The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul ini berisi tentang Menyebarkan Pemahaman Merdeka Belajar, sebagai bentuk penyuksesan Program Merdeka Mengajar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ariawinardi87, 2022-07-11 02:39:47

MODUL MERDEKA BELAJAR

Modul ini berisi tentang Menyebarkan Pemahaman Merdeka Belajar, sebagai bentuk penyuksesan Program Merdeka Mengajar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI

Keywords: Merdeka Belajar,Merdeka Mengajar

TOPIK MERDEKA BELAJAR

A. Modul 1 Materi Mengenali Diri dan Perannya Sebagai Pendidik

1. Materi Mengenali Diri dan Perannya Sebagai Pendidik

Sebagai Pendidik tentu sudah seharusnya mampu mengenali karakteristik dan
kebutuhan murid. Akan tetapi hal yang paling mendasar juga harus dimulai dari diri sendiri
yaitu mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Reviu materi video ini mengajak Ibu dan Bapak
Guru merefelksikan kekuatan dan kelemahan yang kita punyai, lalu bagaimana kita dapat
mengelola apa yang kita miliki tersebut untuk berperan mendidik murid-murid kita.

Mengawali perjalanan kita di modul Merdeka Belajar ini, kita akan bersama-sama
melakukan revleksi, mengenali diri, untuk lebih memahami peran sebagai pendidik
berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Mari Kembali ke awal perjalanan kita sebagai
pendidik. Dahulu, saat memutuskan menjadi guru, apa yang ada dalam pikiran ibu dan bapak
guru? Mengapa memutuskan ingin menjadi pendidik? Bagaimana perjalanan perjuangan
sehingga akhirnya sampai di profesi hebat ini?

Dengan menjadi guru, hadir setiap hari untuk murid-murid, hadir untuk terus
menambah kapasitas diri, misalnya melalui media microlearning ini, kita telah menyadari
kebutuhan untuk terus belajar secara mandiri. Apapun profesi yang dijalani, kita memang perlu
terus belajar. Demikian juga dengan peran kita sebagai pendidik/guru. Kita perlu terus belajar
agar bisa menghantarkan murid-murid untuk berdaya dan menjadi manusia merdeka. Dengan
kesadaran untuk terus belajar secara mandiri, kita telah mengatur diri sendiri. Ini adalah bagian
dari perjalanan kita menjadi manusia merdeka.

Menurut Ki Hajar Dewantara, manusia yang bersandar pada kekuatan sendiri baik lahir
maupun batin, tidak tergantung pada orang lain. Jika kita mengharapkan murid-murid kita
kelak menjadi pribadi yang mandiri dan merdeka, tentunya penting untuk mengenal diri,
berdaya untuk menentukan tujuan dan kebutuhan belajarnya yang relevan dan kontekstual
terhadap diri dan lingkungannya.

Sebagaimana disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Dasar-Dasar Pendidikan,
Maksud Pendidikan itu adalah segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia
maupun sebagai anggota masyarakat. Salah satu langkah awal kita sebagai pendidik adalah
bagaimana memaknai dan menghayayi pribadi kita sebagai manusia yang merdeka untuk terus
belajar.

Murid-murid kita kini memiliki cara belajar yang sungguh berbeda dengan kita dahulu.
Mereka sangat fasih dengan teknologi, menjadikan internet sebagai salah satu sumber belajar
utama. Mereka bisa dengan cepat mencari dan mengkonfirmasi pengetahuan dengan teknologi
dalam genggaman, mereka bisa menjangkau pengetahuan sekalipun tanpa kita berikan. Lantas,
ibu dan bapak guru, Apa yang perlu kita selaraskan agar bisa menjadi pendidik yang relevan
dengan konteks zaman? Murid-murid kita memang sudah jauh berbeda dengan kita. Namun,
mereka tetap butuh kehadiran sosok pendidik.

Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan, pendidik itu menuntun tumbuh atau
hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan
dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Mari kita revleksikan bersama, apa
peran kita sebagai pendidik untuk dapat menuntun kekuatan kodrat dari murid-murid kita?
Bagaimana kita bisa menjaga hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat murid-murid kita?

2. Materi Apa Peran Saya sebagai Guru

Tidak dipungkiri bahwa peran guru amatlah penting bagi perkembangan murid. Reviu
materi video ini bertujuan mengajak kita berefleksi bersama terkait peran sebagai guru selama
ini. Materi kali ini, kita akan melakukan refleksi peran kita sebagai guru, baik untuk murid-
murid di sekolah, maupun untuk masa depan bangsa, agar kita mampu melakukan refleksi
mengenali diri, dan memahami peran sebagai pendidik berdasarkan pemikiran Hajar
Dewantara.

Hal apa yang membuat ibu dan bapak guru merasa sangat bersemangat pergi ke
sekolah? Apakah karena wajah-wajah murid, yang menengadah memandang ke arah kita saat
kita menerangkan di depan kelas? Apakah Tak sabar ingin menyaksikan kemajuan belajar salah
satu murid yang kemarin baru saja kita terangkan sampai berulang kali? Atau menunjukkan
bahan ajar yang seru yang sudah kita siapkan pada murid-murid?

Semangat ibu dan bapak guru dalam memulai hari tentu akan merambat pada energi
belajar anak-anak. Mungkin tidak hanya hari itu saja, tapi juga seterusnya. Ketika kelak mereka
dewasa, mungkin menjadi pemimpin masyarakat, mereka akan membawa semangat itu.
Dengan murid-murid kita yang sekarang adalah generasi digital native, fasih berselancar di
internet, bisa mendapatkan pengetahuan, bahkan mempelajari keterampilan sesuai kebutuhan
belajar mereka, bagaimana ibu dan bapak guru perlu menyelaraskan peran sebagai pendidik
yang relevan dengan konteks murid dan zaman.

Sebagai guru, kita pasti ingin membekali murid-murid dengan pengetahuan,
keterampilan dan sikap untuk terus belajar, mendampingi mereka memahami dan mencapai
tujuan belajar. Mengutip pernyataan Ki Hadjar Dewantara, "Memberi ilmu demi kecakapan
hidup anak dalam usaha mempersiapkannya untuk segala kepentingan hidup manusia, baik
dalam hidup bermasyarakat, maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya".

Apa harapan ibu dan bapak guru untuk murid murid yang kini tengah diampu? Harapan
tentu boleh setinggi langit, karena murid-murid ini kelak akan menjadi dewasa, menjadi bagian
atau bahkan memimpin masyarakat, dan pada akhirnya akan membentuk kebudayaan kita di
masa depan. Bisa jadi saat ini, ibu dan bapak guru memberi kesempatan murid-murid
menyiapkan presentasi untuk dibawakan di depan kelas. Murid-murid dituntun untuk menulis
konsep, menyusun kata-kata, dan menyampaikan idenya di depan teman-teman sekelasnya.
Beberapa tahun kedepan, bisa jadi murid ibu dan bapak guru yang berbicara di depan rekan
sekantornya saat rapat, bicara didepan warga memberi penyuluhan, atau bahkan berbicara pada
konferensi tingkat internasional mewakili negara ini.

Ki Hajar Dewantara "menyamakan mendidik anak dengan mendidik rakyat". Menurut
Ki Hajar Dewantara, "kehidupan kita saat ini adalah buah dari pendidikan yang kita terima saat
kita masih anak-anak". Begitu pula dengan anak-anak yang saat ini belajar bersama kita, kelak
akan menjadi bagian dari masyarakat di masa depan. Mengingat bahwa murid-murid kita akan
menjadi masyarakat masa depan.

Sebagai guru, apa yang bisa kita lakukan untuk mengantarkan mereka menuju mimpi
dan cita-cita mereka? Ketika kita menyadari banyak murid-murid dengan beragam impian,
potensi dan kebutuhan di kelas, bagaimana kita menyesuaikan peran untuk menuntun
perjalanan belajar mereka? Untuk pada akhirnya menemukan siapa diri mereka dan
mengantarkan mereka menuju cita-cita.

Ibu dan bapak guru, hari ini kita belajar bahwa ternyata peranan seorang pendidik
sangat besar. Hal apapun yang kita lakukan di kelas dari segi memfasilitasi proses belajar, atau
hal sekecil ucapan pujian maupun cemoohan yang tidak sengaja terucap akan meninggalkan
makna bagi murid-murid, yang kelak akan menjadi bagian dari masyarakat.

Sejak merancang, memfasilitasi hingga menilai proses pembelajaran, kita sebagai guru
mesti hadir secara utuh. Setiap hal kecil yang kita sampaikan di kelas akan berkontribusi pada
kecakapan hidup anak saat dewasa. Semua yang kita rancang untuk disimak murid-murid mesti
bertujuan.

Ibu dan bapak guru sebenarnya sedang membentuk masyarakat, membentuk budaya
masa depan lewat murid kita. Semangat untuk terus belajar, ibu dan bapak guru, wahai para
pembentuk kebudayaan masa depan. Mari kita bersama terus belajar demi meraih tujuan
pendidikan menjadi manusia Merdeka yang kelak akan menuntun murid-murid manusia
merdeka.

3. Materi Ingin Menjadi Guru Seperti Apa Saya ?

Murid seringkali terinspirasi dari Ibu dan Bapak gurunya. Tentu sebagai guru, kita ingin
memberikan pengaruh-pengaruh yang baik di masa depan murid. Reviu materi video ini
mengajak kita memproyeksikan menjadi guru seperti apa di masa depan?

Ibu dan bapak guru salam dan bahagia, sebelum kita melanjutkan pembelajaran
memahami lebih lanjut soal Merdeka Belajar sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara,
kali ini kita akan mengenang kembali pengalaman kita dimasa sekolah untuk bersama-sama
merefleksikan sosok guru yang kita cita-citakan.

Ibu dan bapak guru, mari memutar ingatan kita kembali ke masa lalu, pengalaman
menyenangkan apa yang ibu dan bapak guru miliki terkait sosok guru saat masa sekolah dulu
? Mari kita mengingat siapa-siapa saja guru yang kita senangi dahulu dan kenapa?

Apakah ada sosok guru saat sekolah yang pernah memberi nasehat yang hingga saat ini
ibu dan bapak guru ingat? Misalnya sosok guru yang dikagumi selalu bertutur kata lembut,
guru yang selalu menyimak pendapat kita, atau guru yang selalu menyemangati kita.

Apakah ada momen yang menjadi titik balik, misalnya ada guru yang memberi tugas
lalu membuat ibu dan bapak guru menemukan kemampuan tersembunyi dalam diri? Apakah
ada sosok guru yang memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan membuat ibu
bapak ingat hingga saat ini?

B. Modul 2 Mendidik dan Mengajar

1. Materi Mendidik Menyeluruh

Salam dan bahagia Ibu dan Bapak guru. Selamat datang di Modul Mendidik dan
Mengajar. Modul ini terdiri dari beberapa materi yang akan kita pelajari bersama. Kali ini kita
akan membahas materi mendidik menyeluruh berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
agar kita dapat memahami gagasan-gagasan Dewantara mengenai tujuan pendidikan nasional.

Ibu dan Bapak guru, pemahaman terhadap kata “pendidikan dan pengajaran” kadang
masih membingungkan. Penggabungan istilah tersebut dapat mengaburkan pengertian yang
sesungguhnya. Pengajaran adalah suatu cara menyampaikan ilmu atau manfaat bagi kehidupan
anak-anak secara lahir maupun batin. Maka, pengajaran merupakan salah satu bagian dari
pendidikan. Sama halnya dengan mengajar yang merupakan salah satu bagian dari mendidik.
Sementara Pendidikan adalah tempat menaburkan benih-benih kebudayaan yang hidup dalam
masyarakat sekaligus sebagai instrumen tumbuhnya unsur peradaban agar kebudayaan yang
kita wariskan kepada anak cucu kita di masa depan.

Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan yaitu tuntunan dalam
hidup tumbuhnya murid. Maka mendidik adalah menuntun segala kodrat yang ada pada murid
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik itu
sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Ibu dan Bapak guru, murid diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kodrat untuk
mereka hidup dan tumbuh. Pendidik tidak dapat menentukan dan berkehendak akan hidup
tumbuhnya murid. Yang bisa pendidik lakukan adalah menuntun tumbuh atau hidupnya
kekuatan-kekuatan itu dengan mengerahkan segala daya upaya untuk memajukan
perkembangan budi pekerti, pikiran, dan jasmani murid agar dapat memperbaiki perilakunya
bukan dasar hidup dan tumbuhnya itu.

Sebagai pendidik kita perlu cermat dalam menempatkan pendidikan pikiran murid
sesuai dengan konteks pendidikan nasional berdasarkan garis-garis bangsanya atau kultural
nasional yang akan melengkapi, mempertajam, dan memperkaya pendidikan keterampilan
berpikir murid. Setiap murid memiliki kekuatan kekuatan yang memerlukan tuntunan orang
dewasa. Menuntun potensi murid bertujuan agar ia semakin baik adabnya dan untuk
mendapatkan kecerdasan yang luas sehingga ia terlindungi dari pengaruh-pengaruh yang dapat
menghambat bahkan melemahkan tumbuhnya potensi atau kekuatan dirinya.

Sebagai orang dewasa kita dapat berupaya membangun dan menjaga suasana
lingkungan yang kondusif agar setiap murid dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan
kodratnya. Seumpama dua garis yang saling tarik-menarik dan saling mempengaruhi yang pada
akhirnya berujung menjadi satu. Dua garis itu adalah garis dasar yang menggambarkan potensi
dari murid dan garis keadaan yang menggambarkan kesempatan untuk berkembang. kedua
garis ini saling berhubungan yang menurut ilmu pendidikan disebut konvergensi.

Guru dapat memberikan praktek pembelajaran yang mengembangkan kerjasama,
empati menghargai sesama dan berkontrIbusi sosial kepada sesama. Sehingga murid dapat
menemukan dan terbekali dengan kebudayaan kebudayaan bangsa yang jika terus-menerus
ditumbuhkan. Maka kebudayaan bangsa akan semakin kuat dan tentu saja akan membantu
murid atas kehidupan dan penghidupannya. Dan yang paling utama dan yang paling penting
yang dapat membantu keberlangsungan hidup sebagai bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana dengan pembelajaran di kelas kita saat ini. Apakah kita sudah mendidik
anak dengan menyeluruh atau mungkin kita hanya sebatas mengajar? Mari kita refleksikan
bersama-sama. Asalam dan bahagia Ibu Bapak guru hebat.

2. Materi Pendidikan Selama Satu Abad

Selamat datang kembali di Modul Mendidik dan Mengajar. Kali ini kita akan mengulas
Materi Pendidikan Selama 1 Abad, melihat perjalanan Pendidikan Nasional dari sudut pandang
Ki Hajar Dewantara mengenai cita-cita sistem Pendidikan Nasional.

Ibu dan Bapak guru, metode pengajaran di zaman kolonial Belanda yang menggunakan
sistem pendidikan perintah dan sanksi, tanpa sadar masuk ke dalam warisan cara guru-guru
kita mendidik murid-muridnya. Bahkan mungkin sampai saat ini praktek itu masih saja
berlangsung. Misalnya masih ditemukan kasus kekerasan pada murid di sekolah. Murid
mendapat hukuman atau sanksi ketika mereka belum atau tidak mengerjakan perintah dari
guru.

Nah fokus pada orientasi kognitif ini menyebabkan perkembangan kecakapan sosial
emosional mulai terabaikan. Di sisi lain, jika murid belum mampu memenuhi tuntutan-
tuntutan ujian sumatif yang sangat berat tidak jarang murid-murid kita mendapat penghakiman.
Mereka ini dianggap gagal dalam belajar.

Sistem pendidikan di zaman kolonial Belanda didasarkan atas diskriminasi yaitu
adanya perbedaan perlakuan terhadap anak-anak pribumi untuk mendapatkan pendidikan yang
sifatnya masih materialistik individualistik dan intelektualistik. Hal ini bertentangan dengan
keadaan dan kebudayaan bangsa timur. Sebagai perlawanan terhadap sistem yang diskriminatif
ini Ki Hajar Dewantara menggagas perlunya sebuah sistem pendidikan yang humanis dan
transformatif yang dapat memelihara kedamaian dunia.

Ki Hajar Dewantar perkenalkan sistem among yaitu yang dikenal dengan slogannya
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Ing Ngarso Sung
Tulodo seorang guru haruslah berkomitmen menjadi seorang teladan. Ia harus memberikan
contoh yang baik. Ing Madyo Mangun Karso seorang guru haruslah membangkitkan atau
menguatkan semangat murid-muridnya bukan orang yang melemahkan semangat. Dan Tut
Wuri Handayani seorang guru haruslah memberikan dorongan atau menjadikan murid-
muridnya orang-orang yang mandiri atau orang-orang yang merdeka yang tumbuh kembang
secara maksimal.

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yang sesuai dengan bangsa kita adalah
pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Pemikiran Ki Hajar Dewantara
tersebut adalah gagasan yang melampaui zamannya, dimana beliau hidup dan masih relevan
hingga masa sekarang ini. Terbukti atas kepribadian bangsa Indonesia yaitu yang mengandung
harkat diri dan kemanusiaan yang menjadi landasan praktek pendidikan saat ini. Tidak hanya
di Indonesia tapi juga di negara-negara lain. Maka kita sebagai pendidik harus dapat
menghayati pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yang humanis yang terbukti
masih relevan bahkan hingga masa kini dan akan mampu mengantarkan murid siap mengisi
zamannya kelak.

Untuk mencapai semua dasar utama yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu
kemerdekaan setiap murid yang mampu mengatur dirinya sendiri agar murid-murid
berperasaan, berpikiran, dan bekerja merdeka dalam ketertiban bersama demi mewujudkan
cita-cita Pendidikan Nasional. Pendidikan Nasional yang berdasarkan pada garis-garis
kebudayaan bangsanya untuk berkehidupan mengangkat derajat rakyat dan negerinya serta
setara bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain demi kemuliaan umat manusia di dunia. Maka,
pendidikan yang memerdekakan murid lah yang dapat menjadi pegangan kita sebagai pendidik
untuk dapat mewujudkannya.

Mari kita renungkan Bersama : Apakah kita sudah mempraktekkan pembelajaran sesuai
dengan cita-cita sistem Pendidikan Nasional yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara? Langkah
apa yang dapat kita lakukan untuk bersama-sama kita bisa mewujudkannya? Salam dan
bahagia Ibu dan Bapak guru hebat.

3. Materi Menjadi Manusia (Secara) Utuh

Selamat datang kembali di Modul Mendidik dan Mengajar. Kita akan meneruskan
Materi Tentang Menjadi Manusia Secara Utuh. Agar kita dapat memahami prinsip dasar untuk

mencapai tujuan pendidikan yaitu menjadi manusia yang seutuhnya berdasarkan pemikiran Ki
Hajar Dewantara.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki dua bagian utama
pada tubuhnya yaitu badan jasmani atau lahir dan badan rohani atau batin. Atas karunia Tuhan
Yang Maha Esa pula, manusia memiliki akal yang digunakan untuk berpikir untuk merasa dan
berkarya. Bersatunya pikiran, perasaan, dan kehendak dapat menimbulkan daya dan
memunculkan budi pekerti yang menandakannya sebagai manusia merdeka yaitu manusia yang
dapat memerintah dan menguasai dirinya atau mandiri dan itulah kodrat sebagai manusia.
Sehingga agar manusia mengetahui kebutuhan lahir dan batinnya sendiri, kita sebagai pendidik
dapat membantu murid untuk memenuhi kebutuhan keduanya agar mencapai keseimbangan
dalam menjalani kehidupan.

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah berdaya tempat persemaian benih-
benih kebudayaan. Budaya yang hidup dalam masyarakat dan daya upaya untuk memajukan
perkembangan budi pekerti pikiran dan jasmani.

Manusia Merdeka perlu memiliki modal keterampilan berpikir atau bernalar yang baik.
Keterampilan berpikir atau bernalar membutuhkan proses sepanjang hayat. Proses mengasah
nalar atau keterampilan berpikir murid menurut Benjamin Bloom dan Anderson yang disebut
level kognitif yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis. Mengevaluasi, dan
mencipta. Sesuatu dapat difasilitasi dalam proses pembelajaran di semua jenjang pendidikan
paud, dasar menengah dan tinggi.

Dan juga perlu disadari bagi kita sebagai pendidik bahwa semua level kognitif dari
mulai mengingat sampai mencipta atau mengkreasi ini dapat dicapai pada semua jenjang
pendidikan, dimana kedalaman dan kompleksitas pembelajaran dapat disesuaikan dengan
tahap-tahap perkembangan. Beberapa ahli berpendapat proses pembelajaran kepada murid
tidak harus dimulai pada tingkat kognitif atau keterampilan berpikir yang mengingat, tapi dapat
juga diterapkan pembelajaran yang terintegrasi dengan urutan level kognitif atau keterampilan
berpikir yang cocok digunakan dalam pembelajaran. Maka tujuan pendidikan untuk mengasah
nalar murid dapat terwujud sebagai bekal pengembangan pendidikan budi pekerti murid.

Mari kita renungkan bersama : Apakah kita sudah menjadikan murid-murid kita
manusia seutuhnya? Apakah kita sudah membantu memberikan asupan kebutuhan lahir dan
batin murid? dan Bagaimana cara kita untuk mendampingi untuk mengasah keterampilan
bernalar murid dengan sebaik-baiknya? Salam dan Bahagia, Ibu dan Bapak Guru Hebat!!!!

C. Modul 3 Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh

1. Materi Kodrat Murid

a. Kodrat Keadaan

Modul Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh terdiri dari beberapa materi.
Kali ini kita akan mengulas materi kodrat keadaan agar kita dapat memahami kodrat keadaan
pendidikan yang sesuai dengan zaman berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Kodrat
keadaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dasar pendidikan murid. Kodrat
keadaan terdiri dari dua hal yaitu kodrat alam dan kodrat zaman.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwan segala perubahan yang terjadi pada murid
dihubungkan dengan kodrat keadaan, baik alam maupun zaman. Lalu, bagaimana cara kita
menghubungkan dasar pendidikan murid dengan kodrat alam dan kodrat zaman? Kodrat alam
adalah dasar pendidikan murid yang berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana
mereka berada. Murid dengan kodrat alam perkotaan sejatinya dilihat sebagai bagian dari
masyarakat perkotaan. Maka, pembelajaran yang diterima murid sebaiknya mampu membantu
mendekatkannya dengan konteks atau kodrat alamiah bukan sebaliknya malah menjauhkannya.

Guru berperan sebagai penghubung murid dengan sumber-sumber belajar yang ada
disekitar murid atau di sekolah maupun dengan sumber-sumber belajar digital yang mengaitkan
setiap materi dengan konteks di mana murid hidup. Misalnya, materi menjaga kelestarian alam,
dikonteskan dengan merawat pohon karet agar produksi getahnya semakin baik kualitasnya
dengan membersihkan gulma atau tanaman pengganggu pohon karet. Pembelajaran
kontekstual dan peran guru sebagai penghubung sangat dibutuhkan murid karena itu akan
membantu mereka menguatkan kekuatan-kekuatan kodratnya.

Sementara kodrat zaman adalah bagian dasar pendidikan murid yang berhubungan
dengan isi dan irama. Isi dan irama pendidikan bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan
zaman. Muatan pendidikan dan cara belajar dikala kita sebagai murid pasti berbeda dengan
zaman saat ini. Pendidikan setelah masa kemerdekaan tentu juga berbeda dengan pendidikan
pada abad ke-21. Maka, kita pendidik bergegas beradaptasi terhadap kodrat zaman untuk
membantu murid mencapai selamat dan bahagia.

Perubahan zaman merupakan keniscayaan yang tidak mungkin dihindari dan dicegah.
Perubahan zaman pun akan datang sendiri tanpa diminta. Namun, banyak dari kita yang belum
menyadari akan hal itu. Kenyamanan-kenyamanan yang dirasakan saat ini akan diselimuti
kegelisahan-kegelisahan akibat perubahan zaman. Misalnya, kemajuan pesat teknologi

membuat cara belajar dan berinteraksi murid juga berubah. Jika tidak kita siapkan dan
beradaptasi dengan baik maka, murid-murid mungkin tidak akan mampu hidup berdampingan
dengan perubahan zaman.

Seiring dengan perubahan yang terjadi dalam pendidikan secara global, Ki Hadjar
Dewantara mengingatkan bahwa pengaruh-pengaruh dari luar hendaknya tetap dipilah, mana
yang sesuai dengan kearifan lokal, sosial, budaya Indonesia. Namun di era berlimpahnya
informasi saat ini, kita pendidik tidak bisa membatasi, menolak, dan memilih informasi-
informasi secara langsung. Pengaruh-pengaruh luar sangatlah banyak dan terus-menerus
membanjiri halaman kita.

Cara merespon banyaknya pengaruh luar tersebutlah yang menjadi perhatian kita
sebagai pendidik. Dengan begitu maka sebagai pendidik, kita juga dapat membantu
memberikan pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan kecakapan tersebut. Dengan
begitu banyaknya informasi yang datang, kita tidak bisa benar-benar menyaring mana yang
diterima oleh murid. Karena ia bisa mendapatkan informasi dari mana saja. Yang dapat
dilakukan pendidik adalah membantu anak untuk menemukan kecakapan berpikir kritis dalam
menerima dan merespon informasi.

Penanaman budaya kearifan lokal yang logis dapat membantu murid menjadi bijak
dalam kehidupannya. Jika kita dapat memegang kuat kearifan lokal budaya indonesia. Kita
juga akan mampu merespon pengaruh- pengaruh luar dengan bijak. Sehingga adopsi muatan
dan konten pengetahuan akan sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial
budaya yang ada di Indonesia. Bahkan semakin menguatkannya menjadi kodrat alam dan
kodrat zaman dalam mendidik murid-murid kita.

Untuk mewujudkan dan menjaga itu semua diperlukan prinsip-prinsip dalam
melakukan perubahan. Ki Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai Asas Tricon : Kontinyu,
Konvergen, dan Konsentris. Kontinyu, kemajuan kebudayaan merupakan keharusan lanjutan
langsung dari kebudayaan itu sendiri. Konvergensi kebudayaan menuju arah kesatuan
kebudayaan dunia atau kemanusiaan. Konsentris kebudayaan harus mempunyai karakteristik
dan sifat kepribadian sendiri sebagai pusatnya dalam lingkungan kebudayaan dunia atau
kemanusiaan.

b. Kodrat Alam

Salam dan bahagia ibu dan bapak guru hebat. Selamat datang kembali di modul
Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh. Kali ini kita akan meneruskan materi
belajar tentang kodrat alam agar dapat memahami bahwa setiap murid adalah individu yang
utuh dan unik berdasarkan tujuan dan asas pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Kodrat alam merupakan bagian dari dasar pendidikan murid yang berkaitan dengan
sifat dan bentuk lingkungan tempat murid berada. Salah satu instrumen untuk
pengembangannya adalah melalui pendidikan atau tuntunan. Kita sebagai pendidik dapat
merencanakan pengembangan kemampuan berpikir murid agar akal budi murid terus
berkembang sesuai kodrat alam nya. Melihat murid sebagai individu yang utuh, bagian dari
masyarakat, serta lingkungannya menjadi keharusan bagi tumbuh dan hidupnya murid.

Kita tidak dapat memandang murid sebagai bagian yang terpisah dari lingkungannya.
Proses tumbuh dan hidupnya murid sangatlah beragam. Potensi setiap anak berkembang dari
tahapan yang sederhana menuju tahapan yang lebih kompleks. Kodrat yang dimiliki setiap
murid tidak sama. Setiap anak memiliki kekuatan kodratnya. Bahkan, anak kembar identik pun
memiliki kodrat masing-masing. Oleh karenanya, murid sebagai individu yang unik yang
berbeda satu dari yang lain harus mendapatkan tuntunan yang tepat sesuai dengan keunikannya.
Sehingga murid dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Kita pendidik sebaiknya
membantu mendekatkan murid dengan konteks kehidupannya bukan sebaliknya menjauhkan
mereka dari konteks kehidupannya. Begitu pula dengan potensi atau kekuatan yang ada pada
murid. Ada murid yang memiliki kekuatan atau potensi pada bidang seni, ada juga murid yang
memiliki potensi bahasa maka, kita sebagai pendidik perlu memiliki kepekaan dan kemampuan
untuk mengidentifikasi keunikan yang ada pada setiap murid agar segala kodrat dan
keunikannya mendapatkan tuntunan yang tepat dan dapat membantu mereka mencapai selamat
dan bahagia.

Sebagai pendidik kita dapat menggunakan metode, strategi, dan teknik pembelajaran
sesuai keunikan potensi masing-masing murid untuk membantu mereka mengembangkan
kekuatan kodratnya. Dengan demikian murid akan merasa leluasa untuk mengeksplorasi
potensinya dan menemukan pengalaman-pengalaman belajar yang bermakna. Contohnya, yang
memiliki potensi seni diberi kesempatan atau ruang untuk menyelenggarakan pertunjukan seni
dengan tema yang dikaitkan dengan peminatan murid atau disesuaikan dengan pembelajaran
tertentu.

Ibu dan bapak guru mari kita resapi bersama : Apakah kita sudah melihat murid sebagai
individu yang utuh bagian dari alam semesta? Apakah kita sudah peka dan mampu menemukan
keunikan dari setiap murid kita? Apakah kita sudah memberikan tuntunan yang sesuai dengan
keunikan murid kita? dan yang paling penting Apakah pembelajaran yang kita rancang sesuai
dengan kehendak murid dan mendekatkan murid dengan konteks kehidupan dan segala
potensinya. Selamat belajar ibu dan bapak guru hebat.

c. Kodrat Zaman

Kali ini kita akan mengulas materi tentang kodrat zaman agar kita dapat memahami
tujuan dan asas pendidikan sesuai zaman berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Pendidikan bergerak sangat dinamis mengikuti perkembangan zaman. Kodrat zaman
merupakan bagian dari dasar pendidikan murid yang berkaitan dengan isi dan irama.

Selain kodrat alam, Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan dalam melakukan
pembaharuan yang terpadu hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak
didik baik mengenai hidup diri pribadinya maupun kemasyarakatannya jangan sampai
meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam
maupun pada zaman. Sementara itu segala bentuk isi dan irama yaitu cara mewujudkannya
hidup dan penghidupannya hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas
kehidupan kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan.

Ki Hadjar Dewantara ingin mengingatkan kita para pendidik untuk menuntun murid
mencapai kekuatan-kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman menggunakan asas
tricon yaitu kontinyu, konvergen, dan konsentris. Kontinyu, pendidik menuntun murid dengan
perencanaan dan pengembangan secara berkesinambungan menyatu dengan alam masyarakat
Indonesia untuk mewariskan peradaban. Konvergen, pendidik menuntun murid dengan
pemikiran terbuka terhadap segala sumber belajar, mengambil praktek-praktek baik dari
kebudayaan lain, dan menjadikan kebudayaan kita bagian dari alam universal. Konsentris,
pendidik menuntun murid dengan berdasarkan kepribadian karakter dan budaya kita sendiri
sebagai pusatnya.

Asas tricon diyakini mampu menghadapi derasnya arus perubahan kodrat zaman seperti
abad ke-21 secara global. Pendidikan saat ini ditekankan untuk menuntun anak memiliki
keterampilan abad ke-21 yaitu berpikir kritis dan solutif, kreatif dan inovatif, serta mampu
berkomunikasi dan berkolaborasi. Meskipun demikian pengaruh pengaruh global harus
disaring. Seleksi menggunakan kekuatan utama bangsa Indonesia yaitu kearifan local, sosial

budaya sehingga isi dan irama pendidikan berupa konten atau muatan pengetahuan yang
diadopsi selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di
Indonesia. Maka, cara mendidik pun harus sesuai dengan tuntutan zaman.

2. Materi Trikon

Pendidikan adalah suatu proses yang dinamis. Pendidikan terus berubah dan
berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan juga kondisi murid. Jangan dibayangkan sistem
pendidikan sebagai sebuah sistem besar yang hanya dipikirkan dan diurus oleh para pakar dan
penentu kebijakan di pusat. Sekolah atau bahkan kelas juga merupakan suatu system
pendidikan dengan ruang lingkup yang kecil namun merupakan ujung tombak berjalannya
sistem pendidikan.

Setiap sekolah memiliki kondisi dan permasalahan masing-masing sehingga
pengembangan satu sekolah dengan sekolah lain sangat beragam sesuai karakteristik
lingkungannya. Misalnya, kondisi geografis Indonesia yang beragama mendorong proses
pendidikan yang dinamis. Sekolah yang berada di lingkungan pantai dapat
mengkontekstualkan proses pendidikannya sesuai dengan lingkungan pantai tempat murid
tinggal seperti menanam pohon bakau untuk mencegah abrasi pantai. Begitu pula sekolah yang
berada di pegunungan, guru dapat mengajak murid untuk menjaga pohon agar terhindar dari
bahaya tanah longsor.

Dengan demikian guru memfasilitasi proses belajar murid sesuai dengan keadaan
lingkungan murid dan potensi yang dimiliki. Sehingga murid dapat melihat hubungan antara
dirinya dengan lingkungan, masalah, serta potensi yang terhubung pada dirinya dengan proses
pendidikan yang berjalan sangat dinamis. Budaya, kebudayaan, atau cara hidup bangsa itu
bersifat kontinyu; bersambung tak putus-putus. Dari zaman penjajahan sampai zaman
kemerdekaan, perkembangan dan kemajuan kebudayaan serta cara hidup bangsa terus
menerima pengaruh nilai-nilai baru.

Proses pembelajaran sejatinya tidak pernah putus. Usaha sadar yang menikmati setiap
proses belajar karena dilakukan sukarela. Kemauan belajar, rasa ingin tahu, dan motivasi
internal dalam diri murid perlu distimulasi. Sehingga, akan melahirkan murid yang memiliki
kemampuan pengaturan kegiatan belajarnya sendiri atau self-regulatory learning.

Proses dialog yang terjadi memberikan ruang kepada murid untuk mengekspresikan
rasa yang ia miliki dan temukan. Kemudian jika ada murid yang merasa tidak tertarik dengan
lingkungan sekolah yang sedang dikunjungi, guru bisa berdialog mengenai lingkungan seperti

apa yang ingin murid kunjungi dan menarik untuknya. Guru memfasilitasi murid untuk
menentukan tujuan apa yang ingin dipelajari, memantau proses pembelajaran yang dilalui, dan
membimbing murid untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar yang telah dilalui
murid agar ia dapat memahami hubungan dirinya dengan lingkungannya, peran dan tugasnya
di dalam lingkungan tersebut, serta kontribusinya dalam menjaga lingkungan.

Dalam dunia pendidikan pun banyak system pendidikan yang masuk ke Indonesia tidak
lantas kita terima mentah-mentah. Kita perlu mengolahnya dan hanya menerima yang sesuai
dengan nilai-nilai kebangsaan. Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara menggambarkan manusia
sebagai titik kecil yang kemudian bersama dengan yang lain membentuk lingkaran besar atau
keluarga, dan menjadi lingkaran yang lebih besar lagi atau organisasi. Pengembangan
pendidikan yang dilakukan harus tetap berdasarkan kepribadian kita sendiri. Oleh karena itu
meskipun Ki Hajar Dewantara menganjurkan kita untuk mempelajari kemajuan bangsa lain
namun tetap semua itu ditempatkan secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai
pusatnya.

Implementasi konsep trikon ; kontinyu, konvergen, dan konsentris; bisa kita amati atau
bahkan kita refleksikan dari apa yang sudah terjadi dalam proses pembelajaran. Manajemen
kelas yang mengatur berjalannya proses pembelajaran tentunya melalui sebuah perencanaan
dan dilakukan secara terus- menerus sehingga pengelolaan perilaku, lingkungan, dan
kurikulum berjalan dengan efektif. Konsisten dalam menjalankan manajemen kelas ini, salah
satu contoh implementasi asas kontinu dalam pendidikan. Murid diberikan kemerdekaan untuk
belajar, bertanya, dan mengembangkan potensinya.

Kesinambungan manajemen kelas yang konsisten memberikan ruang kepada murid
untuk mengeksplorasi gagasan, ide, dan kreativitasnya. Seringkali pembelajaran STEAM ini
dipahami sebagai pembelajaran menggunakan teknologi tinggi seperti robotic komputasi atau
codding. Padahal, bisa diartikan lebih luas seperti teknologi fermentasi tempe, teknologi
pewarnaan batik, ataupun teknologi pengawetan makanan, seperti pembuatan ikan asin atau
ikan asap.

Dengan memahami konsep pembelajaran STEAM maka guru dapat menyesuaikan
keinginan belajar murid dengan kondisi ketersediaan daya dukung untuk belajar dengan tetap
menghadirkan nilai-nilai local. Meskipun metode pembelajaran dalam pendidikan bisa
mengacu pada konsep manapun secara terbuka, tapi hal itu tetap harus dilakukan secara
konsentris yaitu tetap mempertahankan jatidiri bangsa dan menjadi diri sendiri.

D. Modul 4 Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti

1. Budi Pekerti

Kita dapat melihat perpaduan antara pengetahuan atau wawasan tentang kejujuran
(kognitif) dan perasaan yang mengikutinya seperti ia merasa gelisah jika ia berperilaku tidak
jujur atau melihat perilaku ketidakjujuran disekitarnya (afektif) yang kemudian menghasilkan
watak atau budi pekerti jujur yang ditampilkan (psikomotorik). Bagian biologis adalah bagian
yang berhubungan dengan rasa seperti rasa takut cemas, gelisah, putus asa, tidak percaya diri,
senang, bahagia, kecewa, sedih dan sebagainya.

Disamping itu terdapat juga bagian intelijen yaitu bagian yang berhubungan dengan
kemampuan kognitif atau kemampuan berpikir menyerap pengetahuan. Kedua bagian watak
atau budi pekerti inilah yang dijadikan dasar penjelasan Ki Hajar Dewantara mengenai kertas
yang bertuliskan tulisan samar di dalam pendekatan teori konvergensi. Lalu, bagaimana budi
pekerti atau watak bisa terbentuk?

Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa keluarga merupakan tempat utama dan
yang paling baik dalam melatih karakter anak atau murid. Keluarga menjadi tempat anak atau
murid dalam proses menyempurna menjadi sempurna, sebagai laboratorium awal dan utama
melatih kecerdasan budi pekerti anak agar siap menjalani hidup dalam masyarakat. Kita
sebagai pendidik, di sekolah ikut turut serta berperan membantu murid untuk menemukan
kecerdasan budi pekerti dengan tuntunan dan teladan yang sesuai dengan kebutuhan murid.
Seseorang yang mempunyai kecerdasan budi pekerti akan senantiasa memikirkan, merasakan,
dan mempertimbangkan setiap perilaku yang ditampilkannya.

Pendidikan sangat erat kaitannya dengan bagian intelijenbell dari budi pekerti karena
berhubungan dengan kecerdasan pikiran atau berpikir murid yang dapat berubah dari waktu ke
waktu serta keadaan tertentu. Murid dapat menumbuhkan kecakapan berpikir atau pikiran
dengan baik karena pengaruh keadaan. Salah satu yang mempengaruhinya mungkin saja kita
sebagai pendidik yang senantiasa menuntun tumbuhnya kecerdasan pikiran murid. Bukankah
kita ketika masih anak-anak saat berusia sekitar 3-4 tahun, kita sedikit demi sedikit berproses
memahami sesuatu menggunakan panca indera.

Sebagai pendidik, tentu kita menemukan berbagai macam watak murid setiap harinya
dikelas. Menemani proses belajarnya, mendampingi tumbuhnya kecerdasan pikirnya, dan
membantu murid menemukan budi pekerti atau watak baiknya, serta membantu murid
mengendalikan dan memperbaiki watak atau budi pekerti yang kurang baik. Misalnya di kelas

kita menemukan murid yang belum mampu membaca, menulis dan berhitung. Apakah kita
dapat membantu murid untuk mampu membaca, menulis, dan berhitung? Dengan tuntunan dan
dampingan yang tepat, kita dapat mengupayakan yang terbaik agar murid mampu memahami
dan memaknai pentingnya membaca, menulis, dan berhitung bagi dirinya sehingga bisa
menuntun murid untuk mampu menguasainya.

Contoh lain ketika kita dikelas menemukan murid yang sangat pemalu untuk
mengungkapkan pendapatnya. Apakah kita dapat membantunya memunculkan kesadaran akan
pentingnya menjadi lebih berani untuk mengemukakan pendapatnya di kelas? Kita dapat
membantunya untuk menggali potensi kecerdasan budi pekerti di dalam dirinya dengan
membuatnya sadar alasan dan tujuan mengapa penting untuk berani. Akal mengasah perasaan
dan perilaku yang membuatnya berfikir. Rasa dan memunculkan kehendak. Karsa untuk
kemudian mempertimbangkan perilaku, berani mengungkapkan pendapatnya.

Pendidik harus mampu memahami kemampuan kodrat anak atau murid sebagai
individu yang sadar mampu memikirkan, memahami, merasakan, berempati, berkehendak, dan
bertindak semestinya dapat kita tanamkan dalam benak kita sebagai pendidik. Agar murid
mampu berfleksi memberikan makna dari pengalaman-pengalamannya untuk mengenal
dirinya. Maka murid dapat menjadi “manusia atau individu yang merdeka” berakal budi yang
menentukan keberadaan dan jatidirinya.

2. Teori Konvergensi dan Pengaruh Pendidikan

Apakah betul kita sebagai pendidik lebih tahu apa yang diinginkan oleh murid? Teori
konvergensi didasarkan atas dua teori utama. Yang pertama TEORI TABULARASA yang
beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas kosong yang dapat diisi dan ditulis oleh pendidik
dengan pengetahuan dan wawasan yang diinginkan pendidik. Yang kedua TEORI NEGATIF
yang beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas yang sudah terisi penuh dengan berbagai
macam coretan dan tulisan. Dua teori yang dikenal juga sebagai aliran daya pendidikan ini
tidak serta-merta membuat Ki Hadjar Dewantara menganggapnya mutlak sebagai suatu
kebenaran, tetapi Ki Hadjar Dewantara memberikan pandangan baru dengan menggabungkan
atau mengintegrasikan kedua pendekatan teori tersebut menjadi suatu pendekatan yang disebut
dengan teori konvergensi.

Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa kode manusia sebagai suatu kertas yang sudah
terisi dengan tulisan-tulisannya samar dan belum jelas arti dan maksudnya. Maka tugas
pendidikan adalah membantu manusia atau individu untuk dapat menebalkan dan memperjelas

arti dan maksud tulisan samar yang ada di kertas tersebut dengan tuntunan terbaik. Teori
konvergensi merupakan pendekatan yang digunakan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam
menjelaskan tentang kertas bertuliskan tulisan samar dengan membagi budi pekerti atau watak
manusia menjadi 2 bagian yaitu bagian biologis dan bagian intelligible.

Rasa takut, rasa malu, rasa kecewa, rasa iri, rasa egoism, rasa berani, dan segala yang
berkaitan dengan perasaan dan jiwa manusia adalah bagian biologis yang tidak dapat berubah
dan menetap pada individu sejak anak-anak hingga dewasa. Sementara kecakapan dan
keterampilan pikiran, kemampuan menyerap pengetahuan adalah bagian intelligible yang dapat
berubah karena pengaruh keadaan dan lingkungan, termasuk salah satunya pengaruh
pendidikan.

Sebagai contoh, murid terbiasa makan makanan yang mengandung bahan-bahan kurang
sehat dan sudah menjadi suatu kebiasaan karena ketidaktahuan murid akan dampak perilaku
tersebut padahal dapat mengakibatkan terganggunya system pencernaan. Setelah diberikan
pengetahuan dan wawasan tentang makanan sehat dan zat aditif oleh guru, murid kemudian
sadar dan merasa prilakunya selama ini dapat membahayakan kesehatan dirinya sehingga
mereka lebihnberhati-hati dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.

Sebagai pendidik kita janganlah berputus asa Karena menganggap watak-watak yang
biologis, hidup perasaan itu tidak dapat dilenyapkan sama sekali. Tetapi kecerdasan intelligible
hidup angan-angan, dapat menutupi tabiat tabiat perasaan yang kurang baik. Namun perlu
diingat bahwa dengan kita sebagai pendidik dapat membantu murid untuk menguasai diri
secara tetap dan kuat sehingga murid akan dapat melenyapkan atau menyalahkan tabiat-tabiat
biologis yang kurang baik.

Melalui proses pendidikan kecerdasan budi pekerti murid akan bertumbuh dan
berkembang sehingga mampu mengendalikan tabiat asli dan watak biologis akan semakin
tersamar dan menebalkan watak-watak baik murid yang akan mewujudkan kepribadian dan
berbudi pekerti baik.

E. Modul 5 Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagiaan

1. Materi Mengantarkan Murid Selamat dan Bahagia

Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai bapak pendidika Nasional telah meletakkan
beberapa konsepsi sebagai dasar pendidikan nasional. Konsep pemikiran merdeka belajar
adalah poin utama dalam pemikiran-pemikiran beliau untuk menyelenggarakan pendidikan. Ki
Hajar Dewantara (KHD) berpendapat bahwa Pendidikan memberi tuntunan (menuntun)

terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota
masyarakat.

Dalam konsep belajar menurut KHD (2009), “pendidikan dan pengajaran merupakan
usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup
bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”. Ki Hadjar
menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak,
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik
sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat
menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat
memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”. Namun
tetap memperhatikan kodrat zaman dalam pengembangan kodrat alam seorang anak. Dengan
kata lain seorang anak diharapkan mampu tumbuh dengan baik di zaman millennial ini namun
tidak juga tercabut dari akar kebudayaannya.

Pendidikan bukan sesuatu yang menakutkan dengan banyaknya teori yang harus
dihapalkan dan dipelajari, namun pendidikan hendaknya menjadi tempat persemaian benih-
benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan
manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk
mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuh kembangnya nilai-nilai
kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Guru sebagai Pendidikan diharapkan mampu sebagai penuntun laku dan pertumbuhan
kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun.
Petani hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung, ia dapat memperbaiki kondisi tanah,
memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur
yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Petani tidak dapat memaksa agar
jagung tumbuh menjadi padi, begitu pun dengan pendidik. Pendidik hanya bisa menuntun dan
merawat tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodratnya. Bagaimana caranya seorang
pendidik bisa memberikan stimulus yang baik untuk siswa hingga menuntunya untuk bisa
memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Budi pekerti juga merupakan dasar pemikiran KHD, yakni perpaduan harmonis antara
pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat. Hal
ini menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan.

Budi pekerti merupakan modal dasar kebahagiaan yang berperi-kemanusiaan. Budi pekerti
merupakan kunci untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan hidup (harmoni).

Bermain bukan dalam artian belajar sambal bermain namun belajar dalam bermain.
Menurut KHD, permainan anak itulah pendidikan. Ki Hajar Dewantara (Pendidikan, halaman
241). Dalam hal ini pendidik harus memahami bahwa kodrat anak adalah bermain. Melalui
permainan, pendidik dapat menuntut tumbuh kembangnya kodrat anak dan mengembangkan
budi pekerti anak. Bermain dapat diintegrasikan sebagai bagian dalam pembelajaran di sekolah.

Pendidikan yang diterapkan haruslah berpusat pada murid atau menghamba
pada sang anak. Hal ini mengandung arti bahwa seorang pendidik harus lebih mementingkan
Sang Anak daripada karirnya sendiri. Segala sesuatu yang pendidik lakukan ikhlas dan berpusat
pada anak. Pendidik dengan niat ikhlas dan suci hati, terlepas dari segala ikatan berniat
menghamba pada Sang Anak.

Dasar pemikiran KHD yakni ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), ing
madya mangun karso (di tengah membangun semangat, kemauan), dan tut wuri handayani (di
belakang memberi dorongan). Namun semua yang dilakukan pendidik di sekolah tentu harus
juga berkolaborasi dengan lingkungan sekitar yakni orang tua dan masyarakat. Merdeka belajar
memberikan kebebasan kepada anak untuk berekpresi, berinovasi, berkarya dan berkolaborasi,
tanpa paksaan dan ancaman hukuman. Dalam merdeka belajar, setiap guru adalah murid dan
setiap murid adalah guru. Pendidikan dapat diperoleh dimana saja, kapan saja dan dari siapa
saja. Sekolah bukan satu-satunya tempat untuk memperoleh pendidikan.

2. Materi Sistem Among

Metode Pendidikan yang digunakan Ki Hajar Dewantara pada Perguruan Taman Siswa
yang didirikannya disebut system among. Isinya terangkum dalam asas yang sanhat mashyur,
yaitu “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”.

Menurut Ki Hajar Dewantara, seorang guru semestinya mampu menjadi pamong,
mendidik dengan welas asih sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan si anak. Sistem
pendidikan yang terbaik adalah yang mampu menumbuhkan disiplin dan pemahaman
mengenai kesejatian hidup dari dalam diri siswa sendiri.

Hal tersebut tidak dapat dicapai melalui metode yang menekankan pada perintah,
paksaan, dan hukuman seperti yang umum dipakai oleh pendidikan kolonial Belanda.

Sistem among memberikan kesempatan seluas-luasnya pada kemandirian siswa.
Peserta didik didorong untuk mengembangkan disiplin diri yang sejati, melalui pengalaman,
pemahaman, dan upayanya sendiri. Yang terpenting adalah menjaga agar kesempatan ini tidak
membahayakan si anak atau mengancam keselamatan orang lain.

Ki Hajar Dewantara juga menekankan agar para guru mendorong murid-muridnya agar
mengikuti jalur yang benar dengan cara mengilhami dan memotivasi mereka dengan pikiran
yang tepat.

Begitu para murid bergerak di jalur yang benar, hendaknya guru berusaha untuk
mengupayakan setiap peluang kemajuan bagi mereka tanpa banyak campur tangan.
Selanjutnya para guru tinggal mengamati kemajuan mereka.

Dengan demikian, pendidikan akan menghasilkan manusia yang merdeka, yang
berkembang secara utuh dan selaras dalam segala aspek kemanusiaannya serta mampu
menghargai dan menghormati manusia lain.

Sistem among bukan sekedar metode membimbing dan mendampingi murid belajar.
Lebih dari itu sebagai guru kita diharapakan memilki mindset among terlebih dahulu sebelum
memprkatikan metode among.


Click to View FlipBook Version