The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Merupakan Buku kumpulan foto kegiatanku bersepeda ke berbagai tempat, berisi daftar foto berserta nama kegiatan dan tempat yang dituju sejak 2008 sd 2023 awal, dan dilampirkan beberapa artikel yang pernah di muat di halaman back to boseh (B2B) PR Minggu. 2012 - 2018.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Cuham Menulis, 2023-01-16 03:10:20

Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa

Merupakan Buku kumpulan foto kegiatanku bersepeda ke berbagai tempat, berisi daftar foto berserta nama kegiatan dan tempat yang dituju sejak 2008 sd 2023 awal, dan dilampirkan beberapa artikel yang pernah di muat di halaman back to boseh (B2B) PR Minggu. 2012 - 2018.

Keywords: #Bersepeda,#Petualangan,#darimasakemasa

Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Semangat Gowes Jarak Jauh saat Puasa Ramadhan tak menyurutkan semangatnya para sepeda untuk tetap melakukan asyiknya melaju di atas sadel. Bagi yang sudah biasa dengan kondisi tersebut, bersepeda saat puasa tetap sangat dirasakan menyenangkan. Rasa lapar dan dahaga serta cuaca yang panas biasanya tertepis oleh asyiknya melaju di atas sepeda. Foto : dokpri Banyak pesepeda menjadikan Bulan Ramadhan sebagai momentum bersepeda dengan berbagai macam tema. Gowes Ngabuburit, Gowes Berbagi, Gowes Sahur hingga Gowes Malam (Nite Ride) mengelilingi kota adalah salah satunya. Beberapa bahkan memilih untuk bersepeda jarak jauh selama berpuasa, terutama saat musim mudik tiba. Beberapa hari lalu, saya melakukan perjalanan gowes sendirian dari Bandung ke Purwakarta, dengan jarak tempuh sekitar 70 kilometer. Sungguh suatu perjalanan bersepeda cukup jauh dan penuh liku. Kondisi jalanannya bervariasi dengan


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham tananjak dan turunan yang silih berganti, meskipun permukaan jalan aspal relative mulus. Tantangan yang paling berat adalah tempaan kegarangan kendaraan-kendaraan bermotor terutama kendaraan besar seperti truck, elf dan bus. Tantangan ini semakin komplit karena perjalanan bersepeda dilakukan dalam keadaan perut kosong karena tengah berpuasa. Awalnya, ada sedikit keraguan untuk melakukannya. Namun, saat diperjalanan semangat untuk melanjutkan perjalanan semakin tinggi. Kondisi badan yang fit meski berpuasa, sepedaku yang juga fit, serta kondisi cuaca yang sangat bersahabat, membuat perjalanan dapat dilalui tanpa hambatan yang berarti. Perjalanan dari Kota Bandung menuju Padalarang yang berjarak sekitar 20 kilometer dihadapkan oleh jalanan yang ramai dan padat. Memasuki daerah Cipatat hingga Cikalong Wetan dihadapkan oleh kondisi medan yang berat, selain didominasi oleh jalan nanjak juga jalannya yang berkelok-kelok. Beruntung, saat itu jalanan tak begitu ramai oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Meskipun demikian, beberapa kali saya harus mengalah dan berhenti sejenak ke tepi jalan menghindari arogansi laju cepat kendaraan kendaraan yang lewat. Kondisi yang sama, saya hadapi adalah saat memasuki daerah Darangdan, Sawit dan Plered. Namun, karena di tempat-tempat itu menyuguhkan beberapa sudut pemandangan yang memukau seperti perbukitan yang menghijau serta jajaran ragam pepohon diperkebunan, membuat lelah saat perjalanan berat itu sedikit terlupakan. Terus terang, saya begitu menikmatinya bersepeda sambil merasakan semilir angin yang menyegarkan. Sisa Perjalanan Saat tiba di kota Purwakarta, tak serta merta perjalanan berakhir karena saya harus menuju daerah tujuan yang masih sekitar 5 kilometer lagi dengan kondisi jalan menanjak dan sedikit ramai.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Keringat dan rasa lelah sudah terasa, sehingga saat sudah tiba di pusat kota Purwakarta saya beristirahat cukup lama. Istirahat ini juga sekaligus membantu terurainya kemacetan akibat saking banyaknya mobil angkutan desa yang rebutan penumpang ditambah banyaknya orang yang berbelanja sambil ngabuburit. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, saya pun melanjutkan perjalanan bersepeda menuju daerah yang saya tuju yaitu kecamatan Pasawahan Kabupaten Purwakarta. Di tempat tujuan rasa lelah hebat pun melanda sementara waktu buka puasa masih sekitar setengah jaman lagi. Sampai akhirnya saat waktu buka puasa tiba, saya sangat bersyukur karena telah berhasil melakukan perjalanan ini tanpa membatalkan puasa. Keesokan harinya, saya melakukan bersepeda ngabuburit sendirian di Pasawahan menuju pelosok-pelosok desa di sana. Walau daerahnya sudah begitu padat oleh pemukiman penduduk, tetapi masih banyak menyisakan jalur-jalur asyik buat bersepeda. Banyak jalur-jalur yang sebenarnya cocok buat para pegiat jalur cross country (XC) atau Offroad dengan latar belakang pemandangan pedesaan, pesawahan, perbukitan, hutan dan perkebunan yang memikat. Sayangnya saat itu saya tak menemukan seorang pesepeda pun untuk di jadikan teman bersepeda. Yang ada hanyalah lalu-lalang sepeda motor yang ambisius. Salam boseh dan go green, Aktivis Lingkungan dan Bersepeda, (back to boseh (b2b) Pikiran Rakyat Minggu, 04/08/2013) Ke Limbangan dengan Penuh Perjuangan Setelah sekian lama tak melakukan bersepeda jarak jauh, saya bersama tiga teman melakukan gowes touring menjajal Bandung menuju Limbangan Kabupaten Garut, dengan jarak tempuh kurang lebih dari 40 km.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Bagi pesepeda yang sudah berpengalaman jarak jauh, mungkin jalur ini agak enteng karena sering dilalui, tapi bagi saya ini adalah pengalamn pertama saya gowes ke arah Garut. Apalagi sepeda yang saya gunakan adalah sepeda Federal yang notabene belum saya kuasai sepenuhnya. Tentu saja gowes kali ini sedikitnya cukup merepotkan. Perjalanan diawali dari rumah di Cihampelas menuju Cibiru sebagai titik kumpul untuk kemudian ke Limbangan dengan melalui jalur Nagreg. Ternyata saat itu banyak pula kawan-kawan pesepeda lain melakukan perjalanan gowes menuju Garut. Foto dokpri Karena melalui jalan raya utama, jalan raya itu merupakan jalur cukup ramai, padat dan panjang, berbagai hambatan sudah tentu akan selalu dihadapi seperti kemacetan, sinar matahari yang menyengat, pasar kaget, deru kendaraan besar, serta


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham variasi jalan yang naik turun. Kondisi jalan relatif mulus, walau dibeberapa lokasi tengah ada perbaikan jalan yaitu dijalur yang terkenal panjang dan melelahkan, dari Cileunyi menuju Cicalengka yang kurang bervariasi. Rasa jenuh itu belum sirna karena memasuki Cicalengka. Jalanan yang terus menanjak hingga Nagreg, membuat beberapa kali berhenti untuk menarik napas. Hambatan fisik sudah mulai menimpa saya. Tiba-tiba, kaki saya kram karena kurang pemanasan. Kondisi tubuh yang belum menguasai Federal juga menjadi salah satu penyebanya. Perjalanan selanjutnya, gerakan bersepeda menjadi sedikit melambat dan tersendatsendat karena kram kaki kerap menyerang, meski akhirnya berhasil menuju puncak tanjakan di Nagreg. Dari Nagreg jalan berkelok-kelok naik turun. Jalur ini sedikit menyeramkan hingga memerlukan kehati-hatian. Pesepeda juga harus berbagi jalur dengan kendaraan bermotor seperti elf, bus dan truk. Demi keamanan, beberapa kali sepeda kami tuntun. Memasuki arah tujuan yaitu Limbangan Garut, perjalanan relative aman dan nyaris tanpa hambatan, jalanan tak begitu ramai, gowes pun melesat cukup menyenangkan. Hingga akhirnya kami tiba di desa tempat dimana nenek moyang berasal/ Walau desanya sudah tak seasri tempo dulu bahkan cenderung jadi sebuah desa yang padat akan rumah-rumah, suasana perkampungan masih kental terasa. Balik Bandung Menjelang siang, kami pun beranjak pulang. Kali ini, acara gowes ditemani rintik hujan yang turun tiba-tiba. Berbagai peralatan anti hujan kemudian dikenakan dan perjalanan pulang terus berlangsung. Ditengah-tengah asyiknya gowes, tiba-tiba saya kembali diserang kram kaki. Kali ini cukup hebat hingga saya meringis kesakitan. Gowes kembali menghambat dan


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham tersendat-sendat karena saya sering berhenti. Sementara itu dua rekan lainnya sudah melesat jauh di depan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, saya melanjutkan perjalanan dengan melintasi jalur Lingkar Nagreg. Baru beberapa meter memasuki Lingkar Nagreg, saya mengalami cedera otot lutut yang terasa sakit cukup hebat, untuk sesaat saya menghentikan perjalanan, karena setiap mengayuh rasa sakit itu terasa, makin lambatlah gerakan kayuhanku. Kondisi ini membuat saya nyaris putus asa dan berniat ingin di “loading” saja. Akan tetapi, dengan tetap semangat saya pun bertekad melanjutkan perjalanan bersepeda walau dengan irama lambat dan sering berhenti sambil menahan rasa sakit. Lucunya, dalam keadaan seperti itu, saya masih menyempatkan diri untuk bernarsis ria saat tiba diterowongan yang memang menyajikan nuansa indah di sana. Momen yang sangat saying jika dilewatkan. Akhirnya dengan kondisi agak tersiksa, saya pun tiba sampai rumah malam hari karena irama bersepeda yang sangat lambat dan banyak beristirahat. Pelajaran yang saya peroleh dari perjalana gowes kali ini adalah bersepeda jarak jauh harus dilakukan dengan persiapan fisik yang prima. Jangan sepelekan pemanasan agar otot-otot tidak kaku dan tak begitu “kaget”. Adaptasi dengan sepeda yang akan digunakan juga perlu dilakukan agar perjalanan lebih nyaman dan menyenangkan. Semua pelajaran ini tentu saja akan menjadi panduan saat saya akan melakukan perjalanan jauh berikutnya. Salam boseh dan go green, Greener Cycle Monster Bandung, (bike to boseh (b2b) Pikiran Rakyat Minggu, 22/12/2013)


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Mengakiri Tahun dengan Bersepeda Foto dokpri Minggu terakhir penghujung tahun 2013 sangat sayang jika dilewatkan tanpa bersepeda. Saya memanfaatkan momen ini dengan bersepeda sepanjang hari menyusuri sudut-sudut kota dari sisi selatan ke utara dan mengikuti sejumlah perhelatan yang berkaitan dengan aktivitas bersepeda. Jum’at malam (27/12/13), saya mengikuti perhelatan rutin setiap akhir bulan yang digawangi anak-anak muda yang bergenre sepeda fixie bertajuk “Indonesia Critical Mass” sebagai kegiatan terakhir di tahun 2013. Diikuti oleh sekitar 20 pesepeda dari lintas jenis sepeda, selain fixie gear (fixie), ada yang menggunakan sepeda MTB seperti saya dan juga Onthel. ICM kali ini selain mengambil rute seperti biasa yaitu dari Cikapayang memutar ke Gedung Merdeka hingga kembali ke Cikapayang.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Keesokann harinya (sabtu, 28/12/13), cuaca sangat bersahabat dan mendorong saya untuk mengikuti kegiatan funbike. Meski acaranya kurang begitu greget, saya hanya ingin menunjukan pada masyarakat bahwa bersepeda itu adalah aktifitas penuh manfaat dan menyenangkan. Minggu (29/12/13), saya menghadiri kegiatan pertemuan komunitas aktivis lingkungan di Rancabalong, Gedebage, Bandung bagian timur. Karena saya sudah berkomitmen untuk bersepeda ke mana pun saat beraktivitas, maka dari tempat tinggal di Cihampelas saya menuju Bandung Timur dengan bersepeda. Dalam perjalanan, sempat pula menyusuri beberapa jalur lain jalan kecil permukiman. Bukan sekedar menghindari kemacetan, tapi ingin ngaprak saja tak tentu arah. Sungguh menyenangkan karena dapat mengetahui sisi lain kota ini hingga jalan kecil dan gang-gang. Memang, beberapa kali mentok di gang buntu. Pernah pula sampai dikejar anjing. Tapi, semua itu kulalui dengan tetap menikmati kayuhan di atas sadel. Tak peduli, rasa lelah, panasnya matahari, keringat yang mengguyur badan, maupun rasa kaget dikejar anjing, saya selalu menikmati momen saat berada di atas sepeda. Memasuki hari terakhir di penghujung tahun 2103. Saya melakukan bersepeda jauh bersama beberapa teman ke Purwakarta via Warnayasa. Kami memulai perjalanan dari UPI Jalan Setiabudi kota Bandung. Cuaca pagi itu memang tengah hujan gerimis, namun demikian, kami tetap memulai untuk berangkat menuju Lembang yang jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Di Lembang kami beristirahat lama sambil menunggu hujan reda. Karena gerimis tak jua kunjung berhenti, kami sepakat melanjutkan perjalanan menuju Jalan Cagak, Subang.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Dari Lembang ke Tangkuban Parahu, kami masih dihadapkan jalanan menanjak. Di sini, kami rehat sejenak untuk mengambil napas panjang, karena dari Tangkuban Parahu, perjalanan berspeda akan meluncur turun hingga Jalan Cagak. Di Jalan Cagak, kami beristirahat makan siang, sambil memulihkan tenaga dan memperbaiki sepeda yang sedikit terkena masalah. Dari sini, kami bergegas melanjutkan menuju Wanayasa yang berjarak puluhan kilo meter dengan variasi jalan naik turun. Kami banyak berhenti untuk sekedar rehat minum, mengingat perjalanan memang dirasakan cukup berat. Tiba di Wanayasa, perjalanan berhenti di objek wisata Situ Wanayasa untuk istirahat dan foto-foto di sana. Tak begitu lama kami berada di sini, lalu melanjutkan perjalanan bersepeda menuju Kecamatan Pasawahan Purwakarta yang jalannya menurun terus. Kami pun melesat hingga akhirnya tiba ke tempat tujuan. Di tempat tujuan ini kami lebih banyak beristirahat dan mengobrol, bahkan menjelang pergantian tahun kami tak merasakannya, karena kami lebih memilih untuk tidur, memulihkan kondisi tubuh. Masuk 2014 Keesokan paginya, tepat 1 januari 2014, saya mengawali aktivitas bersepeda kami dengan melakukan bersepeda balik dari Purwakarta menuju Bandung melalui jalur Cirata sepanjang 95 kilometer menuju Bandung. Di Cirata kami beristirahat lama, memanfaatkan momen untuk berfoto-foto dengan latar belakang pemandangan yang cukup memesona. Dari Cirata menuju Cikalong Wetan, perjalanan bersepeda cukup panjang nan melelahkan karena jalannya yang cenderung menanjak. Ditengah-tengah perjalanan, kami sempat istirahat lama karena selain kelelahan juga perut kosong. Awalnya kami akan makan siang di Cikalongwetan, tapi karena sudah


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham tak tahan lapar akhirnya kami makan disalah ssatu kedai Ciepeundeuy sebelum stasiun kereta api Rendeh. Bahkan, kami sempat tiduran sejenak di sini, namun terentak saat di depan kami ada insiden jatuhnya seorang ibu muda dengan anaknya dari sepeda motor. Kami pun segera menolongnya dan memberikan obat luka yang kebetulan salah satu dari kami membawanya. Lukanya tak begitu parah, si anak selamat tanpa luka sedikitpun hanya terlihat shock dan menangis. Dari situ, kami pun melanjutkan bersepeda, bergegas ingin segera tiba di Bandung, karena jarak tempuh masih puluhan kilo meter. Tiba di Padalarang, perjalanan di suguhi gemericik hujan. Tapi, kami tetap meneruskan perjalanan hingga memasuki Cimahi menjelang Magrib. DI Cimahi, kami berhenti untuk istirahat dan makan, kami bubar menuju rumah masing-masing dengan perasaan senang berbaur dengan kelelahan hebat tapi memberikan sejuta keseruan yang tak bisa digambarkan. Sungguh, saya merasakan sesuatu yang luar biasa saat dapat mengisi tahun 2013 dengan banyak sekali kegiatan bersepeda. Tak hanya untuk kebugaran tubuh, tapi saya bertekad untuk dapat memberikan sesuatu kepada lingkungan. Minimal tidak memberikan kontribusi polusi udara kepada banyak orang. Salam boseh dan go green, komunitas Greener Cycle Monster Bandung, ( bike to boseh Pikiran Rakyat Minggu, 5/01/2014). Gowes Melawan Perdagangan Manusia “Saya Cinta Keluarga”, adalah salah satu pesan moral yang dibawa para pesepeda yang datang dari berbagai komunitas di Bandung dan Bekasi. Slogan itu menjadi salah satu tema dalam kegiatan “Bersepeda 125 km Kampanye Melawan Perdagangan Manusia” yang digagas Pusat Pelayanan Terpadu Pemeberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Foto : dokrpi Turut bersepeda ketua P2TP2A Netty Prasetiyani Heryawan, didampingi sejumlah pejabat terkait dalam perjalanan boseh Bandung-Sumedang-Majalengka-Cirebon itu. Perjalanan dilakukan Sabtu (26/05/2014) dan Minggu (27/05/2014). Kampanye sosial sambil bersepeda ini, merupakan kali kedua yang dilaksanakan P2TP2A Jawa Barat. Kegiatan pertama, dilakukan tahun 2011 lalu, bertema “Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”. Tahun ini digelar selama dua hari dengan serangkaian acara di beberapa tempat pelaksanaan kampanye tersebut. Kegiatan bersepeda hari pertama dibagi dalam 5 etape. Etape pertama dititik start yaitu di halaman Gedung Pakuan yang dibuka Netty Prasetiyani sambil memaparkan misi dan visi dari kegiatan tersebut. Kami bersepeda dari Pakuan menuju Cinunuk sejauh 19,8 km.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Sejenak beristirahat di Kantor Kecamatan Cinunuk yang menyambut rombongan dengan menyediakan aneka hidangan. Dari Cinunuk rombongan di-loading hingga Sumedang karena disesuaikan dengan aturan protokoler. Bersepeda etape kedua, dilakukan dari Sumedang menuju Buah Dua Berjarak 34,2. Jalanan didominasi turunan dan kelokan, tikungan tajam serta sedikit makadam. Kondisi lalulintas relatif sepi karena merupakan jalan raya pedesaan. Area perkebunan, hutan, persawahan, dan wilayah perumahan penduduk dilintasi. Cuaca panas tertolong oleh rimbunan aneka pepohonan yang juga tumbuh susbur di sepanjang jalan. Tak hanya itu, perjalanan dikawal belasan pesepeda dari salah satu komunitas di Sumedang. Tiba di Buah Dua Sumedang, sambil beristirahat, acara kamapanye digelar dihadapan penduduk yang hadir di sana. Terutama kaum ibu dan anak-anak. Warga diberikan pengarahan oleh Netty tentang maksud kegiatan, terkait bahaya kekerasan terhadap ibu dan anak, dan menjaga kelurga, serta bahaya ancaman perdagangan manusia. Sayangnya, pada etape ketiga Buah Dua – Ujungjaya Cikawu (20,8 km) dan etape keempat Ujungjaya – Kertajati (30,6 km) perjalanan bersepeda urung dilakukan karena cuaca sangat buruk sehingga tak memungkinkan untuk dilakukan bersepeda. Juga pertimbangan kondisi jalan yang rusak berat, apalagi banyak pesepeda yang menggunakan sepeda dengan ban kecil yang kurang cocok melalui jalan raya layaknya offroad. Sepanjang daerah itu pun hujan tak kunjung berhenti hingga diputuskan untuk di-loading saja hingga Cirebon. Di Cirebon, tepatnya di masjid Bobos, sepeda diturunkan dan memepersiapkan perjalanan etape kelima. Saat itu, hari sudah malam, tapi cuaca sudah benar-benar cerah. Kegiatan bersepeda malam dari Masjid Bobos hingga Gedung Negara dilakukan menyusuri jalanan Kota Cirebon sepanjang 15 km. Di Gedung Negara, kami disambut para pejabat setempat, silaturahmi, makan, hiburan, dan beristirahat.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Keesokan paginya, rombongan menuju Car Free Day Kota Cirebon. Sebagian bersepeda dan sebagian lagi berjalan kaki, karena lokasinya tak begitu jauh dari Gedung Negara. Di Car Free Day, usai mengikuti senam pagi massal bersama masyarakat Cirebon, juga mengikuti serangkaian acara kampanye kepada warga setempat. Setalah ramah tamah di balaikota dan hiburan, rombongan pesepeda pulang menuju Bandung dan Bekasi menggunakan kendaraan. Kegiatan ini terbilang seru dan cukup sukses. Setidaknya, kampanye menolak perdagangan manusia dapat dilakukan dengan cara yang berbeda dan disampaikan kepada masyarakat dengan lebih efektif. Hanya saja, secara kepuasan bersepeda, memang agak mengecewakan. Karena tak sesuai target yang ditempuh yaitu sepanjang 125 km, mungkin hanya setengahnya. Walaupun demikian, kami tak berkecil hati karena factor cuacalah yang mengharuskan kami bersepeda tak sesuai target. Salam boseh dan go green, Komunitas Sepeda Suka-Suka Bandung. ( bike to boseh Pikiran Rakyat Minggu, 04/05/2014). Perjalanan Penuh Makna Lebaran tahun ini, sebenarnya gowes mudik merupakan pengalaman pertama bagi saya. Tempat tujuannya pun terbilang dekat, yaitu Bandung-Purwakarta, berjarak sekitar 65 km dari Bandung via Cikalong. Sebelumnya, saya sudah dua kali ke sana dengan momen yang berbeda. Karena sekarang momennya adalah Lebaran, saya pun memanfaatkannya dengan gowes mudik ke sana, ke tempat dimana hampir sebagian besar saudara-saudaraku terdekat berada, tepatnya di kecamatan Pasawahan Kabupaten Purwakarta. Esesnsi mudiknya pun begitu terasa, mulai dari persiapan, saat perjalanan, hingga tiba di tempat tujuan.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Foto : dokpri Dari segi persiapan, saya hanya mengecek sepeda yang saya gunakan berupa sepeda Federal. Sebelumnya Federal ini telah menjajal Bandung-Limbangan , Bandung – Jatiluhur dan Bandung – Jakarta. Beberapa peralatan penting dan aksesoris seperlunya tak lupa dibawa serta. Tak banyak perbekalan yang diboyong. Hanya beberapa helai pakaian dan makanan ringan untuk keponakan. Serta cangkang ketupat. Tas panier pun tak begitu terlihat padat dan berat. Rute yang saya tempuh memang rute yang sudah cukup akrab yaitu Cimahi, Padalarang, Cikalong, Darangdan, Cianting, Sukatani, Kota Purwakarta, Pasar Rebo Simpang dan Pasawahan. Akan tetapi, karena masih dalam suasana puasa, irama kayuhan pun terbilang santai dan banyak berhenti, biar tidak memforsir tenaga dan


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham puasa saya tidak batal di tengah jalan. Saya mulai berangkat pukul 08,00 pagi dari Bandung, diantar dua teman pesepeda hingga Padalarang. Kondisi jalan terlihat cukup ramai walau tak begitu padat, terutama yang datang dari arah barat menuju timur. Waktu lebaran yang semakin dekat saat itu meramaikan arus lalulintas tujuan Purwakarta, Cikampek, Karawang dan Bekasi. Kendala terjebak macet justru dihadapi pada awal-awal perjalanan dari Bandung, Cimahi dan Padalarang. Namun mungkin karena masih pagi, kemacetannya pun tak begitu berarti. Perjalanan relatif lancar dan nyaman, karena tak seperti biasanya truk dan bus besar jarang melintas. Walaupun demikian, saya tetap ekstra hati-hati. Setiap beristirahat di rest area pom bensin, saya kerap menjadi pusat perhatian para pemudik bersepeda motor, karena saat itu hanya sayalah satu-satunya pemudik yang bersepeda. Perjalanan sedikit terhambat hujan deras mengguyur di sekitar Cikalongwetan dan Darangdan. Dari pusat kota Purwakarta, saya harus mencapai lokasi tujuan sejauh 5 km dengan kondisi jalan menanjak dan ramai dengan kendaraan bermotor. Dengan kondisi raga yang sangat lelah, akhirnya saya pun tiba di tempat tujuan dengan selamat. Tak lama saya berada di sana. Saat hari Lebaran, seusai melaksanakan salat Idulfitri dan bermaaf-maafan, saya bergegas untuk segera kembali ke Kota Bandung. Selain karena ada urusan yang harus dikerjakan, saya mendapat kabar duka, seorang rekan kerja meninggal dunia sehari sebelum Lebaran. Perjalanan ke Kota Bandung, kembali saya lakukan dengan menggowes. Perjalanan pulang lebih didominasi oleh tanjakan, terutama di daerah Cibentar-Darangdan, Cikalongwetan, dan Tagogapu. Beberapa kali saya harus berhenti dan mengambil nafas panjang karena kelelahan. Sepanjang perjalanan lalulintas sangat ramai oleh orang-orang yang bersilaturahmi, berziarah, ataupun berkunjung ke tempat-tempat wisata.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Saya tiba di Bandung agak malam. Selain banyak bersitirahat dan berjalan pelan, di Cimahi saya pun menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka almarhum. Perjalanan ini penuh dengan makna. Saya menyebutnya dengan perjalanan gowes untuk mensucikan diri, kembali ke fitrah. Selamat Idulfitri. Salam boseh dan go green. Pegiat berbagai komunitas pesepeda di Bandung ( bike to boseh Pikiran Rakyat Minggu, 3/08/2014) Boseh Mudik Penuh Rintangan Selama dua tahun kebelakang, setiap Lebaran biasanya saya bersama beberapa teman dari komunitas-komunitas pesepeda di Bandung mengoordinasi teman-teman pesepeda dari berbagai daerah se-Nusantara yang akan melakukan mudik dengan bersepeda. Tanda pagarnya nya #gowesmudik. Akan tetapi, karena sesuatu hal, tahun ini saya tidak melaksanakan kegiatan tersebut dan pengoordinasinya diambil alih oleh Bike To Work Indonesia. Foto dokpri


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Lebaran tahun ini saya nekat bersepeda mudik sendirian Bandung – Malangbong Garut. Nekat karena awalnya sedikit ragu, lantaran kondisi fisikku yang sudah mulai lemah saat melakukan bersepeda jarak jauh. Akan tetapi, niat hati semakin bulat ingin Lebaran di Malangbong bersama keluarga almarhum kakakku yang tertua. Perjalanan ke sana lebih tepatnya menikmati ber-Lebaran rumah kakakku yang kini hanya diisi oleh kakak ipar. Setiap lebaran barulah keempat anak beserta keluarganya berkumpul di sana. Apalagi, sudah belasan tahun saya tak pernah ke sana, Kampung Bojong, Desa Cisitu, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Sudah dua kali saya boseh mudik. Rutenya tidak terlalu jauh, Bandung – Purwakarta. Baru tahun ini saya menjajal rute Bandung – Malangbong yang relatif sama beratnya dengan jalur Bandung – Purwakarta, meskipun jaraknya hanya berkisar 50 - 65 kilometer. Jarak tempuhnya memang bisa dibilang tidak terlalu jauh, tapi medan jalannya yang membuat para pesepeda sedikit mengernyitkan dahi. Terbayang dalam benak sebagian besar pesepeda saat mengahadapi jalan Raya Rancaekek yang panjang , lurus nan menjemukan. Tanjakan Parakan Muncang yang seolah tiada berujung, turunan Nagreg yang tajam dan menikung serta jalan berkelok kelok nanjak turun mulai dari Limbangan hingga Malangbong. Bagi pesepeda yang mudik ke Ciawi , Tasikmalaya dan seterusnya, ada beberapa rintangan lagi yang harus dilalui yaitu tanjakan Cipeundeuy dan Turunan Gentong. Terlebih di musim mudik, kita dihadapkan dengan suasana lalu lintas yang macet, dan padat, dengan berseliwerannya aneka jenis kendaraan. Saya berangkat di H-3, Jum’at (23/6/2017), pukul 5.00 dari Jalan Cihampelas. Lalu lintas mulai ramai, terutama oleh para pemudik bermotor yang sama-sama menuju arah timur. Di Pasar Suci, perjalanan mulai tersendat karena pasar tumpah.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Setelah itu, kondisi jalan ramai lancar hingga Cicaheum. Di terminal ini, kondisi jalan kembali tersendat, karena banyaknya angkutan umum yang ngetem mencari calon penumpang. Dari sana kondisi jalan relatif normal. Namun, saat tiba di Pasar Ujung Berung jalanan macet lumayan parah, karena tersendat oleh hiruk pikuk orang belanja berebutan dengan pengendara dari berbagai arah ingin lebih dulu kedepan, ditambah ada angkot yang dengan cuek menurunkan dan menaikan peumpang di tengah jalan. Rangkaian bunyi klakson pun bersautan memekakkan telinga. Harapan sampai di bunderan Cibiru pukul 6.00 musnah. Pukul 6.30, saya baru tiba, padahal seorang teman pesepeda yang akan menemani hingga Nagreg dan akan mengabadikan perjalanan bersepeda saya sudah menunggu dengan tabah. Sampai di bunderan Cibiru, saya istirahat sejenak dan mengobrol dengan teman. Tak lupa dia pun memotret saya dan sepeda saya yang dilengkapi dua tas pannier belakang berisi pakaian dan keperluan perjalanan, di atasnya ada dua ikat cangkang kupat yang sengaja saya beli untuk diberikan ke kakak ipar saya. Ketiban sial Saat sedang mencari konter pulsa, tiba-tiba saya disiram air dingin oleh nenek dari halaman rumahnya, tadinya saya fikir orang gila, tahunya nenek itu marah-marah karena didepan rumahnya sering dipake tempat ngetem kendaraan. Saya ketiban sial saja. Tak lama, perjalanan dilanjutkan, karena waktu kian melesat seiring semakin banyaknya para pemudik dari berbagai arah yang mulai memadatkan jalan sepanjang bunderan Cibiru hingga Cinunuk. Perjalanan makin tersendat dan macet hingga Cileunyi. Temanku sudah berlalu lebih dulu, sementara saya terjebak dalam kemacetan parah hampir 1,5 jam. Setelah melalui kemacetan tersebut, dari Cileunyi dan sepanjang


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Jalan Raya Rancaekek yang terkenal panjang dan menjemukan tersebut, perjalanan relatif ramai lancar. Memasuki tanjakan bypass Parakan Muncang, kondisi jalan kembali tersendat hingga Nagreg. Teman yang sudah tiba di Nagreg, melalui telefon genggamnya menganjurkan agar saya berjalan melawan arus, karena memang arus jalan dari arah timur cenderung lengang. Dengan terpaksa saya menuruti anjuran tersebut, tetapi tetap pada posisi sisi kanan jalan, daripada saya tersendat berjam-jam di jalur sebelahnya. Setelah melalui tanjakan dengan terengah-engah, hingga Tugu Selamat Jalan di Nagreg, saya kembali ke arah yang semestinya dan lagi-lagi berjibaku dengan kepadatan. Teman saya sudah menunggu di pinggiran jalan sebelum turunan Nagreg. Waktu menunjukan pukul 10.30, saya pun istirahat. Teman pun pamit dan berbalik arah ke Bandung. Saya melanjutkan perjalanan, meluncur hingga melintasi turunan cagak. Saya berhenti dan memasuki perkampungan mencari masjid untuk melaksanakan salat Jum’at. Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan. Untuk menghemat tenaga apalagi tengah berpuasa, saya banyak berhenti sepanjang perjalanan. Untungnya, sejak dari Bandung cuaca teduh sehingga tak membuat semakin parah kondisi fisik yang mulai lemas karena melalu banyak tanjakan, turunan dan jalur berkelok-kelok. Puncaknya, saat di daerah Kersamanah kondisi tubuh dilanda kelelahan yang hebat ditambah ngantuk luar biasa. Akhirnya, saya beristirahat dan tidur lama di masjid di pinggir jalan. Selama dua jam lebih saya istirahat memulihkan tenaga. Setelah kondisi fisik sedikit pulih, saya melanjutkan perjalanan meski agak bersusah payah dan lebih banyak berhenti untuk menjaga puasa agar tidak batal. Beberapa menit kemudian saya diberhentikan oleh suara teguran sesorang yang ternyata anggota kelompok pesepeda yang lumayan besar sewilayah Priangan dengan sebutan “Dulur Beda Lembur “ (saudara beda daerah). Kami pun berbincang. Seusai foto-foto,


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham saya berpamitan. Jalan semakin ramai dan padat, bahkan sesekali tersendat atau stuck. Sampai Lewo, waktu menjelang buka puasa kurang lebih setengah jam lagi. Saya beristirahat di musala. Beberapa pemudik bermotor pun melakukan hal serupa di tempat itu. Seusai buka dan salat Magrib, saya meneruskan perjalanan. Hari sudah gelap, jalan pun makin ramai.Perjalanan terhambat karena beberapa kali mengalami keram paha kaki, kejadian ini berlangsung hingga Citeras dan Malangbong. Untuk memulihkan keram, saya istirahat sambil jajan bakso karena perut juga lapar, apalagi lokasi yang dituju masih sekitar 4-5 km lagi. Akhirnya saya tiba di rumah kakak ipar pukul 20.30 dengan tubuh yang sangat lelah dan pegal di paha, disambut haru biru keponanakan keponakan beserta anakanaknya. Meski lelah, tapi hati senang dan bangga karena bisa bersepeda jarak jauh lagi, apalagi dalam kondisi sedang berpuasa, berhasil melalui berbagai rintangan. Kampanye lingkungan Hari Sabtu, saya sempatkan bertemu dengan teman dari Gowes Baraya Bandung yang tengah istirahat di Masjid Agung Malangbong. Dia boseh mudik Bandung – Ciawi. Kami mengobrol dan foto sejenak sebelum dia melanjutkan bersepeda ke Ciawi. Minggu, (25/6/2017), Hari Kemenangan tiba. Sebagai pegiat lingkungan, saya berupaya tetap konsisten dengan kampanye bersepeda kemana saja, termasuk ke tempat salat Id. Saya bersepeda, membawa tumbler, tas reusable, dan tidak memakai alas dari koran. Seusai bersalaman dan makan ketupat bersama saudara-saudara yang ada, saya berpamitan pulang ke Bandung. Saya bersepeda hingga Citeras. Akan tetapi, karena fisik lelah saya memutuskn untuk di-loading saja, kebetulan ada angkot menuju Bandung usai mengangkut penumpang rombongan ke Tasikmalaya. Diloading hingga Cileunyi, lalu bersepeda


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham lagi menuju Cihampelas Bandung, ditengah cuaca lumayan panas menyengat dan jalan yang ramai sejak dari Cileunyi hingga bunderan Cibiru. Namun, di tengah kota beberapa ruas jalan begitu lengang dan sepi, sehingga saya pun tiba tanpa hambatan yang berarti. Salam boseh dan go green. Bandung Eco Transport. (bike to boseh, Pikiran Rakyat Minggu 2/7/2017) Ce’es Beurat Ulin ke Ciletuh (I) : Gembira di Pantai, Mangprang di Jalan Foto dok. Ce’es Beurat Sebagai pesepeda yang sehari-harinya beraktivitas sebagai pedagang di pasar, para pendiri Ce’es Beurat memang jarang sekali melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh, lantaran waktu dan kesempatannya benar-benar tersita oleh aktivitas usaha dalam rangka kebutuhan ekonomi.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Mereka yang kebetulan sama-sama punya aktivitas usaha di pasar saat libur panjang usai Lebaran dijadikan kesempatan untuk melakukan boseh jarak jauh berhari-hari. Musim liburan Lebaran tahun lalu, mereka bersepeda berhari-hari dari Bandung ke Pangandaran melalui rute per etape selama enam hari, Bandung – Ciwidey – Naringgul – Jayanti – Ranca Buaya – Santolo – Sayang Heulang – Cipatujah – Pangandaran. Di musim libur lebaran tahun ini, Ce’es Beurat kembali melakukan perjalanan bersepeda jarak jauh Bandung – Cileutuh dalam rangka halal “bike” halal. Kegiatan ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, baik sepeda yang akan digunakan, perbekalan, jadwal acara dan sebagainya. Kegiatan kali ini diberi nama “Cees Beurat Ulin Ka Cileutuh” dengan konsep ciri khas Ce’es Beurat yaitu bike camp cook ( bersepeda, berkemah dan memasak). Berbeda dengan tahun lalu, kali ini perjalanan menempuh jarak sekitar 275 kilometer, dengan estimasi perjalanan gowes sekitar 135 kilometer, selebihnya perjalanan “diloading”. Tiga belas orang yang mengikuti kegiatan ini sudah termasuk saya dan yang membawa mobil truk loadingan, beliaupun tetap bawa sepeda untuk kemungkiknan ada kesempatan bersepeda. Uniknya, kami merupakan wujud tiga generasi, karena terdiri dari orangtua, dewasa dan remaja. Kami berangkat menggunakan truk loading-an. Mobilnya sudah di susun sedemikian rupa, sepeda disimpan di atas, sementara logistik dan peserta berada dibawahnya. Berangkat Senin (26/06) pukul 23.00 WIB dari daerah Astana Anyar menuju Ciwidey, Naringgul dan tiba Selasa (27/06) pagi di daerah Cidaun Kabupaten Cianjur. Kami menempati pinggir pantai Cipandak yang belum begitu terjamah untuk dijadikan destinasi wisata. Awalnya akan berkemah di Jayanti, tapi urung dilakukan karena merasa kurang nyaman. Seharian kami di Cipandak, hanya berkemah, memasak, bermain riang gembira di pantai dan muara sungai menikmati suasananya yang menakjubkan, airnya yang lumayan jernih. Tidak terlalu banyak orang bahkan cenderung sepi, sehingga pantainya terlihat cukup bersih karena tidak banyak sampah. Kami menyebut pantai


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham tersebut pantai “marimar” karena si teteh cantik istrinya Aa yang menyambut kami ramah dan tidak keberatan area di sana dijadikan tempat untuk bermalam kami, wajahnya disandingkan dengan Marimar , karakter artis telenovela. Rabu (28/6/2017), usai sarapan pagi dengan menu mie goreng khas Malaysia. Kebetulan kami mempunyai koki andalan yang setiap kegiatan bike camp cook, menjadi tukang masaknya. Kami bersiap-siap melakukan perjalanan bersepeda dari pantai Cipandak. Kami menggunakan seragam jersey karya salah satu anggota Ce’es Beurat yang mempunyai usaha kecil menengah sablon kaos atau pembuatan jersey, terlihat genjreng dengan warna yang mencolok. Setelah siap segala sesuatunya terutama sepeda dengan akseoris tas gegembol dan bendera, kami pun pamitan sama si Aa dan teteh “Marimar” lalu berdo’a dan meluncur menuju Panenjoan, Cileutuh, Sukabumi. Ceria dan Kompak Kami bersepeda menyusuri tepi pantai, pedesaan dan hutan, sepanjang daerah Cidaun, daerah Sukanegara, Kabupaten Cianjur hingga daerah Sindang Barang, daerah Agrabinta, dan daerah Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi. Kami berjalan beriringan berbanjar satu-satu, dan tidak boleh melampaui leader yang paling depan, harus tetap bersama-sama dan saling menjaga. Cuana panas menyengat tak menyurutkan semangat kami ngaboseh dengan penuh keceriaan dan kekompakan, terlebih terobati oleh pemandangan alam tepi pantai, perkebunan dan hutan yang cukup menyejukan mengiringi perjalanan kami diikuti oleh mobil truk. Jalan relatif lancar, kondisinya juga relatif mulus dan rolling nanjak mudun ringan, meski beberapa ruas jalan rusak karena sedang perbaikan dan tak sedikit ada juga medan jalan yang berat dan menanjak. Baru beberapa kilometer, seorang teman mengalami masalah pada bagian sadelnya membuat dia tidak nyaman mengayuh sepeda karena banyak berhenti untuk memperbaiki posisi sadelnya yang selalu bergeser. Akhirnya diakalin sementara agar


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham sedikit nyaman, meski kami harus berhenti dan menunggu lama. Setelah itu, kami pun meneruskan perjalanan. Seorang teman lain mengalami masalah di bagian rem depan. Akan tetapi karena akan memakan waktu lama jika diperbaiki, dia tetap asyik bersepeda dengan kondisi rem depan tidak berfungsi. Beberapa kali berhenti sejenak untuk regrouping, istirahat atau salat. Saat makan siang kami berhenti di tengah perkebunan pohon jati dan memasak menu nasi goreng rendang. Setelah cukup lama, perjalananan kami pun dilanjutkan kembali. Beberapa peserta termaksuk saya di kejar anjing saat mengayuh meski tak terjadai hal-hal yang tidak diinginkan, malah terkesan jadi lucu. Saya yang phobia terhadap anjing suka mendadak ngabret kayuhan sepedanya saking ketakutan dan mendadak bisa melibas tanjakan, walau napas terengah-engah antara takut dan kelelahan. Jalan yang dilalui semakin berat. Salah seorang peserta sedikit melanggara aturan yang sudah disepakati dengan meninggalkan jauh rombongan. Hal itu membuat kami khawatir, terlebih komunikasi kurang lancar karena persoalan koneksi atau sinyal. Seorang teman juga kesehatannya sedikit terganggu karena masuk angin, membuat dia tidak nyaman bersepeda. Saya dan dua teman lainnya sudah mulai kelelahan fisik, sehingga kami memilih untuk diloading di kilometer 90-an, sementara yang lainnya melanjutkan perjalanan bersepeda. Hari menjelang senja, kami yang diloading tiba di tempat peristirahatan di halaman mini market di daerah sekitar Tegalbuleud. Sudah menunggu seorang teman yang tadi meninggalkan rombongan. Pas waktu Magrib, tibalah rombongan teman yang tetap mengayuh sepeda. Kami istirahat, salat dan makan bakso. Menegangkan


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Terlepas dari berbagai kendala dan insiden sepanjang perjalanan, kami benar-benar menikmati setiap kayuhan sepeda. Rasa lelah dan cuaca panas, tergerus oleh semangat bersepeda dan suasana alam yang menyenangkan. Karena sesuai kesepakatan bahwa tidak diperkenankan melakukan perjalanan bersepeda malam hari, kami memutuskan untuk diloading sampai Panenjoan pintu gerbang wisata Geopark Cileutuh. Awalnya akan bermalam di Curug Cikaso dan besoknya akan melanjutkan bersepeda menuju Panenjoan, tetapi lantaran kondisi jalannya cukup beurat dan banyak yang rusak, terutama di daerah Jampang, Surade dan Ciracap, serta lokasi yang dituju masih cukup jauh, diputuskan untuk diloading langsung sampai Panenjoan, Perjalanan cukup menegangkan karena berkali-kali mobil truk mengalami goncangan-goncangan hebat karena jalan berlubang, nanjak dan menurun. Tapi sang sopir tetap tenang mengendalikannya karena memang dia sudah terbiasa menghadapi hal seperti itu, namun bagi yang lainnya membuat sedikit panik dan tegang. Kami tiba di Panenjoan larut malam. Seusai makan malam di salah satu warung nasi, kami beristirahat. Ada yang tidur di mobil truk, ada yang di musala dan ada pula yang hammock-an. Cuaca lumayan dingin dengan desiran angin yang cukup besar. Banyak pengunjung yang masih berada dilokasi tersebut untuk sekedar makan dan berswafoto di depan tugu Geo Park Cileutuh. Ada juga beberapa kelompok yang memasang tenda di sana. Salam bersepeda. (bersambung). (back to boseh, Pikiran Rakyat Minggu, 9/7/2017) Ce’es Beurat Ulin ka Ciletuh (II-Tamat) : Pulang Membawa Kesan dan Sejuta Rasa Kamis (29/06) pagi yang begitu cerah di Panenjoan. Suasana berangsur-angsur ramai oleh pedagang dan pengunjung yang ingin menikmati suasana pemandangan alam indah mirip tebing keraton kalau di Bandung. Bedanya, Tebing Keraton dihiasi


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham hutan dan pegunungan, Panenjoan di Geopark Cileutuh dihiasi hutan dan lautan di kejauhan. Kabarnya, kawasan itu merupakan bekas dataran yang ambles pada zaman purba membentuk tapal kuda. Sayangnya, entah karena pengelolaan kebersihan kurang atau memang para pengunjung dan pedagangnya tidak sadar lingkungan, keindahan Tebing Panenjoan tersebut dikotori oleh sampah yang berserakan tepat dibibir tebing. Alhasil, tempat itu lebih mirip tebing tempat pembuangan sampah. Sedih dan miris melihat hal itu, saya pun mendokumentasikan sebagia bahan tulisan untuk disampaikan ke pihak-pihak terkait. Saat foto-foto di sana, kami berupaya memposisikan agar sampah tidak terlihat karena akan mengganggu hasilnya. Foto dok. Ce’es Beurat Kami bertemu teman, seorang pesepeda juga dari Bandung, yang tengah bertugas di kawasan Cileutuh. Kami pun mengeluhkan kondisi sampah yang mengotori kawasan wisata tersebut.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Setelah memasak dan sarapan pagi menu nasi putih, dadar telur dan gorengan balabala di salah satu pojok dekat tebing kawasan Panenjoan, kami berbaur dengan pedagang dan pengunjung yang makin ramai berseliweran. Kami bersiap untuk perjalanan bersepeda menyusuri Curug Awang dan Pantai Palangpang. Kali ini ketigabelas peserta termasuk yang membawa mobil truk ikut bersepeda. Mobil disimpan di halaman parkir rumah makan depan kawasan Panenjoan. Agak siang kami meluncur ke destinasi wisata. Seusai briefing terkait medan jalan yang cukup ektrim berupa turunan dan tikungan tajam, kami berdoa lalu mulai jalan sekitar setengah kilo meter menuju kawasan Curug Awang. Kami menghadapi jalan makadam berupa bebatuan dan tanah. Untungnya belum hujan, jadi tidak becek dan licin. Kondisi seperti itu berlangsung sepanjang kurang lebih 3-4 km hingga pintu gerbang kawasan curug Awang. Jalannya semakin menurun. Jalan menurun menuju pintu gerbang cukup menegangkan membuat kami memilih untuk menuntun sepeda, bahkan sepeda saya diparkirkan, tidak dibawa menuju curug. Dari pintu gerbang ke curug kami melewati jalan setapak yang sudah ditembok rapi, kurang lebih berjarak 500 meter.Sisi kiri berupa tebing dan sisi kanannya berupa jurang menuju sungai. Sepeda disimpan di gazebo yang kondisinya bernasib sama dengan di Panenjoan yaitu berserakan sampah, bahkan semua sudut gazebo dipenuhi vandalisme. Teman-teman memilih berada diatas curug atau air terjunnya, tdak kebawah. Saya dan seorang teman menunggu di gazebo. Curug Awang lumayan besar, sungainya luas, serta pemandangannya yang memukau. Seusai foto-foto di kawasan itu, kami kembali bersepeda ke Pantai Palangpang. Sebelum meluncur, kami beristirahat karena kelelahan melalui jalan bebatuan lumayan panjang. Seorang teman harus memperbaiki sepedanya yang sejak dari cidaun tanpa rem depan. Apalagi medan jalan yang akan dihadapi berupa turunan dan tikungan tajam sepanjang kurang lebih 15 kilometer.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Turunan Ekstrim Sekali lagi kami diingatkan oleh leader kami bahwa jalan yang akan dilalui cukup ekstrim. Dihimbau bagi yang tidak merasa percaya diri melalui turunan tajam lebih baik menuntun sepedanya. Kenyataannya, hampir semua meluncur dengan santai. Seorang rekan meluncur cepat lantaran kondisi dan jenis sepedanya yang memang nyaman digunakan untuk kebut-kebutan. Kecuali saya, yang gaya bersepedanya teramat santai, sejak diturunan dan tikungan pertama menuntun sepedanya. Saya masih trauma karena pernah mengalami kejadian lima tahun silam yaitu rem blong diturunan Bumi Herbal Dago sehingga terjatuh hingga dada dan wajahnya terluka dan bibirnya sobek. Di turunan berikutnya saya memberanikan diri mengayuh sepeda malah hampir mengalami musibah yang sama. Remnya kendor sehingga nyaris kehilangan kendali. Sedikit panic saya mengarahkan sepeda ketengah karena jika ke sisi kanan akan membentur tebing, sedangkan ke sisi kiri dipastikan akan kejurang. Saya menahan dengan kaki kirinya, yang terdengar hanya suara kernyitan ban dan sepatu. Untungnya, tidak ada kendaraan yang meluncur. Kejadian tersebut saya ceritakan kepada lima teman yang tengah bersitirahat disebuah warung yang berdiri diatas tebing yang curam. Sementara ketujuh teman lainnya sudah jauh meninggalkan kami . Kami memang merasa lelah dan sedikit repot dengan medan jalan yang berat tersebut. Bahkan saya berniat tidak akan melanjutkan perjalanan, akan balik arah menuju Panenjoan dan akan menunggu sendirian di sana. Cukup lama kami beristirahat dan makan bakso di warung itu sambil membicarakan keputusan apa yang akan diambil oleh kami, meneruskan perjalanan, kembali ke Panenjoan atau diloading menuju pantai Palangpang. Sebenarnya, kebanyakan memang sudah agak malas meneruskan bersepeda. Pucuk dicinta ulam tiba, sang pembawa mobil datang dibonceng


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham motor seorang warga. Dia tidak melanjutkan bersepeda karena kondisi jalan yang berat. Sehingga dia berhenti ditengah jalan lalu memohon seorang warga mengantarkannya mengambil mobil. Sepedanya ia titipkan di warung warga, meninggalkan enam orang yang sudah semakin jauh mendekati kawasan pantai. Akhirnya diputuskan kami akan dievakuasi saja menuju pantai Palangpang. Rencana awalnya setelah menikmati pantai akan kembali ke Panenjoan. Akan tetapi, kami memilih berkemah dipantai Palangpang hingga esok hari. Hari menjelang sore, kami akhirnya dievakuasi. Ditengah perjalanan, kami berhenti menemui teman – teman pesepeda yang tengah beristirahat di masjid dan warung desa. Tak lama, perjalanan dilanjutkan. Yang bersepeda tetap mengayuh sepedanya dan yang dievakuasi melanjutkan dengan truk. Tercemar Sampah Kami yang tiba lebih dulu di pantai lalu mencari spot yang nyaman. Setelah itu, kami bersantai dan foto-foto dipantai. Masih sempat kebagian suasana sunset. Setelah azan Magrib, teman-teman yang bersepeda tiba dan bergabung dengan kami bermainmain dipantai. Sempat juga kami main bola dipantai saat gelap. Ternyata, laut dan pantainya tak seindah yang kami bayangkan. Ombaknya cukup besar dan bergelombang dengan airnya berwarna hitam dan kecoklatan tak sejernih yang di Cidaun. Yang lebih miris, kondisi pantainya bernasib sama dengan tebing Panenjoan yaitu tercemar sampah, terutama sampah kemasan makanan dan minuman, padahal banyak tempat sampah sudah tersedia meskipun terlihat begitu layak. Ditambah kesulitan kamar mandi dan air bersih serta musala yang dibiarkan terbengkalai begitu saja dengan kamar-kamar kecilnya yang rusak, kotor dan bau.Dengan terpaksa kami tetap mendirikan tenda, jauh dari lokasi kamar mandi yang ada. Beberapa teman memilih untuk tidak mandi.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Jum’at (30/6/2017) pagi, kami bersiap-siap berangkat setelah makan pagi dengan menu nasi dan cumi lada hitam. Kami akan diloading hingga pulang ke Bandung melalui jalan yang sama. Ditengah perjalanan, kami bertemu pesepeda kota Sukabumi yang tengah bersepeda touring ke kawasan Geopark Cileutuh. Sambil istirahat, kami bersilaturahmi dan foto bersama. Kami ikut numpang mandi di kamar mandi sebuah Masjid daerah Ciracap, sekaligus istirahat dan salat Jum’at di sana. Kami benar-benar memanfaakan waktu untuk bersih-bersih tubuh terutama bagi teman-teman yang sejak Rabu tidak mandi. Setelah salat Jum’at, perjalanan kami lanjutkan. Karena kemalaman, kami bermalam lagi di pantai Cipandak Cidaun atau pantai yang kami sebut dengan sebutan pantai “Marimar”. Ada yang berceloteh bahwa bermalam di tempat itu lagi lebih disebabkan modus ingin bertemu si Teteh yang disandingkan dengan wajah Marimar. Hampir larut malam kami tiba. Untugnya si Aa masih terjaga dan mengizinkan kami untuk bermalam di sana lagi. Karena kelelahan, usai makan malam dengan mie kuah, nasi dan telor kornet, kami beranjak tidur , ada yang sudah tidur lebih awal ada yang dini hari baru bisa tertidur. Sabtu ,(1/7/2017), kami siap pulang menuju Bandung. Sebelum berkemas, kami menyempatkan bermain-main di pantai dan muara sungai, baik berenang maupun bermain bola. Lalu kami makan dengan menu nasi putih, kepiting rebus, dan sate keong sawah (tutut) yang kami dapatkan diarea empang. Setelah itu, kami pamitan pulang. Saat tengah di masjid untuk salat Zuhur, kami bertemu dengan dua pesepeda dari Tangerang yang terdiri dari ayah dan anak. Keduanya bersepeda dari Pangandaran menyusuri pantai selatan dan akan berakhir di Cileutuh. Selain touring, mereka juga punyai misi membagikan mukena dan sarung untuk masjid-masjid yang disinggahi.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Perjalanan kami lanjutkan menuju Curug Cikaso. Hampir menjelang sore kami tiba di lokasi wisata tersebut. Sejenak kami menikmati suasananya yang saat itu ramai oleh pengunjung. Curugnya lumayan indah dan airnya bersih. Sayangnya, persoalan sampah juga tak bisa dielakan, meski tak separah di Panenjoan. Setelah merasakan ketegangan karena melalui jalan yang ekstrim dari Naringgul, Kabupaten Cianjur hingga perbatasan dengan Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung , kami beristirahat dan ngopi di warung diiring turunnya kabut tebal. Saat Magrib, kami tiba di Ciwidey kota, kemudian melalui jalak Harupat serta Taman Kopo Indah Soreang dan akhirnya tiba di pusat Kota Bandung pada pukul 20.30. Setelah beres-beres hingga larut malam, kami pun menuju rumah masing-masing dengan membawa sejuta rasa, baik rasa lelah,seru, senang, bercampur rasa kecewa, sedih atau marah. Salam Bersepeda. (tamat). (back to boseh, Pikiran Rakyat Minggu, 16/7/2017) Foto dok. Ce’es Beurat


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham 4. Foto Kegiatan Bersepeda di Tempat Jauh NO Foto Nama Kegiatan Tempat dan Tahun 1 Main sepeda sewa Foto : Dokpri Kawasan Candi Borobudur, Juli 2010 2 Ngaprak ngabuburit di pelosok desa Foto: dokpri Kec. Pasawahan Kab. Purwakarta Juli 2013 + - 10km 3 Bersepeda Mengiringi calon pengantin pria (Andre Speed) Foto : dokpri Cipageran, Kota Cimahi Februari 2014


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham 4 Ngaprak Tea Bike bersama Roda Anging Smansa Bdg Perkebunan teh Rancabali – Situ Patengang Maret 2014 + - 22 km 5 Gowes Jurnalist on Bike, Greeners Jkt – Bali Foto : dokpri Baluran – Katapang, Jawa Timur September 2014 6 Sepedahan seputar area Jamnas #2 MTBFI , tuan rumah Bandung (FBI) Foto : Dokpri Buper Ranca Upas, Ciwidey, Kab. Bdg. Oktober 2014 7 Sepedahan lintas perkebunan. Fedarta Foto : Sigit Hadmono Cikumpay – Cibungur – Cikopo – Babakan Cikao, Purwakarta


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham 8 Gowes Ngabeu beunah manah olangan Foto: Dokpri Wanayasa, Kab. Purwakarta Oktober 2015 + - 26 km 9 Bike Edukasi Sampah, Greeneration Indonesia Foto : dokpri Bantar Gebang, Bekasi Januari 2016 10 Tour de Puncak , Puma Pwk Purwakarta – Puncak (hanya gowes saat dari Puncak ke Bogor sj) 11 Bersepeda City tour dan Adventure serta camping di Jamnas #3 MBFI Kediri, Jawa Timur Mei 2016


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham 12 Bike to Tempat Shalat Ied, Foto : dokpri Malangbong Juni 2017 13 Bersepeda Kampanye Eco Transport & GPS, Bdg Eco Transport Foto : Dokpri Kota Solo, Jawa Tengah Agustus 2017 14 Bersepeda malam Eco Transport Foto ; Kurnia Mulyana Kota Jogja Agustus 2017


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham 15 Bersepeda menjelang Pernikahan Agus SH Love Sopa Foto : Dokpri Seputar Alun2 Cikajang, Kab. Garut April 2018 16 Bersepeda Eco Transport. Bdg Eco Transport Foto : dokpri Surabaya, Jawa Timur Februari 2019 17 Bersepeda City Tour Syawalan Purwakarta Mei 2021 18 #biketokama nawae Beib, Bersepeda City Tour awal tahun Foto : Kaman Danu Purwakarta Januari 2022


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham 19 #biketokama nawae Beib, Gowes Silaturahmi Boseh Smart Pandemi Katapang – Astana Anyar – Pasar Kordon Ngaboseh Diketinggian 1200 Mdpl Foto dokpri


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Bahagia itu sederhana, yaitu ketika saya menjadi salah satu jadi peserta dari chapter Bandung (Federal Bandung Indonesia) pada perhelatan besar yaitu Jambore Nasional ke-3 Mtb Federal Indonesia di Kediri Jawa Timur selama tiga hari, Jum’at – Minggu, 20-21 Mei 2016. Apalagi saya ditugaskan sebagai kordinator lapangan, mengatur dan mengarahkan sekitar 70 orang, mulai dari sejak persiapan, perjalanan menggunakan kereta menuju Kediri , dilokasi kegiatan, hingga perjalanan kembali ke Bandung. Kebahagiaan itu semakin meningkat, ketika saya bisa mengikuti rangkaian kegiatan terutama bersepeda city tour dan Fun Adventouring serta berkemah. Saya bisa bersilaturahmi dengan pesepeda lain dari berbagai daerah di Indonesia. Sebelum berangkat ke Kediri, pesepeda dari Federal Bandung Indonesia (FBI) melakukan beberapa kegiatan bersepeda pra jamnas sebagai latihan fisik. Sayangnya, saya tak bisa mengikuti semua kegiatan tersebut karena berada di Purwakarta. Sebagai latihannya, saya pun bersepeda sendirian dari Purwakarta menuju Bandung, kurang lebih sepanjang 65 kilometer melintasi jalur Ciganea – Darangdan – Sawit – Cikalong Wetan – Padalarang – Cimahi terkahir di kawasan Terusan Pasteur kota Bandung. Kegiatan bersepeda tersebut dilakukan lima hari sebelum hari keberangkatan menuju kota Kediri. Semua berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti dengan tetap ngaboseh santai menikmati perjalanan sepanjang Purwakarta dan Bandung. Diperhelatan Jambore Nasional ke-3 Federal Indonesia, kegiatan bersepeda dihari pertama dimulai dari tempat menginap yaitu di Pondok Pesantren Wali Barokah menuju depan Stadion Brawijaya untuk start mengelilingi Kota dan Kabupaten Kediri menuju Simpang Lima Gumul, kawasan tempat berdirinya bangunan atau landmark salah satu icon Kediri. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Ponpres untuk sholat Jumat.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Sepeda yang saya gunakan yaitu Federal jenis Alley Cat milik teman dari Penikmat Federal Karawang (Pendekar). Sepeda Federal saya tidak dibawa sehubungan masih perbaikan usai dari Tambora, setahun yang lalu. Seusai sholat Jum’at dan makan siang, perjalanan boseh dilakukan kembali menuju tempat berkemah di bantaran sungai Brantas, sebagai tempat dilaksanakannya pembukaan Jamnas. Ekstrim dan Menegangkan Dihari kedua inilah kegiatan ngaboseh fun adventouring yang sebenarnya. Saya dan ratusan peserta lainnya mengayuh sepeda dari ketinggian 40 meter di atas permukaan laut menuju area 1200 mdpl, dengan trek cukup berat, ekstrim dan menegangkan. Banyak tanjakan dan tikungan tajam dengan sisi kanan tebing yang rawan longsor atau lembah yang curam. Sepeda yang saya gunakan kali ini adalah Federal jenis pathfinder milik teman pesepeda dari Fbi yang hanya mengikuti jamnas sehari saja. Start dari bantaran sungai Brantas melintasi daerah Semen dan beberapa kawasan wisata Goa Selopanggung dan Gereja Tertua. Pesepeda sudah disuguhi perjalanan yang cukup membuat nafas terengah-engah, selain cuaca panas menyengat, jalannya naik turun hingga menuju pos satu di Lebak Tumpang Semen Poh Sarang. Di pos satu ini, awalanya untuk sarapan, tapi karena jaraknya terlalu jauh dan medannya cukup berat, banyak yang sampai menjelang siang, bahkan tak sedikit yang sudah berguguran dan dievakuasi karena kelelahan. Saya berhasil tiba meski kesiangan karena banyak berhenti usai menanjak, hal itu juga dilakukan oleh puluhan peserta lainnya. Dari pos satu menuju pos dua, perjalanan makin berat, tanjakan tiada berhenti. Saya melanjutkan dengan kondisi masih fit meskipun lelah tergambar diwajah. Trek makin meninggi. Matahari masih menyengat meskipun sudah mulai terasa aroma udara pegunungan. Sebelum mencapai pos dua, banyak peserta yang akhirnya


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham menyerah dan dievakuasi. Saya bertahan menempuh perjalanan sampai akhirnya bisa mencapai pos dua di kawasan Metro. Perjalanan semakin dihadapkan pada jalur yang berat. Banyak tanjakan yang menikung tajam. Di jalur ini ada tanjakan yang berhasil saya lampau ada pula yang tidak sanggup saya gapai dan menggunakan jurus TTB (tun-tun bike) atau menenteng sepeda. Namun saya tetap melanjutkan bersepeda dan tidak tergoda untuk dievakuasi, karena merasa kondisi kaki cukup baik untuk tetap mengayuh sepeda. Sudah semakin banyak peserta yang tidak melanjutkan perjalanan dan memilih untuk dievakuasi. Hari semakin sore dan nuansa pegunungan semakin terasa. Kabut terasa dingin dan mencekam. Saya sekaligus merasa takjub bisa mengayuh sepeda di atas pegunungan dengan hamparan lembah yang curam dan bukit menghijau. Menjelang senja, perjalanan terhambat oleh perbaikan jembatan, ditambah hujan turun meski tidak terlalu besar. Saya tetap bertahan dan melanjutkan perjalanan hingga mencapai pos tiga selepas Magrib. Dipos tiga. saya beristirahat melepas lelah cukup lama sambil berfikir apakah akan melanjutkan bersepeda menuju finish di kawasan wisata air terjun Dolo Besuki, sebagai tempat untuk berkemah dan rangkaian penutup acara jamnas. Karena rasa lelah yang hebat ditambah kondisi yang tidak memungkinkan, hari sudah malam, jarak tempuh sepanjang empat kilo lagi serta jalan yang tetap ekstrim , saya memilih dievakuasi bersama ratusan peserta lain. Ada juga yang nekad bersepeda disuana malam yang dingin dan mencekam tersebut. Sejak siang sebenarnya sudah banyak peserta yang sudah mencapai lokasi finish terutama bagi mereka yang memang benar-benar tangguh dalam menempuh perjalanan bersepeda jauh dan berat, padahal banyak diantara mereka yang terbebani dengan barang bawaan disepeda.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Meskipun tak berhasil ngaboseh hingga finish, saya tetap bangga bisa melampau tiga pos dengan kondisi tubuh yang sangat lelah tetapi tak mengalami kram atau terjatuh. Saya melampauinya dengan lancar walau tak seutuhnya dikayuh terutama pas tanjakan dan turunan yang curam. Saya benar – benar menikmati perjalanan bersepeda saat itu tanpa keluh kesah, tetap tersenyum ceria dan bahagia. Salam boseh dan go green. Pesepeda. (back to boseh, Pikiran Rakyat Minggu. 29/5/2016) Boseh Jelajah Kota Solo Foto dokpri Dalam rangka menuju #IndonesiaBersepeda, para pesepeda dari berbagai komunitas atau gerakan lingkungan daerah senusantara, berupaya mewujudkannya dengan melakukan kegiatan kampanye bersepeda yang mengundang pegiat sepeda dari daerah lain. Pertengahan bulan Juli 2017, Kota Bandung melalui gagasan Bandung Eco Transport melaksanakan kegiatan menuju Indonesia bersepeda yang di hadiri oleh pesepeda dari Surabaya. Lalu pada 19 – 20 Agustus 2017, giliran Kota Solo mengundang pesepeda dari Kota Bandung, Surabaya dan Semarang.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Kegiatannya bertema gowes Jelajah Kota Solo (Gojeks) yang digagas oleh sebuah gerakan bernama Kota Kita dan salah satu komunitas pesepeda Kota Solo yatu Solo Ngepit. Acara diisi berbagai rangkaian kegiatan, yaitu bersepeda wisata dan edukasi, service sepeda, gerakan pungut sampah dan sharing session. Saya mewakili Bandung Eco Transport ikut serta menghadiri kegiatan di kota Solo tersebut bersama empat teman lainnya. Mereka adalah satu orang dari kalangan wirausahawan, dua orang dari Bike to Campus Unpas, dan satu orang dari Jajaran Dinas Perhubungan Kayuh Sepeda (Jadikasep). Kami berlima menggunakan kendaraan dan membawa lima sepeda boseh Dinas Perhubungan Kota Bandung untuk digunakan kami di sana. Meluncur Jum’at malam melalui jalur utara. Beberapa daerah disinggahi sebagai tempat istirahat. Tiba di Kota Solo pagi hari, kami mengalami sedikit kesulitan mencari lokasi yang dituju yaitu sebuah penginapan tempat temen-teman dari Surabaya Cyclist Institute (Subcyclist) berda. Akhirnya, kami memilih istirahat dan bersepakat menuju sekretariatan Kota Kita, karena teman-teman dari Surabaya akan menuju kesana untuk mengambil sepeda pinjaman dari teman-teman Solo. Kami lebih dulu tiba di Kota Kita yang disambut ketua gerakan Kota Kita, yang kami panggil Akang Fuad karena dia aslinya orang Garut yang sudah sekian lama malang melintang di Kota Solo. Sambil menunggu teman-teman dari Surabaya, kami beristirahat sambil berbagi pengalaman dengan Kang Fuad. Berangsur-angsur teman-teman dari Surabaya berdatangan. Beberapa menit kemudian kami bersepeda bersama menuju tempat penginapan untuk bersitirahat dan persiapan ikut dalam kegiatan bersepeda malam jelajah Kota Solo. Selepas Isya, kami menuju Stadion Manahan yang merupakan stadion bersejarah sebagai tempat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama tahun 1948. Kami berkumpul di selasar depan pintu gerbang stadion. Sudah menunggu puluhan


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham pesepeda dari beberapa komunitas pesepeda Kota Solo dan dua perwakilan dari Bike to Work Semarang. Tertib Setelah kumpul semua, breefing dan berdo’a, perjalanan bersepeda malam pun dimulai. Bertindak sebagai marshall adalah teman-teman komunitas pesepeda Solo Ngepit dan sebagai pemandu wisata berasal dari Kota Kita. Kami bersepeda beringan menyemarakkan beberapa ruas jalan Kota Solo di waktu malam, dengan tetap berjalan tertib dan mematuhi peraturan lalulintas. Ikon Kota Solo yang pertama dikunjungi adalah Keraton Kesunanan Surakarta, merupakan salah satu objek wisata utama kota ini yang sebagian kompleknya dijadikan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesunanan. Bangunan keraton ini merupakan arsitek istana Jawa tradisoanal terbaik. Lalu, perjalanan bersepeda berlanjut menuju Benteng Vastenburg, benteng peninggalan Belanda, yang dulunya sebagai tempat pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta. Kami beristirahat cukup lama sambil menikmati angkringan. Seusai menikmati malam, perjalanan bersepeda keliling Kota Solo dilakukan hingga menuju tempat finis di penginapan tempat kami dimana dari Bandung dan Surabaya bermalam. Rangkaian kegiatan Gowes Jelajah Kota Solo dilanjut kesokan harinya, Minggu (20/8/2017). Diawali bersepeda menuju car free day (CFD) Jalan Selamet Riyadi Solo, di sana sudah ada stand service ringan sepeda komunitas Solo Ngepit. Bayaran setiap kali yang mau service berupa sampah unorganik seperti kertas dan plastik. Sebelumnya kami bersama-sama melakukan kegiatan gerakan pungut sampah sekitar area CFD dan mampir juga di depan rumah dinas Walikota Solo atau di sana menyebutnya Loji Gandrung untuk sekedar foto-foto. Setelah di CFD, kami kembali bersepeda mengelilingi Kota Solo dengan mengunjungi beberapa ikon Kota Solo lain, yaitu Taman Sriwedari, Gedung Bank Indonesia, Balai


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Kota, Taman Monumen Banjarsari dan berakhir di Taman Burung Balekambang. Selanjutnya kami menuju Sekretariatan Kota Kita sebagai tempat istirahat dan sharing session masalah transportasi dan gerakan menuju Indonesia bersepeda, sekaligus sebagai penutup rangkaian kegiatan Gowes Jelajah Kota Solo. Saya sempat bertemu teman aktivis lingkungan Earth Hour Solo angkatan 2012 dan seorang pesepeda dari komunitas pesepeda Robek Bekasi, Jawa Barat asal kota Solo yang kemudian bergabung mengikuti kegiatan bersepeda Jelajah Kota Solo. Di Kota Kita kami kembali ke tempat penginapan untuk bersiap-siap pulang. Setelah cukup lama beristirahat dan beres-beres, menjelang senja kamu pun pamitan dan meluncur pulang menuju kota Bandung melalui jalur selatan. Memanfaatkan kesempatan melakukan perjalanan, kami singgah di Kota Yogyakarta. Kami bersepeda menyusuri Monumen Jogja, Stasion Tugu, Jalan Malioboro hingga Keraton Jogja. Tak lupa kami berfoto-foto dan menikmati suasana malam ditempat angkringan dekat stasion kereta api Tugu. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan pulang larut malam hingga tiba di wilayah Jawa Barat, pagi hari. Kami singgah di Jembatan Kereta Api Cirahong Kabupaten Ciamis dan area wisata Kampung Naga Tasikmalaya. Akhirnya, kami tiba di kota Bandung menjelang magrib. Meskipun terasa lelah tapi kami sangat menikmati perjalanan sejak pergi hingga pulang dan senang bisa mengikuti kegiatan kreatif dan positif di kota Solo yang telah membawa kesan tersendiri terutama bagi dua orang pesepeda dari Bike to Campus Unpas yang baru aktif bersepeda sudah diajak kegiatan di tempat jauh. Salam boseh dan go green. Bandung Eco Transport. (back to boseh, Pikiran Rakyat Minggu, 19/11/2017).


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Penutup Alhamdulillah, buku kumpulan foto kegiatanku bersepeda ke berbagai bertajuk Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa telah rampung disusun meski secara amatiran dan masih terlalu banyak kekurangan dan kesalahannya. Terimakasih kepada seluruh teman pesepeda individu dan komunitas pesepeda baik yang berbasis hobi maupun gerakan yang telah mengajak saya berpetualang bersepeda ke berbagai trek, tempat atau daerah. Karenanya, berbagai pengalaman seru tersebut saya kumpulkan dalam buku ini guna sebagai dokumentasi pribadi. Lebih jauhnya, berharap bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi yang lainnya terutama pegiat sepeda di mana saja berada. Terimakasih tak terhingga saya haturkan pula buat para nara sumber konten tulisan dan foto yang mohon maaf dengan sangat tidak bisa saya sebutkan satu persatu Hatur nuhun. Salam Gowes dan Go Green. Cuham Bersepeda itu Baik


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Tentang Saya Saya Cuham , begitu banyak orang memanggil, akronim dari Cucu Hambali nama asli saya. Kelahiran Bandung 1971. Bersepeda sejak tahun 2008 diawali sebagai hobi, rekreasi, gowes ke tempat kerja dan sekarang untuk moda transportasi aktivitas kemana saja. Pendidikan formal hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMA) di SMA Pasundan 2 Bandung. Pekerjaan pertama adalah di PT Putra Asia Perdana Indah ( California fried Chicken Bandung) tahun 1992 – 1995. Fasilitator Rukun Warga Lembaga Koordinator Wilayah (lemkorwil) Jabar tahun 1998. Tahun 2005 – 2014 menjadi Petugas Pembantu Pencatat Nikah (P3N) Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Mulai aktif bekomunitas dan bersosialisasi sejak tahun 1996 sampai dengan 2011. Kepemudaan (Karang Taruna, Pemuda Muhammadiyah, BKPRMI), Fasilitator Pembangunan (Aspek, Tamarici, divisi Tata Ruang program Sawarung), Keagamaan (Madrasah , Muhammadiyah, DKM, Forum P3N), sosial kesehatan ( Fitrah Community, LSM lokal terkait HIV/AIDS dan Narokoba), dan Sosial Kemasyarakatan ( ketua RT, Pengurus RW). Selanjutnya setalah memasuki aktivitas dunia sepeda, transportasi, dan lingkungan menjadi lebih sering terlibat dalam program-program kerelawanan atau surveyor dan kajian. Riwayat tentang penulisan khususnya tentang gerakan bersepeda yang pertama di surat kabar harian umum halaman Back to Boseh, Pikiran Rakyat Minggu, 2012 – 2018, selanjutnya di Portal Sepeda Indonesia, 2019 – 2021, Metrum media, 2020 sampai sekarang, dan Kompasiana, 2021 sampai sekarang.


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham Riwayat buku, Novel Beib, Bersepeda itu Baik “Kisah Goweser Galau” (2013), KUMPULAN TULISAN AKTIVITAS BERSEPEDA, Bandung Menulis “Bergerak Tak Berasap” oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung (2018) Judul artikelku : Gerakan Eco Transport. KUMPULAN TULISAN AKTIVASI TROTOAR, Bandung Menulis “Tak Lelah Melangkah” oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung (2019) Judul artikelku : Ngaboseh di Trotoar. KUMPULAN TULISAN ARTIKEL BACK to BOSEH, Bunga Rampai Tulisanku di halaman B2B HU Pikiran Rakyat Minggu, Tahun 2012 – 2018 (2020), DIARY, 1 Dekade Perjalanan Bersepedaku tahun 2008 – 2018 (2021), NOVEL, Bersepeda Mengejar Asa dan Cinta (2022) Salam Boseh dan Go Green Cuham Bersepeda Itu Baik. Foto : Hasnan Ardiansyah


Kumpulan Foto Kegiatanku Bersepeda ke Berbagai Tempat Rekam Jejak Petualangan Bersepeda dari Masa ke Masa – Cuham


Click to View FlipBook Version