87 b. Harus ada kesepakatan dan hasil tentang metode dan kriteria mana yang dianggap akurat sehingga layak dijadikan acuan. c. Mengadakan sosialisasi kepada masyarakat tentang ketetapan metode dan kriteria yang digunakan. Seperti mengadakan seminar atau kegiatan pelatihan lainnya. Dan hendaknya seminar atau pun pelatihan itu ditujukan terlebih dahulu bagi mereka yang profesinya menekuni dunia ilmu falak dan, sehingga nantinya mereka bisa menjadi corong untuk menjelaskan kepada masyarakat awam dan masyarakat lainnya. 2. Non teknis Solusi non teknis ini yakni penyatuan ormas-ormas Islam baik dari kalangan hisab maupun rukyah, dalam hal ini pemerintah menjadi mediator dengan menggandeng MUI harus bisa lebih tegas dalam menyatukan perbedaan diantara mereka, kemudian pemerintah mencoba bermusyawarah dengan mempertimbangkan semua masukan, baik dari kelompok hisab maupun kelompok rukyah, sehingga akan menghasilkan sebuah keputusan yang benar-benar valid dan bisa diterima dan dilaksanakan oleh semua ormas Islam. Dengan demikian keputusan pemerintah tidak terkesan lemah dan condong memihak salah satu kelompok, serta akan terlihat citra kewibawaan dan kebijaksanaanya. Misalnya, dalam hal ini, Pemerintah dengan metode imkan al- rukyahnya dalam penentuan awal Ramadhan juga harus dipertegas dan diseimbangkan antara hisab dan rukyah sehingga implementasinya di lapangan sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat. Akhirnya dalam sidang itsbat
88 keputusannya bukan hanya diakui dan diterima tetapi harus dilaksanakan oleh masyarakat. Dan untuk persatuan umat dalam hal sosial ini, kita harus merubah cara /pola berpikir dalam segala hal, khususnya masalah perbedaan penetapan awal bulan Ramadlan sehingga dalam masalah ini penulis meminjam teori dari Thomas Kuhn yaitu paradigm shift seperti yang tertuang dalam buku Pudarnya Pesona Ilmu Agama bahwa pemikiran Kuhn yang bisa dibilang radikal itu, mendapat tanggapan luas dari banyak kalangan. Sikap pro dan kontra bermunculan dari para ilmuwan. Tim Healy, misalnya, dari Santa Clara mengakui bahwa teori ”paradigm shift” memang benar. Semua bidang kehidupan, keilmuan, sosial, agama, dan lain-lain, terbukti mengalami paradigm shift. Bahkan menurut Healy, teori paradigm shift dapat dipakai untuk memahami segala persoalan hidup. Implementasi dari paradigm shift ini mungkin dapat digunakan untuk menyatukan dan memadukan perbedaanperbedaan paradigma yang terjadi diantara kelompok ahli hisab dan rukyah, sehingga diantara ahli hisab ataupun dalam kelompok rukyahpun tidak ada perbedaan.
89 KEGUNAAN ILMU FALAK Dengan mempeljari ilmu falak atau ilmu hisab, kita dapat memastikan ke arah mana kiblat suatu tempat di permukaan bumi. Kita juga dapat memastikan waktu shalat telah tiba atau matahari sudah terbenam untuk berbuka puasa. Dengan ilmu ini pula orang yang melakukan rukyatul hilal dapat mengarahkan pandangannya dengan tepat ke posisi hilal, bahkan kita juga dapat mengetahui akan terjadinya peristiwa gerhana matahari atau gerhana bulan berpuluh bahkan beratus tahun yang akan datang. Dengan demikian, ilmu falak atau ilmu hisab dapat menumbuhkan keyakinan dalam melakukan ibadah, sehingga ibadahnya lebih khusyu’. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang selalu memperhatikan matahari dan bulan untuk mengiungat Allah” (HR. Thabrani) Secara garis besar tujuan mempelajari ilmu falak hanya berkisar pada 4 hal yani : pengukuran arah qiblat, Mengetahui Waktu
90 sahalat, mengetahui awal bulan qamariyah, mengetahui waktu terjadinya gerhana. A. Menentukan Arah Kiblat Kata kiblat berasal dari bahasa Arab qiblah (قبلة (yang secara harfiah berarti arah (Al-Jihah), dan merupakan bentuk fi’lah dari kata al-muqolabah (مقابلة (sehingga berarti keadaan menghadap.47 Slamet Hambali memberikan definisi arah kiblat yaitu arah terdekat menuju ka’bah melalui lingkaran besar (great circle) bola bumi. Lingkaran bola bumi yang dilalui arah kiblat dinamakan lingkaran arah kiblat. Lingkaran arah kiblat dapat didefinisikan sebagai lingkarann besar bola bumi yang melalui sumbu kiblat. Sedangkan sumbu kiblat adalah sumbu bola bumi yang melalui atau menghubungkan titik pusat ka’bah dengan titik dari kebalikan Ka’bah.48 Menurut Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah yang wajib adalah menghadap ke ‘ain al-Ka’bah. Dalam artian bagi orang yang dapat menyaksikan Ka’bah secara langsung maka baginya wajib menghadap Ka’bah. Jika tidak dapat melihat secara langsung, baik karena faktor jarak yang jauh atau faktor geografis yang menjadikannya tidak dapat melihat Ka’bah langsung, maka ia harus menyengaja menghadap ke arah di mana Ka’bah berada walaupun pada hakikatnya ia hanya menghadap jihah-nya saja (arah Ka‟bah). Sehingga yang menjadi kewajiban adalah menghadap ke arah Ka’bah persis dan tidak cukup menghadap ke arahnya saja. 47 Majlis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyyah, Pedoman Hisab Muhammadiyyah, Yogyakarta : Majlis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyyah, Cet. II, 2009. hal. 25 48 Slamet, Hambali, Arah Kiblat Dalam Perspektif NU dalam seminar nasional Menggugat Fatwa MUI No 03 Th. 2010 tentang Arah Kiblat. Semarang, 27 Mei 2010, hal. 02
91 Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT دِج ِس ْمَ ْ َو لِ َو ْج َه َك َش ْط َر ال فَ ِم َح َرا ْ ال ,maksud dari kata syatral Masjidil Haram dalam potongan ayat di atas adalah arah dimana orang yang salat menghadapnya dengan posisi tubuh menghadap ke arah tersebut, yaitu arah Ka’bah. Maka seseorang yang akan melaksanakan salat harus menghadap tepat ke arah Kabah.49 Menghadap arah kiblat bukan lagi menjadi persoalan yang sulit. Karena dengan menggunakan perhitungan ilmu falak, dapat diketahui arah ke Ka’bah dengan akurat. Perhitungan arah Kiblat dengan ilmu falak tersebut menggunakan rumus-rumus segitiga bola. Bahkan beberapa ahli falak telah menggunakan rumus – rumus segitiga ellipsoid. B. Menentukan Awal Waktu Salat Fardhu Salat menurut bahasa diambil dari kata صلاة, يصلى, صلى yang berarti do’a. 50 Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah َّن َصَلاتَ َك َس َك ن ِ ِهْم إ ْي لِ َعلَ َو َص َو َّّٰللاُ َسِمي ع َعِليم ُهْم لَ Artinya : “Dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 51 Secara terminologi syara’ (Jumhur Ulama’) salat berarti ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam sesuai dengan syarat-syarat tertentu, 49 Muhammad Ali As Shabuni, Tafsir Ayat Ahkam As Shabuni, Surabaya: Bina Ilmu,1983, hal. 81 50 Imam Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Husein, Kifayah al-Akhyar Fi Halli Gayatil Ikhtiyar, Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1995, hlm .127 51 Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, Surakarta : Media Insani Publishing, hlm 203
92 sebagaian Madzhab Hanafi mendifinisikan salat sebagai rangakaian rukun yang dikhususkan dan dzikir yang ditetapkan dengan syaratsyarat tertentu dalam waktu yang telah ditetapkan pula. Sebagian Ulama’ Hambali memberikan ta’rif lain bahwa salat adalah nama untuk sebuah aktifitas yang terdiri dari rangkaian berdiri, ruku’ dan sujud. 52 Persoalan salat adalah merupakan persoalan fundamental dan signifikan dalam Islam. Dalam menunaikan kewajiban salat, kaum muslimin terikat pada waktu-waktu yang sudah ditentukan “Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktuwaktunya atas orang-orang yang beriman”.53 Konsekuensi logis dari ayat ini adalah salat tidak bisa dilakukan dalam sembarang waktu, tetapi harus mengikuti atau berdasarkan dalil-dalil baik dari al-Qur’an maupun al-Hadis. Waktu-waktu salat fardlu telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam hadis-hadis. Di dalam hadis -hadis waktu salat, penentuan waktu salat menggunakan posisi Matahari. Penentuan waktu salat dengan melihat posisi Matahari ini akan merepotkan umat muslim karena tidak setiap siang hari Matahari bersinar. Sewaktuwaktu Matahari tertutup awan dan mendung. Bahkan di beberapa kawasan di Indonesia, tidak jarang sinar Matahari tertutup mendung seharian penuh di musim hujan. Maka dengan pengetahuan pergerakan Matahari pada ilmu falak, waktu salat dapat diketahui dengan mudah dengan beberapa rumus-rumus perhitungan. 52 Fadlolan Musyaffa’ Mu’thi, Salat Di Pesawat Dan Angkasa (Studi Komperatif Antar Madzhab Fiqih), Semarang : Syauqi Press, 2007, hlm 25 53 Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya: Juz 1 – Juz 30, Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, 1989, Surat An-Nisa, ayat: 103
93 Sehingga untuk mengetahui masuknya waktu salat cukup dengan melihat jam. 1. Waktu Salat Zhuhur Dalam hadis mengenai waktu salat Zhuhur, Nabi menjelaskan bahwa waktu salat Zhuhur adalah zawal al-Syams.54 yaitu saat Matahari tergelincir ke arah barat. Dengan ilmu falak, penentuan waktu salat Zhuhur menjadi mudah dengan menghitung waktu kulminasi Matahari.55 ditambahkan dengan 2 menit. 2. Waktu salat Ashar Waktu salat Ashar adalah saat bayang-bayang suatu benda sama dengan panjang benda tersebut.56 Dengan ilmu falak, penentuan waktu salat Ashar dengan cara menambahkan waktu kulminasi Matahari dengan sudut waktu Matahari saat waktu Ashar57 dibagi 15. Kemudian tambahkan dengan 2 menit untuk ihtiyath. Rumus untuk menghitung sudut waktu adalah Cos t = -tan lt x tan d + sin h : cos lt : cos d lt : lintang tempat 54 Imam Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy an-Naisabury, Shahīh Muslim, Kitab “al-Masaajid wa Mawaadli’u as-Salat”, Bab “Auqaatush Shalawaat al-Khamsi”, no. 172, juz 2, Beirut: dar al-Kitab al-ilmiyah, no. 173, tt, hal. 427. 55 Susiknan Azhari, Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007, hal. 73 56 KH. Syarifuddin Anwar dan K.H. Mishbah Musthafa dengan judul Kifayatul Akhyar (Kelengkapan Orang Saleh). (Surabaya : CV Bina Iman, 2007), 182 57 Muhyiddin khazin, Ilmu Falak dalm Teori dan Praktik.Cetakan III, Yogyakarta : Buana Pustaka, hal. 89
94 d : deklinasi Matahari h : tinggi Matahari Perhitungan sudut waktu Matahari salat Ashar membutuhkan ketinggian Matahari (h) saat waktu Ashar yang dihitung menggunakan rumus: Cotan h = tan zm + 1 Zm : Jarak zenith saat kulminasi Matahari. Rumus-rumus di atas mendefinisikan bahwa waktu salat Ashar adalah waktu saat panjang bayangan benda yang terkena sinar Matahari sepanjang bendanya ditambah panjang bayangan saat waktu kulminasi. 3. Waktu salat Maghrib Waktu salat Maghrib adalah saat Matahari terbenam. Definisi waktu Matahari terbenam adalah waktu saat piringan atas Matahari masuk ke ufuk barat. Dengan ilmu falak, penentuan waktu salat Maghrib dengan cara menambahkan waktu kulminasi Matahari dengan sudut waktu Matahari saat waktu Maghrib dibagi 15. Kemudian tambahkan dengan 2 menit untuk ihtiyath. Perhitungan sudut waktu Matahari saat terbenam membutuhkan ketinggian Matahari saat terbenam yang nilainya adalah -1 o 14’ 53,41”58 58 Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2012, hal. 87
95 4. Waktu Salat Isya’ Waktu salat Isya’ adalah saat hilangnya mega merah. Definisi waktu salat Isya’ adalah waktu saat piringan atas Matahari masuk ke ufuk barat. Dengan ilmu falak, penentuan waktu salat Isya’ dengan cara menambahkan waktu kulminasi Matahari dengan sudut waktu Matahari saat waktu Maghrib dibagi 15. Kemudian tambahkan dengan 2 menit untuk ihtiyath. Perhitungan sudut waktu Matahari saat Isya’ membutuhkan ketinggian Matahari yang nilainya adalah -18o 14’ 53,41”. 5. Waktu Salat Shubuh Waktu salat Shubuh adalah saat terbitnya fajar shadiq yaitu fajar yang melintang di ufuk. Dengan ilmu falak, penentuan waktu salat Shubuh dengan cara mengurangkan waktu kulminasi Matahari dengan sudut waktu Matahari saat waktu Shubuh dibagi 15. Kemudian tambahkan dengan 2 menit untuk ihtiyath. Perhitungan sudut waktu Matahari saat Shubuh membutuhkan ketinggian Matahari yang nilainya adalah -20o 14’ 53,41”. C. Menentukan Awal Bulan Mengetahui awal bulan Kamariah adalah persoalan yang urgen terutama bulan Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah. Nabi Muhammad menjelaskan cara mengetahui awal bulan Kamariah dengan hadis:
96 ُصو ُموا َ م َّ َو َسل ْي ِه َّى هللاُ َعلَ َر ِ ض َّي هللاُ َعْنهُ قَا َل قَا َل َر ُسو ِل هللاِ َصل َرةِ ِي ُه َرْي ب َ َع ْن أ ِن ثَ ََلثِي َن َرَواُُ ل ُرؤ يَتِ ْه ُوا ِعدَّةَ َش ْعبَا َ ْكَمل ْي ُكْم فَأ ِي َعلَ ٍن ِغب فْ َط ُروا ِل ُر ْؤيَِت ِه فَا َ َو أ ُم( ُم ْسِل Artinya : “Dari Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : Berpuasalah kamu semua karena terlihat hilal (Ramadan) dan berbukalah kamu semua karena terlihat hilal (Syawal). Bila hilal tertutup atasmu maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh”. (HR. Muslim). Rukyat al-hilal terdiri dari dua kata dalam bahasa Arab, yakni rukyat dan hilal . Kata rukyat merupakan bentuk mashdar dari fi’il “ra’a – yara” (يرى – رأى ( yang bermakna melihat dengan mata, dengan akal atau dengan hati. Sedangkan kata hilal dalam bahasa Arab berasal hujan (هل المطر misal’, sangat ‘berarti bisa yang ي ُه َه ل / ه ل – ُّل kata dari turun sangat deras) dan bisa berarti terlihat jelas, misal الشهر هل (hilal awal bulan terlihat jelas). Apabila kata rukyat dan hilal dengan artinya tersebut digabungkan, maka arti rukyat al-hilal adalah pengamatan dengan mata kepala terhadap penampakan Bulan sabit sesaat setelah Matahari terbenam di hari telah terjadinya ijtima’ (konjungsi). Namun ada pula yang mengartikan rukyat al-hilal adalah melihat hilal dengan akal atau ilmu. Melihat dengan ilmu ini maksudnya adalah memperhitungkan kemunculan hilal dengan perhitungan ilmu falak. Pelaksanaan rukyat al-hilal akan sulit jika dilakukan tanpa menggunakan ilmu falak. Hal ini disebabkan karena hilal adalah objek langit yang tipis dan redup di ufuk barat saat Matahari terbenam. Selain itu, posisi dan ketinggian hilal juga berubah – ubah di setiap
97 bulan. Maka untuk mempermudah mencari posisi hilal, perukyat menggunakan perhitungan ilmu falak. Selain itu, muncul pemikiran baru dalam menetapkan awal bulan Kamariah yaitu imkan alrukyah. Saat hilal tidak terlihat karena tertutup awan atau mendung, tidak serta-merta dilakukan istikmal, tetapi dilakukan pengecekan nilai ketinggian hilal. Jika pada ketinggian tersebut, hilal terlihat. Maka sterbenamnya Matahari ditetapkan sebagai pertanda permulaan bulan baru. Namun hingga saat ini belum terdapat kesepakatan mengenai kriteria imkan al-rukyat. D. Menentukan Gerhana Gerhana ada dua macam yaitu gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Saat terjadi gerhana umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan salat gerhana berdasarkan hadis Nabi Muhammad: َرِن َخبَّ َ ْصبَ َغ قَا َل: أ َرِني عمروعن َعْبدَ ال َّر ْح َم ِن ْب َحدَّثَنَا أ ن َ َخبَّ َ ي اِ ْب ُن َو َه َّب قَا َل: أ ِ يِ ِ ُر َع ِن النَّب نَّهُ َكا َن يُ َخب َ ِن ُع َمِر َر ِ ض َّي هللاُ َعْن ُهَما أ ِي ِه َع ِن اِ ْب ب َ َع ْن أ قَا ِسِم َحدَّثَهُ ْ ال ْخ ِس َمَر َِل يَ قَ ْ َّن ال َّش ْم َس َوال ِ : إ َ م َّ َو َسل ْي ِه َّى هللاُ َعلَ َص َو ل َوَِل ِل ْحيَاتُهُ َحٍد َمْو ِت أ ِل فَا نِ ِر َّى بُ َخا ْ ْوا َرَواُُ ال َّ َصل ِذَا رأيتموهما فَ ُهَما ايتان ِم َن ايات هللاَ فَإ ِكنَّ (ل ( َ 59 Artinya: “Asbagh telah bercerita kepada kami bahwasanya ia berkata: Ibnu Wahab telah bercerita kepada-ku, ia berkata: telah bercerita kepada-ku Umar dari Abdur Rahman bin Qasim bahwa ia telah bercerita kepada-nya dari ayah-nya. Dari Ibnu Umar r.a, bahwasanya Umar mendapat berita dari Nabi SAW: sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang, tapi keduanya merupakan tanda diantara tanda- 59 Imam Abi ‘Abdillah Muhammad bin Ismail ibnu Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardazabah al Bukhari al Ja’fii, “Shahih al-Bukhari”, Juz 1, Beirut, Libanon: Daar al-Kitab al-‘alamiyyah, hlm 316.
98 tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihat keduanya (gerhana), maka salatlah.” Gerhana adalah peristiwa alam yang terjadi secara periodik. Namun peristiwa tersebut terjadi pada tanggal atau bulan tertentu. Sehingga tanpa pengetahuan mengenai pergerakan Matahari dan Bulan, akan sulit mengetahui waktu terjadinya gerhana. Dengan ilmu falak dapat diketahui waktu terjadinya gerhana. Tidak hanya tanggal terjadinya gerhana, tetapi dapat diketahui pula waktu mulai, waktu puncak, dan waktu berakhirnya gerhana. Karena dengan ilmu falak, dapat diketahui kapan melintasnya Bulan saat fase Bulan mati dan purnama di lingkaran ekliptika yang menjadi sebab terjadinya gerhana.
99 MENENTUKAN AWAL WAKTU SHOLAT FARDHU A. Dasar Hisab Penentuan Awal Waktu Shalat Fardhu 1. Alquraan Surat al Isra’ ayat 78 Allah berfirman : Artinya : Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh60 . Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).(QS.17:78) 60 Ayat ini menerangkan waktu-waktu shalat yang lima. tergelincir matahari untuk waktu shalat Zhuhur dan Ashar, gelap malam untuk waktu Magrib dan Isya.
100 Surat An Nisa’ ayat 103 Allah berfirman : Artinya :Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS.4 :103) Surat Thaha ayat 130 Allah berfirman : Artinya : Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,(QS.20:130) Surat Hud ayat 114 Allah berfirman : Artinya:Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.(QS.11:114)
101 Dalam masalah menghisab waktu shalat dapat kita ambil sebagai dalilnya adaalah : Surat yunus ayat 5 Allah berfirman : Artinya:Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempattempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak61. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orangorang yang mengetahui.(QS.10:5) Surat yasin ayat 38 Allah berfirman : Artinya:Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.(QS.36:38) 61 Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.
102 Surat yusuf ayat 105 Allah berfirman : Artinya:Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.(QS.12:105) 2. Hadis Nabi Muhammad SAW Dari Anas bin Malik R.A ِس ْب َن َماِل ٍك رض قَا َل َص ْت َع : ْن اَنَ ِق َّم نُ ْسِر َي بِ ِه َخ ْم ِسْي َن، ثُ اُ ْيلَةَ َوا ُت لَ ِر َض ْت َعلَى النَّبِ ي ص ال َّصلَ فُ ل َخ ْم ِس ْ َك بِهِذِه ا َد َّي َو اِ َّن لَ ْو ُل لَ لقَ ْ َي: يَا ُم َح َّمُد اِنَّهُ َلَ يُبَ َّد ُل ا ْوِد َّم نُ َخ ِسْي َن. (احمد و َحتَّى ُج ِعل ْم َ ْت َخ ْم ًسا. ثُ النسائى و الترمذى و صححه، فى نيل االوطار ) Artinya : Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Diwajibkan shalat itu pada Nabi SAW pada malam Isra’, lima puluh kali. Kemudian dikurangi sehingga menjadi lima kali, kemudian Nabi dipanggil, “Ya Muhammad, sesungguhnya tidak diganti (diubah) ketetapan itu di sisi-Ku. Dan sesungguhnya lima kali itu sama dengan lima puluh kali”. [HR. Ahmad, Nasai dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 334] Dari Abdullah bin Amar R.A عن عبد الله بن عمر ورضي الله عنهما قال,ان النبي صلى الله عليه وسلم قال:وقت الظهراذا زلت الشمس وكان ظل الرجل كطوله مالم يحضر العصر,ووقت العصرما لم تصفرالشمس, ووقت صلاة المغرب مالم يغب الشفق, ووقت صلاةالعشاء الى نصف الليل اَلوسط, ووقت الصلاة الصبح من طلوع الفجر ما لم تطلع الشمس. )رواه مسلم(
103 Artinya :Dari Abdullah ibn Amar ra. Berkata: “bersabda Rasul SAW: Waktu dhuhur ialah apabila tergelincir matahari ke arah barat dan terus berlanjut sehingga menjadi bayangan seseorang sama panjangnya, selama belum lagi datang waktu ashar. Dan waktu ashar sejak habisnya waktu dhuhur hingga matahari belum kuning. Dan waktu maghrib, selama belum hilang mega merah dan waktu isya hingga separuh malam yang pertama dan waktu subuh dari terbit fajar selama belum lagi terbit matahari,” (HR.muslim) B. Kulminasi Atas Matahari Dalam menentukan awal waktu shalat Fardhu kita terlebih dahulu harus mencari waktu kulminasi atas matahari. Arti dari kulminasi atas matahari adalah mata hari dalam perjalanannya tepat berada pada puncaknya. Untuk mencari waktu kulminasi atas tersebut dapat kita pakai rumus : KA = (105˚ - גn ) / 15 + 12 - e5 Untuk wilayah WIB KA = (120˚ - גn ) / 15 + 12 – e4 Untuk wilayah WITA KA = (135˚ - גn ) / 15 + 12 – e3 Untuk wilayah WIT Contoh :Tentukanlah kulminasi atas Matahari di kota Padang tanggal 15 September 2020 dengan koordinat Kota Padang 0˚ 57’ LS dan 100˚ 21’ BT Diket : Bujur Negeri (גn )= 100˚ 21’ Lintang Selatan = -0˚ 57’
104 Ditanya : KA ? Jwb: karena Kota Padang wilayah WIB maka kita pakai rumus KA WIB. KA = (105˚ - גn ) / 15 + 12 - e5 = (105˚ - 100˚ 21’ ) / 15 + (-0˚ 4’ 50’’ ) = 12.22944444 ini dirobah ke bilangan daerjat dengan cara tekan derajat maka berobah jadi 12˚ 13’ 46’’. Jadi jam KA tgl 15 sptember 2020 adalah 12 : 13 : 46. 1) Menentukan Awal Waktu Sholat Zuhur Dalam surat al-Isra’ ayat 78 bahwa shalat zuhur itu masuk setelah tergelincir mata hari.(sesudah matahari berkulminasi atas ). Untuk mencari waktu masuk untuk Sahalat Zuhur dapat dilakukan dengan dua cara : Kalau Kulminasi atas Matahari sudah diketahui maka langsung saja ditambah dengan angka ihtiyat yaitu : 0˚ 0’ 40”. Contoh: Tentukan waktu Zuhur pada tanggal 15 sptember 2020 di kota Padang. Diket : KA = 12˚ 13’ 46’’ i = 0˚ 0’ 40”. Jadi Hasil kulminasi atas matahari ditambah dengan 40 detik. 12˚ 13’ 46’’ + 0˚ 0’ 40” = 12˚ 13’ 46’’ atau jam 12 : 13 : 46 dibulatkan jam 12:14 WIB.
105 2) Menentukan Awal Waktu Sholat Magrib Hadis dari Abdilla bin Amar mengatakan mulai masuknya awal waktu Magrib yaitu mulai terbenamnya matahari sampai hilangnya mega merah di sebelah barat. Mulai terbenamnya matahari di sebelah barat tersebut adalah ketika matahari berada pada posisi -1˚ di bawah ufuk barat. Langkah menentukan magrib : Dalam perhitungan waktu shalat untuk data lintang tempat atau daerah harus di kasih tanda min misal kota padang 0˚ 57’ maka dalam perhitungan dibuat -0˚ 57’. Kalau ada muncul M di monitor kalkulator sebelah kiri atas itu harus dihilangkan dengan cara tekan tombol Nol kemudian shif kemudian RCL kemudian M+ kemudian AC 1. Tentukan jam Kulminasi atas Matahari ( KA ) pada tanggal yang kita pakai. 2. Tentukan Cos t Magrib ( sudut waktu matahari magrib) dengan Rumus : Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂11 ) - ( tg Φ) ( tg ∂11) WIB Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂10 ) - ( tg Φ) ( tg ∂10) WITA Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂9 ) - ( tg Φ) ( tg ∂9 ) WIT
106 Ket ; h Posisi matahari terbenam ( untuk magrib adalah 1˚ / untuk perhitungan dibuat -1˚ ) Φ ini dibaca pih ( Lintang tempat dimana kita menentukan magrib) ∂ Deklinasi Matahari (11 = Jam 11 untuk WIB ) Dilihat pada data Deklinasi Matahari (10 = Jam 10 untuk WITA ) Ephemeris Deklinasi Matahari (9 = Jam 9 untuk WIT ) Sin Lihat pada tombol kalkulator Sec Pada kalkulator tekan tombol cos, ketik angka yang dituju tekan sama dengan, tekan M+ kemudian tekan 1 bagi RCL M+ = tan Lihat di kalkulator 3. Mencari BW BW = beda waktu Rumus : BW = t / 15 4.. Menentukan Magrib Rumus : Mg = KA + BW + i 5. Menentukan Syuruq ( waktu terbit matahari ) Sy = KA – BW – i
107 Contoh soal : Tentukan awal magrib di Padang tanggal 15 September 2020 dengan koordinat kota padang 0˚ 57’ LS dan 100˚ 21’ BT. Diket : h = - 1˚ Φ = - 0˚ 57’ ∂11 = 2˚ 45’ 19’’ KA = 12˚ 13’ 46’’ I = 0˚ 0’40’’ Ditanya ; Magrib ? Jawab ; Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂11 ) - ( tg Φ) ( tg ∂11) = (sin-1˚) ( sec - 0˚ 57’ ) ( sec 2˚ 45’ 19’’ ) – (tg - 0˚ 57’ ) ( tg 2˚ 45’ 19’’) = (-0˚ 1’ 2.83’’) (1˚ 0’ 0.49’’)(1˚ 0’4.17’’) – (-0˚ 0’ 59.7’’) (0˚ 2’ 53.25’’) = -0˚ 1’ 2.91’’ – (-0˚ 0’ 2.87’’) = -0˚ 1’ 0.04’’ disihif cos = maka hasilnya dinamakan dengan t t = 90.95561058 atau didarjatkan tekan tombol darjat maka hasilnya 90˚ 57’ 20.2’’. BW = t/15
108 = 90˚ 57’ 20.2’’ / 15 = 6˚ 3’ 49.35’’ Mg = KA + BW + i = 12˚ 13’ 46’’ + 6˚ 3’ 49.35’’ + 0˚ 0’ 40’’ = 18˚ 18’ 15.35’’ atau pukul 18 : 18 : 15.35 dibulatkan menjadi pukul 18 : 19 Contoh menentukan waktu syuruq : Syuruq = KA – BW – i = 12˚ 13’ 46’’ - 6˚ 3’ 49.35’’ - 0˚ 0’ 40’’ = 6˚ 9’ 16.65” atau pukul 6 : 9 : 16.65 dibulatkan jadi pukul 6 : 9 3) Menentukan Awal Waktu Sholat Isya Untuk awal shalat Isya dimulai dari hilangnya mega merah di sebelah barat Sampai menjelang terbit fajar. Dasarnya hadis dari abdillah bin amar hilangnya mega merah di barat itu dari hasil penelitian ternyata ketika pusat mata hari berada -18˚ di bawah ufuk hakiki sebelah barat Pertama kita tentukan sudut waktu awal Isya dengan rumus : ∂12 (WIB) ∂11(WITA) ∂10 (WIT) Cos t = (Sin h) ( Sec Φ)(Sec ∂12 )- ( tg Φ) ( tg ∂12 ) Kalau ada muncul M di monitor kalkulator sebelah kiri atas itu harus dihilangkan dengan cara tekan tombol Nol kemudian shif kemudian RCL kemudian M+ kemudian AC
109 1. Tentukan jam Kulminasi atas Matahari ( KA ) pada tanggal yang kita pakai. 2. Tentukan Cos t Isya ( sudut waktu matahari Isya) dengan Rumus : Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂12 ) - ( tg Φ) ( tg ∂12) WIB Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂11 ) - ( tg Φ) ( tg ∂11) WITA Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂10 ) - ( tg Φ) ( tg ∂10 ) WIT Ket ; h Posisi matahari terbenam ( untuk Isya adalah 18˚ / untuk perhitungan dibuat -18˚ ) Φ ini dibaca pih ( Lintang tempat dimana kita menentukan magrib) ∂ Deklinasi Matahari (12 = Jam 12 untuk WIB ) Dilihat pada data Deklinasi Matahari (11 = Jam 11 untuk WITA Ephemeris ) Deklinasi Matahari (10 = Jam 10 untuk WIT ) Sin Lihat pada tombol kalkulator Sec Pada kalkulator tekan tombol cos, ketik angka yang dituju tekan sama dengan, tekan M+ kemudian tekan 1 bagi RCL M+ = tan Lihat di kalkulator
110 3. Mencari BW BW = beda waktu Rumus : BW = t / 15 4.. Menentukan Isya Rumus : Isy = KA + BW + i Contoh soal : Tentukan awal Isya di Padang tanggal 15 September 2020 dengan koordinat kota padang 0˚ 57’ LS dan 100˚ 21’ BT. Diket : h = - 18˚ Φ = - 0˚ 57’ ∂12 = 2˚ 44’ 21’’ KA = 12˚ 13’ 46’’ I = 0˚ 0’40’’ Ditanya ; Isya ? Jawab ; Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂12 ) - ( tg Φ) ( tg ∂12) = (sin-18˚)( sec - 0˚ 57’ ) ( sec 2˚ 44’ 21’’)–(tg - 0˚ 57’ ) ( tg 2˚ 44’ 21’’) =(-0˚ 18’ 32.46’’) (1˚ 0’ 0.49’’)(1˚ 0’4.12’’) – (-0˚ 0’ 59.7’’) (0˚ 2’ 52.24’’)
111 = -0˚ 18’ 33.88’’ – (-0˚ 0’ 2.86’’) = -0˚ 18’ 31.02’’ disihif cos = maka hasilnya dinamakan dengan t t = 107.9758842 atau didarjatkan tekan tombol darjat maka hasilnya 107˚ 58’ 33.1’’ BW = t/15 = 107˚ 58’ 33.1’’/ 15 = 7˚ 11’ 54.21’’ Isya = KA + BW + i = 12˚ 13’ 46’’ + 7˚ 11’ 54.21’’+ 0˚ 0’ 40’’ = 19˚ 26’ 20.21’’ atau pukul 19 : 26 : 20.21 dibulatkan menjadi pukul 19 : 27 4) Menentukan Awal Waktu Sholat Subuh Dalam hadits Abdullah bin amar bahwa subuh itu masuknya pada waktu fajar menyingsing sampai terbitnya matahari. Berdasarkan penelitian para ahli astronomis mulai menyingsingnya fajar itu adalah ketika titik pusat matahari berada pada -20˚ di bawah ufuk hakiki di sebelah timur. Untuk mencari awal subuh, Gunakan Ephemeris 1 hari sebelum tanggal yang dicari, misalnya : kita mencari subuh tanggal tanggal 16 September 2020 maka kita pakai Ephemeris tanggal 15 september dan 16 september 2020 , dengan ketentuan : Pakai KA tanggal yang dicari yaitu tanggal 16 september 2020, untuk deklinasinya pakai ephemeris sehari sebelum tanggal yang dicari yaitu tanggal 15 september 2020.
112 Dengan rumus : ∂22 (WIB) ∂21 (WITA) ∂20 (WIT) Cos t = (Sin h) ( Sec Φ)(Sec ∂22 )- ( tg Φ) ( tg ∂22 ) Cara membaca deklinasi 22 pakai garis bawah (∂22 ) adalah deklinasi jam 22 sehari sebelum tanggal yang di cari. Kalau ada muncul M di monitor kalkulator sebelah kiri atas itu harus dihilangkan dengan cara tekan tombol Nol kemudian shif kemudian RCL kemudian M+ kemudian AC 3. Tentukan jam Kulminasi atas Matahari ( KA ) pada tanggal yang kita cari. 4. Tentukan Cos t Subuh ( sudut waktu matahari Subuh) Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂22) - ( tg Φ) ( tg ∂22) WIB Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂21 ) - ( tg Φ) ( tg ∂21) WITA Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂20 ) - ( tg Φ) ( tg ∂20 ) WIT Ket ; h = Posisi matahari terbenam ( untuk Subuh adalah 20˚ / untuk perhitungan dibuat -20˚ ) Φ = ini dibaca pih ( Lintang tempat dimana kita menentukan magrib) ∂ = Deklinasi Matahari (22 = Jam 22 untuk WIB ) Dilihat pada data Deklinasi Matahari (21 = Jam 21 untuk WITA ) Deklinasi Matahari (20 = Jam 20 untuk WIT )
113 Epheme ris Sin = Lihat pada tombol kalkulator Sec = Pada kalkulator tekan tombol cos, ketik angka yang dituju tekan sama dengan, tekan M+ kemudian tekan 1 bagi RCL M+ = hasilnya Ta n = L Diliihat di kalkulator ∂ Angka 22 yang bergaris bawah artinya deklinasi 22 sehari sebelum tanggal yang di cari. Misal kita mencari subuh tgl 16 maka deklinasi yang kita ambil sehari sebelum tgl 16 yaitu tanggal 15. Silahkan lihat pada contoh soal subuh. 3. Mencari BW BW = beda waktu Rumus : BW = t / 15 4.. Menentukan Subuh Rumus : Sb = KA - BW + i Contoh: Tentukan awal subuh di Padang tanggal 16 September 2020 dengan koordinat kota padang 0˚ 57’ LS dan 100˚ 21’ BT. Diket : h = - 20˚
114 Φ = - 0˚ 57’ ∂22 = 2˚ 34’ 43’’ ( ini dilihat pada ephemeris tgl 15 September 2020) KA = 12˚ 13’ 25’’ ( ini KA tanggal 16 September 2020) i = 0˚ 0’40’’ Ditanya ; subuh ? Cos t = (Sin h) ( Sec Φ)(Sec ∂22 )- ( tg Φ) ( tg ∂22 ) Cos t = ( sin -20˚ ) ( sec -0˚ 57’) (sec 2˚ 34’ 43’’) - (tg -0˚ 57’) (tg 2˚ 34’ 43’’) =(-0˚ 20’ 31.27’’)(1˚ 0’ 0.49’’)(1˚ 0’ 3.65’’) – (-0˚ 0’ 59.7’’) (0˚ 2’ 42.13’’) = -0˚ 20’ 32.69’’ – (-0˚ 0’ 2.69’’) = =-0˚ 20’ 30’’ disihif cos = maka hasilnya dinamakan dengan t t = 109.978449 atau didarjatkan tekan tombol darjat maka hasilnya 109˚ 58’ 42.4’’ BW= t / 15 = 109˚ 58’ 42.4’’ : 15 = 7˚ 19’ 54.83’’ Subuh = KA – BW + i = 12˚ 13’ 25’’ – 7˚ 19’ 54.83’’ + 0˚ 0’ 40’’ = 4˚ 54’ 10.17’’
115 atau jam 4 : 54 : 10,17 dibulatkan jadi jam 4 : 55 Imsak = waktu subuh – 10 menit. = 4˚ 54’ 10.17’’ - 0˚ 10’ 0’’ = 4˚ 44’ 10.17’’ jadi waktu imsak 4 : 4 5) Menentukan Awal Waktu Sholat Ashar Bagian pertama ( h Ashar ) Tanda masuknya waktu Asar yaitu apa bila bayang-bayang tonggak lurus sama panjang dengan tonggak itu sendiri, ditambah dengan panjang bayang-bayang tonggak itu ketika matahari berkulminasi atas. Untuk Asar yang perlu dicari terlebih dahulu ialah h atau jarak titik pusat mata hari ke ufuk hakiki dengan cara mempergunakan rumus sebagai berikut :
116 ∂5 (WIB) ∂4 (WITA)∂3 (WIT) data deklinasi ini lihat pada Ephemeris hisab rukyat sesuai dengan tahun dan tanggal yang kita cari. 1 Tan h = ini rumus WIB 1+ tan Φ - ∂5 Ini namanya tanda mutlak ( garis tegak lurus di sebelah kanan dan kiri ) Pemahaman tanda mutlak ini adalah hasil pengurangannya selalu positif. 1 Tan h = ini rumus WIT 1+ tan Φ - ∂4 1 Tan h = ini rumus WIT 1+ tan Φ - ∂3
117 Jadi setiap kita mencari waktu ashar, maka h Asharnya kita cari terlebih dahulu. Contoh : Tentukan awal Ashar di Kota Padang tanggal 7 Oktober 2020. Untuk Kota Padang dipakai rumus WIB. Langkah menjawab. 1 Tan h = 1+ tan -0˚ 57’ – (-5˚ 40’ 16’’) Angka yang dalam tanda mutlak kita kurangi terlebih dahulu maka hasilnya 4˚ 43’ 16’’ tanda tan dalam pengurangan tidak kita tekan tapi angka yang dalam tanda mutlak saja. Maka dalam penambahan, tanda tan baru di tekan seperti 1+ tg 4˚ 43’ 16’’. hasilnya 1.082585926 kemudian baru kita bagi 1 : 1.082585926 = 0.923714206 ini di shif tan = 42.72909875 atau bisa kita darjatkan tekan tombol darjat maka hasilnya 42˚ 43’ 44.76’’ ini lah nilai h ashar untuk tanggal 7 oktober 2020. 1 1 = = 1+ tg 4˚ 43’ 16’’ 1.082585926 = 0.923714206 /sif tan = h h = 42.72909875 atau 42˚ 43’ 44.76’’
118 Jawaban langsung : 1 Tan h = 1+ tan -0˚ 57’ – (-5˚ 40’ 16’’) 1 1 = = 1+ tg 4˚ 43’ 16’’ 1.082585926 = 0.923714206 /sif tan = h h = 42.72909875 atau 42˚ 43’ 44.76’’ Bagian ke dua Cos t = (Sin h) ( Sec Φ)(Sec ∂8 )- ( tg Φ) ( tg ∂8 ) Kalau ada muncul M di monitor kalkulator sebelah kiri atas itu harus dihilangkan dengan cara tekan tombol Nol kemudian shif kemudian RCL kemudian M+ kemudian AC 1. Tentukan jam Kulminasi atas Matahari ( KA ) pada tanggal yang kita pakai. 2. Tentukan h Ashar ( lihat langkah-langkahnya pada catatan mencari h ashar) 3. Tentukan Cos t Ashar ( sudut waktu matahari Ashar) dengan Rumus :
119 Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂8 ) - ( tg Φ) ( tg ∂8) WIB Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂7 ) - ( tg Φ) ( tg ∂7) WITA Cos t = (Sin h) ( Sec Φ) (Sec ∂6 ) - ( tg Φ) ( tg ∂6 ) WIT Ket ; h = Posisi matahari terbenam ( untuk Ashar h nya dicari setiap hari karna tidak tetap).) Φ = Ini dibaca pih ( Lintang tempat dimana kita menentukan magrib) ∂ = Deklinasi Matahari (8 = Jam 8 untuk WIB ) Dilihat pada data Epheme ris D Deklinasi Matahari (7 = Jam 7 untuk WITA ) Deklinasi Matahari (6 = Jam 6 untuk WIT ) Sin = Lihat pada tombol kalkulator Sec = Pada kalkulator tekan tombol cos, ketik angka yang dituju tekan sama dengan, tekan M+ kemudian tekan 1 bagi RCL M+ = ta n = Lihat di kalkulator
120 3. Mencari W BW = beda waktu Rumus : BW = t / 15 4. Menentukan Ashar Rumus : Ashar = KA + BW + i Contoh : Tentukan awal Ashar di Kota Padang tanggal 7 Oktober 2020. Untuk Kota Padang dipakai rumus WIB. Diketahui : KA = 12˚ 6’ 23’’ h = 42˚ 43’ 44.76’’ Φ = -0˚ 57’ ∂8 = -5˚ 43’ 08’’ I = 0˚ 0’ 40’’ Jawab : Cos t = (Sin h) ( Sec Φ)(Sec ∂8 )- ( tg Φ) ( tg ∂8 ) =( sin 42˚ 43’ 44.76’’) (sec -0˚ 57’)(sec-5˚ 43’ 08’’) – (Tg-0˚ 57’)(Tg-5˚ 43’ 08’’)
121 =( 0˚ 40’ 42.72’’)( 1˚ 0’ 0.49’’)( 1˚ 0’ 18.01’’) - (-0˚ 0’ 59.7’’)(-0˚ 6’ 0.53’’) =0˚ 40’ 55.27’’ – 0˚ 0’ 5.98’’ = 0˚ 40’ 49.29’’ disihif cos = maka hasilnya dinamakan dengan t t = 47.12834918 atau didarjatkan tekan tombol darjat maka hasilnya 47˚ 7’ 42.06’’ BW = t/15 = 47˚ 7’ 42.06’’ / 15 = 3˚ 8’ 30.8’’ Ashar = KA + BW + i = 12˚ 6’ 23’’ + 3˚ 8’ 30.8’’ + 0˚ 0’ 40’’ = 15˚ 15’ 33.8’’ atau pukul 15 : 15 : 33.8 dibulatkan menjadi pukul 15 : 16 atau pukul 15 : 17
122 BOLA LANGIT DAN PEREDARAN MATAHARI A. Horison, Zenith, Nadir, Lingkaran Vertikal dan Meridian 1.Kaki langit atau horizon atau ufuk ialah lingkaranbesar yang membagi bola langit menjadi dua bagian yang sama (bagian langit yang kelihatan dan bagian langit yang tidak kelihatan). Lingkaran ini menjadi batas pemandangan mata seseorang; tiap-tiap orang yang berlainan tempat berlainan pula horizonnya.62 Setiap tempat di bumi, horizonnya berbeda-beda, ini disebabkan karena bentuk bumi yang bulat. Apabila kita berdiri tegak lurus dan dari tempat berdiri itu dihubungkan dengan satu 62 Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008),
123 garis lurus yang melewati titik pusat bumi ke arah atas sampai memotong titikpuncak. 2.Zenit ialah titik potong yang terjadi akibat adanya garis yang di tarik dari titik pusat bolalangitdengan lingkaranlangitbagian atas. 3.Nadir ialah titik potong yang terjadi akibat adanya garis yang di tarik dari titik pusat bola langit dengan lingkaran bola langit bagian bawah. Mengingat bumi ini bulat, sedang langit juga dilukiskan bulat seperti bola, maka untuk setiap tempat di bumi, masing-masing memiliki zenith dan nadir yang berbedabeda. Lingkaran vertical ialah lingkaran yang berpusat pada bola langit berposisi tegak lurus pada lingkaran horizon. Sedangkan lingkaran vertical utama ialah lingkaran yang ditarik dari titik zenith ke titik nadir yang melewati titik timur dan barat. 4.Lingkaran meridian ialah lingkaran vertical yang melewati titik Utara Selatan Lingkaran vertikal terutama ini membagi bola langit menjadi dua bagian sama besar, yakni belahan Utara dan belahan Selatan. Sedang lingkaran Meridian, membagi bola langit kepada belahan Barat dan belahan timur.
124 Selanjutnya perhatikan Gambar : Keterangan Gambar : P = titik pusat bumi/ titik pusat bola langit. Z = Zenith ; N = Nadir U = Titik Utara ; T = Titik timur S = titik Selatan ; B = titik Barat U – T – S – B = Lingkaran Horizon Dalam Gambar ini terlihat bahwa Z – P – N bila dihubungkan dengan garis, posisi garis itu akan tegak lurus pada bidang lingkaran horizon (bidang yang berpusat pada titik P dan dilingkari oleh lingkaran U – T – S – B ). B. Tinggi Kutub Bumi mempunyai dua Kutub (Kutub utara dan Kutub selatan). Apabila melalui Kutub utara, titik pusat bumi dan Kutub selatan ditarik garis lurus, maka masing-masing ujungnya akan menyentuh lingkaran bola langit pada dua titik. Kedua titik tersebut, masing-masing disebut Kutub langit utara dan Kutub langit selatan. Di arah Kutub utara, ada sebuah bintang yang disebut dengan Bintang Kutub. Bila kita berdiri di daerah khatulistiwa,
125 maka bintang Kutub itu berada di horizon pada titik Kutub utara. (catatan : untuk Kutub selatan tidak ada bintang Kutub). Kalau kita berjalan meninggalkan daerah khatulistiwa menuju ke arah utara, maka bintang Kutub ini makin lama tampak makin tinggi meninggalkan horizon. Makin jauh kita meninggalkan daerah katulistiwa, makin tinggi posisi bintang Kutub itu meninggalkan horizon. Jumlah Derajat bintang Kutub dari horizon, sama dengan jumlah Derajat jarak antara tempat itu dari khatulistiwa. Dan kalau jarak antara suatu tempat ke katulistiwa merupakan Lintang tempat yang bersangkutan, maka dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa : TINGGI KUTUB = LINTANG TEMPAT. Berangkat dari kaedah ini, maka bila suatu tempat berlintang 100 LU, tinggi Kutub temapt tersebut adalah sebesar 100 juga. Bila suatu tempat berlintang 100 LS, maka tinggi Kutub tersebut adalah 100 juga. Dalam melukis suatu tempat, kaidah tersebut harus diperhatikan dengan baik. Selanjutnya perhatikan Gambar dibawah ini. Keterangan Gambar :
126 P = Titik pusat bumi/ titik pusat bola langit Ku = Kutub langit Utara, atau Kutub Utara Ks = Kutub langit Selatan, atau Kutub Selatan U = Titik Utara S = TitikSelatan Z = Zenith N = Nadir Besar U – S = Lingkaran Horizon. Gambar A, titik Kutub selatan berada di atas titik selatan. Ini menandakan bahwa tempat yang dilukis berlintang selatan. Sedang Gambar B, Kutub Utara berada di atas titik utara, berarti tempat yang dilukis berlintang utara. Sekiranya Lintang tempat yang dilukis berlintang 0°, maka titik KS berhimpit dengan titik S dan titik KU berhimpit dengan titik U. Dari Gambar A dapat dilihat tinggi Kutub tempat itu adalah S ke Ks, sedang Gambar B, tinggi kutubnya adalah U ke Ku. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan TINGGI KUTUB ialah jarak dari Kutub ke horizon, diukur melalui lingkaran meridian. PEMBUKTIAN KAIDAH : TINGGI KUTUB = LINTANG TEMPAT. Terlebih dahulu, Gambar A atau B di atas dilengkapi dengan lukisan posisi khatulistiwa atau Equator pada bola langit. Sebagaimana dimaklumi letak khatulistiwa selalu tegak lurus terhadap poros Kutub utara ke Kutub selatan langit. Dengan kata lain, bidang lingkaran katulistiwa, membuat sudut 90o terhadap poros Kutub utara ke Kutub selatan. perhatikan gambar
127 Keterangan Gambar : P = titik pusat bumi = titik pusat bola langit = tempat Peninjauan. EQ = Equator /khatulistiwa Ks = Kutub Selatan Ku = Kutub utara Z = Zenith ; N = Nadir : B = Titik Barat S = Titik Selatan; U = Titik Utara. S – Ks = Tinggi Kutub = P3 Dengan pertolongan Gambar tsb di atas, dapatlah dibuktikan kebenaran kaidah yang menyatakan bahwa : tinggi Kutub = Lintang tempat. Jalan pembuktian sebagai berikut : Garis ZP membuat sudut dengan EQ sebesar Derajat Lintang tempat. Sebab, jarak Derajat zenith suatu tempat ke equator, sama besar Derajat tempat yang bersangkutan. Sudut EPKs = sudut ZPS = 90°. Sudut P1 = sudut P3, sebab, kedua-duanya merupakan sudut penyiku dari dua buah sudut yang sama.
128 Karena sudut P3 adalah tinggi Kutub, sedang sudut P1adalah Lintang tempat, maka Kutub sama besar derajatnya dengan Lintang tempat yang bersangkutan. Selanjutnya dari Gambar di atas pula juga dapat dilihat bahwa besar Derajat Lintang tempat, sama dengan besar Derajat sudut ZPE. Busur ZE merupakan jarak antara zenith dengan Equator. Busur tersebut dinamakan dengan jarak zenith. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan JARAK ZENITH adalah jarak sepanjang meridian, dihitung mulai dari titik zenith ke titik equator. Dari pengertian ini dapatlah disimpulkan, bahwa : LINTANG TEMPAT = JARAK ZENITH Dengan demikian, maka besar derajat Lintang tempat, sama dengan besar Derajat jarak zenith dan sama juga dengan besar Derajat tinggi Kutub. C. Gerak Harian Matahari 1. Gerak Semu Harian Matahari atau RotasiBumi Setiap hari kita melihat bahwa matahari terbit di kaki langit sebelah Timur, lalu bergerak makin lama makin tinggi, hingga akhirnya pada tengah hari mencapai tempat kedudukannya yang paling tinggi pada hari itu. Setelah itu ia meneruskan perjalananya, tempatnya di langit makin lama makin rendah, dan pada senja hari kita lihat ia terbenam di ufuk sebelah Barat. Perjalanan matahari seperti itu bukanlah gerak matahari yang sebenarnya, akan tetapi terjadi akibat adanya perputaran bumi pada porosnya (rotasi) selama sehari semalam. Peristiwa perjalanan matahari semacam itu dinamakan perjalanan semu harian matahari.
129 Gerak semu harian matahari ini disebabkan oleh rotasi bumi (gerak putar bumi pada sumbu putarnya), dengan waktu rotasi yaitu 23 jam 56 menit 4.1 detik. Dengan demikian dalam sehari matahari bergerak 00° 59' 08,33". Gerak semu harian matahari mengakibatkan perubahan posisi matahari setiap harinya. Matahari terlihat terbit di timur dan tenggelam di barat. Padahal gerak semu ini teramati karena bumi kita yang ber-rotasi dengan arah sebaliknya, dari barat ke timur. Sehingga akan muncul kesan semu bahwa dari sudut pandang kita (sebagai pengamat) di bumi, matahari-lah yang bergerak mengelilingi. Pada saat bagian bumi menghadap matahari, bumi dalam keadaan siang, sedangkan bagian bumi yang tidak mendapat cahaya matahari berada dalam keadaan malam hari. Jadi, terjadinya siang dan malam disebabkan oleh terjadinya rotasi bumi, juga karena bentuk bumi yang bulat. Terjadinya siang dan malam dapat dilihat pada gambar berikut ini. Arah rotasi bumi adalah dari barat ke timur. Oleh karena itu, matahari selalu terbit di timur dan terbenam di barat, akibatnya orang
130 di daerah Indonesia Timur lebih dulu melihat matahari terbit daripada orang di daerah Indonesia Barat. Perbedaan waktu Indonesia Barat (WIB) dengan waktu Indonesia tengah (WITA) adalah 1 jam dan perbedaan dengan waktu Indonesia timur (WIT) adalah 2 jam. Bumi mengalami rotasi selama 24 jam. Rotasi bumi menyebabkan perbedaan waktu di setiap bagian bumi. Adapun pengaruh dari rotasi bumi adalah : a). Terjadinya pergantian siang dan malam b). Terjadinya pergantian waktu di daerahdaerah c). Terjadinya gerakan semu, d). Terjadinya pergantian air pasang dan surut di laut e). Terjadinya pembelokan angin pasatf). F). Terjadinya pemematan bumi pada kedua sumbunya. 2. Gerak Semu Tahunan Matahari atau RevolusiBumi Di samping melakukan perjalanan semu harian, matahari juga melakukan perjalanan tahunannya yang sesungguhnya yakni perjalanan matahari dari arah Barat ke Timur dalam waktu satu tahun (365,2425 hari) untuk sekali putaran. Penyebab gerak semu tahunan matahari disebakan oleh revolusi bumi. Bumi membutuhkan waktu selama 1 tahun untuk bergerak mengelilingi matahari (revolusi) bumi. Selain bergerak mengelilingi matahari, juga bergerak berputar terhadap
131 sumbunya (rotasi). Tetapi sumbu rotasi bumi ini tidak sejajar terhadap sumbu revolusi, melainkan sedikit miring sebesar 23,5 derajat. Akibat dari miringnya sumbu rotasi bumi itu, matahari tidak selalu terlihat di atas khatulistiwa bumi, matahari akan terlihat berada di bagian utara dan selatan bumi. selama setengah tahun, matahari lebih banyak menerangi bumi bagian utara, dan setengah tahun berikutnya matahari lebih banyak menerangi bumi bagian selatan. Dalam gerak semunya, matahari akan tampak bergerak dari khatulistiwa (equator) antara 23,5° lintang utara dan lintang selatan. Jalur perjalanan tahunan matahari itu tidak berimpit dengan equator langit, tetapi ia membentuk sudut sekitar 23° 27' dengan equator. Jalur perjalanan matahari inilah yang disebut Ekliptika (da-iratul Buruj). Ekliptika (da-iratul Buruj) ialah lingkaran besar pada bola langit yang memotong lingkaran equator langit dengan membentuk sudut 23° 27'. Titik perpotongan antara lingkaran equator dengan ekliptika itu terjadi dua kali. Perpotongan pertama terjadi pada saat matahari bergerak dari langit bagian selatan ke langit bagian utara yaitu di titik Aries (tanggal 21 Maret) yang disebut Vernal Equinox. Perpotongan kedua terjadi pada saat matahari bergerak dari bagian langit utara ke bagian langit selatan yaitu pada titik Libra (tanggal 23 September) yang disebut Auntumnal Equinox. Ekliptika terbagi atas 12 bagian yang masing-masing besarnya 30°. Bagian-bagian itu disebut rasi bintang (mintaqatul buruj/zodiac/ constelation). Zodiak ini terdiri dari dua belas (12) rasi bintang yang membentang disepanjang ekliptika, sehingga seolah-olah merupakan ikat pinggang bola langit. Rasi bintang ialah gugusan bintang-bintang yang sering disebut dengan zodiak
132 atau constelation. Rasi bintang yang ada di sabuk zodiak ada 12, yaitu: 1. Aries atau Haml (domba) 2. Taurus atau Tsaur (sapi jantan) 3. Gemini atau Jauza' (anak kembar) 4. Cancer atau Sarathan atau (kepiting) 5. Leo atau atau Asad (singa) 6. Virgo atau Sunbulah (anak gadis) 7. Libra atau Mizan (neraca) 8. Scorpio atau Aqran (kala jengking) 9. Sagitarius atau Qaus (panah) 10. Capricornus atau Jadyu (anak kambing) 11. Aquarius atau Dalwu (timba) 12. Pisces atau Hut (ikan) Pada saat matahari menduduki rasi bintang Aries, Taurus dan gemini atau antara tanggal 21 Maret – 21 Juni (matahari berada disebelah utara ekuator) belahan bumi bagian utara mengalami musim semi (spring) dan belahan bumi bagian selatan mengalami musim gugur (autum). Pada saat matahari menduduki rasi bintang Cancer, Leo dan Virgo atau antara tanggal 21 Juni – 23 September (matahari berada disebelah utara ekuator) belahan bumi bagian utara mengalami musim panas (summer) dan belahan bumi bagian selatan mengalami musim dingin (winter). Pada saat matahari menduduki rasi bintang Libra, Scorpio dan Sagitarius atau antara tanggal 23 September – 22 Desember (matahari berada disebelah selatan ekuator) belahan bumi bagian utara mengalami musim gugur dan belahan bumi bagian selatan mengalami musim semi. Pada saat matahari menduduki rasi bintang Aries, Taurus dan gemini atau antara tanggal 22 Desember – 21 Maret (matahari berada disebelah selatan
133 ekuator) belahan bumi bagian utara mengalami musim dingin dan belahan bumi bagian selatan mengalami musimpanas. Pada saat mengelilingi matahari, bumi tetap berputar pada porosnya. Bulan pun sebagai satelit bumi berputar pada porosnya. Waktu yang digunakan bulan untuk berputar pada porosnya sama dengan waktu untuk bulan mengelilingi bumi. Bulan mengelilingi bumi dengan arah yang berlawanan dengan arah jarum jam pada orbit yang berbentuk elips. Bulan mengelilingi bumi selama 29,5 hari atau satu bulan. Kemudian bumi dan bulan bersama-sama mengelilingi matahari selama 365,25 hari atau satu tahun. Pada waktu bulan mengelilingi bumi dan bersama-sama bumi mengelilingi matahari, terjadi perubahan letak antara bulan, bumi, dan matahari sehingga terjadiperubahan kenampakan bulan ketikadilihatdari bumi. Gerak tahunan matahari di sebabkan oleh karena adanya revolusi bumi. Sedangkan revolusi bumi itu sendiri adalah perputaran bumi pada lintasannya yang menyebabkan sehingga matahari dapat dilihat berada pada equator/khatulistiwa dan kadang pula berada di balik utara equator atau di balik selatan equator.
134 Pada tanggal tertentu posisi matahari dapat di lihat sebagai berikut. - Pada tanggal 21 Maret matahari di Equator - Pada tanggal 21 Juni matahari di utaraEquator - Pada tanggal 23 September matahari di Equator - Pada tanggal 22 Desember matahari di selatanEquator - Pada tanggal 21 Maret matahari berada di Equator kembali. Berdasarkan dengan perubahan-perubahan posisi matahari terhadap Eq, maka dapat dicatat di sini bahwa. 1. Pada saat matahari di Eq, tanggal 21 maret dan tanggal 23 september lamanya siang dan malam sama. Di belahan bumi utara dan selatan sama panjangnya. 2. Pada saat matahari tanggal 21 maret sampai tanggal 21 juni dan antara tanggal 21 juni sampai pada tanggal 23 september, yakni ketika matahari tampak di sebelah utara Eq, maka: a. Untuk daerah bumi di sebelah utara Eq, mengalami waktu siang lebih panjang dari waktumalamnya. b. Untuk daerah bumi sebelah selatan Eq, mengalami waktu siang lebih pendek dari waktu malamnya. c. Untuk daerah kutub utara selama sekitar 6 bulan mengalami siang terus- menerus. d. Untuk daerah kutub selatan selama sekitar 6 bulan mengalami malam terus-menerus.
135 3. Pada saat antara 23 september sampai 22 Desember dan tanggal 22 Desember sampai 21 Maret, yakni ketika matahari sedang nampak di sebelah selatan Eq. a. Untuk daerah bumi di sebelah utara Eq mengalami waktu siang yang lebih pendek dari waktu malamnya. b. Untuk daerah bumi di sebelah selatan Eq, mengalami waktu siang lebih panjang. c. Kutub utara 6 bulan malam d. Kutub selatan 6 bulan siang. Oleh karena itu, perubahan lintasan matahari terhadap permukaan bumi, mengakibatkan terjadinya perubahanperubahan musim di bumi menjadi empat musim yakni sebagai berikut : No . Tanggal Belahan Bumi Utara Belahan Bumi Selatan 1. 21 Maret-21 Juni Semi/bunga Gugur/buah 2. 21 Juni-23 Sept Panas Dingin 3. 23 Sept-22 Des Gugur/buah Semi/bunga 4. 22 Des-21 Maret Dingin Panas D. Deklinasi dan Lingkaran Deklinasi63 Deklinasi sebagai sudut adalah jarak dari suatu benda langit ke equator, diukur melalui lingkaran waktu, dapat juga dikatakandeklinasi suatu bintang adalah adalah sepotong busur lingkaran deklinasi yang diukur dari titik perpotongan equator 63 Muhammad Hadi Bashori, Pengantar Ilmu Falak (Cet. I; Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 2015), h. 77. Lihat pula A. Jamil, Teori & Aplikasi (Cet. I; Jakarta; Amzah, 2009), h. 15.
136 pada lingkaran deklinasi itu sampai bintang itu sendiri. Yaitu yang dengan hitungan derajat, menit dan detik. Deklinasi dalam bahasa arab disebut dengan mail, atau dalam bahasa Inggris disebut Declination (Dec), dengan simbol δ, deklinasi bisa dibandingkan dengan garis lintang, yang diproyeksikan ke bola langit, dan diukur dalam derajat ke arah utara dan selatan dari ekuator langit. Deklinasi sebelah utara equator dinamakan positif dan diberi tanda (+), sedang deklinasi sebelah selatan equator dinamakan negatif dan diberi tanda (-). Pada saat benda langit persis berada pada lingkaran equator, maka deklinasinya sebesar 0 derajat. Harga deklinasi yang terbesar yang dicapai oleh salah suatu benda langit adalah 90° yaitu manakala benda langit tersebut persis berada pada titik kutub langit. Sedangkan harga deklinasi yang dicapai oleh matahari adalah 23° 30’. Nilai deklinasi matahari dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam selama satu tahun terus berubah, namun dari tahun ke tahun relatif sama, seperti pada setiap tanggal 21 Maret deklinasi bernilai 0 derajat, berarti matahari pada saat itu persis berada di equator. Kemudian posisi matahari terus bergerak ke utara sampai sekitar tanggal 21 Juni yang mencapai nilai maksimum positif sekitar 230 30’. Lalu setelah itu bergerak ke selatan sampai pada sekitar tanggal 23 September hingga nilai deklinasi kembali ke 0 derajat. Selanjutnya matahari terus bergerak ke selatan sampai sekitar tanggal 22 Desember dan nilai deklinasi matahari mencapai titik maksimum negatif sekitar230 30’. Selanjutnya begerak kembali ke utara, dan sekitar tanggal 21 Maret posisi matahari kembali berada di equator dengan titik deklinasinya 0 derajat. Jadi, besar sudut deklinasi ini tergantung pada waktu tahunan. Untuk pelbagai hari atau tanggal, sudah ada tabelnya.