Petunjuk Penggunaan LKPD Berbasis Flipbook 1. Kegiatan pembelajaran diawali dengan doa secara bersama menurut kepercayaan masing-masing. 2. Membuka Modul dan LKPD berbasis flipbook yang sudah disediakan oleh guru 3. Cermati petunjuk yang ada dalam LKPD 4. Pahami materi yang ada di LKPD dan PPT mengenai Kolonialisme dan Imperialisme Bangsa Barat di Indonesia 5. Kerjakan soal yang ada di LKPD berupa soal yang berupa Kahoot! 6. Cermati jawaban pilihan ganda yang ada di LKPD. Kerjakan secara jujur. 7. Gunakan referensi dari buku cetak atau dari internet dalam menjawab soal yang ada di LKPD 8. Jika mengalami kesulitan dapat melaporkan ke guru
KOLONIALISME DAN IMPERIALISME BANGSA BARAT DI INDONESIA Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia Kolonialisme berasal dari kata “colonus” yang memiliki arti menguasai. Jadi Kolonialisme merupakan upaya dari suatu dalam mengembangkan kekuasaan di luar kekuasaan negara itu sendiri. Kolonialisme memiliki tujuan untuk mendominasi kekuatan di segala bidang seperti sumber daya alam, ekonomi, politik dan sumber daya manusia. Wilayah koloni merupakan wilayah-wilayah yang memiliki kekayaan bahan mentah yang dibutuhkan oleh negara yang melakukan kolonialisme. Di kolonialisme memiliki sebuah kepercayaan dimana bangsa yang melakukan kolonialisasi lebih memiliki kekuatan besar dari bangsa yang dikoloni. Sedangkan imperialisme berasal dari kata “imperium” yang merupakan dari bahasa Latin. Kata ini memiliki arti kekuasaan tertinggi, sekedar kekuasaan dan kedaulatan. Jadi imperialisme merupakan sebuah kebijakan memperluas kekuassan negara lain dan penduduk asli negara tersebut. Kebijakan ini bertujuan untuk memperluas akses ekonomi dan politik, kontrol dan kekuasaan dan seringkali dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer. Kolonialisme dan Imperialisme ini memiliki perbedaan. Hal ini terletak di tujuan, dimana kolonialisme fokus ke penguasaan wilayah dibidang sumber daya alam untuk dibawa ke negara asal. Sementara imperialisme fokus ke penguasaan politik negara lain untuk memiliki pengaruh terhadap negara tersebut. Latar Belakang Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia Kolonialisme dan imperialisme sudah dilakukan oleh bangsa Eropa sejak abad ke-15 di seluruh dunia, sampai akhirnya masuk ke nusantara (Indonesia). Pada saat ini, latar belakang bangsa Eropa masuk ke wilayah musantara disebabkan oleh beberapa hal, seperti jatuhnya Konstantinopel di kawasan Laut Tengah ke kekuasaan Turki Usmani pada tahun 1453, merosotnya ekonomi dan perdagangan bangsa Eropa, serta terjadinya revolusi industri. Perlu diketahui, kolonialisme dan imperialisme modern muncul setelah terjadinya revolusi industri karena bertujuan untuk mengembangkan perekonomian bangsa Eropa. Revolusi industri, membuat bangsa Eropa menciptakan kapal laut yang digunakan untuk menjelajah samudra demi mencari sumber daya di belahan dunia lain. Disamping itu, misi ini juga dilakukan untuk melanjutkan semangat Perang Salib.
Dalam upaya tersebut, bangsa Eropa mulai menyebar b ke seluruh dunia, sampai akhirnya kolonialisme dan I imperialisme di Indonesia pun terjadi. Di sisi lain, e kejatuhan Konstantinopel ke tangan Turki Usmani na pada tahun 1453, menyebabkan akses bangsa Eropa dal dalam mendapatkan rempah-rempah yang lebih mura murah di kawasan Laut Tengah menjadi tertutup dan membu membuat harga rempah-rempah di Eropa meningkat tajam. tajam. Banga Eropa kemudian terdorong untuk mencari dan menemukan wilayah-wilayah penghasil rempah- rempah ke dunia baru yang ada di timur Eropa. Lama-kelamaan, mereka semakin berambisi menguasai berbagai negara untuk keuntungan ekonomi dan kejayaan politik mereka, terutama pada wilayah-wilayah seperti Indonesia yang merupakan penghasil rempah-rempah, seperti lada, cengkih. pala, dan lain-lain. Rempah-rempah yang dihasilkan di Indonesia mendorong mereka untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme karena rempah-rempah pada masa itu menjadi komoditas yang sangat laris di Eropa. Bangsa Eropa kemudian menyebut misantara sebagai Hindia. Respon Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme Ada Beberapa aspek utama yang terjadi di Indonesia setelah merespon sistem kolonialisme dan imperialisme, antara lain ekonomi dan politik, sosial dan budaya, seni dan sastra, serta pendidikan. Berikut penjelasannya: 1. Aspek Ekonomi dan Politik Bangsa Indonesia pada masa kolonialisme dan imperialisme dirugikan dalam bidang ekonomi dan politik. Oleh karena itu, bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadap Portugis, VOC, dan pemerintahan Hindia Belanda. Beberapa perlawanan berupa perang akibat ekonomi dan politik in, di antaranya: - Perlawanan Terhadap Portugis Ada beberapa peristiwa besar yang terjadi akibat upaya bangsa Indonesia melawan penjajahan bangsa Portugis, antara lain: Perlawanan Kesultanan Ternate Kebijakan monopoli perdagangan bangsa Portugis membuat Sultan Hainan memimpin perlawanan rakyat Ternate terhadap mereka. Sayangnya, Sultan Hairan berhasil
ditangkap dan dihukum mati oleh bangsa Portugis pada tahun 1570. Meski demikian, perlawanan Kesultanan Ternate tidak berhenti di satu. Perjuangan Sultan Hairun kemudian dilanjutkan oleh Sultan Baabulah. Di bawah kepemimpinan Sultan Baabulan inilah Kesultanan Ternate berhasil mengusir bangsa Portugis dari Maluku pada tahun 1575. Bangsa Portugis yang terusir dari Maluku imi kemudian menyingkir ke Pulai Timor dan berkuasa di Timor Timur hingga menjelang akhir abad ke-20. Perlawanan Kesultanan Demak Selain di Ternate, bangsa Portugis juga melakukan praktik monopoli perdagangan mereka di Malaka. Praktik monopoli tersebut membuat para saudagar Muslim di Malaka merasa terganggu. Kesultanan Demak yang khawatir bangsa Portugis juga akan mengekspansi pulau Jawa dan merasa perlu menunjukkan solidaritas mereka terhadap Kesultanan Malaka dan para saudagar Muslim yang ada di Malaka, akhirnya memutuskan untuk menyerang bangsa Portugis. Di bawah pimpinan Sultan Trenggono, Kesultanan Demak menyerang Sunda Kelapa pada tahun 1526 dan berhasil menguasai wilayah tersebut. Setahun kemudian, pada tahun 1527. bangsa Portugis yang saat itu tidak menyadari kalau Sunda Kelapa sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak, datang untuk membangun benteng di sana. Akibatnya, bangsa Portugis pun berhasil diusir oleh Kesulunan Demik di bawah kepemimpinan Fatahillah Fatahillah kemudian mengganti namu Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti kemenangan yang gemilang. Perlawanan Kesultanan Aceh Perlawanan Kesultanan Aceh terhadap bangsa Portugis dimulai pada tahun 1514-1540 di bawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah. Pada masa itu Kesultanan Aceh berhasil mengusir bangsa Portugis dari wilayah Acch. Perlawanan Kesultanan Aceh terhadap hangsa Portugis kemudian dilanjutkan oleh Sultan Alaudin Rayat Syah Al-Qalar pada tahun 1538 1571 dengan bantuan Turki. Sultan Alaudin Rinyat Syah, yung menjadi penggantinya, juga menyerang bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1573 dan 1575, Sultan Iskandar Muda pun pernah menyerang bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1615 dan 1629. Sekalipun Sultan Iskandar Muda tidak berhasil mengusir bangsa Portugis, dari Malaka. Perlawanan rakyat Aceh terus berlanjut sampai Malaka jatuh ke tangan VOC pada tahun 1641.
- Perlawanan Terhadap VOC Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi sebagai upaya bangsa Indonesia melawan penjajahan VOC, antara lain: Perlawanan Kesultanan Mataram Awalnya, hubungan Kesultanan Mataram dengan VOC berjalan dengan baik, sampaisampai Kesultanan Mataram mengizinkan VOC mendirikan benteng sebagai kantor perwakilan dagang di wilayah Jepara. Namun, lama-kelamaan Sultan Agung menyadari kalau keberadaan VOC membahayakan pemerintahannya. Sultan Agung pun mulai menyerang VOC pada tahun 1628, tapi serangan pertama ini gagal dan mengakibatkan sekitar 1.000 prajurit Mataram gugur. Serangan kedua yang dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 1629 pun mengalami kegagalan karena Kesultanan Mataram kalah persenjataan, kekurangan persediaan makanan (karena lumbung-humbung persediaan makanan yang ada di Tegal, Cirebon, dan Karawang dimusnahkan VOC), jarak yang terlalu jauh, dan wahab penyakit yang menyerang pasukan Mataram. 2. Aspek Sosial dan Budaya Perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme juga dilakukan dalam bentuk gerakan sosial-budaya. Beberapa gerakan tersebut adalah sebagai berikut - Gerakan Sosial di atas Tanah Partikelir Gerakan sosial ini adalah bentuk protes dan perlawanan atas peraturan Belanda yang tidak adil, serta rasa tidak puas atas kondisi sosial-ekonomi yang kurang memberikan tempat bagi kehidupan para pelaku dan pendukung gerakan sosial ini Gerakan sosial ini muncul di kalangan petani yang merasakan ketidakadilan karena praktik penjualan atau pemberian hadiah tanah oleh Pemerintah Belanda kepada perseorangan atau swasta, yang kemudian menjadi tuan tanah. Tanah inilah yang kemudian menjadi tanah partikelir (swasta). Para tuan tanah tersebut merasa memiliki hak untuk menindas penduduk yang ada di tanah partikelir mereka Penduduk di tanah tersebut diharuskan menyerahkan hasil garapan mereka dan memeras tenaga mereka selayaknya budak. - Gerakan Mesianisme
Gerakan mesianisme merupakan gerakan yang berasal dari harapan akan datangnya ratu adil atau imam mahdi sebagai juru selamat rakyat. Dalam gerakan ini biasanya terdapat seorang pimpinan yang dianggap sebagai juru selamat, pimpinan agama, atau bahkan nabi. Gerakan ini bersandar pada dasar-dasar kekuatan gaib sang pemimpin dan menghadapkan munculnya era baru dan datangnya zaman keemasan yang meniadakan penderitaan rakyat dan hilangnya konflik serta ketidakadilan. Beberapa contoh dari gerakan mesianisme adalah Kasan Mukmin (1903), Gerakan Darmojo (1907), dan dukun yang mengaku keturunan Sultan Hamengku Buwono V dan akan bertindak sebagai ratu adil dan calon sultan Yogyakarta (1918). 3. Aspek Seni dan Sastra Seni sastra pada masa perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme juga memiliki peranan yang sangat penting. Karya-karya sastra yang lahir pada masa itu menyuarakan ketidakadilan yang dialami oleh para pribumi karena kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh bangsa Belanda ke luar Hindia Belanda, termasuk ke negara Belanda sendiri. Karya-karya sastra pada masa itu juga membangkitkan semangat kemerdekaan bagi para pembacanya 4. Aspek Pendidikan Perjuangan para pahlawan Indonesia dalam bidang pendidikan merupakan salah satu perjuangan paling penting dalam melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. Para tokoh pendidikan di masa penjajahan Belanda membangun sekolah-sekolah swasta untuk memajukan pola pikir dan menumbuhkan semangat nasionalisme masyarakat pribumi. Sekolah-sekolah swasta ini kemudian dianggap sebagai “sekolah liar” oleh pemerintah colonial Hindia Belanda karena dianggap mengancam kedaulatan kekuasaan mereka di Indonesia di anatra sekolah swasta sibangun pada masalah ini adalah sebagai berikut: -Indisch Nederlandse School Kayu Tanam Indisch Nederlandse School Kaya Tanam didirikan di Kayu Tanam, Padang, pada tanggal 31 Oktober 1926 oleh Mohammad Syafei, tokoh pendidikan nasional yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ketiga dalam Kabinet Sjahrir II. Sekolah ini kemudian melahirkan beberapa nama besar dalam sejarah politik dan seni nasional, seperti Ali Akbar Navis, Mochtar Lubis, dan Tarmizi Taber Mohammad Syafei sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia karena melalui pendidikan, bangsa Indonesia dapat mengembangkan rasa nasionalisme. Visi pendidikan Mohammad Syafei adalah head, heart, dan hand.
Head berarti sekolah memfasilitasi para siswanya untuk mampu berpikir rasional, heart berarti sekolah memfasilitasi pura siswanya menjadi pribadi dengan karakter yang mulia, dan hand berarti sekolah memfasilitas para siswanya agar dapat memiliki keterampilan yang nyata sesuai dengan bakat yang dikaruniakan Tuhan kepada masing-masing orang. - Taman Siswa Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 Jul 1922 oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta Taman Siswa menjadi salah satu organisasi pergerakan yang bergerak di bidang pendidikan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Ki Hajar Dewantara menerapkan tiga konsep pengajaran di Taman Siswa, yaitu ing ngarso nung tulodo, ing madya mangun kana, dan tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulado memiliki arti bahwa para guru memiliki tanggung jawab dalam memberikan pendidikan dan harus mampu memberi contoh sikap dan perilaku yang baik, agar dapat menjadi teladan bagi para siswanya. Ing madya mangun karsa memiliki arti bahwa guru harus mampu memberikan motivasi yang baik pada pura siswanya dan memberikan bimbingan yang terus-menerus supaya para siswanya mampu berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka. Sementara Tut Wuri handayani mempunyai arti bahwa guru wajib membimbing par siswanya agar dapat menggali sendiri pengetahuannya dan menemukan makna dari pengetahuan yanmereka peroleh agar pengetahuan yang mereka dapat dapat berguna bagi kehidupan mereka. Nah, itulah materi sejarah kelas XI mengenai Kolonialisme dan Imperialisme serta kedatangan bangsa barat ke Indonesia.
UJI KOMPETENSI Pilihlah jawaban yang paling tepat dan benar serta kerjakan soal-soal yang ada dengan mandiri. Soal dapat dikerjakan melalui link Kahoot! yang dapat diakses di link berikut ini https://create.kahoot.it/share/teach-with-slides/e6bc1ae0-520d-484a-b2b9-22ccd295f47c