KARYA INOVASI BADUNG FESTIVAL INOVASI TAHUN 2023 TIM PENGUSUL Ni Made Galuh Cakrawati D.W. I Kadek Risky Artha Widnyana A.A. Ngurah Gandi Adi Pranata SMA NEGERI 3 DENPASAR, BALI TAHUN 2023
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN Nama : I Kadek Risky Artha Widnyana Tempat / Tgl. Lahir : Denpasar, 26 Oktober 2005 Alamat / Hp / e-mail : Jl. Siulan Gg. Flamboyan II, no 26, Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur, Denpasar, Bali / 081246962007 / [email protected] NIS / NIM / NIK : 11837 / 5171022610050004 Asal (SMP / SMK. PT, Lembaga) : SMA Negeri 3 Denpasar Menyatakan sepenuhnya usulan karya yang saya daftarkan pada Badung Festival Inovasi merupakan karya orisinil saya dan bukan jiplakan (plagiat) karya orang lain. Apabila dikemudian hari ternyata ada pernyataan dari pihak lain mengenai keaslian hasil karya ini saya bersedia mempertanggungjawabkan secara hukum. Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya, tanpa paksaan dari pihak manapun. Denpasar, 30 Mei 2023 I Kadek Risky Artha Widnyana NIS : 11837
HALAMAN PENGESAHAN Judul Karya Inovasi : Edible Coating Dari Kombinasi Sampah Bunga Kamboja (Plumeria) dan Ampas Tahu Kategori Tema : Inovasi Pertanian dan Pertenakan Berkelanjutan (PPB) Inovator/Ketua * a. Nama lengkap : Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya b. NIS : 11581 c. Asal (SMA/SMK, PT, Lembaga) : SMAN 3 Denpasar d. Nomor HP : +62 878-5622-4575 e. Email : [email protected] Anggota a. Nama lengkap : I Kadek Risky Artha Widnyana b. NIS : 11837 c. Asal (SMA/SMK, PT, Lembaga) : SMAN 3 Denpasar d. Nomor HP : +62 812-4696-2007 e. Email : [email protected] Anggota a. Nama lengkap : A.A. Ngurah Gandi Adi Pranata b. NIS : 11830 c. Asal (SMA/SMK, PT, Lembaga) : SMAN 3 Denpasar d. Nomor HP : +62 895-3860-60620 e. Email : [email protected] Denpasar, 30 Mei 2023 Menyetujui, Pembimbing Ketua, I Wajan Ananta Widjaja I Kadek Risky Artha Widnyana. NIP. - NIS. 11837 RINGKASAN '
RINGKASAN Kabupaten Badung merupakan salah satu kabupaten di Bali yang memproduksi buah - buahan. Menurut Bali Investment Guide (2018), terdapat kendala pasca panen buah dan sayur di Kabupaten Badung, Bali. Salah satu masalah utama pasca panen adalah kehilangan mutu dan penurunan kualitas buah dan sayur. Oleh karena itu dibutuhkan edible coating untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan mutu buah segar pada suhu ruang, yang beberapa bahan diantaranya adalah pati dan asam palmitat. Sampah bunga kamboja kaya akan kandungan asam palmitat (Setyaningrum P., 2022), sedangkan limbah ampas tahu mengandung pati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui potensi dan efektivitas lama perendaman edible coating dari efektivitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu terhadap kualitas produk holtikultura. Metode penelitian berupa Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari 10 perlakuan dan terbagi menjadi (1) komposisi dan (2) lama perendaman. Yaitu : P0 (Kontrol negative/Aquades); P1 (Edible coating dari pati ampas tahu 10 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 1 menit); P2 (Edible coating dari pati ampas tahu 10 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 3 menit); P3 (Edible coating dari pati ampas tahu 10 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 5 menit); P4 (Edible coating dari pati ampas tahu 20 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 1 menit); P5 (Edible coating dari pati ampas tahu 20 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 3 menit); P6 (Edible coating dari pati ampas tahu 20 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 5 menit); P7 (Edible coating dari pati ampas tahu 30 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 1 menit); P8 (Edible coating dari pati ampas tahu 30 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 3 menit); P9 (Edible coating dari pati ampas tahu 30 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 5 menit). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali. Sehingga terdapat 30 objek penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa kombinasi sampah buah kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu memiliki efektivitas dan dapat dijadikan sebagai edible coating untuk produk hortikultura, sampai dengan penulisan laporan hasil penelitian masih dalam proses eksprimen dan pengujian. Kata Kunci : Edible coating, asam palmitat, sampah bunga kamboja, pati, limbah ampas tahu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan data BPS 2020 – 2021 terlihat bahwa produksi buah-buahan nusantara terus mengalami peningkatan. Pada 2021 mencapai 25,96 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 5,4% dibandingkan produksi 2020 sejumlah 24,63 juta ton. Komoditas
dengan jumlah produksi terbesar adalah pisang (8,74 juta ton/33,67%), nanas (2,89 juta ton/11,13%), dan mangga (2,84 juta ton/10,94%). (BPS, 2020 - 2021 diakses 23 Mei 2023) Kabupaten Badung merupakan salah satu kabupaten di Bali yang memproduksi buah - buahan. Selama tahun 2021 terdapat empat jenis tanaman buah yang memiliki produksi lebih dari 10.000 kuintal yaitu durian (100.813 kuintal), jeruk siam/keprok (32.387 kuintal), mangga (17.619 kuintal), dan nangka/cempedak (80.881 kuintal) (badungkab.bps.go.id, diakses pada jumat, 26 Mei 2023) Menurut Bali Investment Guide (2018), terdapat kendala pasca panen buah dan sayur di Kabupaten Badung, Bali. Salah satu masalah utama pasca panen adalah kehilangan mutu dan penurunan kualitas buah dan sayur. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk penyimpanan, pengangkutan, dan pengemasan yang tepat. Akibatnya, produk-produk tersebut menjadi rentan terhadap kerusakan fisik, pembusukan, atau hilangnya nilai gizi. Edible coating merupakan suatu metode yang dapat memperpanjang umur simpan dan mempertahankan mutu buah segar pada suhu ruang. Keluarnya gas, uap air dapat dicegah dengan penggunaan edible coating sehingga proses pematangan buah dan browning dapat dihambat. Edible coating yang berupa lapisan pada permukaan kulit buah tidak akan berbahaya (Hwa, dkk, 2009 dalam Satria, 2019). Menutut Suriati (2022), komponen penyusun edible coating terdiri dari hidrokoloid (polisakarida, protein, alginat), lipid (asam lemak, aril gliserida, lilin), dan komposit (protein-protein, polisakarida-protein, lemak-polisakarida). Bahan ini diformulasikan dengan surfaktan dan plasticizer. Ketiga komponen ini dapat memberikan perlindungan yang maksimal jika digabungkan. Metode aplikasi pelapisan pada buah potong segar adalah pencelupan, pembusaan, penyemprotan, pengecoran, dan tetesan terkontrol. Keuntungan menggunakan edible coating adalah beberapa bahan aktif dapat dimasukkan ke dalam matriks polimer dan dikonsumsi bersama makanan sehingga dapat mempertahankan atribut nutrisi dan sensoriknya. Adapun menurut Kristanti A. (2022), bahan bahan yang digunakan untuk membuat pelapis 1 (satu) liter berupa 5 (lima) mL asam lemak jenuh (Asam Laurat, Miristat, Palmitat, dan Stearat) ; 10 (sepuluh) gram pati yang berasal dari berbagai macam tumbuhan seperti jagung, kacang kacangan, umbi, dan gandum ; 4 (empat) gram CMC (Carboxymethyl
Cellulose), digunakan sebagai bahan pengental yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai dari makanan hingga non makanan ; 5 (lima) mL gliserin, digunakan sebagai zat pengental atau pemanis. Umumnya tidak beracun dalam sistem pencernaan, dan yang terakhir adalah sebanyak 1 liter aquades. Menurut Budijanto, et al., (2011), lama perendaman produk terhadap Cairan Edible Coating juga mampu mempengaruhi susunan suatu produk. Makin Panjang waktu perendaman maka akan makin kiat susunan yang terbentuk hingga mampu menurunkan laju metabolisme. Teknik coating (pelapisan) merupakan salah satu pilihan untuk mempartahankan kualitas benih atau buah (kominfo.jatimprov.go.id, 2021 diakses pada 27 Mei 2023). Teknik coating yang dipakai adalah teknik pencelupan pada permukaan buah. teknik pencelupan adalah dengan mencelupkan produk makanan segar ke dalam larutan pelapis untuk memungkinkan pembasahan sempurna pada permukaan bahan makanan. (Owusu K., & Oduro A., 2021). Bunga kamboja kaya akan kandungan asam palmitat, jumlahnya mencapai 36,2%. Minyak ini bisa bekerja sebagai anti jamur. Bunga kamboja juga dapat dimakan, dan dibuat menjadi teh. (Ary, dkk., 2012). Tanaman kamboja menjadi sangat mudah di penjuru pulau Bali karena kepopulerannya. (Setyaningrum P., 2022). Tahu merupakan makanan kaya protein yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pada proses pengolahan tahu akan dihasilkan limbah berupa ampas tahu yang apabila tidak segera ditangani, dapat menimbulkan bau tidak sedap (Sulistiani, 2004 dalam Masyhura MD, dkk., 2019). Bunga kamboja sebagai sumber asam palmitat yang bermanfaat untuk mempertahankan kelembapan. Asam palmitat memiliki sifat hidrofobik yang akan menghambat laju transmisi uap air yang dimana asam ini akan melindungi permukaan buah dari mikroba atau kelembapan udara dengan melapisinya. Sedangkan, limbah ampas tahu dapat diolah menjadi pati yang memiliki struktur amilosa, dimana amilosa biasanya digunakan untuk membuat plastik biodegradable yang dapat dikonsumsi.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik meneliti tentang pengaruh edible coating dari kombinasi sampah bunga Kamboja (Plumeria) dengan limbah ampas tahu dan lama perendaman terhadap kualitas produk hortikultura. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan bahwa Komponen penyusun edible coating terdiri dari hidrokoloid (polisakarida, protein, alginat), lipid (asam lemak, aril gliserida, lilin), dan komposit (protein-protein, polisakarida-protein, lemak-polisakarida). Lama perendaman produk terhadap cairan Edible Coating dapat mempengaruhi susunan suatu produk (Budijanto, 2011). Adapun kamboja kaya akan kandungan asam lemak yaitu asam palmitat 36,2% (Apriani Y., 2022), sedangkan Ampas tahu mengandung pati yang memiliki protein (26.6%), lemak (18.3%), karbohidrat (41.3%). (Sutrisno D. & Taufik Y., 2016). Hanya saja belum diketahui potensi dari kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu sebagai edible coating serta pengaruh lama perendaman produk holtikultura pada larutan edible coating terhadap kualitasnya. Dari rumusan masalah tersebut muncul pertanyaan penelitian,yakni: 1.2.1. Dapatkah Kombinasi sampah buah kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu dijadikan sebagai edible coating? 1.2.2. Bagaimanakah efektivitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu sebagai edible coating? 1.2.3. Bagaimanakah efektivitas lama perendaman edible coating dari efektivitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu terhadap kualitas produk holtikultura? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Untuk mengetahui potensi dari Kombinasi sampah buah kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu sebagai edible coating. 1.3.2. Untuk mengetahui efektivitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu sebagai edible coating.
1.3.3. Untuk mengetahui efektivitas lama perendaman edible coating dari efektivitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu terhadap kualitas produk holtikultura. 1.5 Manfaat Penelitian 1.4.1. Agar kombinasi sampah buah kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu dapat dijadikan sebagai edible coating. 1.4.2 Ke depan dapat mengurangi kendala pasca panen buah di Kabupaten Badung 1.4.3 Dapat Meningkatkan nilai ekonomi bunga kamboja (Plumera) dan Pati Ampas Tahu BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ampas Tahu Ampas tahu merupakan limbah dari proses pembuatan tahu. Secara fisik bentuknya agak padat, berwarna putih, diperoleh ketika bubur kedelai diperas kemudian di saring. Karakteristik kimia ampas tahu adalah kandungan organik yaitu karbohidrat, lemak, dan protein. Limbah padat pembuatan tahu di dalam air merupakan padatan tersuspensi dan terendap. Ampas tahu yang merupakan limbah industri tahu memiliki kelebihan, yaitu kandungan protein yang cukup tinggi (Masturi et al. 1992 di dalam Sutrisno A.D, 2016). Di dalam ampas tahu mengandung protein 21,30%, lemak 4,09%, karbohidrat 77,60%, abu 3,64%, dan energi 3,11 Kkal/g. Kandungan ini cocok untuk dijadikan sebagai bahan pembuatan pakan ikan alternatif berupa mikrokapsul (unsoed.ac.id, 2021 diakses pada 27 Mei 2023). 2.2 Bunga Kamboja Kamboja merupakan jenis tanaman tropis yang tumbuh subur di dataran rendah sampai ketinggian tanah 700 m di atas permukaan laut. (Gilman dan Watson, 1994 dalam Wrasiati L., dkk, 2011) Bunga kamboja kaya akan kandungan asam palmitat, yang jumlahnya mencapai 36,2%, asam linoleat, asam laurat dan asam miristat. Selain asam, kandungan minyak atsiri
juga ada di dalam bunga kamboja. Dari minyak atsiri inilah aroma harum itu berasal. Minyak ini bisa bekerja sebagai anti jamur (Ary, dll. 2012 dalam Concerious 2012). 2.3. Pati Pati merupakan salah satu polimer alami yang tersusun dari struktur bercabang yang disebut amilopektin dan struktur lurus yang disebut amilosa. Pati diperoleh dengan cara mengekstraksi tanaman yang kaya akan karbohidrat seperti sagu, singkong, jagung, gandum, dan ubi jalar. Pati juga dapat diperoleh dari hasil ekstraksi biji buah-buahan seperti pada biji nangka, biji alpukat, dan biji durian (Cornelia, et al., 2013 dalam Anniesah R., dkk. 2018.). Kegunaan pati dari berbagai tanaman berfungsi sebagai eksipien farmasi (Hu, et al., 2015 dalam Anniesah R., dkk. 2018.). Pati tersedia secara luas dan berguna dalam produksi tablet karena sifatnya yang inert, murah dan penggunaannya sebagai pengisi, pengikat, desintegran dan glidan (Adetunji, et al., 2006 dalam Anniesah R., dkk. 2018.). Pati memiliki banyak manfaat dalam pembuatan edible film atau edible coating. Pati dapat membentuk film kuat dan fleksibel, memberikan sifat barrier terhadap uap air dan oksigen, melarutkan aroma dan pewarna, serta memiliki sifat biodegradable. Pati sering digunakan bersama dengan bahan lain untuk meningkatkan kualitas dan kinerja edible film atau edible coating. (Azeredo, 2009) 2.4. Asam Palmitat Asam palmitat merupakan asam lemak jenuh rantai Panjang yang memiliki titik cair (melting point) yang tinggi 640C sehingga asam palmitat lebih tahan terhadap oksidasi (ketengikan) disbanding asam lemak yang lain (Zulkifli dan Teti, 2014 dalam Marzuki L., 2016). Asam palmitat tersusun dari 16 atom karbon (CH3(CH2)14COOH). Pada suhu ruang, asam palmitat berwujud padat dan berwarna putih. Selain itu juga asam palmitat adalah produk awal dalam proses biosintesis asam lemak (Listiyawati, 2012 dalam Marzuki L., 2016). Menurut Hagenmaier and Shaw (1990) dalam Yanti A., (2020), asam lemak rantai panjang biasa digunakan dalam pembuatan edible film karena mempunyai titik didih (melting point) yang tinggi dan sifat hidrofobiknya. Tumbuh-tumbuhan dari famili Palmaceae, seperti kelapa (Cocos nucifera) dan kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan sumber utama asam lemak ini.
Pada suhu ruang, asam palmitat berwujud padat dan berwarna putih. Titik leburnya 63,1 ºC. Asam palmitat adalah produk awal dalam proses biosintesis asam lemak. Park dkk (1996) dalam Yanti A., (2020) menyatakan bahwa permeabilitas uap air dan gas dari edible film dipengaruhi oleh konsentrasi asam lemak. Asam palmitat dapat digunakan dalam edible coating untuk memberikan manfaat seperti penghambatan pertumbuhan mikroorganisme, mempertahankan kelembaban produk, dan melindungi produk dari oksidasi lemak. Asam palmitat bekerja sebagai agen antimikroba, membentuk lapisan pelindung, dan mengontrol permeabilitas lapisan edible coating. Penggunaan asam palmitat dalam edible coating dapat bervariasi tergantung pada jenis produk pangan dan tujuan aplikasi. Asam palmitat dianggap aman untuk dikonsumsi dalam batasan dosis yang ditetapkan oleh otoritas keamanan pangan.(Kuswandi dkk, 2017) 2.5 Edible Coating Menurut Owusu K. & Oduro A. (2021), Edible Coating adalah biopolimer yang banyak diteliti untuk pengemasan dan pengawetan makanan. Bahan kemasan yang dapat dimakan adalah jenis kemasan yang dapat dimakan dan memiliki kemampuan biodegradable serta memberikan penghalang terhadap kelembaban, gas, dan pergerakan zat terlarut. Pelapis yang dapat dimakan biasanya terbuat dari bahan yang dapat terurai secara hayati seperti bahan berbasis Lipid, Protein, atau Polisakarida. Bahan pelapis ini dapat digunakan melalui film atau menggunakan pelapis. Yang terakhir biasanya dalam bentuk cair sedangkan yang pertama biasanya membentuk lapisan tipis di sekitar produk makanan. Edible Coating yang dapat dimakan membantu meningkatkan penampilan produk hortikultura dengan memberikan kilau, menyembunyikan bekas luka, menekan pembusukan dan perkembangan gangguan fisiologis. Pelapis yang dapat dimakan secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok utama; Pelapis yang dapat dimakan berbasis protein, pelapis berbasis polisakarida, dan pelapis berbasis lipid. Pemilihan bahan aktif tergantung pada karakteristik produk dan jenis matriks polimer dalam pelapis. Senyawa aktif atau fungsional; Antioksidan, antimikroba, nutrisi, vitamin, zat anti-kecoklatan, enzim, dan probiotik yang dapat diaplikasikan ke dalam matriks pelapis untuk membantu menjaga kualitas produk (Owusu K. & Oduro A., 2021) Pelapis yang dapat dimakan dapat mengurangi aktivitas enzim, meminimalkan reaksi pencoklatan dan pelunakan tekstur.
Selain itu, ia memiliki potensi untuk mempertahankan senyawa rasa yang mudah menguap dan komponen warna (Sapper & Chiralt, 2018 di dalam Haile, 2021) 2.6. Produksi Hortikultura Kabupaten Badung Kabupaten Badung dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan berbagai jenis buahbuahan tropis. Beberapa buah yang umumnya diproduksi di kabupaten Badung adalah mangga, rambutan, durian, pisang, dan jeruk. Realisasi produksi Tanaman Hortikultura mengalami penurunan produksi pada komoditas buah – buahan sebesar 94,57% dibandingkan tahun 2020. (LKjIP Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, 2021) Setelah panen buah di Kabupaten Badung, masalah umum yang mungkin dihadapi adalah penanganan dan penyimpanan yang tidak tepat, pengemasan dan transportasi yang kurang optimal, tantangan dalam pemasaran dan distribusi, serta kemungkinan pengolahan lanjutan untuk buah yang tidak memenuhi standar kualitas. badungkab.go.id, diakses pada selasa, 30 Mei 2023) BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Pusat Penelitian Pelajar ‘Pradnya Paramita’ SMA Negeri 3 Denpasar dan Laboratorium Universitas Udayana pada Mei 2023. 3.2. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun objek penelitian yang digunakan adalah edible coating dari kombinasi limbah ampas tahu dan sampah bunga kamboja (Plumeria rubra). 3.3. Metode Pengumpulan Data Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Dengan desain eksperimen yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terbagi menjadi (1) komposisi dan (2) lama perendaman. Perlakuan terbagi 10 perlakuan yaitu : P0 (Kontrol negative/Aquades); P1 (Edible coating dari pati ampas tahu 10 gr dan asam palmitat
sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 1 menit); P2(Edible coating dari pati ampas tahu 10 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 3 menit); P3 (Edible coating dari pati ampas tahu 10 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 5 menit); P4 (Edible coating dari pati ampas tahu 20 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 1 menit); P5 (Edible coating dari pati ampas tahu 20 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 3 menit); P6 (Edible coating dari pati ampas tahu 20 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 5 menit); P7 (Edible coating dari pati ampas tahu 30 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 1 menit); P8 (Edible coating dari pati ampas tahu 30 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 3 menit); P9 (Edible coating dari pati ampas tahu 30 gr dan asam palmitat sampah bunga kamboja 5 gr dengan lama perendaman 5 menit). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali. Sehingga terdapat 30 objek penelitian. 3.4. Indikator Penelitian Indikator penelitian yang digunakan meliputi (1) Susut Bobot, (2) Nilai pH, (3) Total asam, (4) Kadar vitamin C, (5) Uji Organoleptik 3.5. Bahan dan Penelitian Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini, yaitu : yaitu panci, kain kasa, pengaduk, oven, neraca analitik, hand mixer, kain saring, hot plate, cawan porselin, gelas beker 1000 Ml, Gelas beker 300 mL, gelas beker 250 mL, gelas beker 100 mL, baskom, sarung tangan, thermometer, dan lain-lain peralatan untuk analisis. Bahan yang digunakan yaitu ampas tahu, bunga kamboja, gliserol, carboxymethyl cellulose (CMC), etanol 95%, akuades, dan pisang. 3.6. Tahapan Penelitian 3.6.1. Pembuatan Larutan Edible Film Berbasis Pati Ampas Tahu 3.6.1.1. Tahapan Pembuatan pati dari ampas tahu Pertama-tama kami akan mencari ampas tahu sesuai kebutuhan lalu siapkan 2 baskom sebagai wadah serta kain kasa. Ampas tahu disaring menggunakan kain kasa sedikit demi sedikit hingga ampas tahu menjadi kering. Setelah itu, pati ampas tahu didiamkan didalam
wadah selama 24 jam agar pati mengendap. Kemudian, ambil endapan pati dari induk cairan yang telah terpisah dengan cara membuang cairan yang berada pada bagian atasnya. Endapan pati disaring lagi dengan kain yang lebih halus. Setelah itu, endapan pati dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 250C. Setelah pati ampas tahu mengering, tumbuk kasar kemudian di blender dan disaring sehingga menghasilkan tepung pati yang siap digunakan. 3.6.1.2. Tahapan Ekstraksi Asam Palmitat dari Bunga Kamboja Kumpulkan sampah bunga kamboja (Plumeria rubra) yang segar lalu dicuci bersih dan dipotong hingga berukuran kecil. Kemudian bunga kamboja disebarkan di atas koran bekas untuk di keringanginkan selama 3-7 hari. Bunga kamboja yang telah mengering diletakkan dalam gelas beker 1000 mL, lalu ditambahkan dengan larutan n-heksana. Kemudian tutup dengan aluminium foil lalu diamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, tiriskan bunga kamboja dari larutan n-heksana. Bekas rendaman di sisihkan kemudian larutan di panaskan menggunakan hot plate dengan diukur suhu larutannya menggunakan thermometer, agar suhu larutan tidak melewati 600C. Biarkan proses ekstraksi berlangsung selama 7 jam. Setelah tercampur rata, pisahkan (filtrasi) cairan minyak dengan residu. Residu dapat dibuang. 3.6.1.3. Pembuatan Larutan Edible Coating kombinasi limbah ampas tahu dan sampah bunga kamboja (Plumeria rubra) Tuangkan larutan aquades sebanyak 1 liter ke dalam gelas beker lalu dicampurkan dengan carboxymethyl cellulose (CMC 1,0%) sebanyak 4 gram dan diaduk dengan kecepatan 200 rpm sampai homogen. Kemudian masukkan 200 gram bubuk pati dari ampas tahu dan 5 mL asam palmitat dari bunga kamboja ke dalam gelas beker. Pastikan suhu larutan berada di kisaran 300C. Setelah itu, campuran di tambahkan gliserol (10%) sebanyak 50 ml. sedikit demi sedikit sambil terus dipanaskan dan diaduk dengan magnetic stirrer sampai suspense pati mengental (yang dicapai pada suhu ±720C dalam waktu ±10 menit). Diamkan larutan menjadi dingin hingga suhu 300C, maka larutan edible coating siap diujikan pada buah. Pengujian dilakukan terhadap buah pisang berdasarkan indicator penelitian. Teknik coating dilakukan dengan teknik pencelupan. 3.7. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Potensi Kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu sebagai edible coating Berdasarkan hasil percobaan diketahui bahwa kombinasi sampah bunga Kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu dapat dijadikan edible coating pada produk hortikultura. Dalam penelitian ini menggunakan sampel penelitian berupa buah Pisang. Hal itu karena pati pada limbah ampas tahu memiliki struktur amilosa. Amilosa biasanya digunakan untuk membuat plastik biodegradable yang dapat dikonsumsi, kompak dan stabil. Pati sebagai salah satu hidrokoloid memiliki potensi untuk dijadikan bahan dasar pembuatan edible coating karena sifat fisik yang dihasilkan mendekati plastik, tidak berwarna, tidak berbau, serta tidak memiliki rasa (Thirathumtharvorn dan Charoenrein 2007). Sementara asam palmitat berguna untuk mempertahankan kelembapan. Asam palmitat memiliki sifat hidrofobik yang dapat menghambat laju transmisi uap air sehingga asam akan melindungi permukaan buah dari mikroba atau kelembapan udara dengan melapisinya. Perpaduan dua bahan utama tersebut menyebabkan edible coating dari kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu mampu memperpanjang umur penyimpanan produk hortikultura seperti buah pisang lebih lama dari tanpa pemberian pelapisan edible coating. Selain itu bahan tambahan dalam pembuatan edible coating yakni gliserol cair (10%) yang berfungsi sebagai humektan (menjaga kelembaban sediaan) dan emolien (menjaga kehilangan air dari sediaan). Sehingga menghasilkan edible coating yang dapat memperpanjang umur penyimpanan buah pisang sebagai produk hortikultura. Adapun untuk menguji efektifitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dengan limbah ampas tahu sebagai edible coating dan efektivitas lama perendaman edible coating dari efektivitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu terhadap kualitas produk holtikultura masih berjalan proses pengujiannya (saat penulisan laporan hasil penelitian ini). Hal ini karena keterbatasan waktu dan alat-alat laboratorium yang tersedia. Sehingga menyebabkan proses percobaan berjalan agak lambat. Tetapi tetap akan dapat diselesaikan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 5.1.1. Kombinasi sampah buah kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu dapat dijadikan sebagai edible coating untuk produk hortikultura. 5.1.2. Sementara untuk efektivitas kombinasi sampah bunga kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu sebagai edible coating dan lama perendaman edible coating terhadap kualitas produk holtikultura, sampai dengan penulisan laporan hasil penelitian masih dalam proses eksprimen dan pengujian. 5.2. Saran Berdasarkan kesimpulan maka saran yang dapat direkomendasikan meliputi: 5.2.1. Kombinasi sampah buah kamboja (Plumeria) dan limbah ampas tahu dapat dimanfaatkan sebagai edible coating untuk produk hortikultura di kabupaten Badung. 5.2.2. Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk menjawab tujuan penelitian pertama dan tujuan penelitian ketiga. DAFTAR PUSTAKA Anniesah R., dkk. 2018. Isolasi, karakterisasi sifat fisikokimia, dan aplikasi pati jagung dalam bidang farmasetik. Suplemen volume 16 nomor 2. Universitas Padjajaran Arum W. dkk., 2005. Karakterisasi karboksimetil selulosa (CMC) dari eceng gondok (Eichornia crassipes (Mart) Solms). Universitas Surabaya. badungkab.bps.go.id. 2020. Produksi buah buahan menurut jenis tanaman menurut Kecamatan di Kabupaten Badung. Diakses pada 26 Mei 2023 bps,go,id. 2020 - 2021. Produksi Buah Buahan. Diakses pada 23 Mei 2023.
Irene C. & Tukiran, 2021. Aktivitas antioksidan dari fraksi n-Heksana kulit batang tumbuhan jambu semarang (Syzygium samarangense). Universitas Negeri Surabaya. Lutvia Z., 2018. Optimasi komposisi carbopol dan gliserin pada sediaan gel piroksikam menggunakan desain faktorial. Skripsi. Universitas Jember Marzuki L., 2016. Pengaruh penambahan COD Liver Oil pada pakan komersial terhadap rasio asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh pada daging udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Universitas Airlangga Masyhura MD et al. 2019. PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TAHU DALAM UPAYA DIVERSIFIKASI PANGAN. Owusu K., & Oduro A. 2021. Edible Coating. An Satria. 2019. Edible Coating Pati Singkong (Manihot Utilissima Pohl) Terhadap Mutu Menas Terolah Minimal Selama Penyimpanan. Sulistiani, 2004. Pemanfaatan Ampas Tahu Sebagai Bahan Alternatif Bahan Baku Pangan Fungsional. IPB. Bogor. Suriati. 2022. Edible Coating Untuk Menjaga Kualitas Buah Segar-Potong. Diakses pada 23 Mei 2023 dalam https://www.warmadewa.ac.id/berita/detail/1722/EdibleCoating-Untuk-Menjaga-Kualitas-Buah-SegarPotong.html#! Yanti A., 2020. Pengaruh penambahan asam palmitat pada karakteristik edible film dari tepung pati biji melinjo (Gnetum gnemon L.) sebagai penghambat laju transmisi uap air. Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Skripsi no mhs 16612029