The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book yang memuat Makalah Ilmu Tafsir Karya Fakultas Ushuluddin IAT 3B

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Muhammad Khoirul Adyan, 2020-12-28 12:39:06

Kumpulan Makalah Ilmu Tafsir

E-book yang memuat Makalah Ilmu Tafsir Karya Fakultas Ushuluddin IAT 3B

Keywords: Makalah

KATA PENGANTAR

Puji syukur mari sama-sama kita panjatkan kepada Allah swt, sholawat berangkaikan
salam mari kita curah limpahkan kepada baginda haribaan alam Nabi Muhammad
saw, alhamdulillahi robbil alamin , Pertama saya ucapkan terima kasih kepada Dosen
pembimbing mata kuliah Praktikum Ibadah Pak Amiril Ahmad, MA. Yang telah
memberikan kesempatan kepada kami untuk membuat sebuah E-Book yang berisi
Kumpulan Makalah Ilmu tafsir fakultas ushuluddin IAT 3B, dan E-Book ini
merupakan tugas Uas. Semoga E-Book yang kami buat ini dapat bermanfaat untuk
sekarang dan kedepannya nanti , apabila terdapat banyak kesalahan dalam pembuatan
E-Book ini baik dalam penulisan dan hal lainnya mohon harap di maklumi.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………..
I’JAZ ALQUR’AN………………………………………………………………….
ILMU TAFSIR MUNASABAH……………………………………………………
MAKKIYAH DAN MADANIYYAH……………………………………………...
ASBABUN NUZUL…………………………………………………………………
METODE PENYAJIAN DAN CORAK TAFSIR………………………………..
ILMU TAFSIR……………………………………………………………………..
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR…………………………………………
ALIRAN MURJI’AH……………………………………………………………….
ALIRAN MATHURIDIYAH………………………………………………………
AMTSAL ALQUR’AN…………………………………………………………….

MAKALAH ILMU TAFSIR
‘I’JAZ AL-QUR’AN’

Dosen Pengampu : Hidayatullah, MA.
Disusun Oleh :
Muh. Sulkarnain

Muhammad Syiqa Ashfi
Tsulus Afdholuddin

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN
TAHUN PELAJARAN 2020-2021
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur hanyalah milik Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena
dengan rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan tugas makalah yang sangat sederhana ini. Sholawat
serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad Saw kepada
keluarganya para Sahabatnya dan kepada kita semua umatnya. amin

Dalam makalah ini kami ingin menyampaikan tentang Ilmu Tafsir yang berjudul I’jaz Al-
qur’an, dengan Dosen pengampu Bapak. Hidayatullah, MA.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah yang sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.

Banjarmasin, 14 November 2020

Penulis
2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ 2

DAFTAR ISI ........................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …….……....................…........................................................................... 4

B. Rumusan Masalah.…............................…........................................................................... 4

C. Maksud dan Tujuan ....…..................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi I’jaz Al-Qur’an ….................................................................................................... 5
B. Ragam-ragam I’jaz dan contohnya ........................................................................................ 6
C. Mengapa perlu ada I’jaz …………………………………………………………….……… 7
D. Manfaat mengetahui I’jaz …………………………………………………………………… 8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ............................................................................................................. 9

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 10

3

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-quran adalah kalamullah dan bukan karya nabi Muhammad SAW seperti yang banyak
dilontarkan para orientalis dalam menghujat Islam. Gaya bahasa Hadits Rasul meskipun sangat
indah dan sastra nya begitu tinggi, tapi tak seindah Al-quran dan mampu menandingi kualitas
sastra Al-quran. Maka tak diragukan lagi Al-quran adalah mukjizat, bahkan satu-satunya
mukjizat yang abadi. Sebelum islam, masyarakat arab terkenal sebagai masyarakat yang
menyukai karya-karya sastra atau syair dalam bahasa arab. Para penulis muslim menggambarkan
bahwa Al-quran ternyata mengungguli ketinggian sastra yang ada. Dalam kitab ‘Hujaj an-
nubuwwah’ (Al-jahiz w.869) menyatakan bahwa para maestro sastra sezamannya tak mampu
menandingi kualitas sastra Al-quran . Atas dasar inilah, Al-quran dipandang dan diyakini sebagai
mukkjizat terbesar sepanjang masa.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian I’jaz Al-Qur’an?
2. Apa saja ragam-ragam I’jaz Al-Qur’an?
3. Mengapa perlu ada I’jaz Al-Qur’an?
4. Apa manfaat mengetahui I’jaz Al-Qur’an?

C. Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian I’jaz Al-Qur’an
2. Untuk mengetahui ragam-ragam I’jaz Al-Qur’an
3. Untuk mengetahui manfaat mengetahui I’jaz Al-Qur’an

4

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi I’jaz Al-Qur’an
Dari segi bahasa kata i’jaz diambil dari kata kerja a’jaza-i’jaza yang berarti melemahkan
atau menjadikan tidak mampu. Ini sejalan dengan firman Allah SWT yang berbunyi.

(‫أَﻋْ َﺠﺰَ ُت أَ ْن َأ ُﻛﻮْ َن ِﻣﺜْ َﻞ ھَﺬَااﻟْﻐُ َﺮا ِب َﻓ ُﺄوَارِ َي َﺳ ْﻮ َءةَ َأ ِﺧﻲْ )اﻟﻤﺎﺋﺪة‬

Artinya: “…Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat
menguburkan mayat saudaraku ini” (QS. Al Maidah (5): 31)

Lebih jauh Al-Qaththan mendefinisikan I’jaz dengan:

‫إِ ْظﮭَﺎ ُر ِﺻﺪْقِ اﻟ ﱠﻨ ِﺒ ِﻲ َﺻﻠَﻰ ﷲُ َﻋﻠَﯿْﮫِ وَ َﺳﻠﱠ َﻢ ﻓِﯨ َﺪﻋْ َﻮى اﻟ ِّﺮ َﺳﺎﻟَﺔِ ِﺑﺎظ َﮭﺎرِ ﻋَ ْﺠ ِﺰ اﻟْ َﻌ َﺮ ِب َﻋﻦْ ﻣُ َﻌ ِﺠﺰَ ِﺗ ِﮫ اْﻟﺨَﺎ ِﻟﺪَ ِة وَ ِھ َﻲ‬
‫ ْاﻟﻘُﺮْانُ وَ َﻋ ْﺠﺮِ ْاﻷَﺟْ َﯿﺎلِ َﺑﻌْﺪَھُ ْﻢ‬.

Artinya: “Memperlihatkan kebenaran Nabi SAW. atas pengakuan kerasulannya, dengan cara
membuktikan kelemahan orang Arab dan generasi sesudahnya untuk menandingi
kemukjizatan Al-Qur’an.”

Secara istilah : Penampakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. dalam
ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi mukjizat nabi yang abadi, yaitu Al-qur’an

I’jazul Qur’an (kemu’jizatan al-Qur’an) ialah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan
yang dimiliki al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara berpisah-pisah
maupun berkelompok, untuk bisa mendatangkan sesuatu atau menyamainya. Yang dimaksud
dengan kemu’jizatan al-Qur’an bukan berarti melemahkan manusia dengan pengertian
melemahkan yang sebenarnya. Artinya memberi pengertian kepada mereka tentang kelemahan
mereka untuk mendatangkan sesuatu yang sejenis dengan al-Qur’an; menjelaskan bahwa kitab
al-Quran ini haq, dan Rasul yang membawanya adalah Rasul yang benar.

5

I’jaz dapat pula diartikan sebagai kemu’jizatan, yaitu sesuatu yang dapat melemahkan, yang
membuat sesuatu atau pihak lain tak berdaya. Pada dasarnya al-Mu’jiz (yang melemahkan) itu
adalah Allah Swt; yang menyebabkan selainnya lemah sebagai bentuk mubalaghah (penegasan)
kebenaran berita mengenai betapa lemahnya orang- orang yang didatangi Rasul untuk
menentang mu’jiz tersebut.

B. Ragam-ragam I’jaz dan Contohnya

Dalam sebuah buku yang berjudul “al-i’jaz fi al-qurani fi wujuhil muktasyifah” macam
macam i’jaz yang terungkap antara lain i’jaz balaghi ( berita mengenai hal ghaib), i’jaz tasyri’
(perundang-undangan), i’jaz ‘ilmi, i’jaz lughawi (keindahan redaksi Al-quran), i;jaz thibby
(kedokteran), i’jaz falaky (astronomi), i’jaz ‘adady (bilangan), i’jaz i’lamy (informasi), i’jaz
thabi’i (fisika) dan lain sebagainya.

Berikut pemakalah akan memaparkan sebagian saja diantaranya:

a. I’jaz Balaghi.

Sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu mukjizat Al- quran adalah berita ghaibnya.
Salah satu contoh berita ghaib adalah kisah Firaun yang mengejar Nabi Musa AS, hal ini
diceritakan dalam Q.S Yunus:92.

Artinya :”Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi
pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu.”

b. I’jaz Lughawy

Menurut Quraish shihab ( Rosihan Anwar, 2003:34) memandang segi kemukjizatan Al-quran
pada tiga hal, diantarnya segi keindahan dan ketelitian redaksi Al-quran. Dalam Al-quran sendiri
banyak dijumpai contoh keseimbangan dan keserasian antara kata-kata yang digunakan;
keseimbangan jumlah bilangan kata dan antonim, keseimbangan jumlah kata dengan sinonim
atau makna yang dikandungnya, keseimbangan antara jumlah bilangn kata dengan jumlah yang
menunjukkan akibatnya.

6

c. I’jaz Ilmi

Didalam Al-quran Allah mengumpulkan beberapa macam ilmu. Jumlah ayat-ayat ilmi dalam
Al-quran mencapai 750 ayat yang mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beberapa
mukjizat tersebut secara global adalah:

1. Ilmu astronomi

 Q.S NUH : 38-40
 QS. NUH : 16
 QS. AL-AN’AM : 125

2. Ilmu geologi

 QS. AN-NAZIAT : 30 DAN AZ-ZUMAR: 5
 QS. AN-NABA’: 7
 QS. AR-RA’DU : 41

3. Ilmu gronomi

 QS. AL-BAQARAH : 265
 QS. AL-HIJR : 22

Dan masih banyak ratusan ayat lainnya yang mengisyaratkan berbagai fenomena ilmiah yang
jika dikaitkan dengan penemuan ilmiah modern dapat menumbuhkan iman bagi orang-orang
kafir dan menguatkan iman orang muslim bahwa Al-quran benar-benar firman Allah dan bukan
karangan Nabi Muhammad SAW yang dilontarkan kaum kafir.

C. Mengapa Perlu Ada I’jaz

Adapun mengapa kita perlu adanya I’jaz Al-Qur’an ialah antara lain, yaitu :

7

 Membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW yang membawa mukjizat kitab Al-
Qur’an itu adalah benar-benar seorang Nabi dan Rasul utusan Allah untuk
menyampaikan ajaran-Nya.

 Membuktikan bahwa kitab Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah SWT.
Sebab pada kenyataannya mereka tidak bisa membuat tandingan seperti Al-
Qur’an sehingga jelaslah bahwa Al-Qur’an itu bukan buatan manusia.

 Menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa manusia, karena
terbukti pakar pujangga sastra dan seni bahasa Arab tidak ada yang mampu
mendatangkan kitab tandingan Al-Qur’an.

 Menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa umat manusia yang tidak
sebanding dengan keingkaran tidak mau beriman dan kesombongannya tidak mau
menerima kitab suci itu.

D. Manfaat Mengetahui I’jaz
I’jaz Al-Qur’an jika seseorang mempelajarinya maka banyak mendapatkan manfaat, adapun
manfaatnya menurut kami antara lain, yaitu :

 Mengetahui bahwa Allah SWT memberikan mukjizat kepada manusia yang
berupa petunjuk secara berangsur-angsur (Al-Qur’an).

 Dapat mengetahui keagungan Allah SWT dengan mengetahui dan mempelajari
I’jaz Al-Qur’an.

 Mengetahui kelemahan dan kekurangan manusia.

8

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan makalah ini adalah :
1. Dari segi bahasa kata i’jaz diambil dari kata kerja a’jaza-i’jaza yang berarti melemahkan

atau menjadikan tidak mampu. Secara istilah : Penampakan kebenaran kerasulan Nabi
Muhammad SAW. dalam ketidak mampuan orang Arab untuk menandingi mukjizat nabi
yang abadi, yaitu Al-qur’an. I’jazul Qur’an ialah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan
yang dimiliki al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara berpisah-pisah
maupun berkelompok,

2. Macam macam i’jaz antara lain i’jaz balaghi ( berita mengenai hal ghaib), i’jaz tasyri’
(perundang-undangan), i’jaz ‘ilmi, i’jaz lughawi (keindahan redaksi Al-quran), i;jaz
thibby (kedokteran), i’jaz falaky (astronomi), i’jaz ‘adady (bilangan), i’jaz i’lamy
(informasi), i’jaz thabi’i (fisika) dan lain sebagainya.

9

DAFTAR PUSTAKA
Anwar Rosihan, 2000, Ulumul Qur’an. Bandung, Pustaka Setia.
Anwar Rosihan, 2010, Ulumul Qur’an. Bandung, Pustaka Setia.
Al-Qaththan Manna, 2011, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta, PT Pustaka Al-Kautsar.
Abdurrahman Al-baghdady, Al-Qur’an mukjizat yang abadi. Gema insane press, Jakarta.

10

MAKALAH
ILMU TAFSIR MUNASABAH
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu tafsir)

Dosen Pengampu:
Ust.Hidayatullah, MA

Disusun Oleh:
Muhammad Hafiduddien
Muhammad abdullah yazid muhajir
Muhammad irza tsaquf ali

Suhartono Hidayat
Wahid alwi

FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN (PTIQ JAKARTA

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat, dan karuniannya
kami dapat menyelesaikan makalah tentang Ilmu Tafsir ini dengan baik meskipun banyak sekali
kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada Bapak Hidayatullah, MA. selaku
dosen Ilmu Tafsir yang telah memberi tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Ilmu Tafsir Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah yang sederhana ini dapat di pahami bagi siapa pun yang membacanya.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan, kami
mohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan
datang.

Jawa timur, 7 November 2020

PENYUSUN

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................2
DAFTAR ISI ..........................................................................................................................................3
BAB I .......................................................................................................................................................
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................

A. Latar Belakang.................................................................................Error! Bookmark not defined.
B. Maksud dan Tujuan..........................................................................................................................
C. Rumusan Masalah ............................................................................................................................
BAB II......................................................................................................................................................
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................
A. Definisi Munasabah .........................................................................................................................
B.Macam-macam munasabah ...............................................................................................................
C.Manfaat mengetahui munasabah .......................................................................................................
D.Ragam pendapat tentang munasabah ................................................................................................
BAB III.....................................................................................................................................................
PENUTUP ................................................................................................................................................
A. Kesimpulan......................................................................................................................................
B. Saran ................................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur‟an merupakan kitab petunjuk bagi umat manusia, dengan kata lain, siapa saja
yang ingin hidupnya benar dan sesuai keinginan Tuhan (Allah), maka harus menerapkan ajaran-
ajaran yang ada di dalam al-Qur‟an. Namun, menerapkan semua ajaran al-Qur‟an dalam
kehidupan kita sehari-hari tidaklah mudah, kita harus melalui beberapa proses untuk menuju ke
sana, di antaranya yang pertama dan yang paling utama adalah memahami kandungan al-Qur‟an.
Dalam rangka memahami kandungan al-Qur‟an ini, banyak cendekiawan muslim yang
menawarkan metode-metode tafsir, demi memudahkan kita untuk mendapatkan pemahaman
kandungan alQur‟an, dengan pemahaman yang paling mendekati kebenaran.

B. Maksud dan Tujuan

1. Untuk memenuhi tugas makalah
2. Mahasiswa dapat memahami definisi Munasabah
3. Mahasiswa dapat memahami macam-macam munasabah

C. Rumusan Masalah

1. Definisi munasabah
2. Macam-macam munasabah
3. Manfaat mengetahui munasabah

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi munasabah

Munasabah dari segi etimologi adalah hubungan anatara dua pihak atau lebih.
Dalam Maqayis al-lughah dikatakan bahwa kata yang terdiri nun, sin, dan ba’ maknanya
adalah hubungan sesuatu dengan sesuatu lainnya. Di antaranya terdapat kata nasab, yaitu
hubungan dan kaitan darah seseorang dengan seorang lain.

Munasabah dari segi terminologi adalah pengetahuan tentang makna yang
terkandung dalam perururtan pernyataan dalam Al-Qur‟an. 1 Dalam sebuah kaidah dalam
ilmu tafsir kebanyakan ayat di tutup dengan Al- Asma‟ Al-Husna untuk menunjukkan
bahwa pesan ayat berkaitan dengan nama-nama agung itu.

Kidah ini berkenaan dengan persoalan munasabah, dan jelas sekali bahwa
penutup ayat berkaitan dengan masalah munasabah tsb. Bila anda perhatikan maksud
kaidah di atas, Anda akan menemukan bahwa makna dan pesan ayat berhubungan erat
dengan al-asma’ al- husna yang menutup ayat tersebut.

Hal itu tanpa diragukan menunjukkan bahwa masalah syariat, perintah dan
larangan agama, dan penciptaan alam ini seluruhnya terbit dari dan bekaitan dengan
nama-nama dan sifat-sifat NYA itu. Oleh karena itu Anda akan menemukan bahwa ayat
tentang kasih sayang Allah di tutup dengan sifat-sifat kasih sayang NYA itu, dan ayat
tentang hukuman dan azab ditutup dengan nama-nama tentang kemahakuasan,
kemahabijaksanaan, dan kemahatuhanaan NYA itu, dsb.

Contohnya:
1. QS. Al-A‟raf [7]:200:

٠٢٢ ‫وَإِ َّما َين َزغََّن َك ِمنَ ٱل َشّيۡ َطۡنِ َنزۡغَۡفٱسَۡتعِذِۡبٱلَلّ ِهۡ إَِنّهُۡ َسمِي ٌع عَلِي ٌم‬
“Dan jika kamu di timpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Diiringinya ayat itu dengan dua sifat yang maha agung itu ( ‫„ َس ِمي ٌع عَلِيٌم‬Maha Mendengar
Maha Mengetahui‟) menunjukkan bahwa memohon perlindungan kepada Allah hanya
dengan ucapan tidaklah cukup, tetapi butuh kesejalanan hati dengan ucapan itu. Allah dengan
demikian Maha Mendengar apa yang diucapkan dan Maha Mengetahui apa yang terlukis di
dalam hati.
2. QS. AL-Ma‟idah [5]:38:

1 M. Quraish shihab “kaidah-kaidah tfsir” (jakarta: PT Qaf Media kreatif, 2017)
hlm.821

ٌ‫وَٱل َسّا ِر ُق وَٱل َّسا ِرقَ ُة َفٱقۡطَ ُعىاْۡ أَيۡدِيَ ُهمَا َجزَاۡءَۡبِ َما َك َسبَا َن َكۡل اۡ ِّمنَ ٱلَلّهِۡ وَٱلَّلهُ َعزِيز‬
٨٣ ۡ‫حَكِيم‬

“ Laki-laki pencuri dan perempuan pencuri, potonglah tangan keduanya....dan Allah Maha

Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Ditutupnya ayat itu dengan kedua nama yang maha agung itu mengandung keserasian
yang sangat dalam. Yaitu bahwa Allah Mahaperkasa karna itulah Ia mampu menjahtuhkan
hukuman tersebut.(‘azza fa ahkama)2

2. Macam-macam munasabah

Menurut Nashr Hamid Abu Zaid hubungan (munasabah) Al-Qur‟an dapat dibedakan
menjadi dua bagian, yaitu :

1. Munasabah antar surat
Dalam hal ini Nashr Hamid telah membagi sedikitnya 4 bagian:
a) Hubungan stilistika-kebahasaan.contohnya adalah hubungan khusus antara surat

al-fatihah dengan surat al-baqarah. Termasuk dalam kategori ini adalah
munasabah antar surat pendek. Hubungan antara surat al-fiil dengan surat al-Quraisy
adalah hubungankebahasaan yang mengubah keduanya menjadi 1 surat apabila kita
menerima pandangan ulama klasik terhadap kedua surat tersebut.

b) Hubungan antara “dalil” dengan “keraguan akan dalil” atau disebut juga dengan

hubungan ta‟wil. Contohnya adalah hubungan antar surat al-Baqarah dengan surat
Ali Imron. Urutan surat dalam mushaf didasarkan pada asas yang didasarkan pada asas

mendahulukan yang universal yang dibentuk oleh surat al-Fatihah kemudian suratal-
Baqarah yang bertugas menjelaskan hukum-hukum dan secara khusus surat ali Imron
memuat jawaban atas keragu-raguan musuh akan hukum-hukum tersebut. Surat An-Nisa
dan al-Maidah memiliki kedudukan sebagai perincian legislasi bagi ketentuan-ketentuan
yang berkaitan dengan hubungan sosial dan ekonomi, kemudian dua surat berikutnya
yaitu al A‟raf menjelaskan tujuan tujuan dan sasaran-sasaran syari‟at dari rincian hukum
tersebut

c) Hubungan ritmik yang didasarkan pada ritme “fashilah”. Contohnya adalah hubungan

antara surat al-Lahab dengan surat al-Ikhlas.

d) . Hubungan antar surat pendek adalah hubungan kekontrasan, yaitu tipe yang dapat

2 M. Quraish shihab “kaidah-kaidah tfsir” (jakarta: PT Qaf Media kreatif, 2017) hlm. 822-823

ditemukan antar surat al-Maun dengan surat al-Kautsar disatu sisi dan antara surat ad-
Duha dan al-Syarh disisi lain.

Munasabah antar ayat Pada dasarnya, konsep kesatuan teks (wihdah al-nash)
merupakan konsep yang merujuk pada persoalan I‟jaz, yaitu sebuah persoalan yang
dalam skala besar mengacu kepada perbedaan antara pembicara teks (Allah) dengan
pembicara- pembicara selain-Nya. Oleh karena itu, para penganjur ilmu munasabah
menghindari pembicaraan tentang munasabah antar ayat, yang aspek keterkaitan antar
ayatnya sangat jelas, seperti:”Apabila yang kedua terhadap yang pertama merupakan
bentuk penegasan, penafsiran, atau bantahan dan tekanan”.3

Dalam hal ini munasabah tidak mengkaji hubungan-hubungan eksternal
(alaqahkhorijiah), dan tidak pula berdasarkan pada bukti-bukti diluar teks (kharij al-Nas).
Tekslah yang menegaskan norma-norma hubungan-hubunganya atas dasar strukturnya
yang berifat kebahasaan, rasional dan indrawi. Ini tidak berarti bahwa hubungan-
hubungan tersebut merupakan hubungan-hubungan objektif (maudhu‟iyah) yang terpisah
dari gerak akal pembaca atau mufasir, tetapi ia merupakan hubungan yangg muncul dari
dealekstika antara pembaca dan teks dalam proses pembacaan.

Sedangkan magam-macam munasabah menurut Abdul Jalal yang ditinjau dari
sifatnya, munasabah dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1) . Zhahir al-Irtibath (persesuai nyata)

Munasabah ini terjadi karena bagian al-Qur‟an yang satu dengan yang lainya
tampak jelas dan kuat disebabkan kuatnya kaitan kalimat yang satu dengan yang lain.
Deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu terkadang, ayat yang satu
berupa penguat, penafsir, penyambut,penjelas, pengecualian atau pembatas dengan ayat
yang lain,sehingga semua ayat itu tampak sebagai satu kesatuan yang utuh.
2) Khafiy al-Irtibath (persesuaian yang nyata)
Munasabah ini terjadi karena antara bagian-bagian al-Qur‟an tidak ada kesesuaian,

3 Nashr Hamid Abu Zaid, Mafhum Al-Nash Dirasat Fi‟ Ulum al-Qur‟an (beirut:al-Markaz al-Tsaqafy al-
„arabi,1998),hal.159

3. Manfaat Mengetahui Munasabah
Dapat mengembangkan sementara anggapan orang yang menganggap bahwa

tema-tema al-Quran kehilangan relevansinya antara satu bagian dengan bagian yang
lainnya. Mengetahui persambungan atau hubungan antara bagian al-Quran, baik antar
ayat-ayat, kalimat-kalimat, maupun surat-suratnya satu sama lain, sehingga dengan
bantuan ilmu munasabah ini, orang akan memiliki pengetahuan dan pengenalan yang
mendalam terhadap kitab al-Quran, sekaligus memperkuat keyakinan atas kewahyuan
dankemukjizatannya.

Dapat diketahui tingkat dan kualitas kebalaghahan bahasa al-Quran dan
hubungankontekstual antar kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya, serta
penyesuaianayat/surat yang satu dari yang lain.

4. Ragam Pendapat tentang munasabah
Sebagaimana cabang ulumul quran yang lain, ilmu munasabah juga ada pro dan

kontra.Sebagian ulama tidak mengakui eksistnsi ilmu munasabah dengan alasan bahwa
ayatalquran merupakan unit-unit yang berdiri sendiri (mustaqillah), dan diantara ayat-
ayat quran yang diletakkan berurutan didalama mushaf, banyak yang turun dengan
interval waktuyang sangat panjang, maka bukan suatu keharusan adanya keterkaitan
antara satu ayat dengan ayat lain (mahmud syaltut dan ma‟ruf ad-dualibi)Pendapat ulama
tentang keberadaan munasabah, secara garis besar, terbagi menjadi duakelompok.

Kelompok pertama menampung dan mengembangkan munasabah
dalammenafsirkan ayat, sedang kelompok lain tidak memperhatikan munasabah
dalammenafsirkan sebuah ayat. Ar-razi adalah orang yang menaruh perhatian
terhadapmunasabah penafsiran, baik hubungan antar ayat maupun antar
surat.nizhamuddinan-Naisaburi dan Abu Hayyan al-Andalusi, hanya munasabah antar
ayat. Az-Zarqani, ulama yang hidup abad 14 H, kitab tasfir banyak melakukan
pembahasan munasabah.

Tokoh yang memelopori keberadaan ilmu munasabah, abu bakar an-naysaburi
(w.324 H), selalu mempertanyakan, mengapa ayat ini diletakkan disamping ayat ini dan
apa rahasia diletakkan disamping surat ini. Burhanuddin al-Biqai, memandang ayat-ayat
`al-quran saling terkait, tidak penghentian yang sempurna dalam al-quran, setiap ujung
frasa,ujung ayat, dan ujung surat, mempunyai keterkaitan dengan bagian berikutnya;
tafsirnya nadzem ad-durar fi tanabasub al-ayatwa as-suwaholistik.

Imam Fakhruddin ar-Razi(w. 606), menyatakan bahwa umumnya perbendeharaan
alquran terletak pada rangkaian tata urutan dan pertalian nya, dalam kitabnya, mafatihul-
ghaib fi-tafsiril quran(kunci keajaiban dalam menafsirkan alquran). Al-Qadhi Abu Bakar
Ibn al-„Arabi(468-543H) dengan kitabnya, sirajul-muridin-wa- sirajul-
muhtadin(lenteraorang-orang yang berkehendak dan lentera orang-orang yang meraih
petunjuk), mengatakan bahwa hubungan pertalian ayat-ayat quran antara bagian dengan
bagian lainnya laksana kalimat yang sangat teratur dan tersusun rapi penjelasannya.

Al-Imam Badruddin Muhammad bin Abdillah Az-Zarkasyi, al munasabah,
bersifat rasional, terjangkau oleh akal. Berbagai hubungan antara pembuka surat dan
penutup surat maknanya berdasarkan pendekatan penalaran seperti sabab-musabab, illat
dan ma‟lul, dan lain-lain; dapat mengukur kecerdasan seseorang. Izuddin bin Abdus-
salam(577-660 H), mewakili ahli ilmu alquran klasik, berpendapat tidak semua ayat
alquran bermunasabah.

Sementara ahli ulumul quran kontemporer yang sependapat dengan izuddin, yaitu
Manna‟al-Qaththan dan Shubhi as-Shahih, tidak setuju pemaksaan ilmu munasabah,
tidak pada tempatnya memaksakan munasabah/korelasi/keterkaitan untuk seluruh ayat
alquran, ayat alquran diturunkan dalam rangka menjawab berbagai pertanyaan dan kasus
berbeda, pewahyuan alquran selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari, bagaimana merangkai
seluruh ayatalquran yang sedemikian banyak dan sedemikian panjang waktu
penurunannyaSalah seorang mufassir kontemporer yang kurang setuju dengan
munasabah adalahSyekh Mahmud Syaltut, mantan rektor Al-azhar Kairo, dalam
penafsiran Al-quran. Tokoh lainnya, Ma‟ruf Dualibi, usaha sia-sia mencari hubungan
antar ayat dalam surat, hanya satu hal saja, akidah, kewajiban, ahlak, atau hak. Menurut
Ma‟ruf Dualibi, dalam berbagai ayat,Al-quran hanya mengungkapkan hal-hal yang
bersifat prinsip (mabda) dan normatif yang bersifat umum (kaidah). Olehkarena itu, tidak
tepat mengharuskan adanya keterkaitan antar-ayat yang bersifat tafsil. Pendapat ini
ditulis dalam kitab, Al-muwafaqat, oleh As-Syatibi.4

4 Nasaruddin, baidan.2005.wawasan baru ilmu tafsir.yogyakarta:pustaka pelajar hlm 194

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ilmu Munasabah adalah
ilmu yang mempelajari tentang hakikat keserasian (korelasi) antara satu bagian dengan
bagian yanglain. Ilmu ini sepenuhnya bersifat ijtihady, bukan tauqify. Macam-macam
munasabah yaitu munasabah antar surat dengan surat sebelumnya, munasabah antar nama
surat dan tujuan turunnya, munasabah antar bagian suatu ayat, munasabah antar ayat yang
terletak berdampingan, munasabah antar suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat
disampingnya, munasabah antar fashilah (pemisah) dan isi ayat, munasabah antar awal
surat dengan akhir surat yang sama, munasabah antar penutup suatu surat dengan awal
surat berikutnya.Dalam menyikapi munasabah, para ulama terbagi ke dalam dua
golongan. Pertama, golongan yang tertarik dengan munasabah, Kedua, golongan yang
tidak tertarik dan menganggap munasabah tidak perlu dikaji. Golongan pertama diwakili
oleh Abu Bakar al-Nisabury, Fakhrudin al-Razi, Jalaluddin al-Suyuthiy, ibn al-Arabiy ,
Izzuddin ibn Abdis Salam, dan yang lainnya. Golongan ulamayang menolak adanya
munasabah dalam al-Quran diwakili oleh Ma‟ruf Dualibi.

Empat fungsi utama dari Ilmu Al-Munasabah :

1. Untuk menemukan arti yang tersirat dalam susunan dan urutan kalimat-kalimat, ayat-
ayat, dan surah-surah dalam Al-Quran.

2. Untuk menjadikan bagian-bagian dalam Al-Quran saling berhubungan sehingga
tampak menjadi satu rangkaian yang utuh dan integral.

3. Ada ayat baru dapat dipahami apabila melihat ayat berikutnya.
4. Untuk menjawab kritikan orang luar (orientalis) terhadap sistematika Al-Quran.

B. Saran

Penulis berpesan jika terdapat beberapa hal yang salah dalam penulisan ataupun
materi, diharapkan untuk memberikan beberapa saran kepada penulis, agar kedepannya
bisa menjadi lebih baik lagi dalam menulis, dan juga penulis berpesan kepada mahasiswa
Indonesia khususnya mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur‟an Jakarta, kita
tekunkan budaya menulis, membaca, dan memahami, supaya kita menjadi orang-orang
yang berguna bagi bangsa dan agama di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

M. Quraish shihab “kaidah-kaidah tfsir” (jakarta: PT Qaf Media kreatif, 2017)

Nashr Hamid Abu Zaid, Mafhum Al-Nash Dirasat Fi‟ Ulum al-Qur‟an (beirut:al-Markaz al-
Tsaqafy al-„arabi,1998)

Nasaruddin, baidan.2005.wawasan baru ilmu tafsir.yogyakarta:pustaka pelajar,

MAKALAH
MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah:

Ilmu Tafsir
Dosen Pengampu: Hidayatullah, MA

Disusun oleh:
Muhammad Khairin Noor
Muhammad Faiz Sabil Mutsanna

Raihan Mubarak
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL QURAN

2020

‫هللا مسب‬

KATA PENGANTAR
Assalamu‟alaikum. Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena anugerah dari-Nya kami penulis dapat
menyelesaikan makalah “ Ilmu Tafsir“ ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan
kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang
lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi
seluruh alam semesta.

Kami sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang menjadi
tugas mata kuliah kami selaku penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu penulis selama pembuatan makalah ini berlangsung
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran
dan kritik dan dukungan dari teman-teman yang sangat kami butuhkan untuk penyempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua nya. Terima kasih.
Wassalamu‟alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 25 Oktober 2020

i












































Click to View FlipBook Version