PENGERTIAN RASULULLAH DAN DALIL-DALIL
ATAS WAJIBNYA BERIMAN DENGAN PARA RASUL
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-1 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil Atas Wajibnya Beriman
dengan Para Rasul”.
Diantara pokok-pokok keimanan yang harus diimani oleh seorang hamba
adalah beriman kepada para Rasul Allah.
Rasulun adalah bentuk tunggal dari rusulun.
Rosulun artinya utusan.
Rusulun artinya utusan-utusan.
Rusulullah artinya para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang
Allah pilih menjadi utusan-Nya kepada manusia dengan membawa risalah dari
Allah untuk disampaikan kepada manusia.
Allah berfirman :
ِ…لَ َق ِْد أَ ْر َس ْل َنا ُر ُسلَ َنا ِبا ْلبَيِ َنا ِت
“Sungguh Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan bukti – bukti yang
nyata.” (Al Hadid: 25)
Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma’ kaum muslimin menunjukkan tentang
wajibnya beriman dengan para Rasul Allah dan kekufuran kepada Rasul-Rasul
Allah adalah kekufuran kepada Allah.
Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara
terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin
banyak manfaatnya.
Adapun dari Al-Qur’an maka Allah berfirman :
َر ُسو ِل ِِه يَا َوأَا ُّيْل ِكَهتَااا َّل ِبِ ِذاي ّلَ َِِنذ آي َمأنَُ ْنو َاز َلِآ ِم ِمنُ ْونِاقَبِ ْباُِّللَِّلِ َِۚو ََرو َم ُس ِْنو ِليَ ِِهْكفَُوِْرا ْلبِِكاتَّالَّلِِ ِبِ َوا َّلَم َِذَل ِئي َك َنِت َِّزهِ َِلَو ُك َعتَُلبِ ِِهِى
َو ُر ُس ِل ِِه
َوا ْل َي ْو ِِم ا ْْل ِخ ِِر َف َق ْدِ َض َّلِ َضََل ًِل بَ ِعي ًدا
“Wahai orang-orang yang beriman,berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan
Kitab yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya dan Kitab yang diturunkan
sebelumnya. Dan barangsiapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka sungguh dia telah
sesat dengan kesesatan yang jauh.” (An Nisa’: 136)
Adapun dari As-Sunnah maka Nabi ﷺbersabda ketika ditanya oleh Jibril tentang
apa itu Iman.
ِالإيمان أَ ِْن تُ ْؤ ِم َنِ بِاللِِ َو َمَ َلئِ َكتِ ِِه َو ُكتُبِ ِِه َو ُر ُس ِل ِهِ َوا ْليَ ْو ِِم اْل ِخ ِِر َوتُ ْؤ ِم َنِ ِبا ْل َق َد ِِر َخ ْي ِر ِه
ِ َو َش ِر ِه.
”Beriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-
Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman dengan takdir
yang baik maupun yang buruk.”
Beliau mengatakan ( َص َد ْق َتengkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam
Muslim. Dan para ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada Rasul-Rasul
Allah ‘azza wajalla.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسل َام َعلَ ْيك ْم َو َر ْح َمة اللهه َوبَ َر َكاته
PERBEDAAN ANTARA NABI DAN RASUL
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul”.
Dalil-dalil menunjukkan adanya perbedaan antara Nabi dan Rasul
Allah berfirman :
َِو َما أَ ْر َس ْل َنا ِم ْنِ َق ْب ِل َِك ِم ِْن َر ُسو ِل َو َلِ نَبِيِ إِ َِّل إِذَا تَ َم َّنىِ أَ ْلقَى ال َّش ْي َطا ُِن فِي أُ ْمنِ َّي ِت ِه
“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang nabi sebelum
engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan
syaitan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya
tersebut.” (Surat Al-Hajj 52)
Ayat di atas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.
Ada ulama yang mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan
untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan
untuk menyampaikan, namun ini adalah pendapat yang lemah karena ternyata
dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan
wahyu sebagaimana dalam Firman Allah :
َِو َما أَ ْر َس ْلنَا ِم ْنِ َق ْب ِل َكِ ِم ْنِ َر ُسو ِل َو َِل َن ِب ِي إِ َّلِ ِإذَا تَ َمنَّىِ أَ ْلقَى ال َّش ْي َطا ُِن فِي أُ ْمنِ ّيَ ِت ِه
“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang
Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-
godaannya ke dalam keinginannya tersebut.” (Surat Al-Hajj 52)
Allah mengatakan :
“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang
Nabi”:
ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk
menyampaikan.
Demikian pula di dalam hadits Rasulullah ﷺbersabda,
ُِع ِر َض ِْت َع َل َّيِ ا ْْلُ َم ُمِ فَ َرأَ ْي ُِت ال َنّبِ َّيِ َو َمعَ ِهُ ال ُّر َه ْي ُِط َوال َّنبِ َِّي َو ََمواعَلِهُنَّ ِبال َِّيَّرلَ ُْجي ُِل َسَِواَمل َعَّرِهُ ُجأَََل َح ِدِن
“Ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama
beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan
seorang Nabi dan tidak seorang pun bersama beliau.” (HR Al Bukhari & Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah
dan menyampaikan risalah.
Dari sekian banyak pendapat tentang perbedaan antara Nabi dan Rasul,
pendapat yang lebih dekat Insya Allah adalah pendapat yang mengatakan :
“Bahwa Nabi adalah orang yang Allah berikan wahyu, diperintahkan untuk
menyampaikan syariat sebelumnya, dan diutus kepada kaum yang sudah
mengetahui syariat tersebut.”
Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah &
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithy semoga Allah merahmati keduanya.
Di antara dalilnya adalah firman Allah,
ِإِنَّا أَ ْن َز ْلنَا التَّ ْو َرا َِة ِفي َها هُ ًدى َونُو ِر ِۚ يَ ْح ُك ُمِ ِب َها ال َّنبِ ّيُو َِن ا َّل ِذي َِن أَ ْسلَ ُموا ِل َّل ِذي َن
… َها ُدوا
“Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya ada petunjuk dan
cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat
tersebut bagi orang-orang Yahudi.” (Surat Al-Ma’idah 44)
Di dalam ayat ini Nabi-Nabi Bani Israel mereka menyampaikan syariat Nabi
Musa yang ada di dalam Taurat.
Adapun pengertian Rasul secara syari’at, mereka adalah orang yang Allah beri
Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru, dan diutus
kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسل َام َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة اللهه َو َب َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 1
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 1”.
Cara beriman kepada para Rasul Allah mengandung beberapa perkara :
Keyakinan yang dalam bahwa kenabian dan kerasulan adalah pilihan dari
Allah, Allah memberikannya kepada siapa yang memang berhak dan yang paling
afdhal dan sempurna.
Allah Berfirman :
ُِِۚ ّل َّلاُِ أَ ْعلَ ُِم َح ْي ُِث َي ْجعَ ُِل ِر َسالَتَه
“Allah lebih tau di mana Allah meletakkan risalah-Nya.” (QS Al-An’am 124)
Dan Allah Berfirman :
ِّل َّلاُِ يَ ْص َط ِفي ِم َِن ا ْل َمََل ِئ َك ِِة ُر ُسًَِل َو ِم َنِ النَّا ِ ِس ِۚ إِ َِّن ّل َّل َاِ َس ِميعِ بَ ِصير
”Allah memilih Rasul-Rasul dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia,
sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surat Al-Hajj 75)
. Keyakinan yang dalam bahwa mereka (para Rasul Allah) adalah makhluk
Allah yang paling sempurna baik ilmu, amalan, i’tiqad maupun penciptaan atau
fisik mereka.
Allah Berfirman menceritakan tentang Nabi Nuh alaihi salam,
ِۚ إِ َنّهُِ َكا َِن َع ْب ًدا َش ُكو ًرِا
”Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur.” (QS Al-Isra’ 3)
Dan Allah Berfirman :
ِإِ َِّن ِإ ْب َرا ِهي َِم َل َح ِليمِ أَ َّواهِ ُم ِنيب
”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang penyantun, lembut hati, dan suka
kembali (kembali kepada Allah).” (QS Hud 75)
Dan Allah Berfirman :
ِقَالُوا َلِ تَ ْو َج ِْل ِإ َنّا نُبَ ِش ُر َِك ِبغََُل ِم َع ِليم
“Mereka berkata, “Janganlah engkau wahai Ibrahim takut sesungguhnya kami
memberikan kabar gembira kepada dirimu dengan seorang anak yang ‘alim.” (QS
Al-Hijr 53)
Yang dimaksud dengan anak tersebut adalah Nabi Ishak ‘alaihis salam.
Dan Allah Berfirman :
َِيا َي ْحيَىِ ُخ ِِذ ا ْل ِكتَا َِب ِبقُ َّوِة ِۚ َوآتَ ْي َناُِه ا ْل ُح ْك َِم َصبِ ًيّا
َِو َح َنا ًنا ِم ْنِ َل ُد َّنا َو َز َكاِةً ِۚ َو َكا َِن تَ ِقيًّا
َوبَ ًّرا بِ َوا ِل َد ْي ِهِ َولَ ْمِ يَ ُك ْنِ َجبَّا ًرا َع ِصيًّا
“Wahai Yahya ambillah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan kami berikan
hikmah kepadanya selagi dia masih kanak-kanak dan kami jadikan rasa kasih
sayang kepada sesama dari kami dan bersih dari dosa dan dia pun seorang yang
bertakwa dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang
yang sombong, bukan pula orang yang durhaka.” (QS Maryam 12-14)
Dan Allah Berfirman :
َِوإِ َّن َِك لَعَلَىِ ُخلُقِ َع ِظيم
”Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada di atas akhlak yang
agung.” (QS Al-Qalam 4)
Dan juga ayat-ayat yang lain yang menunjukkan tentang kesempurnaan para
Nabi dan para Rasul Allah di dalam ilmu, amalan, i’tiqad, dan juga fisik mereka.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسل َام َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة الل هه َوبَ َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 2
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 2”.
Cara beriman kepada para Rasul Allah mengandung beberapa perkara :
. Meyakini bahwa Para Rasul benar-benar terlepas dari sifat dusta,
menyembunyikan ilmu, dan penghianatan.
Allah Berfirman :
قَالُوا َيا َو ْي َل َنا َم ِْن بَعَثَنَا ِم ِْن َم ْر َق ِدنَا ِۚ ِۚ َهذَا َما َو َع َِد ال َّر ْح َم ُنِ َو َص َد َِق ا ْل ُم ْر َسلُو َِن
“Mereka berkata, celaka kita, siapakah yang telah membangkitkan kita dari
tempat istirahat kita, inilah yang dijanjikan oleh Ar-Rahman dan benarlah para
Rasul.” (Surat Yasin: 52)
Dan Allah Berfirman :
َولَ ِْو تَقَ َّو َلِ َعََْللَْينََخا ْذ َبَناْع ِم ْنَِضِهُابِْْالَ ْل َقيَا ِمِويي ِِنِِل
فَ َما ِم ْن ُك ِْم ِثمُ َّمِْنِلَأََق َحَطدِ ْع َنا َع ْن ِمهُِْن ِهُ َحاا ْل ِجَوِتِزيي ََنِِن
“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama
Kami, pasti kami pegang dia pada tangan kanannya kemudian kami potong
pembuluh jantungnya, maka tidak seorang pun dari kalian yang dapat
menghalangi Kami untuk menghukumnya.” (QS Al-Haqqah 44-47)
. Keyakinan yang dalam bahwasanya mereka telah melaksanakan tugas
mereka dengan sempurna dan sebaik-baiknya, dan Allah tidak mewafatkan
mereka kecuali setelah mereka menyampaikan secara sempurna risalah Allah
kepada kaumnya.
Allah Berfirman :
ُُِر ُسًَِل ُم َب ِش ِري َنِ َو ُم ْن ِذ ِري َِن ِلئَََِّل َي ُكو َِن ِلل َنّا ِسِ َع َلى ّل َّلاِِ ُح َّج ِة َب ْع َدِ ال ُّر ُس ِِل ِۚ َو َكا َِن ّل َّلا
َِع ِزي ًزا َح ِكي ًما
“Rasul-Rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-Rasul
itu diutus. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’ 165)
Dan Allah berfirman :
ِِۚ َو َما أَ ْر َس ْل َنا ِم ْنِ َر ُسولِ ِإ َِّل ِب ِل َسا ِِن قَ ْو ِم ِهِ ِليُبَيِ َِن َل ُه ْم
“Dan tidaklah Kami utus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya
dia menerangkan kepada mereka.” (QS Ibrahim 4)
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسلاَم َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة الل هه َوبَ َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 3
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-5 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 3”.
Cara beriman kepada para Rasul Allah mengandung beberapa perkara :
. Meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa mereka (para Rasul) adalah
manusia. Menimpa mereka apa yang menimpa manusia yang lain, mereka
makan, minum, mencari rezeki, menikah, memiliki keturunan, tertimpa sakit,
terbunuh, meninggal, dll.
Allah Berrfirman :
…قُ ِْل إِ َّن َما أَ َنا بَ َشرِ ِمثْلُ ُك ْمِ يُو َحىِ إِلَ َِّي
“Katakanlah sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian diwahyukan
kepadaku.” (QS Al-Kahf 110)
Dan Allah Berrfirman :
… قُ ْلِ ُس ْب َحا َِن َر ِبي َه ْلِ ُك ْن ُتِ إِ َِّل َب َش ًرا َر ُسو ًِل
“Katakanlah, Maha Suci Rabb-ku, tidaklah aku kecuali seorang manusia yang
diutus.” (QS Al-Isra’ 93)
Mereka makan, minum, dan mencari rezeki.
Allah Berrfirman :
َِو َما أَ ْر َس ْل َنا قَ ْبلَ َِك ِم َنِ ا ْل ُم ْر َس ِلي َنِ إِ َِّل ِإنَّ ُه ِْم َليَأْ ُكلُو َنِ ال َّطعَا َِم َويَ ْم ُشو َنِ ِفي ا ْْلَ ْس َوا ِق
ِۚ …
“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali mereka
memakan makanan dan pergi ke pasar.” (QS Al-Furqan 20)
Mereka menikah dan memiliki keturunan.
Dan Allah Berrfirman :
ًِ…ِۚ َو َل َق ْدِ أَ ْر َس ْل َنا ُر ُسًَِل ِم ْنِ َق ْب ِل َِك َو َج َع ْل َنا َل ُه ْمِ أَ ْز َوا ًجا َوذُ ِر ّيَة
“Dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu dan kami telah
menjadikan bagi mereka istri-istri dan keturunan.” (QS Ar-Ra’d 38)
Mereka ditimpa sakit.
Allah Berfirman : (tentang Nabi Ibrahim)
َِوإِذَا َم ِر ْض ُتِ فَ ُه َوِ َي ْش ِفي ِن
“Dan apabila aku sakit, maka Allah Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS Ash-
Shu’ara 80)
Dan Allah Berrfirman : (tentang Nabi Ayyub),
َوأَ ُيّو َبِ ِإ ِْذ َنا َدىِ َر َّبهُِ أَ ِني َم َّس ِن َيِ ال ُّض ُّرِ َوأَ ْن َتِ أَ ْر َح ُِم ال َّرا ِح ِمي َِن
“Dan ingatlah Ayyub ketika dia memanggil Rabb-nya, sesungguhnya aku telah
ditimpa sakit dan Engkau adalah Dzat Yang Maha Penyayang.” (QS Al-Anbiya’ 83)
Dari Abdullah Ibn Mas’ud radiallahu anhu beliau berkata, “Aku memasuki rumah
Rasulullah ﷺ, sedangkan beliau dalam keadaan demam, maka aku berkata,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau demam dengan demam yang sangat.”
Beliau ﷺmengatakan, “Iya, sesungguhnya aku tertimpa demam sebagaimana dua
orang diantara kalian tertimpa demam.” (HR Al Bukhari)
Mereka (para Rasulullah) meninggal dunia, sebagaimana firman Allah ‘azza
wajalla,
ِِإ َّن َكِ َم ِيتِ َو ِإ ّنَ ُه ْمِ َم ِيتُو َن
“Sesungguhnya engkau akan meninggal dan merekapun akan meninggal.” (QS Az-
Zumar 30)
Dan Allah Berrfirman :
َو َما َج َع ْل َنا ِلبَ َشرِ ِم ِْن َق ْب ِل َكِ ا ْل ُخ ْل َِد ِۚ أَفَ ِإ ِْن ِم َِّت َف ُه ُِم ا ْل َخا ِل ُدو َِن
“Dan tidaklah Kami jadikan bagi seorang manusia sebelummu kekekalan, apakah
seandainya engkau meninggal dunia maka mereka akan kekal?” (QS Al-Anbiya’
34)
Dan ada diantara mereka yang mati terbunuh.
Allah Berrfirman :
َِل َق ِْد َس ِم َِع ّل َّلاُِ َق ْو َِل ا َّل ِذي َِن َقالُوا إِ َّنِ ّل َّلَِاا َْْفلَِق ْني ِب َيِرا َ َوءِنَ ِب ْحغَ ْيُنِِرِأَ َْحغ ِنيَقِا َُِءونَقُِۚو ُلَِسنَذُْكتُوقُ ُِبوا َما َعقَذَاالُ َِوباا ْلَو َقحَ ِتْرلَي ُه ُِقِم
“Sungguh Allah telah mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan,
“Sesungguhnya Allah fakir dan kami adalah orang-orang kaya,” Sungguh Kami
akan menulis apa yang mereka ucapkan dan pembunuhan mereka kepada para
Nabi tanpa haq dan Kami akan katakan rasakanlah Azab yang membakar
ini.” (QS Al-Imran 181)
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسلاَم َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة اللهه َوبَ َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 4
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 4”.
Diantara cara beriman dengan para Rasul Allah adalah
Meyakini bahwa mereka ma’shum, yaitu terjaga dari dosa besar seperti :
zina, mencuri, menipu, sihir, membuat berhala, dll. Dan ini adalah kesepakatan
umat.
Adapun orang Yahudi dan Nashrani maka mereka menganggap para Nabi
dan Rasul melakukan dosa besar, seperti keyakinan bahwa Nabi Harun dialah
yang membuat berhala, Dan keyakinan bahwa Nabi Ibrahim mengorbankan
Istrinya (Sarah) kepada Firaun, Dan seperti keyakinan bahwa Nabi Luth
alaihissalam mabuk, dll.
Adapun dosa kecil maka menurut sebagian besar ulama terkadang seorang
Nabi melakukan dosa kecil namun tidak sampai berhubungan dengan wahyu dan
dengan cepat sekali mereka bertaubat kepada Allah azza wajalla.
Nabi Adam alaihissalam beliau dilarang untuk memakan buah tertentu di
dalam surga, akan tetapi beliau melanggarnya kemudian beliau mengatakan :
َِربَّ َنا َظلَ ْم َنا أَ ْنفُ َس َنا َوإِ ِْن لَ ْمِ تَ ْغ ِف ِْر َل َنا َوتَ ْر َح ْم َنا لَ َن ُكونَ َِّن ِم َِن ا ْل َخا ِس ِري َن
“Wahai Rabb kami, kami telah mendholimi diri kami sendiri dan seandainya
Engkau tidak mengampuni dosa kami dan menyayangi kami, niscaya kami
termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf 23)
Nabi Nuh alaihissalam meminta kepada Allah supaya menyelamatkan
anaknya yang kafir, maka Allah azza wajalla menegur beliau dan menasihati
beliau kemudian beliau langsung meminta ampun kepada Allah seraya berkata,
َوتَ ْر َح ْم ِني تَ ْغ ِف ْرِ ِلي َِوإِ َّل ِۚ ِع ْل ِم ِِب ِه ِلي لَ ْي َِس َما أَ ْسأَ َل َِك أَ ِْن ِِب َك ُأَ ُعوِذ إِنِي َِر ِب َِقا َل
ا ْل َخا ِس ِري َِن أَ ُك ِْن ِم َِن
“Beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
meminta kepada-Mu sesuatu yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya dan
seandainya Engkau tidak mengampuni aku dan menyayangi aku, niscaya aku
termasuk orang-orang yang merugi’.” (QS Hud 47)
Nabi Musa alaihissalam pernah memukul orang Qibthi (orang Mesir) yang
berakibat terbunuhnya orang tersebut. Ini adalah dosa kecil karena pukulan Nabi
Musa alaihissalam sebenarnya tidak mematikan dan beliau shallahu’alaihi wa
sallam juga tidak bermaksud untuk membunuh. Nabi Musa alaihissalam
mengiringi kesalahan ini dengan Taubat kepada Allah.
Allah berfirman :
َِقا َلِ َر ِبِ ِإِ ِني َظلَ ْم ُِت نَ ْف ِسي فَا ْغ ِف ْرِ ِلي فَ َغ َف َِر َل ِهُ ِۚ إِ َّنهُِ ُه َوِ ا ْلغَفُو ُِر ال َّر ِحي ُم
“Beliau berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya aku mendholimi diriku sendiri
maka ampunilah aku.’, maka Allah pun mengampuni beliau. Sesungguhnya Allah
adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Qasas 16)
Nabi Yunus alaihissalam pernah marah meninggalkan kaumnya karena
mereka tidak menerima dakwah beliau dan setelah ditelan ikan yang besar,
beliau pun segera meminta ampun kepada Allah.
Allah berfirman :
ََِوذَا النُّو ِنِ ِإ ْذِ ذَ َه َبِ ُم َغا ِضبًا َف َظ َّنِ أَ ِْن لَ ْنِ َن ْق ِد َرِ َعلَ ْي ِِه َف َنا َد ِى ِفي ال ُّظلُ َما ِتِ أَ ْنِ َِل ِإ َله
ِإِ َّلِ أَ ْن َِت ُس ْب َحا َن َِك ِإنِي ُك ْن ُِت ِم َنِ ال َّظا ِل ِمي َن
“Dan ingatlah kisah dzunnun yaitu Yunus ketika dia pergi dalam keadaan marah
lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya maka dia berdoa
dalam keadaan yang sangat gelap. ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah
kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang
dzalim.” (QS Al-Anbiya’ 87)
Nabi Muhammad ﷺketika sedang mendakwahi seorang pembesar Qurais
datang kepada beliau Ibnu Ummi Maktum ingin bertanya tentang sesuatu, maka
beliau bermuka masam dan berpaling, Allah pun menurunkan firman-Nya :
َع َب َسِ َوتَ َولَّ ِى
أَ ِْن َجا َءهُِ ا ْْلَ ِْع َم ِى
َِو َما يُ ْد ِري َِك َلعَ َّل ِهُ َي َّز َّكى
أَ ِْو َيذَّ َّك ُِر فَتَ ْنفَ َعهُِ ال ِذ ْك َر ِى
“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling karena seorang buta telah
datang kepadanya. Dan tahukah engkau (wahai Muhammad) barangkali dia ingin
menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi
manfaat kepadanya.” (QS ‘Abasa 1-4)
Setelah itu Rasulullah ﷺpun memuliakannya sebagaimana dikabarkan oleh
Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam
Musnadnya.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسل َام َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة الل هه َو َب َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 5
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 5”.
Diantara cara beriman dengan para Rasul Allah adalah
Waspada dari ghuluw atau berlebihan terhadap para Rasul alaihimussalam,
seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan
sifat-sifat ketuhanan dan Allah azza wajalla telah melarang ahlul kitab dari sikap
ghuluw dengan firman-Nya,
َيا أَ ْه َِل ا ْل ِكتَا ِبِ َِل تَ ْغلُوا ِفي ِدينِ ُك ِْم َو َلِ تَقُولُوا َع َلى ّل َّل ِِا ِإ َّلِ ا ْل َح َِّق ِۚ ِإ ّنَ َما ا ْل َم ِسي ُِح
ِِِعي َسى ا ْب ُِن َم ْريَ َِم َر ُسو ُلِ ّل َّل ِاِ َو َك ِل َمتُ ِهُ أَ ْلقَا َها إِلَ ِى َم ْر َي َمِ َو ُرو ِح ِم ْنهُِ ِۚ َفآ ِمنُوا بِاّلَّل
ِ… ِۚ َو ُر ُس ِل ِهِ ِۚ َو َلِ تَقُولُوا ثَََلثَة
“Wahai ahlul kitab janganlah kalian berlebih-lebihan di dalam agama kalian dan
janganlah kalian berkata atas nama Allah kecuali kebenaran. Sesungguhnya Isa
bin Maryam adalah Rasulullah dan kalimat-Nya yang dia lemparkan kepada
Maryam dan dia adalah Ruh dari-Nya maka berimanlah kalian kepada Allah dan
Rasul-Nya dan janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga… ” (QS An-Nisa’ 171)
Dan Rasulullah ﷺtelah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkah
mereka. Beliau ﷺbersabda,
فَقُ ْولُ ْوا َع ْب ُدِ الِِل،ُ َف ِإ َّن َما أَنَا َع ْب ُده،َِل تُ ْط ُر ْو ِني َك َما أَ ْط َر ِتِ ال ّنَ َصا َرى ا ْب َِن َم ْريَ َم
ُ َو َر ُس ْولُ ِه.
”Janganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang
Nashrani berlebih-lebihan di dalam memuji Ibnu Maryam, sesungguhnya aku
adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” [Hadits Shahih riwayat Al Imam Al Bukhori]
Dan diantara bentuk ghuluw orang-orang Nashrani adalah mengatakan Isa
anak Allah, orang Yahudi mengatakan Uzair adalah anak Allah.
Allah berfirman :
َِو َقا َل ِِت ا ْل َي ُهو ُِد ُع َز ْيرِ ا ْب ُِن ّل َّل ِاِ َوقَا َل ِِت النَّ َصا َرى ا ْل َم ِسي ُحِ ا ْب ُِن ّل َّلاِِ ِۚ ذَ ِل َكِ َق ْولُ ُه ْم
بِأَ ْف َوا ِه ِه ْمِ ِۚ يُ َضا ِهئُو َِن َق ْو َِل الَّ ِذي َِن َكفَ ُروا ِم ْنِ َق ْب ُِل ِۚ َقاتَلَ ُه ُمِ ّل َّلاُِ ِۚ أَ َّن ِى يُ ْؤ َف ُكو َِن
“Telah berkata orang-orang Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah dan berkata
orang-orang Nashrani bahwa Al Masih adalah anak Allah. Demikianlah ucapan-
ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka menyamai ucapan orang-
orang yang kafir sebelum mereka, Allah melaknat mereka, lalu bagaimana
mereka berpaling?” [QS At-Tawbah 30]
Padahal para Rasul alaihimussalam tidak memiliki sedikit pun sifat
Rububiah dan Uluhiyah, yaitu sifat-sifat Ketuhanan. Mereka tidak mengetahui
yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allah azza wajalla.
Allah berfirman :
َعا ِل ُِم ا ْلغَ ْي ِبِ َفََلِ يُ ْظ ِه ُرِ َع َل ِى َغ ْي ِب ِِه أَ َح ًدا
… ِإ َّلِ َم ِنِ ا ْرتَ َضىِ ِم ِْن َر ُسو ِل
“Dialah Allah yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia
menampakkan perkara yang ghaib kepada siapapun, kecuali orang yang Allah
ridhai dari kalangan para Rasul.” [QS Al-Jinn 26-27]
Dan mereka juga tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot kecuali
dengan kehendak Allah.
Allah berfirman :
ِقُ ِْل َِل أَ ْم ِل ُِك ِل َن ْف ِسي َن ْف ًعا َو َلِ َض ًّرا ِإ َّلِ َما َشا َِء ّل َّلِاُ ِۚ َولَ ْوِ ُك ْن ُِت أَ ْع َل ُِم ا ْلغَ ْي َبِ َل ْستَ ْكثَ ْر ُت
ِِم َِن ا ْل َخ ْي ِرِ َو َما َم َّس ِن َِي ال ُّسو ُِء ِۚ إِ ِْن أَنَِا إِ َِّل نَ ِذي ِر َوبَ ِشي ِر ِل َق ْو ِم يُ ْؤ ِمنُو َن
“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat dan mudhorot
kecuali apabila Allah menghendaki dan seandainya aku mengetahui perkara
yang ghaib niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tentunya aku tidak
akan ditimpa kejelekan. Tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan dan
pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” [QS Al-A’raf 188]
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسل َام َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة اللهه َوبَ َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 6
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-8 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 6”.
Diantara cara beriman dengan para Rasul alaihimussalam adalah
keyakinan bahwa Allah melebihkan sebagian Nabi dan Rasul di atas
sebagian yang lain tanpa merendahkan dan melecehkan harga diri dan
kedudukan yang lain.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
هت ْل َك ال ُّرسل َف َّض ْل َنا بَ ْع َضه ْم َع َلى بَ ْعض
“Itu adalah para Rasul, Kami telah muliakan sebagian mereka di atas sebagian
yang lain.” [QS Al-Baqarah 253]
Dan Allah berfirman :
… َولَ َق ْد َف َّض ْل َنا َب ْع َض ال َنّ هب هيي َن َع َلى بَ ْعض
“Dan sungguh Kami telah memuliakan sebagian Nabi di atas sebagian yang lain.”
[QS Al-Isra’ 55]
Adapun ayat yang berbunyi,
… … َل نفَ هرق َب ْي َن أَ َحد هم ْن رس هل هه
“Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari Rasul-Rasul-Nya.” [QS Al-
Baqarah 285]
Maka yang dimaksud dengan membeda-bedakan di sini adalah beriman
dengan sebagian Rasul dan mengingkari sebagian yang lain, seperti orang yang
beriman dengan Nabi Isa alaihissalam dan kufur dengan Nabi Muhammad ﷺ.
Dan sebaik-baik Nabi adalah Ulul Azmi (orang-orang yang memiliki
kesabaran yang kuat).
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
… َفا ْصبِ ْرِ َك َما َصبَ َِر أُولُو ا ْل َع ْز ِِم ِم َِن ال ُّر ُس ِِل
“Maka bersabarlah engkau sebagaimana Ulul Azmi diantara para Rasul telah
bersabar.” [QS Al-Ahqaf 35]
Menurut sebagian ulama yang dimaksud dengan Ulul Azmi adalah 5 orang ,
mereka adalah:
① Nabi Nuh
② Nabi Ibrahim
③ Nabi Musa
④ Nabi Isa
⑤ Nabi Muhammad
[alaihimussalam]
Nama-nama mereka telah terkumpul di dalam dua ayat dari surat Al-Ahzab
dan surat Asy-Syuuro.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
َِوإِ ْذِ أَ َخ ْذ َنا ِم َِن ال ّنَبِ ِيي َنِ ِميثَا َق ُه ْمِ َو ِم ْن َِك َو ِم ْنِ نُوحِ َوإِ ْب َرا ِهي َِم َو ُمو َسىِ َو ِعي َسى ا ْب ِن
َِم ْر َي َِم ِۚ َوأَ َخ ْذنَا ِم ْن ُه ْمِ ِميثَا ًقا َغ ِلي ًظا
“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi, darimu, Nuh, Ibrahim,
Musa, dan Isa Ibnu Maryam dan kami telah mengambil dari mereka perjanjian
yang kuat.” [QS Al-Ahzab 7]
Dan Allah mengatakan :
َش َر َِع َل ُك ْمِ ِم َنِ ال ِدي ِنِ َما َو َّص ِى بِ ِِه نُو ًحا َوا َلّ ِذي أَ ْو َح ْينَا ِإلَ ْي َِك َو َما َو َّص ْي َنا ِب ِهِ ِإ ْب َرا ِهي َِم
… ِۚ َو ُمو َسىِ َو ِعي َس ِى
“Allah telah mensyari’atkan bagi kalian dari agama, apa yang Allah wasiatkan
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah
Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa.” [QS Asy-Syuuro 13]
Kelima Nabi inilah dan juga Nabi Adam yang tersebut di dalam hadits
tentang Asyafa’atul Udzma yang kita sudah sebutkan di dalam Silsilah Beriman
dengan Hari Akhir.
Dan sebaik-baik Ulul Azmi adalah dua orang Nabi, yang keduanya adalah
khalilullah (kekasih Allah). Beliau berdua adalah Nabi Ibrahim alaihissalam dan
Nabi Muhammad ﷺ.
Dalilnya adalah firman Allah :
َِواتَّ َخِذَ ّل َّلِاُ إِ ْب َرا ِهي َِم َخ ِليًَل
“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.” [QS An-Nisa’ 125]
Dan Rasulullah ﷺbersabda,
ِفَ ِإ َِّن ّل َّلاَِ تَ َعا َلى قَ ِْد اتَّ َخذَ ِني َخ ِليًَلِ َك َما اتَّ َخِذَ إِ ْب َرا ِهي َِم َخ ِليًَل
“Maka sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan aku sebagai kekasih
sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih.” [HR Muslim]
Dan sebaik-baik kekasih Allah adalah Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺbersabda :
ِأنا سيد ولد آدم يوم القيامة
“Aku adalah pemuka anak-anak Nabi Adam pada hari Kiamat.” [HR Muslim]
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسل َام َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة اللهه َو َب َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 7
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 7”.
Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah
Keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah
bersepakat dalam berdakwah kepada tauhid dan mengingatkan umat mereka
dari kesyirikan.
Allah Berfirman :
… ِۚ َولَقَ ْدِ بَ َعثْنَا ِفي ُك ِِل أُ َّم ِة َر ُسو ًلِ أَ ِِن ا ْعبُ ُدوا ّل َّلِاَ َوا ْجتَ ِنبُوا ال َّطا ُغو َِت
“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya
kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah thogut.” [QS An-Nahl 36]
Yang dimaksud dengan thogut adalah sesuatu yang disembah selain Allah.
Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan :
َو َما أَ ْر َس ْل َنا ِم ِْن قَ ْب ِل َِك ِم ِْن َر ُسو ِل إِ َّلِ نُو ِحي ِإلَ ْي ِهِ أَنَّهُِ َِل إِ َل ِهَ ِإ َِّل أَ َنا فَا ْعبُ ُدو ِِن
“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan
kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku,
maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaku.” [QS Al-Anbiya’ 25]
Dan Allah Mengatakan :
َِوا ْذ ُك ِْر أَ َخا َعادِ إِِْذ أَ ْنذَ َِر َق ْو َم ِهُ ِبا ْْلَ ْحقَا ِفِ َوقَ ْدِ َخلَ ِِت النُّذُ ُِر ِم ْنِ َب ْي ِنِ يَ َد ْي ِِه َو ِم ِْن َخ ْل ِف ِه
…أَ َِّل تَ ْعبُ ُدوا ِإ َّلِ ّل َّلَِا
“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada
kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang
memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak
menyembah kecuali hanya kepada Allah.” [Surat Al-Ahqaf 21]
Tiga ayat di atas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti
dakwah mereka satu, yaitu tauhid.
Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menceritakan di dalam Al-Qur’an beberapa
kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya.
Allah Subhānahu wa Ta’āla menceritakan tentang Nabi Nuh alaihissalam :
ُِ… َل َق ِْد أَ ْر َس ْل َنا نُو ًحا إِ َل ِى قَ ْو ِم ِهِ َف َقا َلِ يَا َق ْو ِِم ا ْعبُ ُدوا ّل َّل َِا َما لَ ُك ْمِ ِم ْنِ إِلَهِ َغ ْي ُره
“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata, ‘Wahai
kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki
sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia.’” [QS Al-A’raf 59]
Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla menceritakan tentang Nabi Hud
alaihissalam,
Allah mengatakan :
َو ِإ َل ِى َعاِد أَ َخا ُه ْمِ ُهو ًدِا ِۚ قَا َلِ يَا قَ ْو ِمِ ا ْعبُ ُدوا ّل َّلِاَ َما َل ُك ْمِ ِم ْنِ إِلَهِ َغ ْي ُرهُِ ِۚ أَ َفََِل
تَتَّقُو َِن
”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud alaihissalam,
dia berkata, ‘Wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, tidak
ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian
tidak bertakwa?’” [QS Al-A’raf 65]
Dan Allah mengatakan :
… ِۚ َو ِإ َلىِ ثَ ُمو َدِ أَ َخاهُ ْمِ َصا ِل ًحا ِۚ قَا َِل َيا َق ْو ِِم ا ْعبُ ُدوا ّل َّل َِا َما َل ُك ِْم ِم ْنِ ِإ َل ِه َغ ْي ُرُِه
“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud, saudara mereka Sholeh dia
berkata, ‘Wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian
tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia.’” [QS Al-A’raf 73]
Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Syu’aib
alaihissalam,
ُِ…ِۚ َوإِ َل ِى َم ْديَ َنِ أَ َخا ُه ِْم ُشعَ ْي ًبا ِۚ قَا َلِ َيا قَ ْو ِمِ ا ْعبُ ُدوا ّل َّلِاَ َما لَ ُك ْمِ ِم ْنِ إِ َل ِه َغ ْي ُره
“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata
‘Wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak
disembah kecuali Dia.’” [QS Al-A’raf 85]
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi
dan Rasul berdakwah kepada tauhid, ia merupakan inti dari ajaran mereka.
Adapun hukum-hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka
kadang-kadang terjadi perbedaan.
Allah berfirman :
…… ِۚ ِل ُك ِل َج َع ْلنَا ِم ْن ُك ْمِ ِش ْر َعةًِ َو ِم ْن َها ًجا
“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara.” [QS Al-Ma’idah 48]
Rasulullah ﷺbersabda :
ا ْْلَ ْنبِيَا ُِء إِ ْخ َوِة ِم ْنِ َعََّل ِت َوأُ َّم َهاتُ ُه ْمِ َشتَّى َو ِدينُ ُه ْمِ َوا ِحِد
“Para Nabi adalah saudara sebapak, ibu-ibu mereka berbeda tetapi agama
mereka satu.” [HR Al-Bukhori & Muslim]
Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara-saudara dari
satu bapak berlainan ibu, maksudnya sama-sama berdakwah kepada tauhid
meskipun dengan cara yang berbeda
Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah :
ِفالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لل تعالى و إن اختلفت صفاتها
“Maka yang dimaksud dengannya adalah pokok-pokok dari tauhid dan pokok
ketaatan kepada Allah Ta’āla meskipun berbeda caranya.”
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسلاَم َع َل ْيك ْم َو َر ْح َمة اللهه َوبَ َر َكاته
CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL
BAGIAN 8
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘ilmiyyah Beriman dengan para Rasul Allah
adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 8”.
Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah
Keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan
beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul.
Di antaranya:
Wahyu
Allah berfirman :
ِ… ِۚ إِ َّنا أَ ْو َح ْينَا ِإلَ ْي َكِ َك َما أَ ْو َح ْينَا إِلَ ِى نُو ِح َوالنَّ ِبيِي َنِ ِم ْنِ َب ْع ِد ِه
“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepadamu sebagaimana Kami wahyukan
kepada Nuh dan Nabi-Nabi setelah dia.” [QS An-Nisa’ 163]
Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi,
dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya.
Rasulullah ﷺbersabda :
َِِل نُو َر ُِث َما تَ َر ْك َنا َص َدقَة
“Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shodaqoh.” [HR Al Bukhori
& Muslim]
Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi.
Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺmeninggal dan datang Fathimah kepada
Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya, maka Abu Bakar
mengabarkan kepada Fathimah dengan hadits ini.
Diantara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat
dia meninggal dunia.
Rasulullah ﷺbersabda,
) ما قبض الل نبيا إل في الموضع الذي يحب أ ِن يدفن فيه:١٠١٨( سنن الترمذي.
“Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang
untuk dikuburkan di tempat tersebut.“ [Hadits Riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah
dan dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah].
Diantara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para
Nabi.
Rasulullah ﷺbersabda :
إن الِل عز وجل حرم على اْلرض أجساد اْلنبياء
”Sesungguhnya Allah azza wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak
memakan jasad-jasad para Nabi.” [HR Abu Dawud, An Nasai, dan Ibnu Majah dan
dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah].
Diantara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau
ma’shum (yaitu terjaga dari dosa besar seperti : zina, mencuri, menipu, sihir,
membuat berhala, dll.) dan telah berlalu pembahasan tentang hal ini pada halaqah
yang ke enam.
Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi
tidak tidur hatinya.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata :
والنبي صلى الل عليه وسلم نائمة عيناه ولينام قلبه وكذلك اْلنبياء تنام أعينهم
ِولتنام قلوبهم
“Dan Nabi ﷺtidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya, dan demikianlah para
Nabi tidur mata -mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur.” [HR Al Bukhori]
Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup di dalam kuburan
mereka dalam keadaan shalat.
Rasulullah ﷺbersabda :
النبياء احياء فى قبورهم يصلون
“Para Nabi mereka dalam keadaan hidup di dalam kuburan-kuburan mereka
dalam keadaan mereka melakukan shalat.”
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu
kembali pada halaqah selanjutnya.
َو ال َّسلاَم َعلَ ْيك ْم َو َر ْح َمة اللهه َو َب َر َكاته