RENUNGAN HMI PADA USIA 75 TAHUN (1947-2022) :
FENOMENA PERKADERAN DAN ARAH PERUBAHAN
(DIRANGKAI BERDASARKAN HASIL TANGKAP DAN
PEMAHAMAN DARI FORUM INTERMEDIATE TRAINING
HMI CABANG TANJUNGPINANG-BINTAN 20-26
JANUARI 2022)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
EDI PUTRA
PENGANTAR
14 Rabi’ul Awal 1366 H atau bertepatan dengan 05 Februari
1947 menjadi hari bersejarah berdirinya Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI). Dalam kalender Hiriah, HMI sudah menginjak usia
ke 77 tahun. Namun pada hari ini 05 februari 2022 kalender
masehi, HMI menginjak usianya ke 75 tahun. Pergerakan
perkaderan dan pengkaderan HMI telah terbukti secara nyata
yang dapat kita buktikan bersama baik dilingkup
kemahasiswaan, kepemudaan, sosial, bangsa dan juga Negara.
Pada dasarnya sebuah komitment HMI yang kita kenal sebagai
komitmen asasi saat berdirinya HMI, bertujuan sebagai bentuk
upaya memperpanjang tangan perwujudan keadilan dan
kemakmuran umat dan bangsa melalui pemikrian dan
pergerakan mahasiswa islam yang dinamis. Dapat kita ketahui
secara bersama konstribusi HMI kepada umat dan bangsa tidak
melepaskan diri dari nilai-nilai kebenaran yang mutlak yang
kita anggap sebagai keseharusan bagi HMI untuk
menjalankannya.
Benar kiranya jika HMI dalam bertindak, menitik beratkan
pemikirannya terhadap hasil yang akan dicapai untuk
memenuhi kebutuhan tujuan HMI sebagaimana yang tertera
didalam Konstitusi HMI Pasal 4 anggaran dasar “Terbinanya
Insan Akademis, Pencipta Pengabdi yang Bernafaskan Islam
dan Bertanggungjawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil
Makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata ‘ala”. amun
demikian, konflik dihadirkan secara sadar dengan menetapkan
dinamika-dinamika perubahan bagi perkaderan HMI yang
bertujuan sebagai bentuk dari alur proses dalam berorganisasi.
NNamun yang menjadi persoalannya ialah ketika konflik
tersebut senantiasa dipelihara keberadaannya dan
menyebabkan setiap unsur-unsur HMI keluar dari relnya
karena tidak mampu untuk membendung koflik yang
berlangsung. Secara otomatis, unsur-unsur tersebut secara
perlahan meniadakan keberan dalam proses perkaderan dan
pengkaderan HMI karena terjebak dengan konflik dan
eksistensi masing-masing kelompok. Sehingga, tujuan ber-HMI
berubah fungsi dari yang awalnya untuk masyarakat adil
makmur menjadi kader eksis populis.
Berangkat dari pembuka ini pula, penulis berupaya mencari
titik balik persoalan terhambatnya perkaderan HMI,
menurunnya kualitas ber-HMI dan menurunya minat
berogranisasi di HMI. Tulisan ini tidak bertujuan untuk
menjatuhkan satu poihak dengan pihak lainnya, tidak
bertujuan untuk mencari celah dan mempromosikan maupun
membongkar kejelakan HMI dan tidak pula sebagai ajang
menunjukkan siapa benar dan siapa salah serta bukan
bertujuan untuk menggurui sesiapun. Tulisan ini didasari dari
beberapa sumber, selain dari bahan bacaan yang penulis
peroleh juga diantaranya apa yang terlihat dan dirasakan oleh
penulis selama 7 tahun ber-HMI, aktivitas ber-HMI yang selama
ini dijalankan, pengalaman saat menjadi ketua bidang P3A
komisariat, pengalaman saat menjadi Ketua Umum Komisariat,
hasil diskusi bedah perkaderan didalam forum training LK II
HMI dan lain sebagainya. Mungkin waktu yang singkat, namun
penulis berpikir hendaknya beberapa hal untuk disampaikan
secara terbuka bagi seluruh kader-kader HMI.
Penulis dan tentunya kita semua memiliki harapan besar untuk
HMI di usianya yang sudah beranjak 75 tahun (1947-2022) yang
dengan singkat 25 tahun lagi akan menignjak usia yang ke 100
tahun. Tentunya dimasa usia itu, kita tidak ingin HMI kelak
hanyalah sebuah sejarah bagi kaum golonga muda yang dulu
dari cerita bapak,ibu dan kakaeknya bahwa ada HMI pernah
ada. Tulisan ini dengan tujuan mencari jalan solusi bagi
perkembangan HMI. Yang kemudian tersusunlah tulisan ini
dimulai dengan :
Tanjungpinang, 05 Februari 2022
Penulis,
Edi Putra
Bagian Ke- I
Dasar Pemikiran
SKEMA PERKADERAN HMI
(Pedoman Perkaderan HMI: Hasil-Hasil Kongres HMI Ke- XXXI
di Surabaya 2021)
Sebelumnya kita sudah mendapati berbagai macam bentuk
kritik, saran dan tawaran solusi yang disampaikan baik oleh
internal HMI dan bahkan diluar dari pada HMI yang
memberikan gambaran betapa HMI saat ini sangat
membutuhkan obat penawar dari banyaknya racun-racun yang
telah menyerang tubuh HMI. Salah satunya ialah dari sebuah
buku yang ditulis oleh Prof.Dr. Agussalim Sitompul yang
berjudul 44 Indokator Kemunduran HMI yang menyampaikan
tentang "Suatu Kritik Dan Koreksi Untuk Kebangkitan Kembali
HMI (50 Tahun Pertama HMI 1947-1997). Didalam buku
tersebut, Agussalim Sitompul menampakkan dengan jelas dan
terperinci dari aspek organisatoris, inteletualitas, moralitas,
berbangsa dan bertanah air, bahwa terdapat penyakit-penyakit
yang saat itu diderita oleh HMI. Jika berbicara keseharusan,
maka untuk menyembuhkan sakit itu, HMI harus mampu
membalikkan setiap kebenaran yang disampaikan oleh
Agussalim Sitompul merubahnya menjadi perubahan yang
lebih sehat lagi. Namun demikian, sakit itu semakin parah dan
menamur hingga keseluruh tubuh HMI, saat ini bukan hanya
terjadi dipusat dan di kota-kota besar dimana HMI berdiri,
namun hingga kepelosok dimana HMI sedang berupaya
dikembangkan.
Dimasa awal berdirinya, HMI sudah ditapak dengan dua
komitmen besar yakni pertama “mempertahankan dan
mempertinggikan derajat rakyat Indonesia yang kemudian
dikenal sebagai komitmen kebangsaan” dan kedua
”Menegakkan dan Mengembangkan ajaran Islam yang
kemudian dikenal sebagai komitmen kagamaan/keislaman”.
Komitmen kebangsaan dan komitmen keislaman HMI tidak
lahir dari Rahim seorang sosialis dan seorang kapitalis.
Komitmen kebangsaan dan komitmen keislam HMI tidak pula
tumbuh berkembang didalam tubuh keduanya, namun
komitmen tersebut dilahirkan dengan pertimbangan kondisi
dan situasi Indonesia, Mahasiswa, Perguruan Tinggi, Umat Islam
dan Politik Pemerintah dengan dasar pemikirna yang berakal,
sistematis dan terukur. Sehingga ini pula yang menjadikan HMI
menentukan dua komitmen tersebut sebagai dasar untuk
mecapai tujuan organisasi.
Seiiring berkembangnya pergerakan HMI, tantangan dan
hambatan begitu banyak yang menganggu kekokohan HMI.
Tantangan ini tidak hanya muncul dari ekternal seperti
pemerintah, golongan pemuda dari organisasi lainnya yang ber
sebarangan dengan HMI, golongan oraganisasi islam dan
seterusnya, namun juga termasuk dari kader-kader HMI itu
sendiri. Ini yang dimaksud dengan “Telunjuk lurus Kelingking
mengait”. Ada perang darah tanpa pemikiran antar sesama HMI,
ada kisruh berdinamika yang dengan sengaja diciptakan oleh
internal HMI dan ada konfilk perkaderan hingga konflik
kepengurus yang begitu politis yang diciptakan kader-kader
HMI. Dimana yang menjadi persolannya? Tepatnya pada ketika
konflik itu senantiasa menjadi rawatan bagi HMI. Konflik HMI
yang berkepanjangan di internal HMI sangat memberikan
dampak negativ yang dari kacamata organisatoris, ini tentunya
dapat mencapai pelangaran-pelanggaran organisasi, belum lagi
konflik yang melanggar nilai-nilai etis ber-HMI yang hamper
tidak terlihat dengan kasat pemikiran namun tampak dalam
kehidupan berorganisasi sehari-hari.
Bagian ke- II
HMI dan Keniscayaan Tujuannya
Layaknya organisasi yang lain atau setiap organisasi yang
menaungi satu individu menjadi sekelompok orang yang
terorganisir, tentunya harus memiliki satu tujuan bersama
untuk dicapai agar menjadi nilai juang setiap kader HMI
kembali kepada tujuan asalnya yang berbunyi didalam pasal 4
anggaran dasar HMI yakni tentang tujuan HMI “Terbinanya
Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam
dan Bertanggungjawab atas terwujudnya Masyarakat Adil
Makmur yang Diridhoi Allah Subhanahu wata ‘ala”. Tujuan HMI
saat ini merupakan hasil dari proses pengembangan dan
pembaharuan pila pergerakan HMI yang didasari atas
kebutuhan kondisi dan situasi kemahasiswaan saat ini,
keorganisasian dan kebangsaan. Jika pada muka awal penulis
menyinggung tentang 2 komitmen asasi HMI, pada pasal 4
anggaran dasar HMI ini adalah bentuk pengembangan
komitmen tersebut yang telah dikemas secara kompleks
kedalam satu buah kalimat yang utuh dan teratur.
Pada prinsipnya, tujuan HMI secara kontekstual saat ini tidak
mengubah pergerakan HMI. HMI dituntut untuk bertindak
lebih dimanis dan progresif dalam menjalankan pengabdian
keumatan dan kebangsaannya. HMI tidak lagi dimasa
penjajahan sebagaimana pada tahun tahun sebelum dan
sesudah berdirinya. Tidak ditemukan lagi saat ini angkat
senjata oleh kader HMI, kader HMI merubah itu dengan angkat
dada sebagai kader HMI atas perjalanan sejarah yang
dimilikinya.
Lima kualitas Insan Cita HMI, yang tertuang didalam tujuan
HMI, menjadi bukti keabsahan pergerakan HMI dimasa lampau.
Namun muncullah pertanyaan dari kalangan kader HMI yang
menunjukkan kesadaran berpikirnya, insan Cita Seperti apa
yang diharapkan HMI? Kualitas yang bagaimana yang
dimaksud oleh HMI? Jika dikatakan kualitas keagamaannya,
bukankah persoalan keimanan (akhlak) adalah urusan Tuhan?
Menarik bagi penulis saat ini untuk membincangkan terkait
maksud dan tujuan sebenarnya dari lima kualitas insan cita ini.
Terdapat 3 pondasi penekanan terhadap HMI yang disebut
sebagai organisasi kemahasiswaan yakni Insan Akademis, Insan
Pencipta dan Insan Pengabdi yang kemudian dikuatkan atau
diikatkan dengan Insan yang bernafaskan Islam. Nafas Islam
mejadi tali ikat bagi Insan Akademis, Insan Pencipta dan Insan
Pengabdi, dengan harapan kader HMI mampu menjadikan
nilai-nilai keislaman sebagai kebutuhan, keseharusan dan
kewajiban untuk dijalankan dalam segala aktivitasnya baik
pada diri secara individu, bermasyarakat, berbangsa maupun
diruang lingkup perguruan tinggi. Hal ini bertujuan untuk
memberikan peluang kepada kader-kader HMI agar menjadi
manusia yang bertanggungjawab atas apa yang teah
diembannya. Sehingga nilai tanggungjawab ini dimunculkan
atas dasar nilai-nilai kesadaran masing-masing kader HMI.
Dalam menjalankan aktivitas organisasi, HMI memiliki tujuan
bersama yang hendak dicapai dan itu pula menjadi cita-cita
HMI yakni untuk menjadikan masyarakat menjadi adil dan
makmur. Konsep keadilan dan konsep kemakmuran ini dapat
kita sederhanakan sebagai bentuk kepuasaan kemerdekaan -
individu yang menyatu didalam kemerdekaan kelompok
(masyarakat). Merdekanya manusia, berarti bentuk hak
kesucian manusia. Namun perlu pula kita garis bawahi bahwa
hak ini baru akan tercapai apabila hak kemerdekaan manusia
lainnya dipenuhi secara bersama. Inilah salah satu fungsi
organisasi. Bertindak dengan bersama, berplir secara bersama,
dan bersikap secara bersama untuk mencapai tujuan yang ingin
dicapai. Bukan malah sebaliknya yang mendahulukan
kemerdekaan pribadi sehingga mengeyampingkan hak
bersama.
Menyadari bahwa insan akademis, insan pencipta dan insan
pengabdi sebagai bentuk aktualisasi yang harus dijalankan
untuk dipertanggungjawabkan dalam menuju menggapai
masyarakat adil makmur, maka selayaknya seorang yang
beriman, capaian ini tidak akan memiki arti tanpa sebuah
stempel kesucian dari apa yang sudah dikerjakan yakni Ridho
Allah subhanahu wata ‘ala.
Ridho Allah adalah suatu keniscayaan jika yang didalamnya
tidak terdapat upaya bersama untuk mendapatkannya. Allah
swt idak akan memebrikan Ridho itu kepada diri-Nya, karena
sifatnya bukanlah pengabdian, melaikan dipisiskan sebagai
pencipta, hal ini tidak dibebankan kepada-Nya sebagai Tuhan.
Maka dari itu, selayaknya pemegang kekuasaan, sifat terserah
patut kita serahkan kepada-Nya. Perlu kita ulang bersama
untuk meningat kembali bahwa nilai-nilai keridhoan Allah
tidak dapat atas penyelewengan-penyelewengan dari
ketentuan-Nya. Didalam NIlai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP)
HMI dapat kita lihat seksama tentang status manusia dimuka -
bumi sebagai sematan wakil Tuhan. Manusia dimandatkan oleh
Tuhan untuk menjalankan nilai-nilai ketuhan tersebut pada
seluruh makhluk yang ada dibumi. Layaknya permandatan,
seluruh aspek duniawi diurusi oleh manusia dengan tidak
menyelewengkan dari ketentuan-ketentuan-Nya. Sehingga, jika
dikatakan HMI ingin mencaoai ridho Allah swt, apakah HMI
sudah sebagai Insan akademis, pencitpa dan poengabdi telah
menjalankan perjanjian tersebut dalam aktivitasnya sehari-
sehari? Konsesus ini bukan antara manusia dengan Tuhan,
namun manusia kepada individu manusia itu sendiri. Dapat
dikatakan ini adalah sumpah dari setiap diri manusia untuk
menjalankan nilai-nilai yang Tuhan titipkan dalam dirinya
yang diucap sebagai wakilnya Tuhan dimuka Bumi.
Jika didalam menjalankan keorganisasi, belajar, dan
membeirkan pengabdian, HMI keluar dari koridor tersebut,
maka tidak salah jika HMI sangat mustahil akan mencapai
keridhoan ini. Karena Tuhan Maha Benar dan mencintai
Kebenaran. Karen Tuhan Maha Adil dan Mencintai Keadilan.
Karena tuhan Maha Suci dan Mencintai Kesucian. Maka jika
demikian kesadaran diri kita sebagai kader, tidak akan pernah
ada lagi yang namanya nafsu perebutan jabatan dikomisariat,
dicabang, dio badko dan dilembaga-lembaga HMI lainnya
termasuk di PB-HMI. Tidak akan ada lagi penciptaakn konflik
untuk menjatuhkan, mengucilkan, meninggikan kekuasaan
didalam organisasi. Termasuk tidak akan ada lagi contek
mencotek saat ujian, bayar sana sini untuk meminta dukungan,
tidak menyelesaikan studinya karena kelalain tanpa maslahat
dan tidak aka nada lagi kebohongan-kebohongan didalam
proses merekruit kader apalagi culik-menculik.
Karena Tuhan tidak memandatkan manusia untuk berbuat
demikian. Kembali lagi kepada sifat dan nilai ke-Tuhanan. Maka
dapat dilihat didalam skema 1 dibawah ini :
Skema.1
Pencapaian Tujuan HMI
Skema diatas berupaya untuk menunjukkan bahwa HMI
memikiki tujuan yang mulia dalam menjalankan aktivitasnya
yakni untuk mencapai Ridho Allah Subhanahu wata ‘ala.
Kodrati HMI menyadari bahwa untuk mencapai ridho tersebut
bukanlah sesuatu yang mudah dan tidak pula dapat diraih
dengan cara yang praktis, sehingga ini pula yang menjadi salah
satu cara HMI untuk sampai kepada ridho tersebut yaitu
dengan menyematkan nilai kesucian dari seorang yang disebut
“insan” dalam tubuh HMI. Insan memberikan arti manusia.
Namun Insan yang dimaksud dalam makna yang berbeda ialah
dapat dikatakan sebagai seorang individu manusia yang
mengenal akan Tuhannya, nilai-nilai ke-Tuhanna dan sifat-
sifat-Nya. Status “Insan” pada setiap upaya tujuan HMI ini
menunjukkan betapa kader-kader HMI harus menerapkan hati
nurani yang condong akan keberan dalam tubuh HMI.
Pada skema tujuan HMI diatas menyampaikan pesan bahwa
pencapaian ridho Allah adalah pilihan untuk HMI itu sendiri.
Jika HMI mampu menjalankannya sesuai dengan nilai-nilai ke-
Tuhanan, bukan tidak mungkin HMI akan mampu mencapai
keridhoan itu. Namun begitu pula sebaliknya, HMI akan
mendapatkan kergauan yang terputus-putus dan hasil yang
tidak tergambarkan keberadaaannya jika keluar dari nilai-nilai
tersebut.
Berangkat dari fenomena ini pula, dapat disimpulkan bahwa
HMI saat ini telah lari dari garis lurus yang ia tentukan sendiri.
Rel yang ia bangun sendiri dan dan susunan dinding kokoh
yang ia bangun sendiri. Upaya melenceng dan perobihan ini
dapat dilihat dari beberapa kejadian diantaranya :
1. HMI semakin berpikir praktis untuk mencapai ridho Allah ;
2. HMI lebih menyukai pengabdian tanpa ilmu dan riset sesuai
dengan keterbutuhan pegabdian ;
3. HMI terlalu membaca buku dan meninggalkan membaca
alam (kondisi umat) ;
4. HMI lebih banyak berdebat kusir tentang “ke-Tuhanan” dan
lalai akan nilai-nilai ke-Tuhanan (keagamaan) ;
5. HMI lebih mendahulukan pencapaian hasil ketimbang
harus memaksimalkan proses pada setiap tangga-tangga
aksinya ;
6. HMI secara perlahan melupakan nilai-nilai ke-Islaman
namun membanggakan status “I” pada HMI ;
7. HMI menjalankan aksi protes betujuan untuk eksistensi
belaka tanpa adanya kajian ilmiah yang sesuai dengan kaidah-
kaidah kajian untuk mencapai output yang dihasilkan;
8. HMI meninggalkan masa lalu (sejarah) HMI diawal-awal
pembentukan dengan membanggakan hasil dari (sejarah)
perjuangan HMI; dan,
9. HMI kelewatan bangga terhadap distibusi alumni-alumni
yang dianggap sukses baik di swasta maupun negeri sehingga
melupakan upaya untuk mencapai kesuksesan itu dan dengan
demikian pula HMI semain luput dari permasalahan
kebangsaan.
Sehingga dari poin-poin diatas, HMI harusnya mengevaluasi
pergerakan dan cara pikir HMI saat ini dengan jkembali kepada
proses pencapaian tujuan HMI secara bertahap bukan lagi
mengejar hasil tanpa memaksimalkan kualitas Insan HMI.
Bagian III
HMI dan Perkaderan Politiknya
Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara
sadar dan sisternatis selaras dengan pedoman perkaderan HMI.
Perkaderan HMI dilaksanakan bukan bertujuan untuk
memperbanyak anggota HMI sehingga ini pula menjadi
identitas bahwa HMI bukalah organisasi masa sebagaimana
identitas beberapa organisasi lainnya. HMI menciptakan konsep
perkaderan bertujuan untuk memberikan ruang dan peluang
kepada proses yang dijalankan setiap diri kader-kader HMI.
Sehingga akan kita temukan istilah “seleksi alam” dilingkungan
internal HMI. Seleksi alam ini bukan pula proses penyeleksian
secara sengaja, namun setiap proses yang dijalankan kader HMI
akan disesuaikan dengan kemampuan kader itu sendiri dan
setiap kader akan dengan sendirinya menemukan titik jenuh
dalam berporoses di HMI. Titik jenuh ini dapat kita artikan
sebagai tahap akhir seorang kader berproses di HMI. Selain itu
dapat pula diartikan sebagai bentuk penyerahan sebab dari
ketidak pastian hasil yang ingin didapatkan oleh kader. Namun
dari ekdua arti tersebut, titik jenuh menandakan dimana
kondisi dan situasi proses kader sedang tidak selaras dengan
tujuan HMI. Mengapa demikian? Karena tujuan HMI adalah
tujaun dari komitmen kebangsaan dan komitmen keagamaan.
Jika benar kiomitmen ini tertanam didalam tubuh kader HMI,
maka kata jenuh dan menyerah tidak akan pernah terbesit
didalam pikiran maupun hati setiap kader.
Gambaran diatas bukanlah suatu bentuk sentimen dan pesimis
akan perkaderan HMI namun sedang menunjukkan betapa -
klaim itu terjadi saat ini dan terus menerus menjamur di
Internal HMI. Saya pikir kita akan menyepakati bersama, diluar
dari hak progratif Tuhan, bahwa semua yang terjadi didalam
HMI pasti dikarena suatu sebab. Sekalipun sebab itu diadakan
secara sengaja.
HMI melakukan perkaderan bukan hanya untuk orang lain,
namun perkaderan yang dilakukan pada dasarnya untuk
dirinya pula secara individu. Sehingga baik buruknya
perkaderan yang ia lakukan, dapat menunjukkan pribadi akder
itu sendiri. Setiap pelaku perkaderan membawa kesan, pesan,
dan cara mereka tersendiri, apa yang ia lakukan menunjukkan
cermin dirinya sendiri. Sehingga yang akan terjadi pada yang
dikader, berpotensi menyamai dengan pelaku perkaderan
bahkan akan lebih parah dari itu.
Pernahkah anda melihat adanya pemaksaan terhadpa calon
kader dalam proses rekruitmen? Pernahkah anda menyaksikan
adanya tipu menipu didalam proses menyakinkan calon-calon
kader untuk mengikuti basic training HMI? Dan pernahkah
anda mendengar adanya janji-janji manis yang disampaikan
kepada calon kader? Saya meyebutnya ini dengan “Bermimpi
Tanpa Proses Tidur”.
Jika kita kembalikan kepada skema tujuan HMI diatas, pada
setiap prosesnya kader HMI haruslah senantiasa mengiringi
langkah dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan bersama.
Apakah saat ini sudah sesuai dengan apa yang anda lihat?
Berbeda kondisinya dengan perjalannan sejarah terdahulu,
yang ber-HMI adalah mereka-mereka yang sadar akan peran -
dan fungsinya sebagai mahasiswa Islam dan Pemuda Islam. Saat
ini, peran dan fungsi itu seakan-akan sengaja tertutupi,
mahasiswa Islam lebih membutuhkan skill untuk bekal
hidupnya baik semasa mahasiswa maupun pasca menjadi
mahasiswa. Sudahkah HMI ditempat kita menawarkan itu?
Adakah tawaran skill yang diberikan HMI kepada calon kader
agar mereka minat ber-HMI?
Awamnya, tujuan kader HMI saat ini ialah bagaimana caranya
agar menjadi sukses. Karena nanti setelah sukses gamabrnya
akan dipajang di brosur dan pamphlet-pamflet promosi HMI
dengan memebanggakan diri memiliki alumni yang sukses.
Secara organisasi HMI tetap apda prinsipnya, namun secara
individu HMI sudah semakin berubah tujuan. Eksistensi dan
panggung kekuasaan menjadi tujuan utama dalam ber-HMI.
Penguasaan massa, mobilisasi politik dan pertarungan gerbong
menjadi impian bersama. Kejadian ini bukan lagi asing dimata
dan ditelinga, dapat kita saksikan dengan begitu nyata disetiap
cabang maupun komisariat, bahkan badko dan PB-HMI.
Saat pagi hari anda disuruh emak anda untuk pergi kewarung
membeli telur dan beras, dipertengahan jalan pulang anda
melihat teman-teman anda sedang bermain dan anda dengan
terhasut mulai mampir untuk bermain dan melupakan tugas
anda saat ini terhadap apa yang anda bawa sesuai dengan
amanah bahwa sedang ada yang menunggu anda datang untuk
membawa apa yang sudah anda beli. Terdengar suara kecil dari
teman sebelah anda “ itu diatar dulu barangnya, nanti mama mu
tak bisa masak” lalu anda menjawab dengan santai dan
cengegesan “iya aman tu.sebentar lagi. Yang seharusnya anda -
dapat menikmati makanan itu disiang hari saat lapar, malah
anda harus menunggu hingga sore hari karena kelalaian yang
disengaja lalu sakit perut karena menahan lapar yang
berkepanjangan. Siapa yang ingin adan salahkan?
Janji-janji manis aktor perkaderan HMI kepada calon kader
begitu menggiurkan. “masuklah ke HMI, nanti kamu akan
menjadi gubernur”. Lainnya “bergabunglah di HMI, nanti kamu
akan dapat relasi orang-orang penting”. Lainnya lagi “yok
gabung di HMI, nanti kamu bisa banyak belajar, banayk ilmu
dan banyak pegetahuan. Kamu juga bsia mengembangkan
kemampuan kamu”. Petanyaannya, apakah benar itu tujuan
dari adanay HMI? Dan parahnya adalah, apakah aktor tersebut
sbenar-benar nyata mendapatkan itu atau sudah mendapatkan
itu saat ia sedang meyakinkan calon kader tersebut? Bukankah
“bermimpi tanpa proses tidur itu adalah sebuah khayalan dan
sama saja kamu sedang berkhayal?” Apakah HMI selemah itu?
Berbeda lagi ceritanya ketika anda sudah menjadi kader HMI.
Saat dimana kamu baru saja di bai’at, saat itu pula aktor-aktor
di HMI sudah memetakan posisi mu harus diletakkan dimana,
kepada siapa kamu harus bergaul dan dengan siapa kamu
dibatasi pergaulannya. Padahal, jelas sangat kader HMI
bukanlah produk pemilik aktor-aktor politik HMI. Kader HMI
bukanlah Insan yang dicetak sesuai dnegan kehendak sang
aktor. Belum lagi adanya follow up yang sekedar dijadikan
sebagai benan kerja pengurus. Sehingga kalau mereka bukan
algi pengurus atau bukan pengurus, aktor ini tidak akan
memfollowup anda sebagai kader, sekalipun kader baru. Yang
muncul adalah “ini tanggungjawab oengurus, bukan tanggung-
jawab kami”. Apakah ini konsep perkaderan HMI yang katanya
teroorganisir secara terus-menerus, seistematis dan
dilaksanakan dengans adar itu?
Siapa aktor ini? Perlu saya sampaikan gambarannya anda lah
yang berhak menentukan itu. Aktor pelecehan perkaderan HMI
ini adalah mereka yang mendahulukan adat senioritas
ketimbang tunjuk ajar pedoman perkaderan. Mereka yang haus
akan masa di HMI. Mereka yang dengan sengaja dan bahkan
terencana memblok proses kader HMI dengan membatasi
kepada siapa ia bergaul dan berporses mencari ilmu dan
pengalaman. Mereka yang lebih condong mengajarkan elitnya
HMI. Mereka yang memberikan doktrin negatif kader HMI
dengan membawa status senior ataupun orang yang berkuasa.
Kemudian mereka yang senantiasa menciptakan kubu-kubu
sebagai pemisah antara golongannya dengan golongan yang ia
anggap berseberangan. Mereka yang setiap kali duduk
berkumpul hanya sebatas memburukkan, membuli dan
menjatuhkan orang lain tanpa adanya proses yang baik dalam
menentukan kerangka berpikir dan cara pandang yang objektif
dan subjektif. Mereka yang senantiasa menganggap dilaur dari
pada golongannya adalah orang-orang yang salah dan tidak
bagus untuk diikuti. Mereka yang menggap bahwa siapapun
yang awalnya berada dibarisan mereka, lalu kelaur dari barisan
mereka karena menemukan kebenaran dianggap sebagai
penghianat. Dan mereka yang senantiasa menggunakan cara
yang licik untuk mendapatkan kemenagan sedangkan pada
hakikatnya mereka sudah kalah. Serta mereka yang
membenarkan konstitusi saat mereka mendapatkan pembelaan
dan membuang konstitusi saat mereka mendapatkan
kekalahan.
Skema. II
Gambaran Peran Aktor-Aktor HMI
Pesan tersemat untuk anda adalah “tidak suah susah payah,
cukup aktif saja, nanti kamu gantikan si itu untuk jadi ketua
umum komisariat”. Dan ternyata ini tidak berhenti sampai
disini saja, setelah kekuasaan itu didapat dan dirasakan oerlu
untuk mempeluas kekuasaannya, aktor-aktor ini akan melirik
kembali kader-kader yang sebelumnya ia “kader” dan
mengatakan “kamu tenang aja, persiapkan diri, kamu annti jadi
ketua umum cabang. Kamu hebat bisa memimpin komisariat”.
Namun apa yang terjadi setelah menduduki psosisi tersbeut?
“kamu kalau taka da saya, kamu tidak akan jadi ketua umum.
Jadi jangan pula kamu tidak mau balas budi dan tidak mau ikut
kami”.
Lagi-lagi menimbulkan pertanyaan, apakah ini yang yang
tersistem didalam HMI? Tentunya jika kita melihat, membaca
dan memahami apa yang disampaikan didalam konstitusi HMI,
pedoman-pedoman perkaderan HMI, semua yang diatas adalah
Salah dan tidak sesuai dengan Cita-Cita HMI. Namun kali ini
terbalik, hal tersebut kini malah dijadikan sebuah sistem yang
tersusun.
Skema. III
Peran dan Tujuan Aktor 1
Skema. III
Peran dan Tujuan Aktor 2
Konstitusi hanya akan digunakan saat adanya debat pembelaan
diri. Konstitusi hanya digunakan disaat menjalaka sedang
dalam posisi terjepit dan terjebak. Pada intinya, konstitusi
adalah “kitab kuno” yang akan dilirik saat sudah tersesat. Hanya
sebatas itukah fungsi dan kedudukan konstitusi? Tentunya
tidak selemah itu. Maka dari itu, berdasarkan phenomena yang
terjadi, saya uraikan beberapa persoalan yang terjadi saat ini di
HMI terkait perkaderan politik di HMI :
1.Adanya kekeliruan yang tersistematis didalam proses
pereikrutan kader oleh aktor HMI dengan iming-iming
kesuksesan yang sebenarnya beum tentu dibutuhkan. Artinya
tidak tepat sasaran;
2.Rendahnya nilai jual aktor HMI terhadap HMI dalam proses
pereikrutan calon kader;
3. Followup kader HMI dijadikan sebagai beban program kerja
semata;
4. Tawaran ekspektasi yang berlebihan yang secara sadar
mengetahui bahwa ini bertoilak belakang dengan kenyataan;
5. Bangga berlebihan ketika kader HMI berhasil menduduki
jatan atau posisi dinternal kampus tanpa sadar tidak adanya
konstirbusi maupun kualiats dari kader itu sendiri;
6. Membanggakan kehadiran alumni-alumni HMI yang menjadi
pejabat, petinggi partai politik, penguasa didaerah maupun
dipusat;
7. Bangga akan usia HMI sebagai organisasi mahasiswa tertua di
Indonesia;
8. Pendekatan pereikrutan yang dijalankan dengan cara duculik
dan ditipu untuk dijebak;
9. Pasca basic training, kader baru tidak dihadapkan dengan
ilmu dan keahlian, namun dengan secangkir kopi dan bual-bual
masa lalu jabatan dengan menunjukkan “inilah HMI, yang
berteman lebih dari saudara” (namun suka menusuk keluarga);
10. Pengekangan terhadap pola pikir dan aktivitas kade-kader
HMI; dan,
11. Intervensi dan penanaman doktrin kesetiaan berteman.
Poin-poin diatas mungkin saja tidak cukup jika dibandingkan
berbagai amsalah lain yang anda temukan di internal HMI.
Namun kejadian diatas saat ini sudah menjamur diinternal HMI
dan banyak dijadikan sebagai arah pandangan yang menjadi
keseharusan dilakukan. Anda sebagai kader mungkin saja
mengalami hal yang serupa, namun tidak menutup
kemungkinan memiliki pengalaman dan cerita yang berbeda
saat awal anda mengenal hingga masuk ke HMI.
Namun terlepas dari itu semua, perlu kita sadari secara
bersama, bahwa saat ini perkaderan HMI sedang tidak sehat-
sehat saja, sedan tidak baik-baik saja dan sedang tidak lurus-
lurus saja. Ada upaya pembenahan yang harus kita lakukan
bersama untuk mengembalikan kebenaran amanah perkaderan
HMI.
15 pedoman pokok organisasi HMI, bukan bertujuan untuk
meperumit apalagi mempersulit peroses kader-kader HMI.
Justru itu adalah upaya untuk mendidik dan menunjukkan
proses pengabdian kepada kader-kader HMI untuk lebih tertib,
terukur dan tersistematis. Tidak berserabutan dan tidak pula
tiumpang tindih kekuasaan, peraturan maupun egosentris
masing-masing kader HMI. Sehingga ini pula yang mengapa
kata tujuan HMI itu “Terbinanya” bukan “membinanya atau
membimbingnya atau dibinnanya”. Artinya ialah, masuknya
mahasiswa/i islam di HMI diharapkan memiliki daya tahan
pikiran, pola laku, pola sikap dan pola tindak yang siap siaga
dalam keadaan apapun, dimanapun dan terhadap apapun.
Adanya kesiapan yang sigap dalam diri akder-kader HMI
sehingga menjadikan dirinya insan yang berkualitas serta
sanggup memberikan tanggungjawab dan menjalankan
tanggungjawabnya tanpa harus mengkultuskan aktor-aktor
HMI.
Skema. V
Pandangan Perekruitan
“Terbinanya” dapat kita gambarkan ketika anda diberikan bekal
pegetahuan cara bertahan hidup, pengetahuan dan ilmu
tentang bahaya dan rintangan alam liar, hewan buas serta
tumbuhan maupun hewan yang dapat anda makan. Bertahan
saat dinginnya embun, bertahan saat panasnya matahari,
bertahan saat kekurangan air dan membuat perlindungan saat
terkena hujan. Setelah semua itu anda dapatkan, tiba saatnya
anda untuk dilepaskan tanpa teman dan tanpa petunjuk arah
kedalam hutan liar hanya dibekali dengan korek api dan
sebilah pisau. Kira-kira, apakah dalam kondisi itu anda dalam -
sekejab akan langsung mati saat lepaskan didalam hutan?
Apakah anda akan takut dan trauma? Apakah anda akan
gemetar kencing didalam celana lalu berlari kembali
kebelakang? Padahal anda tahu diujung dari hutan tersebut
ada intan yang harus anda dapatkan. Didikan ini dulunya kita
temukan di dua lembaga yakni TNI dan HMI. Kini siapa yang
masih mempertahan pola didikan itu? Jawab saja dalam hati
masing-masing. Ini bukan ajang membandingkan HMI dengan
yang lainnya, namun sebagai ingatan kembali untuk HMI
bahwa HMI pernah berada didalam pola didikan itu.
Tidakkah semuanya kita masih mengingat apa yang
disampaikan oleh Jendral Soedirman tentang HMI? Ya,
Jendaral Soedirman mengatakan bahwa HMI bukan hanya
Himpunan Mahasiswa Islam namun juga Harapan Masyarakat
Indonesia. dan kalimat itu senantiasa digunakan saat sedang
mempromosi HMI. Siapakah HMI saat itu sehingga sosok
Soedirman rela mengeluarkan kalimat sakti itu?
pertanyaannya, apakah saat jendral mengatakan kalimat itu
menggambarkan kondisi yang sama seperti HMI saat ini?
Bayangkan saja jika Jendral Soedirman masih hidup saat ini,
mungkin ucapan itu ditarik kembali atau berpotensi merubah
arti dari HMI yang akan berubah menjadi ….silahkan maknai
saja dengan cara pandang anda masing-masing.
Berangkat dari itu pula, HMI perlu ada pembenahan yang
dapat ditawarkan diantaranya sebagai berikut :
1.HMI sudah harus memadang pentingnya pengadaan lembaga
pengembangan profesi untuk mewadahi kebutuhan kader-
kader atau calon kader;
2. HMI memulai kembali kebelakang dengan memperbaiki pola
perkaderan HMI yang tidak sesuai ini unutk disesuaikan
dengan pedoman perkaderan yang telah dijelaskan didalam
skema perkaderan HMI;
3. HMI melepaskan egosentris senioritas dan dontrin-dioktrin
dan memahami dengan baik perannya masing-masing baik
indovidu maupun setiap bidang-bidang dikepengurusan;
4. HMI sudah saatnya memunculkan tokoh-tokoh muda yang
berkualitas;
5. HMI tidak lagi menjadikan alumni-alumni tua HMI sebagai
pameran produk keberhasilan HMI yang itu hanya akan
menjadi barang antic yang dikeluarkan saat-saat tertentu saja;
6. HMI sudah harusnya sadar akan Status HMI sebagai
oragnisasi Mahasiswa bukan piolitis dan praktis, fungsi HMI
sebagai organisasi kader bukan masa, Peran HMI sebagao
organisasi perjuangan umat dan bangsa bukan perjuangan
kelompok dan kekuasaan;
7. HMi sudah harus menyadari bahwa followup bukanlah
tanggungajwab beban pengurus semata, sehingga dijalankan
dengan hikmat, penuh kemerdekaan dan ikhlas untuk prose
perkaderan kader-kader HMI;
8. HMI sudah harus sadar bahwa perebutan dan pemeliharaan
konflik yang berkepanjgan dapat merusak proses perkaderan
HMI; dan,
9. HMI sudah harus mendang serius terhadap pola yang
dijalankan selama ini yang berdampak kepada keaktifan,
pengkerdilan serta melemahkan daya tahan berpikir kritis
kader HMI.
(Iklan sejenak sebelum Melanjutkan bacaannya. Sambilan kita
isi permainan teka-teki dibawah ini)
Gambar 1
Permainan Teka-Teki Silang Guna Followup
Tingkat Pengetahuan
untuk mengisi teka-teki silang ini, berikut ditampilakn soal-soal
nya. silahkan diidi dengan bijak dan rapih. sembari mengingat
materi-materi sewaktu kita berada di forum basic training.
menarik bukan? silahkan dilanjutkan.
Soal :
1. Tempat berdirinya HMI adalah ?
2. HMI berdiri setelah............Kemerdekaan Indonesia
3. Sifat HMI adalah ?
4. Tokoh yan gmemprakarsai berdirinya HMI adalah ?
5. Salah satu status keanggotaan HMI adalah anggota ?
6. Tujuan HMI terkandung dalam AD HMI yaitu pada pasal ?
7. Salah satu dari lima Kualitas insan cita HMI adalah ?
8. Bahasa lain dari gordon HMI adalah .......... HMI ?
9. Instansi tertinggi HMI yang berada dipusat disebut ?
10. Instansi HMI tertinggi yang berada di daerah
kabupaten/kota disebut dengan ?
11. Instansi tertinggi HMI di Internal kampus disebut ?
Sumber: Arsip Komisariat FISIP UMRAH (2017)
Menjadi penyebab sebaliknya jika hari ini banyak yang kurang
minat untuk masuk HMI. Menganggap HMI hanya sebatas
organisasi politik. Menurunya Intelektual dan Spiritual ber-
HMI mengakibatkan HMI senantiasa dianggap sama dengan
oraganisasi lainnya. Ini dapat dibangun kembali jika HMI
memiliki minimal 3 orang dari masing-masing instansi di HMI
memiliki kesadaran bersama.
Bagian IV
HMI dan Jenjang Trainingnya
Sebagaimana yang tekah disampaikan didalam konstitusi HMI,
dalam hasil-hasil kongres terbaru yang ke XXXI di Surabaya,
HMI memiki beberapa jenis dan tingkatan training. Ada
training formal dan ada pula training non-formal. Kemudian
juga dapat kita ketahui bahwa HMI juga memiliki perkadaran
informal dan training lainnya diluar dari pada yang disebutkan
sesuai dengan kebutuhan HMI. Berdasarkan konstitusi HMI
dapat kita lihat bersama berbagai macam jenis training-
training HMI yang sudah disusun rapih untuk dilaksanakan
oleh instansi-instansi yang ada di HMI dibawah ini:
1. Training Formal :
Adalah Pelatihan dalam rangka pembentukan kader yang
sistematis dan berjenjang. Training formal HMI terdiri dari
Latihan Kader I (Basic Training), Latihan Kader II (Intermediate
Training) dan Latihan Kader III (Anvance Training)
2. Training Non-Formal
Training non-formal merupakan pelatihan diluar training
formal yang dilaksanakan secara sistematis yang bertujuan
untuk mengembangkan keahlian dan kemampuan dalam
bidang tertentu. Training non-formal ini dapat dibagi beberapa
macam kegiatan diantaranya : Training Of Trainer (TOT),
Training Managemen Training (TMT), Training Instruktur NDP,
Training Instruktur Ideopolitorstratak, Training Gender,
Sekolah Pimpinan HMI, Kursus Studi Islam (KSI).
4. Perkaderan Informal
Perkaderan informal mencakup hampir seluruh kegiatan
perkaderan HMI antara lain meliputi:
a. Follow-Up
Follow-up merupakan aktivitas pasca training yang berfungsi
untuk memaksimalkan kemampuan kader sesuai dengan
levelnya. Hal ini dimaksudkan sebagai penguat pada materi-
materi yang telah diberikan dalam jenjang training dan bentuk
tindak lanjut dari training.
b. Up-Grading
Up-Grading merupakan kegiatan yang menitik beratkan pada
pengembangan nalar dan kemampuan kader dalam rangka
mempersiapkan menuju jenjang training berikutnya. Up-
grading wajib di lakukan sebagai pengembangan dan
kelanjutan dari tiap-tiap jenjang training yang berfungsi
sebagai penguat dan pengembangan pada training yang
sebelumnya di ikuti.
c. Aktivitas
Yang dimaksud dengan aktivitas adalah segala kegiatan yang
dilakukan oleh kader dalam rangka membentuk dan
mengembangkan dirinya sehingga menjadi MuslimIntelegensia
(Insan Cita).
d. Promosi
Promosi adalah pendistribusian kader dalam aktivitas struktur
organisasi, baik internal ataupun eksternal HMI.
e. Coaching/Pendampingan
Coaching/pendampingan adalah aktivitas perkaderan yang
dilaksanakan dalam bentuk pembinaan/bimbingan terhadap
kader oleh pendamping/pembimbing yang bersifat personal/
individu. Setiap individu kader, wajib dibimbing dan diarahkan
sesuai dengan minat dan potensinya masing-masing.
f. Pembentukan iklim, suasana dan budaya positif
Yang dimaksud dengan pembentukan iklim, suasana, dan
budaya positif adalah menciptakan kondisi yang kondusif
untuk perkaderan yang selaras dengan prinsipprinsip
perkaderan dalam setiap aktivitas HMI, sehingga para kader
nyaman dan dapat mengembangkan potensi dirinya
semaksimal mungkin. Penciptaan kondisi ini mesti didukung
oleh regulasi organisasi yang dapat mendorong terbentuknya
kebiasaan dan kepribadian kader sesuai dengan Muslim
Intelegensia (Insan Cita).
g. Kegiatan lain yang dibutuhkan.
Berbagai macam jenis dan bentuk kegiatan diatas merupakan
upaya kongkrit HMI untuk menjadikan kader-kadernya agar
Terbina. Ingat ya, agar “Terbina” bukan agar Pintar, agar punya
teman, agar serasa punya saudara, agar merasa punya wadah
tempat berlindung semata dan lain sebagainya. Semuanya
dirancang dengan konsep yang matang agar kader HMI itu
terbina.
Jika kader HMI sebelumnya dalam proses mengikuti basic
training HMI dengan cara yang benar dan tepat, bukan didasari
atas keterpaksaan, bujukan dan rayuan apa lagi tipu-tipuan,
dapat dipastikan akan muncul kesadaran didalam diri kader
HMI secara mandiri. Kesadaran mandiri ini pula akan
berdampak kepada proses kader-kader ber-HMI baik keaktifan,
konstibusi, loyalitas maupun totalitasnya yang merdeka dan
ikhlas. Sebelum kongres ke 31 di Surabaya, HMI masih mem-
bagikan jenis status keanggotaannya yakni anggota muda dan
anggota biasa. Namun pada kongres 31 status anggota muda
dihapuskan. Sedangkan sttaus anggota kehormatan HMI sudah
dihapus didalam kongres ke 30 di Ambon.
Lihatlah kepolosan HMI dalam mendidik kadernya agar
terdidik, membina kadernya agar Terbina. Semu dari kulit
hingga tulang HMI mengatur itu. Dari rumah, kekampus, di HMI
dan dilingkungan masyarakat HMI mengatur dengan
sedemikian rupa baiknya dan tertibnya proses perkaderan bagi
akder-kader HMI. Maka tidak salah jika yang masuk HMI secara
benar, menjalankan HMI secara benar, mengikuti jenjang
training formal bukanlah sesuatu yang menakutkan. Namun
kita dapat menemukan beberapa persoalan yang kerap kali
terjadi diinternal HMI yang berefek terhadap proses training di
HMI diantaranya :
1. Diawali dengan proses pereikrutan yang tidak tepat dan
melenceng dari nilai-nilai perkaderan sehingga yang muncul
dalam diri bukan kesadaran melainkan keterpaksaan;
2. Followup yang tidak dilaksanakan secara ikhlas dan tertib,
sehingga yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan
dukungan masa dan menarik perhatian kader-kader baru
bahwa ia memiliki peran;
3. Menyadarkan setiap kader harus mengikuti atau
melanjutkan jenjang trainingnya dengan iming-iming
kekuasaan dan jabatan.bukan karena upaya pengembangan
diri. Sehingga ini akan bertolak belakang terhadap kualitas
yang dimiliki oleh kader tersebut;
4 Melakukan tekanan-tekanan terhadap kader yang dianggap
berpotensi untuk dijadikan sebagai spion senior-senior;
5. Mendisain sedemikian rupa bahwa jenjang training
menunjukkan kualitas dan status kedudukan kader di HMI
sehingga itu menjadi minset;
6. Senantiasa menjadi pemisah antara kader yang masih LK I
dengan kader-kader yang sudah melanjutkan trainingnya;
7. Adanya komitmen-kimitmen tertentu antara senior kepada
junior, antara pengurus kepada anggota ketika melanjutkan
jenjang training. Sehingga menyebabkan kader menjalakan
organisasi ataupun aktif diorganisasi karena keterpaksaan
tanpa kebebasan diri;
8. Hidupnya budaya buli membuli dan singgung menyinggung
antar kader yang sudah lk 2 namun tidak aktif maupun kepada
kader yang sudah lama lk 1 namun tidak atau belum lk 2; dan,
9. Nyatanya iming kesenjangan antara sifat kader lk 2 dan
kader lk 1. “kalau lk 2, kamu tidak disuruh angkat gallon lagi.
Kalau suidah lk 2, kamu tidak akan disuruh pungut sampah dan
beli gorengan lagi. Kalau sudah lk 2, kamu bisa begaya dikit”
Rusaknya perkaderan HMI saat ini bukan lagi hanya diluar
kulit, namun racun-racun yang ditaburi aktor-aktor HMI ini
sudah menyebar dan menggerogoti hingga kesaraf-saraf vital
HMI. Jadi sangatlah wajar jika perilaku kader akan
menggambarkan orang yang mengkadernya. Sifat, watak, pola
pikir, pola tindak dan pola laku lainnya sangat mencerminkan
aktor-aktor yang mengkadernya. Poisitf maupun negatifnya.
Kelebihan maupun kekurangannya.
Aktor-aktor HMI yang masih nyaman dengan caranya yang
demikian, sudah harus berpikir bijak dan meluruskan kembali
jalannya untuk meninggalkan cara-cara tersebut. Dapat
disadari hal ini memang tidak langsung berdampak, namun
lebih bahaya jika ini tanpa terlihat dan terus berjalan
berkelanjutan hingga turun temurun setiap generasi.
Kesadaran ini bertujuan unutk menjadikan HMI semakin
dirasakan berguna poleh lader-kader HMI. Bukan semata
sebagai wajah untuk ajang perebutan kekausaan, perebutan
masa dan golongan, ajang adu dada dan ajang adu senioritas.
Masa depan HMI sangat mutlak ada didalam tubuh kader HMI
itu sendiri. Sehingga kiranya kesadaran ini tidak kembali
dimunculkan, bukan tidak mungkin kedepannya HMI hanyalah
bagian dari sejarah masa lalu yang terus berjalan hidup namun
tanpa fungsi bagi umat dan bangsa.
Penutup :
Menyadari dari perbedaan cara pandang, keilmuan serta
pengalaman, tentunya masih banyak kekurangan dari
penulisan ini, untuk itu masukkan, saran, pendapat dan kritik
yang membangun sangat penulis harapkan. Agar dapat
mengembangkan pemikiran pembaharuan untuk HMI lebih
baik lagi kedepannya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan
kesilapan.
Bahan Bacaan
Hasil-Hasil Kongres Himpunan Mahasiswa Islam ke XXX di
Ambon tahun 2018.
Hasil-Hasil Kongres Himpunan Mahasiswa Islam ke XXXI di
Surabaya tahun 2021.
Muniruddin, Said. 2017. Bintang Arasy: Tafsri Filosofis-
Gnostik Tujuan HMI. Cetakan ke II. Syiah Kuala University
Press: Aceh Besar
Madjid, Nurcholish. 1999. Islam Doktrin dan Peradaban.
Paramadina: Jakarta Selatan
Sitompul, Agussalim. (2008). Sejarah perjuangan Himpunan
Mahasiswa Islam (1947-1975). Cetakan ke II. Misaka Galiza:
Jakarta
Sitompul, Agussalim. 2006. 44 indikator kemunduran HMI:
suatu kritikan dan koreksi untuk kebangkitan kembali HMI.
CV Misaka Galiza: Jakarta
Pedoman-Pedoman :
Pedoman Kepengurusan HMI Cabang dan Kepengurusan HMI
Komisariat
Pedoman Perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam
Tafsir Tujuan Himpunan Mahasiswa Islam
Tafsir Islam sebagai Azas Himpunan Mahasiswa Islam
Tafsir Indepedensi Himpunan Mahasiswa Islam
Penunjang :
Diskusi dan evaluasi dari forum Intermediate Training (LK II)
HMI Cabang Tanjungpinang-Bintan pada tanggal 20 s/d 26
Januari 2022. Dikoordinator oleh Master Teguh Setyandika
selaku Master Of Traning Dengan Anggota Pengelola :
1. Master Marlis Ahmad
2. Master Ardiansyah
3. Master Ade Putra Utama
4. Master Kafabihi
5. Master Ade Wardana
6. Master Firman
Dan dikung pula materi-materi tentang ruang lingkup HMI
oleh pemateri-pemateri dari alumni-alumni HMI.
Selamat Milad Ke 75
Himpunan Mahasiswa Islam
Perjuangan dan Pengabdian
Untuk Umat Dan Bangsa
Bahagia HMI
Jayalah KOHATI
Yakin Usaha Sampai