1
2
HAK CIPTA
Pesan Sang Angin
Copyright © 2022 Leonita Rahima Amanda, dkk.
Penulis: Leonita Rahima Amanda, Hilmy Aryasatya Mubarak,
Kayla Fathisa Humaira, Vyrlita Alya Nadin, Muhammad Rasyad
Muttafaqqih, Asyraf Trinanda, Akbar Asshidiqi, Aji Nugroho
Nursantoso.
Editor: Kayla Fathisa Humaira, Vyrlita Alya Nadin
Penata Letak: Hilmy Aryasatya Mubarak, Muhammad Rasyad
Muttafaqqih
Penata Sampul: Asyraf Trinanda, Akbar Asshidiqi
Ilustrator: Leonita Rahima Amanda, Aji Nugroho Nursantoso
Katalog Dalam Tertiban
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Desain sampul menggunakan sumber daya dari internet/freepik
i
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur atas karunia Allah SWT. yang melimpah di seluruh
alam semesta, serta junjungan kepada nabi Muhammad SAW. beserta
para sahabat dan keluarganya. Rasa syukur kami panjatkan kepada Allah,
yang mana atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan buku
Antologi Cerpen karya siswa-siswi 9A kelompok 2.
Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam proses penulisan
buku Antologi Cerpen ini. Kami meminta maaf apabila ada kekurangan
berupa salah pengetikan atau semacamnya dalam buku Antologi Cerpen
ini, karena kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Serta kami ucapkan terimakasih kepada bapak/ibu guru kami yang telah
membimbing kami dalam proses pembuatan buku Antologi Cerpen ini,
serta memberikan saran dan masukan untuk perbaikan karya-karya kami
yang lebih baik.
Antologi ini ditulis berdasarkan imajinasi atau bahkan pengalaman
hidup dari sang penulis, yang kemudian dituangkan dalam bentuk cerita
pendek. Antologi cerpen ini kami buat sedemikian rupa, guna untuk
membangkitkan minat dan semangat para pembaca untuk membaca dan
menulis. Semoga antologi cerpen ini dapat dipahami oleh pembaca,
sehingga akan memotivasi dan bermanfaat bagi pembelajaran. Sekian,
terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Cilegon, 21 Agustus 2022
ii
DAFTAR ISI
HAK CIPTA....................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................... iii
Pesan Sang Angin ................................................................................ 1
Kain Yang Telah Usang ...................................................................... 10
Menjaga Kelestarian Tari .................................................................... 14
Kerajinan Asal Sulawesi...................................................................... 18
Petaka Loka Manurung........................................................................ 23
Mengenal Budaya ................................................................................ 30
Tradisional Khas Sulawesi .................................................................. 33
Ide Cemerlang...................................................................................... 36
Biodata Penulis .................................................................................... 44
iii
Pesan Sang Angin
Leonita Rahima Amanda
Aku menarik napas dalam-dalam. Pita suaraku bersiap untuk
bersuara. Jari-jemari yang sedari tadi kuselipkan diantara senar-senar,
kini memetik senar bagai tarian yang gemulai. Teh hangat di cangkir
favoritku turut memeriahkan permainan. Perasaan yang kutuangkan ke
dalamnya, seolah menjadi citarasa khas bagi siapapun yang
mendengarnya. Hanya angin seorang, yang tahu bagaimana menjadi
pendengar setia. Dalam pikiranku, terdengar merdu suara yang aku
rindukan. Suara yang telah melahirkan banyak karya di hati orang-
orang. Tetapi kini, karya itu hanya tinggal di memori-memori orang
yang mendengarkannya.
Perkenalkan aku Seloka, si budak cintanya musik. Saat ini aku
duduk di bangku kelas 8. Aku memang keturunan dari Sulawesi
Selatan, namun aku tidak tinggal disana. Terkadang aku geram terhadap
orang-orang yang memanggilku dengan nama saluran pembuangan,
selokan. Tapi yasudahlah, aku sendiri lelah meladeninya. Oh ya, aku
juga sangat jatuh hati dengan syair atau semacamnya. Aku begitu
mencintai karya seni, terutama jika itu merupakan ciri khas suatu
daerah.
***
Semburat jingga mewarnai langit yang terbentang, dengan
kelabu yang menyusul dari arah timur. Seperti biasa, aku bermain
musik mengisi kekosongan waktu. Suasana sejuk selepas hujan
memang tidak terkalahkan. Ditambah secangkir Sarabba, minuman
khas daerah asalku yang kaya akan rempah-rempah, akan membuat
tubuh hangat dan segar. Kali ini, aku memainkan "Anging Mammiri".
Lagu yang berasal Sulawesi Selatan ini, berhasil membuatku jatuh hati
pada pertama kali kumendengarnya dari kakek.
Saat itu, kakek masih disampingku. Beliau gemar menyanyikan
lagu ini saat kami berdua hanyut dalam keelokan senja. Kami selalu
duduk di kebun belakang rumah kami saat melantunkan lagu bersyair
puitis tersebut. Tempat itu sekaligus menjadi saksi kedekatan aku dan
kakek. Ah, memutar memori kebersamaan dengan kakek membuat
dadaku sesak. Lagi-lagi mataku berlinang, saat aku memainkan lagu
1
yang sama. Aku benar-benar merindukan kakek, sosok yang membuat
siapapun nyaman berada di dekatnya. Air mataku berderai membasahi
pipi. Kemudian aku mengusap kedua kelopak mataku, mencegah air
mata yang lain jatuh. Aku berakhir merenung bersama dinginnya
malam.
***
Bel istirahat menggema, memberitahukan seluruh warga sekolah
untuk rehat sejenak dari sibuknya pekerjaan mereka. Di lain sisi, aku
hanya melakukan kebiasaanku, yaitu melamun di depan kelas.
“Hey Seloka! Mau ke kantin bareng?” kejut Talia, seorang gadis
berperawakan tinggi dengan surai hitam panjang yang digerai. Kami
berbeda kelas, kelasnya cukup jauh dari kelasku berada.
“Lia, kalo jalan jangan cepet banget dong, saya capek nih lari-
lari ngejar kamu.” Timpa seorang gadis mungil di samping Talia
dengan peluh yang menetes dari dahinya. Namanya adalah Chaselyn,
paras cantik menjadi khasnya dan ia sekelas dengan Talia.
“Hehee maaf deh nona muda Chaselyn ... jadi, Sel, kamu mau ke
kantin gak?” ucap Talia.
“Uhm maaf ya, aku masih mau ngerjain tugas tadi nih, sekaligus
mau makan bekal,” jawabku.
“Ooohhh gituu, oke dehh. Yuk, nona muda, kita meluncur ke
kantin.” Ledek Talia dengan tawa khas yang mengiringinya. Chaselyn
hanya membalasnya dengan memukul pelan lengan Talia yang sejajar
dengan pundaknya, dan mengerutkan alis cantiknya. Lalu mereka
berjalan di sepanjang lorong, menghilang dari pandanganku. Aku
melanjutkan melamunku.
Tetapi, kemudian aku tersadar dari lamunan, karena seperti ada
telapak tangan besar yang menyentuh pundakku dengan lembut. Aku
menoleh, kudapati seorang pria gagah berseragam batik dengan
tampang ramah tersenyum padaku. Oh iya aku baru ingat, itu pak
Arman, walikelasku. Aku menghadapnya dengan sedikit panik,
“E-eh pak Arman, selamat siang, Pak.”
“Selamat siang nak, maaf mengganggu waktunya. Bapak ingin
meminta tolong ... ehm tidak, menawarkan ini ….” Tangan pak Arman
2
tampak merogoh sesuatu dari kantung celananya. Setelah mendapati
barang yang dicarinya, kemudian diperlihatkan barang tersebut.
Selembar kertas berisikan kriteria dan syarat peserta, oh, ini undangan
perlombaan. Tunggu sebentar, mataku menangkap sesuatu yang tidak
asing, lomba menyanyi? Aku memperbaiki pandanganku, sedikit tidak
percaya dengan apa yang ditengok kedua mataku. Ya, lomba
menyanyikan lagu daerah.
“Maksud bapak, saya akan mengikuti lomba menyanyi, Pak?”
anggukan, hanya itulah jawaban dari pak Arman. Lalu beliau tersenyum
dan mengangkat kedua alis tebalnya, mungkin maksudnya bertanya
apakah aku bersedia ataukah tidak. Ini sangat amat berat bagiku. Aku
3
hanya menunduk, tanpa memberikan beliau jawaban. Pak Arman
kemudian masuk kembali kedalam kelas. Sebelumnya aku memutuskan
untuk tidak mengikuti lomba menyanyi, setelah saat itu. Saat dimana
aku diliputi amarah dan kecewa akan diriku sendiri.
Sekitar 2 tahun yang lalu, kakekku tengah mengidap penyakit
yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa penyakitnya. Kakek hanya
terkapar lemah di ranjang, hanya sesekali kakek beranjak meski untuk
ke kamar mandi atau semacamnya. Sudah berbulan-bulan lamanya
kami berdua tidak memandangi kebun dan bernyanyi bersama. Tetapi
apa daya, aku hanya mampu bersabar dan berdoa agar kakek lekas
pulih. Kala itu, aku tengah menjalani latihan menyanyi untuk mengikuti
suatu lomba menyanyi antarkota. Aku pula telah berjanji kepada kakek,
bahwa aku akan meraih juara 1 pada perlombaan itu dan membuat
keluarga serta sekolahku bangga. Aku sangat berharap bahwa itu akan
terjadi pada diriku, antusias dan bersemangat rasanya ingin melihat
wajah beliau bersinar bahagia. Tepat pada malam hari sebelum hari
dimana aku berlomba, kakek mengatakan sesuatu kepadaku.
“Cucu kakek…” Panggil kakek dengan lemah lembut.
“Kamu kan suka sekali menyanyi, jadi kalau bisa kamu juga
harus melestarikan lagu-lagu daerah terutama tradisional ya... Lagu-
lagu itu tidak hanya warisan dari nenek moyang, tetapi artinya begitu
dalam dan penuh makna.” Tangan lemahnya mengusap kepalaku
perlahan. Aku mengangguk dengan penuh antusias.
“Iyaa Kek! Seloka kalau sudah jadi penyanyi, akan membawakan
lagu-lagu daerah kepada semua orang! Nanti Kakek kalau sudah
sembuh, nyanyi bersama Seloka ya Kek” perkataan kakek yang
terdengar lemah, kujawab dengan semangat. Beliau hanya bisa
tersenyum mendengar kata-kataku, seolah tak ada kata-kata lain untuk
menjawab. Lagi-lagi tangan hangatnya tidak bosan mengusap
kepalaku, membuatku tenggelam dalam kantuk.
Waktu berjalan seperti yang seharusnya, mengganti hari yang
telah berlalu menjadi hari esok. Kondisi kakek makin memburuk,
keluargaku pun sudah tidak tahu harus mendatangi dokter mana lagi.
Aku sedih dengan kondisi kakekku, tetapi aku harus menepati janjiku
dengan beliau. Dan, hari perlombaan telah tiba. Suasananya begitu
ramai oleh hiruk pikuk peserta dan penonton. Aku melihat peserta lain
begitu siap dengan diri mereka masing-masing, dan penampilan mereka
4
mengagumkan. Aku sempat merasa takut, tetapi aku harus menjalankan
ini semua, dan juga demi kakek. Giliranku tampil telah tiba. Aku
menyanyi dengan sekuat tenaga, melakukan apa yang telah diajari oleh
pelatihku. Di wajahku hanya terpampang jelas wajah kakek, hal itu
membuatku bergetar dan mempengaruhi penampilanku. Aku takut,
badanku menggigil. Bahkan tengkukku terasa membeku.
Beruntungnya, aku berhasil menyanyi hingga selesai. Aku beristirahat
menghilangkan penat, sambil mencemaskan bagaimana nasibku nanti.
Di saat itu pula walikelas ku, bu Erni, datang menyusulku dan
menyampaikan berita duka bahwa kakekku telah meninggal. Aku tidak
bisa mencerna kata-katanya dengan benar karena aku sangat lelah.
Setelah aku tersadar, aku bangkit dari dudukku, dan berlari menuju
pintu keluar bersama bu Erni dengan segera. Selama perjalanan, tak ada
satu patah katapun yang terlontar dari bibirku. Bibirku terasa kaku, otot
di tubuhku terasa nyeri. Duka seperti merenggut seluruh
kebahagiaanku, ketenanganku, dan segalanya. Sesampainya dirumah,
badanku makin melemas melihat jasad kakek yang sudah dibungkus
oleh kain kafan. Sepasang mata yang sering kutatap, kini takkan pernah
terbuka lagi. Tangan kurusnya yang hangat, yang selalu kucium ketika
aku hendak pergi kemanapun, kini tak bisa mengusap-usap kepalaku
lagi, tak bisa kucium lagi, tak bisa kugenggam lagi. Hari itu, diriku
hancur lebur.
Keesokan harinya, telpon rumahku berdering. Aku mengangkat
teleponnya,
“Assalamu’alaikum, halo, dengan siapa?”
“Wa’alaikumussalam … ini Bu Erni, walikelas Seloka. Apa
benar ini kamu, Nak Seloka?” tanya bu Erni.
“Iya Bu, ini saya Seloka … ada apa ya, Bu? Mengapa menelpon
saya?” Tanyaku balik.
“Begini Nak pertama-tama ibu dan pihak sekolah turut
berdukacita atas sepeninggalnya kakekmu nak, maaf karena ibu tidak
bisa menghadiri pemakaman kakek Nak Seloka karena ibu sedang ada
urusan … dan yang kedua, ibu ingin menginformasikan terkait
lomba….” Jeda yang cukup lama sebelum bu Erni melanjutkan kata-
katanya. Aku mulai khawatir, mengapa bu Erni berhenti berbicara.
5
“Maaf ya, Nak, kamu tidak mendapatkan juara”, sambung bu
Erni. Kakiku melemah, hingga aku terjatuh. Rasanya, aku ingin teriak
dengan selantang-lantangnya pada diriku sendiri, atas amarah yang
meluap-luap dalam lubuk. Aku sudah berjanji pada kakek bahwa aku
akan mendapatkan juara 1 pada perlombaan itu, tetapi aku bahkan tidak
meraih juara apapun. Terlebih kakek sudah tiada. Kekecewaan ini tidak
akan pernah aku maafkan. Hingga aku memutuskan untuk tak pernah
mengikuti lomba menyanyi lagi. Keputusan itu akan aku pegang mulai
saat ini.
Setelah mendengar perkataan bu Erni, badanku terasa berat untuk
menjalani hari. Di sekolah pun, aku hanya menunduk setiap waktu.
Hingga pada suatu saat aku mendengar segerombolan anak perempuan
membicarakan perlombaan yang aku ikuti. Nada bicara mereka
terdengar mengolok-olok, tidak jarang mereka melirik ke arahku
dengan tatapan merendahkan. Salah seorang dari mereka berkata,
“Hahaha, katanya sih mau memenangkan perlombaan menyanyi,
tapi juara pun tidak.”
“Padahal sudah pede akan menjadi juara, dan dia bilang setelah
juara akan membawakan lagu daerah? haha aneh-aneh saja.” Susul anak
yang lain. Ini membuatku marah dan semakin terpukul, tidak masalah
jika mereka mengolok-olokku, tetapi mengapa dengan lagu daerah?
Aku ingin segera keluar dari semua ini. Ketika memasuki masa SMP,
aku tidak memberitahu seorangpun mengenai bakat menyanyiku ini.
Jadi hal ini membuatku jauh lebih tenang, tetapi akan berbeda lagi jika
seseorang mengetahui itu.
Hari silih berganti. Kini, kepalaku dipenuhi lomba menyanyi
sejak pak Arman memberikan kertas perlombaan itu. Lagi dan lagi, aku
termenung memikirkannya. Hanya keluargaku yang mengetahui
perkara ini. Sedangkan teman-temanku heran, mengapa aku tampak
murung akhir-akhir ini.
"Seloka, mau jajan bareng?" Tawar Chaselyn dengan lembut.
"Eh, Chaselyn ... maaf ya, aku belum laper kok Lyn.. tapi,
kemana Talia?"
"Talia lagi bareng temennya yang lain, kamu lupa ya dia itu anak
populer yang dikelilingi teman yang berbeda setiap harinya." Jawab
Chaselyn. Aku membalas perkataannya dengan tertawa kecil.
6
"Seloka, akhir-akhir ini kamu sedikit murung … ada apa?" Tanya
Chaselyn. Aku semakin diam, menatapi ubin-ubin lantai yang kupijak.
Tiada jawaban apapun dari mulutku. Lalu tangan Chaselyn
menggenggam tanganku, dan tersenyum hangat. Tatapan kedua manik
biru laut miliknya, membuatku berpikir sejenak. Mungkin sudah
waktunya aku menceritakan ini pada seseorang. Bibirku bergetar
sebelum berkata-kata, kucoba mengukuhkan keberanian. Pada akhirnya
aku menceritakan semuanya. Disepanjang cerita, wajah Chaselyn yang
tadi hangat kini berubah sendu.
“Kamu begitu kuat, ya, Seloka, mampu memendam semuanya
sendiri … tapi, tidak seharusnya juga kamu menyalahkan diri kamu
sendiri. Kalah dan menang selalu ada dalam pertandingan, Sel. Aku
tahu, semua ini pasti terasa berat bagimu, tetapi cobalah untuk
memaafkan dirimu.” Tutur katanya memasuki pikiranku dengan sopan,
dengan intonasi nada yang membuat semua orang akan tenang. Lantas
aku berpikir, aku mungkin telah merugikan diriku sendiri. Olokan dan
semacamnya justru seharusnya aku abaikan, dan aku jadikan sebagai
motivasi. Aku harus bangkit, perlombaan kali ini adalah kesempatan
emasku. Setidaknya aku harus berusaha sekali lagi untuk memenuhi
janjiku dengan kakek.
“Chaselyn, makasih banyak ... terimakasih sepertinya tidak akan
cukup.” Chaselyn tersenyum. Kerut wajahnya mengingatkanku pada
sosok kesayanganku, kakek. Air mataku mengucur deras, bentuk dari
sebuah pemberian maaf pada diri sendiri. Hatiku kini lega, tidak lagi
terasa sesak dan menyiksa. Kupikir hari ini akan menjadi hari ke sekian
yang melelahkan, tetapi hari ini adalah akhir dari masa lalu yang belum
aku maafkan.
Esoknya, aku menghampiri pak Arman untuk menyetujui
tawaran lomba menyanyi lagu daerah tersebut. Pak Arman terlihat
sedikit heran, melihat perbandingan ekspresi saat tawaran lomba itu
diberikan kepadaku dan saat aku menyetujui tawarannya. Wajar saja
jika perbedaannya terlihat 180 derajat, ini semua berkat jasa teman
baikku, Chaselyn. Atas jasanya, aku bisa menjadi orang yang lebih
menghargai diri sendiri. Dan aku memulai hari-hariku yang lebih
bahagia. Aku berlatih menyanyi setiap hari, demi kejuaraan perlombaan
kali ini. Tentu saja, aku akan memilih lagu favoritku, Anging Mammiri.
7
Hari lomba telah tiba. Aku menunggu giliranku untuk tampil,
sembari berbincang kecil dengan beberapa temanku untuk
menghilangkan stress. Hingga dipanggilah namaku ke atas panggung,
dengan diriku yang membawa gitar kesayangan. Melihat mata para
penonton, telah mengunci mulutku rapat-rapat. Jumlah penonton lebih
banyak daripada saat itu, gumamku dalam hati. Aku menelan ludah,
membersihkan tenggorokan. Jariku memulai petikan pada senar, pita
suaraku bersiap untuk melantangkan suara, lirik dalam lagu bergema
mengisi panggung. Sesekali aku memejamkan mata, meresapi nada
hingga menusuk jiwa. Ku berharap, angin akan menyampaikan
kerinduanku kepada sosok yang selama ini kusayangi, sebagaimana
lagu yang aku bawakan.
Dengan upaya keras, penampilanku berjalan sesuai rencana.
Hingga pengumuman pemenang memecah keheningan, disebutkan
bahwa aku lah peraih juara pertama. Aku riang bukan main. Air mataku
berlinang bahagia mendengarnya. Kepalaku terasa hangat, begitu juga
dengan jiwaku. Tak ada bedanya dengan pelukan kakek, damai rasanya.
Mungkin, kakek juga bahagia dengan janjinya yang kutepati. Dan,
terimakasih angin yang telah membawa pesan-pesanku padanya.
“Kalah itu wajar, mereka yang menang hari ini juga pernah kalah
di masa lalu. Jadi pasti di masa depan nanti, kamu juga bakal bisa
menang kayak mereka.”
“Gapapa kamu sekarang kalah, harus tetap semangat, terus
berjuang. Lagipula kalah bukan berarti gagal, pasti ada hal lain yang
bisa kamu dapat dari kekalahan itu dan kamu bisa jadi orang yang lebih
baik lagi dari pada itu.”
“Belum berhasil tetapi bukan berarti bakal terus gagal.”
“Semoga kalian bisa melakukannya dengan baik kedepannya.”
“Semangat.”
-Cilegon, 2022-
8
Kain Yang Telah Usang
Aji Nugroho Nursantoso
Namaku Zain. Aku tinggal di Jakarta, aku mempunyai saudara
yang bernama Rendy, dia cukup sombong tapi aku tidak akan mengikuti
dia sampai kapan pun. Kisah kami berawal ketika guruku berkata,
“Setelah liburan akan ada pameran seni kain dari berbagai
daerah.”
Aku pun berpikir bagaimana cara mendapatkan kain seperti itu,
pasti susah sekali. Tiba-tiba Rendy datang dan bertanya,
“Zain, apakah kau akan ikut liburan?”
“Memangnya kita mau kemana?” balasku.
“Kita akan ke Toraja, ke rumah nenek,” mendengar hal itu, aku
langsung setuju bahwa aku akan ikut kesana.
Hari-hari berlalu, ternyata orangtua ku jatuh sakit, karena itu aku
pun memutuskan untuk tidak ikut ke rumah nenek. Tapi, dengan suara
lirih ayahku berkata bahwa aku tetap harus pergi karena akan banyak
pelajaran yang aku dapat.
Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, aku pun berangkat
bersama Rendy, ya, hanya berdua. Orang tua kami hanya mengantarkan
sampai bandara saja, setelah berpamitan, aku pun take off menuju
bandara udara Tanjung Api. Sesampainya disana, aku di jemput oleh
paman kami, Om Ryan. Kami segera berangkat menuju Toraja, kami
sampai disana pukul 23.45, aku dan Rendy pun langsung meng-qadha
salat isya kami karena tertidur ketika di pesawat. Namun sayang,
ternyata nenekku sudah terlelap.
“Zain, Rendy, sekarang sudah larut, segeralah tidur! Besok pagi,
kita akan jalan-jalan,” ujar Om Ryan dengan suara kecil. Ia
meninggalkan kami dengan lilin, rumah nenek belum di pasangi listrik,
hal itu yang membuatku dan Rendy susah tidur.
***
Pukul 05.35, kami terbangun dari tidur, kami disambut oleh
aroma masakan nenek, itu membuatku segera membangunkan Rendy,
9
cukup sulit untuk membangunkannya, Rendy memang begitu. Sulit
tidur, namun sekalinya tidur seperti lupa waktu, setelah perjuangan
yang cukup melelahkan, akhirnya aku pun keluar dari kamar.
Ternyata benar, sudah ada nenekku disitu, dia mempersihlahkan
aku untuk makan. Sembari makan, nenek bertanya dengan antusias,
“Tadi malam sampai sini jam berapa?”
Sebelum aku menjawab, Rendy menyelak percakapanku.
“Aku sampai disini pukul 11.45, Nek.”
10
Aku berkata dengan nada ketus, “Baru saja akan ku jawab.”
“Kau terlalu lambat, Zain” katanya, Rendy meremehkanku.
Sebelum pertengkaran terjadi, nenek sudah melerai kami,
“Sudah-sudah, masa pagi-pagi sudah berantem, ayo saling
meminta maaf.”
Dengan berat hati, aku memaafkan dia. Selepas itu aku berkata,
“Nek, selepas liburan akan ada pameran kain apakah disini ada
kain kedaerahan?”
“Oh iya ada, namanya Kain Sarita, itu merupakan kain yang
dianggap sakral oleh rakyat Toraja, dibalik motif-motifnya ada maksud
dan maknanya tersendiri.” jawab Nenek.
“Baiklah, Nek, kami akan mencarinya sekarang.”
“Apakah kalian mau melihat proses pembuatan kain Sarita?
Nenek pikir, kalian akan mendapatkan pelajaran tersendiri jika
menyaksikan proses pembuatannya secara langsung.” Tawar nenek.
Zain sepertinya tertarik dengan tawaran dari nenek, tetapi di sisi lain
Rendy tampak enggan.
“Tawaran yang bagus, Nek.. Kupikir akan lebih menyenangkan
jika melihat proses pembuatan kain Sarita.” Ujar Zain.
“Tidak, tidak.. Untuk apa susah-susah melihatnya? Lebih baik
jika kita langsung membeli kainnya di toko terdekat.” Tolak Rendy
mentah-mentah. Raut Zain berubah sebal mendengar perkataan Rendy.
Nenek hanya menonton perdebatan Rendy dan Zain dengan tenang
sambil menyantap cemilan. Dengan terpaksa, Rendy akhirnya kalah
berdebat dan ikut melihat proses pembuatan kain Sarita.
Mereka bertiga menyusuri hutan, karena tempat yang membuat
kain Sarita cukup terpencil dari wilayah kota. Hingga sampailah mereka
di sebuah rumah dengan tampilan kuno. Rendy menatap rumah itu
dengan malas dengan melontarkan omelan-omelan yang tiada hentinya.
Baru beberapa menit duduk berdiam di rumah itu, Rendy beranjak dari
kursinya.
“Ah, membosankan! Kenapa kita tidak membelinya di toko saja,
sih? Untuk apa kita repot-repot datang kesini dan menonton hal yang
11
membosankan seperti ini?” Teriak Zain hingga memberhentikan
pekerjaan para pembuat kain.
“Ssst, diamlah Rendy, jangan berperilaku kekanak-kanakan
seperti itu.” Timpa Zain. Rendy akhirnya keluar dari rumah itu, tidak
peduli dengan apa yang dikatakan Zain. Zain hanya mendengus kesal
melihat kelakuan saudaranya itu. Nenek hanya menyuruh Zain
bersabar, agar emosinya tidak meluap-luap. Ia kembali menyaksikan
proses membuat kain Sarita dengan khidmat. Langkah per langkah,
Zain amati dengan baik. Tak jarang ia berdecak kagum melihat para
pekerja membuat kain dengan begitu sabar dan cermat.
Jadilah kain Sarita yang baru saja dibuat. Pandangan Zain tidak
pernah luput dengan selembar kain yang ia bentangkan. Lalu ia
membawanya dalam lomba pameran sekolah. Di lain sisi, Rendy hanya
membeli kain dari toko. Saat lomba pameran tiba, kain Sarita yang
dibawa Zain, telah menarik banyak perhatian. Ia kemudian menjelaskan
proses pembuatan kain dan juga makna di setiap motif pada kain.
Sedangkan kain yang dibawa Rendy, tidak ada yang meliriknya.
Jerih payah upaya Zain membuahkan hasil. Akhirnya, ia
memenangkan lomba pameran di sekolah. Dan begitu banyak pelajaran
yang didapat oleh Zain. Mungkin, Rendy juga mendapat sebuah
pelajaran bagi dirinya.
12
Menjaga Kelestarian Tari
Akbar Asshidiqi
Hai, namaku Rina. Usiaku 14 tahun dan aku masih duduk di
bangku SMP kelas 3. Hari ini aku bersama kedua temanku, Aliya dan
Aldo, akan berangkat ke sekolah bersama.
“Rin, aku dengar saat kamu masih Sekolah Dasar, kamu pernah
menjadi
juara menari tingkat Provinsi, ya?” tanya Aldo.
“Iya, kok kamu bisa tahu?” jawabku bingung.
“Aku tahu dari kelas sebelah.”
“Wah pas banget kalau begitu, Rin, kebetulan aku dan teman OSIS-
ku
akan mengadakan acara menari tradisional untuk kelulusan di kelas,” ujar
Aliya dengan antusias.
“Wah boleh, memang itu syaratnya apa saja?” tanyaku.
“Syaratnya mudah kok, tariannya bebas asalkan tradisional asal
Indonesia, kalau kamu mau ikut nanti formulirnya akan di bagikan di
kelas.”
“Kamu mau ikut, Rin? Memang apa serunya menari?” tanya Aldo
padaku.
“Aku dan ibuku hobinya menari, lagian juga menari tarian
tradisional itu bukan karena seru atau tidak, tapi karena kita harus
melestarikan tarian tradional agar tidak dilupakan.”
“Nah bener itu kata Rina, kita harus melestarikan tarian tradisional
agar tidak dilupakan!” tanggap Aliya.
“Yasudah deh aku masuk kelas dahulu, sebentar lagi bel sekolah
akan berbunyi,” pamitku pada Aldo dan Aliya.
***
Bel sekolah pun berbunyi. Pada saat kelas dimulai, guru
membagikan kertas formulir seperti yang dikatakan Aliya.
13
“Untuk kelulusan, pihak sekolah akan mengadakan acara menari
tarian tradisional, jika minat silahkan isi di formulir yang telah di
bagikan!” tegas guruku seraya membagikan formulir. Lalu, aku mengisi
formulirnya dan melanjutkan sekolah hingga saatnya pulang nanti.
Bel pulang berbunyi. Aku, Aliya dan Aldo pun pulang bersama.
“Rin, kenapa bengong?” tanya Aliya.
“Aku bingung siapa yang akan mengajariku tarian tradisional,”
jawabku dengan nada kebingungan.
“Coba tanyakan pada ibumu, ibumu kan hobi menari,” ucap Aldo.
“Oh iya, dahulu ibuku pernah mengajarkanku tarian asal Sulawesi,
namanya Tari Manimbong, bagaimana kalo kalian ikut latihan
bersamaku?” ajakku.
“Aku berharap aku bisa ikut, tetapi anggota OSIS sedang sibuk
mempersiapkan fasilitas untuk menari nanti,” jawab Aliya.
“Kalo kamu bagaimana, Do, mau ikut enggak?” tanyaku.
“Enggak, ah, membosankan, lebih baik bermain game.” jawab
Aldo malas.
“Yasudah, aku mau pulang duluan, ya!” pamitku.
***
Saat di rumah, aku pun bertanya kepada ibu apakah bisa
mengajariku menari tarian tradisional.
“Ibu! Bisa ajarkan aku menari tarian Manimbong, enggak? Aku
ada acara menari untuk kelulusan nanti.”
“Boleh banget, Nak! Mau kapan berlatihnya?” tanggap Ibu
bersemangat.
“Kalau bisa sekarang, Bu.”
“Yasudah, yuk ke taman agar lebih leluasa,” ajak Ibuku. Kami
berdua pun segera menuju taman untuk latihan tari.
“Sudah di taman ini, Bu, sekarang bagaimana caranya menari
tarian Manimbong?” tanyaku tak sabar.
“Nih, seperti ini,” ucap Ibuku seraya mengajarkan tari Manimbong
dengan jelas dan mudah dimengerti olehku.
14
Acara kelulusan pun tiba. Suasananya sangat ramai dan meriah.
“Kita panggilkan, Rina!” panggil MC. Rina pun memasuki
panggung dan mulai menari. Setelah Rina selesai menari, penonton
bertepuk tangan dengan meriah.
15
Kerajinan Asal Sulawesi
Hilmy Aryasatya Mubarak
Namanya Budi, dia lahir di Makassar, ayah dan ibunya keturunan
Sulawesi. Budi sangat menyukai kerajinan kerajinan asal Sulawesi.
Keesokan harinya Budi dan ayah ibunya pergi ke toko atau pasar. Nah,
kebetulan disitu banyak yang menjual kerajinan-kerajinan asal
Sulawesi, Budi pun melihat-melihat kerajinan asal Sulawesi seperti
kayu pakis, batik Toraja, dan Songkok Bane. Dan mereka membelinya
untuk koleksi di rumahnya.
Keesokan harinya Ucok dan Alin bermain di rumah Budi. Saat
memasuki rumah Budi, Ucok dan Alin sangat terpesona melihat-
melihat kerajinan asal Sulawesi itu, Ucok mengajak Alin untuk
membeli kerajinan asal Sulawesi juga.
Ucok berkata “Alin, ayo kita membeli kerajinan itu di toko atau
pasar!”
“Oh iya, ayo kita membeli kerajinan itu, sebetulnya aku juga suka
sama kerajinan itu,” sahut Alin dengan antusias.
Setelah mereka pulang dari toko untuk membeli kerajinan,
mereka pulang kerumah dan menaruh kerajinan tersebut di rumah
masing-masing.
Hari pun berganti, Budi mengajak Ucok dan Alin bermain di
saung dekat rumahnya, Budi menyuruh kedua temannya membawa
kerajinan yang mereka beli kemarin. Setelah beberapa menit kemudian,
Ucok dan Alin pun datang membawa kerajinan Sulawesi itu.
“Hai, Ucok. Hai, Alin!” sapa Budi dengan ramah.
“Hai juga, Budi!” sahut mereka dengan serempak.
Ucok pun memecah suasana dengan bertanya kepada Alin dan
Budi.
“Eh, by the way kita mau ngapain nih? Kan sudah bawa kerajinan
masing-masing asal Sulawesi.”
“Iya nih, Bud, kita mau ngapain?” sambung Alin menanya.
16
“Oh iya, pada mau gak kalau kita bikin video review kerajinan
asal Sulawesi?” tanya Budi pada kedua temannya.
“Wah boleh, keren tuh,” jawab Ucok antusias.
“Boleh, yuk kita buat sekarang videonya kerajinannya,” Ujar
Alin sembari bersiap untuk pengambilan video.
Mereka pun segera membuat videonya. Setelah selesai merekam,
mereka memutuskan untuk mengunggah hasil video tersebut ke media
sosial masing-masing.
Besok ayah dan ibunya mengajak Budi ke museum di Makassar
yang ada kerajinan asal Sulawesi. Budi bertanya kepada ayah dan
ibunya,
“Ayah, ibu, apakah Budi boleh mengajak Ucok dan Alin?”
“Tentu saja boleh”, jawab Ayah.
Budi bergegas memberi tahu Ucok dan Alin. Ucok dan Alin pun
setuju, lalu segera bersiap siap untuk ke museum. Tak sampai lama,
mereka tiba dan masuk ke museum tersebut.
“Wah! banyak banget kerajinan”, kagum Ucok.
Alin menanggapi “Wah iyaa.”
“Ayo kita melihat-melihat kerajinan lainnya”, sambung Budi.
“Nah, ini nih kerajinan batik toraja, bagus banget ya”, tunjuk
Ucok pada kain di depannya.
“Wah, iya ya ada pengertiannya juga”, tanggap Alin.
“Iya nih aku bacain yaa, Batik Toraja adalah hasil dari
pengembangan budaya yang awalnya hanya bisa dinikmati dalam
bentuk ukiran di rumah adat, tetapi seiring dengan berkembangnya
waktu dan peradaban, maka dikembangkan dalam bentuk batik. Warna
khas Batik Toraja adalah hitam, merah, putih dan kuning” ucap Budi.
Setelah mereka melihat-melihat kerajinan itu lalu mereka
berfoto-foto dan diunggah di sosial medianya, jadi mereka di sana
mendapat pengalaman yang sangat bagus, di sana terdapat
pengertiannya dan lainnya, lalu mereka makan dan pulang.
Besoknya dia bermain lagi ke tempat saungnya Budi,
17
Ucok berkata, “Kita mau ngapain lagi nih, Bud?”
Budi menjawab, “Oh iya aku bosen nih di rumah gimana kita
menjelaskan pengertian-pengertian kerajinan yang kita dapat kemaren,
kan aku baru kasih tau kemaren yang batik Toraja doang.” Alin berkata,
“Oh yaudah deh ayo bergantian ya.” Ucok bertanya,
“Oke mulai dari siapa dulu nih?” Budi menjawab,
“Oke aku dulu deh baru Ucok sama Alin ya.”
“Aku bagian kain tenun ya, kerajinan tangan Sulawesi Selatan
yang tak boleh ketinggalan. Itu adalah kain tenun Toraja dan kain
Sutera Sengkang. Kalau kain tenun, Toraja ini lebih mudah dikenali
dengan ragam motif, warna, dan teksturnya. Makin rumit, maka
harganya pun akan makin mahal, mengingat pengerjaannya yang
pastinya memakan waktu lebih lama. Sementara sutera Sengkang ini
ada ada banyak variasinya. Dari yang bahan campuran sutera hingga
yang asli 100 persen berbahan sutera. kerajinan tangan dari lampung
bisa anda jadikan sebagai informasi tambahan.” jelas Budi.
“Sekarang bagian aku ya, Tongkonan adalah rumah adat Toraja
dengan bentuk atap menyerupai perahu yang terdiri atas susunan
bambu. Miniatur Tongkonan ini merupakan salah satu kerajinan tangan
khas sulsel yang diukir dan dibentuk berdasarkan desain asli. Miniatur
Tongkonan merupakan cinderamata yang cukup digemari wisatawan
baik lokal maupun internasional.” tanggap Ucok.
“Oke, sekarang giliran aku, Sarung Khas Bugis, Kain Nusantara
yang bisa kamu jadikan cendera mata selain batik dan kain tenun adalah
kain sarung. Jika kamu berkunjung ke Sulawesi Selatan, maka akan
kamu temui sarung khas Bugis. Sarung tersebut biasanya memiliki
motif garis vertikal dan horizontal dengan warna cerah. Bagi orang
Bugis, sarung memiliki filosofi tertentu dan dapat dijadikan pertanda
bagi pemakainya.Ternyata ada begitu banyak kerajinan tangan yang
berasal dari Sulawesi Selatan. Jika anda berkunjung kesana, jangan lupa
untuk memebeli beberapa barang tersebut untuk dijadikan sebagai buah
tangan.” sambung Alin.
Budi membalas “Mantap, aku lagi ya. Miniatur Tau-tau, kalau
kamu pernah berkunjung ke destinasi wisata pekuburan Tana Toraja,
pasti akan temukan patung orang-orangan di depan kuburan tersebut.
18
Nah, itu dia yang namanya Tau-tau. Patung orang-orangan itupun
dibuat tak sembarangan lho. Harus dilakukan sama pengrajin khusus.
Buat kamu yang tertarik dengan Tau-tau ini tak perlu khawatir, karena
sudah banyak dijual cinderamata berupa miniatur Tau-tau yang bisa
kamu bawa pulang. kerajinan tangan dari papua bisa anda jadikan
sebagai informasi tambahan.”
19
“Miniatur Perahu Phinisi, Perahu phinisi adalah sebuah kapal
kayu tradisional buatan tangan kebanggaan masyarakat sulawesi
selatan, gaungnya sudah mendunia karena sudah berlayar dan
menjelajah samudera di seluruh dunia. Kapal Pinisi ini sudah sejak
berabad-abad yang lalu,bahkan menurut catatan sejarah,cikal bakal
kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 500-an.salah satu lokasi
pembuatan perahu pinisi yang populer saat ini adalah Tana Beru di
Bulukumba.” ujar Ucok.
“Songkok Bone, Songkok satu ini mungkin sering kamu lihat
dikenakan para pemuka atau pejabat Sulawesi Selatan saat upacara
adat. Dinamakan Bone karena asal songkok dari Kabupaten Bone.
Sebutan lainnya adalah songkok recca. Kamu bisa jadikan salah satu
kerajinan tangan khas sulse ini sebagai buah tangan. Songkok ini
berbahan baku pelepah daun lontar yang dipukul dan ditumbuk hingga
bersisa seratnya. Ada dua macam yaitu songkok pamiring yang berarti
berhias benang emas dan songkok pamiring ulaweng yang berarti
songkok berpinggir emas sungguhan.” kata Alin.
Budi mengapresiasi penjelasan dari teman-temannya, dan
bertepuk tangan. Setelah mereka menjelaskan kerajinan yang telah
mereka dapat di museum, mereka berpamitan untuk pulang.
20
Petaka Loka Manurung
Kayla Fathisa Humaira
Di sebuah kampung bernama Cerekang yang terletak di
Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Hiduplah seorang gadis
cantik bernama Namboli. Gadis cantik yang gemar menari. Ia hidup
bersama seorang kakak perempuan dan kedua orang tuanya di sebuah
rumah dari tumpukan kayu khas Sulawesi atau yang biasa disebut
dengan Tongkonan. Namboli setiap harinya membantu sang ibu untuk
berkebun dan merapihkan rumah. Selain itu, ia juga berlatih menari
bersama teman-teman nya di sore hari.
“Namboli!” panggil Kak Mangge, kakak satu-satunya Namboli.
“Iya, Kak,” sahut Namboli sedikit berlari dari dapur.
“Hari ini ada gotong royong, jadi tolong kamu jaga rumah, ya?”
“Memangnya ibu kemana, Kak?” tanya Namboli.
“Ibu sudah pergi ke kebun tadi. Sudah ya, aku pergi dulu,” pamit
Kak Mangge.
Setelah Kak Mangge pergi, Namboli kembali melanjutkan
pekerjaannya. Selesai membersihkan Tongkongan dan memasak untuk
makan siang, Namboli berniat untuk istirahat sejenak sembari
menunggu Kak Mangge dan Ibunya pulang. Namun, baru saja ia ingin
mengistirahatkan diri, suara dari luar rumah menghentikan
kegiatannya. Dengan rasa malas, Namboli akhirnya memutuskan untuk
melihat siapa yang datang. Setelah ia lihat dari jendela, ternyata itu
suara teman-teman yang memanggilnya.
“Hai semuanya, ada apa?” ujar Namboli.
“Ayo kita latihan menari!” ajak Raya, salah satu temannya.
“Ini kan masih pagi menjelang siang, kenapa sudah latihan?”
“Soalnya kita mau ada tamu dari kota, jadi kita latihan untuk
sambutan,” jawab Raya.
“Oh, seperti itu, tapi sekarang rumahku sedang tidak ada orang,
jadi kalian duluan saja, nanti aku menyusul.”
21
“Yasudah, kalau begitu kami duluan ya,” ucap Raya yang dibalas
anggukan dan senyum kecil dari Namboli.
Tidak lama setelahnya, akhirnya ibu dan Kak Mangge pun
pulang.
"Loh, Ibu kok bisa sama Kakak?”
"Tadi ketemu di jalan” jawab sang Ibu sambil masuk ke dalam
rumah yang kemudian diikuti oleh Kak Mangge dan Namboli.
Saat makan siang, Kak Mangge bercerita bahwa akan ada tamu
dari kota yang dateng untuk observasi.
“Besok akan ada tamu dari kota yang datang untuk melakukan
observasi, jadi besok pagi seluruh warga kampung disuruh kumpul di
depan kantor kepala disrik. Eh, Namboli tadi aku lihat teman-temanmu
sedang latihan menari, kenapa kamu tidak ikut?”
“Ah itu, kan tadi Kak Mangge menyuruhku menjaga rumah, jadi
aku bilang bahwa nanti aku akan menyusul setelah kalian pulang.” jelas
Namboli.
“Yasudah, cepat kamu habiskan dulu makananmu. Nanti kamu
susul teman-teman mu itu, Nak,” suruh Ibu. Namboli yang mendengar
hal itu pun mengerti dan segera menyelesaikan kegiatannya. Setelah
selesai makan, Namboli langsung pergi ke tempat ia biasa berlatih tari.
“Maaf ya semuanya, aku terlambat,” ucap Namboli kepada
semua teman dan seorang pelatih tari.
“Tidak apa-apa, Namboli. Silahkan langsung ambil posisi menari
kamu,” pinta sang guru tari.
Setelah Namboli selesai latihan, ia kembali ke rumah dan
langsung istirahat.
***
Keesokan harinya, di gerbang Kampung Cerekang sudah
dipenuhi oleh penduduk setempat untuk menyambut kedatangan tamu
penting. Macam-macam sambutan pun sudah dimulai dimulai sejak
tamu tersebut memasuki Kawasan kampung. Setelah turun dari mobil,
tamu dari kota langsung disambut oleh Tarian Moriringgo. Tarian ini
ditampilkan untuk acara penyambutan tamu pemerintahan, tari ini juga
merupakan tarian asli dari anak Suku Padoe yang berdiam di Kabupaten
22
Luwu Timur sebagai bentuk syukur, kegembiraan dan suka cita dari
masyarakat Suku Padoe untuk merekatkan hubungan masyarakat yang
terkesan sudah modern.
Selagi sambutan berjalan, tamu dari kota saling berjabat tangan
kepada orang-orang penting yang ada di kampung Cerekang.
“Selamat datang, Pak Renal. Semoga betah disini selama sebulan
kedepan ya, Pak.” sambut Pak Herman selaku Kepala Disrik.
“Terima kasih, Pak Herman. Saya terharu sekali mendapat
sambutan yang begitu antusias dari penduduk Kampung Cerekang dan
soal betah, saya pasti akan sangat betah apalagi ditambah dengan
penduduk yang sangat ramah,” terang Pak Renal sembari duduk
dibangku yang sudah di sediakan.
“Wah, syukur kalau begitu. Tapi, sebenarnya saya sangat terkejut
bahwa yang datang ternyata masih sangat muda. Saya kira tadi yang
akan datang sudah berumur umurnya,” jelas Pak Herman mencairkan
suasana.
“Hahaha, Pak Herman bisa saja.”
Di sisi lain, Namboli dan teman-temannya sedang beristirahat
setelah acara sambutan tadi sambil membahas tentang hal yang sama
yaitu tamu yang mereka bayangkan sudah tua ternyata masih sangat
muda. Setelah di rasa cukup untuk istirahat, mereka semua memutuskan
untuk kembali ke rumah masing-masing.
***
Pagi ini, Pak Renal sedang duduk di teras tempatnya menginap,
ia tidak sengaja melihat seorang gadis yang sedang berjalan sendirian
sambil melihat-lihat sekitar.
“Permisi.” panggil Pak Renal sembari menghampiri gadis itu.
Gadis yang merasa terpanggil pun langsung menololeh.
“Iya, ada apa ya, Pak?’
“Sebelumnya maaf kalau saya lancang. Jadi, saya kan lagi
senggang dan sepertinya kamu juga sedang jalan-jalan saja. Apa boleh
saya minta temani keliling kampung ini sambil menceritakan kebiasaan
penduduk disini?”
23
"Boleh banget, Pak!" seru gadis itu. Pada dasarnya, gadis tersebut
memang sangat menyukai kebiasaan penduduk Kampung Cerekang,
terlebih yang berhubungan dengan budaya dan tradisi-tradisi adatnya.
“Syukurlah, omong-omong panggil saya ‘Kak’ saja, jangan ‘Pak’
soalnya terdengar terlalu tua, hehe. Oh iya, sampai lupa, nama mu
siapa? saya Renal,” terang Pak Renal sambil menjulurkan tangan.
"Iya kak, saya Namboli,” jawab Namboli sambil menjabat tangan
Pak Renal.
"Oh, Namboli. Yasudah, yuk kita ngobrol-ngobrolnya sambil
jalan saja”
Setelahnya, mereka bejalan-jalan keliling kampung dengan Pak
Renal yang juga turut menyapa penduduk disini ditemani dengan
Namboli yang bercerita penduduk disini. Namun, saat di pertengahan
jalan mereka melihat Tongkonan yang dipenuhi banyak orang dengan
hanya mengenakan sarung. Pak Renal yang memang pendatang, sangat
asing dengan apa yang dilihatnya.
“Ada apa itu, Namboli?” tanya Pak Renal.
“Itu ada yang meninggal, Kak.”
“Tapi, kenapa mereka menggunakan pakaian seperti itu?”
“Itu memang tradisi disini. Salah satunya kalau mereka sedang
berduka. Mereka punya tradisi hanya mengenakan sarung hitam tanpa
pakai baju selama 40 hari. Selama itu pula orang Suku Kajang tidak
diperbolehkan untuk mandi, apalagi mengganti sarung yang
dikenakannya tersebut. Kata warga setempat, tradisi itu disebut
Ikkarambi atau melilitkan sarung pada badan dan diikat pada dada
sewaktu berada di dalam rumah. Pada saat keluar rumah, mereka akan
melakukan tradisi A’bohong, yaitu sarung dililit hingga bagian kepala
seperti orang memakai tudung. Masyarakat Suku Kajang memang
dikenal sangat memegang teguh tradisi adat mereka. Terdapat sejumlah
larangan yang pantang untuk dilanggar oleh keluarga yang meninggal,
salah satunya yaitu tidak boleh membawa cabai ke dalam rumah, sebab
diyakini memakan cabai di dalam rumah akan membuat orang yang
meninggal “kepanasan” di alam kubur. Duh, sedikit capek aku
jelasinnya, Kak.” terang Namboli seraya menghela nafas panjangnya.
24
“Oh jadi begitu ya, Namboli. Maaf ya, saya malah jadi bikin
kamu repot. Yasudah, kita beli minum dulu saja,” ajak Pak Renal.
Setelah membeli minum, mereka kembali melanjutkan
perjalanan. Tetapi, di perjalanan, Pak Renal kembali dibuat bingumg
oleh beberapa orang yang sedang menyembah pohon pisang.
“Kalau itu, mereka menyembah pohon pisang?”
25
“Nah, kalau yang itu, jadi ada satu tradisi yang masih dijalankan
hingga kini. Yakni pantangan memakan pisang kepok. Pisang yang
sering dibuat kuliner seperti pisang goreng atau kolak manis. Dalam
bahasa daerah di sini, pisang kepok disebut juga sebagai Loka
Manurung. Jenis pisang yang dianggap suci. Tidak untuk dikonsumsi.
Karena dulu katanya asal-usul masyarakat Cerekang berasal dari tanah
liat berbentuk manusia yang ditempeli Loka Manurung, kemudian
menyatu, dan diberikan nyawa serta roh. Sehingga para keturunan
Cerekang percaya bahwa mengonsumsi Loka Manurung sama saja
dengan tindakan kanibalisme. Sebagian masyarakat di sini juga percaya
bahwa Loka Manurung sejenis buah khuldi yang disebutkan dalam
Alquran. Jadi begitu, alasan mengapa banyak yang menyembah pohon
pisang, Kak.”
“Lalu, apa yang akan terjadi sama orang-orang yang
memakannya karena tidak percaya dengan mitos itu?” tanya Pak Renal.
“Mengonsumsi buah tersebut diyakini akan membawa dampak
buruk. Tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi anak nantinya.
Seperti perut bengkak dan berbagai keluhan diagnostik yang tidak bisa
dideteksi dari segi medis dan hanya dapat diobati dengan Loka
Manurung itu sendiri, Kak.”
“Oh begitu, yasudah kalau begitu. Terima kasih sudah menemani
saya berkeliling dan menceritakan tradisi disini. Kalau begitu saya
masuk dulu,” jelas Pak Renal setelah mereka sudah sampai kembali di
tempat penginapan.
"Iya, Kak. Sama-sama,” ujar Namboli.
Setelah dua minggu sejak Namboli bertemu dengan Pak Renal,
dia sudah tidak pernah melihat Pak Renal keluar dari penginapannya.
Entah apa yang terjadi dengan pak Renal sehingga membuatnya tak
pernah terlihat lagi.
“Kasian sih ya, Kak. Tapi gimana lagi, kan dia sendiri yang
mencari masalah,” ucap ibu yang baru pulang dari kebun bersama Kak
Mangge.
“Ya begitulah, akibat kalau tidak menghargai budaya orang lain.”
“Ada apa ini, Kak Mangge, ibu? Kalian sedang menceritakan
siapa?” tanya Namboli tidak mengerti.
26
“Itu, tamu kemarin yang dari kota ternyata di asingkan ditambah
perutnya membengkak. Awalnya Pak Herman membawa kerumah sakit
untuk diperiksa namun tidak terdeteksi. Saat ditanya dia ada makan apa,
ternyata dia tidak percaya kalau disini tidak boleh memakan pisang
kepok. Jadi, seperti itu.” terang sang ibu. Baru saja Namboli
memikirkan kemana Pak Renal, ia dikejutkan dengan berita yang
ternyata dua minggu ini Pak Renal hilang karena sesuatu yang sudah
sejak awal ia ceritakan bahwa pantang untuk memakan pisang.
27
Mengenal Budaya
Muhammad Rasyad Muttafaqqih
Di suatu pagi yang cerah, kicauan burung membangunkan dua
sosok pemuda yang masih terlelap. Salah satu pemuda bernama Zaki
itu bangun dengan nyawa yang belum terkumpul, sambil menggaruk-
garuk rambutnya yang berantakan. Kemudian ia menoleh, mendapati
pemuda yang masih tertidur lelap di sampingnya. Ia membangunkan
pemuda itu yang bernama Anton. Anton bangun dari tidurnya. Lalu
mereka berdua bergegas keluar kamar untuk mandi dan sarapan.
Setelah itu Zaki dan Anton bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, mereka berdua membicarakan tentang budaya
Indonesia, sebagaimana materi pelajaran yang akan dibahas hari ini.
Guru memberikan tugas, untuk mencatat budaya yang ada di
Indonesia. Tetapi, budaya yang sudah dicatat oleh seorang murid, tidak
boleh dicatat Kembali oleh murid lain. Zaki bersemangat ingin
mengetahui budaya-budaya lainnya, salah satunya budaya daerah
Sulawesi. Dan salah satu perhatiannya tertuju pada rumah adat
tradisional Sulawesi, rumah adat Bugis. Di sisi lain, Anton penasaran
dengan tarian Daerah Sulawesi, yaitu tari Kipas Pakkarena.
Lalu Anton dan Zaki bersepakat untuk bersama-sama menjelajah
budaya Sulawesi lebih lanjut, dan bertemulah mereka dengan lagu
Daerah Sulawesi yaitu lagu Ati Raja. Mereka berebut untuk mencatat
lagu khas daerah Sulawesi itu. Suasana seketika ricuh akibat gaduh
yang ditimbulkan mereka berdua. Sampai-sampai guru dan ketua kelas
pun turun tangan. Sedangkan murid lainnya sibuk menyoraki kedua
pihak yang tengah bertengkar. Pada akhirnya, Anton mengalah dan
mempersilahkan Zaki untuk mencatat lagu Ati Raja di bukunya. Anton
sedikit kecewa dan kesal karena tidak berhasil berebut catatan tentang
lagu Ati Raja. Meski begitu, ia tidak bisa terus-terusan murung.
28
Sesampainya di rumah, Anton membuka ponsel pintar miliknya.
Ia asyik berselancar di internet, menggali informasi tentang budaya-
budaya Sulawesi. Ia menemukan sebuah lagu yang unik. “Marendeng
Marampa” judulnya. Lagu ini menceritakan keindahan tanah asal dan
sekaligus tentang budaya merantau ke negeri orang yang banyak
dilakukan orang-orang Toraja. Alunan nada yang nyaman didengar,
membuat Anton semakin terpikat pada lagu ini. Anton senang, karena
telah menemukan lagu daerah Sulawesi yang bagus. Ia semakin
antusias mempersiapkan presentasinya besok. Anton menyudahi
penjelajahannya di internet, dan bersiap untuk tidur. Malam yang
menyenangkan baginya, dan ia terlelap diselimuti kebahagiaan.
29
Pada keesokan harinya, murid-murid wajib mempersentasikan
catatan tentang budaya yang telah mereka kumpulkan. Zaki berinisiatif
menjadi orang pertama yang mempresentasikan hasil kerjanya. Dengan
percaya diri, Zaki membacakan hasil catatannya. Namun sayang seribu
sayang, ia salah mencatat salah satu budaya yaitu pada budaya tari. Ia
mencatat jika tari Gambyong adalah tarian dari Sulawesi. Kelas
menjadi berisik, karena murid-murid lain menertawakan kesalahan itu.
Selanjutnya adalah bagian Anton untuk presentasi. Ia merasa gugup,
namun juga antusias. Anton maju dengan langkah yang getar.
Pada saat ia presentasi, teman-teman juga guru mendengarkan
presentasinya, tidak sedikit yang berdecak kagum. Lalu teman-
temannya memberikan tepuk tangan di akhir presentasi. Anton
memberikan kejutan di akhir presentasinya, ia menyanyikan lagu
“Marendeng Marampa” yang sangat ia sukai. Teman-temannya
semakin kagum, dan lagi-lagi tepuk tangan memeriahkan seisi kelas.
Anton sangat bahagia jika presentasinya itu diapresiasi oleh teman-
teman dan gurunya.
30
Makanan Tradisional Khas Sulawesi
Asyraf Trinanda
Ada seorang remaja bernama Beni. Beni mempunyai ayah dan ibu
yang berasal dari Sulawesi. Beni adalah orang yang mempunyai rasa
ingin tau yang sangat tinggi tentang budaya Indonesia terutama budaya
Sulawesi, maka dari itu beni memutuskan untuk mengadakan penelitian
kecil-kecilan terhadap temannya. Beni ingin mewawancarai temannya
yang bernama Adnan. Adnan memiliki sikap yang kurang sopan terhadap
teman-temannya. pas sekali Adnan pun keturunan asli Sulawesi selatan.
Namun, ketika Adnan ingin diwawancara, Adnan menolaknya dan
berkata,
“Apasih penelitianmu itu tidak berguna tahu, lebih baik kau pergi
saja sana.” Beni pun pergi dan merasa kecewa kepada Adnan, namun
Beni masih belum menyerah dan masih ingin melakukan penelitiannya.
Beni langsung mencari temannya yang berasal dari Sulawesi, Beni pun
berhasil mendapatkan tiga orang yang diwawancarai. Setelah
mewawancarai, Beni pulang ke rumah dan bertanya kepada orang tuanya
seputar makanan khas Sulawesi. Keesokan harinya, karena sedang libur
seminggu, Beni dan orang tuanya memutuskan untuk pergi ke Sulawesi
untuk bertemu dengan keluarga besar orang tuanya.
Setelah mendengar info tersebut beni pun langsung bergegas
merapihi barang bawaannya, dan lekas berangkat ke bandara keesokan
harinya. Setelah sampai di bandara, Beni hampir tertinggal pesawat,
“Hampir saja tertinggal pesawat.” ujar Beni. Beni segera menaiki
pesawat. Setelah sampai di Sulawesi Selatan lebih tepatnya lagi di
Makassar, Beni langsung berangkat ke hotel diantar oleh tantenya.
Sesampainya di hotel, dia menaruh barang-barang dan bergegas pergi
mencari makanan khas Sulawesi Selatan, lalu tantenya membawanya ke
sebuah restoran khas Sulawesi Selatan, disana Beni memesan es pisang
ijo.
Es pisang ijo terbuat dari pisang kukus yang kemudian dibalut kulit
dadar hijau, disajikan bersama dengan kuah kental yang berasal dari
olahan santan. Untuk melengkapinya, es pisang ijo diberi topping sirup
berwarna untuk menambah kenikmatannya. Beni juga memesan sup
konro. Sup ini biasanya dibuat dengan bahan iga sapi atau daging sapi.
Masakan berkuah warna coklat kehitaman ini biasa dimakan dengan
burasa dan ketupat yang dipotong-potong terlebih dahulu. Setelah itu
31
Beni mampir ke rumah kakak dari ayahnya Beni. Di sana dia disediakan
dessert khas Makassar yaitu kue srikaya, yang terbuat dari santan, gula,
dan telur. Memiliki tampilan berwarna hijau dengan aroma pandan yang
wangi. Kue srikaya memiliki tekstur yang lebih lembut dan manis
dibandingkan kue pada umumnya.
32
Selesai menyantap makanan-makanan itu, Beni pun pulang ke
hotel. Keesokan harinya Beni pergi mencari makan, setelah sampai di
tempat makannya beni memesan bebek palekkok. Bebek palekkok yang
dimasak dengan bumbu menyerupai bumbu rica-rica yaitu, bumbu dasar
yang terdiri dari bawang merah, bawang putih dan cabai. Cara
memasaknya pun cukup mudah. Bumbu yang sudah dihaluskan ditumis.
Setelah masak baru dimasukkan bebek yang sudah direbus ke dalamnya.
Setelah puas makan, Beni silaturahmi ke rumah adek dari ibunya
Beni, dan sepulangnya ia dari bersilaturahmi, Beni kembali ke hotel.
Keesokan harinya Beni berinisiatif mencari oleh-oleh khas Makkasar
untuk dibawa pulang. Sesampainya Beni sampai di toko oleh-oleh, Beni
membeli kue gambung, kue baruasa, juga kripik pisang ijo. Karena lapar
yang menghampiri, Beni mencari makan siang yaitu Coto Makassar atau
Coto Mangkasara. Itu adalah makanan tradisional Suku Makassar,
Sulawesi Selatan. Makanan ini terbuat dari jeroan sapi yang direbus
dalam waktu yang lama. Rebusan jeroan bercampur daging sapi ini
kemudian diiris-iris lalu dibumbui dengan bumbu yang diracik secara
khusus. Setelah itu, Beni berpamitan kerumah saudara-saudaranya untuk
pulang. Esok harinya Beni pun pergi ke bandara untuk pulang.
33
Ide Cemerlang
Vyrlita Alya Nadin
Pagi hari yang cerah, matahari terbit menyinari kamar tidur milik
lelaki bertubuh jangkung lewat celah jendela kamar, lelaki tampan
berambut lurus itu bernama Dega Alkarem. Dega segera sigap berdiri dari
ranjang kasur miliknya setelah mendengar bunyi jam alarm dan
melakukan rutinitas pagi hari yang biasa ia lakukan, sambil melewati
ruang keluarga untuk menuju ke ruang makan, sang bunda berbicara di
suara kejauhan dengan lantang “Dega sayang, bunda sudah siapkan coto
makassar yang kamu suka di meja makan ya!” dengan senang hati Dega
menjawab “Wah makasih Bun, sudah buatin makanan kesukaan Dega!”
Dega langsung bergegas menyantap sarapan coto Makassar kesukaannya
dengan lahap.
Di tengah keasikkan Dega menyantap makanan khas asal
daerahnya tiba-tiba saja Dega berfikir untuk mengenalkan budaya daerah
miliknya kepada turis-turis, tetapi ia baru ingat bahwa Dega tidak bisa
memasak dan butuh banyak dana untuk melakukan semua hal itu. Lalu,
Dega dengan gesit menyelesaikan makannya untuk berpindah ke ruang
belajar dan membuka laptop untuk menyusun ide-ide.
Dega menaruh sebuah pesan, berniat dikirim untuk sahabat
kecilnya yang bernama Zanna Telasha, ia merupakan gadis mungil
berambut pendek putih. Isi pesannya bertuliskan 'Zanna saya baru saja
dapat ide untuk ngenalin budaya makanan kita ke turis, gimana
menurutmu apakah itu bagus?'
Tidak lama kemudian Zanna membaca pesan milik Dega, tanpa
berfikir panjang Zanna langsung menelfon Dega dengan nada bicara yang
heran.
“Kamu serius mau lakuin itu, Ga?” Dega membalas bersemangat.
“Iya Na, pastinya bakal seru deh!” Zanna menggeleng-gelengkan
kepala karena pikiran Dega benar-benar aneh setiap harinya.
34
“Yasudah, itu terserah kamu saya gamau ikutan, Ga. Pasti lelah
banget, belum lagi tugas sekolah yang menumpuk.” Terdengar hembusan
nafas Dega yang kecewa dari sebrang telepon.
“Tapi saya mau lakuin itu Zanna! Bantuin saya, saya mohon, Na.”
35
Akhirnya Zanna berdiam sejenak memikirkan cara dan ide yang
tepat. Setelah lamanya berfikir, Zanna kembali bersuara. “Ga, kamu kan
enggak bisa masak, gimana kalau beralih ke tarian daerah, masalah dana
nya kamu bisa bicara sama komite sekolah untuk mengadakan program
ini. Siapa tahu ingin membantu.” Dega mengangguk setuju dengan apa
yang dikatakan Zanna.
Jarum jam menunjukan pukul 06.30 pagi, Dega sudah siap dengan
atribut perlengkapan sekolah yang ingin dibawa, ia menuruni anak tangga
satu persatu dengan hati-hati dan tidak lupa berpamitan dengan sang
bunda, lalu mengambil kunci motor di gantungan kunci yang terletak
dekat ruang keluarga. Segera Dega menyalakan mesin motor antik
kesayangannya itu lalu pergi menuju sekolah.
Bel istirahat sekolah berbunyi.
“Dega Alkarem!” teriak Zanna lantang di koridor sekolah. Dega
sangat mengenali suara yang baru saja memanggilnya, lantas Dega
memutar badan dan benar saja, pemilik suara itu merupakan gadis mungil,
yaitu sahabatnya. Zanna langsung menghampiri keberadaan Dega yang
tidak jauh dari posisinya berada.
“Gimana? sudah bilang belum ke kepsek?” Tentu saja Dega tidak
akan lupa dengan rencana yang dibuatnya itu.
“Barusan aja saya mau samper ke kelas kamu! ternyata ketemu.
Yasudah, ayo bantuin saya bilang ke kepsek” Dega terlihat memohon
kepada Zanna.
"Enggak dulu deh, Ga, males banget ngurusin gituan ga penting!"
Zanna mengutarakan perasaannya, tanpa berfikir panjang Dega menarik
tangan Zanna menariknya ke ruang kepala sekolah.
Zanna masih mengoceh dengan ocehan suara cempreng nya itu
sepanjang Dega menyeret tangannya.
36
"Sst! Bantu saya Zanna please! Yakin sama saya pasti kalo
diadakan program ini bakalan asik dan seru!" Dega berusaha meyakinkan
Zanna.
"Emang enggak seru!" jawab Zanna yakin percaya diri. Dega tidak
peduli dengan ocehan yang Zanna buat. Langsung saja Dega memasuki
ruang kepala sekolah bersama Zanna yang masih ia genggam tangannya.
***
“Permisi, Pak,” Dega dan Zanna sedikit membungkukkan badan
memasuki ruang kepala sekolah.
“Silahkan duduk. Ada apa kalian?” kepala sekolah yang bernama
Pak Dipta dengan tegas mempersilahkan masuk kedua anak itu, kedua
sahabat ini duduk di depan sofa tempat kepala sekolah duduk, setelah
cukup lama untuk berbasa-basi mereka pun menjelaskan tentang program
yang ingin diadakan.
“Begini, Pak, saya ingin menyampaikan pendapat saya tentang
sekolah, bagaimana jika dilakukannya program dengan pengenalan tarian
daerah terutama daerah kita yaitu Sulawesi, karena dengan itu kita bisa
mencegah hilangnya budaya yang ada namun untuk dananya saya belum
tahu, Pak.” Dega menjelaskan secara rinci tanpa ada salah kata dan
kalimat sedikit pun.
Zanna yang mendengar penjelasan Dega langsung menimpali,
“Menurut saya kita bisa cari penari tari dari eskul kita serta untuk dananya
kita bisa melalui sumbangan orang yang menyumbangkan dengan
seikhlasnya, mengadakan festival budaya kita di sekolah dan dibuka
untuk umum terutama turis-turis, Pak! Sebelum acara dimulai kita
membuat brosur untuk dibagikan kepada warga sekitar,” Zanna
menghembuskan nafas lega setelah mengeluarkan kata-kata yang dia
pikirkan di benaknya.
37
Pak Dipta menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak menyangka
mempunyai murid yang berambisi tinggi mengenai tradisi dan budaya
suku bangsa teruma daerahnya sendiri.
“Bapak kagum sama kalian, Nak! Sudah bisa memikirkan hal
seperti ini. Baiklah, bapak setuju, ayo kita lakukan,” mendengar yang Pak
Dipta ucapkan, Dega sangat lega dan senang bisa melihat ekspresi wajah
bangga yang ditunjukkan Pak Dipta.
Keesokan harinya, salah satu guru mengumumkan kepada seluruh
siswa dan siswi tentang susunan acara pameran festival budaya yang akan
diadakan di sekolah lewat mikrofon front office, guru tersebut bernama
Bu Ghea.
“Assalamualaikum anak anak semuanya, izin menyampaikan
perihal event yang akan kita adakan di sekolah kita SMA Negeri Pelita
Bangsa yaitu, festival budaya tarian daerah kita Sulawesi, yang akan
dilaksanakan di hari Sabtu dan event ini terbuka untuk umum jadi bagi
kalian yang ingin membawa teman atau orang tua kami perbolehkan
karena acara ini umum. Sekian informasi yang dapat Ibu sampaikan jika
ada yang ingin di tanyakan, silahkan menghampiri Ibu untuk bertanya
langsung. Wassalamualaikum,” Bu Ghea menjelaskan secara rinci terkait
dengan acara festival budaya sekolah.
Para siswa dan siswi yang mendengar pengumuman itu langsung
ricuh, suasana tak lagi tenang setelah pengumuman itu berlangsung. Salah
satu anak murid mengatakan kepada teman-temannya.
“Oh, pantesan pas itu kakak kelas meminta uang sumbangan,
ternyata buat acara ini!” seluruh murid yang mendengar pengumuman itu
langsung menebak-nebak dan menjadi bahan perbincangan mereka.
Tentu saja ketika Bu Ghea mengumumkan hal tersebut, Dega
mendengar seraya berjalan menuju kelas Zanna berada, jarak antara kelas
Dega dan Zanna cukup jauh karena kelas Dega terletak di lantai 2
sedangkan kelas Zanna berada di lantai 3. Dega melangkah sambil
menyesuaikan isi hati riangnya dengan langkah kakinya, dia sangat
38
senang karena ide yang dia buat berguna bagi sekolah dan berharap agar
sekolah SMA Negeri Pelita Bangsa menjadi sekolah negeri terbaik di kota
nya.
Terlihat Zanna sedang tertidur di meja miliknya, terlihat sangat
pulas sehingga Dega tidak tega untuk membangunkan gadis itu dari alam
bawah sadarnya.
“Ey, Na!” suara Dega memanggil nama Zanna seraya menepuk
pelan pundak milik gadis itu dan duduk dibangku sebelah Zanna, berniat
membangunkan Zanna.
“Eummm-apasi-diem-ngantuk banget ini," balas Zanna tersadar
menyaut Dega dengan suara kantuknya yang terbata-bata. Selama Dega
bertahun-tahun menjadi sahabat Zanna tentu saja Dega mempunyai jurus
jitu yang bisa membangunkan Zanna dari tidurnya. Dega merogoh saku
kantong celana miliknya mengambil jajanan yang ia beli di kantin dan
menaruh makanan di depan muka Zanna yang tertidur miring melipatkan
tangannya untuk bantal tidur kepalanya. Zanna tersadar mencium aroma
makanan yang tidak asing dan langsung cepat Zanna memejamkan mata
mengambil jajanan dengan gerakan tangan kilat, Dega hanya bisa tertawa
melihat tingkah sahabatnya karena memang makanan yang hanya bisa
menyadarkan Zanna dari masalah atau apapun itu.
“Apa? by the way makasih ya, Ga, untuk jajanannya, hehe!”
terlihat senyum manis sangat ceria terukir nan indah di bibir gadis itu.
“Kalo tentang makanan aja langsung cepet.” Dega menggeleng-
gelengkan kepalanya dia tidak heran lagi dengan itu karena memang Dega
sudah biasa menghadapi Zanna yang hobinya tidur, Zanna hanya bisa
tersenyum malu seraya memakan makanan jajanan yang Dega kasih.
Dega melanjutkan percakapan yang memang ia sempat niatkan
berbincang dengan Zanna.
"Denger enggak Na tadi sudah di umumkan oleh Bu Ghea tentang
festival budaya nya! Akhirnya lega banget saya, semoga sekolah kita jadi
39
SMA favorit deh." Zanna terlihat ikut senang melihat respon Dega yang
sangat bersemangat melakukan hal yang menurutnya jarang anak muda
untuk mau melakukannya.
“Wah, selamat yaa, Ga! Ikut seneng saya dengernya, memangnya
kapan event nya?” Zanna bertanya karena memang ketika pengumuman
itu berlangsung Zanna sedang tertidur tenang di kelas yang yang cukup
berisik siswa dan siswi berbincang.
“Besok hari Sabtu, cepet kan! Kamu dateng ya, temenin saya dan
kamu harus jadi panitia juga!” Dega terlihat sangat amat bersemangat
dengan acara yang ia buat, karena semua peralatan dan bahan-bahan
sudah ia siapkan dari mulai tari ia sudah berbicara kepada para
ekstrakurilkuler tari dan mereka menyetujuinya, Dega pun sudah
mengumpulkan duit sumbangan dari tiap kelas bersama para teman-
temannya yang Dega ajak untuk ikut berpatisipasi dalam kegiatan itu.
Satu hal yang menurut Dega sulit adalah ketika mencari panitia karena
kebanyakan anak murid yang mempunyai gengsi tinggi untuk malakukan
itu sehingga sulit membentuk panitia acara festival budaya tarian.
“Na, jadi panitia acara yu! Bantuin saya,” Dega mengajak Zanna
untuk ikut bergabung berpatisipasi menjadi panitia acara
"Saya malu, Ga, enggak dulu deh saya juga tidak minat,
keliatannya kurang menarik saja gitu dari sudut pandang saya," Sanggah
Zanna terlihat tidak ingin di ganggu gugat.
Dega amat mengetahui sifat Zanna yang pintar hanya saja tertutup
rasa malasnya.
"Kamu itu gengsi nya tinggi banget, belum juga lihat kayak gimana
event nya sudah bilang gak seru saja. Makanya dateng dulu, nanti kamu
lihat seseru apa acara ini!” jawab Dega dengan nada kesal kepada Zanna.
Pukul 01.00 siang, Dega ditugaskan oleh guru untuk membagikan
brosur festival budaya bersama panitia lainnya yang terpilih. Mereka
berpencar sesuai tempat yang sudah di diskusikan, panas matahari yang
40
terik mengembarakan semangat Dega membagikan brosur itu. Beberapa
panitia sudah sampai di tempat tujuan yang sudah ditentukan untuk
membagikan brosur. Salah satu targetnya adalah kepada para turis, Dega
berkesempatan berada di tempat wisata yang cukup sering dikunjungi
oleh para turis lokal maupun turis asing yaitu Pulau Samalona,
keindahannya mampu menghipnotis para wisatawan yang datang
berkunjung.
Dega dan tiga orang panitia lainnya membagikan sambil sedikit
menjelaskan bagaimana event dan kapan acara itu dilakukan, raut wajah
yang ditunjukkan oleh para pengunjung disana terlihat beragam ada yang
terlihat sangat amat penasaran dan juga tidak manarik. Selama beberapa
jam mereka sibuk membagikan brosur, akhirnya mereka beristirahat dan
membeli makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Setelah
semua selesai melakukan tugas nya, mereka pulang ke rumah sebelum
menjelang maghrib.
Dega sudah terlentang berbaring di atas ranjang kasur miliknya, ia
tidak bisa tertidur karena ia memikirkan acara festival yang betapa akan
serunya. Dega berdoa dan memohon agar acara yang besok ia pimpin
semua berjalan lancar sesuai keinginan yang Dega harapkan.
***
Hari Sabtu pun tiba, diiringi dengan matahari terbit yang bersinar
cerah seperti sudah terencakan. Dega sudah tampil bersiap memakai baju
batik karena acara event ini bertepatan dengan hari batik nasional yaitu
tanggal 2 Oktober. Dega terpilih sebagai ketua acara untuk memimpin
berlangsungnya selama Acara tersebut dimulai, para ekstrakurikuler tari
sudah berpakaian sesuai dengan konsep baju tari yang akan mereka
ragakan. Para tamu sudah mulai berdatangan di bersilahkan oleh panitia
untuk duduk di kursi depan panggung yang sudah disediakan.
Dega terlihat sangat sibuk berjalan kesana-kemari untuk mengecek
keadaan acara itu. "Hey, Ga!" Zanna memanggil seraya menempuk bahu
punggung Dega,
41
"Katanya enggak mau dateng? Males?" Dega meledek Zanna yang
tingkahnya tidak jelas.
"Ini saya dateng untuk menghilangkan rasa penasaran saya saja,
lagian juga memang males kok!" Zanna dengan nada mengelak.
"Terserah kamu, yaudah ayo saya temenin ke bangku depan
panggung!" ajak Dega.
Acara itupun dimulai para penari menarikan tarian daerah
Sulawesi. Ada yang menarikan Tari Pakkarena, Tari Ma'badong, Tari
Pattenung dan masih banyak lainnya. Tidak hanya ada pentas tari daerah
saja tetapi tersedia pameran properti tari yang berada di setiap stand tenda
yang berbeda tiap jenis tari.
“Keren banget, Ga!”
“Itu Tari Pakkarena, yakan?”
“Properti baju nya lucu banget!”
“Ih saya mau yang jadi nari deh pasti bakal seru!” Semua ocehan
itu keluar dari mulut Zanna yang terlihat sangat antusias dan takjub
melihat ketika beberapa penari melakukan gerakannya langkah demi
langkah yang sangat hati-hati.
Dega menunjukan eye-smile nya, mata Dega seakan ikut
tersenyum melengkung seperti bentuk bulan sabit, Zanna yang menyadari
akan hal itu tersenyum malu karena ingat betapa percaya dirinya dia
ketika bicara bahwa acara ini tidak akan seru dan akan sangat
membosankan.
Para tamu yang datang terlihat girang dan ceria ketika menyaksikan
pertunjukkan selama acara berlangsung, Dega menghembuskan nafas
lega karena acara yang ia pimpin berjalan lancar sesuai rencananya.
***
Acara selesai, semua tamu bergiliran keluar melalui pintu exit yang
sudah disediakan. Kini acara festival budaya yang Dega impikan untuk
42
dilaksanakan sudah terwujud, acara ini benar-benar sudah selesai para
panitia berkumpul saling memuji satu sama lain
"Terima kasih atas kerjasamanya!" Semua panitia termasuk Dega
saling mengucapkan kalimat itu berulang kali. Akhirnya mereka bisa
istirahat tanpa ada rasa yang membebankannya lagi.
Dega berjalan menghampiri Zanna yang terlihat masih asik
melihat-lihat properti di stand tenda,
"Gimana? Seru kan?" kata dega dengan nada meledek, Zanna lagi-
lagi hanya bisa tersipu malu.
"Makanya, percaya sama saya!" seru Dega seraya menepuk-nepuk
pundak milik Zanna.
"Iya, Ga, ternyata seseru itu nyesel banget saya menolak jadi
panitia, kali ini saya mau belajar dari kamu untuk mengurangi gengsi saya
yang tinggi," ucap Zanna dengan menyesal.
"Iya gapapa, masih banyak lain waktu, nanti bisa ikut lagi kan,"
Dega membantu menyemangatkan Zanna.
Kesadaran dan kedisiplinan datang dari diri kita sendiri. Kesadaran
ini harus diseimbangkan dengan kedisiplinan karena sangat
dibutuhkannya bagi kepentingan semua orang. Jika kita bersatu dan
berusaha untuk dapat mengembangkan budaya daerah, dengan cara
menari tarian daerah untuk melestarikan budaya lokal, tidak menutup
kemungkinan untuk seluruh masyarakat Indonesia dapat
mengembangkan budaya daerahnya dan lebih peka terhadap lingkungan
yang seharusnya ditanamkan pada diri kita semua.
43
TENTANG PENULIS
Perkenalkan nama saya Leonita Rahima Amanda.
Saya lahir di Cilegon, Banten pada 7 Agustus 2007.
Hobi saya yaitu bermain alat musik, dan menggambar.
Motto hidup saya adalah "Usaha adalah yang
terpenting. Tidak semua orang sama, maka jangan
membandingkan diri sendiri dengan orang lain." Bila
ingin mengenal lebih dekat, silahkan berkunjung ke
alamat email saya [email protected] atau
akun Instagram saya @leo_78.am
Nama saya Aji Nugroho Nursantoso. Saya lahir di
Tangerang, 26 Januari 2008. Hobi saya adalah
membaca buku. Saya memiliki motto hidup yaitu
"Tersenyumlah pada dunia, maka dunia akan
tersenyum padamu." Jika ingin mengenal lebih dekat,
silakan berkunjung ke akun Instagram saya @rezyn_ryl
Perkenalkan nama saya Akbar Ashidiqi. Saya lahir di
Cilegon, pada 23 September 2008. Hobi saya adalah
bermain basket. Motto hidup saya yaitu “The more you
bleed in training the less you sweat in combat.” Jika
ingin mengenal lebih dekat, silahkan kunjungi akun
Instagram saya @akbar_ashidiqi
Perkenalkan nama saya Asyraf Trinanda. Saya
lahir di Tangerang, pada 23 Juli 2008. Hobi saya
adalah menonton sebuah film. Motto hidup saya
yaitu”Apa yang terjadi di masa lalu dan masa
depan, hanyalah sebuah masalah kecil.” Jika ingin
mengenal lebih dekat, silahkan kunjungi akun
Instagram saya @acaptrinanda
44
Perkenalkan nama saya Vyrlita Alya Nadin. Saya
lahir di Cilegon, Banten tanggal 15 Maret 2008.
Hobi saya nonton netflix dan dengerin lagu. Motto
hidup saya "Jadilah orang yang berguna untuk
diri sendiri dan orang lain." Jika ingin mengenal
lebih dekat, silahkan berkunjung ke akun
Instagram saya @vyralnad
Perkenalkan nama saya Hilmy Aryasatya Mubarak.
Saya lahir di Banjarnegara, pada 30 September 2008.
Hobi saya adalah bermain sepak bola/futsal. Motto
hidup saya yaitu “Nikmati proses dan setiap perubahan
yang terjadi di dalam hidup.” Jika ingin mengenal lebih
dekat, silahkan kunjungi akun Instagram saya
@hiillmyyyy
Hai! Saya Kayla Fathisa Humaira, biasa dipanggil
Key. Saya lahir di Serang, Banten pada 16 September
2008. Hobi saya yaitu mendengarkan musik dan
menonton film. Motto hidup saya adalah “Lakukanlah
sesuatu hari ini agar dirimu di masa depan berterima
kasih”. Jika ingin mengenal lebih dekat, boleh follow
Instagram saya @kylhmra
Perkenalkan nama saya Muhammad Rasyad
Muttafaqqih. Saya lahir pada tanggal 1 Agustus
2008, tempat lahir saya Kota Cilegon. Alamat saya
JL. Fatahilah Link. Tegal Cabe Taman Baru,
Kecamatan Citangkil. Hobi saya adalah bermain
futsal atau game. Motto hidup saya yaitu “Jangan
biarkan perkataan orang lain mengatur hidup mu”.
Jika ingin mengenal lebih dekat, silahkan berkunjung
ke akun Instragam saya yaitu @rasyad102
45