Di sebuah desa hiduplah keluarga sederhana yang terdiri dari ibu dan dua anaknya,
bernama Farel dan Ana. Sejak Farel berumur 10 tahun, Ayahnya meninggalkan keluarga
selama- lamanya karena sebuah penyakit yang berbahaya. Setiap hari ibu Farel mencari nafkah
untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak sedikit. Dengan menjadi buruh cuci baju dan
menjual kue disetiap sore, ibu Farel berjuang untuk menghidupi kedua anaknya.
Farel merupakan anak pertama sekaligus seorang kakak dalam keluarganya. Diumur
Farel yang ke 15 tahun ini, dia merasa mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membantu
mencukupi kebutuhan keluarga setelah ditinggal oleh ayahnya. Sehingga dia selalu membantu
ibunya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Disisi lain dia merupakan
seorang siswa yang juga harus bersekolah setiap hari. Di sekolah dia juga mempunyai
kewajiban menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya. Farel tidak pernah mengeluh atas
tanggung jawab yang dia punya. Farel selalu membantu menjualkan kue ibunya disetiap sore
sepulang sekolah. Farel sangat kasihan jika melihat ibunya bekerja sendirian, dia merelakan
waktu bermainnya untuk membantu ibunya berjualan.
Sore ini langit terlihat gelap dan angin bertiup sangat kencang, Farel duduk di bawah pohon
untuk menunggu pembeli. Dia menengok ke kanan dan ke kiri tidak ada tanda- tanda satu
orangpun yang akan lewat didepannya.
“Sepertinya akan turun hujan, sedangkan kue jualanku masih banyak” ujar Farel
Farel sangat sedih karena kue milik ibunya sama sekali belum terjualkan. Jika Farel pulang
sekarang, maka dia pulang dengan tangan kosong.
“Yaudah deh, aku mau keliling ke desa sebelah barangkali kue ibuku terjual habis” ucap Farel
dengan semangat.
Tik..tik..tikk..
Masih beberapa langkah dari tempat duduk farel tadi, tetesan air mulai turun dari langit dan
menghancurkan semangat Farel untuk melanjutkan berjualan. Dia berlari meneduh dan
mengamankan jualannya kedalam pos kamling.
“Jika aku lanjutkan berkeliling ke desa sebelah, nanti kue jualan ibu akan rusak terkena air
hujan” ucap Farel.
Sambil menunggu hujan reda, Farel duduk termenung didalam pos kamling. Dia memikirkan
kue jualan ibunya jika tidak habis akan dibawa kemana. Karena jika tidak habis maka ibunya
akan rugi karena tidak balik modal.
Waktu terus berjalan, hari sudah semakin petang tetapi hujan masih belum menunjukkan akan
berhenti.
“Gimana ini sudah mau maghrib tetapi hujan masih belum reda” ucap Farel dengan sedih.
Karena terlalu lelah, secara tidak sadar Farel tertidur didalam pos kamling. Farel tidur dengan
meringkuk karena udara yang dingin dan baju yang dipakai hanyalah kaos tipis biasa sehingga
tidak memberikan kehangatan kepada tubuh Farel.
Di rumah, Ibu Farel dan Ana, adik Farel, sedang menunggu kehadiran Farel. Tidak
seperti biasa Farel pulang hingga larut malam. Ibu Farel sangat khawatir dan merasa bersalah
apalagi diluar sedang hujan deras pasti udara sangat dingin.
“Dek, dimana ya kakak kamu kok belum pulang?” ucap Ibu Farel
“Pasti kakak lagi neduh bu, kan kakak tidak bawa payung” jawab Ana
“Kasihan kakak kamu pasti lapar dan kedinginan. Berangkat menjual kue tadi dia tidak sempat
makan” ucap Ibu Farel dengan khawatir
Di dalam pos kamling, Farel dibangunkan oleh seorang pria yang akan menjaga pos kamling
untuk ronda malam.
“Dek..Dek bangun sudah malam” ucap pria parubaya tersebut
“Maaf pak saya ketiduran disini karena tadi menunggu hujan berhenti” jawab Farel
“Sekarang hujannya sudah berhenti, segera pulang ya nanti dicari orang tua kamu” suruh Bapak
itu
“Iya pak” jawab Farel.
Ketika sedang mengemasi kue jualannya dan mau beranjak pergi dari pos kamling, bapak
tersebut memberhentikan kegiatan Farel.
“Jualan apa kamu” tanya bapak tersebut
“Ini pak, saya jualan kue. Bapak mau beli? Kue jualan saya masih banyak pak soalnya tadi
hujan” jawab Farel dengan nada sedih.
Karena merasa kasihan dengan farel, Bapak ini membeli tiga kue jualan Farel.
“Iya saya beli tiga kue ini ya, berapa totalnya?”
“Boleh pak, totalnya 8 ribu” jawab Farel dengan bergembira karena akhirnya ada yang
membeli kuenya meskipun hanya beberapa kue yang dibeli.
Setelah itu, Farel segera pergi dari pos kamling. Dia memilih untuk pulang karena hari sudah
terlalu malam.
Ditengah perjalanan menuju rumah, tiba- tiba ada sebuah mobil berhenti didepan Farel
sehingga mencegah langkah kakinya. Seorang ibu-ibu parubaya keluar dari mobil tersebut.
“Wah kebetulan sekali kita bertemu disini, saya sudah mencari kamu dari sore hari tapi masih
bertemu sekarang. Saya mau beli kue apakah masih ada?”
"Ada ibu, masih banyak" jawab Farel dengan semangat
'Saya beli semuanya ya, berapa totalnya" ucap ibu tersebut
"Wahh beneran bu?” jawab Farel dengan mata berbinar
"Iya dek"
"Totalnya 45 ribu bu" ucap Farel dengan memberikan kue yang sudah dibungkus
"Ini uangnya, kembaliannya kamu ambil aja ya” jawab Ibu tersebut dengan memberi uang 100
ribu.
"Bu ini banyak sekali lebihnya" ucap Farel dengan bingung
"Tidak apa- apa, kamu bawa saja” jawab Ibu tersebut sambil pergi menuju mobilnya
“Terima kasih banyak ya bu” ucap Farel dengan sangat senang karena akhirnya kue jualan
ibunya habis dan mendapatkan uang lebih banyak.
Farel berjalan melanjutkan perjalanan menuju rumahnya dengan semangat. Dia tidak sabar
memberikan kabar baik ini untuk ibu dan adiknya. Sampai di rumah, Farel sudah disambut oleh
Ibunya diteras depan rumahnya.
“Kamu dari mana saja nak, jam segini baru pulang" tanya ibu Farel
“Pembeli hari ini sepi jadi aku menunggu di pos kamling sambil menunggu hujan berhenti bu.
Tapi ibu jangan khawatir, kue jualan sudah terjual habis” jawab Farel
“Lain kali, kalau hari sudah mulai petang segera pulang ya. Yaudah sekarang bersih- bersihlah
kemudian makan, ibu sudah menyiapkan makanan di meja makan” ucap Ibu Farel
“Baik bu”
Setelah mandi dan makan, Farel menuju ke kamar tidur untuk beristirahat. Ketika mau
memejamkan matanya, Farel teringat tugas sekolahnya yang akan dikumpulkan besok pagi.
Dengan hati yang berat dan mata yang mengantuk, dia segera mengambil bukunya dan
mengerjakan tugas agar lebih cepat selesai.
Setelah menyelesaikan tugas, Farel menuju tempat tidur untuk beristirahat, karena tubuh yang
lelah dia sangat cepat terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya, Farel berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolah
nya lumayan jauh sehingga dia harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat masuk sekolah.
Waktu menunjukkan pukul 06.55 dan Farel hampir saja telat masuk sekolah. Pelajaran akan
segera dimulai sehingga Farel segera duduk dibangkunya. Mata pelajaran pertama pada hari
ini yaitu Seni Budaya.
"Selamat pagi anak- anak, berjumpa lagi dengan mata pelajaran Seni Budaya. Hari ini kita akan
membahas mengenai seni kriya" ucap Bu Santi
Setelah Bu Santi, guru mata pelajaran Seni Budaya selesai menjelaskan materi. Beliau
memberikan tugas pembuatan kerajinan seni kriya secara berkelompok yang terdiri dari 4
orang.
Farel berkelompok bersama dengan Doni, Sarah dan Ayu. Ketika sepulang sekolah Sarah
mengajak mereka untuk mengerjakan tugas kerajinan tangan ini di rumahnya.
“Yuk kita kerjain di rumah ku” ucap Sarah
“Ayo biar cepat selesai” jawab Ayu
“Setuju” saut Doni
“Ehmm, maaf temen- temen hari ini aku tidak bisa ikut kerja kelompok karena perut ku sakit”
ucap Farel
“Baiklah Farel tidak apa- apa, cepat sembuh ya!” jawab Sarah
“Hati – hati dijalan Farel” ucap Doni
“Enak banget Farel tidak ikut kerja kelompok” ucap Ayu dalam hati
Ketika semua teman kelompoknya sudah mengizinkan, Farel berjalan dengan cepat menuju ke
rumahnya karena hari sudah mulai sore dan dia harus menjualkan kue milik ibunya.
Sesampainya di rumah, Farel bersih- bersih dan mengganti seragam sekolahnya menjadi baju
yang biasa digunakan di rumah.
“Apa kue nya sudah siap bu?” tanya Farel
“Sudah nak, hati- hati dijalan. Jangan pulang terlalu malam ya!” jawab ibu Farel sambil
memberi kue didalam wadah yang akan dijual.
“Iya bu, Farel berangkat jualan dulu” ucap Farel dengan menjabat tangan ibunya untuk
berpamitan
Di rumah Sarah, Doni dan Ayu sedang mengerjakan tugas kelompok. Kelompok mereka
berencana untuk membuat vas bunga terbuat dari botol dan kantong plastic. Doni sedang
memotong botol yang digunakan sebagai pot, Sarah dan Ayu memotong kantong plastic yang
berwarna untuk membuat bunga.
“Enak banget ya Farel nggak ikut kerja kelompok” ucap Ayu memecahkan keheningan mereka.
“Kan Farel sedang sakit, tidak apa- apa dia izin dulu. Nanti kalo belum selesai tugasnya, kan
Farel bisa ikut ngerjain” jawab Doni
“Iya, nanti kita bagi tugas ke Farel” ucap Sarah
Karena hari sudah mulai sore, mereka mengakhiri kerja kelompok hari ini. Ayu berjalan sendiri
pulang menuju rumahnya, dijalan dia sangat tidak suka jika Farel tidak ikut kerja kelompok
dan teman kelompoknya memberi izin kepada Farel. Sehingga muncul pemikiran jahat untuk
memfitnah Farel.
“Bagaimana kalau besok aku akan memberitahu ke Doni dan Sarah jika sebenarnya Farel tidak
sakit perut, melainkan dia sedang bermain bersama temannya. Pasti mereka marah ke Farel”
ucap Ayu
Sementara di sepanjang jalan, Farel berharap kue jualannya habis karena Ana meminta uang
untuk membeli buku. Sore ini tampak banyak orang di lapangan kampung sebelah tempat Farel
tinggal. Ternyata ada perlombaan sepak bola. Farel hanya termenung melihat anak laki- laki
seusianya yang dapat bermain sepak bola. Dia sangat suka dengan sepak bola, tetapi tidak ada
waktu untuk sekedar bermai. Panggilan dari seseorang membuyarkan lamunan Farel. Ada
seorang ibu yang mau membeli kue jualannya. Dengan senang hati Farel melayani pembeli
kuenya.
“Nak, beli kue nya” ucap pembeli tersebut
“Iya, buk silahkan dipilih dulu” jawab Farel
Setelah memilih kue yang diinginkan, ibu tersebut membayar kemudian pergi.
“Ayo buk, pak dibeli kue nya, jangan sampai kehabisan” ucap Farel menawarkan kue nya
kepada orang- orang disekitarnya.
Karena banyak orang yang menonton perlombaan sepak bola tersebut, tampak kue dagangan
Farel sudah banyak terjual. Hanya tinggal 4 kue saja. Karena hari sudah mulai petang dan
mendung, Farel tidak mau terjebak hujak lagi seperti kemarin sehingga dia bergegas pulang
meninggalkan lapangan sepak bola tadi.
Keesokan harinya, Ayu menuju tempat duduk Sarah dan Doni yang kebetulan bersebelahan.
“Hai Sarah, Doni. Aku mau ngasih tau ke kalian tentang Farel” ucap Ayu
“Ada apa Yu?” jawab Sarah
“Sebenarnya kemarin Farel tidak sakit perut, dia bermain di rumah temannya. Farel berbohong
supaya tidak ikut kerja kelompok di rumah Sarah” ucap Ayu
“Hah apa benar itu Yu. Kamu tahu darimana?!” tanya Doni dengan perasaan jengkel
“Iya, temen ku kebetulan bermain sama Farel kemarin dia bercerita” jawab Ayu
“Kita harus memarahi Farel karena dia sudah berbohong” ucap Doni
“Jangan Doni, kita tidak perlu memarahi dikelas. Kita akan ajak Farel kerja kelompok lag ikan
tugas kita belum selesai” ucap Sarah
Doni kemudian duduk kembali ke bangkunya, begitupun juga Ayu.
Hari ini Farel berangkat ke sekolah lebih pagi karena takut seperti kemarin dia hampir telat
masuk sekolah. Sesampainya di kelas dia heran dengan Doni yang tidak menyapa Farel seperti
biasanya. Ayu merasa kurang puas karena ide untuk memfitnah Farel tidak membuat Doni dan
Sarah memarahi Farel.
Kring..kring..kring
Bel sudah berbunyi, tanda akan dimulainya pelajaran pada pagi hari ini. Guru mata pelajaran
pertama di kelas Farel sudah memasuki kelas. Semua siswa memperhatikan guru dan mengikuti
kegiatan pembelajaran dengan tenang hingga selesai.
Sepulang sekolah, Ayu mengajak untuk kerja kelompok lagi karena tugas kelompok belum
selesai. Hari ini Ayu mengajak untuk mengerjakan di rumahnya. Tetapi Farel kembali izin
untuk tidak mengikuti kerja kelompok lagi. Doni merasa kesal dan tidak bisa menahan
amarahnya.
“Farel kamu jangan seenaknya sendiri. Ini tugas kelompok harus dikerjakan bersama- sama,
kamu tidak pernah mau ikut kerja kelompok. Kemarin berasalan sakit perut ternyata kamu
bermain ke rumah temanmu, sekarang kamu beralasan apalagi!” ucap Doni dengan marah
“Maaf Doni, apa yang kamu bilang itu tidak benar” jawab Farel
“Aku tidak percaya sama kamu Farel” ucap Doni
“Farel kamu kenapa selalu tidak mau ikut kerja kelompok, kemarin sudah kita beri izin karena
perutmu sakit. Hari ini juga kamu tidak mau ikut kerja kelompok” ucap Sarah
Ayu merasa senang karena rencananya berhasil karena Doni dan Sarah sudah memarahi Farel.
Setelah memarahi Farel, Doni dan Sarah meninggalkan Farel di kelas.
Farel sangat bingung, mengapa Doni berkata seperti itu. Memang benar Farel berbohong
sedang sakit perut agar tidak mengikuti kerja kelompok karena untuk berjualan bukan bermain
dengan temannya.
Bu santi yang mendengar ada keramaian segera mendatangi ruang kelas. Setelah
memasuki kelas terlihat Doni yang sedang marah kepada Farel.
“Ada apa ini, kenapa kalian bertengkar?” tanya Bu Santi
“Doni marah kepada Farel karena dia tidak pernah mengikuti kerja kelompok, Bu” jawab Sarah
“Apa benar itu Farel?” tanya Bu Santi kepada Farel
“Benar Bu, tetapi yang dibilang Doni tentang alasan saya tidak mengikuti kerja kelompok itu
tidak benar. Saya memang berbohong kepada teman- teman dan bilang kepada mereka bahwa
aku sakit perut agar bisa tidak mengikuti kerja kelompok. Sebenarnya setiap pulang sekolah
saya harus membantu ibu untuk menjual kue” jawab Farel dengan lirih
Sarah dan Doni terkejut mengenai alasan yang sebenarnya mengapa Farel tidak mengikuti kerja
kelompok. Ayu yang mendengar penjelasan Farel khawatir karena takut rahasianya terbongkar.
“Tetapi kata Ayu, kemarin kamu tidak mengikuti kerja kelompok karena sedang bermain di
rumah temanmu. Apakah kamu berbohong, Yu?” tanya Doni kepada Ayu
“Emmm iya maaf teman-teman aku sudah memfitnah Farel. Aku merasa iri karena Farel bisa
tidak mengikuti kerja kelompok. Sedangkan, kita kerja kelompok hingga sore hari” jawab Ayu
“Sebaiknya kamu tidak boleh melakukan hal seperti itu Ayu. Farel kan bisa nanti dibagi tugas
karena tidak bisa ikut kerja kelompok. Dan untuk Farel, membantu orang tua memang hal yang
baik tetapi kamu juga menjadi seorang murid, menyelesaikan tugas merupakan tanggung
jawabmu. Jadi, tidak boleh jika kamu lari dari tanggung jawab kamu sebagai murid” ucap Bu
Santi
“Iya Bu Santi, teman- teman aku minta maaf ya karena telah tidak mengikuti kerja kelompok
kemarin” ucap Farel
“Tidak apa- apa Farel, kami juga meminta maaf karena telah menuduh kamu” jawab Sarah
“Farel aku sangat meminta maaf karena telah memfitnah kamu” ucap Ayu sambil
menundukkan kepala
“Iya Ayu” jawab Farel
“Karena kalian sudah meminta maaf, Bu Santi mempunyai saran agar kalian mengerjakan
ketika Farel sudah selesai berjualan” ucap Bu Santi
“Terima kasih Bu Santi, kami akan kerja kelompok ketika Farel selesai berjualan saja agar
lebih cepat selesai karena anggotanya lengkap” jawab Sarah
“Baiklah kalau begitu Bu Santi pergi dulu ya”
Setelah Bu Santi keluar kelas, mereka berdiskusi untuk melanjutkan kerja kelompok lagi.
“Teman- teman kalau nanti malam kerja kelompoknya bisa semuanya ya?” tanya Sarah
“Iya bisa Sarah” jawab Farel
“Oke, kita kerja kelompok di rumah ku aja” ucap Doni
“Setuju” jawab Ayu
Setelah berjanjian untuk kerja kelompok melanjutkan tugas kerajinan tangan yang belum
selesai, mereka beranjak dari ruang kelas untuk pulang ke rumah masing- masing.
Di perjalanan, Farel tampak lelah setelah menghadapi kejadian yang tidak terduga tadi. Dia
telah difitnah oleh temannya sendiri. Farel juga merasa bersalah karena kurang memperhatikan
tugasnya menjadi seorang murid. Dia akan lebih bisa mengatur waktunya lagi untuk
menyelesaikan tugasnya menjadi seorang anak untuk membantu ibunya dan tugas menjadi
seorang murid di sekolah.