1
DAFTAR ISI
Halaman Judul ......................................................................
Daftar isi ...............................................................................
BAB Beragam Budaya Kota Semarang yang Perlu Diketahui
1.1. Pengertian Kota Semarang ....................................
1.2. Nama tempat-tempat yang menjadi pusat
peradaban budaya .................................................
1.3. Tari-tarian tradisonal di Semarang ..........................
1.4. Lima Adat Unik Di kota Semarang .........................
i
Beragam Budaya Kota
Semarang yang Perlu
Diketahui
1. Pengertian kota semarang
ota Semarang merupakan ibu kota Propinsi Jawa
Tengah yang terletak disebelah utara pulau Jawa, secara
geografis kota Semarang bersebelahan dengan Kabupaten
Kendal di sebelah barat, Kabupaten Ungaran di sebelah
selatan dan sebelah timur terdapat Kabupaten Demak. Dari
beribu – ribu penduduk semarang terdapat beraneka ragam
budaya dan kekhasan masing-masing.
Berkembang beberapa suku seperti: Jawa, Tionghua dan
Arab, serta memiliki budaya yang menarik yang merupakan
perpaduan budaya-budaya yang dahulunya merupakan cikal-
bakal Semarang. Merujuk pada bangunan sejarah dan nama-
nama tempat di kota Semarang, maka kebudayaan yang pada
saat lalu berkembang seperti Islam, Tionghua, Eropa dan Jawa
(pribumi).
Keempat kebudayaan tersebut berbaur yang berpengaruh
penting pada perkembangan Semarang tempo dulu. Sisa
kebudayaan tersebut masih berdiri dengan kokoh diterpa
budaya modern yang berada disekitar Pasar Johar (Kali mberok).
2. Nama tempat-tempat yang menjadi pusat
peradaban budaya
Saat ini masih terkenal dan sebagian hanya tinggal kenangan
(bagunan tua)
dibagi menjadi 4 (empat) yaitu :
• Kampung Kauman
Kampung Kauman pada tempo dulu merupakan kawasan padat
penduduk keturunan Jawa, sekarang keturunan Arab juga masih
banyak.
• Kampung Pecinan
Kampung Pecinan dihuni sebagian besar oleh keturunan
Tionghua.
• Kampung Belanda
Kampung Belanda merupakan daerah pemerintahan dan kota
kecil yang sekarang disebut dengan Semarang Kota Lama.
• Kampung Melayu
Kampung Melayu lebih banyak keturunan Arab, dan pada saat ini
masyarakat Jawa lebih banyak berada di daerah kampung
melayu.
3. Tari-tarian tradisonal di Semarang
Biasanya dipertunjukkan saat event-event besar atau festival yang ada
di Semarang, seperti Dugderan.
Tarian tradisional Semarang juga tak lepas dari berbagai etnis yang ada
seperti Jawa, Cina dan juga Arab. Selain itu salah satu tarian di
Semarang yang hampir tidak pernah ketinggalan adalah
Tari Semarangan
Gambar Tarian
Semarangan
Bukan hanya namanya saja yang mirip dengan kotanya, tarian ini
merupakan salah satu kebudayaan asli Kota Semarang.
Tarian ini memiliki tiga jenis gerakan dasar yaitu;
a) Ngondek
b) Ngeyek
c) Genjot
Tari Nyai Brintik
Gambar Tarian
Nyai Brintik
Tari Nyai Brintik merupakan tari yang diciptakan oleh
koreografer Yoyok Bambang Priyambodo. Yoyok adalah seniman
sekaligus penata tari asal kota Semarang yang sering menjadi
pembicara dalam diskusi kebudayaan. Yoyok membuat tari ini
dengan mengangkat cerita rakyat kota Semarang pada masa
pemerintahan Adipati Pandanaran.
Tari Denok Deblong
Gambar Tarian
Denok Deblong
Tari Denok adalah Denok merupakan tarian tunggal yang
juga diiringi oleh musik gambang Semarang. Tari Denok juga
dapat ditarikan secara berkelompok, hanya saja gerakannya
sama.
Tari Warak dugder
Gambar Tarian
Warak Dugder
Tari Warak Dugder berasal dari Semarang. Tarian ini bisa dikatakan
sebagai perpaduan antara tari tradisonal dengan kreasi baru.
Dimodifikasi dari Tari Gambang Semarang oleh seniman tari kenamaan
Didik Nini Towok bersama Yoyok Bambang Priyambodo. Penari
pada tarian ini berjumlah 8 orang.
Tari Prajuritan
Gambar Tarian
Prajuritan
Tari Prajuritan adalah tari tradisional yang berasal dari
Kabupaten Semarang. Tarian ini merupakan bentuk penggambaran dari
prajurit Pangeran Sambernyawa yang sedang berlatih perang dalam
mengusir penjajah.
4. Lima Adat Unik Di kota Semarang
Salah satu budaya yang masih dilestarikan hingga kini oleh
masyarakat Semarang adalah ritual adat. Terdapat beberapa
ritual adat yang perlu Anda ketahui, di antaranya sebagai
berikut.
1. Dugderan
Upacara adat dugderan biasanya diselenggarakan untuk
menyambut datangnya bulan Ramadan. Upacara ini dimulai
dengan pemukulan beduk yang dilanjutkan dengan dentuman
meriam. Suara yang dihasilkan dari kegiatan inilah yang
menjadi dasar penamaan ritual adat Dugderan.
Biasanya, setelah upacara usai diadakan pawai keliling kota
mengenakan pakaian adat. Terdapat pula festival tradional
Semarang yang sayang jika dilewatkan.
2. Magengan
upacara Magengan, yakni ritual adat yang digelar untuk
menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Magengan
tercatat sebagai salah satu tradisi yang dibawa oleh Sunan
Kalijaga, penyebar Islam di tanah Jawa. pada upacara
Magengan warga harus melakukan bersih diri. Tidak hanya
sebatas raga, melainkan juga jiwa demi menjaga kesucian
bulan Ramadan. Puncak dari ritual adat ini ditutup dengan
makan bersama. Sebagai rasa syukur dipertemukan kembali
dengan bulan Ramadan, warga akan membagikan kue apem.
3. Nyadran
Nyadran merupakan ritual adat yang dilakukan ketika bulan Ruwah
tiba. Warga akan berkumpul untuk membersihkan makam secara
bersama-sama. Setelah makam selesai dibersihkan, acara dilanjutkan
dengan makan bersama. Tak jarang, ritual adat ini juga dilakukan
secara personal dengan mengunjungi makam keluarga,
membersihkan, dan mendoakannya.
4. Padusan
Selain upacara Dugderan dan Mangengan, Semarang masih
memiliki satu tradisi lain yang juga digelar untuk menyambut
Ramadan, yakni Padusan. Upacara adat ini berasal dari Bahasa Jawa
“adus” yang artinya mandi atau membersihkan diri.
Biasanya, upacara Padusan ini dilakukan warga dengan mandi
bersama di satu tempat, seperti kolam pemandian. Warga setempat
yakin bahwa dengan membersihkan diri, ibadah puasa di bulan
Ramadan akan lebih lancar dan berkah.
5. Popokan
Satu lagi ritual adat yang masih dilakukan oleh masyarakat
Semarang hingga kini, yaitu Popokan. Upacara melempar lumpur ini
biasanya digelar pada Jumat kliwon di bulan Agustus. Konon, ritual
ini dulunya berawal dari kisah seekor macan yang mendatangi
daerah Beringin.
Lantaran menganggu dan mengancam keselamatan warga, macan
tersebut diusir menggunakan lumpur. Kini, upacara Popokan
dilakukan untuk menolak bala agar terhindar dari kejahatan dan hal
buruk lainnya.