The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Booklet ini berisi tentang pengertian, faktor resiko, dampak negatif yang ditimbulkan serta langkah pencegahan anemia defisiensi zat besi yang sering dialami remaja putri

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Silvia Tw, 2020-12-15 09:21:55

Waspadai Dampak Negatif Anemia Defisiensi Zat Besi Yang Dialami Remaja Putri

Booklet ini berisi tentang pengertian, faktor resiko, dampak negatif yang ditimbulkan serta langkah pencegahan anemia defisiensi zat besi yang sering dialami remaja putri

Keywords: Anemia zat besi

WWaassppaaddaaii DDaammppaakk NNeeggaattiiff AAnneemmiiaa DDeeffiissiieennssii
ZZaatt BBeessii yyaanngg ddiiaallaammii RReemmaajjaa PPuuttrrii

Anemia defisiensi zat besi masih
menjadi permasalahan yang sering

ditemukan pada remaja

Silvia Tri Wahyu Christaputri
I1B019027

Keperawatan Reguler A 2019
Universitas Jenderal Soedirman

Anemia merupakan kondisi dimana
menurunnya jumlah hemoglobin dari
batas normal sehingga tidak dapat
memenuhi fungsinya untuk membawa
oksigen dalam jumlah yang cukup ke
jaringan perifer ( Indartanti & Kartini,

2014).

Anemia dapat

disebabkan banyak hal

Salah satunya Zat Besi Kejadian Anemia
diakibatkan merupakan defisiensi zat besi yang
karena kurang nya komponen penting terjadi pada remaja
zat besi dalam pada hemoglobin. putri usia 12-15 tahun
tubuh.
sebagian besar
diakibatkan karena pola
makan sebagian besar

remaja putri

Pola makan pada remaja putri dapat mempengaruhi status gizi. Status gizi yang
normal dapat dilihat dengan simbang tidaknya antara asupan,pengeluaran dan
kebutuhan. Status gizi pada remaja akan menjadi masalah jika tidak normal karena
status tidak gizi apabila dibiarkan tanpa ada kontrol dan tidak lanjut dalam
penangannya maka akan menjadi masalah kesehatan seperti terjadinya anemia
defisiensi zat besi (Waryana, 2010) dalam Jaelani, M. et al. (2017). Hal ini dapat
terjadi dikarenakan pola makan remaja putri sering mengonsumsi jajanan sekolah
sehingga tidak memperhatikan kecukupan nutrisi serta remaja putri sering sekali
menjaga berat badan/ bentuk tubuh dengan melakukan diet yang tidak benar.

FAKTOR RISIKO ANEMIA
DEFISIENSI ZAT BESI

Penelitian Sirajuddin (2015) dalam Leba et. al (2019) mengatakan bahwa
kebiasaan sarapan merupakan faktor risiko terjadinya anemia gizi, dan remaja
yang melewatkan sarapan beresiko 2,95 kali mengalami anemia.

Memiliki kebiasaan melewatkan sarapan berarti terjadi keterlambatan asupan
zat gizi (asupan gula dalam sel darah). Melewatkan kebiasaan sarapan sehat
juga membuat tubuh pada remaja putri mengalami kekurangan zat besi dalam
tubuhnya sehingga menyebabkan terjadinya anemia defisiensi zat besi.

FAKTOR RISIKO ANEMIA PENGETAHUAN IBU

DEFISIENSI ZAT BESI Pendidikan ibu berperan di dalam membangun kesehatan
keluarga (Gunatmaningsih, 2007 dalam Jaelani et. al, 2017). Ibu
HAID REMAJA PUTRI yang mempunyai tingkat pengetahuan baik akan lebih mudah
dalam menerima informasi tentang kesehatan, baik meliputi
Haid adalah pelepasan dinding pangan maupun dalam hal pengasuhan anak.
rahim(endometrium) yang disertai dengan
perdarahan dan terjadi setiap bulannya Pendidikan ibu merupakan modal utama yang berperan dalam
kecuali pada saat kehamilan. Usia 12-15 menyusun makanan keluarga atau gizi keluarga ,serta
tahun merupakan masa menstruasi awal pengasuhan dan perawatan anak. Pendidikan Ibu berperan
pada remaja putri. dalam pengetahuan ibu terhadap kebutuhan gizi anak remaja
putrinya, pengetahuan ibu remaja putri yang kurang dapat
Penelitian Febrianti, dkk (2013),menemukan membuat remahja putri mengalami gangguan kesehatan seperti
hubungan yang bermakna antara lama haid anemia.
dengan kejadian anemia pada remaja putri.
Remaja putri dengan lama haid >6 hari PENYAKIT KRONIS
dalam 1 siklus memiliki risiko anemia lebih
rendah jika dibandingkan dengan remaja Penyakit kornis yang diderita juga dapat menjadi
putri yang mengalami haid >6 hari. sebuah penyebab terjadinya anemia defisensi zat besi
pada remaja putri. Seperti adanya ulkus dilambung
atau kanker pada saluran pencernaan. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya pendarahan pada saluran
pencernaan. Dan pendarahan yang terjadi ini dakan
mempengaruhi tingkat zat besi dalam darah.

DAMPAK JANGKA PENDEK

Menurunnya Tingkat Tidak DAMPAK ANEMIA
dapat fokus
Perkembangan Kebugaran
Menurunnya
Motorik Menurunnya Menurun Kesehatan
Reproduksi
Prestasi

Belajar

Perkembangan Mental dan Tidak tercapainya tinggi badan
Kecerdasan Terhambat maksimal dan kekebalan menurun

Anemia gizi besi yang terjadi dikalangan remaja jika tidak
tertangani dengan baik dan benar akan berlanjut hingga dewasa.

Hal ini dapat memberikan kontribusi besar
terhadap:

LANGKAH PENCEGAHAN ANEMIA PADA
REMAJA PUTRI

Banyak mengonsumsi Menjaga status gizinya Banyak mengonsumsi
sayuran dan buah menjadi normal dengan makanan hewani
yang mengandung tetap menjaga asupan
tinggi zat besi baik kuantitas maupun seperti daging merah,
ayam dan ikan
kualitasnya

Melakukan pola makan Meningkatkan
yang sehat konsumsi zat besi
terutama pada saat
Melakukan diet yang mengalami menstruasi
sehat dan seimbang

Mempunyai kebiasaan Mengonsumsi obat Mengonsumsi tablet
sarapan yang baik cacing enam bulan tambah darah
dan benar pada
remaja putri sekali Mengonsumsi vitamin C

DAFTAR PUSTAKA

Jaelani, M. et al. (2017). Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada
Remaja Putri. Jurnal Kesehatan. 3(3):358-368

Sari, Hesti, P. et al. (2016). Anemia Gizi Besi pada Remaja Putri di Wilayah Kabupaten
Banyumas. Jurnal Kesmas Indonesia.8(1):16-31

Akib, A. & Sri Sumarmi. (2017). Kebiasaan Makan Remaja Putri yang Berhubungan dengan
Anemia : Kajian Positive Deviance. 1(2):105-116

Indartanti, D. & Aponia K. (2014). Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada
Remaja Putri. Journal of Nutrition College. 3 (2): 33-39

Leba, I. S. et al.(2019). Studi Kebiasaan Sarapan Pagi dan Pengaruhnya Terhadap Status
Anemia dan Prestasi Belajar Anak Sekolah di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir. Journal
of Community Health. 1(2):1-10


Click to View FlipBook Version