The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

buku saku hipertensi untuk awam

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alrock_barok, 2021-10-21 06:03:20

buku saku hipertensi

buku saku hipertensi untuk awam

Keywords: hipertensi,pendidikan hipertensi,buku saku,buku saku kesehatan

Allama Zaki Almubarok S.Kep., Ners.

BUKU SAKU
HIPERTENSI
UNTUK AWAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

i

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmatNya
Buku Saku Hipertensi untuk Awam telah selesai disusun,
penyusunan Buku Saku Hipertensi untuk Awam adalah
sebagai bahan informasi dan edukasi bagi pasien,
keluarga pasien, dan masyarakat dalam meningkatkan
pengetahuan tentang Hipertensi sehingga dapat
melakukan pencegahan, mengenali tanda dan gejala
serta melakukan upaya kuratif secara tepat dan
konsisten.
Buku Saku Hipertensi untuk Awa mini merupakan
rangkuman dari berbagai sumber dan referensi yang
diinovasi dalam bentuk bacaan yang ringan dan padat
sehingga mudah untuk dipahami.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada
semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan Buku Saku Hipertensi untuk Awam ini, dari
awal sampai akhir.

Yogyakarta, 17 Oktober 2021
Penulis

ii

DAFTAR ISI
COVER ............................................................................i
KATA PENGANTAR .........................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................iii
DAFTAR TABEL ...............................................................iv
DAFTAR GAMBAR ..........................................................v
PENGERTIAN HIPERTENSI ..............................................1
JENIS – JENIS HIPERTENSI ..............................................3
TANDA DAN GEJALA HIPERTENSI..................................5
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI ..........................................7
PENGENDALIAN HIPERTENSI.........................................10
KOMPLIKASI HIPERTENSI...............................................15
PENCEGAHAN HIPERTENSI ............................................19
GLOSARIUM ...................................................................22
DAFTAR PUSTAKA..........................................................24

iii

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi ....................................... 4

iv

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Hipertensi.............................................................2
Gambar 1.2 Hipertensi.............................................................2
Gambar 3.1 Nyeri Kepala .........................................................5
Gambar 3.2 Gejala Hipertensi..................................................6
Gambar 4.1 Diet Hipertensi ...................................................10
Gambar 5.1 Komplikasi Hipertensi.........................................18

v

PENGERTIAN HIPERTENSI

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular
kronis yang dapat dicegah. Hipertensi arteri sistemik
(selanjutnya disebut hipertensi) ditandai dengan tekanan
darah tinggi yang menetap di arteri sistemik. Tekanan
darah biasanya dinyatakan sebagai berbandingan
tekanan darah sistolik (yaitu, tekanan yang diberikan
darah pada dinding arteri saat jantung berkontraksi) dan
tekanan darah diastolik (tekanan saat jantung
berelaksasi). 1

Gambar 1.1 Hipertensi. Source: Halodoc.com
Satu dari delapan kematian di seluruh dunia
disebabkan oleh hipertensi dan menjadi urutan ke 3
penyebab kematian di dunia 2. Setiap tahun hipertensi

1

menyumbang kematian hampir 9,4 juta orang akibat
penyakit jantung dan stroke.

Gambar 1.2 Hipertensi, Source: alodokter.com
Menurut Kemenkes RI tahun 2017, hipertensi
adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg
pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima
menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang 3

2

JENIS – JENIS HIPERTENSI

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibedakan
menjadi 2 golongan yaitu sebagai berikut 4:
1. Hipertensi primer (esensial)
Hipertensi primer juga disebut dengan hipertensi
idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor
yang mempengaruhi hipertensi primer yaitu : keturunan,
lingkungan, hiperaktivitas saraf simpatis sistem renin.
Angiotensin dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor-
faktor yang meningkatkan risiko yaitu : Kegemukan,
merokok, alkohol, dan polisitemia.
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder disebabkan oleh penggunaan
estrogen, penyakit ginjal, dan hipertensi yang
berhubungan dengan kehamilan.

3

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi 5.

Tekanan darah

No Klasifikasi Sistolik Diastolik

1 Optimal <120 <80
2 Normal
3 High normal 120-129 80-84
4 Hipertensi
130-139 85-89
Grade 1 (ringan)
Grade 2 (sedang) 140-159 90-99
Grade (berat) 160-179 100-109
Grade 4 (sangat 180-209 109-119
berat)
>210 >120

4

TANDA DAN GEJALA HIPERTENSI

Tanda seseorang mengalami hipertensi adalah
ketika tekanan darah sistolik >140mmHg dan tekanan
darah diastolik >90mmHg pada dua kali pengukuran
dengan selang waktu 5 menit dengan keadaan tenang 3.

Gambaran klinis pasien hipertensi meliputi nyeri
kepala saat terjaga, kadang - kadang disertai rasa mual
dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah
intrakranial. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina

akibat hipertensi. Ayunan
langkah yang tidak mantap
karena kerusakan susunan
saraf pusat. Nokturia
karena peningkatan aliran
darah ginjal dan filtrasi
glomerulus.

Gambar 3.1 Nyeri Kepala

5

Sebagian besar penderita tekanan darah tinggi
umumnya tidak menyadari kehadirannya. Bila ada gejala,
penderita darah tinggi mungkin merasakan keluhan-
keluhan berupa: kelelahan, bingung, perut mual, masalah
pengelihatan, keringat berlebihan, kulit pucat atau
merah, mimisan, cemas atau gelisah, detak jantung keras
atau tidak beraturan, suara berdenging di telinga,

disfungsi ereksi, sakit
kepala, pusing6.

Gambar 3.2 Gejala Hipertensi

6

FAKTOR RISIKO HIPERTENSI

1. Genetik (keturunan)
Adanya faktor genetik pada keluarga

tertentu akan menyebabkan keluarga itu
mempunyai risiko menderita hipertensi. Memiliki
orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko
dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi
dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga
dengan riwayat hipertensi 7.
2. Obesitas

Berat badan merupakan faktor penentu
pada tekanan darah pada kebanyakan kelompok
etnik di semua umur. Menurut National Institutes
for Health USA 8, prevalensi tekanan darah tinggi
pada orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) >30
(gemuk) adalah 38% untuk pria dan 32% untuk
wanita, dibandingkan dengan prevalensi 18%
untuk pria dan 17% untuk wanita bagi yang
memiliki IMT <25 (status gizi normal/ tidak
gemuk).

7

3. Stres
Stres dapat meningkatkan tekanah darah

sewaktu. Hormon adrenalin akan meningkat
sewaktu kita stres dan hal tersebut bisa
mengakibatkan jantung memompa darah lebih
cepat sehingga tekanan darah pun meningkat 9.
4. Kurang olahraga

Olahraga banyak dihubungkan dengan
pengelolaan penyakit tidak menular, karena
olahraga teratur dapat menurunkan tahanan
perifer yang akan menurunkan tekanan darah dan
melatih otot jantung. Kurangnya aktivitas fisik
meningkatkan risiko tekanan darah tinggi karena
bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.
Orang-orang yang tidak aktif cenderung
mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot
jantung mereka harus bekerja lebih keras pada
setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung
harus memompa semakin besar pula kekuaan
yang mendesak arteri 9.

8

5. Pola asupan garam dalam diet
Badan kesehatan dunia yaitu World Health

Organization (WHO) merekomendasikan pola
konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko
terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang
direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100
mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram
garam) perhari. Konsumsi natrium yang berlebih
menyebabkan konsentrasi natrium di dalam
cairan ekstraseluler meningkat. 10.
6. Kebiasaan Merokok

Merokok menyebabkan peninggian
tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan
dengan peningkatan insiden hipertensi maligna
dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang
mengalami ateriosklerosis.

9

PENGENDALIAN HIPERTENSI

Pengendalian hipertensi meliputi 2 hal, yaitu
farmakologis dan non farmakologis. Tatalaksana non
farmakologis meliputi modifikasi gaya hidup.
Sedangkan tatalaksana farmakologis dilakukan
dengan mengonsumsi obat - obat antihiperensi.
Pengendalian faktor risiko antara lain:

Gambar 4.1 Diet Hipertensi
1. Makan Gizi Seimbang

Prinsip diet yang dianjurkan adalah gizi seimbang:
membatasi gula, garam, cukup buah, sayuran,
kacang - kacangan, biji - bijian, makanan rendah

10

lemak jenuh, unggas dan ikan yang berminyak.
Modifikasi makan ini berdasarkan Dietary
Approaches To Stop Hypertension (DASH).

Menurut Gunawan dan Leny11, diet
seseorang dengan hipertensi komponen bahan
makanan yang disarankan antara lain adalah:

a. Konsumsi padi, biji - bijan, seperti roti gandum
(ukuran satu porsi sekitar 1 lembar roti), nasi
(nasi coklat/merah jauh baik dari pada nasi
putih), pasta sereal (1 cup dalam kondisi
matang).

b. Sayuran sekitar 4 - 5 porsi/hari, seperti tomat,
wortel, brokoli, ubi, sayuran hijau yang kaya
akan serat, vitamin, kalium, dan magnesium.
Ukuran 1 porsi sekitar 100 gram dalam kondisi
mentah.

c. Buah sekitar 4 - 5 porsi/hari yang dapat
diberikan dalam bentuk snack ataupun
komponen makanan besar. Ukuran 1 porsi
buah sekitar 80-100 gram dalam kondisi segar.

11

d. Gula atau makan yang manis sekitar kurang
dari 5 porsi/minggu seperti gula pasir atau
selai, ukuran 1 porsi sekitar 1 sendok makan
peres.

e. Kacang, biji, legumes sebanyak 4 - 5
porsi/minggu seperti almond, biji bunga
matahari, kacang - kacangan, produk kedelai
(tahu, tempe) dimana ukuran 1 porsi kecil
kacang sekitar 2 sendok makan.

f. Produk susu rendah lemak (seperti susu,
yoghurt, keju) sebanyak 2-3 porsi/hari yang
digunakan sebagai sumber protein, vitamin D,
serta kalsium. 1 prosi susu sekitar 200 ml.

g. Daging tanpa lemak, ungags, dan ikan
sebanyak kurang dari 6 porsi/hari sebagai
sumber protein, vitamin B, zat besi, dan zinc.

h. Lemak dan minyak sebanyak 2 - 3 porsi/hari
atau sekitar 25-27% dari kebutuhan kalori
sehari. Adapun ukuran 1 porsi sekitar 1 sendok

12

teh. Pembagian penggunaan jenis lemak yang
diperbolehkan diantaranya adalah:
i. Alkohol hanya diijinkan sebanyak 1-2
gelas/hari, sedangkan kafein tidak dianjurkan
dalam diet DASH karena dapat meningkatkan
tekanan darah meskipun hanya sesaat. Selain
dengan mengontrol pola makan yang sehat
harus diseimbangkan dengan memperbanyak
aktivitas fisik agar target penurunan tekanan
darah dapat cepat tercapai.
2. Mempertahankan berat badan ideal

Mempertahankan berat badan ideal
sesuai dengan proporsi atau dengan Body Mass
Index (BMI) dengan rentang 18,5 - 24,9 kg/m2
12.Lingkar pinggang <90 cm untuk laki - laki atau
<80 cm untuk perempuan 3.
3. Terapi Farmakologi:

Pengobatan hipertensi bertujuan untuk
menurunkan tekanan darah dengan harapan
memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya

13

komplikasi. Pengobatan hipertensi adalah
pengobatan jangka panjang, bahkan pengobatan
seumur hidup. Untuk penderita hipertensi yang
baru terdiagnosis/kunjungan pertama maka
disarankan untuk melakukan kontrol ulang 4 kali
dalam sebulan13.
4. Latihan Fisik

Berolahraga seperti senam aerobik atau
jalan cepat selama 30 - 45 menit (3 km) lima kali
dalam seminggu dapat menurunkan TDS 4 mmHg
dan TDD 2,5 mmHg. Cara lainnya adalah relaksasi
seperti mediasi, yoga yang bertujuan untuk
menurunkan tekanan darah 14.

14

KOMPLIKASI HIPERTENSI

Berikut ini adalah beberapa penyakit komplikasi
dari penyakit hipertensi 15 :

1. Arteriosklerosis
Hipertensi dapat menyebabkan pergeseran,
penebalan, dan kekuatan pada pembuluh darah arteri
sehingga memungkinkan untuk rusak. Efek lanjutan
dari kerusakan dari pembuluh darah arteri ini adalah
gangguan sirkulasi darah yang mengarah pada
serangan jantung.

2. Aneurisma (pembuluh darah yang bengkak)
Hipertensi yang tidak terkendali bisa menyebabkan
pembuluh darah menjadi tipis dan mengembang, dan
mengakibatkan aneurisma. Hal ini bisa berakibat fatal
jika aneurisma pecah.

3. Gagal jantung
Apabila jantung memberikan tekanan yang terlalu
tinggi untuk mengalirkan darah, maka diperlukan
kerja jantung yang besar. Kondisi seperti ini akan

15

menyebabkan otot jantung menjadi lebih tebal, tetapi
jantung bekerja terlalu keras dalam waktu lama, maka
seiring berjalannya waktu otot jantung akan
mengalami kelelahan dan tidak mampu untuk bekerja
memompa darah secara optimal.
4. Stroke
Pecahnya aneurisma di otak bisa menyebabkan
stroke. Hipertensi yang tidak terkendali juga bisa
menyebabkan pembekuan darah di arteri karotis
(arteri di leher). Bekuan darah tersebut bisa
menyebabkan stroke emboli bila memasuki otak.
5. Gagal ginjal
Hipertensi yang tidak terkendali akan memengaruhi
arteri di ginjal, menyebabkan kerusakan pada fungsi
ginjal.
6. Retinopati
Retinopati merupakan kerusakan pembuluh darah
pada jaringan peka cahaya di bagian belakang mata.
Hipertensi yang tidak terkendali akan memengaruhi

16

arteriol (cabang arteri) di mata, sehingga
menyebabkan lesi.
7. Disfungsi ereksi
Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan
seseorang untuk mempertahankan ereksi untuk
melakukan penetrasi. Kondisi ini memang banyak
ditemukan pada penderita dengan tekanan darah
tinggi, diabetes, dan merokok,. Dalam hal ini,
hipertensi dapat menyebabkan pengurangan perfusi
atau suplai darah ke genetalia pria.
8. Gangguan kognitif dan gangguan daya pikir
Tekanan darah yang tinggi bisa mempengaruhi
kesehatan otak. Hasilnya akan muncul dimensia atau
pikun dan gangguan kognitif atau daya pikir. Individu
yang mengalami gangguan ini akan mengalami
masalah dalam ingatan, berhitung, berpikirk,
memutuskan sesuatu, memilih, dan lain sebagainya.

17

Gambar 5.1 Komplikasi Hipertensi
18

PENCEGAHAN HIPERTENSI

Langkah pencegahan nonfarmakologis efektif
dalam mencegah dan menurunkan tekanan darah,
intervensi yang paling penting adalah penurunan berat
badan, diet DASH (Dietary Approaches to Stop
Hypertension), mengurangi natrium, suplementasi
kalium, peningkatan aktivitas fisik , dan pengurangan
konsumsi alkohol 16.
1. Mengurangi berat badan berlebihan (obesitas)

Penurunan berat badan dapat dicapai melalui
kombinasi pengurangan asupan kalori dan
peningkatan aktivitas fisik. Efek penurunan tekanan
darah dari penurunan berat badan pada pasien
dengan peningkatan tekanan darah konsisten dengan
efek 1 mmHg per kilogram penurunan berat badan.
2. Mengonsumsi makanan rendah garam (DASH)
Rencana makan DASH adalah diet yang paling terbukti
efektif untuk menurunkan tekanan darah. Karena diet
DASH kaya akan buah - buahan, sayuran, dan produk
susu rendah lemak, diet DASH menyediakan sarana

19

untuk meningkatkan asupan kalium, kalsium,
magnesium, dan serat.
3. Mengurangi asupan natrium
Pengurangan natrium dapat mencegah hipertensi dan
menurunkan tekanan darah pada orang dewasa,
terutama pada mereka yang memiliki tingkat tekanan
darah tinggi, kulit hitam, orang tua, dan orang lain
yang sangat rentan terhadap efek natrium pada
tekanan darah. Intervensi perubahan gaya hidup
(perilaku) biasanya mengurangi asupan natrium
sekitar 25% (sekitar 1.000 mg per hari) dan
menghasilkan rata-rata penurunan SBP sekitar 2-mm
Hg hingga 3-mm Hg pada individu nonhipertensi.
4. Olahraga secara teratur
Peningkatan aktivitas fisik terutama latihan aerobik
dinamis. Penurunan rata-rata tekanan darah dengan
latihan aerobik adalah sekitar 2 hingga 4 mm Hg dan
5 hingga 8 mm Hg pada pasien dewasa dengan
normotensi dan hipertensi.

20

5. Menghindarai konsumsi alcohol.
Dalam studi observasional, ada hubungan langsung
yang kuat dan dapat diprediksi antara konsumsi
alkohol dan tekanan darah.

6. Hindari stres.
Terapi perilaku, termasuk pernapasan terpandu,

yoga, meditasi transendental, dan biofeedback, tidak
memiliki bukti kuat untuk efek penurunan tekanan darah
jangka panjang.

21

GLOSARIUM (DAFTAR ISTILAH)

Istilah Arti
Pengerasan pembuluh darah arteri akibat
Arteosklerosis penumpukan plak di dinding arteri
Pembuluh darah yang berfungsi mengalirkan
Arteri darah kaya oksigen dari jantung ke seluruh tubuh
Mengendur
Berelaksasi Sesuatu yang berada ditubuh dan berapa diluar
sel manusia
Ekstraseluler Terapi melalui pengobatan/mengonsumsi obat

Farmakologis Penyerapan plasma (darah) melalui ginjal
Filtrasi
glomerulus Kelas/tingkatan/golongan
Grade
Hiperaktivitas Kegiatan berlebihan/kerja berlebihan
Hipertensi darurat, peningkatan tekanan darah
Hipertensi yang berkembang dengan sangat cepat, hingga
maligna bisa mencapai 180/120 mmhg atau di atasnya.
Hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan
Hormon dan kecepatan gerak tubuh
adrenalin Kondisi medis yang belum dapat terungkap jelas
penyebabnya
Idiopatik Digunakan untuk menentukan kategori berat
badan dengan membandingkan berat dan tinggi
Indeks massa badan
tubuh Nilai tekanan di dalam rongga kepala
Penyusunan berdasarkan kelompok/golongan
Intrakranial Sering buang air kecil di malam hari
Klasifikasi Peningkatan sel darah merah yang terjadi atau
Nokturia bersama dengan penyakit lain

Polisitemia

22

Prevalensi Proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik
Saraf simpatis tertentu dalam jangka waktu tertentu
Sistem renin Sistem saraf otonom yang bekerja di luar
kesadaran tubuh (tidak sadar) dan berpangkal
pada sumsum tulang belakang
Sistem hormon yang berperan mengatur tekanan
darah

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Department of Health. Department of Health,
Medical Research Council, OrcMacro South Africa
Demographic and Health Survey 2003. Pretoria
(2017).

2. Forouzanfar, M. H., Liu, P., Roth, G. A., Ng, M.,
Biryukov, S., Marczak, L., Alexander, L. Global
Burden of Hypertension and Systolic Blood
Pressure of at Least 110 to 115mm Hg, 1990-
2015. JAMA - J. Am. Med. Assoc. 317, 165–182
(2017).

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Hipertensi. Jakarta Pus. Data dan Inf. Kementeri.
Kesehat. Republik Indones. 2, 328–335 (2017).

4. Nurarif, A. H., & Kusuma, H. Asuhan Keperawatan
Praktis Berdasarkan Penerapan Diagnosa Nanda,
Nic, Noc dalam Berbagai Kasus. (Penerbit
Mediaction, 2016).

5. Bell, K, Twiggs, J., & Olin, R. B. Hypertension: The

24

Silent Killer: Update JNC 8 Guideline
Recommendations. Alabama Pharm. Assoc. 2,.

6. N. Joseph, M. Chiranjeevi, S. Sen, P. Singh, M.
Saini, and S. B. Awareness on hypertension and
its self-management practices among
hypertensive patients attending outreach clinics
of a medical college in south India. Kathmandu
Univ. Med. J. 14, 202–209 (2016).

7. Wade, A Hwheir, D N Cameron, A. Using a
Problem Detection Study (PDS) to Identify and
Compare Health Care Privider and Consumer
Views of Antihypertensive therapy. J. Hum.
Hypertens. 17, 397 (2003).

8. National Institute for Health and Care Excellence.
Intravenous fluid therapy in adults in Hospital.
Natl. Inst. Clin. Excell. 1–37 (2013).

9. Cortas K, et all. Hypertension. 2015 (2015).

10. Shapo L, Pomerleau J, M. M. Epidemiology of
Hypertension and Associated Cardiovascular Risk
25

Factors in a Country in Transition. Albania J.
Epidemiol. Community Heal. 2003 57, 734–739
(2003).

11. Gunawan & Lany. Hipertensi Tekanan Darah
Tinggi. (Penerbit Kanisius).

12. Kaplan, N. . Kaplan’s Clinical Hypertension.
(lippincot Williams & Wilkins, 2006).

13. (Riskesdas), R. K. D. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. Kementerian RI tahun
2018. www.depkes.go.id (2018).

14. RSHK. Penyakit Kardiovaskuler dari Pediatrik
sampai Geriatrik. (Rumah Sakit Jantung Harapan
Kita, 2001).

15. Putu, Y. Deteksi dini dan pencegahan hipertensi
dan stroke. (Media PRessindo, 2011).

16. Whelton, P. K. et al. 2017
ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASP
C/NMA/PCNA Guideline for the Prevention,

26

Detection, Evaluation, and Management of High
Blood Pressure in Adults: A Report of the
American College of Cardiology/American Heart
Association Task Force on Clinical Practice
Guidelines. J. Am. Coll. Cardiol. 71, e127–e248
(2018).

27


Click to View FlipBook Version