menarik dahan cengkeh yang akan diikat. Cengkeh tersebut merupakan upah mereka. Mereka berkumpul, menunggu datang mobil truk yang akan menjemput guna selanjutnya membawa turun ke perkampungan di pesisir. Bila menggunakan angkutan umum sejenis mikrolet, dengan tak membawa barang, masing-masing membayar Rp 7.000. Cengkeh-cengkeh yang dimiliki penduduk Gurabunga dibawa ke rumah masing-masing untuk selanjutnya dipisahkan antara tangkai dengan bunga. Kegiatan patah cengkeh dilakukan malam hari. Esoknya, bila hari cerah, cengkeh dan tangkainya dijemur. Ada yang dijemur di halaman rumah, di sisi jalan, dan di lapangan. Untuk menghindari cengkeh yang dijemur tercemari kotoran hewan, pemilik cengkeh yang menjemur cengkehnya di lapangan membuat bangunan sederhana di sisi lapangan sebagai tempat berlindung. Selain untuk mengusir hewan, misalnya ayam dan anjing, yang melintas di atas cengkeh, bangunan sederhana juga digunakan sebagai tempat menunggu. Cengkeh yang dijemur harus sesekali dibalik-balik agar keringnya rata. v M. RIDWAN ALIMUDDIN Pesona Gurabunga | 173
Sekolah Cengkeh Sekolah Dasar Negeri (SDN) 87 Manipi, Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, adalah sekolah yang dikelilingi oleh pohon cengkeh. Jika musim cengkeh tiba --antara Juli-September-- pohon-pohon cengkeh dipetik oleh bujang (penjaga) sekolah, Zainal, bersama istrinya, Sunarti. Pada musim cengkeh ini, sementara murid-murid sekolah tengah menerima pelajaran di ruangan kelas, Zainal dan Sunarti meniti anak-anak tangga bambu menuju ketinggian pohon, memetik buah cengkeh. 174 | EKSPEDISI CENGKEH
Pohon-pohon cengkeh yang rimbun mengelilingi SDN 87 Manipi, Sinjai, Sulawesi Selatan. MUHAMMAD IMRAN Sekolah Cengkeh | 175
Pohon cengkeh ini bukan ditanam tanpa alasan. Dan, hasilnya bukan tak memberi sumbangsih bagi sekolah. Menurut Muhammad Yusuf (54), Kepala SDN 87 Manipi, pohon cengkeh ini memberi sumbangsih cukup banyak bagi pembangunan sekolah. “Cengkeh ini turut membantu sekolah, khususnya dalam membantu pendanaan sekolah,” jelas Yusuf. Awal mula pohon cengkeh ditanam berdasarkan pada anjuran dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai agar setiap sekolah yang ada melakukan penghijauan dan usaha memperindang halaman sekolah. Selain itu, alasan ditanamnya cengkeh juga untuk membantu penghasilan sekolah. Maka, pada tahun 2000, pihak sekolah mulai menanami halaman sekolah dengan tiga macam tanaman: cengkeh, cokelat, dan kopi. Zainab Alimin adalah kepala sekolah saat itu. Dari tiga tanaman itu, kini hanya cengkeh yang tetap bertahan dan produktif. Sementara cokelat sudah ditebang. Pohon kopi memang masih ada beberapa pohon, namun sudah tidak produktif lagi. “Kami rencana akan menebang seluruh pohon kopi, karena tidak lagi produktif. Yang produktif tiga tahun terakhir adalah cengkeh. Satu kali musim bisa sampai sepuluh juta,” terang Yusuf. Panen pertama buah cengkeh di SDN 87 Manipi mulai dilakukan pada 2005. Masa itu tentu saja buahnya belum banyak. Karena pohonnya masih kecil dan pendek. Tapi tahuntahun berikutnya, menurut Yusuf, pohon cengkeh ini terus tumbuh dan berbuah banyak. *** Tujuan awal penanaman cengkeh, yakni menghijaukan dan memperindang sekolah, serta membantu penghasilan sekolah, benar-benar tercapai. Memasuki halaman sekolah, kita bisa melihat halaman yang begitu asri oleh pohon-pohon cengkeh. Najmiati adalah guru sekolah yang turut mengorganisir penanaman cengkeh tersebut. Sekarang ini Ibu Naje’, panggilan sehari-hari Najmiati, 176 | EKSPEDISI CENGKEH Istri penjaga sekolah SDN 87 Manipi, SInjai Barat, memeriksa dan menyiangi ranting-ranting pohon cengkeh yang mengelilingi sekolahnya (ATAS); dan beberapa murid SD tersebut melintas di jalan depan sekolah mereka (KANAN). MUHAMMAD IMRAN
Sekolah Cengkeh | 177 berperan sebagai bendahara sekolah. Bibit-bibit tanaman dibeli dari uang iuran sekolah. Bibitnya lebih dari 20 pohon. Lalu mulailah penanaman dilakukan. Setelah pohon-pohon cengkeh mulai berbuah, maka ditetapkanlah orang-orang yang akan mengelola hasil produksinya. Zainal, sebagai penjaga sekolah, diberi tanggung jawab untuk merawat pohonpohon cengkeh. Meski begitu, pekerjaan merawat ini biasanya turut juga melibatkan para guru dan murid. Ibu Naje’ diserahi tanggung jawab sebagai pengelola uang hasil penjualan buah cengkeh. Kerja mengelola hasil penjualan ini disebut ‘Bendahara Tanaman’ yang tidak boleh dintervensi oleh pihak lain. Jadi, di sekolah ada dua jabatan bendahara: Bendahara Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bendahara Tanaman. Dalam memetik buah cengkeh, Zainal dibantu oleh istrinya. Hanya mereka berdua, tanpa bantuan tenaga dari orang lain. Zainal sendiri diberikan upah sebagaimana umumnya pengupahan dalam pemetikan cengkeh: dibayar per liter. Pria yang tinggal di belakang halaman sekolah ini dibayar Rp 2.500 per liter. Jika cengkeh sudah dipetik, lalu dijual, maka pengelolaannya mulai dibicarakan di tingkat Komite Sekolah. Selama ini, pemanfaatan hasil penjualan masih berkisar pada dua hal: untuk perbaikan dan
178 | EKSPEDISI CENGKEH pembangunan sekolah, serta untuk membeli seragam sekolah. Untuk uang seragam, sekitar 30% dari keseluruhan. 70% sisanya digunakan untuk perbaikan sekolah, seperti untuk perbaikan dinding tembok bangunan sekolah, pengecatan pagar, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak seluruh kebutuhan membangun dan perbaikan sekolah berasal dari hasil penjualan cengkeh tersebut. “Itu nanti disatukan dengan dana BOS. Itu proses penggunaannya,” terang Yusuf. Penggunaan hasil penjualan cengkeh sekira seperempat dari dana BOS. “Dana BOS sampai empat kali satu tahun. Sementara cengkeh hanya satu kali musim dalam satu tahun. Ada 28 juta dana BOS tiap tahun. Cengkeh satu musim sekitar tujuh juta, itu kalau harga cengkeh bagus,” jelas Yusuf. Untuk pemanfaatan seragam sekolah, hasil cengkeh sekolah tidak diberikan dalam bentuk uang. Namun dibelikan kain untuk dibuatkan seragam sekolah. “Kalau dikasih uang lalu disuruh buatkan seragam, biasanya lambat. Tapi kalau disuruh ukurkan kain seragam, baru dikasih uang, itu cepat,” tutur Yusuf. Apa tanggapan Dinas Pendidikan Kabupaten terhadap sumbangsih cengkeh kepada sekolah di SDN 87 Manipi ini? Yusuf, pria yang baru menjabat tiga tahun sebagai Kepala SDN 87 Manipi, ini menjelaskan, “Dinas Pendidikan memberi apresiasi positif. Apalagi memang dalam setiap pertemuan kami dianjurkan untuk memberdayakan kebun sekolah. Lagi pula, tidak ada pelaporan khusus yang menyebutkan bahwa sekian hasil cengkeh sekolah kami. Pelaporannya hanya untuk sekolah.” Tahun ini, menurut Yusuf, cengkeh berbuah baik. Harga juga baik. Hanya saja belum bisa dipastikan berapa seluruh hasil penjualannya. September ini masih dalam pemetikan. Akan tetapi, Yusuf sadar betul cengkeh memberi sumbangan cukup besar. “Seandainya tidak ada tambahan dari uang hasil produksi cengkeh, barangkali sekolah susah akan membangun gedung seperti ini,” terang Yusuf. Sekarang ini halaman sekolah SDN 87 Manipi rindang oleh pohon cengkeh. Memang tak ada lokasi lagi untuk penanaman cengkeh di sekolah yang memiliki 16 guru ini. Dua puluhan pohon cengkeh yang ada saat ini sudah memenuhi halaman sekolah. Jadi, rencana kami, pohon cengkeh yang ada sekarang akan kami pelihara sebaikbaiknya,” tutur Yusuf dengan mantap. v OPAN RINALDI
Tanah Petuanan Kalaodi Kalaodi adalah nama salah satu kampung di Pulau Tidore. Letaknya berada sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Tepatnya di kaki bukit Tagafura. Kubah masjid berukuran kecil namun elok menyambut begitu melewati gerbang kampung. Terdapat pagar rendah yang membatasi jalan dengan rumah-rumah penduduknya. Di jalan berlapis aspal selebar tiga meter itu pula penduduk Kalaodi menjemur cengkeh. Pagi hari cengkeh dijemur di sisi barat. Kala matahari mulai bergerak ke arah barat, para perempuan akan mengenakan caping atau kain penutup kepala, lalu keluar rumah untuk mengeser cengkeh ke sisi timur jalan. Cengkeh hanya meminjam satu meter lebar bahu jalan kampung, sehingga angkutan umum dapat tetap melintas. Penduduk Kalaodi tak terlalu padat, hanya berjumlah 405 orang. Pada dekade 1960-an, sebagian penduduknya berpindah ke Halmahera. Tanah Petuanan Kalaodi | 179
Mereka mendapatkan panggilan dari Sultan Tidore, Zainal Abidin Syah. Kebijakan berpindah ini diberlakukan pada keluarga yang terdiri dari lima orang. “Kalau ada tiga bersaudara dalam satu keluarga, dua anaknya harus pindah,” kata Oman. Satu orang lagi menetap di Kalaodi. Kebijakan ini diberlakukan pada anak yang telah dewasa. Sultan Tidore, yang juga Gubenur Irian Barat pertama setelah penyerahan wilayah itu dari Belanda pada tahun 1964, saat mengantarkan penduduk Kalaodi ke perkampungan baru berpesan, ”Kamu keluar untuk mencari, tapi jika di kampung ada kegiatan harus kembali,” ucap Sultan yang ditirukan Oman. Desa baru yang dihuni penduduk Kalaodi di Halmahera, salah satunya bernama Kampung Garojou. Istilah garojou dalam bahasa Tidore berarti ‘Panggilan Sultan’. 180 | EKSPEDISI CENGKEH Beberapa warga sedang menjemur cengkeh hasil panen raya Agustus-September 2013 di Desa Kalaodi, Pulau Tidore.
Sampai sekarang hubungan para rantau di kampung baru dengan Kalaodi tak terputus. Utamanya saat digelar upacara adat Paca Goya, ritual memperingati masuknya orang pertama di Kalaodi. Penduduk yang mendapatkan Panggilan Sultan akan datang ke Kalaodi. Paca Goya digelar seusai musim panen berlangsung, satu atau dua tahun sekali. Berbagai ritual adat digelar, dipimpin oleh Sowohi. Berbagai panganan disajikan, dan pertunjukan seni tradisi ditampilkan dalam puncak acara Paca Goya. Semarak panen cengkeh di Kalaodi tak kalah meriah dari kampungkampung lain. Para lelaki dan perempuan bahu-membahu bekerja. Pedagang keliling antar kampung berdatangan menawarkan berbagai dagangan. Mobil pick up pengangkut cengkeh datang setiap hari. “Panen raya cengkeh datang tahun ini,” kata Usman Ali (52) yang disapa Oman. Di Kalaodi panen raya cengkeh berlangsung dua tahun sekali. “Tak mungkin setahun sekali, cengkeh mulai berbuah pada Juli, Agustus, dan September. Bulan Juni tahun depan cengkeh baru bisa dipanen,” lanjut Oman. Sebagian besar tanah di Kalaodi ditanami tanaman tahunan seperti cengkeh, pala, dan durian. Melimpahnya cengkeh membuat penduduk tak bisa melaksanakan sendiri proses panen. Para pemetik dari pulau-pulau sekitar berdatangan untuk membantu memanen cengkeh. Di tanah petuanan ini, hak mengelolanya diberikan oleh Sultan Tidore pada kampung. Warga Kalaodi secara bersama-sama mengelola kebun desa. Penduduk menanam cengkeh sejak tahun 1975. Kini sudah saatnya mereka memetik buah kerja yang dulu diprakarsai oleh Yunus Iskadi, Kepala Desa Kalaodi saat itu. Perlakuan terhadap kebun desa, tak sama dengan kebun milik perorangan di mana penduduk butuh bantuan pemetik cengkeh yang datang ke kampung mereka. Dalam memanen cengkeh di kebun desa, penduduk Kalaodi akan babari (gotong royong). Seluruh tenaga di kampung dikerahkan. “Semua penduduk akan dipanggil kerja. Lelaki metik, perempuan matah,” kata Oman. Setiap hari Minggu penduduk Kalaodi berhenti memanen di kebun pribadi, tenaga mereka dibutuhkan desa. Para lelaki bekerja sejak pagi hari. Di siang hari para perempuan mulai berdatangan menyambut para lelaki, kemudian melakukan proses bapatah cengkeh. Setelah usai santap siang, lelaki kembali ke kebun sampai matahari tenggelam. Di malam hari, mereka berkumpul lagi, lelaki Tanah Petuanan Kalaodi | 181 OPAN RINALDI
182 | EKSPEDISI CENGKEH dan perempuan, bersama-sama bapatah cengkeh. Penduduk Kalaodi melakukan proses penjemuran cengkeh dari kebun desa dengan membagi rata di masing-masing rumah. Setelah cengkeh kering, bunga cengkeh dikumpulkan kembali. Selain babari, terdapat sistem kerja marong dan galasi, tradisi yang teguh dipertahankan warga Kalaodi. Marong adalah istilah gotong royong untuk membuka lahan baru, sedangkan galasi adalah kerja gotong royong yang waktu kerjanya ditentukan dengan jam pasir. Saat jam pasir telah habis, maka petanda waktu gotong royong telah usai. Warga kemudian diperbolehkan melakukan kegiatan hariannya masing-masing. Cengkeh secara berkala tetap datang membawa berkah. Tak hanya bagi pemilik kebun cengkeh, namun bagi seluruh warga Kalaodi. Dari empat dusun yang ada, masing-masing dusun memiliki kewenangan secara mandiri dalam mengelola hasil kebun desa. Musyawarah dilakukan di masing-masing dusun. Di Dusun Golili dan Suwom, panen kebun desa dibagi rata pada sejumlah kepala keluarga yang ada. “Penduduk Golili dan Sowum banyak yang telah berpindah ke dara’ (dataran rendah di pesisir), sehingga hasil panen dibagi rata ke semua warga,” kata Oman. Di Dusun Dola dan Kola, hasil kebun digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan sarana umum. Setiap panen dari kebun desa di Dusun Dola yang luasnya sekitar satu hektar, sarana umum desa dibangun. Hasil panen mencapai satu ton cengkeh kering setiap musim panen. Saluran air, masjid, pagar desa dibangun. Pada tahun ini, warga dusun Dola bersepakat meneruskan pembangunan pagar desa. “Di daerah timur masih belum ada pagar. Tahun ini hasil panen akan digunakan untuk meneruskan pembangunan pagar,” terang Oman. v OPAN RINALDI
Anak-anak Foramadiahi Syahrir Yunus berada di bale-bale tak jauh dari rumahnya. Sore itu, 21 September 2013, ia tak sendiri. Di sampingnya terdapat anak lelaki Kampung Foramadiahi lain yang menemani. Mereka berbagi cerita pertandingan bola semalam. Tak jauh darinya ada empat anak gadis. Seorang di antara anak gadis itu membawa piring. Di dalamnya terdapat pala, garam, lombok, dan penyedap rasa yang digerus menjadi satu. Dengan jari para gadis mengambil butiran-butiran dari piring, lalu menjilati ujung jari mereka. Di kampung mereka musim cengkeh telah berakhir. Kegiatan anak-anak Desa Foramadiahi telah kembali seperti semula. Pulang dari sekolah, anak-anak itu akan bermain di sekitar rumah, sambil Anak-anak Foramadiahi | 183
menunggu panggilan azan. Tanda bagi mereka untuk pergi salat dan mengaji ke musallah. Puncak musim cengkeh di desa mereka jatuh selama bulan Ramadan. Kala musim cengkeh adalah masa-masa yang lekat dalam ingatan anak-anak ini. Syahrial dan kawan-kawannya terkenang, ketika pulang sekolah mereka lekas-lekas makan dan berganti baju. Setelahnya, mereka pergi ke kebun. Mereka berpindah dari pohon ke pohon lain. Bunga demi bunga cengkeh yang berada di tanah dikumpulkan. Mereka meninggalkan semua permainan, dan memilih berada di kebun cengkeh. Mereka yang belum sekolah pun turut dalam kegembiraan. Anak-anak ini terus mengisi cupa (wadah kaleng susu) atau botol air mineral yang dibawa ke kebun sampai sore hari, saat kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap pergi mengaji. Dalam sehari setiap anak bisa mengumpulkan 6 - 8 cupa. Hasil pencarian mereka lebih banyak lagi saat sekolah libur. Mereka Sekelompok anak-anak Kampung Formadiahi di lereng sisi barat Gunung Gamalama, Ternate. Kebun cengkeh luas di desa itu adalah tempat bermain mereka sekaligus ikut memungut jatuhan biji-biji cengkeh pada musim panen. OPAN RINALDI
telah berada di kebun sejak pagi hari. Di hari-hari seperti itu, setiap anak mendapatkan sekitar 10 - 13 cupa. Sintawati Burhan, yang bergabung dengan teman-temannya, mengaku bisa mendapatkan 21 cupa. Tetapi ia hanya diperbolehkan orang tuanya mencari reruntuhan cengkeh di hari Minggu. Anak-anak itu tak lagi menyetorkan cengkeh dalam bentuk basah. Sebelum menyetorkan hasil pencarian pada pengepul di kampung, cengkeh dijemur terlebih dahulu. Tapi tak semua anak yang menyerahkan cengkeh ke pengepul. Sintawati salah satunya, ia menyerahkan cengkeh hasil pungutannya pada orangtua. “Tetap diganti doi (uang),” kata Sintawati. Telah menjadi kesepakatan umum di antara warga: cengkeh yang berguguran dari pohon dapat dimiliki oleh siapa pun. Ini bentuk dari berbagi pada sesama dari hasil panen cengkeh. Pemilik cengkeh tak melarang anak-anak memungut cengkeh di kebun mereka. “Selama cengkeh berada di tanah, pemilik kebun tak apa-apa,” kata Aswad Bude, Lurah Foramadiahi. Rata-rata warga di kampungnya telah memiliki pohon cengkeh. Mereka yang datang dari kampung lain untuk mencari juga punya pohon cengkeh. Namun, karena musim panen tidak sama di berbagai wilayah. “Warga kampung yang cengkehnya belum panen mencari di kampung lain,” kata Aswad. Kegembiraan panen cengkeh tak hanya dirasakan anak-anak saja. Panen cengkeh di Kampung Foramaidahi juga mengundang para pemungut reruntuhan cengkeh dari beberapa kampung sebelah. Meluapnya kegembiraan ini disebabkan selama musim cengkeh anak-anak itu bisa mewujudkan keinginan. Terlebih dua musim cengkeh belakang ini terlaksana saat bulan lebaran. Sekolah libur. Kesempatan mencari cengkeh lebih banyak lagi. Hampir setiap hari Syahrir dan temannya membeli pentol yang datang berkunjung ke kampung. Di hari-hari biasa mereka meski merengek dahulu jika hendak memakannya. Selama musim cengkeh, Syahrir berhasil menjual cengkehnya dalam lima kali penjualan. Tiga kali cengkehnya ditukar dengan Rp 250,000. Dua kali lagi dengan Rp 150.000. Sintawati masing-masing menyerahkan 1 kilo cengkeh kering dalam lima kali. Masingmasingnya ia mendapatkan Rp 140.000. Anak-anak Foramadiahi | 185
186 | EKSPEDISI CENGKEH Sebagian besar dari hasil perolehan mencari cengkeh digunakan untuk membeli pakaian lebaran. Sisanya mereka gunakan untuk sesukanya. Syahrir membeli satu telepon genggam. Sarnala, selain membeli pakaian juga menggunakan hasil penjualan cengkehnya untuk membeli buku. Setelah musim cengkeh berlalu, di salah satu kampung tertua di Ternate ini, menyelenggarakan ritual Tagi Jere. Ritual ini sebagai ucapan rasa syukur terhadap hasil panen sekaligus permintaan panen bagus pada tahun berikutnya. Upacara ini dilakukan dengan berziarah ke makam leluhur, termasuk makam Jafar Sadek di lereng atas Gunung Gamalama. Warga yang tak ikut menyiapkan makanan dan berbagai keperluan upacara. Anak-anak juga terlibat membantu semampunya. Pada hari berikutnya, Sowohi --yang rumahnya ada di atas bukit-- memberikan tanda suara dengan memukul bambu. Itu adalah tanda seluruh warga kampung tak boleh keluar dari kampung. Suara bunyi-bunyian tak diperkenankan. Ritual ini seperti tradisi Nyepi di Bali. Saat upacara tersebut, anak-anak turut terlibat. Dari berbagai musim panen yang datang ke kampung, mereka berharap musim cengkeh tahun mendatang melimpah. Kemeriahan di kala musim cengkeh tak tergantikan oleh musim apapun. Di musim inilah anak-anak Kampung Foramadiahi lebih banyak ditemui di kebun daripada di lapangan atau tempat bermain lainnya. v OPAN RINALDI
Harapan di Bukit Ngongano Di Bukit Ngongano, keluarga Abdulrahman Ngongano sedang berkumpul. Semilir angin berhembus. Bardan Ngongano (9 bulan) sedang terlelap. Si kecil ini tampak nyaman berada di bau-bau (ayunan) berwarna merah yang digantung di salah satu dahan cengkeh. Nurdia Ngongano, kakaknya, secara perlahan-lahan terus mengoyang bau-bau itu. Nurida Ngongano dan si kecil Bardan Ngongano di perkebunan cengkeh keluarga mereka di Jailolo, Halmahera Barat. Harapan di Bukit Ngongano | 187
Bukit Ngongano ini terletak di desa Waringin, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Morotai Kepulauan. Panen cengkeh di Bukit Ngongano baru saja berlalu. Abdulrahman belum juga turun dari bukit. Terpal dan karpet yang digunakan selama masa panen dijemur di atas hamparan rumput. Bapak enam anak ini sedang menyelesaikan pekerjaan. Rumah singgah dari kayu hampir selesai dibangun. Ia sedang membikin papan pintu rumah. Rumah ini akan digunakan saat panen cengkeh tahun mendatang supaya para pemetik cengkeh bisa nyaman berada di kebun. Ia berusaha agar para pemetik yang didatangkanya dari kampung halamanya di Kampung Galo-Galo Besar tetap betah di gunung. Selama masa panen ia bahkan menyediakan parabola dan televisi di kebun. Listrik dialirkan melalui generator yang dibawanya dari penginapan kecil yang dikelolanya. Selama masa-masa panen cengkeh, penginapan yang dikelolanya libur. Ina Ngongano dan Nurdila Ngongano harus berjalan sekitar 30 menit untuk menuju tempat kedua orangtua dan dua saudaranya berada. Ina Ngongano baru saja tiba dari Ternate pagi tadi, Nurdila mengantarkan kakaknya. Mereka belum sempat mengatur nafas ketika ibu dan adiknya menyambut dengan pelukan. Bukit Ngongano, diberi nama sesuai pengelolanya. Kebun cengkeh di sana dirintis oleh ayah Abdulrahman pada 1980. Di tahun itulah keluarga Ngongano memulai usaha cengkeh. Sebelumnya, sebagai prasyarat membuka hutan bukit ini ditanami padi ladang. Setelah panen pertama padi ladang, bukit ini mulai ditanami cengkeh. Pada tahun-tahun berikutnya pun padi ladang tetap ditanam di sela-sela pohon cengkeh kala musim hujan. “Sejumlah 300 bibit cengkeh ditanam ketika itu, sekarang hanya tinggal 66 pohon cengkeh dewasa yang bertahan. Sebagian besar pohon mati terkena panas matahari dan jarak tanam terlalu rapat,” 188 | EKSPEDISI CENGKEH Beberapa pohon cengkeh dewasa dan pondok kebun Abdurrahman Ngongano di Jailolo, Hamahera Barat. Bukit yang dipenuhi tanaman cengkeh itu dinamai ‘Bukit Ngongano’ OPAN RINALDI
Harapan di Bukit Ngongano | 189 kata Abdulrahman. Setelah orang tua Abdulrahman tiada. Lahan ini menjadi hak anakanak Ngongano. Pohon cengkeh yang ditanam pada 1980 menjadi lahan bersama anak-anak Ngongano. Semua anak Ngongano yang berjumlah sepuluh orang, baik laki-laki dan perempuan, mempunyai hak yang sama. Setiap musim panen, hasil penjualan cengkeh tidak dibagi rata. Tetapi digilir dari yang sulung sampai yang bungsu. Setiap anak Ngongano berhak mengunakan hasil panen. Kepada tiga anak Ngongano yang memutuskan penjadi petani, ada bagian tambahan. Masing-masing diberikan jatah lahan. Tiga orang anak Ngongano ini memulai bertani dari nol. Masing-masing menyediakan bibit cengkeh, menanam dan merawatnya. Hasilnya mereka nikmati sendiri. Hanya saja ketiga anak ini mendapatkan kewajiban untuk merawat 66 pohon dan memanen supaya hasilnya bisa dinikmati keluarga yang lain. “Tiga orang anak Ngongano menjalankan ibadah haji. Satu orang telah menjadi haji. Dua orang lagi telah mendaftar dan kelengkapan surat telah tersedia. Hanya tunggu panggilan, mereka akan berangkat ke Tanah Suci,” kata Abdulrahman. Abdulrahman adalah anak keenam dari keluarga Ngongano. Ia masih menunggu giliran untuk dapat menggunakan hasil kebun keluarga Ngongano. Jika ia mendapatkan giliran, hasil panen belum akan digunakan untuk naik haji. Anak-anaknya masih butuh biaya sekolah. Ia ingin dari keenam anaknya bisa sekolah sampai lulus kuliah. Ia tak ingin anaknya harus berakhir di kebun seperti dirinya. Ketika ia ikut ayahnya untuk membuka hutan pada 1980, ia harus
190 | EKSPEDISI CENGKEH meninggalkan bangku Sekolah Dasar. Perjalanan Abdulrahman mewujudkan ikhtiarnya masih panjang. Dari keenam anaknya, baru satu yang menuntaskan perguruan tinggi. Ina Ngongano baru saja lulus dari jurusan Sosiologi Universitas Muhamadyah Ternate. Sekarang ia aktif mendampingi masyarakat di pulau-pulau kecil di sekitar Morotai, dan juga mengamati dampak perubahan iklim. Kepulangannya di Waringin juga untuk membuat presentasi atas penelitian yang telah dilakukan tentang perubahan iklim pulau-pulau kecil. Pengalaman menanam cengkeh membuat Abdulrahman dapat memperkirakan siklus tanam cengkeh. Ia mengaitkan penanaman cengkeh dengan masa pertumbuhan anak. Dari hasil panen cengkeh ia membiayai sekolah anak-anaknya. Di hari-hari setelah panen itu, ia juga menyiapkan pembibitan cengkeh yang ditanam untuk biaya sekolah Bardan, bayi kecil yang tadi terlelap di bau-bau. Usia Bardan masih 9 bulan. Tetapi kelak, saat ia memasuki usia 7 tahun, cengkeh yang kini bakal ditanam telah bisa dituai hasilnya. Cengkeh itulah yang digunakan untuk membiayai sekolah Bardan nantinya. Tahun depan, Nurdila Ngongano akan masuk kuliah. Nurdila ingat pada 2003 silam, saat ia masih kelas 3 SD, ia diajak ayahnya ke kebun. Ia memasukkan bibit cengkeh ke tanah, kemudian ayahnya menimbunnya dengan tanah. Kini sejumlah 74 pohon cengkeh berhasil bertahan. Pada musim ini cengkeh, yang baru ‘belajar berbuah’ itu telah mampu menghasilkan 200 kilogram cengkeh. Akhir tahun ini hasil panen 74 pohon cengkeh itu bakal menutup biaya masuk kuliah Nurdila. Ia mulai menyiapkan diri mengikuti Ujian Nasional. Nurdila ingin meneruskan jenjang pendidikan sama seperti jurusan yang diambilnya di SMK, yakni budidaya ikan. Nurdila memang tertarik dengan perikanan. Ia semakin banyak membaca buku budidaya perikanan dan kelautan yang dikirim kakaknya dari Ternate. Abdulrahman Ngongano masih akan bertahan di hutan selama seminggu lagi. Setelah rumah singgah yang dibikinnya jadi, halamannya telah diberi obat supaya rumput liar tak tumbuh, dan bibit cengkeh yang dibuatnya dari cengkeh tahun ini telah mengeluarkan akar, lalu ia akan kembali mengelola penginapannya di Pulau Galo-Galo Kecil. v
Keinginan Sederhana Di dalam satu mobil pick up, seorang perempuan paruh baya sedang menuju Desa Waringin, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Kepulauan Morotai. Ia baru datang dari Patani di jazirah tenggara daratan besar Halmahera, dan sempat singgah di satu mal di Kota Ternate. Ia membawa barang-barang belanjaan: sebuah Hayatuddin Syamsuddin, Kepala Desa Waringin, Morotai, beristirahat di bawah pohon cengkeh saat kerja bakti melakukan penanaman baru. OPAN RINALDI Keinginan Sederhana | 191
boneka berbentuk ikan lumba-lumba berwarna merah muda, toples kaca, halua, dan tas baru berkelir cokelat yang langsung disandangnya. Suaminya datang menjemputnya di dermaga Pelabuhan Daruba. Sang suami bercerita tentang istrinya yang menelepon ingin membawakan boneka untuk anaknya. Harganya Rp 1 juta rupiah. Sang istri tampaknya khawatir harga itu terlalu mahal, sehingga harus berkonsultasi dahulu. “Sudah, beli saja,” kata sang suami mengulang percakapan dalam telepon. Dengan dialek lokal, perempuan itu begitu sumringah, tak sabar melihat ekspresi anaknya bila dibawakan boneka lumba-lumba. Kehidupan di Desa Waringin, ibarat dua sisi mata uang yang berbeda. Berada di tempat sama, namun berbeda nasib. Keluarga tadi adalah gambaran penduduk desa yang memiliki pohon cengkeh yang sedang berjaya. Sedangkan gambaran kehidupan warga desa yang bergantung pada komoditas kopra sekarang ini sedang terpuruk. Wilayah bukitbukit desa itu ditumbuhi tanaman cengkeh, sementara di bagian yang berdekatan dengan pantai terdapat beribu-ribu tanaman kelapa. Samapai dasawarsa 1970 sampai 1980-an, kopra di tanah-tanah mereka pernah berjaya. Kejayaan itu akhirnya karam, setelah minyak kelapa dikampanyekan tidak sehat. Sejak saat itu harga kopra jatuh, dan tak pernah bisa bangkit lagi. Orang berbondong-bondong menggeser konsumsi minyak kelapa ke minyak sawit. Dan, hutanhutan di Indonesia berganti ditanami sawit. “Harga per kilonya kini dua ribu rupiah. Untuk mengelola kelapa menjadi kopra dibutuhkan proses panjang dan banyak tenaga kerja,” 192 | EKSPEDISI CENGKEH OPAN RINALDI
kata Hayatudin Syamsudin, Kepala Desa Waringin. Pekerjaan mengelola kopra butuh proses yang rumit. Sejak memetik buah kelapa dari pohon, mengupas batoknya, mencungkil dagignya, mengasapinya di atas para-para, dan membawa hasilnya dalam bentuk kopra ke perkampungan, sampai mengangkutnya ke para pedagang untuk dijual. Komoditas ini tak lagi masuk hitungan ekonomis. Warga Desa Waringin enggan memetik kelapa meski telah siap panen. Lambaian nyiur yang memanggil-mangil tak digubris. Buah-buah kelapa dibiarkan jatuh, lantas menjadi tunas-tunas baru. Para-para dari bambu mengeropos, menanti terjangan angin, lantas roboh. Keadaan itulah yang membuat Hayatudin hari itu, 7 September 2013, melakukan survei di lahan desa yang masih mungkin ditanami cengkeh. Ia tak sendiri. Turut berangkat bersamanya Ismail Syamsudin, Samsul Gani, dan Syukur Shidiqudin. Mereka telah berangkat sejak pagi tadi. Panci besar, parang, air, dan segenap perbekalan dibawanya. Harga cengkeh yang mencapai Rp 140.000 per kilonya tahun ini yang telah menggerakkan mereka. Hayatudin ingin seluruh warga di desanya turut merasakan manisnya harga cengkeh tersebut. Sebagai pemimpin desa, ia mempunyai visi sederhana, memastikan pada tahun Keinginan Sederhana | 193 Masa emas kopra (PALING KANAN), yang pernah menjadi andalan utama warga Morotai pada tahun 1960-1970-an, kini berlalu. Banyak kebun kelapa kini dibiarkan tak terawat (KEDUA DARI KIRI), dan warga mulai beralih perlahan ke cengkeh. Beberapa pulau kecil yang menyebar sampai ke pantai Tobelo di daratan besar Halmahera kini malah beralih ke sektor industri dan jasa wisata bahari (KEDUA DARI KANAN dan KANAN). BETA PETTAWARANIE
2020 setiap rumah di desanya mempunyai pohon cengkeh. Apa yang dipikirkan Hayatudin memang masuk akal. Sejak tahun 2000, harga rempah-rempah legendaris itu tak pernah turun, bahkan setiap tahunnya cenderung naik. Seperti juga industri minyak kelapa, pengelolaan cengkeh juga menyerap tenaga kerja. Terutama saat musim panen yang bisa berlangsung selama tiga bulan per tahunnya. Memanen cengkeh harus segera dilakukan dan tidak ada seorang petani pun yang sanggup memanen sendiri kebun cengkehnya. Bunga cengkeh yang baik perlu dipanen saat berada dalam kondisi puncak kuncup, karena bunga cengkeh yang sudah mekar, meskipun tetap laku dijual, namun kandungan minyaknya telah berkurang. Setiap musim cengkeh tiba, di kebun-kebun bakal banyak orang. Setiap petani bisa mempekerjakan lebih dari sepuluh orang. Sebagai gambaran, untuk memanen satu pohon cengkeh berbunga lebat, empat orang pekerja pemanen atau pemertik membutuhkan waktu tiga sampai empat hari. Petani tak perlu khawatir tidak bisa membayar pekerja pemetik cengkeh. Para pengepul akan datang ke desa mereka. Mencari rumah-rumah pemilik kebun cengkeh. “Tunjuk saja foto ke mereka,” kata Samsul Gani, salah seorang yang ikut survei bersama kepala desanya, sambil menunjukkan foto kebun cengkeh dari telepon genggamnya yang buatan China. Dengan melihat foto tersebut, para pedagang telah sanggup menilai kisaran hasil panen di kebun. Para pedagang ini rela membayarkan uang muka kepada petani untuk melaksanakan proses panen. Dari uang itu, para petani membiayai proses panen, membayar para pemetik dan pematah cengkeh, serta menyediakan makanan untuk para pekerja. Begitulah, musim panen adalah musim yang dinanti-nantikan oleh semua lapisan kalangan. Setiap musim panen cengkeh tiba, Hayatudin tak bisa memperkirakan berapa rupiah yang bergulir masuk ke desa mereka. Anak-anak di Desa Waringin yang mencari dan memungut jatuhan sisa biji-biji cengkeh saja bisa mendapatkan 194 | EKSPEDISI CENGKEH
Rp 200 - 300.000 per harinya. “Di sini, keping uang logam 500 - 1.000 rupiah tidak digunakan,” kata dia. Bahkan, Kantor Pos di kota kecamatan pun tak mau menerimanya. Hayatudin bercerita dia pernah memberikan sekantong uang logam miliknya pada kerabatnya di Pulau Jawa. Di sana, uang-uang itu masih berharga. “Untuk apa disimpan jika cuma bikin berat saja,” katanya. Hayadutin begitu yakin bila cengkeh suatu saat nanti bakal dapat diandalkan warga desanya. Tanah di desanya cukup memungkinkan ditanami cengkeh. Dahulu, cuaca panas kerapkali membuat bibit cengkeh banyak yang mati sebelum dewasa. Kini, dari pengalaman beberapa warga yang sudah menanamnya lebih dahulu sejak beberapa tahun sebelumnya, mereka sudah tahu dan bisa mengatasinya. Saat masa pembibitan sampai berusia satu tahun, pohon cengkeh perlu perlakuan khusus. “Sebelum ditanam akar serabut dibersihkan, tinggalkan akar tunggalnya saja. Lalu ditaman di polybag, tapi yang lebih bagus di bedengan tanah yang terlindung dari sinar matahari,” terang Hayatudin. Setelah cukup dewasa, pohon cengkeh dipindahkan ke lahan sesungguhnya. “Sudah tak perlu pupuk, karena tanahnya cocok. Sepuluh tanam, sepuluh jadi.” Selanjutnya tinggal perawatan saja. Selain rumput liar sering dibersihkan, akar juga perlu dirawat. Hayatudin menyarankan pada warganya akar cengkeh besar selalu berada di bawah tanah. Jikapun keluar, dipastikan akar tetap terjaga. Setiap akar itu menjadi tumpuan pasokan makanan satu dahan. Jika satu akar patah atau mati, maka satu dahan di atas akan ikut mati. Hayatudin membanggakan desanya. Menurutnya, hasil cengkeh di desanya yang paling baik di seluruh Morotai. Selain komposisi tanah, letak desa yang berbukit-bukit memungkinan terkena angin laut. Setiap tahun pohon cengkeh di desanya memberikan limpahan rezeki. Setelah jatuhnya harga kopra, warga Desa Waringin kini bersandar pada pohon cengkeh. v Keinginan Sederhana | 195
Pulau Makian tercatat dalam sejarah perburuan rempah. Dengan luas daratan seluas 113,12 kilometer persegi, pulau ini menghasilkan cengkeh dengan kualitas terbaik bersama Ternate, Tidore, dan Moti. Pulau-pulau lain memang terdapat pohon cengkeh juga, tetapi dari empat pulau ini cengkeh pertama kali dihasilkan dahn kemudian dikenal dunia. Empat pulau ini tercatat sebagai penghasil terbesar cengkeh di seluruh jazirah al-Muluk (Negeri Para Raja), istilah yang diberikan oleh para saudagar Arab, dan konon menjadi kata awal penyebutan ‘Maluku’ sekarang. Komunitas Orang Makian Satu keluarga dari komunitas Orang Makian yang kini menetap di Pulau Kasiruta, Bacan. 196 | EKSPEDISI CENGKEH
Kisah kejayaan Pulau Makian berlangsung sebelum VOC Belanda memberlakukan pemusatan bubidaya cengkeh di Ambon dan Leasse pada abad ke-16 dan 17. Kebijakan itu menghindari penyelundupan yang dilakukan oleh para pedagang dari Makassar. Sejak saat itu, komoditas unggulan Makian pun berganti. Seluruh tanaman Cengkeh Raja yang sempat berjaya ditebang habis. Sebagai penggantinya, VOC menjadikan Makian dan pulau-pulau sekitarnya sebagai tempat budidaya tanaman kenari. Kisah Pulau Makian dengan Cengkeh Rajanya berakhir. Bahkan banyak anak keturunan mereka kini tak lagi mengetahui jenis cengkeh yang pernah berjaya itu. Pulau ini sejatinya merupakan gunung berapi yang muncul ke permukaan. Pada tahun 1975, diperkirakan akan terjadi letusan dahsyat Gunung Kie Besi. Saat itu keputusan Direktorat Geologi dan pemerintah daerah Kabupaten Maluku Utara menyatakan Pulau Makian sebagai tidak layak huni. Penduduknya diungsikan ke pulaupulau sekitar. Letusan besar tak terjadi tahun itu. Penduduk kembali ke kampung halaman. Namun, pada 29 Juli 1988, letusan besar Gunung Kie Besi benarbenar terjadi. Rumah penduduk porak-poranda. Penduduk Makian menjadi pengungsi di berbagai pulau. Sebagian dari penduduk Makian sekarang didapati menyebar di banyak pulau lain di Maluku Utara. Di tempat-tempat pengungsian, orang Makian membentuk komunitas, membangun rumah-rumah dan kampung-kampung baru. Kamaludin dan Amrin Haji Baharudin adalah dua orang Makian yang merintis pembentukan Dusun Marikoko di Pulau Kasiruta. Wilayah ini hampir seluruhnya dihuni oleh orang Makian. Jiwa bertani orang Makian tak pernah punah. “Sejarah telah mencatat bahwa yang menyuburkan tanah di Indonesia adalah orang Jawa dan orang Makian,” kata Kamaludin, Kepala Dusun Marikoko, Desa Kakupang, Kecamatan Palamea, Halmahera Selatan. Pembelian tanah Dusun Marikoko mereka lakukan secara perseorangan, tapi berkelompok. Musyawarah di antara warga Makian dilakukan, kemudian patungan di antara mereka supaya transaksi jual beli dapat berlangsung. Pembagian tanah pun dilakukan dengan menyisikan lahan kosong. Lahan ini hanya boleh digunakan oleh orang Makian. Bila ada anggota komunitas tak mempunyai lahan, lahan itu boleh digunakan. Barulah setelah berhasil dalam usaha, maka pengguna lahan tersebut memberikan setoran pada kas komunitas. OPAN RINALDI Komunitas Orang Makian | 197
Dengan cara berkebun, orang-orang Makian berhasil merebut kejayaan lagi. Cengkeh yang dulu musnah di tanah mereka, kembali ditanam orang-orang Makian secara menyebar di wilayah pengungsian. Dari Desa Malapat, Kecamatan Pulau Makian saja, ada empat wilayah baru yang dibentuk. “Di Pulau Makian sudah tak terdapat tanah untuk ditanami lagi, untuk membuka kebun baru harus mencari tempat baru,” kata Kamaludin. Tak semua pemilik kebun berada di lokasi pertanian. Tak jarang mereka tetap bermukim di Pulau Makian. Haji Muchtar merupakan salah seorang yang mempunyai lahan pertanian di Dusun Marikoko. Ia hanya melakukan kunjungan bila panen cengkeh tiba. Saat tanaman pala di kebun miliknya di Makian panen, ia tak datang. Pada keluarga yang menempati pulau itu ia titipkan proses panen. Di antara komunitas orang Makian juga dibentuk kelompok dengan anggota masing-masing sepuluh orang. Kelompok ini melakukan semacam arisan dari tanaman cengkeh. Setiap musim panen cengkeh tiba, tiap orang dalam kelompok itu menyisikan sekitar 30 - 40 kilogram cengkeh kering. Cengkeh yang terkumpul dalam setiap kelompok itu digunakan oleh anggota yang membutuhkan biaya. “Siapa yang punya hajat, dia boleh menggunakan,” ujar Amri. Anggota kelompok biasanya mengambil jatah cengkeh untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Jika sekolah anak-anak telah rampung, pilihan berikutnya pergi berhaji. Ikatan antar komunitas Makian di luar pulau juga terasa kental. Bilamana ada anggota komuitas yang meninggal, meskipun letaknya jauh, maka kabar disiarkan. Komunitas-komunitas Makian yang tersebar di berbagai pulau, maupun yang terdapat di Makian, akan segera membentuk panitia di tingkat desa. Mereka mengumpulkan bantuan dari rumah ke rumah. Laporan dibuat, uang duka dari berbagai kampung pun dikirim. “Kalau ada keluarga yang terkena musibah, sebisa mungkin membantu. Meskipun tak banyak, bagaimanapun juga meringankan,” kata Amri. Ada banyak orang Makian yang berhasil dalam bertani di pulau-pulau lain. Namun ikatan dengan kampung halaman tak bisa benar-benar putus. Sebagian dari mereka memilih kembali. Rumah-rumah baru dibangun. Pada tahun 2002, keputusan Pulau Makian sebagai daerah rawan bencana dicabut. Wilayah Kecamatan Pulau Makian dibentuk. Orang Makian memandang penting pendidikan. Bahkan ada kebiasaan 198 | EKSPEDISI CENGKEH
di antara warga Makian untuk menyekolahkan anak-anak keturunan mereka di kampung halaman. Seorang anak yang telah masuk usia sekolah akan dikirim ke pulau asal. Anak-anak ini akan tinggal bersama kerabat dan keluarga yang ada di sana. Lantaran sekolah hanya sampai tingkat SMA, anak-anak ini akan dikirim ke universitasuniversitas di berbagai kota yang menjadi pusat-pusat pendidikan. Kamaludin serta Amri bercerita tentang orang-orang Makian yang berhasil dalam pendidikan. Ada yang baru lulus program magister mengambil jurusan matematika dan kimia. Bahkan ada orang dari kampungnya yang berhasil menempuh program doktoral. Dua anak Amri kini sedang duduk di bangku kuliah di Ternate. Selain mengirim cengkeh setiap tahun, kini Pulau Makian juga mengirim anak-anak keluar pulau untuk bersekolah. Sayangnya, anak-anak ini jarang pulang dengan keinginan meneruskan usaha pertanian. Sumitro, anak dari Kamaludin, yang duduk di bangku kelas 3 SMA di Malapat mengatakan, orang tuanya tak ingin ia berada di kebun. Kamaludin ingin anaknya itu menjadi seorang polisi. Setelah lulus dari SMA tahun ini, ia akan segera mendaftar tes masuk kepolisian. v Komunitas Orang Makian | 199 Anak-anak keluarga komunitas Orang Makian di Pulau Kasiruta , Bacan. OPAN RINALDI
Hadiah untuk Rumah Ibadah Sepanjang pinggir jalan di Desa Bone Puso, Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, terhampar terpal sambung menyambung dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Pinggiran jalanan menjelma hamparan cengkeh pada Kamis siang, 12 September 2013. Warna kontras terlihat di beberapa halaman rumah. Kuning, oranye, dan cokelat. Malam harinya, semua rumah riang melakukan kegiatan bacude --melepaskan buah cengkeh dari tangkainya. Dari alunan lagu dangdut hingga suara 200 | EKSPEDISI CENGKEH Masni Yatakase dan suaminya, Pendeta Subroto Sosinggil, di depan gereja yang dibangun swadaya dari hasil cengkeh para warga Nasrani di Bone Puso.
tawa yang keras terdengar dari rumah yang satu hingga rumah lainnya. Dalam satu rumah, ada sekitar sepuluh hingga tiga puluh orang pekerja pendatang terlibat kegiatan bacude. Cerita-cerita lucu menjadi bumbu bacude agar mata tak lekas mengantuk. Bercerita lucu ini sama dengan kebiasaan ‘mob’ di Papua. Di Banggai, mereka mengistilahkannya dengan ‘bagarap’. Bulan September ini panen raya cengkeh sedang berlangsung di Desa Bone Puso. Dari daratan besar Sulawesi, atau dari pulaupulau lain sekitarnya, desa ini dicapai lewat jalur laut, kemudian dilanjutkan dengan jalur darat. Dari Pelabuhan Gudang Rotan Kota Luwuk, ada kapal motor Gloriana yang menuju Desa Lumbi-lumbia. Ongkos tiketnya hanya Rp 40.000 dengan jarak tempuh sekitar enam jam. Dari Desa Lumbi-lumbia, ada ojek yang menuju Desa Bone Puso dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Ongkosnya Rp 50.000. Orang bilang, dari sebelas desa di Kecamatan Bulagi Selatan, hanya Bone Puso yang layak dinamakan ‘Kampung Cengkeh’. Tanah di desa ini sangat subur karena ditumbuhi banyak bulu tui --bambu kecil dengan daun yang meruncing. Ada sekitar 400 rumah di desa ini. Semuanya punya pohon cengkeh, mulai dari lima puluhan hingga ribuan pohon. Selain cengkeh, kebun orang-orang di desa ini juga ditanami pohon langsat dan durian. Dulunya desa ini malah dikenal sebagai desa pemasok durian untuk Kabupaten Luwuk hingga Palu, namun kemudian hampir 50 persen petaninya menebang pohon duriannya, lantas menggantinya dengan pohon cengkeh. “Di Desa Bone Puso ini, semua orang ada pohon cingke. Ada yang punya lima puluh pohon, ada yang punya hingga ribuan pohon. Kalau saya sendiri punya ada enam ratus pohon,” ujar Haji Man Lalamo (48) --Bintara Pembina Desa (BABINSA) yang sudah sebelas tahun bertugas di Bone Puso. Setiap tahun saat panen cengkeh berlangsung, seringkali terdengar orang desa berkata: “Selamat tinggal kemiskinan!” Banyak orang beli kendaraan, renovasi rumah, dan naik haji. “Setiap musim panen bisa 1.000 orang datang ke desa ini untuk makan gaji. Terus, setiap panen cingke di sini, ada dorang pe istilah: selamat tinggal kemiskinan.” ujar Rosmin Djakaya (45) --seorang guru di SMP Negeri 1 Bone Puso sekaligus ‘Ibu BABINSA’. Haji Abdul Hafid (67), adalah salah-satu orang pertama yang M. RACHMAT ARIS Hadiah untuk Rumah Ibadah | 201
membuka kebun cengkeh di Desa Bone Puso. Menurut dia, tahun 1970-an, cengkeh sudah populer di desa ini. Namun di tahun itu, mereka mengenal istilah ‘Cengkeh Tataba’. Ini cengkeh jenis Si Kotok. Cerita ‘Cengkeh Tataba’ populer karena waktu itu ada seorang camat bernama Londomi. Dia asli Manado yang ditugaskan di Kecamatan Tataba. Camat Londomi inilah orang yang paling pertama menanam cengkeh di Desa Tataba, Kecamatan Buko Selatan, tetangga Desa Bone Puso. Ia punya banyak pohon cengkeh dan menjual bibit pada desadesa sekitar, termasuk Bone Puso. “Camat Londomi yang menanam cengkeh lebih dulu di Tataba. Orang Bone Puso membeli bibit pada mendiang camat Londomi. Itulah muncul istilah Cengkeh Tataba,” terang Haji Hafid. Pada sesi penanaman cengkeh yang kedua kali setelah hutan desa di Bone Puso terbakar pada tahun 1973, orang-orang Bone Puso ramairamai ke Manado. Mereka membeli bibit di sana. Dan menurut Haji Hafid, cengkeh sekarang yang terhampar di hutan desa itu adalah bibit dari Manado. Haji Hafid sendiri dulu membeli seribu bibit. Dia mengaku semangatnya menanam cengkeh bermula saat dia berkunjung ke Manado. Di sana dia lihat orang Minahasa kaya-raya karena cengkeh. Sepeda motor terlihat parkir di kebun-kebun cengkeh mereka pada tahun 1975, tahun di mana belum banyak orang mampu membeli sepeda motor di Bone Puso atau bahkan di seluruh Kepulauan Banggai. Setelah musim tanam cengkeh ramai di Bone Puso, lantas cengkeh berbuah, pemetikan tidak dilakukan dengan bersih. Ada cengkeh yang 202 | EKSPEDISI CENGKEH Sore hari, para pekerja pemetik cengkeh di Bone Puso memikul hasil panennya dari kebun usai panen.
disisakan di pohon sehingga nanti jatuh dan menjadi tunas. Oleh pemilik kebun cengkeh itu, dia menjual bibit di kebunnya kepada yang pada berminat. Sekarang, desa ini dikenal sebagai desa pemasok bibit cengkeh di Banggai Kepulauan. Pembeli bibit berdatangan dari Luwuk, Moilong, Banggai Laut, bahkan dari Manado juga. Di desa ini juga nyaris tak pernah ada petani yang mengeluhkan soal hama cengkeh. “Kalau cengkeh di Bone Puso jarang diserang hama. Di sini tidak ada semprot buah dan daun. Saya punya cengkeh tidak pernah disemprotsemprot, tapi tiap tahun berbuah. Mungkin ada yang semprot daun dan buah, tapi masih satu-satu saja. Beda kalau misalnya di Donggala atau Luwuk, dorang sudah pakai semprot buah dan daun,” terang Haji Hafid. Ia sendiri menggunakan pupuk tahi kuda untuk pohon cengkehnya. Saat ini ia sedang menanam bibit cengkeh baru sebanyak 400 batang. Dia mengaku perawatan cengkeh mengalahkan perawatan anak bayi. Ia juga menjelaskan bagaimana dirinya merawat pohonpohon cengkehnya. Jika cengkehnya masih setinggi botol, penyiraman dilakukan setiap dua hari. Namun jika cengkehnya sudah setinggi anak remaja, penyiraman tak serutin itu lagi. Haji Hafid mengenang, dulu waktu masa BPPC, ketika banyak petani menebang pohon cengkehnya. Di Bone Puso, para petani justru berusaha bertahan tidak menebangi pohon-pohon cengkeh mereka. Meskipun harga waktu itu ambruk sampai hanya Rp 3.000 - 6.000 per kilogram, mereka tetap bertahan dan menjualnya di KUD sesuai aturan ketat BPPC. Hadiah untuk Rumah Ibadah | 203 Maka, ketika BPPC lewat, lalu harga “... pas naik 90.000, petani cengkeh di Bone Puso mulai bernapas lega. Lalu naik lagi 125.000, naik 150.000... beh, petani cengkeh di sini tatawa,” ujar Haji Hafid. Abdul Hafid sendiri, untuk panen tahun ini, dalam sehari dia bisa menjemur cengkeh sepanjang 15 meter. Dalam sekali pemetikan, cengkehnya bisa mencapai 500 liter. Di rumahnya, ia mempekerjakan karyawan sebanyak 15 orang yang berdatangan dari desa-desa tetangga seperti Lumbia, Balalon, dan Tatarandang. Dalam sehari dia mengeluarkan biaya sekitar M. RACHMAT ARIS
Rp 500.000 untuk ongkos tiga kali makan para pekerjanya. Dan, ada sekitar 200 pohon cengkehnya yang akan dipetik. Menurutnya, pemetikan bisa sampai sebulan. “Orang naik haji di Desa Bone Puso ini dari hasil cengkeh, satu rumah bisa panen sampai satu ton. Bagimana dorang te bisa naik haji, kalau satu kali tarima bisa sampai ratusan juta? Saya kasih sekolah anak juga dari cengkeh. Ini rumah saya, saya bayar kontan karena uang cengkeh,” terang Haji Hafid. Dia sendiri naik haji pada tahun 2007 karena hasil cengkeh. Sementara itu, para petani Bone Puso menjual cengkehnya bukan ke Kabupaten Banggai Kepulauan sebagai induk dari desanya. Jalur perdagangan cengkeh di desa ini dikirim ke Kabupaten Luwuk. Seorang saudagar Tionghoa yang dipanggil Ko’ Roby yang dituju di sana. Sekitar 70 persen petani cengkeh Bone Puso menjual hasil panen mereka kepada Ko’ Roby. Panen tahun ini bahkan Ko’ Roby mengontrak kebun cengkeh di Bone Puso senilai Rp 3 miliar. “Kalau Ko’ Roby, dia pegang semua petani cengkeh di sini, dari Bone Puso, Tataba, hingga Leme-Leme,” tambah Hafid. *** Masni Yatakase (36) sedang mencuci tomat pada hari Minggu, 15 September 2013. Dia baru saja pulang dari gereja. Suaminya, Pendeta Suborto Sosinggil (37) sedang memimpin ibadah persatuan rumah tangga. Masni bercerita, Gereja Anugerah Bentara Kristus (GABK) Bone Puso berdiri tegak berkat cengkeh. Umat Kristen Protestan di Bone Puso, punya kegiatan yang diberi nama Persekutuan Ibadah Panen Cengkeh. Dalam ibadah ini, setiap jemaat membawa cengkeh ke gereja. Jumlahnya berdasarkan ketulusan hati para jemaat. Ibadah ini sebagai bentuk syukur umat Kristen Protestan Bone Puso akan hasil panen cengkeh yang melimpah tiap tahunnya. “Ada yang bawa satu liter, dua liter hingga satu kilo cengkeh kering. Nanti, cengkeh-cengkeh itu dibacakan doa syafaat oleh pendeta, lalu dihitung di depan para jemaat, kemudian dicarikan pembeli. Uang hasil penjualan cengkeh itu akan masuk ke kas panitia pembangunan gereja,” ujar Masni. Masni adalah pendeta muda di Gereja GABK Bone Puso. Ada lima belas kepala keluarga di GABK. Di Bone 204 | EKSPEDISI CENGKEH
Puso, ada dua gereja, GABK dan Gereja Protestan Indonesia Luwuk Banggai (GPILB). Kalau GPILB, jemaatnya sekitar 100 kepala keluarga. Gereja GPILB juga direnovasi berkat swadaya cengkeh dari para jemaat. Panen di minggu awal bulan September tahun ini, Persekutuan Ibadah Panen Cengkeh GABK telah mengumpulkan sekitar 300 liter. Panen tahun lalu, hanya sekitar 150 liter. “Itu di luar amplop nazar jemaat dari hasil penjualan cengkeh mereka,” tambah Masni. Penggerak Persekutuan Ibadah Panen Cengkeh ini adalah Pendeta Suborto Sosinggil, suami Masni. “Saya usulkan warga untuk rapat jemaat, hasil rapat menetapkan setiap tahun saat panen cengkeh, jemaat memberikan sumbangan untuk pembangunan gereja kami,” ujar Suborto setelah selesai memimpin ibadah. Masni menjelaskan, selain hasil penjualan cengkeh yang didapat dari Persekutuan Ibadah Panen Cengkeh, jemaat juga punya ‘tanggungan awal’, ada yang Rp 1 juta, ada yang Rp 700.000, ada juga yang Rp 500.000. Karena tanggungan ini, setelah lima tahun, GABK pun berdiri. Bahkan menurut Masni, di GABK juga ada Kotak Diakonia yang dijalankan dua minggu sekali. Kotak amal ini, dananya diperuntukkan untuk orang sakit. “Jemaat GABK, setiap habis panen cengkeh, ada persatuan syukuran di rumah gembala, semua jemaat kumpul dan makan bersama lalu menyumbang lagi, sumbangan ini untuk menggaji Koster dan Evangelis,” terang Masni. Koster adalah orang yang membunyikan lonceng gereja, sedangkan Evangelis adalah pembantu gembala dalam pelayanan. Hampir sama cerita dengan gereja, masjid di Bone Puso juga berdiri berkat swadaya warga dari hasil panen cengkeh. Tiap tahun setiap selesai panen cengkeh, warga menyetor bantuan. Ada yang menyetor seng, ada yang menyetor kayu sekitar dua kubik, ada yang menyetor semen, batu, pasir, hingga batu ubin. “Tahun ini, Insya Allah, selesai panen cengkeh saya menyumbang tegel. Panen tahun kemarin saya sudah menyumbang seng dan kayu, juga dari uang cengkeh,” ujar Haji Man. Itulah keberkatan cengkeh di Bone Puso, seperti kata Haji Hafid, petani cengkeh di Bone Puso tatawa! v Hadiah untuk Rumah Ibadah | 205
SAWAI BETA PETTAWARANIE BETA PETTAWARANIE BETA PETTAWARANIE BERKAH HUTAN & LAUT 206 | EKSPEDISI CENGKEH Sawai mungkin merupakan salah satu desa yang mewakili lengkap gambaran tipikal Maluku sebagai kepulauan rempah-rempah. Terletak di pantai utaratengah Pulau Seram (lihat peta di halaman sebelah), bentang alam desa ini menyediakan semuanya: laut dan pantai yang teduh dan bening, terumbu karang, pulau-pulau kecil berpasir putih, kemudian jajaran perbukitan dan lereng-lereng gunung yang dipenuhi pepohonan cengkeh dan pala yang tumbuh di lingkungan hutan alam asri kawasan Taman Nasional Manusela.
SAWAI Teluk Sawai Laut Seram 128o T 2o S PULAU SERAM M. RIDWAN ALIMUDDIN KAWASAN TAMAN NASIONA MANUSELA ESAI FOTO: Sawai, Berkah Hutan dan Laut | 207
Bukan hanya alamnya, kehidupan sosial dan perekonomian warganya juga masih tetap diwarnai oleh hasil laut dan hutan, termasuk cengkeh. Seperti umumnya penduduk Kepulauan Maluku, hampir semua warga Sawai adalah nelayan sekaligus petani. Pada musim panen cengkeh setiap tahunnya (antara bulan Oktober sampai Desember), pekarangan rumah-rumah dan semua jalan-jalan dalam desa dipenuhi hamparan tikar untuk menjemur cengkeh. Di luar musim panen cengkeh, pekarangan rumah dan jalan-jalan desa tetap dipenuhi hamparan tikar untuk menjemur ikan-ikan hasil tangkapan mereka. Pendapatan warga Sawai dari hasil laut dan cengkeh menjadikan desa ini --meskipun terpencil-- boleh dikatakan sebagai salah satu desa yang tingkat kesejahteraan warganya berada di atas rata-rata desa-desa lainnya di Maluku. Dibanding desa-desa nelayan atau desa-desa pantai di banyak daerah lain di Indonesia yang biasanya tampak kumuh dan miskin, Sawai tampak sangat berbeda: rapi, bersih, dan berkecukupan. BETA PETTAWARANIE BETA PETTAWARANIE M. RIDWAN ALIMUDDIN M. RIDWAN ALIMUDDIN 208 | EKSPEDISI CENGKEH
M. RIDWAN ALIMUDDIN BETA PETTAWARANIE ESAI FOTO: Sawai, Berkah Hutan dan Laut | 209
Salah satu kriya dari buah-buah cengkeh yang dipajang dan dijual di toko cenderamata di Bandara Pattimura, Ambon. (M.RIDWAN ALIMUDDIN)
LIMA
Princess van Kasiruta 212 | EKSPEDISI CENGKEH Ati Hairun berteriak-teriak memanggil Afalah, suaminya, yang sedang berada di atas pohon cengkeh. Siang itu, 16 September 2013, Ati baru saja selesai memasak. Hidangan makan siap tersaji. Tak lama kemudian suaminya muncul. Ia turun dari salah satu pohon cengkeh, dan berjalan menuju rumah darurat yang berada di tengah-tengah kebun cengkeh. Di teras, ia melepas sepatu dan membiarkan kaos kaki hijau sepanjang lutut tetap di kaki. Afalah lantas membasuh tangannya dengan air. Setelahnya, pasangan itu menyantap makan siang bersama.
Selama panen cengkeh berlangsung, kebun-kebun di Pulau Kasiruta menjadi ramai. Rumah-rumah darurat didirikan pemilik kebun atau pun pekerja. Di rumah seperti ini Ati dan keluarganya bermukim selama panen berlangsung. Telah lebih dari satu bulan ia di sana. Rumahnya tak besar. Sebagian besar bahan rumah dari kayu, dengan dinding terpal dan atap daun nyiur. Berbagai perlengkapan rumah tangga diusung. Ada pakaian, perlengkapan masak, dapur darurat, alas tidur seadanya, dan beberapa kain untuk meredakan dingin hawa malam. Para pemetik cengkeh di kebun mereka telah kembali ke kampung halaman. Ati dan suaminya meneruskan proses panen cengkeh di kebun. Bunga cengkeh tak siap panen bersamaan. Biasanya, dalam satu kebun, proses panen cengkeh membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan. Di kebun Ati masih terdapat empat pohon lagi yang belum dipetik. Hujan baru rampung menguyur kebun. Selesai santap siang, Ati kembali bekerja. Bila hujan sering datang ketika proses panen berlangsung, cengkeh rentan rusak. Bintik-bintik jamur berwarna putih akan menyelimuti biji-biji cengkeh. Proses panen akan menyita banyak energi di musim hujan, karena membutuhkan perlakuan ekstra. “Empat hari cengkeh tara kering, cengkeh rusak,” kata Afalah. Ati menggelar terpal di tanah yang agak rata, lalu menumpahkan cengkeh di bagian ujung. Dengan dua tangannya ia meratakan cengkeh ke arah kanan lantas turun ke bawah, sampai terpal itu ditutupi bunga cengkeh yang mulai berwarna kecoklatan. Suaminya datang menyusul dengan melakukan hal yang sama tak jauh dari tempat Ati. Ati terlebih dahulu menyelesaikan tugasnya. Ia beralih ke kerja lain. Dengan membawa karung 25 kilogram yang di bagian ujung diberi kawat agar selalu terbuka serta sepotong besi sekitar 40 cm berbentuk seperti huruf ‘S’. Ati dengan lincah menaiki salah satu pohon cengkeh. Ia beralih dari satu dahan ke dahan lain, sampai mencapai bagian yang dahan-dahannya diikat tali. Ia menginjak tali berwarna biru Tak kalah dengan para lelaki, Ati Hairun, memanjat pohon cengkeh sampai setinggi 20-an meter saat panen raya di desanya di Marikoko, Kasiruta, Bacan. OPAN RINALDI Princess van Kasiruta | 213
yang diselempangkan melilit batang-batang cengkeh. Terkadang Ati memanfaatkan batang kayu sepanjang 2 meter yang melintang di antara batang. Teknik itu lebih memudahkannya memetik buah-buah cengkeh. Ia bisa duduk sambil memetik. Dahan-dahan yang jauh ditarik dengan batang besi. Lalu dahan besar diikat dengan tampar. Ati sedang tak menggunakan batang kayu. Ia berdiri di atas tali, yang tampaknya membuatnya lebih bebas bergerak. Di ketinggian itu, Ati memetik cengkeh dengan cekatan. Cengkeh dipetik di bagian terakhir daun. Dengan begitu segerombolan bunga cengkeh bakal turut terbawa. Dua daun terakhir ia tarik, dan jatuhkan ke bawah. Hingga tersisa hanya gagang dan bunga cengkeh di tangannya. Ati Hairun dan para pekerja laki-laki membersihkan cengkeh hasil panen mereka pada September 2013, di Marikoko, Kakupang, Pulau Kasiruta, Bacan. 214 | EKSPEDISI CENGKEH
Menurut Amri Kusuma, pemilik kebun cengkeh di Dusun Marikoko, Ati kerapkali memanjat dengan pekerja laki-laki. Ia tak pernah dianggap sebagaimana perempuan apa adanya, yang hanya bekerja di belakang dapur. Hasil yang didapat Ati tak jauh dari hasil yang diperoleh pemanjat laki-laki. Itupun lantaran waktu memanjatnya terbatas. Ia selalu turun lebih cepat karena menyiapkan makanan. Ati akan terus memetik pohon cengkeh sampai sore hari nanti. Bila turun, kaki dan tangannya akan turut mematahkan dahan-dahan cengkeh yang telah kering. Dahan-dahan kering membahayakan bagi pemanjat. Di bawah ia mengumpulkan lagi dahan-dahan kering itu. Dengan parang berukuran besar, ia mematahkannya menjadikan potongan-potongan berukuran lebih pendek. Ati membawa kayukayu itu menuju rumah singgah sementara. Dahan-dahan cengkeh itu akan digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Ririn Afalah, anak semata wayang pasangan itu, sudah terbiasa dengan pekerjaan orang tuanya. Ia biasa bermain di bawah pohon cengkeh saat bapak dan ibunya sedang memanen cengkeh di atas pohon. Terkadang ia ikut memunguti cengkeh yang berjatuhan dan mengumpulkannya dalam wadah. Ia jarang merengek lagi. Tahun depan, Ririn akan masuk Sekolah Dasar. Ririn Afalah, sebagaimana anak-anak lain di Dusun Marikoko, Desa Kakupang, Kecamatan Bacan Barat, akan dikirim ke rumah kakek dan nenek mereka di Pulau Makian. Malam harinya, Ati akan berkumpul lagi bersama suaminya. Bapatah cengkeh bakal dilakukan bersama-sama. Dengan menyatukan gagang cengkeh, lalu meletakkan bunga-bunga cengkeh di telapak tangan. Ia menarik cengkeh dari bawah ke atas, seperti menyalakan korek api, bunga cengkeh pun berjatuhan. Cengkeh dibiarkan tetap berada di bawahnya. Sedangkan gagang dilemparkan ke wadah yang diletakkan di tengah-tengah. Mereka bakal bekerja lembur setiap malam. Semakin banyak cengkeh yang mereka berhasil petik, semakin larut mereka baru beranjak tidur. Ati dan suaminya hampir bisa dikatakan berumah di kebun cengkeh. Afalah hanya turun sekali dalam satu minggu, itu saat ia mesti menunaikan salat Jumat dan belanja kebutuhan pokok, lalu kembali lagi ke rumah kebun.v OPAN RINALDI Princess van Kasiruta | 215
216 | EKSPEDISI CENGKEH Asa Para Pekerja Panen Cengkeh adalah berkah bagi yang punya kebun cengkeh dan yang tak punya kebun. Tuan kebun membutuhkan pekerja yang berharap bisa menjumput asa di masa panen. Di antara keriangan para petani cengkeh di Bone Puso, ada cerita lain di sana. Tentang para pekerja yang berdatangan dari Desa Balalon, Eben, Tatarandang, hingga Lumbi-Lumbia. Di antara keempat desa itu, hanya Desa Balalon dan Lumbia-Lumbia yang terdekat. Jaraknya sejauh 26 kilometer. Para pekerja datang sehari sebelum panen, dengan menumpang truk pengangkut hasil bumi.
Asa Para Pekerja | 217 Saria (65) --misalnya. Nenek ini, mencoba mengais rezeki dari kebun cengkeh orang. Saria bercerita, dia mencari cengkeh di kebun orang pada subuh hari dan baru pulang saat siang. Dia menyibak setiap rumput dan semak di bawah pohon cengkeh, mencari-cari biji cengkeh yang berjatuhan saat pemetikan. Musim hujan kala malam adalah berkah baginya. Sebab paginya akan banyak paku cengkeh yang jatuh. Saria memungut satu persatu dan disimpannya di wadah sabun colek. Untuk mendapatkan satu dua liter cengkeh, ia harus menyisir dua kebun cengkeh. Cengkeh-cengkeh yang didapatnya kebanyakan cengkeh dengan kelopak yang telah pecah sehingga harganya murah. Sudah tujuh tahun Saria melakoni pekerjaan memungut cengkeh jatuh. “Cengkeh yang saya dapat pada hari itu langsung saya timbang, hanya untuk membeli beras dan ikan. Kadang ada pemilik kebun yang mengizinkannya, kadang ada juga pemilik kebun yang melarang,” ujar Saria. Selain Saria, ada tiga perempuan lainnya yang ikut memungut cengkeh. Ketiganya adalah Nuning Juni (42), Indu Nawara (36) dan Rusni Juni (43). Tiga perempuan suku Bajo yang berasal dari Desa Balalon itu datang ke Bone Puso pada panen raya tahun ini. Mereka meminta izin memungut cengkeh jatuh di kebun Haji Man Lalalo (48) dan Hajah Rosmin Djakaya (45), suami istri ini pemilik cengkeh 600 pohon di Bone Puso. Cengkeh jatuh yang mereka pungut harus dijual kepada pemilik kebun itu sendiri. Seliter dihargai Rp 21.000. “Meski mereka memungut cengkeh dari pohon cengkeh saya sendiri, tapi mereka tetap dibayar seperti orang lain yang datang menjual cengkeh pada saya, itu karena mereka sudah tinggal di rumah saya dan membantu pekerjaan dapur di sini,” terang Hajah Rosmin. Pada pemilik kebun, Nuning, Indu, dan Rusni meminta izin mencari cengkeh yang jatuh dan tinggal di rumah pemilik kebun. Balasannya, mereka membantu pekerjaan domestik di rumah pemilik kebun. Mulai dari membersihkan rumah, menyiapkan makanan untuk para pekerja pemetik. Kalau malam, mereka tidur ramai-ramai di ruang tengah rumah Hajah Rosmin. Pada panen raya September 2013, para pekerja bacude cengkeh di rumah Hajjah Rosmin Djakaya di Bone Puso, Banggai, Sulawesi Tengah. M. RACHMAT ARIS
218 | EKSPEDISI CENGKEH Seperti pada Jumat pagi lalu, 13 September 2013, Nuning, Indu dan Rusni bangun lebih awal. Mereka bertiga langsung mencuci piring-piring kotor yang menimbun. Setelah itu, Nuning menyeduh 37 cangkir teh. Indu merajang sayur dan menyisik ikan. Rusni menghidupkan tungku dan mulai menanak nasi. “Kami meminta izin pada pemilik kebun untuk pungut cengkehnya yang jatuh, walaupun tuan kebunnya tidak meminta kami bekerja di rumahnya, tapi kami sadar sendiri untuk melakukan itu. Kami juga sudah makan dan menginap di sini selama musim panen cengkeh, jadi kita harus membantu pekerjaan tuan rumah,” ujar Indu Nawara. Indu Nawara sendiri datang bekerja bersama putra sulungnya, Jabir Pandu (22). Jabir bekerja sebagai pemetik cengkeh. Upahnya dibayar setelah cengkeh petikannya sudah terlepas dari tangkainya. Pemilik kebun menghargai per liternya Rp 3.000. Karena Jabir menginap di rumah pemilik kebun dan ditanggung makan sebanyak tiga kali. Jika Jabir makan di luar, maka upahnya Rp 4.000 per liter. Tapi Jabir lebih suka pilihan yang pertama. “Kalau empat ribu, terus saya makan di luar, mana cukup? Kami karyawan beruntung, hitungannya seribu rupiah tiga kali makan, ini kan untung namanya,” ujar Jabir. Setiap kali musim panen di Bone Puso, Jabir memilih tinggal hingga panen usai. Ini panen tahun ketiga bagi Jabir sebagai pemetik cengkeh. Ia bilang, uang hasil panen cengkehnya akan ditabung untuk melamar kekasihnya, Aisah. Bagi Jabir, panen cengkeh itu sangat berarti karena dia bisa mendapatkan uang dengan cepat dan menabungnya. Di samping Jabir yang sedang mengeringkan keringat setelah pulang dari pemetikan, ada Jeffri Baco (27) yang berasal dari LumbiaLumbia. Jeffri sendiri mengaku, panen cengkeh menyelamatkannya Beberapa perempuan pemungut jatuhan cengkeh sisa panen di Bone Puso (ATAS); salah seorangnya adalah Indu Nawara (KANAN). M. RACHMAT ARIS
dari masa menganggur yang membosankan. Jadi setiap masa panen, Jeffri pasti datang ke Bone Puso. Hari itu, Jeffri menaksir cengkeh yang dipetiknya bisa mencapai 30 liter. “Upah kami dibayar setelah pemetikan. Tuan cengkeh tiap malam mencatat berapa liter yang kami berhasil petik,” terang Jabir. Jabir sendiri, jika uang pemetikan cengkeh sudah dibayarkan, ingin mengganti telepon genggam lamanya dengan yang lebih baru dan lebih canggih. Selain Jabir dan Jeffri, ada lagi Alsamir Juni (13). Remaja yang baru duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri Bulagi Selatan ini, sengaja meminta izin libur dari sekolahnya. Tujuannya untuk memetik cengkeh di Bone Puso. Orangtua Samir tidak punya pohon cengkeh. Ayahnya sudah meninggal sejak dia berusia dua tahun. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di Kabupaten Luwuk. Samir tinggal dengan neneknya. Biaya sekolahnya dibantu oleh neneknya yang sehari-harinya bekerja membuat kue. Samir yang menyukai pelajaran sejarah ini memiliki tujuan, uang hasil petik cengkehnya, digunakan untuk biaya sekolahnya. “Kasihan nenek kalau harus membiayai SPP saya,” ujar Samir sembari bacude. Malam itu Samir sudah mengumpulkan sekitar lima liter cengkeh. Biasanya, para pekerja pendatang usia sekolah sebaya Samir, datang pada Jumat sore dan pulang ke desanya pada Minggu sore. “Jika panen cengkeh, rumah ini seperti ada pesta. Ada banyak pekerja yang mesti diurus makanannya. Untung ada ibu-ibu pekerja itu. Kalau tidak, saya bisa patah pinggang,” ujar Hajah Rosmin Djakaya. Sementara itu, bagi pekerja seperti Saria, Nuning, Indu, Rusni, Jabir, Jefri, Samir, panen cengkeh juga begitu berarti. Setidaknya asa mereka bisa kembali menyala. v M. RACHMAT ARIS Asa Para Pekerja | 219
220 | EKSPEDISI CENGKEH Andil Tangan Perempuan Kendaraan angkutan umum itu menelusuri jalan kecamatan di Pulau Karakelang, Kabupaten Talaud, di antara kebun-kebun cengkeh yang kuyup karena hujan. Dari Desa Rainis, bersama satu karung cengkeh dan anaknya yang berumur tiga tahun, Ibu Rit (42) menuju Beo, salah satu kota kecil di Pulau Karakelang. Konon, nama ‘Beo’ berasal dari nama tanaman kemiri di mana dulu di tempat itu ada satu pohon kemiri yang sangat besar. Ibu Rit sudah lama panen. Cengkeh yang dijual ternyata adalah sisa hasil panen Juni lalu. “Kami tidak langsung jual semua, sedikit-sedikit saja. Nanti ada keperluan baru jual. Yang sisa ini dijual karena anak butuh biaya untuk pendidikan,” cerita Bu Rit. Ternyata cengkeh juga bisa dijadikan sebagai tabungan, walau bentuknya bukan dalam bentuk uang. “Di rumah masih ada 40 kilo, itu cengkeh terakhir yang belum dijual,” ungkapnya. Sejak panen, keluarga Bu Rit telah menjual kurang lebih 500 kilogram cengkeh kering. Bu Rit bersyukur sebab cengkehnya sebagian besar terjual ketika harga masih tinggi. “Dulu kami jual dengan harga 138 sampai 140.000. Sekarang, sepertinya 125.000 saja.” Tambahnya, “Harga cengkeh memang tidak stabil, jadi kalau saat ini turun, itu sudah resiko. Tapi, selain karena alasan ada tabungan, cengkeh ada kami tahan sedikit, sebab dulu ada kabar cengkeh akan naik lagi. Nyatanya tidak.” Cengkeh lebih setengah ton yang dimiliki keluarga Bu Rit berasal dari sekitar 170 pohon yang dimilikinya. Ada yang di sekitar rumahnya, ada yang di ujung kampung Rainis. Pohon cengkeh yang dimilikinya masih tergolong muda, sekitar 20 tahun. Mungkin itu sebabnya, hasil perolehan cengkeh dari tiap pohon berkisar 10 - 15 kilogram kering. Menyadari cengkeh semakin baik harganya, suami Bu Rit kembali menanam cengkeh tahun ini. “Kami baru tanam lima puluh. Bibit kami upayakan sendiri, yakni mencari buah yang pohon dan buahnya sudah tua,” cerita Bu Rit yang memiliki empat orang anak yang satunya sedang kuliah di Beo. M. RIDWAN ALIMUDDIN
Andil Tangan Perempuan | 221 Selain membudidayakan dan mendapat penghasilan dari cengkeh, perekonomian Bu Rit juga cukup terbantu dari tanaman pala. Tidak seperti cengkeh yang ada masa panen raya, pala tidak demikian. Pala menghasilkan uang hampir sepanjang tahun. Itu sangat membantu, walau sedikit-sedikit. Sebagaimana yang terjadi saat menuju Beo, selain membawa cengkeh sekarung, juga membawa sekantongan kecil pala. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 kilometer dengan ongkos Rp 15 ribu dari Rainis ke Beo, Bu Rit tiba di salah satu Ibu Rit dan anaknya serta dua tumpukan karung cengkeh di atas angkutan umum dari desanya di Rainis menuju Kota Beo, Kepulauan Talaud.
222 | EKSPEDISI CENGKEH pembeli cengkeh. Gudangnya sederhana, hanya bangunan papan. Memasuki gudang tersebut menusuk aroma kopra campur cengkeh. Pemiliknya seorang warga keturunan Cina, masih muda, berkacamata, hanya mengenakan pakaian ‘you can see’ hijau. Namanya Edy (33). Sebelumnya, saat masih di rumah Bu Rit, menceritakan bahwa ada beberapa pembeli cengkeh di Beo. Diantaranya Haji Wati dan Haji Layyu. Juga ada dari Lirung. “Kami bebas memilih pembeli cengkeh, mana yang tinggi harganya, maka kami akan jual di situ,” terang suami Bu Rit. Untuk menjual cengkeh, Bu Rit bergantian dengan suaminya. Jika cengkeh yang akan dijual dalam jumlah banyak, suaminya yang pergi. Jika hanya satu karung dan ada kebutuhan rumah tangga yang perlu dibeli, Bu Rit yang pergi. Tiba di tempat penjualan, karung langsung ditimbang. Beratnya 37 kilogram. Kemudian oleh buruh toko, cengkeh dalam karung Bu Rit langsung ditumpahkan di halaman meja kas. Tujuannya untuk diperiksa. “Cengkehnya bagus,” kata Edy sang pedagang. Setelah mencatat berat cengkeh di dalam buku catatan, Edy kemudian memberi beberapa lembar uang limapuluhan ribu kepada Bu Rit. Memastikan jumlahnya, Bu Rit menghitung kembali dengan cermat. “Rp 4.662.000 hasil jual tadi,” kata Bu Rit. Itu berarti 1 kg cengkeh dihargai Rp 126.000. Ibu Rince di Desa Taruan, Pulau Karakelang, Kepulauan Talaud. Di latar belakang adalah menantu dan cucunya serta tumpukan polong (biji cengkeh tua untuk disemaikan sebagai bibit). M. RIDWAN ALIMUDDIN