“Raden Alit bertemu dengan Raja Jin dan menceritakan maksud kedatangannya ke negeri
itu. Raja Jin itu sangat baik hati dan dan mempunyai seorang putri yang cantik jelita
bernama Salipuk Jantung Pandan. Raden Alit pun langsung jatuh hati kepadanya pada saat
pandangan per- tama. Dalam waktu singkat, mereka langsung menjalin hubungan kasih dan
berjanji akan menikah. Dengan hubung-an itu, Raden Alit pun semakin dekat dengan
keluarga Raja Jin. Raden Alit kemudian meminta pertolongan kepada RajaJin untuk
membebaskan Dayang Bulan dan Dayung Ayu”
Oleh
Yulia Afrida, S.Pd. (Guru SMPN 2 Martapura)
R aden Alit adalah putra seo-rang raja dari daerah Tan- jung Kemuning, Kabupaten
Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan.
Suatu ketika, kakak perempuannya yang bernama Dayang Bulan diculikoleh Malim
Hitam, putra Ratu Agengdari Negeri Salek Alam. MengapaMalim Hitam menculik
Dayang Bu- lan? Lalu, berhasilkah Raden Alitmenyelamatkan Dayang Bulan? Be-
rikut kisahnya dalam cerita Raden Alit.
Alkisah, di Negeri Tanjung Kemuning, Sumatera Selatan, ter- sebutlah seorang
raja bernama RatuAgeng yang menikah dengan seo-rang Dewa Kahyangan. Mereka
ting-gal di langit dan telah dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Ku- ning dan
Raden Alit, serta seorang putri bernama Dayang Bulan. Ketigaanak raja tersebut
saling meny- ayangi satu sama lain. Raden Kuningdan Raden Alit adalah orang yang
sakti mandraguna. Sejak kecil hing-ga dewasa, mereka berguru berba- gai macam
ilmu kesaktian kepada Nenek Dewi Langit.Setelah hampir dua puluh tahun menjalani
kehidu- pan di Langit, Ratu Ageng merasa rindu ingin kembali ke Bumi. Oleh karena
itu, ia bermaksud mengajakseluruh keluarganya pindah ke Bumi.
“Wahai, permaisuri dan anak- anakku! Entah kenapa, tiba-tiba Ayah merasa
rindu pada tanah ke- lahiran Ayah. Ayah ingin sekali kem-bali ke bumi dan hidup di
sana. Apa-kah kalian merasa keberatan jika Ayah mengajak kalian turut serta ke
Bumi?” tanya Ratu Ageng.
“Tentu tidak, Ayah! Aku akan ikutbersama Ayah ke Bumi. Bukankah kami
semua anak-anak Ayah belum pernah melihat tempat kelahiranAyah?” kata Raden
Alit.
“Benar, Ayah! Kami juga ikut!” sa-hut Raden Kuning dan Dayang Bulanserentak
Ratu Ageng tersenyum gembiramendengar jawaban putra-putri-nya. Ia sangat
memahami perasaanmereka karena ketiga anaknya ter- sebut dilahirkan di Langit
sehingga sejak kecil mereka tidak mengeta- hui tentang kehidupan di bumi.
“Baiklah kalau begitu! Besok pa- gi-pagi sekali kita berangkat ke Bumi,” ujar
Ratu Agung.
Keesokan harinya, berangkatlahRatu Ageng bersama keluarga sertasejumlah
pengawalnya ke Bumi. Di Bumi, mereka membangun sebuah istana yang tidak begitu
megah sebagai tempat tinggal mereka. Ratu Ageng beserta keluarga dan para
pengikutnya hidup layaknya manusia bumi pada umumnya.Selang be-berapa tahun
tinggal di Bumi, mala-petaka menimpa keluarga RatuAgeng. Putrinya Dayang Bulan
me- ninggal dunia lantaran digigit ular lidi. Kematian putrinya itu memba-wa duka
yang dalam bagi Ratu Agengdan permaisurinya. Namun, Raden Kuning dan Raden Alit
tidak dapat menerima kematian saudara pe- rempuan mereka itu. Mereka yakin
bahwa Dayang Bulan belum saatnyameninggal. Oleh karena itu, kedua-nya memohon
izin kepada sang aya-handa untuk pergi mencari Dayang Bulan.
“Ampun, Ayah! Kami yakin DayangBulan belum meninggal, Ayah! Izink-anlah
Ananda dan Raden Kuning un-tuk pergi mencarinya!” pinta RadenAlit.
“Wahai, Anakku! Bukankah kalianmenyaksikan sendiri bahwa DayangBulan
telah meninggal dan dima-kamkan di kebun bunga?” ujar RatuAgeng.
“Benar, Ayah! Tapi kami yakin ba-hwa yang dimakankan pada saat ituhanya
bayangannya saja. Wujud as- linya telah diculik oleh seseorang yang sakti
mandraguna,” sahut Raden Kuning.
Pada mulanya, Ratu Ageng tidak begitu yakin dengan apa yang dika-takan
oleh kedua putranya itu. Namun, karena Raden Kuning dan Raden Alit terus
mendesaknya, akhirnya Ratu Ageng mengizinkanmereka untuk mencari Dayang Bu-
lan. Setelah berpamitan kepada ke-dua orangtuanya, berangkatlah Ra-den Kuning
dan Raden Alit mencari Dayang Bulan. Mereka berjalan se- lama berbulan-bulan
tanpa tentuarah. Begitu mereka tiba di sebuahpantai, terlihatlah sebuah rejung,
yaitu kapal besar dan megah, yang sedang berlabuh. Seketika itu pula mereka
langsung melompat ke atas rejung itu karena mengira Dayang Bulan berada di
dalamnya. Namun, setelah memeriksa seluruh ruangandi kapal itu mereka hanya
menemu-kan dua orang laki-laki sedang tidurdi dalam sebuah kamar. Raden Ku- ning
pun membangunkan keduaorang itu seraya bertanya kepada mereka.
“Wahai sahabat, siapakah kalian ini! Mengapa rejung kalian berhentidi pantai
ini?”
“Maaf, sahabat! Kami tertidur ka-rena kelelahan setelah cukup lama dalam
perjalanan mencari saudara perempuan kami yang bernamaDayang Ayu,” jawab
salah seorang pemilik kapal yang bernama si UlungTanggal.
“Kalau kami boleh tahu, bagai- mana saudara perempuan kalian bisa hilang?”
tanya Raden Alit.
“Begini, sahabat,” sahut adik si pemilik kapal yang bernama Serin- cung
Dabung. “Saudara perempuankami telah meninggal karena digigitular lidi. Namun,
kami yakin bahwadia sebenarnya tidak meninggal. Ia diculik oleh putra raja Negeri
SalekAlam yang bernama Malim Putih.”
“Hai, sahabat! Bagaimana kamu bisa tahu kalau putra raja itu yang menculik
saudara perempuan kali- an?” tanya Raden Kuning penasa- ran.
Rupanya, Serincung Dabung ada- lah seorang ahli nujum. Raden Ku- ning dan
Raden Alit pun meminta bantuan kepadanya untuk mencari tahu keberadaan Dayang
Bulan. Se- telah Serincung Dabung melakukan nujum, akhirnya diketahui bahwa
Dayang Bulan juga diculik oleh putraraja Negeri Salek Alam yang berna-ma Malim
Hitam. Keempat orangtersebut ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari
saudara perempuan mereka yang diculik oleh kedua putra Raja Negeri SalekAlam.
Namun, karena Serincung Da- bung tidak dapat menerawang letak Negeri Salek,
akhirnya mereka pun berpencar. Si Ulung Tunggul berja- lan di atas Kahyangan,
Raden Ku- ning terbang di angkasa bagai bu- rung, dan Serincung Dabung berjalan di
dalam air.
Sementara itu, Raden Alit berja- lan di daratan dengan menyusuri hutan
belantara serta menaiki dan menuruni bukit. Dalam perjalanan-nya, Raden Alit
bertemu dengan seorang nenek yang berpakaiansangat rapi.
“Nenek hendak pergi ke mana?” tanya Raden Alit.
“Nenek hendak ke pesta pernika-han, Cucuku!” jawab nenek itu.
“Siapa yang akan menikah, Nek?”tanya Raden Alit ingin tahu.
“Putra Raja Negeri Salek Alam, Malim Hitam dan Malim Putih,” ja- wab nenek
itu.
“Maaf, Nek! Kalau boleh saya tahu, mereka menikah dengan sia- pa?” tanya
Raden Alit penasaran.
“Malim Hitam akan menikah dengan Dayang Bulan sedangkan Malim Putih
akan menikah dengan Dayang Ayu,” jawab nenek itu.
Mendengar jawaban nenek itu, Raden Alit pun semakin yakin bahwa Dayang
Bulan dan Dayung Ayu masih hidup.
Maka dengan kesaktiannya, Ra-den Alit menyamar menjadi budak banden,
yaitu merubah bentuk wa-jahnya. Setelah itu, berangkatlah iake Negeri Salek Alam.
Setibanya di negeri itu.
Raden Alit bertemu dengan Raja Jin dan menceritakan maksud keda-
tangannya ke negeri itu. Raja Jin itu sangat baik hati dan dan mem- punyai seorang
putri yang cantik je-lita bernama Salipuk Jantung Pan- dan. Raden Alit pun langsung
jatuhhati kepadanya pada saat pan- dangan pertama. Dalam waktu sing-kat, mereka
langsung menjalin hu- bungan kasih dan berjanji akan menikah. Dengan hubungan
itu, Ra-den Alit pun semakin dekat dengankeluarga Raja Jin. Raden Alit kemu-dian
meminta pertolongan kepada Raja Jin untuk membebaskanDayang Bulan dan Dayung
Ayu.
Dengan kesaktiannya, Raja Jin merubah bentuk Dayang Bulan dan Dayung Ayu
menjadi dua tangkaibunga sebelum mereka naik ke pe- laminan. Kemudian, tanpa
sepeng- etahuan Malim Hitam dan Malim Pu-tih, Raden Alit berhasil menyelinap
masuk ke dalam kamar Dayang Bu- lan dan Dayung Ayu. Begitu ia ma- suk ke dalam
kamar tersebut tam- paklah dua tangkai bunga yang tergeletak di lantai. Tanpa
berpikirpanjang, Raden Alit segera mengam-bil kedua tangkai bunga yang meru-pakan
perwujudan Dayang Bulan dan Dayung Ayu tersebut. Namun, begitu Raden Alit keluar
dari kamar,tiba-tiba Malim Hitam dan MalimPutih datang menghadangnya.
“Hai, siapa kamu dan mau dibawake mana calon istri kami!” seru Ma-lim Hitam
dengan wajah memerah.
“Serahkan kedua tangkai bungaitu! Atau kami akan menghajarmu!”tambah
Malim Putih dengan geram-nya.
“Tidak! Aku tidak akan menyerah-kan kedua tangkai bunga ini. Kaliantelah
menculik saudara perempuankami,” bantah Raden Alit.
Pertempuran sengit pun tak te- relakkan lagi. Pada mulanya, Raden Alit
masih mampumengimbangimbangi kesaktian ke- dua putra
Raja Negeri Selak Alam tersebut. Namun, setelah pertem- puran tersebut
berlangsung selama berhari-hari, akhirnya Raden Alit kewalahan dan terlempar ke
langit.Untungnya, pintu langit ketika itu terbuka sehingga ia tidak jatuh ter-hempas
ke bumi. Akhirnya, Raden Alit menemui Nenek Dewa Langit untuk meminta
pertolongan.
“Ampun, Nenek Dewa! Tolonglahaku agar bisa mengalahkan kedua musuhku,
Malim Hitam dan Malim Putih, yang ada di Bumi!” pinta Ra-den Alit.
“Wahai, Cucuku Raden Alit! Ke- dua musuhmu itu tidak dapat di- bunuh. Akan
tetapi, kamu bisa melemparkannya ke langit. Setiba- nya di langit, aku akan
memasukkanmereka ke dalam sangkar besi,” ujar Nenek Dewa Langit.
“Baiklah, Nek! Izinkanlah akukembali ke Bumi!” pamit Raden Alit.
Setibanya kembali di Bumi, Ra- den Alit mengeluarkan seluruh kesaktiannya
sehingga mampumelemparkan kedua musuhnya ter-sebut ke langit. Begitu mereka
tibadi langit, Nenek Dewa segera me- masukkannnya ke dalam sangkar besi yang
telah disiapkan sebelum- nya sehingga mereka tidak dapatlagi kembali ke bumi.
Sementaraitu, Dayang Bulan dan Dayung Ayu kembali berwujud manusia. Tak be-
rapa lama kemudian, datanglah Ra-den Kuning, Si Ulung Tanggal, dan Serincung
Dabung. Raden Alit kem-udian menceritakan semua yang te-lah terjadi. “Terima
kasih, Sahabat! Engkau telah menyelamatkan saudara pe- rempuan kami Dayung
Ayu,” ucap siUlung Tanggal usai mendengar ceri-ta Raden Alit
.
“Sama-sama, Sahabat! Keberhasi-lan ini tidak terlepas dari kerjasamakita dan
bantuan Raja Jin,” kata Raden Alit.
“Hai, siapa Raja Jin itu?” tanya Serincung Dabung.
“Dia adalah Raja Jin di negeri inidan sangat baik hati,” jawab RadenAlit.
Akhirnya, Raden Alit dan Si UlungTanggal bersaudara segera mene-mui Raja
Jin untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena telah membantu mereka
mengalahkankedua putra Raja Negeri Selak Alam.Setelah itu, mereka berpamitan un-
tuk kembali ke negeri masing-ma- sing.
Sementara itu, di istana, Ratu Ageng dan permaisurinya sudahberbulan-bulan
diselimuti perasaancemas menunggu kepulangan anak-anak mereka. Namun, begitu
meli- hat Raden Kuning dan Raden Alit kembali bersama Dayang Bulan, ke-duanya
tidak sanggup menahan rasaharu. Untuk menyambut kepulangan ketiga anaknya, Ratu
Ageng menga-dakan pesta besar-besaran selama tiga hari tiga malam.
Usai pesta, Raden Alit datang menghadap kepada kedua orangtu-anya dan
mengatakan bahwa sebe- narnya ia telah mengikat janji un- tuk menikah dengan
putri Raja Jin yang cantik itu. Akhirnya, Ratu Ageng beserta seluruh keluarganya
datang ke tempat Raja Jin untuk mengadakan pesta perkawinan Ra- den Alit dengan
Salipuk Jantung Pandan. Selanjutnya, Raden Alit dan istrinya pun hidup bahagia.
Demikian kisah Raden Alit daridaerah Sumatera Selatan. Sedikit- nya ada tiga
pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitupertama, sesama saudara harus
sa-ling menyayangi seperti yang dit- unjukkan oleh sikap dan perilakuRaden Alit dan
Raden Kuning, ke- dua, dengan kerjasama yang baik, maka kejahatan dapat
ditumpas dengan mudah, dan ketiga, orang yang berbuat jahat akan menang- gung
sendiri akibatnya, seperti Ma-lim Hitam dan Malim Putih yangmendapat hukuman
dari NenekDewa karena mereka telah mencu- lik Dayang Bulan dan Dayung Ayu.