Page | 1 MODUL MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN SEJARAH KODE MK: MKKPP43004 Dosen Pengampu: USMAEDI, M.Pd PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SETIA BUDHI RANGKASBITUNG 2023
Page | 2 TOPIK 2 “PENILAIAN HASIL BELAJAR DOMAIN KOGNITIF” PETA KONSEP TOPIK 2 CAPAIAN PEMBELAJARAN TOPIK Selamat datang pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Sejarah pada topik “Penilaian Hasil Belajar Domain Kognitif”. Capaian pembelajaran pada topik ini diharapkan mahasiswa mampu memahami dan membedakan tingkatan domain kognitif. INDIKATOR Setelah pembelajaran pada topik “Penilaian Hasil Belajar Domain Kognitif”, Saudara diharapkan mampu: 1. membedakan 6 tingkatan domain kognitif (C1, C2, C3, C4, C5, dan C6) menurut Taksonomi Bloom yang telah direvisi; 2. mengimplementasikan dimensi proses kognitif dalam dimensi pengetahuan 3. membuat contoh soal domain kognitif taksonomi Bloom dari C1-C6 dalam pembelajaran di SMP/SMA.
Page | 3 PENDAHULUAN Assalamualaikum wr.wb Selamat datang pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Sejarah. Menurut Anda, sudah tercapaikah tujuan pendidikan yang disampaikan oleh guru ke siswa dalam proses pembelajaran di kelas? Pertanyaan ini membuat kita berpikir sejenak. Kita sering menemukan pendidikan yang menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya materi yang harus selesai pada waktu tertentu, sehingga menuntut guru untuk mengajarkan semua materi kepada siswa tanpa melihat apakah siswa mampu memahami dengan baik atau tidak. Padahal tugas guru tidak hanya mengajar tetapi menjadikan siswa mampu bertanggung jawab atas apa yang dipelajarinya. Pentingnya memampukan kognitif siswa untuk menghadapi kehidupan setelah selesai sekolah menjadi poin utama yang harus diketahui guru. Oleh karena itu diperlukan kemampuan berpikir siswa dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi yang perlu distimulus oleh guru. Untuk itu, pada topik ini kita akan membahas tuntas terkait tingkatan berpikir dalam topik hasil belajar siswa pada domain kognitif. MATERI Penilaian hasil belajar dalam Kurikulum 2013 meliputi tiga ranah atau domain yakni domain kognitif, afektif, dan psikomotor (Sudjana, 2014; Purwanto, 2016). Taksonomi adalah sebuah kerangka pikir khusus yang kategorinya merupakan satu kontinum. Taksonomi pendidikan yang banyak dikenal dalam dunia pendidikan adalah Taksonomi Bloom (1959). Taksonomi pendidikan ini menggambarkan klasifikasi tujuan pendidikan yang berisikan satu kata kerja dan satu kata benda. Kata kerja umumnya mendeskripsikan proses kognitif yang diharapkan dari siswa, sedangkan kata bendanya mendeskripsikan pengetahuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa.
Page | 4 A. Taksonomi Bloom Revisi Taksonomi Bloom asli domain kognitif ini mempunyai enam tingkatan yakni terdiri dari C1 (pengetahuan), C2 (pemahaman), C3 (aplikasi), C4 (analisis), C5 (sintesis), dan C6 (evaluasi). Setelah cukup lama Taksonomi Bloom digunakan untuk merancang tujuan instruksional dalam proses pembelajaran, pada tahun 2001 muridnya Bloom yakni Anderson & Krathwohl menelaah kembali Taksonomi Bloom dan melakukan revisi. Moore B dan Stanley T (2010), menambahkan walaupun terdapat revisi taksonomi yang dilakukan oleh Anderson & Krathwohl, hal ini tidak merubah nama taksonomi yakni tetap Taksonomi Bloom edisi revisi. Dalam urutan tingkatan taksonomi bloom yang telah direvisi dikategorikan menjadi dua kemampuan berpikir yakni tingkatan C1, C2, dan C3 dikategorikan Lower Order Thinking skill (LOTs) dan tingkatan C4, C5, dan C6 dikategorikan Higher Order Thinking skill (HOTs). Hasil perubahan taksonomi tergambar pada Gambar 1 berikut. Gambar 1. Perubahan kerangka piker asli ke revisi (Anderson & Krathwohl, 2001; 268) Berdasarkan Gambar 1 di atas, Anderson & Krathwohl (2017) merubah beberapa hal diantaranya 1) adanya perubahan dari kata benda menjadi kata kerja, 2) adanya penurunan tingkatan lama level evaluasi (C6) menjadi mengevaluasi (C5) pada tingkatan yang baru, 3) adanya penghapusan tingkatan lama sintesis (C5) dan diganti mencipta (C6) menjadi tingkatan tertinggi pada edisi terbaru., dan 4) adanya pemisahan yang tegas antara dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif.
Page | 5 B. Dimensi Proses Kognitif Taksonomi Bloom dalam dimensi proses kognitif tetap berjumlah enam, hanya terjadi penukaran tempat pada level C5 dan C6 seperti yang terdapat pada Gambar 1. Anderson & Krathwohl (2017) menerangkan perubahan level tingkatan berpikir dalam dimensi proses kognitif menjadi: (C1) mengingat, (C2) memahami, (C3) mengaplikasikan, (C4) menganalisis, (C5) mengevaluasi, dan C6 (menciptakan). Selanjutnya dijelaskan sebagai berikut. 1. Mengingat/ C1 (Remembering) Mengingat merupakan kegiatan mengambil pengetahuan dari memori jangka panjang. Tahapan ini juga merupakan ranah kognisi terendah, informasi yang diperoleh siswa merupakan fondasi untuk mencapai kemampuan pada ranah berikutnya. Informasi yang diperlukan diantaranya berupa informasi faktual, konseptual, prosedural, dan metakognisi. Tapi pada tingkat ini siswa hanya menghabiskan waktu untuk mengingatnya tanpa memprosesnya. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling). 1.1 Mengenali (Recognizing): mencakup proses kognitif untuk menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang agar dapat membandingkan dengan informasi yang baru. Contoh: Mengenali tanggal terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. 2.2 Mengingat (Recalling): menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dengan menggunakan petunjuk yang ada. Contoh: Mengingat kembali tanggal peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. . 2. Memahami/ C2 (Understanding) Pada tingkatan memahami ini berngkat dari informasi ingatan, siswa diajak untuk dapat menerjemahkan dan menginterpretasikan atas data yang diterima. Dengan kata lain tingkatan memahami ini siswa sudah mulai diminta mengkonstruk makna dari materi pembelajaran, termasuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambar oleh guru. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengkelasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining). 2.1 Menafsirkan (interpreting): mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari katakata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau
Page | 6 membuat parafrase. Contoh: Memparafrasekan pendapat beberapa ahli dalam artikel yang ditulis. 2.2 Memberikan contoh (exemplifying): memberikan contoh dari suatu konsep atau prinsip yang bersifat umum. Memberikan contoh menuntuk kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Contoh: Memberi contoh tentang aliran-aliran seni lukis. 2.3 Mengklasifikasikan (classifying): Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Contoh: Mengklasifikasikan kelainankelainan mental yang telah diteliti atau dijelaskan. 2.4 Meringkas (summarising): membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Contoh: Menulis ringkasan pendek tentang peristiwaperistiwa yang ditayangkan di televisi. 2.5 Menarik inferensi (inferring): menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Contoh: Menyimpulkan tata bahasa dalam bahasa asing berdasarkan contoh-contohnya. 2.6 Membandingkan (comparing): mendeteksi persamaan dan perbedaan yangdimiliki dua obyek atau lebih. Contoh: Membandingkan peristiwa-peristiwa sejarah dengan keadaan sekarang. 2.7 Menjelaskan (explaining): mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu system. Contoh: Menjelaskan sebab-sebab terjadinya peristiwa-peristiwa penting pada abad ke-18 di Indonesia. 3. Mengaplikasi/ C3 (Applying) Pada tahap ini siswa diarahkan untuk mengaplikasikan informasi atau data yang sudah mereka pahami pada konteks yang berbeda beda. Jika mereka sukses itu artinya siswa sudah mampu menguasai apa yang mereka pahami untuk diaplikasikan sebagai upaya suatu pemecahan masalah baru. Pada tahap ini sering kali guru cepat puas dan berhenti disini. Padahal jika tujuan guru dalam proses pembelajaran di kelas adalah untuk meningkatkan kualitas berpikir siswa, maka guru masih harus mengarahkan dan memberikan stimulus untuk sampai tahap tujuan akhir berpikir siswa yakni mencipta. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing). 3.1 Menjalankan (executing): menjalankan suatu prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu.
Page | 7 Apabila langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Contoh: Membagi satu bilangan dengan bilangan lain, kedua bilangan ini terdiri dari beberapa digit. 3.2 Mengimplementasikan (implementing): memilih dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru. Contoh: Menggunakan hokum Newton kedua pada konteks yang tepat. 4. Menganalisis/ C4 (Analyzing) Pada tahap ini guru mempunyai tujuan untuk menstimulus siswa berpikir menganalisis informasi berupa fakta, logika, dan ideologi. Dalam hal ini siswa memanfaatkan kemampuan berfikir pada tingkat rendah untuk mengidentifikasi elemen kunci dalam memeriksa setiap bagian, seperti kegiatan memecah-mecah materi dari bagian-bagian penyusunnya dan menentukan hubungan-hubungan antarbagian itu. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis: menguraikan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting). 4.1 Menguraikan (differentiating): menguraikan suatu struktur dalam bagian-bagian berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya. Contoh: Membedakan antar bilangan yang relevan dan bilangan yang tidak relevan dalam soal matematika cerita. 4.2 Mengorganisir (organizing): mengidentifikasi unsur-unsur suatu keadaan dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut terkait satu sama lain untuk membentuk suatu struktur yang padu. Contoh: Menyusun bukti-bukti dalam cerita sejarah jadi bukti-bukti yang mendukung dan menentang suatu penjelasan historis. 4.3 Menemukan pesan tersirat (attributting): menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi. Contoh: Menunjukkan sudut pandang penulis suatu esai sesuai dengan pandangan politik si penulis. 5. Mengevaluasi/ C5 (Evaluating) Pada tahap evaluasi siswa diarahkan untuk dapat menilai atau mengkritik, berdasarkan hasil analisis untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan kriteria dan/atau standar. Pada tahap ini siswa telah berpikir kritis dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang suatu konsep. Ada dua macam proses kognitif yang tercakup dalam kategori ini: memeriksa (checking) dan mengritik (critiquing). 5.1 Memeriksa (Checking): Menguji konsistensi atau kekurangan suatu karya berdasarkan kriteria internal (kriteria yang melekat dengan sifat produk tersebut). Contoh: Memeriksa apakah kesimpulan-kesimpulan seorang ilmuwan sesuai dengan data-data amatan atau tidak.
Page | 8 Proses Kognitif Contoh Kata Kerja Operasional yang Digunakan Contoh Soal/ Tugas 1 Mengingat Presiden pertama Republik Indonesia adalah… . Definisikan, identifikasi, A. Joko Widodo (C1) tuliskan, sebutkan, pilihlah, B. Soeharto nyatakan, cocokkan C. Soekarno D. Susilo Bambang Yudoyono 2 Memahami Kelompokkan, ubahlah, Berikut ini yang termasuk binatang kelas herbivora, kecuali … . A. sapi B. kambing deskripsikan, jelaskan, 5.2 Mengritik (Critiquing): menilai suatu karya baik kelebihan maupun kekurangannya, berdasarkan kriteria eksternal. Contoh: Menentukan satu metode terbaik dari dua metode untuk menyelesaikan suatu masalah. 6. Menciptakan/ C6 (Creating) Menciptakan adalah tingkatan tertinggi, di mana siswa sudah mampu memadukan bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang baru dan koheren atau untuk membuat suatu produk yang orisinal. Menciptakan merupakan penyatuan lima tingkatan sebelumnya untuk berteori, merancang, dan menguji produk, konsep, atau fungsi baru. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong dalam kategori ini, yaitu: membuat (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing). 6.1 Membuat (generating): menguraikan suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada pemecahan masalah tersebut. Contoh: Merumuskan hipotesis tentang sebab-sebab terjadinya suatu fenomena. 6.2 Merencanakan (planning): merancang suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Contoh: Merencanakan proposal penelitian tentang topik sejarah tertentu. 6.3 Memproduksi (producing): membuat suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: Membuat habitat untuk spesies tertentu demi suatu tujuan. Selanjutnya untuk membantu guru dalam memahami peringkat kognitif dalam taksonomi bloom, dalam Tabel 2 berikut ini disajikan contoh Kata Kerja Operasional (KKO) dan bentuk aplikasi dalam contoh soal/tugas yang dapat memudahkan dalam mengkategorikan tingkat berpikir siswa. Contoh yang disajikan berikut adalah contoh soal berupa pilihan ganda. Tabel 2. Contoh penggunaan dimensi proses kognitif dalam contoh soal (C2) bedakan, paparkan,
ilustrasikan, berilah contoh, interpretasikan C. harimau D. kerbau 3. Menerapkan (C3) Susunlah, terapkan, hitunglah, bentuklah, temukan, demonstrasikan, operasikan, persiapakn, selesaikan, gunakan Data Nilai Sejarah Siswa Kelas X-A No Nama Nilai Ujian Sejarah 1. Andi 80 2. Tina 78 3. Suci 93 4. Indri 65 5. Hasan 74 6 Indah 78 7 Cahaya 77 8 Siwi 83 9 Citra 85 10 Dodi 91 Berdasarkan data di atas, hitunglah rerata nilai ujian sejarah siswa kelas X-A! A. 80,4 B. 81,4 C. 84,0 D. 84,1 4. Menganalisis (C4) Tentukan, analisilah, perkirakan, asosiasikan, jabarkan, uraikan Bacalah cerita berikut! “Hari ini Edo bercerita masa kecil ayahnya. Masa kecil ayah Edo tinggal di sebuah desa. Apabila ayah Edo ingin membeli kebutuhan sekolah seperti sepatu, seragam sekolah, tas, dan bukubuku harus ke kota atau memesan orang yang sering ke kota. Waktu itu, orang desa ke kota hanya berjalan kaki atau naik sepeda. Berbeda dengan zaman sekarang. Sekarang ini orang desa ke kota sudah naik.” Cerita di atas menunjukkan adanya perubahan aktivitas manusia dalam bidang … . A. ekonomi B. pendidikan C. transportasi D. perdagangan Page | 9
Page | 10 5. Mengevaluasi (C5) Bandingkan, simpulkan, evaluasilah, pertimbangkan, putuskan “Masyarakat kota dan desa disebut sebagai ekosistem”. Pernyataan tersebut …. A. benar, karena merupakan kelompok individu yang tinggal bersama dan memiliki kesamaan. B. benar, karena terjadi interaksi antara penghuninya berupa interaksi sosial, budaya, dan ekonomi. C. salah, karena hanya terjadi interaksi antara masyarakat yang satu dengan yang lain. D. salah, karena masyarakat dapat hidup sendiri tanpa bergantung dengan interaksi sosial, budaya, dan ekonomi. 6. Menciptakan (C6) Rancanglah, kreasikan, konstruksikan, kembangkan, modifikasilah, revisilah Jumlah permen Yudha 5 kali banyaknya permen Andi. Permen Andi 2 kali lebih banyak dari Citra. Permen Citra 3 lebihnya dari permen Dodi. Persamaan linier dua variable yang dapat dibuat dari pernyataan-pernyataan di atas adalah … . A. permen Yudha = 7 x permen Citra B. permen Citra = permen Dosi + 5 C. permen Dodi = permen Andi - 6 D. permen Andi = (2 x permen Dodi) + 6 Tujuan proses pembelajaran yang dilakukan di kelas, sudah semestinya berakhir pada tingkatan berpikir siswa yang tertinggi, tidak hanya berhenti sampai tahap aplikasi saja. Menstimulus siswa sampai pada tingkatan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking skill (HOTs) sudah seharusnya pula disadari oleh semua guru. Kecakapan bernalar ini penting dimiliki oleh siswa, kecakapan ini tidak datang begitu saja tetapi perlu untuk distimulus dengan soal-soal yang berbasis pada pemecahan masalah. Senada dengan Widiatmo (2014) yang menyampaikan bahwa kecakapan bernalar siswa itu dibutuhkan bukan sekedar untuk menjadikan siswa pintar dan juara dalam sebuah kompetensi tetapi bernalar dalam aplikasinya di kehidupan sehari-hari karena itulah makna belajar yang sebenarnya.
Page | 11 C. Dimensi Pengetahuan Pemisahan ini dilakukan antara dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan sebab adanya perbedaan antar keduanya. Setidaknya ada perbedaan makna bahwa pengetahuan merupakan kata benda, sedangkan proses kognitif merupakan kata kerja. Pada dimensi pengetahuan ini terdapat empat macam pengetahuan yaitu; pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Jenis pengetahuan ini menunjukkan tingkatan tingkatan dari sifatnya yang konkret (faktual) sampai yang abstrak (metakognitif) (Widodo, 2006). Selanjutnya Anderson & Ktathwohl (2017) memerinci empat dimensi pengetahuan sebagai berikut. 1. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang harus diketahui siswa ketika akan mempelajari disiplin ilmu atau menyelesaikan masalah dalam disiplin ilmu tersebut. Dalam pengetahuan faktual terdiri dari dua sub jenis yakni: a. Pengetahuan tentang terminologi. Pengetahuan ini melingkupi pengetahuan tentang label dan simbol verbal dan nonverbal (misalnya, kata, angka, tanda dan gambar). Contoh pengetahuan tentang terminologi adalah sebagai berikut. - Pengetahuan tentang alfabet - Pengethauan tentang kosakata dalam seni rupa - Pengetahuan tentang istilah-istilah pokok akuntansi - Pengetahuan tentang symbol-simbol lalu lintas b. Pengetahuan tentang detail-detail dan elemen-elemen yang spesifik. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi dan semacamnya. Pengetahuan ini meliputi informasi yang mendetail dan spesifik. Contoh pengetahuan tentang terminologi adalah sebagai berikut. - Pengetahuan tentang fakta-fakta pokok perihal kebudayaan dan masyarakat tertentu. - Pengetahuan tentang fakta-fakta praktis yang menyangkut kesehatan, kewarganegaraan, dan urusan-urusan manusia lain. - Pengetahuan tentang nama orang, tempat, dan peristiwa signifikan di koran. - Pengethuan tentang produk utama dan produk ekspor negara-negara tertentu. - Pengetahuan tentang sumber-sumber informasi yang terpercaya tentang pembelian yang tepat.
Page | 12 2. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual mencakup pengetahuan tentang kategori, klasifikasi dan hubungan antar dua atau lebih kategori atau klasifikasi pengetahuan yang lebih kompleks dan tertata. Pengetahuan konseptual meliputi skema, model mental, atau teori yang implisit atau eksplisit dalam beragam model psikologi kognitif. Pengetahuan konseptual terdiri dari tiga sub jenis: a. Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori Pengetahuan ini meliputi kategori, kelas, divisi, dan susunan yang spesifik dalam disiplindisiplin ilmu. Perlunya klasifikasi dan kategori dapat digunakan untuk menstrukturkan dan mensistematisasikan fenomena. Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori ini lebih umum dan sering lebih abstrak daripada pengetahuan tentang terminologi dan fakta-fakta yang spesifik. Klasifikasi dan kategori berbeda dengan terminology dan fakta; klasifikasi dan kategori menciptakan hubungan-hubungan antara elemen-eleman. Contoh pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori adalah sebagai berikut: - Pengetahuan tentang berbagai jenis literatur - Pengetahuan tentang bermacam-macam bentuk usaha - Pengetahuan tentang bagian-bagian kalimat (misalnya, kata benda, kata kerja, dan kata sifat) - Pengetahuan tentang berbagai jenis masalah psikologis b. Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi, Pengetahuan prinsip dan generalisasi dibentuk oleh klasifikasi dan kategori. Umumnya merupakan bagian yang dominan dalam sebuah disiplin ilmu dan digunakan untuk mengkaji fenomena atau menyelesaikan masalah-masalah dalam disiplin ilmu tersebut. Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi mencakup pengetahuan tentang abstraksiabstraksi tertentu yang meringkas hasil-hasil pengamatan terhadap suatu fenomena. Contoh pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi adalah sebagai berikut. - Pengetahuan tentang generalisasi-generalisasi - Pengetahuan tentang hokum fisika dasar - Pengetahuan tentang prinsip-prinsip kimia yang relevan dengan kehidupan sehari hari - Pengetahuan tentang implikasi kebijakan ekonomi c. Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur Pengetahuan ini meliputi pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi serta antara keduanya yang menghadirkan pandangan yang jelas, utuh, dan sistemik tentang sebuah fenomena, masalah, atau materi kajian yang kompleks. Pengetahuan tentang teori, model,
Page | 13 dan struktur mencakup pengetahuan tentang berbagi paradigma, epistemologi, teori, dan model yang digunakan dalam disipin- disiplin ilmu untuk mendeskripsikan, memahami, menjelaskan dan memprediksi fenomena. Contoh pengetahuan tentang teori, model, dan struktur adalah sebagai berikut. - Pengetahuan tentang interelasi antara prinsip-prinsip kimiasebagai dasar teori kimia - Pengetahuan tentang model-model genetika (misalnya DNA) - Pengetahuan tentang tentang teori Gerakan lempeng bumi - Pengetahuan tentang struktur inti pemerintah kota setempat 3. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural meliputi bagaimana melakukan sesuatu, mempraktikkan metode-metode penelitian, dan kriteria-kriteria untuk menggunakan ketrampilan, algoritma, teknik dan metode. Pengetahuan prosedural bergulat dengan pertanyaan “bagaimana”, dengan kata lain pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan tentang beragam proses. Pada pengetahuan ini terdiri dari tiga subjenis yakni: a. Pengetahuan tentang ketrampilan dalam bidang tertentu dan algoritme. mencakup pengetahuan tentang keterampilan khusus yang diperlukan untuk bekerja dalam suatu bidang ilmu atau tentang algoritme yang harus ditempuh untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Contoh pengetahuan tentang keterampilan dalam bidang tertentu dan algoritme adalah sebagai berikut. - Pengetahuan perihal keterampilan-keterampilan yang dipakai dalam melukis dengan cat air. - Pengetahuan tentang keterampilan-keterampilan yang digunakan untuk menentukan makna kata dengan menganalsis strukturnya. - Pengetahuan tentang keterampilan-keterampilan untuk melakukan lompat tinggi b. Pengetahuan tentan teknik dan metode dalam bidang tertentu. Pada umumnya pengetahuan ini menunjukkan bagaimana para ilmuan dalam bidang mereka berpikir dan menyelesaikan masalah-masalah, bukan hasil penyelesaian masalah atau pemikiran. Contoh pengetahuan tentang teknik dan metode dalam bidang tertentu adalah sebagai berikut. - Pengetahuan perihal metode-metode penelitian yang relevan dalam ilmu sosial.
Page | 14 - Pengetahuan tentang teknik-teknik yang dipakai oleh para ahli dalam mencari solusi atau memecahkan masalah. - Pengetahuan tentang metode untuk mengevaluasi pembelajaran di kelas. c. Pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan kapan harus menggunakan prosedur yang tepat. Pada pengetahuan ini, siswa dituntut bukan hanya tahu sejumlah teknik atau metode tetapi juga dapat mempertimbangkan teknik atau metode tertentu yang sebaiknya digunakan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu. Contoh pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan kapan harus menggunakan prosedur yang tepat adalah sebagai berikut. - Pengetahuan tentang kriteria untuk menentukkan jenis esai apa yang mesti ditulis (misalnya, eksposisi, persuasi). - Pengetahuan perihal kriteria untuk menentukkan metode apa yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar dalam matematika. - Pengetahuan perihal kriteria untuk menentukkan teknik apa guna menimbulkan efek tertentu dalam melukis dengan cat air. 4. Pengetahuan Metakognitif Pengetahuan metakognitif meliputi pengetahuan tentang kognisi secara umum dan kesadaran dan pengeahuan tentang kognisi diri sendiri. Penelitian-penelitian tentang metakognitif menunjukkan bahwa seiring dengan perkembangannya siswa menjadi semakin sadar akan pikirannya dan semakin banyak tahu tentang kognisi, dan apabila siswa bisa mencapai hal ini maka mereka akan lebih baik lagi dalam belajar. Pada pengetahuan ini meliputi tiga subjenis yakni: a. Pengetahuan strategis yang mencakup strategi umum untuk menyelesaikan masalah (problem solving) dan berpikir. Pengetahuan ini berisi tentang strategi umum untuk belajar, berpikir, dan memecahkan masalah. Pengetahuan jenis ini dapat digunakan bukan hanya dalam suatu bidang tertentu tetapi juga dalam bidang-bidang yang lain. Contoh pengetahuan strategis adalah sebagai berikut. - Pengetahuan bahwa mengulang-ulang informasi merupakan salah satu cara untuk mempertajam ingatan - Pengetahuan tentang strategi belajar untuk mengelaborasi seperti memparafrase dan merangkum
Page | 15 - Pengetahuan untuk merencanakan strategi seperti merumuskan tujuan membaca atau menulis. b. Pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif Pengetahuan ini mencakup jenis operasi kognitif yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tertentu serta pemilihan strategi kognitif yang sesuai dalam situasi dan kondisi tertentu. Contoh pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif sebagai berikut. - Pengetahuan bahwa buku babon lebih sukar dipahami ketimbang buku teks atau buku popular. - Pengetahuan tentang norma-norma sosial untuk bagaimana, kapan, dan mengapa diterapkan pada suatau keadaan tertentu. c. Pengetahuan diri yang mencakup pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dalam kaitannya kognisi dan belajar. Salah satu syarat agar siswa dapat menjadi pembelajar yang mandiri adalah kemampuannya untuk mengetahui dimana kelebihan dan kekurangan serta bagaimana mengatasi kekurangan tersebut. Contoh pengetahuan diri sebagai berikut. - Pengetahuan bahwa dirinya mempunyai pengetahuan yang mendalam pada bidang tertentu. - Pengetahuan tentang minat pribadi pada tugas tertentu. - Pengetahuan tentang keputusan pribadi tentang manfaat suatu tugas. Dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif dapat digabungkan cara pengukurannya. Pada Tabel 2 disajikan contoh kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir siswa. Tabel 2. Contoh kata kerja operasional yang menggabungkan dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan Dimensi Pengetahuan Dimensi Proses Kognitif 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengingat Memahami Meng- Meng- Meng- Mencipaplikasikan analisis evaluasi takan Pengetahuan Membuat Menyim- Mengklasi- MengurutMerangking MengkomFaktual daftar pulkan fikasikan kan binasikan
Page | 16 TUGAS Selamat! Saudara telah mempelajari semua materi pada seluruh Kegiatan Belajar Modul 2 ini Untuk mengukur pemahaman Saudara terhadap seluruh kegiatan belajar di Modul 2, silahkan ikuti Evaluasi Modul berikut ini secara individu. Buatlah masing-masing satu buah contoh soal pilihan ganda dan satu contoh soal esai pada materi pelajaran di SMP/SMA yang menggambarkan kemampuan berpikir siswa pada ranah kognitif dari C1 sampai C6 dengan menggunakan taksonomi dua dimensi (dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif)! Silakan kerjakan Tugas modul ini dengan mengunggah (upload) hasil pekerjaan Saudara k tautan Submit yang tersedia. File yang diunggah dalam format PDF, dengan ukuran fil maksimal 5 MB. Jangan lupa untuk mencantumkan identitas Saudara di bagian atas pada halaman pertama dan mencantumkan no halaman dibagian paling bawah. Selamat mengerjakan ... Semoga diberikan kemudahan !!! RANGKUMAN Pengetahuan Konseptual Mendeskripsikan Menginterpretasikan Mengeksperimenkan Menjeaskan Menilai Merencanakan Pengetahuan Menta- MemMenghitung Menurunkan Menyim- MengProsedural bulasikan prediksi pulkan komposisi Pengetahuan Menggunakan Meng- MengMencapai Bertindak MengaktuMetakognitif eksekusi konstruksi alisasikan Tabel 2 menunjukkan Taksonomi Bloom dua dimensi, hal ini sangat memudahkan guru untuk mengkategorikan setiap soal dalam dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dengan melihat setiap kategori dan kata kerja operasional dari penjelasan diatas akan lebih mudah mengkategorikan setiap soal dalam tabel taksonomi Bloom dua dimensi. Selain itu dapat dilihat dengan mudah tingkat kompleksitas dari setiap soal. . Tujuan proses pembelajaran yang dilakukan di kelas, sudah semestinya berakhir pada tingkatan berpikir siswa yang tertinggi, tidak hanya berhenti sampai tahap aplikasi saja, tetapi sampai pada tahapan tingkatan berpikir tertinggi yakni menciptakan. Taksonomi Bloom
Page | 17 merupakan tingkatan berpikir siswa yang menggambarkan klasifikasi tujuan pendidikan yang berisikan satu kata kerja dan satu kata benda. Pada taksonomi edisi revisi terbagi menjadi dua dimensi yakni dimensi proses kognitif yang terdiri dari (C1) mengingat, (C2) memahami, (C3) mengaplikasikan, (C4) menganalisis, (C5) mengevaluasi, dan C6 (menciptakan) serta dimensi pengetahuan yang terdiri dari pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. DAFTAR PUSTAKA Anderson, L.W & Krathwohl, D.R. (2017). Kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran, dan asesmen (revisi taksonomi pendidikan bloom). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Purwanto. (2010). Evaluasi hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Sudjana, N. (2014). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Widiatmo, H. (2014). Penilaian pendidikan Indonesia menuju siswa bernalar (Handout materi yang disampaikan pada Kuliah Umum di Universitas Negeri Yogyakarta 5 Mei 2014) Widodo, A. (2006). Taksonomi bloom dan pengembangan butir soal. Buletin Puspendik. 3(2), 18-29.