The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ikawi7aya, 2022-07-04 07:35:25

Modul pelestarian

Modul pelestarian

Keywords: pelestarian

MODUL
DIGITALISASI KOLEKSI TERTULIS DAN TERCETAK
PELATIHAN PELESTARIAN INFORMASI BAHAN PERPUSTAKAAN

Penyusun
Novi Murdiyanti, S.Kom., M.P.
Abdul Wakhid, S.Kom., M.P.

Editor
Moh. Kodir, S.Sos., MSi

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
2019





DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ..............................................Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................... 2
DAFTAR ISI ......................................................................................................... 4
BAB I.................................................................................................................... 6
PENDAHULUAN.................................................................................................. 6

A. Latar Belakang ................................................................................... 6
B. Deskripsi Singkat................................................................................ 7
C. Fungsi dan Manfaat Modul ................................................................. 8
D. Tujuan Pembelajaran.......................................................................... 8
E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok................................................... 9
BAB II................................................................................................................. 10
KONSEP ALIHMEDIA DIGITAL KOLEKSI TERTULIS DAN TERCETAK ........... 10
A. Pengertian ........................................................................................ 10
B. Tujuan................................................................................................11
C. Manfaat............................................................................................. 12
D. Rangkuman ...................................................................................... 12
E. Evaluasi............................................................................................ 13
BAB III................................................................................................................ 16
BAHAN KOLEKSI TERTULIS DAN TERCETAK ................................................ 16
A. Karakteristik dan Perlakuan Bahan Koleksi Kertas........................... 16
B. Karakteristik dan Perlakuan Bahan Koleksi Non Kertas ................... 19
C. Rangkuman ...................................................................................... 23
D. Evaluasi............................................................................................ 24
BAB IV ............................................................................................................... 27
PERANGKAT ALIHMEDIA DIGITAL................................................................... 27
A. Kamera............................................................................................. 27
B. Scanner ............................................................................................ 33
C. Rangkuman ...................................................................................... 39
D. Evaluasi............................................................................................ 40
BAB V ................................................................................................................ 43
TAHAPAN PENGALIHMEDIAAN KOLEKSI TERTULIS DAN TERCETAK......... 43
A. Pengambilan Objek .......................................................................... 43
B. Konversi dan Penyuntingan Hasil Alih Media Digital......................... 50

C. Aktualisasi hasil alih media digital..................................................... 65
D. Rangkuman ...................................................................................... 67
E. Evaluasi............................................................................................ 69
BAB VI ............................................................................................................... 72
PENUTUP.......................................................................................................... 72
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 73
BIODATA PENULIS............................................................................................ 75
TES SUMATIF.................................................................................................... 77

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Koleksi adalah suatu istilah yang digunakan secara umum untuk
menyatakan sumber daya informasi yang ada di atau untuk menyatakan
bahan perpustakaan (BP) apa saja yang harus diadakan di perpustakaan.
Secara khusus dalam UU No. 43 Tahun 2007 menyatakan bahwa koleksi
perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak,
dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai
pendidikan yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Karya cetak adalah hasil
pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk cetak. Karya noncetak
adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan tidak dalam bentuk cetak
seperti buku atau majalah, melainkan dalam bentuk lain seperti rekaman
suara, rekaman video, rekaman gambar dan sebagainya. Seiring berjalanya
waktu BP akan mengalami perubahan secara fisik yang pada akhirnya
berdampak pada akses informasi pada BP tersebut. Supaya fisik BP tetap
terawat dan informasi yang terkandung di dalamnya tetap dapat diakses,
maka perlu pelestarian fisik dan pelestarian informasi. Salah satu metode
pelestarian informasi yaitu dengan melakukan digitalisasi koleksi tercetak
dan nontercetak ke dalam format digital. Melalui proses digitalisasi, sebuah
perpustakaan menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi pelestarian dan
fungsi informasi. Fungsi informasi, perpustakaan menyediakan berbagai
informasi untuk masyarakat sedangkan fungsi pelestarian dengan digitalisasi
kandungan informasi menjadi terjaga, bisa digunakan dalam jangka waktu
yang lama dan diharapkan lebih banyak pemustaka dapat mempergunakan
BP format digital. Digitalisasi koleksi perpustakaan baik yang tercetak atau
nontercetak merupakan langkah yang tepat di era Industri 4.0 dimana pada
era ini terjadi fenomena yang mengkolaborasikan teknologi cyber, teknologi
otomatisasi, teknologi informasi dan teknologi digitalisasi yang didukung
dengan mudah serta relatif murah dalam penerapan teknologi tersebut. Pada

sisi lain di era ini terjadi pergeseran pola pencarian informasi dari cara
manual yaitu mencari informasi dengan bersentuhan langsung dengan
koleksi aslinya, beralih menjadi sistem digital yaitu sistem pencarian
informasi dengan sistem digital secara online. Kaum milenial merupakan
jumlah terbesar pencari dan pengguna informasi perpustakaan dalam format
digital di era ini. Sangat disadari kaum milenial adalah generasi yang lahir di
era Industri 4.0 sebagai generasi melek digital atau yang sering disebut
digital native generation. Perubahan generasi dan perubahan pola pencarian
informasi merupakan tantangan tersendiri bagi perpustakaan dalam
memenuhi tuntutan kebutuhan para penggunanya. Jawaban atas tuntutan
kebutuhan informasi perpustakaan salah satunya dengan mendigitalkan
koleksi BP ke dalam format digital dan dilayankan dalam bentuk online. Hal
terpenting dalam proses digitalisasi adalah koleksi apa yang akan digitalkan,
alat apa yang akan digunakan, bagaimana prosesnya dan seperti apa
hasilnya serta bagaimana pemanfaatannya. Modul ini akan mengantarkan
bagaimana cara melakukan digitalisasi yang baik dan benar dengan
menggunakan kamera digital dan scanner untuk BP tercetak maupun tertulis
baik yang tertuang dalam bahan kertas atau nonkertas. Materi disajikan
secara singkat dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami yang
dilengkapi dengan gambar dengan tujuan supaya mudah dipahami dan
diikuti. Secara umum materi ini terbagi menjadi tiga kategori, yaitu: teknik
menggunakan dan seting alat pemindai seperti kamera dan scanner; teknik
mengolah format digital dari format RAW sampai menjadi JPG; teknik
kompilasi file JPG menjadi format PDF dengan penambahan watermark dan
menambahkan fitur sehingga karakter yang ada dapat dikenali/pengenalan
karakter optik (OCR).

B. Deskripsi Singkat
Mata pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan dan
keterampilan tentang konsep alih media digital koleksi tertulis dan tercetak,
bahan koleksi tertulis dan tercetak, perangkat alih media digital dan tahapan

pengalihmediaan koleksi tertulis dan tercetak menggunakan pembelajaran
orang dewasa dengan metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan
praktik.

C. Fungsi dan Manfaat Modul
Fungsi modul:
1. Sebagai bahan ajar mandiri dalam meningkatkan kemampuan peserta
pelatihan untuk belajar sendiri tanpa tergantung kepada kehadiran
pendidik;
2. Sebagai pengganti fungsi pendidik, peserta pelatihan dapat
mempertajam pemahamannya selain dengan menyimak penjelasan dari
pendidik dapat juga dengan membaca modul yang ada;
3. Sebagai alat evaluasi, peserta pelatihan dituntut untuk dapat mengukur
dan menilai sendiri tingkat penguasaannya terhadap materi yang telah
dipelajari;
4. Sebagai bahan rujukan bagi peserta pelatihan, karena modul
mengandung materi yang harus dipelajari oleh peserta pelatihan.

Manfaat modul:
1. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran guna

mencapai tujuan pembelajaran secara optimal;
2. Untuk mempermudah dalam memberikan feedback sehingga peserta

dapat mengetahui taraf hasil belajarnya sehingga jika ada kesalahan
segera dapat diperbaiki.

D. Tujuan Pembelajaran
Kompetensi Dasar:
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta mampu melakukan
pengalihmediaan koleksi tertulis dan tercetak.

Indikator Keberhasilan:
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta dapat:
1. Menjelaskan konsep alih media digital koleksi tertulis dan tercetak;
2. Menjelaskan bahan koleksi tertulis dan tercetak;
3. Menjelaskan perangkat alih media digital;
4. Melakukan tahapan pengalihmedian koleksi tertulis dan tercetak.

E. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok
Materi Pokok I: Konsep alih media digital koleksi tertulis dan tercetak
Submateri:
1. Pengertian
2. Tujuan
3. Manfaat

Materi Pokok II: Bahan koleksi tertulis dan tercetak
Submateri:
1. Bahan koleksi kertas; topik bahasan (karakteristik dan perlakuan)
2. Bahan koleksi nonkertas; topik bahasan (karakteristik dan perlakuan)

Materi Pokok III: Perangkat alih media digital
Submateri:
1. Kamera; dengan topik bahasan (ISO, Diafragma, Shutterspeed)
2. Scanner; dengan topik bahasan (Mode, Resolusi, Format)

Materi Pokok IV: Tahapan pengalihmediaan koleksi tertulis dan
tercetak
Submateri:
1. Pengambilan objek dengan kamera dan scanner
2. Penyuntingan hasil alih media digital
3. Konversi dan kompilasi file master dan akses
4. Aktualisasi tampilan hasil alih media digital koleksi tertulis dan tercetak

BAB II
KONSEP ALIHMEDIA DIGITAL KOLEKSI TERTULIS DAN

TERCETAK

Indikator Keberhasilan: Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta dapat menjelaskan
konsep alih media digital koleksi tertulis dan tercetak

Salah satu komponen perpustakaan adalah koleksi. Banyak jenis koleksi di
perpustakaan, jika dilihat dari bahannya secara garis besar koleksi terbagi atas
koleksi kertas dan nonkertas, dan jika dilihat dari cara menuliskan informasinya
dibedakan menjadi dua yaitu koleksi tertulis (seperti naskah), dan koleksi
tercetak (seperti majalah, buku, surat kabar dll). Semakin lengkap dan memadai
koleksi yang ada di perpustakaan, maka perpustakaan akan memberikan
layanan yang lebih baik kepada masyarakat penggunanya (pemustaka), karena
pada dasarnya tugas utama setiap perpustakaan adalah membangun koleksi
yang kuat demi kepentingan pemustaka.

A. Pengertian
Koleksi pada perpustakaan memegang peranan penting dalam memenuhi
kebutuhan informasi bagi pemustaka, karena produk utama yang ditawarkan
oleh sebuah perpustakaan adalah ketersediaan koleksi yang lengkap.
Menurut UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, yang dimaksud
dengan koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya
tulis, karya cetak, dan/ atau karya rekam dalam berbagai media yang memiliki
nilai pendidikan yang dihimpun, diolah dan dilayankan.

Alih media digital/digitalisasi bahan pustakaan merupakan salah satu upaya
pelestarian (preservation) kandungan informasi dari koleksi perpustakaan.
Alih media merupakan proses digitasi yaitu proses alih media dari media
cetak atau tertulis seperti buku, majalah, koran, foto, naskah dan gambar ke
dalam bentuk data digital yang dapat direkam, disimpan dan diakses melalui
komputer atau media digital lainnya. Kegiatan pelestarian merupakan hal

yang sudah tidak asing lagi di perpustakaan, sudah lama dilakukan untuk
memelihara, melindungi, serta menjaga bahan pustakaan tersebut agar tidak
rusak. berbagai cara kegiatan pelestarian informasi dapat dilakukan,
tergantung bentuk bahan pustakaan apa yang menjadi objek pelestariannya,
apakah berbentuk dokumen tertulis, koleksi tercetak, karya elektronik,
mikrofilm, dan sebagainya. Pelatihan ini pembahasan alih media digital hanya
meliputi koleksi tertulis dan tercetak.

Berbagai alasan yang mendasari dilakukannya pelestarian informasi pada
bahan perpustakaan dengan melakukan alih media digital, salah satunya
untuk melindungi isi informasi yang terdapat di dalam suatu bahan
perpustakaan agar tidak musnah dan tetap dapat diakses oleh pemustaka.
Suatu bahan pustakaan perlu adanya pemindahan isi informasi ke dalam
media tertentu, pemindahan isi informasi tersebut dapat dilakukan dengan
cara alih media digital (digitalisasi) bahan pustakaan.

B. Tujuan
Alih media digital merupakan suatu proses yang kompleks dan terdapat
manfaat yang dapat diwujudkan dari berbagai jenis kegiatan ini. Tujuan dari
institusi melakukan alih media digital koleksi perpustakaan adalah:
1. Memelihara fisik dan nilai informasi bahan perpustakaan langka.
Digitalisasi adalah suatu upaya agar bahan perpustakaan asli tidak
mengalami kerusakan, dan menjaga nilai yang terkandung dalam bahan
pustakaan seperti nilai historis, dokumen langka, koleksi kuno dan
sebagainya. Jika suatu bahan pustakaan dialihmediakan dari bentuk
analog menjadi bentuk digital dengan hasil yang berkualitas baik, maka
kegiatan digitalisasi dapat memelihara bahan pustaka asli tersebut.
2. Meningkatkan akses. Biasanya bahan perpustakaan yang dipilih untuk
digitalisasi adalah bahan perpustakaan yang tergolong langka atau unik.
Bahan perpustakaan dalam bentuk analog biasanya akan disimpan
secara hati-hati dan hal itu akan menyebabkan bahan pustakaan tersebut
menjadi sesuatu yang spesial sehingga aksesnya terbatas, dengan

adanya digitalisasi pada bahan perpustakaan tersebut, maka aksesnya
akan menjadi lebih luas sehingga tidak terbatas hanya pada kalangan
tertentu saja.

C. Manfaat
Banyaknya ancaman kerusakan pada bentuk fisik yang mengakibatkan
hilangnya isi informasi, maka perlu untuk dilakukan proses pelestarian salah
satunya alih media digital. Adanya kegiatan alih media digital dalam
pelestarian koleksi, memberikan keuntungan bagi perpustakaan diantaranya:
1. Melindungi dan mewakili sumber asli
2. Mudah dan hemat dalam penyimpanan koleksi digital
3. Mudah dalam pengelolaan dan cepat dalam proses temu kembali
4. Membantu penyebaran (disseminasi) informasi dan media promosi
kebudayaan bangsa
5. Menjadikan konten digital lebih interaktif (multimedia) dan mudah
penggandaan (back up)

D. Rangkuman
Beberapa jenis koleksi di sebuah perpustakaan diantaranya adalah bahan
perpustakaan dalam bentuk tertulis seperti naskah dan koleksi dalam bentuk
tercetak seperti buku, majalah, surat kabar, dll. Konsep digitalisasi koleksi
tertulis dan tercetak pada prinsipnya melestarikan kandungan informasi
dengan tujuan memelihara fisik dan informasinya sehingga dapat digunakan
dalam waktu yang lama. Manfaat digitalisasi diantaranya melindungi dan
mewakili sumber asli, mudah dan hemat dalam penyimpanan koleksi digital,
mudah dalam pengelolaan dan cepat dalam proses temu kembali, membantu
penyebaran (disseminasi) informasi dan media promosi kebudayaan bangsa,
menjadikan konten digital lebih interaktif (multimedia) dan mudah
penggandaan (back up).

E. Evaluasi
1. Yang termasuk kategori koleksi tertulis….
a. Buku
b. Manuscrift
c. Surat kabar
d. Peta
e. Audio Visual
2. Yang dimaksud dengan koleksi perpustakaan adalah …
a. Semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya ilmiah, dan/ atau
karya rekam
b. Semua informasi dalam bentuk karya sastra, karya cetak, dan/ atau
karya rekam
c. Semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/
atau karya rekam
d. Semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/ atau
karya budaya
e. Semua informasi dalam bentuk karya ilmiah, karya budaya, dan/
atau karya sastra
3. Kaset video salah satu informasi dalam bentuk…
a. Karya tulis
b. Karya cetak
c. Karya sastra
d. Karya rekam
e. Karya ilmiah
4. Proses pengubahan format dari tertulis atau tercetak ke bentuk digital
disebut…
a. Elektronisasi
b. Digitalisasi
c. Transformasi
d. Transliterasi
e. Alih media

5. Alasan mendasar dilakukannya proses alih media digital adalah…
a. Mengambil isi informasi
b. Melindungi isi informasi
c. Memanfaatkan isi informasi
d. Menduplikasi isi informasi
e. Menyebarkan isi informasi

6. Dengan digitalisasi secara langsung atau tidak langsung kondisi fisik dan
informasi koleksi terpelihara, hal ini sesuai dengan…
a. Manfaat digitalisasi
b. Tujuan digitalisasi
c. Fungsi digitalisasi
d. Sasaran digitalisasi
e. Pengaruh digitalisasi

7. Salah satu tujuan digitalisasi yaitu menigkatkan akses. Meningkatkan
akses artinya…
a. Akses murah dan hemat
b. Akses bebas dan leluasa
c. Akses efektif dan efisien
d. Akses mudah dan cepat
e. Akses aman dan nyaman

8. Manfaat digitalisasi yang terkait dengan koleksi itu sendiri adalah…
a. Melindungi dan mewakili sumber asli
b. Mudah dan hemat dalam penyimpanan koleksi digital
c. Mudah dalam pengelolaan dan cepat dalam proses temu kembali
d. Membantu penyebaran (disseminasi) informasi dan media promosi
kebudayaan bangsa
e. Menjadikan konten digital lebih interaktif (multimedia) dan mudah
penggandaan (back up).

9. Manfaat digitalisasi yang terkait dengan pengelolaan adalah …
a. Melindungi dan mewakili sumber asli
b. Mudah dan hemat dalam penyimpanan koleksi digital

c. Mudah dalam pengelolaan dan cepat dalam proses temu
kembali

d. Membantu penyebaran (disseminasi) informasi dan media promosi
kebudayaan bangsa

e. Menjadikan konten digital lebih interaktif (multimedia) dan mudah
penggandaan (back up).

10. Salah satu keunggulan koleksi digital adalah…
a. Luwes
b. Fleksibel
c. Menarik
d. Interaktif
e. Praktis

Jawaban
1. B
2. C
3. D
4. B
5. B
6. A
7. D
8. A
9. C
10. D

BAB III
BAHAN KOLEKSI TERTULIS DAN TERCETAK

Indikator Keberhasilan: Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta dapat menjelaskan
bahan koleksi tertulis dan tercetak

A. Karakteristik dan Perlakuan Bahan Koleksi Kertas
Kertas adalah bahan yang tipis, yang berasal dari pulp dengan cara
dikompresi. Jenis kayu yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan
kertas adalah kayu papyrus, mulbery dan pinus. Serat yang digunakan
biasanya alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Kertas dikenal
sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak
kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas
pembersih yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun keperluan
toilet. Sebelum ditemukan kertas, orang dahulu menggunakan loh dari
lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria,
Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan
daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah nusantara
beberapa abad lampau. Kertas pertama kali diperkenalkan pada peradaban
Mesir Kuno menggunakan papirus sebagai media tulis menulis. Penggunaan
papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada masa firaun
kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut
Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus
masih dirasakan mahal.

Kata papirus (papyrus) dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris,
papier dalam bahasa Belanda, Jerman, Perancis, atau papel dalam bahasa
Spanyol yang berarti kertas. Negara Indonesia, kertas pertama kali telah di
buat di Ponorogo sejak abad ke 7 yang terbuat dari kulit kayu pohon. Kertas
yang telah dibuat ponorogo dipergunakan sebagai menulis para biksu yang
belajar agama budha di kerajaan Sriwijaya karena cocok pada daerah tropis.

Namun meskipun sudah dapat membuat kertas, Ponorogo tidak menuliskan
peristiwa pada kertas, melainkan pada sebuah lempengan tembaga pada
temuan abad ke 9 di desa Taji tentang peristiwa keagamaan Budha. Kertas
buatan ponorogo digunakan sebagai media melukis wayang beber, yang
menjadi cikal bakal dari wayang kulit. Kertas buatan Ponorogo digunakan
untuk menulis kitab suci Al-Quran pada pesantren Tegalsari yang diasuh
oleh K.H Khasan Besari. Sampai saat ini media kertas sangat umum
digunakan untuk menyampaikan informasi tertulis, baik yang ditulis dengan
tangan (manuskrip) atau yang dicetak dengan alat. Setiap bahan kertas
memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda sesuai dengan jenis bahan
yang digunakan dan proses pembuatannya. Setiap perpustakaan
mempunyai koleksi, dan koleksi yang ada di setiap perpustakaan sebagian
besar bahan koleksinya terbuat dari kertas. Koleksi yang ada di
perpustakaan harus dirawat, dijaga dan jika perlu diperbaiki atau direstorasi
dengan tujuan supaya koleksi tersebut dapat dimanfaatkan sepanjang masa.

Digitalisasi salah satu upaya melestarikan koleksi dari sisi informasinya,
sedangkan konservasi, restorasi salah satu upaya penyelamatan koleksi dari
sisi fisiknya. Pelestarian fisik maupun informasi harus dilakukan dengan cara
yang benar dan tepat, supaya tidak terjadi kesalahan yang berakibat
merusak atau menghilangkan informasinya. Salah satu metode untuk
melakukan digitalisasi yang tepat sehingga menghasilkan format digital yang
maksimal yaitu dengan mengenal karakteristik kertas dan cara perlakuannya.
Berikut karakteristik kertas dan metode perlakuannya yang harus diketahui
sebelum melakukan proses digitalisasi.

Ada berbagai faktor yang menentukan kualitas hasil akhir dokumen digital
atau berkas elektronik yang dialihmediakan dari bahan perpustakaan yang
berbahan kertas, dan salah satunya adalah jenis kertas yang memantulkan
atau menyerap cahaya. Hasil pemotretan sangat terpengaruh dari jenis
bahan oleh karena itu, sangat dianjurkan sebelum dialihmediakan harus
mengenal jenis serta karakteristik kertas koleksi tersebut selanjutnya
menentukan perlakuan yang akan dilakukan. Karakteristik koleksi berbahan

dasar dari kertas dalam kaitannya alihmedia digital, maka dapat dikelompokan
kedalam dua kategori yaitu: kertas yang bersifat memantulkan cahaya, dan
kertas yang bersifat menyerap cahaya.

1. Kertas yang memantulkan cahaya
Karakteristik kertas yang memantulkan cahaya biasanya permukaannya
licin, halus, mengkilap seperti artpaper, semi doff (matt papper),
art-karton, glossy foto paper, metalic paper (gambar III.a). Biasanya jenis
kertas ini digunakan untuk mencetak undangan doff, brosur, kalender,
cetak foto, kartu nama dll. Sifat kertas jenis ini sangat peka terhadap
cahaya sehingga dan mudah memantulkan cahaya. Jika suatu koleksi
ditulis pada jenis kertas ini maka perlakuan ketika mengambil gambar
dengan kamera digital adalah pengaturan cahaya dan posisi arah cahaya.
Salah satu perlakuan yang harus dilakukan adalah hindari sinar/cahaya
langung menghadap objek karena akan flashback yang menyebabkan
hasil pemontretan ada putih ditengah dan menghilangkan tulisan (gambar
III.b). Langkah yang tepat adalah mengurai cahaya dengan cahaya
modifier atau memantulkan ke tembok atau benda lain supaya cahaya
disebar dengan rata, sehingga hasil pemotretan tidak ada area putih yang
menghilangkan tulisan akibat cahaya pantul.

Gambar III.a. Gambar III.b.
Kertas memantulkan cahaya Pantulan cahaya ketika dipotret

2. Kertas yang menyerap cahaya
Karakteristik kertas yang menyerap cahaya biasanya permukaan lembut,
tidak licin, tidak mengkilap, doff, seperti HVS, silky paper, inkjet paper,
doff paper (gambar III.c). Jenis kertas ini sering digunakan untuk foto
copy dan mencetak dokumen, data kantor, makalah, buku, laporan,
skripsi dsb. Penggunaanya biasanya untuk mencetak dengan printer
inkjet, mesin fotocopy, laser jet dsb. Sebagian besar koleksi yang ada
diperpustakaan ditulis dengan jenis kertas dengan karakteristik seperti ini.
Jenis kertas seperti ini nyaris tidak ada kendala ketika pemotretan, namun
butuh pencahayaan yang benar-benar rata, karena jika cahaya tidak rata
sangat terlihat hasil pemotretan terkesan ada bagian yang terang dan
gelap. Pencahayaan ketika pemotretan bisa langsung diarahkan ke objek
atau mengggunakan cahaya modifier prinsipnya cahaya harus rata pada
objek yang akan dipotret.

Gambar III.c. Jenis kertas yang netral terhadap cahaya

B. Karakteristik dan Perlakuan Bahan Koleksi Non Kertas
1. Bahan dari daun atau batang tumbuhan
Keberadaan informasi sejak lama sudah ada, bahkan pada zaman pra
sejarah tentunya sangat berbeda dengan zaman modern. Pada zaman
prasejarah, informasi dituangkan kedalam bentuk benda-benda kuno
seperti diantaranya naskah yang ditulis pada batang tumbuhan seperti

bambu, lontar, dan rotan. Perubahan serta perkembangan bahan yang
digunakan masih terus berlangsung hingga sekarang sesuai dengan
berkembangnya teknologi. Catatan peristiwa atau ungkapan pikiran
sebagai hasil budaya masa lampau yang ditulis dengan menggunakan
tangan pada sebuah bahan tulisan seperti kertas, kulit kayu, bambu, rotan
dan lontar disebut naskah atau manuskrip (gambar III.d,e & f).

Gambar III.d. Manuskrip Gambar III.e. Manuskrip Rotan
Lontar Bambu

Gambar III.f. Naskah bambu

Naskah atau manuskrip ditulis dari bahan beragam. Naskah disebut juga
sebagai manuskrip. Naskah adalah bentuk fisik dokumennya, sedangkan
teks adalah tulisan atau kandungan isi yang terdapat di dalam naskat
tersebut. Definisi naskah menurut Rokhmansyah dalam buku teori filologi
adalah semua peninggalan tertulis nenek moyang pada kertas, lontar,
kulit kayu dan rotan. Nama lain untuk naskah adalah manuskrip. Kata
manu yang berarti tangan, dan scriptusx yang berarti menulis. Dalam
bahasa lain terdapat kata-kata bandschrift (Belanda), handschrift
(Jerman), dan manuschrift (Perancis).

Manuskrip dikatakan sebagai bentuk warisan budaya, hal ini dijelaskan
melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,

Bab III Pasal 5 yang menjelaskan mengenai kriteria cagar budaya,
diantaranya: berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; mewakili masa gaya
paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; memiliki arti khusus bagi
sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan;
dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Manuskrip
tidak hanya disebarluaskan kepada masyarakat, namun juga perlu
dilestarikan mengingat usia manuskrip yang sudah lebih dari 50 tahun.
Usia manuskrip yang sudah lebih dari 50 tahun, menjadikan kondisi
manuskrip rentan terhadap kerapuhan. Sehubungan dengan hal tersebut,
perlu dilakukan tindakan untuk meminimalisir ancaman terhadap
hilangnya informasi yang terkandung didalamnya.

Naskah ini berbentuk cembung, melingkar, memanjang dan mengkilap,
sehingga sangat menyulitkan ketika proses pemindaian dengan kamera.
Sifat yang mengkilat sangat peka terhadap cahaya sering terjadi hasil
pemotretan tidak maksimal karena ada warna putih efek dari pantulan
cahaya yang menyebabkan tulisan sebagian hilang. Metode untuk
mengatasi kendala ini dengan mengatur arah sudut cahaya yang benar
dan tidak memberi penyinaran langsung mengenai objek, tapi cahaya
harus disebar dulu dengan cahaya modifier atau memantukan ke tembok.

Bentuk naskah yang melingkar atau cembung sangat menyulitkan ketika
melakukan proses pemindaian. Hal umum yang sering terjadi adalah
fokus tidak merata, ada bagian yang terpotong, dan sebagian tulisan
mengalami distorsi. Kendala ini bisa diatasi dengan mengambil gambar
dari berbagai sudut kemudian bagian gambar yang terpisah disatukan
dengan aplikasi ketika melakukan proses pengeditan.

2. Bahan dari kulit, batu, tanduk
Perkamen adalah media untuk menulis yang dibuat dari kulit binatang,
seperti kulit sapi, kambing, biri-biri, domba, dan keledai (gambar III.g).
Perkamen digunakan sebagai halaman dalam sebuah buku kodeks
atau naskah. Perkamen berbeda dengan kulit yang dipakai sebagai

bahan. Meski perkamen dalam proses pembuatannya direndam di dalam
air kapur, perkamen tidak disamak. Sehingga perkamen peka terhadap
kelembaban udara dan tidak tahan air. Perkamen diambil dari nama kota
Yunani Pergamon atau Pergamos yang sekarang terletak di Turki dan
bernama Bergama. Perkamen ditemukan untuk pertama kalinya di kota
ini, pada era klasik, yaitu sekitar awal abad Masehi, menghasilkan
perkamen berkualitas tinggi. Sebelumnya perkamen telah digunakan
di Mesir dan Timur Tengah.

Gambar III.g. Naskah Kulit

Sifat dan karakteristik bahan kulit, batu, kayu dan kulit kayu biasanya
memiliki karakteristik tidak beraturan senderung berdimensi, doff,
menyerap cahaya, maka untuk manuskrip yang bentuknya multi
dimemensi seperti ini dialihmediakan dengan menggunakan scanner
tiga dimensi (3D scanner). Proses alih media file 3D ini biasanya juga
menggunakan scanner khusus, sehingga proses alihmedia menjadi
cepat, tepat, efisien sesuai dengan standar dan proses alur kerja alih
media. Untuk alihmedia tiga dimensi akan dibahas dalam mata
pelatihan alih media digital koleksi 3 dimensi.

C. Rangkuman
Pada umumnya bahan koleksi perpustakaan terbuat dari kertas dan non
kertas. Sifat dan karakteristik kertas secara umum terbagi atas dua yaitu
kertas yang memantulkan cahaya seperti glossy, foto paper dll. Jenis kertas
ini mempunyai permukaan licin atau mengkilap sehingga ketka dipotret
cenderung kurang maksimal karena biasanya ada efek cahaya pantul yang
menyebabkan sebagian tulisan tidak terlihat karena tertutup warna outih dari
efek cahaya pantul tersebut. Metode yang digunakan untuk menggambil
gambar jenis kertas ini dengan mengatur arah cahaya atau menyebar
cahaya dengan cahaya modifier sehingga cahaya yang datang tidak
langsung mengenai objek yang difoto. Koleksi yang terbuat dari bahan kulit,
batu, atau kulit kayu karakteristik secara fisik bentuk tidak teratur, berdimensi,
menyerap cahaya. Metode untuk mengambil gambar dari jenis bahan ini
dengan cara mengambil gambar dari berbagai sisi dan hasilnya digabungkan
sehingga menjadi satu kesatuan. Cara lain yaitu dengan menggunakan
scanner 3 dimensi.

D. Evaluasi
1. Secara umum bahan koleksi terdiri atas….
a. Buku dan non buku
b. Tertulis dan tercetak
c. Kertas dan non kertas
d. Suara dan gambar
e. Tumbuhan dan hewan
2. Bahan koleksi yang permukaannya licin/mengkilap biasanya bersifat …
a. Menyimpan cahaya
b. Menyerap cahaya
c. Merubah arah cahaya
d. Memantulkan chaya
e. Membelokan cahaya
3. Salah satu koleksi naskah berbahan kertas…
a. Daluang
b. Lontar
c. Kulit
d. Pelepah
e. Pita
4. Salah satu teknik memotret dari bahan yang memantulkan cahaya…
a. Menyinari langsung ke objek
b. Menyinari dari sudut tegak lurus
c. Menyinari dari sudut miring
d. Menyinari dari beberapa sisi
e. Memodifikasi sinar dengan modifier/memantulkan ke tembok
5. Cara mengambil gambar bahan yang tidak teratur/berdimensi adalah …
a. Mengambil gambar pada titik tertentu
b. Mengambil gambar dengan beberapa titik
c. Mengambil gambar pada jarak yang jaug
d. Mengambil gambar pada sudut tertentu
e. Mengambil gambar dengan fokus tertentu

6. Alat yang digunakan untuk mengambil gambar bahan yang berdimensi
tidak teratur…
a. Kamera biasa
b. Scanner 3D
c. Scanner flatbad
d. Scanner negatif
e. Scansnap

7. Bahan koleksi dari kulit biasanya berasal dari hewan…
a. Kambing
b. Kuda
c. Jerapah
d. Onta
e. Harimau

8. Kayu yang sering digunakan untuk membuat bahan kertas adalah…
a. Mahoni, jambu, jambe
b. Cemara, pinus, cengkeh
c. Sengon, bambu, karet
d. Payirus, mulbery, pinus
e. Cemara, randu, bambu

9. Perkamen salah satu media untuk menulis naskah, yang terbuat dari …
a. Kulit kayu
b. Bambu
c. Lontar
d. Bahan sintetis
e. Kulit binatang

10. Perkamen pertama kali digunakan di…
a. Belanda
b. Arab
c. Spanyol
d. Yunani
e. Mesir

Jawaban
1. C
2. D
3. A
4. E
5. B
6. B
7. A
8. D
9. E
10. E

BAB IV
PERANGKAT ALIHMEDIA DIGITAL

Indikator Keberhasilan: Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta dapat menjelaskan
perangkat alih media digital

A. Kamera
Kamera adalah alat optik yang dapat merekam suatu peristiwa atau kejadian
penting dalam bentuk gambar atau foto sehingga peristiwa dalam bentuk
gambar atau foto sehingga peristiwa itu dapat kita lihat kembali, atau dengan
kata lain kamera adalah seperangkat peralatan elektronik dengan
kelangkapan yang memiliki fungsi untuk mengabadikan suatu objek, atau
berfungsi untuk mengkonversikan sebuah objek menjadi gambar, yang
merupakan hasil proyeksi pada sistem lensa. Cara kerja kamera sama
seperti cara kerja mata, bayangan nyata dari sebuah objek/benda dibentuk
oleh lensa cembung pada kamera, kemudian bayangan nyata objek/benda
itu ditangkap oleh film kamera, dan film pada kamera berfungsi sebagai layar
untuk menangkap bayangan yang dibentuk oleh lensa (gambar IV.a).

Gambar IV.a. Sketsa kamera digital
(sumber https://www.fisikabc.com)

Pada film tersebut terdapat lapisan zat kimia yang peka terhadap cahaya.
Perubahan lapisan pada film kamera sesuai dengan cahaya yang datang,
karena cahaya yang datang membentuk bayangan nyata, maka perubahan

lapisan zat kimia sesuai dengan bentuk bayangan objek/benda. Kamera
merupakan alat yang paling pokok dalam dunia fotografi. Saat ini kamera
juga digunakan untuk membentuk atau merekam suatu bayangan kedalam
film. Kamera pertama kali disebut sebagai kamera obscura, yang berasal
dari bahasa latin yang berarti ruang gelap dan mekanisme awalnya untuk
memproyeksikan gambar. Banyak jenis kamera diantaranya: Kamera
Prosumer; Kamera Compact Digital; Kamera DSLR; Kamera Semi PRO
DSLR; Kamera Profesional DSLR; Kamera Mirroless; Kamera Boutique.
Prinsip kerja kamera ialah menangkap cahaya yang masuk ke kamera lewat
lensa terlebih dahulu melalui viewfinder, difokuskan supaya diterima oleh
sensor cahaya yang memilah cahaya berdasarkan komponennya. Semua
informasi mengenai konsentrasi komponen cahaya ini diubah menjadi
informasi digital dan kemudian disimpan di dalam media penyimpanan.
Cahaya masuk kedalam kamera melalui bagian yang disebut dengan lensa.
Cahaya hanya melalui bagian lensa yang berupa lubang (berbentuk
lingkaran). Lubang disini diibaratkan dengan jendela kamera ke dunia luar,
dan jendela ini mempunya ukuran lubang tertentu yang cara kerjanya
sama persis pada saat kita membuka mata atau menutup mata. Kamera
sendiri juga memiliki komponen yang dapat mengatur kecepatan lubang ini
saat kita perintahkan. Pada prinsipnya untuk menghasilkan hasil pemotretan
yang maksimal maka harus tepat mengatur cahaya yang masuk dan tepat
menempatkan titik fokus. Secara umum setiap kamera sudah dilengkapi
dengan fitur untuk mengatur intensitas cahaya, dan kefokusan gambar.
Parameter yang sering digunakan untuk mengatur intensitas dan titik fokus
yaitu: parameter ISO untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk;
parameter diafragma untuk mengatur bukaan lubang lensa; dan parameter
shutterspeed untuk mengatur kecepatan mengambil gambar (gambar IV.b).

Gambar IV.b. Sistem keseimbangan ISO, aperture dan shutterspeed
(Sumber http://www.ninetimeline.com/extras/exptriangle)

1. International Organization for Standardization (ISO)
Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera
terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO maka semakin sensitif
sensor kamera terhadap cahaya. Jika kamera diatur ke ISO 100, dan jika
objek yang akan dipotret adalah batu, itu artinya memiliki 100 batu; dan
Jika kamera diatur ke ISO 200, artinya memiliki 200 batu. Tugas setiap
batu adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa dan bertugas
membuat gambar. Jika menggunakan 2 buah lensa yang masing-masing
diatur pada aperture f/1.4, dengan pengaturan ISO kamera pertama
menggunakan ISO 200 sementara kamera kedua ISO 100, maka
kamera siapakah yang paling cepat menghasilkan gambar? Jelas
kamera yang menggunakan ISO 200 kan? Secara garis besar: Dengan
pengaturan aperture yang tetap, menaikkan ISO dari ISO 100 ke ISO

200 akan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan
sebuah gambar hingga 2 kali lebih cepat dari Shutter Speed 1/125 ke
1/250 detik; menaikkan ISO, dapat bekerja dengan kondisi minim
cahaya; saat menaikkan ISO ke 400, akan memangkas waktu
pembuatan gambar hingga separuhnya lagi yaitu 1/500 detik; setiap kali
mempersingkat waktu exposure sebanyak separuh, artinya menaikkan
eksposur sebesar 1 Stop. Kecepatan ISO adalah ukuran dari kecepatan
film atau kadar sensitifitasnya terhadap cahaya. Berikut ini beberapa
kecepatan ISO : ISO 50 100 200 400 800 1600 3200. Jika memotret di
tempat kaya cahaya, gunakan selalu ISO rendah. Kecepatan ISO rendah
membutuhkan exposure yang lebih lama, sedangkan ISO yang tinggi
akan membutuhkan waktu exposure yang lebih singkat (gambar IV.c).

Gambar IV.c. Perubahan gambar dengan perbedaan nila ISO
(sumber http://belfot.com/memahami-konsep-iso-pada-fotografi/)

2. Diafragma/Aperture
Aperture atau bukaan lensa adalah ukuran seberapa besar atau kecil
terbukanya diafragma lensa yang diukur dengan f-number. Diafragma
merupakan bagian kamera berupa celah yang berfungsi mengatur
jumlah cahaya yang masuk ke kamera, dengan cara mengubah ukuran
celah diafragma, jumlah cahaya yang masuk dapat diatur. Gambar yang
baik dapat dihasilkan, jika celah diafragma diatur dengan tepat. Jika

cahaya terlalu terang celah diafragma dibuat kecil, sebaliknya jika pada
ruangan redup, celah diafragma dibuka lebar. Pada kamera yang baik,
besarnya celah dinyatakan dengan angka diafragma. Semakin besar
angka diafragma, celah yang dihasilkan semakin kecil. Sebaliknya,
semakin kecil angka diafragma, celah yang terbuka makin lebar.
Aperture yang terletak di dalam lensa berperan sebagai pintu yang
mengendalikan banyaknya cahaya yang dapat mencapai sensor. Makin
besar Aperture berati makin besar juga cahaya yang masuk, begitu
juga sebaliknya (gambar IV.d). Fungsi utama diafragma adalah untuk
mengendalikan jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera. Pada
dasarnya kondisi cahaya disaat kita melakukan kegiatan fotografi
sangat bervariasi dan kamera membutuhkan diafragma untuk
mengendalikan jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera sehingga
jumlah cahaya yang masuk sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan
diafragma pada kamera umumnya adalah bila kondisi cahaya
remang-remang, maka bukaan lensa/diafragma diperbesar agar tidak
kekurangan cahaya, sedangkan bila cahaya yang masuk ke kamera
berlebih (biasanya terjadi pada saat kondisi panas terik bila di luar
ruangan) bukaan diafragma diperkecil agar tidak kelebihan cahaya.
Indikator bukaan diafragma pada kamera berbanding terbalik dengan
kondisi bukaan pada diafragma, semakin kecil angka dari diafragma
yang ditampilkan dalam kamera maka semakin besar bukaan diafragma
pada lensa, artinya cahaya yang masuk semakin banyak. Sebaliknya
semakin besar angka diafragma yang ditampilkan dalam kamera, maka
semakin kecil bukaan diafragma pada lensa artinya cahaya yang masuk
semakin sedikit. F-Number adalah angka matematis yang menunjukkan
diameter dari Aperture. Inilah bagian terpenting untuk memahami
bagaimana Aperture dan exposure bekerja. Exposure adalah
beberapa faktor kombinasi dari berapa lama sensor menangkap
cahaya, berapa banyak cahaya yang datang dan seberapa sensitif
sensor terhadap cahaya. Hal-hal ini berdasarkan pada 3 hal yaitu

ukuran Aperture, kecepatan shutter, dan ISO. Jika masih bingung
dengan perhitungan di atas, ada triknya: Semakin tinggi f-number =
Aperture mengecil = cahaya yang masuk sedikit. Semakin besar
f-number = Aperture membesar = cahaya banyak yang masuk.

Gambar IV.d. Ilustrasi perbandingan bukaan lensa dengan nilai F
(sumber https://jogja.tribunnews.com/2016/10/01)

3. Shutterspeed
Shutter speed merupakan ukuran kecepatan buka tutup jendela sensor
atau selama apa sensor menerima cahaya. Kecepatan shutter diukur
dalam satuan second, semakin cepat shutter speed semakin cepat pula
sensor menerima cahaya, dan sebaliknya. Shutter mengendalikan
seberapa lama sensor terbuka untuk menangkap cahaya yang masuk.
Makin lama shutter terbuka akan semakin banyak cahaya yang
ditangkap oleh sensor. Bila memotret objek yang sedang bergerak pada
settingan fast-shutter speed maka hasilnya objek akan ‘membeku’ atau
diam (gambar IV.e). Bila disetting slow-shutter maka objek akan terlihat
bergerak.

Gambar IV.e. Perbedaan hasil dengan shutter yang berbeda

B. Scanner
Scanner salah satu alat yang dipakai khususnya untuk pembuatan data
digital dengan menggunakan scanner. Scanner adalah perangkat untuk
memindai atau menduplikasi suatu objek menjadi data dalam format digital.
Data digital atau soft file tersebut nantinya bisa memudahkan siapa saja
dalam mengaksesnya. Pada saat ini, scanner sudah semakin banyak pilihan
baik bentuk dan ukurannya mulai dari bentuk kecil sampai dengan ukuran
besar untuk pemindaian objek dengan ukuran A0 sampai yang seukuran
postcard. Scanner pun kini sudah dapat digunakan untuk menscan objek tiga
dimensi dan film negatif, bahkan ada yang berbentuk pena. selama ini
mungkin hanya tahu satu scanner yang biasa kita gunakan saat bekerja
untuk memindai gambar dan dokumen saja. Namun ternyata, ada
macam-macam jenis scanner yang ada di dunia. Berikut ini adalah beberapa
jenis scanner, antara lain:

1. Scanner Drum
Scanner drum menggunakan teknologi photomultiplier tubes (PMT)
untuk membaca objek yang ingin dipindai. Scanner drum ini biasanya
digunakan untuk menscan gambar berukuran besar, walaupun bisa juga
untuk gambar ukuran kecil. Scanner ini yang sanggup untuk
menghasilkan gambar dan juga hasil scan yang resolusinya mencapai
24.000 ppi atau pixel per inch (Gambar IV.f). Jelas bahwa scanner jenis
ini menghasilkan kualitas gambar yang sangat luar biasa karena dapat
dilihat dari detail data digital yang dihasilkan.

Gambar IV.f. Scanner Drum

2. Scanner Flatbed
Alasan kenapa scanner ini disebut sebagai scanner flatbed, karena
scanner ini merupakan scanner yang bentuknya rata dan juga datar.
Jenis scanner konvensional yang umum dan banyak ditemui di
perkantoran dan juga bisnis scanning dokumen, karena memiliki ukuran
yang kecil dan kompatibel dengan beberapa ukuran kertas standar,
seperti legal, letter hingga kertas A3 (Gambar IV.g). Flatbed Scanner ini
menggunakan teknologi CCD (Charge Coupled Device) atau CIS
(Contact Image Sensor) sebagai “mata” dalam membaca objek yang
dipindai dengan melakukan pemindaian terhadap dokumen yang
ditempatkan di dalamnya. Scanner ini juga paling banyak ditemukan dan
digunakan, karena teknologinya bisa dibilang cukup murah dan sudah
umum digunakan.

Gambar IV.g. Scanner jenis Flatbed

3. Scanner Film
Penggunaan teknologi mata scanner yang sama dengan scanner jenis
flatbed, yaitu CCD (Charge Coupled Device) akan tetapi perbedaannya
adalah scanner ini memindai dan mengkonversi data dari film negatif
atau film positif (slide) dengan baik (Gambar IV.h). Alat ini merupakan
alat yang sangat berguna untuk kepentingan pribadi, namun demikian
harga beli dari film scanner ini tergolong mahal, dan juga mungkin sedikit
sulit untuk diperoleh. Film scanner juga memiliki fungsi yang terbatas,
yaitu hanya mampu memindai dan mengkonversi bentuk objek berupa
film saja.

Gambar IV.h. Scanner Film

4. Scanner Roller
Perbedaan jenis scanner ini yang paling mendasar adalah caranya
“menarik” dokumen. Kalau scanner jenis flatbed menggerakkan “mata”
scanner, sedangkan jenis Scanner Roller ini “menarik” dokumen untuk

dilewati diatas mata scanner. Proses ini menghasilkan penarikan
dokumen yang cepat, sehingga efisien dalam memindai dokumen
berjumlah banyak. Roller Scanner ini sendiri terbagi lagi menjadi dua
jenis yang berbeda, yaitu:

a. ADF Scanner (Automatic Document Feeder)
Merupakan scanner jenis roller yang ditujukan untuk penggunaan
dokumen dalam jumlah yang banyak (Gambar IV.i). Scanner ini
memiliki wadah tersendiri untuk menyimpan dokumen yang akan di
scan, lalu secara otomatis kesemua dokumen tersebut akan ditarik
masuk ke dalam mesin Roller Scanner secara bertahap satu per
satu. Sangat efektif untuk digunakan di dalam kantor yang sangat
sibuk, terutama bagian administrasi, yang harus sering
mendokumentasikan dokumen ke dalam bentuk – bentuk digital.

Gambar IV.i Scanner ADF Gambar IV.j. Scanner Sheet

b. Scanner Sheet Feed Feed

Scanner Roller jenis Sheet Feed mirip dengan cara kerja Scanner

ADF, akan tetapi tidak mempunyai “tempat” untuk meletakkan

kertas/dokumen, dimana dalam proses pindai mengharuskan kita

memasukkan kertas satu per-satu (Gambar IV.j). Scanner jenis ini

lebih dikenal dengan nama Scanner Mobile / Scanner Notebook /

Scanner Portable sangat praktis dan sangat mudah untuk dibawa.

5. Hand Scanner
Sesuai dengan namanya, hand scanner adalah jenis scanner yang bisa
kita aplikasikan dengan sangat mudah, karena cukup dengan
menggunakan tangan. Hand scanner secara umum banyak digunakan
sebagai peralatan keamanan, untuk mendeteksi dan memindai barang
bawaan seseorang. Selain itu juga digunakan sebagai alat scan untuk
pemindai barcode di dalam swalayan. Scanner tangan atau hand
scanner ini cukup mudah dan sangat praktis untuk digunakan, dan juga
memiliki harga yang cukup murah dan juga terjangkau. Selain hand
scanner, ada juga inovasi dan juga pengembangan lainnya dari hand
scanner, yaitu overhead scanner dan 3D scanner.

a. Overhead Scanner
Peralatan scanner menjadi alternatif sarana teknologi alihmedia
yang cukup luas digunakan, karena memiliki berbagai macam
keunggulan yang tidak dimiliki oleh produk teknologi lainnya (gambar
IV.k). Scanner ini mempunyai kelebihan dalam menerapkan
teknologi alihmedia diantaranya: meminimalkan ketidakrataan dalam
kualitas gambar; memotong beberapa dokumen secara otomatis
dengan 'deteksi dokumen berganda'; mempersingkat waktu
pengoperasian dengan 'deteksi pembalikan halaman' distorsi dan
kelengkungan buku yang benar dengan 'koreksi gambar buku';

b. 3D Scanner
Sesuai dengan namanya, 3D Scanner merupakan bentuk scanner
yang mampu melakukan pemindaian pada objek yang bentuknya 3D.
Scanner 3D mampu memindai seluruh sisi dari sebuah objek real.
Scanner 3D ini populer pada film fiksi sebagai peralatan yang sangat
canggih (gambar IV.l).

Gambar IV.k. Overhead Gambar IV.l 3D Scanner
Scanner

Kebijakan pemilihan perangkat scanner juga harus melalui uji kelayakan
dari prosedur pemakaian alat scanner sampai format hasil yang
diharapkan. Pilihan scanner jenis overhead yang memiliki fungsi untuk
memindai koleksi tanpa harus “merusak” koleksi-koleksi tersebut.
Kerusakan yang dimaksud disini adalah misalnya ketika harus
memindai koleksi jenis kertas dengan halaman tebal, mungkin untuk
sedikit merusak koleksi untuk terus terbuka secara paksa ketika
menggunakan scanner flatbed; atau tidak mungkin untuk menarik
halaman buku satu-persatu untuk scanner ADF. Adapun pemilihan
scanner jenis overhead mempunyai banyak keunggulan diantaranya:
- Mampu melakukan scanning tanpa menempelkan dokumen

(contactless) ke alat scanner, sehingga sangat cocok digunakan
untuk mengalihmediakan koleksi yang kertasnya sudah rapuh.
- Mampu melakukan pemindaian koleksi lembaran maupun
berbentuk jilidan
- Memiliki fasiltas editing untuk image hasil scan format jpg dan pdf
- Mampu melakukan pemindaian secara otomatis melalui fasiltas
automatic detection ketika lembaran batu dibuka untuk dipindai
kembali.

C. Rangkuman

Ada bebrapa jenis alat untuk memindai dokumen tertulis dan tercetak ke
bentuk digital diantaranya kamera dan scanner. Jenis kamera yang
digunakan dalam kegiatan digitalisasi koleksi menggunakann kamera digital.
Kualitas gambar hasil pemotretan sangat tergantung dengan banyak hal
diantaranya setingan ISO, diafragma, dan shutterspeed. ISO merupakan
sensor terhadap kepekaan cahaya yang masuk ke kamera, semakin tinggi
nilai ISO-nya berarti semakin tinggi nilai kepekaan yang berarti semakin
banyak jumlah cahaya yang diserap sehingga menyebabkan gambar lebih
terang. Diafragma/aperture sebagai ukuran bukaan lensa, semakin lebar
bukaan berarti semakin banyak cahaya yang masuk ke kamera yang
berakibat gambar yang dihasilkan lebih terang. Diafragma disimbolkan
dengan huruf “f” dan biasanya nilai f yang ditampilkan pada kamera
berbanding terbalik dengan lebar bukaan lensa. Jika nilai f-nya besar seperti
f32 berarti bukaan lensanya kecil dan jika nilai f-nya kecil seperti f3.5 maka
bukaan lensanya besar. Shutterspeed merupakan kecepatan kamera
mengambil gambar dalam satuan detik. Semakin lama waktu yang perlukan
dalam mengambil gambar artinya semakin banyak cahaya yang diserap
yang berakibat gambar yang dihasilkan semakin terang. Scanner merupakan
jenis alat pemindai dengan cara kerjanya dengan menyinari dan menyapu
dukumen yang sedang dipindai. Saat ini banyak jenis scanner yang beredar
dipasaran mulai scanner biasa, scanner 3D, scanner positif dan scanner
negatif. Bahkan saat ini sudah keluar jenis scanner overhead dengan cara
kerjanya menyinari dan menyapu dokumen yang sedang dipindai dari posisi
diatas dokumen salah satu jenis ini adalah scasnap. Supaya hasil scan
berkuliatas dan sesuai dengan keinginan maka perlu diperhatikan hal-hal
yang terkait dengan fitur bawaan scan. Salah satu yang mempengaruhi
kualitas scan adalah resolusi, mode, dan format. Resolusi sangat
berpengaruh terhadap kualitas, detail dan ukuran gambar. Nilai resolusi
berbanding lurus dengan kualitas, detail dan ukuran image digital. Mode ada
beberapa pilihan seperti mode teks, mode gambar sebaiknya menggunakan
mode sesuai kebutuhan jika dokumen gambar sebaiknya menggunakan
mode foto/gambar, sedangkan format sebaiknya menggunakan format
tertinggi dari bawaan scanner.

D. Evaluasi
1. Intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera diatur melalui….
a. ISO
b. Mode
c. Diafragma
d. Shutterspeed
e. Lampu peneranag
2. Fitur untuk mengatur bukaan lensa adalah…
a. View finder
b. ISO
c. Diafragma
d. Shutterspeed
e. Mode
3. Semakin tinggi nilai shutterspeed artinya …
a. Semakin sensitif
b. Semakin banyak cahaya yang serap
c. Semakin fokus
d. Semakin gelap
e. Semakin sedikit cahaya yang diserap
4. Nilai f pada layar kamera…
a. Berbanding lurus dengan bukaan lensa
b. Berbanding lurus dengan intensitas cahaya yang masuk
c. Berbanding lurus dengan area fokus
d. Berbanding terbalik dengan bukaan lensa
e. Berbanding terbalik dengan intensitas cahaya yang masuk
5. Cara mengambil gambar bergerak yang benar …
a. Menggunakan ISO yang tinggi
b. Menggunakan shhutterspeed yang tinggi
c. Menggunakan diafragma yang besar
d. Menggunakan auto
e. Menggunakan shhutterspeed yang rendah

6. Salah satu yang mempengaruhi hasil scan adalah…
a. Jenis dokumen
b. Setingan resolusi
c. Spesifikasi Komputer yang digunakan
d. Merek scanner
e. Waktu scan

7. Dokumen lembaran sebaiknya discan dengan…
a. Flatbed
b. Roller
c. Overhead
d. 3D scanner
e. Hand scanner

8. Koleksi negatif film dapat dilakukan pemindaian dengan…
a. Scanner flatbed
b. Scanner roller
c. Scanner automatic
d. Scanner film
e. Scanner overhead

9. Mode yang digunakan supaya hasil scan bisa dikenali perkarakter
adalah…
a. Mode foto
b. Mode teks
c. Mode OCR
d. Mode auto
e. Mode gambar

10. Objek bentuk tidak beraturan discan dengan…
a. Roller scanner
b. Hand scanner
c. 3D scanner
d. Flatbed scanner
e. Film scanner

Jawaban
1. A
2. C
3. B
4. D
5. B
6. B
7. A
8. D
9. C
10. C

BAB V
TAHAPAN PENGALIHMEDIAAN KOLEKSI TERTULIS DAN

TERCETAK

Indikator Keberhasilan: Setelah mengikutim pelatihan ini, peserta dapat melakukan tahapan
pengalihmedian koleksi tertulis dan tercetak

A. Pengambilan Objek
Tahap awal proses digitalisasi adalah pengambilan atau pemindaian objek
dari koleksi tertulis atau tercetak ke bentuk digital. Alat yang biasa
digunakan dalam proses pemindaian adalah kamera dan scanner.
1. Pemindaian objek dengan kamera
Mengalihmediakan koleksi menggunakan kamera terbilang simpel dan
praktis karena kamera menawarkan banyak kelebihan untuk proses
pemindaian koleksi tercetak ke bentuk digital, diantaranya: untuk
melakukan pengaturan parameter lebih mudah, waktu pengambilan
objek lebih cepat, ketika proses pemindaian kamera tidak menyentuh
langsung ke fisik koleksi sehingga potensi merusak koleksi sangat kecil.
Salah satu kemudahan pengaturan dan penggunaan parameter adalah
titik fokus kamera dapat diatur secara otomatis, namun beberapa kasus
menggunakan autofokus bukanlah pilihan yang tidak tepat karena
dengan melakukan hal tersebut, maka kamera akan memilih sendiri
beberapa titik fokus untuk membuat hasil “foto termaksimal”
berdasarkan rata-rata jarak antara semua poin yang telah dipilih.
Menggunakan satu titik fokus secara manual dalam pemotretan akan
menjadikan satu titik sebagai pengontrol utama. Artinya, bebas dalam
memilih atau menentukan titik fokus yang diinginkan, namun titik fokus
acuan di tengah adalah pilihan yang tepat. Satu hal yang perlu diingat
jangan pernah melakukan pemotretan dengan menggunakan length
focal kurang dari 50 mm; gunakan length focal pada poin 70 mm atau
lebih (gambar V.a). Karena length focal dibawah 70 mm dapat

mengubah salah satu bagian dari subjek sehingga menyebabkan foto
tidak bagus. Mendapatkan pencahayaan yang cocok sehingga subjek
terlihat alami di dalam foto lebih disarankan daripada menggunakan
cahaya yang berlebihan pada pemotretan. Menggunakan cahaya alami
bukanlah hal yang buruk, tapi cahaya yang muncul tiba-tiba tanpa
direncanakan seperti cahaya sinar matahari langsung akan memberikan
bayangan serta efek pencahayaan yang tidak merata terhadap objek.
Idealnya, jika ingin menggunakan beberapa sumber cahaya dalam
pemotretan maka bawalah beberapa unit cahaya untuk menambah
kekuatan pencahayaan.

Gambar V.a. Indicator focal length kamera

Tapi harus diingat bahwa pencahayaan adalah salah satu faktor yang
memberi dampak kematangan dan ketajaman pada sebuah foto, Itulah
sebabnya gunakanlah cahaya sebaik mungkin. Pengambilan gambar
dari suatu koleksi perpustakaan mempunyai tingkat kesulitan tersendiri
tergantung dari jenis bahan koleksi dan ukurannya. Secara garis besar
bahan koleksi perpustakaan terbagi atas bahan kertas dan nonkertas.
Maka untuk bahan yang berbeda tentunya menggunakan teknik dan
parameter yang berbeda pula untuk mendapatkan objek digital yang
maksimal. Jika bahan terbuat dari plastik, polaroid atau bahan lain yang
bersifat memantulkan cahaya teknik ketika memotret yaitu:
a. Hindari menembak sumber cahaya secara langsung ke arah objek

tanpa menggunakan light modifier seperti softbox (Gambar V.b).

Gambar V.b. light modifier sebagai pemerata cahaya

b. Lalu bagaimana caranya jika kita tidak mempunyai light modifier?
gunakanlah bidang pantul yang ada di sekitar objek pemotretan
seperti memanfaatkan tembok putih, kertas putih, kaca, payung
maupun styrofoam dengan mengarahkan cahaya ke media tersebut
(Gambar V.c).

Gambar V.c. Contoh benda pemantul cahaya supaya cahaya menyebar rata

2. Pemidaian objek dengan Scanner
Scanner adalah salah satu perangkat input komputer yang merupakan
alat yang berfungsi untuk menduplikasi gambar dalam bentuk digital.
Scanner menduplikat objek tersebut menggunakan sebuah sensor
cahaya yang terdapat di dalamnya. Sensor yang ada pada scanner
tersebut mendeteksi struktur, tulisan, maupun gambar dari objek yang
discan tersebut dan dikirimkan ke komputer dalam bentuk digital.
Scanner dalam bahasa Inggris berasal dari kata dasar scan dalam
bahasa Indonesia sering disamakan dengan istilah pindai. Sehingga
dalam bahasa Indonesia scanner adalah mesin pemindai atau cukup
disebut pemindai saja. Istilah pindai sendiri bukanlah istilah yang umum

kita dengar atau ucapkan. Pindai yang mempunyai arti adalah melihat
dengan teliti dan seksama, sehingga kurang lebih maksud dari pemindai
adalah alat yang dapat membaca data dengan teliti dan seksama.
Scanner adalah alat elektronik yang berfungsi mirip dengan mesin
focopy akan tetapi jika mesin fotocopy hasilnya dapat dilihat dikertas
folio sedangkan scanner hasilnya dapat dilihat atau akan muncul pada
layar monitor komputer setelah itu hasil dari scanner tadi dapat diubah
sesuai kebutuhan. Dalam scanner terdapat sebuah sensor, yang dapat
mendeteksi struktur, seperti tulisan, warna, gelap, terang, dan bentuk
benda, selanjutnya scanner mengirimkan hasil dari scan tersebut ke
komputer dalam bentuk digital. Agar hasil scan tersebut bisa diedit atau
disimpan dalam komputer. Untuk pengambilan objek buku disarankan
menggunakan scan jenis scansnap karena proses cepat, alat tidak
bersentuhan langsung dengan buku, cara mengoperasikan lebih mudah
(Gambar V.d). Kelemahan scansnap adalah tingkat distorsinya sangat
tinggi, untuk mengatasi tigkat distorsi ini dengan meratakan dan
meluruskan buku yang akan discan. Jika kertas lembaran alat ini sangat
bagus tetapi jika buku berjilid maka hasilnya distorsi berupa gelombang.
Kelemahan lain adalah alat ini hanya mampu menscan pada ukuran
keras sampai dengan F4.
a. Install driver, ikuti petunjuk sampai selesai
b. Install software scanner
c. Jalankan scanner manajer

d. Tekan tombal Add profile

e. Isi profile, lalu pilih OK
f. Tekan Add, lalu browse

g. Close
h. Periksa nilai

i. Pilih tempat penyimpanan

j. Pilih mode warna, format, dan pengaturan lain

k. Pilih Ok dan selesai.

B. Konversi dan Penyuntingan Hasil Alih Media Digital
Tahap berikutnya setelah koleksi sudah dipindai dalam bentuk digital adalah
melakukan konversi dan penyuntingan.
1. Proses konversi
Secara kronologis tahapan konversi sampai dengan kompilasi adalah
sebagai berikut: image digital dengan format RAW atau CR2 adalah file


Click to View FlipBook Version