43 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan Gambar 5. Formulir Survei Nilai Tanah Pertanian Setelah dilakukan entri data, maka selanjutnya dilakukan perhitungan dan analisis data, dengan tahapan sebagai berikut: a. Menghitung Land Extraction (Optional)
44 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan Untuk sampel tanah yang terdapat bangunan/benda tak bergerak yang melekat pada bidang tanah tersebut, maka nilai bangunan/benda tersebut harus dikeluarkan/dikurangkan untuk mendapatkan nilai tanah. Nilai Bangunan diperoleh dengan cara mengurangkan Biaya Penganti Baru dengan besarnya penyusutan. Biaya Pengganti Baru atau Replacement Cost New (RCN) dihitung dengan menggunakan pendekatan nilai per meter persegi bangunan. Nilai tersebut di atas diharapkan didapat dari rekomendasi dari instansi terkait atau dengan melakukan survei ke perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi bangunan sejenis untuk memperoleh Biaya Pengganti Baru atau Replacement Cost New (RCN) pada Kabupaten/kota setempat. Pada tabel excel dalam proses entri data, tahapan penghitungan nilai bangunan dimulai dengan memasukkan data bangunan sesuai dengan formulir dilanjutkan penghitungannya. Perhitungan ini meliputi tahapan sebagai berikut: 1) Kolom RCN (Biaya Pembuatan Bangunan Baru/Rp.) yang merupakan hasil perkalian antara luas bangunan dengan biaya per meter bangunan. Biaya per meter bangunan adalah biaya yang diperoleh dari rekomendasi dari instansi terkait atau dengan melakukan survei ke perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi bangunan sejenis untuk memperoleh Biaya Pengganti Baru atau Replacement Cost New (RCN) pada Kabupaten/kota setempat. Contoh: Diketahui suatu sampel memiliki luas bangunan 60 m2 dengan biaya per meter bangunan Rp. 1.500.000,- maka Biaya Pengganti Baru atau Replacement Cost New (RCN) adalah = 60m2 x Rp. 1.500.000,- = Rp. 90.000.000,- 2) Umur efektif merupakan hasil perhitungan dari tahun penilaian dikurangi tahun pembuatan ditambah 2 kali tahun penilaian dikurangi tahun renovasi dibagi 3. Sesuai definisi yang dimuat dalam website MAPPI, umur ekonomis adalah suatu periode waktu dimana asset (bangunan) diharapkan dapat digunakan/dimanfaatkan secara ekonomis sesuai fungsinya. Contoh:
45 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan a) Diketahui sampel bangunan dibangun pada tahun 2010, dengan tahun penilaian 2021, maka umur efektif bangunan adalah = 2021 - 2010 = 11 tahun. b) Diketahui sampel bangunan dibangun pada tahun 2005 dan direnovasi pada tahun 2011, dengan tahun penilaian 2021, sehingga umur efektif bangunan adalah = (2021-2005) + 2 x (2021-2011)/3 = 23 Maka umur efektif bangunan tersebut adalah 23 tahun. c) Prosentase penyusutan bangunan merupakan hasil dari perhitungan pada tabel penyusutan dengan memperhitungkanvariabel umur efektif, biaya per meter bangunan dan kondisi fisik bangunan. Penyusutan adalah pengurangan nilai dari biaya pembuatan baru. Dalam melakukan penilaian dengan pendekatan Kalkulasi Biaya (Cost Approach), diperlukan suatu tahapan yang cukup penting, yaitu memperkirakan besarnya penyusutan atau depresiasi dari bangunan untuk dapat memperoleh nilai pasar dari bangunan atau nilai pasar dari properti yang dinilai. Depresiasi dari bangunan tidak hanya dipengaruhi oleh umur bangunan saja, tetapi juga keadaan bangunan, walaupun bangunan dalam keadaan 100% baru. Karena dalam penilaian yang kita tentukan adalah nilai bangunan bukan biaya membangun baru bangunan. Berikut adalah tabel yang digunakan untuk menghitung prosentase penyusutan, yaitu: 1) Jenis Bangunan Rumah 2) Jenis Bangunan Ruko
46 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan Contoh: Diketahui sampel bangunan dengan umur efektif 5 tahun, biaya per meter bangunan Rp. 1.500.000,- dan kondisi fisik bangunan baik, maka prosentase penyusutan bangunan dapat dilihat pada tabel penyusutan bangunan, yaitu: Persentase penyusutan bangunan adalah 18% Nilai bangunan setelah penyusutan merupakan hasil perkalian antara RCN/Biaya Pembuatan Bangunan Baru dengan Penyusutan. Contoh: Diketahui sampel bangunan dengan RCN/Biaya Pembuatan Bangunan Baru Rp. 140.000.000,- dan prosentase penyusutan bangunan 11%, maka nilai bangunan setelah penyusutan adalah: = Rp. 140.000.000,- x 11% = Rp. 124.600.000,- Maka nilai bangunan setelah penyusutan adalah Rp. 124.600.000,-
47 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan RANGKUMAN Pembuatan penyediaan informasi nilai tanah yaitu agar dapat dimanfaatkan untuk pelayanan pertanahan dan sebagai referensi kebijakan yang berkaitan dengan nilai tanah. Nilai adalah suatu opini dari manfaat ekonomi atas kepemilikan aset atau harga yang paling mungkin dibayarkan untuk suatu aset dalam pertukaran, sehingga nilai bukan merupakan fakta. Untuk memperoleh informasi nilai tanah, petugas yang mengumpulkan data wajib memasukkan seluruh data yang telah dikumpulkan menggunakan Formulir Survei Nilai Tanah. Penyimpanan hasil pengumpulan data dapat dilakukan minimal dengan menggunakan Tabel Standar Pengolahan Data Tekstual dan Numeris (sama dengan entri formulir survei nilai tanah ZNT). Nilai Bangunan diperoleh dengan cara mengurangkan Biaya Penganti Baru dengan besarnya penyusutan. Biaya Pengganti Baru atau Replacement Cost New (RCN) dihitung dengan menggunakan pendekatan nilai per meter persegi bangunan. Nilai tersebut di atas diharapkan didapat dari rekomendasi dari instansi terkait atau dengan melakukan survei ke perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi bangunan sejenis untuk memperoleh Biaya Pengganti Baru atau Replacement Cost New (RCN) pada Kabupaten/kota setempat. EVALUASI 1. Deskripsikan secara ringkas mengapa pentingnya kegiatan pemanfaatan informasi nilai tanah! 2. Jelaskan menurut pemahaman saudara prosedur dalam penginputan data nilai tanah! 3. Jelaskan secara sistematis mekanisme pengolahan dan analisis data nilai tanah! UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Setelah menyelesaikan pembelajaran materi Pemanfaatan Informasi Nilai Tanah dan berhasil menjawab pertanyaan evaluasi dengan baik, maka saudara dianggap telah mampu memahami materi - materi pada bab ini. Selanjutnya saudara dapat mengikuti pembelajaran pada bab berikutnya. Sebaliknya apabila belum dapat menjawab pertanyaan pada evaluasi dengan baik, maka saudara diminta untuk mempelajari
48 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan kembali materi pada bab ini dengan lebih seksama hingga saudara dapat menjawab pertanyaan dalam evaluasi dengan baik.
49 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Modul ini disusun untuk keperluan Pelatihan Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas Penata Pertanahan, dengan tujuan agar setiap peserta Pelatihan mampu memahami konsep mekanisme dalam pengembangan pertanahan dan peserta mampu memberikan kontribusi pemikiran yang berguna bagi pengembangan dan pemanfaatan tanah yang sesuai dengan ketentuan dan semangat peraturan dan Undang-Undang yang berlaku. Setelah selesai mempelajari materi dalam modul ini, jangan lupa untuk melatih pemahaman anda dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam latihan serta melakukan evaluasi dalam setiap materi. B. TINDAK LANJUT Sebagai tindak lanjut dari pembelajaran materi modul ini, maka: 1. Bagi peserta pelatihan diharapkan mampu mengimplementasikan hasil pembelajaran dari mata pelatihan pengembangan pertanahan; 2. Bagi Fasilitator, diharapkan mampu menyampaikan serta mengembangkan penyampaian materi dalam modul agar mampu menjadi bahan ajar yang efektif dalam penyamaan persepsi peserta; 3. Bagi pengelola pelatihan, diharapkan modul sebagai bahan evaluasi bagi Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia dan pengendalian pelaksanaan pelatihan PKTBT Jabatan Penata Pertanahan serta untuk penyempurnaan modul pelatihan berikutnya agar lebih baik.
50 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan DAFTAR PUSTAKA Direktorat Konsolidasi Tanah dan Pengembangan Pertanahan. (2021). Petunjuk Teknis Perencanaan Konsolidasi Tanah. Jakarta: Dirjen PTPP Kementerian ATR/BPN. Direktorat Konsolidasi Tanah dan Pengembangan Pertanahan. (2021). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Konsolidasi Tanah. Jakarta: Dirjen PTPP Kementerian ATR/BPN. Direktorat Konsolidasi Tanah dan Pengembangan Pertanahan. (2021). Petunjuk Teknis Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Konsolidasi Tanah. Jakarta: Dirjen PTPP Kementerian ATR/BPN. Direktorat Konsolidasi Tanah dan Pengembangan Pertanahan. (2021). Petunjuk Pelaksanaan tentang Data Lokasi Indikatif Pengadaan Tanah. Jakarta: Dirjen PTPP Kementerian ATR/BPN. Direktorat Konsolidasi Tanah dan Pengembangan Pertanahan. (2021). Petunjuk Pelaksanaan tentang Basis Data Pengadaan Tanah. Jakarta: Dirjen PTPP Kementerian ATR/BPN. Direktorat Konsolidasi Tanah dan Pengembangan Pertanahan. (2021). Petunjuk Teknis Penilaian Tanah dan Ekonomi Pertanahan Tahun 2021. Jakarta: Dirjen PTPP Kementerian ATR/BPN.
51 Modul PKTBT Penata Pertanahan: Pengembangan Pertanahan