dengan bisnisnya, ia selalu berusaha mengeluarkan kewajiban itu untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya. Seorang pengusaha mual-
laf keturunan cina ini yang diceritakan dalam kasus ini, mengaku telah
merasakan betapa kenikmatan hidup yang diperoleh setelah ia dekat
dengan kyai. Ia selalu bercerita, sebagai hasil dekat dengan para ulama
atau kyai, selalu mendapatkan ketenangan batin. Ia tidak merasa lagi
dikejar-kejar oleh persoalan yang tidak ada habis-habisnya. Apa yang
dinasehatkan oleh kyai, bahwa dalam berbisnis harus jujur, adil terhad
ap anak buahnya, selalu memberikan hak kepada yang seharusnya
menerimanya diamalkan menjadikan bisnisnya justru lancar, sekaligus
mendapatkan ketenangan batin.
Muslim mu’allaf tersebut selama ini menggeluti bisnis ikan krapu.
Ia mengambil ikan dari perairan wilayah Maluku dan sekitarnya, selan-
jutnya membawa ke Hongkong untuk dijual di sana. Dia memiliki be-
berapa kapal, pulang pergi mengangkut jenis ikan tersebut. Memang,
dia tidak menangani langsung, melainkan hanya mondar-mandir dari
Indonesia ke Hongkong, dan sebaliknya. Semua bisnisnya cukup diken-
dalikan melalui tilpun seluler. Saya pernah bertanya, apakah tidak takut
bisnisnya diselewengkan oleh anak buahnya, ia selalu menjawab, tidak
akan mungkin terjadi, asalkan mereka selalu diberikan semua hak-hak
yang seharus diterima. Para pekerja, yang terdiri atas kapten dan anak
buahnya, akan selalu amanah jika perusahaan itu dikelola secara ama-
nah. Artinya, mereka selalu diberikan hak-haknya dan tidak diperlaku-
kan secara tidak adil.
Dia selalu mengomando kepada anak buahnya, bahwa berbisnis
harus jujur. Suatu ketika, pimpinan kapalnya mengusulkan kepadanya,
agar kapalnya diisi bahan bakar di Maluku saja, dan tidak di Hongkong.
Sebab bahan bakar di Hongkong jauh lebih mahal dari pada harga di
wilayah Indonesia. Membeli bahan bakar di Indonesia, lewat orang-
orang tertentu bisa mendapatkan Bahan Bakar Bersubsidi.
Dia ceritakan bahwa bahan bakar bersubsidi bisa diperoleh dengan
harga Rp. 6.500,- sedangkan di Hongkong harganya sampai Rp.9.000,-.
Dengan menempuh cara itu akan mendapatkan keuntung dari biaya
bahan bakar saja, cukup besar. Tetapi, pengusaha ini dengan tegas
melarang keras anak buahnya melakukan kebijakan haram itu. Ke-
untungan yang diperoleh dari cara-cara yang tidak benar, justru akan
melahirkan masalah yang lebih besar dan lebih mahal biaya penyelesai-
annya.
Ekonomi dan Kemiskinan 439
Dia mengaku bahwa bilamana dibandingkan dengan dulu, sebe-
lum dekat dengan kyai, keadaan sekarang dirasakan sangat jauh lebih
enak dan tentram. Saat ini ia justru menjadi lebih tenang dan sekaligus
masih bisa mengembangkan modal dan memperluas usahanya. Selain,
masih menggeluti bisnis ikan krapu yang dibawanya dari perairan
Maluku hidup-hidup ke Hongkong dengan kapalnya, ia saat ini mem-
perluas usahanya berbisnis batubara. Ia menceriterakan pengalamannya
yang lalu, sebelum berkenalan dengan kyai, berbagai persoalan selalu
diselesaikan melalui uang. Setiap bulan ia harus menganggarkan secara
khusus puluhan juta rupiah, agar bisnisnya aman dan lancar. Anggaran
khusus itu dibagi-bagi ke pihak-pihak yang berkewenangan mengatur
perdagangan di wilayah itu, –dia nyebutkan harus sogok sana-sogok sini.
Dari pengalamannya yang panjang, ia mendapatkan kesimpulan bahwa
dalam berbisnis pun, jika persoalan itu diselesaikan dengan uang, yang
tentu tidak dibolehkan dalam Islam, justru persoalan itu akan tumbuh
dan berkembang. Persoalan selesai di satu tempat, tetapi akan muncul
dan menjadi lebih besar sehingga lebih mahal penyelesaiannya di tem-
pat lain. Akibatnya, modal dan keuntungan tidak bertambah, dan justru
akan menambah dan memperkaya masalah hidup.
Atas dasar berbagai pengalaman itulah, ia membanting haluan.
Melalui kesempatan yang tidak terlalu disengaja, ia berkenalan dengan
kyai. Melalui kyai inilah dia merasa telah mendapatkan pelajaran hidup
yang lebih sempurna. Ia masih menjalankan bisnisnya, tetapi dijalankan
dengan cara-cara yang lebih membawa berkah. Dia tidak mau lagi, dia-
jak melewati sogok menyogok kepada mereka yang harus memberikan
ijin usaha, mendapatkan yang murah tetapi ada nuansa manipulasi, dan
sejenisnya. Sebagian keuntungannya juga selalu disisihkan untuk kaum
dhu’afak dan anak yatim serta kegiatan sosial lainnya. Juga tidak terting-
galkan selalu membayar kewajiban zakat setiap tahun, sekalipun tidak
menghitungnya secara tepat. Tetapi ia memastikan bahwa besarnya ke-
kayaan yang dikeluarkan untuk sosial, sekalipun tidak dikalkulasi secara
tepat masih jauh lebih besar, bilamana dibandingkan dengan hitungan
zakat yang seharusnya dikeluarkan. Penguasaha yang barangkali masih
bisa dikategorikan mualaf ini –belum banyak memahami Islam ini, sela-
lu mengatakan bahwa dengan bermisnis secara jujur, adil dan men erima
apa saja yang diberikan oleh Allah, menjadikan hati dan hidupnya lebih
tenang, dan ternyata modal dan keuntungan yang diperoleh justru se-
lalu meningkat setiap tahunnya. Ketika pamit berangkat umrah bulan
puasa ini, –sejak beberapa tahun terakhir selalu melakukannya, pengu-
440 Refleksi Pemikiran Menuju Indonesia Baru
saha cina santri baru ini, menyebut usahanya sebagai bisnis atas pan
duan kyai, ternyata dirasakan menjadikan hidupnya bersama keluarga
jauh lebih tenang dan bahagia. Subhanallah.
Ekonomi dan Kemiskinan 441
Tiga Pilar Penggerak
Zakat
Desa Putukrejo, Malang, Jawa Timur sudah sejak lama dikenal seba-
gai desa yang telah berhasil mempelopori gerakan untuk memobilisasi
zakat. Sampai-sampai karena keberhasilannya itu, Prof. Dr. A. Mukti
Ali (alm), mantan Menteri Agama pernah berkunjung ke desa ini un-
tuk melihat dari dekat sistem pengelolaan zakat yang dimaksud. Selain
itu Prof. Dr. Kunto Widjoyo (alm) juga pernah menulis artikel tentang
prestasi Putukrejo dalam mengembangkan pengelolaan zakat ini. Ke-
berhasilan itu, sempat terpublikasikan secara luas ke berbagai wilayah,
sehingga tidak sedikit pemerhati zakat datang ke desa tersebut melaku-
kan studi banding.
Ada tiga pilar kekuatan yang menjadikan potensi zakat di Desa
Putukrejo dapat berhasil digerakkan. Tiga pilar dimaksudkan itu ada-
lah ulama, umara dan aghniya desa. Ketiga kekuatan itu menyatu da-
lam sebuah forum silaturrahim yang disingkat dengan MUAAD, yaitu
kependekan dari Musyawarah Ulama Umara Aghniya Desa. Di berbagai
tempat, tiga kekuatan itu tidak pernah menyatu, dan menyusun sebuah
kekuatan bersama. Pada umumnya, mereka berjalan sendiri-sendiri. Di
Putuk Rejo, ketiga kekuatan itu berhasil disatukan, dan membentuk
sebuah sistem pengelolaan zakat, dan dengan sistem tersebut memaksa
warga desa yang masuk kategori wajiban zakat, mau tidak mau menge-
luarkan kewajibannya.
Atas kesepakatan MUUAD –Musyawarah Ulama Umara Aghniya
Desa, dibentuklah petugas zakat. Mereka itu terdiri atas orang-orang
yang bertugas membagi air yang selalu dibutuhkan oleh petani pena-
nam padi di sawah. Dengan sitem dimaksud para petani sangat tergan-
tung pada petugas pembagi air. Petani yang tidak patuh pada petugas
pembagi air yang memiliki otoritas dari MUUAD, tidak akan bisa meng-
garap tanahnya. Sebab jika petani membangkang tidak mau membayar
zakat, maka pada musim tanam berikutnya, oleh petugas pembagi air
442
tidak akan diberi air. Akibatnya, petani yang bersangkutan tidak akan
bisa menanam padi.
Tugas lain pembagi air adalah menghitung dan memungut zakat
setiap kali panen dari setiap petani di desa itu. Oleh karena itu, sebelum
panen, petani harus lapor ke petugas pembagi air, agar tatkala petani
memanen sawahnya mereka hadir di sawah yang lagi di panen. Para
petugas pembagi air tersebut bertugas menghitung jumlah hasil panenan
yang diperoleh, sekaligus menentukan berapa banyak bagian yang ha
rus disetor ke amil zakat dari sejumlah panennya itu. Selain menghitung
jumlah padi yang harus disetor sebagai zakat, petugas air juga bertang-
gung jawab mengangkut padi hasil zakat dari sawah ke gudang zakat.
Sedangkan petugas air, sebagai imbalan jasanya, mereka akan menda
patkan bagian sebagaimana yang telah ditentukan oleh MUUAD.
Peran strategis yang dimiliki oleh petugas pembagi air tersebut,
menjadikan semua petani di desa Putukrejo loyal padanya. Jika petani
mencoba membangkang pada petugas pembagi air ini, misalnya tidak
lapor ketika mau panen dengan maksud agar bebas dari membayar
zakat, maka petani tersebut akan beresiko, berupa tidak akan diberi air
oleh petugas pembagi air dan akibatnya mereka tidak akan bisa berta
nam di musim tanam berikutnya. Selanjutnya, hasil pungutan zakat
yang dikumpulkan di gudang zakat milik desa, sebagian dibagi lepada
yang berhak untuk kepentingan yang bersifat konsumtif, sedangkan se-
bagian lainnya digunakan untuk keperluan yang bersifat produktif.
Pembagian zakat yang bersifat konsumtif, ialah hasil zakat itu
dibagikan pada fakir miskin di desa itu. Pembagiannya biasanya diberi-
kan menjelang masuk bulan Ramadhan. Seluruh fakir miskin di desa
itu diberikan bagian beras sebanyak 8kg pada setiap orang, sehingga
umpama seorang kepala keluarga memiliki anggota keluarga berjumlah
6 orang (suami, istri, dan empat anak) maka akan mendapatkan 48kg
beras. Pembagian beras sengaja dilakukan menjelang bulan Ramadhan,
dengan maksud agar para fakir miskin di bulan suci itu sudah tidak ber-
pikir tentang kebutuhan beras. Dengan strategi itu dimaksudkan agar
para fakir miskin di bulan Ramadhan bisa berkonsentrasi menjalankan
Ibadan puasa dan amalan lain yang seharusnya dijalankan. Sedangkan
siapa yang dimasukkan sebagai kelompok fakir miskin, di desa itu telah
dirumuskan beberapa kriterianya yang telah disepakati oleh MUUAD.
Berdasarkan kriteria itu, lembaga zakat ini, telah memiliki data yang
lengkap tentang jumlah fakir miskin yang ada di desa. Masih masuk
kategori konsumtif, hasil zakat juga dibelanjakan untuk memperbaiki
Ekonomi dan Kemiskinan 443
rumah-rumah orang miskin secara bergiliran disesuaikan dengan dana
yang tersedia.
Sedangkan hasil zakat yang dibelanjakan untuk hal-hal yang bersi-
fat produktif, misalnya dibelikan bibit ternak kambing atau sapi yang se-
lanjutnya diserahkan kepada fakir miskin agar dipelihara dengan sistem
pembagian keuntungan bagi hasil. Desa Putukrejo juga memiliki mesin
penggilingan padi yang dibeli dari hasil zakat. Hasil keuntungan mesin
penggilingan padi juga menjadi kekayaan lembaga zakat. Karena itu
maka, masyarakat setempat menyebut bahwa mesin penggilingan padi
tersebut adalah milik orang miskin di desa ini. Selain itu, hasil peng-
umpulan zakat secara produktif dipinjamkan sebagai modal bagi orang
miskin yang mengembangkan usaha, misalnya untuk membeli mesin
jahit, biaya pelatihan ketrampilan, dan sejenisnya.
Kreasi para Kyai Desa Putukrejo dalam mengatasi kemiskinan
dengan memobilisasi zakat, ternyata hasilnya dapat dirasakan oleh
masyarakat. Hasil secara langsung dengan adanya forum Musyawarah
Ulama Umara Aghniya Desa atau MUUAD terjadi hubungan yang har-
monis antara beberapa kekuatan sosial di desa. Antara ulama, umara
dan aghinya desa, setelah mereka memiliki proyek bersama, yaitu pe
ngelolaan zakat yang profesional, maka terjadi saling silaturrahim se-
hingga menjadi kekuatan sosial yang kokoh. Selain itu, antara mereka
yang berada dan mereka yang tergolong fakir dan miskin terbangun
ikatan silaturrahim yang baik. Melalui zakat ini terjadi proses ta’aruf, ta
fahum, tadhammun, tarrahum, dan puncaknya adalah ta’awun di antara
warga masyarakat. Hubungan sosial terbentuk secara kokoh, terjadi sa
ling tali-temali membentuk bangunan yang indah. Hasilnya, keindahan
Islam mewujud dalam bangunan sosial yang nyata.
Prakarsa untuk memobilisasi zakat yang dipelopori oleh Kyai mela-
lui forum yang dikenal dengan sebutan MUUAD dan sistem pemung-
utan dan pengelolaan zakat tersebut, kiranya merupakan prestasi yang
luar biasa, yang seharusnya mendapatkan penghargaan atau apresiasi
semua pihak. Hanya sayangnya, konsep ini gagal diwariskan kepada
generasi berikutnya. Tampak tatkala para kyat perintis telah udzur, ka
rena usia lanjut dan bahkan beberapa sudah wafat, dan demikian juga
umara atau pejabat desa berganti, maka akhirnya kekuatan itu semakin
lama semakin melemah. Saat ini pengelolaan zakat di desa itu masih ber-
jalan, tetapi sudah tidak sekokoh dulu, karena pilar-pilar kekuatannya,
yaitu kekuatan ulama, umara, dan aghniya, yang dulu pernah memiliki
semangat dan menyatu, ternyata tidak mampu bertahan, melemah di-
444 Refleksi Pemikiran Menuju Indonesia Baru
makan zaman sehingga surut dan melemah.
Tetapi apapun, kiranya para kyai Desa Putukrejo, telah menyum-
bangkan hasil eksperimen berupa konsep pengelolaan zakat yang cukup
cemerlang. Dari eksperimen itu, hal yang sangat perlu dicatat adalah
bahwa zakat berhasil dimobilisasi melalui kekuatan, berupa persatuan.
Persatuan ternyata menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Persatuan
antara ulama umara dan aghniya desa (orang kaya) menjadi kunci dalam
membangun masyarakat. Jika rumusan ini kita tarik dalam kontek yang
lebih luas, yaitu kehidupan berbangsa ini, maka justru persatuan inilah
yang akhir-akhir ini, –bagi bangsa ini, terasa perlu diperkukuh kembali.
Kekayaan alam yang melimpah, sumber daya manusia berkualitas yang
cukup tetap tidak akan memberi arti banyak, manaka persatuan tidak
berhasil diperkukuh. Keberhasilan Desa Putukrejo dulu dalam memo-
bilisasi zakat, yang hal itu seseungguhnya sulit diwujudkan di tempat
manapun, –kuncinya adalah karena di desa itu berhasil menyatukan
tiga kekuatan yang kemudian menjadi pilarnya, yaitu antara kyai atau
ulama, umara atau penguasa formal desa dan para aghniya atau orang
kaya desa. Menyatunya tiga pilar kekuatan –ulama, umara dan aghni-
ya desa, inilah sesungguhnya yang menjadi kunci keberhasilan dalam
menggerakkan atau mobilisasi zakat di Desa Putukrejo. Kiranya konsep
ini, bisa diinventasisasi sekaligus menjadi kekayaan yang tidak ternilai
harganya dan selanjutnya kiranya bisa dikembangkan dan diimplemen-
tasikan di tempat lain yang lebih luas. Wallahu a’lam.
Ekonomi dan Kemiskinan 445