04 07 10 16 29 JUDUL BUKU PENULIS EDITOR TATA LETAK CETAKAN VOLUME & HAL ISBN PENERBIT : BERTAHAN DI TENGAH KRISIS : KOMUNITAS TIONGHOA DAN EKONOMI KOTA CIREBON : ABDUL WAHID I D E N T I T A S B U K U : M. NURSAM : 14,5 X 20,5 cm, xii + 184 : AEP S : 2009 : 978-602-8335-01-0 : OMBAK Perumahan Nogotirto III, Jl. Progo B-15 Yogyakarta 55292. Email: [email protected] o.id
ALASAN MEMILIH BUKU Buku Bertahan di Tengah Krisis : Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon ini megeksplorasi dampak krisis ekonomi pada komunitas Tionghoa dan bagaimana mereka bisa bertahan atau beradaptasi di tengah tantangan tersebut. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk membacanya. Selain itu, buku ini juga mengaitkan antara krisis ekonomi dengan perkembangan ekonomi di Cirebon selama krisis ekonomi itu berlangsung. Sehingga dapat membantu memperluas pemahaman saya mengenai peran komunitas Tionghoa dalam konteks sosial dan ekonomi di kota Cirebon. Selain itu, alasan saya memiih buku ini karena saya sudah pernah membacanya pada mata kuliah Sejarah Lokal. Jadi pada analsis kali ini saya hanya perlu mempelajari ulang saja. P E N D A H U L U A N
A. RESENSI BUKU Judul Buku : Bertahan di Tengah Krisis : Komunitas Tioghoa dan Ekonomi Kota Cirebon Penulis : Abdul Wahid Penerbit : Ombak Thun Terbit : 2009 P E M B A H A S A N DENTITAS BUKU SINOPSIS BUKU Kerisis adalah kata yang menunjukan adanya rentetan atau siklus penderitaan dari waktu ke waktu yang melanda negeri ini terasuk di Cirebon. Krisis tidak hanya terbatas mengisi ruang material struktur masyarakat melainkan juga merambah jauh keruang historis-kultur mereka. Salah satu krisis ekonomi yang memiliki masa hidup panjang dalam memorisosial bersama masyarakat Indonesia adalah dampak depresi besar dunia 1930-an, ketika semua kehidupan berjalan meleset dan menjauh dari hal-hal yang normal. Biarpun buku ini tidak dibicarakan tentang kondisi ekonomi orang Tionghoa di Indonesia secara keseluruhan melainkan hanya terfokus pada orang Tionghoa di Cirebon. Buku ini tetap mempu mengungkapkan kenyataan sejarah yang berbeda dibandingkan dengan arus besar pada buku-buku yang telah ada sebelumnya. Selain itu, buku ini tidak hanya membahas mengenai dampak krisis ekonomi terhadap Tionghoa, melainkan juga memberi informasi dan penjelasan yang menarik tentang kondisi sosialekonomi masyarakat di tingkat lokal, terkhusus di Cirebon pada masa depresi tahun 1930-an. Berbeda dengan topik utama historiografi Indonesia selama ini, di dalam buku ini orang Tionghoa ditempatkan sejajar dengan orang-orang bumiputera yang dianggap sebagai representasi dari ke Indonesiaan. Relasi anatara orang Tionghoa dengan kelompok sosial-ekonomi lain dipahami sebagai suatu yang cair tanpa didasari pretensi ideologis yang diskriminatif.
P E M B A H A S A N ISI BUKU Isi dari buku Bertahan di Tengah Krisis : Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon karya Abdul Wahid ini bahwa depresi ekonomi yang berlangsung selama hampir satu dekade yaitu dari tahun 1929 hingga 1939 merupakan sebuah kekuatan besar yang menimbulkan perubahan dan pengaruh yang beragam bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat di kota Cirebon dan sekitarnya. Keragaman pengaruh dan dampak depresi ekonomi yang dirasakan antar kelompok dalam masyarakat atau bahkan antar individu didalam kelompok itu sendiri yang berkaitan dengan pekerjaan dan bidang yang sedang digeluti serta kekuatan ekonomi setiap individu dalam masyarakat. Dari sinilah depresi ekonomi memiliki dampak yang berbeda bagi komunitas Tionghoa dengan masyarakat pribumi. Secara umum, bagi komunitas Tionghoa di kota Cirebon, kondisi sulit akibat depresi ekonomi hanya dirasakan pada tahun-ahun awal saja. Setidaknya dari tahun 1930- 1932 selanjutya mereka berhasil melakukan berbagai upaya penyesuaian dan strategi penyesuaian usaha untuk mengembalikan kesejahteraan mereka. Meskipun tidak bisa seperti sebelum depresi. Dari depresi ekonomi tahun 1930-an memiliki makna yng berbeda-beda bagi komunitas Tionghoa. Bagi pengusaha tionghoa di Cirebon khususnya dalam bidang ekspor dunia depresi merupakan masa-masa yang sangat sulit. Dari hal ini banyak perusahan-perusahaan yang harus gulung tikar karena tidak menemukan solusi untuk memulihkan kondisi usahanya. Namun kondisi itu jelas berbeda dengan apa yang dirasakan para pedagang toko dan pengusaha industri kecil dan menengah. Bagi pengusaha Tionghoa di Cirebon yang bergerak dalam industri perikanan, penyewaan tanah, kredit mindring dan penggadaian swasta ternyata depresi ekonomi memberikan keuntungan yang besar. Karena banyaknya permintaan dari pasar, hal ini disebabkan oleh naiknya harga ikan ekspor. Jadi masyarakat sekitar beralih pada ikan lokal. Kondisi yang sama juga dialami oleh industri batik. Bagi mereka depresi ekonomi 1930-an telah membuka kesempatan untuk menguasai semua mata rantai usaha tesebut, dari semula hanya penyaur bahan mentahannya saja. Kemampuan mereka mencapai kondisi tersebut, utamanya terletak pada kemampuan untuk melakukan penyesuaian, merumuskan siasat usaha dan mencari celah usaha di tengah kondisi depresi ekonomi. Kemampuan tersebut, ditunjang oleh jaringan kekerabatan dan jaringan ekonomi yang kuat. Sehingga membantu membantu mereka dalam memeperoleh solusi atau jalan keluar dalam menghadapi kesulitan selama depresi ekonomi.
P E M B A H A S A N Selain itu untuk menghadapi krisis ekonomi, komunitas Tionghoa biasanya membuka usaha baru dengan bantuan keluarga besarnya atau memperoleh pekerjaan baru dengan perantara keluarga ataupun jika tidak sama sekali menemukan jalan keluar akan kembali ke keluarga besar (klen) menjadi pilihan yang tidak merugikan sama sekali. Depresi ekonomi juga telah mendorong munculnya kreativitas dan solidaritas sosial di tengah komunitas Tionghoa di Cirebon. Solidaritas tersebut dapat disaksikan dengan muculnya berbagai gerakan sosial yang berbentuk komite, asosiasi maupun organisasi formal. Dalam buku ini, sebenarnya dalam penelitian pengusaha gula dianggap mengalami dampak yang berat dan tidak bisa mengukur seberapa besar penderitaan mereka. Sebaliknya para pedagang kecil dan menengah yang secara statistik bernasib lebih baik masa depresi. Namun, sulit untuk memastikan apakah benar-benar tidak mengalami penderitaan pada masa itu. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN KELEBIHAN Buku ini cukup menjelaskan dan memaparkan mengenai krisis ekonomi tahun 1930-an dengan jelas dan sistematis. Sehingga, cukup mudah dalam memahami isi bukunya. Selain itu didalam buku ini, cukup detail dalam menjelaskan mengenai kondisi ekonomi komunitas Tionghoa di Cirebon, dampak dan respon siasat dari komunitas Tionghoa di Cirebon. Kemudian yang menjadi kelebihan dari buku ini juga dilihat dari cover buku yang cukup menarik untuk dibaca. Sehingga, menjadi point plus dari buku ini. Buku karya Abdul Wahid ini juga, ditulis dengan isi yang tidak terlalu tebal dan penjelasannya pun tidak bertele-tele. Hal inilah yang sangat direkomendasikan untuk para pembaca yang ingin membaca buku sejarah dalam ketebalan yang tidak terlalu tebal. Dalam buku ini tidak ada penjelasan mengenai kondisi ekonomi masyarakat pribumi secara mendetail. Sehingga para pembaca bertanya-tanya mengenai kondisi ekonomi masyarakat pribumi pada saat krisis ekonomi tahun 1930-an. Selain itu pula, didalam buku ini juga tidak ada jawban pasti mengenai seberapa besar penderitaan para pengusaha gula dengan para pedagang kecil dan menengan dari etnis Tionghoa. KEKURANGAN
Meskipun depresi ekonomi tahun 1930 memiliki dampak yang cukup luas dan banyak kalangan yang mengakuinya. Namun, sepanjang pengetahuan penulis kepustakaan dan penelitian yang khusus mengkaji masalah ini tidak banyak di temukan. Khususnya yang ditulis oleh ilmuan Indonesia. Ada banyak alasan untuk menjelaskan hal ini, diantaranya adalah karena minimnya publikasi hasil penelitian mengenai tema ini atau kalaupun ada beberapa literatur yang di publikasi, namun sulit di dapatkan. Dalam historiografi buku Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi: Komunitas Tionghoa karya Abdul Wahid ini ada beberapa metode historis yang diterapkan yaitu 1) Analisis sumber, metode ini mlibatkan pengumpulan, pemilihan dan evaluasi suber-sumber sejarh yang relevan. Sumber-sumber ini dapat berupa dokumen, arsip, catatan, laporan atau wawancara dengan narasumber yang berhubungan dengan topik yang diteliti. 2) Pendekatan naratif, metode ini melibatkan penyajian peristiwa sejarah secara naratid, menggambarkan urutan peristiwa, hubungan sebab akibat an dampaknya terhadap masyarakt atau komunitas yang diteliti. 3) Analisis kontekstual, metode ini memeriksa konteks sosial dan politik dimana peritiwa atau fenomena yang terjadi. Hal ini melibatkan memahami hubungan antar peristiwa sejarah dengan kondisi sosial dan ekonomi yang dialami oleh komunitas Tionghoa di Cirebon. 4) Pendekatan interdisipliner, metode ini melibatkan penggabungan pendekatan dan teori dari berbagai ilmu. Seperti sosiologi, ekonomi, antropologi atau ilmu politik untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tetang fenomena sejarah. Buku ini mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya baik itu dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Beberapa artikel dalam buku ini, maisng-masing ditulis oleh Brown dan Boomgaard. Boomgaard, Lindblad, Touwen, Nawiyanto dan Booth secara khsusus mengambil kasusu Indonesia sebagai referensinya sehingga memiliki makna penting bagi buku ini. Selain karya-karya mengenai depresi ekonomi. Buku ini juga membutuhkan berbagai literatur tentang Cirebon. Banyak kajian dan penelitian penting tentang Cirebon dan sekitarnya telah dihasilkan, baik berupa kajian historis, sosiologis, antropologis maupun kajian dengan menggunakan disiplin lainnya. Buku ini menggunakan pendekatan sejarah ekonomi pada beberpa tingkatan analisis digunakan untuk memahami dan menjelaskan dinamika ekonomi yang muncul pada tingkat lokal akibat meledaknya krisis ekonomi di pasar dunia. Pendekatan ini hanya akan menggunakan beberapa indikator ekonomi secara terbatas. Dengan demikian, data-data statistik akan digunakan secara terbatas tanpa berpresentasi untuk melakukan sebuah kajian yang bersifat kuantitatif. P E M B A H A S A N B. METODE HISTORIS
P E M B A H A S A N Sementara itu, untuk pendekatan sosialakan digunakan untuk mengungkapkan berbagai dampak sosiologis dalam kehidupan komunitas Tionghoa dan masyarakat. Buku ini erdapat dua konsep utama yang menjadi kerangka pemahaman yaitu konsep krisis dan konsep strategi adaptasi. C. PROFIL PENULIS Abdul Wahid, staf pengajar di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Menyelesaikan pendidikan S-1 Ilmu Sejarah pada tahun 2000, dan pendidikan S-2 Sejarah pada tahun 2006 di Universitas Gadjah Mada. Karier akademiknya dimulai sebagai asisten peneliti di Pusat Studi Kependudukan UGM dari tahun 2000- 2001, dan kemudian menjadi staf peneliti di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM sejak tahun 2002 hingga saat ini. Mulai bergabung di Jurusan Sejarah UGM pada tahun 2004 sebagai Asisten Akademik, hingga kemudian resmi diangkat sebagai pengajar tetap di lembaga tersebut pada tahun 2005. Saat ini tengah menyelesaikan pendidikan Master of Philosophy di Department of History, Leiden University, Belanda melalui dukungan program ENCOMPASS Scholarship. Dilahirkan di Cibingbin, Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 11 Juli 1975, menikah dengan Dhiyah Dwi Astuti, dan telah dikaruniai seorang puteri bernama Najma Aulia Jauharnafisa. Saat ini menetap di Jogokaryan, Yogyakarta dan dapat dikontak melalui e-mail: [email protected] atau telepon 0815798879. D. INFORMASI SINGKAT BUKU Ada beberapa informasi mengenai buku Bertahan di Tengah Krisis : Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon karya Abdul Wahid ini membahas mengenai krisis ekonomi pada tahun 1930-an yang berfokus pada peran dan siasat komunitas Tionghoa di Cirebon dalam memanfaatkan peluang ekonomi pada masa-masa sulit tersebut. Serta dampak dan respon komunitas Tionghoa di tengah depresi ekonomi. Sebagaimana halnya yang telah dipaparkan diatas buku ini terdiri dari 182 halaman dan terdiri dari 6 bab secara keseluruhan. Dengan penerbit Ombak pada tahun 2009 dengan penulis Abdul Wahid. Dalam penulisan buku ini penulis menemukan berbagai tantangan. Salah satunya kesulitan dalam mengumpulkan informasi-informasi mengenai topik yang akan dibahas. Namun, buku ini mengacu pada penelitian-penelitain dan artikelartikel mengenai tema dari berbagai sumber terkait.
G A Y A P E N U L I S A N Buku-buku sejarah Indonesia cenderung memberi gambaran tunggal tentang kenyataan sosial-ekonomi yang kacau balau pada tingkat makro akibat krisis yang juga melanda dunia secara luas pada 1930-an itu. Sebagai sebuah historiografi, rekonstruksi tentang masa depresi ekonomi 1930-an seakan-akan tidak memberi peluang bagi cerita yang beragam, termasuk tentang keberhasilan dan kemampuan masyarakat kebanyakan mensiasati krisis dalam kehidupan sehari-hari mereka. Akan tetapi keberadaan gambaran historis tunggal tentang masa krisis 1930-an itu mulai dipertanya kan, ketika beberapa penelitian sejarah sosial dan ekonomi Asia dan Afrika tentang periode depresi 1930-an menghadirkan beberapa kenyataan lain pada 1980-an. Pembicaraan tidak lagi hanya terbatas pada apakah sektor ekonomi tradisional dan orang bumiputera atau sektor ekonomi modern dan orang Eropa yang paling menderita akibat krisis ekonomi itu, yang sempat diperdebatkan sebelumnya. Penelitian-penelitian baru itu telah menghadirkan fakta-fakta yang berbeda. Atau bahkan sampai batas tertentu mampu menghapus ingatan bersama dari kesimpulan referensi-referensi klasik yang telah ada sebelumnya. Hal itu dapat dijelaskan karena sebagian besar penelitian yang ada sebelumnya lebih memperhatikan persoalan makro yang berhubungan dengan industri, perkebunan besar, dan ekonomi dan keuangan negara secara keseluruhan, dan jarang sekali membahas keunikan pada kehidupan sehari-hari, khususnya tentang orang-orang kebanyakan atau pada wilayah tertentu. Oleh karena itu, kenyataan seperti perubahan tersembunyi berupa peralihan pekerjaan seperti sopir dan montir dari yang sebelumnya didominasi oleh orang Timur Asing kepada orang bumiputera dan munculnya jenis-jenis pekerjaan serta usaha baru seperti tukang cuci baju upahan dan penjual makanan keliling di perkotaan sejak terjadinya depresi 1930-an, yang tidak sempat terungkap. Selain itu. beberapa fakta seperti berkembangnya industri kecil-menengah dan industri rumah tangga, ketersediaan lahan dan berkembangnya. Pertanian rakyat, menurunnya tekanan biaya hidup karena turunnya harga dan tersedianya barang pengganti, adanya pengalaman berbeda antara masyarakat perdesaan dan perkotaan erta berkembangnya kemampuan masyarakat menciptakan kesempan-kesempatan ekonomi baru di tengah-tengah krisis yang terjadi, juga terlewatkan dalam penelitianpenelitian yang telah ada sebelumnya. A. LATAR BELAKANG
G A Y A P E N U L I S A N Berdasarkan fakta-fakta baru yang terungkap melalui penelitianpenelitian mutakhir itu secara jelas dapat disimpulkan bahwa sebagai sebuah kenyataan. Depresi 1930-an memiliki wajah yang beragam dalam sejarah Indonesia. Chettiar India yang juga mengalami kerugian yang sangat besar akibat depresi ekonomi tahun 1930-an. Seiring dengan berjalannya waktu, maka terjadi kebangkrutan pada para petani dan pengusaha. Dalam hal ini tidak bisa bangkit kembali seperti sedia kala. Maka dari sinilah muncul pertanyaan, apakah yang terjadi pada orang Tionghoa di Indonesia yang juga berhubungan sangat erat dengan orang lokal yang menjadi konsumen utamanya baik di pedesaan maupaun di perkotaan? Strategi apakah yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa di Indonesia agar tetap berkembang ditengah-tengah kesulitan ekonomi. Meskipun sudah banyak koran-koran lokal pada tahun 1930-an yang membuat berita tentang orang-orang Tionghoa yang dinyatakan pailit, tentu saja tidak dapat begitu saja menarik kesimpulan umum tentang kondisi ekonomi orang Tionghoa tanpa terlebih dahulu memiliki data pembandingnya. dalam konteks inilah buku yang ditulis Abdul Wahid ini memberikan sumbangsih penting bagi kajian sejarah Indonesia. Sumber dalam penulisan buku ini tidak terlalu banyak. Meskipun ada, pasti sangat sulit untuk mendapatkannya. Maka dari itu penulis mencoba mencari dari berbagai sumber sampai menggunakan artikel dari asia tenggara namun berkaitan dengan materi yang dibawakan. Dalam hal ini juga tidak ada ada buku atau artikel yang mejelaskannya secara terfokus pada satu titik. Maka itulah alasan yang membuat penulis ingin menulis buku ini. B. GERAK SEJARAH Buku ini menjelaskan mengenai adanya suatu perubahan yang siginifikan baik dari segi ekonomi maupun sosial. Hal ini diakibatkan karena adanya kemunduran dari segi ekonomi yang berakibat pada kesejahteraan masyarakat sekitar yang mengalami krisis ekonomi. Dalam hal ini pula berpengaruh pada aspek sosial yang ada disana. Maka dilihat dari permasalahan yang dihadapi tersebut. Maka, buku Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi: Komunitas Tionghoa karya Abdul Wahid menggunakan jenis gerak sejarah mundur. Gerak sejarah mundur ini menggambarkan situasi dimana masyarakat mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Ini bisa terjadi karena adanya ketidakstabilan atau terjadi kemunduran dalam segi ekonomi atau sosialnya.
G A Y A P E N U L I S A N Karena dalam buku ini membahas mengenai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1930-an. Yang berakibat pada kemunduran dalam sektor ekonomi seperti menurunnya pendapatan masyarakat perkapit menurun secara drastis, kenaikan bahan pangan dan meningkatnya angka pengangguran karena banyak perusahaan yang gulung tikar. Dilihat dari masalah ekonomi yang terjadi pada saat itu. Maka berpengaruh pula pada aspek sosial yang menciptakan masalah sosial di antara mereka. Masalah sosial ini yaitu kemiskinan yang diakibatkan karena menurunnya pendapatan perkapita dan meningkatnyakejahatan di masyarakat yang diakibatkan oleh kondisi ekonomi tadi. Jadi krisis ekonomi dapat memiliki dampak negatif pada berbagai aspek kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Dalam beberapa kasus, krisis ekonomi dapat mempengaruhi stabilitas politik, mengurangi akses terhadap pendidikan dan layanan publik, meningkatkan ketidaksetaraan ekonomi dan sosial, dan menyebabkan ketidakstabilan sosial.
P E N U T U P Buku Bertahan di Tengah Krisis : Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon karya Abdul Wahid ini sudah cukup menjelaskan secara jelas dan terperinci mengenai krisis ekonomi tahun 1930-an yang berakibat pada kemunduran ekonomi di kota Cirebon. Dengan lebih memfokuskan pada komunitas Tionghoa. Bagaimana dampak dan strategi siasat dari komunitas Tionghoa dalam menghadapi krisis ekonomi di Cirebon pada tahun 1930-an. Latar belakang penulis menulis buku ini kerena belum banyak ditemukan sampai saat ini mengenai karya sejarah yang mengkaji secara khusus komunitas Tioghoa di Cirebon. Kebanyakan penelitian yang memfokuskan pada aspek besar seperti dampak krisis ekonomi ada skala perusahaan, negara dan sektor global lainnya. Untuk kajian mengenai krisis ekonomi yang bersinggunga dengan etnik atau komunitas di suatu wilayah itu masih sedikit yang melakukan penelitian. Maka dari itu, Abdul Wahid menulis buku ini dengan mengacu pada sumber-sumber penelitian sebelumnya. Meskipun sumber-sumber itu sulit ditemukan. Buku Abdul Wahid ini dari beberapa artkelnya masing-masing ditulis oleh Brown dan Boomgaard serta peneliti lainnya yng pernah meneliti depresi ekonomi tahun 1930-an. Buku ini pula memiliki gerak sejarah mundur, dimana terjadinya kemunduran ekonomi dan sosial di Cirebon. KESIMPULAN
P E N U T U P Wahid Abdul (2009). “Betahan di Tengah Krisis: Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon” Ombak:Yogyakarta. Z. Mumuh Muhsin. “Effat al-Sharqiawi tentang Gerak Sejarah.” Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran Jatinangor 2007. DAFTAR PUSTAKA
NAMA : SITI ADE MULYATI NIM : 2288220011 KELAS : 2B MK : HISTORIOGRAFI