Muntilan, Magelang, DESA NGARGOMULYO LIVE IN SMP SANTA URSULA 2024 Edisi Pertama | April 2024 SERUNYA BELAJAR DI DESA!
Halo semua yang sedang membaca! Bagaimana kabar kalian? Kami dari kelompok 7 ingin mengucapkan banyak terima kasih karena kalian sudah mau memilih untuk membaca majalah kami “Sagoture” yang berarti Sanurian Goes to Nature. Sanurian Goes to Nature yang berarti Sanurian pergi menjelajahi alam adalah judul majalah kami. Kami memilih judul ini karena kegiatan live in yang kami lakukan di desa Ngargomulyo adalah beradaptasi dengan lingkungan dan menjelajahi alam. Hal ini juga sinkron dengan tema live in kami yang kami laksanakan pada bulan Maret 2024. Live in kami dilaksanakan di desa Ngargomulyo di mana kami terbagi oleh 2 dusun, yaitu dusun Brahman dan dusun Kalibening. Kami melaksanakan berbagai macam kegiatan disana. Kegiatannya berupa jejak pangan yang diisi dengan menanam dan memasak bersama, jelajah alam, dan pentas seni. Dari kegiatan tersebut, kami memilih jelajah alam sebagai tema besar dari majalah kami. Alasannya adalah bagi kami, jelajah alam merupakan pengalaman paling berkesan dan paling ditunggu-tunggu dari bulan-bulan sebelumnya. Sekali lagi terima kasih telah memilih majalah kami untuk dibaca dan selamat menikmati isi dari majalah kami ini! Salam Redaksi!
DAFTAR ISI:
Bu Evy Sosok Perempuan Pekerja Keras Kisah Hidup Orang TuaBu Evy adalah seorang Ibu rumah tangga pekerja keras berusia 30 tahun yang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Dahulu Ia tinggal di Yogyakarta dan bekerja sebagai penari, lalu ia pindah ke magelang karena mengikuti suaminya. Ia membantu suaminya mencari nafkah dengan bekerja ke luar negeri sebagai pegawai restoran domino pizza. Suami Bu Evy bekerja sebagai supir truk. Tetapi, Bu Evy berhenti bekerja dan memutuskan menjadi rumah tangga karena ingin mengurus anaknya yang baru berusia 7 bulan. Bu Evy tidak pernah mengeluh dalam melaksanakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Bu Evy selalu bangun pagi untuk memasak dan membersihkan rumah. Bu Evy juga mengatakan bahwa tinggal di desa sangat terasa damai dan tenang. Bu Evy mengajarkan saya untuk bersyukur dengan semua yang telah diberikan Tuhan. Bu Evy berpesan bahwa saya harus rajin belajar dan berusaha keras untuk menjalani hidup. Bu Evy mengatakan bahwa mencari nafkah bukanlah hal yang mudah. Ia dan Pak Yanto (suami) bekerja banting tulang demi menghidupi anak-anaknya. Setelah saya berbincang dengan Bu Evy saya menjadi lebih bersyukur dan semangat untuk belajar yang rajin agar nanti bisa menjadi orang sukses. Saya juga menjadi sangat mengerti bahwa menjalani hidup tidak segampang yang saya bayangkan. Dari cerita hidup Bu Evy saya belajar untuk bersyukur dan berjuang untuk hidup agar menjadi orang yang lebih baik. Pada saat live in, saya mewawancarai orang tua saya. Bapaknya bernama Markus Dirun. Ia dulu bekerja sebagai purna TNI dan sekarang menjadi seorang petani. Ia lahir pada tanggal 12 Juli 1957. Ia beragama Katolik. Ibunya bernama Yuliah dan ia bekerja sebagai petani cabe ori (cabe yang sangat pedas). Ia lahir pada tanggal 12 Januari 1966. Ibunya dulu beragama Islam tetapi berubah menjadi Kristen pada pernikahan pertamanya dan setelah menikah Pak Markus ia berubah menjadi Katolik.Bu Yuliah memiliki 4 anak kandung dan Pak Markus memiliki 2 anak. Mereka berdua berasal dari Magelang. Pak Markus tidak berbicara terlalu banyak tentang anaknya tetapi ibunya berbicara banyak. Anaknya Bu Yuliah sudah bekerja semua. 3 anaknya bekerja di Jakarta sebagai guru yaitu Pak Dudi, Pak Fredi, dan Pak Bobi. Anak keempat bekerja di Jogja sebagai OJK. Anaknya semuanya sudah dibaptis sejak mereka bayi. Pak Markus dan Bu Yuliah sudah menikah selama 7 tahun lamanya. Mereka bertemu karena tinggal sebagai tetangga. Ketika mereka bertemu, mereka bertemu sebagai seorang duda dan seorang janda. Mereka bertemu setelah sudah tua. Kedua pasangannya sudah meninggal. Mereka menikah kembali dengan satu sama lain. Tokoh yang menginspirasi bagi mereka adalah Tuhan Yesus. Mereka memilih pilihan hidup sekarang karena hidup di daerah yang ramai itu susah, karena umur mereka yang sudah mulai menua. Mereka juga memberikan beberapa kalimat motivasi yaitu “Tau yang mana yang baik dan tidak dengan cara mengasihi dan komunikasi.” Mereka menyatakan bahwa mereka membesarkan anaknya dengan peduli dengan anak-anak supaya bisa merasakan cara hidup di gunung bisa saling menghargai. Baik Hati AGAMA www.sagoture.com
Kisah Indah Orang yang saya interview adalah Ibu Him atau dengan nama lengkap Ibu Maria Himbiyati, beliau sudah berusia 55 tahun. Ibu Him lahir di Ngargomulyo sama dengan saudarasaudara nya yang lain nya, Ibu Him ini 4 bersaudara dan di desa ia tinggal bersama ibu nya;Bu Endro dan adiknya. Ibu Him, Ibu nya dan adiknya memutuskan untuk tinggal bersama karena sebelumnya adik Ibu Him ada rumah sendiri dan Ibu tetap tinggal bersama Ibu nya dan Ayah nya karena Ibu Him tidak berkeluarga hanya adiknya, suatu hari setelah dibahas ulang-ulang Ibu Him, Ibu nya dan adiknya memutuskan untuk menjadi 1 rumah. Jadi sekarang dari dulu nya tinggal di dua rumah yang berbeda mereka memutuskan untuk tinggal bersama, sekarang rumah Ibu Him sangat ramai dengan keluarga. Mas Sis, Sosok Penuh Ibu Him juga mempunyai rutinitas sehari-hari, karena Ibu Him bekerja sebagai petani, ia bangun pagi-pagi untuk masak lalu memberi makan ke ayam-ayam di halaman belakang rumah sekaligus membersihkan rumput-rumput sekitar. Mas Sis Seorang petani di desa Ngargomulyo lebih tepatnya di dusun Brahman, Muntilan, Magelang bernama Mas Sis. Selain menjadi petani, mas Sis juga sering membantu di komunitas ETM. ETM ini juga membantu orang Komunitas ini, yang membantu menyediakan rumah dan tempat untuk Live in ini. Kakak kakak ETM juga membantu kami dalam menyesuaikan diri, di kehidupan desa. Salah satu orang yang membantu desa Brahman adalah Mas Sis. Mas Sis, lahir pada tahun 1991. Salah satu harapan Mas Sis adalah ketika harga cabai di kota dan di desa tidak jauh berbeda. Karena ketika harga cabai di kota dan di desa berbeda, banyak masyarakat yang akan kesulitan dan harga panen akan melonjak. Harapan lainnya Mas Sis adalah untuk tanamannya agar tidak dilanda bencana alam. Setelah itu ia berangkat ke sawah untuk melihat dan mengurusi tanaman-tanaman, seperti tanaman cabe, buncis dan juga padi, selain itu juga membersihkan rumput-rumput. Sekitar jam 11, Ibu Him pulang ke rumah nya dan bisa mengurusi rumah. Tugas-tugas rumah, Ibu Him tidak selalu melakukan nya sendiri tetapi juga ada bantuan dari keponakan nya yaitu Ara dan Angger. Ibu Him Pengharapan AGAMA www.sagoture.com
SAMBATAN 2 Mei, 2024 www.sagoture.com TRADISI YANG SERING DILAKSANAKAN DI NGARGOMULYO SEPUTAR PENTAS SENI! Sambatan juga sering dilaksanakan ketika ada warga yang akan membangun rumah. Kegiatan ini biasanya dikerjakan pada proses pendirian tiang penyangga genteng rumah atau biasa disebut dengan kuda-kuda. Tradisi sambatan biasanya diikuti oleh seluruh warga yang tinggal di suatu desa atau daerah tersebut. Sambatan dilakukan tanpa memberikan upah kepada warga, tetapi sebagai tanda terimakasih biasanya warga diberikan konsumsi. Tradisi sambatan sangat bagus dan harus dilestarikan. Selain untuk mempermudah pekerjaan, sambatan juga dapat mempererat tali persaudaraan dengan sesama warga. Sambatan memiliki banyak sekali manfaat, sehingga tradisi ini harus dilestarikan di setiap daerah dan kalau bisa tidak hanya di daerah Jawa saja. Pentas seni saya dan teman selingkungan saya lakukan sebelum kami berpulang merupakan bentuk rasa terimakasih kami untuk para warga karena telah menyambut kedatangan kami dengan baik. Para ETM dan warga menyiapkan semuanya dengan gotong royong. Mulai dari para pemain musik, pemandu gerakan, dan lain-lain Saat malam hari pada hari dimana saya sampai di rumah Bu Evy, saya menghabiskan waktu sharing bersama Bu Evy. Bu Evy bercerita bahwa tradisi yang sering dilaksanakan di desa Ngargomulyo adalah sambatan. Sambatan adalah kegiatan gotong royong yang sering dilakukan di daerah-daerah pedesaan yang ada di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Kegiatan sambatan yang biasa dilaksanakan adalah sambatan membangun rumah dan sambatan menyelenggarakan hajat. Misalnya, kemarin saat saya melaksanakan live in di desa Ngargomulyo, ada beberapa kendala terkait jadwal kegiatan yang telah disusun. Penyebabnya adalah karena adanya warga yang meninggal dan diselenggarakannya acara 1000 harian. Inilah contoh konkrit saat warga melaksanakan sambatan yaitu warga bekerja sama untuk menyusun rangkaian acara yang akan dilaksanakan. Selain acara 1000 harian, acara pentas seni yang dilaksanakan waktu saya live in juga merupakan salah satu bentuk sambatan. -KELLY PPKN www.sagoture.com
GOTONG ROYONG TRADISI DI NGARGOMULYO 2 May, 2024 | SAGOTURE www.sagoture.com Oleh Chloe-83- TRADISI NYADRAN Untuk mencari tradisi-tradisi ini, saya juga mewawancarai orang tua live in saya. Saya mendapat 3 tradisi dari orang tua saya disana. Terdapat Nyadran dan Gotong royong yang erat. Nyadran adalah tradisi dimana orang yang melakukan tradisi tersebut membersihkan makam, berdoa di makan, dan juga makan di makam. Nyadran adalah tradisi yang mengingatkan kita akan orang yang telah meninggal. Newsletter www.reallygreatsite.com Terdapat juga gotong royong yang erat. Gotong royong yang erat ini dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang dilakukan. Contohnya, kalau natalan, orang Muslim disana menjaga rumah ketika yang lain sedang bepergian dan kalau sedang masa puasa, orang Katolik yang menjaga rumahnya dan kadang juga menjaga gang-gang. ini punya aku coba liat yg mana yg lebih baik PPKN www.sagoture.com
2 May 2024 SAGOTURE WAWANCARA PENJASKES Jadi pada hari ketiga “live in” berlangsung, saya (Kelly-83-26) mewawancarai Mas Sis dan temannya tentang kondisi desa Ngargomulyo saat dilanda wabah covid-19. Saya dan teman serumah saya melaksanakan wawancara ini di rumah teman kami (Marsha dan Stella) saat sesudah memasak hasil pangan. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang kami tanyakan beserta jawaban dari Mas sis dan temannya (tim ETM) KONDISI NGARGOMULYO SAAT PANDEMI COVID Apakah desa ini mendapatkan vaksin? Vaksin 1 dan 2 wajib. Ada beberapa warga yang sudah mendapatkan vaksin ketiga 1. Apakah saat Covid-19 menyerang, ada warga yang meninggal? Ada, karena faktor Covid dan faktor usia (sudah tua) 2. Apakah banyak warga yang terkena Covid-19? Lumayan, banyak juga yang sembuh 3. Dimana orang yang terinfeksi Covid dirawat? Di rumah 4. Apakah ada obat-obatan yang dikonsumsi? Warga mengkonsumsi vitamin dari puskesmas dan membeli obat sendiri 5. Tingkat covid tidak sampai 10% karena kondisi desa dengan kota berbeda. Di desa masih banyak pohon, tanaman, tidak banyak kendaraan. Jadi, lingkungan desa lebih sehat dari lingkungan kota 1. Bagaimana kondisi lingkungan desa saat Covid-19 melanda? Sepi sekali, sekolah tutup dan belajar melalui zoom meeting 2. 3. Bagaimana cara pencegahan covid di desa? Dengan cara vaksin dan tidak membiarkan orang dari luar desa masuk ke dalam desa (Jika ingin masuk harus melewati masa karantina) PENJAS www.sagoture.com