47 Titik balik Justru, karena itulah kamu melihatnya tertelungkup di lantai. Sepertinya kepala itu tadi terantuk kaki meja. Sepertinya bahu-bahu itu tadi terpelanting beberapa kali sebelum mendarat dengan debum keras. Mungkin tadi ia sedang bangkit. Sedang ingin mengambil sesuatu di atas rak. Sedang menyusun yang tak teratur jadi teratur. Kini, ia kembali. Ia tengah berhenti untukmu.
48 Biner Kamu genggam tanganya, lebih erat. Kamu gerakkanjarimu ke telapaknya, bahwa ia bisa hodup hingga usia seratus sepuluh tahun, dan kenanangan tentangmu bisa merentang hingga seratus sepuluh ribu tahun. Ini bukan biner, bukan. Desimal. Desimal, Mantisa; ucapmu lirih, nyaris tanpa suara
49 Menyintas Ia selalu bermain cantik. Ia merangkum tangan aktuaria, kesintasan lalu melangkahi garis yang sudahdigarutkan permanen dengan tinta abadi Sang Maha Esa. Semua jatuh dalam genggamannya. Kamu tidak akan bisa, dan tidak akan pernah bisa, memindahkangaris itu sendiri. Keluh kesah kepala mu tersentak oleh tangan ibumu.Kamu membelainya. Tangan kerongtang ibumu itu, yang jarinya makin sulit untuk sekedar mengguratgurati telapak mu lagi, menyadarkan mu betapa ringkihnya ia.
50 Dualitas Pertama, ibumu akan baik-baik saja, semua cuma kebetulan... kebetulan bahwa gejalanya sama persis dengan apa yang mereka curigai. kalau pesimis ini yang benar, berarti kamu boleh lega sekarang juga; dan semuanya akan pulih pada waktunya. Akan baik-baiksaja. Kedua, ibumu memang tidak baik-baik saja. Sama seperti yang kautakutkan dari mula. Semua sudah terajadi. Semua sudah terlambat. Tidak ada kebetulan; bukan sekedar kesamaan; karena memang itu lah yang terjadi.
51 n Ia sudah demikian hancur luar dalam. Memaksa diri berseri-seri melihatnya, meskipun dalam hati kamu tengah meraungkan tangis sekencangnya; adalah perjuangan mahaberat buat mu.
52 Maximum tak sadarlah kamu, bahwa disebelahmu, tepat, ia sudab terkulai lemas, dengan sepasang bibir seputih kapan dan mata yang terpejam tenang. Tidak mengerjap. Tidak ada gurat rasa sakit. Tidak ada rintihan terakhir. Tidak ada juga hela pamungkas. Kamu menoleh. Berjongkok. Meraih tangannya. Menguncang bahunya. Lebih keras. Lebih keras. Ibumu telah pergi. Diam-diam. Malaikat kematian telah berkhianat dari balik penggungmu. Waktu memang tak bisa berputar kembali. Turut menundukan kepala, mengheningkan cipta untuknya.
53 koordinat Ia mati mengenaskan tepat di hari kelahirannya. Ia meninggalkan belitan tunggakan entah apa saja itu, tidak pernah ibumu ceritakan, atau tidak sempat yang kau pikir adalah ayahmu. Semakin kamu bertumbuh, semakin diam ibumu menyimak transformasimu yang begitu mengerikan baginya: kamu semakin menyerupai pria itu. Maka lambat laun, ia biarkan saja kamu larut dalam kertaskertasmu, di balik hitungan-hitunganmu, sambil berdoa siang dan malam agar pria yang dulu itu bukan kamu dam kamu takan pernah menjadi dia. Namun, malang bagi ibumu. Semakin ia mendoakanmu, semakin kamu dan pria itu bertambah mirip. Semakin identik, semakin tak bisa dibedakan lagi.
54 fibonacci Satu demi satu langkahmu, dua demi tiga jejak mereka. Bersatulah ia kembali dengan bumi. Berselimutkan lapisan tanah. Dari sanalah ia berasal, dan kesana juga ia berpulang. Kamu mengerjap sekali dua kali, buram itu tidak terjeram. Bersusunsusun menaungimu, menaungi mereka dari tangis di ujung hari yang seolah tak berkesudahan itu. Nyeri didadamu itu. Ia lebih serupa sesak yang bepura-puta menjadi tabung, mengulurkan jalan buatmu meniti sampai ujung, lalu setibanya di ujung, ia malah membelit dadamu membelegu lengan tungkai mu, membekap mulutmu. Tak pedulilah ia dengan rontarontamu. Persetan. Kamu jadi sulit bergerak. Seperti lumpuh.
55 konstanta Kamu dilahirkan. Tadi ia ada dibalik belikatmu. Kini iahilang. Hanya ada tepukan tangan, tepukan lagi. Sadar ia tak lagi ada di balik belikatmu, kamu menangis keras.
56 biimplikasi Aku tak terima. Kamu bilang, kamu mau menghapuskan sang waktu. mana, mana buktinya? "menghentikan waktu dalam ragamu hanya bisa lewat dia titik, prima; dan dua-duanya haruh kuubah. pertama, pendengaranmu itu sudah kurenggut dari lama."
57 hiperbola yang mana? tentang waktu yang tak cukup panjang? "daya ingatmu bagus, sayangku."
58 Komitatif Kamu ingat jelas jumlahnya ada enam belas lembar. Kamu ambil sehelai demi sehelai. Ada tulisanmu, ada tulisan Mantisa. Kamu bahkan tak lagi ingat sudab berapa lama ia jatuh koma dan tak lagi sanggi membayangkan jiwanya akan berkelana ke mana lagi. sekarang kertas itu tidak enam belas. melainkandua puluh.
59 Himpunan lepas Takkan pernah kamu lihat. Takkan pernah dipamerkan kepada dunia. Sesuatu yang begitu NP diantara taburan P-P yang terpajang di mana-mana. Kamu segera sadar apa jawaban atas rayuanmu selama waktu berhenti tadi
60 Ketidakberhinggaan Inilah saatnya. Saat yang kutunggu-tunggu sejak lama. Masa-masa puncak, dengan sepasang sayap tegap mengepak, ingin terbang begitu jauh. Ini baru permulaan. Terbanglah kamu, tinggi, semakin tinggi,menuju sinat terang dibalik awan sana, lebih tinggi, lebih tinggi lagi. menuju ketidakberhinggaan
61 Pembuktian Simbol yang menjadi jawaban atas segala tanya di alam semesta, yang ketika dipecahbelahkan jadi rentik-rentik sekalipun, tetap saja saling bertautan kelingking, saling belit seperti sepasang ular kecil. Simbol yang tampak begitu banal, tetapi sanggup menaungi kekuatan yang dahsyat, meredannya rapat-rapat tanpa menggeliat-geliat.
62 Solusi Satu hal yang dulu kalian lupakan. Seharusnya kalianbisa mengantisipasi bencana itu. Lihat, berapa tekanan darahnya sekarang! bukankan sudah ada cara untuk mengetahuinya dan itu lebih penting dari pada sekedar tahu apakah ia nanti laki-laki atau perempuan? kamu tak sanggup mengingat. Bukan karena kamu pelupa. Semata-mata karena kamu tak sanggup.
63 Teorema terakhir fermat Bertranformasilah kamu ke sesosok manusia pengejawatan sepuluh angka menjadi perngkat yang menjawab semuanya. Tanya itu mengumbar perihal kapankah maut menjemput, dan kapankah kiranya langit dan bumi sepakat memggencatmu.
64 Terapan Pada akhirnya, kelahiran pasti datang. Namun, kadang ia cuma datang untuk menggantikan kematian. Pada akhirnya, di antara ribuan payung hitam yang penuh kausimak di dunia ini, kamu harus berada dibawahnya sesekali. Percayalah prima, ini smualaj ejawatah matematika terapan yang indahnyatiada banding.