The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by masyintams, 2021-05-28 23:03:22

The Day I Hate Rain - flipbook

The Day I Hate Rain



By : Ennie (Eterstella)




Sepatu flat putih itu mengetuk-ngetuk


lantai pualam tidak sabaran, berkali-kali


menggosokkan kedua tangan ke telinganya


guna mengahalau dingin, sepertinya percuma.


Seluruh bajunya telah basah kuyup tak bersisa.


Gadis itu baru mendapat tempat berteduh 30


menit yang lalu—tepatnya di museum sekitar


tempat wisata yang ia kunjungi. Dia tak sendiri,


ada seorang pemuda yang menemaninya. Tapi


entah pemuda itu pergi begitu lama.





“Apa membeli payung sejauh itu?” Monolognya


sembari menahan dingin yang perlahan


menusuk tulang-tulangnya. Seharusnya ini

menjadi hari yang indah, mengingat hari ini


adalah hari jadi mereka yang ke-7, di mana


mereka akan menghabiskan seharian penuh


dengan kencan atau sekedar mengelilingi kota.


Bukannya terjebak hujan dan berusaha mencari


tempat peneduh.





Mereka memang tidak seperti pasangan


lain yang bisa bertemu setiap waktu atau


malam minggu.





Mereka hanya bertemu satu tahun sekali,


dan itu pun di saat hari jadi mereka. Benar.


Long distance relationship (LDR). Dalam segala


aspek, negara, keluarga, bahkan masa depan


mereka yang tak akan bersatu.

Keduanya tidak menyangka, jika


hubungan ini bisa menyentuh angka 7 dalam


hitungan tahun. Terbukti, bahwa kefanaan


adalah hal yang menyenangkan dan berakibat


candu.





“Sayang, tadi antrenya penuh banget, gak jadi


beli deh,” ucap Soobin gamblang dengan


mengibaskan rambutnya yang basah. Gadis di


sampingnya terlihat sedih, bagaimana mereka


akan pulang?





“Terus kita hujan-hujanan lagi?” tanya Lia


menatap Soobin. Pemuda itu menggeleng


dengan melepas kemejanya, saat ini hanya


tersisa kaus hitam yang melekat di tubuhnya.

“Kok kamu lepas, dingin loh.” Soobin terkekeh,


ia lupa jika kekasihnya ini sangat cerewet dan


overprotective.





“Sini deh deketan, nah....” Pemuda itu membuat


kemeja basahnya sebagai ganti payung untuk


keduanya, sembari merapatkan badan kepada


kekasihnya. Soobin tiba-tiba mendaratkan


kecupan ringan di pipi Lia, tentu saja hal itu


membuat rona kemerahan di gadis itu terlihat


jelas.





“Ini buat permintaan maaf aku, karena udah


bikin kamu nunggu lama.” Lia tersenyum dan


membalas mengecup pipi Soobin yang sangat


dekat darinya, sampai lekuk kecil di pipi Soobin


nampak sempurna.

“Satu ... dua ... tiga ... hap.” ucap mereka


bersamaan saat melewati kubangan-kubangan


di jalan. Terlihat kekanakan memang, tapi


inilah bahasa cinta mereka. Tawa keduanya


pecah kala kaki mereka terjerembab kubangan


kecil yang tak terlihat, menyebabkan mereka


tersandung bersama.





Anehnya Soobin tidak segera mengajaknya


menuju parkiran, di mana mobil Soobin ada di


sana, melainkan Soobin mengarah menuju


taman kecil di sebelah parkiran. Ah, kebiasaan


Soobin kambuh kembali.





“Soobin, k-kita mau kemana, ayo pulang!” Lia


berteriak kala sampai di taman, Soobin

meninggalkannya dan pemuda itu berlarian


heboh ke setiap sisi taman.





“Lia. Sini, kita hujan-hujanan lagi!” Lia


menggeleng dan berlari menuju pohon besar


terdekat, mengingat taman ini tidak ada tempat


untuk meneduh kecuali pepohonan besar itu.





Soobin selalu suka hujan, ia adalah


penggemar berat hujan, hujan itu adalah


anugerah terindah yang pernah Soobin rasakan


seumur hidup—dengan hujan, manusia bebas


berekspresi; marah, sedih, tertawa semua bisa


dilakukan. Dan yang terpenting. Hujan akan


menjaga semua rahasiamu, ia akan


menambahkan deras air jika kau tak ingin


dilihat siapapun. Semua hal itu Soobin katakan

setiap kali ia bertanya ‘mengapa kamu sangat


suka hujan?’





Keduanya pun bertemu berkat hujan, jatuh


cinta juga karena hujan, dan itu adalah momen


terindah bagi mereka. Pun kata Soobin; jika Lia


merindukannya, maka Soobin menyamakan


atensi dirinya dengan hujan, ia akan datang


dengan menitipkan pesan-pesan cintanya


melalui rintik hujan. Semakin deras, maka


Soobin menitipkan begitu banyak cinta di


dalamnya.





“Kamu curang, gak temenin aku hujan-


hujanan.” Soobin mendatangi Lia dengan


menggerutu, jika seperti ini Soobin tak ada

bedanya dengan keponakannya di rumah.


Sungguh kekasihnya ini menggemaskan.





“Aku besok ada praktikum pagi, dan aku tidak


ingin sakit.” Pemuda itu mengangguk dan


tersenyum tipis, tangan lebarnya meraih jemari


Lia yang bebas—seakan takdir berusaha


mengecoh, jemari keduanya terlihat pas


melengkapi satu sama lain. Tapi kenyataannya,


tidak akan pernah selamanya.





Hujan menghujam terus menerus, semakin


deras. Seakan tak menyisakan waktu untuk


menampakkan titik terang. Pasangan yang


terlihat serasi itu tengah kacau, mereka lama-


lama menyadari—dalam hitungan detik,

hubungan fana ini akan berakhir di hari jadi


mereka. Dan di saat hujan.





“Jadi, bulan depan kalian akan menggelar


pernikahan?” Lia bertanya begitu lirih, sembari


melepas genggamannya.





Soobin bergeming, ia seakan bisu dan tidak


ingin menjawab pertanyaan kekasihnya.





“Kenapa kamu ingkar janji? Katanya kamu bisa


bawa aku kabur dan kita menikah tanpa tau


siapapun,” ia tahu mengungkapkan hal ini sama


saja merusak suasana, Soobin pun sudah


mewanti-wanti di hari ini, ia tak akan


membahas apapun selain dirinya dan Lia.

Hanya saja gadis itu seakan tak kuat


menampa kesedihan di hari bahagia ini, gadis


itu tidak ingin berpura-pura. Gadis itu ingin


mencoba egois sekali lagi, gadis itu sudah gila


akan Soobin dan segala atensi pemuda itu


dalam hidupnya.





“Apakah penantian dan kesabaranku selama 7


tahun ini masih kurang untukmu berjuang?


SOOBIN! JAWAB AKU. KENAPA KAU DIAM


SAJA!” Gadis itu terlihat kacau, dan Soobin tau


itu.





Soobin sangat ingin merengkuhnya dan


mengatakan hal yang baik-baik saja, nyatanya


ia tak bisa. Ia adalah sumber kekacauan


kekasihnya.

“Sayang....” Belum sempat Soobin mengucapkan


sebuah kata, Lia sudah menyelanya kembali.





“Apakah itu semua karena harta? Apa kau tidak


ingin membangun semuanya dari dasar


denganku? JAWAB!”





“JULIA! SUDAH KUKATAKAN KALAU INI


SUDAH JALAN TAKDIR KITA! YA BENAR. AKU


MENCINTAIMU, TAPI KITA TIDAK BISA


BERSAMA!”





Soobin telah tersulut emosi, pikirannya


kacau sejak Ayahnya yang tiba-tiba


menjodohkannya dengan seorang gadis yang


tak ia kenal. Soobin tak bisa menolak

penawaran ayahnya, karena jika ia menolaknya,


pria paruh baya itu akan mencelakai Lia—


bahkan pria itu tak segan membunuh


kekasihnya.





Mulutnya kelu untuk mengatakan


sesungguhnya kepada Lia, sungguh ia menyesal,


sudah melukai gadis itu perlahan. Afeksi yang


diberikan belum cukup untuk mengobati luka


itu.








Mengapa takdir sepedih ini untuk mereka,


apakah mencintai dan memutuskan seumur


hidup dengan orang yang kau kasihi harus


sesusah ini? Mengapa ia yang mengalami? Dosa


apa yang Soobin perbuat di masa lalu?

“Lalu katakan padaku, alasanmu tidak bisa


menolak perjodohan itu?!” Lia menatapnya


dalam seakan mencari-cari sebab, mengapa


pemuda itu menyerah begitu mudah.





“Aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak ingin


menyakiti orang yang aku sayang, jika kau


masih bersamaku,” Soobin mengusap penuh


cinta air mata kesayangannya yang kian jatuh,


ia tidak sanggup mengakhiri ini semua. Tapi ia


juga tak bisa egois, ia masih butuh kehadiran


gadis itu, meski dari kejauhan.





“Aku minta tolong, lupakan aku sayang. Aku


laki-laki jahat yang tega meninggalkan kekasih


tersayangnya. Kumohon hiduplah dengan baik-

baik saja setelah ini.” Lia tertawa pedih dan


menyingkirkan tangan pemuda itu dari


wajahnya.








“Kamu mengatakan demikian, seakan mudah


sekali aku melakukannya. Choi Soobin. Apakah


kamu pemuda yang aku kenal sebelumnya?”


Gadis itu tertawa terbahak tiba-tiba, sungguh


hidupnya sebercanda ini.





Gadis itu berdiri dan hendak melangkah


pergi, tapi secepat kilat tangan Soobin


menahannya. Lia sudah muak dengan drama


ini, setelah pemuda itu mengatakan alasannya,


ia sudah tau.

Sudah saatnya ia melepaskan apa yang


digenggam bertahun-tahun, nyatanya ia harus


menelan bulat-bulat sebuah fakta, bahwa ia dan


Soobin tidak bisa bersama selamanya.





“Baiklah aku pergi, semoga kau berbahagia.


Terima kasih 7 tahun terindahnya.” Gadis itu


menghempaskan kasar tangan Soobin yang


mencekalnya. Ia berjalan cepat keluar dari


taman, dan Soobin? Pemuda itu tak


mengejarnya kembali.





Ini memang sudah akhir. Do’a yang tiap


waktu dipanjatkan itu memang tak pernah


diamini dan dikabulkan. Selesai sudah cerita


indah dan fana miliknya dengan pemuda itu

Tampaknya langit sedang mengadakan


parade kehilangan untuknya selama berhari-


hari, hujan begitu senang dan sumringah—


buktinya deras itu semakin menjadi-jadi. Baik


bagi pemuda dan gadis itu, hujan adalah hal


memuakkan yang pernah ada.





“Mengapa aku harus mendengarkan lagu ini,


sialan! Hujan sialan!” di waktu yang sama, di


tempat yang berbeda, keduanya mengingat


kembali kenangan indah itu.





Faktanya. Lia dan Soobin hanya belum


sadar, bahwa jatuh cinta saat hujan adalah


sebuah masalah.

Jika ia masih dengan orang itu, maka


momen-momen itu akan selalu menyenangkan


saat hujan turun, jika ia sudah tak lagi dengan


orang itu, maka hujan akan selalu menyakitinya


di tiap rintik maupun derasnya. Bahkan bisa


jadi hujan tidak akan memberinya waktu untuk


berteduh, dan terus menghujamnya dengan


segala kesakitan dari kenangan indah itu.





-fin-


Click to View FlipBook Version