The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Lima orang sahabat yang ingin menguak misteri dibalik rumah terbengkalai. Mampukah mereka memecahkan misteri tersebut?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by maharania1511, 2023-01-01 12:00:05

Misteri Rumah Terbengkalai

Lima orang sahabat yang ingin menguak misteri dibalik rumah terbengkalai. Mampukah mereka memecahkan misteri tersebut?

Keywords: Cerpen

MISTERI RUMAH TERBENGKALAI

Tidak jauh dari tempat tinggalku, terdapat rumah yang terbengkalai selama
bertahun-tahun dan terletak diujung desa. Menurut warga sekitar, pemilik rumah tersebut
telah meninggal dan rumah itu hanya dibiarkan kosong. Dikarenakan rumah itu tidak
berpenghuni, mulai muncul cerita bahwa rumah tersebut berhantu. Para warga yang
pernah melewati rumah itu sering kali melihat sebuah penampakan wanita berbusana
serba putih sedang melihat kearah jendela. Aku selalu melewati jalan didepan rumah
kosong itu ketika aku berangkat untuk shalat shubuh dan tidak pernah sekalipun aku
melihat sesuatu yang aneh dari rumah tersebut selain rumah yang sudah tidak terawat.

Setelah shalat shubuh, aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aku
berangkat sekolah dengan sahabat-sahabatku yang bernama Tina, Rio, Anne, dan Bhisma.
Jarak rumah kami tidak terlalu jauh, sehingga ketika berangkat sekolah kami selalu
berangkat bersama-sama. Kebetulan juga kami ditempatkan dikelas yang sama dan
membuat hubungan kami semakin dekat. Saat diperjalanan, sahabat-sahabatku sering
menceritakan mengenai rumah terbengkalai itu.
“Eh kalian tau ga?” Ucap Rio dengan antusias.
“Apa? Pasti mau cerita tentang rumah kosong itu,” balas Bhisma dengan muka datarnya,
karena sudah hafal betul apa yang akan diceritakan oleh Rio.
“Kok tau?” Tanya Rio.
“Ya taulah, kamu kalau cerita tentang rumah kosong itu pasti semangat banget,” balas
Bhisma.
“Hehe maaf deh, tapi kamu kalau dengar cerita ini pasti bakal terkejut banget,” ucap Rio.
“Memangnya apa yang mau kamu ceritain yo?” sahut Tina.
“Tadi malam ada salah satu warga yang melihat seseorang yang masuk kerumah itu dan
tidak keluar-keluar,” kata Rio.
“Hah, kok bisa,” ucap kami secara bersamaan.
“Aku juga gatau,” jawab Rio.

“Kamu kalau mau ngarang cerita ya ga gini juga yo,” ucapku.
“Beneran aku ga bohong. Ya emang ini cerita baru beberapa orang yang tau,” ucap Rio.

Tak terasa kami sudah memasuki gerbang sekolah.
“Sudah-sudah ceritanya nanti waktu pulang sekolah lagi saja,” ucap Anne. Kami
kemudian masuk ke dalam kelas yang telah ramai oleh teriakan murid-murid.

Bel berdering menunjukkan waktu pulang sekolah. Aku dan sahabat-sahabatku
bergegas untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, kami melihat sebuah mobil hitam yang
keluar dari rumah yang telah terbengkalai itu. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah
mobil itu milik anak dari pemiliki rumah tersebut. Lalu kenapa baru sekarang anak
pemilik rumah itu datang kesini. Aku pun bertanya kepada sahabat-sahabatku.
“Teman-teman, kalian melihat mobil hitam tadi keluar dari rumah kosong itu kan?”.
“Iya Bar, kira-kira ada apa ya disana?” Ucap Bhisma.
“Mungkin itu anak dari pemilik rumah kosong itu,” jawab Anne santai.
“Tapi kamu nggak curiga Ann? Kenapa anak pemilik rumah itu baru datang sekarang.
Lalu tadi malam juga ada kejadian aneh masa ada seseorang yang tiba-tiba menghilang
setelah masuk rumah itu.”
“Apa kita selidiki saja rumah itu? Kita intai rumah itu dari jauh, siapa tahu nanti ada
petunjuk mengenai orang yang hilang itu.”
“Aku sih setuju-setuju saja. Yang lain bagaimana?” Tanyaku.
“Setujuuu,” jawab teman-temanku serempak.
“Oke kita intai rumah itu besok setelah pulang sekolah,” ucapku.

Kami lalu pulang kerumah masing-masing. Adzan maghrib pun berkumandang.
Aku bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Saat melewati rumah terbengkalai itu, aku
melihat sekelebat bayangan seorang pria dari jendela.
“Bukannya sosok penghuni dirumah ini perempuan ya?” Batinku.

Aku tak menghiraukan bayangan tersebut dan melanjutkan perjalananku menuju masjid.
Pulang dari masjid, aku melihat rumah itu sebentar untuk memastikan apakah bayangan
tadi itu orang atau bukan. Setelah beberapa menit menunggu ternyata tidak ada apa-apa
di rumah tersebut. Aku lalu bergegas kembali kerumah. Setibanya dirumah, aku
mendengar suara ayahku yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang di ruang
tamu. Aku berjalan menuju ruang tamu untuk melihat dengan siapa ayahku berbincang.
Ternyata tamu yang sedang berkunjung itu adalah pamanku. Pamanku bernama Andi,
beliau adalah seorang polisi sekaligus panutanku. Aku memiliki cita-cita yaitu menjadi
polisi. Aku ingin menjadi polisi karena melihat paman dengan seragam polisi itu
sangatlah keren. Aku sangat senang pamanku kerumah karena beliau ini jarang sekali
kerumahku.

“Pamannn,” sambutku antusias.

“Halo polisi kecil,” sapa paman.

Aku memeluk paman erat. Saat pamanku mampir kerumah, beliau sering menceritakan
mengenai apa saja yang ada di kepolisian. Aku tidak pernah bosan mendengar ceritanya
karena itu sangat menyenangkan. Aku duduk didekat pamanku sembari mendengarkan
pembicaraan antara ayahku dan paman. Mereka sedang membicarakan mengenai buronan
yang sedang dicari oleh kepolisian. Kata pamanku, beliau akan menginap di rumah kami
selama beberapa hari karena ada suatu hal yang harus diselesikan pamanku disini.
Dikarenakan aku perlu belajar untuk ulangan besok, aku mohon izin kepada paman untuk
undur diri. Sesampainya dikamar, aku langsung mengeluarkan buku dan mulai belajar.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku menyudahi belajarku dan bergegas
untuk tidur. Pagi harinya aku menjalani rutinitasku seperti biasa.

Pulang sekolah, aku langsung berganti baju dan pamit dengan ibu untuk bermain
dengan sahabat-sahabatku. Aku dan sahabat-sahabatku memiliki sebuah markas yang
letaknya tidak jauh dari rumah terbengkalai itu. Sesuai dengan rencana kami kemarin,
kami lalu mencari posisi yang strategis untuk mengintai rumah terbengkalai itu. Kami
bersembunyi dibalik semak-semak agar tidak terlihat oleh orang. Setelah menunggu
beberapa jam, muncullah mobil hitam yang kami lihat kemarin. Mobil itu kemudian
berhenti di rumah terbengkalai itu. Orang-orang yang keluar dari mobil itu sangat
mencurigakan. Mereka memiliki badan kekar dan tato di tangannya sehingga terlihat

seperti seorang penjahat. Orang-orang tersebut berjumlah tiga orang. Setelah keluar dari
mobil, salah satu dari mereka celingak-celinguk seperti melihat keadaan sekitar. Merasa
sudah aman, mereka mengeluarkan sebuah kardus yang mencurigakan dari bagasi
mobilnya. Orang-orang itu lalu masuk ke dalam rumah. Selang beberapa menit, orang-
orang tersebut keluar dan pergi dengan mobilnya. Aku dan sahabat-sahabatku saling
bertatapan.

“Siapa orang-orang kekar itu? Kalaupun anak pemilik rumah ini sepertinya tidak
mungkin,” ucap Bhisma.

Pikiranku sama seperti apa yang diucapkan oleh Bhisma. Jika itu adalah anak pemilik
rumah itu, kenapa para warga tidak tahu. Aku pun teringat oleh kata-kata paman jika
kepolisian sedang mencari buronan. Paman juga secara tiba-tiba ingin tinggal di rumahku
untuk sementara waktu. Karena hari sudah menjelang malam, kami menyudahi
pengintaian kami. Besok merupakan hari minggu dan kami berencana untuk ke tempat
ini lagi untuk mengintai dan mungkin akan mencoba masuk ke dalam rumah itu.

Sampai dirumah aku langsung mandi dan masuk ke kamar. Sebenarnya aku ingin
menceritakan hal ini kepada pamanku, tetapi aku mengurungkannya. Aku ingin
memastikannya dulu apakah segerombolan orang-orang tak dikenal itu memang penjahat
atau bukan. Keesokan harinya, aku dan sahabat-sahabatku berkumpul untuk mengintai
kembali rumah terbengkalai itu. Pagi ini mobil yang biasanya datang ke rumah itu belum
kelihatan, sehingga kami memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Kami
melihat kondisi sekitar terlebih dahulu, setelah dirasa aman, kami keluar dari tempat
persembunyian dan masuk ke dalam rumah tersebut. Sebenarnya kami sedikit takut jika
masuk ke rumah itu. bukan karena adanya penampakan, tetapi kami takut jika kami
tertangkap oleh orang-orang tak dikenal itu. kemudian kami berpencar untuk mencari
kotak yang disembunyikan oleh orang-orang itu. Kami membaginya menjadi tiga
kelompok. Rio berpasangan dengan Tina, Bhisma berpasangan dengan Anne, dan aku
sendirian. Aku kedapatan mencari di bagian belakang. Aku lalu masuk ke sebuah kamar,
dalam kamar tersebut terdapat kotak yang kami cari-cari. Di dalam kotak itu terdapat
bungkusan yang lumayan besar dan membungkusnya seperti berlapis-lapis. Sedikit sulit
untuk membuka bungkusan tersebut dan betapa terkejutnya aku saat melihat isinya. Isi
dari bungkusan tersebut kemungkinan adalah narkoba. Aku bisa memastikan ini narkoba

karena pamanku pernah bercerita mengenai jenis narkoba dan ciri-cirinya. Aku lalu
menutup kotak itu kembali. Saat ingin mengabarkan ini kepada teman-teman, tiba-tiba
pintu di rumah tersebut terbuka dan orang-orang tak dikenal itu masuk. Aku yang
mengetahui hal tersebut langsung mencari tempat persembunyian. Aku mendengar suara
jeritan Tina. Aku menduga mereka berempat telah tertangkap oleh penjahat itu. dari
tempat persembunyianku, aku melihat sepasang kaki menuju ke arahku. Aku sangat takut
jika ikut tertangkap. Tak lama setelah itu, lelaki tersebut pergi.

Hari sudah menjelang malam, aku masih belum keluar dari tempat
persembunyianku. Aku mendengar suara tawa yang menggelegar dan tangisan dari
sahabatku. Beberapa menit kemudian suasana menjadi hening. Aku juga mendengar ada
suara mobil keluar dari rumah ini. Aku memberanikan diri untuk keluar dari tempat
persembunyianku. Aku mengintip dari balik tembok. Kulihat ada seorang lelaki yang
tengah tertidur di sofa depan. Sepertinya lelaki itu tengah menjaga teman-temanku agar
tidak kabur. Aku mengendap-endap dan keluar lewat pintu belakang. Setelah berhasil
keluar, aku berlari dengan kencang menuju rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung
menceritakannya kepada pamanku bahwa rumah terbengkalai itu menjadi markas
pengedar narkoba dan teman-temanku sedang disekap disana. Mendengar hal tersebut
pamanku sangat terkejut. Paman bertanya kepadaku kenapa teman-temanku sampai
disekap disana. Aku bicara jujur kepada paman jika kami nekat mencoa masuk ke dalam
rumah terbengkalai itu untuk mencari tahu apa isi dari kotak yang dibawa oleh para
penjahat itu. Pamanku yang sudah paham situasinya saat ini, beliau lalu menghubungi
rekannya untuk datang kesini dan beliau langsung menuju ke rumah terbengkalai itu.
Paman memperingatkanku untuk tidak ikut ke dalam rumah terbengkalai tersebut dan aku
hanya mengangguk. Tanpa sepengetahuan paman, aku mengikuti pamanku menuju
rumah terbengkalai. Aku melihat aksi penyelamatan yang dilakukan oleh paman.
Akhirnya teman-temanku bisa terbebas dari penyekapan itu. Kami berpelukan dan
mengecek kekadaan teman-temanku, apakah mereka terluka atau tidak. Bersyukurnya
tidak ada yang terluka parah, hanya luka baret di lengan Bhisma. Setelah meringkus
penyekap itu, aku mendatangi paman dan berkata jika masih terdapat dua orang lagi yang
belum tertangkap karena mereka sedang pergi keluar. Pamanku mengerti dan beberapa
menit setelah itu, rekan-rekan pamanku datang. Kemudian mereka bersembunyi di dalam
rumah terbengkalai itu dan menunggu kedatangan para penjahat. Aku dan keempat

sahabatku bersembunyi di balik semak-semak tempat kami mengintai dulu. Setelah
menunggu beberapa saat, mobil penjahat itu datang. Mereka keluar dan membawa
bungkusan makanan. Saat masuk ke dalam rumah, terdengar teriakan minta tolong dari
penjahat itu. Polisi berhasil meringkus semua penjahat dan membawa barang bukti yang
berupa dua kotak berisi sabu. Dan ternyata tiga orang itulah yang tengah dicari-cari oleh
pamanku. Pamanku sangat berterimakasih kepadaku dan teman-teman karena telah
membantu polisi dalam menangkap penjahat itu. Akhirnya misteri mengenai rumah
tersebut terpecahkan. Penjahat itu mengakui jika mereka membuat sebuah cerita
menyeramkan tentang rumah terbengkalai ini dan menakuti warga dengan sosok wanita
berbusana serba puith agar para warga tidak ada yang berani datang ke rumah
terbengkalai ini. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan oleh
kami.

~~TAMAT~~


Click to View FlipBook Version