KEP1NG 38 | Petir 41
abad. Seperti pendekar kehabisan jurus yang akhirnya kembali jadi orang biasa-
biasa, aku pun sudah di ujung tanduk untuk kembali ke Elektra yang kecanduan
tidur siang. Sungguh, aku tidak mau kembali, tapi apa lagikah yang tersisa? Bahkan
rudal terakhirku pun tidak bisa kugunakan. Bukan rudalnya yang nggak tokcer, aku
yang bego. Aku!
Kadang-kadang, kalau sudah letih dengan teror telepon Watti, sempat terpikir
juga untuk menghubungi Pak Hendrawan dan si Bos ber-BMW merah itu lagi. Gaji
butaku. Siapa tahu masih ada kesempatan. Atau Ibu Siska, si pemeras para calon
ibu. Atau para superstar hukum itu. Siapa pun
. . . tolong . . . tolong!
. .. Yohanes 22 ayat 5
Oke, aku akan jujur: aku putus asa. Namun ada satu prinsip yang kupegang
teguh sampai kapanpun, dalilku tertinggi, Elektra's golden rule: EBOTANG.
Enggak Boleh Ngutang.
Sekalipun terpaksa m e n g u m u m k a n bahwa aku telah resmi memasuki
krisis ekonomi, tetap tak ada secuilpun niat untuk melanggar prinsip tadi. Watti
sudah berkali-kali memancing-mancing: Tra, kamu kalo butuh uang, ngomong!
Aku bisa ngasih, kok. Cukup untuk biaya kamu sehari-hari.
Kalau kalian kenal Watti seperti aku, tentu tahu bahwa niat baiknya itu seiring
sejalan dengan niat pamernya kalau sekarang dia sudah punya duit—tepatnya,
punya akses penuh ke koceknya Kang Atam.
Tegas-tegas aku menolak: Nggak usah, Watt. Saya bisa cari duit sendiri.
Makasih.
Terdengar tawa kecil di ujung telepon. Lalu Watti menimpali dengan suara
lembutnya: Oh iya, lupa, kamu kan calon wanita karier. Nggak kayak aku. Ibu
rumah tangga doang.
42 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
Kupingku panas.
Hmm . . . uangnya Dedi sudah habis semua? la bertanya lagi.
Dalam kepalaku langsung tergambar seringai segede kolamnya Pak
Hendrawan. Akan kukejar kau sampai ke ujung dunia, Pak! Sekalipun aku naik
becak dan kau dalam mobil BMW! Tidak akan kubiarkan perempuan opera sabun
ini tertawa lebih lama lagi!
Watti berkata dalam tawa renyahnya: Aneh, ya. Kamu yang sarjana, kok, jadi
yang paling susah hidupnya. Tahu gitu mendingan Dl aja kayak aku. Masa
mudanya puas, nggak kuper, bisa menikmati hidup, eh, terus alhamdullilah dapet
cowok saleh kayak Kang Atam . . .
Kepalaku panas. Bukan! Bukan saleh! Dia kaya! Kang Atam itu orang kaya dan
punya kerjaan tetap, dan kalian semua membosankaaan!! Mau-maunya dikurung di
sangkar emas padahal diperah kayak sapi! Dan jangan berani-berani m e n u d uh
aku tidak menikmati hidup! Hidupku justru indah karena ada orang-orang seperti
kalian!
Udah, deh, Tra. Cari pacar aja yang oke, yang baik, yang bisa menghidupi
kamu. Beres. Dengan ringan Watti berkata.
Dengan dingin aku menimpali: Dan harus seiman. Biar nggak jadi roh
penasaran.
Maksudnya apa? Watti dengan cepat bertanya balik.
Seminggu yang lalu saya ketemu Bang Nelson, terus dia nanyain kamu. Saya
bilang kamu sudah nikah terus pindah ke Papua. Bang Nelson mukanya sedih gitu,
soalnya dia mau titip satu ayat untuk kamu. Tapi sudah telat.
Ayat yang mana? Suara Watti langsung tegang.
Yohanes 22 ayat 5: Ketahuilah, barang siapa yang menukar kasih Yesus demi
cinta pada kekasih akan tersesat, dan baginya pintu semua surga tertutup selama-
lamanya. Aku berbicara tanpa diputus napas.
Sejenak tak ada suara. Baru kemudian kudengar Watti terbata-bata: Ta—tapi,
kan, kamu bilang aku bakal impas. Kalo pintu surga yang ini
KEP1NG 38 | Petir 43
nutup, yang sana bakal k e b u k a . . .
Sori, Watt. Ternyata saya salah. Dalam ayat dari Bang Nelson, jelas-jelas
ditulis 'semua'. SEMUA pintu surga, jadi ... nggak ada yang terkecuali. Kuhela
napas berat. Mengesankan keprihatinan yang dalam.
Lama kembali tak ada suara.
Haluuu? panggilku.
Udah dulu, ya, Tra. Nanti aku telepon lagi. Salam buat Bang Nelson kalo
ketemu, ujarnya bergetar.
Tanpa perlu dibayangkan, aku sudah tahu bentuk ekspresi Watti detik itu. Bibir
gemetar. Air mata mengumpul di pelupuk mata, tinggal tunggu jatuh. Tangan
tremor sedikit.
Seminggu berikutnya menjadi minggu yang terindah. Terhibur dengan
membayangkan Watti pontang - panting kebakaran jenggot. Menontonimu
bertahun-tahun membuatku tahu persis, Kak. Obsesimu pada akhiratlah yang
membuat 'Tuhan', 'Surga', dan 'Neraka', menjadi tombol panas yang siap
menyulutmu menjadi mercon tak terkendali.
Tepat seminggu, yakni pada hari Minggu malam, Watti meneleponku.
Ngamuk-ngamuk. Lalu memusuhiku sebulan lebih, yang merupakan sebulan nan
lebih indah lagi karena sejenak menghentikan segala teror teleponnya.
Di Tembagapura sana, Watti rupanya panik berat karena sudah tak pegang
Alkitab. Minggu sore, Watti pun diam-diam ke gereja untuk minta ampun, lalu
berkonsultasi dengan pendeta setempat. Bersama-sama mereka membuka Alkitab
demi merenungi ayat yang dimaksud, dan terkejutlah mereka, ya Watti, ya si
pendeta karena sudah terlebih dahulu acc dengan semua yang kuomongkan. Kitab
Yohanes cuma sampai pasal 21. Tidak ada pasal 22.
Aku juga tidak tahu itu. Apalagi Bang Nelson yang cuma kupinjam namanya.
44 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
. . . Tarian m e m a n g g il petir dari alam bawah sadar
Sayangnya, otakku tidak bisa sekreatif tadi menghadapi krisis keuangan
ini. Aku menikmati hari-hari malasku dengan rasa bersalah. Sadar bahwa harus
melakukan sesuatu, cuma belum tahu apa. Sekarang masih bisa makan pakai dua
butir telur sehari, entah sampai kapan itu. Kalau begini terus, aku harus siap
membagi satu butir untuk-dua kali makan. Kembali ke masa-masa sekolah yang
serba susah dengan uang jajan tak sesuai UMR.
Selama ini aku bertahan hidup dari tabunganku sendiri. Tapi gara-gara
mempercantik rumah, dengan cepat uangku menipis. Uang warisan Dedi sengaja
kudepositokan. Jumlahnya memang tak seberapa, jauhnya dari 8,7 miliar seperti
langit dan sumur, tapi lumayan buat cadangan.
Menabung merupakan satu dari sedikit hal yang kubanggakan. Bicara masalah
persistensi, belum tentu ada yang sesabar aku dalam masalah menabung. Celengan
pertama: ayam jago warna-warni, bahan tanah liat. Celengan kedua: ayam betina
warna oranye, bahan sama. Celengan ketiga: wadah plastik bekas sabun colek B-29.
Celengan keempat: gentong biru raksasa, bahan plastik. Celengan kelima: sebuah
buku bank yang
merupakan gabungan keempat celenganku.
Hari m e n y e t or ke bank p e r t a ma kali menjadi hari paling
menegangkan. Untuk memperkecil kemungkinan dijambret, aku diantar Dedi dan
Mang Muslim, pegawai kepercayaannya. Dikawal dua bapak besar itu aku
menjinjing berkresek-kresek uang receh seperti Paman
Gober dengan pundi - pundi uangnya. Setiap orang yang mendekat
k u p a n d a n gi bengis. Sejak dulu, bagiku tabungan bukan sekadar
penimbunan uang, melainkan tugu prestasi. Bukti bahwa ada potensi sifat rajin
dalam diriku. Tak peduli itu dibuktikan dengan koleksi uang lima perakan.
Hobi menabung ini pun sepertinya sudah digariskan takdir. Pasti bukan
KEP1NG 38 | Petir 45
kebetulan. Coba kalau Watti bertukar posisi denganku sekarang, lauk nasinya sudah
pasti cuma garam. Anak itu terlampau tak sabaran dan terlalu banyak mau. Baru
terkumpul lima ratus, sudah pingin ke Pasar Kosambi beli bando baru. Baru
terkumpul seribu lima ratus, sudah pingin borong produk Sanrio di Hoya. Namun,
sejak dulu Watti percaya hidupnya tidak akan pernah susah. Selalu ada manusia
lain yang bakal memenuhi segala impiannya tanpa repot-repot mengotori tangan
sendiri. Dan tampaknya, keyakinan itu membuahkan hasil.
Apakah aku iri? Tidak. Aku bosan. Aku, yang tabah menabung dengan satuan
lima perak, akhirnya bisa berkata: bosan. Bosan nganggur. Bosan nonton teve.
Bosan tidur. Bosan goreng telur. Bahkan badanku sudah memberikan sinyal-sinyal
kemuakannya pada protein. Di pantat kiri mulai muncul bisul. Yang di sebelah
kanan muncul tepat di garis celana dalam. Sakit sekali.
Malam itu, hujan turun sangat dahsyat, yang merupakan puncak amukan musim
hujan tahun itu. Jalan tergenang air. Selokan meluap. Pohon-pohon mahoni tua
yang berjajar di jalanan rumahku sebentar lagi akan kehilangan beberapa ranting
besarnya. Aku pun memandangi jendela . . . eras! Cras! Cras! Kilat menyambar-
nyambar. Aku mengeluh sedih. Gerakan mereka yang dinamis seperti joget Michael
Jackson bikin aku tambah mutung. Betapa membosankannya tersekap di rumah ini.
Sekian lama berdiri di tepi jendela, memori masa kecilku merasuk masuk. Aku
teringat betapa senangnya dulu memandangi kilatan petir. Aku tidak ingat kenapa.
Justru itulah yang ingin kucari tahu. Kalau dulu
otakku belum terlalu kritis u n t uk bertanya, nah, sekarang, dengan
t u m p u k an protein telur ayam ini, masa sih otak Elektra nggak bisa
berkembang sedikit dan mulai penasaran mencari jawaban? Ke-na-pa a-ku su-ka
pe-tir?
Maka berlarilah aku keluar, mumpung sekarang tidak ada karyawan Dedi yang
bakal menggiring masuk . Aku ingin h u j a n - h u j a n a n,
46 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
m e n y a k s i k an langsung bagaimana petir beraksi, dan barangkali kutemukan
jawabnya.
Ternyata, ketika kita biarkan air hujan mengalir tanpa dilawan, rasanya nikmat
sekali. Kalau kita biarkan kaki kita telanjang menyentuh becek tanpa takut
cacingan, rasanya sangat membebaskan. Berlarilah aku mengelilingi pekarangan
depan. Kutampari genangan air di rumput dengan telapak kaki ini. Kecipak-
kecipuk. Dunia indah, teman-teman!
Entah berapa lama aku begitu, yang jelas sampai tukang warung di depan ikut
keluar dan menatapku bingung, angkot melambat dan supirnya melongokkan
kepala. Ada cewek cakep pakai kaos panitia gerak jalan '89 dan celana pendek batik
jingkrak-jingkrak berhujan-hujan.
Tiba-tiba, dari langit sana, selarik cahaya perak merobek datang, lebih cepat
dari apapun yang kutahu. Tidak aku, tidak supir angkot, atau tukang warung yang
sanggup mengantisipasi. Aku menjerit kaget ketika petir itu menyambar pucuk
pohon asam di sudut depan kebun, yang jaraknya hanya lima meter dari tempat aku
jingkrak-jingkrak. Pohon kurus kurang gizi itu kebakaran.
Tukang warung di depan langsung lari menyeberang, beberapa or-ang juga
muncul berlarian, bahu membahu kami menarik selang lalu membanjur pohon
malang itu. Dibantu hujan dari atas. Tak lama, api padam berganti asap hitam
mengepul. Dada kami semua naik turun . Ngos-ngosan.
Kunaon2, Neng? Pak tukang warung bertanya heran. Aku bengong, kenapa
malah aku yang ditanya? Bukan tanya geledek? Satu dari mereka yang belakangan
kuidentifikasi sebagai kenek angkot ikut bertanya: Itu Neng yang manggil? Aku
tambah melongo. Lalu kutatap langit. Apa yang baru kulakukan? Apakah itu tarian
memanggil petir dari alam bawah sadar?
2 Kenapa
KEP1NG 38 | Petir 47
...STIGAN
Besoknya aku sakit flu. Lumayan, nafsu makan menurun, jadi ada biaya yang
bisa dihemat. Stok obat Cina peninggalan Dedi juga masih banyak. Tidak perlu beli
lagi. Dan jangan ungkit-ungkit soal tanggal kadaluarsanya. Kalau sudah ekonomi
susah begini, masih ada obat yang bisa ditelan juga syukur.
Hidup ini lucu betul. Baru saja mengalami kebosanan akut, sekarang diberi
sakit flu pula. Seolah-olah ada pihak di luar sana yang menginginkan aku mati.
Tentunya bukan gara-gara flu, melainkan mati bosan. Seperti apa gerangan jenazah
yang mati bosan? Bukan membelalak ngeri, yang pasti. Jangan juga diam biasa-
biasa. Orang yang mati bosan sebaiknya matanya menggantung, seperti setengah
tidur. Ujung bibirnya turun sedikit. Kulit di jidat berkerut. Aku mencoba di depan
cermin dan kaget sendiri. Gila, jelek amat hasilnya.
Namun, kuberitahukan hal ini kepadamu, wahai kawan. Pada saat engkau
mengira telah berhasil menebak logika hidup, pada saat itulah ia kembali memuntir
dirinya ke arah tak terduga dan jadilah kau objek lawakan semesta.
Pada hari yang kupikir akan menjadi Hari Bosan Nasional, aku justru
mengalami hal teraneh seumur-umur. Sama-sama pakai buntut Nasional, tapi . . .
eits! Jangan n y o n t ek ke bawah dulu! Mari kuceritakan kronologisnya:
Pukul 08.30: Bangun tidur. Mengorek belek. Tak ada yang spesial. Pukul
08.45: Mandi air hangat. Keramas dengan sisa sampo terakhir yang sudah
dicampur air. Masih biasa saja.
Pukul 09.05: Bikin indomie buat sarapan. Standar.
Pukul 09.30: Minum Lo Han Guo campur minyak Se Chiu lima
48 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
tetes. Pedes, pedes deh. Dan . . . eng-ing-eng!
Saat sedang mengaduk ramuan kreasiku itu, tiba-tiba mata ini tertumbuk pada
selembar amplop putih yang terselip di depan pintu. Kuhampiri surat itu. Ada
namaku tercetak tapi tidak ada nama pengirim. Betul-betul kejadian langka. Bukan
gara-gara identitas pengirim tak jelas, tapi seorang Elektra . .. dapat SURAT! Ini
luar biasa. Karena tagihan iuran RT bulan ini pun masih pakai nama Dedi.
Sambil menyedot ingus, aku membuka surat tersebut. Ada empat lembar.
Semuanya pakai kop surat dan diketik komputer. Tertulis besar-besar:
STIGAN
Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional
Ingusku macet di tengah-tengah. Mataku membesar seperti lensa kamera di-
zoom. Surat itu dimulai dengan embel-embel: No., dan Perihal. Pada bagian nomor
menderetlah segenap simbol-simbol aneh, bukan angka. Tahun yang dipakai juga
tahun Saka, bukan Masehi. Perihal:
Undangan Mengajar.
Hangat terasa merembesi lubang hidung. Buru-buru aku menyambar tisu,
membaca lebih lanjut: Salam sejahtera, begitu katanya, kami adalah perguruan
tinggi ilmu gaib pertama bertaraf internasional di Indonesia, dan tahun ini kami membuka
lowongan bagi tenaga pengajar. Berdasarkan 'teropong batin' yang dilakukan saksama oleh
tim rekrutmen STIGAN, nama Anda terpilih sebagai kandidat yang akan diseleksi untuk
menjadi Asisten Dosen.
Apabila Anda berminat, lamaran dan CV cukup dikirimkan lewat semadi. Untuk lamaran
dan CV tertulis dapat Anda letakkan di kuburan terdekat bersama kembang tujuh rupa,
kemenyan madu, dan minyak jakfaron. Kurir gaib STIGAN akan mengambil lamaran Anda.
Wawancara jarak jauh lewat semadi akan kami lakukan pada pukul 2 dini hari terhitung 10
KEP1NG 38 | Petir 49
(sepuluh) hari dari sekarang. Apabila Anda lolos seleksi, akan kami kirim kata sandi lewat
mimpi dan Anda diharapkan untuk datang ke lokasi pada hari yang sudah ditentukan.
Pada baris paling akhir tertulislah nama pengirim: Joko Gosong Sambar
Geledek. Lengkap dengan secarik kain kafan yang ditimpa tanda tangan seperti
materai. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Pusing. Jariku mulai gemetaran. Apa-
apaan ini? Pasti ada yang salah. Tidak mungkin aku jadi kandidat mereka. Bisa apa
aku? Dan ini sekolah yang sangat mengerikan. Kirim CV ke kuburan! Gila. Gila.
Gila.
Panik, kuselipkan surat itu ke dalam Alkitab lama Watti, yang banyak garis-
garis Stabillo-nya. Berharap semoga kekuatan setan atau kuasa sesat apapun yang
dikandung surat itu bisa ditengking pergi oleh ayat-ayat suci. Terakhir kali aku
menyelipkan surat ke Injil adalah waktu kelas 1 SMP. Surat berantai wasiat Dewi
Kwan Im yang kalau tidak didistribusikan ulang ke minimal dua puluh orang, si
penerima bakal dimakan buaya, atau diperkosa terus jadi gila, sementara yang patuh
mengirimkan jadi menang undian, jadi jutawan, dan sebagainya. Pada waktu itu aku
cuma bisa pasrah kena tulah karena tidak punya uang beli perangko. Satu-satunya
usahaku adalah menetralkan kutukan dengan menyelipkannya ke kitab suci, sesuai
dengan nasihat Watti. Tapi kasus itu tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.
Seharian aku kepingin nangis karena ketakutan. Untuk pertama kalinya, aku
kangen Watti. Ya, nasib. Anak sebatang kara begini, harus mengadu pada siapa?
Baru pada siang hari, akal sehatku kembali. Kepanikan perlahan berganti
menjadi rasa penasaran. Analisa pertama, cara surat itu bisa sampai ke rumah. Ada
perangko dan cap pos. Jadi, benarkah itu gaib? Tidak tahu. Tapi, kalau sudah punya
kurir gaib kenapa masih pakai jasa Departemen Pos & Giro? Lalu kenapa suratnya
tidak mendarat di tempat yang lebih ajaib? Tahu-tahu muncul di atas bantal,
misalnya. Masa cuma di kolong pintu! Analisa kedua, mistisisme sedang tren.
Majalah horor,
50 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
klenik, dan iklan dukun ada di mana-mana. Orang yang punya ide bikin STIGAN
pasti korban mode doang. Nggak serius.
Namun segalanya tak sama lagi. Timbul perasaan aku sedang diawasi. Ketika
cuci piring, ketika nyapu, ketika pipis—-moga-moga mereka punya kebijakan
untuk tidak mengawasi sedetail itu, ketika suara jalan menyepi
dan tinggal hening, aku jengah. Ingin cari ribut. Ketika mau merem,
m a t a k u mencari b e n t u k - b e n t uk berwajah dalam r e m a ng kamar.
Kesendirian yang tadinya begitu nikmat sekarang menjadi teror sunyi.
. . . Di balik k u t a ng Ni Asih
Watti bilang dia punya jatah untuk mendatangkan seseorang ke Papua, asal
hubungannya jelas. Belum pernah hubungan darahku dengannya memiliki
keuntungan yang jelas, sampai hari itu. Dialah satu-satunya tiketku keluar dari
pulau Jawa. Sekalipun kurir gaib bisa menempuh jarak Bandung-Cimahi dalam
sekedip mata, dan Bandung-Surabaya, yah, tiga kedip, tapi kalau disuruh
menyeberang laut? Belum tentu. Santet bisa rontok. Apalagi ini pulau Papua, yang
tiket pesawatnya sama mahal dengan terbang ke Belanda. Tembagapura menjadi
tempat pelarian yang sempurna.
Ketika sedang mengantre di wartel, tahu-tahu seseorang menowelku dari
belakang.
Teh3 Etra! Nelepon kabogoh4, ya . . .
Suara manja dan gerakan menggelendot itu hanya dimiliki oleh Yayah seorang.
Mantan pembantu, sekaligus mantan kaki kiriku. Tampak kepala Mimin nongol di
balik bahunya. Mantan kaki kananku. Oh, reuni piramida nan bahagia! Aku pun
tersenyum lebar-lebar.
3 Kak
4 Pacar
KEP1NG 38 | Petir 51
Eeh, Yayah, Mimin, kumaha? Damang?5 Aku balas menowel—-adaptasi
dengan kode pergaulannya.
Teh Etra, main atuh ke tempat kos! Meuni sombong6. Yayah menowelku lagi.
Yayah, dong, yang main ke rumah. Kan saya nggak tahu kalian kos di mana.
Aku balik menowel, dan kapankah proses towal-towel ini berakhir?
Hayu, atuh!7 Sekarang aja. Tapi kita kontak klayen-klayen dulu sebentar.
Besok ada janji presentasi.
Sungguh aku terharu melihat perkembangan mereka. Begitu fasihnya mereka m
e n g g u n a k an istilah 'presentasi', 'kontak', 'klien' — pakai pengucapan Inggris
pula.
Kita kepaksa kontak dari wartel. Abis henpun kita baru hilang. Mimin ikut
nimbrung.
Handphone hilang? Duh, sayang amat. Hilang di mana? tanyaku, prihatin
sungguhan, atas nasib mereka dan atas nasibku sendiri yang masih ngantre telepon
SLJJ di wartel karena tak sanggup bayar tagihan telepon rumah. Boro-boro mimpi
punya ponsel.
Dicopet, Teh. Tapi sekarang kita lagi usaha, mau ditarik balik. Ditarik
balik gimana?
Ke orang pinter. Langganannya yang di kantor. Jagoan pisan8, Teh. Mmm .
. . Bisa apa lagi dia?
Wah, sagala rupa9. Ngeramal, masang susuk, nyembuhin . . . apa aja bisa.
Kuputuskan untuk ikut mereka malam itu juga. SLJJ ke Tembagapura ditunda
untuk sementara. Kalau masih ada peluang untuk lolos dari Joko Gosong tanpa
perlu terjerumus ke sarang Watti, sekecil apapun itu,
sudah pasti akan kukejar.
Tempat praktek si orang pintar, yang dipanggil Ni Asih, hanya beda
5 Bagaimana; Sehat?
6 Sombong amat
7 Ayo, dong
8 Banget
9Segala macam
52 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
dua gang dari tempat kos Yayah dan Mimin. Berhubung pasien Ni Asih sedang
ramai, kami menunggu dulu di kosan.
Mereka senang sekali aku bisa mampir. Tak henti, keduanya berceloteh tentang
suka-duka menjadi wanita karier di dunia multilevel. Yayah dan Mimin telah
meyakinkanku bahwa manusia dapat bertransformasi total.
Kamar kos mereka dicat dua warna. Satu sisi kuning muda, sisi lain hijau
muda, dengan satu set seprai bercorak ramai yang senada. Aneka foto terpajang
meriah di dinding: duo Yayah-Mimin beserta kaki-kaki mereka di Jonas Studio,
Yayah dan Mimin hasil permak Malibu Studio, Yayah dan kekasih, Mimin dan
kekasih. Teve 14 inci warna kuning merk Luan Jing lengkap dengan VCD player
Sony-Sony-an. Dan di atas meja rias yang padat oleh alat make-up, tergeletak dua
wig sintetis model artis sinetron (maaf, aku tidak bisa menggambarkannya dengan
lebih baik. Tapi kalian tahu yang mana yang kumaksud, kan? Wig model bulat,
pendek setengkuk, berponi, dan tepat di ubun - ubun melonjak tinggi seperti ombak
pasang?).
Yayah kemudian memutar sebuah kaset. Lagu barat. Aku melirik bungkusnya:
Westlife. Lalu kulirik Yayah yang ikut bernyanyi sambil joget-joget kecil.
Teh, mau? Mimin menyodorkan seboks A-Mild Menthol.
Aku menghela napas. Lambat dan berat, kepala ini menggeleng. Mimin
menyalakan sebatang, lalu selonjoran di atas kasur. Meraih
buku yang tersimpan di sebelah bantal: 7 Habits of Highly Effective People. Tujuh
Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Stephen R. Covey.
Cukup sudah. Kuambil boks rokok itu, ikut menyalakan sebatang. Asap
rokokku mengepul-ngepul seperti orang bakar sate, pertanda jam terbang yang
kurang. Tapi mana aku peduli. Sesuatu HARUS dilakukan untuk menyeimbangkan
semua ini.
Kabogoh siapa sekarang, Teh? Dengan senyum jahil, Yayah bertanya. Tak
lupa, tangannya menowel kakiku. Mulai lagi.
Nggak ada, jawabku sekenanya. Kutowel kakinya balik.
KEP1NG 38 | Petir 53
Euleuh! Masa nggak ada terus dari dulu! la menepak kakiku pelan. Aku cuma
nyengir. Masam. Kutepak balik kakinya, pakai tenaga. Cari, atuh . . . jaman
sekarang mah perempuan kudu10 usaha. Cowok-
cowok Cines kan pada jago bisnis, rajin-rajin, nggak kayak orang kita. Kararedul11,
Teh! Yayah mengernyit sambil mengipas-ngipas tangannya seperti kegerahan.
Kamu—kapan kawin? Aku mengalihkan bola panas itu.
Ditanya begitu, Yayah tertawa. la mencolek Mimin: Min, tuh, ceunah12, kapan
kawin!
Mimin mengangkat wajahnya sedikit dari buku Stephen R. Covey lalu berujar
santai: Ah, kita mah mau karier dulu . . .
Pukul sembilan tepat, aku tinggalkan kerajaan mungil yang penuh dengan tapak
- tapak sukses itu. Kembali bergulat dengan nasib. Menghadap Ni Asih yang sudah
menunggu.
Ni Asih mengingatkanku pada sosok perempuan tua dalam karangan anak SD
yang mengkhayal berlibur ke rumah nenek di desa. Tubuh mungilnya dibungkus
kebaya, bersuara lemah lembut, kerap bercakap dalam bahasa Sunda halus yang
membuatku terbata-bata mengikuti.
Mangga, bade aya peryogi naon, Geulis.13 Ni Asih dengan halus berkata,
matanya memandang ke sembarang arah.
Begini, Ni. Aku mencoba menangkap arah matanya, tapi tak berhasil. Saya
dapat surat dari sekolahan ilmu gaib, minta saya jadi guru. Saya jadi takut, Ni.
Takut diapa-apain sama mereka, kan mereka mah gaib, saya enggak. Soalnya, saya
nggak mau kerja di sana. Saya nggak ngerti yang gaib-gaib . . .
Neng namina saha?14 la memotong.
10 Harus
11 Malas-malas
12Katanya
13 Silakan, ada keperluan apa, Cantik.
14Namanya siapa?
54 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
Elekt—Etra, Ni.
Upami bapa namina saha, Bageur?15
Wijaya.
Etra binti Wijaya, ia mengulang. Ni Asih diam sejenak, matanya terpejam.
Tiba-tiba tubuh renta itu bergetar, mulutnya komat-kamit membaca doa, dan dalam
waktu kurang dari tiga menit ia hadir sebagai manusia baru. Posenya yang tadi
melipat manis, sekarang bersila. Mukanya tertarik kencang. Tangannya meraih
sesuatu, dan aku terperanjat: Gudang Garam Merah! Diisapnya gagah bak jawara
turun gunung. Dan mata itu terus terpejam.
Hrrgghmm . . . ia menggeram. Suara itu, tak lagi mengingatkanmu akan
kehalusan nenek di desa, melainkan sound system t u j uh belas Agustusan tingkat
RT. Suara Ni Asih kini turun satu oktaf, pecah, sember.
Bahaya ieu mah . . . bahaya pisan . . . Ni Asih versi preman itu geleng-geleng
kepala.
Dudukku langsung menegak. Bahaya kumaha, Ni?
EH! Ni Asih menyentak. Nepangkeun heula, atuh! Sim kuring teh Aki Jembros!16
Ia mengulurkan tangan, menunggu untuk dijabat.
U n t u k kedua kalinya aku percaya bahwa manusia dapat bertransformasi total,
menuju satu bentuk yang tak terduga. Siapa sangka tubuh imut itu ternyata muat
untuk dua orang, 2 in 1. Nenek manis bernama Ni Asih dan preman gunung
bernama Aki Jembros.
Ragu, kusambut tangannya. Jabat tangan kami cocoknya terjadi di setting
terminal. Kencang dan kasar.
Euh, euh, euh . . . ieu mah abot! Abot!17 Aki Jembros garuk-garuk kepala.
Masih parawan18 Neng teh?
Aku terkejut dengan pertanyaannya. Kalau Ni Asih yang tanya, masih okelah.
Tapi kalau Aki Jembros, nanti-nanti dulu. Apa hubungannya
15 Kalau bapak namanya siapa, Baik?
16 Kenalan dulu, dong! Saya Aki Jembros!
17 Wah, wah, wah ... ini berat! Berat!
18Perawan
KEP1NG 38 | Petir 55
keperawananku dengan ini semua? Dasar bandot. Masih,
jawabku ketus.
Keur diarah Neng teh! Diincar! teriaknya lagi.
Ludahku terasa seret. Sama siapa, Ki?
Anu nyeratan ka Neng teh sakomplot siluman nu ngabutuhkeun darah parawan!
Cik, Neng teh dititah naon wae ku maranehna?19
Mm—saya disuruh kirim surat lamaran ke kuburan, pakai kemenyan, kembang
tujuh rupa, minyak jakusi . . .
Emh! Eta pisan!20 sela Aki Jembros sambil memukulkan tangannya ke udara.
Gimana, dong, Ki? Biar saya selamat. . . ratapku putus asa.
Cik, ku Aki ditangtang heula silumanna,21 katanya. Sebagai kuda-kuda,
dikepulkannyalah Gudang Garam Merah itu bertubi - tubi, sampai seluruh
mukanya tertutup asap.
Lima menit ke depan adalah proses Aki Jembros bernegosiasi dengan
komplotan siluman yang dimaksud. Proses yang tampaknya melelahkan. Bolak-
balik ia menggeram, bergetar, sesekali meludah ke tempolong. Sampai akhirnya ia
'kembali' dengan peluh bermunculan di tepi dahi.
Aki tiasa nyalamatkeun Neng, tapi syaratna heurat.22 katanya dengan napas
ngos-ngosan.
Dan apa yang lebih berat dari menyumbangkan darah untuk siluman? Aku pun
berkata mantap: Saya siap, Ki.
Syarat itu ternyata ada di balik kutang Ni Asih. Aki Jembros merogoh dan
mengeluarkannya pelan-pelan: sebilah keris mini berwarna hitam pekat.
Panjangnya paling hanya dua ruas jari. Cocok jadi suvenir kawinan.
Tangan kirinya tahu-tahu menjepit daguku, menariknya ke bawah,
19 Yang mengincar Neng adalah sekomplot siluman yang membutuhkan darah perawan. Coba, Neng
disuruh apa saja oleh mereka?
20Itu banget!
21 Coba, oleh Aki ditantang dulu silumannya
22 Aki bisa menyelamatkan Neng, tapi syaratnya berat
56 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
hingga mulutku menganga. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Mataku saja membelalak
selebar-lebarnya ketika keris yang bersemayam di lipatan dada Ni Asih dibawa
masuk ke m u l u t ku oleh tangannya yang getar gemetar.
Keris itu lalu dibaringkan sekian detik di atas lidah.
Puih. Puah. Baunya wangi menusuk. Rasanya ajaib. Asin, kecut, dan hidup!
Seperti bawang merah yang ketika sudah habis tertelan pun rohnya masih
menggeliat-geliat di lidah. Kemudian keris hitam itu dicelupkan ke dalam segelas
air putih. Sok, dileueut,23 perintahnya.
Aku m i n um dengan semangat. Sekalian ingin mengeyahkan rasa
aneh itu jauh-jauh.
Aki Jembros kini merokok santai. Tos, ayeuna mah24 Tos tenang, tos beres.
Itu saja? Aku selamat dari siluman pemangsa perawan dengan minum air putih
dan lidah ditempeli keris suvenir?
Sok, aya ka butuh naon deui?25 Aki Jembros menawarkan.
Mmm . . . pingin punya kerja, Ki. Saya pengangguran, ucapku malu-malu.
Aki Jembros menyalakan batang rokok kedua, lalu memintaku datang
mendekat. Kedua tangannya diletakkan tepat di depan mukaku, dan tiba-tiba ia
berteriak: WAH! KACOW!
Kacau — kacau gimana, Ki? Aku langsung resah. Benar, kan! Kesialanku
selama ini pasti akibat guna-guna. Santet menahun. Kutukan sejak bayi.
Neng teh katutupan ku angkara murka. Jeung ku kotoran hate. Jeung ku sipat
males. Malesna . . . iiih, euweuh dua!26 Ia bergidik jijik.
Antara tertohok dan tersinggung, mukaku pun memerah. Kalau cuma
menganalisa penyakit malas, tidak usah jauh-jauh aku ke mari.
23Silakan, diminum
24Sudah, sekarang sih.
25 Silakan, ada keperluan apa lagi?
26 Neng tertutupi angkara murka. Dan kotoran hati. Dan sifat malas. Malasnya tidak ada dua!
KEP1NG 38 | Petir 57
C u k up bercermin dan mendiagnosa sendiri. Satu dunia pun sudah tahu aku ini
pemalas. Bisa sembuh, nggak? desakku padanya. Itu yang penting. Jangan cuma
bisa menghina.
Tiasa, tiasa. la mengangguk-angguk. Ngan syaratna heurat, Neng.
Kalau tadi yang keluar keris, sekarang apa lagi, ya, kira-kira! Lebih karena
penasaran dengan barang-barang yang tersembunyi di balik kutangnya, aku kembali
berkata mantap: Siap, Ki.
Aki Jembros meletakkan rokok, bersiap mengguncangkan Bumi lagi. Dan
setelah bergetar-getar sekian lama, tangan kirinya p u n mulai bergerak. Aku
mengamati saksama... lho, kok? Tangan itu bukan bergerak ke arah dada, melainkan
menyisip masuk ke bawah perut, merogoh-rogoh sesuatu . . . mampus! Aku
terlonjak kaget. Apapun yang keluar nanti, aku sudah tak mau tahu!
Cepat-cepat, aku berusaha menahan: Ni—eh, Ki, atos we, Ki. Nggak usah.
Nggak jadi. Nggak usah repot-repot . . .
Tapi baik Aki Jembros maupun Ni Asih tidak mendengarkan sama sekali.
Barangkali sedang nanggung.
Suaraku meninggi: Ki! Nggak usah, Ki! HOI!
Tangan itu terus bergerak-gerak di balik kain.
Aku mulai berteriak-teriak: AKI! ATOS, KI! HEUP! STOP!
Pada saat-saat terakhir sebelum tangan itu keluar dari kain, spontan aku
melompat bangkit dan menahan bahunya. Dan terjadilah sebuah peristiwa tak
terlupakan, setidaknya oleh keluarga besar Ni Asih dan lingkup RW setempat: aku
menyetrum Aki Jembros (+Ni Asih).
Suatu muatan listrik telah teralirkan dari/atau melalui tubuhku, ke tubuhnya.
Tak bisa k u u k ur berapa kekuatannya. Yang jelas, Ni Asih terkejang-kejang,
menggelepar, kemudian pingsan. Bola mata hitamnya lenyap, tinggal putih-putih
doang. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Tanganku hanya menempel sekian
detik, lalu refleks aku melepaskan pegangan, dan tubuh itu pun melorot jatuh.
Tak sampai lima menit, ia kembali bangun. Kalau saja aku tidak
58 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
berteriak memanggil orang-orang, barangkali kejadiannya tidak seheboh itu. Hanya
jadi rahasia kecilku dengan Ni Asih. Muka keriput itu pucat pasi menatapku yang
memangkunya sambil memercik-mercikkan air. Yayah, Mimin, dan keluarganya
sudah ramai berkerumun. Semua orang bersuara. Panik.
Andai yang jatuh itu manusia biasa, mereka pasti tenang karena ada Ni Asih si
penyembuh. Masalahnya, yang KO justru satu-satunya orang yang p u n ya k e m a
m p u an m e n y e m b u h k a n . Hingga terjadilah pertengkaran dalam tubuh
keluarga. Apakah etis membawa Ni Asih ke dokter? Ni Asih yang mampu menyihir
lenyap tumor ketika dokter-dokter di rumah sakit menyerah? Pantaskah Ni Asih
vang sakti mandraguna didiagnosa oleh dokter jaga yang baru keluar sekolah
kemarin sore? Namun ketika Ni Asih menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya tidak
apa-apa, pertengkaran pun menyusut. Fokus beralih padaku.
Ni Asih yang b u n g k am seribu bahasa dan aku yang c u ma bisa ngomong
berulang-ulang 'saya cuma megang! cuma megang!', akhirnya menghasilkan sekian
banyak spekulasi yang terus berkembang dari mulut ke mulut. Padahal kalau mau
jujur, kami berdua benar-benar tak tahu apa yang terjadi.
Cuma Yayah dan Mimin yang masih punya sensibilitas cukup sehingga mereka
tetap bersikap biasa. Terima kasihku pada Stephen R. Covey. Sudah dua kali
mereka mampir ke rumah untuk menyampaikan versi cerita baru yang beredar.
Salah satunya, aku adalah turunan ke-13 musuh bebuyutan nenek moyang Ni Asih
yang ingin merebut hak milik atas Aki Jembros.
Diam-diam, aku juga menyiapkan cerita tandingan: Ni Asih sebenarnya nenek
malang yang terkena Split Personality Disorder. Masa kecilnya yang pahit karena
sering disiksa ibu tiri dan korban pelecehan seksual paman tiri akhirnya membuat
Ni Asih menciptakan sewujud Aki Jembros sebagai teman dalam kesendirian.
Seiring bertambahnya usia, Ni Asih pun semakin lihai mengendalikan tombol on-
off antara dirinya dan manusia
KEP1NG 38 | Petir 59
imajinernya. Lalu bagaimana dengan semua kesaktian itu? Itu semua hoki.
Ceritaku pasti tak akan laku, dan agaknya m e m a ng tak perlu. Sungguh . Aku
tak punya niat mendiskreditkan reputasi Ni Asih. Perasaanku mengatakan, aku dan
dia tetap akan menjaga rahasia kecil kami. Bahwa, semua itu merupakan
ketidaksengajaan yang tak bisa dijelaskan. Bahwa, di tangan kirinya yang
menggelepar Ni Asih menggenggam sejumput rambut kemaluannya . Bahwa, aku
telah melakukan hal yang tepat untuk tidak membiarkannya menyuapiku dengan . .
. permisi, aku mau muntah .
. . . D a n aku m e n a n g is
Keadaan tidak menjadi lebih baik. Selain STIGAN, belum ada lagi prospek
karier yang jelas. Dan mengenai teror sunyi yang menyerangku
. . . tambah parah!
Kini bukan hanya perasaan diawasi saja, tapi aku curiga semua khasiat dan
kesembuhan yang telah dilakukan Aki Jembros terdiskualifikasi karena setruman
itu, yang berarti aku masih diincar siluman maniak perawan, dan sifat-sifat b u r u k
k u tak jadi dicabut. Ditambah lagi kekhawatiran kalau-kalau beliau atau pengikut
fanatiknya menyimpan dendam, lalu pada satu malam tiba-tiba aku terbangun
dengan mulut penuh . . . lupakan.
Namun, dari semua, ketakutanku yang paling parah adalah: diriku sendiri.
Setiap saat aku berpikir, apa itu? Apa 'itu'? Yang keluar dari tubuhku, atau
menumpangi tubuhku, sehingga bisa meng-KO nenek malang itu. Kalau memang
bukan listrik, apakah itu penyakit? Apakah aku telah menularkan epilepsi padanya?
Bisakah epilepsi menular lewat sentuhan?
Sementara itu, fakta dari dunia nyata terus mengejar. Elektra, Upik
60 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
Abu miskin yang terpenjara dalam kastil besar dengan stok telur yang terus
menipis. Puncaknya, aku menangis. Sudah lama sekali tidak. Padahal sering aku
menyadari betapa mengibakannya nasibku, tapi dasar kurang sentimental, jadi
jarang berair mata. Cuma kalau menguap kebanyakan atau kelilipan.
Jangan terkecoh dengan cara aku mendeskripsikan tangisku, ya. Serius, aku
sangat sedih. Belum pernah sesedih itu. Karena untuk pertama kalinya aku sadar
betul betapa pahit kenyataan yang kuhadapi. Tak ada yang lucu di sini. Masih
bagus tidak jadi gila. Atau barangkali sudah? Karena katanya, orang gila tidak
pernah ngaku gila.
Di tengah ruang tamu yang lengang dan hening, aku terduduk di lantai,
meringkas kondisi hidupku yang paling aktual: pengangguran, tabungan di bawah
400 ribu untuk hidup sekarang dan selama-lamanya, tidak punya pacar, duit
warisan Dedi cekak, kakakku menjelma jadi Barbie di dunia serba ideal, dan
seluruh warga RT di sini tetap tidak tahu namaku. Aku tidak eksis. Yang satu-
satunya menganggapku ada barangkali cuma petir di langit. Tapi gini-gini aku juga
kandidat asisten dosen. Pahlawan tanpa tanda jasa. Pendidik bangsa. Khusus di
bidang ilmu tren abad 21: ilmu gaib. Hebat, kan . . . hebat . . . dan aku menangis.
. . . N a p o l e o n Bonaparte
Empat hari dikungkung rasa takut. Aku pun tak tahan lagi. Daripada epilepsiku
yang justru kambuh gara-gara stres menumpuk, kuputuskan untuk memakai strategi
semua mafia dan jawara di dunia: sebelum keduluan diserang musuh, kita yang
harus menyerang duluan.
Di tempat yang sama, di dasar jurang tempat aku menangisi nasib yakni di
tengah ruang tamu, ke udara kosong aku tantang mereka satu-satu: Hei, Joko
Gosong! Jangan cuma di alam gaib doang beraninya! Sini!
KEP1NG 38 | Petir 61
Kalo butuh saya, datang sendiri! Makan tuh jakfaron, kembang rupa-rupa, beruang
madu . . .
KRIIIIING! Telepon rumah tahu-tahu berdering.
Aku terkesiap setengah m a m p u s . Tidak menyangka Joko akan merespons
secepat ini. Ragu-ragu, kuangkat telepon itu: Hola . . . ?
Etra, lagi ngapain kamu?
Jantungku berdenyut normal lagi. Watti rupanya. Lagi bengong, jawabku
spontan.
Bengong melulu!
Sialan, jawaban yang salah. Nggak deng, ralatku, lagi sibuk, nih. Sibuk
ngapain?
Ih. Usil sekali orang ini. Sibuk baca, jawabku ketus.
Apaan? Komik lagi?
Ada apa sih nelepon?! potongku tak sabar.
Weekend besok, Leon mau dateng ke Bandung. Aku udah kasih nomor telepon
rumah, nanti dia hubungin kamu . . .
Leon siapa? Nggak kenal!
Napoleon!
Hah? Napoleon? tanyaku lebih heran.
Itu Iho! Napoleooon! sahut Watti gemas, seolah Napoleon yang dia maksud
adalah Napoleon Bonaparte yang dikenal seluruh dunia, yang tidak mungkin datang
ke Bandung lalu menghubungiku. Napoleon temannya Atam, anak Freeport, yang
pernah aku ceritain itu lho! tuturnya bersemangat. Anaknya ganteng, Tra. Lagi cari
istri, baik, Kristen j u g a . . .
Pasti kontet terus bulet, ya? tudingku. Fnak
aja! Lumayan tinggi, lagi. Kenapa namanya
Napoleon?
Ya nggak ngerti! Tapi panggilannya Leon.
Tetap aja Napoleon.
Memang kenapa kalo Napoleon? Kamu, tuh. Lihat juga belum. Kalo
62 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
udah lihat bentuknya, mau namanya si Subur juga kamu nggak bakalan protes!
Memang mendingan Subur daripada Napoleon. Ya
enggak, dong!
Ya iya! Bayangin, entar di undangan kawin tulisannya: Elektra Wijaya, SE. &
Napoleon! Ih, malu!
Apanya yang maluin?
Kesannya, orang tuanya tuh maksa banget. Kayak teman persekutuan kamu
dulu itu, yang namanya Superman, kan malu.
Heh, nggak boleh ngejek orang gitu.
Untung nama kamu bukan Voltasia . . . atau Sri Sekring . . .
Pokoknya Leon bakal telepon kamu, dan kamu wajib menemani dia jalan-jalan!
Tapi namanya bukan Napoleon Bonaparte, kan?
Hening sejenak di ujung sana. Firasatku langsung tidak enak. Watt. . .
halo? pancingku curiga.
Ada nama belakangnya lagi, kok! Nggak cuma dua itu aja! Napoleon
Bonaparte Hutajulu.
Hening sejenak di ujung sini. Gambar undangan kawin pink dengan huruf emas
berliuk yang mengukirkan identitas seorang Indonesia asli bernama jenderal perang
Perancis mendominasi kepalaku.
Awas, lho, Tra. Jangan bikin aku malu, omel Watti. Aku udah ngejanjiin.
Nggak bisa.
Kenapa?
Saya . . . ada janji.
Kudengar suara dengusan. janji? tanya Watti sangsi. Sama siapa? Janji
wawancara.
Kerja? la terdengar makin meragu. He-
eh.
Kerja apa kamu?
Ada sekolah tinggi, nawarin saya jadi asisten dosen.
KEP1NG 38 | Petir 63
Kamu jadi asdos? Sekolah tinggi mana? Ngajar apa kamu? Kok bisa?! Nada itu.
Seperti es campur di restoran Padang. Dari mulai potongan agar-agar, p o t o n g
an peuyeum, kacang, sampai t o m a t, semuanya nyemplung jadi satu. Antara
penasaran, tidak terima, tidak percaya, dan
berharap kalau aku cuma ngibul.
Sekolah baru, sih. Namaku masuk ke daftar calon yang akan diseleksi.
Wawancaranya Sabtu besok. Saya mesti persiapan.
Agak lama Watti terdiam. Tapi dia kemudian tertawa kecil. Bo'ong, katanya
pendek. Tegas.
Serius, Watt! Nih . . . surat panggilannya ada di depan hidung!
Kamu kalo minder gara-gara harus jalan sama cowok oke pilihanku, terus
pingin menghindar, bilang aja. Nggak usah ngarang-ngarang sok sibuk, gitu.
Dengan ringannya Watti berujar.
Dengar, ya! Saya baca suratnya: kami adalah perguruan tinggi—bertaraf
internasional di Indonesia, dan tahun ini kami membuka lowongan bagi tenaga pengajar.
Berdasarkan—pengamatan—yang dilakukan saksama oleh tim rekrutmen—kami, nama
Anda terpilih sebagai kandidat yang akan diseleksi untuk menjadi Asisten Dosen. Aku
berkata lantang. Tersendat sedikit empat kali. Tapi kayaknya nggak ketahuan.
Tra . . . ada salam.
Dari?
Yohanes 22 ayat 5.
Watti pun menutup telepon.
. . . Revolusi cara gaib
Sebagian dari diriku tidak terima dituduh ngibul. Okelah, kalau kasus Yohanes
22 itu kan sepenuhnya kasus self-defense. Sudah jadi instingku untuk
mempertahankan harga diri di hadapan Watti. Tapi, kali ini, betul-betul ada pihak
yang serius menawariku berkarier resmi, tanpa perlu piramida, kaki-kaki, setoran
modal, dan seterusnya, melainkan profesi
64 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
t e r h o r m at sebagai seorang pendidik (lupakan dulu ilmu gaibnya, oke? Mari
kita fokus pada tawaran menjadi Asisten Dosen).
Hmm. Pikir-pikir, gaya juga.
Mukaku seketika mengernyit. Pertanda aku hendak melakukan satu hal
abnormal. Maafkan aku, Elektra. Dalam hati aku meminta maaf pada diri sendiri
karena tangan-tangan nakal ini merayap perlahan, meraih Alkitab Watti,
mengambil lipatan kertas HVS yang terselip di dalam.
Perlahan dan saksama, aku membaca ulang lembar demi lembar. Lembar
pertama: surat pengantar dari Joko Gosong. Kuambil pulpen dan secarik kertas
kecil, lalu kutulis jadwal wawancara jarak jauh yang akan dilakukan serempak itu,
tak ketinggalan barang-barang persyaratan kalau harus mengirim CV ke kuburan.
Kayaknya belum mampu deh kirim versi lisan lewat semadi. Berdoa makan yang
sepuluh detik saja seringnya ngelamun. Gimana mau kirim surat . . .
Lembar kedua: visi dan misi STIGAN. Otakku dipaksa untuk berputar lebih
kencang di sini, soalnya istilahnya susah-susah. Pendidikan bangsa Indonesia
dianggap gagal karena selalu pakai pendekatan y a n g — materialistik dan
inkrementalistik—yang, yaaah . . . pokoknya gagal. Jadi butuh revolusi, bukan
reformasi. Tapi revolusi pun bukan sembarang revolusi. Revolusi ini dilakukan
dengan cara gaib. Untuk itu STIGAN didukung oleh LPM, Lembaga Penggaiban
Masyarakat. Lebih lanjut STIGAN menuding, sudah ratusan ribu sarjana diwisuda
tapi tidak ada yang mampu membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Mereka
lantas bermisi untuk mencetak sarjana berkualitas yang mampu mewujudkan
sesuatu jadi mungkin di tengah kondisi serba tak mungkin . U n t uk
memastikannya, beberapa fasilitas sudah siap mendukung, antara lain: kuburan
keramat, kitab-kitab suci kuno, akses langsung tak terbatas ke arwah leluhur, dan
laboratorium Pantai Selatan.
Lembar ketiga: pengenalan k u r i k u l um global STIGAN. Mereka
menyediakan program D1, D3, S1, sementara program magisternya masih dalam
tahap persiapan. Lama masa perkuliahan tidak disebut, tapi untuk
KEP1NG 38 | Petir 65
strata S1 jumlah SKS-nya 144. Sama seperti waktu aku kuliah Ekonomi dulu.
Pada lembar keempat, baru dicantumkan semua mata kuliah, kode, jumlah SKS,
dan nama-nama pengajar. Lama aku membaca lembar yang satu ini. Berusaha
mengira-ngira mata kuliah apa yang bakal ditawarkan padaku nanti, siapa dosen
yang akan kuasisteni, bidang apa yang cocok dengan minatku. Ada mata kuliah
Teknik Pelet, Studi Voodoo, Pengantar Ilmu Sihir, Filsafat Ilmu Gaib, Tafsir Kitab,
Statistik Dunia Roh 1 dan 2, Pemeliharaan Jin dan Tuyul . . . ckckck, pilihan sulit.
Aku mengetuk-ngetukkan pulpen. Satupun tidak ada yang kutahu. Dan, coba cek
nama-nama dosen ini: Nyi Roro Wetan, Prof. Ronald Kasasi, MiG., Dr. Drabakula,
Semar Gendheng, Jaya Supranatural, Don Jelangkung . . . wah, wah, wah. Mana
mungkin aku pakai nama Elektra Wijaya, SE.? Biasa banget! Eleketek Palawija.
Elektrum Kasetrum. Ah, sudahlah. Kirim saja dulu CV-nya. Soal nama dan
penempatan urusan nanti!
Namun resahku belum hilang. Masih ada yang kurang. Seharusnya ada lembar
kelima. Keterangan gaji. Asisten dosen di kampusku dibayar 25 ribu sejam, dan
yang dihadapi adalah mahasiswa-mahasiswa dengan kaki menjejak tanah, yang
kalau punya masalah paling-paling curhat atau berantem. Nah, dengan medan serba
klenik yang kalau salah sebut sedikit bisa ko'it, harusnya kami dibayar tinggi.
Lagian, berapa coba uang pangkal yang harus dibayar calon mahasiswanya? Untuk
jadi sarjana tak berguna saja harus bayar mahal waktu daftar masuk. Apalagi
sarjana yang bisa bikin tak mungkin jadi mungkin.
Tapi, okelah, itu bisa dibicarakan belakangan. Sekarang, yang penting CV-ku
harus sampai dulu, lalu mengonversikan tanggalan Saka ke Masehi. Jangan sampai
sudah repot - repot melamar t a h u - t a hu ketinggalan wawancara karena salah
hari. Dan ke mana aku harus cari benda-benda aneh ini;
Otot-otot mukaku berkontraksi lagi. Sekilas kutangkap bayangan
66 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
mengernyit pada kaca jendela. Elektra, sori ya.
Sekali lagi, aku meminta maaf pada diriku sendiri.
. . . Melewati gerbang b a m b u
Sejak dulu, ada satu rumah di daerah Buah Batu yang kucurigai sebagai rumah
nenek sihir. Bentuknya sempit seperti paviliun, terbuat dari kayu.
Gerbangnya jauh lebih depan dari garis sempadan r u m a h- r u m a h
tetangga, membuat ia tambah mencolok seolah menantang publik.
Tembok dalamnya ditutupi potongan bambu yang dicat hitam campur cat merah
meluntur yang mengingatkan kita pada darah kering. Aneka kendi tua ditumpuk
mengelilingi bangunan layaknya kerikil hiasan. Tak cuma di situ, pada akar-akar
pohon beringin yang t u m b uh persis di samping rumah, kendi-kendi itu ikut
digantung.
Aku bukan orang yang paham seni, tapi siapa yang bisa mengerti dasar estetika
si pemilik r u m a h ini? Selain kendi, hiasan lain yang mendominasi adalah ijuk.
Gumpalan-gumpalan ijuk ditempel di tembok depan. Aku membayangkan ada
sekian Rahwana en de geng yang terjebak kepalanya di balik dinding, lalu rambut
mereka t u m b u h liar tanpa sentuhan salon, menembusi celah kayu. Ornamen lain
yang terlibat adalah sapu lidi, sebagian dipajang dan sebagian lagi ditempel. Lalu,
tumbuhan-tumbuhan kering semacam merang, biji-bijian, dan kawan-kawannya.
Mari, kita ringkas sekali lagi: bambu hitam bernoda darah, pohon beringin istana
jin, kendi tua isi abu orang mati, ijuk rambut monster, sapu lidi penyihir-penyihir
yang dikalahkan, tanaman kering untuk ramuan racun.
Baru setahun yang lalu aku tahu bahwa rumah yang menjadi objek fantasi masa
kecilku ternyata sebuah toko. Jualan semua keperluan 'aneh-aneh', begitu kata
orang-orang. Dan kami tahu sama tahu, yang dimaksud 'aneh-aneh' tadi merupakan
keperluan klenik.
Seumur hidup, belum pernah aku melewati gerbang bambu itu.
KEP1NG 38 | Petir 67
Mentok - mentok cuma ngintip lima detik lalu lari kencang-kencang sambil teriak-
teriak sendiri. Aku selalu percaya sesuatu yang menakutkan tengah berlangsung di
dalam sana. Tapi setiap kali ada kesempatan pergi ke daerah ini, aku harus mampir.
Seperti kalau ke Pasar Cihapit dan harus singgah ke toko langganan (sebuah toko
kue yang tak pernah kutahu namanya, jadi kujuluki saja toko langganan), walaupun
tidak beli apa-apa aku sudah cukup senang mengintip Chupa Cups yang disusun
seperti jamur besar dekat kasir. Rasa takut ternyata memiliki magnet sama besar
dengan rasa suka.
Siang itu, di tangan kiriku tergenggam selembar kertas daftar belanjaan,
sementara tangan kananku mendorong pelan pintu bambu yang tidak diselot. Siang
itu, aku akan berhadapan dengan rasa takutku sendiri. Siang itu, khayalan terbaikku
akan rontok.
Aku melangkah masuk. Rumah itu, sekalipun gelap, ternyata bersih dan wangi.
Tercium harum dupa dicampur wangi bunga segar. Ada lima baskom besar yang
isinya aneka bunga tabur. Tiga hio dibakar, tertempel di dinding.
Aku mendongak. Rak bersusun sampai ke langit-langit. Botol besar-kecil
berjajar rapi. Tak jelas isinya apa. Ada yang seperti akar-akaran, biji, butir beras
warna-warni, ada juga yang isinya seperti manisan Garut. Barangkali ginseng
direndam, atau bayi menjangan. Sejujurnya, tempat ini tak jauh beda dengan toko
obat Cina atau warung jamu komplet.
Selamat siang, bisa dibantu? Suara perempuan dewasa menyapa. Datangnya
dari belakang. Aku menoleh. Seorang ibu gemuk umur 40-an berwajah hangat
tersenyum lebar padaku. Tampak seperti turunan India. Pakaiannya putih-putih
serba longgar, seutas kalung manik-manik di leher, selopnya juga full terbuat dari
manik-manik. Manis sekali.
Ini saya bikin sendiri, katanya ramah, setelah melihat mataku yang terhenti di
kakinya. Cari apa, Dik? la bertanya seraya menyelisip ke balik dagangannya. Siap
melayaniku.
Ehh — aku gelagapan. Canggung. Akhirnya kuserahkan saja daftar
68 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
belanjaanku. la menerimanya, lalu manggut - manggut. Sebentar ya, ujarnya. Dan
selagi si ibu mencari-cari, mataku kembali liar melihat-lihat, menyapu semua sudut.
Mumpung ada di sini. Mungkin tidak akan dua kali.
Ternyata banyak hal menarik. Tadinya kupikir si ibu beragama Islam karena
ada kaligrafi hurut Arab bertulis 'Allah' dipajang dalam pigura. Tapi aku baru sadar,
di sebelahnya ada foto Sai Baba sedang nyengir lebar. Di pojok belakang, aku lihat
lagi ada kepala Buddha sebesar bola voli. Di sebelahnya, tahu-tahu ada patung
Dewa Shiwa dari kayu hitam. Aneh betul. Tinggal Yesus yang absen, aku terkekeh
dalam hati. Dan bertepatan dengan itu, mataku tertumbuk pada pigura berisi poster
Yesus yang sedang berdoa di taman Getsemani. Di sebelahnya masih ada lagi
poster lain. Pemuda bersorban putih yang sedang tertawa lepas. Siapa lagi ini . . .
Lagi-lagi, si ibu membaca arah mataku. Tahu nggak itu siapa! tanyanya. Aku
menggeleng.
Nabi Muhammad, jawabnya santai.
Napasku kontan tercekat.
Waktu beliau umur 14 tahun, lanjutnya lagi. Aku
tercekat dua kali.
Saya dapat dari Iran. Kalau di sana kan foto Nabi dijual bebas. la lalu tertawa
melihat reaksiku. Udah, Dik. Nggak pa-pa. Orang-orang juga nggak ada yang tahu
kalo bukan saya yang bilang.
Diam-diam aku meliriknya. Mengagumi air muka yang begitu rileks, yang
kalau detik ini ada petasan meledak di kakinya, palingan cuma nyengir dan angkat
bahu.
Ini—masing-masing mau dibeli berapa banyak? la bertanya seraya
mengacungkan daftarku.
Mmm . . . secukupnya, Bu.
Kemenyannya satu kilo cukup?
Mukaku memerah. Tidak tahu mesti jawab apa.
Mungkin sedikit-sedikit, kali ya. la tersenyum. Minyak jakfaronnya
KEP1NG 38 | Petir 69
mau yang asli atau campuran? tanyanya lagi.
Ha! Pertanyaan yang mudah ditebak. Dengan yakin aku menjawab: Yang asli,
dong!
Yang asli 100 ribu satu botol, kalau campuran 7500 perak.
Hmm, gumamku. Pura-pura berpikir keras. Yang campuran dulu deh, Bu.
Takutnya, masih ada persediaan yang asli di rumah.
Oh, boleh, boleh. la mengeluarkan botol kecil sebesar shampo hotel berisi
cairan merah muda. Idih, cuma segitu?! teriakku dalam hati. Untuk 7500 perak pun
aku tak rela.
Kemenyan madunya juga segini saja, ujarnya sambil memasukkan dua
bongkah kecil ke dalam plastik obat. Bunganya saya ambil ke belakang dulu, ya.
Ibu punya yang lebih segar.
Dadaku kembali longgar. Oke, tahap pertama lewat sudah. Fiuh. Begitu bayar,
pokoknya langsung ciao!
Tak lama, ibu itu kembali. Bunga rupa-rupaku dibungkusnya pakai koran
dikerucutkan. Segini saja, Dik? Nggak mau ambil hionya? Ibu ada yang wangi
vanili. Anak muda banyak yang beli.
Anak muda? Banyak yang ke sini? batinku. Anak-anak muda apaan, tuh! Tapi
melihat wajah si ibu yang ramah membikinku ingin membantu usahanya. Boleh
deh, saya ambil sebungkus, kataku akhirnya. Jadi berapa semua, Bu?
Enam belas ribu. Lima belas aja.
Aku merogoh dompet. Dari ekor mata, aku tahu ia sedang menatapku seperti
meneliti. Seluruh kecanggunganku bagaikan billboard yang meng-umumkan besar-
besar: ELEKTRA BELUM PERNAH BELI KEPERLUAN KLENIK. Hati-hati ia
bertanya: Maaf, ya, kalo lancang, tapi boleh tahu agamanya Adik apa?
Aku sedikit kaget oleh pertanyaan itu. Berusaha menebak maksud di baliknya.
Perlahan, kutunjuk poster Yesus.
Gereja mana?
GKI, jawabku pendek. Agak tidak enak menyebut karena sudah satu
70 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
t a h un lebih tidak kuinjak tempat itu.
Kalau saya sukanya ke Katedral. Tiap malam Natal saya misa ke sana. Oh, ibu
Katolik?
la tak menjawab. Hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. Sebuah
ekspresi abu-abu yang mana engkau tidak bisa menebak apakah itu 'ya' atau 'tidak'
atau 'begitulah' atau 'ada deeeh!'.
Ada satu pertanyaan tersisa. Dan sekalipun canggung luar biasa, tampaknya
aku tidak punya pilihan berhubung tak tahu lagi harus bertanya pada siapa. Bu, mau
tanya — aku sungguh ragu. Wajah itu menunggu. Mmm — Ibu ngerti tanggalan
Saka, nggak?
Tangannya sigap mengambil carikan kertas dan pulpen. Tanggal berapa, Dik?
Aku menyodorkan catatanku.
Sehabis membaca sepintas, ia langsung mengambil sesuatu dari laci kasirnya.
Sebuah buku tipis yang halamannya sudah kekuningan. Tampak ada semacam
tabel-tabel. Jemarinya bergerak menyusuri. Malam Jumat sekarang, ia bergumam.
Kamis malam? ulangku, berusaha menetralkan 'malam Jumat' yang terdengar
horor.
Ya. Tanggal 17 ini.
Aku mengangguk-angguk. Bu, makasih banyak, ya.
Sama-sama, sahutnya. Diambilnya selembar kartu lalu diberikan padaku. Nama
saya Sati, ini nomor telepon toko. Kalau butuh apa-apa, telepon saja, ya.
Sebagai balasnya, aku menyodorkan tangan. Nama saya Elektra, Bu. Kapan-
kapan saya mampir ke sini lagi.
Saya tunggu.
Ada sedetik mata kami berdua b e r t e m u . Dalam waktu yang sedemikian
singkat, aku merasakan banyak. Aku merasa akan bertemu dengannya lagi. Aku
merasa hati ini sesuatu yang besar terjadi dalam hidupku. Aku merasa telah
memasuki sebuah zaman baru yang belum
KEP1NG 38 | Petir 71
sempat kuberi judul, tapi aku merasakannya. Sebuah perasaan halus serupa bisikan
peri dalam mimpi, tapi aku mendengarnya. Jelas.
Agak linglung, kuberjalan keluar. Menutup pagar bambu itu. Lama aku
mematung di tepi jalan. Angkot yang seharusnya kutumpangi sekian
banyak lewat-lewat dan mengklaksoni dengan ganas. N a m un aku
m e m a t u n g . Bisikan itu . . . halus, sekejap. N a m u n detik yang
ditumpanginya mampu membengkak hingga ke saat ini. Memaku kaki dan
pikiranku hingga tak mau bergerak ke mana-mana.
. . . Operasi Pandu Jaya
Aku yang belum pernah menulis CV sempat agak bingung juga. Untung ada
buku Sukses Melamar Kerja milik Watti yang tidak terbawa ke Tembagapura. Dan
berhubung ini bukan CV biasa, aku tambahkan keterangan unik lain yang sekiranya
membuat pihak STIGAN percaya aku memang berpotensi gaib, antara lain:
kesetrum listrik waktu umur sembilan tahun dan selamat tanpa cedera, ahli
memanggil petir, lolos dari sambaran halilintar, menyetrum seorang dukun sakti.
Semoga tambah meyakinkan. Amin.
Tahap kedua: packaging.
Tadinya, CV dan segala aksesori klenik hendak kupaketkan dalam
satu boks kotak sepatu, tapi takut terlalu mencolok . Akhirnya
k u m a s u k k an semua hati - hati ke dalam a m p l op besar. Minyak
jakfaronnya kubungkus lagi dengan plastik supaya tidak tumpah di perjalanan ke
alam gaib nanti. Jaga-jaga. Tak tahu berapa lama dan bagaimana medan ke sana,
kan!
Tahap ketiga: delivery.
Tidak ada kuburan yang dekat dari rumah. Untuk itu aku terpaksa melakukan
survei ke tiga kuburan umum . Satu-satunya pertimbanganku adalah mana yang
paling sepi. Coba, seberapa sering orang datang ke
72 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
kuburan untuk ngasih amplop? Kasih telur bebeklah. kue-kuelah, semua itu masih
jamak. Tapi amplop berisi surat lamaran? Aku boleh jadi gila, tapi yang namanya
gengsi harus tetap dijaga.
Rintangan utama adalah para penjaga kuburan yang selalu mengintai seperti b u
r u n g nasar. Dengan sapu lidi di tangan. mereka datang bergerombol, bisa tiga atau
empat orang, muncul dari sudut-sudut yang tak diduga, kadang dari balik pohon,
kadang dari balik nisan. Cara menghindari mereka hanyalah datang di luar jam
kerja. Bisa pagi-pagi buta, atau sore menjelang magrib. Aku memilih yang kedua,
karena kupikir kurir gaib pasti beroperasi pada malam hari. Jangan sampai suratku
kena ekspos sinar matahari dan terlihat orang.
So, dari ketiga kandidat tempat, yang kuanggap paling lumayan adalah kuburan
Pandu karena punya akses masuk dari Jalan Pasteur. Berkat lampu jalan dan mobil-
mobil lewat, aku cukup berani datang menjelang gelap. Akan kupilih kuburan
paling dekat jalan, simpan amplop di semak-semak, cabuuut!
Angkot yang kutumpangi berhenti di pinggir pekuburan, berbarengan dengan
adzan magrib berkumandang. Waktuku tidak lama. Padahal Mami dan Dedi
dikubur di sini. Tapi sekarang bukan waktunya ziarah, harus bergegas. Kawanan k
u n a n g - k u n a ng dan sunyi khas p e k u b u r an menyambutku. Sunyi yang
padat seperti hawa mampat dalam kukusan. Sunyi yang membikin jantung
berdegup kencang tanpa alasan. Datang ke kuburan malam-malam memang tidak
baik untuk kesehatan.
Baru sepuluh meter berjalan masuk, sebuah vespa datang dengan kecepatan
lambat dari arah berlawanan. Lampunya dinyalakan. Buru-buru aku menunduk.
Jalan semen yang membelah kuburan ini lebarnya paling-paling 1,5 meter, jadi
ketika kami berpapasan, vespa dan aku terpaksa melambat.
Etra—Etra, ya?
Bercampur bunyi mesin vespa yang m e n g g e r u ng nyaring, aku
KEP1NG 38 | Petir 73
berusaha menganalisa suara si wajah remang-remang yang menyapa. Dodi? sapaku
setengah ragu. Dan ternyata benar. Dodi, teman kuliah,
mahasiswa abadi yang mengenal dan dikenal hampir semua orang. Ah, dan vespa
pink-nya, tak salah lagi. Ingin sekali bertanya pada siapapun yang bertanggung
jawab pegang skenario: dari semua probabilitas yang tersedia di alam semesta,
kenapa harus sekarang aku bertemu orang yang kukenal—yang jumlahnya pun tak
banyak itu? Bukankah sudah kupilih tempat paling tak lazim dalam kamus
pergaulan muda - mudi? Dan ternyata, masih juga harus bertemu dengan si Dodi . .
. di kuburan!
Kamu ngapain? tanyaku takjub.
Rumah saya kan di jalan Pandu, mau ke rumah teman di Cibogo, jadi nembus
ke sini aja. Biar dekat. la menjawab ringan. Lalu ia gantian bertanya, dengan lebih
takjub, tentunya: Kamu ngapain?
M m — m au motong jalan juga ke Pajajaran. Aku nyengir.
Weisss, edun, berani pisan malem-malem! Sendirian lagi. Ngetes jimat? Ia
tertawa. Yuk, saya antar!
Nggak usah, Dod—
Kudu, ah! Dia memaksa. Masa kamu saya tinggal di kuburan . . .
Sambil menelan ludah, aku terpaksa naik. Vespa Dodi membawaku jauh,
jauuuh . . . dari sasaran. Dalam perjalanan kami membelah kuburan Pandu, Dodi
dengan semangat bercerita tentang proposal skripsinya yang sudah enam kali
diajukan dan akhirnya diterima. Sudah enam kali pula aku berpikir untuk
melemparkan saja amplop ini ke sembarang arah, tapi
. . . sabar, Etra, sabar.
Di mulut jalan Pajajaran, ia memberhentikan vespanya. Sampai di sini aja
nggak pa-pa? tanyanya memastikan.
Ya, di sini aja. Makasih banget. Tinggal jalan dikit, kok. Aku tersenyum lebar-
lebar.
Oh, ya, kerja di mana sekarang, Tra? Udah lama lulus, kan? Dodi bertanya
sambil membetulkan posisi helm di kepalanya.
Aku menghela napas. Tanganku mencengkeram ujung amplop. Aku
74 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
masih pengangguran, gara-gara KAU! Kenapa harus muncul magrib-magrib di
kuburan dengan vespa pink bak pangeran dari planet Valentine? Kalau tidak, kurir
gaib pasti sudah mengambil CV-ku. dan minimal aku jadi pengangguran
berprospek.
Plan A alias Operasi Pandu Jaya, gagal. Terpaksa pakai plan B. Operasi
Lukman Jaya.
Malam itu juga aku menelepon Oom Lukman. kakak sepupu Dedi yang kaya
dan sedikit nyentrik. Kami tidak begitu akrab, tapi aku yakin, untuk urusan ini, ia
bisa membantu.
Oom, ini Etra.
Eeeh, Etra. Apa kabar?
Baik, Oom. Mau tanya, kalau kuburan yang di belakang rumah Oom masih ada
nggak?
Masih, dong. Siapa yang berani gusur! Ia tertawa.
Tak sampai sejam, aku muncul di rumah pamanku. Membawa seplastik bunga
tabur. Oom Lukman memandangiku dengan tatapan haru. Kamu kangen banget
sama si Kambing, ya? Kirain kamu sudah lupa, katanya sambil mengusap sekilas
rambutku.
Dibiarkannyalah aku sendiri di pekarangan belakangnya yang luas, tanpa mau
menggangguku yang ingin mengenang saat-saat terindah bersama si Kambing,
kucingku pertama dan terakhir yang mati kegencet teve 17 tahun yang lalu.
Kambing tutup usia pada umur dua bulan. Dan aku tidak ingat, apakah warnanya
putih atau kuning atau campuran keduanya. Kambing nebeng dikuburkan di rumah
Oom Lukman yang punya lahan pemakaman khusus u n t uk hewan peliharaannya
yang bejibun. Kambing bahkan dibikinkan satu nisan mini seperti yang lain-
lainnya.
Di balik nisan Kambing, aku selipkan surat lamaranku. Sebagian kututupi tanah
agar tak terlalu kentara. Aku melengak menatap angkasa. Ayo, kurir-kurir gaib, di
mana pun kalian berada, kalau pada akhirnya aku tidak diterima sekalipun, m o h o
n jangan bikin malu dengan tidak
KEP1NG 38 | Petir 75
menjemput surat ini hingga akhirnya pamanku dan tukang kebunnyalah yang
membaca. Dan jangan bilang kalian mendiskriminasikan kuburan binatang. Mereka
juga makhluk Tuhan.
. . . Kenapa T u h a n harus dicari?
Senin jadi Selasa. Selasa jadi Rabu. Dan sebelum Rabu jadi Kamis, aku sudah
harus menguasai satu ilmu yang aku buta total. Lagi-lagi, pro-blem klasik datang
menghadang. Pada siapa gerangan aku bertanya?
Satu nama muncul. Dan dialah pilihan tunggal. Siapa sangka Elektra akan
melewati gerbang bambu itu lagi.
Ibu Sati bersedia menerimaku sesudah toko tutup. Tepat pukul lima, aku
sampai. Beliau masih pakai baju putih - putih (tanpa bermaksud menuduhnya tidak
pernah ganti baju).
Halo, Elektra. Mari, masuk. Dengan keramahannya, ia kembali menyambut.
Suara itu—seperti kucuran air sejuk, yang sampai pada satu titik, aku merasa Ibu
Sati bisa membual seenak perut, dan aku akan tetap percaya setiap kata.
Kita duduk di dalam, ya. la membawaku masuk ke sebuah ruangan yang cuma
dibatasi oleh tirai kerang. Lampu dinyalakan dengan menarik tali. Bohlam pijar 25
watt digantung paralel dengan bohlam 5 watt warna merah. Ibu Sati kemudian
membakar sebatang hio, serta menyalakan sebuah lilin gendut warna putih. Tidak
ada kursi di ruang itu. Kami berdua duduk di atas karpet motif a la Persia,
dikelilingi tumpukan bantal yang tergeletak bebas di sana-sini.
Setelah nyaman dengan posisi duduknya, Ibu Sati pun bertanya: Apa yang bisa
saya bantu, Elektra?
Pertama-tama, aku harus bilang bahwa aku agak senang mendengar ia
menyebutkan namaku lengkap. Jarang, soalnya. Kedua, aku juga sudah siap dicap
sinting. Gini, Bu, aku mulai bicara. Saya kepingin tahu caranya
76 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
semadi. Barangkali lbu bisa bantu, atau kenal seseorang yang bisa saya tanya.
Meditasi, maksud kamu?
Aku mengangguk ragu. Tidak tahu apa bedanya. Kenapa kamu
mau belajar meditasi? la bertanya tenang.
Aduh. Ini dia. Bagian paling menyebalkan. Kenapa orang-orang harus selalu
penasaran dengan 'kenapa'? Kenapa tidak langsung to-the-point, hajar bleh, dar-dar-
dar! Dan barusan, sudah dua kali pula aku tanya 'kenapa'. Ih. Kenapa, ya? Aduh.
Soalnya, saya harus . . .
Stop, Etra. Berhenti cari alasan. Akui, kamu mentok. Mungkin sudah saatnya
kamu seratus persen jujur. Oke. Sembilan lima. Hmm. Delapan tujuh, deh. Aku pun
menjawab terbata: Karena . . . karena saya sedang mencari Tuhan.
Wuaduh! Gobloknya kamu Etraaa . . . belajar matematik nggak, sih?! 87% #
0% ~ ngibul total!
Ibu Sati tersenyum kecil. Kenapa Tuhan harus dicari? tanyanya. Duh! Bagian
menyebalkan ini lagi?! protesku dalam hati, menyadari
posisiku yang mati langkah. Namun, aku teringat prinsip mafia dan jawara seluruh
dunia. Api dibalas api, mata dibayar mata, 'kenapa' dibalas 'kenapa'.
Kenapa—enggak? Aku membalas. Hati-hati.
Senyum Ibu Sati kini menunjukkan gigi. Saya suka jawaban kamu, ujarnya.
Betul, kenapa tidak? Dan kalo kamu sudah ketemu, kamu mau ngomong apa?
Oke. Pertanyaan 'apa'. Seharusnya lebih mudah. Kuputuskan untuk memakai
rumus yang sama. Biar aman.
Apa—kabar? kataku. Sedikit lebih yakin.
Ibu Sati mengangguk-angguk puas. Dari semua pertanyaan di dunia yang ingin
manusia ajukan pada Tuhannya, kamu memilih 'apa kabar'. Luar biasa sekali,
pujinya lagi. Kamu juga percaya tidak ada satu peristiwa pun yang kebetulan, kan?
Aku putuskan untuk mengangguk. Belakangan hari, aku memang setuju.
Bukanlah kebetulan Ibu Sati ternyata seorang instruktur meditasi,
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. ([email protected])
KEP1NG 38 | Petir 77
seorang yogi, yang sudah pengalaman puluhan tahun bahkan sampai berguru ke
India segala, tanah kelahirannya. Bukan juga kebetulan kalau perempuan inilah
yang kelak membukakan pintu-pintu pengetahuanku. Bukan kebetulan gerbang
bambu di depan ternyata menjadi gerbang zaman baru Elektra.
Ibu Sati lalu mengajakku berdiri. Meditasi p u n p u n ya intro . Serangkaian
senam pemanasan bernama asana. Katanya, sebelum pikiran bermeditasi tubuh pun
harus disiapkan. Aku menurut saja. Lumayan, hitung-hitung gerak badan. Terakhir
olahraga waktu opspek.
Kami berdua tutup mata. Suara Ibu Sati mengalun halus: Amati gerak pikiran ..
. ikuti. . . jangan dilawan . . .
Sambil meratapi kakiku yang semutan, dalam hati aku berteriak-teriak: Hoooi,
surat lamaran! Jangan lupa tujuan asal! Surat lamaraaan!
Harapanku sesi ini sama seperti acara mengheningkan cipta yang diakhiri
dengan ucapan 'Selesai!' dari pemimpin upacara. Bedanya, mengheningkan cipta
paling lama lima menit, dengan parameter iringan lagu paduan suara. Tapi hening
tanpa iringan ini seperti tak selesai-selesai. Aku khawatir Ibu Sati lupa aku ada.
Betisku rasanya tertusuk - tusuk seperti dibenamkan ke dalam sarang semut.
Kugeser kakiku sedikit, berharap bunyi gesekan karpet akan berfungsi seperti
bel. Tidak ada respons. Aku memberanikan diri berdehem. Spada! Spada! Tok-tok-
tok! Namun inspektur upacara masih bergeming juga. Tak ada jalan lain. Terpaksa
memakai teknik kuno yang sering kupakai di gereja untuk menggoda Watti dulu:
batuk rejan buatan. OHOK-OHOK-
HHHKKK!
Wah, wah, wah. Tetap tidak ada sahutan. Aku beranikan diri mengintip
. . . ampun, Gusti. . . Ibu Sati melayang!! Matanya terpejam dengan posisi lotus,
tapi dengan ketinggian sepuluh senti dari lantai! Badanku seketika kaku. Rasa ngeri
dan takjub merasuk sampai sesak dada ini. Aku tak bisa berkata-kata, tak bisa
bergerak. Tolong, jangan kau terbang lalu hilang menembus atap. Trauma Ni Asih
saja belum sembuh. Jangan tambah lagi dengan ini.
78 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
Pelan-pelan, tubuh itu turun. Mendarat hati-hati bagai seutas benang masuk
jarum. Kedua mata itu membuka. Segaris senyum samar hadir di wajahnya.
Senyuman orang semalam menang lotere dan bangun pagi dengan bahagia.
Aku masih terpana.
Jangan takut, Dik. Ia berkata lembut. Kalau nanti cakra Anahata kamu terbuka,
ia menunjuk dadaku, kita akan mengetahui rahasia udara dan bisa berelevasi.
Kenapa jadi kompleks begini? tanyaku dalam hati. Aku ke sini kan untuk
belajar kirim surat, bukan belajar terbang.
Bagi yang belum pernah meditasi sebelumnya, pasti pikirannya sulit diam,
tuturnya. Tapi nggak apa-apa. Kalau Elektra punya waktu, saya mau jadi
pembimbing. Kita cukup latihan di sini dua kali seminggu. Mau?
Sesuatu bergolak di dalam, dan kutatap matanya lurus-lurus, sampai keluarlah
pertanyaan itu: Kenapa—kok, Ibu mau jadi pembimbing saya?
Supaya kamu mendengar, jawabnya lembut. Elektra, yang menjadi persoalan
bukannya apa yang kita tanyakan, tapi bagaimana kita bisa mendengar jawaban.
Aku tercenung. Tersentuh oleh kalimat dan ketulusannya. Saatnyalah aku jujur
seratus persen. Bu, sebenarnya — sudut mataku tiba-tiba menangkap sebuah benda
yang kukenal—itu . . . apa? tunjukku pada lipatan kertas yang setengah terbuka,
tergeletak di meja dekat punggung Ibu Sati.
Ibu Sati berbalik. Oh, ini? Ia tertawa kecil. Langganan saya yang bawa, nggak
tahulah itu apaan, Dik. Sekolah tinggi gaib ceritanya — mm, STIGAN? Dia diajak
jadi dosen di sana. Terus, dia kebingungan, suratnya dikasih lihat ke saya, minta
pendapat. Hahaha!
Hahaha! Tawaku penuh selidik. Terus, Bu? Ibu bilang apa? Haha . . .
Ya, tadinya saya pikir juga serius. Lama kita baca bareng-bareng di sini. Pada
halaman terakhir Ibu baru sadar—sambil terpingkal ia meraih surat itu dan m e n u
n j u k k a n n ya p a d a k u — n i h, lihat, Dik. Ibu Sati membentangkan halaman
ke-4. Daftar mata kuliah, lengkap dengan kode
KEP1NG 38 | Petir 79
dan nama dosen. Aku beringsut mendekat. Jari Ibu Sati menyusur kolom kode mata
kuliah, tawanya terdengar tertahan. Mataku memicing, berusaha mencari kelucuan
yang dimaksud: KEl0l, KE102 . . . TI203, TI204
. . . PU316 . . . NI414 . . . YE508, YE509 . . . aku tidak mengerti.
Elektra bisa lihat, nggak? Ibu Sati terkikik geli.
Aku memicing sekali lagi. Ada apa, sih? Ada pola tiga dimensi? Holo-gram?
Atau ada energi-energi transparan yang cuma bisa dilihat orang-orang yang
melayang dari lantai? Dengan frustrasi, aku pun menggeleng.
Lihat ini, KE . . . TI . . . PU . . . NI . . . YE . . . hahaha!
Ha—haha, aku berusaha keras ikut tertawa. Supaya kedengaran lebih alami,
aku pun berusaha menyumbang komentar: Ha, ha—padahal, 'ni ye' kan udah nggak
jaman lagi, ya Bu! Ha, ha, ha.
Betapa pegalnya tawa yang dipaksa ada.
. . . Bertanya pada segelas air
Ibu Sati dan aku janjian bertemu lagi minggu depan. Tempat dan jam sama.
Ia mengajariku salam khusus. Kedua tangan ditangkup, ditempelkan di kening
lalu di depan dada. Artinya ia menghormatiku dan roh kudus yang bersemayam di
dalam aku. Salam dobel kompak, begitu aku menginterpretasikannya. Dan seperti
guru di sekolahan sebelum kelas bubar, Ibu Sati berkata: Ada pertanyaan?
Ada. Cepat-cepat kubiarkan m u l ut ini bicara sebelum pikiranku
menyesatkannya: Saya harus bayar berapa sama Ibu? Bagaimana juga, waktu Ibu
kan nanti tersita untuk saya.
Ia menggeleng cepat. Nggak, nggak ada bayar-bayaran. Saya wajib membantu
kamu, ujarnya tegas.
Serta-merta aku meraih tangannya. Makasih sekali, Bu. Tapi saya
80 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
harus jujur, saya ini nggak tahu apa-apa, termasuk tujuan saya belajar . . .
Ibu Sati memotong: Ada yang perlu kamu tahu, Elektra. Tentang diri kamu
sendiri. Tapi saya belum bisa bilang sekarang. Satu hari nanti. Oke?
Sejenak aku kembali tercenung. Ada
pertanyaan lagi?
Ada. Mulutku bersuara: Agama Ibu—sebenarnya apa?
Untuk kedua kalinya kudapatkan ekspresi abu-abu yang mana engkau tidak
bisa menebak apakah itu 'ya' atau 'tidak' atau 'begitulah' atau 'ada deeeh!'. Namun
kali ini Ibu Sati melengkapinya dengan jawaban: Itu sama dengan bertanya pada
segelas air, Dik. Air bisa men jawab dirinya 'air sungai' atau 'air laut', tapi kalau ia
memilih menjawab 'air' saja, itu juga tidak salah,\an.
. . . Mau nyekar lagi?
Mendapat petuah kehidupan dari Ibu Sati bukan berarti semua urusanku selesai.
Ada satu yang belum, dan harus cepat-cepat dibereskan. Harus! Sehabis dari Buah
Batu, tanpa pulang ke rumah aku langsung menempuh perjalanan sejam lebih ke
daerah Setiabudi atas.
Satpam mengantarku ke depan pintu rumah utama. Oom Lukman sendiri yang
membukakan. Halo, Etra! sapanya. Kok, tumben, nggak telepon dulu?
Iya, nih, Oom. Mendadak kangen si Kambing. Aku cengengesan. Oh, mau
nyekar lagi? Kamu kesepian kayaknya. Pelihara kucing lagi
aja! Oom punya peranakan Anggora. Mau?
Waduh . . . masih belum bisa ngelupain si Kambing, nih, Oom. Aku mencoba
mengelak.
Atau mau yang lain? Monyet Oom baru beranak. Atau kalau berani, mau coba
pelihara ular? Seru, deh! Iguana Brazil? . . .
Sebelum p a m a n ku membacakan habis seluruh daftar binatang
KEP1NG 38 | Petir 81
peliharaannya yang semeriah Taman Safari, cepat-cepat aku mengaku butuh
kesendirian itu lagi. Demi mengenang m o m e n - m o m e n tak terlupakanku
bersama si Kambing. Sesampainya di pekarangan belakang, dengan panik aku
jongkok membongkari tanah di balik nisannya. Amplop itu tidak ada! Kukitari
semua nisan sampai tiga kali putaran, amplop itu tetap tidak kelihatan. Hanya ada
dua kemungkinan: orang rumah ini, atau . . . kurir gaib memang benar ada. Aku tak
tahu mana yang lebih mengerikan.
Lunglai, kutinggalkan taman makam hewan itu. Permisi pulang pada pamanku.
Ketika baru mau balik badan, istri Oom Lukman, Tante Esther, turun dari lantai
atas, memanggilku: Etra! Bentar dulu . . .
Eh, Tante, apa kabar! sapaku sopan. Namun dalam waktu sedetik, tampang
basa-basiku berubah jadi pucat pasi. Di tangan Tante Esther tergenggam amplop
cokelat besar, sedikit kusam bernoda tanah.
Ini teh punya kamu, ya? Kamari21 si Mahmud nemuin di belakang! lya,
Tante . . . jawabku ragu.
Kunaon bisa ketinggalan atuh! tegur Tante Esther sambil mengembalikan
amplop itu ke tanganku.
Aku menyambutnya tegang. Tanpa melepaskan mata dari mereka berdua, jari-
jariku mengecek kondisi surat itu diam-diam. Gusti nu Agung! Amplop itu terbuka!
Tanpa diminta, Tante Esther segera menjelaskan: Kirain teh apa gitu, jadi sama
kita dibuka aja. Makanya bisa tahu punya kamu juga. Tapi nggak kita oprek-oprek,
ia. Masih lengkap semuanya.
Oh iya, Tante. Makasih. Etra pulang dulu, ya. Dan baru saja aku ingin m e m a
n j a t k an doa agar p u n g g u ng ini bisa membalik tanpa perlu mendengar suara
mereka lagi . . .
Tra, ngalamar kerja teh atuh, ka nu bener-bener. Utah ka nu gaib28. Entar
duitna ge gaib, siah! Suara Tante Esther melengking tinggi, dicampur bunyi-bunyi
kerongkongan seperti orang membendung tawa. Andaikan aku
27Kemarin
28Jangan ke yang gaib
82 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
bisa memilih untuk tidak menoleh dan melihat muka- muka itu. Nggak, kok, Tante.
Ini mah iseng, kataku lirih dibarengi cengiran tak
jelas bentuk. Tak tahu lagi harus berkata apa.
Oom Lukman meremas bahuku dengan muka prihatin. Kalo kamu memang
pingin serius jadi dosen, Oom kenal sama rektor Maranatha. Tulis saja CV yang
baru, yang bener-bener, nanti titip ke Oom atau ke Tante, ya? ujarnya bersungguh-
sungguh.
Dengan jatuhnya amplop itu ke tangan Tante Esther, berarti pada arisan
keluarga besar bulan depan, semua orang, dari buyut sampai cicit, akan tahu bahwa
Elektra, anaknya Wijaya, telah melamar kerja jadi asisten
dosen ke p e r g u r u an tinggi gaib. Dan u n t u k itu, ia letakkan surat
lamarannya di kuburan binatang. Kini aku tahu m a na yang lebih
mengerikan.
Dari dasar hati yang paling jujur, betapa aku berharap kurir gaib itu sungguhan
ada.
. . . T h e Dark Side o f t h e M o o n
Percaya atau tidak, aku agak merasa kehilangan STIGAN. Bagaimanapun itu
sebuah prospek. Sebuah karier. Sebuah kesempatan. Oke, oke . . . sebuah
KEGIATAN! Kupandangi buku organizer-ku yang kosong, yang mengecoh seolah-
olah setiap hari adalah awal tahun karena tidak lecek-lecek. Aku tidak ingin
kembali ke hari-hari hampa itu.
Lenyapnya STIGAN dari To-Do List membuat pertemuan dua kali seminggu
dengan Ibu Sati menjadi tujuan hidup. Kadang-kadang aku datang sejam-dua jam
lebih awal dan bantu-bantu Ibu Sati di toko. Lalu pulang sejam-dua jam lebih telat
dari jadwal, karena, he-he-he, Ibu Sati suka menawarkan makan malam. Mana
mungkin kulewatkan. Ia masak dengan sangat cepat, sangat enak. Masakannya
tanpa garam, tanpa gula, dan tanpa daging. Tumisan sayur segar dengan tempe.
Atau oseng-oseng
KEP1NG 38 | Petir 83
t a hu pakai sayur setumpuk. Herannya, aku selalu bisa makan dengan lahap dan
nikmat. Apalagi kalau belum makan dari siang.
Kami semakin kenal satu sama lain. Aku membeberkan seluruh perjalanan
hidupku yang habis diceritakan dalam waktu 15 menit. Dan sebaliknya, Ibu Sati
juga mengisahkan kisah hidupnya yang sepadat dongeng 1001 malam. Setiap kali
bertemu pasti ada saja cerita yang belum pernah kudengar. Aku sangat menikmati
waktuku di sana. Ada semacam keteduhan yang mengalir dari keberadaannya. Di
dalam rumah maupun di toko, memori dan waktu terasa jauh. Hanya kami berdua
tanpa bayang-bayang dunia.
Sayangnya, aku belum sanggup mempertahankan kondisi mental itu terus
menerus. Begitu sampai di rumah, keteduhan tadi terputus, digantikan oleh
gambaran si malang Elektra yang sampai hari ini masih belum punya pekerjaan.
Hal yang kutakutkan pun terjadi: telepon berdering. Mengerikan. Miliaran u m
at ada di dunia tapi c u ma satu orang yang berminat menelepon ke rumah ini.
Loha, sapaku ogah-ogahan.
Halo, Asisten Doseeen . . .
Aku melenguh dan mengeluh. Setelah kalian mengalami apa yang baru saja
kulewati, tidakkah lengkingan kalimat 'asisten dosen' menjadi begitu menyebalkan
di luar batas akal? Tak ubahnya seperti disuntik dua kali di tempat sama karena
yang pertama gagal menembus nadi dan si dokter cuma n g o m o ng 'anak pinter'
seakan-akan k e m a m p u a n mu menahan tangis dan bogem punya korelasi
dengan IQ.
Keterima, Tra? tanya Watti diikuti sendatan tawa kecil. Bagai kuda pacu yang
bersiap melesat, tinggal tunggu pistol meledak.
Saya mengundurkan diri, ucapku dingin.
Uuuu! Gayanya! Kenapa? Duit kamu kebanyakan, atau bentrok sama tidur?
Kampusnya kejauhan.
84 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
Di mana memangnya?
Di alam gaib.
DOR! Tawa Watti merepet seperti derapan kaki kuda. Hihihi . .. kecian,
adikku! Udah susah-susah ngarang cerita!
Puas ketawanya? ujarku datar. Udah dulu, ya . . . DAH!
Eh, eh, bentar! Tra! Etra!!
Aku diam.
ETRA!
Hmm.
Leon nanyain. Kamu kok sombong, katanya. Nggak nelepon.
Hmm .
Dia udah lihat foto kamu. Berminat tuh dia.
Foto saya kan nggak ada yang bagus.
Justru itu! Lihat foto kamu yang lagi merem aja dia suka, berarti itu
cinta sejati . . .
Udah, deh! Ngaku aja! Dia pasti kontet, bulet, terus jelek, kan?!
Kalo kamu masih belum punya kerja juga, janji sama aku, ya. Kamu
mesti nelepon dia, terus janjian ketemu. Sekaliiii . . . aja. Udah gitu aku diem, deh.
Sediem apa?
Nelepon seminggu sekali.
Kurang.
Dua minggu sekali. . .
Sebulan.
Oke, sebulan! Kan kalo kamu jadi sama dia, kamu bakal pindah ke sini juga,
terus kita ketemu tiap hari! Hahaha . . .
Watt . . . kamu kesepian, ya? tanyaku curiga.
Ada sepotong sunyi sebelum ia menjawab: Enak aja! Aku banyak teman kok di
sini!
Kamu bosan? tanyaku lagi.
Nggak! Di sini enak, lagi!
KEP1NG 38 | Petir 85
Oh. Ya udah, kalo gitu.
Tak sampai sepuluh detik, tahu-tahu Watti sesenggukan. Nangis. Dan selama
setengah jam ke depan, aku mendengarkan kakakku mengeluh tak kunjung surut
tentang kebosanannya, rasa sepinya, kegiatannya yang monoton, kurang hiburan,
teman-temannya yang nggak oke, dst, dsb, dll.
Sampai akhir pembicaraan kami, aku masih merasa bukan itu yang
sesungguhnya membikin Watti sebegitu sedih. Bukan aku menuduhnya ngibul,
semua keluh-kesahnya memang nyata terjadi. Namun, di bawah sadarnya, akii
yakin Watti membutuhkanku di sana agar ia bisa kembali bersinar seperti dulu. Ia
membutuhkan pembanding. Antagonis. Seperti gambar malaikatnya yang harus
selalu disandingkan dengan gambar si Kambing. Seperti kisah si Cantik yang baru
signifikan kemolekannya kalau ada si Buruk Rupa.
Kututup telepon itu sambil geleng-geleng kepala. Kapankah Watti menyadari?
Bahwa ia hanyalah Bulan yang meminjam terang Matahari agar bersinar di malam
gelap. Aku, si Matahari, cuma bisa memandangi iba pada sang Bulan yang tanpa
terelakkan harus berotasi memunggungi sumber cahaya. Pinjaman ditutup. Watti,
welcome to the Dark Side of the Moon.
Esoknya, aku terbangun dengan bohlam ide yang berpijar terang di otak. Oke,
barangkali ini bukan temuan semegah Archimedes, tapi bisa menyambung hidup.
Amat, sangat, realistis. Dengar, kawan-kawan: aku akan melamar kerja di toko Ibu
Sati. Ha!
Tidak lagi kupikirkan gaji atau gengsi. Dibayar pakai makan pun tidak apa-apa.
Berhenti berpikir muluk -muluk. Aku yakin bisa membantunya, akan kuhafalkan
nama-nama ramuan, jenis-jenis minyak, menimbang kemenyan, pokoknya semua
yang ia lakukan selama ini. Dan yang penting, aku bisa dekat dengan beliau.
Siang itu, aku langsung pergi ke toko. Tampak ada bapak tua penjaga portal
yang sering kusapa sedang mengecek selot-selot pagar bambu itu.
86 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
Aku pun tersadar, pagar tersebut terkunci.
Pak . . . t o k o n y a tutup?
Iya, Neng. Bu Sati ke Solo. Dititipkeun ke saya. Suruh meriksa
gemboknya tiap hari.
Ibu pergi berapa lama, Pak?
Nggak tahu atuh, Neng. Katanya ada saudaranya yang sakit keras. Barangkali
lama, ya.
Aku terkulai loyo. Ibu Sati pergi tanpa meninggalkan pesan sama sekali.
Bagaimana bisa? Berapa lama ia pergi?
Sebelum pulang, aku mampir ke ATM. Saatnya belanja stok makanan ke pasar.
Telur setengah kilo, lalu tempe-tahu sebanyak mungkin. Namun bahu ini rasanya
semakin tertekuk ke dalam ketika membaca struk. Tabunganku sudah menyusut
setengahnya.
Kukorek-korek dompet, berharap pada masa lalu ada satu momen kuselipkan
uang di sana lalu terserang amnesia. Tapi tak ada apa-apa. Cuma kartu-kartu
identitas tak berharga, dan secarik kertas berisi nomor ponsel Napoleon Bonaparte
yang barangkali masih ada harganya.
Kutarik balik ucapanku kemarin. Aku dan Watti sama, satelit-satelit kelam
yang tak menghasilkan cahaya. Matahari. . . entah siapa itu. Yang jelas, ia sedang
pelit. Kini, aku lebur dengan gulita.
Gelap . . . ni, ye.
. . . e l e k t r a @ k o k o m . c om
Ini dia. Momen magis yang kupikir tak akan pernah hadir. Sejenak kupandang
langit biru sebelum kepalaku dikuasai imaji Watti tertawa terbahak-bahak, bengis,
berlebihan, bergema, seperti tawa orang jahat di sinetron.
Sengaja kupilih sebuah wartel di dekat kampusku dulu. Kenapa demikian?
Supaya semua tempat bersejarah Elektra Wijaya berkumpul di
KEP1NG 38 | Petir 87
sini. Praktis. Kelak, aku akan berjalan-jalan dengan anak cucuku, bercerita: Di
sebelah kiri itu kampus Nenek. Di sebelah kanan, adalah wartel tempat Nenek
menelepon Kakek pertama kali. Sekarang, mari kita pulang. Dan semoga, cucu -
cucuku manis, kalian menyadari bahwa kakek kalian, sekalipun namanya sama,
tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Napoleon Bonaparte jenderal
Perancis. jadi, hentikan bualan-bualan kalian di sekolah.
N a m u n sebelum aku melangkah masuk ke wartel, m e n d a d ak terdengar
seseorang memanggil. Aku menoleh, celingak-celinguk. Di antara jajaran toko-toko
yang rapat, ada seorang perempuan berdiri di teras luar, melambaikan tangan.
Betsye! Aku balas berseru. Teman kuliahku, namanya Beatrix. Dia juga kurang
beruntung. Mungkin hanya di negara ini, dan tepatnya di kota ini, namanya yang
indah itu bisa berubah menjadi Betsye, atau Bedseu—-dalam lafal Sunda.
Aku menghampirinya, sambil sekilas memperhatikan plang berwarna cerah di
atas kepalanya: Trix.net & Cafe. Tempat apaan, nih, tanyaku sambil melongok ke
dalam.
Saya buka warnet sekarang, Betsye menjawab berseri.
Kafenya mana? Hanya itu yang menarik perhatianku.
Ada di belakang, Betsye m e n u n j uk sebuah bolongan di dinding, tempat
petugas dapur melongokkan kepala untuk menerima order. Sekilas aku membaca
daftar menu yang ditulis besar-besar: indomie re-bus, indomie goreng, kopi, teh
botol, STMJ—dahiku berkerut sedikit. Kira-kira apa bedanya kafe Betsye dengan
warung kopi di belokan jalan dekat rumahku?
Chatting di sini, dong, Tra. Nanti saya kasih gratisan satu jam, ujarnya. Seakan-
akan hal itu amat menarik. Dan aku cuma bisa mengangguk kosong.
Alamat e-mail kamu apa? Nanti kita email-email-an, Betsye bertanya.
88 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
Merogoh kertas dari kantong dan siap mencatat.
E-mail—ya, aku sudah sering dengar dan tahu apa itu, sekalipun
terakhir aku memakai komputer adalah ketika menulis skripsi, di rental seberang
kampus. Itu pun selalu dibantu petugasnya, karena aku hanya ingin tahu mengetik
dan tidak buka apa-apa lagi. Komputer di rumahku sudah tewas lebih dari sepuluh
tahun yang lalu, gara-gara Watti membawa disket DD 51/4 360 KB yang terinfeksi
virus ©Brain. Virus yang konon tak ada penangkalnya itu. Aku amat menyesal,
karena berarti tidak bisa main Digger lagi. Dan pada detik-detik terakhir sejarah
perkomputeranku, baru aku tahu kalau Den Zuko juga nama virus. Aku pikir itu
semacam bahasa mesin nan canggih untuk 'selamat tinggal' sebelum komputer
dimatikan.
Saya nggak punya e-mail, jawabku sambil mengangkat bahu.
Muka Betsye langsung berubah drastis, seperti baru menelan sandal. Dengan
mata melotot ia berseru kaget: Hari gini kamu nggak punya e-mail?. Bo'ong!
Aku berusaha memahami reaksi dahsyatnya. Sedemikian besarkah dosaku?
Kugelengkan lagi kepalaku pelan.
Kok kamu kayak anak dusun aja, sih?! Reaksinya semakin ekstrem. Betsye
seperti baru tersedak sepatu cheko Jatayu.
Dosaku ternyata sebesar itu. Lalu ke mana aku harus meminta ampun? Sini,
ajaknya sambil menggiringku masuk. Mendudukkanku di depan sebuah komputer.
Dengan terampil ia memainkan mouse, ceklak-ceklik
sana-sini. Entah apa saja yang ditunjuknya. Saya
buatin alamat e-mail untuk kamu, ya.
Aku mengangguk lagi sembari melirik sekelilingku, menatap sekat-sekat berisi
aneka wajah dengan aneka ekspresi. Ada yang cekikikan sendiri. Ada yang
senyum-senyum. Ada yang serius. Tapi tidak ada lagi yang bengong kosong selain
aku. Aku tidak tahu apa-apa. Aku ingin pergi saja rasanya. Menelepon Napoleon.
Tangan Betsye yang cekatan di atas mouse membuat diriku merasa seperti manusia
neanderthal.
Nih, sudah: elektra@kokom . com. Betsye menahan napas sedikit.
KEP1NG 38 | Petir 89
Kayak pingin ketawa.
Apa?
Elektra-et-kokom-dot-kom. Bahkan Betsye harus mengejakannya untukku.
Kokom-dot-kom? Rasanya ada bola ping-pong menggulung di lidah. Nama
itu—kok aneh. Tidak keren. Tapi aku tidak berani bertanya.
Ini inbox kamu, ini kalau kamu mau nulis e-mail, ini kalau kamu mau kirim e-
mail. Betsye menerangkan satu per satu.
Terus, apa? Aku berharap Betsye paham bahwa sebuah kotak pos tidak ada
gunanya kalau tidak ada yang menyurati.
Tenang, kamu bakal saya daftarin ke milis-milis. Angkatan kita punya milis,
lho. Kamu hobinya apaan, sih? Suka kucing, ada milis kucing . . .
Kambing?
Betsye menatapku datar, rehat sedetik, lalu kembali berceloteh: Mau cari
cowok? Mau curhat? Mau nonton be-ef? Mau lihat Keanu Reeves telanjang? Etra,
di internet kamu bisa dapat apa aja!
Pekerjaan? Aku langsung bertanya, sambil berpikir-pikir 'milis' itu apa
maksudnya.
Wah, ada ribuan pekerjaan yang bisa kamu lamar lewat internet! Tapi,
sekarang, gimana caranya supaya inbox kamu nggak sia-sia. Caranya ada dua.
Ikutan milis yang banyak, dan chatting. Oh ya, milis—mating list, itu artinya kamu
ikutan satu grup yang setiap posting-nya. bakal dikirim ke setiap anggota. Kamu
ngomong 'hai', si A, B, C en D juga bakal tahu. Saya daftarin kamu ke milis
angkatan kita dulu, oke? Sebentar, ya. Jemari Betsye kembali mengklak-klik
mouse-nya.
Aku menyimak suara mouse—klik, dobel klik, klik, klik, dobel klik— terdengar
'gurih'. Ada beberapa bunyi lain yang menurutku 'gurih'. Suara putaran roda becak
di jalan menurun, hentakan sol sepatu pestanya Dedi, suara sisir sikat menggerus
kulit kepala . . . hei, saya nggak suka horoskop! Spontan aku protes ketika di layar
monitor terpampang 12 lambang zodiak
90 SUPERNOVA 2.2 | PETIR
dan Betsye menuliskan alamatku.
Sori, Tra, saya udah keburu submit. Nanti aja, kalo kamu pingin quit, tinggal
unsubscribe ke list-owner, atau langsung ke web-nya. Setting-nya. kita bikin daily
digest aja, ya? Atau cuma web-only?
Kini Betsye membuatku merasa seprimitif dinosaurus. Bet, udah deh, saya
benar-benar nggak ngerti, nih. Saya pulang aja, ya? Aku mengemis, bahkan rela
menyembah.
Nanti dulu! Kita coba chatting, oke? Sebentar—sabar dulu, ya. Mau teh botol?
Woy! Kewoy! Teh botol satu, komputer G!
Aku mengerti sekarang kenapa warnetnya bisa sebegini penuh. Duduk 20
menit, aku sekarang punya satu alamat e-mail, anggota tiga milis, dan dapat gratis
teh botol dingin. Bisa-bisa sebentar lagi ditawarkan jadi anggota kehormatan.
Hei, nanti kamu jadi member di sini, ya? Betsye berkata mantap, matanya tetap
lurus ke monitor. Cuma 3000 perak sejam, Iho. Bulan ini dapet free drink lagi. Dan
ia semakin membuatku kagum. Pikiran Betsye benar-benar bergerak selincah
tangannya.
Oke, kamu udah connect. Ini channel-nya. asyik. Gaul abis. Oh ya, nick kamu
sengaja saya bikin tetap Elektra. Pasti laku. Percaya, deh. Nama kamu komersil.
Memang yang komersil itu yang kayak apa? tanyaku.
Yang funky, yang cool. Pokoknya yang, yah, gimaaana . . . gitu. Jawaban
Betsye semakin membingungkan. Lho, jadi, kamu biasanya
nggak pakai nama sendiri? Aku terus bertanya.
Nggak, dong! Ia m e n g e l u a r k an tawa kecil yang bernada 'oh, gobloknya'.
Saya biasa pakai Nadya, Nathalie, Natasya—kata cowokku yang nama depannya
dari 'Na' biasanya cakep-cakep.
Nanang? Nasrul? Nano? Na—sgor?
Betsye tidak tertawa.
Padahal nama 'Beatrix' kan bagus. Aku berusaha menyenangkan hatinya
sedikit.