The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Mestika sari, 2023-04-10 22:42:41

Monograf konservasi Kera Gibbon

Konservasi sumber daya alam

KATA PENGANTAR Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatnya kami dapat menyelesaikan buku ini tepat waktu tanpa ada halangan yang berarti dan sesuai dengan harapan. Ucapan terima kasih penyusun sampaikan kepada ibu Firda Az Zahra, S.Pd, M. Si sebagai dosen pengampu mata kuliah Konservasi Sumber Daya Alam yang telah membantu Memberikan arahan dan pemahaman dalam penyusunan buku ini. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan buku ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan buku ini. Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Penyusun Kelompok 5


DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................... 2 DAFTAR ISI ............................................................................................................... 3 BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 4 A. LATAR BELAKANG ...................................................................................... 4 B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................. 5 C. TUJUAN ...................................................................................................... 5 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 6 A. PENGERTIAN KONSERVASI .......................................................................... 6 B. MENGENAL KERA GIBBON .......................................................................... 7 C. KLASIFIKASI TAKSONOMI ............................................................................. 8 D. HABITAT DAN KEHIDUPAN KERA GIBBON ................................................... 9 E. PERSEBARAN DAN POPULASI KERA GIBBON ............................................... 11 F. KARAKTERISTIK FISIK JERA GIBBON ............................................................. 13 G. FAKTA UNIK KERA GIBBON .......................................................................... 15 H. KARAKTERISTIK DAN PERILAKU KERA GIBBON ............................................ 16 I. ANCAMAN TERHADAP KERA GIBBON ......................................................... 18 J. TINDAKAN KONSERVASI KERA GIBBON ....................................................... 19 K. REPRODUKSI / PERKEMBANGBIAKAN KERA GIBBON .................................. 20 BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 21 A. KESIMPULAN .............................................................................................. 21 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 22


A. Latar Belakang Konservasi sumber daya alam dan lingkungan (KSDAL) adalah tanggung jawab semua umat manusia di muka bumi karena pengaruh ekologis yang ditimbulkan dari berbagai kegiatan pembangunan tidak dibatasi oleh perbedaan wilayah administratif pemerintahan negara. Oleh karena itu, upaya konservasi harus menjadi bagian integral dari pembangunan. Pembangunan yang dilakukan di negara manapun akan terkait dengan kepentingan negara lain maupun kepentingan internasional. KSDAL menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh umat di muka bumi, sehingga perlu dipertimbangkan terjalinnya jaringan kelembagaan baik secara regional, nasional, bahkan internasional. Salah satu contohnya adalah taman nasional. Taman nasional merupakan salah satu bentuk kawasan konservasi yang telah memiliki kelembagaan cukup kuat di berbagai negara. Berbagai bentuk kerja sama internasional diakui sangat berarti bagi negara-negara yang kurang mampu dalam menangani sendiri kawasan konservasi yang dimilikinya. Hal ini mengimplementasikan suatu mekanisme untuk memikul biaya secara bersamasama, melalui pembagian yang adil antara biaya dan manfaat dari pengelolaan kawasan konservasi, baik di antara bangsa dan kawasan yang Dilindungi serta masyarakat sekitarnya. Berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Sumber daya alam yang selama ini menjadi pendukung utama pembangunan nasional perlu diperhatikan keberlanjutan pengelolaannya agar dapat memenuhi kepentingan generasi saat ini dan masa depan. Untuk itu, telah Dilaksanakan berbagai kebijakan, upaya, dan kegiatan yang berkesinambungan untuk mempertahankan keberadaan sumber daya alam sebagai modal dalam Pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan kesejahteraan seluruh bangsa dengan tetap mempertahankan daya dukung dan fungsi lingkungan hidup. Sampai saat ini masih terjadi berbagai kerusakan, pencemaran, dan bencana alam akibat pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang mengesampingkan keberlanjutan fungsi lingkungan hidup. Hal ini menjadi tantangan dalam meningkatkan fungsi lingkungan hidup sebagai penyediaan


sumber daya alam untuk pembangunan nasional. Saat ini masalah yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan hidup semakin kompleks karena dampak perubahan iklim yang sudah dirasakan dan diperkirakan akan bertambah besar apabila tidak diantisipasi melalui kegiatan adaptasi, mitigasi dan konservasi. Kegiatan ini merupakan upaya atau tindakan untuk menjaga keberadaan SDAL secara terus menerus berkesinambungan baik mutu maupun jumlah, sehingga dapat menghemat penggunaan sumber daya Alam dan memperlakukannya berdasarkan hukum alam. Setelah mempelajari Modul ini diharapkan Anda dapat memahami tentang Konservasi Sumber daya Alam dan Lingkungan dan memiliki kemampuan mendeskripsikan wilayah (regional descriptions) berbasis konservasi sumber daya alam dan lingkungan, melakukan pendugaan wilayah (regional forecasting) berdasarkan jenis tipe dan pola sumber daya alam dan lingkungan: menganalisis dan mensintesis wilayah serta melakukan evaluasi wilayah (regional evaluation) dengan pendekatan ke ruangan, ekologi, dan kompleks wilayah berbasis pada konservasi sumber daya alam dan lingkungan. B. RUMUSAN MASALAH A. Apa pengertian konservasi ? B. Mengenal kera gibbon? C. Bagaiamana klasifikasi taksonominya? D. Dimana dan habitat kera gibbon? E. Bagaimana persebaran dan populasi kera gibbon? F. Bagaimana karakteristik fisik kera gibbon? G. Apa saja fakta unik kera gibbon? H. Bagiamana karakter dan perilaku kera gibbon? I. Apa saja ancaman terhadap kera gibbon? J. Bagiamana Tindakan konservasi kera gibbon? K. Bagaimana reproduksi/ perkembangbiakan kera gibbon? C. TUJUAN PENILISAN A. Mendeskripsikan tentang konservasi B. Mendeskripsikan kera gibbon C. Mendeskripsikan bagaimana populasi dan persebaran kera gibbon di Indonesia D. Mendeskripsikan ancaman apa saja yang terjadi pada kera gibbon E. Mendeskripsikan bagaiamana Tindakan dalam melakukan konservasi kera gibbon


A. Pengertian Konservasi Konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau Melindungi alam. Konservasi (conservation) adalah pelestarian atauPerlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris conservation, yang artinya pelestarian atau perlindungan. Sedangkan menurut Ilmu lingkungan, konservasi dapat diartikan adalah sebagai berikut: 1. Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi Yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya: 2. Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan Dan sumber daya alam (fisik): 3. Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kimia Atau transformasi fisik; 4. Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan: 5. Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keanekaragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan Mempertahankan lingkungan alaminya. Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik (Piagam Burra, 1981). Konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara pengawetan (Peter Salim dan Yenny Salim, 1991). Kegiatan konservasi selalu berhubungan dengan suatu kawasan, kawasan itu sendiri mempunyai pengertian yakni wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya (Undang- undang No. 32 Tahun 2009). Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan. Dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Konservasi itu sendiri berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara


bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana). Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi di mana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumber daya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam Beberapa batasan, sebagai berikut. 1. Konservasi adalah menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary). 2. Konservasi adalah alokasi sumber daya alam antarwaktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982). 3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat, sedangkan dalam kegiatan manajemen antara lain meliputi Survei, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968). 4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980). B. Mengenal Kera Gibbon Owa, Keluarga Hylobatidae Grey, 1870 , adalah kera kecil arboreal dari hutan tropis dan semi-gugur di Asia Tenggara dan sebagian Asia Selatan dan Timur. Empat genera dan sekitar 14 spesies saat ini dikenal; beberapa di antaranya terancam punah. Dua alasan membiakkan owa di penangkaran adalah untuk mempertahankan keragaman spesies dan subspesies dan untuk menciptakan kumpulan gen yang layak, dengan tujuan akhir melepaskan hewan ke habitat asli yang dilindungi. Identifikasi taksonomi yang akurat mungkin rumit untuk beberapa spesies karena (1) variasi warna bulu, (2) dikromatisme seksual, dan (3) terjadinya perubahan warna bulu dari bayi hingga kedewasaan seksual, dan untuk semuaspesies (4) karena dampak seperti kekurangan gizi dan tempat tinggal pada pewarnaan (misalnya pemeliharaannya hanya di dalam ruangan atau di bawah sinar matahari penuh), (5) kemudahan vokalisasi spesies yang berbeda dapat membingungkan,


(6) kesulitan dalam membedakan beberapa subspesies owa satu sama lain, dan (7) kesalahan dalam, atau kekurangan, informasi mengenai asal-usul owa yang disita. Mengingat masalah ini, tidak mengejutkan jika pusat penyelamatan dan penangkaran menemui kesulitan dalam mengidentifikasi siapa yang mereka terima. Saya meninjau fitur dan fitur bantuan spesies dan subspesies owa, termasuk informasi dari spesimen museum, owa hidup yang ditempatkan di Pusat Konservasi Gibbon, Santa Clarita, California, dan sejumlah kebun binatang di seluruh dunia. Di timur laut India dan Bangladesh timur melalui Cina selatan, Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra, hingga Jawa dan Kalimantan. Banyak spesies mengalami perubahan warna bulu. Ini mungkin selama masa bayi dan sebelum masa dewasa, dari masa bayi sampai subadulthood, atau dari masa bayi sampai dewasa. Ada juga variasi warna tertentu pada beberapa spesies atau subspesies yang memiliki jangkauan lebih luas yang dapat diidentifikasi berdasarkan distribusi geografisnya.Perubahan warna bulu owa juga dikaitkan dengan faktor lingkungan seperti malnutrisi, kehamilan, usia, menyusui, pewarnaan dari urin atau kelenjar keringat pada bulu terang ( Gbr.1 ) atau pemutihan rambut dalam pelage gelap, dan perumahan (misalnya, di dalam ruangan saja atau di bawah sinar matahari penuh). Ahli taksonomi yang belum berpengalaman mungkin mengalami kesulitan membedakan spesies yang berbeda melalui vokalisasi mereka, yang tetap berbeda dan konsisten. Taksonomi owa pada tingkat subspesifik sulit dan kontroversial untuk dipahami. Beberapa ahli taksonomi menggunakan nama yang berbeda untuk menggambarkan pewarnaan atau spesies yang sama.Dalam beberapa kasus, nama bahasa Inggris yang digunakan untuk mendeskripsikan warna mungkin tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Banyak kajian taksonomi tentang jumlah dan nama genera, spesies, dan subspesies owa telah dilakukan selama bertahun-tahun. C. Klasifikasi Taksonomi Sumber : Wikipedia Berikut adalah klasifikasi ilmiah dari owa:


Kingdom: Animalia Filum: Chordata Kelas: Mammalia Ordo: Primata Subordo: Haplorhini Infraordo: Catarrhini Family: Hylobatidae Genus: Nomascus, Symphalangus, Hoolock, dan Hylobate D. Habitat dan kehidupan Kera Gibbon Sumber : Wikipedia Owa Jawa ( Hylobates moloch ), ditemukan di Jawa Barat, merupakan salah satu hylobatid yang paling langka dan terancam punah. Dua lokakarya yang mempertemukan ahli biologi primata Indonesia, ilmuwan internasional, kebun binatang, lembaga swadaya masyarakat lokal dan internasional, dan organisasi pemerintah, telah dilakukan untuk konservasi spesies ini. Pada tahun 1994, diadakan lokakarya Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) yang berfokus pada distribusi, status, dan populasi ancaman pembohong owa jawa, dan pada tahun 1997 diadakan lokakarya kedua untuk membahas strategi pemulihan dan pemulihan.Hasilnya telah digunakan untuk mengembangkan pedoman untuk menyelamatkan owa jawa di alam liar, dan untuk melacak arah lebih lanjut untuk penelitian, dan pengawasan pemantauan yang tersisa.


Sampai saat ini, pedagang besar adalah sebagai berikut; kemajuan telah dibuat untuk melindungi habitat kubu mereka melalui pembentukan Taman Nasional Gunung Ciremai dan pengembangan koridor konservasi, memasukkan Gunung Salak ke dalam Taman Nasional Gunung Halimun dan memperbesar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang meningkatkan luas keduanya. Taman menjadi total 135.000 ha dan lebih dari dua kali lipat jumlah habitat yang dilindungi untuk owa jawa; program telah disiapkan untuk memantau pasar hewan peliharaan serta populasi di alam liar;pusat penyelamatan dan rehabilitasi telah didirikan, demikian pula program pendidikan dan kampanye kesadaran konservasi menggunakan owa jawa sebagai maskot spesies. Pulau Jawa menandai batas paling tenggara dari wilayah menjelajahi sejumlah primata di daratan Asia. Beberapa di Sumatera dan Kalimantan sudah punah, termasuk kera kuncir, orangutan, dan tarsius. Kepunahan lokal ini diyakini cukup kuno, tetapi ada juga yang terjadi baru-baru ini, hanya beberapa dekade yang lalu, seperti musnahnya harimau Jawa, Panthera tigris javanicus (lihat Seidentsticker 1987 ). Dari lima primata yang hidup di Jawa saat ini, owa jawa, Hylobates moloch (Audebert, 1797) ( Gbr.1 ) dan monyet daun beruban atau surili, Presbytis comata (Desmarest, 1822), sekarang ditawarkan dalam Daftar Merah IUCN Spesies Terancammasing-masing sebagai Critically Endangered dan Endangered ( IUCN 2006 ). Lutung jawa, Trachypthecus auratus (É. Geoffroy, 1812) dan kukang jawa, Nycticebus coucang javanicus É. Geoffroy, 1812 digolongkan sebagai Rentan, dan satu-satunya primata yang masih relatif melimpah di pulau ini adalah kera ekor panjang, Macaca fascicularis (Raffles, 1821) ( Supriatna dan Hendras 2000 ; Supriatna et al . 2001 ). Gambar 1.Owa Jawa jantan dewasa, Hylobates moloch , di Javan Gibbon Center, Bogor, Indonesia. Ada sekitar 14 spesies siamang; semuanya terbatas di Asia ( Marshall dan Sugardjito 1986 ; Groves, 2005 ). Enam ditemukan di Indonesia, di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, tetapi hanya owa jawa yang terdaftar sebagai Sangat Terancam


Punah, menghadapi risiko kepunahan tertinggi karena hilangnya habitat dan perburuan hewan peliharaan (Supriatna et al . 2001 ) . . Owa jawa kini hanya ditemukan di sisa-sisa hutan barat ( H. Moloch moloch ) dan Jawa tengah ( H. Moloch pongoalsoniSodi, 1949). Dua lokakarya telah dilakukan untuk menjaga status konservasi dan membicarakan langkah-langkah konservasi untuk spesies tersebut. Lokakarya Population and Habitat Viability Analysis (PHVA) diadakan pada tahun 1994, dijalankan oleh Kelompok Spesialis Pemuliaan Konservasi (CBSG) IUCN/SSC ( Supriatna et al . 1994 ), dan lokakarya kedua, diselenggarakan oleh Conservation International Indonesia bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Nagao Environment Fund Jepang pada tahun 1997, penelitian khususnya program pemulihan dan rehabilitasi spesies tersebut ( Supriatna dan Manullang 1999 ).Lokakarya tersebut, terutama yang kedua, menghasilkan upaya intensif dari para ahli, pemerintah, dan organisasi konservasi untuk menyelamatkan air jawa. Selama dua dekade terakhir, banyak perhatian telah diberikan untuk perkiraan populasi owa yang bertahan hidup di hutan-hutan kecil di Jawa bagian barat dan tengah ( Asquith 1995 ; Asquith et al . 1995 ; Nijmen dan van Balen 1998 , Supriatna et al . 1998 ; Djanubudiman dkk 2004 ; Nijman 2004 ). Sejumlah mahasiswa dan ilmuwan telah melakukan survei di lokasi tertentu seperti Hutan Lindung Gunung Slamet ( Supriatna dkk . 1992 ), Taman Nasional Ujung Kulon ( Gurmaya 1992 ; Wibisono 1995).), Taman Nasional Gunung Halimun ( Sugardjito et al . 1997 , Sugardjito dan Sinaga 1999 ), Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ( Purwanto 1996 ; Rahardjo 2003 ), Kawasan Lindung Gunung Simpang ( Subekti 2003 ), dan Kawasan Lindung Gunung Tilu ( Al Rasyid 2003 ) ) ). Ada banyak inisiatif dan kampanye untuk menyelamatkan owa jawa. Yang menonjol adalah media kampanye dan program pendidikan di Pusat Pendidikan Konservasi Badogol di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang didirikan dan didukung oleh Manajemen Taman Nasional Gunung Gede, Conservation International, Yayasan Alami, dan Universitas Indonesia. Setiap tahun lebih dari 5.000 orang mengunjungi situs tersebut. Tujuannya adalah untuk melaporkan dan menceritakan nasib buruk di jawa dan mempromosikan pemahaman tentang hubungan antara menyelamatkan satwa liar dan manfaat bagi masyarakat dalam mengamankan hutan alam mereka. E. Persebaran dan Populasi Kera Gibbon


Surveipopulasi pertama owa jawa dilakukan pada tahun 1978 oleh Kappeler (1984) . Dia mengidentifikasi 25 populasi di patch hutan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Asquith dkk . (1995) mensurvei ulang populasi yang ditemukan oleh Kappeler dan mengidentifikasi populasi lebih lanjut di Jawa bagian barat dekat Gunung Simpang. Laporan Lokakarya Owa Jawa dan Lutung Jawa (PHVA) tahun 1994 menunjukkan tidak lebih dari 400 owa jawa di kawasan lindung (30 di antaranya), dengan 386 hingga 1.957 lainnya hidup di 23 petak hutan di tempat lain (Supriatna et al . 1994 ) . Asquith dkk . (1995)diperkirakan kurang dari 3.000 individu di Jawa Tengah dan Barat. Sebuah survei berikutnya dari tahun 1994 hingga 1997 mengungkap sejumlah lokasi dan populasi baru di Taman Nasional Ujung Kulon dan Gunung Halimun, yang sekarang menjadi dua tempat utama spesies ini ( Supriatna et al . 1998 ). Supriatna dkk . (2001) memperkirakan populasi 400-2.000. Populasi lebih lanjut diungkapkan oleh Nijman dan rekan-rekannya; satu di kawasan kecil hutan di Jawa Barat, dan lainnya di tiga hutan besar dan signifikan di Jawa Tengah, di lereng selatan Gunung Segara (Pegunungan Pembarisan), Gunung Cupu-Simembuat, dan Gunung Jaran (Nijman dan Sözor 1995 ; Nijman dan van Balen 1998 ;Nijman 2004 ). Nijman (2004) menunjukkan jumlah owa liar di Jawa antara 4.000 dan 4.500. Setelah survei selama setahun, Djanubudiman et al . (2004) memperkirakan populasi antara 2.600 dan 5.304.


Banyak petak hutan yang memelihara owa berukuran kecil dan memiliki kurang dari 10 individu — jumlah yang jauh di bawah ambang batas demografis dan genetik untuk persistensi jangka menengah hingga jangka panjang ( Lande 1988 ). Mereka jelas berada dalam risiko kepunahan yang tinggi kecuali dilakukan upaya konservasi yang intensif. Meskipun program konservasi sebaiknya difokuskan terutama pada populasi inti seperti di taman nasional Gunung Halimun, Gunung Gede Pangrango, dan Ujung Kulon (Supriatna et al . 1994), pertimbangan harus diberikan pada populasi yang lebih kecil yang berfungsi sebagai batu loncatan kritis. Konser memungkinkan pemeliharaan genetik, pertukaran genetik, penyebaran dan kolonisasi — proses penting untuk mempertahankan hidup jangka panjang spesies ini. Sebagian besar owa Jawa yang masih hidup kini terkurung dalam populasi kecil di petak-petak hutan yang terisolasi. Dengan berkembangnya populasi manusia dan masa depan yang tidak pasti dari hutan yang sudah langka dan terfragmentasi, ada kebutuhan untuk membangun suaka margasatwa untuk memungkinkan penyelamatan dan translokasi kelompok owa yang ditemukan dan diisolasi sebelum hutan mereka dihancurkan. Meskipun translokasi satwa liar masih penuh dengan kesulitan, strategi ini mungkin merupakan satu-satunya pilihan konservasi dalam kasus ini, terutama ketika begitu banyak hutan di Jawa dijadwalkan akan segera dimusnahkan. Translokasi kelompok yang diselamatkan terbukti menjadi komponen yang sangat sukses dari keseluruhan strategi konservasi tamarin singa emas ( Leontopithecus rosalia) di hutan Atlantik Brasil. Pada awal 1990-an, 42 singa tamarin dalam enam kelompok, masing-masing terisolasi di sisa-sisa hutan kecil, ditangkap dan dibawa ke hutan yang aman. Mereka tumbuh subur, dan pada Mei 2006, dikumpulkan lebih dari 250 dalam sekitar 25 kelompok, yang terdiri dari sekitar 18% dari seluruh populasi (1.400) di alam liar ( Kierulff et al Informasi tersebut akan berkontribusi pada keputusan apakah strategi tersebut diperlukan dan dapat. 2002dibenarkan dan, jika jawabannya positif, akan memungkinkan populasi mana yang harus diberi prioritas hutan tertinggi ( Avice 1994 ). Mei 2006 ) . Pemantauan lama dan studi mendalam tentang demografi, ekologi, dan perilaku mereka perlu mengikuti program semacam ini. Analisis sedang berlangsung untuk menentukan tingkat dan sifat variabilitas genetik dalam populasi yang tersisa dan tingkat perbedaan di antara mereka. Meskipun perkiraan jumlah populasi yang tersisa dapat bervariasi, tidak diragukan lagi ancaman signifikan yang dihadapi semua populasi saat ini: terutama dari degradasi dan fragmentasi habitat yang terus berlanjut. Saat ini hampir semua habitat owa jawa yang tersisa adalah hutan sub-pegunungan dan pegunungan (Gunung artinya gunung). Pengecualian utama adalah Taman Nasional Ujung Kulon,


tetapi ada juga sebagian kecil hutan dataran rendah di taman nasional Gunung Halimun dan Gunung Gede.Hanya tiga taman nasional di Jawa Barat, Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun, dan Ujung Kulon, yang berpotensi memelihara populasi lebih dari 100 ekor, namun beberapa kawasan lindung (Gunung Simpang, Gunung Tilu dan Telaga Warna) dan hutan lindung untuk DAS (Gunung Kendeng , Gunung Papandayan) juga memiliki jumlah owa yang signifikan. F. Karakteristik Fisik kera Gibbon atau Owa Kera Gibbon merupakan hewan arboreal, yaitu sebagian waktunya dihabiskan berada di kanopi pohon bagian tengah ke atas. Hewan ini tidak mempunyai kemampuan berenang sehingga cenderung mengindari air. Kera Gibbon tersebar di habitat hutan tropis Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia, Indonesia dan kawasan selatan Semenanjung Thailand. Umumnya hewan ini hidup di daerah dataran rendah, hutan pegunungan, hutan hujan dipterokarpa atas dan area perbukitan. Di Indonesia, sebaran utama primata berbulu hitam ini berada di wilayah Sumatera. Pegunungan Barisan bagian barat hingga tengah adalah habitat utamanya. Sedangkan di Malaysia, siamang hidup di kawasan selatan Sungai Perak. Beberapa kawasan lindung yang menjadi tempat tinggal siamang, antara lain: Indonesia: Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Sumatera, Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatera, Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera Utara, Taman Nasional Way Kambas di Sumatera bagian selatan, dan Suaka Margasatwa Langkat Barat di Sumatera Utara.


Sumber : Museum Biologi 1. Bentuk Tubuh Tubuh siamang mirip seperti kera pada umumnya, namun dengan ukuran lebih besar serta tidak memilki ekor. Wajahnya besar dengan hidung yang kecil, bermoncong pendek dan diatas bibirnya tumbuh kumis tipis. Karakteristik siamang yang sangat khas adalah adanya kantung pada tenggorokan yang disebut kantung gular. Kantung di tenggorokan tersebut dapat membesar hingga seukuran jeruk bali atau bola. Kantungnya berwarna merah muda atau abu-abu. Kantung siamang berfungsi sebagai kotak suara untuk memperkaut vokalisasi suara agar lebih keras. Suara siamang sanga keras dan nyaring, sehingga dikenal sebagai owa paling berisik. 2. Ukuran Tubuh Dibandingkan dengan jenis owa atau gibbon lain, siamang mempunyai ukuran dan berat lebih atau sekitar dua kali lipat. Berat badannya antara 10 sampai 12 kg untuk betina, serta jantan sekitar 12 sampai 16 kg. Panjang atau tinggi tubuhnya sekitar 71 hingga 90 cm. 3. Tangan Lengan siamang bentuknya ramping dan panjang. Panjang tangganya mencapai 2,3 hingga 2,6 kali panjang tubuhnya. Lengan panjang tersebut memudahkan dalam bergerak dari satu pohon ke pohon lain secara cepat.


Jumlah jarinya seperti jari manusia, yaitu 5 dengan 1 ibu jari berlawanan arah dan 4 jari lain tumbuh memanjang. Meski berjumlah sama, namun panjang jari tangan siamang lebih panjang dibanding jari manusia. Selain untuk bergelantung di ranting pohon, tangannya juga digunakan untuk menangkap dan menggenggam. 4. Kaki Ukuran kaki owa siamang lebih pendek dibanding tangannya. Kakinya berguna untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara berjalan. Fungsi kaki tersebut sesuai dengan nama ilmiahnya, yaitu Symphalangus yang berasal dari bahasa Yunani. “sum” dan “phalanx” berarti “bersama” dan “jari”. 5. Warna Mata siamang berwarna gelap. Hampir seluruh tubuhnya tertutupi oleh rambut lebat dan panjang, kecuali bagian jari, telapak kaki dan tangan, serta area wajah.Rambut siamang dewasa berwarna hitam, kecuali pada area mulut dan dagu dengan warna rambut abu-abu. Sedangkan saat masih bayi atau kecil, seluruh warna bulu atau rambutnya adalah hitam. G. Fakta Unik Kera Gibbon Berikut adalah ringkasan dari fakta-fakta unik yang dimiliki oleh primata siamang, antara lain: 1. Owa Terbesar di Dunia Dibandingkan dengan 18 jenis Owa lain di dunia, siamang termasuk salah satu jenis owa terbesar di dunia. Meski dinobatkan seperti itu, namun tubuhnya belum sebanding dengan primata lain seperti gorila, orang utan dan simpanse. Rata-rata ringgi siamang sekitar 71 sampai 90 cm dengan bobot 10 hingag 16 kg. 2. Takut Air Keseharian siamang dihabiskan untuk berkeliling, mencari makanan, serta tempat istirahat. Hal tersebut dilakukan karena primata ini tidak membangun sarang tetap seperti primata lainnya. Hewan ini sangat suka berayun di pepohonan dan jarang beraktivitas diatas tanah. Selain itu, siamang juga cenderung menghindari genangan air karena tidak memiliki kemampuan berenang. Bahkan saat minum, ia akan menjaga tubuhnya agar tidak terkena air dengan cara mencelupkan tangannya atay menggosok daun basah.


3. Kebiasaan Tidur Aneh Primata yang disebut sebagai owa terbesar di dunia ini mempunyai kebiasaan tidur yang unik. Siamang akan beristirahat atau tidaur dengan menyangga atau menggantungkan tubuhnya di pepohonan. 4. Suara Unik Adanya kantung tenggorokan berwarna merah muda keabu-abuan merupakan salah satu ciri khas urama dari siamang. Kantung tenggorokan tersebut dapat menggembung hingga seukuran jeruk bali. Kantung tersebut akan menggembung saat siamang mengeluarkan suara atau melakukan panggilan. Suara yang dihasilkannya sangat keras dan berisik. Kantung tenggorokan siamang mampu menghasilkan dua suara utama, yaitu dentuman keras ketika mulutnya tertutup serta seperti bunyi “wow” saat mulutnya terbuka. Selain itu, owa besar ini juga sanggup mengeluarkan suara menyerupai gonggongan anjing. Suara-suara siamang tersebut bertujuan untuk komunikasinya antara sesamanya serta sebagai peringatan terhadap wilayah kekuasaanya. 5. Tidak Memiliki Ekor Salah satu fungsi dari ekor pada primata adalah untuk bergelantungan di cabang pohon. Namun pada siamang, ia tidak memiliki ekor. Meski begitu, ia dapat berayun dan bergelantungan hanya menggunakan lengan panjangnya. Tidak adanya ekor tersebut menjadi salah satu ciri khas siamang sehingga membedakannya dengan jenis primata lainnya. Selain itu, ciri utama lain dari owa besar ini adalah adanya kantung tenggorokan yang dapat membesar serta rambut tubuh berwarna hitam. 6. Pandai Berayun dan Memanjat Siamang bisa dikatakan sebagai primata akrobatik, yaitu jenis primata dengan kemampuan memanjat sangat baik. Hal ini dikarenakan postur lengannya yang panjang dan kuat sehingga memudahkan dan memungkinkannya untuk berayun sejauh 3 meter dalam sekali ayun.


Selain itu, tubuhnya yang ramping dan ringan sangat mendukung untuk berayun dan memanjat pohon lebih mudah. Uniknya, ibu jari siamang sanggup berputar hingga 1800 sehingga memudahkan untuk menggenggam apapun. 7. Hewan Setia Siamang dikenal sebagai hewan setia. Primata ini termasuk golongan hewan monogami atau hanya mempunyai satu pasangan seumur hidupnya. Bahkan saat pasangannya mati, siamang tidak akan mencari pasangan lagi. Selain itu, dalam kelompok keluarga, mereka akan saling merawat, melindungi, dan bekerja sama dalam memelihara keturunannya. H. Karakteristik dan Perilaku kera Gibbon Secara alami, siamang memiliki usia hidup yang cukup lama, yakni antara 35 tahun hingga 44 tahun. Gibbon atau siamang adalah satwa teritorial dengan wilayah yang termasuk kecil. Wilayah hidupnya sekitar 0,24 km² dan wilayah jelajahnya sekitar 15 sampai 35 hektar. Primata jantan dan betina akan memberikan tanda dan mempertahankan wilayahnya dengan mengeluarkan suara. Suara tersebut akan menggema di rimbunnya hutan sehingga dapat didengar dari kejauhan. Selain sebagai cara untuk mempertahankan wilayahnya, suara tersebut juga berguna untuk menjaga ikatan pasangan kawin. Siamang sangat suka beristirahat atau tidur sehingga nampak seperti hewan pemalas. Primata ini banyak menghabiskan waktunya berbaring di cabang pohon dan akan bergerak saat mencari makan, serta melakukan kegiatan sosial. Hal tersebut biasanya dilakukan secara berkelompok dan aktif pada siang hari. Untuk berkomunikasi dan meningkatkan ikatan sosial pada kelompoknya, siamang menggunakan ekspresi wajah dan perilaku. Primata ini akan bersosialsaso dalam kelompok kecil yang terdirid ari 2 sampai 3 ekor. Contoh interaksi sosial adalah saling melakukan perawatan diri dengan membersihkan rambut dengan jari secara bergantian. Biasanya siamang dewasa memerlukan waktu 15 menit untuk merawat bulubulunya. Fakta menarik di alam liar, umumnya semakin dominan spesies maka akan lebih banyak perawatan yang diperoleh dari anggota kelompoknya. 1. Makanan


Sebagian besar kehidupan satwa omnivora ini dihabiskan untuk mencari makanan. Siang merupakan hewan pemakan segala, dimana sekitar 75% dari asupan makanannya berupa sayuran dan buah-buahan. Disamping itu, hewan ini juga memakan biji-bijian, bunga kulit kayu, daun, burung kecil, serangga, telur burung dan lainnya. Sedangkan makanan favoritnya adalah buah ara, yaitu buah yang mirip dengan buah tin. Ketika bergelantungan di cabang pohon, siamang akan memilih dan memetik buah yang telah matang dan membiarkan buah yang masih mentah. Hewan ini sangat menyukai makanan manis dengan akdar gula tinggi. Buah-buahan akan dikonsumsi pada awal hari, tujuannya adalah agar memperoleh energi lebih banyak. Siamang tidak mempunyai kemampuan berenang dan cenderung takut air. Kondisi ini berpengaruh terhadap caranya untuk minum, sehingga terlihat sangat unik. Ia akan bergelantung diatas pohon kemudian mencelupkan tangan untuk mengambil air atau menggosok daun yang basah. 2. Predator Kera siamang ada;ah hewan yang lincang dengan pergerakan cepat, sehingga predator akan sulit untuk menangkap / memangsanya. Namun biasanya jika primata ini sedang lengah, maka akan dimangsa oleh elang, ular, dan macan tutul. 3. Peran Bagi Ekosistem Sebaran tumbuhan merupakan salah satu mekanisme alami agar populasi tumbuhan tetap ada dan berlangsung. Sebaran melalui penebaran benih dapat dilakukan dengan perantara angin atau anemokori, tumbuhan sendiri atau autokori, air atau hidrokori, dan hewan atau zookori. Dalam hal ini, siamang mempunyai peran yang cukup penting. Peran siamang dalam ekosistem adalah sebagai penebar benih alami karena sebagai pemakan buah serta mempunyai mobilitas berpindah tempat yang tinggi dan luas. Kemampuannya sebagai penebar benih sangat berpengaruh terhadap proses regenerasi hutan dan ketersediaan makanan bagi hewan lain. I. Ancaman terhadap Kera Gibbon Sebuah pulau seluas sekitar 130.000 km 2 (sedikit lebih besar dari Negara Bagian New York), Jawa telah penuh sesak selama 200 tahun terakhir. Sebelum kemerdekaan pada tahun 1945, pemerintah Belanda berusaha memindahkan sebagian penduduknya ke pulau lain untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Laju peningkatan populasi dipercepat pada abad ke-19, dan pada abad


ke-20, dan dalam 40 tahun dari 1961 hingga 2000, populasi Jawa hampir dua kali lipat, dari 63 juta menjadi lebih dari 115 juta (Whitten et al . 1996 ; Biro Pusat Statistik 2006 ).Populasi manusia yang berkembang pesat dan sejarah pertanian yang panjang di pulau ini, setidaknya sejak 1.000 tahun yang lalu, telah secara signifikan mengurangi tutupan hutan Jawa. Whitten dkk. (1996) memperkirakan bahwa lebih dari 1,5 juta ha telah hilang menjadi lahan pertanian dan perkebunan jati pada tahun 1000 M. Sebelum Perang Dunia II, hutan Jawa telah berkurang hingga 23% dari luas aslinya (Seidensticker 1987 ) . Pada tahun 1973, ini turun menjadi 11%, dan pada tahun 1990, menjadi sekitar 7% — hanya 0,96 juta ha sisa hutan ( FAO 1990 ). Sebagian besar hutan alam yang tersisa saat ini berada di taman nasional atau bentuk kawasan lindung lain yang efektif, termasuk untuk konservasi daerah aliran sungai. Tutupan “hutan” yang luas di pulau ini berupa hutan tanaman (jati, pinus, dan lainnya), hutan rakyat campuran, atau kawasan hutan penelitian (silvikultur). Jawa terus kehilangan hutannya – begitu signifikan menyusul desentralisasi pengelolaan hutan oleh pemerintah Indonesia ke kabupaten-kabupaten. Pada tahun 2001, pemerintah pusat mengadopsi undang-undang baru tentang tanggung jawab pengelolaan sumber daya alam dan alokasi anggaran terkait. Pengelolaan hutan, kecuali untuk kawasan konservasi, telah diserahkan kepada pemerintah daerah, beberapa di antaranya berfokus pada keuntungan ekonomi jangka pendek dari kegiatan seperti penebangan, daripada pengelolaan sumber daya alam jangka panjang yang berkelanjutan. Salah satu penyebab masih adanya ancaman tersebut adalah masyarakat setempat, termasuk para pengambil keputusan, tidak memiliki informasi yang memadai tentang pentingnya konservasi, dan manfaat jangka panjang yang dapat diperoleh masyarakat lokal dari hutan tersebut, seperti jasa daerah aliran sungai. . Keseimbangan lima tahun desentralisasi dalam tanggung jawab pengelolaan hutan merupakan salah satu dari hilangnya hutan lebih lanjut di Jawa. Citra satelit selama 10 tahun, dari 1985 hingga 1997, menunjukkan pengurangan tutupan hutan tidak hanya di hutan lindung DAS tetapi juga di kawasan lindung ( Holmes 2000 ). Hutan Kawasan Lindung Gunung Simpang kehilangan hampir 15% (dari 15.000 ha) selama ini, Taman Nasional Ujung Kulon kehilangan 4% dari 76.100 ha, dan Taman Nasional Gunung Halimun kehilangan 2,5% dari 42.000 ha (direktur, Kawasan Konservasi Balai Kementerian Kehutanan pers .comm.2001). Perdagangan hewan peliharaan merupakan masalah besar lainnya bagi owa jawa. Dipercayai bahwa seluruh populasi kedua (hampir 300 orang) ditahan secara ilegal di penangkaran di Indonesia; paling sering sebagai hewan peliharaan ( Supriatna et al . 1994 ). Pesisir utara pulau Jawa merupakan rute utama perdagangan primata bukan manusia Indonesia, termasuk kera kecil dari Jawa ( Malone et al . 2004 ). Dengan demikian, pemburu owa jawa di seluruh pulau kemungkinan terlibat dalam pasokan dan sumber perdagangan primata ilegal dan pembohong satwa


lainnya.Salah satu tantangan terbesar dalam menegakkan peraturan adalah kemauan pihak berwenang untuk terlibat dan melaksanakan prosedur peradilan yang diperlukan. Penebangan liar, penebangan untuk kayu bakar dan industri konstruksi lokal, perambahan kawasan lindung, dan perdagangan ilegal satwa liar tersebar luas namun tidak dihukum. J. Tindakan Konservasi untuk Kera Gibbon Pada Mei 1994, lebih dari 50 orang berpartisipasi dalam lokakarya PHVA untuk owa jawa ( Supriatna et al . 1994 ). Lokakarya tersebut menetapkan pedoman untuk manajemen program penangkaran, tidak hanya sebagai perlindungan terhadap kepunahan, tetapi juga untuk merasionalisasi dan memfasilitasi penempatan barang yang ada. Yang juga sangat dianjurkan adalah kampanye kesadaran publik yang berfokus pada ancaman terhadap air jawa dan habitatnya. Lokakarya lanjutan mengembangkan kriteria pemilihan lokasi, pedoman prosedur karantina dan kebijakan dokter hewan, dan rekomendasi mengenai desain kandang, nutrisi, sumber populasi, rehabilitasi, dan program pendidikan dan penelitian, selain rencana untuk mendirikan pusat rehabilitasi dan rehabilitasi owa jawa. Pada hari terakhir konferensi, sebuah kelompok kerja dibentuk untuk menyusun pedoman untuk membangun manajemen program tawanan. Rekomendasi langsung termasuk pengawasan hewan peliharaan, pembuatan buku pejantan owa jawa, penyusunan manual pembuatan owa, dan pelatihan teknik kesehatan dan peternakan owa untuk staf Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI). Belum semua rekomendasi ini ditindaklanjuti, namun tetap menjadi prioritas. Pengawasan hewan peliharaan dan owa yang diadakan di kebun binatang Indonesia dilakukan pada tahun 1996 ( Supriatna dkk . 1998). Informasi dihimpun dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta, kemudian diverifikasi, pengecekan ke kebun binatang dan pemilik hewan peliharaan. Jumlah hewan peliharaan yang terdaftar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta masing-masing sebanyak 54, 41, dan 36 ekor. Sebagian besar hewan peliharaan ditemukan dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk, dan beberapa diperdagangkan atau mati karena parasitosis atau penyakit menular ( Supriatna et al . 1998 ). Studbook dijalankan dari Kebun Binatang Perth, Australia, sementara rekomendasi lainnya, seperti pelatihan kesehatan owa dan mengembangkan manual untuk peternakan owa, dilakukan setelah lokakarya penyelamatan dan rehabilitasi pada tahun 1999. Untuk mengambil tindakan dalam mengekang perdagangan ilegal owa, melipatgandakan upaya mereka untuk berpatroli di taman yang ada, membuat program untuk menyatukan populasi baik di dalam maupun di luar kawasan lindung, dan untuk mencegah perdagangan dengan konservasi hewan peliharaan dan menempatkannya dalam program rehabilitasi.


Reformasi kehutanan Indonesia bergerak cepat, dengan minat yang semakin besar di antara para pemangku kepentingan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan keberlanjutan yang lebih besar di sektor kehutanan, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya hutan mereka. Ada kekhawatiran yang berkembang mengenai ketentuan pengelolaan jangka panjang yang efektif untuk sistem kawasan konservasi Indonesia yang luar biasa — di Jawa yang terdiri dari hampir 90% sisa hutan di pulau itu. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk mengimplementasikan program demonstratif untuk mendapatkan dukungan publik atas potensi manfaat langsung dan tidak langsung dari taman nasional. Pesona owa jawa yang terancam punah dapat digunakan untuk mengembangkan program ekowisata, dan menghasilkan pendapatan bagi semua pemangku kepentingan di dalam dan sekitar tempat perlindungan terjadinya. Perundang-undangan yang mengatur otonomi daerah, yang mulai berlaku pada bulan Januari 2001, secara mendasar membentuk kembali hubungan antara Jakarta dan pemerintah daerah untuk semua sektor, termasuk kebijakan, legislasi, dan administrasi pangkalan. Pemerintah daerah sangat ingin meningkatkan pendapatan mereka dari sumber daya alam, termasuk upaya untuk memungut pajak atas operasi yang dikendalikan oleh swasta dan negara. Pejabat kabupaten dan provinsi sekarang diizinkan untuk mengesahkan peraturan daerah. Ini mungkin memiliki implisit negatif atau positif untuk konservasi hutan dan mata kebutuhan masyarakat adat.Salah satu perwujudan positifnya adalah peningkatan fasilitas dan kapasitas LSM untuk melobi peraturan daerah yang mengakui hak-hak masyarakat adat atas sumber daya alam dan mendorong pemanfaatan hutan dan sumber dayanya secara berkelanjutan. Implikasi negatif yang potensial adalah bahwa administrator kabupaten sekarang dapat mengeluarkan banyak izin bagi perusahaan lokal untuk mengeksploitasi hutan mereka. Gerakan ini harus diantisipasi oleh para konservasionis dan petugas konservasi pemerintah, mendorong partisipasi lokal yang lebih besar dalam keputusan alokasi sumber daya, dan menuntut akuntabilitas yang lebih besar dari pihak pemerintah daerah. Rekomendasi utama mengenai penerapan pengelolaan konservasi ow jawa yang beralasan ilmiah adalah perlunya penelitian tentang genetika populasinya. Terdapat bukti genetik bahwa owa jawa terbelah, sekitar 100.000 tahun yang lalu, menjadi dua garis keturunan yang berbeda, barat dan tengah ( Supriatna et al . 1999 ; Andayani et al . 2001 ). Temuan ini harus dipertimbangkan ketika merencanakan relokasi kelompok dari habitat yang rusak – taktik penting untuk konservasi variabilitas genetik spesies.Penelitian tentang genetik spesies ini sampai saat ini didasarkan pada jumlah sampel yang terbatas, dan setiap rencana translokasi pertama-tama harus didasarkan pada pemahaman yang lebih lengkap tentang demografi dan genetika spesies di berbagai bagian jangkauannya. Jika kita


masih bisa mempertahankan hutan yang tersisa saat ini, dan menghilangkan tekanan perburuan, masih ada harapan untuk mempertahankan hidup owa jawa. K. Reproduksi / Perkembangbiakan Kera Gibbon Siamang termasuk kategori hewan monogami, artinya primata ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Bahkan jika pasangannya telah mati, maka kera ini umumnya tidak akan mencari pasangan lain lagi. Meski begitu, ada beberapa kera siamang yang melakukan poligami dengan pasangan lebih dari satu. Kemampuan reproduksi secara matang biasanya dicapai pada usia 6 sampai 9 tahun. Primata ini tidak berkembangbiak secara musim, sehingga umumnya hanya menghasilkan 1 atau 2 keturunan dalam kurun waktu 3 tahun. Sehingga secara keseluruhan dalam hidupnya, betina sanggup melahirkan hingga 10 anak. Masa kehamilan betina adalah 230 hingga 235 hari atau selama 7 bulan. Siamang yang baru lahir warnya abu-abu, merah muda dan berambut pendek. Berat bayi tersebut sekitar 400 hingga 600 gram. Setelah lahir, bayi akan terus bersama induknya dengan cara digendong saat pergi kemanapun. Kemudian sekitar 3 bulan setelahnya, waktu gendong bayi akan mulai berkurang dan durasi kontak antara induk dan bayi semakin menurun. Saat menginjak usia 1 tahun, maka tugas merawat bayi dilakukan oleh siamang jantan meskipun masih disusui oleh betina hingga umur 2 tahun. Selain diasuh oleh induk jantan, bayi tersebut juga akan diasuh oleh kelompok lain. Dalam komunitasnya, jantan juga bertugas untuk mempertahankan wilayah, merawat anggotanya, serta membela dari serangan musuh. Jika bayi siamang mempunyai saudara yang lebih tua, maka juga akan dibantu merawat oleh saudara tuanya tersebut. Selama masa ini, bayi akan diajarkan cara interaksi sosial, mencari makan dan cara bergerak di cabang pepohonan. Bayi siamang akan tetap tinggal dengan keluarga hingga usia 7-8 tahun.


A. Kesimpulan kesimpulan dari monograf ini dan menekankan pentingnya menjaga kelangsungan kera Gibbon atau Owa Indonesia di alam liar. Di sini, kita akan mengingatkan pembaca tentang dampak yang akan terjadi jika spesies ini punah dan mengajak masyarakat untuk bergabung dalam upaya konservasi. Sekian monograf mengenai kera Gibbon Indonesia. Semoga monograf ini dapat membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelangsungan hidup spesies ini dan mendorong upaya konservasi yang lebih besar untuk melindungi spesies


DAFTAR PUSTAKA Djanubudiman G, Setiadi MI, Wibisono F, Arisona J, Mulcahy G, Indrawan M. 2004. Current Distribution and Conservation Priorities for the Javan- Gibbon (Hylobates moloch). Project Report. Yayasan Bina Sains Hayati Indonesia (YABSHI) dan Pusat Studi Biologi Konservasi (PSBK) Universitas Indonesia Ekonomi, dan Medis dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Seminar Primatologi Indonesia. Nijman, Derk-Jan J.M. 2004. Supporting Transfer of Training Effects of The Supervisor. University of Twente,Enschede. Randall, A., 1982. Resources Economic, an Economic Approach to Natural Resources and Environment Policy. Illinois. Supriatna, J. (2000). Konservasi Satwa Primata, Tinjauan Aspek Ekologi. Sosial Supriatna, J. (2006). Conservation programs for The Endangered Javan Gibbon. Jakarta: Primates Conservations. Wahyuni, NMD, Dalem, A.AGR, Ginantra, IK 2015. Aktivitas Mendapatkan Makanan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raffles) Di Destinasi Wisata Pura Luhur Uluwatu, Bali. Jurnal Biologi. Vol. 19 (1) :6-14.


Click to View FlipBook Version