadi pusat pengajaran dan menjadi
tujuan pendidikan agama Kristen. Alkitab adalah sumber pengetahuan, Tuhan Yesus
menjadi pusat / fokus pembelajaran, perjumpaan pribadi dengan Yesus sebagai
juruselamat menjadi sasaran dan tujuan pembelajaran PAK.
17 | P a g e
B. SARAN
Saran saran sebagai berikut :
1. Seruan bagi seluruh pengajar atau guru PAK dapat mengembangkan talenta dalam
berkresi, berinovasi mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan PAK di
Indonesia denagn berbasis keteladanan Tuhan Yesus sebagai guru agung
2. Guru PAK dapat mengimplementasikan identitasnya sebagai guru yang berkarakter
Kristus, pengajaran Yesus sebagai dasar materi pembelajaran, metode pengajaran
Yesus menjadi sumber inspirasi penyampaian bahan ajar dan hubungan interpersonal
Tuhan Yesus dengan para muridnya dapat menjadi teladan dalam mengkomunikasikan
pembelajaran PAK
Gambar Peta Konsep
Implementasi Keteladanan Tuhan Yesus sebagai Guru Agung
dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
DASAR
PEMBELAJARAN
PAK
Keteladanan
YESUS
SEBAGAI
GURU AGUNG
PUSAT TUJUAN
PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN
PAK PAK
18 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA DAN SUMBER REFERENSI
DAFTAR PUSTAKA
Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: Lembaga Alkitab
Indonesia, 2012)
Paulus Lilik Kristanto, Prinsip dan Praktek PAK Penuntun Bahgi Mahasiswa Teologi
dan PAK, Pelayan Gereja, Guru Agama dan Keluarga Kristen (Yogyakrta: Andi
Offset, 2015)
J.L.Ch.Abineno,Tafsiran Alkitab:Surat Efesus,(PT.BPK Gunung Mulia,2012)
Yamin, M. (2014), Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran, (Malang:
Madani)
Marulak Pasaribu, Ekspositori Injil Sinoptik (Malang: Gandum Mas, 2005).
Sidjabat, B.S. 2011, Membangun Pribadi Unggul, Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Sadirman A.M, Interaksi dan motivasi belajarmengajar,(PT.Raja Grafindo
Persada,2009)
Kristianto, P. L, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen. (Yogyakarta: Andi
Offse, 2008)
Abineno, J. L. C. (2008), Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen, BPK Gunung
Mulia.
Suprapto, T. (2009), Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi,Yogyakarta:
MedPress
SUMBER REFERENSI
1. Kreatifitas Yesus dalam membangun hubungan interpersonal,
https://ejournal.poltektedc.ac.id/index.php/tedc/article/view/244
2. Kompetensi Pedagogik Tuhan Yesus dalam Injil Matius, https://e-
journal.sttexcelsius.ac.id/index.php/excelsisdeo/article/download/15/13
3. Yesus Sebagai Guru: Studi Injil Yohanes
https://ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/190
4. Agung Imanuel, Made Astika,”Penerapan Metode Mengajar Yesus Menurut Injil
Sinoptik Dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen Di SMA Gamaliel
Makassar,”Jurnal Jaffray (Oktober
2011):https://www.neliti.com/id/publications/137520/penerapan-metode-
mengajar-yesus-menurut-injil-sinoptik-dalam-pelaksanaan-pendidi
I|Page
5. Yesus sebagai Guru Agung,
https://sttintheos.ac.id/ejournal/index.php/antusias/article/download/13/12
6. Prinsip-Prinsip Pengajaran Yesus http://timotius-
sukarman.blogspot.com/2010/08/prinsip-pengajaran-tuhan-yesus-menurut.html
7. Perumpamaan sebagai model Pembelajaran
https://www.neliti.com/id/publications/319719/perumpamaan-sebagai-model-
pembelajaran-yang-efektif-untuk-proses-belajar-mengajar
8. Implikasi Keteladanan Yesus sebagai Pengajar PAK,
http://christianeducation.id/e-journal/index.php/regulafidei/article/view/54
9. Studi Tentang Yesus sebagai guru,
https://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=724&res=jpz
10. Metode Mengajar Yesus,
https://m.pepak.sabda.org/25/nov/2004/anak_metode_mengajar_yesus
11. Profesionalitas Yesus dalam menggunakan metode dan media pembelajaran,
https://www.researchgate.net/publication/342686478_Profesionalitas_Yesus_San
g_Guru_Agung_Dalam_Penggunaan_Media_Pembelajaran
12. Implemenytasi Model Teaching Learning Tuhan Yesus menurut Injil Matius,
https://core.ac.uk/download/pdf/236430033.pdf
13. Yesus sebagai Guru Teladan,
https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/kt/article/view/8390
14. Penguatan Pendidikan Guru PAK untuk pendidikan Karakter
https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/EJTI/article/download/121/pdf
15. Kompetensi Guru PAK, https://osf.io/6mdcy/download
16. Prinsip-Prinsip Peningkatan Kompetensi Guru PAK, https://sttintheos.ac.id/e-
journal/index.php/antusias/article/download/19/18
17. Kurikulum Pendidikan Agama Kristen,
https://media.neliti.com/media/publications/317498-kurikulum-pendidikan-
agama-kristen-di-in-39f1e9aa.pdf
II | P a g e