Last Person Bagi seorang Giovani atau yang biasa disapa Gio, hari ini terasa sangat panjang dan membosankan, padahal dia baru saja bertambah umur. Dini hari tadi ia merayakan bersama Giovano -saudara kembarnya entah mengapa rasanya hambar. Vano yang sudah jengah menghadapi Gio yang hanya gelundungan di rumah akhirnya membawa ke kostan Bhumi. Sedikit berharap bisa menyadarkan Gio. “Kalau kasurku berantakan ku lempar dirimu ke kolam Koi!” Oh tidak Bhumi sudah murka, sudah saatnya Vano kabur bukan? “Van! Si Gio kenapa?” Bhumi bertanya sambil memberikan tabokan cinta ke Gio yang mulai merengek.
Vano hanya bisa mengangkat bahu. Bhumi menghela napas. “Giovani!” Sebuah panggilan maut dari Bhumi, tentu saja jangan sampai bergema hingga tiga kali. “Ubhuuum, Si Mungil…hing” Terungkap sudah misteri si manusia penuh baterai ini tiba-tiba low battery. Si Mungil anak satu universitas dengan Vano yang menjadi incaran Gio selama hampir 2 semester ini, kalau dihitung sudah berapa SKS ya? Entah kenapa sulit sekali anak itu kepincut. Dimata Bhumi, Si Mungil itu anaknya banyak bicara apabila orang itu yang dekat dengannya, dekat tapi waspada. Ya bisa dibilang cukup pandai membuat boundaries.
Dimata Vano, si lucu kecil calon maestro. Cukup dekat dengannya karena satu fakultas dan cukup aktif beberapa project yang kebetulan Vano juga ikut didalamnya. Anak-anak ISI -Institut Seni Indonesia, terutama Fakultas Seni Pertunjukan menyebutnya Ucil aka Unyu Kecil. Ah liat saja, badannya yang putih, potongan rambut bixie yang habis dibleaching dan mulai memanjang, tampilannya serba hitam dengan kaos sedikit gombroh serta celana pendek. Dilengkapi sepatu running juga hitam, kalau dipikir stylenya tak berwarna macam orang akan melayat. Oh Vano lupa, anak itu suka memakan jam tangan merah hanya itu yang berwarna. Seingat Vano maupun Bhumi, Gio tertarik dengan Si Mungil, saat tak sengaja melihat Si Mungil menjadi MC di salah satu event yang diselenggarakan di ISI. Dengan
badan yang putih terkena lampu sorot saat dipanggung makin bersinarlah dia. Lalu beberapa kali Vano minta diantar Gio karena motornya sedang di bengkel, disitu pula bertemu dengan Si Mungil. Puncaknya saat Gio terluka sewaktu ikut demo masalah kenaikan Bahan Bakar, dia ditolong Si Mungil yang saat itu tak sengaja lewat. Dari situlah muncul istilah getaran geli dari mata sampai ke hati milik Gio. Beberapa kisah cinta monyet Gio berlangsung cukup manis walau akhirnya tak bersama, namun dengan Si Mungil baru memulai saja, sudah pakai lebih dari 1001 cara. Bahkan berguru dengan calon kakak iparnya saja, benteng Si Mungil masih tinggi. Seolah harapannya makin hari makin pupus.
“Yo!” mendengar suara telpon yang diloudspeasker terdengar manis nan lembut membuat Gio yang tadinya lesu mendadak semangat perang, Oho target terpancing! “Baca Whuttapku tidak?” Vano yang menelpon pun sambil melirik Gio yang senti demi senti kian mendekat. Bhumi hanya memicing sambil bergidik geli melihat gelagat kedua sahabatnya. “Baca, dih dari semua orang dirimu tok yang pake, mbok ya Lines atau BeBeM, ribet Yang!” Yang, YANG! SAYANG?! Jujur saja Vano ingin tertawa melihat mata kembarannnya yang tadinya hanya segaris mendadak membulat. Kalau boleh bilang Vano kamu tidak punya kaca? Kamu juga punya mata yang sama.
“Biar intimate, cuma aku dan kamu Beb.” Vano yang sengaja menekan kata Beb diiringi senyum mengejek, dihadiahi umpatan tak bersuara dari bibir Gio ‘intimate matamu!’ “Jadi dirimu gak bisa?” Sungguh Gio makin uringuringan, mereka mau apa sih? Duh! Katanya sahabatan tapi kok aduh! “Ah, itu. Maaf ya project milikku belum selesai. Tenggat waktunya makin tipis. Anyway, HAPPY BIRTHDAY YA SAYANG!” Sungguh Gio ingin mendribble kepala Vano, tapi mana bisa. Si Mungil bukan siapa-siapanya. Terakhir dia merasa cemburu malah ujungnya dia harus bertapa, merenungi ketidakpantasan dirinya untuk cemburu pada Si Mungil.
“Yah, batal deh makan bareng.” Ekspresi kekecewaan Vano cukup meyakinkan membuat Gio yakin kalau hubungan persahabatan Vano sangat intim. Sebenarnya Bhumi terlebih Gio bisa lihat dengan jelas kala Vano sedang akting. Sayangnya Gio yang kepalang uringuringan tidak melihat itu. Hidup anak teater, jaya jaya jaya! ⅏ Setelah kenyang makan di Burjoan Mas Iyok, mereka pulang ke rumah, lebih tepatnya diusir dari kostnya Bhumi. Siapa juga yang tidak lelah menghadapi Gio tantrum, walau hari itu hanya kuliah cuma satu mata kuliah dengan Gio yang tantrum? Wah, berasa melibas tiga mata kuliah yang masing-masing 4 SKS. Kenyang!
Vano mengeluarkan kue blackforest yang tersisa, disana tertulis ‘GIOVANINO’, ciri khas pesanan mamanya. Bisa dilihat mana yang kakak mana yang adik kan? Tapi kalau melihat kelakuannya sepertinya dunia terbalik ya bunda? Vano dan Gio sama-sama sweet tooth, untuk kali ini dia akan menikmati tanpa berebut dengan Gio. Bisa dilihat Gio masih murung pemirsa, mari kita menonton sambil makan blackforest! Yummy! Terdengar ada dua notifikasi pesan dari ponsel Gio, suaranya berbeda dari biasanya. Vano hapal notifikasi milik kembarannya itu karena setiap orang terdekat seperti mama, papa, kakak, Bhumi dan dirinya memiliki nada notifikasi yang berbeda, tapi untuk kali ini tidak. Itu siapa?
Melihat Gio bersemangat untuk memoles diri agar tidak terlihat kucel, kini Vano tau pemilik notifikasi tadi. “Van, tak pergi bentar!” Vano hanya mengangguk tanpa perlu susah payah melihat betapa gesitnya Gio. “Eh! Dirimu meh titip apa?” Oh perhatian sekali saudara kembarnya! “Gak, bawa kunci Gi! Aku mau tidur.” Mendengar itu Gio hanya mengangguk dan mengunci pintu, berlari menuju motor. Ah Vano mengerti itu siapa. ⅏ Mendapatkan dua notifikasi pesan, titik temu dan batas waktu ia harus sampai, dari seseorang yang membuat uring-uringan. Hari yang mendung tiba-tiba menjadi
cerah seperti matahari teletubies, walau sudah malam ya Gio? Bakmi Jawa Pak Pur menjadi lokasi yang ditentukan Si Mungil. Sedikit gugup ia melongok mencari sosok yang dimaksud. “Yo! Dipta!” Sapa Gio riang gembira seperti gembala! Ah iya nama asli Si Mungil, Dipta. Pradipta. “Duduk. Makan.” Melihat bakmi yang panas tersaji di depannya, tiba-tiba perutnya yang sudah makan mie nyemek rasa kari ayam khas buatan mas Iyok menjadi kosong melompong, cepat sekali tercerna. Oh! Tentu karena yang membelikan adalah orang yang paling spesial.
Sejujurnya Dipta pengalamannya nol untuk asmara. Kalau dekat macam saling menggoda dia bisa untuk melangkah lebih jauh dia belum pernah sama sekali, ia tahu Gio si kembaran sahabatnya tertarik dengannya hanya saja ia bingung bagaimana menanggapinya. Tolooong! Dipta yang sering memberi ide brilian baik kado atau kejutan kepada teman-temannya yang memiliki kekasih, ketika dirinya dihadapkan orang yang jelas menyukainya ia mendadak kosong, semua ide menguap. Walau tak romantis atau hadiahnya berkesan, sudahlah yang penting dia berusaha. Tadi ia sempat mampir ke minimarket membeli satu box soft cake yang isian marshmallow, lupa membeli lilin ia pun meminta lilin ke
pemilik kedai, lilin untuk mati lampu ah! Sudahlah yang penting ada lilin. Ia pun mengeluarkan box berserta lilin yang dinyalakan didepan orangnya langsung. Dipta pun menyanyikan lagu ulang tahun dengan suaranya yang indah, apa pula pengunjung ikut menyanyi. Malu? Sudah kepalang nyanyi, lanjutkan sajaaaaa! Oh lihatlah muka cengo dengan mulut yang masih tersumpal mie, mata sipitnya melebar dengan binar bak kerlip bintang, menatapnya penuh kejut. Dipta memberian kode kepada Gio untuk cepat meniup lilin, oh dia sudah malu… “Hehe, Thank You!” Oh lihatlah wajahnya yang penuh senyum, Dipta takut mulut itu akan robek.
Dipta menunjukan ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 23.50 “Apa harapanmu? Nanti aku coba kabulkan. Cepat tinggal 10 menit.” Mendengar itu seolah aji mumpung tentu Gio tak melawatkannya “Jadi pacarku!” Gio oh Gio tak lihat itu wajah Dipta berubah menjadi sedater talenan? “Dalam mimpimu! Yang lain.” Gio sudah menduganya. Ia tersenyum. “Dip, ini sudah dari cukup. Thank You!” Dipta merasa pipinya panas, apakah dia demam? Dipta tak munafik bila ia tertarik, bolehlah untuk melangkah menaikin satu tangga. Tak ada salahnya untuk dicoba bukan? Dipta juga tahu berapa SKS yang telah Gio lewati untuk mendapatkannya, jujur saja hanya
Gio yang terus maju pantang menyerah. Tapi Dipta juga tak ingin terlena, ia muak bak ajang piala yang harus didapatkan. Dipta melihat telapak kanannya lalu melihat Gio yang ada dihadapannya bergantian, beberapa kali Dipta dilakukan hingga Gio memberikan ekspresi ‘kenapa?’ Dengan satu tarikan napas, ia membuat tanda peace lalu dirapatkan, membawa jari telunjuk dan jari tengahnya untuk ia cium. Lalu melihat Gio, dan menempelkan kedua jarinya ke bibir Gio sambil berucap “Happy Birthday!” Gio mengerjap cepat, mencoba mencerna apa yang terjadi. Indirect kiss yang singkat membawa jantungnya melorot hingga ke tanah. Perutnya penuh kupu-kupu.
“Belum telat. Last person is me right?!” Gio melirik ponselnya yang menampilkan pukul 23.59, wah benarbenar perfect timing! “So? We are…” Dipta memalingkan muka sambil berkata “Teman. Teman tapi dekat. Lebih dari itu tergantung nanti.” Gio pun berteriak kegirangan, membuat Dipta ingin mengubur dirinya. Malu! Iya malu tapi mau. Eh? Gio tak menyangka bahwa ulang tahunnya kali ini lebih manis dari kue blackforest kesukannya. THE BEST BIRTHDAY EVER! YAHOOOOOO!