The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

CERPEN Kelanjutan Sastra Kerajaan Nusantara Untuk PNS Pada Era Disrupsi AI Masa Kini.. Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search

CERPEN Kelanjutan Sastra Kerajaan Nusantara Untuk PNS Pada Era Disrupsi AI Masa Kini.. Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

CERPEN Kelanjutan Sastra Kerajaan Nusantara Untuk PNS Pada Era Disrupsi AI Masa Kini.. Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia

29memperpanjang momen sebelum sebuah buku dibuka, karena setelah dibuka, ketidaktahuannya tidak akan pernah kembali.Pak Ferizal,Saya sudah membaca map kuning itu.Saya tidak tahu harus memulai dari mana, maka saya akan mulai dari yang paling jujur: saya membacanya dalam satu malam. Saya menyeduh kopi dua kali. Saya menangis di bab ketiga—bukan karena sedih, melainkan karena saya mengenali sesuatu di dalam tokoh utamanya yang saya tidak sangka akan saya kenali.Ia kesepian dengan cara yang produktif. Ia terus bekerja, terus memberi, terus menjaga—tetapi di dalam semua kesibukan itu ada ruang kosong yang ia jaga dengan sangat rapi, seperti arsip yang terlalu berharga untuk disentuh sembarangan.Pak Ferizal—apakah tokoh itu Bapak?Saya tidak akan memaksa jawaban. Tapi saya ingin Bapak tahu: jika iya, maka novel itu harus diterbitkan. Bukan karena bagus secara teknis—meski bagus—melainkan karena ada orang-orang di luar sana yang ruang kosongnya sama bentuknya dengan ruang kosong di dalam novel itu. Dan mereka butuh tahu bahwa mereka tidak sendirian.Saya juga ingin Bapak tahu sesuatu yang lain.Saya sudah mencoba, selama beberapa bulan ini, untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa apa yang saya rasakan adalah kekaguman. Bahwa saya


30mengagumi Bapak sebagai mentor, sebagai penulis, sebagai penjaga api—dan bahwa itu sudah cukup, bahwa itu adalah batas yang wajar, bahwa melangkah lebih jauh adalah tidak masuk akal karena berbagai alasan yang sudah saya hafal seperti tabel perkalian.Tapi kemudian saya membaca novel Bapak.Dan saya mengerti bahwa tokoh di dalamnya—yang terus menjaga api orang lain sambil membiarkan apinya sendiri hampir padam—pada akhirnya diselamatkan bukan oleh kepahlawanan, melainkan oleh seseorang yang datang dan duduk di sampingnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.Saya tidak pandai bersiasat. Maka saya akan berkata langsung:Saya ingin duduk di samping Bapak. Bukan sebagai murid. Bukan sebagai pembaca. Sebagai seseorang yang memilih—dengan sadar, dengan segala ketidakpastian yang menyertainya—untuk hadir.Kalau Bapak tidak menghendaki ini, katakan saja. Saya akan tetap datang ke kantor arsip itu. Menempati kursi oranye yang biasa, melahap semua buku rekomendasi Bapak, dan memastikan ruang itu tidak lagi terasa sepi. Karena sastra sudah mengajarkan saya bahwa cinta—dalam bentuk apa pun—tidak mengurangi dirinya sendiri hanya karena tidak berbalas.Tapi saya harap ia berbalas.— MauliyaniFerizal meletakkan surat itu.


31Di luar, kota kecil itu berjalan seperti biasa: motor lewat, pedagang es keliling memukul loncengnya dua kali, seseorang di kantor sebelah tertawa karena sesuatu yang tidak terdengar dari sini.Dunia berjalan.Dan di dalam dirinya, sesuatu yang selama dua tahun ia rawat dalam keheningan—sesuatu yang ia pikir sudah ia pelajari untuk tidak butuhkan—bergerak dengan cara yang tidak lagi bisa ia pura-pura tidak rasakan.Ia memikirkan Ana Maryana.Bukan dengan rasa bersalah—ia sudah berdamai dengan kehilangan itu, atau setidaknya sudah belajar hidup bersamanya, yang mungkin adalah hal yang paling dekat dengan berdamai yang bisa dilakukan manusia. Ia memikirkan Ana Maryana dengan cara yang selalu ia lakukan: dengan hormat, dengan rindu yang sudah berubah warna dari akut menjadi kronik, dengan rasa terima kasih atas tahun-tahun yang tidak singkat meski terasa singkat.Dan ia bertanya kepada dirinya sendiri—bukan kepada bayangan Ana Maryana, karena ia tidak percaya kepada bayangan—melainkan kepada dirinya sendiri yang paling jujur, yang biasanya hanya muncul di bawah lampu meja yang kuning pada jam-jam larut:Apakah kamu masih mau hidup? Sungguh-sungguh hidup—bukan hanya menjaga?Jawabannya datang bukan seperti kilat. Ia datang seperti fajar—pelan, hampir tidak terasa, sampai tiba-tiba terang sudah ada di mana-mana.


32Ia tidak membalas dengan surat.Ia menelepon.Nada sambung berbunyi tiga kali. Empat. Ferizal sudah hampir meletakkan telepon ketika suara Mauliyani terdengar—sedikit tergesa, seperti seseorang yang berlari dari kamar mandi atau dari tempat yang jauh.\"Pak Ferizal?\"\"Ya.\"Hening sebentar.\"Bapak menelepon,\" kata Mauliyani. Pernyataan, bukan pertanyaan. Seperti seseorang yang ingin memastikan bahwa ini nyata.\"Saya menelepon,\" kata Ferizal. \"Karena ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan dengan cukup baik melalui tulisan. Dan saya sudah terlalu lama bersembunyi di balik tulisan.\"Ia mendengar Mauliyani menarik napas.\"Surat kamu,\" lanjut Ferizal, \"saya baca dua kali. Lalu saya berdiri di depan jendela cukup lama.\" \"Kamu tahu apa yang saya pikirkan?\"\"Apa?\"


33\"Bahwa ada seseorang yang sudah membaca novel saya—dan orang pertama yang membacanya justru menemukan hal yang bahkan penulisnya sendiri tidak sepenuhnya sadar ia tulis.\"\"Apa yang saya temukan?\"\"Bahwa penulisnya,\" kata Ferizal pelan, \"masih bisa disiram.\"Mauliyani tidak berkata apa-apa. Tetapi Ferizal mendengar sesuatu—bukan tangis, bukan tawa, melainkan sesuatu di antaranya, sesuatu yang tidak punya nama dalam bahasa mana pun tetapi ada dalam semua sastra yang pernah ditulis manusia.\"Mauliyani.\"\"Ya, Pak.\"\"Jangan panggil saya Pak.\"Hening panjang. Lalu—untuk pertama kalinya—Mauliyani tertawa. Bukan tawa kecil yang sopan. Tawa sungguhan, yang keluar dari tempat yang tidak sempat dijaga.\"Baik,\" katanya akhirnya. \"Ferizal.\"Nama itu—namanya sendiri, yang sudah ia dengar ribuan kali—terdengar berbeda dari bibirnya. Seperti kata dalam bahasa yang ia kenal tetapi baru pertama kali ia dengar diucapkan dengan aksen yang tepat.


34Semester itu Mauliyani pulang lebih sering dari yang dibutuhkan oleh penelitiannya.Ia selalu punya alasan akademis—ada arsip pantun yang ingin saya verifikasi, ada narasumber di kota ini yang relevan—dan alasan-alasan itu tidak sepenuhnya bohong. Tetapi mereka berdua tahu, dan kenyataan bahwa mereka berdua tahu tanpa perlu mengatakannya adalah semacam keintiman tersendiri.Mereka makan siang. Mereka berjalan di alun-alun ketika sore sudah cukup sejuk. Mereka duduk di kantor arsip sampai lampu gedung lain sudah padam, berbicara tentang sastra dan tentang hidup dengan cara yang batas di antaranya semakin sulit ditemukan.Suatu sore, Mauliyani bertanya: \"Kamu pernah menyesal?\"Ferizal tahu ia tidak bertanya tentang karier atau novel yang ditolak. \"Tentang apa?\"\"Tentang saya. Tentang ini.\" Ia menggerakkan tangannya—isyarat kecil yang mencakup ruangan itu, sore itu, semua surat yang sudah saling mereka kirimkan.Ferizal memikirkan jawabannya dengan serius, karena Mauliyani adalah orang yang akan mendeteksi jawaban yang tidak serius.\"Tidak,\" katanya akhirnya. \"Tapi saya pernah takut.\"\"Takut apa?\"\"Bahwa saya tidak adil kepadamu. Bahwa kamu layak mendapatkan seseorang yang bisa menemanimu memulai—bukan seseorang yang sudah di tengah jalan, dengan semua beban dan kebiasaan dan kesedihan yang menyertainya.\"


35Mauliyani diam sebentar. Lalu: \"Ferizal.\"Nama itu masih terdengar baru setiap kali.\"Sastra mengajarkan saya bahwa karakter yang paling menarik bukan yang memulai dari awal tanpa beban. Melainkan yang membawa bebannya—dan tetap berjalan.\" Ia menatapnya. \"Saya tidak datang mencari seseorang yang belum punya luka. Saya datang mencari seseorang yang lukanya sudah menjadi bagian dari caranya melihat dunia. Dan itu kamu.\"Ferizal menatap mejanya. Laci paling bawah, tempat Kakawin Sutasoma berbaring bersama surat-surat yang kini bertambah tebal.\"Kamu terlalu pandai berkata-kata,\" katanya.\"Saya belajar dari yang terbaik,\" jawab Mauliyani.Map kuning itu akhirnya dikirimkan ke penerbit kelima. Bukan atas inisiatif Ferizal—melainkan karena suatu pagi Mauliyani datang ke kantor arsip dengan wajah yang mengatakan bahwa ia sudah melakukan sesuatu dan tidak menyesal. 'Seperti yang saya ceritakan di surat kemarin, saya sudah selesai mengetik ulang seluruh isi map kuning itu. Dan semalam, naskahnya resmi saya kirimkan,' katanya. Ferizal menatapnya, 'Kamu meluangkan waktu mengetik naskah sebanyak itu di sela kuliahmu?'\"\"Tiga minggu.\" Ia mengangkat bahunya. \"Saya punya banyak waktu di antara sesi penelitian.\"


36\"Mauliyani—\"\"Kalau ditolak lagi, tidak apa-apa. Tapi naskah itu tidak boleh terus berbaring di laci sampai rayap yang membacanya duluan.\"Ferizal tidak berkata apa-apa. Ada sesuatu yang naik di dalam dadanya—bukan terharu dengan cara yang dramatis, melainkan terharu dengan cara yang sunyi, seperti air yang meresap ke tanah yang sudah lama kering.\"Kamu tidak perlu melakukan itu,\" katanya akhirnya.\"Saya tahu.\" Mauliyani menatapnya. \"Saya melakukannya bukan karena perlu. Saya melakukannya karena ingin. Ada bedanya.\"Jawaban dari penerbit datang sebelas minggu kemudian.Ferizal membaca emailnya tiga kali sebelum menelepon Mauliyani.Ketika suaranya terdengar—sedikit mengantuk, karena ia menelepon terlalu pagi—Ferizal hanya berkata:\"Mereka mau menerbitkannya.\"Hening.Lalu suara Mauliyani, tidak mengantuk lagi: \"Saya tahu.\"\"Kamu tahu?\"Ia tertawa. \"Selamat, Ferizal.\"


37Nama itu. Masih seperti pertama kali.\"Terima kasih,\" katanya. \"Untuk segalanya.\"\"Jangan berterima kasih dulu,\" kata Mauliyani. \"Nanti kalau bukunya sudah terbit, traktir saya makan. Yang agak bagus. Bukan warung kopi.\"Ferizal tersenyum—dan ia menyadari, dengan semacam kejutan yang lembut, bahwa senyum ini adalah senyum yang berbeda dari senyum yang ia kenal selama dua tahun terakhir. Senyum yang muncul dari rasa cinta.❧ ✦ ❧Di laci meja yang tua itu, Kakawin Sutasoma masih berbaring—tidak sendirian lagi. Di sebelahnya, surat-surat dengan kertas yang bermacam-macam, tulisan tangan yang semakin percaya diri. Di atasnya, map kuning yang kini ringan karena sudah kosong—isinya sudah pergi ke tempat yang lebih terang.Dan di kursi plastik oranye yang satu kakinya lebih pendek, ada bekas kehadiran yang sudah menjadi bagian dari ruangan itu—bukan sebagai murid, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai seseorang yang memilih untuk tinggal.Dua nyala yang awalnya berjalan sendiri-sendiri kini telah bertemu. Mereka tidak saling berebut panggung, melainkan saling menjaga agar ruang di antara mereka tetap hangat dan benderang❧ ✦ ❧Bagian Keempat: Akar dan Angin


38Buku itu terbit pada bulan April.Bukan bulan yang istimewa di kota kecil itu—tidak ada festival, tidak ada musim yang berganti dengan dramatis, hanya hujan yang mulai jarang dan panas yang mulai berani. Tetapi bagi Ferizal, April tahun itu akan selalu berbau seperti kertas baru dan tinta cetak dan kopi yang Mauliyani pesan ketika mereka pertama kali melihat sampulnya bersama.Sampulnya sederhana. Warna coklat tua—seperti sampul Kakawin Sutasoma yang lusuh—dengan judul dalam huruf yang tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil:Mauliyani yang memilih judulnya. Ia mengusulkannya dalam sebuah surat—bab terakhir novel Bapak, tokoh utama berkata bahwa ia bukan penjaga api, melainkan penjaga pintu. Karena api bisa menyala sendiri. Tapi pintu harus ada yang membukakan.Ferizal tidak keberatan. Ia pikir Mauliyani lebih mengenal novel itu daripada dirinya sendiri sekarang.Peluncuran buku itu diadakan di perpustakaan daerah—ruangan dengan AC yang setengah mati dan kursi lipat yang bunyinya seperti protes setiap kali diduduki. Hadirin tidak banyak: beberapa pegawai kantor yang datang karena merasa wajib, dua orang wartawan lokal yang satu di antaranya lebih tertarik pada seorang guru SMA, dan—di baris paling belakang, dengan tas yang selalu terlalu penuh—Mauliyani.


39Ia datang dari kota lain. Perjalanan empat jam dengan bus. Ferizal tahu ini karena ia menolak ditawari dijemput di terminal.Saya bisa sendiri, tulisnya. Lagipula, lebih dramatis kalau saya tiba-tiba ada di sana.Ia memang tiba-tiba ada di sana—ketika Ferizal sedang berdiri di depan mikrofon yang terlalu tinggi untuk tingginya, membaca halaman pertama novelnya dengan suara yang lebih stabil dari yang ia perkirakan. Ia melihat Mauliyani masuk dari sudut matanya. Tas besar. Rambut sedikit berantakan karena perjalanan. Senyum yang tidak berusaha disembunyikan.Ferizal melanjutkan membaca.Tetapi ada sesuatu dalam suaranya setelah itu yang diperhatikan oleh guru SMA di baris ketiga—sesuatu yang lebih hangat, lebih ada, seperti seseorang yang baru saja menemukan alasan tambahan untuk berbicara keras.Setelah acara selesai dan kursi lipat sudah dilipat kembali, mereka berjalan ke alun-alun.Mauliyani membawa dua eksemplar buku—satu yang sudah ia minta tanda tangan Ferizal segera setelah acara, satu lagi yang masih bersampul plastik.\"Yang ini untuk siapa?\" tanya Ferizal.\"Untuk perpustakaan desa nenek saya.\" Mauliyani menatap sampulnya. \"Di sana tidak ada perpustakaan sungguhan. Hanya lemari kayu di balai desa yang kuncinya sering hilang. Tapi saya pikir—novel ini harus ada di sana.\"


40Ferizal tidak berkata apa-apa.\"Nenek saya tidak bisa membacanya,\" lanjut Mauliyani, lebih pelan. \"Tapi mungkin ada cucunya yang bisa. Atau cucunya yang lain. Atau seseorang yang datang ke balai desa dan iseng membuka lemari itu pada hari yang tepat.\"Mereka berjalan pelan. Lampu alun-alun mulai menyala—lampu taman yang kuning, yang membuat segalanya tampak seperti foto lama.\"Mauliyani,\" kata Ferizal.\"Hm.\"\"Saya ingin bertanya sesuatu.\"Mauliyani menoleh. Ia tahu—dari nada itu, dari cara Ferizal berhenti berjalan—bahwa ini bukan pertanyaan tentang sastra.\"Silakan,\" katanya.Ferizal menatap alun-alun—pohon beringin di tengahnya yang sudah lebih tua dari gedung kantor mana pun di kota ini, bangku semen yang catnya sudah mengelupas, anak-anak kecil yang berlarian tanpa agenda.\"Kamu masih dua tahun lagi di sana,\" katanya. \"Program S2-mu.\"\"Satu setengah,\" koreksi Mauliyani.\"Satu setengah.\" Ia mengangguk. \"Dan setelah itu—kamu tidak harus kembali ke kota ini. Kamu bisa ke mana saja. Kampus besar, lembaga penelitian, kota yang ada di peta wisata.\"


41\"Saya tahu.\"\"Saya tidak ingin menjadi alasan kamu membatasi dirimu.\"Mauliyani berhenti. Ferizal juga berhenti, karena tidak ada pilihan lain.\"Ferizal,\" katanya—dan nama itu, seperti selalu, datang dengan beratnya sendiri. \"Boleh saya ceritakan sesuatu tentang pantun?\"Ia tidak menunggu jawaban.\"Pantun punya sampiran dan isi. Sampiran kelihatannya tidak berhubungan dengan isi—buah cempedak di luar pagar, apa hubungannya dengan perasaan seseorang? Tapi hubungannya ada. Di dalam rima, di dalam ritme, di dalam cara keduanya bernafas bersama.\" Ia menatap Ferizal. \"Orang-orang sering fokus pada isinya dan lupa bahwa tanpa sampiran, pantun tidak akan bunyi dengan benar.\"Ferizal menunggu.\"Kamu adalah sampiran saya,\" kata Mauliyani. \"Bukan penghalang. Bukan beban. Sampiran. Yang membuat semuanya bunyi dengan benar.\" Ia mengangkat bahunya sedikit—gestur kecil yang Ferizal sudah hafal sebagai caranya mengatakan bahwa ia serius tetapi tidak mau terlihat terlalu serius. \"Ke mana pun saya pergi, saya akan membawa ritme itu. Tapi saya juga ingin kembali ke tempatnya.\"Di alun-alun kota kecil, di bawah lampu taman yang kuning, Ferizal melakukan sesuatu yang tidak ia rencanakan:


42Ia mengulurkan tangannya.Bukan gerakan yang dramatis. Bukan yang ada dalam film. Hanya tangan seorang laki-laki yang sudah terbiasa memegang pena dan berkas arsip, diulurkan dengan cara yang sederhana—dengan cara yang mengatakan: ini aku, dengan segala yang menyertainya, kalau kamu mau.Mauliyani menatap tangan itu sebentar.Lalu ia menerimanya.Juga dengan sederhana. Juga tanpa dramatis. Seperti seseorang yang sudah lama tahu bahwa tangan itu akan ada di sana, dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk memegangnya.Mereka berjalan kembali—tidak ke mana-mana khusus, hanya mengelilingi alun-alun yang tidak besar—dengan tangan yang tidak dilepas.Ibu Ferizal mengetahuinya bukan dari Ferizal.Ia mengetahuinya dari Bu Aisyah dari keuangan, yang mengetahuinya dari Pak Hendra dari kepegawaian, yang melihat Ferizal dan seorang perempuan muda berjalan di alun-alun malam peluncuran buku itu.Ibu Ferizal menelepon keesokan paginya, jam enam, ketika Ferizal baru saja membuat teh.\"Rizal.\"\"Bu.\"


43\"Perempuan itu siapa?\"Ferizal meletakkan cangkirnya. \"Namanya Mauliyani.\"\"Mahasiswi yang kamu ceritakan itu?\"\"Sudah lulus. Sekarang S2.\"Hening sebentar. Ferizal menunggu—ibunya adalah perempuan yang memproses informasi dengan caranya sendiri, dan proses itu tidak bisa dipercepat oleh siapa pun.\"Umurnya berapa?\"\"Dua puluh tiga.\"Hening lebih panjang.\"Rizal,\" kata ibunya akhirnya.\"Bu.\"\"Almarhumah Ana Maryana pasti akan menertawaimu.\"Ferizal terdiam.\"Maksud Ibu,\" lanjut ibunya, dan suaranya berubah—lebih lembut, seperti perempuan tua yang sudah berdamai dengan banyak hal. \"Tapi kamu tahu Ana Maryana. Ia selalu bilang kamu terlalu serius. Terlalu banyak menjaga orang lain. Ia akan senang kalau ada yang menjagamu juga.\" \"Perempuan itu—dia baik?\"


44\"Dia membacakan skripsinya di makam neneknya.\"Hening. Lalu ibunya berkata, dengan nada yang tidak bisa diperdebatkan: \"Bawa ia ke sini. Hari Minggu.\"Mauliyani datang hari Minggu dengan membawa dua hal: setoples kue kering buatan sendiri yang bentuknya tidak sempurna, dan kecemasan yang ia sembunyikan dengan sangat tidak berhasil.Di perjalanan menuju rumah ibu Ferizal—dua puluh menit naik motor, Mauliyani di belakang dengan tas yang lebih kecil dari biasanya karena ia sudah bertanya tiga kali tentang apa yang harus dibawa—ia tidak banyak bicara.\"Kamu gugup,\" kata Ferizal.\"Tidak,\" kata Mauliyani.\"Kamu sudah merapikan rambutmu empat kali sejak tadi.\"\"Anginnya kencang.\"Ferizal tidak melanjutkan. Tetapi tangannya yang memegang stang motor mengendur sedikit—isyarat kecil yang tidak terlihat tetapi terasa.Ibu Ferizal membuka pintu sebelum mereka sempat mengetuk.Ia adalah perempuan kecil dengan rambut putih yang tidak sepenuhnya putih dan mata yang melihat segala sesuatu dengan cara yang membuat orang merasa telanjang dari basa-basi. Ia menatap Mauliyani dari atas ke bawah—bukan dengan tatapan menghakimi, melainkan tatapan seorang perempuan yang sudah


45berpengalaman membaca orang dan tahu bahwa ia bisa menyelesaikan pembacaan itu dalam tiga detik.\"Masuk,\" katanya. \"Teh sudah siap.\"Di ruang tamu yang berbau kayu tua dan kain batik, mereka duduk. Mauliyani meletakkan toples kuenya di atas meja dengan hati-hati.\"Buatan sendiri,\" katanya. \"Maaf kalau bentuknya tidak bagus.\"Ibu Ferizal membuka toples itu, mengambil satu kue, dan memakannya dengan seksama—seperti seseorang yang melakukan uji cita rasa dengan serius.\"Nastar?\" tanyanya.\"Iya, Bu.\"\"Selainya kamu buat sendiri?\"\"Iya.\"Ibu Ferizal mengangguk. Mengambil satu lagi. \"Rizal tidak bisa masak apa pun selain mie instan.\"\"Saya tahu,\" kata Mauliyani. \"Saya sedang mengajarinya.\"Ibu Ferizal menatap anaknya dengan ekspresi yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam satu kata, lalu kembali kepada Mauliyani dengan sesuatu yang mungkin—jika dilihat dengan cahaya yang tepat—adalah senyum.\"Susah?\"\"Sangat,\" jawab Mauliyani. \"Tapi ia mau belajar. Itu yang penting.\"


46Di jalan pulang, langit sudah mulai jingga.Mauliyani duduk di belakang dengan cara yang lebih rileks dari perjalanan pergi—bahunya tidak setegak tadi, tangannya yang memegang pinggang Ferizal tidak sekaku sebelumnya.\"Ibu kamu baik,\" katanya, harus sedikit berteriak karena angin.\"Ibu saya menakutkan,\" jawab Ferizal.\"Bisa dua-duanya.\" Jeda. \"Ia mencintai kamu dengan cara yang sangat jelas.\"Ferizal tidak menjawab. Tetapi ia melambatkan motornya sedikit—bukan karena perlu, melainkan karena ada momen-momen yang tidak perlu terburuburu.\"Ferizal,\" kata Mauliyani, lebih pelan sekarang, hampir tenggelam dalam angin.\"Hm.\"\"Saya ingin bilang sesuatu yang mungkin terlalu cepat.\"\"Katakan.\"Ia merasakan Mauliyani menarik napas—napas yang panjang, napas seseorang yang sudah memutuskan.\"Saya ingin ini—semua ini—menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh. Bukan hanya surat. Bukan hanya pertemuan di kota kecil yang tidak ada di peta.\" Ia berhenti sebentar. \"Saya ingin masa depan yang sama.\"


47Motor berjalan. Jalanan kecil itu sepi—hanya mereka dan langit jingga dan suara angin yang tidak bisa dibendung.Ferizal menjawab bukan dengan kata-kata.Ia memegang tangan Mauliyani yang melingkar di pinggangnya—sebentar saja, sebelum kembali ke stang—dengan cara yang mengatakan: saya juga.Satu setengah tahun kemudian, Mauliyani menyelesaikan S2-nya.Tesisnya—Pantun Melayu sebagai Sistem Memori Kolektif: Antara Tradisi Lisan dan Identitas Budaya—mendapat predikat cumlaude. Dosennya merekomendasikannya untuk program doktoral di dua universitas, satu di Jakarta, satu di Belanda.Ia menelepon Ferizal malam pengumuman itu.\"Belanda,\" kata Ferizal, sebelum Mauliyani sempat mengatakan apa pun selain kabar baiknya.\"Apa?\"\"Kalau kamu ingin pergi ke Belanda—pergi. Ini kesempatanmu.\"\"Kamu tidak—\"\"Mauliyani.\" Suaranya tenang. \"Kita sudah bicara tentang ini. Saya tidak akan menjadi alasan kamu berhenti.\"Hening di ujung telepon.


48\"Dan kalau saya minta kamu ikut?\" kata Mauliyani akhirnya. Pelan. Seperti seseorang yang mengajukan pertanyaan yang sudah lama disimpan.Sekarang giliran Ferizal yang diam.Ia menatap kantor arsipnya—Dua belas tahun ia di sini. Dua belas tahun menjaga dokumen-dokumen yang bagi orang lain adalah debu, tetapi baginya adalah kenangan bangsa.Ia membuka laci mejanya.Kakawin Sutasoma. Surat-surat. Map kuning yang sudah kosong.Dan ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia formulasikan sebelumnya: bahwa selama ini ia menjaga api di tempat ini, di kota ini, di laci ini—karena ia pikir tidak ada tempat lain yang membutuhkannya. Bahwa ia adalah pohon yang akarnya sudah terlalu dalam untuk dipindahkan.Tetapi pohon beringin di alun-alun itu—yang lebih tua dari gedung mana pun di kota ini—pernah juga menjadi biji. Pernah juga berpindah, dibawa angin atau burung atau tangan seseorang, sebelum akhirnya menemukan tanah yang tepat dan memutuskan untuk berakar di sana.\"Ferizal?\" suara Mauliyani di telepon.\"Saya di sini.\"\"Kamu tidak harus menjawab sekarang.\"\"Saya tahu.\" Ia menarik napas. \"Tapi saya sudah tahu jawabannya.\"


49Hening yang menunggu.\"Beri saya enam bulan,\" katanya. \"Ada arsip yang harus saya selesaikan penataan dan pelimpahannya. Ada pengganti yang harus dilatih. Ada ibu yang harus dibujuk.\" \"Dan ada satu hal lagi yang harus saya lakukan sebelum pergi.\"\"Apa?\"\"Saya harus melamarmu dulu.\" Ia berkata ini dengan nada yang sama seperti ketika ia merekomendasikan buku—tenang, yakin, tanpa basa-basi yang tidak perlu. \"Dengan cara yang benar. Dengan izin yang benar. Kamu bersedia?\"Di ujung telepon, dari kota yang empat jam jauhnya, Ferizal mendengar sesuatu yang sudah ia hafal—tawa Mauliyani yang tidak berusaha ditahan, yang keluar dari tempat yang tidak sempat dijaga.\"Sudah dari dulu,\" katanya.❧ ✦ ❧Di kantor arsip yang kini mulai dibenahi untuk serah terima, Ferizal mengemas lacinya dengan hati-hati.Kakawin Sutasoma ia bungkus dengan kain—bukan kain mahal, hanya kain batik bekas selendang ibunya yang sudah tidak dipakai. Surat-surat ia ikat dengan tali rafia—bukan merah seperti milik Mauliyani, melainkan biru, karena itu yang ada di laci.


50Map kuning yang sudah kosong ia lipat dan ia simpan di antara surat-surat itu, karena wadah yang pernah menyimpan sesuatu berharga tidak boleh dibuang begitu saja.Di meja, ia meletakkan satu lembar kertas fotokopi sebelum mengambil PENSIUN DINI PNS—untuk penggantinya, siapa pun yang nanti akan duduk di kursi ini, di bawah lampu yang sama, di antara arsip-arsip yang sama.Pesawat ke Amsterdam berangkat pagi.Mauliyani sudah di sana—ia berangkat lebih dulu untuk urusan administrasi universitas, dengan janji bahwa Ferizal akan menyusul sebelum musim dingin pertama tiba.Di bandara kota kecil yang tidak ada di peta wisata itu—bandara dengan satu terminal dan satu warung kopi yang kopinya tidak lebih baik dari warung di alunalun—Ferizal berdiri dengan satu koper dan tas jinjing yang di dalamnya, di antara dokumen perjalanan dan buku-buku yang tidak bisa ia tinggalkan, ada Kakawin Sutasoma yang terbungkus kain batik.Ibunya datang mengantar. Ia tidak menangis—perempuan itu tidak mudah menangis di tempat umum—tetapi ia memegang tangan Ferizal lebih lama dari yang diperlukan untuk sebuah perpisahan biasa.\"Kirim kabar,\" katanya.\"Iya, Bu.\"\"Dan minta perempuan itu masak yang benar. Kamu kurus.\"


51\"Dia yang memasak. Saya yang kurus karena sebelum dia.\"Ibunya melepaskan tangannya. Menepuk bahunya satu kali—tepukan yang singkat, yang bagi orang lain tidak terlihat seperti apa-apa, tetapi Ferizal tahu adalah cara ibunya mengatakan: pergi dengan tenang, aku baik-baik saja, kamu boleh bahagia.Di dalam pesawat, ketika kota kecil itu mulai mengecil di bawah—atap-atap sengnya, alun-alun dengan pohon beringinnya, gedung kantor arsip yang jendela frosted glass-nya bahkan tidak terlihat dari ketinggian ini—Ferizal membuka tasnya.Ia mengeluarkan selembar kertas.Bukan untuk menulis surat. Bukan untuk mencatat sesuatu.Hanya selembar kertas kosong yang ia tatap—seperti seseorang yang berdiri di ambang halaman baru, yang tahu bahwa apa yang akan ditulis di sana belum ada, dan justru itulah yang membuatnya berharga.Di bawah, kota itu menghilang ke dalam awan.Di depan, ada perempuan yang menunggu di kota yang musim dinginnya ia belum pernah rasakan, dengan pantun-pantun yang sedang ia kumpulkan dan penelitian yang belum selesai dan senyum yang ia kenal meski dari jauh.Dan di dalam tas itu, Kakawin Sutasoma berbaring tenang—seperti selalu, seperti sudah ribuan tahun, menemani siapa pun yang membawanya bukan


52karena terpaksa, melainkan karena tahu bahwa beberapa hal tidak boleh ditinggalkan hanya karena kita berpindah tempat.Nyala api itu tidak pernah padam oleh perpindahan.Ia hanya menemukan tungku yang baru.Dan di tungku yang baru itu—di kota yang musim dinginnya akan mengajarkan mereka cara lain untuk menghangatkan diri—dua nyala yang sudah lama saling mengenal dari kejauhan akan akhirnya menyala di ruang yang sama.Bukan sebagai guru dan murid.Bukan sebagai penjaga dan yang dijaga.Melainkan sebagai dua orang yang memilih—dengan sadar, dengan segala ketidakpastiannya—untuk berjalan ke arah yang sama.❧ ✦ ❧Bagian Kelima: Akad di Musim GugurAmsterdam di bulan Oktober berbau seperti tanah basah dan daun yang memutuskan untuk jatuh dengan elegan.Ferizal belum terbiasa dengan ini—dengan musim yang punya warna, dengan langit yang berubah seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu, dengan dingin yang datang bukan tiba-tiba melainkan perlahan, seperti tamu yang sopan yang mengetuk pintu sebelum masuk.


53Di kota kecil yang tidak ada di peta wisata itu, musim hanya ada dua: hujan dan tidak hujan. Di sini ada empat, dan Ferizal sedang belajar menghafal karakternya masing-masing seperti menghafal tokoh-tokoh dalam novel yang baru pertama kali dibaca.Mauliyani mengajarinya.Setiap pagi ia bangun lebih awal—kebiasaan yang tidak berubah meski zona waktu berbeda enam jam—dan ketika Ferizal masih di antara tidur dan jaga, ia sudah duduk di meja kecil dekat jendela apartemen mereka yang sewanya menghabiskan sebagian besar beasiswanya, menulis catatan penelitian dengan tangan sambil sesekali menatap kanal di bawah yang airnya berwarna abu-abu kehijauan.\"Kamu tidak pernah tidur cukup,\" kata Ferizal suatu pagi, dari balik selimut.\"Saya tidur cukup,\" jawab Mauliyani tanpa menoleh. \"Kamu yang tidur terlalu banyak.\"\"Saya menyesuaikan diri dengan iklim.\"\"Beruang juga menyesuaikan diri dengan iklim. Namanya hibernasi.\"Ferizal tertawa—tawa pagi yang serak, yang belum sepenuhnya sadar. Mauliyani menoleh dan menatapnya dengan ekspresi yang sudah Ferizal hafal: serius di permukaan, hangat di dalamnya, seperti buku yang sampulnya sederhana tetapi isinya tidak bisa ditutup sekali dibuka.


54Lamaran itu sudah dilakukan enam bulan lalu—di ruang tamu ibu Ferizal, dengan prosesi yang sederhana karena memang begitu yang mereka inginkan.Ferizal datang dengan saudaranya sebagai wali bicara, dengan mas kawin yangia pilih sendiri setelah tiga minggu kebingungan: sebuah edisi lama Bumi Manusia yang sudah lama ia cari di toko buku bekas, dan seperangkat alat salat yang ibunya bantu pilih.Mauliyani datang dengan ibunya—perempuan yang ternyata sama langsung bicaranya dengan putrinya—dan dua orang paman dari pihak ayah yang meninggal ketika Mauliyani masih SMP.Ibu Ferizal memasak terlalu banyak, seperti yang selalu dilakukan perempuan yang menyatakan kasih sayang melalui makanan.Ibu Mauliyani membawa durian dari kampung—alasan yang tidak diminta tetapi diterima dengan senang hati oleh semua orang kecuali Pak Hendra dari kepegawaian yang ikut diundang dan ternyata alergi.Pernikahan—demikian disepakati—akan dilakukan sebelum musim dingin pertama Amsterdam. Supaya mereka tidak memasuki musim yang belum pernah mereka kenal dalam keadaan belum resmi menjadi keluarga.Undangan ditulis tangan oleh Mauliyani.Bukan semua—hanya dua puluh lembar untuk tamu-tamu yang dianggap perlu mendapat undangan dengan tulisan tangan, bukan undangan cetak yang sama untuk semua orang.


55Ferizal menemukannya suatu malam sedang menunduk di atas meja dapur dengan pena kaligrafi yang tintanya lebih sering menetes ke jarinya daripada ke kertas.\"Kamu bisa minta tolong orang lain.\"\"Saya mau menulis sendiri.\"\"Tanganmu hitam semua.\"\"Ini tinta, bukan dosa.\" Mauliyani meniup kertas yang baru saja ia selesaikan. \"Lagipula—undangan pernikahan yang ditulis tangan adalah arsip. Dua puluh tahun lagi, orang yang menerimanya bisa melihat bahwa pada tanggal itu, seseorang mau repot-repot menulis namanya dengan tangan. Itu sesuatu.\"Ferizal duduk di seberangnya. Ia mengambil satu lembar kertas kosong dan pena biasa—bukan kaligrafi, karena tulisannya tidak sebagus Mauliyani dan ia sudah cukup dewasa untuk mengakuinya.\"Siapa yang kamu tulis selanjutnya?\"\"Ibu kamu.\"\"Beri saya. Saya yang tulis untuk ibu saya.\"Mauliyani menatapnya. Lalu mendorong kertas dan tinta ke arahnya—termasuk pena kaligrafi yang tintanya masih menetes tidak teratur.Mereka menulis berdampingan. Diam, tetapi diam yang penuh—seperti dua orang yang sudah belajar bahwa kehadiran tidak selalu butuh suara untuk terasa.


56Pernikahan itu dilangsungkan di Indonesia.Bukan di kota kecil Ferizal, bukan di kampung halaman Mauliyani—melainkan di tengah: sebuah aula sederhana di kabupaten yang dua jam dari keduanya, yang dipilih bukan karena strategis melainkan karena di situlah masjid tempat almarhum ayah Mauliyani pernah menjadi pengurus, dan ibunya ingin akad dilakukan di tempat yang punya jejak ayahnya.Ferizal tidak keberatan. Ia pikir pernikahan yang baik adalah pernikahan yang mempertimbangkan orang-orang yang sudah pergi, bukan hanya yang masih ada.Pagi hari pernikahan, Ferizal bangun sebelum fajar.Ia duduk di teras penginapan—losmen kecil yang kasurnya terlalu empuk dan kipas anginnya terlalu berisik—dengan secangkir teh yang ia minta dari pemilik losmen yang ternyata juga bangun pagi karena biasa shalat malam.Langit masih hitam di tepinya, tapi mulai biru di tengah.Ia mengeluarkan Kakawin Sutasoma dari tas.Bukan untuk dibaca—atau mungkin untuk dibaca, tapi tidak dari halaman pertama. Ia membukanya di tengah, di mana pun jarinya berhenti, dan membaca beberapa baris dalam cahaya teras yang redup.Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Çiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.


57Berbeda-beda tetapi tetap satu. Tiada kebenaran yang mendua.Ia menutup buku itu.Menatap langit yang sudah mulai memutih di timur.Ia memikirkan Ana Maryana—karena akan selalu ada momen-momen seperti ini, dan ia sudah belajar untuk tidak lari dari mereka. Ia memikirkannya dengan tenang, dengan hormat yang tidak pernah berkurang, dengan rasa terima kasih atas semua yang pernah ada.Dan kemudian—dengan cara yang tidak dramatis, dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh seseorang yang pernah kehilangan dan kemudian menemukan lagi—ia melepaskan Ana Maryana.Bukan melupakan. Bukan mengganti.Hanya membuka tangan. Seperti ketika sebuah bab selesai dan kamu menutupnya dengan hati-hati sebelum membuka bab berikutnya—bukan karena bab yang lama tidak berharga, melainkan karena cerita masih berlanjut dan kamu masih ingin membacanya.Akad nikah berlangsung pukul delapan pagi.Ruangan itu sederhana—karpet hijau, dinding putih, jendela tinggi yang cahaya paginya masuk miring dan jatuh tepat di tempat penghulu duduk seperti lampu panggung yang tidak direncanakan.


58Ferizal duduk berhadapan dengan wali Mauliyani—pamannya yang paling tua, laki-laki dengan rambut putih dan jabat tangan yang kuat, yang semalam menepuk bahu Ferizal dan berkata dengan nada yang tidak bisa ditawar: jaga keponakan saya, Nak. Ia keras kepalanya seperti almarhum ayahnya, tapi hatinya seperti ibunya. Mudah retak kalau tidak dipegang dengan benar.Ferizal berkata ia mengerti. Dan ia sungguh-sungguh mengerti.Ibu Ferizal duduk di baris pertama, di samping ibu Mauliyani. Dua perempuan yang baru saling kenal tiga bulan lalu, duduk dengan bahu yang hampir bersentuhan seperti dua pohon yang tumbuh berdekatan dan lama-lama akarnya saling mengenal di bawah tanah meski di atas tidak terlihat.Penghulu membaca pembukaan.Ferizal mendengar setiap kata—sesuatu yang tidak selalu bisa dilakukan seseorang di momen-momen besar, ketika kecemasan atau kegembiraan membuat telinga seperti berjalan di udara. Tetapi pagi itu ia hadir sepenuhnya, dengan cara yang jarang ia alami bahkan dalam hidupnya yang sudah banyak membaca tentang kehadiran.Ketika ijab diucapkan—ketika paman Mauliyani mengulurkan tangan dan katakata itu mulai mengalir—Ferizal merasakan sesuatu yang tidak ia tahu namanya dalam bahasa apa pun.Bukan gugup. Bukan hanya bahagia.


59Sesuatu yang lebih tua dari kedua perasaan itu. Sesuatu yang terasa seperti berdiri di persimpangan dua jalan panjang dan menyadari bahwa keduanya akan membawamu ke tempat yang sama—dan bahwa seluruh perjalanannya, dengan semua belokan dan jalan terjal dan momen ketika kamu tidak yakin kamu di jalan yang benar, ternyata memang menuju ke sini.\"...saya terima nikahnya Mauliyani binti Zulkifli dengan mas kawin tersebut, tunai.\"Kata-kata itu keluar dengan suara yang lebih stabil dari yang ia perkirakan.Tenang. Penuh. Seperti kalimat yang sudah lama tahu bahwa ia akan diucapkan—hanya menunggu giliran.Penghulu bertanya kepada saksi.Saksi pertama—saudaranya—mengangguk. \"Sah.\"Saksi kedua—rekan lama Ferizal yang datang dari kota kecil itu, Pak Hendra dari kepegawaian yang ternyata bisa menangis tanpa memperingatkan siapa pun—mengangguk dengan mata yang sudah merah. \"Sah.\"Di balik tabir, Mauliyani mendengar semuanya.Ia duduk di antara bibi-bibinya yang sesekali menepuk tangannya dan berbisik hal-hal yang tidak semuanya ia dengar karena telinganya sedang di ruangan sebelah, menangkap suara yang sudah ia hafal—suara yang pertama kali ia dengar di telepon sebuah malam ketika ia tidak tahu bahwa menelepon orang asing bisa mengubah arah hidupnya.


60Ketika kata sah itu terdengar dua kali, bibinya yang paling tua menangis duluan.Mauliyani tidak menangis.Ia tersenyum—senyum yang tidak ditujukan kepada siapa pun di ruangan itu, melainkan kepada sesuatu yang hanya bisa dilihat dari dalam, sesuatu yang terasa seperti: ini nyata. Ini sungguh-sungguh terjadi.Ketika tabir dibuka dan Ferizal berjalan ke arahnya—dengan langkah yang tidak terburu-buru, dengan mata yang mencarinya di antara semua orang di ruangan itu—Mauliyani melakukan hal yang tidak direncanakan.Ia berkata, cukup pelan untuk hanya terdengar olehnya:\"Kamu datang.\"Ferizal berdiri di depannya. Menatapnya—perempuan dengan kebaya putih yang rambutnya masih sedikit berantakan di bagian kanan karena sanggulnya tidak sempurna dan ia menolak diperbaiki lagi setelah tiga kali dicoba—dan menjawab dengan nada yang sama pelannya:\"Saya bilang saya akan datang.\"\"Saya tahu.\" Mauliyani menunduk sebentar, lalu mendongak lagi. \"Saya hanya ingin mengatakannya.\"Di sekeliling mereka, orang-orang mengambil foto, berbisik, menangis, tertawa. Ibu Ferizal sudah berdiri dan berjalan ke arah ibu Mauliyani untuk memeluknya. Pak Hendra masih menangis dan sudah menghabiskan dua lembar tisu.


61Tetapi di tengah semua itu, ada sebuah pulau kecil yang tenang—dua orang yang berdiri cukup dekat, yang tidak perlu mengatakan banyak karena sudah terlalu banyak yang sudah dikatakan dalam surat-surat dan telepon-telepon dan malammalam di kota yang tidak ada di peta wisata itu.Ferizal mengulurkan tangannya—seperti di alun-alun, seperti selalu, dengan cara yang sederhana dan tidak dramatis.Mauliyani menerimanya.Resepsi itu berlangsung siang hari, di halaman yang dipasangi tenda putih yang satu tiangnya sedikit miring karena tanahnya tidak rata.Makanannya terlalu banyak. Musiknya orkes melayu yang penyanyi utamanya terlalu bersemangat pada lagu ketiga. Seorang anak kecil—keponakan jauh Mauliyani—menumpahkan es jeruk di atas sepatu Ferizal dan menangis lebih keras dari Ferizal yang justru tidak bereaksi apa-apa kecuali mengambil tisu dari saku dan memberikannya kepada si anak.Di sudut tenda, di kursi yang sedikit menjauh dari keramaian, ibu Ferizal dan ibu Mauliyani duduk berdampingan. Ibu Ferizal bercerita tentang Ferizal kecil yang membaca ensiklopedia sebelum tidur. Ibu Mauliyani bercerita tentang Mauliyani remaja yang menulis puisi di buku tulis matematika dan baru ketahuan ketika gurunya memeriksa PR.Mereka tertawa bersama—tawa dua perempuan yang baru menemukan bahwa anak-anak mereka rupanya sudah sama gilanya sejak lama, hanya belum saling tahu.


62Sore hari, ketika tamu-tamu mulai pulang dan kursi-kursi mulai dilipat, Ferizal dan Mauliyani duduk sebentar di tepi tenda.Mauliyani melepas selop-nya. Ferizal melonggarkan dasinya.\"Lelah?\" tanya Ferizal.\"Sangat.\" Mauliyani menyandarkan kepalanya ke bahunya—gerakan yang alami, yang tidak meminta izin, yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah memutuskan bahwa bahu ini adalah miliknya untuk dituju. \"Tapi lelah yang bagus.\"\"Ada bedanya?\"\"Ada. Lelah yang bagus adalah lelah yang tidak ingin kamu tukar dengan istirahat.\"Ferizal tidak menjawab. Ia menatap halaman yang sedang dibereskan—mejameja dilipat, bunga-bunga plastik dikumpulkan, anak-anak kecil yang tadi berlarian sekarang digendong orang tuanya yang sudah mengantuk.\"Ferizal,\" kata Mauliyani.\"Hm.\"\"Kamu bahagia?\"Ia memikirkan jawabannya—bukan karena tidak tahu, melainkan karena pertanyaan yang jujur layak mendapat jawaban yang juga jujur.


63\"Ya,\" katanya. \"Dengan cara yang tidak berisik. Dengan cara yang terasa seperti—seperti menemukan kalimat yang tepat setelah lama mencari. Kamu tidak berteriak. Kamu hanya berhenti dan berkata: ini.\"Mauliyani diam sebentar.\"Itu kalimat yang bagus,\" katanya akhirnya.\"Saya belajar dari yang terbaik.\"Ia merasakan Mauliyani tertawa—tawa kecil yang ia rasakan lebih dari ia dengar, karena kepalanya masih di bahunya.Malam sebelum kembali ke Amsterdam, Ferizal duduk sendirian sebentar di teras penginapan.Langit di sini berbeda dari Amsterdam—tidak ada kanal, tidak ada bangunan tua berjajar, hanya hamparan yang gelap dan bintang yang lebih banyak dari yang bisa dihitung oleh seseorang yang sudah terlalu lama tinggal di kota.Ia mengeluarkan Kakawin Sutasoma.Meletakkannya di pangkuannya tanpa membukanya.Di dalam kamar, Mauliyani sedang membereskan koper dengan cara yang tidak pernah efisien—ia selalu memasukkan buku terlalu banyak dan kemudian bingung kenapa tidak ada ruang untuk baju. Ferizal sudah hafal ini. Ia akan masuk nanti dan dengan diam-diam memindahkan dua buku ke tas jinjing, dan Mauliyani akan pura-pura tidak tahu bahwa itu yang terjadi.


64Ritual kecil. Yang tidak tertulis di mana pun. Yang hanya ada di antara dua orang yang sudah memilih untuk saling mengenal sampai ke kebiasaan yang tidak penting.Ia menatap bintang-bintang.Memikirkan perjalanan panjang yang membawanya ke malam ini—laci tua yang berbau kemenyan, naskah yang ditolak empat kali, Ana Maryana yang pergi dengan cara yang masih terasa meski warnanya sudah berubah, kertas yang tertinggal di mesin fotokopi, telepon dari nomor yang tidak dikenal, surat-surat dengan amplop yang lemnya kering.Semua itu—setiap bagiannya, termasuk yang menyakitkan—adalah bab-bab yang membentuk buku ini. Dan buku ini belum selesai. Masih ada halaman yang kosong, yang belum tahu akan menjadi apa.Dari dalam kamar, suara Mauliyani: \"Ferizal, kopernya tidak mau nutup.\"\"Keluarkan dua buku.\"\"Tapi saya butuh semuanya.\"\"Kamu tidak butuh lima buku referensi untuk perjalanan satu hari.\"\"Kamu tidak pernah tahu kapan kamu butuh referensi.\"Ferizal tersenyum ke arah bintang-bintang yang tidak memintanya tersenyum.Ia berdiri. Memasukkan Kakawin Sutasoma ke dalam tas. Berjalan ke pintu.Di ambang pintu, ia berhenti sebentar—bukan karena ragu, melainkan karena ada momen-momen yang layak untuk dijeda sebentar sebelum dimasuki.


65Momen yang terasa seperti halaman pertama bab baru: kosong, penuh kemungkinan, dan menunggu.Lalu ia masuk.❧ ✦ ❧Koper itu akhirnya tertutup—setelah tiga buku dipindahkan, bukan dua, karena Mauliyani berhasil bernegosiasi untuk mempertahankan yang ketiga dengan argumen yang tidak masuk akal tetapi disampaikan dengan sangat meyakinkan.Pesawat berangkat pagi.Amsterdam menunggu dengan musim gugurnya yang penuh warna—merah, kuning, coklat, semua warna yang ada di dalam kata perubahan kalau kata itu bisa dilihat bukan dibaca.Dan di sana, di apartemen kecil dengan kanal di bawahnya, di meja kecil dekat jendela tempat Mauliyani biasa menulis sebelum fajar—kini ada kursi kedua yang ditambahkan.Kursi yang tidak besar. Tidak istimewa.Hanya cukup untuk satu orang yang sudah memutuskan bahwa di sinilah tempatnya duduk.Di samping nyala yang sudah lama ia kenal dari jauh.Dan akhirnya—setelah surat-surat dan telepon-telepon dan alun-alun dan kopi yang terlalu banyak dan koper yang tidak mau tutup—menyala di ruang yang sama.


Manifesto Sastra PNS — Ferizal | Halaman 1.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026057816, 2 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Mendahului Perpres AI danmendahului revisi UU Hak Cipta. Ferizal juga adalah Bapak SastraKesehatan Indonesia. Sebagai bentuk proteksi hukum untuk belanegara : Upaya urgensi menegakkan kedaulatan bangsamendahului kecanggihan mesin AI masa depan. Sebagai fondasisejarah dan inovasi jangka panjang intelektual demi perjuanganmenuju sukses Indonesia Emas 2045Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001217305adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026058559, 4 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya : A. TetralogiPuisi : Genre Sastra PNS Indonesia Lahir Sebelum Perpres AI danRevisi UU Hak Cipta, B. Cerpen : Genre Sastra PNS IndonesiaLahir Sebelum Perpres AI dan Revisi UU Hak Cipta, C. Cerpen :PNS Garda Terdepan Pelayanan, Demi Pengabdian danPatriotisme, D. Cerpen : PNS Setia di Bawah Panji Pertiwi,Mengabdi Untuk Negeri, E. Puisi : PNS Pelayan PublikTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001218756adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026061421, 8 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya demiIndonesia Emas 2045, sebelum Perpres AI dan sebelum Revisi UUHak Cipta yaitu Tetralogi Cerpen Romantisme Pujangga SastraPNS : A. Cerpen Penjahit Bayangan Menjadi Abdi Negara, B.Cerpen Penjaga Mercusuar Menjadi Abdi Negara, C. CerpenPemuda Desa Menjadi Abdi Negara, D. Cerpen Penjual BukuKeliling Menjadi Abdi NegaraTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001225166adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026062181, 10 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya untukIndonesia Emas 2045 : A. Manifesto Sastra PNS Indonesia,memperkaya khazanah Sastra Dunia dengan perspektif baru padazaman disrupsi AI, B. Cerpen Jejak Para Pendiri Genre SastraDunia, Ferizal bergabung didalamnya, C. Cerpen Sastra PNSIndonesia, memperkaya khazanah Sastra Dunia dengan perspektifbaru pada zaman disrupsi AITanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001226860adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026065078, 15 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya : A. NoveletSastra Level Dunia : MBG ( Makan Bergizi Gratis ). B. ModelPelayanan Publik PUJANGGA SADA ( Pelayanan Umum BerjiwaTanggap dengan Aneka Sastra Dunia ). Dalam bahasa Sansekerta,kata Sada memiliki arti selalu, tetap, abadi, atau selamanya.Sehingga memiliki landasan nilai sejarah sastra yang luhur dariera Kerajaan NusantaraTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001232689adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026065763, 17 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Model Pelayanan PublikPUJANGGA SADA adalah singkatan dari Pelayanan UmumBerjiwa Tanggap dengan Aneka Sastra Dunia. Berbasis Daya TarikSastra ( Poetry-Driven Public Service ). Contoh : A. NOVELETKOPERASI DESA MERAH PUTIH ( KDMP ), B. Kotak PuisiBerhadiah ( Poetry Box ) : Strategi Komunikasi Humanis MelaluiBait Puisi Berhadiah untuk Membangun Kedekatan Instansidengan Masyarakat ( Fokus Sastra pada perbaikan citra pelayananpublik )Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001234069adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


a.n. MENTERI HUKUMDIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUALu.bDirektur Hak Cipta dan Desain IndustriAgung Damarsasongko,SH.,MH.NIP. 196912261994031001REPUBLIK INDONESIAKEMENTERIAN HUKUMSURAT PENCATATAN CIPTAANDalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:Nomor dan tanggal permohonan : EC002026069830, 22 Mei 2026PenciptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaPemegang Hak CiptaNama : FERIZALAlamat : Puskesmas Muara Satu, Muara Satu, Kota Lhokseumawe, DI Aceh,24353Kewarganegaraan : IndonesiaJenis Ciptaan : BiografiJudul Ciptaan : Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia. Contoh Karya untukmerespons tantangan zaman pada era disrupsi kecerdasan buatan(AI) ; A. Cerpen Kelanjutan Sastra Kerajaan Nusantara UntukPNS Pada Era Disrupsi AI Masa Kini, B. Novelet Kotak PuisiBerhadiah ( Poetry Box ), C. Buku GENRE SASTRA PNSINDONESIA : Kelanjutan Sastra Dunia dan Sastra KerajaanNusantara, D. Buku Manifesto Sastra PNS IndonesiaTanggal dan tempat diumumkan untuk pertamakali di wilayah Indonesia atau di luar wilayahIndonesia:1 Maret 2022, di Kota LhokseumaweJangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuhpuluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal1 Januari tahun berikutnya.Nomor Pencatatan : 001242793adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentangHak Cipta.


Click to View FlipBook Version